Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Namaku Risa.
Dan aku bisa melihat mereka yang kalian sebut...
Hantu.
Hari ini mau melakukan apa, Risa?
Mama janji pulang lebih awal hari ini.
Agar merayakan ulang tahunmu bersama.
Kamu sudah tahu mau kado ulang tahun apa?
Baik. Mama pergi dahulu.
Harus ke rumah sakit menjenguk Nenek.
Sayang.
Jangan nakal.
Jangan lupa makan dan salat.
Jika ada perlu, panggil Mbak Sum atau Mang Ujang.
Ya, Sayang?
Ya, Sayang?
Ponselmu, Ma.
Ya.
Jangan lupa telepon Papa.
Pasti Papa siapkan kado untukmu. Sampai jumpa, Sayang.
Sejak kecil, aku selalu ditinggal sendiri.
Papa kerja dinas di luar negeri.
Dia pulang enam bulan sekali.
Mamaku dan aku tinggal di rumah Nenek.
Mama selalu sibuk.
Belum lagi harus menjaga Nenek di rumah sakit.
Jadi, aku sering sendirian.
Selamat ulang tahun, Risa.
Tahun ini, aku hanya ingin teman.
Agar aku tak sendirian lagi.
Kamu lihat teman kami?
Janshen.
Boleh aku ikut bermain?
Risa?
Risa?
Risa!
Risa?
Risa, kenapa kamu mencoreti lantai?
Tolong bereskan mainanmu.
Risa?
Risa, kamu sudah tidur?
Kalian yang mencoreti lantai?
Halo. Ya.
Ya, nanti saya telepon balik.
Selamat pagi, Sayang.
Hai.
Selamat ulang tahun.
Semoga kamu selalu sehat, makin pintar, dan selalu cantik.
Maaf, kemarin Mama pulang larut.
Mama bawakan kado untukmu.
Tadinya mau berikan semalam, tetapi kamu sudah tidur.
Kini kamu sudah besar.
Jadi, kamu harus membereskan mainanmu.
Dan jangan mencoreti lantai, Sayang.
Aku tak mencoreti lantai.
Ayo kemari.
Ayo.
Coretan apa, Ma?
Dari mana kalian belajar lagu itu?
Itu lagu Sunda.
Peter tak tampak seperti orang Sunda.
Diajarkan pengasuhku, Risa.
Aku memang bukan orang Sunda.
Risa, berhenti.
Mari pergi dari sini, Risa.
Mari pulang.
Jangan pernah main kemari lagi.
Kenapa?
Kamu belajar lagu baru?
Siapa yang mengajarimu?
Teman-teman.
Teman apa?
Mama tak kenal mereka. Teman baru.
Mang Ujang.
Tadi Risa bermain dengan siapa?
Dia hanya sendirian.
Saya tak melihat ada anak lain selain Risa.
Mang Ujang yakin?
Saya lihat dia tertawa sendirian.
Tak ada anak lain.
Saya takut dia kerasukan.
Omong kosong.
Mau kita tanyakan kepada Abah Asep?
- Dia teman kakek saya, bukan? - Ya.
- Si dukun itu? - Ya.
Lebih baik menemui psikolog. Mereka ahlinya.
Lebih baik panggil Abah Asep dahulu.
Saya takut ada setan di sini.
Kamu kalah, Peter.
Sekarang giliran William.
Risa, kamu belum tidur?
Sebentar lagi, Ma.
Jangan terlalu larut.
Pekan depan sudah mulai sekolah.
Biasakan bangun pagi dari sekarang.
Baik, Ma.
Giliran kamu, William.
Halo, Sinta. Ini aku, Elly.
Terima kasih sudah datang, Sin.
Lama tak jumpa, El.
Berapa lama? Sejak Risa lahir.
Kini dia akan punya adik.
- Sudah hamil berapa bulan? - Lima.
- Selamat. - Terima kasih.
Jadi, kemarin kau melihatnya main sendiri?
Main dan tertawa sendiri.
Seolah sedang bicara dengan orang lain.
Kudengar dia menyebut dua nama, tetapi tak jelas.
Dia bicara dengan lebih dari satu orang?
Tadi dia sedang sarapan di sini.
Risa?
Risa, kemarilah. Ada Tante Sinta.
Risa?
Kemarilah, Mama mau bicara.
Risa?
Ayo keluar.
Risa!
- Sedang apa kamu di bawah? - Bermain petak umpat.
Bermain dengan siapa?
Teman-temanku.
Jangan bohong. Mama tak lihat siapa pun.
Janshen, William, ayo keluar.
Peter, aku tak sembunyi lagi.
Di mana teman-teman kamu?
Itu mereka.
Janshen, William, tunggu!
El.
Maaf, kurasa aku tak bisa bantu.
- Maaf. - Sinta?
Sinta!
Sin!
Sin!
Maaf.
Kurasa ini bukan masalah psikologis, El.
Maaf.
Kenapa mamaku tak bisa lihat kalian?
Karena kami hanya ingin bermain denganmu, Risa.
Jadi, Mama tak boleh bertemu kalian?
Tak semua orang bisa melihat kami, Risa.
Kalian bukan tetanggaku?
Siapa kalian?
Aku lahir dan besar di Indonesia.
Aku tak pernah tinggal di Belanda.
Makanya, bicaraku seperti orang pribumi.
Orang tuaku tewas ditembak saat Jepang menyerbu ke sini.
Malam itu, setelah Ayah mati, tentara Jepang datang ke rumah ini.
Mereka membunuhku malam itu.
Sejak itu, aku tinggal bersama yang lain.
Mereka juga mati di rumah ini.
Yang lain? William, Janshen, kalian juga?
Ya. Kami semua mati di rumah ini.
Kamu takut kepada kami, Risa?
Risa?
Risa?
Risa?
Risa?
Risa?
Kamu masih mau bermain dengan kami?
Aku ingin terus bersama kalian.
Selamanya.
Ayo ikut kami.
Bu, cepat cari Risa.
Risa?
Risa?
Risa?
Risa?
Risa?
Risa!
Risa, jangan! Lepaskan.
Jangan! Kemari, Risa.
Masuklah, Sayang.
Risa?
- Istighfar. - Aku tak ingin bersama Mama.
Aku ingin ikut Peter.
Istighfar, Risa.
- Risa. - Aku tak bohong.
- Teman-temanku sungguh ada. - Risa?
Risa, Abah tahu mereka ada, tetapi mereka bukan manusia.
Tetapi mereka tak jahat. Aku mau bersama mereka.
Ya.
Kamu punya bakat.
Abah sudah sentuh rusukmu.
Bu, tulang rusuk anakmu renggang.
Anak macam ini tak boleh dibiarkan melamun sendirian.
Risa, cium aroma ini. Amis.
Namanya aroma danur.
Pasti kamu sudah cium aroma ini sejak kenal mereka.
Aroma mayat.
Kamu mau lihat rupa teman-temanmu?
Coba buka mata kamu.
Buka mata kamu.
Buka mata kamu, Risa.
Hari itu, aku menyesal telah membuka mata.
Karena sejak itu aku tak pernah bertemu mereka lagi.
Kamu yakin tak apa kemari lagi?
Tak ada yang merawat Nenek.
Andri tak bisa mengurus Nenek.
Setidaknya sampai Tante Tina dapat perawat baru.
Baik. Tetapi ingatlah, hindari kejadian masa lalu.
Jangan ada hal aneh, ya?
Kamu harus merawat Nenek.
Kamu juga harus mengurus Riri.
Mengerti, Ma. Aku berjanji.
Ma, ayo masuk.
Tante Elly?
Dri, sudah lama tunggu?
Tidak. Tante datang tepat waktu.
Kak Andri!
Selamat pagi, Tuan Putri. Kamu cantik sekali.
Kau bisa pergi, Dri. Biar Risa yang menjaga Nenek.
Sampai Mama kamu dapat perawat baru.
Ya, Tante. Aku harus pergi kuliah.
Baik.
Risa, tolong rawat Nenek.
Sampai jumpa.
- Terima kasih, Tante. - Ya. Hati-hati, Dri.
Di mana kamar Riri?
Risa, kemarilah. Mama mau jelaskan obat Nenek.
Sampai jumpa, Mama.
- Sampai jumpa, Sayang. - Ya, Mama.
Sampai jumpa.
Kak Risa.
Sudah ingatkan Mama agar telepon Tante Tina?
Sudah.
Baik. Jangan nakal sampai perawat barunya datang.
Baik!
Kak, aku boleh pergi bersepeda?
Baik. Tetapi jangan keluar halaman.
Harus pulang sebelum magrib.
Baik!
Mari kita bermain.
Apa itu?
Tunggu di sini.
Kusisir rambutmu supaya makin cantik.
Waktunya makan, Nenek.
Dia akan segera pulang, Nenek.
Lain kali pulang sebelum gelap, ya?
Ya.
Ayo, Nenek.
Ri,
tolong lihat siapa yang datang.
Riri?
Selamat malam. Siapa nama kamu?
Aku Riri.
Aku Asih.
Anak kecil.
Kak, ini Mbak Asih.
Mbak perawat barunya?
Asyik! Aku punya teman baru.
Ayo, Mbak Asih.
Mbak Asih, kau bisa tidur denganku?
Supaya aku tak takut.
Mbak Asih?
Mbak Asih?
Mbak Asih?
Mbak Asih?
Nn. Risa?
Kak Risa, mari sarapan.
Apa Nenek sudah diberi sarapan?
Setelah Riri selesai makan, tolong siapkan bubur Nenek.
Mari.
Nenek.
Nenek, ini Mbak Asih.
Jika perlu sesuatu, panggil dia.
Jadwal minum obatnya di sini.
Pagi, siang, dan malam, obat mana saja yang perlu diminum.
Jika Nenek menolak, paksa sedikit.
Satu, dua, tiga, empat, lima,
enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.
Mbak Asih, kau sudah sembunyi?
Riri?
- Mbak Asih? - Sedang bermain dengan Mbak Asih.
Siapa Asih?
Perawat baru dari Tante Tina.
Dia belum cerita ke Mama.
Mama, aku harus pergi.
Nenek memanggil.
Nenek?
Ada apa, Nenek?
Ada apa?
Ada apa, Nenek?
Mbak Asih?
Ada apa, Nenek?
Mbak Asih!
Ada apa, Nek? Nenek mau apa?
Tak apa, Nenek.
Risa di sini.
Tak apa.
Tak apa, Nenek.
Risa di sini.
Ri?
Riri?
Riri?
Riri?
Mbak Asih?
Mbak Asih?
Riri?
Riri?
Riri?
Ada apa?
Tak apa.
Mbak Asih, tolong nyanyikan lagi lagunya.
Apa-apaan ini? Kamu menakutiku!
Kenapa kamu kembali?
Tak butuh aku di sini?
Baik. Aku tinggal pergi lagi.
- Sampai jumpa. - Ayo serius.
Mama kamu meneleponku.
Dia memintaku menjagamu.
Katanya jangan sampai kamu bertingkah aneh.
Diamlah. Aku tak aneh.
Mbak Asih, aku yakin
kau dahulu menyanyikan lagu ini kepada anakmu.
Riri?
Riri...
kugendong ke kamarmu.
Sudah buka laptop sepagi ini, seperti blogger saja.
Ciri-ciri orang yang bisa lihat hantu?
Kamu selalu terobsesi dengan hantu.
Kamu tak suka orang biasa?
Orang membuatku kesal.
Seperti kamu.
Yang benar saja.
Aku sempat baca sesuatu di internet. Dalam artikelnya,
ada cara melihat hantu. Hanya perlu jongkok.
Membungkuk, lalu mengintip dari antara kedua kaki.
Tak masuk akal, bukan?
Sudah kucoba, tak ada hasil.
Di mana Riri?
Bermain di luar.
Asyik!
Kamu jarang bermain dengannya, ya?
Dia juga tak mau main denganku.
Lagi pula, ada Mbak Asih.
Siapa?
Perawat baru dari Tante Tina, bukan?
Mama tak pernah cerita soal perawat baru.
Bermainlah dengan Riri. Kasihan hanya sendirian.
Ayolah.
Risa, Riri, mau bakso?
Nenek?
Nenek kenapa?
Nenek?
Risa!
Tolong, Risa!
Hentikan, Nenek. Bangunlah.
Astaga! Nenek!
Ada apa?
Pegang dia.
Ayo angkat.
Nenek kenapa?
Tenanglah!
Kenapa, Nenek?
- Nenek? - Katakan, Nenek!
Nenek, ada apa?
- Tolong tenang. - Tenanglah, Nenek.
Kenapa, Nenek?
Kenapa, Nenek?
Kata Kak Risa, kita tak boleh keluar rumah.
Riri mau pulang.
Tenanglah, Nenek.
Riri?
- Riri? - Riri?
Riri!
Riri?
Kamu cari di rumah. Aku akan cari di luar.
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Andri?
Andri?
Andri?
Astaga! Andri?
Andri?
Riri?
Riri!
Riri?
Riri.
Riri?
Riri.
Riri!
- Halo. - Halo, Ma.
Riri diambil, Ma.
- Risa tak bisa menemukannya. - Diambil siapa?
Asih. Dia bukan manusia. Riri juga bisa melihatnya.
- Apa maksudmu? - Tolong aku, Ma.
Astaga! Mama segera ke sana. Tunggulah.
Dengarkan Mama, Risa, jangan lakukan apa pun.
- Tunggu Mama. - Tolong cepat.
Peter.
William.
Janshen.
Aku butuh kalian.
Risa, kamu sudah besar.
Peter.
William.
Janshen.
Aku rindu kalian.
Kamu harus segera cari Riri.
Dia jahat, Risa. Dia ingin adikmu.
Adikmu bukan yang pertama.
Bantu aku cari Riri.
Riri tak ada di sini.
Dia dibawa ke dunia kami.
Kamu harus ke sana.
Bagaimana caranya?
Jangan takut, Risa.
Kami akan menemanimu.
Tetapi, di sana kamu akan lihat wujud asli kami.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Risa?
Riri?
Risa?
Riri?
Risa?
Ibu?
Ibu?
Ibu?
Ibu?
Bu?
- Ikut dengan saya. - Ibu?
- Bu? - Ibu?
Bu, ikut saya.
Riri?
Riri!
Riri!
Riri, ini aku, Risa. Bangun!
Riri, tolong bangun.
Bangun, Riri. Mari kita pulang.
Riri, tolong bangun.
Ini Kak Risa. Bangun, Riri! Ayo kita pulang!
Sayang.
Ikut denganku.
Riri?
Tidak!
Riri!
Riri!
Riri!
Riri!
Riri!
Riri!
Riri!
Riri!
Riri?
Riri?
Riri?
Riri?
Dasar jalang!
Bayimu anak haram!
Bu...
Pohon besar di dekat rumah.
Di situlah dia bunuh diri.
Tancapkan sisir ini di tanahnya.
Riri!
Riri.
Riri.
Riri.
Riri?
Risa? Riri?
Risa?
Mama?
Mama!
Risa. Riri.
Anak-anak Mama.
Riri?
Risa. Riri.
Riri?
Seperti janjiku sewaktu kecil,
sampai sekarang aku masih bermain dengan mereka.
Kak Risa.
Mama memanggilmu. Kita akan berangkat.
Baik.
Ayo.
Peter. William.
Janshen.
Kalian sahabatku selamanya.
Siap, Risa?
Ayo, Sayang.
Kusisir rambutmu supaya makin cantik.
Terjemahan subtitel oleh Lady Helen
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.