Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
MALAYSIA BAGIAN UTARA
BEBERAPA BULAN SEBELUMNYA
Kau pikir kau berandal?
Kami juga bisa jadi berandal.
Terpujilah Dewa Shakthi!
- Terpujilah Dewa Shakthi! - Terpujilah Dewa Shakthi!
Terpujilah Dewa Shakthi!
Nama Egambaram bahkan membuat takut anak yang belum lahir.
Benarkah?
Nama Alex Pandian membuat takut
anak yang belum lahir dan ibunya!
- Alex! - Panggil aku DSP.
DSP?
Mereka ada di truk berisi senjata mematikan.
Komando sederhana dariku cukup untuk membuat mereka...
Appoy!
Simpan kartunya di tempat aman.
- Air panasnya sudah siap. - Baik.
- Gula sudah hampir habis. - Baik.
Hei, kemari.
- Sudah berapa kali ayah katakan? - Ayah!
- Kenapa tak mau dengar? - Ayah!
- Kau tak pernah belajar, ya? - Ayah!
- Mau begitu lagi? - Tidak, Ayah.
Duduk.
Kenapa dapat nilai F?
Gurunya menyuruh kami menulis esai dengan judul, "Aku Adalah Pulpen."
Jadi, aku menulis tentang sebuah pulpen yang bisa terbang.
Pulpen terbang?
Pulpennya bisa terbang di ceritaku.
Dasar bodoh!
Gurunya mau para murid menggunakan imajinasi.
Tulislah esai yang bisa mendapatkan nilai A.
- Tulis sekarang. - Tapi esainya sudah dinilai.
Tak ada gunanya jika kutulis lagi.
Kau berani menjawab ayah?
Lakukan yang ayah suruh! Cepat!
Lihat rambutmu.
Seperti sarang burung yang kusut oleh monyet.
- Selamat pagi, Pak! - Selamat pagi, Pak!
Pagi. Silakan duduk.
- Terima kasih, Pak. - Terima kasih, Pak.
Tiap benda memiliki pola.
Gorden di sana punya pola.
Bahkan kain sari dan sarung yang dikenakan ibu kalian
punya pola.
Kalian akan mencelup sayuran ke dalam cat dan membuat karya seni pola.
Apa sudah jelas?
Tampak bagus sekali.
Tolong buatkan untukku.
Aku lihat sesuatu di TV kemarin.
Di Jepang ada hewan ternak istimewa yang dikembangbiakkan
di suatu tempat bernama Kobe.
Mereka diberi minum bir untuk sarapan.
Walau mereka hanya berjalan sedikit, kakinya harus dipijit
untuk memastikan dagingnya tetap empuk.
Hidup yang menyenangkan, bukan?
Kau tak masalah jika disembelih setelah itu?
Tentu saja!
Kau minum bir di pagi hari lalu dipijit.
Kurang enak bagaimana?
Bayarlah, kita pergi.
Hei, uangnya di meja.
Dah.
- Suguna, kau datang sebagai siapa? - Avvaiyar, Bu.
- Kalau kau, Murali? - Bharathiyar, Bu.
- Kumar? - Tunku Abdul Rahman, Bu.
Bagus.
Kau, Shankar?
Michael Jackson, Bu.
Cara berpikirnya berbeda.
Michael Jackson adalah ide yang bagus. Tapi bagaimana untuk kostumnya?
Hei!
Hei!
Hei!
Kau memanggilku seperti itu?
Begitu?
Tenang!
- Aku punya nama! - Tenang.
- Maaf. - Tenang.
Kita semua teman, 'kan?
Appoy, ambilkan korek api di laci itu.
Ini Paman?
Ya.
Ini Ayah?
Ya.
Itu saat ayahmu bermain sandiwara di daerah tersebut.
Ayah tersenyum.
Paman, kenapa kau tinggal di tempat ini?
Lihatlah, Appoy.
Lautan itu.
Pemandangan laut.
Ada bukit di belakang kita.
Pemandangan bukit.
Properti dengan pemandangan begitu bisa bernilai jutaan Ringgit.
Sementara kita bisa dapat dengan gratis dari alam,
banyak orang malah memilih untuk hidup berutang.
Hal yang kau inginkan ada di sekelilingmu, Appoy.
Kau hanya perlu membuka matamu.
Aku Da Gou.
Temanmu sangat kesal hari ini, ya?
Silakan diminum!
Minumlah!
Lihatlah jam tanganku.
Bisa tebak berapa harganya?
Tak tahu, 1.000 Ringgit?
Kau?
Pasti harganya 3.000 Ringgit.
3.000 Ringgit?
Harganya hanya 50 Ringgit.
Hanya karena aku punya mobil bagus...
Bahkan jika aku pakai barang tiruan,
semua orang mengiranya barang asli.
Kalian mengendarai sepeda motor.
Bahkan jika pakai jam tangan asli pun,
orang tak akan percaya itu.
Begitulah dunia ini.
Paham?
Kau ingin dihormati orang,
tapi kehormatan itu harus diraih, bukan cuma-cuma.
Semalam kau tak tidur, ya?
Aku sakit kepala.
Berita dibawakan oleh Gandhi Kasinathan.
Pertemuan Tahunan Ke-38 Anggota Kongres India...
- Minum obat, lalu bekerjalah. - resmi dibuka
oleh Perdana Menteri Datuk Seri Dr. Mahathir Mohamad.
Dia memastikan bahwa semua ras diberikan kesempatan yang sama.
- Mangai! - Ya?
Perdana Menteri menyangkal klaim beberapa pihak
yang mengatakan bahwa warga India Malaysia terpinggirkan
dalam hal pengembangan ekonomi.
Presiden Kongres Malaysia India, Dato' Seri S. Samy Vellu,
dalam pidatonya
memastikan partainya akan berjuang untuk memastikan transformasi
komunitas India Malaysia menuju angka kemiskinan nol persen.
Apa kau tidak suka lukisanku?
Aku sangat suka.
Tapi kenapa kau memberiku nilai C, Pak?
Tugasnya adalah membuat pola dengan sayuran.
Tapi bukankah ini juga pola?
- Apa yang kau dengar? - Dentingan.
Aku menyuruhmu melukis sendok dan gelas.
Kau malah melukis bunyinya.
Bagus.
Kau seniman hebat, tapi...
Kau akan paham maksudku suatu hari.
Kau hanya ingin nilai bagus, 'kan?
Tahun depan ada Tes Pencapaian Sekolah Dasar.
Tak akan ada lagi kelas seni.
Kau juga takkan ada waktu untuk itu.
Pak, bayaranku kurang.
Tak mungkin. Hitung lagi yang benar.
Sudah kuhitung, Bos. Masih kurang.
Kau ambil duluan bulan ini.
Tidak.
Lihat. Tertulis, "Maniam".
Artinya sudah kau ambil di muka.
Aku yakin tidak mengambilnya.
Baiklah. Bawalah kartu akunmu besok.
Kita sortir datanya.
RESTORAN 128
Pak, itu mobilmu yang di luar?
Kenapa?
Kau belum bayar angsurannya selama 34 bulan.
Kami akan menyita mobilmu.
Kami hanya mencari nafkah.
Appoy, kau ingat kartu akun yang ayah beri tempo hari?
Ambilkan.
Kenapa masih di situ?
- Ambil kartu akun ayah. - Kartu akun?
- Kartu akun! - Ada di atas!
Masih belum ketemu?
Pilihlah salah satu.
Kenapa pria itu?
Dia cukup berani menyimpan senjatanya di mobil lalu pergi.
Kurasa kita lupakan saja dan pergi.
Durai!
Kenapa kau lama sekali?
Apa ini?
Kau akan tumbuh dan berulah?
- Begitu? - Tidak, Ayah!
Jangan, Ayah!
Ayah!
Jangan, Ayah!
Ayah!
Tolong jangan, Ayah!
Apa itu tadi? Kau sudah gila?
Sebelum kita mulai upacara penganugerahannya,
kita sambut para peserta kompetisi kostum di atas panggung.
Pertama, Murali sebagai penyair Bharathiyar.
Selanjutnya, Suguna, sebagai penyair Avvaiyar.
Kumar sebagai bapak bangsa, Tunku Abdul Rahman.
Selanjutnya, Martin sebagai filsuf Thiruvalluvar.
Kau ini sembrono, ya?
Bukalah.
- Namaku Gila. - Durai.
Kau luar biasa.
-Takkali. -Durai.
- Takkali. - Aku kentang.
Hanya bercanda.
Minumlah.
Kau sudah perkenalkan diri, ya?
Ayo. Kita minum.
Bersulang!
Da Gou, kita punya urusan.
Kau mengirim para berandal ini untuk menyita mobilku
alih-alih mengurusnya langsung padaku.
Kau mempermalukanku.
Sekarang, ada yang harus kubicarakan dengan para India ini.
Kemari kau jika ada masalah denganku.
Kita selesaikan. Satu lawan satu. Ayo!
Aku tak percaya tawuran antar geng.
Kita selesaikan ini secara jantan.
Jika kau menang, suruhlah orang-orangmu untuk menghajarku.
Jika aku yang menang, kau harus enyah dari sini!
Ayo, Bedebah!
7 kali 6 adalah 42. 8 kali 6 adalah 48.
9 kali 6 adalah 54. 10 kali 6 adalah 60.
- 11 kali 6 adalah 66. - Bagus. Duduklah.
Shankar.
Sebutkan perkalian sembilan.
1 kali 9 adalah 9. 2 kali 9 adalah 18.
3 kali 9...
Kau belum hafal?
Kemarin aku masih ingat, Pak. Tapi aku lupa hari ini.
Tabel perkalian akan sangat berguna,
tak hanya di ujian, tapi juga di kehidupan.
Lalu untuk apa kalkulator, Pak?
- Apa katamu? - Tidak.
Kalkulator?
Kau mau pakai kalkulator daripada otakmu.
Kau akan ingat tabelnya dengan berlutut. Lakukan!
Maniam, tunggu.
Kemarin aku melakukan kesalahan. Ini sisa gajimu.
- Kumohon jangan marah. - Baik.
- Terima kasih. - Baik. Terima kasih.
Jadi, dia sudah berikan sisa gajimu, Maniam?
Ini uang hasil kerja kerasku. Ke mana lagi akan pergi?
Apa kita akan merayakannya?
Kau tak minum, Maniam?
Aku berhenti minum bertahun-tahun lalu.
Saat tinggal di kebun karet, kami hanya dapat film sebulan sekali
dan sandiwara setahun sekali.
Jika kami menari-nari, kami tak akan merasa kelaparan.
Saat ini, di kota-kota,
bir sudah menggantikan tuak.
Artinya,
kita ini masih jadi budak, hanya beda majikan.
Apa ini, Maniam? Kau berkhotbah saat sadar.
Leluhur kita bersusah payah membangun negara ini.
Kini, yang tersisa hanya kuburan mereka.
Mereka menjual lahannya dan tak meninggalkan warisan untuk kita.
Kita butuh uang jika mau memutus rantai perbudakan ini.
Tapi kita tak punya uang.
Maka, satu-satunya jalan adalah lewat pendidikan.
Adikku tak pernah memahaminya.
Jika putraku juga tak mau memahaminya...
Ayo, kita minum.
Hei!
Apa itu?
Dari mana kau?
Naik ke sepeda!
Kau keluyuran, ya?
Bukannya belajar, kau malah keluyuran.
Pak Ratnam telah meninggal dunia. Pemakamannya besok pukul 15.00.
- Ada apa ini? - Ada apa, Ennaman?
Pak Ratnam meninggal dunia. Pemakamannya besok pukul 15.00.
Langsung pulang.
Bilang pada ibu, ayah pulang telat.
Pak Ratnam meninggal dunia. Pemakamannya besok pukul 15.00.
Tes Pencapaian Sekolah Dasar tinggal empat bulan lagi.
Tapi, sampai sekarang pun,
masih ada yang belum hafal tabel perkalian 12.
Hei!
Berdiri!
Sebutkan tabel perkalian 12.
1 kali 12 adalah 12. 2 kali 12 adalah 24.
3 kali 12 adalah 36. 4 kali 12 adalah 48.
5 kali 12 adalah 60. 6 kali 12 adalah 72. 8 kali 12 adalah 84.
9 kali 12 adalah 108. 10 kali 12 adalah 120.
11 kali 12 adalah 132.
12 kali 12 adalah 144.
Setengah untuk Ibu, setengah untuk Ayah.
Berdiri!
Ceritakan tulisanmu kepada teman-teman sekelas.
Bacakan dengan lantang.
"Telur kecil.
Aku ini telur besar.
Setengah untuk Ibu, setengah untuk Ayah.
Enam kali enam...
Ini dia si beruang Teddy."
Teruslah begini, nilai tesmu akan dapat nol.
Paman, kenapa kita harus sekolah?
Apa tidak bisa belajar dari TV?
Kenapa kita harus melakukan hal yang kita tak suka?
Jika tak suka, maka jangan dilakukan.
Sekalipun tabel perkalian?
Tak usah.
Jika tak hafal dalam dua minggu, Ayah akan dipanggil ke sekolah.
Ini.
Itu cermin ajaib.
Cerminnya bisa mengukur jika orang pintar atau bodoh.
Hafalkan tabelnya sembari melihat cermin.
Kau akan menjadi pintar
saat mulutmu tak lagi bergerak di cermin.
1 Kali 12 adalah 12. 2 Kali 12 adalah 24.
3 kali 12 adalah 36.
4 kali 12 adalah 48. 5 kali 12 adalah...
Hei.
Kau selalu pakai jaket kulit?
Walau hujan atau terik?
Aku selalu ingin menanyakan ini.
Kau mencukur rambutmu agar trendi
atau karena sudah mulai botak?
Agar trendi, 'kan?
Hei, tunjukkan rasa hormat saat bicara padanya.
Dia gila.
- Gila? - Ya.
Hal tergila apa yang pernah dilakukannya?
Suatu malam kami berkemudi bersama teman-teman.
Ada pos pemeriksaan polisi di depan.
Dia tak punya SIM dan belum bayar pajak jalanan.
Lalu apa yang terjadi?
Saat polisi bersiap memberikan tilang,
dia merebut buku tilang, berkendara melompati selokan, lalu kabur.
Kau memang luar biasa!
Mari minum untuk dirimu karena melompati selokannya.
Ayo.
Jika dulu tak ada Bala, aku pasti sudah lama tewas.
Aku pasti kena tebasan goloknya.
Dia sama sepertimu.
Dia pintar beraksi. Tak lama mengambil keputusan.
Benar, bukan?
Bertindak dahulu.
Baru pikir belakangan.
Cukup, Da Gou. Itu sudah lama sekali.
Mari makan!
Kau tak ajak mereka untuk bergabung?
Tak apa-apa. Mereka sedang asyik minum-minum.
Mari makan.
Bala, maafkan aku...
karena tak berkunjung saat kau masuk panti rehabilitasi.
Aku tak mau melihat kondisimu saat itu.
Kau masih memikirkan Maria?
Jangan menghukum dirimu.
Dia sudah tiada.
Mau minum?
Apa menurutmu ini salah?
Aku nekat bergabung dengan triad.
Tapi kini,
aku menekuninya dengan serius.
Semua orang tahu jalurnya, tapi sedikit yang melaluinya.
Panggilan darurat, ada yang bisa kubantu?
Kau pikir dirimu sangat hebat hingga mau bergabung dengan kami?
Buktikan. Kutantang kau menyiram wajahnya dengan bir.
- Berani siram ke wajahku? - Kutantang kau!
- Berani siram ke wajahku? - Siram wajahnya!
- Berani siram ke wajahku? - Siram wajahnya jika berani!
- Berani siram ke wajahku? - Cepatlah!
Kalian sudah menghafal tabel perkalian?
Shankar.
Sebutkanlah.
Kau masih belum hafal juga?
1 kali 12 adalah 12. 2 kali 12 adalah 24. 3 kali 12 adalah 36.
4 kali 12 adalah 48. 5 kali 12 adalah 60.
6 kali 12 adalah 72. 7 kali 12 adalah 84.
8 kali 12 adalah 96. 9 kali 12 adalah 108.
10 kali 12 adalah 120.
11 kali 12 adalah 132. 12 kali 12 adalah 144.
Pak, aku boleh bertanya?
Pak, berapa 17 kali 8?
Jawabannya 112.
Berapa 19 kali 12?
Jawabannya 228.
Kau tak tahu tabel perkalian?
Hafal tabel perkalian hingga 12 sudah cukup.
Ada kalkulator untuk selebihnya.
Bukankah itu ucapanku dulu, Pak?
Aku gurumu. Kau harus mendengarkanku.
Lalu kenapa kau memukuli kami jika kami salah?
Ibu, Ayah, Guru?
- Tuhan! - Tuhan!
Ibu, Ayah, Guru?
- Tuhan! - Tuhan!
Ibu, Ayah, Guru?
- Tuhan! - Tuhan!
ALTAR NA TUK KONG
Ennaman!
Pak Ramu sudah meninggal. Pemakannya besok pukul 15.00.
Kades menyuruhku memberitahumu.
Bu, Pak Ramu sudah meninggal. Pemakannya besok pukul 15.00.
Pastikan kau hadir.
Pak, Pak Ramu sudah meninggal. Pemakannya besok pukul 15.00.
Tak ada dua bersaudara yang begitu saling menyayangi
Seperti kita berdua
Kau adalah perpanjangan dari diriku
Kita terlahir dari ibu yang sama
Bagus.
Rocho, ini adalah kakakku.
Baik. Kenapa kau tak pergi ke sana?
Jadi, begitu?
Durai.
Aku menyayangimu, Durai.
Baiklah. Cepat pergi ke sana.
Cepatlah.
Mereka memanggilku Vadi.
Aku tahu kau siapa, Vadivelan.
Durai.
Hei, panggil dia Mexico.
Mexico.
- Durai. - Rocho, duduk.
Kudengar kau penagih utang juga. Itu kata anak buahku.
Bagaimana cara penjahat kelas teri bisa terlibat dengan kelas kakap?
Kau tak paham?
Narkoba.
Narkoba adalah masa depan.
Aku tak berbisnis narkoba.
Aku berbisnis menghajar orang hingga babak belur.
Itu bagus.
Jangan kemari lagi, Vadivelan.
Pak, apa kabar?
Baik-baik saja. Masih sibuk beraktivitas.
Katanya dia dikubur hidup-hidup.
Ini ulahnya Appoy.
Dia memberi Appoy PR.
Bukankah wajar memukul anak yang tak selesaikan PR-nya?
Apa perlu mengumumkan kematian seseorang untuk itu?
Dia masih anak kecil. Tolong jangan dihukum berat.
Entah kenapa Appoy tak menyukaiku.
Dia bilang bahwa aku menyuruhnya untuk mengumumkan kematian Pak Ramu.
Aku tak merasa tersinggung soal ini.
Tapi, Pak Ramu cukup kesal.
Kita mungkin berada di abad ke-21,
tapi bukankah guru harusnya dihormati seperti para dewa?
Appoy!
Appoy!
Appoy!
- Kumar, pekan depan kita libur sekolah. - Kenapa?
Masa berkabung untuk Pak Ramu!
Ini untuk kematian Pak Ramu!
Tapi aku tak merokok.
Appoy!
Aku hanya pegang rokok, Ayah.
Aku tak merokok.
Aku tak melakukannya, Ayah.
Kupegang, tapi tak kuisap.
Sungguh.
Aku tak merokok, Ayah.
Kupegang, tapi tak kuisap.
Jangan sekejam itu.
Jika ada yang berani melepas ikatannya...
Makanlah.
Ayahmu pernah menuduhku bolos dari sekolah.
Jadi, dia mengikatku ke pohon.
Di dekat pohonnya ada sarang semut. Dia ambil lalu lempar kepadaku.
Tubuhku digigiti semut.
Kau tahu ayahmu seperti apa, bukan?
Tapi aku tak berbuat salah, Paman.
Gendut! Tampaknya kau baru saja dihajar kemarin.
Apa kau menatapku?
Hei, apa kau menatapku?
Hei, aku bicara kepadamu. Jangan berani mengabaikan aku!
Jangan sentuh kepalaku!
Hei!
Kini kau kriminal terkenal.
Berhati-hatilah.
Jika tidak, takkan ada yang menolongmu.
Kenapa tak memukulnya sekarang? Silakan.
Hei.
Ada apa?
Menyelesaikan masalah di antara mereka.
Kedua anak ini bertengkar, jadi aku kemari untuk mengurusnya.
Ada apa, Appoy?
Kau tahu dia siapa, bukan?
Dia keponakannya Mexico.
Pergilah.
Ayo, Panther.
- Hei. - Pergi.
Pesan dua es susu cokelat.
Coba lihat informan itu.
Suruh si orang Bangladesh berkaus hijau untuk datang kemari.
Jika menolak, bilang akan kudatangi.
Baik.
Bangla!
Kemarilah.
Ada apa?
Bukan kau. Pria berkaus hijau.
Ada apa, Adik?
"Adik"? Memang aku adikmu?
Kemarilah.
Kenapa? Memang ada apa?
Jika dia tak ikut, Chicago yang akan datang kemari.
Kemarilah. Kau mau kabur ke mana?
- Apa kau Shah Rukh Khan? - Bukan.
- Salman Khan? - Bukan.
Namaku Mirzan.
- Apa katamu? - Mirzan.
Dia berani, ya?
Hanya berbicara saat kuminta. Jangan menyelaku bicara.
Ada banyak wanita di kota ini?
Jawab.
- Ada apa? - Dia sedang iseng saja.
- Kau sedang apa di sini? - Tanya ke Chicago.
Appoy itu hebat, Mexico.
Kau harusnya lihat cara dia mengintimidasi Bangla ini.
Pria ini amat ketakutan.
Aku harus bilang berapa kali?
Berhenti bermain-main.
Kau tahu apa yang telah Bangla ini lakukan?
Dia merayu gadis-gadis lokal kita.
Hei, enyah!
Pulanglah.
Kau merasa sudah jagoan, ya?
- Ada apa, Sayang? - Tanya dia!
- Kau merasa sudah jagoan, ya? - Apa?
Appoy!
Kau berani hendak memukul ayahmu?
Jangan melakukan itu lagi.
Pergi ke kamarmu!
Mexico harusnya tak memarahi kita di depan orang-orang itu.
Dia bersikap lebih baik pada Rocho.
Tamparan itu bukan untukku. Itu maksudnya untukmu.
Kau hendak memperkeruh hubunganku dengan Mexico?
Jangan coba-coba mengelabuiku, Keparat!
Kuhajar kau! Pergilah!
Tahu kenapa mereka bilang, "Bersulang"?
Mata melihatnya.
Tangan merasakannya.
Hidung menciumnya.
Lidah mencicipinya.
Tapi kasihan si kuping karena ia tak ikut turut serta.
Jadi mereka bilang...
bersulang.
Minumlah.
Aku teringat ayahku tiap melihat dirimu.
Dia mirip sepertimu, preman yang loyal.
Itu semua hanya akan bertahan selama kau masih muda.
Katanya, pendidikan itu penting.
Tapi orang berpendidikan punya atasan berkuasa.
Tak ada ruang untuk kecerdasan di dunia ini.
Hanya ada kekuasaan.
Jika kau orang yang berkuasa, bahkan orang berpendidikan tunduk padamu.
Dia punya hidung yang manis. Jangan terlalu kasar padanya.
Pak, sudah kuurus.
Mau mencobanya, Pak?
Ibu?
Ibu?
Ibu?
Bos, heroin dicari banyak orang.
- Kirim lebih banyak berikutnya. - Baik.
Bos, persediaan kita menipis. Harus bagaimana?
Gilas ini
lalu dicampur heroin.
Aku dengar kabarnya, Mexico.
Kau awalnya preman, kini kau terlibat dalam narkoba.
Aku? Narkoba?
Kau tahu aku membenci itu, Pak.
Tak perlu menyangkalnya.
Pastikan saja kau tak tertangkap.
Paman?
Kemari, Appoy.
- Aku kemari lain kali saja. - Appoy!
Kemari. Duduklah.
Dahulu kala, kau punya seorang paman.
Dia sangat bugar.
Lalu,
dia mulai kecanduan narkoba dan akhirnya pamanmu meninggal.
Kau tak boleh melupakan itu.
Kau tak boleh terlibat dengan narkoba.
Tiap pria menjalani hidupnya dengan moral kompas tersendiri.
Namun, di atas itu semua,
ada hal yang lebih tinggi lagi.
Di hadapan sosok tinggi tersebut,
saat kita berdiri di hadapannya,
kita semua...
hanyalah semu.
Di hadapannya,
saat kita berdiri di hadapannya,
kita semua hanyalah semu.
Maniam!
Maniam!
Adikmu, Bala, ditemukan tewas.
Vadivelan!
Kali ini kau sudah keterlaluan.
- Bicaralah padaku. - Kau akan mati!
Kau harus berurusan denganku dulu.
Aku pria yang kau cari.
Mati kau sekarang!
Tidak. Kau yang mati.
Layanan darurat.
Pak?
Pak?
SALAM SAYANG MARIA
Ini semua ulah Chicago.
Mexico tak tahu apa-apa.
Terima kasih.
Jika pria itu mati,
Mexico mungkin akan dipenjara.
Tapi jangan cemas.
Jika Mexico dipenjara,
kau akan kuberi 1.000 ringgit tiap bulannya.
Itu tak perlu, tapi terima kasih, Pak.
Dia salah satu anak buahku.
Aku harus menjaga mereka.
Dia adikku.
Ya?
Ya.
Baiklah.
Untung saja dia tidak tewas.
PENGADILAN NEGERI PENGKALAN HULU
- Paman Appoy pengecut! - Kenapa?
Dia merengek seperti anak kecil di kantor polisi.
Dia menangis begitu.
- Pamanku tak menangis. - Dia menangis. Dia pengecut!
Tutup matamu, Durai.
Tinggalkan semua masalahmu di masa lalu.
Makan yang banyak, Durai.
Makanlah.
- Bu, Paman ada di rumah? - Dia ada di kamar.
Sudah makan, Appoy?
Aku berubah pikiran, Da Gou.
Mau kita bunuh Chicago?
Aku berhenti dari geng.
Aku mau keluar.
Lihat semua saudaramu ini.
Siapa yang akan mengurus mereka jika kau berhenti?
Siapa pun yang mau keluar, harus mengikuti peraturannya.
Kita sudah berjuang hingga tumpah darah.
Jadi, darah itu harus dikembalikan.
Kau paham?
Hei!
Gila, kau selalu bersama dia, bukan?
Pukul dia.
Berhenti, Bocah.
Kubilang berhenti!
Kenapa kau pasang kuda-kuda? Jangan begitu.
Jangan pasang kuda-kuda, Bocah.
Rocho!
Sudah cukup!
KEJADIAN DAN KARAKTER DI FILM INI HANYALAH FIKSI
KESAMAAN DENGAN ORANG YANG MASIH HIDUP ATAU MATI HANYA KEBETULAN BELAKA
Terjemahan subtitle oleh Putri Harbie
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.