All language subtitles for House.with.Laughing.Winds.1976.DVDRip.XviD.ITA.AC3-KG_ind

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Diterjemahna neng: NDASERUAG

--- Selamat Mendeleng ---

RUMAH DENGAN JENDELA TERTAWA

Warna-warnaku...

Keluar dari pembuluh darahku,

Manis, warnaku...

manis sekali...

Manis seperti musim gugur...

Panas seperti darah segar...

Lembut seperti sifilis,

Mengalir ke pikiran orang-orang...

Menginfeksi semua orang...

Warna-warnaku... .

Ada di dalam lenganku..

Astaga, jauh...

Begitu jauh warna-warnaku pergi...

Dan seseorang harus mati deminya, warnaku...

mengeluarkannya dari dalam... membukanya...

Keluarlah... keluarlah...

Kemurnian...

Kemurnian... semua warnaku...

Semua warnaku...

Sialan...

Dia sekarat... Dia sekarat...

Aku merasa dia akan mati....

Dia mati. Akhirnya. Kemurnian...

Selamat pagi, aku Solmi.

Senang bertemu denganmu.

Jangan, bawa punyanya saja.

Ikuti saranku, bukan begitu cara mencoba peruntungan dengan wanita saat ini.

Bagaimana pun, selamat datang di desa kami.

Coppola!

Akulah orang yang menulis surat kepadamu di akademi.

Agar tepat guna, kami harus menemukan...

seseorang yang terkenal dari desa ini yang bisa dijual ke khalayak.

Pariwisata dan pemandian air panas di sini sepi...

karena kurangnya daya tarik dan publisitas.

Akibatnya ekonomi desa ikut kena dampaknya.

Sopir, ke gereja!

Aku yakin kamu akan melakukan pekerjaan dengan baik.

Kuharap begitu.

Pelukis dinding itu, Legnani, meninggal sekitar 20 tahun yang lalu.

Kami bahkan tak bisa menamai jalan dengan namanya!

- Itu sebabnya kami menghubungimu. - Ya, aku mengerti.

Segera setelah kamu kelarkan pekerjaannya, kami akan...

jadikan lukisan dindingnya satu dari empat daya tarik utama daerah kami.

Selain para wanitanya, pemandiannya...

dan kesunyiannya!

Kenapa kamu? Jam segini sudah mabuk?

Aku, mabuk?

Lukisan dinding itu ada di sebuah gereja tua di pinggiran kota.

Aku membiarkan pendeta yang mengurusnya di sana.

Legnani yang gila membuatnya di sana, dan aku tak dapat memindahkannya.

Gereja ini telah dihancurkan dan dibangun kembali berkali-kali.

Jika bukan karenaku, mungkin sudah tak ada lagi di sini.

Solmi bilang kamu datang ke sini saat perang.

Itu betul. Gereja ini dulunya adalah barak pasukan Nazi.

lalu, garasi mobil pemakaman.

Pendetanya sudah lama pergi, hanya menyisakan temboknya saja.

Jadi, aku memulainya dari awal.

Membangunnya kembali selama beberapa lama, dan inilah hasilnya.

Dan kini mereka telah menemukan omong kosong di sana itu

dilukis oleh Buono Legnani. Katanya perlu direstorasi... dll.

Jadi kedamaianku hilang.

Lukisan yang hebat!

Hanya seniman hebat yang bisa mengirimkan perasaan kematian yang serealistis ini.

Seniman mengagumkan!

Mungkin, tapi apa kamu sungguh berpikir dari semua tembok

yang bagus dan bersih di sekelilingnya ini,

dia harus memilih yang ini untuk omong kosong seperti itu?

Kasian sekali! Dia mungkin tak tahu kalau dia ada di gereja!

Mungkin dia memang gila.

Kamu ngapain? Mau kerjakan sekarang?

Hanya memeriksa.

Aku akan meninggalkanmu kerja. Aku mungkin kasar, tapi...

aku belum makan apa-apa sedari pagi.

Jangan terlalu serius mengerjakan pekerjaanmu.

Karena di sini jika kamu mengharapkan imbalan...

kamu mungkin harus menunggu lama!

Dia mustinya melakukan hal begituan itu di tempatnya sendiri, dasar jalang...

Ambillah ini.

Ya?

Ada telepon untukmu.

Di situ. / Terima kasih.

Halo.

- Pergi. - Maaf?

- Kamu datang untuk lukisan itu... - Halo?

Siapa ini yang menelepon?

Jangan sentuh lukisan itu!

Hei, kamu tampak cantik!

- Apa kabarmu? - Aku baik, terima kasih.

Hari ini kami punya makanan istimewa lezat.

Ini kejunya, kopinya segera datang.

Ya, terima kasih.

Kamu membuatku terkejut di hotel tadi!

Akhirnya ada wajah baru di sini! Apa kamu di sini untuk bekerja?

Bisa dibilang begitu. Silakan duduk.

Ini kursiku.

Antonio!

Mau berterima kasih padaku? / Aku akan duduk di situ.

Sedang apa kamu di sini? / Apa maksudmu!?

Pikirmu siapa yang merekomendasikan-mu?

Mereka mencari pemulih yang hebat, seorang ahli...

aku langsung teringat pada pelukis favoritku yang gagal!

Bagaimana kabarmu sekarang?

Sudah berakhir!

Aku baik-baik saja. Seperti kataku, hanya gangguan saraf.

Aku hanya perlu jalan-jalan.

- Dan putus dengan Marcella? - Jalang itu?

Nyindir aku, ya?

Apa kamu kenal siapa dia?

Dia seorang guru. Tapi sudah digarap orang satu desa!

Kalau mau ngentotin dia, cepet-cepet, sebelum dia dipecat!

Apa kamu sudah ke gereja? / Ya, tadi pagi.

- Jadi kamu sudah melihat lukisannya. - Ya, kenapa?

Aku berharap kamu melihatnya bersamaku.

Kamu sebaiknya jangan menceritakan ini ke siapa pun.

Aku menemukan cerita paling aneh yang pernah ada.

Itu sebabnya aku suruh mereka meneleponmu.

Kamu tidak apa-apa?

Aku baik saja.

Ya, aku baik-baik saja, sungguh.

Tapi sampai ketemu nanti.

Aku harus pergi sekarang, aku akan hubungi.

Dia cukup minum dua pil dan akan pulih seperti sediakala!

Tempat bagus, apa ini punyamu?

Bukan, menyewa. Aku cuma sebentar di sini.

Antonio bilang kamu seorang guru, benarkah?

Benar. / Siapa yang kamu ajar?

Anak-anak, menurutmu siapa yang kuajar?

Pasti membosankan.

Berapa sendok gulanya? / Sedikit saja.

Baiklah.

Aku selalu membuatkan teh untuk membuat kesan baik.

Kuharap aku begitu!

Biar kuberitahu sesuatu.

Kamu punya wajah sedih.

Maksudku kamu terlihat baik!

Beberapa tahun lalu, andai ada yang memanggilku "baik"...

apalagi dengan body-ku ini yang...

Jika kamu merasa kesepian, kembalilah.

Kamu tahu jalannya.

Aku tunggu kunjunganmu. Tapi jangan pagi hari, aku sedang di sekolah.

Akan kuingat.

Jika kamu ingin memahami sesuatu, akan kubawa kamu ke suatu tempat.

Aku akan mengantarmu ke sana besok.

Ada sebuah rumah dengan jendela tertawa!

Itu cerita yang kemarin?

Dulu kamu lebih imajinatif.

Tahukah kamu mereka sebut apa Legnani di sini?

Pelukis Penderitaan.

Betapa cerianya!

Ya, ceria,

terpikir suatu hal saat ada yang terluka dan mati.

Kemarilah, Foresti!

Ini dia, dokter.

- Trims. Sampai jumpa besok di lembah. - Baik.

Kamu sedang berbicara tentang penderitaan...

Hai, kalian, selamat pagi.

Btw, Dokter, peralatan yang kamu pesan sudah tiba, kamu senang?

Kamu buang-buang duit, Solmi, tak ada lagi belut di sungai ini.

Ada banyak peninggalan perang di sini daripada di pabrik Krupp.

Hei, kamu tahu?

Aku harus mulai bekerja juga.

Sampai jumpa lagi!

- Kamu keberatan kalau aku ikut? - Tidak.

Maaf, mengganggu tadi. Apa yang kalian berdua bicarakan?

Tak ada yang serius.

Rumor tentang orang mati dan pelukisnya.

Kasian temanmu, dia bisa jadi teman baik...

andai tak punya pikiran-pikiran aneh begitu.

Seseorang mengancamku, mencoba menakutiku di telepon.

Kerjaan siapa kira-kira?

Suatu kali ada pria ini, Zanotti. Menelpon wanita di malam hari.

Bilang kalau dia telah menghamilinya, sampai kemudian ketangkap.

Lebih baik biarkan saja. Toh, kamu tak bisa mencegahnya!

Siapa yang menaruh bunga itu di situ?

Entahlah.

Kenapa, kamu tidak suka?

- Cukup! Dasar pemabuk! - Aku minum sebanyak yang kumau!

Jangan dorong aku!

Biarkan aku mabuk!

Jangan main-main denganku!

Jangan main-main denganku!

Kamu tahu aku bisa apa...!

Kalian tahu aku bisa apa!

Kamu tenanglah!

Ya? Jangan seperti bajingan tengik!

Kamu tahu betul maksudku! Sekarang pulang!

Pulang!

Kasih aku rokok dulu?

Sudah tak apa-apa.

Terima kasih, Petugas.

Tidak masalah, Tuan Poppi. / Terima kasih.

Selamat malam.

Maaf atas keributannya.

Ini satu-satunya restoran di desa ini.

Mesti berpikir dua kali sebelum mengusir orang.

Btw, bagaimana makanannya?

Mantul, saya menyukainya.

Kamu datang untuk Lukisannya.

Bagaimana kamu tahu?

Kamu tahulah bagaimana, kamu buka jendela dan kamu tahu semua.

Sejak si pendek Solmi datang, kolektor lukisan itu...

segalanya berubah.

Menjadi lebih baik.

Seperti yang orang bilang: ketika seseorang adalah bajingan yang beruntung...

kamu mengertilah.

Solmi mampu menarik banyak uang dari pelukis sialan itu.

Dan aku tidak keberatan soal itu. Jangan tanya kenapa,

Tapi aku punya sepuluh di antaranya.

Dan Solmi juga ingin mendapatkannya. / Koleksi yang luar biasa!

Itu istriku. Jika itu terserah aku, aku akan berikan semuanya.

Tapi itu semua milik istriku.

Kasihan, dia tidak normal lagi. Kami praktis hidup terpisah.

Dia tinggal di lantai atas, tapi turun ke sini kapan pun dia mau.

Bolehkah? / Monggo silakan.

Itu salah satu lukisan pertama Legnani. Itu favorit istriku.

Dia secara pribadi memberikannya kepada istriku.

Tapi itu dulu, sebelum dia menjadi si "pelukis penderitaan".

Dia sudah gila.

Kekonyolannya, mengoleskan warna ke tubuhnya sendiri.

penyakit sipilis masuk ke dalam darah...

Tak bisa menemukan wanita yang bersedia berpose telanjang untuknya.

Kamu tahu... dia tak punya model.

Dia suka berbaring telanjang di depan cermin,

Mengoleskan cat warna di lengannya.

Halo? Siapa? Ya, dia ada di sini.

Tunggu sebentar.

Ini untukmu.

- Halo? - Jangan sebut namaku.

Aku harus berbicara denganmu.

Kudapatkan gambaran keseluruhannya yang mengerikan.

Aku tunggu di hotel. Di kamarmu!

- Aku melihatnya terjatuh! - Cepat, panggil ambulans!

- Dia sudah mati. - Hubungi dokter.

Astaga, dia sudah mati!

Dia melakukannya!

Astaga! Dia bunuh diri! Apa yang terjadi?!

Dia bunuh diri... malangnya.

Dengar, aku turut berduka cita sepertimu atas kematian orang malang itu.

Kami menghabiskan waktu bersama dan aku bersimpati padanya.

Petugas, aku yakin seseorang mendorongnya.

Aku melihat bayangan.

Lagi pula, dia tidak punya alasan untuk bunuh diri.

Setuju, tapi tak ada petunjuk.

Tidak ada bukti yang membenarkan dugaan pembunuhan.

Musuh dia satu-satunya adalah dirinya sendiri.

Nanti juga kamu akan mengerti.

Ini bukan tempat untuk kaum muda. Dia bingung. Tidak bahagia.

Tak bisa ngapa-ngapain di sini selain minum.

Gadis-gadis muda semuanya pergi. Temanmu sangat kesepian.

Bagaimanapun, kami akan kirim jenazahnya ke Ferrara untuk diperiksa.

Nanti kita akan adakan pemakamannya.

Selamat malam. / Selamat malam.

Halo?

Eh, Tuan, ini untukmu. Kamu angkat di pojok sana.

Halo?

Pergilah.

Jangan usik lukisan itu.

Jika kamu pikir kamu bisa menakutiku dengan panggilan telepon,

Kamu salah besar, mengerti?

Dia mencintaiku. / Aku tak akan pergi.

Maaf, Tuan,

akan ada turis pemandian air panas besok pagi.

Kamu akan mengerti, kan?

Maksudmu? / Dia mau menginap di hotel ini,

tapi tidak ada kamar. Jadi kami memberikan kamarmu untuknya,

kami minta maaf sekali. Andai kami tahu.

Kamu mau?

Tikus terbaik adalah tikus wirog.

Ada banyak di sini kalau mau.

Dagingnya empuk. Di sini orang pada masak tikus, tau.

Kamu rebus hidup-hidup dalam air, dan hasilnya enak.

Dimasak sebentar, dimakan selagi panas.

Apa isi jerigen itu?

Apa? Rahasia, dong?

Ayo!

Kita jadi pergi, ndak nih?

Ayo, cepetan!

Naik ontel, naik ontel, naik ontel sekarang...

Sekarang ontel apa, ontel apa, sekarang...

Ontel rusak, ontel rusak, ontel rusak sekarang...

Sekarang rusak apa, rusak apa, sekarang...

Bagaimana menurutmu? Lumayan?

Kamu ikut, tidak?

Buruan!

Kamu lihat, hebat, kan?

Kamu tinggalah di sini selama kamu mau.

Ayo.

Silakan.

Rumah siapa ini?

Itu tidak penting. Nanti juga tahu.

Hei, ayuk!

Lewat sini.

Kamu rupanya?

Kok kamu tidak makan?

Makan sampah ini maksudmu?

Kamu apakan uang yang kuberikan padamu?

Maling!

Kalau tidak suka dengan yang kubawa, jalan sana sendiri ke restoran.

Kalau saja aku tidak sakit...

sudah kuhantam kepalamu pakai baki!

Siapa dia?

Selamat pagi.

Dia pria baik.

Dia akan tinggal di sini buat sementara, sampai dia menemukan tempat.

Sudah lama sejak terakhir kali aku dikunjungi orang.

Aku sendirian di sini.

Kesunyian ini sungguh menyiksa.

Kapan turisnya tiba?

Turis apa? / Yang ke air panas.

Mana ada? Turis terakhir yang nginap di sini adalah...

orang Nazi kotor di tahun 40-an!

Siapa?

Ah, kamu rupanya.

Aku tidak ingin mengganggu. Apa kamu sedang tidur?

Aku tidur? Tidak.

Bagaimana seorang wanita yang kesakitan seperti ini bisa tidur?

Boleh aku bertanya?

Apa kamu mendengar suara-suara tadi malam?

Suara-suara? / Ya.

Tadi malam?

Ya.

Satu-satunya orang yang berjalan di lantai ini adalah kamu kemarin...

aku berharap bisa berjalan juga.

Kurasa kondisimu tidak seburuk itu.

Kemarilah, anak muda.

Kemari.

Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengan orang yang sehat.

Aku senang bila ada yang peduli padaku.

Bagaimana cuacanya, cerah?

Ya.

Ini hari yang indah.

Kamu akan datang menemuiku lagi, kan?

- Baik, sampai nanti. - Sampai nanti, anak muda.

Apa ada orang di situ?

Warna-warnaku...

Mengalir melalui pembuluh darahku.

Warna-warnaku...

Lembut seperti musim gugur...

Panas seperti darah...

ringan seperti sifilis.

Warnaku berlarian, menatap mata orang-orang,

menginfeksi semua orang.

Warna-warnaku... berada di lenganku.

Berlumuran...

Menciptakan kebrutalan...

Ya Tuhan... warna-warnaku melukis kematian...

Sekarang, ya Tuhan, aku merasa dia sekarat...

Dia sedang sekarat... Murnikan dirimu...

Kamu sekarat... Murnikan dirimu...

Kamu mati di waktu yang tepat...

Don Orsi.

Don Orsi.

Don Orsi!

Ada orang di rumah?

Ya?

Permisi, aku perlu bertemu wanita yang tinggal di sini.

Dia tak ada di sini lagi.

Kamu tahu jam berapa sekarang?

Maaf.

Dia pergi tiga hari lalu, aku penggantinya di sekolah.

Masuklah, aku sudah bangun juga...

Kamu mau masuk tidak?

Saat kamu datang, aku sedang bermimpi.

Masuklah.

Tadi aku bermimpi berada di restoran.

Aku disuguhi seporsi besar bekicot.

Apa kamu suka?

Aku tak punya keberanian untuk menyentuhnya.

Tahu cara memasaknya?

Tidak, kurasa aku juga takkan berani memakannya.

Siapa namamu?

Fransisca.

Baiklah, aku mau kembali tidur.

Kuharap kita bisa bertemu lagi.

Hei!

Aku menaruh tikus hidup di peti mati temanmu...

agar dia tak kesepian.

Ya Tuhan, ada apa dengan kedua wanita dalam lukisan ini?

Apa hubungannya dengan subjek sakral?

Lukisan dinding itu bukan tentang iman.

Kurasa kamu akan menyukainya.

Kedua tokoh ini, yang tak seorang pun menyadarinya sebelum aku datang,

menjadikan karya Legnani semakin nyata.

Tidak ada lagi kemunafikan tentang para martir yang tersenyum!

Kekejaman kemartiran yang sesungguhnya, kematian dalam kengerian penuhnya.

Memancing menyenangkan di sini, ikan-ikannya sangat lapar.

Sesampainya kamu di sini, seperti apa tempat ini?

Aku melewati musibah bersama beberapa orang lainnya,

lalu kami kembali hidup dan memiliki harapan.

Dan wanita di rumah tempatku menginap satu diantara orang-orang itu, bukan?

- Siapa, yang lumpuh? - Ya.

Aku tidak terlalu mengenalnya.

Aku tak pernah pergi menemuinya di rumahnya.

Dia telah terbaring di tempat tidur selama bertahun-tahun.

Katanya itu karena penyakit kelamin.

Ditambah lagi, dia tidak menyukai pendeta.

Apa dia teman Legnani?

Cukup! Jangan rusak acara memancingku dengan pelukismu.

Jangan bawa-bawa dia, setidaknya di sini.

- Apa ini? - Tidak sangka akan melihatmu di sini.

Aku telah melihat cara yang lebih baik untuk menyambut seseorang.

Aku sudah mendengarkan ocehan orang ini selama dua jam.

- Apa yang dia katakan? - Aku mencoba mencari tahu.

- Bagaimana kamu bisa di sini? - Lidio,

anak lelaki dari gereja, yang mengajakku.

Apa kamu sendirian?

Tidak, ada seorang wanita tua di atas. Tak pernah bangun dari tempat tidur.

Sulit untuk merokok saat perut kosong.

Aku bisa memberimu beberapa pelajaran memasak.

- Bekicot? - Bukan, ini jauh lebih baik. Yuk.

- Bisakah kamu menata mejanya? - Tentu saja.

Kamu akan temukan semua yang dibutuhkan di laci ini.

- Sementara itu aku akan ada di dapur. - Baik.

Aku menemukan buku aneh di perpustakaan wanita tua itu.

"Suka Memasak".

Kenapa kamu mau menemui rekan-ku?

- Apa kamu menyukainya? - Apa?

- Apa kamu punya korek api? - Di sana.

Apa kamu tidur dengannya? Benarkah dia seorang nymphomaniac?

Ayolah...

BL?

Inisial siapa ini? Apa kamu kenal Buono Legnani?

Tidak, itu hadiah. Aku sudah miliki sejak lama.

Ini bukan tempat yang menyenangkan, bukan?

Setelah memakan ini, sang puteri dan sang ksatria...

akan merasakan cinta dan gelora di sekujur tubuh.

Apa kamu punya banyak barang bawaan?

Satu koper.

Kamu bisa membawanya ke sini.

Hei! Kamu sedang ngapain di situ?

Apa ini tempat tinggal Legnani?

- Siapa? - Pelukis. Apa dia tinggal di sini?

Bisakah kamu memberiku tumpangan?

Ya, ayo.

Duduklah di depan.

- Haruskah aku mengantarmu ke hotel? - Kenapa kita tidak minum?

Tidak. Mereka takkan melayaniku.

Minum Soda Susu saja, aku harus pergi ke luar desa kemarin.

Terima kasih. Lain kali aku yang traktir.

Kita lihat nanti. Sekarang lanjutkan ceritamu.

- Sekarang? - Ya.

Pelukis itu...

dia melakukan perjalanan ke Brasil bersama ibu dan...

dua saudarinya untuk mengadu nasib.

Namun hanya dia dan dua jalang itu yang kembali.

Dia tidak menemukan keberuntungan di Brasil.

Ibunya meninggal di sana.

Mereka kembali, menemukan rumah itu dan tinggal di sana.

Aku kencing dulu.

- Dengan apa mereka hidup? - Bagaimana?

- Dengan apa mereka hidup? - Kasian mereka.

Mereka begitu marah...

karena mereka tak menghasilkan uang.

Aku bertemu dengan pelukis itu, tahu.

Umurku sekitar tujuh atau delapan tahun.

Dia datang suatu malam untuk melukis gambar ibuku yang sedang sekarat.

Dia bekerja di binatu,

dan dia datang untuk melukisnya ketika ibuku tengah sekarat.

Itu sebabnya mereka memanggilnya "Pelukis Penderitaan".

Dia suka melukis orang saat mereka sedang sekarat.

Mungkin dia tidak segila itu.

Mungkin dia... dua saudarinya-lah yang jadi penyebabnya.

Mereka mengikat dia dengan suatu hubungan yang orang tidak dapat akhiri.

Kamu tak bisa melawan alam. Mereka berdualah yang membuatnya gila.

Jadi kamu akan mengenali suaranya...

Jika kamu mendengarkan dia?

Itu tak akan sulit.

Sekali kamu mendengarnya, kamu tak bisa melupakannya.

Dia berbicara seperti orang gila, seperti senapan mesin.

Dan tiba-tiba dia memakai kata-kata asing.

- Dia aneh. - Tunggu sebentar.

Kakak beradik itu adalah dua pelacur besar.

- Hubungkan. - Ya.

Dengarkan ini.

Aku tidak mendengar apa pun.

- Apa kamu menyentuhnya? - Aku belum menyentuhnya sejak malam itu.

Itu kamu, bukan? Ini penting bagiku, paham kamu, idiot?!

Kamu tak percaya padaku? Aku tidak menyentuhnya.

Ini konyol.

Aku minta maaf.

Aku akan segera kembali.

Fransisca!

Coppola?

Apa kamu sudah bangun?

Aku hanya tidur sebentar,

dan aku baru bermimpi buruk.

Aku minta maaf.

Aku takut.

Aku juga, tapi bagiku itu berbeda.

Aku bisa pergi dari sini kapan pun aku mau.

Gila, barang-barang temanmu banyak.

- Apa semuanya sudah di kopor? - Ya, bawa saja.

Sungguh luar biasa, sulit dipercaya! Dengarkan.

Verifikasi rekrutmen model, periksa lingkungan rumah pelukis.

Kakak beradik akan membawakan mayat untuk dia lukis.

Kakak beradik...?

Kenapa mereka menggunakan begitu banyak formaldehida?

Cari tahu makam Buono Legnani.

Ini tentang persekutuan pengorbanan,

ritual berdasarkan pengorbanan manusia,

kemungkinan tentang orang berkomunikasi dengan orang mati saat ini masih...

melalui praktik-praktik ini.

Sudah cukup!

Itu sudah cukup.

Maaf, tapi aku tidak tahan lagi dengan hal ini.

Aku pergi.

Rio de Janeiro.

Ini dari Rio de Janeiro.

Ada apa? Apa maksudnya?

Mungkin itulah kunci dari semua ini.

Jelek sekali! Siapa mereka?

- Kurasa itu mereka. - Mereka?

- Aku harus pergi sekarang. - Bawa aku bersamamu.

Tidak, tetap di sini. Istirahatlah. Jangan buka pintunya, aku akan segera kembali.

Bunga cinta...

Bunga-bunga indah dari kebunku

untukmu, untukmu...

Bunga cinta

bunga-bunga indah dari kebunku

untukmu, Tuhan, untukmu...

Kakak beradik membawakan mayat untuk dia lukis.

- Apa maksudnya?

- Siapa yang ada di gereja?

Kamu rupanya. Apa yang kamu lakukan di sini?

Itu mereka! Mereka adalah 2 saudari si pelukis, kamu tahu?

Dia melukisnya saat mereka menikam tubuh martir. Lihat.

Benar, ada beberapa kemiripan. Dimana kamu menemukan ini?

Sekarang kita bisa cari sesuatu yang nyata.

Itulah yang dicari temanku sebelum mati. / Mencari apa?

- Kenapa kamu begitu bersemangat? - Aku tidak tahu.

Aku merasa terlibat dalam cerita ini.

Kematian Antonio... Semuanya sangat aneh.

Aku juga merasa begitu.

Jadi, sesegera mungkin, aku akan membuang omong kosong ini.

- Apa kamu juga takut? - Ya.

Aku akui kalau keberanian adalah sesuatu yang tidak diberikan Tuhan kepadaku.

Berjanjilah padaku kamu tidak akan melakukan hal bodoh.

Kenapa?

Aku mendengar banyak hal aneh di ruang pengakuan dosa.

Sepertinya nyonya rumahmu akan meninggalkan kita.

Malam ini aku akan pergi ke rumahnya untuk memberikan Pengurapan Ekstrim.

Coba aku lihat.

Ya, itu jelas mereka.

Tapi di mana kamu menemukan foto ini?

Aku terkejut karena mereka membiarkan diri mereka difoto.

Bagi orang-orang primitif seperti itu, difoto seperti...

Ya, aku tahu.

Ditambah lagi dia gila. Ya, itulah kebenarannya.

Gila, gila, gila, gila.

Istriku sangat cantik ketika dia masih muda,

dari keluarga baik-baik. Dan tak disangka dia jatuh cinta pada Legnani...

Dia tidak percaya cerita tentang dia dan 2 saudara perempuannya.

Di rumah mereka, di pinggir sungai, di rel, dimana saja.

Mereka mempelajari hal-hal ini di Brazil,

tempat mereka tinggal sejak masih anak-anak.

Mereka suka kawin seperti anjing yang sedang berahi.

Lalu tibalah malam dia bunuh diri.

Itu sekitar dua atau tiga bulan setelah dia menyelesaikan lukisan dinding itu.

Orang-orang dari rumah sakit jiwa di Rovigo sudah datang tiga kali,

tapi kakak beradik itu menyembunyikannya.

Lukisan Santo Sebastian itu pasti membuatnya gila.

Istriku adalah orang pertama yang melihatnya.

Dia jatuh cinta padanya.

Dia membakar dirinya sendiri.

Mereka tak pernah menemukan jasadnya.

- Hanya tertulis "diduga mati". - Maksudnya?

Mesti berapa kali harus kuulangi?

Diduga mati ya diduga mati!

4 Juni 1931, itu saja. Pada dasarnya itu artinya...

dianggap, kamu mengerti, dianggap.

Bahwa pria yang meninggal pada hari itu karena luka bakar itu...

adalah Legnani Buono, atau si pelukis.

- Apa aku perlu membacanya lagi? - Tidak.

Diduga mati... Dia mungkin masih hidup.

Seorang pria yang dilahap api seperti itu?

Bahkan mustahil untuk mengenalinya.

Franchini, fotokopi-kan sertifikat ini untuk besok.

Akan kubelikan empat minuman di bar.

Sudah kubilang bolak-balik aku tidak suka minum.

BTW, bukankah seharusnya kamu sudah kelarkan pekerjaanmu di gereja sekarang?

- Ya, kenapa? - Kamu menyebutnya restorasi?

Lidio, beritahu aku bagaimana kejadiannya.

Aku tidak tahu. Mungkin itu ulah orang.

Mungkin tadi malam.

Dasar brengsek.

Mungkin kami harus memanggil ahli betulan.

Ahli betulan ndasmu!

Siapa?

Siapa itu?

Fransisca.

Di mana kamu?

Ah, itu dia.

- Aku sudah 1 jam menunggumu. - Aku pergi ke desa untuk menelepon.

- Ada apa? - Tidak.

Aku menelepon pejabat sekolah negeri.

Aku meminta mereka untuk mengirimkan pengganti.

- Apa kamu bercanda? - Tidak.

Aku tak bisa tinggal di sini lagi. Aku jadi gila.

Sesuatu yang mengerikan terjadi hari ini. Aku lari sambil berteriak.

Aku merasa ada sesuatu yang mengerikan sedang memata-mataiku.

Kamu bilang kita akan bersama selamanya.

Itulah yang menghambatku.

Walau hanya beberapa jam di malam hari,

aku merasa lebih kesepian dari sebelumnya.

Aku takut.

Apa kamu ingin meninggalkanku?

Tidak, aku tidak akan melakukan itu.

Besok kereta berangkat jam 9 pagi.

Jika kita bangun pagi, kamu bisa berkemas tepat waktu?

Aku tidak bercanda kali ini.

Kenapa kamu tidak membangunkanku? Apa kamu berubah pikiran?

Kamu bilang kita akan pergi bersama.

Kenapa kamu berbohong padaku?

Aku tidak berbohong. Waktu kita dua jam untuk bersiap-siap.

Sementara itu, aku temui Solmi dan memberitahunya kita akan berangkat.

Mereka harus mengurus hal ini sendiri.

Selamat tinggal.

Apa ada orang di sini?

Selamat pagi.

Aku bawa kembali sepedanya. Ada di luar.

- Jadi kamu akan pergi? - Ya, benar.

- Bolehkah aku bertanya padamu? - Tentu.

- Apa kamu menjual asam muriatik? - Dan dengan kualitas istimewa. Mau?

Siapa yang membeli belum lama ini?

Itu dipakai untuk menghancurkan lukisan dinding.

Aku menjual satu liter per keluarga,

seminggu sekali selama dua puluh tahun. Semua orang membeli.

Kamu tidak ingin membantuku, bukan?

Aku sudah bilang. Mereka menggunakannya untuk membersihkan kamar mandi,

selokan, membunuh tikus dan buat dilemparkan ke wajah pacar.

Aku jual ke semua orang.

Aku pergi, Coppola. Antarkan aku, aku harus menjemput Francesca.

Mau pergi ke mana?

Para bajingan itu mengambil SIM-ku.

- Siapa? - Mereka.

Mereka tidak peduli padaku.

Mereka tak tahu aku bisa menghancurkan mereka, anjrit.

Mereka membeli diamku dengan sedikit minuman.

Tapi sekarang itu sudah cukup. Ini yang terakhir.

Kakak beradik si pelukis masih di sini.

Dan jika kamu mau tahu, mereka masih hidup.

Mendekatlah.

Aku satu-satunya yang melihat mereka beraksi.

- Apa maksudmu? - Mereka mencoba menangkapku,

tapi aku lolos.

Ketika aku masih kecil, aku biasa berlari dengan sangat cepat.

Apa kamu pikir aku takut dengan lukisan di gereja itu?

Jika aku takut, itu karena ada alasannya.

Aku tahu betul tentang kematian pria di lukisan itu,

penderitaannya, dan semua yang lainnya juga.

Tapi jika aku masih hidup, jika Coppola masih hidup,

Itu karena tak ada yang berani main-main dengan Coppola, tahu?

- Kamu pikir aku mabuk, bukan? - Tidak.

- Serius? - Ya.

Terlalu banyak orang yang hilang.

Temanku juga dibunuh, bukan?

Aku tak tahu apakah dia dibunuh.

Yang aku tahu adalah semuanya dimulai ketika...

mereka membunuh pria di lukisan itu.

Kamu sangat penasaran, bukan?

Aku tahu tempat di mana orang-orang yang penasaran sepertimu...

kehilangan akal.

Ayo. Aku bawa kamu dalam tur tamasya yang sangat menarik. Naik.

Kaukah itu?

Ini dia.

Legnani menyukai sebidang tanah ini.

Sekarang dijaga oleh pekerja sementara, tidak ada dokumen,

tidak ada yang peduli kalau itu hilang.

Boleh aku tahu kenapa kamu membawaku ke sini?

Aku tahu mereka semua ada di sini, semuanya. Dimakamkan di sini.

Ini salah satu modelnya.

Terpikir aku akan berakhir seperti ini juga.

Kamu tidak takut, bukan?

Aku suka melakukan ini dengan anak-anak di gereja, tapi mereka tidak takut.

Kamu tidak takut padaku, kan?

- Tidak ada yang takut pada Lidio. - Tidak.

Kamu menyukainya, bukan?

Tapi aku tahu banyak hal yang dia tidak tahu,

hal-hal yang dia ingin tahu,

dan yang kamu juga tak tahu, jalang!

Ingin tahu siapa wanita tua di atas?

Ingin tahu siapa yang ada di atas? Kamu sungguh ingin tahu?

Aku akan membawamu ke rumah dengan jendela tersenyum.

Pergi jemput gadis itu, aku akan menunggu. Cepat.

- Stefano. - Ya?

Jangan lama-lama.

Aku akan menunggumu.

Francesca, apa kamu siap?

Francesca, kamu di situ?

Nyonya, apa kamu melihat...

TIDAAAAK....!!!

Francesca.

Copoola...

Ya, itu di sini.

Ke sini, cepat. Bukan, ke sini.

Aku tahu ke mana mereka membawanya.

- Di sini, gali di sini. - Ayo.

Mau rokok?

Maaf, Pak, kami harus bagaimana? Terus menggali?

Apa kamu yakin kamu baik-baik saja? Tidak ada apa pun di sini.

Aku bersumpah itu di sini. Benar.

Ada beberapa dari mereka di bawah situ.

Siapa yang memberitahumu? Siapa informan-mu?

Coppola, si sopir. Dia membawaku ke sini.

- Coppola? Coppola sendiri? - Ya.

Sudah, Cifarelli, kita pergi.

Coppola, saksi yang sempurna! Mabuk terus!

Bisa yang cepat tidak?

Hei kalian, di mana kalian menemukannya?

Di tanggul, dia tenggelam tadi malam.

- Kami akan membawanya ke darat. - Dia terlalu berat!

Ayo, bantu aku.

Pasti ada lebih banyak alkohol daripada air di tubuhnya.

Luka apaan ini? Belum pernah lihat.

Luka perang. Dia terlibat baku tembak.

Itu tidak terlihat seperti bekas luka peluru.

Bawa dia ke Ferrara untuk diautopsi.

Aku ingin hasilnya besok.

Masaldi, apa kamu tahu sesuatu tentang guru itu?

Dia tidak di rumah, tidak ada yang melihatnya selama seminggu.

Teruslah mencari.

Jangan pergi. Datanglah ke kantorku besok pagi,

agar kita bisa bicarakan sekalian mencari tahu tentang apa kekacauan ini.

Kamu mengerti? Kamu mengerti, tidak?

Baiklah, petugas.

Ikuti saranku, menginaplah di hotel malam ini.

- Aku harus menemukan dia dulu. - Ini bukan saat yang tepat. Ayo.

Ya? Tunggu sebentar.

- Mereka mencarimu di telepon. - Siapa?

Aku tak tahu.

- Halo? - Sayang...

Ini aku, sayang, Francesca.

Datanglah, aku menunggumu di rumah.

Aku takut. Datanglah. Aku takut.

Bawa aku pergi.

Bajingan kamu! Bangsat!

Kamu rupanya. Ayo, mendekatlah.

Lihatlah dia.

Ini untuk dia, tahu? Adik kami.

Dia tetap nge-seks bareng kami berdua,

sementara kami membawakan model-model dia.

Baginya, melukis kematian adalah hidup.

Ayo, lihat dia.

Kamu menghormati dan mengagumi adik kami, bukan?

Bisa kamu mendengar suara indahnya?

Tahukah kamu bagaimana cara kami memeliharanya? Dengan formaldehida.

Lidio biasa membawakan untuk kami setiap hari.

Hari ini dia melukis lonte yang kamu bawa ke kamarmu saat dia sekarat.

Dan sekarang dia mempunyai model ini,

mata-mata ini untuk dilukis. Ayo, temui dia.

Ayo, jangan takut.

Dia juga terlihat seperti pria di lukisan dinding itu, bukan?

Bagus, kamu mengenainya.

Pegang dia!

Tangkap dia dari sisi lainnya.

Dia pasti bersembunyi di sini.

Tidak ada gunanya mencari sekarang.

Dia tidak akan pergi jauh.

Besok kita akan mencari jenazahnya.

Baiklah, Laura, baiklah.

Tolong bantu aku...

Petugas polisi!

Halo? Aku ingin berbicara dengan polisi Ferrara.

Buka.

Ya Tuhan, Stefano. Apa yang terjadi?

Kita harus menghentikan mereka. Kita harus melakukan sesuatu.

Aku tahu apa yang terjadi di sini, itu mereka.

Aku tahu semuanya.

Tolong hubungi dokter.

Kakak beradik pelukis...

Dua saudari Legnani masih hidup.

Mereka masih hidup, mereka masih hidup, mereka masih hidup...

masih hidup...

Salah satunya adalah induk semangku.

- Si wanita lumpuh? - Ya, mereka masih hidup.

Yang satunya... Aku tidak melihat wajahnya.

Sungguh merepotkan, sekarang Lidio sudah mati.

Aku harus melakukan semuanya sendirian.

He he he he he he he he he he...

Laura, dia ada di sini, nih.

Hi hi hi hi hi hi hihi hi...

He he he he he he he he he he...

NDASERUAG Cilacap, 25 / 09 / 2024

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.