All language subtitles for Cinta.Itu.Buta.2019.WEB-DL.1080p.FMZM.id

ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Halo.

Namaku Diah, dan aku pemandu wisatamu hari ini.

Aku orang Indonesia, yang tinggal di Gamcheon, Busan.

Di kota ini, aku bisa jadi diri sendiri, juga menemukan cinta.

Rahasiaku? Tetap tersenyum sambil terus berharap pada bintang jatuh.

Atau bisa kupandu kau ke tempat terbaik kota ini yang akan membuatmu jatuh hati.

Semoga Gamcheon dan bintangnya bisa memberi kedamaian dan keberuntungan.

Karena hari ini kau sudah mengilhamiku, kuucapkan terima kasih.

Selamat datang di patung Little Prince.

Inilah salah satu titik foto terbaik di Gamcheon.

Kau ingat, Sayang?

Kalau dahulu kau mengidamkan cokelat ini?

Sudah hampir 50 tahun.

Saat itu kau juga memberiku cokelat ini.

Benar!

Benar sekali.

Sudah lama aku tak memberimu cokelat yang sama ini.

Saat kita menikah,

kita sebahagia ini.

Sampai hari ini, kita masih bisa bersenang-senang

dan kian saling mencintai.

Bukankah begitu?

Ini alasan kenapa aku senang menjadi pemandu wisata di sini.

Kota ini tak pernah gagal menciptakan kenangan indah yang membuatmu tersenyum.

Tolong berikan aku soju.

Aku yakin akan hal itu

karena aku sudah mengalaminya beberapa tahun yang lalu.

Kostummu lucu,

sangat cocok denganmu.

Terima kasih.

Hati itu harusnya tampil bahagia,

bukan sendiri dan sedih begini.

Namun, aku suka sendirian.

Boleh kutemani?

Kau tampak sangat manis sekarang.

Kau juga.

Yang benar saja.

Ya, sungguh.

Kau cantik,

lucu, dan pintar.

...dua, tiga, empat, lima enam, tujuh, delapan, sembilan!

Kau tahu kegunaan menara jam ini?

Untuk mengganti waktu.

Aku bisa mengganti waktu.

Aku mau mempercepat waktu.

Untuk apa?

Agar aku bisa menikahi Park Seo-joon.

Andai saja...

Lalu, apa yang menarik dari menara jamnya?

Kau bisa menepati waktu. Menyenangkan, 'kan?

Tidak.

Tak apa.

Hei. Hati-hati. Maaf.

Maaf soal tadi, Diah.

Tak apa.

Kau punya anak?

Belum, tapi aku sudah bertunangan.

Kapan hari pernikahannya?

- Hei. - Apa?

Jun-ho?

Ada yang ingin kukatakan.

Tolong, jujurlah padaku.

Jun-ho...

Maukah kau menikahiku?

Aku cinta kau.

Ya!

Baik, ayo!

Jun-ho, kau di mana?

Kukira kita bisa akan bertemu sekarang.

Kau janji padaku.

Kau lupa?

Kau bercanda?

Hari ini hari jadi kita,

kenapa kau bisa lupa?

Sampai jumpa.

KOTAK KEBERUNTUNGAN

SEMOGA BERUNTUNG

- Seperti ini? - Seperti ini?

Namaku Diah.

Aku berusaha menjadi pemandu dalam hidupku sendiri.

Terkadang hidup terasa kelam,

tapi selalu ada hal-hal kecil yang membuatmu tersenyum,

dan kejutan-kejutan kecil itu mungkin akan datang tak terduga.

Halo, Sayang?

Baik, jangan bertengkar lagi.

Terima kasih kejutannya.

Sayang, jaga dirimu.

Jangan lupa meneleponku.

Nik!

Hei.

Kawanku.

Ke sini, Nik.

- Apa kabarmu? - Baik.

Ini, sudah kupesankan minumanmu.

Di mana pacarmu?

- Apa? - Pacarmu?

- Tunanganku? - Tunangan?

Di salon. Setelah selesai, kuminta dia kemari.

Tunangan?

Di mana pacarmu?

Seharusnya sebentar lagi sampai. Tunggu.

Baru kali ini, saat punya pacar

kau tak mengenalkannya padaku.

Lalu, kalian bertunangan?

Kau ini teman macam apa?

Mungkin ini yang namanya cinta sejati.

Mulai lagi. Rayuan kosongmu lagi.

Kau dengan pacarmu ini sudah berapa lama?

Cukup lama.

Dua pekan?

Astaga.

Namamu bukan Gary kalau tak menggonta-ganti pacar.

Ayolah. Tapi kuberi tahu, kali ini berbeda.

Sebab aku dapat firasat kalau pacarku ini akan benar-benar menjadi yang terakhir.

Tanda-tanda kiamat!

- Kau terhipnotis? - Kau belum tahu apa-apa, Nik!

Ini dia.

Ini pembuat mukjizatku!

Kristie?

Maaf.

- Ada apa, Sayang? - Bukan apa-apa.

Sayang

Aku ingat denganmu

Saat kita bertemu di Dolly

Saat kutatap matamu

Indah sekali

DISKON KILAT 70 PERSEN KE KOREA PESAN SEKARANG

Halo? Gary!

Hei, kau tahu aku ada di mana?

Tolong

sampaikan pada mantan tunanganku

yang tercinta...

Katakan padanya, Kawan.

Katakan kalau aku sudah bahagia...

Aku sudah bahagia!

Lihat saja.

Aku akan melupakanmu.

Meski perpisahan...

tak sesederhana itu.

"Tak ada wanita, tak ada tangisan."

Beraninya kau

melindas foto mantanku.

Kau mengikutiku?

Kakak paham kau tak sabar menyiapkan pernikahan, tapi...

Memangnya kalian sudah tentukan tanggal?

Bagaimana jika nanti Jun-ho meminta diundur lagi?

Lebih baik pastikan lebih dahulu...

Sudahlah, Kak. Aku yang akan menikah.

Kakak tahu. Kakak hanya khawatir kau akan dikecewakan Jun-ho lagi.

Ya, sudahlah. Buat kakak, yang penting kau senang.

Ya, Kak. Terima kasih. Aku sayang Kakak.

Kakak juga sayang kau. Sampai jumpa!

Sudah jam berapa ini! Bukankah kita harus berangkat?

Benar juga. Ayo!

Nona, kau suka gaun ini?

Mau pesan yang ini?

Jika dipesan, serta pengubahannya,

berapa total harganya?

Sekitar 320.000 won.

Mungkin,

kakakmu ada benarnya.

Sayang jika keluar banyak uang untuk pakaian

yang ibaratnya belum jelas kapan dipakainya.

Sertakan juga biaya pengantarannya.

Aku beli yang ini!

Bagaimana makanannya? Mau tambah lagi?

Astaga, Di. Makanan ini saja belum tentu habis.

Dasar anak populer!

Kenapa? Teman-temanmu sudah menunggu?

Astaga! Benar. Ternyata teman-temanku

tiba lebih awal.

Baik, pergilah. Kasihan mereka sudah menunggu.

Kau yakin?

- Ya, tak apa. - Yakin?

Pergilah!

Lain kali, kita bercengkerama seharian!

Ya.

Hati-hati.

- Aku pergi dahulu. - Dah!

Sampai jumpa.

Ayo, berbungalah!

Kalian ini bukan bonsai!

Lihat, mataharinya saja sudah terik.

Ayo, jangan malas-malasan. Berbunga!

Ini.

Kusiram lagi, ya.

Permisi.

Halo!

Halo!

Ada surat untukmu.

Terima kasih.

Sama-sama.

KUTUNGGU KAU DI GISAN KKOMJANGUH PADA PUKUL 20.00

Kakak.

Tadi Jun-ho memberikan surat padaku.

Dia mengajakku makan malam.

Aku sedang menunggunya sekarang.

Sudah dahulu, ya?

Aku harus berias.

Jun-ho akan datang sebentar lagi.

Dah!

Sudah?

Terlalu dingin.

Lezat sekali.

Diah.

Tenang, Diah.

Hitung dari satu sampai sepuluh sebelum bertindak.

Aku bisa jelaskan semua.

Bajingan, dasar pria tak tahu malu!

Kakakku benar, kau hanya bisa mengecewakanku.

Kau juga! Sahabat macam apa yang menusuk dari belakang?

Katamu minta undur pernikahan karena sibuk.

Ternyata sibuk merayu perempuan lain!

Seharusnya aku sudah menduganya.

Ternyata kau hanya bisa mengecewakanku.

Hari itu, hari jadi kita.

Apa kau sudah lupa?

Atau...

sengaja melupakannya?

Aku tak berubah. Hatiku masih bersamaku.

Namun, kau? Kau sembunyikan di mana hatimu?

Malam itu, hidupku ada di tangan sebuah pisang.

Satu-satunya Pisang yang berhati.

Hei!

Pisang!

Mau minum?

Kutraktir. Ayo!

Ayo...

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam... tujuh...

delapan... sembilan...

Sepuluh.

Ini kesempatan terakhirmu.

Diah.

Aku sungguh menyesal.

Semua ini salahku.

Aku sungguh menyesal, Diah...

- Aku bisa sendiri. - Baiklah.

Terima kasih banyak.

Diah, kenapa belum jawab pesan kakak?

Bagaimana kemarin bersama Jun-ho? Ayo, ceritakan! Kakak penasaran!

Diah, kakak baru menelepon Jun-ho dan katanya kalian tak bersama lagi.

Dia juga berusaha menghubungimu, tapi tak ada jawaban.

Kakak khawatir belum dengar kabarmu.

Tolong segera jawab telepon kakak.

Kakak mau pesan tiket ke sana.

Kakak tahu kau masih sedih.

Kakak sudah ambil cuti agar bisa menemanimu.

Alamatmu masih yang lama?

Kakak bisa pesan tiket untuk berangkat lusa.

Nanti kau di rumah?

Halo?

Ya.

Maaf, ponselku sedang rusak. Masih diperbaiki.

Diah sedang menyibukkan diri agar bisa cepat melupakan dia.

Ya, aku baik-baik saja.

Kakak tak usah datang, ya?

Aku sayang Kakak.

Belok ke kiri sedikit.

Baik, ini dia.

Lantainya naik. Hati-hati melangkah.

Terima kasih banyak.

Siapa di situ?

Apa?

Ya, Kau! Kau mengikutiku?

Kenapa kau bisa tahu?

Aku buta, bukan tuli. Aku bisa dengar.

Kenapa kau tak menolongku?

Aku tak mau menakutimu.

Kau bisa membantuku sekarang?

Ya.

Aku mencari serealia.

Bisa pandu aku ke sana?

Baik. Ada di sebelah sana.

Siapa itu?

Halo, selamat pagi!

Kau...

Maafkan aku...

Kemarin aku tak pamit.

Ya.

Kau sudah pergi sebelum aku berterima kasih.

Maaf...

Aku harus kembali ke toserba.

Kau bekerja di toserba?

Ya.

Omong-omong...

terima kasih untuk kemarin.

Sama-sama.

Jadi...

aku harus pergi bekerja.

Halo!

Astaga!

Perlu bantuan?

Tidak, aku bisa!

Kau mau ke mana?

Aku bawa makanan untukmu.

Selamat pagi!

Kenapa kau selalu kemari?

Bukankah kau harus bekerja?

Bisakah kita bicara dengan bahasa Indonesia?

Kau tahu aku orang Indonesia?

Hanya orang Indonesia yang latah.

Aku ingin berikan makanan yang baru saja kumasak.

Maaf.

Aku bukan kotak amal.

Halo, selamat pagi!

Kenapa kau kemari lagi?

Kau mau merampok?

Kenapa kau galak sekali?

Tak kenal maka tak sayang.

Biar kuperkenalkan diriku.

Namaku Nik!

Aku Diah.

Aku hanya ingin berbincang.

Hei, Diah. Jangan pergi!

Aku bawakan pisang goreng, Diah.

Pisang gorengnya manis.

Siapa tahu kau butuh yang manis

agar wajahmu tak masam.

Hei, Diah!

Selamat pagi!

Diah, waktunya bangun!

Bangun, ayamnya sudah berkokok!

Diah?

Diah?

Kau mau apa lagi?

Hari ini aku memasak banyak semur.

Kau harus cicipi.

Jangan khawatir, ini bukan makanan sisa.

Asal kau tahu, aku pandai memasak semur.

Hampir lupa.

Aku ingin ambil wadah makanan kemarin.

Pasti sudah busuk.

Ambil saja! Ambil yang kau taruh.

Aku harus minta izin. Aku tak mau dikira perampok.

Kenapa kau terus ke sini?

Aku tak peduli dengan masakanmu!

Sudah kubilang,

cari teman lain.

Untuk apa membuang waktu dengan perempuan buta sepertiku?

Halo, Kawan-kawan.

Kalian sudah mulai berubah menjadi zombi.

"Menjadi apa, Pak Tampan?"

Menurutmu, menjadi apa?

Hei, Diah!

Baru saja kusiram tanamanmu.

Mereka seperti bosan hidup.

Siapa yang menyuruhmu menyirami tanamanku?

Tak ada.

Yang kau bilang kemarin itu benar.

Aku memang bodoh.

Aku tak pandai memasak.

Aku kemari hanya ingin menjadi temanmu.

Namun, kalau kau tak mau, tak apa.

Terima kasih atas waktumu. Aku pergi dahulu.

Tunggu!

Ya?

Maafkan aku

atas kata-kataku waktu itu.

Aku tak bisa tidur kemarin malam.

Kata-katamu kasar sekali.

Ya.

Memang ada baiknya

kita tak usah bicara lagi.

Jangan berkata begitu!

Kita masih bisa mengobrol.

Karena kau sudah minta maaf,

aku kini baik-baik saja.

Omong-omong,

aku bawakan kau

sup rumput laut.

Untuk membuktikan ini tak beracun,

akan kumakan juga.

Ini.

Sesuai kata pepatah,

"Melalui ususmu, melalui usus besarmu."

Apa?

Kau tahu?

Seseorang bisa membuktikan dirinya melalui usus besarnya!

Maksudmu,

"Untuk dapatkan hati seseorang harus melalui perutnya"?

Ya, benar! Itu maksudku.

Lezat.

Sudah lama aku tak makan sup rumput laut.

Hei, aku mau tahu.

Kau sudah keracunan?

Kalau keracunan, silakan usir aku dari sini.

Sepertinya belum, tapi entahlah.

Mungkin nanti sore atau besok.

Mungkin racunnya belum bekerja.

Omong-omong,

kau tahu beda dirimu dengan rumput laut?

Apa?

Kalau rumput laut mengandung nutrisi,

tapi kau

mengandung anak-anak kita nanti.

Hei, Diah!

Bangun!

Astaga, apa lagi?

Hei, Diah!

Kenapa sepagi ini, Nik?

Pagi ini, aku memasak lumpia,

tapi belum kubungkus.

Nik, sepertinya kau terlalu pagi.

Kau tak mau membungkusnya dahulu?

Kau mau?

Tenang saja, tadi aku tutup mata,

tapi mulutku menganga.

Maaf soal tadi.

Tak apa,

tadi itu vitamin mata.

Aku sudah siapkan makanan di meja.

Terima kasih.

Senang rasanya dengar "terima kasih" darimu.

Terima kasih karena makanan kemarin ternyata aman-aman saja.

- Ya. - Kau duduk di mana?

Suaramu seperti dari kejauhan.

Kau duduk di bawah?

Ya.

Kemari, temani aku duduk di sini.

Tidak, di sini saja.

Kau yakin tak mau duduk denganku?

Tentu saja mau!

Aku kini duduk di situ.

Kau tahu tempat-tempat bagus?

Aku mau jalan-jalan.

Seperti kanal.

"Kanal"? Maksudmu Pantai Songdo?

Ya, tempat untuk mendayung perahu itu.

Kau pernah ke sana?

Jauhkah dari sini?

Kalau naik bus, mungkin satu jam,

tapi kalau naik taksi sekitar 30 menit.

Hanya saja lebih mahal.

Tapi tunggu!

Bisa juga dengan jalan kaki.

Pasti sampai.

Kau cocok menjadi pemandu wisata.

Aku memang pemandu wisata.

Kebetulan sekali!

Kau mau ikut denganku?

Perbekalan dan ongkos kendaraan aku yang tanggung.

Namun, kau bisa berikan diskon? Kita sama-sama orang Indonesia.

Kau gila?

Aku ini buta!

Lalu, kenapa kalau kau buta?

Aku akan menjadi matamu,

dan kau menjadi pemandu wisataku.

Ide bagus, 'kan?

Keren!

Hei, Diah!

Diah.

Kenapa masih pakai tongkat?

Aku bisa menjadi tongkatmu.

Hentikan!

Halo, Busan!

Apa kabar?

Jangan teriak begitu. Memalukan.

Tak ada orang di sini, kenapa harus malu?

Dudukmu terlalu dekat, aku tak dapat tempat!

Aku tak terlalu dekat. Memang tempat duduknya yang rapat!

Ayolah, Nik!

Jangan terlalu dekat, kita baru kenal. Tak sopan!

Geser!

Terima kasih!

Sama-sama.

Nik!

Ini.

Nik?

Di mana sedotanku?

Aku mengambilnya.

Memang sedotanmu di mana?

Sudah habis semua.

Apa kau telan?

Tidak.

Aku membuat ini.

Aku buat seribu bintang.

Benar-benar kau hitung?

- Kau mau tahu? - Tidak.

Daripada menunggu bintang jatuh,

lebih baik kubuat saja. Sama ampuhnya!

Andai Sungai Ciliwung sebersih ini.

Pasti aku kerasan.

Itu pesan moralnya.

Aku rindu Indonesia.

Sudah lama aku tak pulang.

Keluargamu masih di sana?

Orang tuaku sudah meninggal.

Kakakku ada di Yogyakarta.

Hati-hati terpeleset.

Kau bisa hamil.

Naik.

Turun.

Geser ke kiri.

Sampai!

Astaga!

Terima kasih untuk hari ini, Nik.

Sama-sama.

Terima kasih sudah menemaniku.

Setelah kebersamaan ini,

aku merasa

kita punya

kesamaan.

Kau terus tertawa.

Sepertinya aku bisa membuatmu bahagia setiap saat.

Lalu kau

selalu tertawa, meski kuulang-ulang leluconku.

Kau tak mau tawarkan aku minum lebih dahulu?

Selamat malam, Nik.

Kau tak mau mengobrol lebih dahulu?

Selamat malam, Nik.

Kau tak mau kita mengobrol, bercanda,

bakar sampah...

Mungkin membangun PLTA untuk masa depan kita?

Hei, Diah!

Aku punya sesuatu untukmu.

Diah?

Baiklah.

Kutaruh di meja, ya?

Nik?

Kau pernah merasakan musim dingin?

Belum.

Tunggu, pernah!

Benarkah?

Saat kau dingin padaku.

Saat itu,

kau terasa seperti Elsa

dan aku adalah Olaf.

Ayo, Diah, lelehkan hatimu! Hangatkan hatimu untuk Nik!

Ini, bicara ke tanganku. Dasar gombal!

Lepas! Kau ini apa-apaan?

Tempat ini romantis sekali, ya?

Apalagi jika ada yang dirangkul.

Itu kode kencan.

Kata penduduk sini, memakan banyak rumput laut itu membuat bahagia.

Kelihatannya kau harus makan banyak rumput laut.

Dahulu, aku sering sekali membuatkan rumput laut untuk seseorang.

Semoga dia baik.

Nik?

Nik?

Hei, kau ke mana?

Di sini.

Kau takut ketinggian?

Kau tahu dari mana?

Tentu saja! Ini pasti lantai kaca.

Aku sangat kenal tempat ini.

Ayo, ke sini. Jangan takut.

Kemari!

Nik, kemari!

Maaf!

Namun, tak menyesal.

Kalau begitu, biar kutuntun kau

agar kau tak ketakutan.

Nik, kenapa tak pernah tanya

bagaimana aku bisa buta?

Kupikir kau tak mau membahasnya. Makanya aku tak tanya.

Kata dokter, butaku ini hanya sementara.

Namun, kalau aku stres terus-menerus,

butaku bisa permanen.

Jangan khawatir.

Ini hanya buta magang.

Kau punya aku.

Aku akan selalu membuatmu tertawa agar kau tak stres.

Nik, jalan bersamamu menyenangkan, ya?

Ternyata, kita tak selalu butuh melihat

untuk bisa merasakan.

Namun, kau masih harus terus berdoa

agar bisa melihat lagi

dan merasakan lebih banyak lagi.

Namun, keinginan yang tak tercapai itu lebih sakit,

jadi, aku tak mau berharap.

Hei, Diah!

Kau sedang memandangiku, ya?

Apa?

Kau sudah bisa melihat?

Aku bisa cium aroma ikan yang kau makan tadi.

Kukira kau sudah bisa lihat.

Halo?

Ya, aku masih di luar.

Bukan, bukan di teras.

Aku pergi keluar

dengan teman dari Indonesia.

Mau bicara dengannya?

Tunggu.

Ini.

Tidak!

Tak apa. Ini kakakku. Dia mau bicara denganmu.

- Bicara apa? - Bicara saja dengannya.

Halo?

Baik.

Ini.

Apa katanya?

Katanya, aku harus menikahimu. Kalau tidak, aku dipenjara.

Kau serius?

Tentu saja tidak.

Kuminta dia menelepon lagi nanti

karena kita masih menikmati tur.

Konyol!

Kita melangkah turun, lalu ke kiri.

Turun.

Turun lagi.

Setelah tangga ini,

kita belok kiri.

Kau harus ingat, ya?

Setelah ini turun,

lalu ke kanan.

Belok kanan di sudut selanjutnya.

Rumahku jauh, tapi dekat.

Aku lelah sekali.

Kita masih jauh?

Tidak, sedikit lagi.

Ya, sudah. Ayo.

Ayo.

Awas, setelah ini naik tangga.

Ayo, naik!

Baik, belok kiri. Ingat, ya?

Diah.

Ayo. Kita pergi dari sini.

Hei, Diah!

Kau mau ke mana?

Aku tak ke mana-mana.

Kau...

cantik sekali.

Sungguh?

Ayo, kuantar!

Tongkatmu jangan dibuang. Tongkatmu mahal.

Seribu tongkat ini bisa memberi makan orang miskin.

Tuhan

Kucinta dia

Kusayang dia, rindu dia

Dia tidak...

Kenapa berhenti?

Makanannya lezat sekali, ya?

Ya.

Saat suasana seperti ini,

kau merindukan apa?

Aku...

rindu mengayuh sepeda.

Kayuh saja sepedamu.

Bagaimana caranya?

Kenapa tanya aku, naik saja.

Nanti kubantu.

Kalau percaya padaku,

kau pasti bisa naik sepeda lagi.

Kau tahu yang paling kurindukan?

Tidak.

Apa?

Aku rindu menyawer.

Apa? "Menyawer"?

Biar kutunjukkan.

Sayang

Aku ingat denganmu

Menari seperti biduan, ya?

Apa?

Aku tak bisa!

Kau tak pernah ke di desa, ya?

Saat kutatap matamu

Indah sekali

Biar kuajari.

Rasanya aku tak bisa!

Ayo.

Kutaruh tanganku di bahumu

Di Pantai Kenjeran

Jempolmu. Siap?

Menari dan ikuti iramanya.

Benar begitu.

Itu dia.

Seperti itu!

Benar!

Aku tergila-gila padamu

- Seperti ini? - Ya!

Saat aku tua nanti

Aku masih mencintaimu sampai mati

Sayang

Aku mengingatmu

Saat kita pertama jumpa

Akan kutatap matamu

Betapa indah

Kenapa suaranya mirip suaramu?

Masih banyak hal yang belum kau tahu tentangku.

Aku juga belum disunat.

Aku punya soju!

Ayo mabuk.

Apa? Jangan!

Katanya, orang yang mabuk selalu punya rencana jahat.

Baiklah.

Saat aku tua nanti

Aku masih mencintaimu sampai mati

Katamu, aku yang punya rencana jahat.

Aku mencintaimu

Ayo.

Goyangkan pinggulmu.

Aku tergila-gila padamu

Saat aku tua nanti

Aku masih mencintaimu sampai mati

Sayang, aku ingat denganmu

Saat kita bertemu di Dolly...

Bagaimana kau tahu kalau sedang jatuh cinta?

Saat duniamu mendadak mulai terasa berbeda.

Semua yang kau lakukan,

semua yang kau pikirkan,

semuanya untuk orang itu.

Lalu,

kau sadar kalau ekspresimu

juga pasti berubah.

Karena setiap bertemu orang yang kau sukai,

mereka bisa melihat raut kebahagiaanmu.

Bagaimana kalau kau buta?

Hei, Nik!

Aku hanya bercanda.

Karena kurasa aku lagi cinta buta.

Siapa yang merasa malu sekarang?

Kau kira aku semudah itu?

Cinta itu tak perlu melihat orangnya.

Kau hanya harus merasakannya.

Seperti saat kau buang air kecil.

Kau pasti merasakannya saat sudah selesai.

Namun, tetap saja, kelak aku mau lihat wajahmu.

Wajahku tak penting. Tak ada gunanya di dunia ini.

Tetap saja terasa berbeda

kalau bisa melihat wajah orang yang kau ajak berbincang.

Kau benar-benar mau lihat wajahku?

Bulu matamu panjang, ya?

Pipimu juga empuk.

Kau punya kumis?

Geli!

Kau pasti sangat tampan, Nik.

Kau pasti cocok menjadi aktor Korea.

Diah.

Kau benar-benar buta.

Namun, wajahmu bulat.

Hidungmu juga tak mancung.

Sepertinya kau tak ada keturunan Barat.

Kukira kau warga keturunan. Karena namamu Nik.

Aku asli Jawa.

Nik itu hanya singkatan namaku.

Siapa nama panjangmu?

Nikmatullah.

"Nikmatullah"?

Terus, berbelok.

Sampai!

Di sini tempat gembok cinta.

Geser sedikit.

Ada ruang kosong di sana.

Kita taruh di sini. Pegang ini.

Biar kubantu.

Baik, sudah.

Di mana kuncinya?

Tunggu.

Sepertinya agak besar. Agak berbeda dari kunci gembok.

Perasaanmu saja. Memang itu kuncinya.

- Baik, kusimpan. - Baik.

Ini, cinta kita ada di sini. Ingat, ya?

Kau ini sedang apa? Aku pusing kalau terus begini.

- Kau pusing? - Ya.

Sudah.

Ini hadiah pernikahan dariku.

Hadiah pernikahan?

Ini cuma pernikahan palsu. Kenapa harus ada hadiah?

Tentu saja aku mau benar-benar menikahimu!

Biar kubukakan.

Apa ini, Nik?

Ini darumadal.

Apa?

Maksudmu, boneka "Daruma"?

Itu sebutannya?

Kupandu untuk membuat matanya.

Setelah menggambar matanya, buatlah permintaan.

Jangan menangis, Diah.

Jangan menangis.

Siapa tahu besok keinginanmu terkabul.

Setelah itu, kita lengkapi mata satunya.

Kenapa aku merasa kita sudah kenal lama, ya?

Tentu saja, ini sudah beberapa pekan.

Bagaimana kalau penglihatanku tak kembali?

Kita masih bisa jalan-jalan.

Kita kunjungi tempat-tempat yang pernah kita datangi.

Kita akan makan-makan.

Menari

dan membakar sampah bersama.

Baru saja dimulai.

Kembang apinya berwarna kuning, jingga, dan emas.

Besar sekali. Menyebar ke langit.

Nik.

Kau tahu

kalau tahun lalu,

meski aku masih bisa melihat,

tapi menurutku kembang api tahun ini jauh lebih cantik.

Walau tak bisa melihat, tapi aku bisa merasakannya.

Semua karenamu.

- Tunggu di sini. - Kau mau ke mana?

Ada kejutan untukmu.

Jangan terlalu lama.

Tidak.

Nik!

Nik!

Nik!

Diah?

Nik!

Nik!

Diah, kau ke mana? Kakak mulai khawatir.

Kenapa kau sering menghilang seperti ini?

Sudah tak terhitung pesan kakak untukmu.

Kakak pun sudah menelepon Nik,

tapi juga tak ada jawaban.

Tolong jawab.

Kalau tidak, kakak benar-benar datang ke Korea.

Kabari, ya? Sampai jumpa.

Kita melangkah turun, lalu ke kiri.

Turun.

Turun lagi.

Setelah tangga ini,

kita belok kiri.

Kau harus ingat, ya?

Setelah ini turun,

lalu ke kanan.

Belok kanan di sudut selanjutnya.

Kau akan lihat lagi jalan menurun,

tapi agak naik.

KAPSUL WAKTU

Ini 10556.

Diah, akhirnya aku berhasil melipat seribu bintang,

dan satu-satunya permintaanku adalah agar penglihatanmu kembali.

Jika terkabul,

entah apa yang terjadi kalau kau tahu siapa aku.

Selamat pagi!

Satu.

Kau satu-satunya orang yang memberiku semangat saat aku sudah menyerah.

Kukira aku masih mabuk dan kau hanya khayalanku.

Ayo! Hari ini sangat indah.

Lihat! Aku memasak sup rumput laut untukmu. Cobalah.

Sampai jumpa!

Selamat pagi!

Dua.

Dua kali aku pura-pura tertidur,

tapi kau tetap datang mengurusku dengan senyuman hangatmu.

Hei.

Aku bawakan air,

dan aku juga bawakan sup rumput laut.

Selamat pagi! Saatnya sarapan! Katanya,

sup rumput laut membuatmu lebih bahagia.

Tiga.

Pada hari ketiga,

aku mulai merasa kalau kau tak bisa memasak hidangan lain.

Hei!

Baik. Sampai jumpa!

Kenapa, Jun-ho?

Kenapa kita harus undur pernikahan kita?

Maaf, Diah.

Namun, aku belum siap.

Jun-ho, jujurlah padaku.

Apa kau benar-benar ingin menikahiku?

Aku hanya butuh waktu lagi.

Kita sudah ada di tempat yang tepat!

Bisakah kau tolong pahami?

Aku hanya butuh berondong.

Hei, soju.

Kau lihat itu tadi?

Lihat aku, Berengsek!

Aku suka soju.

Ini makananmu.

Hei! Mandilah! Kau bau!

Empat.

Empat kali kau coba membangunkanku,

dan aku baru menyadarinya.

Aku benar-benar bau.

DISEWAKAN

Ke mana Hati itu akan pergi?

Lima.

Lima kali aku berusaha memanggilmu.

Untuk apa kau ikuti dia?

Sudah cukup.

Mana mungkin kau jatuh hati pada gelandangan pecundang sepertiku?

Namun...

aku hanya mengikuti kata hati.

Hei!

Pisang!

Mau minum?

Kutraktir. Ayo!

Ayo minum, Pisang.

Hore! Si Pisang kubuat mabuk!

Pisang, "Kau cantik, lucu, dan pintar."

Itu yang dikatakan pria untuk dapatkan wanita.

Enam.

Enam tetes pipisku menitik di kostum pisangku.

Aku tak bisa menahannya lagi.

Entah kenapa aku memilih mengompol

daripada kehilangan dirimu dari penglihatanku,

walau hanya sedetik.

Terus.

Terus!

Tujuh.

Tujuh.

Kau menangis selama tujuh menit setelah memukul lonceng itu.

Namun, kau tak tahu, betapa terpukulnya hati Pisang ini di malam itu.

Ini rumahku!

Terima kasih, Pisang.

Kau membuatku senang malam ini.

Aku mencintaimu, Pisang.

Kau bisa menepati waktu.

Menyenangkan, 'kan?

Tidak!

Tak apa. Hei.

Hati-hati. Maaf.

KOTAK KEBERUNTUNGAN

Kau cantik sekali.

Apa yang bisa kulakukan untukmu?

Baik, jangan bertengkar lagi.

Terima kasih kejutannya.

Selamat pagi!

Kau dari Indonesia?

Aku juga.

Ayo makan siang bersama.

Sekarang, atau tidak sama sekali.

Namun, sekarang, aku harus pergi...

Jun-ho, kau menunggu terlalu lama?

- Kau menunggu lama, 'kan? Maaf. - Tak apa. Aku paham.

- Bagaimana ini? - Tak apa.

Nanti malam pukul 20.00,

ayo bertemu di Gisan Kkomjanguh. Jangan lupa, ya?

Baik.

Delapan.

Delapan alasan terlintas di pikiranku untuk tak ikut campur.

Namun, hati sebaik dirimu

berhak mendapatkan yang lebih baik daripada ini.

Kau lihat apa?

Orang aneh.

Permisi.

Bisa berikan ini pada wanita di sebelah sana?

Wanita.

- Di sana. - Di sana?

- Ya. - Di sana.

Permisi.

Halo!

Halo!

Ada surat untukmu.

Terima kasih.

Sama-sama.

KUTUNGGU KAU DI GISAN KKOMJANGUH PADA PUKUL 20.00

Sembilan.

Sembilan kali aku hampir menghampirimu untuk mengajakmu pergi dari situ.

Aku tak mau kau merasakan sakit yang pernah kurasakan.

Namun, kau harus tahu keburukan orang yang kau cintai.

Kau siapa?

Apa-apaan?

Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.

Baik, Sayang. Tunggu aku.

Sepuluh.

Aku hitung dari satu sampai sepuluh

agar aku tak asal bertindak.

Namun, kupikir hidup ini singkat.

Jadi, lebih baik bertindak daripada menyesal.

Berengsek!

Diah, kutulis surat ini andai kau bisa melihat lagi.

Dan aku masih tak berani untuk berkata...

Halo, selamat pagi!

Kau...

Maafkan aku...

Kemarin aku tak pamit.

Akulah gelandangan yang selalu kau berikan sup rumput laut.

Akulah si Pisang,

dan aku yang membuatmu menyadari perselingkuhan sahabat dan kekasihmu.

Kuharap kau mengerti, Diah.

Aku pernah kehilangan cinta dan semangat hidup sepertimu.

Aku telah kehilangan kepercayaan, juga "penglihatanku",

tapi kau berhasil mengubah caraku melihat dunia.

Anehnya.

Saat bisa melihat,

kau tak melihatku.

Namun, saat tak bisa melihat,

kau melihatku.

Terima kasih, Diah.

Terima kasih, Hati-ku,

yang akan selalu mencintaimu.

Si Pisang.

DIAH, HARI INI AKU BARU SAJA

SELESAI MELIPAT SERIBU BINTANG DAN MEMOHON...

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.