Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Selena!
Selena!
Selena, singkirkan ekornya!
Selena!
Itu cuma mimpi.
Hei, ini hari baru
dan aku merasa hari ini akan jadi hari yang berkesan.
Aku gadis normal
Aku percaya pada sihir
Remaja di sekolah
Tapi diam-diam putri duyung
Petualangan memanggilku Aku tahu ini takkan mudah
Kekuatan itu ada dalam diriku
Dan aku akan temukan Misteri para putri duyung
Menjadi remaja, percaya pada sihir bukan lagi keren.
Tapi katanya sihir hanya ada jika kau percaya padanya.
Aku Selena dan aku percaya pada sihir.
Aku tak sekadar percaya, aku jalani hidup yang agak ajaib.
Tapi hidup ini datang sepaket dengan bagian baik dan tak begitu baik.
Contohnya, gadis normal takkan buang waktu sejam untuk sikat gigi.
Tapi bagiku tiap pagi adalah tantangan atau perang melawan air.
Kenapa? Yah, aku putri duyung.
Kau tak percaya, kan?
Tiga… dua… satu…
Ini dia lagi!
Dan aku akan temukan Misteri para putri duyung
Setidaknya aku tak sendirian!
Aku punya dua sahabat baik yang berbagi rahasia yang sama.
Jadi putri duyung bukan persis yang Milen inginkan.
Bisa dibilang itu berkah dan…
kutukan!
Antara kau dan aku, kalau kita bikin daftar transformasi putri duyung,
Lena pasti nomor satu.
Kadang sulit jadi putri duyung.
Tiap kali kena air, poof, muncul ekor!
Kau buru-buru keringkan diri sebelum orang tua lihat kau makhluk mitologi.
Tapi hei, kami lakukan yang terbaik.
Tentu saja aku telat kelas lagi!
Masuklah ke laut dan jangan takut
Kau akan belajar berenang dengan putri duyung
Lalu di tebing emas
Kau berbagi bunga dengan burung kolibri
Bagi kebanyakan remaja itu bertengkar dengan orang tua
karena tak diizinkan keluar dengan pakaian sesukamu.
Atau saat ada ujian Biologi, tapi kau lebih pilih nongkrong dengan geng.
Atau lebih parah, begadang sibuk chatting dengan gebetanmu.
Seperti kubilang, itu aneh. Tapi lebih aneh lagi bagiku.
Bagiku, jadi remaja artinya telat ke sekolah tiap hari,
karena kau tak bisa sikat gigi.
Jadi beginilah rasanya jadi makhluk mitologi SMA.
Pernahkah kau bertanya-tanya
bagaimana rasanya jadi putri duyung dan remaja di era media sosial?
-Kau dan ponselmu! -Halo, guru!
Aku terus bilang pada kepala sekolah untuk melarang ponsel kalian.
Generasi iPad memang tak kenal batas.
Aku sedang kirim pesan… pada Ibu.
Dia ingin tahu aku sudah sampai sekolah dengan selamat.
Aku yakin Ibumu cemas setengah mati. Kau sering bolos kelas.
-Aku bawa surat dispensasi. -Siapa yang memalsukan dispensasimu, Nona?
-Dispensasi! -Selena, senang lihatmu di sekolah!
-Halo, Bu Negoiu! -Halo!
Apa kabar?
Kau bikin kami ketakutan! Kau tampak parah di ruang rawat.
-Ruang rawat? -Selena sempat dirawat di rumah sakit.
Itulah kenapa aku bolos kelas. Aku sakit, dan aku punya surat izin.
Maksudku… surat keterangan medis.
Jadi kau memang sakit.
Aku tunggu kau di kelasku, untuk lihat sejauh mana kau ketinggalan Kimia.
-Ya. -Milen!
-Malam ini hasil Olimpiade diumumkan. -Aku kabari kau.
Sampai jumpa!
Untung kau selamatkan aku!
Karena kita setengah ikan, kita sepertinya punya pendengaran lebih tajam.
-Aku dengar kau dari seberang lorong. -Sungguh?
Negoiu suaranya cempreng, semua orang bisa dengar.
Kau harusnya lihat tadi, Selena, di olahraga, jam pertama.
Milen berlari dan hampir menabrak dispenser air.
Bagaimana kalau mesinnya jatuh dan kau kena ciprat?
Aku tahu, tapi aku tak terpikir
kalau aku berlari, aku bisa berubah… di depan semua orang.
Kita tahu betapa berbahayanya berubah di tempat umum.
Apalagi di sekolah, kan? Kita harus hati-hati.
Milen, bisa pegang ini sebentar? Aku haus.
-Lalu kenapa? -Aku cuma mau berhati-hati.
Lena…
Apa? Aku tak mau mati kehausan di sekolah.
Kalau kau hati-hati dan bukan bocah lima tahun, kau takkan basah.
Tentu.
Sial! Kasih aku tisu, biar sempat kuusap!
-Aku tak menemukannya. -Ini!
-Kalungmu bersinar. Sudah terlambat! -Oh, tidak!
-Milen, tolong dia! Aku berjaga! -Sudah terlambat.
Angkat kakimu!
Milen, tolong usapkan padanya!
-Maaf, biliknya penuh. -Aku tunggu.
-Tunggu di luar. Agak sempit. -Aku tak keberatan. Aku punya waktu.
-Selena, tisu lagi! -Tunggu, ada di ranselku.
-Berapa orang di dalam? -Dua. Kenapa?
-Apa yang mereka lakukan di sana? -Lena muntah, kasihan…
Dia keracunan makanan. Milen memegangi rambutnya.
Sedikit privasi, dong!
Ayo, cepatlah!
-Berapa lama lagi? Aku telat kelas. -Sebentar. Maaf.
Hampir selesai.
-Kau tak mau cuci tangan? -Kita telat kelas!
-Kelas apa? -Kimia.
Sial!
MARKAS BESAR ORDO
Saat pulang aku tak lagi takut akan menabrak anak-anak.
Sudah tak ada anak-anak di jalan.
-Mereka semua di rumah, main komputer. -Benar…
-Ya, aku tembak! -Kau dapat yang istimewa.
Tentu. Itu wajar.
Yah, putriku juga, dia main TikTok seharian.
Dia menari seperti orang gila keliling kamar berjam-jam.
-Sayuran. -Iya!
-Mereka tak lakukan sesuatu… produktif. -Bagaimana?
-Halo! -Halo!
Kita bahas karbon terakhir kali. Karbon, unsur di golongan apa?
-Golongan 14. -Bagus!
Itu unsur golongan 14. Bisa membentuk empat ikatan kimia.
Bersimbol C dan nomor atom 6.
Atom karbon bisa saling berikatan
dengan berbagai cara, membentuk alotrop karbon.
MEMBOSANKAN SEKALI!
Contoh alotrop paling dikenal adalah:
grafit, intan, dan fulerena.
AKU JUGA, DAN TAK PAHAM APA-APA.
DIA LAMBAT SEKALI, RASANYA AKU BUANG-BUANG MASA MUDA.
…valensi plus empat dan terdapat dalam…
TINGGALKAN PONSEL DAN PERHATIKAN, DIA BISA NILAI KALIAN.
TAPI AKU TAK BISA FOKUS, BOSAN!
AKU TIDAK!
JELAS TIDAK, KUTU BUKU TAK PERNAH BOSAN.
Kau ceria sekali!
-Ada yang lucu di kelasku? -Tidak, guru.
Yakin? Kalian tampak terhibur! Apa yang lucu dari Kimia?
Ceritakan, biar kita bisa tertawa juga.
Baiklah.
Ke papan tulis.
Biar aku sedikit bersenang-senang denganmu. Entah kapan dapat kesempatan lagi.
Bagus. Tulis!
Mungkin hapus dulu papan tulisnya…
Cuma saran.
-Kau menulis di atas tulisanku? -Tidak, aku menunggu.
Ayo, Nona, cepatlah.
Semprotan itu. Aku tak bisa menyentuhnya.
-Apa yang kau lakukan, Nona? -Bersihkan papan.
Jangan main-main! Gunakan semprotan sebelum istirahat.
Selena…
Awas!
Aku tak bisa!
Lebih cepat, tolong!
-Semprotan ini tak bisa hapus spidol. -Sejam lalu masih bisa.
Jangan bodoh, hapus saja!
Aku tak bisa!
Astaga, dari dinasti mana kau sampai tak bisa pakai semprotan?
Aku alergi bahan kimianya.
Karena kita di kelas Kimia, bilang apa isi semprotan itu.
Kalau aku berubah jadi putri duyung, semua orang akan lihat.
-Cepat! -H2O?
-Natrium hipoklorit. -Jangan bisik-bisik!
Lalu?
Aku kasih izin berdiri? Aku bilang kelas selesai?
Kembali ke bangkumu! Kau tak tahu apa-apa.
Kalau kau bolos, bahkan isi semprotan pun tak tahu.
Kau tak belajar. Kau harus mengulang tahun ajaran.
Isi semprotan pun tak tahu…
Elysia…
Elysia…
Kalian bebas. Bubar.
-Kadang aku sungguh benci diriku. -Selena, kita semua punya kekurangan.
-Lena, bukan itu maksudnya. -Lalu maksudnya apa?
Kau malu dengan kakimu? Kurus sekali.
Bukan kakiku, Lena. Terkadang yang kupunya bukan kaki.
Aku paham.
Ya, kadang memang menyebalkan. Maksudku jadi begitu… itu bikin stres.
Dan melelahkan. Kadang aku berharap bukan.
-Kau dapat sesuatu? -Tidak. Bukan waktunya.
-Kenapa tidak? -Karena itu alarm palsu.
Tak ada putri duyung di kolam Baneasa.
Itu cuma wanita paruh baya dengan kain cat,
berlagak penghibur di pesta.
Tertawa seperti orang tolol!
Kita… kacau.
Aku bilang padamu dia mustahil jadi putri duyung.
Dengar, kau harus berhenti main ponsel dan buka buku.
Ah, sudahlah.
Hei, Selena!
-Riky! -Maaf soal yang terjadi.
Riky, jangan khawatir, itu bukan salahmu. Guru memang sudah cari-cari salahku.
Konyol. Lagi pula, siapa sih yang tahu isi semprotan papan?
Natrium hipoklorit.
Iya…
Yo! Pesta!
-Teman! Ikut pesta malam ini? -Tentu.
-Aku tak tahan Leonardo. -Dia berisik sekali.
Sampai jumpa malam ini?
Dia orangnya baik kok.
Tanpamu, tak ada gunanya.
-Kalau begitu caranya… Ya. -Itu yang mau kudengar.
-Sampai ketemu di sana. -Iya.
Sayang, apa kabar? Ikut malam ini?
Tidak. Kita ada ulangan Matematika.
Kalau kau tak datang, percuma adakan pesta ini. Paham?
Ribut soal pesta… Kalian mau datang? Bertiga?
-Leonardo punya kolam. -Kolam renang, Riky?
Iya, kenapa?
-Iya… ekor kalian. -Ide buruk kalau kami datang.
-Jadi tidak. -Benar-benar tak mungkin?
Aku akan ada di sana, menjaga kalian.
Aku janji ini akan seru.
-Sampai ketemu di sana. -Apa?!
-Kau yakin? -Masa kita seumur hidup terkurung?
-Oke, sampai ketemu di sana. Sampai jumpa! -Sampai jumpa!
Kau tak mau lagi jadi putri duyung.
Sekarang malah kau pertama yang semangat ikut pesta kolam.
Kita akan cari cara. Jangan biarkan ekor kita hancurkan masa remaja.
-Tapi itu berbahaya sekali. -Lupakan, biar saja dia kalau mau.
-Seperti kau juga mau pergi! -Aku tak bilang begitu.
Ayo, semua, ini bakal seru.
Dan kita akan hati-hati. Aku janji! Takkan ada yang buruk terjadi.
-Kita hampir mati! -Sudah, hentikan, tenanglah!
-Bos memanggil. -Bos siapa?
Ah, bos!
-Halo! -Halo!
Aku tak mengerti.
-Aku lupa nyalakan terjemahan. -Cepat!
Para pegawai tak bisa bahasa Inggris. Memalukan!
-Terjemahan. Halo! -Halo juga!
Terjemahan. Dapat sesuatu?
-Sayang sekali… -Belum, belum.
Iya, iya, iya. Belum. Ternyata alarm palsu
soal putri duyung di Baneasa, tapi itu bukan salah kami.
Kami bermasalah dengan Badan Domain Negara.
Terjemahan. Rumania tak banyak berguna.
-Aku tahu, bos, dan terus kukatakan. -Diam!
Terjemahan. Kalian adalah Ordo Nasional Pemburu Putri Duyung Rumania.
Betul!
-Bos tetap bos! -Diam, dia bisa dengar.
Yakin tak ada orang di sini?
Sumpah. Teman ayahku punya kolam ini.
Dia kasih ayah kuncinya.
Dia bilang, dan kujamin, Rabu itu hari bersih-bersih.
-Jam enam, tinggal kita di sini. -Mantap.
Tiap DP Langsung Bonus 5% - Main Disini Jamin Wede WinJos > pasti Win, Jos Wede nya - Kunjungi (https://super.winjos.today)
Saat berenang, rasanya aku merentangkan tangan hingga bisa raih bintang.
Rasanya aku selaras dengan osilator kuantum.
Rasanya seperti saat aku lepas bra.
MARKAS INTERNASIONAL ORDO
Terjemahan. Kalian belum banyak dapat tangkapan.
Peralatan. Peralatan kami terus macet
dan tim TI kami kurang bagus.
Maksudku, kurang pengalaman…
Terjemahan. Kalau kalian tak tangkap putri duyung, aku akan hancurkan kalian.
Dalam waktu dekat kami akan berusaha… Dia tutup!
Mungkin dia sibuk.
-Dia akan hancurkan kita. -Iya.
Artinya dia hancurkan aku dan aku hancurkan kalian!
Kerja! Dasar tak berguna!
-Baik, bos, kami akan temukan mereka… -Air! Aku butuh air, haus!
-Gina, ambilkan air untuk bos! -Kau pura-pura kerja?
-Brengsek! -Dia selalu begitu.
Kau diam juga!
Itu Riky. Dia di pesta. Dia tanya kapan aku datang.
-Bilang tunggu. -Akan lama.
Apa itu?
-Ada orang lain? -Cepat, sembunyi!
-Dia sudah pergi? -Sudah. Ayo ke pesta!
-Aku mau ambil minum. -Jangan sampai tumpah.
Tidak, terima kasih. Aku lagi tak minat.
-Jadi, kau senang? -Hebat.
Jangan terlalu senang…
-Tanpaku. -Iya, aku mau ambil minum.
-Butuh bantuan? -Bisa sendiri.
Tentu.
Tidak, tidak. Aku sudah tutup kolam.
Sayang, kau ke mana? Pestanya keren…
AYAH
-Kau bisa hati-hati! -Biarkan saja, Milen. Dia tak sengaja.
-Dia bikin kau basah? -Tidak, tapi hampir saja, tolol!
Hei semua, ke sini!
…MAKHLUK MITOLOGI
-Apa itu? -Lihat, katanya apa!
Ngaku-ngaku putri duyung.
Milen, itu bukan salahnya.
Tapi aku tak lihat ekornya.
Mari kita ajari dia berenang!
Selena!
-Sayang, maaf. Aku tak bermaksud… -Siapa yang kau panggil "sayang"?
Turunkan aku!
-Apa yang kau lakukan? Turunkan aku! -Kami tolong agar kau tak tersedak.
Kumohon, turunkan aku! Kau tak mengerti.
-Putri duyung, ayo berenang! -Putri duyung?!
Satu… dua… tiga… ayo!
Kalian semua lihat hal yang sama?
Gila! Aku tak percaya.
Putri duyung.
Hei!
-Ayo lihat! -Apa?
Aku dapat ini di WhatsApp.
Tada!
Keren kan? Kerja bagus, sulapmu sempurna!
Sulap?
Ya, tentu. Selena bicara dengan Leonardo
untuk bikin trik sulap di pesta, hibur para tamu.
Itu transformasi luar biasa jadi putri duyung.
Kalian harus lihat wajah kalian di kamera!
-Lalu… -Di mana? Aku tak lihat kamera.
-Aku taruh kamera. -Di mana?
-Di sana, di semak! -Model apa? Aku tak lihat.
Itu sebenarnya ponsel, tapi intinya triknya berhasil
dengan Selena berubah jadi…
putri duyung!
Kita selamat!
Lihat tolol itu! Dia kira kita anak delapan tahun,
percaya putri duyung di pesta. Sulap!
Luar biasa!
Selena… Selena…
Ada trik untuk kelas Fisika? Kau sogok gurunya?
Hari ini kau berubah jadi centaur?
-Biarkan dia! -Jangan khawatir…
Satu-satunya trik mereka cuma bisa dapat nilai lulus.
-Bagaimana kalau kau di posisinya? -Whoops!
Lihat, si kutu buku kelas menyelamatkan putri duyung karam!
-Jaga ucapanmu! -Whoops!
-Selena! Alarm kebakaran! -Alarm? Sprinkler!
Alarm palsu?
Selena…
Apa itu?
Selena!
Siapa kau?
Selena! Singkirkan ekornya!
-Apa? -Selena, singkirkan ekornya!
Ekor?
Elysia…
Apa maumu?
36, 44, 51…
Spanyol? Kenapa Spanyol?
Akhirnya! Kami mencarimu!
-Selena, apa yang kau lakukan? -Kau dengar kami?
Kau baik-baik saja?
-Medalionmu! Kena air? -Teman-teman!
-Teman-teman, apa yang kalian lakukan di sini? -Kami datang menjemputmu.
Teman-teman, aku menemukan sesuatu. Aku harus pergi.
-Apa maksudmu? -Aku harus pergi.
-Aku harus ke Spanyol. -Kau gila?
Aku bisa mengerti kalau keluar sekolah.
-Tapi ke negara lain? -Kau tak mengerti.
Aku ingin lepas dari ekor ini.
Selena, kupikir itu bukan pilihan. Kita juga tak pernah mau jadi putri duyung.
Itulah. Tak ada jalan keluar.
Kita tak tahu caranya, tapi aku menemukannya, di Spanyol.
Elysia itu pulau dari mitologi. Di sanalah kita bisa singkirkan ekor.
Aku sudah mencarinya di internet, tapi hanya temukan pelabuhan di Spanyol.
Itu tempat para pelaut berangkat ke Elysia.
-Kau yakin? -Iya.
Tak lihat dia berhalusinasi?
Selena, aku tahu ini sulit bagimu. Orang-orang kejam.
Mungkin kau kena syok batin.
Ucapanmu ngelantur. Dia takkan sampai ke sana.
-Aku akan berenang ke sana. -Tapi itu berkilometer jauhnya!
-Aku bisa. -Hebat, selesai.
Ayo ke kelas! Aku janji takkan bolos lagi.
Pergi saja kalau mau.
-Bagaimana kau kembali dari sana? -Itu yang penting sekarang?
-Lena, ikut aku! -Apa?
-Bagaimana denganmu? -Aku tak mau lakukan hal gila itu.
Tapi aku tak gila.
Aku berpikir jernih sekali. Saat masuk ke perpustakaan ini,
ada suara di kepalaku, terdengar jelas, katanya:
"Selena, singkirkan ekor!" lalu sebut angka, koordinat.
Aku cari angka itu di internet.
Itu koordinat pelabuhan di Spanyol.
Teman-teman, seumur hidup aku tak pernah percaya pada sesuatu sekuat ini.
-Kau tak mau singkirkan mereka? -Lebih dari apa pun.
Milen, kau tak mau?
Kau tahu aku rela apa pun agar berhenti jadi putri duyung, tapi aku tak bisa.
Kalau kalian pengecut, aku akan pergi sendiri. Aku tak tahan tempat ini.
Dasar teman macam apa kalian!
Ritoria.
Tidak, tidak, tidak.
Elysia.
Bagaimana aku sampai ke sana?
Ngaku-ngaku putri duyung.
-Kau tak tahu apa-apa. -Mau berubah jadi centaur?
Siapa peduli? Dasar tolol!
-Pengendali hama? -Aku tak tahu.
Aku merasa tak enak hati.
-Ini sekolah menengah? -100% tempatnya benar.
-Kau yakin? -Cukup yakin.
-Itu yang ditunjukkan GPS. -Bos menelpon.
-Katakan! -Bos, kami sudah di sini.
-Kami pikir ini sekolahnya. -Keluarkan semua dari gedung!
-Evakuasi sekolah! -Mengerti, bos.
-Kami janji akan lakukan. -Jangan janji lagi. Lakukan saja!
-Kerja! -Apa selanjutnya?
Kami cari murid bernama Selena.
Oke. Siapa di antara kalian murid Selena?
Kami dari Ordo Nasional Pemburu Putri Duyung Rumania.
Ordo Pemburu Putri Duyung?
Kita di sini menyamar, mengerti?
-Diam! Bariskan semua di sini! -Baris, ayo!
-Kenapa ada hal begitu? -Tanya. Mungkin minta segelas air.
Untuk tunjukkan trik keren.
-Jadi kenapa mereka di sini? -Mungkin mau buru putri duyung.
Kau tak benar-benar fokus.
Kenapa tepat di sini? Bagaimana mereka tahu bisa temukan putri duyung di sini?
-Selena? -Siapa?
Kenapa marah, sayang? Aku salah apa?
Selena! Mereka lihat klip Selena di kolam.
Benar.
Aku tak lihat dia akhir-akhir ini.
-Teman-teman, kalian dengar? -Iya, kami baru bahas itu.
-Di mana Selena? -Aku tak tahu.
-Bagaimana mereka tahu datang ke sini? -Mereka lihat video di kolam.
-Kita harus kasih tahu dia. -Tapi bagaimana?
Seseorang telepon dia. Lena, kau telepon!
Melotot takkan bikin Selena jawab lebih cepat.
Kapan terakhir kau lihat Selena?
Halo, Selena?
-Kau sambung ke pesan suara… -Ayolah.
Tak dijawab. Siapa lagi sih yang masih nelpon sekarang?
-Sudah coba kirim pesan? -Tapi belum dibalas.
-Lihat, anjing lucu! -Lena!
-Kita harus temukan Selena. -Iya, maaf.
Selena… kau di mana?
Tiap DP Langsung Bonus 5% - Main Disini Jamin Wede WinJos > pasti Win, Jos Wede nya - Kunjungi (https://super.winjos.today)
SPANYOL PELABUHAN RITORIA
Semoga ini tempatnya. Kata orang, pelabuhan ketiga yang mujur.
Sekarang aku akan menyingkirkanmu.
-Kapan terakhir kau lihat dia? -Kemarin. Kami bertengkar.
-Apa yang terjadi? -Selena benar-benar hilang akal.
Dia ingin singkirkan ekornya dan ingin pergi.
Ke Spanyol.
-Selena di Spanyol. -Apa?!
Dia dengar suara yang bilang begitu. Untuk singkirkan ekornya.
Bagaimana kita menemukannya?
-Kita harus ke sana. -Kau gila?
-Lena, itu satu-satunya kesempatan. -Kalian berdua gila!
Kita tak bisa biarkan dia sendirian. Kita harus ke sana.
Ayo!
-Baiklah. -Yes!
Akhirnya tenang. Aku merasa ini tempatnya.
INFORMASI
Sebentar.
-Hai. -Hai!
Bisa kubantu?
-Kau orang Rumania? -Ya.
Lihat… Bagaimana bilang…
-Kau bawa uang? -Kenapa aku harus bawa uang?
Tidak, jangan takut! Jangan takut!
Itu bercanda. Banyak orang Rumania datang, aku belajar dari mereka.
Ada yang ajari aku: "Kau bawa uang?"
Aku paham. Iya, aku bawa uang, tapi kau lancar sekali bahasa Rumania.
Terima kasih banyak.
Bisa kubantu apa? Mau suvenir? Ada semua: Meksiko, Spanyol…
-Terserah apa yang kau mau. -Petunjuk jalan.
-Aku butuh petunjuk. -Petunjuk?
-Petunjuk… arah. -Uh… ke mana? Petunjuk.
Kau tahu apa-apa soal pulau Elysia?
Elysia…
-Lalu? -Tidak.
Apa pun?
-Tidak ada. -Sungguh tak ada?
-Lihat, kenapa situs itu ungu? -Baru saja ada yang akses.
"Pulau indah di selatan Spanyol." Pasti itu Selena.
-Jadi sekarang? -Cari satu per satu!
Lena, itu bukan tautan.
Ada orang? Evakuasi area!
-Kita harus bagaimana? -Berlindung.
Apa yang kalian lakukan di sini? Evakuasi area!
-Apa yang kalian lakukan di sini? -Evakuasi area!
Kita harus ke rumah Selena.
-Bagaimana dengan ulangan Kimia? -Evakuasi area!
Elysia…
Aku sama sekali tak tahu apa maksudmu. Maaf.
-Tak masalah. -Maaf.
-Aku akan tanya orang lain. Terima kasih. -Sempurna.
Sampai jumpa!
-Tempat keramik yang indah. -Iya.
Putri duyung?
-Maaf? -Putri duyung?
-Putri duyung, makhluk mitologi. -Iya, putri duyung.
Aku suka. Lihat, itu putri duyung.
-Iya, dia memang putri duyung. -Kau suka?
-Iya, dia cantik. -Sepuluh euro, untukmu.
-Terima kasih, tapi aku tak mau beli. -Tujuh dan bonus.
Terima kasih, tapi aku akan kembali lain kali dan aku akan beli.
-Oke. Lihat, liontin bagus. -Iya.
Berkilau.
Aku harus pergi.
Oh, jangan di sini, jangan sekarang!
Tunggu. Harusnya aku sudah jadi putri duyung sekarang.
Oh, di sini berkilau lebih terang dan di sini lebih redup.
Ke arah sini?
Serius, Lena…
Seberapa besar kemungkinan tahu di mana kuncinya?
-Dia sudah bilang. Kau tak perhatikan. -Mungkin.
-Apa yang kita lakukan? -Cari laptopnya.
-Tak mungkin dia bawa laptopnya. -Yakin?
Tidak, Lena, aku cuma berharap dia tak bawa. Sekarang cari!
Ini buku catatan Kimia.
Telepon bos. Kita tak temukan apa-apa.
Aku sudah telepon bos seratus kali. Terus geledah sampai aku bilang berhenti.
Semua murid sudah pergi. Tak ada Selena.
Bung, jangan berhenti!
Itu dia!
Apa yang terjadi?
Murid "Selena".
-Itu yang kita butuhkan. -Alamatnya.
Kenapa kalian diam? Ayo pergi!
Jadi dia lihat pesanku.
Lupakan itu. Lihat…
Kasihan dia…
"Apa yang kau lakukan, sushi?" "Kau kabur dari sekolah?"
"Busnya basah di jalan atau kau bolos Kimia lagi?"
Sial!
Banyak sekali komentar!
Lihat, Elysia, Puerto Ritoria.
Tapi di mana Puerto Ritoria?
-Dekat Puerto Rico? -"Puerto" artinya pelabuhan dalam bahasa Spanyol.
Kemungkinan besar Selena pergi ke Ritoria, untuk tanya soal Elysia.
-Apa? -Cari kunci.
Pintunya terbuka. Masuk!
Ayo, masuk!
Ordo itu. Kita harus sembunyi.
-Kita harus kabur! -Bagaimana? Mereka akan lihat kita.
…mungkin kau bisa cari sesuatu di luar.
Baiklah.
Cari di mana-mana!
Tepat waktu. Ayo! Tak ada waktu lagi.
-Untuk apa? -Ayo kejar Selena.
Kau serius? Ke Spanyol?
Lena, kau lihat pesan-pesan yang dia terima?
Selena putus asa ingin singkirkan ekornya. Kita harus menolong dia!
Oke.
Kita ketinggalan ikannya.
Dia berenang terlalu cepat…
Bagaimana ombak yang mengguncang dermaga?
-Ombak apa? -Ombak barusan.
Oke, kurasa, iya…
Coba pikir!
Bunda Maria, semuanya berguncang di sekeliling.
Tuhan pasti menghukum kita atas semua yang terjadi di sekitar.
Ini ulah mereka… dengan Lima G. Dengan 5G, begitu mereka bilang.
Tapi aku bilang padamu, banyak yang dipertaruhkan… Banyak.
-Bos, kurasa kami temukan putri duyung. -Selamat! Kami juga.
Kalian tak berguna. Tak usah repot kembali ke markas.
-Cukup nongkrong sampai ada perintah berikutnya. -Mengerti, mengerti.
Dia usir kita?
-Kau bodoh? -Apa maksudmu?
Sekarang giliranmu, sesuai kesepakatan.
Kau tergila-gila stroberi, di Spanyol?
Leo, mungkin ini pertama kalinya aku bicara serius denganmu.
Tapi kenapa di sana? Kenapa tidak di tempat lain? Seville, misalnya.
Ayah bilang itu kota paling megah di selatan Spanyol.
Karena Selena ada di Ritoria. Aku harus jemput dia.
Ricardo… Ada miliaran gadis di dunia.
-Dia bikin kau terikat ekornya, ya? -Lion, aku harus tolong dia.
Baiklah, Teman, apa pun demi nona!
Ayo, liontin keberuntungan, bawa aku ke sana!
Apa? Putri duyung?
Berarti aku di jalur yang benar.
Sedikit lagi, aku bisa merasakannya.
Ayo! Bawa aku ke sana!
Apakah ini tempatnya?
-Selena! -Milen? Lena?
-Kami sudah lama cari kau! -Sejauh 3.700 kilometer.
-Teman apa yang kalian lakukan di sini? -Selena, kami datang untukmu.
-Kami tak bisa biarkan kau sendirian. -Aku bisa mengatasinya.
Tidak, Selena, kau tak bisa. Sekelompok pria bertopeng datang ke sekolah kita.
Itu ordo pemburu putri duyung.
-Serius? Kalian baik-baik saja? -Kami baik-baik saja.
Tapi kami datang untuk memperingatkanmu. Mereka pergi ke rumahmu.
Teman-teman, maaf, aku sungguh tak bermaksud menakuti kalian.
-Tak apa, Selena. -Kami senang bisa menemukanmu.
Sekarang pulanglah!
Aku tak bisa pulang sekarang. Kurasa aku menemukan yang kucari.
Liontinmu bersinar. Cepat sembunyi!
Tenang, aku tak berubah. Itu yang mau kutunjukkan padamu.
Begini sudah sejak tadi. Kalau aku ke arah ini, cahayanya makin terang.
Dia tahu apa yang kucari dan menuntunku entah bagaimana.
Teman-teman, percayalah padaku! Aku tahu apa yang kubicarakan. Tolong.
Milen…
Milen, kumohon.
Ikutlah denganku! Dengan begitu, kita bertiga bisa singkirkan ekor kita.
-Baik! -Wah, mantap. Terima kasih.
Ayo!
-Ada yang lihat kau datang? -Tidak, aku hati-hati.
Aku tak tahu kalian, tapi aku punya firasat bagus soal ini.
-Siapa yang bakal mengetuk? -Bukan aku.
Selena, mungkin kau.
-Kenapa aku? -Karena kau yang paling ingin ada di sini.
Aku tak tahu. Kenapa bukan kau saja?
Aku tak akan mengetuk pintu orang asing.
Bagaimana mereka bisa tahu kapan harus buka?
-Lena, kau saja yang ketuk. -Baiklah.
Kau gila?
-Kau yang paling berani di antara kita. -Dari mana kau dapat ide itu?
Aku bukan orang yang kabur semalam ke negeri asing.
Kami sepakat bulat kau yang mengetuk.
Dan aku sepakat bulat bilang tidak.
Masalah selesai.
-Lalu apa yang kita lakukan? -Coba lagi, mungkin mereka tak dengar.
Mungkin tak ada orang di rumah.
Kurasa aku tak perlu terus mengetuk. Toh percuma.
Selena…
Kita sudah jalan, maksudku berenang ke sini. Kita akan tetap tinggal cari tahu soal liontin.
Kita tidur di rumput!
Halo! Halo, sayang! Apa yang bisa kubantu?
Maaf mengganggu, Bu. Kami dari Rumania. Kami mencari…
Kalian orang Rumania! Apa kabar?
Aku sangat senang! Sudah lama aku tak bicara bahasa Rumania.
-Berapa orang yang bicara Rumania di sini? -Dua.
Aku dan Ignacio, dari toko suvenir.
Dia sebenarnya tak bisa bahasa Rumania. Aku sudah coba ajari sedikit.
Aku bilang padanya, Ignacio, itu "fried rice".
Tapi dia terus bilang "flied lice".
Aku bilang berhenti bicara Rumania atau kita bahkan tak akan akur dalam bahasa Spanyol!
Iya… Lapar, ya?
-Iya. -Lapar, ya? Masuklah.
Untung saja! Siapa tahu kita berakhir di mana.
Aku lapar banget, aku tak dengar kau.
Aku tak tahu apa, tapi baunya enak.
Tapi kita tak kenal dia. Bagaimana kalau dia penyelundup?
Setidaknya dia kasih makan dulu. Tak ada yang panen perut kosong.
Kau bahkan tak tanya bagaimana kita sampai sini.
-Liontin yang bawa kita ke sini. -Tapi kenapa tepat di rumahnya?
-Mungkin dia tahu cara singkirkan ekor. -Mungkin dia juga putri duyung.
Lalu kenapa dia tak sebut soal liontin? Ada yang janggal.
Ini dia... Sudah siap.
-Ini, silakan tapas. -Terlihat enak.
Kalian pasti lelah.
Kalian kelelahan, habis tenaga.
Dia, penyelundup? Kau tak lihat senyumnya?
-Tak ada penjahat bisa tersenyum begitu. -Serius, aku tak percaya padanya.
Kenapa? Apa yang kau tak percaya? Roti ini?
Rumah chic rustic ini? Senyum itu?
Berhenti sebut-sebut senyumnya! Itu bukan argumen, kau tahu.
Kita di rumah orang asing, di negara lain.
-Kalau kau mau, kau bisa pergi! -Aku pergi, karena tak ada yang mendengarkan.
Sekarang siapa yang kasar?
Liontin itu!
-Ada apa? Ada yang salah? -Dia tersedak.
-Hati-hati. -Makanannya enak banget, aku lupa mengunyah.
Aku ambilkan segelas air.
-Liontinmu menyala! -Aku lihat itu. Aku tak tahu kenapa.
Karena aku ingin pergi.
Teman-teman, inilah tempatnya, aku yakin.
Aku jamin. Bahkan liontin keberuntunganku bilang begitu.
-Milen, kumohon bersabarlah. -Baiklah.
-Kau yang ngotot bawa banyak barang! -Aku bilang biarkan aku bawa sopirku.
Aku sudah bilang. Tak seorang pun boleh tahu tujuan kita.
Mengerti.
Makanan Spanyol enak sekali. Tak seperti di rumah.
-Bagaimana makanannya di sana? -Kau belum pernah ke Rumania?
Belum pernah.
Setiap kali aku bilang, Tahun ini aku pasti pergi,
meski hanya karena penasaran, tapi… begitulah hidup.
Semakin tua, semakin sulit.
Aku tak muda seperti kalian.
Dan kalau kau belum pernah, kenapa kau bisa bahasa Rumania begitu lancar?
Ayahku lahir dan besar di Rumania.
Dia pergi tahun 1947 atau 1948
dan datang ke sini dan di sini dia bertemu ibuku
dan begitulah aku akhirnya ada di sini.
Dan dia mengajariku bahasa Rumania. Ibuku selalu mengomelinya.
"Kenapa kau ajarkan dia bahasa Rumania? Dia tak membutuhkannya.
Bagi kita, itu bahasa mati."
Ayahku diam-diam bicara bahasa Rumania denganku.
Setelah dia meninggal, aku tak punya siapa-siapa lagi untuk berbicara bahasa Rumania.
-Maaf soal itu. -Tidak, aku sendiri yang menyinggungnya.
Terima kasih banyak atas makanannya. Kami tak mau merepotkanmu.
Makanannya sangat enak, tapi kami harus pergi.
-Mau pergi ke mana? -Maaf?
Maksudku, kalian mau tidur di mana malam ini?
Kami tak tahu, mungkin akan pergi ke motel atau penginapan terdekat.
Tak ada motel atau penginapan, ini bukan daerah wisata.
-Hanya ada kita di sini. -Kau yakin?
-Aku lihat ada satu di jalan ke sini. -Tak ada motel.
Dan lagipula, kau tak bisa percaya siapa pun, kan?
Kami menghargainya, tapi kami bisa mengurus diri.
-Kenapa kalian tak tidur di sini saja? -Kami tak mau merepotkanmu.
Tapi tak ada repotnya, rumah ini kosong juga.
-Terima kasih banyak. -Sama-sama.
Aku akan siapkan tempat tidur.
Selena…
-Apa yang bisa kukatakan? -Cukup bilang "tidak".
Milen, kau lihat dia mengeluh. Tak ada dari kita yang bisa bilang tidak.
Baiklah.
-Kita dapat tempat untuk tidur malam ini. -Kita beruntung bisa bertemu dia.
-Sebuah porselen? -Itu tak mungkin porselen.
-Porselen sangat mahal. -Hati-hati!
Lebih aman di tanganku.
Apa cuma aku atau itu putri duyung, persis seperti di toko suvenir?
Ironis sekali! Taruh kembali.
Hati-hati!
Aku berbaring di mana?
Kupikir kita tak akan pernah keluar dari kaleng itu.
Tepat waktu! Kapalnya belum berangkat.
Siapa lagi yang naik? Siapa yang naik kapal?
Ambil perahu itu dan ke sana.
Aku tak mengerti kenapa orang memotret batu.
-Itu bersejarah. -Itu bukan bersejarah, itu prasejarah.
Maksudnya terlalu bersejarah buatku.
Jangan foto! Jangan dengan pemandangan itu. Kau tahu aku di mana di New York?
Baiklah, bagus.
Tiap DP Langsung Bonus 5% - Main Disini Jamin Wede WinJos > pasti Win, Jos Wede nya - Kunjungi (https://super.winjos.today)
Tolong! Tolong! Tolong! Aku kehilangan kendali kapal.
Apakah rumahnya kebakaran? Suaranya dari luar.
Kau takut? Jangan khawatir.
Dari mana suara itu?
Itu suara klakson kabut. Mungkin peringatan gelombang besar.
Mereka mungkin harus evakuasi pantai. Atau ada kapal harus darurat sandar di sini.
Jangan khawatir, tidurlah lagi.
Kasihan!
-Bisa kita bantu dengan cara apa? -Bagaimana beberapa gadis bisa membantu?
Itu kapal tenggelam, mungkin.
Tidur lagi!
Kita akan tetap bangun.
-Kita keluar lewat pintu belakang. -Aku sudah yakin soal itu.
Selena!
-Apakah dia baik-baik saja? -Iya, dia masih bernapas.
-Ayo pergi! -Aku tetap di sini.
-Kalau dia bangun, kau mau bilang apa? -Aku tak tahu, aku akan pikirkan sesuatu.
Kalian duluan, nanti aku susul. Aku akan hati-hati, janji.
Ayo!
-Apa yang terjadi? Aku di mana? -Tenang, tenanglah!
-Apa yang terjadi? -Tarik napas saja!
Kau ada di kapal.
Dan kurasa kau tertabrak lalu jatuh ke air.
-Dan bagaimana aku sampai di sini? -Aku yang menolongmu.
-Maksudmu kau berenang ke arahku? -Iya.
-Tapi bajumu kering. -Kau pingsan cukup lama.
Aku tak ingat.
Jelas saja tidak.
Ya. Jelas aku tak ingat. Aku kan pingsan.
Santai, kau masih syok. Itu normal.
Dan kau duduk di sini?
Iya.
Kau menatapku?
Iya.
-Kau punya ponsel? -Tidak. Untuk apa?
-Untuk menelepon polisi. -Tidak, tidak, tunggu…
-Aku tadi… -Kau masih syok.
Kau pasti sudah sadar sepenuhnya, kalau bisa bercanda.
-Sebastian. -Selena.
-Terima kasih atas pertolonganmu. -Sama-sama.
Kau menyelamatkanku.
Dia menatapku dengan begitu lembut.
Pokoknya, aku akan pulang dan…
-Kau yakin? -Yakin.
Aku agak suka dia.
Baiklah. Terima kasih lagi atas pertolonganmu.
Aku tak akan tahan kau lebih lama. Mungkin…
Mungkin apa?
Mungkin aku akan melihatmu di pulau… Selena.
Baiklah.
Betapa imutnya cowok itu… Sebastian!
Mungkin dia menyukaiku dan dia tak tahu aku putri duyung.
Aku putri duyung.
Sulit jadi berbeda saat semua orang menghakimimu.
Aku merasa tak ada yang memahamiku.
Apakah mereka sadar betapa sakitnya kata-kata mereka?
Bagaimana aku bisa menerima diriku kalau orang di sekitarku tak menerimaku?
Tapi, inilah aku.
Aku menyelamatkan nyawa seorang anak laki-laki justru karena aku berbeda.
Jimat ini membawaku ke sini
karena aku benar-benar menginginkannya dan aku tak membiarkan siapa pun menghentikanku.
Mungkin hidup bukan soal tujuan akhir. Tapi tentang perjalanan untuk sampai ke sana.
Aku tak tahu apa yang menanti,
tapi aku yakin itu akan jadi petualangan yang tak terlupakan.
-Bagaimana rasanya? -Kukira kau tidur.
Dengan dengkuran Milen, semoga beruntung semua!
Dia sudah bangun sekarang, dia baik-baik saja.
Anak laki-laki memang lama sekali! Kalian benar-benar terlambat.
Tiap DP Langsung Bonus 5% - Main Disini Jamin Wede WinJos > pasti Win, Jos Wede nya - Kunjungi (https://super.winjos.today)
Halo!
Aku punya masalah, tapi semuanya beres.
Semuanya sesuai rencana.
Baiklah.
DIARAHKAN OLEH
Pulau Elysia itu ada.
Kau tahu tentang Elyssa?
-Ritual itu! -Aku tak mengerti.
Bagaimana kita bisa mengulanginya?
Sebuah keajaiban!
Kumohon, biarkan kami pergi!
Orang-orang berbahaya.
Aku juga putri duyung!
Hati-hati!
Aku takut!
Selena!
Tidak, tidak, tidak!
PUTRI DUYUNG 2 PULAU MISTERI
Kau adalah putri Poseidon.
UNTUK PUTRI-PUTRI KAMI, SMARANDA DAN ILINCA. CODIN & ANA
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.