Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Dia melakukan salto yang bagus.
Dia akan jadi pesenam.
Menarilah, Ibu. Itu akan membuat adik kecilku menari.
Ayolah, Ayah. Menarilah.
Ayah, mengapa kau mengecilkan suaranya?
Tidak sopan. Suara itu mengganggu orang.
Siapa yang kau maksud?
Serius, apa kau melihat siapa pun di sini?
Di rumah, kita berhati-hati karena tetangga.
Tapi kita bahkan tidak punya tetangga!
Dan tak ada yang pernah berkunjung.
Ibu, suruh dia memutar suaranya lebih keras.
Ayolah, Ayah. Besarkan suaranya.
Nah, kau bisa menari.
- Apa itu? - Entahlah.
Berikan tisu.
Nilufar, jangan berdiri dekat jendela.
Syukurlah kita selamat.
Matikan.
Kau membunuhnya.
Aku bahkan tidak melihatnya. Ia melompat tepat di depan mobil.
Sayang, jalannya tidak terang. Binatang malang itu sering tertabrak.
Itu hanya kecelakaan.
Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi.
Tuhan pasti menempatkannya di jalan kita karena suatu alasan.
Dia membunuh seekor anjing. Tuhan tak ada hubungannya dengan itu.
Bukan salahnya. Dia tidak melakukannya dengan sengaja.
Tanda lain.
ITU HANYALAH KECELAKAAN
Apakah karena sabuk?
Entahlah. Nyalakan mobil.
Lanjutkan.
Lagi.
Cukup. Tidak ada gunanya.
Permisi, tolong.
Apakah ada bengkel di dekat sini?
Dua kilometer dari sini.
Terlalu jauh. Mobilku mogok bersama keluarga.
Tidak ada yang lebih dekat.
Bolehkah aku menelepon mereka?
Aku tidak punya nomornya.
Baik, terima kasih.
Tuan, aku bisa mencoba memperbaikinya.
Itu sangat baik. Terima kasih.
Ayolah, Rahim, kita teman.
Jika kau punya masalah, kau bisa mengandalkanku.
Benar.
- Omid. - Apa?
Jangan tutup telepon. Aku akan segera kembali.
Ada apa?
Sebuah keluarga mobilnya mogok.
Aku akan coba membantu mereka.
Kau masih di sana, Rahim?
Apakah kau mendengarkan?
Kapan kau mengembalikan van itu?
Aku harus berada di sana dalam satu jam.
Selalu begitu.
Karena pelanggan tidak ada, kembalikan barang dagangan.
Ya, aku harus mengantarkan perlengkapan pengantin.
Ini mendesak. Tolong bantu.
Tunggu, aku dapat panggilan lain. Nanti kita bicara.
Hai, Bu. Apa kau baik-baik saja?
Siapa yang menyalakan lampu?
Omid! Apakah kau menyalakan lampu?
Omid?
Maaf, aku mencari sakelar lampu kamar mandi.
Aku salah sakelar.
Matikan. Itu sakelar yang lain.
Baik. Maaf.
Maaf, Bu.
Itu panggilan dari pelanggan.
Apakah kau sudah makan malam?
Kenapa?
Makan. Aku akan segera datang.
Bu, tolong, van itu bukan milikku.
Baik.
Aku tidak bisa datang sekarang, Ibu tersayang.
Baik.
Sudah, ya.
Tepat seperti yang kau minta.
Merek asing.
Jangan khawatir, akan ada semuanya.
Ada lagi?
Aku sayangmu.
Sampai jumpa.
Namanya siapa?
Vahid.
Vahid?
Vahid?
Vahid?
Ya?
Omid butuh kotak peralatan.
Lewat pintu, di sebelah kanan, ada lemari berisi kotak peralatan.
Ke sana?
Ya.
Terima kasih.
Nyalakan mesin.
Aku sudah utak-atik. Ini sementara.
- Terima kasih banyak. - Sama-sama.
- Apa? - Kuncinya.
- Untuk apa? - Ini darurat.
Dan pakaian pengantin untuk saudaramu?
Ikutlah denganku dengan van itu. Jangan lupa pakaianku.
- Hati-hati dengan sepeda motornya. - Tentu. Tenang saja.
Keluar dari sana.
Kau sedang apa?
Diam, bajingan.
Diam saja. Berhenti meronta.
- Aku akan menguburmu. - Tidak!
Bajingan kotor!
Kau sedang apa?
Berhenti!
Berhenti! Aku tidak bisa bernapas!
Jangan lakukan ini!
Aku punya keluarga. Jangan lakukan ini.
Apakah itu nama aslimu? Rashid Shahsavari.
Ya, itu aku.
Dengar, ambil kartu bankku.
Kodenya 1329. Tarik uang sesukamu.
Bukankah 'Eqbal' nama yang cukup baik?
Lebih singkat, lebih mudah diingat.
Berhenti!
Siapa Eqbal?
Tutup mulutmu, bajingan!
Kau dulu sering mengatakan itu. Ingat?
Kau berkata, "Jika ibumu bukan pelacur,
dia tidak akan melahirkan orang busuk sepertimu."
Jadi, kau sampah?
Kau lupa Eqbal?
Eqbal si Bertongkat. Masih ingat?
Nanti kau akan ingat.
Aku belum pernah mendengar nama itu!
Siapa dia?
Jangan sok pintar padaku.
Kau pikir hidup yang sengsara ini telah menghapus ingatanku?
Sehingga aku tak bisa mengenalimu?
Bahwa kau bisa menutup mata kami begitu saja,
membuat kami duduk menghadap dinding, dan kami tidak akan mengenalimu?
Telinga kami tetap bisa mendengar juga.
Suara langkahmu.
Aku akan mengenali bunyi berderit dari kaki palsumu di mana pun!
Suara mengerikan itu masih terngiang di telingaku.
Kau kira aku bodoh? Hah?
Itu telah menghantuiku selama bertahun-tahun.
Kau menghancurkan hidupku, bajingan.
Bertahun-tahun? Aku kehilangan kakiku tahun lalu dalam kecelakaan.
Berhenti!
- Akan kubuktikan! - Aku bersumpah! Lihat sendiri!
Lihat bekas lukaku!
Kau akan lihat bekasnya masih baru.
Aku akan menemui dokter hari ini.
Lihat sendiri.
Aku memohon, hentikan.
Berhenti.
Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak bisa bernapas.
Berhenti.
Jangan menarik! Itu kaki palsu!
Tarik celanaku ke atas.
Kau akan lihat.
Jangan menarik.
Apakah itu bekas luka lama?
Ke mana kau pergi?
Keluarkan aku dari sini.
Tolong, aku sesak.
Cepat keluarkan aku dari sini.
Cepat, aku memohon.
Cepat, aku sesak.
Apa yang telah kulakukan padamu sampai pantas mendapat ini?
Keluarkan aku dari sini!
- Halo. Apa kabar? - Baik. Kau bagaimana?
- Apakah Salar di sini? - Ya, di atas.
Halo, Salar.
- Vahid. Apa kabar? - Dan kau?
- Baik. Terima kasih. - Kau kemana, kawan?
- Bagaimana ginjal itu? - Lumayan.
Silakan duduk.
- Apakah aku mengganggu? - Untuk apa kau datang?
Karena kau di sini setiap Selasa, aku datang. Aku tidak ingin menelepon.
Ini penting.
Katakan padaku dulu apakah kau sudah menemui dokter.
Aku sudah membuatmu puluhan janji temu. Kau berlebihan.
Rawat ginjalmu.
Kita selalu memanggilmu 'kendi'.
Selalu menahan punggungmu; sekarang kau memang terlihat seperti kendi.
Aku sedang sibuk. Aku pergi.
Jadi...
Ini.
Siapa itu?
Itu milik si Bertongkat.
Bagaimana kau mendapatkannya?
Akhirnya aku menemukannya.
Aku menabraknya dengan mobilku.
Dia di bagasi mobilku.
Apakah kau gila, Vahid?
Jangan khawatir, dia masih hidup.
Aku butuhmu. Aku ragu.
Bisakah kau memastikan itu dia?
Ikuti aku.
Apa yang merasuki pikiranmu?
Pikirkan konsekuensinya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ketika aku melihatnya, aku kehilangan akal.
Tahukah kau apa yang dilakukan bajingan itu padaku?
Dia mengambil segalanya: harga diriku, istriku, pekerjaanku.
Aku kehilangan segalanya!
Aku bahkan menggali lubang untuk menguburnya hidup-hidup.
Namun dia membuatku ragu. Dia mengatakan dia bukan Eqbal.
Aku hanya meminta kau membantuku mengenalinya.
Ini bukan sifatmu.
Kita bukan pembunuh. Kita tidak seperti mereka.
Tak perlu kita menggali kuburan mereka. Mereka sudah menggali sendiri.
Yang kau kuburkan adalah cita-citamu.
Lihat, aku tidak datang ke sini untuk mendengar itu.
Aku tidak peduli lagi.
Aku akan menyelesaikan apa yang telah kukerjakan.
Aku hanya meminta kau memastikan itu dia.
Bahkan jika memang dia, lepaskanlah dia. Kau tidak akan luput dari hukuman.
Salar.
Di masa-masa terburuk hidupku, kau ada di sana. Kau mendukungku.
Aku tidak akan pernah melupakanmu.
Jika kau tak mau menolong, aku tidak akan menuntutmu.
Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan.
Jangan lakukan ini, Vahid.
Ya, temanku?
Telepon nomor ini.
Lakukan apa yang dia katakan padamu.
Baiklah.
Belok kanan.
Kau telah sampai di tujuan.
Selesai. Tersenyumlah, Goli.
Maaf, sebentar.
Perhatikan ekor gaunku.
- Aku harus menjawab. - Tidak masalah.
Halo?
Halo, Maryam. Apa kabar?
Ya, seluruh seri sudah siap.
Aku akan mengirimkannya malam ini.
Permisi.
Pernikahan besok. Saat ini, aku sedang mengambil foto potret.
Sentuhan akhir sudah selesai. Kau akan menerimanya...
Tentu, jangan khawatir.
Silakan pilih. Tapi jangan buat kami kesulitan.
Baik.
Kedengarannya bagus.
Terima kasih. Jaga diri.
Sampai jumpa.
Halo. Apa kabar?
Kita akan mengambil lebih banyak di gedung bata di sana.
Bagus mengganti suasana.
Seperti yang kubilang, aku sedang sibuk.
Tapi karena Salar mengirimmu, aku mau mendengarkan.
Bukankah itu Nyonya Biglari yang ditangkap bersamamu?
Eh, bolehkah kita keluar sebentar?
Untuk apa?
Aku mendengarkan.
Ini agak sensitif. Aku tidak bisa membicarakannya di sini.
Aku sangat sibuk, Tuan, seperti yang kau lihat.
Pergilah ke luar, aku akan bergabung setelah selesai. Terima kasih.
Aku menemukan si Bertongkat.
Kau memanggilnya Si Bertongkat, kurasa.
Sebenarnya, siapa kau?
Aku ditangkap dua minggu setelahmu.
Untuk kolusi dan propaganda terhadap rezim.
Aku membaca investigasimu.
Aku membutuhkanmu.
Untuk memastikan itu memang dia.
Dia di sini?
Ya. Jangan takut. Dia tidak bisa bergerak atau bicara.
Dia di bagian belakang van.
Apakah kau membunuhnya?
Tidak, bajingan itu masih hidup.
Aku butuh kau membantuku mengenalinya.
Aku tidak bisa membantumu.
Salar membuat kesalahan besar dengan mengirimmu padaku.
Aku baru memulai kembali kehidupan normal.
Dan dia sedang menyiapkan pernikahannya yang berlangsung besok.
Tolong pergi.
Dia memukulku begitu keras sehingga aku harus terus menahan punggungku.
Aku terlihat seperti orang bodoh. Mereka memanggilku 'kendi'.
Aku menunggu konfirmasimu untuk mengurusnya.
Panggilan 'kendi' atau tidak, aku tak peduli.
Aku tidak bisa membantumu.
Pergilah atau aku akan menyuruhmu diusir. Sekarang pergi!
Maaf, teman-temanku.
Jadi, bagaimana penampilannya?
Ali, ke sini. Goli, di sisi lain.
Ya, itu tidak buruk.
Eh...
Kita dapat hitam di atas hitam.
Kembalilah ke posisi semula.
Ya, itu bagus.
Eh...
Lihat dia.
Aku akan menelepon sebentar dan segera kembali. Maaf.
Halo?
Hai, Salar.
Dia ada di van.
Apa pun yang kau lakukan, Shiva, jangan ucapkan sepatah kata pun.
- Kenapa? - Dia bisa mendengarmu.
Kita bicara nanti, baik?
- Kau yakin itu dia? - Tidak, kalau tidak aku tak akan datang.
- Lalu apa? - Maksudmu apa?
Bahkan jika memang dia, apa yang akan kau lakukan?
Serahkan padaku, jangan khawatir.
Aku tidak ingin membuat masalah bagimu.
- Tapi apakah itu dia? - Aku tidak tahu.
Aku ditutup mata sepanjang waktu.
Shiva.
Pergi!
- Ya, sayang? - Siapa dia? Apa maksudnya?
Halo, saudaraku.
Kami akan menikah. Kami datang untuk foto. Semuanya sah.
Perayaannya besok. Kau tahu maksudku.
Aku membawa apa yang kau butuhkan.
Ali?
- Apa yang kau katakan padanya? - Katakan apa yang dia mau.
Jangan khawatir. Dia datang untuk memberitahuku sesuatu.
Kau tampak gelisah.
Kembali ke dalam.
Dia membawa si Bertongkat.
- Siapa itu? - Apa?
Si Bertongkat.
Goli...
Ambilkan air!
Jangan terlalu panik.
Goli, tenang. Tak apa.
Kembali ke dalam.
Aku baik-baik saja.
Goli.
Goli.
Di mana bajingan itu?
Tenang.
Dia akan mendengarmu.
Buka!
Diam.
Di mana kau menemukannya?
Aku tidak tahu siapa kau atau apa yang kau inginkan.
Tapi aku tahu ini terlalu berat untuk Goli.
Jika sesuatu terjadi padanya, hati-hati.
Ali, hentikan. Kembali ke dalam.
Lihat? Kami tak bisa memberitahumu apakah itu dia atau bukan. Pergi!
Apa kau bercanda? Pria itu menghancurkan hidupku.
Aku tidak akan berhenti sampai aku tahu apakah itu dia.
Aku sudah bilang, pergilah.
Kau membuat kami dalam masalah besar.
Buka lagi agar aku bisa melihatnya.
Bukan kau.
Bagaimanapun, ia berbau keringat seperti dia.
- Tapi-- - Apa?
Satu-satunya orang yang bisa mengenalinya adalah Hamid.
Shiva, kau tidak bisa membawa orang gila itu ke sini.
Kita akan pergi kepadanya.
Goli baru pulih. Kita tidak bisa mengambil risiko.
Kenapa kalian berdua keluar ke sini?
Dengar, aku tidak punya apa-apa untuk hilang.
Tapi Goli terlalu rapuh.
Hamid satu-satunya yang bisa membantu kita.
Siapa Hamid?
- Salah satu dari-- - Apa yang kita tunggu?
Dengar. Kita diharapkan kembali ke rumah.
Berikan telepon selularku.
Ayo.
Hai, Bu.
Aku baik-baik saja.
Kita akan pergi mengambil lebih banyak foto dengan Ali dan Shiva.
Ya, benar.
Tidak, tapi malam ini...
Jangan khawatir. Aku akan pulang terlambat.
Baik. Aku sayang kau.
Sudah tenang? Kami akan datang.
Baik. Tapi pertama, berikan ponsel kalian. Matikan.
Masuk.
Kau harus pergi lurus.
Sesi foto macam ini.
Oh, kumohon, kita sudah punya banyak foto. Berhenti.
Betapa berantakannya.
Kau terus mengeluh. Cukup.
- Aku tidak mengerti-- - Ssst.
- Halo. - Hai. Apa kabar?
Halo.
- Vahid, Abolfazl. - Senang bertemu denganmu.
- Apakah dokter di sini? - Ya, masuklah.
Aku berharap bisa bertemu dengannya.
Tentu.
- Bagaimana kesehatanmu? Lebih baik? - Ya. Terima kasih.
- Kau? - Semua baik-baik saja.
- Terima kasih. Selamat tinggal. - Sama-sama. Selamat tinggal.
Hamid akan marah besar.
Aku membawa penyumbat telinga untuk si Bertongkat.
Dan ini, untuk membuatnya tertidur.
Apakah itu efektif?
Ya, Hamid merekomendasikannya. Dan temanku memberi tahu apa yang harus dilakukan.
Kita tidak sanggup membunuhnya.
Permisi, bolehkah aku?
- Apa ini? - Berikan mereka uang.
Ini.
- Itu saja? - Ya.
Kami tidak punya uang tunai.
Parkir di samping truk kecil itu.
Itu dia.
Hei.
Dia sudah tidak waras.
Ke mana kau pergi?
Mereka datang.
Cukup. Masuk.
- Kau mau apa? - Kita akan pergi ke tempat yang tenang.
Berani sekali kau. Kenapa kau menggangguku?
Dengar, kawan, ini serius.
Apakah dia berbicara kepadaku?
Diam, Hamid!
Katakan ke mana kita bisa pergi untuk berbicara dengan tenang.
Jalan lurus, lalu belok kanan pertama.
- Kau sampah! - Hamid!
Itu dia! Bajingan itu!
Lepaskan aku! Lepaskan!
Hamid, diam atau aku buang kau!
Aku bersumpah itu dia!
Itulah kaki sialan yang ia kehilangan di Suriah.
Dia biasa melampiaskannya pada orang-orang sepertiku.
Aku sudah meraba-raba kakinya selama lima tahun dalam mimpi burukku.
Lepaskan aku!
Pertama, kita harus yakin.
Yakin terhadap apa?
Dia membuatku merasakan kakinya yang busuk saat aku ditutup mata
untuk membuktikan keberaniannya dalam perang suci mereka yang sialan.
- Lepaskan aku. - Tenanglah.
Apakah dia mengaku sebagai Eqbal?
Maksudmu mengaku? Apakah kau berbicara dengannya?
Sebelum aku membuatnya pingsan, ya.
Mereka semua gila, aku bersumpah.
Kau mengharapkan dia mengaku?
Beri dia dua menit, dan dia akan menjebak kita semua.
Jika kita membiarkannya, dia akan menjebak kita lagi.
Selama dia belum berbicara, aku--
Lihat aku, akan kubuat dia berbicara!
Tidak seorang pun menyentuhnya selama dia belum mengaku itu dia.
Di mana kau menemukan orang bodoh ini?
Berapa banyak pria yang kaki kanannya terpotong di tempat yang sama
dan bekas luka yang sama di kaki kiri?
Diam. Dia teman Salar.
Sekarang aku mengerti. Si penakut itu, Salar.
- Lepaskan aku! - Keluar!
Aku bilang, lepaskan aku.
Beri aku waktu sebentar.
Tenang. Kenapa kau berteriak?
Kau bisa terkena stroke.
Jika kau berteriak seperti itu, pasti ada yang mendengarmu.
Ini apa, pemerasan?
Bukan, cuma bercanda. Kita teman.
Apakah kami terlihat seperti pemeras?
Bukan, tapi ada keributan dan suara aneh di vanmu.
Kau merasa lebih baik, Hamid? Dia teman kami.
Apa yang terjadi di sana?
Tidak ada apa-apa.
Kalian sedang apa?
Kami sedang berbicara dengan tuan-tuan ini.
Halo. Apa kabar?
Aku fotografer pernikahan. Kami datang untuk mengambil beberapa foto.
- Di sini? - Pemandangannya luar biasa.
- Jadi, kalian punya izin? - Izin?
- Untuk foto pernikahan? - Tentu.
Apakah kalian kehilangannya?
Pemerasan, mengganggu ketertiban.
Mereka petugas keamanan.
- Kami cuma bercanda. - Baiklah.
- Dia agak tidak waras. - Goli.
Tidak ada yang perlu dilihat.
Kami hanya melihat-lihat, itu saja.
- Kita akan ke sisi lain. - Pemandangannya lebih bagus.
Cepat.
Goli, tersenyumlah.
- Ali, ke sana. - Aku akan memotret Goli sendiri.
- Kami mengganggu? - Tidak sama sekali.
Baik, cukup. Kita berangkat.
- Punya hadiah kecil untuk kami? - Permisi?
Dia mau apa?
Temanmu tidak sehat.
- Kau dokter? - Maafkan dia.
Aku tidak punya uang tunai. Lain kali saja.
- Kau berencana menikah lagi? - Maaf?
Maaf?
Apakah kau punya uang tunai?
Aku ada mesin kartu.
Ini.
Silakan.
- Bukankah itu terlalu banyak? - Tak ada gunanya pelit.
Baik, ini dia.
Kalian semua, keluar, tolong.
Maaf?
Aku mengganggu kalian untuk sesuatu yang sia-sia. Aku pergi sendiri.
Aku tak ingin merepotkan kalian dengan urusanku.
Oh, itu urusanmu?
Menurutku, selama aku belum membunuh bajingan itu,
aku tak akan mundur.
Aku baik-baik saja di sini. Terima kasih.
Aku tidak akan mengatakannya lagi.
Jika kalian tidak keluar, aku juga tak pergi ke mana-mana.
Aku juga. Aku tak akan bilang lagi.
Baik, kami pergi.
- Ayo pergi, sayang. - Ke mana?
Dia benar, dan kita punya urusan.
Kau sadar?
Dialah yang menemukannya. Dia bisa melakukan apa pun padanya.
Pergi saja kalau mau.
Tanpamu? Tapi kau sedang tidak sehat.
Tidak, aku tidak sehat!
Bahkan jika itu memang dia, dan mereka menyerahkannya padamu,
apa yang akan kau lakukan padanya?
Ini masalah yang sulit, sayang.
Semakin kau melangkah, semakin kau terbenam.
Ini akan menjadi akhir kalian semua.
Kita pergi dan melupakan semua ini.
Semua ini terjadi sebelum kalian, dan ini harus berhenti suatu hari.
Jadi tanggung jawab jatuh pada hari ini. Serahkan padaku.
Kita akan menikah. Serahkan padamu?
Dengar, semua. Bajingan itu harus berbicara.
Atau aku tidak akan hidup untuk pernikahan besok.
Dengar, Goli. Aku berkata ini untukmu.
Aku tahu kau begitu.
Boleh aku minta rokok?
Apa yang akan kau lakukan?
Aku sebenarnya tidak yakin.
Apakah kau selalu bertindak sebelum berpikir?
Kenapa kau bilang begitu?
Itulah yang kau lakukan.
Kau terbawa suasana, membuat keputusan tergesa-gesa.
Lalu, kau jadi masuk akal. Bagus.
Kupikir kau akan berhenti merokok.
Memang, sangat menggoda saat sedang menggoda.
Tetap di sini. Aku harus bicara denganmu.
Sekarang, masalahmu pria itu belum mengaku, kan?
Jika kita pergi ke tempat terpencil,
aku bersumpah demi makam ibuku, aku bisa membuatnya bicara dalam sekejap.
Menggunakan metode mereka?
Tidak sama sekali. Aku akan memasakkan makanan enak untuknya,
memberi dia mandi yang menyegarkan. Serius, kau bercanda?
Mereka menggantung kita terbalik selama tiga hari untuk mendapatkan nama.
Kita tidak melihat cahaya matahari selama tiga bulan.
Dan kau merasa kasihan pada mereka?
Tidak sama sekali.
Bukan karena mereka menggunakan kekerasan kita harus begitu juga.
Apakah ini tak akan pernah berhenti?
Sadarlah, Shiva.
Kau menculiknya, mengikatnya, membuatnya pingsan.
Apa lagi yang bisa kita lakukan?
Akulah yang melakukan semua itu. Aku tak punya pilihan.
Sekarang kau juga tak punya.
Jika dia lolos dari ini, kita semua akan dalam masalah besar.
Dia tidak melihat kita. Dia ditutup matanya.
Dia tahu di mana aku bekerja.
Sial.
Bagus, Vahid.
Kau bertindak seperti pro menyita ponsel kita,
dan dia tahu di mana kau bekerja?
Konyol.
Aku tak menyangka perkara ini akan sejauh ini.
Apa itu?
- Ada apa? - Entahlah.
Kita mogok.
Permisi.
Kau terlihat seperti sudah melakukan ini seumur hidupmu.
Ugh. Rekanmu buang air besar di celananya.
Biarkan aku yang urus ini.
Ada apa, sayang?
Kau baik-baik saja?
Ada yang salah?
Tidak sama sekali.
Sepertinya pengantin agak terburu-buru.
Apakah kau kerabat pengantin pria?
- Pengantin wanita. - Selamat.
Silakan.
Empat puluh liter, 120 toman.
Kodenya 1962.
- Haruskah kuberi satu nol lagi? - Ayolah.
Kau harus berbagi kebahagiaanmu.
Paket untuk pernikahan dan kelahiran.
Lumayan mahal, bukan?
Aku bercanda.
Apakah itu cocok untukmu?
Sudah berapa lama kau mengenalnya?
Aku bertemu dia hari ini.
Shiva, jangan beralasan. Siapa dia?
Kenapa kau percaya padanya?
Salar mengirimnya padaku.
Siapa pun bisa muncul atas namanya dan kau percaya?
Aku bukan profesional seperti kau.
Omong kosong.
Tak perlu jadi profesional untuk melihat dia salah satu dari mereka.
Apakah kau tak melihat dia diam seperti kuburan?
Dia sudah tahu semua tentang kita.
Dan sekarang, dia ingin pergi.
Begitu?
Dia telah mengorek informasi dari kita.
Dan pria itu, Eqbal?
Kroninya, tentu saja.
Jangan sentuh dia.
Biar aku.
Ada apa?
Apa itu? Kau baik-baik saja?
Bangun.
Ke van.
Bodoh! Tangkap dia!
Tangkap dia, Ali!
Berhenti, Hamid!
Berhenti!
Sialan, apa yang kau lakukan?
Lupakan saja.
Mungkin dosisnya terlalu kuat dan dia tewas.
Aku sudah periksa sebelumnya. Kita hanya perlu menunggu.
- Menunggu apa? - Agar dia bangun.
Ada gunanya? Bangun atau tidak, kita akan menguburnya.
Dia berhak tahu.
Bagaimana tuh.
Mayoritas yang diam mengemukakan pendapat.
Apakah kau menunggu melihat ke mana angin bertiup untuk ikut?
Bagus. Hei, bego.
Pria itu mendengar suaramu.
Dia akan menemukannya dalam sekejap dan menghancurkanmu, kau akan lihat.
Shiva, kau percaya teman Salar?
Kau yakin dia tak akan mengkhianatimu?
Aku bilang dia akan membocorkan semuanya dengan tamparan pertama.
Sedangkan kau, sok tahu, tak mengerti apa-apa.
Dan apa yang kau pahami?
Kita masing-masing bisa menyampaikan pendapat.
Kau yang pantas bicara.
Kau dapat tangkapan, itu pasti.
Kau kira kami tidak mengenalnya?
Kau tahu bagaimana ayahnya dipromosikan semalam...
...seperti roket?
Kau naif sekali.
Berhentilah melampiaskan amarahmu dengan mengusik semua orang.
- Dewasalah! - Goli.
Tenanglah. Jangan ikut-ikut dia.
Aku, tenang?
Dan membuat diriku seperti zombi dengan obat lagi?
Aku muak sampai di sini!
Dia akan bilang aku terlalu emosional untuk pengantin.
Saat aku keluar penjara, bajingan itu bilang aku kolaborator.
Jadi hidupku di luar akan menjadi penjara yang lebih besar.
Aku ingin kau ada di sini
untuk mendengar cerita itu dari mulut bajingan itu.
Dengar, Ali.
Di penjara,
mataku ditutup
dan dibawa keluar dari sel.
Mereka memaksaku naik ke panggung.
Aku mendengar seorang wanita berkata, "Haruskah aku memakainya?"
Lalu bajingan itu,
"Ya, lakukan saja. Tapi karena dia masih muda,
pasang tali pada sudut agar lehernya cepat patah."
"Ia akan menderita lebih sedikit."
Setiap detik, aku mengira akan jatuh ke jurang.
Aku berdiri di sana selama tiga jam.
Lalu aku mendengar suaranya lagi.
Dia berkata,
"Turunkan dia."
"Ia harus dicabuli dulu agar langsung ke neraka."
Dia berkata jika aku perawan, aku akan langsung ke surga.
Bahwa dia akan memastikan aku berada di neraka bahkan di dunia ini.
Percayalah, aku ingin memberitahumu semua ini sebelum kita menikah.
Aku menunggu kesempatan.
Jadi, Hamid, kau ingin menggantungku sebagai gantinya?
Bagus. Kau membandingkanku dengan mereka?
- Cukup. - Kau diam.
Kau tidak menghabiskan satu jam pun ditutup mata oleh bajingan itu.
Aku menahan diri sampai sekarang, tapi sekarang aku bisa membalasmu.
Aku berhenti menunggu jawaban sejak lama, tampan.
Sejak mereka memindahkanku ke sel lain
dengan menyeretku telanjang melintasi lantai.
Apa yang ayahmu lakukan saat itu?
Menjual dolar di pasar gelap untuk mengamankan masa depanmu.
Dia memainkan kartunya dengan benar.
Banyak orang harus mengaku.
Baiklah, Hamid.
Kita tak bisa menunggu. Tapi itu bukan keadilan.
Jangan bicara tentang keadilan padaku.
Kau membuatku muak.
Apakah meninggalkanku tanpa sepeser pun itu adil?
Atau janji kalian untuk tetap bersama selamanya?
Aku tidak pergi karena itu.
Kau selalu dan akan selalu miskin.
Kau membingungkan teman dan musuh.
Berhenti. Kalian semua ketakutan, itu saja.
Kalian hanya segerombolan pengecut.
Kalian cuma takut itu akan menghantui kalian.
Kalian bodoh. Aku bilang, biarkan aku yang menanganinya.
Itu demi kepentinganmu sendiri.
Kau akan dapat balas dendam sambil tetap sok anti kekerasan.
Aku tidak bicara tentang kekerasan.
Aku bicara tentang kejahatan. Mengerti?
Shiva, kita sedang berperang.
Ini bukan lelucon. Jika kau tidak membunuh, kau dibunuh.
Ali, si netral.
Bantulah aku menguburnya, dan selesaikan ini.
Panggil aku netral, kolaborator, terserah.
Aku tahu mereka yang seharusnya membebaskan kita
membunuh pemuda kita sambil membaca doa.
- Kau mau kami membunuhnya? - Tolong jangan beri aku pidato hebatmu.
Sungguh omong kosong.
Dari jauh, kau mengingatkanku pada drama yang kita tonton.
Hanya dengan sebuah pohon.
Menunggu Godot.
Kita persis dalam situasi yang sama.
Kau tak pernah mau mendengarkanku.
Tapi sekarang, percayalah, terserah kita untuk mengendalikan diri.
Tak ada gunanya menunggu mukjizat.
Segala yang kau pikirkan adalah membalas dendam.
Dia tidak membunuhmu.
Tentu saja dia melakukannya. Bahkan lebih buruk.
Bajingan-bajingan itu mencuri lima tahun terbaik hidupku.
Dia melakukan itu pada sedikitnya seratus orang.
Berapa tahun jumlahnya?
Masalahnya bukan pada individu.
Kau membingungkan agen yang taat dengan sistem.
Sistem apa? Kau membuatku gila.
Bajingan-bajingan itu menciptakan sistem.
Kau kira dia cuma taat? Dia akar dari kejahatan.
Jangan lupa dia ingin mencabuli Goli.
Dia percaya sepenuh jiwa dan raga pada neraka yang ingin dia kirimkan kepada kita.
Tolonglah.
Lima puluh tahun pidato terus-menerus.
Nah. Kau mau membunuhnya?
Bangun. Ayo, bunuh dia.
Serahkan kuncinya padaku.
Kuncinya!
Serahkan padaku daripada memandangku seperti itu.
Gila kau? Geser. Aku yang membukanya.
Pelan.
Bego, itu ada di dalam.
- Aku sudah mengambilnya darinya. - Buka.
Ini dia.
Jangan angkat. Mereka akan melacak kita segera.
Itu rumahnya.
Tentu. Mereka selalu menelepon dari nomor aman.
Jangan angkat.
Halo?
Baiklah.
Siapa tadi?
Putrinya. Dia menangis. Ibunya pingsan di dapur.
Ya ampun, ini jebakan.
Jebakan apa?
Kita punya salah satu orang mereka, jadi mereka memasang jebakan.
Dia menangis. Dia tidak berpura-pura.
Astaga.
Aku akan menolongnya. Kalian bisa melakukan apa pun.
Aku ikut denganmu.
Dia benar. Aku juga pergi.
Pergi ke mana? Kalian bisa tertangkap.
Menculik agen intelijen bukan perkara sepele.
Kau ikut, tampan?
Di sana.
Kalau itu jebakan, mereka pasti sudah di sini.
Beri mereka waktu sebentar, jenius.
Angkat.
Angkat dan nyalakan speaker.
Halo? Ayahku?
Cepat datang. Aku takut Ibu akan mati.
Ayah, tolong.
Halo, Ayah?
Aku pergi.
Jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan, tinggalkan segera dengan van.
Tunggu, aku ikut denganmu.
- Apa? - Hei.
Sayang, bisakah kau membuka?
Kami teman ayahmu. Kami datang untuk menolong ibumu.
Ibu.
Mari kemari, sayang. Masuklah ke pelukanku.
Jangan menangis.
Ibumu akan segera membaik. Jangan takut.
Katakan padaku, manisku, apakah kau mau adik laki-laki atau perempuan?
Aku ingin ibuku sembuh.
Tentu, sayang, dia akan sembuh.
Katakan, kau tahu apa yang terjadi pada kaki ayahmu?
Bisa diam, Hamid?
Nyonya.
Situasi kami darurat.
- Apa yang terjadi padanya? - Dia hamil.
Siapa namanya?
Azam Pourniaz.
Alamatnya?
Jalan Mohammadi,
Jalan Shahin, nomor 39.
Identitasnya?
Kami terburu-buru dan lupa.
Apakah kau suaminya?
Tidak, dia pamanku.
Ayahmu harus ada di sini, sayang.
Ayahnya sibuk.
Kami sudah mencoba menghubunginya. Kau tak bisa membiarkan dia mati.
Itu prosedurnya. Sang ayah harus hadir.
Apa maksudnya? Bagaimana jika kutemukan dia di jalan?
Rawat dia.
Ada apa? Ceritakan padaku.
Kami tidak punya identitasnya untuk pendaftaran.
Kehamilan berapa bulan?
Dia pingsan. Ia jatuh dan tidak membuka matanya lagi.
- Apakah ini anak pertamanya? - Ya.
Ini kehamilan keduanya?
Benar.
- Kau tahu apakah dia punya penyakit? - Tidak.
Ini darurat. Air ketubannya pecah.
Atur. Aku akan membawa dia ke ruang operasi atas tanggung jawabku.
- Terima kasih banyak. - Cepat.
Tuan, apakah kau punya kartu bank?
- Ya. - Bawa ini ke kasir dan bayar.
- Di mana kasir? - Di sana.
Di sini.
- Kartu, tolong. - Tentu.
Ambil yang ini.
Mau sedikit?
Aku tidak lapar. Ini untukmu.
Nilufar?
Ya?
- Boleh aku tanya sesuatu? - Ya.
Bukankah ada bibi atau paman yang bisa kau hubungi?
Ada, tapi...
Ayah menyuruhku jangan pernah memanggil orang lain selain dia.
Aku tidak diizinkan menelepon orang lain.
Keluarga ibuku tinggal di provinsi.
Aku tidak bisa menghubungi mereka.
Untuk Nyonya Pourniaz.
Ya?
Selamat, putri.
Kau punya adik laki-laki. Dia seimut kau.
Bolehkah aku melihatnya?
Tentu kau akan melihatnya.
Eh...
Apakah pamanmu tahu caranya memberi hadiah atau hanya membuat skandal?
- Apa? - Tidak apa-apa.
Tunggu di sini. Aku akan segera kembali.
Pergi duduk.
Silakan ambil sendiri.
Terima kasih banyak.
- Bayinya lahir? - Ya.
Bagus.
- Jadi? - Laki-laki. Ibunya baik-baik saja.
Kau membawa kabar baik.
Misi selesai. Kau pasti bangga.
Apakah kau punya uang tunai?
Tidak.
- Untuk apa? - Aku tidak percaya.
Kau membayari mereka?
Kue-kue biasanya diberikan, dan perawat ingin tip.
Lupakan. Kau sudah melakukan cukup banyak.
Aku tak bisa meninggalkan gadis itu sendirian.
Apakah kau punya kartu bank?
Ya.
Ambil 200 toman masing-masing. Aku akan cukup dengan itu.
Tidak, terima kasih. Aku tetap di sini.
Silakan lakukan kebaikanmu.
Baiklah, terserah kau.
Oh, aku mengerti.
Dari dia, aku bisa paham.
Dia tak kenal aku, dan itu mobilnya.
Tapi kau, kau tidak percaya padaku?
Bukan soal itu. Kita lebih memilih bersikap hati-hati.
Lihatlah, meski pingsan, bajingan itu membuat keretakan di antara kita.
Bahkan mati, mereka menjadi ulah bagi manusia.
- Kenapa kau tidak ikut? - Ke mana?
Merayakan kelahiran anak bajingan itu?
Hei.
Ayolah. Itu anak kecil.
Terus apa? Dia akan lebih buruk dari ayahnya.
Semua keguguran di penjara, mau dibicarakan itu?
Teman-temanku, setelah mereka jatuh, kalian semua harus mempertanggungjawabkan diri.
Mereka mengira terhubung dengan Tuhan dan bersembunyi di balik syariat.
Bagaimana dengan kau? Akankah kau jawab atas kegagalanmu?
Aku yakin kau tidak akan.
Pagi ini, seketika aku tahu kalian pecundang.
Aku buang-buang waktu.
Ternyata, akulah orang paling bodoh di kelompok ini.
Bisa berhenti, tidak?
Apa kau cuma membingungkan kami supaya bertindak semau kau lagi?
Omong kosong.
Entah kalian buang aku atau ikut untuk aku,
dan kau berhasil membuat aku merasa tak diinginkan.
- Apa yang kulakukan? - Kau tak meneleponku saat ibuku meninggal.
- Apa? - Kau meninggalkanku.
Kau pengecut. Selalu lari dari kesulitan.
Benar! Aku lari dari kalian!
Perilakumu, keputusanmu!
Kau membuatku muak!
Cukup. Aku pergi dari sini.
Dia benar-benar pergi.
Shiva, kau ikut?
Selamat untuk pengantin baru.
Terima kasih.
Semoga bahagia.
Maaf aku merusak harimu. Aku minta maaf.
Kita harus berpisah sekarang.
Cobalah membujuk Goli.
Sekarang dia akan lebih mudah dibujuk.
Dia sudah melampiaskan amarah. Dia merasa lebih baik.
Apa yang akan kau lakukan padanya?
Aku belum pasti.
Tapi jangan khawatir.
Apa pun yang terjadi, aku tak akan mengkhianatimu.
Vahid, sini.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Kau masih di sini?
Aku tak bisa begitu saja meninggalkanmu.
Mungkin kau tak percaya padaku.
Aku tak tahu.
Mungkin aku membuat janji pada Salar.
Aku tak menyangka kau punya nyali itu.
Kenapa?
Kau bilang kau menentang kekerasan.
Aku bukan pengecut.
Dia akan membunuhmu.
Demi semua santo, bebaskan aku.
Aku mengenali ekspresimu.
Saat memukul kami, kau bilang itu menyakitimu.
Tahukah kau apa yang kau lakukan padaku, bajingan?
Untuk apa kau balas dendam?
Kami cuma buruh miskin yang menuntut hak kami.
Kami kelaparan.
- Kami tak digaji delapan bulan. - Apa yang kau omongkan?
Kenapa kau menghancurkan hidup kami?
Aku bekerja keras seumur hidup di neraka itu demi memberi makan keluargaku.
- Kau membuatku jadi bajingan sepertimu. - Omongan gila apa ini?
Lepas ikatan ini.
Diam! Omong gila?
Aku tak akan menyakiti lalat pun.
Dan hari ini aku menggali kuburanmu.
Jika aku tak ragu, kau sudah terkubur.
Aku tidak ada hubungannya dengan ini. Kau salah orang.
Diam dan dengarkan baik-baik.
Aku pastikan, berbohong tidak akan menolong.
Jika aku pria yang kau kira, kau sudah mati.
Kubilang, lepaskan ikatan ini.
Kau membunuhku seratus kali. Apa kau lupa?
Aku mayat hidup. Salah satu yang hidup.
Saat kau memasang tali di leherku, kau membunuhku.
Tali apa? Kenapa aku tega melakukan itu?
Kau yang memakaikannya, kau yang menendang bangku,
- dan aku kencing sendiri. - Itu tak ada hubungannya denganku.
Kau bilang, "Tunanganmu mati. Pikirkan orang lain."
Dia bunuh diri karena kau.
Apa hubunganku dengan tunanganmu?
Kalau aku yang melakukannya, aku akan membunuh kalian berdua.
Dia bunuh diri karena kau, bajingan.
- Kubilang, itu bukan aku. - Aku akan membunuhmu!
Ke sini.
Sungguh aku tak tahu apa yang kau omongkan. Ke sini.
Aku juga punya keluarga. Aku mengerti.
Aku bukan orang yang kau maksud. Lepaskan aku.
- Hentikan ini. - Kau bicara soal keluarga?
Kau, yang membawa keluarga tahanan di depan penjara
untuk memeras pengakuan dari mereka.
- Berani sekali kau. - Tahanan apa?
Tahanan apa?
Buatlah permintaan terakhirmu. Semua sudah berakhir.
Untuk istrimu, putrimu, putramu. Minta apa yang kau mau.
Kenapa kau memukulku?
Jelas, kau salah orang.
Aku tak punya anak laki-laki.
Aku hanya punya anak perempuan.
Kau menyiksa aku seharian karena salah paham.
Lepaskan aku.
Aku tak punya anak laki-laki.
Kau yakin?
Kau tak punya anak laki-laki?
Anak laki-lakimu baru lahir.
- Lahir? - Aku bawa istrimu ke rumah sakit.
Bajingan. Bajingan!
Kau menyentuh istriku, bajingan?
Aku akan membunuhmu, berengsek!
Aku akan membunuhmu.
Tutup mulutmu, bajingan.
Tidak semua orang sepertimu. Aku tak akan menyakiti istrimu.
Aku yang bawa dia ke rumah sakit.
Dia terbaring di kotak yang kau tiduri.
Dia selamat.
Apakah dia baik-baik saja?
- Kau lihat dia? - Ya.
Dia baik-baik saja?
Dia baik-baik saja.
Tapi aku akan membuatmu kehilangan dia.
Kau akan putus asa melihatnya, bajingan.
Kuharap kau tahu sesuatu.
Kau bukan pembunuh.
Kalau bukan, kau tak akan merawat dia.
Pikirkan itu.
Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan.
Aku tidak mengatakannya karena takut mati.
Aku mengatakannya karena kau yang bawa dia ke rumah sakit.
Dengarkan.
Sebenarnya...
Di mana kau? Siapa namamu?
- Jawab. - Rasakan bagaimana rasanya?
- Diam. - Kau diam.
Kau menutup mata kami.
Aku akan menemukanmu. Aku akan mengenali suaramu.
Berhenti membuang waktu.
Baiklah, kau menang.
Tebakanmu benar, aku Eqbal.
Alias si Bertongkat. Terus?
Terus apa? Apa yang akan kau lakukan?
- Itu kau? - Lakukan sesukamu.
Aku akan mencekikmu!
Kau bajingan!
Ini aku. Eqbal si Bertongkat.
Aku rela berkorban untuk rezim, bodoh.
Aku kehilangan kakiku di Suriah.
Aku mempersembahkannya untuk rezim dan Pemimpin Tertinggi kita.
Lihat? Tak ada yang lebih penting bagiku.
Apa yang akan kau lakukan? Hah?
Kau kira kami biarkan orang gagal seperti kau
membahayakan rezim karena gajinya terlambat?
Serius? Kau menipu diri sendiri.
Kami punya ribuan syuhada, yang terluka.
Bukan untuk...
membiarkanmu mengkhianati kami.
Membiarkanmu menyerahkan kami ke musuh.
Tidak begitu caranya.
Dengarkan aku dan diam.
- Diam. - Kau diam.
Dengarkan baik-baik.
Entah kau pantas mendapat hukuman itu dan kau sudah mendapatkannya.
Atau kau tak pantas dan keadilan akan terjadi di akhirat.
Mengerti? Sekian.
Jadi, kau bicara seperti ISIS?
Mereka membunuh orang tak bersalah dan bilang,
"Kalau mereka bersalah, maka pantas.
Kalau tidak, mereka ke surga."
Benar-benar bajingan.
Tak peduli apa yang kau lakukan, siapa yang kau ajak bicara
atau apa yang kau yakini. Aku tak peduli.
Jika aku keluar dari sini
dan keluargaku aman sentosa,
aku akan membiarkanmu sendiri.
Aku akan menutup mata dan telinga.
Dan jika aku mati...
aku akan mencapai tujuanku jadi syuhada.
Aku tak akan berkata apa-apa lagi.
Sampaikan permintaan terakhirmu. Aku akan menguburmu.
- Aku akan membunuhmu. - Kau bajingan!
Apa yang kau lakukan, Shiva?
Bajingan kotor, kau bermimpi jadi syuhada?
Siapa kau? Berapa orang kalian?
- Kau bermimpi mati? - Jangan sentuh aku.
- Diam. - Jangan sentuh aku.
Kau mau jadi syuhada?
Aku malaikat maut. Aku di sini untuk mengabulkan keinginanmu.
Bajingan, kau bilang tak akan bicara lagi.
- Diam. - Kau diam.
Selain penyesalan, tak ada kata dari mulutmu.
Kau bajingan,
kalau kau bicara lagi,
aku pukul wajahmu dengan sekop.
- Apa kau--? - Diam.
Diam.
Kau hanya boleh bilang bahwa kau sampah.
Mengerti? Diam.
Kau bajingan.
- Kupikir kau masih inspektur? - Ya.
Ya, tentu, sampah. Kau bukan siapa-siapa.
Hanya tumpukan kotoran, mengerti?
- Mengerti, kau bajingan? - Badut.
Kau badut. Kau cuma tumpukan kotoran panas.
Itu kau, mengerti?
Kau berjuang untuk rezim? Kau kira negara ini milikmu?
Kau berjuang untuk Pemimpin?
Kau sampah.
Semua kekayaan mengalir keluar, apakah itu salah kami?
Sementara kau menguras negara.
Kau bajingan kotor.
Kau kira aku biarkan kau lolos begitu saja?
Menghancurkan hidup orang, seperti hidupku?
Aku tahu suaramu yang hina.
Yang bisa kau katakan hanyalah bahwa kau sampah.
Kau tanya berapa banyak aku dibayar untuk mengibarkan kerudung di tongkat.
Kau sengaja buat kaki palsumu berderit
untuk membanggakan kisahmu di Suriah.
Ingat?
Dengan mulut kotormu...
...kau berbisik di telingaku.
Berapa dolar untuk membuatmu telanjang?
Kau akan mati sebagai syuhada.
Aku akan wujudkan mimpimu.
Kau akan lihat. Aku akan mengirimmu ke langit.
Suaramu sudah bergaung di kepalaku begitu lama.
Katakan maaf, kau bajingan.
- Maaf. - Katakan.
Tidak, bukan begitu.
Kau bilang suaraku harus menggores tembok penjara.
Sekarang suaramu harus menggores tanah!
Maaf.
Kau bilang aku telanjang.
Sekarang anakmu akan melihatmu telanjang.
Dalam foto, karena kau akan jatuh sebagai syuhada.
Katakan maaf.
- Maaf. - Lebih keras.
Lebih keras.
Maaf!
- Kau sampah! - Maaf!
Maaf!
Maaf.
Kau sampah!
Sumpah aku sama sepertimu.
Aku harus mencari nafkah.
Maaf.
Saat kau menolak mengaku, aku merasa dihina.
Kupikir kau menertawakanku.
Seperti saat aku kecil.
Sumpah.
Sumpah, maaf.
Aku merasa bersalah, tapi lama-lama terbiasa.
Biarkan aku lihat anakku. Aku memohon.
Aku ingin melihat anakku.
Maaf! Maaf!
Berikan tanganmu.
Ponsel dan dokumenmu ada di sini.
Aku tinggalkan pisau utilitas
supaya kau bisa membebaskan diri.
Jalanan berada 15 menit jalan kaki.
Omid, bagaimana kabarnya?
Kau sangat baik. Maaf merepotkan.
Sama sekali tidak.
- Mau kubawakan sesuatu? - Tidak, terima kasih.
Biarkan, Bu.
- Aku bisa. - Tidak.
Berikan itu padaku.
- Halo. Apa kabar? - Baik. Kau?
- Selamat. - Terima kasih.
- Masuklah. - Tidak, terima kasih.
Sampai jumpa.
- Terima kasih. - Kau belum beli semuanya.
Beberapa barang kurang. Perlengkapan pengantin apa ini?
Aku sendirian mengurusnya, Bu. Kau bilang saja.
Terlihat pelit.
Aku sudah berusaha. Jangan permalukan aku di depan temanku.
Sajikan teh. Nanti juga beres.
Diterjemahkan oleh Lee Jin
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.