Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Terima kasih atas tehnya.
Kau sering pakai ini?
Tadi...
Tadi aku butuh untuk urusan pribadi.
Kau juga sangat berantakan, Song-i.
Kenapa kalian membawa koper?
Aku punya...
alasan pribadi.
Omong-omong, di mana pemilik rumah ini?
Aku ingat, Tae-o bilang ada kencan buta hari ini.
Apa?
Astaga, sungguh tak sopan.
SONG BODOH
Waktunya tak tepat.
Permisi.
Kau Yu Se-yeon?
Benar?
Ya.
Aku mau datang lebih cepat darimu.
Maaf telah menunggu.
Kau memukau.
Aku tak suka kencan buta karena menurutku aneh.
Tapi aku pasti menyesal, jika tak datang hari ini.
Aku bahkan tak melihat fotomu karena menurutku lebih seru.
Aku senang tak melihatnya. Aku benar.
Fotonya pasti beda jauh dengan dirimu yang asli.
Kau biasanya jujur begini?
Aku?
Bisa dibilang begitu. Kenapa? Kau terganggu?
Tidak, aku hanya bertanya.
Kau sudah pesan sesuatu?
Astaga, aku merasa bersalah.
Ayo kita ke tempat yang kupesan setelah kau selesai minum.
Sebentar.
Hampir lupa.
Namaku Yun Tae-o.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...
Tidak dijawab?
Ya.
Bagus. Itu baru sopan, jangan jawab telepon saat kencan buta.
Mau mengobrol soal bagaimana kalian mengenal Tae-o sambil menunggu?
Aku dan Tae-o teman SD. Bagaimana denganmu?
Kami kursus privat bersama waktu kecil.
Orang tua kami saling mengenal,
jadi sering menghadiri acara keluarga.
Banyak acara saat kalian tumbuh besar.
- Benar. - Begitu.
Kau siapa? Aku belum pernah melihatmu.
Aku coba telepon lagi.
Dia pintar mengabaikan pertanyaan secara halus.
DO-HYEON
Kenapa dia menelepon?
Aku punya urusan penting...
- Pulang sekarang. - Apa?
Banyak orang di rumahmu yang mengaku temanmu.
Tapi rasanya aneh.
Tiga orang?
Siapa?
Entah. Aku belum pernah melihat mereka.
Apa Song-i teman yang sering kau bahas?
Han Song-i?
Dia juga di sana?
Ya.
Tampaknya dia punya masalah.
Ada apa? Terjadi sesuatu?
Aku tak tahu detailnya.
Kau harus kemari dan bicara dengan mereka.
Halo? Hei...
Han Song-i. Merepotkan sekali.
Kenapa harus sekarang?
Kau yang tadi, 'kan?
Kau keluarkan barang di rumahku.
Ya.
Aku benar.
Berarti kau tahu keluargaku bangkrut.
Kau Seo Do-hyeon?
Kau mengenalku?
Aku sering mendengarmu dari Tae-o.
Dia bilang ayah kalian berteman dan kita bertiga sekampus.
Jadi, kurasa kau mengenalku.
Sedikit, kurasa.
Bisa rahasiakan dari Tae-o tentang masalah pribadiku?
Aku mohon kepadamu.
Meski kami sudah lama berteman,
aku tak mau dia mendengar kabar itu dari orang lain.
Baik.
Mungkin sebaiknya kau bercermin.
Bercermin?
Apa ini?
Astaga. Sudah berapa lama seperti ini?
Jadi, begini.
Dengan rasa menyesal, aku harus pergi.
Ada urusan mendesak di rumah.
Tak masalah. Silakan.
Aku bukan tipe yang suka meninggalkan orang.
Lagi pula, kita tak bisa menduga ada urusan mendesak.
Terima kasih berpikir begitu, tetap saja...
Kau suka fotografi?
- Aku lebih suka film. - Benarkah?
Aku suka membuat film. Itu hobiku sejak kecil.
Kita punya banyak kesamaan.
Tampaknya begitu.
Kita bisa bertemu lagi besok?
- Aku tak yakin. - Aku sangat menyukaimu.
Aku memang merusak pertemuan pertama ini.
Jika kau beri kesempatan lagi, aku akan menebusnya.
Baik.
Kau harus pergi, 'kan? Katamu mendesak.
Benar.
Nanti kutelepon. Harus dijawab, ya?
Aku pergi.
Aku minta maaf soal ini...
Sampai jumpa. Kita harus bertemu lagi.
Dia lucu.
Hei.
- Mau ke mana? Di mana yang lain? - Di dalam.
- Aku pergi. - Baik.
Kita bicara nanti.
- Tae-o! - Hei.
- Tae-o! - Tae-o!
Tae-o!
Apa ini?
Kenapa kalian bertiga kemari?
Apa yang kau pakai?
Aku diusir dari rumahku seperti ini.
Aku pakai sepatu ibuku dan...
Ga-rin, kau kenapa?
Bagaimana kau menemukan rumahku?
Kau tak terima semua suratku?
Surat? Surat apa?
Aku pergi ke kantor pos, dan...
Tunggu.
Kau kenapa? Terjadi sesuatu?
Kurang lebih. Aku ceritakan setelah mereka pergi.
"Pergi"? Kata siapa? Aku mau tinggal di sini!
- Apa? - Kau mau mengatur hidupku?
Tae-o, aku punya masalah.
Kita teman, 'kan?
- Tolonglah aku sebagai teman. - Bisa diam?
Semua berhenti bicara dan duduk!
AKU BUTUH KAMAR DAN KAU PUNYA BANYAK
Kalian pikir rumahku semacam motel?
Kalian langsung kemari dan aku izinkan menginap?
Aku tak bilang begitu...
Sudah kubilang sejak punya rumah sendiri.
Aku tak keberatan kalian kemari asalkan tidak menginap.
O Ga-rin.
Orang tuamu tahu?
- Masalahnya... - Lupakan saja.
Mendengarmu saja membuatku kasihan.
Dengar. Aku mau mandi sekarang.
Aku mau kalian pergi dari sini saat aku selesai.
Ayolah, Tae-o. Hei.
IBU
IBU
- Kenapa tidak dijawab? - Jangan!
Hei...
Kau...
Kau...
Hei! Keren sekali!
Sangat keren!
Hebat.
Kau gila? Kau tahu itu mahal?
- Tae-o. - Ya?
Aku tak boleh tinggal di sini?
Untuk sementara.
- Cukup. - Tunggu.
Apa katamu?
Aku minta izin tinggal di sini.
Aku juga mau bertanya begitu.
Tunggu...
Berhenti bicara omong kosong.
Kalian mendadak minta tinggal bersamaku. Omong kosong.
Kau ingat hari itu, 'kan?
Aku berhenti sekolah untuk jadi pemusik.
Orang tuaku memperlakukanku bagai sampah sejak itu.
Hari ini, aku diusir dari rumahku seperti ini.
Akhirnya aku sadar orang tuaku tak akan mengakuiku,
kecuali aku jadi sukses.
Kawan, kau terlalu serius.
Hanya butuh satu kamar.
Aku percaya kau akan menolongku.
Kau punya banyak kamar dan kebetulan aku butuh satu.
Tolong aku.
Kumohon, tolong aku!
Tapi ini mendadak...
Aku mau bicara pribadi denganmu, tapi...
- Aku tak punya tujuan lain. - Apa?
Aku meninggalkan rumah juga.
Aku harus menjauh dari rumah.
Hanya kau yang terpikirkan, Tae-o.
Karena itu aku kemari.
Jadi, maksudnya
kalian kemari untuk tinggal selamanya?
Jika kau mengusirku, aku bisa mati!
Tunggu...
Apa yang kau...
Kau tega membiarkan ayahku memukuliku terus?
Aku tak bilang selamanya!
Hanya sampai aku lolos audisi saja!
Tolong biarkan aku tinggal sampai saat itu!
Kumohon, Tae-o!
Ya? Kumohon?
AKU AKAN MENGINAP DI RUMAH TEMAN JANGAN CEMAS
Di rumah teman?
Tapi, dia tak punya teman.
Teganya dia berbuat segila ini?
Dia merencanakan semuanya sejak awal.
Rambut palsu dan ransel membuktikan tindakannya tidak spontan.
Apa yang kalian lakukan
saat Ga-rin menjalani rencananya?
Dia tak punya seorang teman pun.
Aku yakin itu,
karena kontak di ponselnya diselaraskan dengan ponselku.
Bagaimana jika dia ditipu?
Jika begitu...
Nyonya tak apa-apa? Butuh obat penenang?
Tidak butuh!
Kalian harus lakukan apa pun untuk menemukannya.
Dia pewaris tunggal keluargaku.
Jika Ketua Dewan di Inggris sampai tahu,
kalian berdua
akan dapat masalah besar.
"Tempat kabur yang terpikir olehku hanyalah Tae-o."
Bisanya dia kabur dari rumah tanpa rencana matang?
Aku harus bagaimana saat dia sembarangan
minggat setelah mengirimku surat?
Kenapa?
Yang lain di mana?
Ga-rin di ruang tamu.
Hun menyiapkan kasur di ruang ganti.
Menyiapkan kasur?
- Tak boleh, aku harus... - Tenang dan duduk dahulu.
- Aku harus... - Sudahlah.
Aku bisa gila.
Lagi pula, sudah larut. Minum dahulu.
Kenapa kau ada di sini?
Aku?
Karena...
Tae-o, lihat ini.
Tanamanmu layu.
Daunnya sudah kuning semua.
Semuanya layu. Kau tak menyiramnya?
Kau pernah kemari?
Kenapa mendadak mencemaskan tanamanku?
Rumah ini terlalu luas untukmu.
Terlebih, kau bukan tipe orang yang suka merapikan rumah.
Pikirkan betapa bagusnya jika ada orang
yang mengurus kebun, atap, dan sampahmu.
Apa?
Aku merasa ada yang tak beres.
Kau tak bermaksud tinggal di sini, 'kan?
- Itu... - Aku tahu.
Apa?
Kau bertengkar dengan ibumu lagi, ya?
Bisa terlihat dari wajahmu.
Sebenarnya,
lebih dari itu...
Pulanglah!
Jangan memaksa mau tinggal di sini.
Makin dekat hubungan kalian, makin cepat akur juga.
Masalahnya,
bukan waktu yang tepat untukku kembali...
Aku bisa gila jika kau juga bilang
akan pindah kemari seperti mereka.
Kau pasti tahu aku paling takut
rumah ini menjadi indekos.
Tentu, aku tahu.
Tak hanya satu, tapi dua orang?
Tak bisa lebih buruk lagi.
Kenapa aku tak bisa menolak?
Kurasa sifatku memang baik.
Ada perbedaan antara watak dan kepribadian.
Mungkin aku tampak dingin, tapi sebenarnya aku baik hati.
Kau mahir menyombongkan diri.
Aku mau mandi dahulu.
Sebaiknya kau pulang sebelum larut.
Jangan buang waktu di sini.
Baik, aku akan pergi.
Ini aku, Tae-o.
Kau sampai rumah dengan aman?
Pukul berapa kita bertemu besok? Aku akan menjemputmu.
Apa maksudmu? Kau tidak hadir.
Aku tak peduli siapa yang kau temui,
tapi jangan perlakukan orang seperti itu. Bajingan!
Apa...
Apa yang terjadi?
Bisa jelaskan ini?
- Apa? - Apa?
Sumpah, aku bertemu dia.
Tapi kenapa begini? Dia tak menjawab teleponku.
Sangat aneh.
Ini orangnya?
Bukan dia.
Dia Yu Se-yeon dari Sastra Korea.
- Kau tak tanya namanya? - Sudah, katanya itu namanya.
Kenapa kau bilang dia mirip Miranda Kerr?
Konyol sekali.
Mungkin saja dia gadis aneh.
Dia tampak sangat normal.
Ada apa?
Hei.
Bagaimana teman-temanmu semalam?
Jangan dibahas.
Mereka menolak pergi, jadi aku biarkan tidur di rumah.
Ketiganya?
Tidak, Song-i pulang.
HAN JEONG-HUN
Aku lupa tentang Ayah.
Sedang apa di depan rumahku?
- Aku lupa bawa papan nama ini. - Papan nama?
Ini.
Ini milik ayahku.
Kau yang pernah tinggal di sini.
Ibuku cerita tentang situasimu.
Mau ambil barangmu?
Belum. Aku masih harus membereskan beberapa hal.
Aku akan segera mengeluarkannya.
Aku paham kau sudah lama tinggal di sini dan mengalami situasi sulit,
tapi kau harus lebih pengertian.
Apa?
Aku pindah ke rumah baru dan ingin memulai hidup baru.
Tapi ada barang orang lain di kamarku.
Menurutmu bagaimana perasaanku? Sedikit tak nyaman, 'kan?
Sebaiknya...
kita saling pengertian, ya?
Maaf membuatmu sedikit tak nyaman.
Tapi aku diusir dari rumah ini dalam semalam, kacau sekali.
Aku akan segera membereskannya.
Terima kasih atas pengertianmu.
Kau tak perlu marah begitu.
HAL-HAL YANG AKU MILIKI
HAL-HAL YANG AKU TIDAK MILIKI
HAL-HAL YANG AKU TIDAK MILIKI: IBU, RUMAH, UANG
YAYASAN BEASISWA KOREA JATUH TEMPO PEMBAYARAN 10 SEP
HAL-HAL YANG AKU MILIKI: TUBUHKU, MIMPIKU, YUN TAE-O
Kau tak pernah punya perasaan kepadanya?
Tidak.
Benarkah?
Dia manis, tampan, dan baik,
tapi dia bukan tipeku.
Itu malah lebih aneh.
Aku pernah hampir menyukainya.
- Kapan? - Saat kelas sembilan.
Awalnya, Tae-o lebih pendek dariku.
Lalu meninggi sepuluh senti.
Hatiku berdebar saat menengadah melihatnya.
Lalu?
Debaran itu membuatku tegang.
Lalu menjadi tak nyaman.
Lalu aku putuskan berhenti.
Bagaimana bisa mengendalikan perasaanmu?
Berarti kau tak menyukainya.
Karena itu kubilang hampir menyukainya.
Semua sudah berlalu.
UANG
STAF PARUH WAKTU PUSAT STUDI PUSTAKA
Dia pasti mahasiswi kampus kita.
Ada nama kampus di jaketnya.
Lupakan dia.
Lucu juga, kau salah mengenalinya.
Lucunya lagi, dia biarkan saja.
Kau tahu yang menarik?
Aku kebetulan melihatnya di kampus sebelum kencan buta.
Aku berpikir,
"Cantik sekali, semoga dia kencan butaku."
Lalu? Dia ada di sana.
Menarik sekali.
Sekarang bagaimana?
Dia suka membuat film.
Dia bahkan punya kamera canggih.
Apakah ada Jurusan Film di kampus?
Kenapa? Kau mau mencarinya?
Kau berlebihan.
Berlebihan apa? Lebih baik aku lanjutkan.
Akhirnya aku bertemu gadis yang kusuka.
Menurutku tak berlebihan.
Kau bisa menemaniku?
Jangan libatkan aku. Aku harus bekerja.
Hei, Do-hyeon!
Aku tak berani ke sana sendirian.
Katanya kau temanku.
Kau luang setelah kuliah hari Selasa?
- Ya. - Baik.
Kalau begitu...
Bagaimana hari Rabu? Ada kuliah?
- Tidak. - Bagus.
Lihat. Kau bisa mengirim peringatan terlambat lewat komputer.
Cukup salin dan tempel dari contohnya.
Matikan suara ponsel saat bekerja.
Pustakawan sensitif suara.
Baik.
Kau tidur di mana semalam?
Aku memang tak cukup akrab untuk menanyakan itu.
Tapi sulit mengabaikannya karena aku tahu situasimu.
Banyak tempat di kota yang bisa kudatangi jika mau.
Tidurku nyenyak, jangan cemas.
Baik.
Magangku berakhir bulan Juni.
Tapi mau tinggal di Korea sebentar.
Aku sibuk pindahan.
Menyita seluruh waktuku.
Ya, aku tahu. Aku merindukanmu juga.
Sampai nanti.
- Bukankah kau... - Sulit dipercaya, aku menemukanmu.
Sedang apa di sini?
Aku mencarimu.
Tolong jelaskan.
Jelaskan apa?
Caramu menemukanku.
Benar.
Kau bilang suka membuat film.
Jadi, kau mungkin di Jurusan Film,
lalu aku ke gedung Fakultas Seni,
dan kebetulan menemukan klub ini.
Itu caraku menemukanmu.
Kau sangat hebat.
Tapi, kenapa kau membohongiku?
Aku tak pernah membohongimu.
Kau tak berniat kencan buta waktu itu.
Aku tak pernah bilang sedang kencan buta.
Kau yang berasumsi dan terus bicara.
Aku hanya...
membiarkannya karena seru.
Lalu, siapa nama aslimu?
Ryu Se-hyeon.
Orang sering mengira margaku "Yu".
- Karena itu... - Akhirnya kau bertemu kencan butamu?
Tidak. Aku tak mau menemuinya.
Karena sudah menemuimu.
Apa ada syarat tertentu untuk bergabung dengan klub ini?
Apa?
Ini pasti takdir. Tak ada penjelasan lain.
Pikirkanlah.
Seharusnya aku menemui orang lain, tapi justru menemuimu, tipe idealku.
Kita menyukai hal yang sama.
Menyukai hal yang sama bukan berarti takdir.
Bagiku kau adalah takdir.
Aku ingin bergabung dengan klub ini. Apa syaratnya?
Kau bilang namamu Yun Tae-o, 'kan?
- Ya. Kenapa? - Kapan kau daftar masuk kampus ini?
Tahun 2015. Kenapa?
Kau ikut ujian masuk lagi setahun setelahnya?
Apa? Tidak.
Apa kau tahu?
Aku lebih tua darimu.
Begitu.
Kau lebih tua?
Kau lebih tua dariku, ya?
BERHENTI
Jadi, dia lebih tua.
SONG BODOH
Dia tak pernah menjawab ponsel di waktu yang tepat.
Ada orang di situ?
Siapa? Keluar!
Berhenti!
Song-i?
Song-i.
Hei!
Nomor yang dituju tak bisa dihubungi. Silakan tinggalkan pesan...
Kenapa tak dijawab? Seharusnya dia sudah selesai bekerja.
Anda siapa?
Aku pemilik rumah ini. Kau sendiri siapa?
Pemilik?
Tapi, ini rumah temanku.
Temanmu?
Maksudmu gadis yang pernah tinggal di sini?
- Gadis kurus dan berambut panjang? - Ya.
RYU TAE-HO
Entah bagaimana dia bisa hidup dengan aliran air terputus.
Setelah keluargaku kemari, dia terpaksa pindah mendadak.
Katamu kau temannya, tapi tak tahu?
Aku bisa gila jika kau juga bilang
akan pindah kemari seperti mereka.
Astaga, Han Song-i...
Sedang apa di sana tadi?
Bukankah kau sudah pergi?
Benar, tapi aku kembali lagi.
Kau memberitahuku sandi kuncinya.
Bukan berarti kau boleh menyelinap masuk.
Jangan bilang kau mau tidur di sana.
Itu...
Jangan beri tahu Tae-o soal ini.
Pergi saja ke rumahnya.
Jangan memperkeruh keadaan.
Dia sudah cukup kewalahan.
Teman-temannya kemarin meminta tinggal bersamanya.
Apa?
Jika aku juga,
Tae-o jadi menampung tiga orang.
Aku tak tahu malu jika ada di sana.
Kau tak punya teman selain Tae-o?
Ada banyak.
Hanya tak cukup akrab untuk bilang aku tak punya tempat tinggal.
Aku punya harga diri.
Lalu apa rencanamu? Kau mau begini tiap malam?
Ada orang yang kuandalkan, aku hanya perlu bertahan sedikit.
Aku pergi. Sampai jumpa.
Kenapa kau menyusahkanku juga?
Ikut denganku.
Kita mau ke mana?
Ikut saja.
- Biar kubawa. - Tidak usah.
Ayolah.
Tak apa-apa.
Kau bisa tidur di sini. Kamar mandi di lantai satu.
Kau tak perlu begini untukku.
Ini karena aku merasa tak tenang.
Biarkan pintunya terbuka sedikit jika kau takut.
Aku tahu...
Aku berutang budi kepadamu, tapi boleh minta mi instan?
Siapa yang kau andalkan?
Apa?
Kau tadi bilang
ada orang yang kau andalkan, hanya perlu bertahan sedikit.
Itu...
Ibuku. Dia yang aku andalkan.
Entah apa yang kau dengar di hari pindahan waktu itu,
tapi Ibu meninggalkanku setelah rumah kami disita.
Dia pasti tak bisa mengabaikanku lagi
setelah sudah ada pemilik baru menempati rumah kami.
Dia pasti tahu kini aku tak punya tempat tinggal.
Dia akan meneleponku.
Mungkin hari ini atau besok.
Meskipun dia menelepon,
kau tetap tak punya rumah.
Aku yakin ada solusinya.
Ibuku tak akan membiarkan putrinya tak punya rumah.
Apa ini? Kenapa Tae-o meneleponku hingga berkali-kali?
IBU
Lihat? Sudah kubilang ibuku akan menelepon.
Cepat dijawab.
Aku segera kembali.
Halo? Ibu?
Ibu di mana?
Kenapa tak menjawab panggilanku?
Maaf, Ibu tak meneleponmu balik.
Apa Ibu tahu situasiku?
Sejak kemarin, aku...
Ibu di mana?
Kapan Ibu akan kembali?
Song-i, Ibu tak bisa pulang
untuk sementara waktu.
Apa?
Kenapa?
Ibu.
Rumah kita sudah dilelang.
Kini ada orang lain yang tinggal di sana. Ibu tahu itu, 'kan?
Aku tahu Ibu kabur karena merasa bersalah.
Song-i, Ibu...
Aku tahu Ibu stres karena harus bekerja di toko.
Kucoba lebih memahami.
Aku tak marah kepada Ibu...
Ibu tak akan datang. Jangan telepon dahulu.
Apa maksud Ibu?
Aku tak punya tempat...
Kau lahir
saat Ibu berusia 22 tahun dan hidup tanpa tujuan.
Ibu hidup sebagai ibu,
mencari nafkah setelah ayahmu wafat.
Ibu bahkan berutang.
Suatu hari Ibu sadar,
selama yang Ibu ingat,
hidup Ibu hanya dipenuhi penyesalan, kebencian, dan rasa bersalah.
Ibu...
Ibu ingin hidup tanpa perasaan itu.
Ibu berupaya membesarkanmu dengan baik.
Kau lebih dewasa dari Ibu.
Tidak.
Ibu, aku...
Jadi...
tolong beri waktu sampai Ibu lebih dewasa.
Ibu akan menelepon lagi.
SOS LAYANAN PENCEGAHAN BUNUH DIRI
KAU SEDANG SEDIH? KAMI DI SINI UNTUK MENDENGARKANMU
Halo, ini Layanan Pencegahan Bunuh Diri.
Aku di Jembatan Mapo.
Baik, silakan lanjutkan.
Kurasa ada wanita...
yang mau bunuh diri...
dengan melompat ke sungai.
Aku paham kenapa dia merasa begitu.
Karena dunia tidak indah.
Menurutmu...
dunia ini indah?
Apakah
kau orang yang mau bunuh diri?
Boleh aku bertanya?
Ya, silakan.
Umurku 23 tahun.
Bukankah aku...
semestinya menikmati masa mudaku di usia ini?
Tapi kenapa begini buruk?
Jika Tuhan sungguh ada, aku mau bertanya pada-Nya,
"Apa rencana-Mu untukku?
Bukankah ada alasan Kau menciptakanku ke dunia ini?"
POLISI AMBULANS
Nona, tunggu sebentar. Tolong tenang.
Aku akan ke sana.
Halo?
Ya, ini Yun Tae-o.
Kantor polisi?
Halo, ini polisi?
Aku mau tahu...
adakah kecelakaan terkait wanita berusia 20-an
yang dilaporkan malam ini?
Ada?
Sungguh bukan begitu. Sudah kubilang seratus kali.
Aku butuh udara segar, jadi berjalan kaki di jembatan,
dan kebetulan melihat telepon,
aku telepon iseng saja.
Kami akan melepasmu setelah walimu tiba.
Sudah dihubungi, dia datang.
Song-i.
Bagaimana kau...
Kau menghilang tanpa kabar.
Kenapa tak meneleponku saja?
Aku tak punya nomor teleponmu.
Kau walinya?
Apa?
Dia walimu?
Dia...
Jika bukan, kami tak bisa melepaskanmu
karena ada prosedur.
Ya, aku...
Aku wali Song-i.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.