Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
SEMUA TOKOH, ORGANISASI, TEMPAT, DAN KEJADIAN ADALAH FIKSI.
KAMBOJA
PENGEMBANGAN KOMUNITAS PETANI PENGEMBANGAN DESA
PHNOM PENH
Pak.
Kamboja menolak tawaran alih teknologi untuk pengembangan sumber daya air.
SUMBER DAYA AIR
Pak.
Rancangan perluasan jaringan jalan
juga ditolak.
KESEHATAN MASYARAKAT DAN MEDIS
Pemerintah Kamboja menolak semua tawaran bantuan
dan proposal diplomatis kita, Pak.
Agaknya mereka enggan bernegosiasi dengan pemerintah kita
dalam kepemimpinan presiden interim
karena situasi akan berubah di pemerintahan baru.
Jadi, kita tidak bisa apa-apa selama Presiden Interim Park menjabat?
Kita meminta ekstradisi di wilayah konflik yang kemudian ditolak.
Katanya, jika tentara kita masuk, itu serbuan. Negosiasi...
Tak ada waktu, Pak.
Rakyat tidak mau menunggu lebih lama.
- Permisi, beri jalan. - Permisi.
Jangan lupakan ini.
Masyarakat memborong kebutuhan pokok dari pasar swalayan besar.
Ini kali pertama masyarakat menimbun makanan dan kebutuhan pokok
sejak Korut mengancam Seoul akan jadi "lautan api" di tahun 1994.
Bukan itu saja.
TERMINAL INTERNASIONAL
Semua tiket penerbangan internasional habis setiap harinya.
Entah Amerika, Asia Tenggara, atau negara lain,
orang-orang ingin pergi dari semenanjung ini.
Di media sosial, orang mengunggah
foto ransel ini, jadi, kubeli untuk ditunjukkan.
Apa ini?
Namanya...
Ransel Bertahan Hidup.
Orang yang menamakannya pintar. Aku penasaran dengannya.
Ini bukan ketakutan perang yang abstrak.
Solid dan nyata. Ia menjadi bagian hidup sehari-hari.
Lebih buruk dari situasi pascaledakan.
Inilah yang terburuk.
Ini sudah dapat diprediksikan
saat video itu dipublikasikan.
Kita memutuskan untuk memakai ketakutan masyarakat
untuk mengalihkan perhatian publik dari pemecatan Presiden.
Strategi ketakutan ini berhasil...
dan...
sekarang kita mendapatkan akibatnya.
Masyarakat menuntut kita menangkap Myung secepatnya.
Aku yakin ada hal-hal lain yang Kamboja inginkan,
selain bantuan keuangan dan dukungan teknis.
Terlalu berisiko
membuang waktu kita dengan Kamboja.
Jika kita gagal memberi solusi tepat
untuk kegelisahan dan ketakutan rakyat,
kontroversi kualifikasi Anda
bisa kembali mencuat, Pak.
Anda tahu,
kartu kita sudah habis.
Tidak.
Kita masih punya...
satu kartu terakhir.
HARI KE-52: KOMANDO EPISODE 6
Kau tak ingin mengetahui cara Oh Yeong-seok
selamat?
Cari Ruang 119 di cetak biru Gedung Majelis Nasional.
Bisa katakan di mana Ruang 119?
Aku tak menemukannya di cetak biru.
Ruang 119...
Ruang 119?
Tidak ada Ruang 119 di gedung utama.
Tidak ada Ruang 119?
Di lantai satu, ada lobi,
ruang mekanik, kantor pos, dan pusat pers...
Tidak ada Ruang 119.
Bagaimana kalau di Basemen 1?
Tidak ada apa-apa selain pintu darurat, yang menghubungkan
perpustakaan ke ruang sidang.
Aku tidak melihat Ruang 119 di mana pun.
Hei, kau pernah lihat Ruang 119 di gedung utama?
Tidak ada Ruang 119.
Dia pegawai tetap di Sekretariat selama 20 tahun.
Jika dia bilang tak ada, itu benar.
Tidak ada.
Tunggu, apa mungkin...
ada di cetak biru lain?
Cetak biru awal pembangunan.
Atau mungkin, ruang itu baru ditambahkan?
Cetak biru dari tahap konstruksi...
Mungkin ada di Sekretariat, tetapi...
Sekretariat?
Seperti yang kau lihat dan ketahui,
semua sudah musnah karena pengeboman itu.
Sekretariat adalah bagian dari gedung utama.
Dapat lokasinya?
Itu telepon umum.
Dia meneleponmu dari telepon umum.
Area permukiman.
Yeonnamdong-ro?
Aku melihat 440...
Nomor 446, bukan?
Benar.
Alamatnya di Yeonnamdong-ro 446.
Bagaimana kau tahu?
Telepon umum itu...
persis di depan rumahku.
TELEPON
Dia menunggu di depan rumahmu
dan meneleponmu setelah memastikan kau di rumah.
Jika tahu alamatmu, dia pasti mengenalmu.
Kau tahu siapa dia?
Satu dari dua hal.
Entah ini untuk menjebakku,
atau seorang informan penting.
Bagaimana dengan Ruang 119? Kau menemukannya?
Belum.
Aku yakin dia meneleponku
bahwa aku akan menemukannya.
Mari kita lanjutkan pekerjaan setelah makan siang.
Tak ada gunanya kita menyiksa diri.
Tidak ada Ruang 119 di lantai satu,
tapi saat instalasi kabel LAN pada tahun lalu,
tim membicarakan untuk membangun suatu ruangan
untuk melindungi sarana komunikasi dalam hal kebakaran atau banjir.
Ada cetak biru atau dokumen yang tersisa?
Untuk memastikannya?
Kurasa tidak.
Semua pasti sudah musnah, bukan?
Sekretaris Jenderal saat itu
mungkin masih menyimpannya.
Siapa Sekretaris Jenderal itu?
Bisa kubantu?
Apa Bu Yun ada di ruangannya?
Aku dari NIS.
"Saat dunia lama telah runtuh,
tetapi dunia baru belum datang,
demikianlah revolusi selalu bermula."
Itu kata bos lamaku.
Jadi, kita hidup di era revolusi.
Kau juga berpikir
aku ingin kau bergabung di kubuku
karena semua sorotan yang kau terima?
Tidak demikian?
Banyak politikus pemula
melesat seperti bintang jatuh.
Jumlah mereka mungkin melebihi bintang-bintang di langit.
Namun mereka lenyap tanpa nama.
Makanya aku menyebut mereka "bintang jatuh".
Kau...
sangat mirip denganku.
Kau benci pemerintahan Yang
karena dia amatir dan idealis.
Kau juga membenci politikus korup dan eksklusif
di Partai Republik Seonjin.
Aku, eksekutif wanita pertama
yang menjadi delegasi Partai Republik Seonjin,
memintamu, anggota majelis independen dan pertama dari Honam
yang mewakili distrik TK, bergabung denganku.
Orang-orang buangan seperti kita harus mengubah dunia.
Lagi pula, kita sedang hidup di era revolusi.
Kau akan menjadi presiden yang mengubah dunia,
dan aku pembuka jalanmu.
Begitu?
Aku akan menjadikanmu ketua partai.
Kau akan jadi calon presiden berikutnya.
Haruskah aku menunggu lebih lama untuk jawabanmu?
Aku mempertimbangkan
Anggota Majelis Oh sebagai Perdana Menteri Interim.
Aku mau dia membantu kita dalam pemerintahan.
Maksud Anda, dia kartu terakhir kita?
- Aku keberatan... - Aku keberatan...
- Di... - Di upacara memorial...
Dia mengecam Anda secara terbuka di upacara memorial, Pak.
Berkat itu, si "penyintas ajaib"
tiba-tiba jadi disorot sebagai politikus menjanjikan.
Seseorang yang dicintai dan didukung rakyat.
Anda pikir itu tak diperhitungkan?
Aku juga
- sudah memperhitungkannya. - Maaf?
Kalian bilang kita harus mengatasi kegelisahan dan ketakutan rakyat.
Makanya, aku memilih Anggota Majelis Oh.
Keputusan kita
mengirimkan pesan paling kuat yang menunjukkan tekad kita.
Tidak ada yang menyuarakan amarah dan kegelisahan rakyat sebaik dia.
Jika dia bergabung dengan kita,
maka,
cinta dan dukungan rakyat yang identik dengannya
akan memberi dorongan untuk kita.
Setidaknya, itu akan membantu kita sampai Myung Hae-joon ditangkap.
Lulusan sains mengesankan.
Dia sangat cepat belajar.
Dia sudah tahu cara mengubah sentimen publik.
Pak Kim, apa pendapatmu?
Benar. Aku setuju dengan Anda, Pak. Sepenuhnya.
Apa? Itu ide bagus.
Pemimpin murah hati merangkul Anggota Majelis Oh
yang menyerangnya.
Media akan menyukainya.
Menunjukkan karakternya dengan menyentuh.
Tentu, bisa saja itu digemari.
Namun, aku yakin akhirnya tidak bahagia.
Dia memulai karier politiknya.
Dia akan mengadu tanduk dengan Presiden di semua isu.
"Aku tak seperti Park Mu-jin. Park Mu-jin salah."
Dia perlu membuktikannya kepada publik.
Kenapa kita harus terlibat dalam gesekan melelahkan?
Sebagai presiden interim, Presiden Park banyak urusan,
tetapi kekurangan waktu.
Tolong pertimbangkan kembali keputusan Anda, Pak.
Itu tidak perlu.
Pak Oh takkan bergabung. Dia takkan menerima tawaran itu.
Kudengar Bu Yun membujuknya bergabung.
Posisi perdana menteri interim hanya selama dua bulan.
Dia takkan memilihnya.
Bukan kita yang memegang pedang,
tetapi Oh Yeong-seok.
Kau benar, Pak An. Kita lupakan saja.
Pak Cha.
Tolong kontak Anggota Majelis Oh, minta dia ke Gedung Biru.
- Pak. - Pilihan di tangannya.
Biar Anggota Majelis Oh memilih.
Kita harus dengar...
apa yang dia inginkan.
Sekian.
Presiden kita sangat optimistis.
Dia tidak menyerah.
Aku kaget.
Kau juga akan keberatan?
Aku tidak menduganya.
Aku tak menyangka Anda akan membuat terobosan politik.
Boleh aku bertanya kenapa Anda berubah, Pak?
Pak Cha orangnya?
Pembocor video Myung Hae-joon itu.
Itu harus dilakukan untuk mengubur kontroversi pemecatanku.
Harus dilakukan?
Akan ada dampak negatifnya.
Masyarakat akan menuntut Myung Hae-joon segera ditangkap.
Sebagian besar hal di Gedung Biru
dilakukan seperti itu.
Tidak ada jawaban benar atau salah,
tetapi rakyat menuntut jawaban benar.
Sekarang.
Saat ini juga.
Tepat di depan mata mereka.
Mereka menginginkan solusi sempurna.
Misalnya...
Kebijakan yang menyelesaikan isu debu halus.
Aku penasaran...
dengan...
nasihat yang kau berikan kepada mendiang Presiden Yang.
Aku menyarankan Anda.
"Pria muda kompeten
yang netralitas politiknya membuatnya fokus pengembangan kebijakan.
Mantan profesor KAIST sebagai Menteri Lingkungan Hidup."
Keputusan perekrutan memberi pesan.
Dalam menunjukkan tekad Gedung Biru,
itu menyampaikan pesan terkuat.
Kau bilang kita harus menang.
Anggaplah aku sedang berdiri di tengah medan perang.
Aku takkan keras kepala dan bersikeras bertarung dengan tangan kosong.
Aku penasaran...
Anggota Majelis Oh menerima atau menolak tawaran Anda.
Terima kasih atas kedatanganmu.
Aku tahu kau sudah mengalami banyak hal, Anggota Majelis Oh.
Anda mengalami lebih banyak lagi, Presiden Park.
Serangan itu telah mengubah
takdir banyak orang.
Silakan duduk.
Menurutmu, dia benar-benar bisa membantu Presiden Park?
Maukah kau menjadi perdana menteri interim kami?
Aku mau kau mengepalai
kabinet interim dari semua departemen yang kosong karena pengeboman.
Apa semua negosiasi dengan Kamboja gagal?
Anda tak perlu menjawab.
Kurasa karena Anda membutuhkan wajahku,
hingga menunjukku sebagai perdana menteri.
Jika Gedung Biru cukup terpojok hingga perlu
langkah seekstrem ini,
mungkin mereka gagal meminta penyerahan Myung Hae-joon.
Apa aku salah?
Kami...
membutuhkanmu, Anggota Majelis Oh.
Maaf, aku harus menolak tawaran Anda.
Hanya karena aku korban selamat,
bukan berarti aku kompeten dalam mengelola negara.
Kenapa bencana negara kita
harus jadi aset politikku?
Aku tak mau membuat kesepakatan
dengan dukungan rakyat demi posisi atau kuasa.
Aku tidak bisa menerima posisi perdana menteri.
Tak bisakah...
kau buat kesepakatan?
Rakyat kita sedang panik,
gelisah, dan bingung.
Kegelisahan sosial
berkembang jadi masalah lain, dan akan berdampak...
pada rakyat kita.
"Suatu negara...
harus melindungi rakyatnya."
Bukankah itu yang kau katakan?
Demi suatu pemerintahan yang stabil,
aku ingin...
bersepakat denganmu.
Aku benar.
Anda ingin mengambil jalan memutar
dan mencari cara untuk menembus pemerintahan melalui aku.
Kenapa Anda memakai strategi ini...
untuk politik domestik saja?
Periksa semua negara perbatasan yang berkonflik dengan Kamboja.
Bukan Kamboja, tetapi negara perbatasannya?
Salah satunya pasti bersedia berunding dengan kita.
Aku juga ingin ambil jalan memutar...
untuk internasional.
Anda ingin melibatkan negara pihak ketiga?
Ya, benar.
Aku Sekretaris Jenderal saat itu.
Aku keluar dari partai untuk sementara.
Jadi...
apa yang bisa kubantu?
Aku butuh cetak biru gedung utama
untuk instalasi kabel LAN.
Kudengar kau mungkin menyimpannya sebagai Sekretaris Jenderal saat itu.
Bukankah Sekretariat menyimpannya?
Karena pengeboman,
Sekretariat kehilangan semua dokumennya.
Begitu.
Sejak hari itu,
kita semua hidup di dunia berbeda.
Kenapa kau membutuhkannya?
Kau sudah menemukan petunjuk tentang pengebom itu?
Kami masih mengusahakannya.
Aku akan coba mencarinya.
Aku menghargainya, Bu.
Alih-alih menghargainya...
mau bersepakat?
Aku mau jadi orang pertama
yang tahu petunjuk apa pun
tentang pengebom itu.
Apa bisa?
Aku tak memercayai konsep keamanan pemerintah ini.
Aku percaya pandangan cengeng mereka
soal unifikasi dan Korea Utara penyebab tragedi ini.
Sebagai ketua oposisi,
aku tak bisa membiarkan Gedung Biru menginvestigasi sendiri.
Kau mengerti?
Maaf.
Aku hanya mengikuti protokol mengenai alur laporan.
Pak Baek, bisa carikan cetak biru di lemari persediaan kantor
yang kupakai saat jadi Sekretaris Jenderal?
Baik, Bu.
Duta besar Kamboja dan Vietnam tiba.
Duta Besar Su Dimanche ada di ruang negara...
dan Duta Besar Bao Ninh menunggu Anda di Ruang Baekak.
Baik.
Ini bisa jadi kesempatan terakhir kita.
Jangan menakutiku.
Aku juga tahu
betapa pentingnya negosiasi ini.
Pak Presiden.
Terima kasih atas kedatangannya. Aku sudah lama menunggu.
Aku ingin menyampaikan belasungkawa mendalam
untuk tragedi di Republik Korea.
Silakan duduk.
Kudengar Kamboja tak menginginkan
persekutuan atau perjanjian dengan presiden interim Korea.
Kalau begitu...
Bagaimana kalau buat kesepakatan?
Kesepakatan?
Kami ingin memulangkan
dua orang Vietnam yang ditahan oleh NIS.
Mereka bekerja di Kawasan Industri Pyeongtaek
sebagai mata-mata industri.
Mata-mata industri?
Mereka hanya buruh kasar yang datang ke negeri jauh
untuk mendapatkan uang asing bagi keluarga mereka.
Kau tak ingin memulangkan mereka kepada keluarga mereka?
Apa yang Anda inginkan dari kami?
Bisa kau pulangkan agen intelijen Kamboja
yang ditangkap di Hanoi ke negaranya?
Itu...
Agen intelijen?
Dia hanya orang tidak bersalah yang berlibur di negara tetangga.
Agen itu mengaku...
sebagai kerabat direktur badan intelijen Kamboja.
Direktur itu adalah adik PM Kamboja, Hun Yo.
Jadi, yang Anda inginkan adalah...
Aku ingin kau menyetujui operasi militer kami
agar Myung Hae-joon ditangkap hidup-hidup.
Vietnam akan mendapatkan dua buruh kasarnya kembali...
Kamboja akan mendapatkan turis tak bersalahnya kembali.
Anda bisa membuat kesepakatan itu?
- Maksudku... - Jadi...
Kita dapat persetujuan di kedutaan Kamboja?
Tidak. Kita gagal mendapatkan persetujuannya, bukan?
Katanya, mimpi dan harapan adalah kebajikan manusia,
tetapi kita perlu berpikiran politis.
Meyakinkan Oh Yeong-seok
dan diplomasi multilateral dengan Kamboja tidak mudah.
Ya, dia harus memiliki penilaian politis.
- Benar. - Pak An.
Kita menerima...
otorisasinya.
Pemerintah Kamboja mengotorisasi pengiriman Tentara 707.
Menurut intelijen lokal, Myung sedang bersembunyi
di suatu rumah sakit kecil di pinggiran Senmonari.
Ini foto-foto satelitnya.
Kita harus berhati-hati agar tak ada korban sipil.
Tentara 707 sedang menyimulasikan semua kemungkinan skenario
untuk berhasil menangkap Myung Hae-joon hidup-hidup.
Aku ingin menemui komandan operasi ini.
Di mana dia?
Angkatan Darat memiliki sistem komando, Pak.
Jika Anda mau,
kami bisa memanggilnya secepatnya.
Myung Hae-joon adalah tersangka utama pengeboman Gedung Majelis Nasional,
dan satu-satunya yang punya jawaban.
Bagaimana pun, dia harus ditangkap hidup-hidup.
Aku ingin meminta komandan ini memenuhi kewajibannya.
Aku akan menemuinya.
Di mana mereka berlatih?
Besok pukul 17.00,
kami akan diangkut ke Kamboja dari Seongnam.
Estimasi ketibaan
lewat tengah malam, waktu lokal.
Anggota Tentara 707 yang diberangkatkan untuk misi ini
termasuk tujuh di Tim Alfa, tujuh di Tim Bravo,
dengan total 14 orang, Pak.
- Cek. - Cek!
Cek.
- Lain kali lebih baik. - Siap.
Kami akan tiba di pangkalan dengan helikopter.
Target akan ditangkap
sebelum fajar waktu Korea
pada lusa.
Itu saja?
Ya, itu saja.
Lebih mudah daripada perkiraanku.
Taklimat suatu operasi militer bisa dilakukan oleh seorang amatir.
Profesional melaksanakan dan menuntaskan misi mereka.
Anak buahku berlatih tiap hari untuk operasi seperti ini.
Selain itu...
kami sudah siap, Pak.
Aku iri.
Alangkah baiknya
jika aku punya waktu berlatih sebelum diterjunkan.
Hari ini bagus.
Kuharap kalian akan mengikutiku besok sama seperti hari ini.
Dia Sersan Lee Gang-hun.
Dia spesialis penembak lindung.
Istrinya di rumah sakit saat ini.
Anak pertama mereka lahir
pada hari operasi ini.
Di sisinya, Sersan Staf Jo.
- Spesialis peledak. - Kau merindukan istrimu?
Dia di sini alih-alih berbulan madu.
Tidak, Pak.
Satu pertanyaan.
Kolonel Kim meyakinkanku
Myung Hae-joon akan ditangkap hidup-hidup.
Mayor Jang, aku ingin tahu opinimu sebagai komandan operasi.
Kita akan sukses.
Berapa peluangnya?
Kami tak tahu apa yang direncanakan oleh Myung Hae-joon.
Jika dia menyuap warga lokal,
musuh yang kami hadapi banyak.
Terlebih, tentara Korea Utara mungkin turut terlibat.
Jadi, berapa peluangmu?
Kira-kira 50/50.
Lima puluh persen.
Bagus.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Bagi komandan operasi,
misi dipenuhi berbagai variabel.
Hanya satu peluang keluar dari lapangan.
Latihan tak bisa membantu.
Ini Sersan Lee Gang-hun.
Sersan Lee Gang-hun, Pak.
Semoga anakmu seperti kau.
Kuat dan pemberani.
Pak Presiden.
Anaknya perempuan.
Sersan Staf Jo Seong-ju.
Sersan Staf Jo Seong-ju, Pak!
Sepulangmu nanti, pergilah berbulan madu dahulu.
Siap, Pak!
Kita akan bertemu lagi.
Dalam keadaan baik.
Siap, gerak!
Hormat, gerak!
- Bersatu! - Bersatu!
Aku datang memintamu memastikan Myung Hae-joon ditangkap hidup-hidup.
Kami akan berusaha.
Namun...
jika situasi lapangan terlalu berbahaya,
kau harus...
tembak mati Myung Hae-joon.
- Maaf? - Keselamatan pasukan kita yang utama.
Tolong berusahalah...
untuk membawa...
mereka semua pulang.
Ini perintah.
Kami menerima bocoran
tentang latihan militer di Pangkalan Seongnam.
Adakah hubungannya dengan penangkapan Myung Hae-joon?
Di sini!
Kendaraan tim keamanan Gedung Biru terlihat di dekat Pangkalan Seongnam.
Apa Presiden ke sana untuk menyemangati Tentara 707?
Apa operasi militer tak terhindarkan?
Bahkan sekarang ini,
militer kita bersiaga dan berlatih siang-malam
untuk memastikan keselamatan bangsa dan rakyat kita.
Pesawat pengangkut lepas landas
adalah latihan biasa.
Presiden mengunjungi tentara
adalah kewajiban biasa dari Panglima Tertinggi.
Apa Myung Hae-joon sudah ditemukan?
Masyarakat berhak tahu.
Kenapa Gedung Biru menutupi kebenaran?
Sejak serangan itu, ketakutan dan kegelisahan
jadi bagian hidup sehari-hari.
Jadi, agar rakyat dapat menikmati malam dengan aman lagi,
Gedung Biru dan pemerintah...
berusaha sebaik-baiknya.
Yang dapat saya sampaikan...
cukup sampai di sini.
Sekian taklimat Gedung Biru pada 12 Maret.
Saya berharap para reporter juga menikmati
malam yang sangat normal, tenang, dan hangat.
Terima kasih.
MAYOR JANG JUN-HA
SERSAN LEE GANG-HUN
SERSAN STAF JO SEONG-JU
Kau masih belum tidur karena cemas?
Sudah pukul 02.00.
Kau tahu kegiatanku hari ini?
Di jalan ke pusat pelatihan,
aku hanya memikirkan satu hal.
Tangkap Myung Hae-joon hidup-hidup.
Apa pun yang terjadi atau risikonya, itu harus dilakukan.
Namun?
Aku diingatkan di sana
bahwa tentara pun punya keluarga.
Mereka memiliki keluarga yang berharap mereka pulang dengan selamat,
sama seperti aku.
Bisakah kau percaya...
aku memerintahkan itu?
Jadi?
Apa kau takut...
menjadi orang jahat?
Yang kau lakukan hari ini
bukan tindakan baik atau buruk.
Kau hanya membuat keputusan
yang diperlukan untuk waktu itu.
Jangan cemas.
Kau...
belum berubah sedikit pun.
Kau masih terjaga di jam begini...
merasa kasihan pada mereka.
PARTAI REPUBLIK SEONJIN
Syukurlah cetak birunya masih ada.
Aku bahkan lebih senang ini ada di tangan kita.
Pegawai Sekretariat mengatakan
bahwa agen NIS itu mencari Ruang 119.
Ruang 119?
Aku tak melihatnya di lantai satu.
Di sini...
Sebentar.
Saat gedung itu direnovasi,
sebuah tempat baru dibuat.
Itu Ruang 119?
Kenapa ada di basemen?
Mungkin ini bukan Ruang 119.
Bagaimana kalau ini bukan Ruang 119,
tetapi hanya 119?
Jika benar demikian,
mungkin...
ini tempat perlindungan bom.
Tempat perlindungan bom?
DENAH GEDUNG MAJELIS NASIONAL B1
Kalau begitu, sekarang kita bisa menangkap pengebom itu?
Ya, dan itu berkat kau menyarankan mengambil jalan memutar.
Aku ingin menanyakan satu hal.
Saat aku memintamu masuk pemerintahan,
kau menolakku.
Jadi, kenapa membantuku dengan ini?
Aku tak mau bersepakat demi kuasa
dan membantu Anda...
karena satu alasan.
Aku bersumpah mengabdi pada negara ini,
dan itu tidak berubah sejak ulang tahunku yang ke-20.
Bisakah kau ke Gedung Biru malam ini?
Pasti orang itu penting.
Mendengarmu berbicara di telepon
membuatku penasaran siapa dia.
Orang yang tak pantas...
untuk Gedung Biru.
Semoga ini membantu menangkap pengebomnya.
Ini yang kau minta. Kami masih menyimpan cetak birunya.
Terima kasih, Bu.
Ruang 119.
Itu petunjuk yang akan membawamu kepada si pengebom,
benar?
Saat ini aku hanya curiga.
Setelah itu jadi kepastian,
tambahkan aku ke daftar orang yang menerima laporanmu.
Keamanan nasional...
tidak hanya terletak di tangan NIS.
Na-gyeong?
Astaga.
Lama tak jumpa, Agen Han.
Serius?
Apa ini lelucon?
Kau pergi seolah-olah muak dengan tempat ini.
Ada kabar dari Kamboja.
Tampaknya Tentara 707, yang baru mendarat,
sedang dalam masalah.
Apa?
Saat menuju ke pinggiran Senmonari,
helikopternya jatuh.
Apa yang terjadi?
Tentara kita berusaha mendarat,
tetapi cuaca buruk menghalangi pandangan, dan itu menyebabkan mereka jatuh.
- Apa ada korban? - Sersan Lee Gang-hun cedera.
Sersan Lee?
Bagaimana dia? Tentara lainnya?
Kami berusaha mengontak mereka.
Mayor Jang, ini Kolonel Kim. Laporkan perkembangan status tentara.
Semua baik-baik saja, Pak.
Cedera Sersan Lee ringan.
Apa dia masih bisa berpartisipasi?
Duduklah.
Tidak bisa. Namun,
kami punya penggantinya, jadi, tak perlu mengubah operasi.
Aku akan berusaha semampuku untuk menjaga anak buahku.
Operasi masih berlanjut.
Mayor Jang,
operasi ini...
sesuai rencana.
Maju!
Apa lagi sekarang?
Kenapa pakai pengamanan?
Kau membuatku gelisah.
Ini soal Oh Yeong-seok.
Hei.
Kau baru kembali
dan kau kembali merongrong masalah Oh Yeong-seok.
Kau memintaku membawakan bukti kuat.
Anggota Majelis Oh terlibat pengeboman.
Aku yakin itu.
Dia berperan penting dalam mendapatkan persetujuan Kamboja.
Aku mau dia di sini, jadi, kuminta dia datang.
Mari.
Di sana.
Tim Alfa, siapkan peledak.
Penjaga dan penembak runduk sudah mengambil posisi.
Tim Alfa di dekat generator
dan Tim Bravo menunggu di pintu belakang.
Masuk!
Tim Bravo, bersiap untuk ledakan.
Begitu Tim Alfa meledakkan pintu, Tim Bravo masuk dahulu.
Tiga detik menuju ledakan.
Tiga, dua, satu.
- Ya. - Ya.
Tentara masuk.
- Tunggu. - Jangan bergerak!
Jangan bergerak!
- Jangan bergerak. - Berhenti!
Ayo.
- Aman. - Aman.
Bravo, lapor.
Kami menembak dua musuh.
Lantai satu dan basemen terkendali.
Tempatnya sudah dikuasai.
Kita akan keluar. Tenang.
Warga sipil keluar. Amankan.
Mereka akan ke lantai dua.
Jangan bergerak.
Dia barusan di sini.
Myung Hae-joon menghilang.
Myung Hae-joon menghilang.
Apa...
Menghilang? Kau yakin?
Ini cetak biru yang digunakan untuk instalasi LAN.
Semua orang yang mengerjakan proyek ini di Gedung Majelis Nasional...
Mereka menghilang?
Sudah mati.
Apa?
Tidak. Semua orang mati.
Itu bisa saja kebetulan.
Kau tahu konstruksi untuk instalasi kabel
disiapkan untuk fusi peledak yang dipakai dalam pengeboman.
Penanggung jawab proyek ini mati persis di depan mataku
karena mau menutupi jejaknya.
Seorang mati karena serangan jantung, satu kebakaran, satu bunuh diri.
Kedelapan orang yang terlibat di proyek ini dibunuh
untuk menghilangkan bukti.
Bukti apa? Konstruksi apa ini?
Ji-won.
Aku sudah mau pergi jika diabaikan 30 detik lagi.
Baiklah.
Perhatikan baik-baik.
Ini cetak biru konstruksi yang dibawa Na-gyeong.
Ini Ruang 119 yang diberitahukan oleh informan kita
dalam program desain tiga dimensi.
Semua ini palang baja.
Permukaannya terbuat dari elastomer yang sangat kuat.
Tunggu. Apa itu elas...
Elastomer.
Hafal saja.
Itu tidak hancur bahkan bila ada benturan.
Dengan kata lain, ini perlindungan serangan udara.
- 119 itu perlindungan serangan udara. - Ada perlindungan serangan udara
di Gedung Majelis Nasional?
Untuk apa?
Ji-won, tunjukkan kepadanya lokasi...
Ruang 119... maksudku, perlindungan serangan udara.
Lokasi perlindungan serangan udara...
Bukankah itu tempat Oh Yeong-seok diselamatkan?
Oh Yeong-seok selamat bukanlah mukjizat.
Itu konspirasi.
Direncanakan secara teliti sejak awal.
Aku melihat tentara bergerak ke ujung lantai tiga.
Minggir.
Itu Myung Hae-joon.
Ya, itu Myung Hae-joon.
Minggir!
Itu detonator.
Letakkan senapan itu.
Letakkan!
Akan kubunuh kalian!
Keluar.
Keluar!
Sersan Staf.
- Apa yang kau lakukan? - Bom tak boleh diledakkan.
Dengan jarak ini, kita semua akan mati.
Musuh dalam jangkauan tembakku.
Sersan Staf.
- Seong-ju. - Ini dibuat buru-buru.
Aku butuh 10 detik.
Aku tembak atau tunggu?
SIAGA
Apa yang terjadi?
Tim Alfa, jawab aku! Ini Ruang Situasi.
Apa yang terjadi?
Kita hilang kontak.
Kita hilang kontak
bukan dengan Mayor Jang saja, seluruh unit.
Sial.
Militer...
pasti berpengalaman dengan operasi begini.
Jenderal Eun,
pernahkah kau terbiasa?
Tidak, kita tidak terbiasa.
Anda tak boleh terbiasa.
Tak ada yang lebih berbahaya
daripada tentara tak kenal takut.
Mungkin bukan tembakan.
Bisa saja suar untuk mengelabui musuh.
Cobalah untuk tenang.
Pak Presiden.
Myung Hae-joon...
ditangkap hidup-hidup.
Kita berhasil?
Dia masih hidup.
Bagus.
Bagus.
Bagus.
Bagus.
- Bagus. - Bagus.
Terima kasih.
Bagus.
Pak Presiden.
Ada satu korban jiwa.
Mayor Jang...
tewas...
dalam operasi.
Siap, gerak.
Siap, gerak.
Berkat kalian, Tentara 707
dapat menyelesaikan misinya.
Terima kasih.
Terima kasih.
Selamat siang, Pak Presiden.
Kau bertugas dengan baik,
Sersan Staf Jo.
Aku hanya menjalankan tugasku.
Mayor Jang...
seharusnya memimpin operasi dari pangkalan.
Saat Sersan Lee cedera dalam kecelakaan helikopter,
dia bergabung untuk menggantikan Sersan Lee
demi menangkap Myung hidup-hidup tanpa mengubah operasi.
Tim kami yang lain aman.
Aku yakin Sersan Lee akan bisa segera menggendong anaknya.
Aku bisa mengikuti perintah Anda
pulang dengan selamat, Pak.
Berkat...
Mayor Jang.
Tolong berusahalah...
untuk membawa...
mereka semua pulang.
Aku akan berusaha semampuku untuk menjaga anak buahku.
Kenapa aku?
Kenapa kau merekomendasikanku?
Kenapa kau membawaku padahal aku ingin kembali ke kampus?
Adakah yang terjadi?
Bukankah aku hanya perlu memenuhi kewajiban warga negara?
Lantas kenapa...
Kenapa aku ditempatkan di posisi bisa merenggut nyawa orang?
Kenapa? Kenapa aku harus melakukan ini karenamu?
Hormat, gerak!
Dia mati karena aku.
Aku mengutusnya menemui ajalnya.
Kuperintahkan dia menangkap Myung hidup-hidup.
Juga membawa anak buahnya pulang dengan selamat.
Aku membunuhnya.
Dia mati karena perintahku.
Itu bukan salah Anda.
Dia hanya melaksanakan tugas dengan segenap kemampuannya.
Dia tidak lari.
Dia mengatasinya.
Seperti Anda,
yang tak kembali ke kampus di hari itu.
Ini sama.
Presiden Park.
Entah itu kesedihan, rasa bersalah, amarah,
ini hari saat Anda harus memenuhi kewajiban
tanpa melarikan diri atau membuat alasan.
Itulah sesuatu...
yang harus dilakukan
oleh semua penyintas.
Kau sendiri?
Kenapa kau pengecualian?
Pada hari itu,
aku bilang aku tak kompeten.
Aku bilang kekuasaan maupun politik bukan untukku.
Namun, kau membawaku sejauh ini.
Jadi, bertanggungjawablah.
Bantu aku memegang posisi ini.
Kumohon.
Maukah kau kembali...
ke Gedung Biru?
Pengebomnya membuat perlindungan serangan udara
di Gedung Majelis Nasional
agar penyintas pengeboman itu, Anggota Majelis Oh, bisa hidup.
Dalang pengeboman itu mungkin lebih menakutkan dari Korea Utara.
Tolong tarik proposal Anda untuk kabinet nonpartai.
Anda masih percaya pemilihan umum bisa mengubah dunia?
Aku kepala pemerintahan negara ini, Bu.
Jika dia menolak penarikan proposal itu,
aku berencana memakzulkannya.
Terjemahan subtitle oleh Christy Sugiarto
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.