All language subtitles for Sekawan Limo (2024) 1080p WEB-DL English

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Jangan menoleh ke belakang.

Nanti ada yang mengikuti.

Nah, ini…

Mitos nomor satu di Gunung Madyopuro.

Kami berlima, pendaki gunung, sudah mengingatkan satu sama lain.

Jangan menoleh ke belakang!

Tapi, Mas…

Tapi apa?

- Sudah ada yang mengikuti. - Apa?

Ini ada yang ikut, salah satunya itu hantu!

Hantu? Siapa hantunya, Mas?

Ini lima sekawan, tapi empat?

Hantunya satu? Aku mau lihat foto atau Instagramnya.

- Hei, Dyny. - Apa?

Sebentar dulu.

Kalau diceritakan sekarang, kita tidak jadi siaran siniar.

- Ini sudah ditunggu banyak orang. - Oh ya.

Apa cerita di sini saja, tidak usah membuat siniar?

Di sini saja, Mas. Tolong, aku penasaran.

Stop!

Tidak usah diladeni Mas.

Bocah kosong, tolol. Aneh dia itu.

Aku tidak diajak? Aku pulang.

Ayo cepat, terlalu lama.

- Cepat! - Sabar, aku sedang minum.

Aku berterima kasih… Mas Der.

Diundang ke siniar Medeni Pol.

- Mas, siap, ya? - Ya.

Cuplikannya diputar di sini, ya.

- Siap, Mas. - Yang tadi di flashdisk, ya?

Siap.

- Oke. Ini? - Ya.

- Oh, ini gunungnya? - Ya, ini gunungnya, Mas.

Bagus ya?

Tapi kalau malam pasti menyeramkan.

Langsung selanjutnya saja, Mbak, tidak apa-apa.

- Nah, ini. - Satu, dua, tiga, empat, lima.

Ya.

Sebentar! Mengapa ini fotoku?

- Mengapa bisa di sini? Bukan! - Yuda, hei.

- Siapa ini, Mas? - Apa ini?

Sebentar. Mengapa yang ini?

Bukan, Mbak. Salah.

Sebentar. Jangan yang ini, Mas. Ini folder pribadiku.

- Bukan yang itu! - Sini.

Sini!

Kalian itu…

- Maaf ya, Mas. - Ya.

Kalian itu kalau mau kerja yang benar.

Katanya perwakilan dari kampus penyiaran terbaik di Surabaya.

Dari Jakarta.

Fokus!

Fokus.

- Aku saja! - Aku saja!

Stop! Stop, Teman-Teman!

Mau apa?

Fokus.

Maksudnya, kalian yang fokus.

Minggir! Pergi!

Minggir!

Semuanya aku yang urus.

Kerja keras sekali aku.

Seperti kerja ikut VOC saja.

Mas, ayo cepat.

Ya, sebentar!

- Hei, Anak Magang! - Ya?

Mau akad nikah ya kalian? Ke sini!

Fokus!

Ini, tancapkan!

- Fokus. - Fokus.

Hilda, kita siaran langsung.

Kita siaran langsung di lima, empat, tiga, dua…

Halo, Teman-Teman!

Ini apa lagi?

Bagaimana ini?

- Tokennya ya? - Ya, tokennya.

Wi-Fi mati.

Aku tidak ada paket internet.

Mas Bagas, maaf.

Bisa minta tethering, Mas?

Tethering? Tidak apa-apa Mas.

Ya, Mas, karena lampunya mati, Wi-Fi juga ikut mati.

Langsung sambungkan saja, namanya "Bagas".

Bagas? Ya.

- Aku ikut. - Kata sandinya apa ini?

- Bagas. - "Bagas" saja?

Sang Penakluk.

- Bagus. - Ya. "Sang Penakluk", ya?

Menjijikkan.

Oke, aku isi dulu. Sebentar ya, Mas.

Ampun, Mbah. Kita cuma mau syuting!

Kerja.

Jangan ganggu, ya.

Tidak apa-apa, Mbah, ganggu saja. Aku senang.

Yah, sudah menyala.

Sialan!

Maaf ya, Mas Bagas.

Tumben mati lampu. Biasanya tidak pernah.

Kau mentertawakan apa, Mas?

Tidak apa-apa, Mas.

- Maaf. - Ya sudah, langsung.

SINIAR LANGSUNG

Halo, Teman-Teman!

Ketemu lagi bersama podcaster kesayangan kalian, ada aku Deri.

Lalu, aku Dyny, dalam siniar…

Medeni Pol!

- Hantuku… - Hantumu…

…hantu kita semua.

- Sudah. - Apa tidak mau ganti wara jenama?

Malu aku.

Hari ini, kami kedatangan tamu yang sangat spesial.

Karena utasnya viral di X.

Judulnya, "Sekawan Limo".

Langsung saja, mengapa judulnya "Sekawan Limo"?

Sekawan artinya persahabatan.

- Ya. - Kawan?

- Geng. - Kawan.

Ada dua arti, Mas Der.

Kalau dari bahasa Jawa halus…

Sekawan itu artinya empat.

Kalau "limo" artinya ya lima.

Jadi, ini menceritakan lima orang yang mendaki Gunung Madyopuro.

Namun, ternyata yang manusia hanya empat.

Yang satu itu, hantu!

Kejadian ini setahun yang lalu, ya?

- Setahun lalu, ya. - Ya.

Jadi, kalian sudah penasaran, 'kan?

Sebaiknya kita langsung menyimak ceritanya dari yang langsung merasakan di sana.

Bagaimana pengalamannya, Mas? Ceritakan.

Ceritanya begini.

Satu tahun lalu,

aku memberanikan diri untuk mendaki gunung yang pertama kalinya.

Menemani Lenni.

Lenni dari Jakarta.

Kalau bicara bahasa Jawa itu belum lancar, tapi kalau diajak bicara, dia mengerti.

Tidak menyangka, kita sudah sampai di Gunung Madyopuro.

Aku juga tidak menyangka kau ikut sampai sini.

Jangan bilang begitu, Len.

Aku akan menjagamu.

Len!

Aku dan Lenni ini sama-sama kuliah di Universitas Negeri Malang,

semester enam.

- Hei! - Hei!

Nah, untuk pertama kalinya,

aku akan menceritakan komplet, semuanya di siniar ini.

Wah, keren.

- Siapkan KTP. - Di mana ya?

Aku taruh di mana, ya?

Maaf.

Hei, matamu buta!

Aku sudah jelas di depanmu, tapi kau tabrak!

Maaf, Mbak.

Lo?

Lo?

Malah ikuti aku.

Aku tahu. Kau mau hipnotis aku?

Dompetku kau ambil, lalu SIM-ku dipatahkan? Ya, 'kan?

Kok bisa bicara seperti itu, Mbak? Tidak.

Ya, sudah. Kau ke kanan, dan aku ke kiri.

- Ya sudah! - Ya.

- Lo… - Kananmu atau kananku?

Ya, sudah. Kau ke sini, aku ke sana. Tempat ini masih luas, Mbak, maaf.

Ini informasi tentang gunung ini, Len.

Gunung Madyopuro. Aku sudah tahu semuanya.

Waktu Lenni bicara mau mendaki Gunung Madyopuro seminggu lagi,

aku langsung bergegas.

Info orang hilang.

Namanya juga belum pernah.

Jadi, seminggu itu sudah seperti belajar karena mau ujian!

Setiap artikel atau blog, aku baca.

Vlog atau siniar tentang gunung ini, semua aku tonton.

Bahkan aku ikut Persami anak SD untuk merasakan suasananya.

- Gas? - Ya?

- KTP. - Oh ya, KTP.

Baru pertama kali mendaki, Mas?

Ya, Mas. Baru mendaki.

Selamat datang di Gunung Madyopuro.

Selamat mendaki.

- Ada sambutannya ya sekarang? - Ya.

Tidak sekalian pulsanya, Mas?

Hei, bercanda saja kau.

Berapa nomormu?

Sama saja.

Bukannya di atas tidak ada sinyal ya, Mas?

Lupa.

- Mau berapa hari, Mas? - Sehari.

- Sehari, tapi bawaannya banyak. - Ya.

Kita bantu cek dulu, ya.

Harus dicek dulu ya sekarang?

Mas baru pertama kali di sini, nanti kita bantu, ya.

- Alah… - Mengapa?

Besarnya.

Bawa apa kau ini?

Keluargamu ya?

Tidak, ini segala perlengkapan dan perbekalan.

Jaket, oke. Kemeja, sepatu.

Oke.

Ya ampun, bawa kapak anak ini!

Hei!

Mengapa kau bawa kapak?

Kau ini Thor?

Ini biasa, 'kan, kalau pendaki bawa kapak?

Untuk berjaga-jaga, Mas.

Kalau mau jaga-jaga, pakai kiper!

Kalau butuh penyerang, aku siap.

- Ya. - Sudah dibilang, 'kan? Kau lebai.

Ya… Bukannya lebai…

Seperti ini, Mas.

Sedia garasi dulu, sebelum beli mobil.

Supaya, tidak apa?

- Menyusahkan tetangga, 'kan? - Benar.

- Mas, aman. - Aman, ya?

- Ya. - Cek dulu datanya.

- Pakai gelang dulu. - Gelang?

Nanti gelangnya bawa turun, ya.

Sama satu lagi, Mas.

- Di sini ada mitos. - Ya?

Kalau kau mendaki, jangan menoleh ke belakang.

Nanti ada yang mengikuti!

Ya! Setiap gunung ada mitosnya masing-masing, ya?

Nah, itu paham.

- Paham dia ya? - Ya.

Daripada kalian hanya berdua, di sana ada pria namanya Dicky.

Kalian berangkat bersama dia.

- Yang mana? - Itu. Mas Dicky!

Hei, bersama anak-anak ini ya?

- Bersama, ya? - Jangan hanya bersama-sama.

Pastikan tidak ganjil.

- Bersama, tapi genap. - Ya. Harus genap, Mas.

- Tidak boleh ganjil, ya. - Ya.

Terima kasih banyak, Mas.

- Terima kasih. - Hati-hati. Selamat mendaki, Mas.

- Terima kasih. - Mas Dicky!

- Ayo. - Ayo.

- Silakan. - Ya.

Sebentar.

Kau sudah pernah ke sini?

Ini pertama kali aku mendaki gunung ini.

Jodoh!

Mendaki gunung itu keseharianku.

Kau beruntung.

Coba sebut gunung yang kalian tahu, aku pasti pernah ke sana.

- Gunung Lawu? - Pernah.

- Gunung Semeru? - Baru minggu ini.

- Gunung Fuji? - Sudah.

Gunung Fuji di Jepang.

Itu ketika aku wisata saat TK.

Saat aku kecil. Sudah percaya saja, kita naik saja.

Gas? Sudahlah, naik berdua saja.

Naik berdua?

Tadi disuruh menunggu dulu agar tidak ganjil, harus genap.

Kalau kita naik berdua, itu juga genap.

Namun, ini ada pendaki yang sudah berpengalaman.

Ini bagus untuk rombongan kita.

Mas Dicky, kau mendaki berapa hari?

Sehari saja.

Satu hari, sama seperti kita.

Sudahlah, langsung naik saja.

- Naik, ya? - Ya.

Katanya kita harus menunggu dulu.

Menunggunya di gerbang sana.

Harusnya genap, Mas!

Menunggunya di depan gerbang sana, dekat.

Tak boleh ganjil lo.

Sudah, aku akan menjaga kalian.

Tenang, aman mendaki denganku.

Kemarin masalah air, sempat diomeli nenekku…

"Untuk apa membawa air satu galon?"

"Mengapa tidak sekalian membawa dispenser?"

Nenekku bilang begitu.

Hei, Pendaki Amatir.

Ini pukul 12.00, aku tahu jalan baru

yang pemandangannya lebih bagus dan lebih cepat.

Yang benar?

Kalau kalian ikuti aku, kita akan sampai saat Magrib.

Langsung bisa melihat matahari terbenam di Ranu Sakuta.

Bukannya kita harus menunggu pendaki lain agar genap, lalu baru bisa naik?

Permisi, Mas.

Permisi, Mas, Mbak.

Aku yang seharusnya minta maaf, Mas.

Aku gampang kaget, Mas, maaf.

Tidak apa-apa, Mas.

Aku tidak sengaja mendengar obrolan Mas dan Mbak.

Katanya sedang menunggu pendaki lain ya?

Aku ditinggal oleh teman-temanku.

Kalau boleh, aku mau ikut rombongan Mas dan Mbak.

Pas sekali!

Perkenalkan, aku Dicky!

Aku akan memimpin rombongan ini. Siapa namamu?

Juna.

- Juna. - Bagas.

- Juna. - Lenni.

Juna dari "Arjuna", Mas?

Bukannya Arjuna itu adalah Pandawa yang paling tampan?

Dia lebih mirip Rahwana.

Sembarangan.

Gas, lebih kayak Hanoman.

Sut. Mas…

Aduh.

Aku sebenarnya Buto Cakil.

Lucu sekali anak ini. Aku senang.

Bercanda, Mas, jangan dimasukkan hati.

Tidak apa-apa, Mas, aku sudah biasa.

- Langsung naik! - Sebentar!

Kau sudah dapat gelang sepertiku?

Sudah kok.

Sudah aman itu, Gas, ayolah!

Ayo.

- Mas Juna, dari mana asalmu? - Jogja, Mas.

Aku dan Lenni dari Malang.

Kalau ini Mas Dicky?

- Kau dari Surabaya, ya? - Ya.

Len, mau tabir surya?

Sudah pakai.

Mas Juna mau tabir surya?

Terima kasih, Mas, tapi sepertinya tidak mempan.

- Kulitku sudah matang sempurna begini. - Terlalu matang itu.

Ini memang medannya lagi naik, Len.

Nanti juga ada landainya, ada turunannya.

Ini pas naik. Aman 'kan, Len?

- Aman. - Ya sudah.

Hei, ambil kiri ya?

Ya, Mas.

Hei, itu kanan.

Lo ini, tanganmu ke mana?

Mas, ini jadinya ke kiri atau ke kanan ya?

Kanan.

Itu kiri, Mas.

Maaf, maksudnya jalannya ke kanan. Kirimu.

Ke sini?

Itu semak-semaknya hanya sementara.

Nanti ke sana aman.

Tinggal lurus sedikit, belok kanan. Sampainya cepat.

Namun, menurutku, kita harus mengikuti trek ini, Mas.

Sebentar, biar aku cek semua hal tentang gunung ini…

Gas, kau ini tidak percaya sama pemimpin?

Ini jalan baru, pemandangannya lebih bagus dan cepat.

Kalau lebih cepat dan lebih bagus pemandangannya, lewat sini saja.

- Itu. - Menurut semua artikel yang kubaca…

Gas!

Dengar.

- Apa, Mas? - Kau takut tantangan?

- Kau laki-laki atau bukan? - Laki-laki.

- Sunat atau tidak? - Sunat!

Aku tidak, tapi aku berani lewat sini.

- Lenni, aman? - Aman.

Juna?

- Menurutku… - Juna aman. Ayo langsung.

Jadi, dari sana, keanehan mulai terjadi.

Kami tidak bisa menemukan Pos Satu.

Padahal jarak Pos Satu, kalau dari Pos Pendaftaran…

itu hanya satu jam.

Satu jam setengah paling lama.

Namun, ini tidak ketemu.

Apa jangan-jangan Pos Satu sudah ditemukan orang lain?

Sudah ditemukan duluan sebelum rombongan Mas Bagas. Salah, ya?

Sebentar, kau pikir bentuk Pos Satu seperti apa?

Seperti uang koin?

Lalu, kalau ketemu, "Ya ampun, menemukan Pos Satu."

Terus dimasukkan ke dalam saku, dibawa pulang? Bukan begitu!

Setiap gunung yang bisa didaki,

pasti ada Pos Penjagaan, Pos Satu, Pos Dua, Pos Tiga…

Nah, terakhir…

Pos Kamling.

- Pusing aku. - Ada pos siskamling?

Tidak ada! Aku bercanda!

Bagaimana aku tahu kau bercanda atau serius?

Terus.

Kau baru jalan ya?

Mengapa bisa dapat gangguan sampai seperti itu?

Soalnya, kami sudah mengambil jalan yang di luar trek.

Ini dia!

Ini hamparan luas, lalu…

Nah, ini untuk kita mendirikan tenda. Kita istirahat di sini saja, ya?

Mengapa mendirikan tenda?

Nanti kita tidak dapat matahari terbenam.

- Ayo jalan saja sekarang. - Lanjut saja, Gas.

Ada apa denganmu?

Kalau kebanyakan istirahat, kelamaan sampai puncaknya.

Bukan begitu, Mas Dick.

Teman-Teman, sebentar.

Apa, Mas?

Seperti ada suara air mengalir.

Apa di sini dekat sungai?

Kalau benar sungai, menurut informasi yang aku baca tentang gunung ini…

Aku setuju pasang tenda.

- Apa? - Bagaimana?

Ini langitnya sudah mulai gelap.

Bahaya kalau kita tetap naik.

Percayalah. Aku sudah mulai tidak kelihatan.

Len, kau di mana?

Aku tidak lihat kau ada di sini.

- Jadi, setuju pasang tenda? - Setuju sekali.

- Lo, Len! Mau ke mana? - Cari kayu bakar!

- Mau ditemani? - Tidak!

Hei, ada yang punya pisau lipat?

Ini dia. Untuk apa Mas?

Memotong kuku.

Setiap bercebok, kecakar.

Lecet semua bokongku.

- Mas? - Ya?

Yang bawa tenda hanya aku dan kau?

Namun, ini tenda untukku dan Lenni, Mas.

Status Mas Bagas dan Mbak Lenni ini apa?

Apa sudah menikah?

Doakan saja, Mas.

Berarti belum?

Lalu, untuk apa kalian berdua di dalam tenda?

Badminton!

Ya, tidurlah, Mas. Mau apa lagi?

Nanti pas tidur, Lenni kau smes.

Bisa-bisanya bicara begitu.

Menurutku, Mas, kalau belum menikah, jangan berduaan di tenda.

Tidak baik.

Aku takutnya…

bisa gancet.

Tidak mungkin, Mas!

Aku tidak mungkin sampai seperti itu, Mas.

Len?

Kau sudah dapat berapa, Len?

Lo? Len, jangan ke sana. Itu licin, Len!

Lenni, di sana licin! Lo, Len?

Len!

Apa? "Len, Len, Len."

Apa?

- Lalu, yang tadi itu apa? - Apaan?

- Yang itu tadi apa? - Tidak tahu itu apa?

- Ada apa denganmu? Selalu saja aneh. - Sialan!

Len!

Jangan menoleh ke belakang.

Tidak sempat menoleh, 'kan?

Seperti ini, sejajar. Kalau kaget, begini saja ya?

Aduh, ada apa itu?

Apa?

Ada apa, Mas Dick?

Lihat, di atas batu.

Mas Dick!

Aku tadi mengalami yang seperti ini.

Namun, aku tidak berteriak sepertimu.

Kalau berteriak, semua di sini menjadi panik!

- Aku takut. - Simpan untuk diri sendiri.

Aku cek sebentar ya.

Sembarangan kau, malah mau mengecek hantu.

Kok malah sebut hantu! Jangan Mas!

Hantu itu jangan diucapkan seperti itu.

Kau itu gila, ya?

Memang namanya hantu, masa dibilang ulat?

Hantu membuat merinding, kalau ulat itu membuat gatal!

Sudah, aku tidak takut hantu.

- Apa? - Gas…

- Apa, Len? - Teman-Teman…

Apa, Len?

- Jangan bercanda, Len. - Teman-Teman.

Hilang!

- Sialan! - Hantu!

Manusia atau hantu ya?

Panas sekali. Berarti manusia.

Sepertinya butuh napas buatan.

Jangan.

Kalau napasku yang habis, bagaimana?

Tidak apa-apa, Lenni.

Yang penting kita bersama dan semoga aman.

- Mengapa teriak? - Bagaimana kalian ini?

Tolong, dia masih bernapas.

- Ayo! - Aku tidak mau.

Benar manusia?

Ini manusia, 'kan?

Hei, malah dilangkahi. Kualat ini.

- Hati-hati. - Maaf.

Sebentar, aku cek.

Mengapa lemah begini?

Sama sudah dingin sekali ini.

Tadi di sana masih panas lo.

Kalau begini…

Hampir hipotermia.

Aduh, ayo digosok-gosok sambil dipeluk.

Len!

Apa?

Tidak.

- Mas Dick. Ayo! - Apa?

Aku takut. Manusia atau bukan?

Gas? Coba buka.

- Apa? - Lo?

Mengapa gelangnya tidak ada?

Sudah kubilang, bukan manusia.

Mungkin jatuh di sana?

Barangnya hanya ini.

Gitar?

Apa dia mendaki cuma mau mengamen?

Masa muka begini mau mengamen? Tidak pantas.

Nah, kalau mukamu pantas.

Siapa dia ini?

Coba diperiksa kantongnya.

- Tidak ada, ya? - Ya.

Sebentar.

- Oh ya. - Hei!

Mau apa kau? Mau cabul?

Bukan, pendaki itu menyimpan barang penting di dalam plastik.

Lalu, disimpan di celana dalam.

Aku tidak pernah dengar atau membaca artikel tentang itu?

Benar, 'kan, Mbak Len?

- Ya. - Nah…

Nah! Ini KTP-nya!

Apa?

Lo, lalu ini apa?

Kok seperti belimbing sayur?

Namanya siapa?

Andrew Pramujito.

Pramujito?

Pramujito itu bukannya pengusaha elektronik yang terkenal di kota kita?

Mas Dicky bilang itu waktu itu.

Memang di Surabaya itu, Mas,

keluarga Pramujito itu terkenal karena tajir melintir.

Alias kaya raya.

Sebentar. Kalau memang benar-benar kaya raya.

- Mendaki gunung. - Ya.

Mengapa tidak naik helikopter saja?

Tak perlu berputar-putar mencari Pos Satu, ada hantunya.

Aku tidak mau. Logikaku jalan lo.

- Punya logika kau? - Bagaimana Mas?

Mas Andre itu bagaimana kabarnya?

- Andrew. - Andrew.

Mas Andrew akhirnya dirawat oleh kami.

Hei, Mas.

- Bagaimana, Mas Andrew? - Aman, sudah agak mendingan.

Aku sudah buatkan untukmu.

- Ini sungguhan? - Tentu saja sungguhan.

Ayo, selagi hangat.

Terima kasih ya, Gas.

Ya, sama-sama Mas. Silakan.

Memang enak sekali ya makan mi di gunung seperti ini.

Mas Dicky dan Mas Juna sudah kerja, ya, sekarang?

Aku BAB dulu ya.

Di mana-mana gelap lo. Aku temani ya?

Tidak usah.

Tahiku minder kalau melihat orang asing.

Sebentar ya.

Terlalu pemberani dia itu.

Sama seperti Andrew yang ada di dalam.

Bisa-bisanya ke gunung tidak bawa apa-apa.

Lalu, mau apa coba dia di sini?

Malah seperti musafir linglung.

Yah…

Banyak alasan orang naik gunung.

Macam-macam sekali.

Lenni ini memang suka naik gunung?

Len?

Kau suka naik gunung?

Aku sepertinya masuk dulu ya.

- Mau tidur duluan? - Ya.

Ya sudah.

- Dah. - Ya.

Dah, Len.

Tutup mulutnya, Gas.

Sampai begitu lihatnya.

Lenni.

Kauyakin mau balik sekarang?

Ya, bagaimana, Ma?

Baru dikabari buat wawancara magangnya hari ini, lalu ketemunya lusa.

Bagaimana ini?

Libur kuliahnya juga masih panjang.

Ya, tapi Lenni mau bekerja.

Mau belajar mandiri agar tidak merepotkan Mama terus.

Aduh…

Lenni…

Mama tidak pernah merasa direpotkan olehmu.

Jadi, Mama tidak mau mendoakan Lenni?

Bukan begitu, Cantik.

Mama cuma…

Cuma apa? Sudah, aku pesan taksi dulu.

Jangan!

Biar Mama saja yang mengantarmu, ya?

Mama masih merindukanmu.

Tidak ada yang ketinggalan ya, Len?

Pokoknya Mama doakan terus.

Mudah-mudahan magang, wawancara, dan kuliahnya sukses.

Sudah jam segini. Bagaimana keretaku, ya?

Mama mengebut, ya, biar cepat sampai.

Ma? Mama?

Mama!

Ma!

Ma!

Mama!

Lenni.

Lenni.

Aduh.

Ya, begitulah, kisah kehidupan Lenni.

Menyedihkan sekali nasib Lenni.

Merinding aku, tiba-tiba.

Kebetulan angin lewat tadi.

Maaf, Mas, aku tidak minum alkohol.

Kalau aku boleh kasih saran…

Lebih baik sampaikan segera perasaanmu.

Karena perempuan butuh pernyataan dan kepastian.

Benar itu, Gas.

Terus, nyatakan di…

- Puncak! - Nah!

Kalau kau diterima, bisa langsung…

Cium dulu.

Aduh, Dick. Jeleknya dirimu.

Ya sudah, Gas.

- Pikirkan lagi. - Ya, Mas.

Lo, mau ke mana?

Pipis, boleh tidak?

- Kalau tidak boleh, aku pipis di sini. - Jangan.

- Sembarangan. - Mau pipis saja dibuat ribet.

Andrew, kau akan tanggung jawab, 'kan?

Andrew, sebenarnya mencintaiku atau tidak?

Aku mencintaimu, Chel!

Namun, papaku, engkohku…

Kalau beritanya sampai viral…

Namun, selama ini mereka tidak pernah menghargaimu!

Cukup, Chel. Cukup!

Aku tidak siap, Chel, memang kau sudah siap

nanti kau akan menjadi Ibu…

Bukan masalah siap!

Sudah terlanjur, Drew!

Ini, 'kan…

Masih bisa digugurkan…

Digugurkan kau bilang?

Bajingan kau!

Taruh. Hei, taruh.

Daripada…

kau menggugurkan anakmu,

lebih baik mati bersama saja, Drew!

- Mas Andrew? Ada apa itu? - Mengapa?

Mas Andrew, ini kami!

Tenang. Ada apa, Mas Andrew?

Sepertinya…

Aku hanya…

mimpi buruk saja, Mas.

Ya ampun…

Kalau denganku, tidak usah panggil "Mas". Kita ini sebaya.

- Ya. - Masih ingat aku?

Ayo, siapa nama wayang?

Rahwana.

Mengapa bisa-bisanya?

Aku Venom, Drew.

Wah, langsung turun hujan.

Berarti manjur.

Nah, ini yang aku cari.

Dicky. Dick?

Bayar utangmu, Dick.

Untung.

Untung sudah dapat.

Sudah tidak perlu mereka lagi.

Setelah ini, aku bisa pulang.

Benar, 'kan? Di sini tidak hujan.

Sudah pasti sakti, mantra mbah ini.

Sepertinya Lenni sudah tidur.

Bagas tidur, Juna juga tidur.

Andrew, aman sepertinya.

Apa ini? Sialan.

Mau ke mana, Dick?

Sialan, luwak menceret!

Kau mau ke mana?

Tidak…

Tidak ke mana-mana.

Hanya mau…

Meninggalkan kami?

Katanya pemimpin?

Memang ada pemimpin meninggalkan pasukannya?

Kau bicara apa?

Justru aku sebagai pemimpin, panutan Mapala, bersiap lebih dulu!

Ayo, Gas. Bangun, Gas!

Liurmu masuk telinga!

Drew!

Kau dari tadi sudah bangun?

Buka matanya.

Sudah mentok, maaf.

Lagi pula, tidur tidak tutup tenda.

Kemasukan pejabat blusukan, kapok kau.

Namanya baru pertama kali mendaki,

lelah, Mas.

Susah bangun, sampai Mas Juna membantuku mengemas barang-barang.

Namun, gantian, aku juga membantu mengemas barang-barangnya Lenni.

Alah!

- Kau itu modus saja, Mas. - Bukan begitu, Mas.

Namun, sungguh, pas bangun pertama kali, badanku remuk, pegal, dan kembung.

Kok tidak ke dokter?

Di gunung tidak ada dokter, Dyn.

- Tidak enak badan, 'kan? - Ya, tapi kalau turun…

Ya ampun, aku suntik mati kau saja.

Lama sekali!

Walaupun buru-buru berkemas, sampah tetap harus dibereskan.

Tidak boleh buang sampah di gunung.

Aku masih mengantuk, Mas Dick. Mengapa sepagi ini?

Sudahlah, mendaki jam segini paling enak.

Sepi dari orang-orang.

Kalau sore malah sudah ada orang, macet.

- Kok bisa macet, di atas gunung lo. - Hati-hati, Drew.

Lo, gunung juga bisa macet, ada polisi hutannya.

Kau nanti ditilang bagaimana?

Polisi hutan kok menilang? Asal bicara saja kau ini.

Aku saja bawa STNK untuk berjaga-jaga, Gas.

Sudahlah, hanya aku yang tahu jalannya.

Yang tahu kondisinya juga aku.

Hati-hati, Semuanya.

Drew, yakin sanggup naik?

Kalau tidak kuat, aku temani kau turun.

Tidak apa-apa, Jun, aku ingin jalan-jalan.

Mendaki gunung dianggap jalan-jalan.

Benar kata Mas Dicky, kau seperti musafir linglung.

Tidak bawa bekal.

Aku bawa…

- Uang. - Jadi, yang lainnya tidak punya uang?

Bukan. Bukan begitu, Dick.

Aku benar-benar tidak paham, aku pikir…

Di atas bisa beli makanan seperti di Bromo.

Lalu, sewa kuda juga di atas?

Semua gunung kok disamakan dengan Bromo.

Apa itu yang lewat?

Apa? Aku tidak lihat apa-apa.

Alah, mungkin babi hutan.

Bukannya di sini tidak ada hewan buas, ya?

- Jangan-jangan… - Hei, tenang.

Selama ada aku, kalian aman, oke?

Hantu tidak akan berani mendekati kita.

Tidak ada apa-apa.

Bayar utangmu, Dick!

- Ada apa? - Itu… di depan.

- Di depan? - Di depan…

- Ada apa? - Ada hantu, Sialan!

Kok bisa-bisanya, aku sudah bilang…

Simpan untuk dirimu sendiri saja.

Apa? Tidak ada apa-apa kok.

Sebentar!

Di antara kita tidak ada yang menoleh ke belakang, 'kan?

Ini karena masih gelap, pohon-pohon terlihat seperti penampakan.

Kau di depan saja!

- Ya sudah. - Tidak mau, aku tidak mau di belakang.

Nanti ada yang mengikuti…

Aku tidak mau.

Ya sudah, aku saja yang di depan!

Ini tinggal lurus saja, 'kan, jalannya?

- Mas Dicky! - Ya, tinggal lurus saja.

Jangan menoleh ke belakang. Begini kalau mau menoleh.

Lo, Len…

Perutnya sudah bunyi-bunyi.

Ayo, diganjal dulu, Len.

Kita masih belum tahu berapa lama lagi sampai pos selanjutnya.

Maafkan aku, Len.

Padahal sudah kusimpan semua di ponselku, tapi malah mati baterainya, ya ampun.

Mas Dicky.

Apa sudah jalannya benar?

Kemarin tidak dapat matahari terbenam.

Sekarang matahari terbit juga sudah lewat. Bagaimana ini?

Aku pipis dulu.

Mas Dicky sebenarnya tahu jalan atau tidak?

Bagaimana ya caranya pergi dari mereka?

Jangan pergi dulu Dick!

Urusanmu denganku belum selesai!

Bayar utangmu! Bayar!

Aku sudah mati terkena gerinda,

mau tambah diabetes?

Kau pikir aku calo Samsat?

Tolol! Bayar utangmu! Bayar, tidak?

Mantap!

Main slot menang!

Aku menang!

Nanti malam bisa pesta, karaoke…

Sewa lima wanita penghibur, aku ajak futsal.

Terserah aku! Aku ini kaya.

Dick!

Bayar utangmu!

Keluar kau, Dick!

- Sial, penagih utang itu lagi. - Ijazah Paket C tidak cukup buat jaminan!

Nilai matematikamu juga jelek!

Mas!

Mas!

Bukan aku, Mas!

Besi ini aku beli, Mas, sumpah aku tidak mencuri.

Ada struknya kalau tidak percaya.

Tumben kau tidak mencuri.

Dicky. Ini rumahnya Dicky, 'kan?

Dicky? Ini kamar Dicky, Mas.

Dick!

Dicky!

Dick! Dicky!

Asalamualaikum, Dick!

Dick!

Tolong!

Tolong!

Tolong!

Astaga.

Tolong!

Kepalanya kena gerinda.

Bukan aku. Sumpah, Mas.

Gerindanya tertancap di kepala. Bukan aku, Mas.

Penagih utang sialan!

Mau hidup atau mati, menyusahkan saja!

Aduh STNK milikku.

- Dick, sedang apa kau? - Mas Dick!

Lo, kok malah santai-santai di sini?

Santai-santai kakimu!

Tanggung jawab kau! Jangan menghindar terus!

Kau yang membawa kita ke sini!

Hei, Bocah Tantrum!

Tidak usah teriak-teriak!

Sudah. Kita harus ke mana, Dick?

Apa itu, Teman-Teman?

Gas, kau bilang simpan untuk diri sendiri!

Jangan menakut-nakuti soal hantu lagi.

Hei, jangan sedikit-sedikit hantu.

Itu apa?

Bukan, ini ada pendaki sedang turun.

- Sungguh? - Perempuan.

Aku urus, Gas.

Permisi, numpang bertanya, Mbak.

Apa?

Apa kau bilang?

"Mbak"?

Jangan panggil aku "Mbak".

Itu annoying sekali.

Ya, annoying.

Annoying itu apa?

- Gateli. - Gateli.

Begini, maksudku, puncaknya masih jauh tidak, Mbak?

Apa kau bilang lagi?

Astaga.

Jangan panggil aku "Mbak", itu sangat annoying!

Annoying.

Maksudnya, puncak masih jauh tidak?

Kalau puncak masih jauh.

Namun, kalau Pos Dua, lurus, belok kanan…

Nanti tanya ke temanku.

- Temanmu ada di sana? - Ini.

Tidak sekalian.

- Pos Dua di mana? - Lurus, kanan, lihat ke bawah.

Ini trek resminya, Dude.

Ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Mbak.

- "Mbak"? - Ayo, Len.

Tidak. Aku tidak bisa seperti ini.

Semua, lihat laki-laki ini.

Kita dipanggil "Mbak"!

- Gateli, jijik! - Gateli.

Maksudku…

Belum terekam.

Hei, ini sepertinya Pos Dua.

Ya, ini Pos Dua.

Lihat, 'kan? Sudah benar aku memimpin kalian.

Coba kalau kalian tidak menurut, tersesat di alun-alun Blitar.

Ada baksonya di pos ini.

Lo?

- Mengapa, Mas? - Lo, mereka kok baru naik?

Lo, kok?

- Mengapa, Mbak? - Aduh…

Teman-Teman, mengapa banyak yang melihat kita?

Itu karena aku, Gas. Mereka familiar sama aku.

Setiap tahun aku melantik Mapala.

Gas, tempat ini ramai.

Mau duduk di mana?

Sepertinya mereka sudah selesai. Sebentar, aku coba tanya dulu.

- Mas, sudah selesai? - Sudah, Mas, silakan duduk.

Aduh.

- Len, mau bakso apa? - Hei.

Aku dulu. Aku pemimpinnya.

Aku pesan satu bakso, tanpa daun bawang, bakso kasarnya lima.

Kuahnya itu panas, aku minta tolong ditiup dulu soalnya lidahku…

sensitif.

Len, mau bakso apa?

Samakan saja.

Tasmu tidak ditaruh dulu?

Jangan, Mas. Dilihat banyak orang, aku takut dicuri.

Cepat, nanti lambungku bergeser.

- Lengkap, Mbak. - Mas Juna.

Kau tidak mau mencari teman-temanmu di pos ini?

Siapa tahu karena kita kelamaan naik,

teman-temanmu sudah turun dari puncak.

Aku tadi sempat menoleh kanan dan kiri.

Memang temanmu ada berapa, Jun?

Ciri-cirinya seperti apa?

Seperti kau semua wajahnya?

Memangnya Minion.

Sembarangan saja.

Temanku perempuan semua,

lalu ada yang bawa bendera Kampus Mataram Bakti.

- Silakan, Mas, pesan apa? - Hei…

Pak, bakso.

Aku juga begitu. Waktu pertama kali bertemu Mas Juna…

Hei.

Ketika mendaki, apa yang kau lakukan? Aneh-aneh, ya?

Pasti ada mitos yang kau langgar!

Jadi manusia itu berpikir yang logis, jangan sedikit-sedikit mistis.

Ya, Pak. Lapar, Pak. Aduh…

Bakso lima.

Apa? Lima?

Ya, itu dua temanku yang lain di sana, jadi, lima Pak.

Mengapa lima?

Memangnya baksonya habis? Ini masih banyak.

Masa lima tidak cukup? Itu baksonya banyak!

Ya, cukup.

Sudah, aku yang bayar.

Gas, aku saja yang bayar.

Tidak, Mas, kau santai saja.

- Tidak apa-apa, Gas. - Ini ada Lenni, masa dibayari?

Aku tidak ada wibawanya.

- Lenni tidak lihat. - Aku saja…

- Sudah, aku saja. - Aku saja, aku ada uang…

- Tidak usah… - Sudah!

Aku saja yang bayar!

Aku beli sendiri baksoku. Ini, mi!

- Ini, Pak. - Lo?

Lihat, 'kan?

Apa aku bilang!

Kok daun?

Nah, ini…

Seratus, dua ratus, tiga ratus.

Jangan dekat-dekat, sana!

Ya sudah, Pak, kembaliannya ambil saja.

Tolong antar ke sana.

Ya.

Di Pos Dua itu, aku baru paham.

Kalau salah satu dari kami, ternyata bukan manusia.

Lihat, 'kan?

Keras sekali baksonya!

Seperti penghapus ujian.

- Mau minta punyaku, tidak? - Tidak usah. Tidak selera.

Teman-Teman.

Sepertinya, di antara kita ada yang tidak jujur.

Maksudnya?

- Jadi, tadi aku dibilang… - Gas…

Sudahlah, kau sendiri yang mengingatkan.

Kalau kita tidak perlu membahas hal seperti itu.

Sudahlah.

Hantu itu tidak ada.

Lihat, 'kan?

Sudah aku bilang!

'Kan?

'Kan?

'Kan?

'Kan?

Apa, Gas?

- Melihat sampai segitunya. - Tidak.

Ini sudah selesai, aku naik duluan ya.

Mas, ada korek?

Masih kecil kok sudah merokok?

Bukan, Mas, untuk menghidupkan ini…

- Kayu, Mas. - Kayu.

Korek sepertinya tidak ada.

Adanya nomor WhatsApp.

Nomor WhatsApp!

- Lucu, ya? - Katanya, "Lucu, ya?"

Kuno sekali kau.

Kalau ditanya dari mana? Dari tadi.

Dari tadi!

Yang mengajarkan siapa? Bapakmu ya?

Tasnya besar!

Isinya pasti bekal dari ibumu, 'kan?

Pasti isinya mi goreng kotak…

Kaku!

Sudah kaku.

Memangnya mau berenang?

Cari kolam renang!

Bapak dan ibuku sudah…

meninggal sejak aku kecil, Mas.

Bapaknya tidak ada!

Artinya yatim piatu! Ya!

Yatim… Yatim piatu?

Habis.

Di mana ya?

Bagaimana, Mas?

Semoga saja, Len, teman-temanku ada di Pos Tiga.

Sabar, Mas.

Kita semua juga tidak ada yang menyangka kita jalan selama ini.

Tidak apa-apa, Mas.

Yang penting tidak sendirian, ada kita. Ya?

Namun, itu juga berlaku buat untukmu, Len.

- Maksudnya? - Kau juga jangan merasa sendirian.

Ada kok yang peduli dan sayang denganmu.

Mas?

Tangannya begini.

Amin.

Maaf ya, Mas.

Tadi kami mendoakan ibu dan bapakmu agar tenang.

Mas, tetap jalani hidup.

Kau harus semangat, seperti aku, Mas!

Semangat menghadapi dunia ini.

Bapak dan ibuku masih ada.

Kalau soal semangat, aku semangat.

Aku mau ke puncak, jadi, harus semangat!

- Apa? Ke puncak? - Ke puncak?

- Gila! - Ini kacau.

Bagaimana, Mas?

Kau datang ke basecamp jam berapa?

- Kemarin. - Apa? Kemarin?

- Aduh, Mas. - Bagaimana orang ini?

Penunjuk arahmu salah, siapa pemandu kalian?

Aduh… Sepertinya kau tidak pakai jalur resmi ya?

Mas, saranku, setelah ini lewat jalur resmi saja.

Benar, Mas.

Soalnya besok bukan hari baik kalau kau masih di gunung.

Memangnya mengapa, Mas?

Ini malam Suro Mas…

Bagaimana kau ini?

Aturan tertulisnya tidak ada, Mas, tapi lebih baik jangan.

Kau orang…

Jawa.

- Ya. - Jawa, 'kan?

- Jawa. - Pasti paham mitos-mitosnya.

- Ya sudah, Mas. - Ya.

- Permisi. - Tidak punya korek.

Menunggu petir saja.

Matahari bisa menyalakan ini.

Zeus akan datang.

Mas…

Menurutmu, mengenai Suro tadi…

apakah ada hubungannya dengan…

Mas Dicky yang…

Jangan bicara begitu, Gas.

Kalau tidak tersesat…

aku tidak akan ditemukan.

Aku justru harus berterima kasih kepada Dicky.

Itu mereka.

Hei, Len, ini sudah penuh.

- Terima kasih. - Mau ke mana?

Lihat-lihat pemandangan saja sambil menemani Mas Juna.

Sebentar ya. Mau cari tempat BAB, toiletnya penuh.

Sini aku isikan saja.

Sudah cepat, daripada bocor di sini.

Aduh, baik sekali.

- Aku BAB dulu ya. - Sana, cepat.

- BAB! - Aku ke sana dulu.

Ditutupi daun bambu

Ditutupi daun bambu

Supaya kering

Len, aku ikut kau saja, Len.

Bagus sekali, ya.

Ya.

Ini baru Pos Dua.

Bagaimana Ranu Sakuta, Pos Tiga, sampai puncak?

Memikirkan apa, Gas?

Aku jadi memikirkan Mas Dicky.

Aku juga kepikiran ke sana.

Apa kau sadar bahwa omongan dan perilakunya tidak sinkron?

Yang lebih aneh lagi, tadi aku lihat tangannya luka-luka.

Apa? Oh ya?

Kita harus lebih waspada sama dia, Gas.

Ya.

Lenni.

Lenni.

Lenni.

Tadi dengar tidak?

Ya. Kita harus waspada sama Mas Dicky.

Tidak, bukan itu.

Lo, Len?

Len, mau ke mana? Len!

Len, kok tiba-tiba jalan? Hati-hati, Len! Lenni!

Lenni.

- Mama. - Lenni!

Lo? Len!

Awas tersungkur, Len.

Jangan menakut-nakutiku. Len!

- Lenni. - Len!

Len! Ya ampun! Len!

Sudah.

Kalau kau jalan sedikit lagi…

Ada apa denganmu, Len?

Tadi ada yang memanggilku, Gas.

Aku yang memanggilmu dari sana! Itu aku, Len!

Tidak! Tadi ada suara.

Suara…

Tidak ada orang lain di sini, Len.

Aduh, botol minumnya jatuh, Len.

Sudahlah, tidak apa-apa.

Setelah ini aku belikan teh hangat, ya.

Langsung diminum saja agar kau merasa lebih baik.

Pocong!

Mas Juna, sedang apa kau?

BAB, apa lagi?

- Pocong! - Pocong? Bukan, itu Mas Juna.

- Pocong! - Mas Juna. Itu Mas Juna.

Mas Juna sedang BAB!

- Ya ampun. - Apa?

Itu lo.

Aku sudah tidak apa-apa, Gas.

Len! Itu, Len.

Teh hangatnya nanti aku belikan di sana…

Gas, hei.

Ternyata tidak harus sampai puncak ya?

Sampai puncak apa, Mas?

Belum?

Belum apa?

Cium dulu.

Kau ini merusak imajinasiku dengan Lenni saja.

Masih imajinasi ternyata?

Maka dari itu, Mas,

bantu aku saat sudah di puncak.

Siap.

Ya sudah.

Sama sekali tidak kelihatan orang mau ke puncak?

Kebanyakan orang persiapan mau turun gunung.

Nah, ini!

Ini, Teman-Teman, Ranu Sakuta. Lihat, 'kan?

Sudah tahu.

Di gerbang aku sudah beri tahu.

Ini kita taruh tas di mana ya, Gas?

Kok semuanya melihat kita seperti itu lagi?

Di sana saja, Len. Hei, Teman-Teman, di sana saja taruh tasnya.

Aku cari temanku dulu ya.

Ya.

- Aku temani, Jun. - Ayo.

Aduh, indah sekali.

Hei, Gas, Len.

Aku tinggal ke sana sebentar.

Jangan aneh-aneh kalian.

Keselamatanmu tanggung jawabku.

Ada apa-apa, pemimpin yang disalahkan.

Gas, ini kok perasaan aku makin tidak enak, ya?

Tidak enak bagaimana, Len?

Entahlah, tapi sepertinya sebaiknya

kita ambil semua barang-barangmu yang ada di tas mereka,

jadi, nanti kalau benar ada apa-apa, kita bisa langsung pergi berdua.

Bagaimana?

Ya sudah kalau begitu.

Biar aku bilang Mas Dicky untuk buka tasnya.

Oke, kalau begitu, aku bilang Mas Juna dan Mas Andrew, ya.

Ya.

Mas Dicky.

Gas, sudah bilang Mas Dicky?

Mas Andrew dan Mas Juna sudah aman?

- Aman. - Ya, buka tasnya kalau begitu.

Mas, permisi…

- Mas? - Mas.

- Ya, Mas? - Ya?

Kalian lihat orang yang bawa bendera kampus Mataram Bakti?

- Bendera kampus? Kau lihat tidak? - Tidak tahu.

Wah, tidak tahu, Mas. Maaf ya.

Permisi.

- Mas. - Ya, Mas?

Kalian lihat orang yang bawa bendera kampus Mataram Bakti?

Maaf, Mas, tidak tahu.

Mas, Mbak.

Permisi, mau tanya…

Mas, Mbak.

- Ya, Mas? - Ya, Mas?

Kalian lihat orang yang bawa bendera kampus Mataram Bakti?

- Tidak lihat, Mas. - Tidak ada.

Sebentar, aku cek ke atas dulu.

Sialan!

Rasakan!

Aku susah payah bayar pajak STNK…

Keluargamu yang makan!

- Ayo bicara! - Rasakan!

Sial, bijinya besar sebelah!

- Awas! - Aku di sini, kau di sana.

Perutmu sampai besar begini, isinya apa?

Isinya duit haram! Duit rakyat!

Kau itu mempermalukan Mataram Bakti!

Anak koruptor berengsek!

Pisau lipat.

Ini dia.

Apa?

- Apa itu? - Tidak.

Apa itu?

- Apa itu? - Batu dibungkus kain ini.

Mengapa, Len?

Itu apa?

Tidak penting, kembalikan saja. Biarkan saja.

Wah, ini sudah makin tidak jelas. Sebaiknya kita pergi sekarang.

Tidak ada mereka di sini.

Mas Juna dan Mas Andrew masih mau naik ke atas?

Kalau masih mau naik ke atas, kita naik sekarang berempat. Ayo.

Sebentar, Dicky di mana?

Kalian bertengkar?

- Bukan bertengkar begitu… - Gas…

Jangan asal meninggalkan teman. Tidak baik.

Ya sudah. Terserah Mas Juna dan Mas Andrew.

Kalau tidak mau naik, tidak apa-apa. Aku naik sendiri.

Len, jangan begitu.

Sudah mau berangkat? Kok tidak panggil aku?

Aku tidak bisa jawab, maaf sekali.

Aku harus menyusul Lenni, maaf.

- Kau mau pisah, Gas? - Len!

Ada apa dengan kalian? Wah!

Kalian tidak punya jiwa pemimpin sama sekali!

Aduh, ya ampun.

Jalannya makin begini.

Aduh.

Jadi, dari Pos Tiga ke puncak tidak terlalu jauh.

Namun, jalurnya curam dan terjal.

Herannya, Lenni bisa cepat hilang dari pandanganku.

Akhirnya, aku berlari mengejar Lenni.

Maaf, Lenni terlambat.

Len!

Lenni!

Lenni.

Lenni.

Len!

Jangan maju-maju, Len.

Lenni!

- Lenni! - Lenni.

Len! Bahaya, Len. Lenni!

Len! Aduh!

Kau ini… Aduh…

Kok melamun lagi, Len?

Ini, aduh…

Bahaya, ini sudah di puncak, Len!

Apa yang kau lakukan, Gas?

Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan, Len!

Kalau kau tidak memaksa ikut, aku tidak harus bertemu rombongan itu.

Aku bisa naik sendiri dan aku bisa sampai sini dari kemarin.

Kau ini menghalangiku, tahu?

Oke, Len.

Namun, sebenarnya apa tujuanmu pergi ke puncak ini, Len?

Aku mau menyusul Mama, Gas.

Lo, Len.

Jangan bilang begitu, Len.

Kau tidak tahu rasanya, jadi, sebaiknya diam!

Namun, jangan bilang begitu, Len.

Cie, cie, cie.

Gas…

Ciuman dulu.

Sudah jadian ya? Berani kau, Gas.

Ini harus diabadikan.

Teman-Teman, tolong!

Berikan ruang untuk Lenni.

Orang lagi bahagia.

Lihat kamera, Len.

Senyum.

Len, ada apa denganmu?

Bisakah kau tidak memaksakan kehendakmu?

Kami semua lelah selalu menurutimu.

Hei, Anak Kecil, bisa dijaga ucapanmu?

Kalau kau tidak mau foto, bilang.

Ini bukan soal foto.

Ya, Mas.

- Itu… - Lalu, apa?

Kita semua ini tidak punya pilihan!

Sialan, tidak ada rasa terima kasihnya kau.

Kau sudah aku temani sampai sini!

Tidak usah mengumpat.

Apa, Jun?

Sial!

Tidak ada yang mengerti!

- Ya, tapi jangan mengumpat… - Tidak usah ikut campur!

Sudah, Dick…

Sebenarnya kau yang menemani kami…

atau kami yang dipaksa menemanimu ke tempat tujuanmu

karena kau terlalu penakut?

- Jangan asal bicara kau… - Aku tahu barang apa yang ada di sini.

Barang tidak benar, 'kan?

Itu yang membuat kita semua tersesat dari kemarin, 'kan?

Apa yang ada di jaketmu, Dick?

Bukan urusanmu.

Kalau Lenni benar jika barang itu bisa mencelakai kita…

artinya kita berhak tahu.

Begini saja, Mas Dicky. Biar lebih mudah, kau langsung jelaskan saja itu apa?

Kalian sudah termakan omongan anak ini!

Begini, ya.

Barang ini yang ingin kalian tahu? Ini?

Ini? Barang ini penting untukku dan kalian semua.

Karena barang ini melindungi kita dari hantu!

Oh ya?

Bukan justru sebaliknya, ya?

Dari kemarin aku mengalami hal-hal aneh.

Ya, aku juga sama dengan Lenni.

Aku sudah tidak bisa.

Aku sudah tidak percaya denganmu dan aku tidak mau turun bersamamu.

- Sebaiknya, aku turun sendiri. - Len.

Jangan turun sendirian, bahaya.

Lagi pula…

kalau masih ada barang itu…

sepertinya akan tambah bahaya.

- Gas… - Maaf.

- Bagas… - Tidak ada rasa terima kasihnya kalian.

Kalian dari kemarin sudah aku jaga.

Turun saja, silakan!

Biar gancet sekalian!

Len, kau arep nang ndi?

Arep nang ndi, Len?

Lenni, nanti kau kepleset. Len!

Len!

Aduh.

Lenni? Len?

Kau tidak apa-apa, Len?

Malah aku yang jatuh, Len…

Namun, tidak apa-apa.

Aku tidak bisa jawab pertanyaanmu tadi.

Pertanyaan apa?

"Arep nang ndi?"

Artinya mau ke mana, 'kan?

Ya.

Aku tidak tahu, Gas.

Aku tidak tahu aku mau ke mana, mau apa, dan harus bagaimana.

Aku merasa seperti…

Aku hilang arah saja sejak Mama sudah tidak ada.

Tenang.

Tenangkan diri dulu, Len.

Mungkin memang aku kelihatannya cuek di depan dia, tapi aku…

Aku sebenarnya sayang sekali sama Mama, Gas.

Aku cuma punya Mama.

Aku tidak punya siapa-siapa lagi.

Aku ke sini ingin menenangkan diri,

tapi malah ketemu sama orang seperti Dicky.

Aku kesal sekali kepadanya!

Namun, kalau mau bicara soal kesal,

aku juga bingung, aku sebenarnya kesal sama Dicky

atau aku kesal sama diri sendiri karena aku yang membuat Mama tidak ada!

Aku tidak tahu.

Lo, Len…

Jangan bilang begitu, Len.

Len, sampai kapan kau mau menyalahkan dirimu sendiri?

Itu bukan salahmu, Len.

Sudah, ya? Tenangkan diri dulu.

Ayo, tarik napas.

Dick…

Kau bawa jimat itu dari bawah

atau kau ambil di atas?

Ambil di atas.

Parah kau.

Benar kata Bagas.

Jangan-jangan karena jimatmu, kita semua salah jalan…

Gunungnya marah ke kita, Jun.

Salah jalan?

Memangnya kau sendiri punya tujuan di sini?

Aku tahu kau siapa.

Keluarga Pramujito.

Sedang apa kau di sini?

Kau yang salah jalan, 'kan?

Maaf, Dick, aku hanya mau tanya…

Kau pernah pikir tidak, kalau tiba-tiba jimatmu itu…

Tidak ada manfaatnya, tidak manjur.

Aku ambil ini karena aku mengerti manfaatnya

dan sesuai dengan kebutuhanku.

Kebutuhan apa, Dick?

Yang bisa membuatmu jalan jauh sampai gunung?

- Untuk mengambil batu… - Sebentar…

Aku ingatkan lagi.

Kita hanya kebetulan naik gunung bersama.

Aku tidak perlu cerita tentang hidupku kepada kalian

karena aku bukan temanmu.

Lalu, kau…

Bukan temanku!

Kau mau cokelat, Len? Aku punya cokelat ini.

Aku merasa tidak berguna sekali menjadi anak, Gas.

Jangan bilang begitu.

Dulu, aku punya banyak sekali teman di suatu tempat.

Lama aku tidak ke tempat itu…

sekalinya ke sana, tempat itu sudah berubah, Len.

Anak-anaknya sudah disiplin, menjadi rajin dan pintar…

- Bahasa Inggrisnya kucing apa? - Aku!

- Apa, Dek? - Cat.

Tepuk tangan!

Pintar bahasa Inggris juga.

Saat aku tanya kepada mereka, mereka jawab,

"Ini semua berkat Mbak Lenni."

"Oh, Mbak Lenni? Wah…"

Maksudnya tempat itu…

Panti Asuhan Kasih Murni.

Mas Bagas dari Kampus UM, ya?

Itu di luar ada teman-temannya Mas Bagas.

- Siapa? - Ayo.

- Kalau running? - Berlari!

- Singing? - Bernyanyi!

- Talking? - Berbicara!

Lenni?

Lenni, 'kan? Benar.

- Bagas, 'kan? - Ya.

Kita satu kelas, tapi di beberapa mata kuliah.

Aku kira kau relawan bakti sosial di sana sepertiku.

Aku sama seperti anak-anak yang ada di sana, Len.

Sejak kecil, bapak dan ibuku sudah meninggal.

Namun, kalau dilihat-lihat, aku masih jauh lebih beruntung, Len,

karena aku masih punya nenek yang dari aku kecil selalu merawatku

dan aku juga beruntung karena bisa kenal kau.

Bisa belajar banyak darimu.

Pas waktu di kampus, di panti.

Aku yakin anak-anak di panti juga berpikir hal yang sama sepertiku.

Makanya, Len…

berhenti bilang kalau kau itu tidak berguna.

Berhenti, Len. Ya?

Jangan bilang seperti itu lagi. Ya?

Namun, kalau tetap merasa tidak berguna, sepertinya…

aku manfaatkan saja biar berguna, ya?

Bagaimana kalau aku manfaatkan bawa tasku yang berat ini sampai bawah.

Ingat tidak?

Kata penjaga posnya,

"Apa ini isinya? Keluargamu ya, Mas?"

"Sembarangan," ucapku dalam hati.

Tasku ini isinya budeku saja…

Budeku gemuk, makanya berat.

Memanfaatkannya seperti apa, ya?

Yang seperti ini?

Len.

Kalau seperti ini, aku yang dimanfaatkan menjadi bantal.

Kau tidak mau?

Tidak. Tidak apa-apa, Len.

Pundakku ini tercipta hanya untukmu, Len. Tidak apa-apa.

Apa-apaan kau ini?

Sudah.

Maaf ya, Len.

Terlalu terburu-buru ya?

Masih usaha saja, Gas.

Maaf, Len.

Maaf.

Hei.

Nanti di Pos Tiga, kita berkemah ya.

Jangan, Jun.

Kita harus turun.

Hei, Walang Sangit.

Kau yakin, tahu jalan?

Ya.

Kita ke puncak juga lewat sini.

- Apa? - Kau ini mengapa?

Hantu, itu hantu.

Benar ini.

Wah, gerimisnya tambah deras. Ayo!

- Sebentar. - Ada apa?

Sudah jam segini, Len.

Len, kalau misalnya kita langsung turun tidak apa-apa, ya?

Sebelum matahari terbenam, ya?

Ayo.

Gerimis sedikit tidak apa-apa, ya.

Aku senang melihatmu tersenyum lagi.

Sebenarnya aku mau bicara sesuatu, Len.

Aku…

- Gas. - Ya?

Teman-teman, ya?

Kok mereka sudah sampai?

Aku ingin berduaan denganmu, tapi…

Ya, sudahlah.

Len, jadi, aku…

- Pocong! - Pocong?

- Di sini pocong? - Pocong!

Di mana, Len?

Len, jangan bercanda.

Tidak ada apa-apa. Len? Lenni?

Lo, Lenni sudah kabur.

Len, jangan lari! Aduh, lari lagi.

Nyalakan senternya.

Nanti bisa menabrak pohon.

Teman-Teman?

Teman-Teman?

Drew? Dick?

Jangan bercanda…

Aduh… Aku menabrak, 'kan?

Ini hanya pohon…

Ini hanya pohon…

Ini hanya pohon…

Ini hanya pohon…

Ini hanya pohon…

Ini hanya pohon yang bisa jalan!

Pohonnya bisa jalan…

Sialan, bagaimana ini!

Asalamualaikum, Dick.

Bangun, Dick.

Bangun, Anak Ganteng.

Nang, ning, ning, nang, nung

Dick… Kalau sudah lunas, silakan pingsan lagi! Dick!

Terpaksa aku harus merampokmu, Dick.

Minuman tahi!

Lebih enak kacang hijau Posyandu!

Menyebalkan.

Hantu!

- Hantu! - Di mana hantunya, Dick?

- Sialan! - Pocong!

Sebentar…

Sebentar!

Ada apa dengan kalian?

Aku tadi pingsan di sana.

Ditakuti hantu.

Tadi kita lihat pocong!

Aku didekap kuntilanak di sana.

- Serius kalian mengalami hal itu juga? - Ya, di sana!

- Kalau Mas Juna? - Aku lihat pohon.

- Pohon? - Kita semua harus turun sekarang.

- Ayo, harus turun sekarang! - Tidak. Tidak, Gas!

Menurutku, kita hanya kelelahan.

Makanya, kita berhalusinasi.

Sekarang lebih baik berkemah saja.

Tidak, Mas Juna. Kita harus turun sekarang!

Kita semua harus berkemah!

Mas Juna, ayolah, tolong. Kita semua harus turun sekarang.

Jangan aneh-aneh!

Tidak pernah aneh-aneh, Nek.

Memangnya kapan berangkatnya?

Minggu depan.

- Minggu depan? - Ya.

- Minggu depan. - Ya.

Sebentar.

Minggu depan…

Ini…

- Bagas! - Apa, Nek?

Jangan mendaki, Gas.

Kok tiba-tiba jangan mendaki? Ini sudah siap semua.

Hei, minggu depan itu, besok sorenya Satu Suro.

- Apa? - Gas…

Apa?

Aku tidak kuat kalau kita harus jalan lagi.

Hei…

Jangan melamun.

Hei, jangan melamun.

Mengapa tidak boleh melamun?

Takut kesurupan?

Artinya kau percaya mistis.

Bukan begitu.

Walaupun aku lihat sesuatu, tapi bisa jadi itu pohon.

Namun…

Pohonnya bisa jalan.

Aku tadi…

Jelas sekali terlihat…

Hantu muka roda gerinda.

Benar apa katamu, Drew.

Jimat ini tidak ada gunanya.

Aku tadi…

Melihat…

Melihat kuntilanak.

Tadi aku dikejar pocong. Ya, 'kan, Gas?

Apa?

Ini pasti lebih menyeramkan.

Aku yakin.

Apa? Suster ngesot? Wewe gombel?

- Alien? - Ali…

Alien matamu!

Ini lagi membicarakan hantu.

Alien itu beda.

- Vampir Cina? - Vampir Cina?

Kok bisa Vampir Cina?

Aku tidak percaya hantu, tapi hantu lokal masih masuk akal.

Kalau Vampir Cina…

Bagaimana datangnya ke Indonesia?

Ya, siapa tahu?

Khodamnya Andrew.

Gas…

tapi tadi kau benar-benar melihat pocongnya, 'kan?

Aku tidak lihat apa-apa.

Jangan-jangan kau hantunya? Mas Der!

Kita mengundang hantu!

- Sebentar. - Lihat, kakinya menapak itu!

- Mana? Tidak lihat. - Ini.

Aku tahu!

- Siapa? - Mbak Lenni, ya?

Kok bisa Lenni?

Soalnya dia kesakitan waktu memegang jimat.

Kalau menurutku… Dicky.

- Dicky? - Mengapa?

Dia ada di gunung dan mencari jimat itu tadi.

- Pasti. Dia hantu pencari tumbal. - Mas Andrew!

Soalnya dia bayar bakso…

pakai daun?

Itu tidak masuk akal!

Aku tahu. Juna.

Coba, Hilda. Tampilkan foto mereka yang…

Nah, yang ini. Perbesar.

Perbesar ke wajah Juna. Perbesar.

Nah, lihat itu. Pasti Juna.

Mengapa?

Mukanya jelek begini, ini pasti hantunya.

Sialan kau, tidak boleh menghina begitu…

Itu namanya face shaming.

Ganteng begitu kok.

Ganteng? Matamu buta? Ini lihat.

Lihat ini mukanya mirip biawak mimisan!

Tidak. Mas Juna ganteng, 'kan, Semua? Tidak boleh begitu.

Kalau bukan Juna…

Siapa ya?

- Gas… - Ada apa, Len?

Sepertinya kalau malam ini aku harus tidur sendiri, aku tidak berani.

- Ya. - Bagaimana, ya?

Hei, bagaimana kalau untuk malam ini, kita satu tenda saja?

Ya, setuju.

Gas, aku perhatikan, kau dari kemarin belum BAB ya?

Untuk apa kau lihat aku BAB?

- Tapi belum, 'kan? - Belum.

Tidak baik kalau ditahan.

Nanti tahimu keras, lalu menjadi fosil.

Mau bokongmu digali arkeolog?

Namun, belum terasa, Mas.

Dirasakan lagi.

Belum terasa ini.

Coba di tempat gelap, biasanya langsung terasa.

- Apa? - Aku ikut.

- Ikut? Ayo. - Ikut.

Sepertinya, aku juga mau pipis.

Mau ikut, Dick?

Tidak.

Aku jaga tenda kalian.

Kalau tidak ada aku, nanti hilang semua.

Memang semuanya harus aku.

Aku ikut.

Aduh, Mas Juna.

Apa?

Aku sudah coba mengejan, tapi tidak keluar.

Dicoba lagi… Dibuka tutup bokongmu.

Tidak bisa ini.

- Mohon maaf, ini tidak bisa. - Aduh…

Aduh.

Apa itu?

Tenang, kalian bersamaku.

- Aku pemimpin kalian. Tenang. - Teman-Teman…

- Ini aku! Tidak apa-apa! - Bagas kok…

- Sial, mengagetkan saja. - Ada apa ya?

- Juna di mana? - Masih BAB di belakang, biarkan saja.

- Hei! - Apa?

Kau habis BAB. Apa tanganmu sudah bersih?

Benar, Gas!

Tidak, Len! Aku tidak jadi BAB.

Sudah dicoba, tapi tetap tidak bisa. Kalau BAB butuh ketenangan.

Hei.

Mengapa teriak-teriak?

Kau mengagetkan saja!

Hei.

Sepertinya karena kita sudah makan dan istirahat cukup,

pikiran kita menjadi tenang.

Itu sebabnya, kita tidak lihat apa-apa? Ya, 'kan?

- Benar juga. - Bisa jadi.

Sudah, kembali ke tenda. Aku belum cebok.

Menjijikkan kau, Jun.

Ayo pelan-pelan, ditandai dulu.

Pakai ditandai, tidur ya tinggal tidur…

Mengapa harus ditandai?

Lenni harus lebih nyaman di sini.

Kalian yang nyaman saja.

- Sudah, tidur saja bersama. - Ya, 'kan, Len?

Ya, tapi aku tidur di sini sendiri, dan kalian di sana, 'kan?

Kok bisa seenaknya begitu?

Tadi sudah bilang katanya oke. Bagaimana?

- Oke, bersama! - Bersama.

Gas, kita di sini bertiga.

Tidak apa, hadap sini saja.

Kau mau tidur bersila, sempit ini.

Kau pikir aku tokek, disuruh tidur di dinding?

Kalau bisa, kau menjadi tokek saja.

Sudahlah.

Turunan. Pelan-pelan.

Turunan, pelan-pelan.

Len, tunggu sebentar.

- Apa? - Lihat itu.

Mas Juna!

Kemarin tidak kau kubur?

Tanahnya keras, jadi, tidak bisa digali.

Namun, tenang, sudah aku tutupi daun.

Ditutupi daun, memangnya pepes?

Lebih baik dipresto saja.

Supaya empuk tahimu.

Hati-hati melangkah, nanti kena ranjau Juna.

Pelan-pelan.

- Len! - Apa?

Itu tahinya Mas Juna, bukan?

Lintah itu, Len.

- Tidak tahu. - Masa kau tidak tahu, Gas?

- Tadi kau yang lihat. - Aku tidak lihat sampai segitunya, Len.

Lekukannya aku tidak hafal.

- Serius sekali. Diskusi apa? - Ini diskusi penting.

Kalau benar ini tahinya Mas Juna, berarti dari tadi kita berputar saja.

Sekarang kau lihat.

Benar tidak, itu yang kau lahirkan tadi malam?

Tidak tahu.

Bisa saja itu punya pendaki lain.

Kok mirip mancungnya sama hidungmu?

Ya sudah, begini saja.

Aku BAB lagi biar kalian tahu perbedaannya.

Kok bisa mau BAB lagi? Kelamaan.

Begini saja.

Aku kasih ini saja.

- Sapu tangan. - Untuk apa itu?

Aku taruh sini, kalau nanti lihat sapu tangan ini,

- berarti kita benar hanya berputar-putar. - Setuju.

- Taruh sini, ya. - Gas!

Tanganmu.

Pegang tahi itu.

- Sudah, ya. - Baiklah, ayo.

Sudah. Ayo berangkat lagi.

Pelan-pelan.

Ya ampun! Aduh…

Ternyata kita cuma berputar-putar.

- Tidak usah mengumpat. - Karena tahimu ini.

Teman-Teman, aku lelah, sudah tidak kuat.

Sepertinya kalau kita jalan lagi…

kita terus berputar di sini.

Ini… Persediaan kita menipis.

Lebih baik kalau mau makan,

jangan makan mi dulu ya.

Karena persediaan air tinggal sedikit.

- Aku tidak makan, Gas. - Tidak lapar?

Jangan-jangan lambungmu ditanam singkong ya?

- Ya sudah, aku tidur dulu. - Aku juga.

Gas, lemparkan satu roti.

Tinggal sedikit ini, Mas.

Sialan! Satu saja, perhitungan sekali.

Lambungku tidak ada singkongnya, tidak seperti Juna.

Aku tidur juga, ya.

Ya, Len.

- Dah. - Selamat tidur, Len.

Terima kasih.

Jun, aku kedinginan… Peluk dari belakang.

- Malas! - Pelit kau.

Tidak!

Coba, Mas.

Bisa lagunya Yowis Ben?

Lama tidak kelihatan, Yowis Ben?

Ya.

Lagu yang mana?

Yang paling baru?

Bisa?

- Bisa. - Aku yang bernyanyi.

Sangar.

- Ya sudah, aku tidur dulu. - Ya.

Kau pembawa masalah ini.

Aku hanya ingin kembalikan kau ke asalmu.

Jadi, tolong…

lepaskan aku dan teman-temanku agar kami bisa turun dengan tenang.

Terima kasih, ya.

Kok tiba-tiba aku tidak enak badan ya?

Seperti ada yang berat.

Apa karena ketakutan?

Kau parno, ya?

Dengar ceritanya Medeni Pol?

Penakut.

Terus, Mas Bagas.

- Ya? - Lanjutannya bagaimana?

Jadi, kami memutuskan…

menginap lagi di Gunung Madyopuro.

Kau betah, ya?

Bagaimana bisa tinggal lebih lama dadakan?

Biasanya harus buka web, pendaftaran, nomor, surel, tidak bisa mendadak.

Hei, tidak! Ini bukan hotel. Tidak.

Mereka itu tersesat. Disesatkan.

Mengapa tahu disesatkan? Karena ada penanda di tahi.

Tahi itu idealis…

Soalnya teguh pada pendirian. Menancap di sana.

Menancap.

Kau itu selalu punya asumsi yang membuat otak kusut dan ruwet.

Nah, ruwet.

Pada waktu itu, Mas Der, situasinya sudah ruwet.

Hari keempat, siang hari kami ketemu tahi lagi.

Ya ampun, ini lagi.

Aku masukkan saja ya tahiku?

- Yang benar ke sana. - Sudah kutandai.

Saling debat…

Keliling cari air tidak ketemu.

Malamnya, Lenni teriak…

"Pocong!"

Hari kelima. Siang hari, ketemu lagi tahinya Mas Juna.

- Aku injak-injak juga kau ya! - Jangan!

Pinjam parangmu! Aku potong sampai kecil-kecil!

- Aku bacok kau ya! - Kasihan.

Sebentar, tunggu dulu!

Sudah, itu terakhir.

Ini sudah bau.

Hari ini perbekalan sudah habis.

Makan seadanya saja, daun pun ditelan semua.

Malamnya, Mas Dicky mendadak teriak histeris…

- Hantu! - Hantu!

Hari keenam…

Ada yang beda sekarang.

Kok ada jamur di tahinya Mas Juna…

Lalu, membuat mengiler.

Ada yang bawa cabai?

Aku dapat belalang. Di sana banyak belalang.

Malam ini kita makan belalang saja.

Sudah aku coba paha atasnya, enak.

Malamnya, Mas Andrew menjerit-jerit…

"Kuntilanak!"

Hari ketujuh, aku sudah tidak kuat.

Seperti demam.

Mungkin karena makan jamur dari tahi Mas Juna.

Sabar ya, Gas.

Mas Andrew sedang mencarikan makanan untuk kita.

Sudah.

Daun paling enak, hari ke berapa ya?

Daun lagi.

Sampai hijau tahiku.

Mau bagaimana lagi? Belalangnya habis. Sepertinya punah.

Hei, Bagas diajak bicara terus, ya.

Jangan dibiarkan diam.

Aku berburu kelelawar dulu.

Gas, nanti kalau sudah di bawah mau makan apa?

Mau makan daun.

Kok daun? Sudah gila.

Teman-Teman, aku dapat ular.

Ular.

Astaga.

Bukannya tidak boleh makan ular?

Situasi terdesak, Len.

Sepertinya yang ini benar mengelupasnya.

Masih ada kulitnya, tidak tega.

Enak itu!

Enak.

Enak!

Wah, badanku menjadi lebih enak.

Khasiat daging ular langsung membuat tubuhku segar.

Wah…

Badanmu sudah besar, jangan tambah lagi.

Drew, apa kau benar-benar hanya menangkap satu ular?

Jangan-jangan di sana kau sudah mengemil kadal.

Hei!

Aduh!

Rakus sekali, ya. Sudah biasa makan daging ular?

Atau jangan-jangan sudah biasa makan dupa?

Apa maksudmu?

Sekarang aku mulai paham mengapa kita menjadi begini.

Aku teringat ucapan tukang bakso di Pos Dua.

Kalau sudah ada yang "mengikuti".

Salah satu di antara kita adalah hantu.

Ya, aku hantunya.

Di sini aku paling jelek.

Sebentar…

Jika salah satu di antara kita hantu,

yang paling jelas dan nyata adalah Andrew.

Apa? Kok bisa aku?

Juna setiap selesai makan pasti hilang ke pepohonan.

Aku BAB, Drew!

Itu tahiku masih menongkrong di sana!

Gila, tahinya dirubungi kelelawar.

Namun, kita menemani Mas Juna BAB cuma sekali.

Mas Juna BAB berapa kali?

Kita mana tahu Mas Juna melakukan apa saat BAB sendiri.

Kau sendiri bagaimana?

Jangan-jangan yang ada di sini adalah arwahmu.

Sebenarnya kau ini sudah mati bersama ibumu saat kecelakaan?

Mas Juna! Bisa-bisanya…

- Bodoh kau! - Len…

- Maksudnya apa? - Bukan begitu, Len…

Kalau mau mengobrol sama mereka, terserah!

Namun, bukan berarti kau bicara tentang masalahku!

- Bukan hakmu! - Mas Juna!

Bisa-bisanya bicara seperti itu!

Aku pikir kau itu orangnya baik!

Ternyata mulutmu julid!

Ucapanmu busuk seperti mukamu!

Jun, bukan begitu caranya bicara sama perempuan.

Len…

Maaf ya, Len.

Itu sepertinya bukan Mas Juna.

Dick, ini masih manjur tidak?

- Mengapa ada padamu? - Tidak usah kujelaskan, coba dulu cepat.

Aku coba dulu, ya.

Manjur ya?

- Sudah. - Dicky.

- Dick, bayar utangmu! - Kau!

Hantu!

Kuntilanak!

Mas Andrew!

- Lenni. - Pocong!

- Lenni! - Pocong!

Lenni!

Pohon!

Satu per satu kejadian yang aku alami…

aku renungi.

Mengapa hanya aku yang tidak melihat hantu?

Mengapa Lenni, Mas Andrew, Mas Juna, Mas Dicky…

dikejar hantunya masing-masing?

Lalu, "jangan menoleh ke belakang".

Ini maknanya apa?

Sebenarnya, bukan tidak boleh menoleh ke belakang begini.

Kalau kalian mendaki di gunung…

Kalau di belakang ada temanmu yang celaka, menolehlah ke belakang.

Len!

Yang disebut tidak boleh menoleh ke belakang, itu ternyata…

Jangan menoleh terus-menerus ke masa lalu yang kelam.

Karena masa lalu yang kelam bisa merusak masa kini

jika terus dipikirkan.

Lenni!

Gas!

- Lenni! - Aku di sini, Gas!

Len! Lenni!

Lenni!

Aku dikejar sama pocong yang tadi terus, Gas!

Sebentar…

Sebentar dulu, Lenni.

Satu-satunya cara agar kau bisa lepas dari pocong ini…

kau harus menoleh ke belakang, Len.

Kau gila, ya?

Kau yang selama ini bilang jangan melakukan itu!

Itu sebelum aku paham mitosnya seperti apa.

- Lenni. - Tidak! Aku tidak mau.

Kau harus menoleh ke belakang.

- Aku tidak mau! - Kalau misalnya kau tidak… Lenni!

- Ini demi kau juga. - Aku takut.

Aku juga tidak mau melihatmu terus seperti ini. Tolong, Len!

Atur napas.

Rileks. Lenni, lihat aku.

Menolehlah ke belakang. Ya?

Kau harus hadapi, Len.

Lenni.

Lenni.

Lenni.

Bagas.

- Tidak apa-apa. Aku di sini, Len. - Aku takut!

Jangan takut. Jangan takut, Len.

Kalau kau tidak berani, dia akan mengejarmu terus, Len.

Satu-satunya cara, hadapilah, Len.

Mama?

Jadi, selama ini Mama?

Lenni minta maaf ya, Ma.

Lenni tahu Lenni salah.

Mama kalau merasa kesepian di sana,

Mama mau bawa Lenni, Lenni mau kok ikut sama Mama.

Ya?

Lenni berharap mati saja waktu kecelakaan biar bisa terus sama Mama.

Len, jangan mati.

Kalau misalnya begitu, kau menyerah sama masa lalumu.

Kau harus menghadapi masa lalumu, Len.

Aku… Aku menyayangimu, Len.

Kalau misalnya perasaanku saja kurang,

ingat anak-anak panti, Len.

Mereka pasti akan merasa kehilangan, Len.

Lenni sayang…

Kesayangan Mama.

Mama tidak akan mengajakmu pergi.

Mama hanya mau memastikan,

kalau kau dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu.

Kau jaga diri ya, Anak Cantik.

Janji?

Len…

Bagaimana, Len?

Berhasil, 'kan, Len?

Sungguh berhasil, 'kan?

Terima kasih ya, Gas.

Aku sekarang sudah bisa mengikhlaskan Mama.

Syukurlah.

Syukur.

Kuntilanak!

Kuntilanak!

Sialan, salahku apa?

Tidak usah mengejar aku, Hantu Sialan!

- Itu hanya pohon! - Kita harus kasih tahu mereka.

- Ya, kita harus kasih tahu. - Kuntilanak!

- Mas Andrew! - Gas!

- Sialan! - Mengapa, Len?

- Yang lain bagaimana? - Mas Andrew, Len!

Hantu sialan, ejek matematikaku jelek, aku tidak marah.

Itu hanya pohon!

Ini banyak sekali! Ada di sana dan di sana!

Sebentar, tapi ke Mas Andrew dulu, Len!

Mengapa kau ikuti aku terus?

Itu hanya pohon!

Kuntilanaknya muntah! Masuk angin! Sialan!

Ternyata hantu itu sungguh ada.

Aku hamil, Mas…

- Menoleh belakang! - Teman-Teman! Menoleh ke belakang!

Teman-Teman, kalau kalian mau selamat dari ini semua,

menolehlah ke belakang!

Ke belakang, matamu!

Aku tidak mau menoleh ke belakang.

Aku sudah melakukannya dan berhasil!

Jangan lari dari masa lalu kalian!

Menoleh sekarang!

- Menoleh ke belakang! - Menoleh ke belakang!

Menoleh ke belakang!

Michelle?

Papa tidak sayang aku, ya?

Gila kau, ya!

Bisa-bisanya kecolongan sampai seperti itu!

Sama perempuan yang tidak selevel sama kita!

Tolol!

Sekalian aja kau keluar dari rumah kalau masih mau sama perempuan ini!

Papa minta maaf, Nak.

Papa sempat mau meninggalkanmu.

Mulai sekarang, Papa tidak akan lari.

Papa akan selalu ada untukmu.

Papa tidak ingin kau merasakan apa yang Papa rasakan selama ini.

Hebat adikku ini. Keren kau.

- Ayo berangkat. - Pa, ini.

Aku sudah lulus dari Berkeley University of California.

Alah, tidak penting.

Drew.

Bisa tidak kau membanggakan Papa seperti engkohmu ini?

Tidak ada satu pun dari kau yang bisa Papa banggakan.

Papamu tidak pernah dianggap oleh orang tuanya sendiri.

Papa akan membesarkanmu.

Papa akan menyayangimu.

Selamanya.

Terima kasih.

Sialan!

Mau apa kau ke sini?

Aku mencari dukun, Mbah…

Kau dukun atau bukan?

Aku ini dukun tiban, Nak.

- Tiban apa? - Genteng.

Aku pulang saja, tidak jadi sama kau.

Sebentar.

Aku ini dukun tersohor.

Pengantin baru ke sini karena tidak cocok.

Kuobati hari Rabu, Kamisnya…

- Rukun. - Cerai!

Makin parah!

Aku tidak jadi minta tolong kepadamu, pulang saja.

Ada apa?

- Aku ini sedang susah. - Susah mengapa?

- Diteror hantu. - Hantu?

Hantu…

- Kok tidur? - Tidur dengkulmu.

- Itu tadi? - Sedang berpikir! Apa-apaan kau ini?

Lalu, apa solusinya?

Sehari sebelum tanggal satu Suro, kau naik Gunung Madyopuro.

Sucikan diri…

Cari air mengalir.

Kalau sudah mandi di sana, ambil batu.

- Berapa? - Sembilan kubik.

Mbah mau bikin tanggul ya?

Satu saja, tidak usah banyak-banyak.

Kalau nanti hujan, artinya manjur.

- Berhasil ini? - Berhasil. Sepertinya.

Lo?

Mengapa mengejar aku terus?

Kita ini sama-sama orang susah, Dick.

Aku menagih utangmu bukan karena aku dendam,

tapi memang karena pekerjaanku.

Aku cari nafkah untuk anak dan istriku.

Sekarang aku tidak bekerja.

Anak dan istriku makan apa?

Tanaman tetanggaku?

Tetanggaku tanam cabai semua.

Menceret mereka setiap hari, Dick.

Istriku cantik…

Anakku lucu.

Kalau aku sudah mati begini, aku tidak bisa bertemu, Dick.

Kau paham tidak?

Tanggung jawablah.

Bayar utangmu.

Jangan lari terus.

Aku minta maaf…

Aku tidak pernah berpikir sejauh itu.

Aku pikir kau yang menyusahkan hidupku.

Ternyata aku yang membuat hancur hidupmu.

Aku akan berhenti main judi slot.

Aku akan menjual semua barang-barang yang mahal

untuk bayar utang-utangku

supaya bonusmu bisa dikirim kepada anak dan istrimu.

Maaf ya.

Terima kasih ya, Dick.

Kuharap kau bisa pegang janjimu.

Aku pasti pegang janji.

Namun, kalau utang-utangku lunas,

limitku bisa naik?

Aku tampar kau seumur hidup!

- Bercanda. Maaf. - Ya sudah, Dick.

Kalau bertemu anak dan istriku,

sampaikan kalau aku sayang mereka.

Besar sekali!

Seperti King Kong sehat!

- Mas Juna! - Itu apa?

Besar sekali!

Jun, dasar bodoh.

Kau pikir itu domba garut?

Dikasih makan daun begitu.

Lalu, aku harus bagaimana?

Coba ajak bicara. Soalnya aku tadi begitu.

Om Genderuwo.

Dosa aku apa?

Kok begitu?

Teman-Teman, ini bagaimana?

Sebentar!

Jangan-jangan, ketika kau BAB, pohonnya itu rumah dia.

Maaf, Om.

Aku tidak tahu itu rumahmu.

Sepertinya, bukan karena itu.

Jun, fokus! Konsentrasi!

Ingat momen yang berhubungan dengan genderuwo itu.

Sebentar.

Konsentrasi.

Apa?

- Tidak ada. - Sialan!

Coba ingat-ingat lagi kapan pertama kali Mas Juna ketemu Genderuwo itu!

Pas aku sendirian gara-gara ditinggal Andrew dan Dicky!

Apa? Saat sendirian?

Sebentar!

Mas Dicky, Lenni, Mas Andrew,

hantunya datang ketika tidak sendirian, 'kan?

Saat sedang bersama, langsung datang. Langsung teriak-teriak, "Hantu!"

- Ya. - Mengapa kau sendirian?

Tunggu.

Ini bukan hanya aku yang lihat hantunya, 'kan?

- Tidak, 'kan? - Tidak.

- Kau lihat, 'kan? - Aku lihat.

- Ya. Lihat. - Mas Andrew lihat, 'kan?

Tunggu, Gas.

Jangan-jangan genderuwo ini hanya ingin berteman dengan Juna.

- Apa? - Sungguh.

Hantunya mengangguk. Artinya…

- Genderuwo ini… - Hantu sungguhan.

Jadi, kalau begitu, Mas Juna…

Juna ganteng.

Aku lihat kau mirip Jungkook?

Sembarangan saja.

Juna, hari ini kita tidak ada yang bawa uang tunai.

Apa kau bisa membayarnya dulu?

Bisa.

Pak, berapa?

Ketiaknya becek!

Gunung Madyopuro!

Gunung Madyopuro aku taklukkan.

Jun! Ayo, cepat!

- Sebentar. Satu dorongan lagi. - Cepat!

Kita sudah keluar dari jalur trek, Jun.

Ya, sebentar.

Masa BAB di tempat terjal?

Biar langsung menggelinding tahinya.

Tinggalkan saja?

- Ya sudah, ayo. - Juna!

Kami tunggu di Pos Tiga.

Dekat kok.

- Sepertinya… - Hei.

- Mas! Mas Juna! - Juna!

Dia pantas diperlakukan seperti itu.

Lihat saja mukanya hitam begitu. Kena azab.

Hei, Anak Koruptor!

Seperti penyu kecil muntaber.

Kebanyakan makan sedotan.

Bodoh!

- Bodoh sekali! - Tidak apa-apa. Peloroti saja…

- Duit! - Dapat tas!

- Mas Juna! - Yang korupsi itu bapakku, bukan aku.

- Mas Juna! - Aku hanya ingin punya teman…

Mas Juna!

Lo?

Maaf, Teman-Teman.

Ternyata aku hantunya.

Namun, santai saja…

Aku…

Aku tidak akan mengganggu kalian.

Jun!

Maaf!

Aku salah, Jun!

Aku pernah bilang kita bukan teman…

Aku sahabatmu, Jun.

Mas Juna.

Jangan pernah merasa sendiri, ya.

Kita semua peduli sama Mas Juna!

Kami semua sahabat Mas Juna.

Kita tidak akan meninggalkanmu.

Jun, aku tunggu di sini ya?

Sampai dievakuasi.

Terima kasih ya, Teman-Teman.

Akhirnya aku…

Merasakan punya sahabat yang tulus…

Aku mengerti…

mengapa aku hanya menampakkan diri kepada kalian.

Terima kasih.

Wajahmu putih…

Menangis.

Jadi ingat boneka santet.

- Berengsek. - Sembarangan kau, bilang boneka santet.

Dia lebih mirip manusia silver.

Mengamen di lampu merah.

Sudah menjadi hantu, masih butuh uang juga.

Setelah tujuh hari pencarian awal,

dan berbekal para saksi yang ada di sini…

Penjaga pos pendaftaran.

- Dan… - Pedagang bakso Pos Dua.

…serta beberapa tanda keberadaan korban…

…tapi dengan berat hati,

pencarian kami tutup.

Lo, Pak? Jangan ditutup, Pak!

Pak, jangan ditutup. Tolong jangan ditutup.

Dengan ini, para korban dinyatakan hilang.

Pak!

- Bu. - Tidak bisa. Bagas!

- Bu. - Bu, sabar.

Bagas!

Bagas!

Mengapa ramai sekali?

Tidak mengerti, Len.

Ada apa ini?

- Cucuku! - Michelle.

- Pak! - Michelle!

- Cucuku, Pak. - Drew?

Andrew! Drew!

Drew!

Kau kok tahu aku ada di sini?

Sinyal ponselmu terakhir di sini.

Puji Tuhan kau sudah kembali.

Aku tak akan bisa menjalani ini sendirian.

Mbak Lenni!

Mbak Lenni!

Mbak Lenni ke mana saja?

Mbak Lenni kok hilang?

Ya, kok hilang?

Sudah, jangan menangis ya. Mbak Lenni di sini.

Lenni?

- Lenni, 'kan? - Nenek?

Lenni!

Bagas di mana, Len?

Bagas di mana, Nak?

Nek, Bagas di atas. Bagas selamat.

Bagas lagi menemani teman kami yang tidak bisa turun.

Sungguh? Bagas selamat?

- Bagas selamat. - Tidak apa-apa?

Ini!

Lo, ini mereka?

- Lo? - Lenni!

- Benar, 'kan? - Ini Andrew?

- Benar, 'kan? - Ini ketemu.

Pucat, seperti bubur kemarin sore. 'Kan?

Sampai detik ini…

aku bersyukur sekali.

Ya Allah, terima kasih.

Aku bisa turun

dan bisa selamat dari kejadian yang seperti itu.

Sumpah, Mas Bagas.

Aku tidak menyangka kalau ceritamu sebenarnya begini.

Lalu, arwahnya Mas Juna sudah tenang?

Lo?

- Kok tidak hilang? - Ini konsepnya apa?

Ada apa ya?

Kok begitu?

Sedang apa dia?

Ya, tidak tahu.

Lihat, 'kan?

'Kan?

'Kan?

'Kan?

Berarti…

Di pemakaman, arwahnya baru tenang?

Ayo serius, kita sudah menangis begini.

Jangan cengengesan, Mas.

Baiklah.

Mas Juna itu…

dari tadi di sini.

Jangan keluar!

Kalau keluar, Mas Juna marah.

Jangan ada yang keluar.

Tidak keluar kok.

Hei!

- Lenni! Itu Lenni! - Lenni siapa?

- Itu Lenni! - Lenni?

Mbak Lenni?

Lenni!

- Suruh masuk, Hilda. - Halo, Semuanya.

Ini masih siaran langsung?

- Oh ya! - Oh ya!

Masuk frame.

Oh ya. Itu ada kursi ya?

- Silakan, Mbak. - Kau di sini, ya?

Duduk di sini, Len.

Lalu, sekarang Mas Juna ada di mana, Mbak?

Dia gentayangan ya?

Mas Juna sebenarnya ada di…

- …atas Mas Deri. - Apa?

Di atasku?

Mengapa jadi aku? Gila!

Pantas saja pundakku rasanya berat.

Memangnya aku kursi warkop?

- Dyny! Tutup acaranya, cepat. - Apa? Itu…

Mas Bagas, Mbak Lenni, dan Mas Juna, di mana pun berada…

- Terima kasih sudah… - Dyny…

Sepertinya Mas Juna belum mau selesai siniarnya

soalnya dari tadi begini terus.

Apa yang Mas Juna mau?

Apa?

Apa, Mas?

Apa lagi ini?

Cium dulu.

Wah!

Maaf ya, Mas, aku tidak bisa kalau seperti itu.

Aku tidak bisa, ini siaran langsung. Ditonton banyak orang, Mas.

Sudahlah, Mas, turuti saja.

Aku mau ketemu ibuku. Ikuti, Mas.

- Ayo, tolong. - Gas.

- Sudahlah, tidak apa-apa. - Lo, tapi…

Sialan. Hantunya mesum.

Der, bukan mesum.

Itu artinya, Mas Juna itu orangnya manis…

Dia mau teman-temannya bahagia.

Berarti sudah jadian?

- Kan… - Ya…

Sepertinya yang tadi menjawab itu.

Gemas sekali!

Selamat!

Melihat kalian berdua, kira-kira suasana pranikahnya…

Dyny sialan, kok bisa-bisanya pranikah?

- Apa lagi? - Kosong tujuh…

Apa lagi dia?

Cium dulu.

Siniarnya ditonton banyak orang. Kalau seperti itu tidak bisa, Mas.

Apa? Dia minta apa? Turuti sajalah.

Kalau begini, tidak…

Mas Deri. Dyn…

Masa begini?

- Astaga… - Apa?

Gas.

Ada apa, Len?

SINIAR MEDENI POL

SIARAN LANGSUNG

Sekarang aku sudah tahu!

Siapa?

- Menurutku, Mas Juna! Sialan, aduh! - Tadi katanya bukan?

Kau larang aku ejek Mas Juna, mengapa tiba-tiba menuduh dia hantu?

Aku tidak bilang jelek…

Hanya bilang muka dia mirip ginseng Korea.

Menyeramkan.

Mukanya berakar.

Ya ampun, Lenni! Len!

Len, di depanmu ada orang syuting.

Dan kau… bukan temanku!

Astaga.

Ayo serang.

Janjiannya tidak begitu!

Kau tidur tidak menutup tenda.

Kemasukan pejabat blusukan, kaget kau.

- Bodoh! - Bodoh!

Memang itu yang dikasih Dono.

Teman-Teman… Aku dapat belalang. Di sana banyak belalang.

Kita nanti malam makan belalang saja. Sudah aku coba satu, enak. Ya?

- Yakin kau makan bapakmu? - Mengapa ketawa?

Teman-Teman… Aku dapat belalang. Di sana banyak sekali belalang.

Banyak sekali.

Sialan.

Teman-Teman… Aku dapat belalang. Di sana banyak sekali belalang.

Kita nanti malam makan belalang saja. Sudah aku coba satu paha atasnya. Ya?

Teman-Teman… Aku dapat belalang. Di sana banyak sekali belalang.

Kita nanti malam…

- Sialan kau, Fir. - Bukan!

- Bukan aku, dia duluan. - Itu ketawamu.

Teman-Teman… Aku dapat belalang.

- Salah ambil lagi. - Sialan.

- Aku lupa. - Aku sudah tahan ketawa.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.