Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Seorang sastrawan pernah berkata,
"Semua yang kalian lihat bisa menjadi dongeng.
Dan kalian bisa mendapatkan cerita dari semua yang disentuh."
Sayangnya, cerita ini bukan sekadar dongeng.
Ini adalah kisah hidupku.
Benar-benar terjadi padaku.
Dan kalian akan menjadi saksi kisah itu.
Kan saya duluan yang mau parkir.
Kok main serobot saja?
Maaf, Mbak, ini parkiran dosen bukan, ya?
Iya, sih.
Ya sudah. Mbak parkir di sini saja. Saya cari tempat lain.
Tidak. Tidak usah…
Tidak apa-apa. Nanti telat loh.
Asalamualaikum.
- Alaikum salam. - Alaikum salam.
Selamat pagi, Semuanya.
Pagi, Pak.
Perkenalkan, nama saya Aris Nazif Baihaki.
Sementara ini, saya menggantikan Pak Junaedi…
Ada yang lulusan S2 Denmark itu, loh.
Yang beasiswa.
Sebelum kita mulai, barangkali ada pertanyaan?
Pak!
Bapak kan mengajar Sosiologi Keluarga, ya…
Bapak sudah berkeluarga?
- Sudah. - Sudah?
Kebetulan saya lahir dari sepasang orang tua.
Keluarga juga, bukan?
Oh iya.
Lucu, loh.
Saat ini saya masih lajang.
- Saya tinggal… - Lajang.
…bersama dengan keluarga kakak saya di Ungaran.
Kalau ada yang punya pertanyaan lain, silakan?
Kalau tidak ada, kita langsung mulai.
Silakan semuanya buka buku Sosiologi Keluarga-nya di bab 20.
Pak.
Saya mau minta maaf, Pak, soal yang tadi.
Soal apa, ya?
Itu loh, Pak, soal yang di parkiran.
Oh, di parkiran. Tidak apa-apa, bukan masalah.
Itu parkiran Pak Junaedi, bukan hak saya juga.
Tidak apa-apa, kok.
Pak, tapi benaran maaf, ya. Saya tidak tahu, Pak.
Tidak apa-apa, benar, santai.
Siapa tadi lagi namanya?
Nama saya? Anisa Nazafarin, Pak.
- Nisa? - Iya, panggilannya Nisa.
Kalau saya tidak ditanya siapa namanya, Pak?
Kamu siapa namanya?
Nama saya Manda, Pak.
Manda saja?
"Mandangin Bapak tidak kelar-kelar!"
Saya bercanda, Pak. Nama saya Manda Cantika Saputri, Pak.
Saya juga bercanda.
Asalamualaikum.
Bercandanya aneh sekali, Nis.
Hal-hal yang menjadi perspektifnya ada…
- Tak usah, Pak. - Tidak apa-apa.
- Parkir di mana? - Di samping, Pak.
Hei!
Ambillah!
- Pak, tidak enak… - Tidak apa-apa.
Yah.
Tunggu sebentar, ya.
Tadi kan saya bilang tunggu sebentar.
Mana kuncinya?
Ayo.
Dik, tolong bukakan pintunya, Dik?
Mbak lagi tidak pakai hijab.
Asalamualaikum.
Rani!
Iya, Mbak.
Alaikum salam.
Ini Mas Aris, ya?
Aku Rani. Adiknya Mbak Nisa.
Loh, memang Nisa punya adik?
Bercanda. Salam kenal.
Mbakmu ada?
Ada. Yuk, masuk.
Asalamualaikum.
Astagfirullahaladzim!
Panas!
- Mas, taruh! - Pegangi! Panas!
Mas, taruh di situ!
Panas sekali tangannya?
Tidak apa-apa, cuma melepuh saja.
Mbak Nisa, dikompres saja pakai air.
Jangan pakai air, nanti makin melepuh.
Biar aku ambil salep saja, ya.
- Sebentar, Mas. - Tunggu.
Maaf ya, bunganya bergetar. Soalnya yang kasih juga gemetaran.
Aduh, Mas.
Kamu itu lain kali kalau mau datang bilang sama aku,
kan aku bisa siap-siap.
Aku itu tadinya berniat mau kasih kejutan sama kamu.
Malah aku yang dapat kejutan.
Aduh!
Ini, maksudnya yang ini, yang sakit.
Ya ampun. Aduh, Mas.
Ini boleh kali dimakan, ya?
Coba dong.
Bismillahirrahmanirrahim.
Ini kuemu…
enak sekali!
Yang benar?
Benar!
Kamu tidak mau coba jualan saja?
Sebenarnya aku itu ingin, Mas, punya toko roti.
Tidak usah terlalu besar, yang penting tempatnya nyaman.
Ayo, coba buka.
Ya, nantilah kalau sudah menjelang skripsi,
takut mengganggu kuliah.
Nanti aku bantu.
Serius?
Serius.
Aku itu suka sama sosok perempuan yang mandiri.
Karena dulu, almarhum Ibu…
itu juga sosok perempuan yang mandiri.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Masyaallah, cantiknya.
Pintar kamu memilih calon.
Siapa dulu, Mbak?
Aris itu anak bungsu, aku di atasnya persis.
Dia anaknya pendiam, penurut.
Dan kalau punya keinginan, selalu dipendam sendiri.
- Oh, ya? - Sampai tahu-tahu
dia bisa dapatkan dengan caranya.
Contohnya?
Pas waktu SD, dia pernah ingin sekali beli sepeda.
Dan dia rela tidak jajan, menabung uang pemberian dari Ibu,
buat mendapatkan sepeda itu.
Tidak terbayang sih, hebat.
Ayo, membicarakan aku, ya?
Orang Mbak lagi jualan, kok.
Jualan apa, Mbak?
Jualan kamu ke Nisa.
Mbak, mending dicoba.
Oh, iya. Ini buatan Nisa, ya?
- Iya, Mbak. - Aku coba, ya?
Enak sekali.
Aku coba.
Bagaimana rasanya?
Enak. Legit!
- Enak, 'kan? - Iya.
Enak sekali tumpang koyornya, Bu.
Ibu memang sukanya masak masakan yang seperti ini.
Tumpang koyor, lodeh…
- Brongkos. - Brongkos.
Kalau Nisa ini memang sukanya roti-rotian.
Jagonya.
Mas, dulu itu Ibu sempat punya katering pas Bapak masih ada.
Tapi setelah Bapak meninggal, akhirnya ditutup.
Maaf, Bu,
kalau saya boleh nanya…
Bapak tidak adanya itu sejak kapan?
Sejak Rani masih usia lima tahun.
Hampir sama kayak saya.
Bapak tidak ada itu pas saya belum genap delapan tahun.
Iya, ini. Makanya, Rani itu manja sekali sama Ibu.
Iya, kan? Dia suka diperhatikan terus.
Mengambek?
Merengut saja.
Tidak!
Dia mengambek, Bu.
Bu…
saya mohon rida dan restu dari Ibu untuk melamar
Nisa untuk menjadi istri saya.
Untuk menyempurnakan separuh agama.
Yah…
Kalau Ibu, semuanya tergantung Nisa.
Kalau dia mau, Ibu pasti meridai.
Mas Aris…
ini adalah perjanjian yang sangat berat.
Perjanjian yang mengguncangkan Arsy Allah.
Jangan sekali-kali kamu langgar perjanjian ini ya, Mas Aris.
Istrimu itu amanah dari Allah buatmu.
Jaga dia sebaik-baik kamu menjaga dirimu.
"Qul huwallaahu ahad."
Artinya?
"Dialah Allah adalah Maha Esa."
Lanjut.
"Allaahussamad."
"Hanya Allah-lah tempat bergantung."
Betul.
"Lam yalis…"
"Lam yalid…"
Ini bukan "zal", Nak. Ini "dal".
"Lam yalid…"
"Lam yalid wa lam yuulad."
Sayang, mau angkat telepon dulu dari Uti, ya.
- Oke, Ma. - Sebentar.
Asalamualaikum, Bu.
Alaikum salam.
Nis, Ibu kan sudah kasih lihat ke Rani,
foto-foto kos-kosan yang kemarin kamu cerita itu, loh.
Lalu Rani bagaimana, Bu? Suka?
Dia sih iya-iya saja, tapi bagaimana ya?
Apa, Bu?
Ibu itu kurang sreg kalau adikmu mengekos.
Ibu itu takut kalau di Semarang adikmu tidak ada yang mengawasi.
Coba dia bisa tinggal sama kamu.
Ibu mau Rani tinggal dulu sama aku?
Begitu, Bu?
Tidak.
Itu cuma kekhawatiran Ibu saja.
Sudah, tidak usah dipikirkan. Lupakan saja.
Mas-mu apa kabar?
Alhamdulillah baik, Bu.
Alhamdulillah.
Cucuku bagaimana?
Baik, Bu.
Baiklah, Sayang.
Dari kejahatan setan…
Yang tadi itu jangan dipikirkan, ya?
Iya, Bu. Terima kasih.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
"Minal jinnati wannaas."
Dari jin…
Asalamualaikum.
- Alaikum salam, Pa! - Alaikum salam.
Hai, Sayang.
Sampai di mana tadi bacanya? Sudah selesai?
- Sudah. - Sudah?
Kalau sudah, bilangnya apa?
Shadaqallaahul adzim.
Artinya?
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
Alhamdulillah.
Pintar sekali sih anak Papa ini.
Aduh, yang sudah mau tidur masih saja cantik, nih.
Tadi Ibu telepon, Sayang?
Iya, Mas.
Terus?
Ibu khawatir pas tahu Rani mau mengekos sendirian.
Khawatir kenapa?
Ya, khawatir, Mas, takut tidak ada yang mengawasi.
Ya, terus bagaimana? Kamu maunya bagaimana?
Bagaimana kalau Rani tinggal dulu sama kita?
Kamu keberatan tidak, Mas?
Ya, apa kamu jadi repot kalau dia tinggal di sini?
Ya, bukan masalah repotnya loh, Mas.
Aku itu cuma kepikiran, apa kira-kira kita bakalan nyaman
kalau semisalnya ada orang lain tinggal di rumah ini.
Kan dia bukan orang lain. Dia adikmu.
Kamu itu akrab tidak sih sama adikmu itu?
Ya, akrab-akrab saja lah, Mas.
Apalagi Rani itu sayang sekali sama Raya.
Ya, kalau aku sih… Terserah kamu.
Yang penting kamu nyaman.
Ya, aku nyaman kalau kamu nyaman.
Rani itu kan adikmu,
berarti adikku juga.
Ya sudah, kita jaga sama-sama, ya?
Benar, Mas?
Kamu itu suami yang paling baik. Aku itu bersyukur punya kamu, Mas.
Aku juga bersyukur punya kamu.
Memangnya aku tidak bersyukur?
Tapi…
keputusanku ini apa sudah benar, Mas?
Sayang, apa aku pernah meragukan keputusan kamu?
Selama menurut kamu itu yang terbaik, aku percaya.
Ingat, ya.
Jangan aneh-aneh di rumah mbak-mu.
Jadilah penurut, ya?
Iya, Bu.
Ibu, nanti kalau Rani kangen, Ibu ongkosi Rani pulang ke Salatiga, ya?
Iya.
- Benaran, Bu. - Adik…
kan bisa dengan panggilan video.
Ya, beda dong, Mbak.
Kalau panggilan video kan wanginya Ibu tidak kecium.
- Kamu itu ya. - Ada-ada saja kamu, Nak.
Ayo, sana berangkat nanti kesorean.
Raya!
Raya!
Lihat mereka.
Sikapnya adikmu itu masih seperti anak kecil.
Insyaallah aku dan Mas Aris jaga, ya.
Yuk.
Saya pamit ya, Bu.
Terima kasih ya, Mas Aris, sudah bersedia dititipi Rani.
Insyaallah, ini akan jadi berkah buat saya dan Nisa.
- Amin. - Amin, ya Allah.
Nisa pamit ya, Bu.
Nisa, Ibu titip adikmu, ya?
Iya, Bu.
Dik.
Kamu tidak salim Ibu dulu?
Oh iya!
Raya!
Iya, Pa!
Nanti Eyang Ti main dan menginap di rumahnya Raya?
Oke!
Pamit ya, Bu.
Ingat pesan Ibu, ya?
Jangan aneh-aneh di rumah mbakyu-mu, hati-hati.
Iya, Bu.
Tunggu! Ayo!
Selamat datang di Semarang, Ran.
Walaupun Semarang dan Salatiga itu dekat,
tapi tetap, karakter orangnya berbeda.
Jadi, kamu tetap harus hati-hati, ya?
Iya, Mbak.
- Sampai! - Alhamdulillah.
- Terima kasih, Pa. - Sama-sama.
- Asalamualaikum. - Asalamualaikum.
Ini dia, Dik.
Ya Allah, Mbak!
Bagaimana? Suka?
Suka sekali, Mbak!
Lihat dulu kamar mandinya. Yuk.
Sini.
Mas, terima kasih ya!
Bagus sekali kamarnya, aku suka.
Tante Rani.
- Main, yuk! - Main apa?
Teka-teki.
Sayang, mendingan main sama Papa
di kamar Raya!
Ayo!
Dik, Mbak itu sengaja bikin kamar kamu enak, nyaman,
supaya kamu itu betah di rumah.
Biar tidak nongkrong-nongkrong.
Hati-hati kamu, cowok-cowok di sini itu ganas.
Kamu jangan macam-macam, Dik. Awas kamu.
Iya, Mbak-ku.
Mas.
Kamu suami yang luar biasa.
Aku bangga sekali sama kamu.
Terima kasih ya, Mas.
Kita tidak boleh senang dulu.
Ini baru permulaan.
Kita tidak pernah menjaga anak gadis.
Amanahnya berat.
Mas, Rani sudah siap?
Loh, Dik, sudah jam 06.00!
Bukannya kamu harus sampai kampus jam 07.00?
Santai, Mbak, namanya juga ospek. Orientasi pengenalan kampus.
Paling juga pengenalan dosen, jurusan, begitu toh?
Kamu itu meremehkan sekali sih. Sini tanganmu.
Ini untuk apa, Mbak?
Buat kamu zikir.
Biar kamu selalu dalam lindungan Allah, ya?
Yuk, jalan!
Sana, mas-mu sudah siap.
- Aku sama Mas Aris saja, Mbak? - Iya.
Mbak sudah bicara sama Mas Aris.
Jadi, kalau pagi kamu berangkatnya bareng Mas Aris.
- Kalau pulangnya bebas. - Ya, Mbak, tapi…
Jadi bareng tidak, Ran?
Jadi!
Buruan, Dik, cepat.
Ya sudah, aku berangkat ya, Mbak.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Tidak ada yang ketinggalan, kan? - Tidak.
- Hati-hati! - Iya, Mbak! Terima kasih!
- Sudah siap? - Sudah!
Bude Tin, uang buat bayar galon sudah saya taruh di dapur.
Jangan lupa selimutnya Raya dicuci, ya.
- Siap. - Saya jalan dulu.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam. Hati-hati, Bu!
Woi, buruan! Ayo buruan! Lama banget sih lo!
Buruan, ayo!
Kok galak-galak sekali, ya?
Mereka cuma akting.
Ayo! Cepat!
- Dari sini kamu tahu kan harus ke mana? - Iya, Mas.
- Semoga lancar semua, ya. - Terima kasih, Mas.
Semangat!
Woi!
Buruan!
Jam berapa ini!
Cepat.
Sebentar.
- Terima kasih. - Iya.
Enak. Enak sekali!
Rani jadi tinggal di rumahmu?
Jadi.
Terus Aris bagaimana?
Ya, Mas Aris mendukung saja.
Mas Aris-mu itu ya, memang benar-benar malaikat.
Apa dia itu punya kakak atau adik yang setipe sama dia?
Buat aku, Nis.
Ya sudah, aku mau ke dapur dulu.
Jangan dulu. Coba diselesaikan baik-baik dulu ini.
- Aku mau ke dapur. - Dicari tahu dulu silsilahnya.
Hei, Nis!
Vira, aku duluan ya!
- Raya, Mirza, Sarah! - Iya, Bu.
Kalian sudah dijemput!
Raya hati-hati, ya.
Iya.
Sarah, hati-hati, ya.
- Raya, hati-hati, ya. - Dah, Bu.
Ayo, jangan lari-lari!
Pa!
Hei, Sayangku.
Papa kangen sekali!
Yuk, pulang.
Pa, tadi Raya gambar.
- Gambar apa? - Ini.
Coba lihat.
Bagus sekali. Ini ceritanya kita?
Iya!
- Raya gambar sendiri? - Iya!
Pintar sekali, sih. Ini bagus sekali.
Papa saja tidak bisa bikin ini.
Ada yang panggil.
Tidak ada, bohong!
Ayo, siapa yang mau es krim?
Raya! Raya mau rasa nougat!
- Ini tinggal satu, pas sekali. - Hore!
Mbak, cuma tinggal satu yang rasa nougat?
- Kamu mau, Dik? - Mau.
Baiklah kalau begitu, Raya bagi sedikit Tante Rani, ya?
Tidak mau.
Kok pelit sih, Nak?
Mbak.
Kok Mas Aris cuci piring?
Mas Aris memang begitu orangnya.
Kata ibu, dulu almarhum Bapak juga suka cuci piring, ya?
Mbak itu kadang melihat sosok Bapak di Mas Aris.
Mas, maaf, Mas.
Aduh! Goblok!
Aduh!
Ada apa, Mas?
Tidak apa-apa.
Cuma ketumpahan minum.
Kok bisa?
Iya, tadi tidak sengaja bertemu adikmu.
Dia tidak pakai jilbab, makanya aku kaget.
Terus dia bagaimana, Mas?
Langsung lari ke kamar.
Ya Allah, Rani.
Besok aku beri tahu ya, Mas,
kalaupun keluar kamar tetap harus pakai hijab.
Tapi jangan dimarahi, ya?
Bicara baik-baik.
Iya, Mas.
Tidurlah.
Dik.
Semalam kamu bertemu Mas Aris di dapur tidak pakai hijab, ya?
Ya ampun. Duh, Mbak, maaf ya.
Aku itu tidak menyangka kalau Mas Aris ke dapur.
Ya sudah, tidak apa-apa.
Tapi jangan kamu ulangi lagi.
Iya, Mbak.
Baik, barangkali sampai di sini ada yang bisa
memberikan satu kata untuk memaknai Sosiologi?
Sosial?
Itu… artinya.
Ada yang lain?
Ilmu tentang budaya masyarakat.
Itu empat kata, Jeffry. Satu kata.
Jadi, Sosiologi itu sendiri adalah "membaca".
Membaca?
Iya.
Seorang sosiolog yang baik
adalah seseorang dengan kemampuan membaca kehidupan yang baik.
Kalau di agama saya, Islam, hal itu disebut dengan…
Iqro. "Bacalah."
Ayat pertama dari Allah yang meminta manusia,
yaitu Muhammad SAW untuk membaca alias belajar.
Bagus, Rani. Betul.
Keren sekali ya, Pak Aris itu.
Memang beda kalau dosennya lulusan dari luar negeri.
Lalu bagaimana rasanya satu rumah sama Pak Aris?
Kalau aku sih, Ran, sudah pasti salting sekali.
Salting apa sih?
Pertama, dia ganteng.
Kedua, dia pintar.
Ketiga, dia ganteng dan sangat pintar.
Paket istimewa, bukan, Jeff?
Kok tanya gue?
Gue kan laki.
Wah, kompak kalau pas makan.
Lain cerita kalau ada proyek.
Burung!
Astagfirullah.
Pak Junaedi, orang lagi mengobrol, lagi makan, Pak.
Burung apa yang selalu menolak?
Burung apa yang selalu menolak?
Ayo?
- Apa Pak Yadi? - Burung…
Apa?
Burung puyuh?
Asisten dosen tidak paham.
Burung gagak.
Ini nih. "Enggaenggakgak!"
- Sudah mending kita swafoto saja. - Yuk.
Satu, dua, ti…
Halo, Adik-adik manis.
Aku boleh gabung?
Kayaknya seru sekali.
Nanti aku traktir bagaimana?
Kak, jangan merangkul dong, itu bisa jadi pelecehan loh.
Orang cuma rangkul, sedikit-sedikit pelecehan.
Kalau pelecehan itu kayak begini…
Kak, kenapa sih? Jangan kurang ajar dong!
Mau saya buat viral?
Ayo! Ayo, sekali lagi kalau berani!
Ayo! Ayo lagi!
Mau buat viral apa? Masa bodoh!
Maksudnya apa ini? Kenapa semuanya liat gue?
Lo tidak tahu gue siapa?
Memang siapa?
Sok penting.
Yan, sudah, Yan.
Santai.
Raya, Nak, makannya pakai nasi, ya?
Iya, Ma.
Mas dengar tadi pas di kantin kamu dikerjai sama Yan.
Memang kamu diapakan, Dik?
Tidak kok, Mbak. Orang cuma iseng saja.
Tapi kamu laporkan?
Tidak, kan aku tidak apa-apa.
Si Yan itu masih keponakannya rektor,
jadi memang agak bermasalah sama sikapnya.
Pokoknya begini.
Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu,
lapor Mas, ya.
Iya, Mas.
Sayang, kok didiamkan?
Sudah aku pesan khusus buat kamu itu.
Ya ampun, Mas.
Dicuekin. Sayang, piringnya.
- Tolong piringnya. - Iya, Mas.
Ini dia.
Terima kasih, Mas.
Dik, kamu kalau mau cari cowok, kayak mas-mu ini.
Perhatian sekali.
Apa sih.
Yah…
Patah, ya?
Aduh!
Bude!
Bude Tin!
Asalamualaikum.
Aduh, maaf, Mas.
Aduh…
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Raya sudah dijemput?
- Sudah, Sayang. - Dia di kamar?
Iya, tadi tidur di mobil pas di jalan.
Kamu kok sudah pulang?
Iya, Mas, aku itu cuma cek peluncuran keik terbaru aku saja.
- Lancar? - Alhamdulillah, lancar.
Alhamdulillah.
Mas, terima kasih banyak ya, Mas.
Aku itu tadi benar-benar sibuk sekali. Maaf, Mas.
Tidak apa-apa, Sayang. Kan akunya juga bisa.
Aku balik ke kampus, ya. Ada kuliah jam 14.00.
Ya sudah.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam. Hati-hati.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Dari mana, Bude? - Pasar.
Rani sudah jalan?
- Tidak tahu. - Ya sudah, ini dicuci semua.
Iya.
Dik.
Iya, Mbak?
Loh, kamu tidak kuliah?
Ini aku lagi siap-siap kuliah.
Kenapa tidak bareng saja sama mas-mu tadi?
Ya, aku masih sejam lagi kuliahnya.
Ya sudah.
Itu, Mbak…
Yah…
Terus tadi kamu mandinya bagaimana, Dik?
Ya, tadi untungnya aku sudah selesai mandi.
Pas cuci kaki baru patah.
Ya sudah, nanti Mbak minta tolong mas-mu biar diperbaiki.
Kamu abis beres-beres makan dulu sama Mbak.
Jangan lama-lama ya, Dik, sudah mau tutup.
- Iya, Bu. - Kalau begitu, saya ke toilet dulu.
Bu?
Bu?
PERPUSTAKAAN
TUTUP PINTU KHUSUS PEGAWAI
Lo harus tahu siapa gue!
Lo harus tahu!
Pegang!
Tarik tangannya!
Ran!
Rani!
Rani!
Rani!
Rani, tunggu, Ran!
Rani!
Ran, tunggu, Ran!
Ran!
Ran, tunggu, Ran!
Astagfirullah.
Rani, ini mas-mu.
Ini mas-mu.
Mas Aris. Sudah.
Kamu sudah aman. Sudah aman.
Kita pulang, ya.
Kita pulang. Ayo.
Tasmu.
Ayo.
Sudah.
Kamu sudah aman sama Mas.
Mas janji…
besok Yan dan teman-temannya akan kena hukuman yang berat.
Mas…
- Mas… - Tidak usah.
Tidak usah dibahas.
Kita kebablasan, Mas.
Harusnya belok ke situ jalannya.
Ran.
Yuk, turun.
Sudah sampai.
Lewat pintu depan saja.
Loh, ada apa ini kok basah-basah?
Dik?
Kenapa, Mas?
- Dik! - Nis…
Ada apa, Mas?
Tadi…
Tadi… Tadi, Rani…
Rani dilecehkan di kampus.
Ya Allah!
Mas, kok bisa? Kejadiannya bagaimana?
Nis, kasih Rani waktu buat tenangkan diri dulu, ya.
Astagfirullahaladzim, Ya Allah, Mas…
- Loh kamu kenapa? - Aku tidak apa-apa.
- Yuk, masuk dulu. - Masuk.
Alhamdulillah untung saja ada kamu, Mas.
Untung saja kamu tolong Rani.
Nis, maaf ya.
Maaf kalau aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu.
Ya Allah, kamu itu.
Kamu sudah jadi suami yang baik.
Tidak cuma suami, kamu bahkan jadi kakak ipar yang luar biasa buat Rani.
Untung saja ada kamu.
Ya Allah.
Pak Aris, maafkan sikap Mas Yanuar, ya.
Walaupun dia keponakan saya,
tetapi dia tidak bisa lepas dari jerat hukum.
Terima kasih banyak, Pak.
Beruntung sekali kamu, Ran, punya kakak ipar kayak Pak Aris.
Ya sudah, yuk.
- Pak? - Ya?
Pak Aris?
Ya, Bude, di dalam sini. Masuk.
Pak.
Itu makanannya untuk nanti malam tinggal dihangatkan.
Saya mau pulang dulu.
Oh, iya.
- Terima kasih, Bude. Hati-hati. - Baik.
- Pamit ya, Pak. Mari. - Baik.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Mbak Rani, Bude pamit dulu pulang, ya.
Iya, Bude.
Ya, mari, Mbak Rani.
Mas Aris?
Ran?
Sudah pulang, yah?
Sebentar ya, ini Mas selesaikan dulu.
Soalnya Bude belinya ukurannya tidak pas.
Sebentar ya.
Mas, kata Mbak Nisa tadi, Mbak pulang agak malam.
Soalnya tadi mau urus jual tanah Ibu langsung ke notaris.
Mas Aris mau dibawakan apa dari Salatiga?
Itu saja, tumpang koyornya Ibu, kalau masih ada.
Ya sudah, aku beri tahu Mbak, ya.
Aduh. Bagaimana ini?
Aduh.
Bocor besar.
Aduh.
Tutup. Yuk. Lepas lagi.
Ya, malah patah, lagi.
Airnya deras sekali.
Kamu pegang, ya. Pegang dulu sebentar.
Cepat ya, Mas.
Sebentar, ya.
Ya, tutup.
Sebentar.
Aduh.
Terima kasih ya, Ran.
Mas, lain kali panggil tukang leding saja.
Ya, awalnya juga maunya begitu.
Tapi kan mas-mu ini ingin bisa juga perbaiki keran.
Tapi ternyata, dosen Sosiologi Keluarga
itu belum tentu bisa perbaiki keran keluarga.
Ih, posesif.
Ini, Mas.
Kamu tambah, Dik?
Tidak, Mbak.
Mas, tadi Ibu titip salam.
Beliau ucapkan terima kasih sekali
karena Mas sudah izinkan Rani tinggal di sini.
Makanya tumpang koyor ini Ibu bikin khusus buat kamu.
Nah, ini dia yang spesial edisi Ramadan dari Legi Roti.
Ada keik sage, ada keik keju.
Rasanya enak sekali, lembut, dan tidak terlalu manis.
Selamat datang di Legi Roti!
Bagus. Ini punya kamu?
Iya, bersama-sama, Tante.
Pesan dari sekarang ya, jangan lupa juga simak Instagram kami.
Kamu itu kalau apa-apa kasih tahu aku, biar cepat.
- Ini dikasih tahu, Tante. - Mesti sigap. Ini apa?
Ini cupcake. Paling laris.
Itu muffin. Itu juga paling laris.
Ini kok kue kayak semen?
Ini memang kayak begini. Konsepnya memang begitu, unik.
Oh begitu.
- Ini… - Nisa.
Tante Esti, ini Nisa. Nisa, ini Tante Esti.
- Esti. - Nisa.
Masih ada kelas?
Tidak, Mas ada kelas?
Harusnya sih ada rapat di dekanat,
tapi batal.
Ini mau pulang.
Mau bareng?
Boleh.
Jadi, bagaimana, Tante? Apa yang bisa saya bantu?
Kamu nih hebat sekali, loh. Tante lihat ini bisnis kamu jalan.
Jadi, Tante itu punya rumah tidak dipakai di Yogya.
Kamu mau buka cabang baru di tempat Tante?
Kita mau apa di sini, Mas?
Kalau…
Kalau kamu tidak mau…
kita pulang saja.
Ya sudah, kita pulang ya.
Aku mau, Mas.
- Siang, Mbak. - Iya. Ada yang bisa dibantu?
Saya mau lapor masuk.
Ini… kunci kamarnya.
Kamu naiknya…
tiga menit lagi saja, ya.
Sama ini… kunci mobil.
Iya, Mas.
Oke.
Ayo, Umi.
Lantai berapa, Mi?
Lantai lima.
Lagi kurang sehat, Mas?
Iya, Pak, flu.
Sabar, Mas.
Tidak akan lebih cepat juga.
Ini turun yah, Mas?
Naik.
Maaf.
Siang, Pak.
Jadi, Mas, konsepnya itu nanti kayak kafe.
Kita tidak cuma jualan roti, tapi juga ada minumannya, Mas.
Ada teh, kopi, jus, macam-macam.
Ya, bagus, dong.
Tapi, itu…
Tantenya Manda, benar jadi invest?
Jadi, Mas. Dia serius sekali. Dia senang sama proyek ini, Mas.
Alhamdulillah.
Cuma ya, itu…
Apa?
Aku kan harus bolak-balik Yogya-Semarang, Mas.
Bulan Ramadan lagi.
Nanti siapa yang siapkan kamu berbuka sama sahur?
Ayo, Nak, makan dulu.
Kalau itu gampang, tidak usah dipikirin.
Kan ada Bude yang bisa masak.
Paling kalau kepepet, pesan online.
Pa.
Raya boleh buka puasanya dengan es krim?
Tidak boleh, Nak. Tetap harus makan nasi dulu.
Bagaimana, Mas? Bingung aku.
Sini. Ayo duduk.
Sayang.
Ini kan cita-cita kamu.
Mimpi kamu dari sebelum kita nikah.
Aku dukung.
Kejar.
Ini kesempatan kamu.
Tapi kamu nanti sendiri…
Kata siapa aku sendirian?
Ada Raya, ada Bude, ada Rani. Ya?
Ini kesempatan kamu.
Rida ya, Mas?
Rida, dunia akhirat.
Alhamdulillah. Terima kasih, Mas.
Mama…
Nak…
Mama cuma ke Yogya kok, tiga jam dari sini.
Jadi kalau kangen, bisa menyusul sama Papa.
Ya?
- Hati-hati, Sayang. - Iya, Mas.
Dik, tolong layani mas-mu, ya.
Iya, Mbak.
Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Dah, hati-hati.
- Dah, Raya! - Dah, Tante!
Dah!
Ma!
Hei, Sayang. Lelah pasti, ya.
Iya.
Ma…
Hati-hati ya, Sayang.
Iya.
Bude. Tolong, Bude.
Oke.
Terima kasih, Bude.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
- Dah, Ma! - Dah, Ma!
Sahur!
Sahur!
Mas, ada Raya, loh!
Masih tidur.
Benar?
Mas, sini deh ponselmu.
- Mau apa? - Sudah cepat ambil.
Apa sih?
Kenapa nama dia sih?
Ya, tidak apa-apa.
Kamu itu ya… Kamu usil sekali, tahu?
- Usil kamu! - Mas!
Asalamualaikum!
Ini pasti Raya yang mainkan.
Eyang Ti!
Raya, Nak, makan siang dulu yuk.
Silakan. Ini sudah ditambah.
Ini sambal kentangnya tidak pedas.
- Maaf lahir batin, Mbak. - Sama-sama.
Mohon maaf lahir batin, Bude.
Ini masih lebaran harus…
Iya.
Silakan, ini sudah ditambah.
Semingguan, ya? Iya sama, Raya juga begitu.
- Mohon maaf lahir batin! - Mohon maaf lahir batin!
Ayo mari dinikmati.
Eyang Ti, sekali-sekali menginap di rumah Raya, ya?
Iya, Cantik. Cucuku.
Nisa pamit ya, Bu.
Hati-hati, ya.
- Yuk. - Ayo.
Bu.
Rani pamit ya, Bu.
Ibu pesan cuma satu sama kamu,
jangan aneh-aneh di rumah mbakmu.
Ya?
Iya, Bu. Tenang saja.
Benar loh, ya?
Mas, sampai jam berapa seminarnya?
Magrib, insyallah sudah selesai.
Ramai, Mas, di sana? Ada Pak Junaedi juga?
Jangankan Pak Junaedi, semuanya ikut.
Ramai.
Ini, posternya kan.
Ini peserta yang lagi daftar itu.
Ramai sekali, Sayang.
Ya sudah, Mas. Semangat ya kamu. Hati-hati.
Iya, terima kasih, Sayang. Asalamualaikum.
Alaikum salam, Mas.
Kue apa yang dimasak pakai sayur?
Kue…
Kwetiau.
Aduh, Pak Junaedi. Sudah selesai seminarnya?
Seminar?
Yang sama Mas Aris?
Oh, itu!
Saya tadi keluar duluan, baru… Ya, tidak enak badan lah.
Kemarin istri saya itu lihat di Instagram…
Kue apa? Kue Sagu?
Sage! Kue Sage! Ini loh, Pak!
Ini nih!
Nah iya, benar.
Ini, Pak, kuenya.
Tolong bungkus satu.
Nisa.
Aku mau kasih tahu kamu.
Penting.
Rahasia.
Kenapa, Pak?
Kue apa yang bikin kaget?
Kue dedeng!
Mas.
Pak Junaedi itu ternyata orangnya garing banget ya, Mas.
Tadi siang dia datang ke Legi Roti.
Legi Roti?
Iya, Mas. Memang tidak ikut seminar dia?
Iya itu. Kok tidak datang ke seminar, tapi mampir Legi Roti?
Tadi itu dia mendadak batal,
tapi tidak kasih alasan jelas. Tidak tahu kenapa.
Memang belakangan ini,
Pak Junaedi itu lagi tidak profesional.
Kemarin kami seharusnya bertemu Pak Kajur,
tiba-tiba tidak datang, tidak ada kabar juga.
Raya, Tante Rani ke toilet dulu, ya.
Kok dia tiba-tiba tadi nongol di toko.
Apa seminarnya dibatalkan?
Pak Junaedi…
Emang dia tidak mikir apa kamu bakal kasih tahu aku
dia mampir ke Legi Roti.
Sayang, gambar apa?
Halo? Di mana, Mas?
Halo? Siapa?
Sial!
Aduh.
Wah, mantap. Berapa?
- 15 ribu, Pak. - Ini ambil saja kembaliannya.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Pa. Raya boleh beli es krim?
Boleh. Papa panggil, ya.
Iya!
Pak! Es krim, Pak!
- Mau rasa apa, Sayang? - Vanila!
Iya, Pak Junaedi.
Aman. Sudah saya baca kok. Iya.
Oke.
Iya, terima kasih.
Ribet.
Kenapa, Mas, Pak Junaedi?
Biasa, bikin mumet.
Eh iya, Ma.
Tadi Pak Junaedi telepon.
Tapi lucu deh, suaranya kayak perempuan.
Suara perempuan?
Iya. Aku dengar.
"Halo, di mana, Mas?"
Mbak, aku bawa, ya?
Salah dengar kali kamu itu, Sayang.
Tidak, Pa, benar suara perempuan.
Tadi kan kita itu di pinggir jalan, ramai banyak yang lewat,
mungkin suara ibu-ibu.
Tidak! Ya sudah kalau tidak percaya.
Mengambek sama Papanya? Sini dicium dulu. Sini.
Ma, tolong.
Manda, kok tumben kamu di sini kerjanya?
Ya, tidak apa-apa, cari suasana baru biar tidak sumpek.
Ada apa sih, Mbak?
Manda.
Hm?
Kok aku merasa…
ada yang beda dari Mas Aris.
Beda apanya?
Aku merasa kayak ada sesuatu yang dia sembunyikan dari aku.
Memang kamu merasakan perubahan apa?
Pulang telat?
Atau sering keluar kota?
Oh, telepon diam-diam?
Iya?
Tidak sih. Tidak ada.
Lalu?
Yah… Aku merasa…
gerak-geriknya aneh, Nda, tidak kayak biasanya.
Itu sudah tidak menantang paling.
Manda. Aku serius.
Iya, maaf.
Kamu tahu kan, aku belum berumah tangga.
Mentok-mentok aku paling sebatas dekat sama orang.
Tapi kalau misalkan aku sudah merasa kayak begitu ke pasanganku,
aku tidak bakal diam saja.
Aku langsung memeriksa ponselnya,
mobilnya, kalau perlu aku samperin ke tempat kerjanya.
Sampai aku menemukan bukti yang kuat.
Sebab ya, Nis,
badai yang paling berbahaya itu
justru yang awalnya tidak kelihatan tanda-tandanya.
- Pak Aris. - Pak.
Asalamualaikum, Sayang.
Alaikum salam, Mas. Kamu lagi di mana?
Ini baru mau makan siang.
Makan siangnya di mana? Di kampus atau di…
Ya, paling di kampus saja, di kantin.
Memang kenapa?
Asalamualaikum, Mas.
Hei, kamu di sini?
Katanya mau ke kantin?
Iya, ini kan baru mau ambil itu loh… Bekal dari kamu.
Loh, bekal dari aku seharian kok ditaruh di mobil, Mas?
- Kan bisa basi. - Itu dia.
Makanya, ternyata aku turunkan tadi. Sudah ada di ruangan.
Kamu tumben ke sini? Jam-jam segini lagi.
Mau ketemu Rani?
Ini, Mas, aku bawakan kamu "creme brulee ala Legi Roti."
Oh, karena ini.
Produk baru, ya?
Rencananya insyaallah, Mas.
Berarti kita bisa sekalian cicipi makanan, ya?
Aku sekalian mau temani kamu makan siang, Mas.
Boleh. Ayo.
Tumben sih, tapi ayo.
Yuk.
Nah kita di sini saja, kosong.
Di sini?
Kamu mau pesan apa, Sayang?
Di sini itu yang paling enak siomai,
ada nasi campur juga, tempe oreknya dahsyat.
- Kamu mau apa? - Ada yang telepon itu.
- Kok tidak diangkat? - Sudah, gampang. Jadi apa? Siomai?
- Angkat saja, tidak apa… - Makan.
Makanan apa yang kalau pesan harus marah?
Rawon!
Ngawur!
Teriyaki!
Itu dia, teriyaki!
Pak Junaedi ini bagaimana, kita satu gedung malah telepon.
Kalau ada apa-apa, samperin saja.
Telepon?
Iya, tadi kan telepon saya soal data kemahasiswaan yang mau ikut
riset di Kampung Naga, sudah dicek belum?
Riset Kampung Naga?
Iya, astagfirullah. Ini jangan-jangan saya yang lupa kirim ini.
Sebentar saya cek dulu.
MBAKMU DI SINI. JANGAN CHAT
Maaf, Pak Junaedi. Ternyata memang saya lupa kirim.
Ya sudah, dikirim lagi.
Itu dia makanya saya minta tolong dibantu, Pak Junaedi.
Sip.
Saya makan lagi. Mari.
Bajingan.
Berengsek.
- Coba, Mas. - Cicipi makanan.
Wah!
Katanya siang ini kita janjian?
Iya kayaknya kita batal dulu, ya.
Soalnya Nisa curiga.
Mulai sekarang kita harus hati-hati.
Begitu sampai rumah, tidak boleh telepon, tidak boleh chat.
Pokoknya langsung dicek WhatsApp-nya, hapus chat.
Sabar ya, Ran.
Mas itu sebenarnya anggap Rani apa?
Cuma perempuan pelampiasan?
Kok bicara begitu?
Iya, Rani merasa Mas begitu ke Rani.
Tidak ada yang berpikir seperti itu.
Kamu jangan mikir aneh-aneh.
Dengar, ya…
kamu itu terlalu berarti cuma buat jadi pelampiasan.
Apa pun itu,
kamu sudah kasih warna lain dalam hidup aku.
Sayang, aku minta tolong, dikemasi baju buat satu malam.
Aku kayaknya bakal menginap.
Kok mendadak sekali, Mas?
Memangnya ada acara apa?
Iya, baru diinfo tadi pagi.
Itu loh, daftar kompetensi harus direvisi.
Mendesak katanya.
Di mana, Mas, acaranya?
Di hotel apa tadi namanya, ya?
Nanti aku teruskan ke kamu, ya.
Sama siapa saja, Mas?
Ya, sama biasa.
Pak Junaedi, terus ada yang lain juga.
Sama aku belum tahu sih yang akan hadir siapa saja detailnya.
Ya sudah, Mas, nanti aku siapkan, ya.
Ada yang namanya Aris Nazif Baihaki menginap di sini?
Dia suami saya.
Baik, saya cek dulu ya.
Ibu, mohon maaf atas nama tersebut tidak menginap di sini, Bu.
Kalau atas nama…
Junaedi Prawito?
Aku!
- Mbak Nisa. - Sayang, kamu di sini?
Iya, Mas.
- Apa sih? - Ini pasti ada kencan buta ini.
Sudah saya pergi saja daripada jadi setan.
Kok jadi setan, Pak Junaedi, ini kan sudah muhrim.
Setan-setan apa yang bisa dimakan?
Setan hitam!
Pak Aris, duluan ya!
Silakan!
Ini ceritanya apa, Sayang? Kejutan?
Aku… Itu loh, Mas, aku…
mau menemani kamu menginap.
Manis sekali.
Tapi… aku tidak jadi menginap, Sayang.
Ya sudah…
Soalnya semua poin-poin yang direvisi itu, semuanya sudah sepakat,
jadi sehari saja cukup.
Terus sekarang apa?
Ya pulang. Mau apa?
Mau menginap, ya?
Pulang saja, Mas.
Sayang, tunggu.
Aku punya cerita bagus.
Ke sana saja yuk.
- Nah, duduk di sini. - Mau apa sih, Mas?
Duduk dulu. Sini, Sayang. Yuk.
Aku punya berita bagus.
Jadi, Pak Nendra…
Permisi, Bapak-Ibu, mau dipesan sekarang atau nanti saja?
Boleh tinggal menunya. Nanti saya panggil.
Sampai di mana tadi? Pak Nendra.
Beliau itu dapat beasiswa profesor ke Harvard.
Berangkatnya akhir bulan ini.
Nah Pak Junaedi, itu ditunjuk sebagai ketua jurusan yang baru,
menggantikan posisi Pak Nendra.
Ini, berita bagusnya.
Aku ditunjuk untuk menjadi Kabid Pendidikan yang baru,
menggantikan Pak Junaedi.
Alhamdulillah.
Itu dia kenapa aku cerita ini sama kamu sekarang.
Aku mau minta maaf sama kamu.
Maaf, kalau belakangan kamu merasa aku itu beda.
Bukannya apa-apa. Aku benar-benar lagi
seratus persen menaruh fokusku, pikiranku,
untuk membantu Pak Junaedi di posisinya yang baru.
Astagfirullahaladzim.
Kenapa?
Sayang?
Aduh, maafkan aku, Mas.
Aku sudah berburuk sangka sama kamu.
Berburuk sangka apa?
Yah, aku merasa sikapmu banyak yang beda, tidak kayak biasanya.
Ternyata cuma aku yang berburuk sangka. Maaf ya, Mas.
- Maafkan aku. Maafkan sekali, Mas. - Hei, tidak apa-apa, Sayang.
Hei, tidak apa-apa.
Bukan salah kamu. Salah aku.
Maafkan aku, ya?
Maaf karena aku tidak langsung cerita kalau aku sibuk.
Ya? Maaf, ya. Maaf.
Kamu itu memang, ya. Paling bisa.
Kok bisa sih punya ide kayak begitu?
Yah, aku pernah baca di sosial media.
Pokoknya, semakin orang itu curiga,
semakin gampang dia disetirnya.
Iya?
Mbak, kenapa?
Mbak curiga mas-mu selingkuh.
Pokoknya, bagaimana caranya, ajak Pak Junaedi rapat di hotel itu.
Kalau Mbakmu tidak menyusul, bagaimana?
Pasti menyusul, Mas. Dia sudah curiga sekali sama kamu.
Pak Junaedi.
Ada apa, Pak Aris?
Soal itu loh, Pak, yang serah terima Kajur itu.
Besok, bagaimana kalau kita pindahkan ke hotel saja?
Kamu mau mengajak aku yang enak-enak, ya?
Tidak, Pak. Saya serius, Pak.
Yakin? Seberapa serius?
Tidak. Ini serius.
Kalau di hotel itu lebih nyaman, fasilitas juga lebih bagus.
Aku juga setuju, kok.
Kamu itu gila.
Setiap sama kamu,
itu rasanya kayak lagi baca novel serial detektif.
James Patterson, Agatha Christie.
Selalu punya kejutan baru.
Terus…
Kasus apa lagi yang mau kita telusuri?
Kasus…
Kasus ini, loh!
Mas!
Dik. Mbak titip bekal buat mas-mu, ya.
Iya, Mbak.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Semangat!
Mas!
Aku jalan, ya!
Hati-hati.
Dari mbak.
- Silakan. - Terima kasih.
Mesem-mesem ya, Mbak?
Ceria sekali sih, Mbak.
Sudah selesai masalahnya dengan Mas Aris?
Sudah.
"Sudah."
Pak Aris!
Bagaimana istri?
Makin lengket?
Makin mesra?
Apa makin buas?
Alhamdulillah, stabil-stabil saja, Pak Junaedi.
Ini ada yang mau saya bahas. Sini.
Jangan tebak-tebakan lagi, ya.
Ini serius.
Oke.
Apel…
Katanya bukan tebak-tebakan? Saya tinggal, nih.
Sori, kebiasaan.
Ini sangat serius.
Oke.
Anggap saja nasihat orang tua pada anak muda.
Yang namanya kebohongan itu tidak pernah berdiri sendiri.
Selalu mengajak teman.
Dan temannya banyak.
Kerusakan, pertengkaran, kehancuran, bahkan maut.
Makanya harus hati-hati sekali, Pak Aris.
Jangan sampai ipar jadi maut.
Aduh, bisa tidak sampai ini.
Angkat dong, Mas.
Halo, Dik.
Halo, Mbak.
Maaf, Dik, kamu lagi kuliah, ya?
Iya, ini… aku lagi urus dokumen di dekanat.
Kenapa, Mbak?
Lagi sama mas-mu tidak?
Tidak, Mbak, kenapa? Ada yang mau disampaikan?
Dik. Mbak minta tolong cari mas-mu, Dik.
Buat angkat telepon dari Mbak, penting sekali.
Ya sudah, aku beri tahu ya, Mbak. Tapi kalau bertemu, aku tidak janji, ya.
- Terima kasih, Dik. - Iya, Mbak.
Kata Mbak suruh angkat telepon, penting.
Alhamdulillah.
Halo, Nis.
Halo, Mas. Aduh, untung saja kamu telepon, Mas.
Lagi sama Rani, ya?
Tidak, aku tadi lagi menuju ini, Sayang, perpustakaan.
Tadi kamu telepon?
Mas, jalan Yogya-Kartosuro macet sekali.
Ada kecelakaan di Delanggu.
Jadi aku telat masuk tol. Kamu bisa tolong jemput Raya, Mas?
Bisa, tapi aku ada kelas dulu, sih.
Oalah.
Ya sudah, aku minta tolong Manda saja.
Jangan. Tidak apa-apa.
Aku bisa ini kok… bisa batalkan kelasnya. Aku minta ganti asisten.
Ya? Aku jemput Raya, ya.
Tidak usah, Mas, tidak apa-apa. Biar aku minta tolong sama Manda saja.
Kamu mengajar saja ya, Mas, maaf aku ganggu.
Tidak apa-apa, Sayang, tidak ganggu kok.
Ya sudah, kamu hati-hati, ya. Aku sayang kamu.
Aku sayang Mas.
Harus balik cepat, ya?
Kamu itu sama Mbak Nisa selalu bilang, "Aku sayang kamu".
Giliran sama aku tidak pernah.
Kamu itu kenapa sih?
Tiba-tiba cemberut begini?
Hei, jangan cemberut-cemberut dong, ya?
Aku cinta kamu, Rani-ku sayang.
Kamu sudah jadi candu yang tidak ada obatnya buat aku, tahu tidak?
Minggir! Gombal.
Ran…
Sayang, sini dong.
- Tidak. Tidak mau aku, Mas. - Oh, begitu?
Aduh. Mas apa sih?
Mas, kenapa di bak mandi sih, Mas?
- Panas ini. - Sori.
Astagfirullahaladzim!
Ya Allah!
Asalamualaikum.
Sayang?
Kamu…
Kamu tidak apa-apa?
Manda pernah bilang…
badai yang berbahaya justru terlihat biasa-biasa saja.
Berbulan-bulan aku matikan intuisiku.
Cuma karena aku tidak mau berburuk sangka sama kamu.
Kamu bicara apa, sih?
Hebat kamu, Mas.
Selama ini kamu bersandiwara jadi laki-laki yang soleh.
Ayah.
Suami.
Dan kakak ipar yang baik.
Kamu bicara apa sih, Nis?
Kamu itu kenapa sih?
Tiba-tiba cemberut begini?
Hei, jangan cemberut-cemberut dong, ya?
Aku cinta kamu, Rani-ku sayang.
Kamu sudah jadi candu yang tidak ada obatnya buat aku.
Nis…
Jadi, Rani, Mas?
Itu tidak serius. Itu cuma bercanda, Nis.
Dari sekian banyak perempuan yang bisa kamu selingkuhi,
kamu pilih Rani?
Perempuan yang sedarah sama aku!
Jadi selama ini kamu teleponan, kamu chat,
kamu pakai alasan Pak Junaedi itu semua Rani?
Kamu bukan cuma jahat, Mas…
Sakit kamu!
Ya, tapi kamu…
kamu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan aku!
Tapi kan kamu yang minta…
Kamu yang izinkan Rani untuk tinggal di rumah ini, kan?
Apa?
Setelah kamu selingkuhi aku, kamu tidur sama adik aku,
sekarang kamu menyalahkan aku?
Hebat sekali kamu, Mas!
Di mana saja kalian sudah tidur?
Di hotel yang kemarin itu?
Di situ?
Ya Allah.
Di sini?
Di rumah ini?
Di sofa ini? Di sini?
- Nisa, tidak… - Di mana?
- Di meja makan? - Dengar aku dulu, Nis.
Di sini?
Di mana? Di dapur?
Di sini?
Apa lagi, Mas?
- Di kamar Rani? - Nis, sudah.
- Di kamar Rani? - Sudah. Kamu berdarah, Nis!
- Nisa, sudah. - Di sini?
- Di sini? - Nisa, sudah.
Sudah.
Di sini?
Di mana, Mas?
Nis… Sudah, Sayang.
Sudah!
- Di mana lagi? Di kamar mandi? - Sudah.
Di situ?
Sudah!
Di mana lagi?
Di kamarku, Mas?
Nisa.
Nisa, sudah.
Di sini?
Sudah…
Kamu menghancurkan rumah kita, sudah!
Cukup, Nisa! Cukup!
Jadi…
waktu aku ke Yogya kemarin…
kamu lagi di sini sama dia?
Bantal aku yang dia pakai?
Nisa, sudah. Sayang, sudah!
Nisa, Sayang.
Sudah!
Sudah, Sayang…
Jangan panggil aku "Sayang"!
Jangan pernah lagi panggil aku "Sayang"!
Nis, Nisa.
Nisa…
Aku tidak mungkin balik lagi ke rumah itu.
Jijik sekali aku.
Terus sekarang kamu mau ke mana, Nis?
Asalamualaikum, Bu.
Alaikum salam…
Mbak?
Kangen juga ya sama ibu?
Tapi ibu lagi pergi, Mbak.
Kaki Mbak kenapa?
Aku terima kamu di rumah aku.
Aku izinkan kamu masuk ke hidup aku.
Ini balasan kamu?
Salah apa aku sama kamu?
Jawab.
Itu suami aku!
Ayahnya Raya!
Kakak ipar kamu!
Sudah berapa kali kamu melakukan itu?
Di tempat tidurku!
Sudah berapa kali kamu melakukan itu? Jawab!
Berapa kali, Ran?
Sakit!
Sakit kamu bilang?
Lebih sakit mana sama perasaanku?
Kamu masuk ke rumah aku, kamu hancurkan pernikahan aku,
terus kamu bilang kamu paling sakit?
Ya, kalau Mbak perhatian sama Mas Aris
tidak mungkin Mas Aris melakukan ini, Mbak!
Masih berani membela diri?
Tidak tahu malu!
Terus sekarang kamu yang paling mengerti suamiku?
Tahu apa kamu?
Jadi…
selama ini…
perasaan Ibu benar.
Ya Allah. Astagfirullahaladzim.
Maafkan, Ibu. Ini salah Ibu, Nak.
Tidak, Bu.
Ibu berdosa sama kamu.
Maafkan Ibu. Ini gara-gara Ibu.
Ran… Rani…
Rani, ini mbakyu-mu.
Nisa ini mbakyu-mu.
Dia sudah membantu kamu selama ini.
Mbakyu-mu ini sayang sama kamu.
Kok kamu bisa setega ini, sih?
Di mana hati kamu?
Ibu tidak pernah segagal ini jadi orang tua!
Iya, Bu.
Ibu memang gagal jadi orang tua buat Rani.
Ibu tidak pernah percaya sama Rani.
Ibu cuma percaya sama Mbak Nisa, kan?
"Nisa, Rani tinggal di tempatmu, ya?"
"Nisa, jaga Rani ya."
"Nisa, kamu bisa dan Rani tidak bisa."
Iya, kan, Bu?
Berani-beraninya kamu menyalahkan Ibu!
Sadar tidak sih kalau kamu itu salah?
Masih berani berlagak jadi korban?
Emang kenyataannya begitu, kan?
Bukannya hanya Mbak paling mandiri?
- Yang bisa dipercaya! - Cukup!
Aku cuma anak manja yang tidak bisa apa-apa! Iya, kan, Bu?
Sudah! Berani sekali kamu, ya!
Ya Allah!
Ibu!
- Ya ampun, Ibu. Ibu? - Ibu!
Ibu!
Ibu!
Maaf, silakan tunggu di luar.
Biar saya saja yang masuk.
Silakan tunggu di luar, biar pasien kami tangani.
- Saya mohon. - Ibu…
Jadi dari hasil CT Scan,
Ibu Asri ini mengalami pendarahan di otak sebelah kanan.
Jadi, harus segera melakukan operasi.
Kemungkinan terbaiknya apa, Dok?
Kemungkinan terbaiknya beliau akan selamat.
Tapi mungkin akan sedikit gangguan
pada ingatannya yang sepertinya agak permanen.
Selama sama Tante Manda tidak nakal, kan?
Pintar.
Ya sudah, pamit ya sama Tante Manda.
Terima kasih, Tante!
Sama-sama, Sayang. Nanti main lagi, ya.
Oke?
Main-main lagi, ya?
Ma!
Ma, lihat deh.
Lihat. Bagus tidak?
Ini Mama, ini Raya,
ini Tante Rani, ini Papa.
Memori ibu Anda sudah banyak yang hilang,
yang tersisa mungkin hanya ingatan-ingatan yang lama.
Jika kondisinya membaik dalam beberapa hari ke depan,
beliau sudah bisa dibawa pulang.
Tapi untuk sementara, jangan dibebankan dengan pikiran yang berat dulu, ya.
Karena kondisinya masih lemah.
Baik, Dok.
Saya permisi.
Permisi.
Nisa.
Ibu?
Di mana ini?
Ibu kemarin jatuh,
tapi sekarang sudah sembuh.
Sebentar lagi bisa pulang.
Adikmu mana?
Rani di sini kok, Bu.
Rani, sini.
Sebelah Ibu.
Betah kamu di rumah mbakyu-mu?
Iya, Bu.
Ibu…
ingin…
tinggal bersama kalian.
Habis ini, Ibu pulang ke rumah Nisa, ya.
Kita pulang sama-sama.
Sus, yang ini boleh diangkat saja.
Baik.
Rani di mana?
Dia baik-baik saja, Bu.
Sekarang Rani lagi kuliah.
Dia tinggal di mana?
Dia tinggal di sini sama Nisa, Bu.
Alhamdulillah.
Ibu itu khawatir sekali sama adik kamu.
Dia itu anaknya manja,
jadi harus benar-benar dijaga.
Iya, Bu.
Sus.
Tolong jaga Ibu, saya mau jemput anak saya.
Baik, Bu.
Nis. Nisa.
Kamu mau sampai kapan sih diamkan aku kayak begini, Nis?
Terus mau apa?
Apa lagi yang mesti dibicarakan?
Kalau ibu tidak meminta, aku juga tidak sudi ada di rumah ini lagi.
Sudah seminggu terakhir ini, ramai terus.
Itu keikmu dibeli.
Sudah sampe viral.
Manda.
Kok Mas Aris bisa tega ya sama aku?
Apa karena aku terlalu sibuk sama Legi Roti?
Aku terlalu sibuk sama pekerjaanku?
Tidak, Nis.
Tidak ada hubungannya kamu sibuk,
tidak ada hubungannya Legi Roti
sama apa yang Aris lakukan.
Aris kayak begitu karena mungkin tabiatnya memang begitu.
Seenaknya sendiri kayak begitu.
Aku sebagai anak didiknya saja itu, aku membayangkannya jijik sekali!
Tidak ada hubungannya, tidak seharusnya menyalahkan
dirimu sendiri karena kamu sibuk sama Legi Roti.
Kamu lihat Legi Roti sekarang, tidak?
Legi Roti itu ramai sekali, loh!
Semua orang itu beli keikmu, loh.
Keik buatanmu.
Kamu hebat banget kayak begini, kok.
Tidak ada yang salah.
Astagfirullah…
Astagfirullah…
Nisa.
Mau ke mana?
Ini Rani, Bu.
Jangan pergi jauh-jauh.
Tidak, Bu. Ini Rani cuma mau ke kamar sebelah saja.
Mbak…
Mbak tidur di sini saja, ya.
Tidak usah, tidur saja.
Mbak…
Maafkan Rani ya, Mbak.
Halo, Sayang.
Papa juga ikut jemput?
Iya dong.
Yuk, pulang yuk.
Bu, Raya-nya mana, yah?
Raya…
Nah, itu itu di situ.
- Terima kasih ya, Bu. - Iya.
Raya. Hei, Sayang.
Maaf ya, Papa-nya telat jemput. Maaf ya, sudah bikin Raya menunggu.
Pa, kenapa sih Mama sekarang sering menangis?
Kalau mama menangis,
Raya-nya hibur Mama, tidak?
Sudah.
Tapi Mama bilang tidak apa-apa.
Kayaknya harus Papa yang hibur Mama.
Iya, soalnya Papa yang selalu bikin Mama tertawa.
Iya.
Iya, Sayang.
Nanti…
Nanti Papa hibur Mama, ya.
Iya.
Papa kok menangis juga?
Apa?
Tidak…
Papa kelilipan, Sayang.
Itu?
Papa kelilipan sepatu. Itu.
Besar sekali, Pa.
Kok bisa masuk ke mata?
Iya, kan mata Papa sebesar baskom. Itu, lihat itu.
Papa tidak apa-apa, Sayang.
Raya ingin Papa sama Mama tertawa lagi.
Dengar, Papa.
Nanti…
kalau Eyang Uti sudah sembuh, sudah sehat,
Papa akan ajak Raya sama Mama jalan-jalan,
kita ke pantai.
Nanti kita main lari-larian, kita bangun istana-istana pasir.
Terus kita berenang.
- Mau tidak? - Benar, Pa?
Benar. Papa janji.
Ya?
Oke.
- Mau pulang tidak? - Ayo.
Nanti dicari mama kamu, loh.
Ya.
Dibereskan, ya.
Taruh di sini, ya.
Dik.
Kamu hamil?
Jahat kamu, Mas.
Jahat kamu.
Kamu tidak cuma menghancurkan keluargaku,
kamu menghancurkan adikku.
- Nis… - Mundur!
Minggir! Aku tidak sudi lihat muka kamu lagi!
Nis.
Kasih tahu aku…
bagaimana caranya aku perbaiki ini semua? Bagaimana?
Mbak. Maafkan Rani, Mbak.
Jahat kamu, Mas!
Tega kamu!
Maafkan, Rani. Rani minta maaf, Mbak. Rani minta maaf. Rani salah.
Dia itu ayahnya Raya!
Apa kamu tidak terbayang wajahnya Raya yang tidak berdosa
sebelum kamu tidur sama ayahnya?
Bagaimana aku mau memaafkan kamu?
- Bagaimana? - Mbak. Aku ini adikmu, Mbak.
- Aku adikmu. Aku minta ampun. - Tidak, minggir!
Mbak! Maafkan aku, Mbak.
Maafkan adikmu, Mbak.
Bukan!
Kamu bukan lagi adikku.
Mbak…
Nisa.
Rani.
Nisa.
Ya Allah.
Ibu.
Ibu.
Ibu…
Kalian jangan bertengkar.
Kalian bersaudara.
Kalian bersaudara.
Kalian bersaudara.
Bersaudara.
Kalian bersaudara.
Astagfirullahaladzim.
Ibu?
Ibu?
- Ibu? - Ibu! Ibu…
Ibu…
Ibu! Ibu!
- Ibu? - Ya Allah!
Ibu!
Ibu…
Ibu!
Ibu…
Astagfirullahaladzim…
Ayo, Nak.
Nisa.
Pa!
Ayo, Pa, kita pulang.
Ayo pulang, Pa.
Nak, ayo kita pulang.
Tidak mau!
Sayang, Raya pulang duluan sama Mama.
Nanti Papa menyusul, ya?
Raya mau pulang sama Papa.
Pintar anak Papa, kan?
Nanti Papa menyusul, ya?
Nanti Papa menyusul.
Raya, yuk, Nak. Kita pulang.
Raya tidak mau!
Raya mau sama Papa!
Raya, sudah ayo!
Tidak mau, Ma!
- Raya, ayo kita pulang. - Tidak mau!
Raya mau sama Papa!
- Ayo, Nak. - Tidak mau, Ma!
Ayo!
Tidak mau, Ma! Raya maunya sama Papa.
Sudah, ayo.
- Ayo, Nak. - Raya tidak mau, Ma!
Papa sudah janji kalau Eyang Ti sudah sembuh
kita bakal main di pantai.
Iya, Sayang. Kamu pulang dulu sama Mama. Nanti Papa menyusul.
Ya? Papa janji.
Janji, Sayang. Papa janji.
Ayo, Sayang. Sudah ditunggu Mama.
Ayo, Nak.
- Tidak mau, Ma. - Ayo. Ayo kita pulang.
Pa!
Pa!
Pa!
Pak Aris.
Pak Aris.
Saya minta maaf karena tidak bisa bantu
saat di hadapan Rektor, ya.
Tidak apa-apa, Pak Junaedi.
Justru saya mau bilang banyak terima kasih sama Pak Junaedi
karena selama ini sudah membimbing saya, menasihati saya.
Saya kasih bonus nasihat.
Dosa itu perbuatan buruk.
Tapi seburuk-buruknya dosa, kalau kita meremehkannya.
Kalau butuh teman mengobrol, saya siap melayani setiap saat.
Saya siapkan tebakan-tebakan yang lebih estetik.
Oke?
Oke, Pak.
Terima kasih banyak, ya, Pak Junaedi. Pamit.
Es apa yang cuek?
Esprek.
Al hamwu al mautu.
Ipar itu adalah maut.
Begitu sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari Muslim.
Nah, maut di sini artinya peringatan kehati-hatian.
Jadi, kehati-hatian yang wajib untuk dijaga.
Sebab, adik atau kakak perempuan istri,
maupun adik atau kakak laki-laki suami,
statusnya bukanlah muhrim.
Kalau punya adik perempuan, jangan izinkan tinggal di rumah.
- Mengerti? - Ya.
- Mengerti? - Ya.
- Akhirnya tempat yang aku tunggu-tunggu. - Aku juga sangat tunggu-tunggu ini.
Viral sekali ini.
Silakan menikmati.
Terima kasih.
Nisa.
Tante, sebentar ya.
Tolong layani yang ini, ya.
Tante Esti.
Senang sekali kafe-nya ramai.
Kamu juga menata tempatnya ciamik.
Alhamdulillah. Duduk, Tante.
Ini tempat kita keempat, ya?
Kelima, Tante.
Kelima. Iya.
- Tante mau minum apa? - Tidak usah repot-repot.
- Jangan, Tante. Ada yang spesial. - Spesial?
- Kim! - Iya, Mbak?
Ini loh, Tante, minuman spesialnya.
Ini spesial Jus Sunkist.
Terus sama yang ini Tropical Drink.
- Mau yang mana, Tante? - Ini saja yang kayak bensin.
Terima kasih, ya.
Aneh-aneh saja ini. Pakai rumput?
Tante ke sini cuma mampir, sambil mau kasih…
Ini.
Masyaallah.
Selamat ya, Nisa. Tante turut bangga.
Tante Esti.
Macet tadi ke sini?
- Lumayan. - Maaf ya, Tante.
Tadi aku urus stok di belakang…
Habis semua. Ramai sekali ternyata.
- Alhamdulillah ramai. - Iya, alhamdulillah.
Aduh!
Suka sekali.
Aku juga suka sekali. Ini cantik sekali.
Nis.
Dia jadi datang, tidak?
Tidak.
Tidak apa-apa?
Ya, tidak apa-apa.
Harusnya, aku menutup peluang buruk sebelum terjadi
dan lebih tegas melindungi rumah tanggaku.
Harusnya aku berani menolak sesuatu jika ragu dan lebih memercayai intuisiku.
Tapi seperti yang juga disabdakan Rasulullah SAW,
"Tak ada kejadian kecuali untuk dipetik hikmahnya."
Suatu hari nanti,
ketika Raya dewasa,
akan kusampaikan pelajaran ini padanya.
Agar dia tidak hanya menjadi perempuan yang baik.
Tapi juga perempuan yang berpendirian.
Bukan hanya menjadi perempuan yang berwelas asih,
tapi juga perempuan yang tegas.
Bukan hanya menjadi perempuan yang cerdas,
tapi juga menjadi perempuan yang memegang ajaran agama.
Biarlah aku sampaikan pelajaran ini padanya.
Bersama doa-doaku yang akan selalu memeluknya.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.