Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Beberapa kalangan berpendapat bahwa kepercayaan akan makhluk gaib
adalah manifestasi bentuk rasa takut
yang dialami oleh masyarakat sosial yang bersangkutan.
Kepercayaan soal makhluk gaib
sudah lama mengakar di budaya kita.
Di desa-desa, kita melihat kepercayaan itu makin kental.
Eksistensialisme adalah paham yang menempatkan manusia
pada titik tengah hubungan relasi.
Untuk bisa eksis, manusia harus sadar
tidak ada makhluk lain yang mempunyai eksistensi selain dirinya.
Kita semua di sini adalah manusia yang tampak.
Tapi bukan berarti yang tidak tampak atau yang gaib tidak bisa eksis.
Ketika kita percaya mereka ada,
maka mereka ada.
Intinya, sesuatu itu tidak bisa dibilang tidak benar
hanya karena belum bisa dibuktikan pada saat ini.
Teh Risa, kita akan mulai wawancara sekarang.
- Oke. - Saya akan duduk di sana
pandangan mata Teh Risa lihat ke saya.
- Oke. - Oke?
Nick. Siap-siap.
Siap, Mas.
Mulai.
Nama saya Risa Saraswati.
Saya penulis, saya pemain band, saya pembuat konten.
Saya pegawai negeri sipil.
Dan saya bisa melihat hantu.
Selain Peter, ada William, Hans, Hendrick, Janshen, bahkan Marianne.
Awalnya saya takut dengan mereka.
Tapi lama-kelamaan, saya mulai membuka gerbang dialog dengan mereka,
dan mulai menuliskan kisah tentang mereka.
Banyak yang menganggap saya berbohong.
Tapi bagi saya, nama mereka, kisah mereka, benar nyata adanya.
Mereka tidak peduli kalian percaya atau tidak.
Mereka hanya ingin didengar
bukan untuk dipercaya.
Ada satu sosok yang benar-benar bikin saya takut.
Dulu saya enggak sengaja panggil dia di siniar dan YouTube-nya Jurnal Risa.
Siapa namanya?
Enggak.
Jangan pernah sebut nama itu. Nanti dia marah.
Lebih baik kita enggak pernah ingat dan enggak pernah sebut nama itu lagi.
Hampir seluruh anggota keluarga saya
punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan hantu.
Makanya kita bikin Jurnal Risa.
Jurnal itu adalah proses kami berkomunikasi dengan hantu
dan sekaligus memperkenalkan apa yang bisa kita lihat di sana.
Ini bakal jadi tempat penelusuran kita yang asyik.
Mantap, Teh.
Cocok sih, Neng.
- Mantap, ya? - Ya.
- Teh, cek dulu. - Oke.
Satu, dua, satu. Aman?
- Oke. Yuk. - Oke.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
- Selamat datang di Jurnal Risa. - Jurnal Risa.
Hari ini kita akan melakukan penelusuran agak keluar dari kota Bandung,
tepatnya di daerah Subang.
Saya enggak akan sebut tempatnya,
tapi yang pasti saya enggak datang sendirian.
Saya bawa tim Jurnal Risa.
Ada Dimasta.
Ada Nicko.
Indy.
Terus ada Kakang.
Ada Riri yang jauh-jauh dari Jakarta.
Dan juga Fahrul.
Dan tentu saja ada dua orang suhu kita,
ada Angga dan Jefri, yang nantinya akan melakukan pembersihan
di saat penelusuran, biar kita terjaga, ya?
- Ya, benar. - Oke.
- Siap. Siap, kan? - Gas.
Teh, ini peserta uji nyali kita.
Hai!
- Halo. - Halo.
- Ini Ardi. - Hai.
- Halo. - Risa.
- Ini Feli. - Halo.
- Ini Prisa. - Prinsa.
- Prinsa. - Oh, salah saya.
Oke, alhamdulillah. Semua sudah kumpul.
Sekarang sebelum kita memulai penelusuran, kita berdoa dulu, ya.
- Dipimpin sama Angga. - Boleh.
Oke, sebelum memulai kegiatan, kita berdoa dulu supaya semuanya lancar.
- Amin. - Berdoa dimulai.
Amin.
Seperti biasa, sebelum kita mulai…
- Ayo, Ko. - Iko.
Ayo.
Untuk Jurnal Risa, bangsa, dan negara!
Ya. Oke.
Siap.
- Halo. - Halo.
Jadi, ini pertama, ya, kalian ikut tim Jurnal Risa?
- Ya. - Ya.
Kalau boleh tahu, apa alasan mau ikut?
Kalau aku, ini menarik sekali.
Ditambah lagi, aku juga penggemar Teh Risa.
Kalau aku, penasaran saja rasanya ketemu mereka begitu.
Kalau Mbak Prisna?
Kenapa ikut?
Omong-omong sebelum aku jawab, nama aku Prinsa.
- Bukan Prisna. - Oh, ya. Maaf.
Orang selalu salah menyebut namaku.
Tapi kalau nama hantu-hantunya Teh Risa, semua orang pada hafal.
Bahkan ada satu hantu yang enggak boleh disebut namanya, orang juga kenal.
Jadi, siapa tahu dengan aku ikut ini,
aku bisa lebih eksis dibanding yang gaib.
Cuma tikus.
Hujan, Pak. Geser saja.
Geser saja. Hujan.
Yuk, ke sana saja.
Oke, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan penelusuran.
Sudah malam, sudah cocok.
Enggak mungkin kalau ramai-ramai, kan?
Jadi, kita akan bagi menjadi tiga tim.
Tapi sudah merasa pusing belum, Bang?
- Hah? - Sudah pusing.
Merasa. Apalagi kalau misalnya bangunan ini, kan, bangunan tua, ya?
- Jangan peluk-peluk. - Iya, enggak.
Kamu di sini sudah merasa ada apa?
Oh, memang berani, ya? Memang berani anaknya.
Tuh, kan.
Dengar sesuatu?
Bukan, ini…
Serius. Barusan… Dengar suara?
- Enggak. - Kayak suara…
Kenapa ajak ke sini?
Kayaknya ada satu sosok di sini
yang menarik aku ke sini.
Jangan dalam-dalam, Teh.
Nanti dulu.
Kamu merasakan apa, Ndy?
- Mau menangis banget. - Sini, Ko.
Mau menangis banget.
- Astagfirullahaladzim. - Ya, kan? Kelihatan, kan?
- Kenapa banyak sekali perempuan di sini? - Banyak banget.
Tidak bisa tahan.
Kamu sepenasaran apa sih?
Cukup penasaran sih, karena belum pernah lihat juga.
- Jadi, ingin… - Ya, mungkin…
Aduh.
Astagfirullahaladzim…
Di atas, A.
Ini sudah enggak benar.
Keluarkan saja, ya?
- Enggak bisa diajak omong juga. - Mbak.
- Maaf. - Sini saja deh, takut. Aku ke samping.
Jangan di sini. Tolong. Enggak mau. Ada banyak banget.
Ini baru. Baru mulai.
Dilihat banget lagi, ya Allah.
Sebelah situ, ya? Sebelah situ.
Oke.
Takut.
Oke, Fel. Kita akan tinggalkan kamu di sini untuk uji nyali.
Kita juga sudah pasang dua kamera, di atas sama di bawah.
Di sebelah sana ada kamera.
Nanti Ardi lihat ada satu kamera di sini.
Di situ juga ada kamera.
Jadi, dua kamera ini akan merekam semua aktivitas Ardi di sini.
Biar kamu bisa komunikasikan apa yang kamu dengar,
apa yang kamu lihat, dan kamu rasakan.
Kalau ada apa-apa, enggak kuat,
kamu tinggal tepuk saja.
- Oke. - Nanti kita akan jemput.
- Oke. - Siap?
Insyaallah.
- Kita tinggal, ya? - Oke.
Apa itu?
Gelap.
Coba eksplor, ah.
Permisi.
Oke.
Main, yuk.
Oke.
Permisi.
Jadi, ini bangunan yang…
Wow!
Hai, Semuanya.
Ini aku sedang uji nyali.
Saya…
Sekarang…
Punya sebuah boneka…
Prins?
Tak terkira…
Prinsa, jangan menyanyi.
Bagusnya
Dan menggemaskan
Halo?
Peter?
Dia panggil Peter dan kawan-kawan.
- Bergerak-gerak. - Hans?
- Baterai ponselnya lemah? - Hendrick?
Asih?
Kok enggak ada yang datang, ya?
Atau…
Aku coba panggil
hantu yang enggak boleh disebut namanya kali, ya?
Siapa tahu datang.
Samex?
Samex.
Samex.
Mungkin harus cepat, dipanggil yang banyak. Oke.
Samex.
Samex.
Cek saja, cek.
Sini.
- Prinsa. - Kesurupan.
Nanti dulu, Teh.
Istigfar.
Istigfar, Prinsa. Istigfar.
- Berdiri. - Ayo, istigfar.
Kenapa, A?
- Kesurupan dia. - Kenapa?
Kesurupan.
Ya, Allah.
Kenapa? Jangan di sini.
Kayaknya sudah cukup deh. Balik, yuk.
Ya.
Ya sudah, ini kita cukupkan saja.
Kita berkemas saja. Yuk.
Yuk.
Mungkin harus cepat, dipanggil yang banyak. Oke.
Samex.
Samex ini yang dulu sempat jadi tren di Twitter, ya?
Jangan sebut nama dia.
Jangan pernah sebut.
Prinsa kayaknya kemarin sengaja menyebut namanya.
Dulu saja, waktu ini sempat viral banget,
orang-orang merasa kalau sosok itu mendatangi mereka.
Tapi apa mungkin dia datang lagi ke Prinsa?
Coba cek, Kang.
Yang mana, Teh?
Aku coba panggil
hantu yang enggak boleh disebut namanya kali, ya?
Coba deh.
Samex.
Samex.
- Mujairnya sekilo, Bu. - Oh, ya.
Eh, ini Kakak yang videonya viral itu, ya?
- Terima kasih ya, Kak. - Sama-sama.
Sekarang dari tim Jurnal Risa sudah ada yang ke rumah Prinsa.
Prinsa harus dicek.
Takutnya ada sosok yang menempel di tubuhnya.
Siapa yang Teteh maksud?
Uwa Satirah.
Salah satu kerabat jauh keluarga kami.
Nama itu disematkan saat dia mulai menghantui keluarga kami.
Orang desa asalnya yang memberikan.
Kalau menurut Bapak,
jika dalam lima hari dia tidak dipindah,
jiwa yang ditempati akan hilang.
Mudah-mudahan bukan Uwa yang menempel di tubuh Prinsa.
Astagfirullahaladzim.
Hai!
Lihat nih, aku kedatangan siapa.
Ada A Angga sama Teh Indy.
Sapa dong.
Nah, A Angga sama Teh Indy adalah tim Jurnal Risa.
Kalian ingat, kan, yang aku ikut penelusuran.
Ingat, kan?
Ya sudah, masuk yuk.
Wah, seru banget.
Jurnal Risa sekarang liput sampai rumah?
A Bayu.
A Angga, Teh Indy, kenalkan ini A Bayu, sepupu aku.
Sekaligus dia yang mengurus semua keperluan kegiatan Prinsa.
- Sa… - A Bayu.
Jurnal Risa baik buat Prinsa. Ya?
Tolong.
Saya Angga.
Bayu.
- Indy. - Bayu.
Ini ada apa, ya?
Kalau aku boleh tanya
sehabis dari uji nyali kemarin, merasa sesuatu yang aneh, enggak?
Enggak sih, biasa saja.
Ya, kan, A?
Oke, Prinsa.
Setelah uji nyali kemarin,
memang video itu jadi viral.
Tapi kami dan tim Jurnal Risa
merasa kamu ketempelan.
Dan kami datang ke sini
untuk bersihkan kamu.
Izinkan saya bersihkan kamu, ya.
Ya.
A, hilang ke mana?
Loh, Teh Riri?
Teh Riri?
A?
A?
Ndy?
Indy?
Tolong aku, A!
Uwa.
Uwa?
Duduk.
Duduk.
Sa?
Sa?
Prinsa?
Tadi kayaknya itu benar Uwa deh.
Soalnya, Uwa suka menyamar jadi orang-orang yang kita kenal.
Tadi saja aku pikir Teh Riri yang datang.
Tapi…
Segini?
Nah, iya.
Lihat baterai.
PUKUL 02.04
Apa itu?
Sedang apa sih?
Prinsa?
Kenapa?
Ada apa sih, Dan?
Itu tadi…
Hari ini, aku diundang ke salah satu siniar pembuat konten.
Dan aku belum pernah sama sekali diundang begini.
Ini kali pertama aku diundang ke siniar orang.
Selama aku main YouTube lima tahun, aku belum pernah dilihat orang begini.
Aku enggak tahu mungkin apa aku biasa saja atau enggak tahu apa.
Tapi yang jelas, aku deg-degan banget.
Oke, Semuanya. Dah!
- A, yuk. - Yuk.
- Duluan, ya. - Ya.
- Lihat enggak? - Ada di sana.
Duduk di situ, bintang tamunya di sini.
Nanti baru yang keduanya kayak…
Mbak Mi. Mbak Prisna.
- Di situ dulu saja. - Terima kasih.
Nanti kalau misalnya sudah, langsung dicopot…
- Sini Mbak, ya. - Oke.
Terima kasih.
Ayo, kita mulai, yuk.
Hai, Semuanya. Balik lagi sama aku, Mimi,
di siniar When Someone In Love With…
Prinsa marah-marah di tempat siniar.
Tadi Bayu telepon.
Marah-marah?
Sa.
Kayaknya harus dibersihkan lagi.
Kenapa harus dibersihkan terus?
Aku masih Prinsa!
Ya, takut kalau misalnya itu…
Samex?
Samex maksud kalian?
A…
Dy…
Sudah enggak apa-apa. Di sini saja.
PUKUL 02.04
Prinsa?
Prinsa!
- Prinsa enggak ada. - Enggak ada?
Di luar juga enggak ada.
- Sa? - Sa?
Sa?
- Prinsa? - Cek sekali lagi deh.
- Sa? - Sa?
- Prinsa? - Prinsa?
Enggak ada.
Sa?
- Enggak ada juga? - Enggak ada.
Prinsa!
Ini rekaman CCTV-nya.
Halo.
Halo, Mas. Saya Fras dari manajemen studio Dreamland.
Apa benar ini Bayu, sebagai kontak dari Prinsa Mandagie
yang pagi ini akan melakukan sesi pemotretan?
Ya, Mas. Dengan saya sendiri.
Rencana hari ini, ya? Pukul 09.00?
Tapi maaf ya, Mas. Kayaknya enggak jadi deh.
- Karena… - Begini, Mas. Ada kejadian tadi malam.
Ada baiknya Mas segera ke studio sekarang.
Ini menyangkut Mbak Prinsa.
Ditunggu kedatangannya, ya, Mas. Segera. Terima kasih.
Bay?
Silakan, Pak.
Prinsa?
Pri…
- Baju Prinsa. - Ya Allah, Prinsa!
Tunggu, jangan ke sini dulu. Tunggu!
Prinsa. Ya Allah.
Ya Allah.
Ayo, duduk sini.
Sa…
Aku di mana?
A Bayu, aku kenapa?
Kok di sini?
Ini, Teh.
Video ini cuma saya yang lihat?
Kami tim dokumenter enggak tega untuk menunjukkan video ini ke Bayu.
Kalau yang ini semalam, Teh.
Menurut Teteh bagaimana?
Prinsa dimasuki oleh arwah Nenek Satirah atau Samex?
Uwa Satirah adalah kerabat jauh keluarga kami.
Beliau adalah sahabat dari almarhumah nenek kami.
Pada saat itu, saya, Angga, masih kecil.
Hidupnya jauh dari agama.
Almarhum Nenek pernah memberikan mukena untuknya.
Dan beliau menolaknya.
Tidak lama dari situ,
beliau meninggal dunia.
Dan semenjak itu, arwahnya mulai menghantui keluarga kami.
Bapak atau kakek kami berusaha mengikat beliau
dengan dibantu seseorang asal desa asal Uwa.
Semenjak itu…
namanya berubah menjadi Samex.
Berarti Prinsa sebut namanya saat sedang di Jurnal, Teh.
Dik, hati-hati, ya.
Ya sama seperti kebanyakan orang,
Prinsa pasti penasaran dengan sosok itu.
Tapi dia enggak pernah tahu konsekuensinya apa.
Kamu sudah pulang? Itu Mama.
Kenapa?
Enggak. Enggak apa-apa.
Enggak usah kita bahas lagi, ya.
Untuk apa kamu bawa kamera begitu?
Tadi tim dokumenter titip. Takutnya ada apa-apa.
Memang tadi sore ada kejadian apa sih?
Kayaknya ada yang enggak beres deh.
Hei. Coba, tangan kamu kenapa sih? Kok garuk-garuk terus?
Sudahlah. Yuk, tidur saja.
Ya sudah.
Ri, Dik.
Loh.
- Ari? Ari ke mana? - Tadi Ari di situ.
Ri?
- Ari? - Ari?
Coba aku cek dulu sebentar.
Ri?
Itu Ari lagi tidur di kamar.
Loh.
Sebentar. Ayo, kita cek. Ari?
Ari?
Kok ada di sini? Dari tadi bukannya ada di kamar, ya?
Ya sudah.
- Kayaknya Ari tidur di kamar kita saja. - Panas, Ba. Panas.
- Iya. Ayo, Sayang. Ayo. - Panas.
Hei.
Kondisi Ari sudah mendingan.
Panasnya sudah turun.
Kata Dokter sudah tidak apa-apa.
Ya? Kamu jangan sedih lagi.
Sudah.
Aku jaga Ari dulu, ya.
Ya.
Kita harus ketemu Bapak.
- Kita harus bicara sama Bapak. - Ya.
Tenang.
Biar ini kita yang urus.
Neng fokus saja jaga Ari, ya.
Tidak sengaja menyebut nama Uwa, Pak, di YouTube.
Kenapa bisa ceroboh seperti itu?
Kalian sudah pada tahu, kan?
Sa.
Prinsa.
Salat, ya.
Ya, nanti.
Nanti.
Biar tenang.
Biar tidak diganggu.
Ya?
Aa habis ini juga salat kok.
Terima kasih, sudah memberiku ini.
Tapi tidak akan aku pakai.
Kau saja yang ke surga.
Aku mau di Sawah yang lega saja.
Ini sudah hari ketiga.
Dan aku sudah benar-benar capek banget.
Harus terus dibersihkan berulang-ulang.
Dan selalu mengalami kejadian yang bahkan aku sendiri pun enggak sadar.
Jadi, malam ini aku mau jaga-jaga saja.
- Kak Indy. - Ya?
Kak Indy enggak takut apa…
tiap hari begini?
Takut, ya, kadang takut.
Tapi, kan, ada yang lain.
Jadi, aman.
Kalau aku,
cuma ada A Bayu.
Malahan,
dulu aku cuma sendiri.
Kak Indy, aku mau tanya deh.
Kak Indy punya sahabat?
A Nicko itu kakak aku sekaligus sahabat buat aku.
Orang-orang di Jurnal Risa juga semuanya sudah kayak sahabat.
Kalau kamu?
Dulu aku punya.
Dulu sekali.
Dulu kita sahabat.
Berempat.
Dua orang ikut orang tuanya ke kota.
Sekarang sisa berdua.
Tapi sudah tidak bersama lagi.
Yang satu bunuh diri.
Yang satunya mati, dengan kondisi tidak pernah salat.
Kenapa bilangnya Uwa, bukannya Samex?
Dy.
Prinsa mana?
Bukan Prinsa.
Uwa di sini, A. Hati-hati.
Prinsa?
Seratus mayat, 200 mayat, 300 mayat.
Bay, hati-hati.
Pelan-pelan, Bay.
Prinsa.
Prinsa.
Prinsa, sadar. Prinsa.
- Bay. - Ya?
Siapa?
Dudukkan saja, Bay.
Aceng…
Kenapa kamu mengganggu Prinsa?
Apa maksudmu?
Aku tidak mengganggunya.
Aku dipanggil oleh mereka.
Ayo, cepat pulang.
Pulang.
Bay, pegang, Bay.
Pembohong!
Aku tidak mau diikat lagi.
Bismillahirrahmanirrahim.
Panas!
Sa.
Sadar, Sa.
Bay.
Prinsa!
Awas, Bay.
Awas, Ko.
Astagfirullah.
Kang. Jangan di situ, Kang.
Pegang, Kang! Pegang!
Uwa.
Sudah, Uwa. Masuk ke saya saja, Uwa.
Tidak mau!
Awas.
Sadar, Kang?
Bawa duduk, Kang.
Prinsa.
Sepertinya, ini bukan Uwa.
Bapak rasa ada yang gaib.
Yang berwujudkan Uwa.
Cepat.
Segera pergi ke tempat asal Uwa.
Hanya mereka yang bisa mengikat.
Mereka yang menunggu untuk mengikat Uwa.
Mereka juga
yang memberi nama Samex pada Uwa.
Keadaan sudah semakin berbahaya bagi Prinsa.
Menurut Bapak, jalan satu-satunya
hanya membawa Prinsa kembali ke kampung halaman tempat Uwa berasal.
Apa pun bisa terjadi di sana.
Tapi mereka semua harus bisa menghadapinya.
Kalau tidak,
bisa-bisa…
Prinsa…
tidak akan kembali, selamanya.
Aku mau dibawa ke mana?
Kalau kamu kira
aku akan takut dibawa ke tempat lahirku…
Kamu salah.
Ayo, Sa. Yuk.
Pelan-pelan.
Itu…
kosong, ya?
Siapa mereka?
Sepertinya dari kota.
Mau apa ke sini?
Itu kenapa, Pak?
Ada apa, A?
Pergi kau, pergi dari sini.
Pulang kalian semua!
Cepat pulang kalian!
Pulang sana! Pulang kalian semua!
Kak, ini kenapa, ya?
Ibu, Bapak.
Kami ke sini hanya mencari rumahnya Aki.
Kalian semua tamunya Aki?
Ya.
Ayo ikuti saya.
Permisi, Pak.
Demi tanah, demi air,
100 mayat,
200 mayat.
Demi tanah, demi air,
100 mayat,
200 mayat.
Ini darah dan alas apa, Mak?
Alas…
untuk penggantinya meruwat.
Supaya tidak ada lagi yang mati.
Memang bisa ada yang mati?
Sudah beberapa hari.
Banyak tanda-tanda yang tidak masuk akal.
Ini pasti akan ada kejadian yang aneh.
Emak, bisa bertemu dengan Aki sekarang?
Ayo.
Ayo. Ayo, Bay.
Tidak ada satu pun warga desa
yang berani tinggal di sini.
Karena takut.
Nah, ini rumahnya Uwa Satirah.
- Lepas. Enggak apa-apa, lepas saja. - Sudah sampai.
Awas.
Sudah sampai.
Kalian semua, jangan masuk dulu.
Mau dibersihkan dulu sama Emak.
Ayo, Arja.
A, sadar.
Permisi.
Silakan masuk.
Saya tetua di sini.
Apa kalian cucu-cucu Aceng?
Ya, Aki.
Sudah malam kelima, ya?
Ambilkan kursi.
Bawa ke sini.
Biarkan dia duduk.
Ki, maaf. Prinsa mau diapakan, Ki?
Bay, ingat kata Teh Risa, Bay. Ikuti saja, Bay.
- A, Prinsa… - Untuk kebaikan Prinsa.
- Ikuti saja. Mereka tahu. - Iya.
Ayo, Sa.
Tolong dibantu.
Seratus mayat, 200 mayat, 300 mayat.
Seratus mayat, 200 mayat…
Tiga ratus mayat.
Kamu akhirnya keluar.
Satirah.
Aki.
- Satirah. - Aki.
Kata Bapak, yang masuk bukan Uwa Satirah.
Lalu ini siapa, Ki?
Bukan hanya Uwa Satirah yang dijuluki Samex di kampung ini.
Wujud gaib, dari orang-orang yang matinya tidak wajar.
- Ito. - Ya, Aki.
Jangan terlalu banyak yang masuk.
Hei. Kita di sini saja, Bay.
Tunggu di sini.
Tenang, di sini.
Percaya, mereka lebih tahu.
Oke?
Ini Uwa Satirah.
Ini Mak Enok, nenek kami.
Ini Mak Eya, kakaknya Nenek.
Dan ini Uwa Imas.
Aku mau tanya lagi.
Terus kalian mau apa ke sini?
Kalian kira aku takut dibawa ke kampung sendiri?
Saat ritual, gerbang gaib akan terbuka.
Ketika Samex keluar dari tubuh perempuan ini,
mungkin bukan cuma dia yang lepas.
Banyak gaib yang akan mencari manusia untuk tempat bersemayamnya.
Sudah empat tahun kampung ini terkena kutukan.
Banyak warga yang terkena.
Dan matinya tidak wajar.
Gagal panen.
Kemarau berkepanjangan.
Sebagian dari mereka
yang selalu mengganggu
akan dijuluki Samex.
Seperti kejadian yang menimpa Prinsa.
A, jadi bagaimana nih?
Kita di sini saja.
Sambil menunggu persiapan mereka.
Oke.
Prinsa sama Bayu biar istirahat untuk ritual nanti malam.
Oke.
Jembatan…
- Ryan, ayo. - Sungai…
Mas Bayu, saya sama Ryan pergi dulu, ya.
Soalnya kita mau lihat persiapan ritual nanti.
- Oke. - Nick.
Sajen.
Jembatan…
- Sa… - Sungai…
Panas.
Sini. Aa bantu.
Panas.
Jembatan…
- Sa… - Sajen…
Tanah…
Jembatan…
Jangan ganggu adik saya.
Jangan ganggu adik saya.
A, ini aku Prinsa, A.
A, capek, A.
Mau pulang.
- Sa… - A, mau pulang.
Ya…
Aa janji, setelah kamu sembuh, nanti kita pulang, ya.
Kamu mau apa? Aa turuti. Apa pun.
Aku ingin mencoba ari-ari bayi.
Aku belah secara perlahan.
Jantung…
Atau organnya.
Sa.
Akan kurasakan terus enaknya setiap waktu.
Sa…
Mas, nyalakan lampu, Mas.
Di mana dia?
Ini Prinsa ke mana?
Prinsa?
Coba cari di sebelah sana.
Sa?
Enggak ada.
Prinsa!
- Kenapa? - Tadi ada…
Kayaknya Prinsa enggak di sini. Ayo ke sana.
Aduh.
Prinsa.
Sa?
Sa?
Sa?
Prinsa?
Prinsa?
Prinsa?
Ini di mana?
- Kita di mana? - Di mana ini?
Rik, balik. Rik!
Cepat!
Bayu.
Dikunci.
Suara Prinsa.
Sa?
Prinsa?
Bay?
Bayu?
Bay? Bayu?
Bay?
Bayu?
Bay? Bayu?
Bayu?
Bay.
Kita balik ke rumah ini lagi, Bay.
Bay!
Jangan coba masuk ke kamar yang itu. Jangan!
Ayo kita coba keluar lewat pintu depan.
Pintunya terbuka!
Tarik, Bay!
Enggak bisa!
Tarik, Bay!
Enggak bisa!
Kita harus siaga.
- Ki! Aki! - Ya?
Dia mengambil anakku!
Anakku hilang!
- Tolong, Ki! Anakku diambil! - Ya.
Sabar. Bantu mereka.
Tolong kami.
- Bayu? - A Bayu!
Tolong!
Indy!
Enggak, kau rekam terus!
- Sabar, Bay. - Prinsa!
Hati-hati. Duduk. Duduk sini, Nick.
Kamu enggak apa-apa, kan, Nick?
Itu Bayu…
Itu Bayu kenapa, Nick?
A, Prinsa hilang, A.
- Pak, tolong, Pak. - Prinsa hilang, A.
Prinsa hilang bagaimana?
Enggak tahu.
- Tunggu sebentar. - Gue lihat Samex. Gue rekam Samex.
- Samex? - Ya.
- Tenang. - Samex, A.
Samex, A.
Samex, A.
Sakit!
Cepat.
Sebelum sampai ke sawah.
Kita cari sepanjang jalan.
Mungkin saja ada di sana.
Ayo bersama Emak.
- Prinsa! - Prinsa!
- Prinsa! - Prinsa!
Sa!
Prinsa!
Sa!
- Prinsa! - Prinsa!
- Prinsa! - Prinsa!
- Prinsa! - Prinsa!
- Prinsa! - Prinsa!
Prinsa!
Ada suara.
Itu! Prinsa!
Sa…
Prinsa.
- Sa! - Tahan!
Prinsa…
Pegang, Pak.
Ikat tangannya. Ikat!
Cepat. Ayo!
Bawa, ayo! Ayo.
- Sudah. Cepat. - Yuk.
Ayo cepat.
Berdirikan.
Iya, Emak.
Prinsa!
Prinsa, berhenti, Prinsa!
Emak! Ya Allah! Mukanya berdarah, Mak!
Ikat, ikat dengan tikar.
Bungkus, ikat dengan tikar! Anak-anak!
Cepat!
Ikat.
Ikat dengan tikar.
Masuk ke dalam.
Jangan keluar.
Ke sana.
Kata Mak Ito, apa pun yang terjadi, kita harus tetap ada di dalam.
Bay, aku pergi, ya.
Ritual ini
tidak bisa begitu saja mengikat yang gaib.
Sekadar memindahkan dari raga adik Anda
ke raga yang lainnya…
bukan yang diharapkan.
Untuk jaga-jaga, kami siapkan binatang mati.
Tapi yang gaib yang menentukan.
Manusia yang mati
atau binatang yang akan mati.
Memohon izin, memohon ampun.
Kepada leluhur
yang menguasai laut.
Para leluhur alam semesta dari Utara, Barat, Timur, dan Selatan.
Yang berbudi luhur dan bijaksana.
Siluman kegelapan yang menguasai alam bumi.
Sekarang kita awali ritualnya.
Mulai.
Keluar!
Kenapa?
Kau sudah berdiam di raga orang lain, dosa!
Kenapa?
Kau sudah berdiam di raga orang lain, dosa!
Mulutmu bau!
Kau yang bau!
Sekarang, pulang!
Pulang ke alammu!
Alam ketenangan.
Tidak mau!
Apa maumu?
Aku ingin kamu lihat.
Tempat yang amat sangat bagus.
Banyak api!
Hatimu gelap.
Hatiku gelap.
Hatiku gelap.
Keluar!
Tidak mau!
Keluar!
Tidak mau!
Keluar!
A, terus bagaimana ini, A?
Tunggu dulu.
Kita lihat dulu, Bay.
Rekam terus! Rekam!
Bawa dia ke sini.
Cepat, bawa dia ke sini.
Berdirikan di sini.
- Ayo. - Berdirikan.
Berhenti.
Nah, ikat tangannya.
Ikat tangannya.
Dahulu, kamu lahir di sini.
Tapi kini bukan lagi tempatmu.
Pergilah.
Pergilah ke asalmu.
Arja,
cepat sembelih.
Ambil darahnya.
Kau rasakan darah itu.
Kau minum!
Ini…
Ini tidak benar, A.
A, kalau makin parah, kita harus mendekat deh, A.
Aku di mana?
- A Bayu! - Itu biasanya enggak lama.
Tolong! Aku mau pulang.
Aku mau pulang.
Ito!
Cepat.
Ikat dengan tikar.
Cepat, arwah gaib, keluar!
Ikat dengan tikar.
Cepat, arwah gaib, keluar!
Aku sudah pernah ke sana.
Sangat panas!
Sangat bagus!
Nanti kalau aku sampai sana,
aku akan menjemput kalian!
A, ayo! Sudah, A!
Kenapa kalian ke sini?
Teteh? Teh?
- Masuk, Teh. - Masuk!
- Tapi, Ki… - Masuk!
Aku mau makan.
Aku mau makan.
Ada bayi?
Ada bayi?
Ada bayi?
Boleh kumakan bayinya?
Neti! Aki!
- Ki, Neti sudah dipilih. - Neti sudah dipilih.
Ke sini, Ki, lihat.
Neti sudah dipilih.
Neti!
- Angkat dulu, Kang. - Aki!
Hati-hati. Tangannya dulu.
Leluhur alam semesta sudah memilih.
Leluhur alam semesta sudah memilih!
Cepat pindahkan Neti ke tandu.
Pindahkan!
Mayatnya. Pindahkan mayat Neti ke sini.
Ragamu bukan tubuhmu, tempatmu berada di ujung tanah.
Mati. Lampunya mati.
Bukan cuma lampu yang mati, Yan.
Api unggun.
Obor-obor juga semuanya mati!
Kenapa jadi sepi, Mas?
Wah, ini enggak benar.
Yan, nyalakan lampu kamera sekarang. Lalu kau pegang.
Oke, Mas.
Nick!
Indy, pegang Iko.
- Ga, ini kenapa? - Kita enggak boleh jauh-jauh.
Ga, kau bisa jelaskan?
Kata Aki, saat ritual
akan ada gerbang yang terbuka.
Berarti sekarang gerbangnya terbuka.
- A, Prinsa hilang, A. - Iya.
Jangan biarkan dia sendirian!
- A, Jangan biarkan dia sendirian! - Bay, tenang!
Bayu!
Kita enggak akan membiarkan Prinsa sendirian.
Kita cari Prinsa. Kita bagi dua.
- Kang Angga, Indy, sama Bayu, sama Ryan. - Oke.
- Aku sama Nicko. - Oke.
Kita berpencar. Kang Angga, ke sana. Kita ke sana, Nick.
- Kita ke sana. Oke. - Indy kupegang.
Pegang terus tangan Aa, ya.
Cepat.
Kang.
Prinsa?
Prinsa?
Coba cek di sana.
Sa?
Prinsa?
Prinsa?
Kalian tunggu di sini.
Prinsa?
Sa?
Enggak ada.
Prinsa.
- Coba cari ke sana. - Ayo.
Sa?
Kita lanjut.
Cari ke mana lagi, Dan?
Enggak tahu.
Dan?
Sialan… Sial.
Ayo lanjut.
Ada suara warga.
Ayo, kita langsung tanya, A.
Enggak.
Bukan, Bay. Mereka bukan manusia.
Kita biarkan mereka lewat. Matikan lampunya.
Ayo kita sembunyi.
Nick.
Apa?
Enggak usah dilihat. Jangan ditengok.
Kita jalan.
Prinsa?
- Bay, Prinsa, Bay. - Prinsa!
- Sa! - Prinsa!
- Sa? - Sa?
Prinsa?
- Sa? - Prinsa?
- Sa? - Prinsa?
Sa?
Dy! Jangan.
A Angga!
- Sana, Bay. Ke sana, Bay. - Ke mana, A?
Aduh! Prinsa!
Prinsa!
Dengar.
Dengar itu.
Keranda yang ada Prinsa-nya juga di sini.
Kita coba selamatkan Prinsa.
Telaga, hutan, laut!
Ucapan sang utara
harus dipatuhi.
Telaga, hutan, laut!
Datang, sudah datang.
Pahit ke sini, pahit ke sini.
Sudah datang!
A, bagaimana?
Pahit ke sini.
A…
A, bagaimana ini?
- A! - A.
Ayo pergi!
Mereka enggak mengejar.
Tapi kita maju pelan-pelan.
Ryan, ayo.
Teh. Bay.
Sa!
- Prinsa! - Ya Allah.
Matanya enggak bengkak. Sudah mulai sadar juga.
Alhamdulillah.
Aku di mana?
Kita harus keluar sekarang.
A, kok mereka di sini?
A Angga. A, ini kenapa?
Ini kenapa begini semua, A?
Berarti kita sudah enggak balik ke alam kita, A?
Ya, kan, A?
Kembalikan Prinsa ke keranda.
Ayo, Sa.
- A Angga! - Yakin.
Tempatmu bukan di sini!
Pergilah.
Pergilah ke asalmu!
Tempatmu bukan di sini!
Dik! Adik!
Tidak apa-apa?
Tempatmu bukan di sini!
Samex! Samex keluar!
A, dia sudah sembuh.
Ya ampun, Samex sudah meninggalkan kampung kita.
Bawa Prinsa kembali.
Sudah selesai?
Sudah.
Cepat bawa Prinsa kembali.
Nicko.
Uwa sudah berhasil dikeluarkan dari tubuh Prinsa.
Prinsa dan tim diperbolehkan pulang.
Namun, upacara ritualnya masih terus berjalan.
Kami dilarang meliputnya.
Saya enggak tahu apakah desa itu berhasil melepas ikatannya dengan yang gaib.
Saya merasa bersalah menyebut namanya sembarangan,
membuat orang lain penasaran akan eksistensinya.
Kejadian kemarin adalah yang paling menakutkan
dan menyedihkan yang sebenarnya sulit untuk kami bagikan.
Dan setelah kejadian itu,
saya sempat beberapa minggu memutuskan untuk tidak membuat
konten sama sekali untuk sementara waktu.
Siapa pun nama makhluk gaib yang kalian lihat dan dengar di film ini,
jangan pernah dipanggil, atau bahkan dipikirkan lama-lama.
Karena mereka bisa benar-benar datang dan mengambil alih hidup kalian.
Ia bisa datang di saat kamu tidak siap.
Hai, nama aku Prinsa.
Aku mau minta maaf sama Teh Risa, A Angga, Kak Indy
dan juga semua tim Jurnal Risa yang lain.
Aku juga mau ucapkan terima kasih banyak
karena sudah bantu aku dan A Bayu selama kejadian kemarin.
Aku sudah belajar kalau ternyata
enggak ada gunanya aku eksis, aku ada…
tapi aku enggak jadi diri aku sendiri.
Ini pelajaran banget sih buat aku.
Asalamualaikum. Selamat datang di Jurnal Risa.
Mungkin kalian merasa aneh,
ini apa sih Jurnal Risa datang ke makam dan lain-lain.
Kita sekarang sedang balik kampung.
Jadi, ini adalah sebenarnya
kampungnya nenek kita. Almarhumah nenek kita.
Dan sekarang, balik lagi ke sini, saya enggak akan sebut tempatnya di mana.
Jurnal Risa,
penelusuran di rumah saya
di bagian dua, di situ ada momen
didatangi oleh yang posisinya jongkok itu.
Yang meminta untuk…
Dia ingin didatangi dan didoakan.
Tapi langsung. Makanya kita mencari makam beliau.
- Istigfar. - Astagfirullahaladzim.
Jangan ke sini. Cukup di sini.
Saya tidak punya urusan dengan Anda.
Jauh-jauh ke sini, yang datang kamu lagi.
- Hanya mau mengobrol. - Ya.
Kita kemarin sudah mengobrol.
Kita kemarin sudah mengobrol.
Di sana, sama. Ya, sama.
Nenek mau mengobrol apa? Silakan.
Ke sini.
Bisa jelaskan?
Buang muka.
Aku lihat pocong di sini.
Tapi besarnya sebesar pohon.
Sebesar pohon?
Sudah.
Astagfirullahaladzim, ya Allah.
Kayak panik, mondar-mandir saja, tapi enggak ada jalan keluar.
Kamu kehausan? Tidak dapat makan dan minum di sini?
Sudah.
Sudah, Kang.
Hei, jangan begitu, Fahrul. Fahrul, berdiri.
Bisa cerita, tidak?
- Permisi. - Tolong…
- Ada lagi, kan? - Allahuakbar!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.