All language subtitles for KKN.Di.Desa.Penari [Luwih Dowo, Luwih Medeni] [Indo-sub]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Saya mengalami kejadian itu...

...sekitar empat tahun yang lalu.

Bersama teman-teman kampusku.

Kami ke sana untuk KKN.

Tapi...

Desa yang kami pilih...

...bukan desa yang biasa.

Yang kami pikirkan, bagaimana caranya...

Proker KKN kami berhasil.

Tapi ternyata...

Semua yang terjadi selanjutnya...

Tak seperti yang kami bayangkan...

Waktu itu...

Aku yang diajak almarhum...

Untuk membuat survey dulu.

Kota B*********

Nur.

Lihat apa?

Bukan apa-apa.

-Ayo. -Ya.

Ayo, Pak.

Ayo.

-Silakan. -Terima kasih, Pak.

-Terima kasih, Pak. -Sama-sama.

Kabupaten K*****li**

Ya. Terima kasih, Pak.

Permisi, Mas.

Apa kabar?

-Bagaimana kabarmu? -Baik.

Baik, Mas.

Ya, Mas. Kenalkan ini adikku, Ayu.

-Ya, saya Prabu. -Ayu.

Dan ini temannya.

-Nur. -Ya.

Mas Prabu ini kepala desa ini.

Nanti, beliau yang menjadi pengawas...

...kegiatan KKN kalian.

Jaga baik-baik kepercayaan Mas Prabu.

Ya?

Jangan membuat masalah.

Baik, Mas.

Dibahas di rumahku saja.

Ayo.

Nur?

Kenapa?

Mas.

Kenapa tidak bisa, Mas?

Kasihan Ayu, Mas.

Dia dan teman-temannya butuh buat KKN di sini, Mas.

Dibantu ya.

Saya mohon, Pak.

Kami datang dari jauh loh, Pak.

Karena niat kami kan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di desa ini.

Jadi tolong dipertimbangkan, Pak.

Soalnya ini juga baru pertama kalinya buat kami.

Belum pernah ada...

...yang minta KKN di sini.

Berarti bisa dicoba 'kan, Pak?

Kami tidak akan menyusahkan.

Program kerja kami akan membantu warga desa.

Apa 'pun masalah yang ada di desa ini...

...kami akan bantu atasi.

Yang penting 'kan bisa membantu warga.

Karena ini sifatnya pengabdian masyarakat.

Boleh ya, Pak?

Mbak Ayu.

Sama Mbak Nur...

Mari saya tunjukkan satu lokasi...

...yang mungkin cocok...

...buat program kerja kalian di sini.

Terima kasih, Pak.

Dulu tempat ini dijadikan tempat mandinya para penari.

Tapi...

...sekarang sudah tidak ada lagi.

Tidak ada penari di desa ini.

Nah terus...

...tempat ini sempat beralih fungsi...

...jadi sumber mata air desa kami.

Tapi beberapa tahun belakangan ini...

...airnya mengering.

Jadi, warga agak...

...kesulitan akses air.

Karena sungainya...

...cukup jauh dari sini.

Nanti kita buat aliran dan DAM saja ya.

Kami bisa bantu, Pak.

Nanti kami buatkan skema...

...untuk mengalirkan air sungai kemari.

Ya...

Pokoknya, diatur saja, Mbak.

Apa tidak ada tempat lain?

Kenapa sih harus ke tempat itu?

Widya 'kan sudah jelaskan, Bu.

Ayu merasa, tempatnya cocok untuk program KKN.

Di situ tempatnya hutan semua loh, Nak.

Tidak normal untuk ditempati manusia.

Nur dan Ayu sudah cek ke sana, Bu.

Pak Kades sudah memberikan ijin.

Beliau itu kenalannya Kakaknya Ayu.

Ibu takut, terjadi sesuatu pada anak semata wayang Ibu.

Bu...

Ada Nur dan teman-teman yang lain.

Ibu tidak perlu kuatir.

Boleh ya, Bu.

...Widya berangkat KKN.

Bu...

Ya sudahlah, kalau begitu.

Jaga dirimu.

Jaga sikap.

Jaga ucapan.

Ada pepatah Jawa bilang...

Air mengalir selalu ke timur.

Di timur semua berkumpul di tempat itu.

Mulai dari yang baik...

...yang buruk...

...sampai yang paling buruk.

Aduh...

Kelamaan duduk tipis pantatku.

Nur.

Sudah sampai, kah?

Ini masih jauh, ya?

Sekitar setengah jam lagi.

Ya segitu.

Sekalian saja ke Bali.

Sudah, ayo. Semangat.

Ayu...

Ini jalan kaki?

Sial, kita naik sepeda motor?

Kamu mau jalan kaki?

Terima kasih, Pak.

-Pak Prabu. -Mbak Ayu. / -Apa kabar, Pak?

Baik.

Kenalkan, Pak, ini teman satu kelompok KKN saya.

Oh ya...

Pak...

-Bima, Pak. -Ya.

Teman-teman, ini Pak Prabu.

Kepala desa di sini.

-Ini sudah pada ngumpul semua? -Ya, Pak.

-Ayo, mari ikut saya. -Ayo.

Desa kami ya seadanya gini.

Listrik belum masuk.

Tapi semoga kalian semua betah selama di sini.

Santai saja, Pak. Sudah biasa itu.

Di sini listrik belum masuk.

Di kos saya...

...listrik belum bayar.

Santai aja, Pak.

Di sini...

...rumah-rumahnya juga belum ada kamar mandinya.

Jadi, kalau mau mandi...

...mas-masnya mandi di sungai.

Mbak-mbaknya...

...mandi di bilik mandi dekat proker kalian nanti.

Kalau mau buang hajat di mana, Pak?

Buang hajat?

Karena sungainya tidak terlalu dekat dari sini...

...warga sudah biasa kalau mau buang hajat...

...ya harus nyangkul tanah dulu./ Waduh.

Kalau itu saya belum biasa, Pak.

Maaf, Pak.

Tadi di jalan saya dengar suara gamelan.

Apa ada desa lain dekat sini?

Gamelan?

Ya, Pak.

Saya pikir sedang ada hajatan.

Kapan kamu mendengarnya?

Di jalan.

-Kamu... -Mungkin hanya salah dengar.

Tidak perlu dipikirkan.

Ya?

Sekarang saya antar ke tempat tinggal kalian selama di sini ya.

Baik, Pak.

Bu?

Mas. Mbak.

Ini Bu Sundari.

Nanti untuk sementara...

...mbak-mbaknya akan tinggal di rumah Bu Sundari.

Mas-masnya...

...akan tinggal di posyandu sampai posko yang lebih besar sudah siap.

-Paham? -Paham, Pak.

Bu, titip anak-anak ini, ya?

Saya tak bisa menolak, 'kan?

Ayo, Mas.

Kita ke posyandu sebelah ya.

-Permisi, Bu. -Ya.

Terima kasih, Bima.

Permisi, Bu.

Terima kasih, Bima.

Mari.

Widya.

Itu tadi gamelan-gamelan maksudnya apa?

Memangnya kamu tidak dengar?

Tolong jaga sikap, Wid.

Masa baru sampai langsung tanya yang tidak-tidak.

Aku sudah janji kalau kita semua bakal jaga sikap.

Karena itu Pak Prabu mengizinkan kita.

Kalau ada apa-apa aku yang disalahkan.

Bu...

Di desa ini, hampir semua rumah itu terbuat dari anyaman bambu.

Jadi, kita bisa dengar...

...apa saja yang kalian bicarakan...

...dan apa 'pun yang kalian pakai.

Nur, kamu juga dengar, 'kan?

Aku mau tidur dulu ya. Ngantuk.

Tidak bisa ditahan apa?

Serius ini menggali lobang?

Tolongin aku Ton, ini aku sudah tahan dari kemarin.

Mules aku Ton.

Sudah mau keluar.

Di situ.

-Gali, Ton. -Apa?

Aku yang menemani kenapa aku yang gali?

Durhaka kamu ya.

-Bisa masuk surga kamu, Ton. Cepat gali. -Sial.

Sudah kamu yang gali. Aku yang pegangin petromaknya.

Sialan!

Sial!

Ini baru saja dipakai orang lain!

Menjijikkan.

Sial banget kau.

Anak ini kenapa?

Takut masih ada yang nempel di pantat.

Pagi.

Pagi.

Wangi banget!

Kamu ya, Bim, yang pakai minyak wangi?

Bukan, itu Wahyu.

Biar dikira selesai mandi.

Biar tidak bau.

Sialan kau!

Widya...

...kamu sudah mandi?

Kalau Widya mandi atau tidak, tetap cantik.

Seperti aku maksudmu?

Cantik, 'kan?

Selamat pagi, Mas.

Selamat pagi, Mbak.

Pagi, Pak.

Aku pikir, aku saja yang wangi pagi ini.

Ternyata kalian lebih wangi.

Sudah mandi, Mas?

Sudah Pak Prabu. Sudah.

Sudah asem.

Mas Wahyu bisa saja.

Ayo, kita lanjut muter desa lagi.

-Baik, Pak. -Ayo.

Ton, ayo.

Ini Proker Utama kita ya?

Iya, Bim.

Nih...

Kalau Proker kalian berhasil...

..."Sinden" ini akan hidup kembali...

...jadi sumber air desa kami.

"Sinden", Pak?

Iya, gitu kami menyebut tempat ini.

Jadi, Mbak Ayu...

...penduduk semuanya sudah siap.

Nanti tinggal pengelompokannya gimana.

Siap, Pak.

Pak. Itu apa?

Oh, itu...

Penduduk kami masih menghargai adat-istiadat leluhur.

Itu salah satu cara kami untuk...

...menghargai semesta dan...

...penduduknya.

Saya kira untuk memanggil setan, Pak.

Wahyu!

Untuk apa memanggil setan...

...kalau di depan saya saja kelakuannya sudah seperti setan.

Bercanda, Mas Wahyu. Tolong jangan dimasukkan ke hati.

Serius juga tak apa, Pak.

Dia memang setannya kampus kita.

Gentayangan bertahun-tahun.

Tidak tahu lulus kapan. Sukurin!

Ya sudah. Ayo ikut saya.

Ayo, Mas Bim.

Hati-hati.

Nur. Ada apa?

Bukan apa-apa.

Ini kuburan penduduk desa.

Orang bodoh juga tahu ini kuburan.

Wahyu!

Jaga mulutmu!

Permisi, Pak.

Kenapa banyak batu nisan yang tutupi oleh kain hitam, Pak?

Tidak ada alasan khusus.

Ini cuma penanda kalau kuburannya...

...belum berusia sepuluh tahun.

Begitu, ya.

Mungkin tidak banyak yang bisa dibahas di sini.

Nur!

Kamu tidak apa-apa?

Mbak...

...lebih baik kamu kembali ke rumah.

Ya, Pak.

Tidakk apa-apa, Pak, biar saya saja yang antar Nur kembali ke rumah.

Mas, ingat arah pulangnya?

Ingat Pak.

-Beneran ya, Mas? -Iya.

Hati-hati ya, Bima.

-Istirahat, Nur. -Ayo.

Hati-hati.

Ayo.

Sebagian besar warga desa sini...

...petani jagung.

Makanya setiap hari...

...mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di ladang ini.

Pak. Itu jalan menuju ke mana?

Itu ke hutan.

Gapura itu batas antara...

...desa dan hutan.

Saya minta kalian semua...

...jangan ada yang mendekat ke situ ya.

Apalagi sampai nekat...

...kalian semua masuk ke dalam hutan itu.

Memangnya kenapa, Pak?

Warga desa kami menyebutnya dengan nama...

...Tapak Tilas.

Itu bukan wilayah kami.

Ayo.

Nur?

Sudah baik-baik saja?

Anak-anak sudah pada di depan.

Lagi mau ngebahas tugas kelompok.

Ayo!

Iya.

Sudah lama menunggu ya?

Tidak apa-apa, Nur. Sini.

Sekarang bagi proker yang lebih kecil buat berkelompok.

Yang pertama Widya sama Wahyu.

Terus, Nur, Anton.

Terakhir, aku sama Bima.

Tidak dibagi jadi bertiga saja, Yu?

Biar Widya ke kita...

...Wahyu ke Anton sama Nur.

Jangan, Bima.

Biasanya kalau bertiga yang satu jadi nganggur.

Biar kita bisa punya tiga proker. Jadi lebih manfaat.

Nur, kamu tidak ingin mandi?

Malas aku...

...jalannya jauh.

Ayolah.

Tidak merasa lengket apa?

Kita itu belum mandi dari kemarin.

Ya sudah, kamu saja. Aku besok.

Aku takut, sendirian.

Temani dong...

Ya sudah.

Tapi aku yang mandi duluan ya.

Ya.

Perasaan aku tidak lihat yang seumuran kita, Nur.

Mungkin anak-anak mereka merantau, Wid.

Ya masa tidak ada yang tersisa sama sekali?

Permisi.

Aneh.

Jalan.

Kamu perlu alat mandi tidak?

Tidak perlu, Wid.

Nur.

Jangan lama-lama, ya?

Ya.

Wid! Widya!

Wid!

Wid!

Wid! Widya, buka pintunya!

"Astaghfirullahaladzim." "Aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung."

"Astaghfirullahaladzim." "Aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung."

"Astaghfirullahaladzim." "Aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung."

"Astaghfirullahaladzim." "Aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung."

"Astaghfirullahaladzim." "Aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung."

"Aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk."

Nur?

Belum mulai mandi?

Nur?

Nur?

Ada apa, Nur?

Kamu tidak jadi mandi?

Jangan lama-lama, ya?

Ya.

Widya.

-Sudah selesai? -Sudah.

Ayo, jangan lama-lama.

Katanya Bima...

...dia itu dengar suara dari gapura itu.

Terus pas disamperin...

...ternyata tidak ada apa-apa.

Loh, bukannya Pak Prabu melarang ke sana?

Aku tidak mengerti.

Nur.

Bima itu sudah punya pacar belum?

Pantes cuma mau berduaan prokernya.

Nur...

Mau kemana?

Mau ke rumahnya Pak Prabu.

Ada yang mau ditanyakan.

Aku temani ya?

Tidak perlu.

Ini kopinya.

Yang ini untuk siapa, Mbah?

Mbak Nur?

Ada apa datang malam-malam?

Ayo, duduk. Sini.

Maaf aku mengganggu.

Tidak apa-apa.

Permisi.

Ada apa?

Ada yang mau saya tanyakan, Pak.

Ya.

Beliau ini Mbah Buyut.

Warga desa seberang.

Tapi sudah jadi tetua di sini.

Jadi, tidak perlu sungkan.

Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan saja, ya?

Jadi begini loh, Pak...

Semenjak saya datang ke desa ini...

...saya merasa ada yang...

...aneh.

Awalnya saya pikir, saya salah lihat...

Tapi...

Diminum dulu kopinya.

Tidak baik menolak pemberian tuan rumah.

Ini memang dipersiapkan untuk kamu.

Maaf, saya tidak minum kopi.

Silakan, diminum dulu.

Silakan diminum, Mbak.

Manis, ya?

Apa yang kamu lihat...

...adalah makhluk...

...yang menguasai tempat ini.

Dia satu...

...dari ratusan penghuni desa.

Desa yang tidak semua orang bisa lihat.

Dia marah...

...karena apa yang kamu bawa ke desa ini.

Apa yang saya bawa, Mbah?

Cucumu ternyata tidak tahu...

...kalau Anda selama ini menjaganya, ya?

Mbak Nur.

Dia janji...

...tidak akan mengganggu lagi.

Tenang saja.

Mereka tanggung jawabku.

Nur?

Nur!

Widya.

Widya...

Widya.

Widya.

Nur?

Nur!

Nur!

Nur, kamu ngapain?

Sadar, Nur!

Nur. Sadar, Nur!

Nur, sadar!

Nur, sadar!

Nur!

Nur, sadar!

Hei...

Ada apa, Bima?

Hei!

Kenapa menari malam-malam begini?

Hei, Widya!

Sedang apa menari malam-malam?

Widya, hei!

Sedang apa menari malam-malam? Hei!

Hei!

Ayu.

Widya!

Bangun.

Widya, hei!

Widya!

Widya. Widya, hei!

Kenapa sih kamu?

Hei!

Kenapa menari di malam begini? Widya!

Widya, hei!

Hei.

Sudahlah.

Ayo, masuk kamu. Masuk.

Ada apa kamu di sini?

Seperti orang kesurupan.

Ayo.

Ini...

...mau membahas yang semalam ya?

Perasaanmu Pak Prabu tidak dengar soal kemarin?

Aku 'kan sudah bilang...

...tidak perlu aneh-aneh.

Mbak Ayu, ikut Mas Wahyu, ya.

Mbak Wid, ikut saya.

Ayo.

Ayo.

-Sudah? -Sudah, Pak.

Ayo, Mas.

Ini kopi atau jamu, Mbah?

Pahit banget.

Kenapa cuma dilihat saja?

Ayo.

Diminum kopinya.

Maaf, Mbah.

Saya tidak minum kopi.

Lambung saya tidak kuat.

Satu tegukan saja.

Ayo.

Kamu ini...

...anak berdarah hangat.

Anak seperti kamu...

...gampang disukai mereka.

Kunir ini...

...bisa bantu menangkal mara bahaya di sekitar sini.

Pokoknya kamu tenang saja.

Kenapa hanya Widya yang dikasih, Mbah?

-Mau? -Mau, Pak.

Habiskan dulu kopinya.

Tidak jadi mau, Pak.

Terima kasih.

Pak.

Kenapa tadi cuma saya yang merasa kopinya manis.

Kopi hitam itu...

...biasanya kita pakai buat persembahan untuk nenek moyang kita.

Bangsa halus senang sama kopi.

Soalnya buat mereka rasanya manis.

Saya saja disuruh minum kopi itu...

...rasanya pasti pahit.

Mungkin memang...

...sedang ada yang mengikuti dan...

...tertarik sama Mbak Widya.

Tapi tidak perlu dipikirkan.

Ya?

Mbah Buyut pasti bantu kok.

Ya sudah...

Sekarang...

...kamu pulang.

Nanti kalau terjadi apa-apa...

...kamu bilang sama saya.

Ya?

Ya, Pak

Ya sudah, ayo.

Nur, Bima kok aneh banget ya.

Aneh bagaimana?

Bagimana ya menjelaskan nya?

Aku malam-malam sering dengar suara Bima mendesah.

Anehnya...

...ada desahan suara perempuan juga dari kamarnya.

Ngawur kamu, Anton.

Sumpah aku, Nur!

Aku itu juga bingung banget.

Bahkan lebih parahnya lagi aku pernah menemukan sesajen di kamarnya!

Anton.

Aku sudah lama berteman dengan Bima.

Aku sangat tahu orangnya seperti apa.

Tidak mungkin seperti itu.

Ikut denganku.

Hei, apa sih?

Iya, 'kan?

Percaya aku sekarang?

Hati-hati, Mbak.

Ayo, Silakan.

Masuk, Mas.

Jadi, mulai malam ini...

...kalian tinggal di sini.

Biar tidak merepotkan Ibu Sundari terus.

-Ya? -Terima kasih, Pak.

Terima kasih, Pak.

Nanti kamar mas-nya sebelah sana.

Kamar mbak-mbaknya di sebelah sana.

Ya?

Dan ingat. Jaga sikap. Ya?

-Baik, Pak. -Ya?

Ya sudah.

Kalau begitu saya pulang dulu.

Selamat istirahat.

-Terima kasih, Pak. -Ya.

Ya sudah.

Bima.

Ada yang mau aku bicarakan.

Nur, kita lihat-lihat dulu ya.

Ayo.

Kalau tidur jangan lupa merem, Nur.

Permisi.

Widya?

Ada apa?

Ada apa?

Di mana yang lain?

Di kamar.

Ada apa, Widya?

Ada apa?

-Ada apa, Widya? -Tenang. Sebentar.

-Tenang. -Ada apa, Widya?

Tenang ya. Duduk.

Tolong ambilkan air minum, cepat!

Ada apa?

Cepat, Anton.

Tenang.

Minum dulu, ya?

Wid?

Wid?

Wid?

Widya.

Widya.

Widya.

Kamu itu disantet, Wid!

Widya.

Minum dulu ya.

Bagaimana?

Sudah baik-baik saja?

Apa yang Anton bilang...

...tidak mungkin 'kan, Nur?

Sudah...

Kamu istirahat saja.

Ya?

Maaf, Bima. Hilang.

Hilang?

Kenapa bisa hilang?

Aku 'kan minta kamu kasih kawat duri itu ke Widya.

Maaf, Bim.

Aku beneran lupa di mana aku taruh.

Memangnya buat apa sih kamu kasih benda seperti itu ke Widya?

Kamu kenapa sih, Yu?

Aku 'kan sudah percayakan itu ke kamu.

Malah kamu hilangkan!

Salah, Yu, aku percaya sama kamu.

Kamu tidak mengerti.

Ada ular! Ular! Ada ular!

Ayo, ayo.

Di sana!

Ayo!

Ada apa ini?

Pak Prabu! Tadi di dalam ada ular besar!

Tapi kenapa sekarang tidak ada, ya?

Mbak Ayu.

Benar ada ular di dapur?

Saya sih tidak melihat ada ular, Pak.

Justru pas saya lagi di dapur, bapak-bapak ini main dobrak pintu saja.

Sungguh, Pak! Tadi saya lihat ular di situ!

Baik, begini saja.

Mbak Ayu, Mbak Nur.

Kita bicarakan di rumah saya.

Dari kemarin sudah ada beberapa kejadian.

Apa tidak lebih baik, kalian sudahi saja KKN-nya?

Loh, Pak?

Proker kami 'kan belum selesai.

Kejadian tadi itu cuma salah paham, Pak.

Mbak Nur paham 'kan kenapa saya bicara seperti ini?

Nur.

Nur!

Kenapa kamu setuju sama Pak Prabu?

Egois banget kamu ini.

Justru aku memikirkan kalian semua.

Pikirkan saja itu si Widya.

Dia yang dari awal cari perhatian terus.

Ada apa sih?

Yu!

Aku sama Nur...

...lihat ular di kamar temanmu itu.

Asal saja ngomong. Temanmu itu.

Ngawur saja.

Eh, kamu sadar tidak?

Bima semakin aneh saja.

Ya makanya.

Aku tidak mengerti.

-Assalamu'alaikum. -Wa'alaikumsalam.

Kenapa teman kita itu?

Hei, Nur.

Tadi Pak Prabu ngomong apa?

Widya sama Bima mana?

Widya di kamar.

Sedangkan Bima, sejak tadi ribut-ribut, sudah tidak kelihatan.

Yah, paling dia sibuk sama prokernya.

Benar.

Aku sering lihat dua anak itu...

...tidak ada di lokasi proker mereka.

Jangan-jangan mereka ke Tapak Tilas.

-Tapak Tilas? -Ya, Tapak Tilas.

Ngawur dia itu.

Itu tempat terlarang loh, Nur.

Pak Prabu sudah wanti-wanti sejak awal.

Anton.

Butuh berapa lama lagi proker sinden kita selesai?

Kamu mau pulang lebih awal?

Apa kampus akan mengizinkan?

Kita bisa tidak lulus loh, Nur.

Nur, besok aku mau ke kota.

Mau beli pipa.

Kamu mau titip apa?

Yu. ikut ya.

Pusing aku.

Sayang sekali, Anton, temanku tersayang.

Aku sudah ngajak Widya.

Lebih enak bonceng cewek cakep dari pada dirimu.

Kalau mau BAB saja minta ditemeni.

Karena mukamu kayak kotoran.

Kasian kamu.

Waalaikumsalam, Bima.

Kamu dari mana, Bima?

Kamu tidak sholat tadi?

Sudah lama aku tidak pernah lihat kamu sholat.

Ibadahku ya ibadahku.

Bukan urusanmu.

Kamu tidak perlu tahu, Nur.

Hei, Nur.

Ibadahku kok tidak ditanya, Nur?

Ayo.

-Sudah? -Ya.

Nur.

Hari ini banyak warga yang izin tidak kerja.

Wahyu sama Widya pulang malam tidak ya?

Ton...

Tapak Tilas yang kalian semalam ceritakan itu di mana?

Kenapa kok tiba-tiba tanya?

Loh tidak.

Aku cuma ingin tahu saja.

Waktu kalian keliling sama Pak Prabu aku 'kan tidak ikut.

Kamu tahu tidak, di sana ada ladang jagung?

Di dekat ladang jagung ada gapura.

Gapura itu pembatas desa dengan hutan.

Kalau memasuki area itu namanya napak tilas.

Tapi aku tidak mengerti...

...Tapak Tilas itu apa.

Yang jelas Pak Prabu sudah memberi peringatan...

...jangan lewat situ.

Kenapa?

'Kan kamu sendiri yang bilang...

...kita harus menghormati apa yang warga desa setempat percayai.

Benar, 'kan?

Ngapain berdua di sini?

Maafkan aku, Nur.

Kami bisa jelaskan semuanya.

Bagaimana ya...

...perasaan Ayah dan Ibumu...

...kalau tahu kelakuanmu ini?

-Nur, tolong... -Diam!

Aku tidak mau berurusan denganmu.

Astaghfirullahaladzim. "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung."

Istighfar, Bim.

Istighfar.

Kamu seperti tidak tahu agama.

Aku tidak tahu harus bilang apa ke teman-teman.

Nur!

Nur, tolong.

Nur!

-Sudah semua, ya? -Sudah.

-Berapa bungkus? -Enam bungkus.

Sambalnya dipisah atau dicampur, Mas?

Dipisah saja.

Masnya sama mbaknya ini bukan orang sini ya?

Kelihatan.

Terus masnya tinggal di mana?

Jauh, Mas.

Pokoknya masuk hutan. Nah di sana itu ada desa yang namanya...

Tunggu!

Masuk hutan, Mas?

Begini, Mas. Kalau pesanku, Mas...

Mending masnya sama mbaknya...

...cari penginapan saja.

Jangan masuk hutan malam-malam.

Orang yang asli sini saja, Mbak...

...tidak berani loh masuk hutan malam-malam.

Apa lagi masnya sama mbaknya bukan orang sini.

Nanti takut kejadian aneh-aneh, Mbak.

Widya, mau?

Bercanda.

Ya tidak boleh loh, Mas, aku ngajak anak gadis nginep.

Kecuali kalau dia mau, aku mau banget.

Ya sudah tidak apa-apa. Aku nanti langsung pulang aja. Ngebut.

Ya sudah.

Kalau masnya sama mbaknya sudah nekat...

...ya silakan.

Tapi ingat, Mas, pesan saya...

Kalau masnya sama mbaknya sudah masuk hutan...

...hati-hati.

Pikirannya jangan kosong.

-Ya, Mas. -Pokoknya banyakin berdo'a.

Nanti kalau ada suara atau kejadian yang aneh...

...tidak perlu dihiraukan, Mas.

-Tetap saja lanjut. -Ya, Mas.

Baiklah. Jadi berapa totalnya?

Lima belas ribu.

Widya. Ngobrol, Wid.

Biar aku tahu kamu masih ada di belakangku.

Sudah nyetir saja cepetan. Semakin gelap nanti.

Bagaimana ya, kalau tiba-tiba sepeda motornya mogok.

Bisa mati kita.

Di tengah hutan begini 'kan mana ada bengkel.

Ada apa?

-Jangan bercanda, Wahyu! -Aku tak bercanda!

Tunggu dulu.

Aduh.

Ini lampu nyala tapi mesin mati. Aneh banget.

Kok bisa mogok sih?

Tidak tau aku!

Sialan!

Kenapa ya, Wid?

Sudah jangan berhenti. Jalan terus aja.

-Hei, Widya. Tunggu aku! -Ayo.

Widya, tunggu aku!

Bagaimana kalau ngelihat yang tidak-tidak?

Jaga omonganmu, Wahyu!

Gara-gara omonganmu kita tuh jadi sial!

Ya sudah, tunggu aku.

Ada yang hajat ya, Widya?

Kamu dengar juga?

Yu, ingat tidak apa kata Mas cilok tadi?

Kalau ada yang aneh, kita jalan saja.

Anggap tak ada apa-apa.

-Ya? -Ya.

Kamu lihat juga 'kan, Wid?

Menginjak tanah.

Berarti orang, bukan hantu.

Ayo.

Wahyu.

-Ayo! -Wahyu!

Jangan takut. Ada aku.

Sepeda motormu mogok?

Bapak bisa bantu?

Tolong dibantu.

Kalian tunggu di tempat kami saja.

Kebetulan sedang ada hajatan.

Ya, Pak.

-Ayo! -Jangan.

-Ya sudah ikut saja, ayo. -Jangan.

Jangan banyak bicara. Ayo!

Ada hajatan, ada makanan. Ayo.

Terima kasih banyak loh, Pak.

Ayo!

Wid, makan.

Kendalikan dirimu, Wahyu! Kita bukan tamu di sini.

Tidak sopan kalau tidak dimakan.

Makan!

Salam penghormatan lempar sampur segera dimulai...

Wahyu. Kita pulang.

Pulang.

Masa mau pulang, Wid?

Lagian motornya saja belum beres.

Motor kalian sudah selesai.

Tapi kalian di sini saja dulu. Nikmati makanannya.

Ya, Pak.

Terima kasih, Pak. Kita pulang saja.

Aku belum selesai.

Ya sudah. Makanannya dibungkus saja.

Silakan dibungkus.

-Bungkus, Pak? -Ya.

Terus.

Untuk yang lainnya.

Sekalian buat teman-teman ya, Pak.

Wahyu. Cepat, Yu!

Ayo.

Apa kalian tidak sadar...

...kita ini di desa orang.

Malu!

Mereka bisa mengusir kita.

Di mana otakmu, Bima?

Nafsu kok diikutin.

Maaf, Nur.

Kami khilaf.

Sekarang aku mengerti maksudnya Anton.

Dia sering dengar suara desahan wanita dari kamarmu.

Apa maksudnya, Nur?

Bima.

Kamu tanggung sendiri akibatnya.

Bangun!

Yang lain di mana? Aku bawa oleh-oleh.

Aku pikir kalian hilang.

Cilokku mana?

Perjalanan kami sangat seru! Tak akan terlupakan.

Ya 'kan, Widya? Ayo, kita masuk. Nanti kita makan sambil aku ceritakan.

Nur, Ayu, Bima?

Aku punya cerita menarik!

Kenapa kalian terlihat lemas?

Hei.

Aku tahu, pasti karena belum makan, ya?

Ada cerita apa, Wahyu?

Dengar.

Tadi di perjalanan pulang, di tengah hutan...

...motor kami tiba-tiba mogok.

Tapi tiba-tiba, ada orang tua yang menolong kami.

Dan aku dan Widya diajak ke hajatan!

Aku kenyang banget.

Hajatan?

Iya, hajatan. Makanannya banyak banget.

Enak semua.

Dan di sana...

...ada penari.

Yang sangat cantik.

Badannya seperti gitar Spanyol. Rasanya ingin sekali aku mainkan.

Yang penting aku kenyang, rugi kamu tidak ikut.

-Memangnya ada desa lain di hutan? -Ada!

Ngawur.

Tidak ada!

Setahuku, ini satu-satunya desa di hutan ini.

Sungguh, ada desa di dekat sini.

Yu...

Pak Prabu juga bilang ini desa satu-satunya.

Mas Ilham juga ngomong begitu.

Widya.

Tapi tadi ada 'kan, Wid?

Ada 'kan, Widya?

Ngangguk, Widya.

Ya sudah. Mana oleh-oleh makanan tadi?

Tunjukkan ke mereka kalau kita tidak ngawur. Mana makanannya?

Tidak percaya sama aku.

Brengsek!

Ini bukan daging monyet, 'kan?

Yu...

Ada lagi yang aku tak mengerti selain kejadian tadi.

Jangan diteruskan ya, Nak.

Widya?

Lebih baik...

...kamu tidak perlu ikut campur.

Dari pada...

...kamu ikut terkena imbasnya.

Aku sarankan...

...kamu jangan ikut dalam permainan ini.

Permainan apa?

Sudah!

Aku menghormati...

...siapa yang ada di belakangmu saat ini.

Tapi aku tidak akan segan...

...untuk mencelakaimu...

...jika kamu ikut terlibat.

Kamu paham, Nak?

Bima?

Bima.

Subuh dulu.

Aku khilaf, Nur.

Cuma sebatas khilaf, Bima?

Demi Allah, Nur...

...aku baru sadar setelah semuanya terjadi.

Jangan bawa-bawa nama Allah.

Dengarkan aku dulu.

Aku mohon.

Waktu itu...

...aku mimpi.

Mimpinya terasa sangat nyata.

Aku dengar suara Widya memanggil...

Widya!

Widya!

Widya!

Widya.

Dia tak akan bisa lepas...

...dari jerat ular.

Kamu siapa?

Panggil aku Dawuh.

Temanmu...

...sedang terjerat dalam ritual lama desa ini.

Aku bisa menolongnya.

Bila kamu...

...mau mendengarkan dan mengikuti semua yang kuperintahkan.

Apa?

Pergi ke Tapak Tilas.

Di gubuk dekat sanggar...

...kamu akan menemukan kawat duri ini.

Berikan kepada temanmu...

...untuk melindunginya.

Hanya ini yang bisa kamu lakukan...

...untuk menyelamatkannya.

Dan setiap malam...

...kamu harus menemuiku.

Aku akan menjaga temanmu.

Dan jika kamu menuruti semua yang kuperintahkan...

...kamu 'pun akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Seutuhnya.

Itu janjiku!

Astaghfirullah, Bim.

Itu jin!

Kamu percaya sama jin?

Nur.

Demi Tuhan!

Waktu itu...

...aku hanya memikirkan Widya.

Kamu dikuasai hawa nafsu, Bima.

Istighfar.

Astaghfirullahaladzim. Ya Allah.

Kemarin kamu bersama Ayu.

Siapa perempuan yang Anton dengar di kamarmu?

Yang aku ingat...

...godaannya Dawuh...

...terus menghantuiku setiap malam.

Kawat duri itu sekarang di mana?

Aku tidak tahu, Nur.

Aku takut...

...Widya dalam bahaya.

Aku juga pernah mimpi Widya dililit ular.

Ini pasti tanda, Bima.

Aku mohon...

Jangan sampai ada yang tahu ya.

Aku ikhlas menanggung semuanya.

Tumben ada Bima.

Ada yang bisa bantu.

Manusia tidak tahu diuntung.

Jangan dipikir...

...kamu tidak terima perbuatanmu.

Kami adalah orang-orangnya...

...yang dijadikan korban manusia.

Tapi kamu...

Kamu...

-Kita cari Pak Prabu. -Yu.

Cepat!

Jangan ganggu!

Aku sudah baik.

Aku sudah rukun.

Ini daerahku.

Kita juga tidak mengerti, Pak.

Waktu Bima sama Nur datang...

...tiba-tiba warga pada kesurupan terus nyerang kita.

Sekarang Mbak Nur-nya mana?

Dia istirahat, Pak, di posko.

Tiba-tiba badannya lemas, Pak.

-Hei! -Yu.

Ada apa ini Ton?

Semuanya kacau.

Yu, Widya mana?

Di mana Widya?

Yu!

Nur?

Ayu?

Anton?

Bima?

Nur?

Sedang apa?

Anak cantik.

Kamu betah di sini?

Bagaimana?

Anak cantik sudah kenal Badarawuhi?

Anak cantik kenapa menangis?

Jangan menangis, ya.

Tidak baik menangis itu.

Anak lelaki yang tampan itu saja...

...sudah kenal dengan Badarawuhi.

Kamu tidak kenal siapa aku, Nak?

Kamu pikir...

...kalau tidak ada aku...

...teman kalian yang mengakibatkan bencana...

...yang bodoh berbuat dosa...

...akan bisa mencelakai cucuku?

Aku tidak akan biarkan cucuku dicelakai...

...oleh siapa 'pun di sini.

Kamu mengerti, Nak?

"Mencelakai" bagaimana maksudnya, Mbah?

Anak cantik...

Ada temanmu yang tidak akan selamat...

...jika mereka tidak berhenti berbuat dosa.

Dengarkan aku!

Beri tahu mereka...

...sebelum terperosok semakin jauh...

...melewati batas semakin dalam.

Karena kelakuan nya...

...akan mencelakai semua orang yang ada di sini.

Nur!

Nur!

Aku takut, Nur.

Aku gagal menjagamu, Widya.

Aku gagal!

Aku gagal.

Yu.

Aku mau ngomong berdua.

Apa rencanamu?

Kamu mau melakukan apa?

Jelaskan sekarang semuanya.

Aku tidak mengerti.

Kamu bicara apa?

Di tas Widya aku menemukan kawat duri.

Aku juga ketemu selendang itu di tas kamu.

Itu kamu yang taruh, 'kan?

Dapat dari mana selendang itu?

Kamu sudah kelewatan, Nur.

Buat apa kamu bongkar-bongkar barang pribadiku?

-Selendang itu punyaku. -Kawat duri itu dari Bima, 'kan?

Bima dapatkan itu setelah dia mimpi.

Dan kamu tahu siapa yang ada di mimpinya?

Itu jin, Ayu!

Selendang itu kamu dapat dari mana?

Dari jin yang sama!

Ikut aku ke rumah Pak Prabu. Jelaskan semuanya di sana.

Ya, baiklah!

Memang aku yang taruh di tasnya Widya.

Bukan karena Bima yang menyuruh.

Siapa?

Memang awalnya Bima yang minta aku memberikannya ke Widya.

Tapi tidak aku lakukan.

Sampai seorang penari perempuan mendatangiku.

Dia yang memaksa aku.

Sebagai gantinya...

...dia memberikanku selendang hijau yang bisa memikat Bima.

Sudah gila kamu!

Itu tandanya kamu bersekutu sama jin!

Kita ke posko sekarang.

Aku mau bicara sama kalian.

Kita pulang!

Sudahi KKN-nya.

Ini ada apa sebenarnya?

Memangnya tidak bisa kita berjuang dulu sampai selesai?

Ayu! Kenapa menangis?

Aku memang salah, Nur.

Tapi aku mohon, Nur.

Kita harus selesaikan KKN ini, Nur.

-Ini tidak adil buat yang lain, Nur. -Kita semua bisa kena masalah, Bima.

Sepertinya tempat yang kita pilih ini tidak beres.

Kenapa kamu menangis, Ayu?

-Kamu 'kan yang pilih tempat ini! -Bukan tempatnya yang salah!

Kita yang salah!

Jadi besok kita pulang, Nur?

Bima!

Bima!

Bima?

Bima!

Bima?

Bima?

Bima?

Bima?

Bima?

Kamu Dawuh yang paling kunantikan.

Kamu wangi sekali.

Tetap di sini, Nak.

Tetap di sini, Nak!

Tetap di sini!

Ayu.

Ayu.

Bangun. Widya tidak ada.

Ayu?

Ayu.

Ayu.

Ayu.

Ayu.

Ayu, bangun!

Tolong! Tolong!

Ada apa, Nur?

Ada apa lagi ini?

Widya tidak ada. Lalu aku lihat Ayu sudah seperti ini!

Kita harus minta tolong Pak Prabu!

-Bima di mana? Lihat, tidak? -Aku tidak tahu.

Ayu, bangun! Sadar, Ayu!

Man!

-Jemput Mbah Buyut sekarang! -Iya, Pak.

Pak.

Bima dan Ayu berhubungan badan di Tapak Tilas.

Aduh...!

Tapi Bima tidak sadar.

Mereka ikut semua perkataan jin.

Jin yang bernama Dawuh.

Saya mengerti teman-teman saya salah, Pak.

Tapi saya mohon tolong Bima sama Ayu, Pak.

Bodoh! Kenapa baru cerita sekarang, Nur?

Berengsek! Bisa-bisanya berhubungan badan di desa orang!

Cukup!

Teman-temanmu dalam bahaya!

Cari sekarang! Semua ikut mencari!

Semuanya!

Bima! Widya!

Bima! Widya!

Bima!

Mbah...

Mereka melanggar aturan yang paling penting, Mbah.

Ambil ini, Mbah.

Kamu tahu benda apa ini?

Keduanya milik sang penari...

Penguasa desa ini.

Dawuh?

Dawuh itu...

...bukanlah nama.

Itu gelar...

...yang disematkan untuk sang penari.

Namanya...

...Badarawuhi.

Kawat duri ini...

...hanya bisa dipakai...

...oleh Dawuh yang dipilih.

Selendang hijau ini...

...digunakan untuk memikat siapa 'pun...

...yang dia inginkan.

Lalu teman saya gimana, Mbah?

Saya mohon tolong mereka ya, Mbah.

Sukma mereka...

...ditahan di Angkaramurka.

-Astaghfirullah. -Semoga dia mau melepaskannya.

Kalian tunggu di sini.

Pelan-pelan.

Pelan-pelan, Pak.

Hati-hati.

Minggir.

Hati-hati.

Pelan-pelan.

Ya Allah.

Ya Allah.

Widya.

Widya.

Aku mengikuti Bima, Nur.

Dia bersama penari yang pernah aku lihat.

Mereka dikelilingi ular.

Ayu juga.

Ayu menangis.

Dia dipaksa menari.

Kasihan Ayu.

Mbak Nur...

Mbak Nur...

Sudah.

Sukma kedua temanmu...

...terjebak di Angkaramurka.

Ular-ular yang kamu lihat itu...

...adalah anak-anak Bima dan Badarawuhi.

Sementara Ayu...

...sudah dijadikan Dawuh yang baru.

Dia harus terus-terusan menari...

...sejengkal demi sejengkal tanah di hutan ini.

Mereka di hukum...

...karena perbuatannya.

Kalau yang itu...

...Mbah tidak bisa bantu.

Maaf, Nak!

Mbah lalai menjaga mereka.

Dulu...

...nenek moyang kami percaya...

...dengan menumbalkan anak-anak perempuan...

...desa kami dijauhkan dari kemalangan.

Nisan yang dililit kain hitam yang Mbak lihat...

...adalah makam-makam korban tumbal...

...pada saat desa ini masih terjebak dalam godaan iblis.

Sanggar di Tapak Tilas...

...dulu adalah tempat pertunjukan tari.

Bukan untuk warga desa kami...

...tapi desa lelembut yang dulu berdampingan bersama kami.

Sepertinya saya memang gagal menjaga kalian, Mbak.

Saya yang salah, Pak.

Saya tidak bisa menjaga teman-teman.

Tidak bisa menjaga kepercayaan Bapak.

Nur.

Ayo kita pulang.

Pamit ya, Pak.

Siang itu...

...saya meninggalkan desa dengan perasaan bersalah.

Yang tidak bisa hilang sampai saat ini.

Bima meninggal 4 hari setelah kepulangan mereka.

Ayu meninggal 3 bulan kemudian.

Itu terakhir kalinya saya melihat Pak Prabu dan Mbah Buyut.

Sampai sekarang...

...kami tidak pernah ke sana lagi.

Mungkin Mbak Nur juga sudah bilang...

...untuk menghormati kedua almarhum teman kami.

Tolong.

Samarkan semua nama kami...

...dan nama desa itu.

Ya, Mbak.

-Assalamualaikum. -Waalaikumsalam.

Kyai.

Kyai tahu ada sosok yang menjaga saya?

Namanya Mbah Dok.

Dia sudah sangat lama mengikutimu.

Saya sudah pernah coba usir.

Tapi dia berjanji akan menjagamu.

Di desa kemarin...

...dia benar-benar menepati janjinya.

Kamu pasti sering merasa berat di bagian sini.

Itu berarti Mbah Dok...

...sedang melawan makhluk yang coba mengganggumu.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Kyai.

Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.