Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Yang ini tempatnya?
Iya.
Masuk.
Kayaknya banyak ya, di sini.
Sudah ada yang muncul belum, Mas?
Sudah…
tapi pada pergi.
Kenapa, ya? Kok, mereka pergi?
Kata Kakek,
setan juga takut sama manusia, Din.
Pantas! Tiap kita cari di rumah tidak pernah ketemu.
Bukan kita yang tidak pernah ketemu,
tapi kamu yang belum bisa melihat.
Makanya aku kan ke sini, minta diajari sama kamu.
Mas, Mas. Sini, sini.
Di situ.
Aku merasa, auranya kuat banget, ya.
Ada?
Ya.
Ayo!
Din!
Jangan jauh-jauh dari aku, ya.
Hati-hati.
Mana? Tidak ada, tuh.
Ada di belakang pintu, Din.
Bukan begitu cara melihatnya!
Kata Kakek, mata manusia itu tajam kalau melihat setan.
Kalau kamu melihatnya kayak tadi, setannya lari.
Harus gimana dong, cara lihatnya?
Mas lihat sesuatu, ya?
- Ayo, buruan ajari aku. - Din.
Din, hati-hati, Din!
Din!
Ayo, buruan!
Seram banget, ya?
Tidak apa, kok.
Aku mohon.
Ya sudah, tapi kalau kenapa-kenapa jangan salahkan aku, ya.
Ya!
Tatapan… lurus!
Jangan bergerak. Fokus.
Kamu lihat tidak di sebelah kiri kamu ada yang bergerak-gerak?
Ada di sana.
Sekarang kamu menengok ke kiri,
tapi pelan saja.
Mana? Tidak ada.
Bohong, ya?
Kayaknya setannya tahu deh, Din, kalau kita mau melihat mereka.
Makanya dari tadi, hilang-hilang terus.
Ki… ki… kita pulang saja.
Bagaimana dong, cara lihatnya?
Din!
Din! Kita harus pergi dari sini!
Kenapa?
Din!
Dinda!
Lari, Din!
Dinda, lari!
Jangan lihat ke belakang!
Mas Rayhan…
Mas Rayhan!
Mimpi lagi?
Tidak. Capek saja, kok.
Minggu lalu juga kamu sudah istirahat cukup,
tetap saja mengigau.
Sudah, tak usah dipikirkan, kamu bobo lagi saja.
Hei.
Kamu sudah telepon balik Mama belum?
Sudah.
Terus?
Awalnya cerita, Mbak Hera hamil lagi.
Serius? Mau lima anaknya?
Dia sih alasannya karena di Australia susah cari klinik yang ada KB-nya.
Dasar.
Terus, lanjut deh, Mama tanya soal,
"Kapan kalian punya anak?
Kapan kamu hamil?"
Aduh.
Bilang sama Mama,
kita lagi berusaha sampai tetes cairan penghabisan.
Sampai keluar…
Apaan sih?
Apaan sih, kamu?
Han, punggung.
- Bye, Sayang. - Sebentar.
- Ada yang kelupaan. - Apa?
- Semangat. - Rayhan.
Pagi-pagi… Sudah bikin kita iri saja.
Entar ada yang cemburu lagi.
Siapa tuh yang bikin cemburu?
Yang kemarin.
Yang pakai gaun putih.
Siapa, tuh?
Cewek, cantik, pakai gaun putih?
Itu dia memang.
Memang ada, Sayang.
Dia cantik banget. Cuma, kakinya melayang!
Benar-benar, deh!
Sudah. Sana kerja.
- Hati-hati kamu menyetirnya. - Iya, iya.
- Bye. - Dah.
Kiss bye.
- Jangan ngebut. - Ya.
Sori. Sori. Sori.
Kebiasaan.
Pas banget nih. Punya lu.
Terima kasih.
Kenapa sih? Sher?
Gue minta tolong banget. Soal detail. Perhatikan. Jangan sampai lolos.
Siap. Untuk detail, semua sudah dipersiapkan juga di data sini.
- Oke, oke. Aman, ya? - Aman, kok.
- Aman sih. - Sori, sori. Sebentar ya.
Halo? Kenapa, Sayang?
Hasil titik cairan penghabisan.
Akhirnya.
Sayang.
Kita bakal berkeluarga.
I love you.
I love you so much.
KAFE NONGKRONG SERBA ADA
Tuh, kan bandel, deh. Lihat, mata ke depan.
Iya, aman, kok.
Apa?
Ada apa?
Sori. Tadi ada orang lewat kayaknya.
Tidak. Tidak ada, kok. Tidak lihat.
Iya, ya.
Han, aku mau bikin jus. Mau sekalian, tidak?
Han.
Apa?
Mau, tidak?
Mau apa?
Aku mau bikin jus.
Kamu mau sekalian, tidak?
Oh, tidak. Kamu saja.
Han.
Tunggu aku.
Iya. Ya, ampun.
Sori, Sayang, aku lupa. Tidak.
Maaf. Kamu tidak bikin minuman sendiri. Sini aku bawakan.
Tuh, kan.
Tidak.
Berlebihan banget.
Tidak apa-apa.
Kebayang, tidak? Bentar lagi,
bakal ada orang ketiga di keluarga kita.
Kamu lihat apa?
Tidak, tidak.
Bahagia saja.
Mimpi lagi?
Tidak.
Haus saja.
Aku sekalian ambilkan kamu minum.
Tidak.
Oke.
Kamu sedang apa?
Ini.
Tadi lampu tidur mati terus tiba-tiba lampu kamar juga ikut mati.
Aneh, ya?
Heh!
Itu.
Aduh, stok bohlam masih ada tidak, ya?
Aku ikut.
Ya sudah, ayo.
Say, tolong dong, lampunya diposisikan off dulu.
Bukannya sudah mati, ya?
Hei, ke sini.
Sebentar, Sayang.
Sakit, ya?
Sini aku bantu.
Kamu tidak apa-apa? Sakit di mana?
Sini?
Aduh!
Kok, aneh banget ya, lampunya.
Kok, berhenti di sini?
Aku belum cerita, ya.
Aku ada meeting di GI. Agak buru-buru.
Kok, tidak bilang?
Ya, aku lupa, maaf.
Benar?
Iya, iya.
Ya, sudah.
Iya, Say.
Ada yang ketinggalan.
Apa?
Semangat!
Hati-hati.
Dah!
Bi Siti?
Syukurlah Mas Rayhan masih ingat saya.
Sudah lama saya cari orang
untuk bisa menghubungkan saya dengan Ibu.
Ibu siapa?
Ibu Mas Rayhan.
Agar Ibu bisa mengikhlaskan sisa utang saya.
Ya, Bi, nanti saya sampaikan.
Bi Siti tidak usah khawatir.
Saya yakin Ibu juga sudah maafkan.
Sebentar, Bi.
Sebelum ini, Bi Siti sudah sering ke sini?
Baru sekarang ini.
Ya, ya, sebentar!
Ya?
Paket, Pak.
Barusan Mas yang ketuk?
Maksud Bapak?
Maaf, Pak.
Ini, Pak, paketnya.
Saya foto ya, Pak.
Permisi.
Astaga. Han?
Aku tidak tahu… Hadiah ini…
Sweet banget!
Ya, ampun!
Jadi, ini alasan kamu tadi pulang lebih cepat?
Buat beli ini?
Ini masih terlalu awal, tapi…
- Terima kasih. - Ya, tidak apa-apa dong. Aku kan…
tak sabar saja mau bawa anak kita jalan-jalan nanti.
Ya, sudah. Sekarang aku mau makan malam.
Suami aku mau makan apa? Aku masakin.
Apa saja boleh, tapi aku mandi dulu, ya.
Oke.
Sini.
Tunggu di sini, oke?
Han?
Tidak lucu, deh.
Han!
Sayang, kenapa?
Han!
Kenapa?
Han! Itu! Stroller-nya gerak sendiri!
Sayang, stroller-nya di situ!
Kamu lihat…
Ya, sudah. Sebentar, aku turun.
Han.
Kenapa, sih?
Tadi stroller-nya gerak sendiri sampai ke sana.
Terus ada yang pegang kaki aku.
Dari stroller-nya?
Iya, Han, kamu cek deh.
Sayang, tidak ada apa-apa.
Ya sudah, aku bawa ke atas, ya.
Sudah. Oke?
Aku ikut kamu.
Ya, Allah.
Tadi ada yang pegang kaki aku, Han.
Kamu yakin?
Benar.
Aku tidak salah lihat. Tadi dari sebelah situ.
Menurut gue, di rumah lu pasti ada sesuatu.
Apa?
Setan gitu maksudnya?
Makhluk halus?
Masa iya, sih?
Sebenarnya,
gue punya orang yang bisa bantu, sih.
Om gue.
Saudara nyokap.
Om lu dukun?
Bukan!
Apa ya?
Om gue itu orang yang punya kelebihan.
Paranormal gitu.
Jadi, dia bisa komunikasi sama makhluk halus.
Sayang?
Aku sudah pikirkan lagi,
kayaknya tidak perlu deh, panggil paranormal.
Kenapa?
Tidak perlu saja. Buang duit tidak, sih?
Jadi, dicuekin saja gitu?
Tidak dicuekin juga.
Kalau kamu memang percaya yang begitu, ya berteman saja.
Berteman?
Kamu saja yang berteman sama mereka!
Aku sih, ogah.
Setahu aku ya,
kalau makhluk begini tuh, makin diperhatikan makin ganggu.
Makanya kita diamkan saja.
Lagipula cuma lampu kan, mati nyala-mati nyala.
Cuma?
Itu! Stroller!
Kamu sampai jatuh dari tangga.
Mau dibiarkan gitu saja?
Han?
Ya?
Sori, Sayang.
Aku kira kamu masih di bawah.
Han! Punggung, dong!
Ya, sebentar!
Halo?
Maaf tadi
teman telepon.
Kenapa, Say?
Kamu kenapa?
Panas.
Gimana, Sher?
Jadi, minta bantuan om gue?
Jadi.
Gue serius.
Kali ini sudah kelewatan.
Rayhan bagaimana? Tidak apa-apa?
Sudahlah.
Kalau tunggu dia setuju, keburu gue mati berdiri.
Oke.
Habis makan ya, gue hubungi om gue.
Ya. Gue kayaknya sudah sampai, sih.
Oke, oke.
Nanti kita ketemu di rumah, ya.
Cari siapa, Mbak?
Pak Kasman?
Mas Kasman.
Saya teman kantornya Tyas.
Butuh bantuannya Pak…
Mas Kasman.
Ada waktu sebentar?
Ya.
Duduk dulu saja.
Duduk, Mbak, sini.
Maaf, ya. Berantakan gini.
Silakan, silakan.
Jadi…
Hei!
Jangan berisik.
Hei! Jangan berisik!
Tidak usah caper!
Maaf ya, Mbak. Anak-anak, biasa…
kalau ada tamu cantik kayak gini, suka caper.
Jadi, apa yang bisa saya bantu?
Om.
Ya.
Ya, oke.
Besok.
Ditanami daun kelor, ya?
Sini.
Daun kelor di sini bagus buat penangkal setan.
Minggir.
Maaf, Om.
Ayo.
Permisi.
Permisi!
Itu?
Itu…
Suami kamu, ya?
Iya, benar. Suami saya.
Ini.
Kayak pernah lihat. Di mana, ya?
Mungkin penglihatan saya saja.
Di atas ada apa?
Di atas cuma ada kamar tidur.
Oh, kamar tidur. Boleh lihat, ya?
Permisi.
Memangnya sapu lidi bisa buat usir setan?
Setahu gue di internet sapu lidi itu memang bisa usir makhluk halus, Sher.
Satu.
Dua.
Halo.
Hei.
Heh!
Hei!
Sudah, ya.
Yang punya rumah ini keluarga baik-baik.
Mengerti?
Paham?
Sudah. Pergi!
Pergi! Pergi!
Sudah!
Siapa, Sayang?
Teman kantor.
TENANG SAJA. RUMAHMU SUDAH SAYA KASIH PAGAR.
Oke.
TIDAK AKAN ADA YANG BISA GANGGU KAMU LAGI.
Ayo maju.
Ayo maju!
Kasman tidak takut.
Sialan.
Maju!
Oke.
Han.
Han!
Han.
Ada suara.
Bangun.
Kayak ada yang jatuh di tangga, Han.
Tuh, benar kan yang aku bilang.
Gerak sendiri.
Ini paling iseng doang, Sayang.
Ini harusnya sudah dipagar tapi kok masih bisa kayak gini, ya?
Kamu ngomong apa?
Tidak.
Tadi? Pagar?
- Apa dipagar? - Tidak apa-apa.
Sher?
Sher, siapa yang bilang dipagar?
Sher?
Siapa yang bilang sudah dipagar?
Aku minta bantuan sama paranormal.
Kan aku sudah bilang, tidak usah.
Kenapa kamu berurusan sama orang begituan?
Apa salahnya cuma minta bantuan sama orang lain?
Jelas-jelas rumah ini bermasalah
dan kamu sendiri juga bermasalah.
Aku bermasalah?
Masalahku apa?
Aku telepon Mama.
Tanya soal kamu dulu.
Kamu dulu sering mimpi buruk atau tidak.
Kata Mama tidak. Tidak pernah.
Itu artinya,
kamu baru sering mimpi dan mengigau kayak ini semenjak nikah sama aku, Han.
Kan ini jadi masalah buat aku.
Karena kamu tidak pernah terbuka soal mimpi yang bikin kamu mengigau tiap malam.
Mengigau, Sher?
Kamu mempermasalahkan mengigau?
Ya! Itu memang masalah, Han!
Jangan anggap tidak ada masalah, dong.
Kata siapa kuanggap ini bukan masalah.
Kalau memang kamu anggap ini masalah,
apa salahnya kita minta bantuan orang lain?
Jelas-jelas aku merasa terganggu, Han.
Atau mungkin kamu senang lihat aku ketakutan setiap kali pulang ke rumah?
Tidak lah, Sher.
Kalau begitu, jangan dibiarkan dong, Han.
Ya sudah, sini dulu.
Sebenarnya ada…
sesuatu yang belum kuceritakan kepadamu.
- Jangan bikin aku tambah takut, Han. - Tidak.
Kamu harus tahu…
dari kecil aku punya indra keenam.
Kemampuan paranormal.
Dulu penglihatanku sempat hilang, tapi belakangan ini…
balik lagi.
Kamu juga harus mengerti
kalau aku selama ini tidak cerita sama kamu
karena aku ingin kita hidup normal.
Kayak orang biasa saja.
Aku tidak ingin kamu jadi takut juga.
Sayang, aku minta maaf selama ini kalau
kelihatannya kayak aku
meremehkan semua pengalaman kamu, tapi tidak.
Itu bukan maksudku.
Setahu aku,
untuk mengatasi urusan-urusan begini,
solusi paling baik itu kita diamkan saja.
Semakin kita menunjukkan kalau kita terganggu,
semakin mereka mau mengganggu.
Jadi,
selama ini kamu bisa lihat mereka?
Jadi, kamu tahu yang selama ini mengganggu kita?
Sayangnya tidak.
Han.
Aku sudah coba cari tahu, tapi belum temukan.
- Jangan bohong, Han. - Sayang, aku serius.
Hei.
Yang aku temukan,
cuma almarhum bibiku yang merasa masih punya utang sama ibuku
dan aku yakin bukan dia yang ganggu kita.
Siapa dong yang selama ini ganggu kita, Han?
Aku tidak tahu.
Kamu jangan takut.
Aku pasti cari tahu.
Ayo, Sayang.
- Sher! - Hei!
Mau ke mana?
Om Kasman meninggal.
Kapan?
Semalam dia kecelakaan, terus sempat dibawa ke rumah sakit.
Terus, tidak selamat.
Lu mau ikut, tidak?
Sebentar.
Han.
Hai, kenalkan ini Sheren.
Sama suaminya.
Turut berduka cita, ya.
Terima kasih.
- Mari. - Terus…
Waktu dibawa ke rumah sakit, bagaimana?
Sadar tidak?
Tidak sadar, Mbak,
tapi setelah dua jam dirawat di ICU,
Om Kasman sempat siuman
dan ngomong sesuatu, tapi tak jelas ngomong apa.
Sesuatu?
Terima kasih, ya.
Ya, sama-sama.
Han.
Lihat apa?
Tidak. Ayo.
- Benar tidak lihat apa-apa? - Iya, iya.
Kamu benar tak tahu siapa yang kamu lihat di rumah Om Kasman?
Soalnya kamu kayak fokus ke satu titik itu.
Benar tidak jelas.
Aku tidak tahu apa yang kulihat.
Masa, sih?
Soalnya aku lihat ekspresi kamu tuh beda.
Kamu kayak kaget.
Kayak kamu lihat orang yang sudah lama tidak bertemu.
Aku cuma takut mungkin dulu kamu pernah ada masalah
atau mungkin utang
atau ada urusan yang belum selesai, tapi orangnya sudah meninggal.
Sher, kamu jangan berpikir kejauhan.
Setahu aku, aku tak punya musuh.
Aku tak tahu siapa yang mau sakiti kita tapi aku cari tahu, ya.
Kamu…
Kamu jangan hubungkan hal yang tak ada hubungannya.
Makin ke mana-mana masalahnya.
Apa sih?
Bagaimana dengan omnya Tyas?
Tidak ada hubungannya?
Jelas-jelas dia meninggal setelah dari rumah kita.
Setelah bantu aku mengusir penunggu yang ada di rumah ini.
Jadi, aku tidak boleh menghubungkan masalah ini?
Yang jelas berhubungan?
Justri karena kamu menghubungkan dia jadi meninggal.
Aku bilang apa?
Berteman. Kalau kamu percaya, berteman.
Kalau kamu tidak percaya, tidak mau berteman, apa?
Diamkan! Kamu juga tak mau.
Apa yang kamu lakukan?
Kamu panggil dukun.
Dengan cara tak jelas, kamu menentang, melawan.
Ya, ini konsekuensinya.
Om Kasman meninggal.
Jadi, salah aku cuma minta bantuan untuk kita berdua?
Terserah, deh.
Sayang.
Sayang, mau ke mana?
Ke rumah Papa. Mau tidur di sana.
Terus kamu mau bilang apa?
Kamu takut sama hantu?
Yang ada kamu ditertawakan. Papa tidak percaya ini.
Mending ditertawakan daripada ketakutan.
Kalau setan ini niatnya ganggu kamu,
dia akan ganggu kamu ke mana pun kamu pergi.
Jadi, aku harus gimana?
Di rumah tidak aman.
Ke tempat Papa juga tidak bisa.
Jadi, aku harus ngapain?
Kita harus ngapain, Han?
Kita harus ngapain sekarang?
Apa kita harus sewa paranormal lagi?
Tapi kalau nanti paranormalnya meninggal kayak omnya Tyas bagaimana?
Tidak.
Kamu napas.
Sedikit lagi, Sher, sedikit lagi aku janji.
Aku bakal temukan siapa yang ganggu kita.
Oke?
Sudahlah.
Tak apa.
Mas Rayhan.
Mas Rayhan.
Siapa, ya?
Mas Rayhan.
Dinda?
Han?
Han.
Han?
Han.
Sheren.
Sher!
Sher!
Sher!
Sher! Sheren!
Sheren!
Sayang, sayang!
Sayang, kamu kenapa?
Sayang. Sayang!
Kok, bisa gini?
Sayang!
Sayang… Sayang!
Sayang, kamu tidak apa-apa? Sayang?
Sayang! Sayang.
Kamu akan baik-baik saja.
Kayaknya Ibu
mengalami benturan yang cukup keras di bagian belakang kepala
dan itu yang menyebabkan dia hilang kesadaran.
Bagaimana dengan kondisi kehamilan istri saya, Dok?
Melihat kejadian yang dialami istri Bapak cukup fatal,
jadi, saya belum bisa memastikan kondisi kandungan istri Bapak.
Kami harus lakukan pemeriksaan secara intensif
supaya mengetahui kondisi kandungannya.
Hei.
Hei, Sayang.
Sayang.
Sayang. Are you okay?
Hai.
Han.
Kita di mana?
Kita di rumah sakit.
Anak kita, Han?
Kita berdoa untuk yang terbaik.
Sher.
Sher?
Han.
Sher!
Aku khawatir banget sama lu.
Akhirnya siuman juga.
Kok bisa, sih.
Tyas.
Kok lu bisa ada di sini?
Tadi gue datang pas Rayhan mau pergi.
Rayhan ke mana?
Ke rumah saudara, katanya.
Aku potongkan buah, ya.
Biar lu segar. Ya?
Mana?
Ada tidak, Mas?
Sabar!
Kayaknya kalau di sini sudah tidak ada.
Kenapa?
Ada, ya?
Oke.
Dar!
Aku tidak takut!
Terus apa, dong?
Kabur!
Kabur. Kabur!
Ngapain?
Yang benar!
Rayhan.
Sudah lama kamu tidak ke sini, Han.
Apa kabar kamu?
Tante, maaf kalau ini agak tidak sopan, tapi
aku ke sini karena aku harus tanya Tante sesuatu.
Apa yang…
Apa yang sebenarnya terjadi sama Dinda?
Kenapa kita tidak biarkan dia tenang di tempatnya sekarang, Han?
Justru karena itu, Tante.
Aku yakin dia tidak tenang.
Tante.
Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Dinda.
Tante.
LAYANAN KEBERSIHAN
Kebiasaan deh, gue.
Panas.
Halo? Layanan kebersihan?
Segera ke sini ya, Mbak. Thank you.
Sher.
Lu sama Rayhan fine-fine saja, 'kan?
Maksud lu?
Aku merasa Rayhan punya rahasia.
Rahasia?
Kayaknya ini ada hubungannya sama
makhluk yang dia lihat di rumah Om Kasman.
Aduh.
Ya, ini.
Mbak.
Sori banget, tadi saya menjatuhkan cangkir.
Tolong dibersihkan, ya. Terima kasih.
Lanjut.
Gue heran sama Rayhan.
Sudah tahu setan itu ada sifat manusianya juga.
Kalau mereka makin dipikirkan, mereka makin merasa penting.
Rayhan juga bilang hal yang sama.
Nah, 'kan?
Gue takut banget, Tyas.
Sher.
Tidak usah takut.
Kan ada gue.
Lu kok berani banget, sih?
Apa jangan-jangan lu ada ilmu, ya?
Atau belajar dari Om Kasman?
Tidak ada!
Yang gue tahu,
setan itu cuma berani sama manusia-manusia penakut.
Lagian, kalau seandainya setan lihat gue,
yang ada setan yang takut.
Mbak.
Mbak mau apa ya, Mbak?
Mbak, Mbak kenapa, ya?
Mbak?
Tolong! Tolong!
Sekuriti! Sekuriti!
Tolong!
Tolong!
Sher!
Lepas.
Lepas!
Jangan sentuh teman saya!
Sher!
Pergi, Sher!
Irma!
Hei, Irma!
Irma! Irma!
Tahan dia!
Irma! Sadar!
Irma, Irma! Sadar, Irma!
Irma.
Irma! Irma!
Sayang? Sayang!
Sayang, kamu kenapa?
Tega kamu!
Tega kamu tinggalkan aku!
Sayang, maaf. Kenapa?
Mana janji-janji kamu katanya kamu bakal jaga aku?
Aku minta maaf.
Kenapa bisa kayak begini?
Kamu lihat tuh.
Tyas.
Dia hampir mati gara-gara kamu suruh dia temani aku!
Aku juga hampir mati!
Sayang, aku harus tinggalkan kamu sebentar.
Tadi aku harus cari tahu siapa yang ganggu kita.
Siapa perempuan itu?
Mantan kamu?
Kamu lihat dia?
Ceritanya panjang,
tapi kamu masih harus dirawat.
Ayo.
Ayo, Sayang.
Aku tidak mau dirawat di sini.
Kamu masih harus istirahat, Sayang!
Aku tidak mau!
Jujur, aku tidak tahu harus apa lagi, tapi
masih ada urusan yang harus aku selesaikan.
Aku istri kamu.
Urusan kamu urusan aku juga.
Aku sudah tahu siapa yang ganggu kita.
Siapa?
Anaknya Tante Hesti.
Namanya Dinda.
Kamu belum pernah ketemu dia.
Dulu, waktu masih kecil…
aku dekat banget sama dia…
karena kita punya ketertarikan yang sama.
Berburu makhluk-makhluk dunia lain.
Ada tidak, Mas?
Aku suka merasakan, tapi
tidak bisa melihat.
Ya, harus belajar.
Makanya, ajarkan dong.
Dari kecil…
Dinda itu benar-benar ingin melihat
dan ingin bertemu.
Suatu hari dia berhasil,
tapi yang dia temui
malah sejenis iblis.
Dinda!
Lari!
Jangan lihat ke belakang!
Aku terus dikejar sama setan jahat itu.
Aku pernah masuk ke dunia lain terus ketemu sama Papa.
Jadi, kamu masuk ke alam orang yang sudah meninggal?
Kalau misal aku tersesat lagi di dunia orang-orang yang sudah meninggal,
kamu mau menemani aku?
Pasti!
Bagaimana kalau kita bikin janji?
Yang menyatukan darah kita berdua?
Seram amat.
Kamu lakukan perjanjian darah itu?
Lihat ini.
Lulus SD,
Dinda pindah ke luar kota.
Kita ketemu lagi pas SMA, tapi…
sudah banyak banget yang berubah.
Dia bukan…
Dinda yang aku kenal lagi.
Mas, nanti jalan, yuk.
Ke mana?
Kita lihat hantu kayak dulu lagi.
Din, aku sudah tidak main yang kayak begitu lagi.
Aku tidak yakin masih bisa lihat atau tidak.
Tidak diizinkan pacar, ya?
Pacar apa? Aku tidak punya pacar.
Oh, iya.
Kan aku pacar kamu.
Jangan ngaco! Kita saudara!
Santai saja.
Mas!
Sori ya, aku lama. Helm, dong!
Din, aku mau balik sama Nita hari ini.
Aku pulang bagaimana?
Tidak usah. Aku pulang sendiri saja.
Tidak apa-apa. Sama gue saja.
Tidak. Nanti gue pulang sama Emir saja.
Terima kasih ya, Nit.
Gue boleh pulang bareng?
Elu? Boleh, boleh.
Ayo.
Gue mau pulang sekarang.
Ayo, kita pulang.
Apa?
Kamu harus tahu diri, aku bilang mau pulang bareng Nita.
Aduh, tidak terdengar, Mas.
Berhenti dulu. Sebentar, aku tidak dengar.
Aduh.
Ngomong apa sih, Mas? Tidak jelas.
Kamu harusnya tidak kayak gitu tadi.
Orang melihat kita kayak ada sesuatu.
Memang kenapa?
Tidak enak, dong!
Makanya Mas, kalau kamu pacaran sama Nita, ngomong!
- Nita bukan pacar aku! - Kenapa sekarang marah-marah sama aku?
Tetap saja tidak enak.
Tadi Nita tidak apa-apa.
Nita seakan tak apa-apa karena dia tidak enak sama kamu.
Alah!
Dinda!
Nita!
Hei.
Kok kamu tidak datang?
Datang ke mana?
Pemakaman Nita dan Emir.
Aku tidak bisa.
Keluarganya pasti sedih banget.
Merasa kehilangan banget.
Aku tidak tega.
Harusnya aku yang antar Nita kemarin.
Kalau misalnya aku mati…
kamu mau kan, temani aku di alam itu?
Din, teman kita baru saja meninggal
dan yang kamu pikirkan malah itu?
Mas.
Mas!
Aku baru tahu dari Tante Hesti,
ternyata Dinda berguru sama orang pintar
untuk belajar ilmu hitam.
Dan bukan cuma untuk melihat.
Sampai sebegitunya?
Kalau Dinda sampai punya kekuatan gaib,
sudah pasti dia bersekutu sama setan.
Oke. Jadi, di mana dia sekarang?
Dia sudah meninggal, Sher.
Meninggal?
Karena apa?
Tante, aku harus tahu apa yang terjadi sama Dinda.
Dinda meninggal karena apa, Tante?
Kenapa kamu pulang?
Bukannya liburan semester masih tahun depan?
Ibu kenapa tidak ngomong, Mas Rayhan mau nikah?
Iya, soal…
Din!
Din! Berhenti!
Dengarkan Ibu!
Kamu ada perasaan sama Rayhan, 'kan?
Dia itu sepupu kamu, Din!
Apa kata keluarga besar?
Ini kan acara keluarga, Bu.
Aku keluarga. Aku tidak boleh datang?
Aku tidak ingin kamu bikin kekacauan!
Berantakan nanti semuanya!
Apa?
Tidak bisa ngomong?
Kamu tahu Ibu benar, 'kan?
Aku selalu nurut sama keluarga!
Aku selalu nurut sama Ibu!
Aku kuliah di luar negeri itu kemauan siapa?
Kemauan Ibu! Aku mana mau kuliah jauh!
- Sejelek itu aku di mata kalian? - Cukup!
Din!
Ini maksud Ibu!
Kamu tuh tidak bisa…
Din!
Din!
Kamu bisa dengarkan Ibu satu kali saja?
Ibu minta maaf, Din.
Ini bukan buat Ibu.
Bukan juga buat kamu.
Ini buat keluarga besar kita juga.
Ibu pikirkan saja terus kebaikan keluarga!
Tidak pernah pikirkan kebaikan aku!
Aku dan Mas Rayhan sepupu, memang kenapa kalau aku datang?
Aku di mata kalian sejelek itukah?
Aku selalu nurut sama kalian!
Kalian minta apa…
Aku selalu ikuti! Aku dijauhkan juga, aku menurut!
Ini gila!
Sekarang aku tidak boleh datang?
Bu!
Tidak usah dikunci, Bu!
Bu!
Buka!
Bu!
Ibu!
Ibu jahat!
Ibu!
Ibu jahat!
Selama ini, aku sudah mengalah sama kalian.
Mulai sekarang, jangan atur-atur aku lagi.
Din, Din!
Din, sudah, Din!
Din!
JANJI
Pak!
Ada apa, Pak?
Indikasi ada perempuan bunuh diri.
Ikuti, ya.
Aku berjanji.
Aku berjanji.
Jika salah satu di antara kita ada yang tersesat
Jika di antara kita ada yang tersesat
- ke dunia orang yang sudah meninggal - ke dunia…
Atau ada yang meninggal duluan
Yang masih hidup harus menjaga dan menemani
biar tidak diganggu setan-setan jahat.
Biar tidak diganggu setan-setan jahat.
Oke.
Ikuti di atasnya.
Sayang? Sayang!
Aku tahu ini berat.
Namun, ini benar.
Oke.
Jadi, sekarang apa yang bisa kita lakukan?
Arwah orang yang sudah meninggal
tidak akan tenang selama ada utang yang belum dibayar.
Dinda punya utang? Atau piutang?
Bagaimana cara kamu bayar utang itu?
Aku harus bertemu dia di dunianya sekarang.
Hati-hati, Sayang.
Han.
Ini istri kamu, Han?
Iya, Tante.
Maafkan Dinda, ya.
Anak Tante yang satu itu memang penuh banyak drama.
Sampai bikin orang sakit kayak begini.
Han, suruh istirahat. Masuk.
Sus.
Hati-hati.
Kamu jangan nekat, Han.
Aku sudah tidak punya pilihan lagi, Tante.
Aku diamkan.
Bisa jadi makin bahaya.
Aku nyaris kehilangan istri sekaligus anak.
Terus, apa yang mau kamu lakukan?
Aku harus tepati janji untuk bertemu Dinda.
Kamu mau bertemu dia di mana?
Tempat dia bunuh diri.
Kamu yakin?
Han!
Mas?
Dinda?
Mas Rayhan.
Han.
Kamu sudah bangun?
Silakan.
Tadi kamu tertidur saat kita mengobrol.
Rayhan di mana, Tante?
Tadi dia pamit untuk menyelesaikan urusannya.
Tante sudah coba larang, tapi dia masih memaksa.
Dia menitipkan kamu di sini,
tapi kamu tidak apa-apa, 'kan?
Sher?
Sher?
Mas.
Percuma. Mereka tidak bisa lihat kita.
Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah datang menemui aku.
Sus.
Tahu pabrik yang dibilang Ibu tadi?
Maafkan aku.
Aku sudah ganggu pernikahan kamu.
Percaya aku. Aku tidak punya niat jahat.
Aku cuma mau mempercepat takdir kita supaya bisa bertemu lagi.
Itu saja.
Mas.
Mas, kenapa? Kamu takut?
Mas, jangan takut.
Seharusnya kamu senang bisa menjalankan janji kita.
Oke.
Oke!
Din.
Dinda?
Ya?
Aku senang banget bisa bertemu kamu lagi.
Aku sudah menepati janji aku, 'kan?
Ya.
Jadi, sekarang kamu sudah bisa tenang.
Maksudmu?
Ya, kan
sekarang kita bisa saling menghormati kehidupan masing-masing.
Aku tidak akan bikin kamu sedih lagi.
Tolong,
jangan ganggu kehidupan aku lagi.
Sher?
Mas.
Aku tak bakal ganggu siapa-siapa lagi.
Buat apa?
Kamu sudah di sini sama aku
dan kita akan di sini berdua, selamanya, Mas.
Kamu jangan main-main.
Aku serius, Mas.
Aku bunuh diri demi bisa bertemu kamu.
Masa iya pengorbanan aku cuma untuk satu kali pertemuan?
Aku mati buat kamu, Mas.
Ya, ya. Benar. Oke.
Lebih cepat.
Rayhan!
Mbak!
Kamu tak usah pikirkan kita sepupu.
- Di sini aman, Mas. - Tidak.
Aku tidak bisa!
Aku harus balik ke Sheren.
Kayaknya kamu tidak sadar.
Kamu mau lihat kenyataan yang kamu jalani?
Han?
Han!
Rayhan! Kamu…
Han!
Tidak!
Tenang! Tenang!
Tenang!
Tenang!
Tidak mungkin!
Ayo!
Mas, tenang!
Hei.
Tenang, Mas. Jangan takut.
Ada aku di sini.
Din. Din, pasti ada cara lain!
Tidak ada, Mas!
Semua pintu sudah tertutup buat kamu.
Tidak bisa.
Mas!
Mas!
Sheren!
Tensi darah aman?
Iya, Mbak.
Mas!
Mas!
Tidak!
Cukup dari kamu!
Hidup aku hancur karena kamu!
Jangan ngomong sama aku
kecuali kamu mau bantu aku balik sama Sheren!
Kalau begitu kenapa kamu ke sini, Mas?
Kalau begitu kenapa kamu ke sini?
Aku kira kamu sayang sama aku, Mas.
Kamu jangan pernah pikir kalau aku tidak sayang kamu.
Kalau aku tidak sayang, tidak mungkin aku ke sini.
Demi menepati sebuah janji.
Aku juga sayang sama kamu, itu kenapa aku nekat bunuh diri.
Seharusnya kamu tidak bunuh diri.
Seharusnya kamu biarkan aku jalani hidup aku dulu.
Terus aku di sini sendirian menderita.
Kamu menderita karena sebenarnya kamu tidak cinta aku.
- Aku cinta kamu, Mas. - Tidak!
Dinda!
Kamu cinta sama ide kita bersama, bukan sama aku.
Orang yang mencintai aku tidak mungkin berani menyakiti istri aku.
Menyakiti anak aku.
Menyakiti keluarga aku.
Kalau kamu benar-benar cinta aku,
seharusnya kamu biarkan aku menjalani hidup aku.
Ya, sudah. Oke.
Aku bantu kamu balik sekarang.
Suster!
Ayo, kita keluar. Keluar dulu, ya.
Pasang defibrilator, 200 joule.
Mas Rayhan!
Dinda!
Bagaimana?
Saya sudah berusaha semaksimal mungkin.
Namun, suami Ibu…
Han? Han!
Aku tahu kamu dengar suara aku.
Aku tahu kamu sudah janji sama Dinda,
Tapi hidup kamu di sini, Han.
Kamu ingat janji kamu
untuk jadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti.
Balik, Han.
Balik.
Balik, Han.
Kamu pasti bisa, Han.
Dinda!
Dengar suaraku, Han.
Balik, Han.
Han.
Dinda!
Dinda.
Din, sadar, Din!
Din, ini aku Rayhan!
Aku tahu ada kamu di situ.
Dinda, lawan, Din!
Dinda, kamu pasti bisa!
Dinda!
Dinda, sadar!
Dinda!
Dinda, sadar, Din!
Dinda!
Dinda.
Dinda!
Dinda, Dinda.
Din.
Din, Din.
Terima kasih, Mas.
Kamu sudah selamatkan aku lagi.
Kamu baik-baik di sini.
♪ Terus teringat ♪
Han.
Hai.
♪ Di masa itu ♪
♪ Kau pegang wajah ♪
Aku di sini. Aku di sini.
♪ Pandang mataku ♪
Jangan tinggalkan aku, Han.
♪ …kutahu ♪
♪ Masih kutunggu ♪
♪ Janji ♪
♪ Itu ♪
♪ Mana pelukmu? ♪
♪ Mana sayangmu? ♪
♪ Yang kau sumpahkan ♪
♪ Milikku ♪
♪ Hilang sudah ♪
♪ Hancur sudah ♪
♪ Kau ingkari ♪
♪ Janjimu ♪
♪ Janjimu ♪
♪ Kau dekap dirinya ♪
♪ Lekat di hatimu ♪
♪ Semestinya itu diriku ♪
♪ Mana pelukmu ♪
♪ Mana sayangmu ♪
♪ Yang kau sumpahkan ♪
♪ Milikku ♪
♪ Hilang sudah ♪
♪ Hancur sudah ♪
♪ Kau ingkari ♪
♪ Janjimu ♪
♪ Mana pelukmu ♪
♪ Mana sayangmu ♪
♪ Yang kau sumpahkan ♪
♪ Milikku ♪
♪ Janjimu ♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.