All language subtitles for Marni The Story of Wewe Gombel 2024 1080p WEB-DL en.id MSM

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian Download
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German Download
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese Download
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili Download
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Bu, itu Mbak Marni!

Kembalikan anakku!

Kalian akan merasakan apa yang saya rasakan.

Anakku!

Kembalikan anakku!

Ningsih, lho kamu kenapa sih?

- Mogok, Pak? - Iya, Bu.

Kok bisa?

Apa nggak di cek dulu sebelum jemput kami tadi?

Maaf, Bu, ya maklumlah sudah uzur…

Mobilnya!

- Pak! - Hm?

- Ini rumah kita masih jauh, ya? - Ya, lumayan, Dik.

Nanti setelah lewatin dua bukit itu, terus ketemu warungnya Mpok Atik,

belok kiri, belok kanan, ketemu pohon besar,

ada tanjakan, ada turunan, nah di situ nyampe.

Nah, jaraknya nggak terlalu jauh kok, dari rumahnya Pak Lurah.

Wah, ini sinyal juga hilang-hilang, nih!

Kak, mau pipis!

- Kenapa, kebelet? - Kak mau pipis. Aduh, Kak, mau pipis!

Oke oke, ya udah keluar ya, aduh!

Aan tunggu dulu dong! Tungguin Kakak.

Aan jangan jauh-jauh!

Terasa nggak?

Mau apa lagi? Kiss?

Oke deh!

Apa lagi? Uh favorit memang nih, mintanya digesek.

Hmm, kerasa nggak? Enak?

Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah!

Duh, Supri…

- Eh selamat siang, Pak Lurah! - Ini si Ning ngambek lagi?

Iya, Pak. Biasa, padahal sudah saya gesek-gesek.

Gesek-gesek apanya?

- Bisa di sini lho! - Halah kamu ini ada-ada saja!

Bu. Bu, itu ada Pak Lurah.

Oh iya.

- Bu Rahayu. - Oh iya, yang ditunggu.

- Iya, ini Bu Rahayu, Pak. - Ini dia.

Bu Rahayu.

Iya, Pak. Selamat siang, saya Rahayu.

Selamat datang, saya Badri…

Nah beliau ini pemilik rumah yang nanti mau disewa sama Ibu.

Ah iya, ini kedua anak saya.

Anisa dan Aan.

Iya, Pak.

Ah, Bu, katanya cuma berdua?

Waktu kita telponan itu.

Iya si kecil seharusnya diurus sama ayahnya, tapi um…

panjang ceritanya.

Ya…

Nggak apa-apa!

Ya sudah, kalau begitu saya tunjukkan rumahnya ya.

- Pakai mobil saya saja ya. - Oh boleh, oke.

Ayo monggo. Pri, bantu!

- Oh silakan, ayo, ayo! - Ning, jangan ngambek!

Nah, sudah sampai.

Ayo monggo, monggo silakan.

Yuk. Hati-hati.

Ayo!

Makasih, Pak. Mungkin bisa dibantu dengan yang ini.

Monggo, Bu.

Silakan.

- Awas, hati-hati. - Iya, Pak. Terima kasih.

Nah…

rumah ini peninggalan ibu saya.

Saya dibesarkan, ya dirumah ini.

Ya, jadi…

semuanya, ada empat kamar tidur,

ada ruang tamu, dapur,

kamar mandi dan ruang makan.

Begitu lho.

Ibarat orang kota bilang,

rumah ini seperti…

Apa ya istilahnya? Original katanya.

Vintage, asli!

Kelihatannya nyaman sekali ya, Pak, rumahnya!

Saya yakin kami pasti betah tinggal di sini.

Kalau Pak Badri kenapa nggak tinggal di sini lagi?

Ehm…

Istri saya itu kan sudah tua ya,

jadi untuk membersihkan rumah sebesar ini,

ya dia sering ngeluh, capek katanya.

Nah…

Nyuwunsewu, maaf kalau saya bertanya,

kira-kira apa yang membuat Bu Rahayu

memutuskan untuk tinggal di desa kami ini?

Iya, um… suami saya…

Maaf, mantan suami saya pernah tinggal di sini dulu.

Pendatang selama beberapa tahun.

Ya kami memang sempat punya rencana mau tinggal di sini.

- Dulu. - Ya, ya…

Kamarnyai itu ada…

Kalau tamannya mau ditanamin apa,

monggo silakan saja.

Ga usah… Ga usah pikir-pikir, tanam saja.

Hijau itu 'kan lebih bagus.

Tapi nyuwunsewu kalau kamar mandinya itu diluar,

maklumlah di kampung!

- Kena! - Kak, buka! Kakak buka!

- Gak mau, Kakak kunciin nih! - Kak buka! Kakak, buka!

- Kak, buka! - Kamu mau nakutin Kakak, 'kan?

Anisa, Pak lurah mau pamit. Yuk!

- Iya, Bu. - Kak, buka!

Monggo.

Siapa, Bu?

Tagihan kartu kredit lagi, ya?

Ya, nggak tau…

Gue nggak nyangka aja sih, tempatnya bakal seterpencil ini.

Emangnya nyokap lo gak cerita tentang tempat itu sebelum kalian pindah?

Nggak, waktu itu yang cerita 'kan bokap gue, katanya

tempat ini nyaman buat dia.

Kalau nyokap gue sih, nggak sih.

Tapi gimana, 'kan gue harus nurut apa kata nyokap gue.

Emangnya lo mau sampai kapan tinggal di sana?

Nis?

Halo?

- Halo, Nisa! - Hah apa?

Emangnya lo, nyokap, sama Aan sampai kapan tinggal di sana?

Ooh… Ya, nggak tahu!

Kayaknya sih sampai nyokap gue bisa bayar ini deh, cicilan utang!

Jadi tuh pindah kesini, gara-gara ada investor gitu.

Investor yang mau invest di koleksi batik nyokap gue yang baru.

Bagus dong, nanti pas liburan semester gue main kesana ya!

Tapi kalau sekarang lagi nggak bisa, endorsan lagi banyak banget!

Gue harus bikin konten banyak banget! Pusing, deh!

Susah deh, punya temen influencer kayak lo!

Ya gimana, ya?

Pop?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamualaikum…

Astagfirullahaladzim.

Kena, kunciin ya!

Wus…

Iya, Bu, semua desain batiknya sudah saya e-mail tadi magrib.

Oh, Ibu belum terima? Mohon maaf, Bu.

Tadi pas magrib memang sinyal sempat hilang-hilang di sini.

Saya kirimkan segera, ya. Iya, terima kasih.

Aan, kok nggak makan?

Besok kita ke warung, ya?

Kakak masakin makanan kesukaan Aan. Gimana?

Nggak mau juga?

Kakak suapin, gimana?

Aan kenapa?

Kasih.

Kasih…

Aan mau makan di situ?

- Kasih… - Oh, mesin jahitnya lapar, ya?

Kta bagi aja, gimana? Mi gorengnya.

Buat mesin jahitnya.

Aan. Aan kenapa?

Aan!

Udah paling benar diurus sama papa kamu!

Eh, Bu, udah biar Anisa aja yang ngurus.

- Itu, To! - Apaan?

- Apa? - Cewek, Jun, wih…

Siapa ini?

Beneran…

Mau ke mana, Cantik?

Mampir sebentar, temenin kita ngopi lah, yuk!

Jun, anak kota nih, beda rasanya sama orang desa!

Hi… Woy pakai baju tuh yang benar!

Diperkosa tau rasa, dasar pecun!

Pegangin dulu ya, tunggu di sini jangan ke mana-mana, ya.

Widih, nyamperin!

Heh, Goblok!

Ngomong apa lo semua barusan?

Eh lo yang lagi duduk, sini lo kalau berani!

Apa lo?

Gue bilang…

Pakai baju yang bener!

Habis itu lo ngomong apa?

Diperkosa?

- Pecun? - Eh 'njing, dengerin ya!

Suka-suka gue mau pake baju bagaimana!

Otak lo aja yang nggak bener, goblok lo semua!

Tolol! Apa lo?

Emang ya, anak kota mulutnya kayak sampah!

Anjing!

Kamu ini pendatang, jangan belagu, asu!

- Jangan kasar sama perempuan. - Tam!

Masih pagi lho ini.

Kok bikin ribut terus ya, kalian kerjaannya?

Ampun, ampun…

Nggak, kita cuma mau kenalan, sorry!

Udah, udah…

Lepasin…

Bubar!

Takut?

Kamu nggak apa-apa?

Nggak apa-apa.

Eh, makasih ya, sudah bantuin.

Em, aku Anisa.

Oh, maaf, Anisa.

Ini adikku, Aan. Aan!

Kita yang baru pindah, kita tinggal di rumahnya Pak Lurah.

Iya, aku sudah tahu kok. Bapak sudah cerita.

- Pak Lurah itu bapak saya. - Oh begitu.

Tadi kamu siapa namanya?

Oh, saya Tama.

Oh, Kak Tama.

Kalau begitu kita duluan ya, mau belanja soalnya.

- Mau saya antar? - Nggak usah.

Soalnya sekalian mau jalan-jalan biar ngerti daerah sini.

- Hati-hati, ya. - Iya, terima kasih ya, Kak Tama.

Sama-sama.

Sange 'kan gue, ngeliatin pahanya!

Astagfirullahaladzim.

- Permisi, Bu. - Iya, Mbak.

Ini apa, mau cari apa, sayur?

Ada bawang merah, bawang putih, cabe, tomat.

Ah, ada ikan nggak?

Ada, baru datang, masih segar!

Mbaknya baru pindah ke sini, ya?

- Kok, saya baru lihat? - Iya, saya baru pindah dari Jakarta.

Oh pantesan…

- Sama kita… - Lho, Ibu dari Jakarta juga?

Ya nggak, Mbak,

maksud saya itu mbaknya sama saya.

Cantiknya tuh sama!

- Oh iya, sama Bu, iya. - Iya, 'kan?

- Biru banget. - Biru.

- Boleh ya Bu, ikannya. - Oh iya, aku ambilin dulu, ya.

Makasih, Bu.

Mbaknya. Kok malah melamun, ini lho ikannya.

- Oh iya terima kasih, Bu. - Iya.

- Berapa? - Delapan ribu.

Sebentar, ya.

Ngomong-ngomong gimana sekolah lo, kok masih santai-santai aja sih?

Jadi ternyata sekolahan di sini itu

nggak terima murid baru di tengah-tengah semester.

Jadi gue baru bisa masuk sekolah tuh nanti di awal semester.

Enak dong ya kalau begitu, masih bisa santai-santai.

Nyantai gimana sih, 'kan gue harus ngurusin Aan.

Oh iya, semenjak bokap-nyokap lo divorce jadi lo ya, yang jaga Aan?

Nyokap gue sih maunya Aan diurusin sama bokap gue,

cuma lo tau sendiri kan, Aan mana mau sih, pisah sama gue?

Lho, Aan mana Nis?

Pop, sebentar ya gue telpon balik!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan berdiri!

Pakai dulu sendalnya, kamu jangan ngomong sama orang gak dikenal kayak gitu, dong!

Ini apa lagi?

Apa sih?

Yuk, udah!

Yuk.

Dadah…

Aan, jangan nyapa orang nggak dikenal!

Mas, Dek… Ayo pulang yuk, udah magrib!

- Ayo! - Ya.

Mas!

Mas, Dek!

Heh, ayo pulang sudah mau magrib, ini lho!

Ayo dek, heh adek, adek!

Ayo pulang! Kamu tuh kok nggak dengerin Ibu sih, ayo!

Pulang, ayo pulang, Nak!

Assalamualaikum.

Assalamualaikum.

Assalamualaikum!

Assalamualaikum.

Aan kenapa?

Kak!

Aan…

Ngapain diluar? Masuk, yuk!

Ayo.

Bu…

Bu!

- Bu, makan dulu. - Hm, iya.

Aan! Aan makan yuk, ini sudah Kakak masakin makanan kesukaan kamu.

Ada ikan goreng.

Kenapa lagi?

Ikan gorengnya mau Kakak kasih ke mesin jahit, iya?

Aan…

Kenapa sih?

Makan yuk.

Yuk!

Udah, hati-hati.

Udah, makan dulu.

Nih, ada telor.

Lalu kancil bertemu dengan kelinci di tengah jalan

dan akhirnya mereka pun berdua berlari ke arah hutan,

karena mereka akan berlomba lari.

Lalu kancil menyaksikan seorang perempuan yang diarak oleh para penduduk desa,

menuju ke sebuah pohon besar.

Di pohon itulah perempuan itu digantung,

bayinya terus menangis.

Perempuan itu berjanji akan

kembali untuk membalas dendam dan membuat

para penduduk merasa kehilangan anak.

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad.

Kama sholaita 'ala sayyidina

Ibrahim. Wa 'ala ali sayyidina Ibrahim.

Wa Barik 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aali sayyidina Muhammad.

Kamaa barakta 'ala sayyidina Ibrahim.

Ibu…

Bu.

Bu…

Bu, bangun, Bu.

Berhenti…

Bapak, berhenti!

Ibu…

Lawan, Bu. Lawan Bapak, Bu!

Bu, bangun, Bu!

Bu?

Hati-hati.

Aan!

Benar-benar ya, kamu! Kenapa sih, semua pekerjaan Ibu, kamu corat-coret?

Aan…

Aan.

Aan mau gambar, ya?

Nanti Kakak beliin buku gambar, ya.

Kalau gambar di buku aja. Ya.

Pinter. Bantuin Kakak yuk, beresin kertas-kertas ini.

Bu, sudah sarapan?

Anisa bikinin sarapan, ya?

Ibu harus ngeprint lagi ini semuanya, dokumen ini seharusnya dikirim nanti sore!

Tinta printernya habis lagi!

Lho memang file-nya nggak bisa dikirim lewat digital aja?

Ibu juga minta begitu, tapi kliennya minta di print!

Jadi bisa coret-coret langsung sendiri di desainnya!

Oh ya udah, kalau begitu, mau Anisa beliin tinta printer?

Kamu mau cari di mana, di kampung kayak begini?

Ya, aku bisa cari di kota,

siapa tahu ada!

Oh aku bisa minta tolong Kak Tama, anterin aku.

Gimana, Bu?

- Mau ngapain lo? - Terus!

"Permisi".

Tangkep!

Itu dia!

Ke sini.

Tangkep!

Payung jelek.

Ini!

Hei, ini!

Ga bisa…

Minggir, minggir! Heh balikin nggak, balikin nggak!

- Balikin nggak, balikin nggak! - Udah-udah, ayo cabut!

Apa lo?

- Bu, permisi. - Iya, Mbak?

- Tahu rumah Pak Lurah di mana? - Oh, rumah Pak Lurah sebelah sana.

- Oh lurus, ya? - Lurus aja, sebelah sana Mbak.

- Oh iya, terima kasih, Bu. Permisi. - Iya, sama-sama.

Anisa…

Anisa…

Anisa…

Berhenti… Berhenti!

Eh, ngapain sih?

Lo ngikutin gue, ya?

Lo mau ngapain? Jangan gerak, ya!

Jangan gerak!

Jangan dekat-dekat, lo mau apa? Mau ngapain?

Sini balikin.

Jangan dekat-dekat, jangan pikir gue takut!

Berhenti! Nisa, Nisa jangan. Sini…

Irma! Irma jangan sakiti Anisa ya, sekarang kamu pulang, ya!

Ya?

Iya, sini.

Biar aku yang kasih, buat Anisa, 'kan?

Sekarang kamu pulang, ya.

Anisa kamu ngapain di sini?

Aku tuh dari tadi nyasar, Kak.

Dari tadi tuh aku nyari rumah Kak Tama.

Masya Allah. Nggak kok, kamu ga nyasar.

Tuh rumahku ke situ jalannya!

- Ke mana? - Tuh, tuh ke situ!

Kebetulan aku juga mau pulang. Mau bareng?

Boleh.

Yah…

- Ayo monggo, silakan ya. - Makasih, Bu.

Maaf ya, ngerepotin.

Aduh nggak, cuma pisang goreng kok ini.

Nak Irma itu orangnya baik,

dia memang asli orang sini.

Ya cuma kasihan aja, dia agak kurang waras.

Waktu kecil dia pernah diculik sama wewe gombel.

- Wewe gombel? - Iya.

Iya, tapi orang kota kayak kamu kayaknya nggak percaya sama hal-hal kayak gitu.

Sahabat aku sebenarnya bisa lihat hal-hal yang kayak gitu,

tapi kalau akunya sendiri sih, nggak terlalu percaya.

- Maaf ya, Bu. - Oh, silakan, monggo.

Kak Tama, aku sebenarnya kesini mau minta tolong sama Kak Tama.

Tapi kalau Kak Tama nggak sibuk aja, ya.

Oh nggak, nggak sibuk. Kenapa, ada yang bisa saya bantu?

Iya, Bu, dokumennya akan saya kirim nanti sore.

Iya, Bu, segera!

Iya, makasih.

Aduh…

Pasti ke mana dulu, tuh anak.

Aan!

- Bisa? - Bisa.

- Makasih ya, Kak. - Sama-sama, Anisa.

- Hah? - Eh?

Aku mau masuk dulu, ya.

- Iya silakan, kalau gitu, iya… - Oh iya.

- Oh iya, Kak Tama duluan aja. - Iya, kalau gitu…

- Saya pamit dulu, ya. - Oh iya.

- Mari, assalamulaikum. - Waalaikumsalam.

Lho?

Aan, kok diluar?

Hmm?

Kenapa? Yuk, kita masuk yuk.

Udah jangan diluar kayak gini dong, yuk.

Yuk, yuk, kenapa?

- Dia nggak boleh masuk! - Kenapa, Bu?

Kesabaran Ibu itu ada batasnya!

Aan ngerecokin laptop Ibu, semua desain Ibu rusak!

Datanya hilang! Ibu bisa kehilangan pekerjaan Ibu!

Ya, tapi 'kan ini…

Udah, kali ini kamu nggak usah bela adik kamu!

Hari ini dia sudah banyak sekali bikin masalah! Dia harus diajarin, biar paham!

Kamu mau dihukum juga? Beli tinta printer kok lama banget?

Main-main dulu ya, kamu?

- Nggak ini lho… - Mana tinta printernya?

- Ini, aku 'kan tadi… - Alasan aja kamu!

Aan…

Eh lihat deh, Kakak bawain apa?

Tuh, buku gambar!

Nggak boleh coret-coret kertas-kertas Ibu lagi, ya!

Janji ya? Pinter!

Kamu di sini dulu, Kakak mau ambilin kamu krayon.

Nih, Kakak bawain krayon.

Ya, biar kamu nggak bosen.

Kakak pakein topi dulu, ya.

Pokoknya, kamu tunggu di sini dulu.

- Anisa! - Iya, Bu.

Nanti jam makan malam, kamu boleh masuk ya.

- Kakak masuk dulu - Anisa!

Bikin makan malam buat kita.

Iya, Bu?

Assalamualaikum.

Anisa, boleh bukain pintunya?

Itu kayaknya kurir yang mau ambil dokumen ini.

Lho memang file-nya nggak rusak?

Untungnya ke back-up otomatis sih, tapi…

Tolong suruh tunggu sebentar, ya.

Permisi, assalamualaikum.

- Anu, Dik… - Iya, Pak.

Saya mau ambil dokumen buat Ibu Ningsih. Ibu Rahayu ada?

Iya ada di dalam lagi ngeprint dokumennya. Bapak tunggu sebentar, ya.

Baik, Dik.

Aan!

Aan, Aan.

Pak, Bapak tadi lihat anak kecil nggak? Lagi gambar di sini?

Dari tadi nggak ada siapa-siapa, Dik.

- Nggak lihat sama sekali? - Nggak, Dik.

Aan, Aan!

Aan, Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Irma! Kamu lihat Aan nggak?

Irma kamu lihat, 'kan?

Irma! Kamu lihat Aan nggak?

- Iya. - Irma, Aan di mana?

Kamu lihat, 'kan? Irma!

Apa sudah dicari betul-betul, di sekitar rumah?

Pak saya sudah cari keliling desa, tapi nggak ketemu juga.

Pak, apa hilangnya Aan ada hubungannya

sama mitos wewe gombel di kampung ini?

Maksud kamu apa Nisa?

Pak, itu cuma mitos, 'kan?

Ah, begini…

Semuanya itu bermula dari sebuah peristiwa

yang terjadi 47 tahun yang lalu.

Hebat ya, Badri, berani minum jamu, biar sehat ya.

Anaknya siapa dulu dong, ya?

Jadi, berapa semuanya, Mar?

Apa sih, Mbak? Nggak usahlah.

Ini 'kan juga sekalian penghabisan.

Alhamdulillah nih, Mbak. Jamuku sudah habis sebelum sore.

- Terima kasih, ya. - Sama-sama.

Ayo Badri, ngomong apa ke Mbak Marni?

Terima kasih, Mbak Marni.

Sama-sama.

Ya sudah, Mbak.

- Saya izin pamit dulu, ya. - Silakan.

Permisi, Mbak.

- Eh Caca bagaimana? - Caca yang mana, ya?

Yang kemarin, yang kamu bawa itu lho!

- Apa maksudmu? - Kau…

- Cantik, mau ke mana? - Marni, mampir dulu, Marni.

Mbak, mau ke mana?

Ke mana, Marni?

Mau ke mana, capek ya?

Eh Marni mampir sini sebentar, saya pijetin kakimu!

Oh mau?

Oke, mau dipijetin.

Ayo siapa yang aku pijetin?

Jangan buru-buru. Jangan buru-buru, Cantik!

- Mau ke mana, Mbak? - Mau ke mana sih, buru-buru?

- Mau apa kalian? - Mau ke mana, aku antar pulang, ya?

Ah, kenapa buru-buru, Marni?

Mau ke mana?

Jangan macam-macam ya kamu, Jantra!

Awas, Jan, nanti dilaporin ibumu lho!

Mana berani dia lapor Ibu, mana berani!

Sabar, sabar!

Layani aku seperti kamu melayani bapakku.

Anjing!

Mau ke mana?

Mau ke mana?

Marni!

Kamu nggak tahu berhadapan dengan siapa, hah!

Tolong hentikan, Jantra.

Lepas!

- Tolong! - Hei!

Marni…

Bahkan nyawamu tidak akan bisa

untuk melunasi hutang-hutang keluargamu ke bapakku.

Camkan itu!

Marni gila… Marni gila…

Dun…

Hah, Midun?

Midun!

Midun…

Midun.

Midun!

Midun.

Marni!

Mar…

Marni.

Mar.

Biar kami yang rawat anakmu.

Ayo…

Marni, kasihan anakmu. Kamu nggak bisa mengurusnya dengan baik.

Kasihan.

Cukup…

Cukup keluarga kalian yang menghancurkan aku.

Hancurkan hidup aku.

Jangan ambil anakku.

Apa maksud kamu, Mar?

Apa? Ngomong…

Ada apa?

Nggak mungkin!

Kamu bohong, Mar… Nggak mungkin!

Saya nggak bohong, Bu.

Fitnah kamu, Marni!

Nggak mungkin anak suamiku ngelakuin

bejat kayak gitu, Mar!

Tega kamu, Mar!

Itu Marni.

- Itu pasti dia orangnya. - Ya. Ada apa, sih?

Itu dia orangnya! Dia pembunuhnya!

Pembunuh!

Pembunuh!

- Tangkap! - Rasain.

Mundur, mundur!

Mundur!

Mundur, mundur!

Mundur!

Anakku!

Minggir. Biarin aja.

Bu Rahayu!

Anakku!

Anakku…

Anakku!

Pura-pura jadi tukang jamu, padahal tidur dengan para suami di desa ini!

Dasar pelacur!

Hukum dia!

Ibu saya merasa bertanggung jawab,

atas apa yang dilakukan oleh keluarga kami

dan dengan tulus dia

merawat bayi itu.

Namun, bayi itu lemah.

Seminggu setelah itu,

nyawanya tidak tertolong lagi.

Jadi, yang orang-orang bilang wewe gombel itu adalah Marni?

Iya, Marni.

Setelah kematian Marni,

di desa kami terdengar kabar berita

kalau anak-anak hilang satu per satu secara misterius.

Marni datang untuk merampas anak-anak

yang ditelantarkan oleh orang tuanya,

yang dicampakkan orang tuanya.

Tapi, anak-anak itu bisa kembali, 'kan, Pak?

Tidak semuanya.

Kalau toh ada yang dikembalikan,

dapat dipastikan anak-anak itu

kena gangguan jiwa.

Seperti Irma?

Irma beruntung kalau dia masih bisa selamat sampai sekarang ini.

Dan dia adalah anak kecil yang terakhir

yang diculik oleh wewe gombel.

Dan sejak saat itu

di desa kami tidak terdengar lagi ada penculikan anak-anak secara misterius.

Tapi…

jika masih ada anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya

atau dicampakkan, tidak disayangi, tidak dicintai, maka…

Wewe gombel selalu siap hadir

untuk merampas anak itu.

Tahu nggak? Semua itu nggak akan kejadian kalau Ibu nggak menghukum Aan!

Coba kalau Ibu nggak menghukum Aan. Aan nggak bakal hilang!

Gara-gara Ibu nelantarin Aan juga!

Kenapa? Gara-gara Aan nggak normal, iya?

Anisa!

Yang Ibu pikirin cuma kerja, kerja, kerja!

Ya Ibu kerja buat siapa?

Hah?

Kamu pikir Bapak kamu yang paling kamu sayang itu bantu Ibu cari duit?

Siapa yang bayarin sekolah kamu?

Siapa yang kerja mati-matian untuk bayar utang Bapak kamu?

Bu, maaf, Anisa…

Kok rasanya tidak tepat kalau kalian saling salah-menyalahkan

dalam kondisi seperti sekarang ini.

Saya masih punya cara untuk mendapatkan Aan.

Sementara kita menunggu polisi untuk menyiapkan pencarian itu.

Gimana caranya, Pak?

Begini…

Saya akan menghubungi warga desa kita ini

minta tolong mencari Aan secara bersama-sama

dengan menabuh bunyi-bunyian.

Dengan tampah, dengan panci, pokoknya bunyi-bunyian yang memekakkan telinga.

Aan… Aan… Aan!

Aan!

- Pak, Pak. Bantu, Pak! - Dua?

- Aan! - Keluar, Aan!

Tolelo lelo leloledung…

Aan…

Aan!

Aan…

Sus… Sus!

Oh… Sayang.

- Akhirnya kamu bangun juga. - Bu…

Aan di mana?

Warga sudah mengelilingi desa tujuh kali, sesuai ritual yang dianjurkan.

Masih belum ada tanda-tanda keberadaan Aan.

Sekarang sudah ditangan polisi, mereka sudah melakukan pencarian.

Aku minta maaf ya, Bu.

Lho kok kamu yang minta maaf?

Ibu yang minta maaf, Ibu terlalu keras sama kamu dan Aan.

Yang penting sekarang kamu sudah bangun, Nak.

Kamu nggak sadarkan diri tiga hari.

Ibu sangat takut bakal kehilangan kamu juga.

- Aku yang minta maaf. - Nggak, Ibu yang minta maaf.

Ibu yang minta maaf.

Yuk…

Sebentar, ya.

Ini foto yang kemarin nemu di kamar Ibu.

Ini Bu Sumiati.

Nah, ini yang Pak Lurah cerita.

Marni!

Marni gue tahu lo ambil Aan! Marni!

Marni gue nggak takut ya sama lo, keluar lo sekarang! Marni!

Mau apa lo ke sini?

Buat apa?

Lo tau 'kan, di sini udah nggak ada anak kecil lagi!

Kalau perlu, gue yang panggil mereka semua ke sini, ngerti!

Ini, ini…

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah.

Lho Anisa?

Mau sholat?

Semenjak hilangnya Aan kayak ada yang memudar aja dalam diri aku, Kak.

Astagfirullahaladzim.

Anisa kamu masih sholat, 'kan?

Kak, Aan pasti balik lagi, 'kan?

Insya Allah Nisa, terus berdoa dan serahin semuanya sama Allah, ya!

Allah ngasih cobaan ke kita biar kita umat-Nya

semakin kuat dan terus berserah sama Dia.

Tapi ada cara lain, 'kan? Buat nemuin Aan, Kak?

Ada 'kan, Kak?

Kak, kalau memang pohon besar itu tempat tinggalnya wewe,

kenapa nggak kita singkirin aja pohonnya, Kak?

Kak?

Nis.

Eh makhluk jelek!

Keluar lo dari situ!

Marni, gue bilang keluar!

Marni!

Gue tau lo ada di situ!

Marni, gue nggak takut sama lo, jadi lo keluar sekarang balikin Aan!

Keluar lo kalau berani!

Balikin Aan!

Marni, aku mohon kembalikan Aan.

Aku janji…

kalau kamu kembalikan Aan aku bakal lakukan

apa pun yang kamu mau!

Kumohon banget.

Marni…

kalau kamu dengar, kumohon…

Aku janji.

- Aku bakal lakukan apa pun… - Anisa!

Anisa, kamu ngapain di sini?

Anisa, ayo pulang!

Astagfirullahaladzim.

Anisa… Anisa, bangun, Anisa!

Anisa!

Kuatkanlah saya, ya Allah,

saya kurang sabar sama Aan,

saya kurang perhatian sama anak-anak saya.

Maafin saya, ya Allah!

Kembalikan Aan, kembalikan Aan ke saya, maafin saya ya Allah.

Kembalikan Aan…

Bu…

Ibu.

- Ibu… - Aan, Aan!

Aan!

Aan…

Sadaqallahul Azim.

Aan nggak kenapa-kenapa, 'kan?

Insya Allah, Bu, sekarang biarkan Aan istirahat saja dulu ya, Bu.

Ya. Ya sudah.

Kalau begitu, Bu Rahayu. Saya, dan Tama mohon pamit dulu.

Kalau ada apa-apa hubungi saya lagi ya.

Ya sudah.

Terima kasih banyak ya, Pak. Terima kasih banyak.

- Mari, Bu. - Terima kasih banyak.

Aan…

Kamu mau makan?

Mau makan, Sayang?

Aan.

Aan.

Kenapa Tam? Hmm?

Kenapa?

Nggak apa-apa, Pak.

- Cuma Tama masih merasa ada yang janggal. - Janggal?

Apa yang sudah kamu lakukan itu sudah betul kok!

Aan sudah dikembalikan,

keluarganya sudah bahagia lagi.

Dan wewe gombel itu sudah kamu usir, Bapak bangga lho sama kamu!

Pak.

Dulu Bapak pernah cerita sama Tama waktu Tama masih kecil,

Bapak rencana mau menebang pohon tua itu.

Terus gimana, Pak?

Waktu itu…

Bapak minta tolong ke beberapa ustad

supaya bisa mendoakan agar proses penebangan pohon itu lancar,

tapi kok gagal, gitu lho!

Pakai alat ini-itu gagal lagi,

coba lagi, digergaji lagi, gagal, gagal terus!

Dan bahkan pekerjanya itu ada yang celaka!

Bahkan sampai meninggal!

Sejak saat itulah

tidak ada lagi yang berani mengusik pohon besar itu.

Tidak ada lagi, takut semua!

Anisa!

- Anisa! - Iya, Bu?

Boleh bantu Ibu pasang ini?

- Lho kenapa, Bu? Kan… - Ya nggak apa-apalah.

Buat jaga-jaga aja, nggak ada salahnya, 'kan?

Coba kamu pasang di pintu depan sama jendela, ya.

Hati-hati ada bagian yang tajam.

- Apa, Nisa? - Bu…

Pesan temulawak, jahe, beras kencur.

- Oh iya, kunyit asem? - Ada, semuanya masih lengkap.

Semuanya aja, Bu!

Wah, kamu tuh hebat lho!

Baru beberapa bulan di sini, Jawa-nya sudah medok.

Sebentar saya ambilin.

Lagian kamu itu lho, buat apa sih mpon-mpon banyak banget begini?

Buat bikin jamu.

Wah hebat!

Orang kota, tapi masih mau minum jamu?

- Ini. - Buat Aan, Bu.

Benar itu.

- Berapa? - Sepuluh ribu.

Terima kasih, ya.

Sudah mau magrib.

Le, Nduk…

Ayo pulang, sudah mau magrib ini lho!

Kamu nanti dibawa sama wewe gombel!

Mas, Adik…

Anisa?

Anisa!

Makanannya kok nggak disentuh?

Ibu suapin, ya?

Ini ada tempe, biasanya kamu suka tempe, 'kan?

Makan ya, Sayang. Makan yuk.

Ayo makan dong, buat Ibu.

Makan ya. Ayo makan buat Ibu.

Bu, biar Anisa saja yang suapin.

Ibu aja Anisa, nggak apa-apa.

Sudah lama nggak nyuapin Aan, iya 'kan?

- Sudah nggak apa-apa, Bu. Anisa aja. - Nggak apa-apa Nisa.

Bu sudah, biar Anisa aja yang suapin!

Sudah, sini, Sayang.

Lihat Ibu. Lihat Ibu, yuk.

Tenang, ya.

Tenang… Ibu ada di sini.

Pintar… Bagus…

Tenang ya. Tenang, Ibu ada di sini.

Aan mau disuapin sama Ibu atau sama Kakak aja?

Lho kok belum tidur?

Anisa!

Kenapa dikunci Anisa? Buka Anisa!

Buka!

Bu.

Kenapa sih, kok berisik banget?

Bu…

Eh, nggak kenapa-kenapa.

Ya udah, kalau gitu aku tidur lagi, ya.

Tolelo lelo leloledung

Anakku…

Sudah ganteng, sudah mandi

Nanti Ibu ajak jalan-jalan, ya?

Nanti Ibu belikan mainan.

Mau?

Anisa?

Eh, Ibu!

Sudah sarapan belum? Aku bikinin sarapan, ya?

Tumben lagian Ibu bangunnya siang banget?

Oh iya, Ibu memang bangun kesiangan hari ini.

Tapi nggak apa-apa, Ibu aja yang ke warung, ya.

Kamu nggak usah bikin sarapan. Mulai hari ini Ibu aja yang masak buat kalian.

Ya?

Tumben kamu mau ngurus anak-anakmu!

Kamu bilang apa?

Aku bilang aku mau ke warung, mau ajak Aan.

Sekalian jalan-jalan, jadi biar Ibu di rumah aja, ya?

Yuk kita ke warung yuk, jalan-jalan!

Anisa tunggu.

Anisa kalau kamu masih marah sama Ibu,

Ibu minta maaf, ya!

Ibu sama sekali nggak ada niat untuk nelantarin kamu sama Aan.

Ibu tuh cuma ingin…

ingin memastikan bahwa kebutuhan kalian itu terpenuhi.

Makanya Ibu kerja keras banget.

Waktu masih sama Papa kamu pun,

Ibu rela banting tulang buat keluarga ini.

Ya kalau suatu hari kamu sudah berkeluarga,

sudah menjadi seorang ibu,

kamu akan paham sayang.

Yakin?

Itu aja?

Maksud kamu?

Kamu itu

kerja keras atas kemauanmu sendiri.

Kamu nggak mau jadi perempuan yang didominasi

oleh laki-laki. Ya 'kan?

Karena kamu nggak mau seperti ibumu,

kamu melihat ibumu diinjak-injak,

dipukuli,

dijatuhkan harga dirinya

oleh ayahmu sendiri.

Iya, 'kan?

Maka itu kamu tidak pernah membawa anak-anakmu

bertemu dengan kakek-neneknya.

Karena kamu tidak mau melihat laki-laki itu.

Bagaimanapun juga,

kedua anakmu ini butuh kamu, Rahayu!

Aan, ke warung yuk!

Aduh…

Kamu ini ada apa sih, Ningsih?

Giliran aku selalu nganter orang kota, kamu selalu mogok!

Kenapa sih? Jangan bikin malu dong!

Ningsih! Marah ini Mas, marah!

Mas marah ini, Mas marah!

Kenapa, Pak? Kita sudah sampai, ya?

Nggak, belum-belum. Nggak, Mba. Anu…

Eh ini, maklumlah ini,

udah tua, mobilnya!

Terus kita gimana dong, Pak?

Terima kasih.

Hah?

Pop!

Nisa!

Kok datang nggak bilang-bilang sih?

Iyalah, 'kan biar surprise!

Masuk yuk gue mau cerita-cerita, gue punya banyak banget cerita.

Ini ada sedikit cemilan kampung buat kalian.

- Heh ambil-ambil. - Wih…

- Makasih ya, Tante. Suka banget! - Sama-sama.

Ee, Tante masak dulu ya, buat nanti malam.

- Oke, Tante. - Makasih, Bu.

Eh gimana rumah gue, ada hantunya nggak?

Ada! Ada satu di depan mesin jahit,

terus juga ada satu di depan kamar lo.

Di dalemnya malah, pas di bolongan itu.

Terus juga ada satu di dapur.

Nah, yang di dapur itu kerjaanya ngeliatin lo pas lagi masak!

Hah, ngapain? Laper?

Tapi ya, Nis,

di antara beberapa makhluk itu, menurut gue ada satu yang paling bahaya.

Dan lo harus hati-hati!

Karena kayaknya ada hubungannya sama hilangnya Aan.

- Wewe? - Anisa!

- Bantu Ibu di dapur. - Oh iya, Bu.

- Eh sebentar, ya. Temenin Aan, ya? - Iya.

Sebentar.

Aan sayang, nih sini Kakak ajarin,

cara mainnya, nih.

Nah tuh, kayak gitu!

Halo, aku robot.

Tos! Lihat 'kan, tuh ada gambarnya 'kan?

Nah jadi ini tinggal dipencet,

terus tinggal dibelokin sedikit, nah tangan kanannya nanti gerak.

Aan suka gak? Suka ya.

Nah ini kita majuin aja.

Yah kayak gini.

Berartinya dianya udah aktif. Di sebelah sini…

Aan, main sama Kak Anisa aja, yuk!

Nah Pop, pokoknya selama lo di sini, lo tidur di kamar gue aja.

Eh nggak apa-apa, kenapa harus begitu? Kita tidur bareng aja.

Nggak, 'kan maksudnya biar lo istirahat.

Lagian gue kangen juga tidur berdua sama Aan.

Pokoknya sekarang, lo istirahat udah gitu bersih-bersih

gue mau bantuin nyokap dulu, ya.

Oke.

- See you. - See you, thank you ya Nis.

Duh, nggak usah ganggu deh!

Capek, gue baru sampai!

Makasih, Kek.

Nis, kapan terakhir kali lo jalan-jalan kayak gini?

Terakhir ya pas gue video call sama lo itu.

Gila, udah lama banget dong?

Tapi kalau gue boleh jujur, gue ngerasa ada yang beda sama lo, Nis!

Gendutan ya?

- Apa kurusan? - Ih serius, bukan itu!

Kadang tuh gue ngelihat lo kayak bukan lo!

Nyokap gue juga ngomong hal yang sama sih, Pop.

Gue nggak tahu ya, semenjak kejadian Aan tuh,

hidup gue kayak hampa banget.

Ya kadang gue ngerasa, gue nggak ada di badan gue.

Kadang gue ngerasa, ngilang, nggak bisa ngendaliin badan gue sendiri.

Lo ingat nggak? Sejak kapan lo ngerasa kayak gitu?

Ya semenjak Aan ketemu.

Aan mau pulang!

- Ibu! - Iya, sebentar ya.

Aan mau ketemu sama Ibu!

- Aan… Iya, iya. - Ibu…

- Aan, Aan… - Aan mau ketemu Ibu!

Aan 'kan ada Kakak, tenang ya.

'Kan ada Kakak.

Aan mau ketemu sama Ibu, pokoknya ama Ibu!

Aan mau ketemu sama Ibu!

Aan!

- Pop gue duluan, ya. - Iya, Nis.

Tunggu!

Simpan.

Bahaya, bahaya!

Simpan.

Tolong!

Tadi Aan habis dari air terjun,

sama Kak Anisa,

Aan cari-cari Ibu,

tapi nggak ada.

Ibu. Ibu kenapa nggak ikut Aan ke air terjun?

Aan kangen banget.

Ibu janji ya, jangan jauh-jauh lagi dari Aan.

- Apaan sih? - Nis!

Aan.

Aan ngomong sama siapa?

Kita makan malam, yuk.

Nis, Nisa!

Nis, Nis!

Oh iya, Tante, nggak apa-apa ya kalau misalnya aku agak lama di sini?

- Soalnya aku kangen banget sama kalian! - Nggak apa-apa banget justru!

- Tante senang kamu datang. - Yay!

Nis kamu ingat nggak, pas kita pertama kali kenal?

- Pas SMP! - Iya, waktu SMP.

- Sudah lama, ya? - Bukannya kalian kenal sejak SD, ya?

Oh iya, waktu SD.

Iya ya, kita kenal pas SD.

Pas itu Tante buatin aku kue ulang tahun yang enak banget!

Sampai aku sama Nisa rebutan kue, iya 'kan?

- Rebutan kue! - Iya benar.

Kue ulang tahun, Tante, enak banget!

Aan mau minum? Kakak buatin susu, ya?

Susunya nanti habis makan aja.

Kakak buatin susu, ya.

Aan makan, enak 'kan?

- Sebentar ya. - Iya, Tante.

Aan tunggu di sini dulu, ya.

Rencananya begitu, Bu Rahayu.

Kami ingin mengundang Ibu dan Anisa

untuk bisa ikut berpartisipasi

dalam acara gotong-royong

untuk membersihkan di sekitar pohon tua itu lho, ya.

Rencananya di sekitar itu kita akan membangun pesantren.

Terima kasih banyak, saya akan usahakan datang.

Aku sudah tahu semuanya.

Kamu nggak perlu pura-pura.

Tinggalin tubuh Anisa!

Kamu ngomong apa sih, Pop?

Aku bilang tinggalin tubuh Anisa!

Kamu itu…

bukan tandinganku!

Jadi ini, biang keroknya?

Anisa?

Tama! Sudah, sudah!

Bahaya… bahaya…

Astagfirullahaladzim.

Bismillahirramanirrahim.

Allahu Akbar!

Untuk sementara,

biarkan Anisa dalam keadaan terikat seperti ini ya, Bu.

Saya takut makhluk itu datang dan merasuki Anisa lagi.

Oh iya, Poppy. Kamu dapat keris itu dari mana, Poppy?

Keris ini sudah turun temurun diwariskan oleh keluargaku.

Kata Ayah, dulu leluhur kami adalah

pembuat keris yang sangat dihormati di jamannya.

Sekarang keris ini diwariskan untuk aku, Kak.

Bu, saya izin rukiyah Anisa dulu, ya.

Saya rasa makhluk itu sudah berdiam lama dalam tubuh Anisa.

Maafin Ibu ya, Sayang. Maafin, Ibu.

Tidak!

Itu apa yang orang-orang lakukan?

Kamu itu nggak pantas jadi seorang ibu!

Sama saja seperti bapakmu itu!

Keras kepala!

Semaunya sendiri!

Cukup!

Badri, Badri anak baik.

Kamu kenapa dulu nggak bantu Mbak Marni, Badri?

Badri takut, ya? Iya? Badri takut?

Jangan takut Badri,

karena urusanku dengan keluargamu belum selesai!

Termasuk kamu, Tama!

Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana kamu melihat anak ini dengan penuh nafsu!

Kamu mau 'kan, anak ini?

Kamu pikir di balik baju putih yang suci,

kamu bisa menutupi pikiranmu yang kotor itu!

Iya?

Bisa menutupi dosa-dosa keluargamu?

Pop! Poppy kerisnya, Poppy!

Kamu pikir kamu hebat, Poppy?

Kamu pikir kamu beda dari yang lainnya gara-gara kamu bisa lihat kita?

Kamu itu hanya butiran debu! Ngerti kamu?

Bahkan sahabat kamu sendiri tidak percaya sama kamu!

Nggak mungkin, nggak mungkin!

Poppy, Poppy!

- Poppy… - Pop!

Poppy, ini aku Anisa.

- Pop, sakit banget, Pop, - Pop, jangan percaya, Poppy!

Tolong bantuin aku, Pop.

Poppy, jangan percaya Poppy. Dia bohong, Poppy. Pop!

Pop tolongin aku.

- Tolongin aku Pop, lepasin. - Poppy tempel, Poppy!

Poppy! Astagfirullahaladzim.

Awas, Tama!

Aan, ayo!

- Ikut aku! - Ayo!

- Ibu, mau ikut! - Ya, Sayang?

Ibu! Aan mau sama Ibu!

- Iya, Sayang. - Ibu!

Ibu! Aan mau sama Ibu!

- Ibu… - Iya, Nak.

- Ibu! Aan mau sama Ibu… - Iya Ibu ada di sini, Nak. Ada di sini.

Nggak, Aan mau sama Ibu. Kamu bukan Ibu!

Nggak, Nak. Ibu ada di sini.

Aan mau sama Ibu!

Ibu…

Jangan bawa anak saya.

Kembalikan anak saya!

Marni.

Aku, kamu adalah seorang ibu

yang mencintai anak-anaknya.

Aku tahu penderitaan yang kamu alami,

tapi kamu juga harus tahu perjuanganku mengurus anak-anakku.

Dunia tidak peduli dengan apa yang kita alami Marni.

Mereka hanya bisa menghukum kita.

Jangan pisahkan aku dari anak-anakku.

Jangan ambil Aan.

Aku mengaku aku bersalah.

Jangan ambil Aan.

Aku mengaku aku bersalah.

Aku telah menelantarkan dia.

Aku memang tidak ingin seperti ibuku yang tak berdaya.

Aku nggak mau kelihatan lemah di depan anakku.

Tolong jangan pisahkan kami, Marni!

Apa kamu sadar, Rahayu?

Pengorbanan ibumu,

adalah agar dia bisa terus bersamamu.

Ibumu pertahankan keluarganya,

supaya tetap utuh dan tidak dipisahkan dari kamu.

Bukan menyesal sampai mencampakan kamu Rahayu.

Ibumu melakukan itu semua,

bukan berarti dia lemah,

namun itu adalah bentuk kasih sayang ibu.

Tapi anak-anakku…

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Aan!

Bu…

Anisa janji, pokoknya Anisa akan temuin Aan.

Nisa yakin kok, Aan masih ada di luar sana.

Nis, yuk.

- Eh, Pak. - Ya?

Ini kuburan siapa, ya?

- Yang ada payungnya? - Iya.

Oh itu makam keramat, Mbak.

Banyak yang sering datang melayat.

Mbak pernah dengar cerita tentang wewe gombel di desa ini?

Tahu, Pak.

Nah itu makam anaknya.

Oh iya, Nis.

Waktu gue ketemu sama Irma, gue nggak sengaja nyentuh dia.

Dan gue melihat masa lalunya Irma.

Gue melihat waktu Irma kecil

dia diculik dan dibawa sama wewe gombel

ke tempat di mana wewe gombel nyembunyiin anak-anak yang diculik.

Di pohon tua?

Penglihatan gue masih, nggak tahu, belum jelas.

Tapi yang pasti kita bisa minta tolong Irma, buat cari tahu di mana tempatnya.

Pop, menurut gue, Irma dan makam keramat ini

bakal jadi langkah awal kita untuk nemuin Aan sih!

Pop, lo harus bantuin gue, ya.

Pasti Nis, gue janji, gue pasti bantuin lo.

Iya, kamu nggak usah kuatir, ya Nis.

Pokoknya kalau kamu perlu bantuan apa-apa, bilang ya. Nggak usah sungkan.

Iya.

Masih banyak hal yang perlu aku tahu

tentang hubungan keluargaku dengan Marni juga soalnya.

Hei!

Ayo pulang!

- Tunggu! - Iya, ayo! Cepetan!

Ayo dong.

- Aldo ayo kita pulang! - Sudah magrib!

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.