Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Fuji Television Network/ TOHO/ - - - / Altamira Pictures
Fuji Television Network Altamira Pictures
YAGUCHI SHINOBU
Berkasnya sudah siap.
Ya..ya, yang ini juga, merepotkanmu. Mendesak!
Tidak apa.
Kirimannya, terima kasih ya Yah.
Hanya membagikannya ketetangga dan masih tersisa.
Apa kau sibuk belakangan ini?
Kalau ada waktu bisakah kau pulang.
Baiklah.., makamnya ibu, tolong bantu aku membersihkanya.
Wou....mengerikan, apa ini dikirim dari Kagoshima?
Hush!
Yui, baru saja selesai mandi.
Ini Kakek.
Nggak, aku nggak ingin bicara.
Kasar sekali.
Maaf ya.
Ya..., begitu.
Sudah ya.
Dasar.
Kalau aku sih nggak mau makan itu.
Sudah kuduga, aku nggak berani.
Bantu aku memotong ikannya?
Aku..? Aku nggak bisa.
Besok saja kalau gitu.
Lagian, nggak ada orang dirumah yang mau memakannya, berikan saja pada yang lain.
Kenapa bicara seperti itu?
Kakek hanya tertarik dalam memancing dan menanam sayuran.
Rumit juga ya.., meskipun tanpa pestisida itu bagus.
Hei, berikan aku nasi.
Kenapa tidak mengambilnya sendiri.
Ah. Kelupaan.
Ada apa? Ada sesuatukah?
Aku tidak tahu, seperti ada serangga aneh.
Emm.., itu sebabnya aku tidak suka sayuran organik.
Sudah cukup.
Jangan taruh disini!
Itu dia, itu dia.
Aku nggak mau, hentikan.
Ooi.., kau pulang juga?
Sudah makan?
Dasar nggak berguna.
Pulang kerumah untuk makan, tapi malah beli "junk food".
Kau ini bodoh apa?
Ngebosanin.
(Ekonomi Internasioanl)
Mustahil, benaran?
(Nakamura Saitomi)
Ya..! Ini Suzuki.
Maaf ya.., sekarang apa tidak apa-apa?
Ya.
Tapi suaramu kok kecil.
Ah.., tidak apa-apa.
Apa kau punya catatan tugas ekonomi internasional hari ini?
Ya, aku sedang memilah-milah foto.
Syukurlah, bisakah kau kirimkan itu.
Baiklah, mau dikirimkan kemana?
Baik, ke PC saja.
Ah..sudah sampai, terima kasih.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa besok ya.
Yuh..,apa barusan.
Apa yang kau lakukan?
Jangan merekam ini.
Apa kau bodoh.
Cantik sekali.
Ngeselin.
(Tdak cukup daya)
Nggak boleh ke lewat.
Hei, apa kau tidak memperhatikan?
HP-nya anak-anak, bayarannya terlalu besar.
Kamu juga bantu aku mengatakannya.
Hemm..., hemm....
Apa kau mendengarkan?
Aku sangat capek, katakan lagi besok. Aku tidur duluan.
Keluarga Yang Bertahan Hidup
Diterjemahkan oleh : DAVID HARAHAP BTH-09/02/2018
(Hari ke 1)
Oi.., jam berapa sekarang?
Kalau itu, aku tidak tau.
Kenapa?
Mati listrik.
Nggak ada listrik? Kenapa?
Sudah kubilang, aku tidak tahu.
Ah..benaran saja
Lampunya tidak menyala, TV juga mati.
Benar-benar buruk.
Ada apa pagi-pagi sudah pada ribut.
Mati listrik tahu, mati listrik.
Apa itu?
Sudah penuh.
Minggir.
Apa...
Mana...
Tolong lihat kan.
Apa..?
Apa yang terjadi, bahkan benda itu nggak berfungsi.
Sudahlah.
Apa tidak ada sarapan?
Tidak bisa memasak pakai ricecoker, pakai kompor gas aku tidak tahu.
Kau tidak ingin makan, makanan yang dingin kan.
Baiklah, aku akan pergi dan membeli itu waktu lewat.
Benar juga.
Yang benar saja, semua terjadi bersamaan.
Ingat untuk mengganti baterainya.
Panggilan darurat, ini waktunya menghubungi 117.
Apa? Panggilan darurat, apa itu?
Apa yang terjadi?
Bahkan koranpun tidak datang.
Ah.., panas.
Lihat, apinya menyala.
Menyerah saja, lift-nya tidak jalan.
Hanya bisa menggunakan tangga.
Apa seluruh gedung ini listriknya mati?
Apa tidak dilakukan pengecekan?
Dasar orang tua, hentikan itu.
Sepuluh lantai?
Oi..jangan sampai terlambat.
Listrik mati, layanan perjalanan ditangguhkan.
Mohon maaf.
Semuanya layanan ditunda.
Semua kereta tidak jalan.
Saat ini terlarang untuk memasuki peron.
- Waktu untuk perbaikan belum diberitahu - Kapan ini akan dibuka?
Waktunya belum diketahui, mohon kesabarannya.
Saya minta kepastiannya.
Nanti diberitaukan, untuk sekarang belum aktif.
Kabar terbaru akan diumumkan sewaktu-waktu.
Dimohon kesabarannya.
- Bisakah kami segera memasuki peron? - Mohon, tunggulah sejenak.
- Apakah ada bus yang jalan? - Tampaknya sama saja dengan bus.
Penyebabnya sedang dalam penyelidikan, mohon kesabarannya.
Eh..?
Kenapa lagi ini?
Ah.., syukurlah.
Syukurlah.
Ketemu taxi juga.
Bisakah?
Nggak bisa. Sepertinya baterainya mengalami kerusakan.
Mesinnya tidak dapat hidup.
Mohon dibantu, saya akan bayar lebih.
Tampaknya ada masalah dengan pengapiannya.
Apa itu air keran? Itu bukan air baterai loh!
Tidak jauh bedalah.
Yosh.., coba hidupkan.
Ah.., sepertinya tidak berguna.
Disaat seperti ini, punya sepeda rasanya bagus juga.
Apa yang terjadi?
Selamat pagi.
Terjadi dijaman modern seperti ini. Benar-benar keterlaluan.
Aku dengar bukan hanya disini saja yang terjadi pemadaman listrik.
Benarkah?
Apa disana juga mati?
Seluruh kawasan ini padam listrik.
Apa tidak ada rumah yang menyala?
Aku lihat semua gelap.
- Oh iya, harus beli lilin. - Aku juga.
Pastinya akan kembali nyala malam ini kan.
Untuk berjaga-jaga, aku juga harus pergi beli.
Apa lebih baik beli aja ya..?
Ah.., dompetku.
Hehh..?
Tidak terbuka.
Pintunya belum terbuka?
Belum...
Kau telat sekali, bukanya kau tinggal dekat stasiun.
Disebelah dari stasiun sebelahnya.
Sekarang jam berapa ?
Permisi.
Pintunya sudah tua,
depan dan belakang hanya bisa dibuka manual dari dalam.
Jadi, tampaknya kita harus pecahkan pintunya.
Perusahaan pengelolah juga tidak memberi tanggapan.
Sedangkan bagi kita ini adalah uang, benarkan?
Baiklah, cuma ini caranya.
Kalau begitu siapa yang dapat memberikanku kartu nama?
Yoshh.., baiklah.
Satu.., dua...!
Pintunya sudah pecah.
Berhati-hatilah saat masuk.
Elevatornya, sudah pasti mati.
Nyalakan lampunya.
Kalau komputernya?
Punyaku tidak bisa, kalau kau?
- Nggak bisa dinyalain. - Servernya nggak hidup.
Harus bagaimana ini?
Bagaimana dengan lantai yang lain?
Oi.., kalau begini mana bisa bekerja.
Pagi.
Pagi.
Maaf ya, dirumahku listriknya mati.
Dirumahmu juga.
Rumah kalian juga?
Nggak nyaman banget, kalau mati listrik.
Kenapa kau berkeringat deras seperti itu?
Keretanya pada nggak jalan.
Aku mengendarai sepeda ibuku.
Pembalap.
Berat banget hidup tanpa listrik.
Kau berkeringat banyak sekali?
Perhatian, disebabkan oleh keadaan, Mochizuki sensei tidak dapat hadir kesekolah.
Untuk jam pelajaran pertama, belajar sendiri.
Mantap.
Semuanya tolong untuk tenang.
Tolong tuliskan dipapan tulis.
Baik.
Ando sensei tidak hadir.
Pagi.
Kereta pada tidak jalan.
Tidak ada listrik disini.
Apa kau tahu dimana saja terjadi pemadaman listrik?
Mana kutahu, palingan juga daerah sekitar sini saja.
Bukankah kampungmu di Kanagawa? Coba hubungi, tanya mereka!
Sudah kubilang telepon juga tidak berfungsi.
- Dasar kau ini bodoh. - Nggak berguna.
Kalau kau? Suzuki, dimana kau tinggal?
- Oi.. - Sakit..
Bego nggak ketolong.
Permisi, Nakamura-san?
Saotomi? Nggak kelihatan hari ini.
Kenapa nih orang?
Nggak tahulah?
Oi..ada apa?
- Permisi. - Ya.
Bentonya ( makan siang)?
Maaf, roti dan bento belum tersedia.
- Bagaimana dengan Onigiri? - Maaf sekali.
- Beli air? - Ya.
Alamak.
230 Yen.
198 Yen.
128 Yen.
350 Yen.
Hei.., bagaimana?
Sudah terlambat buat nyuci pakaian.
Benarkan.
Hari ini aku nyerah, keluargaku makan ini.
Bahkan tidak bisa memasak nasi.
Keluargaku makan ini hari ini.
- Kasihan banget diriku. - Mau apa lagi.
Permisi.
Anda tidak dapat menggunakan kartu kredit, sebab listrik mati.
Keluarlah dengan pembayaran uang tunai.
Katakan lebih awal, aku sudah menunggu lama.
Maaf.
Bagaimana ini.
Panasnya.
Eh.., itu juga tidak berkerja?
Dasar anak muda, nggak berguna.
Ya.., tapi entah dimana kereta berhenti kita tidak tahu.
Tidak enak pergi melalui jalan raya.
Bukankah rumahnya Buchou (ketua) dekat sini, iya-kan?
Sudah kukatakan disebelah dari stasiun sebelahnya.
Yang di print tidaklah cukup.
Semua informasi ada didalam komputer.
Jangan katakan bakalan telat mengirim laporan tahunannya.
Ya nggak bakalan-lah, pasti akan segera kembali menyala.
Bikin pusing saja.
Departemen lain juga sedang kacau.
Colokan listrik tidak berfungsi, baterai tidak ada listriknya.
Kereta tidak jalan, apa ini tidak terasa aneh?
Semua yang berkaitan dengan listrik, pada mati.
Kelihatannya ini bukan pemadaman listrik biasa.
Singkatnya, tidak ada peralatan listrik yang bisa hidup.
Hari ini, kita sampai disini.
Apa?
Ini adalah perintah dari atas.
Cukup untuk hari ini, pulanglah sebelum gelap.
Apaan ini.
Terima kasih banyak.
Kalau itu berapa harganya?
Kalau ini ada bagiannya yang rusak, jadi tidak dijual.
Kalau begitu yang ini saja, langsung dibawa.
Menakutkan.
Anda baik-baik saja?
Disaat seperti ini, jangan bawa pekerjaan pulang kerumah.
Mau gimana lagi diwaktu seperti ini.
Lilinnya, berhati-hati ya!
Ah.., ke toilet?
Toilet, airnya tidak jalan, gunakan air yang ada di bak pemandian.
Oi.., jawablah balik.
Sungguh tidak mengerti dengan-nya
Matikan lilinnya!
Kenapa toiletnya rusak? Bukan peralatan listrik juga?
Aku juga nggak ngerti.
Aku bawa lilinnya.
Kau sudah kenyang?
Besok pasti semua akan kembali normal.
Sayang, kesinilah.
Yosh.
Panas.
Nyebelin banget.
Kalian berdua, kesini dan lihatlah.
Malam ini bintangnya indah sekali.
Apa.., bintang?
Kok bisa?
Tidak ada cahaya makanya terlihat.
Itu apa?
Itu sebuah galaksi.
Galaksi itu benaran ada?
Dasar kau ini bodoh.
Terkadang, ini juga bagus.
(Hari ke 3)
Tidak ada habisnya.
Dengarkan sebentar.
Sebelum listriknya kembali hidup, diharapkan untuk tetap berada dirumah.
Pulanglah dengan hati-hati dan lalu..
Menunggu sampai perbaikan, akan telat juga dengan perjanjiannya.
Dikarenakan pintu perusahaan rusak,
silahkan bawa pulang perlengkapan kalian.
Oi..
- Kau ini, apa tidak khawatir dengan keluargamu. - Apa?
Sangatlah berbahaya untuk tetap tinggal di Tokyo.
Bagaimana bisa begitu. Semua akan baik-baik saja kok.
Kemana kau akan pergi?
Pertama, aku akan kegunung yang ada airnya.
Aku tahu tempat berkemah yang bagus.
Kau mau apa?
Oi..!
(Selamat datang di Prefektur Saitama)
Mungkin nggak begitu.
Ini berat.
Bawa dengan benar.
Kalau gitu, kita berangkat.
Kita pergi kemana?
Kepusat kota mengumpulkan informasi.
Kota yang lain tidak tahu bagaimana situasinya..
Ke super market dulu, beli beberapa makanan.
Benar sekali, mudah-mudah bisa beli beberapa.
Selamat siang.
Ah.., selamat siang.
Aku sudah menunggu selama dua jam, kakiku serasa membeku.
Apa anda dirumah bisa menggunakan gas?
Dirumahku menggunakan kompor masak listrik.
Apa, bahkan gas-pun tidak bisa digunakan?
Gas-pun bekerja menggunakan listrik.
Buruk banget, suamiku sudah menggunakannya untuk waktu yang lama.
Hasilnya, tidak ada api.
Anu.., maaf.
Memang, ada air dibawah tangki penampungan.
Ya sudah, keluarkan airnya.
Tetapi semua mesin pompa sama sekali berhenti bekerja.
Mesin pompa air tidak dapat digunakan.
Membuat semua menunggu begitu lama, kenapa baru mengatakannya.
Ya, biarkan kami kedalam untuk mengambil airnya.
Kalian harus mengambilkan airnya!
Untuk air minum,
persis disebelah sana, ada taman yang tersedia air yang dapat diambil buat minum.
Kami khusus berjalan kesini untuk mengambil air minum.
Itu benar.
Dimohon mengantri.
ATM dan kartu debit tidak dapat digunakan.
Dibutuhkan tanda bukti identitas, segel dan buku tabungan.
Setiap orang dibatasi hanya dapat mengambil sebanyak 100.000 Yen.
Hanya 100.000 Yen.
Tolong, jangan saling dorong.
Jangan dorong.
Jangan mendesak.
Jangan mendorong, jangan mendorong dari belakang.
Jangan mendorong.
Jangan ikut-ikutan.
Ah.., tunggu.
Tolong untuk kembali.
Jangan saling dorong.
Tolong jangan saling dorong.
(Hari ke 7)
(Sebelum ada pemberitahuan, silahkan untuk belajar dirumah)
Aku mendengar bahwa di Saitama ada cadangan makanan.
Aku sudah kesana, dan hanya sedikit tersisa.
Kalian tahu, aku hanya dapat sebotol air kecil.
Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi.
Ini adalah kutukan dari langit. Kutukan.
Aku tidak dapat melihat, adanya cukup makanan dan air untuk setiap rumah.
Intinya persedian lambat laun menipis.
Itu hanya cukup untuk kurang dari sebulan.
Buruan, kita pergi dari sini selagi bisa.
Kita harus punya tujuan.
Yang tidak punya kampung halaman, harus pergi kemana?
Lihat, ada yang pergi.
Pergi sana, jangan kembali lagi!
Ketika semua penghuni apartement pergi,
ini adalah waktu untuk bajingan beraksi.
Ini adalah apartement kita, kita akan melindungi apartement kita, benarkan?
Pokoknya...
Tidak boleh, tidak boleh, jangan keluar.
Maaf ya.
Nyonya Kato, yang di lantai atas, apa kau tahu?
Nenek yang tinggal sendiri itu?
Sebelumnya aku bertemu dengannya ditangga, memang kenapa?
Hanya saja dia tidak kelihatan.
Aku sama sekali tidak melihatnya akhir-akhir ini.
Benarkah?
Apa, ke Kagoshima?
Bukankah disana tempat tinggalnya Kakek?
Bukannya lebih baik menuggu sampai listriknya kembali menyala.
Itu sebabnya, kukatakan kau tidak berguna.
Bukankah ini sudah berlangsung lebih dari minggu.
Jika tidak kembali hidup, pastinya kau tidak akan dapat bertahan.
Tidakkah kau pernah memikirkannya?
Memang benar sih, tapi kenapa harus ke Kagoshima?
Yang tersisa dari kampungku hanya kuburan leluhur.
Cuaca di Kagoshima lebih hangat dari pada disini.
Air dan makanan juga melimpah disana.
Tapi bagaimana caranya pergi?
Naik pesawat dari bandara Haneda.
Harus terbang juga.
Aku tidak mau pergi kepedesaan.
Kenapa?
Ketika kau masih kecil, setiap tahun kau kembali kesana.
Kita juga sering pergi ke pantai yang ada didekat rumah.
Sama sekali aku tidak ingat.
Oh iya, benar juga. Bagaimana caranya pergi ke Haneda?
Mengendarai sepeda.
Kita akan melewati jalan raya.
Nggak mungkin? Benaran?
Yakin saja, dan ikuti aku dengan benar.
Kenapa harus ke Kagoshima.
Aku nggak ingin pergi, kesalnya.
Bawa 2.
Apa ini sudah cukup untuk beli tiket semuanya?
Beli saja tiket pesawat yang murah?
Kalau itu...
Ini adalah uang yang kusimpan untuk keadaan darurat.
Kau juga, pakailah ini.
Bagaimana dengan ini?
Kau masih mau membawa benda semacam ini, ha?
Kasihan.
Kau juga.
Kenapa kau berpakaian seperti itu?
Disaat seperti ini tidak perlu memakai alis mata palsu.
Yosh, jangan sampai tertinggal.
Lama sudah tidak berpergian mengendarai sepeda.
Jadi teringat sewaktu masih bersepeda kanak-kanak?
Bersepeda kanak-kanak. Sudah berapa lama itu?
Itu adalah sebuah kegiatan.
Kau ini, sepanjang liburan hanya tidur-tiduran, tentu saja kau tidak dapat ikutan jadinya.
Terima kasih.
Silahkan.
Silahkan.
(Air mineral per botol 1000 Yen)
Satu botol 1000 Yen.
Apa anda ingin?
Silahkan.
Tidak mau beli dari kalian, dasar berhati jahat.
Silahkan, silahkan.
( Air per botol 2000 Yen)
(Tidak tersisa banyak, air per botol 2500 Yen )
( Sisa terakhir, air per botol 2500 Yen)
Kalau tahu begini seharusnya kita beli yang pertama tadi.
Mungkin didepan sana harganya lebih murah.
Mungkin lebih mahal lagi.
Ya, selamat datang.
Tidak.., tidak.
Kau beli tidak?
Baru saja ditoko sebelumnya hanya 500 Yen per botol.
Saat ini, inilah harganya.
Anda ini, bagaimana bisa menjualnya jika seperti ini.
Saya akan beli satu kotak, dan saya akan bayar 600 Yen per botolnya, oke?
Kenapa harus nasi kacang merah?
Eh.., sesuai keadaan.
Bukankah serasa kita akan pergi gitu?
Jangan buang-buang makanan.
Anak itu dimana?
Membuatku pusing saja.
Aku sedang mencari toilet.
Kalian tetap awasi ya.
Kalian jangan berpaling.
Selanjutnya, aku juga.
(Pastikan untuk memungut kotorannya)
Permisi, permisi.
Bagaimana ini terjadi.
Mundur!
Dimohon untuk mundur!
Semua pesawat tidak dapat terbang.
Dan berbahaya untuk melanjutkannya
Dimohon untuk kembali.
- Jelaskan dengan jelas. - Tolong, kembalilah.
Ini sangat berbahaya.
Mundur.
Kapan pesawatnya bisa terbang?
Tokyo dan sekitarnya juga mengalami pemadaman listrik.
Waktu untuk perbaikan juga belum ditentukan.
- Kau dapat berkata seperti itu. - Dasar polisi tidak berguna.
Orang ini benar-benar tidak berguna.
Petugas hanya peduli dirinya sendiri.
Siapa yang melempar tadi, oi...?
Biarkan aku keluar.
Jangan dorong!
( DEAR HOTEL)
Sini, sini, yang ini buka.
Tolong bayar dimuka, 30.000 Yen per orang.
Baik.
Tidak ada air didalam kamar.
Baik.
(Kari India)
Tapi syukurlah.
Besok kita bisa pulang kan?
Apa?
Hei.., apaan?
Bohong. Kita tetap pergi.
Ke Kagoshima, dengan mengendarai sepeda?
Ya benar, tidak ada pilhan lain.
Hei..., kenapa begitu.
Kau juga lihatkan, situasi yang ada dibandara.
Tetap tinggal ditempat yang tidak ada air dan makanan pastinya lebih berbahya.
Nggak mau, nggak mau, nggak mau...
- Aku nggak mau mati. - Kita tidak punya pilihan.
Di jaman dahulu, jarak seperti ini tidaklah seberapa.
Dijamanku dan Kakekmu juga, berjalan dari Tokyo ke Osaka.
Aku nggak pernah dengar itu. Lagian aku bukan orang jaman dulu.
Entah bagaimana aku punya firasat bakal jadi begini.
Apaan itu, harusnya katakan lebih awal.
Pergi ke Haneda dan Kawasaki jadi sia-sia.
Kalau itu..., aku tidak tahu hingga aku melihatnya.
Kita juga butuh sebuah sepeda lagi.
- Dan juga sebuah peta, makanan... - Ah.., aku ingat.
Didekat sini, ada toko buku, berwarna kuning disana pasti ada peta.
(Peta)
Nggak mengejutkan.
(Buku Peta IPS, Sekolah Dasar)
Kelihatannya enak.
Apa yang kau lakukan?
Entalah ini, kupikir kita harus berusaha beberapa bulan untuk sampai ke Kagoshima.
Sejauh itu?
Hanya dengar dari beberapa orang bilang,
sepertinya tidak terjadi pemadaman listrik di Osaka.
Benarkah? Siapa yang bilang?
Orang-orang yang lewat.
Benarkan, aku bilang pergi ke barat.
Tapi bagaimana caranya, jarak ke Osaka jauh dari sini?
Kita tidak tahu kebenarannya.
Tapi...
Lihat itu.
(Toko beras: Burung Gunung)
Ikan Kakap.
Bagianmu.
Rolex, ini sangat bagus.
Yang seperti itu berguna untuk apa?
Baiklah.., kalau ini.
Apa itu?
Maserati.
Dasar aneh.
Jangan bawa benda nggak berguna untuk ditukar.
Aku hanya mau air dan makanan.
Kemewahan tidak cukup untuk membuat perut kenyang.
Permisi.
Apa yang kau bawa?
Bukan.
Dapatkah kau memberikan sepeda yang ada disamping kepadaku?
Itu sudah lama tidak dipergunakan.
Uang tidak berguna.
Itu punyaku.
Dan juga untuk sekantong beras.
Oi.
Sebelah sana, Yosh.
Coba lihat kesebelah sana.
Peta macam apa ini?
Tidak tahu harus kearah mana.
Bagaimana kalau kita lewat atas?
- Kesebelah sini. - Sudah tahu.
Sebelah sini.
Yosh.
Yaahooo!
Tidak akan bisa dibuka.
(Museum ditutup)
Tidak bisa masuk
Harus tidur diluar.
Permisi, kalian mau pergi kemana?
Kalau kami mau pergi melihat ke Osaka.
Aku dengar tidak ada pemadaman listrik disana.
- Lihatkan. - Apa, apanya yang lihat?
Apa itu benar?
Hanya rumor, tapi kupikir itu benar.
Maaf, bolehkah kami minta sebotol air?
- Kami bisa bayar. - Ambil uangnya.
Ah.., maaf, hanya dengan pertukaran makanan saja.
Kami tidak punya makanan.
Kami hanya punya sebotol air.
Begitu rupanya.
Coba kesana.
Tanya pada yang lain.
Dinginya.
Apa yang kau lakukan. Cepat tangkap dia!
Sakit.
(Bantuan melewati lorongl)
(Per-orang 1 litter atau 1 botol air) Aku dapat mengantarkan orang melewati lorong.
(Bayar dulu, baru di hantar) Lorong ini panjangnya 2 kilometer.
Butuh bantuan untuk melewatinya.
Apaan itu?
Kenapa begitu, tinggal lurus saja.
Mereka pasti akan kembali.
Gelap, gelap, gelap.
Gawat, apaan ini.
Ayah, apa tidak apa-apa?
Enggak bisa.
Aduh, sakit. Ada mobil disini.
Ayah, bagaimana ini?
Kalau itu.
- Kau kenapa? - Aku menginjak sesuatu yang lembek.
Disitu ada bangkai kucing, jangan salah melangkah.
Sakit, sakit.
Sampai, sampai, sampai.
Kalian sudah besusah payah.
Terima kasih ya.
(Hari ke 16)
Gawat, tinggal segini.
Tidak usah pala takut
Tanpa korek api juga bisa.
Caranya?
Orang-orang primitif dulu bisa bikin api, kita juga pasti bisa.
Sudah kubilang, caranya?
Kalau perlu, kau akan kuajari.
Berikan aku air.
Yang ditanganmu adalah botol yang terakhir.
- Apaan itu , kenapa tidak ngomong? - Sudah tadi.
Sudah ya? Aku tidak dengar.
Apa kau mau kita mencari air?
Bagaimana menemukannya di tempat seperti ini?
Apa yang kau lakukan, itu tidak bisa diminum?
Ayah, jangan minum itu.
Lihat, airnya bersih.
Kalian ini, lemah sekali.
Segar.
Segar.
Biarkan saja barang-barangmu.
Aku tidak tahan.
Mau pergi kemana?
Diare?
Sudah dibilang jangan minum airnya.
Sial banget.
Nggak mungkin.
Ini hanya satu-satunya.
Dasar sial.
Alamak.
Kenapa?
Aduh.
Rasanya akan ada makanan.
Asyik.
(Ban dalam)
(Korek api dan mancis)
Ketemu.
Hei..hei..hei.
Menurutmu ini bisa dimakan?
Apa?
Ikan tuna dan makanan kucing kaleng
pada dasarnya dibuat oleh pabrik yang sama.
Benarkah? Kupikir ini rasanya akan seperti sup.
Ah, tidak ada air dan korek api.
(Air AKI)
Kau jangan minum itu.
Tidak apa-apa, bisa diminum.
Tidak apa, ini air yang disterilisasi.
Benaran, rasanya juga enak.
Apa yang kau lakukan? Berbaring dan istirahatlah!
Coba lihat ini, kami dapat banyak.
Hanya bisa menemukan ini.
Kenapa, menggunakan ini kan bisa.
Lepaskan penutupnya...
Sakit, kenapa memukulku.
Mochiโฆ
Hah.., mentah?
Itu karena ayahmu.
Yang ini saja.
Apa ini?
Yakin?
(Hari ke 22)
Susah dimakan.
Kalian ini, seharusnya dengar apa yang ibu kalian katakan.
Atau kalian akan menderita.
Oh.., halo.
Cabut kartunya.
Baik, silahkan.
Aku melihatnya.
Ah.., itu ide yang benar-benar bagus.
Bagaimana cara kalian mendapatkan air dan makanan?
Kami?
Ya.
Digunung ada bebatuan yang mengeluarkan air.
Adanya lumut menandakan airnya tidak beracun.
Jadi kami masukan kedalam botol dan menyimpannya.
Jika kau khawatir, kau dapat memasaknya untuk mensterilkannya.
Untuk makanan, lebih baik terlebih dahulu dikeringakan atau diasapi.
Agar lebih tahan lama untuk disimpan.
Dan juga banyak dedaunan di sepanjang jalan yang dapat dimakan, tunggu sebentar.
Seperti tanaman ini atau tanaman liar lain.
Daun yang muda tidak mengapa dimakan.
Tidak peduli bagaimana rasanya,
itu kaya akan vitamin setelah dimasak.
Kalau aku merekomendasikan, jangkrik.
Jangkrik?
Jangan bereaksi berlebihan seperti itu.
Bukan hanya dedaunan saja yang dapat dijadikan makanan.
Serangga juga, kaya nutrisi.
- Ulat juga makanan yang sangat populer di Afirka - Ayah.
Jadi Ryosuke, itukah yang menjadi usulanmu?
Lihat kesini.
Eh, kamera bisa digunakan?
Ini bukan kamera digital, filmnya tidak menggunakan listrik.
Jadi bisakah kau mengirimkannya nanti?
Boleh, tapi belum tahu nanti kapan.
- Baik. - Ini ada catatan.
Kutuliskan alamatnya buatmu.
Hal yang perlu bagi manusia untuk
bertahan hidup, pertama adalah menjaga suhu tubuh.
Kedua, memastikan adanya air, ketiga adalah semangat didalam diri mereka.
Makanan setelah ini semua.
Semangat, semangat.
Semangat, semangat.
Enak juga kan.
Ayahmu, lumayan cepat didepan ya.
Ya, nggak usah pedulikan
Kencang sekali.
- Sangat bagus ya. - Benar.
Pemandangan di sebelah sana jelas sangat berbeda.
Ah, sejuknya.
Oh, tentara.
Benar.
Papa.
Maaf sebentar, apa yang terjadi?
Mereka datang dari pembangkit yang ada di Fukui.
Apa yang terjadi disana?
Aku dengar tidak ada alasan untuk mengalami kerusakan.
Sekarang mereka ke Shizuoka untuk mengechek keadaannya.
Aku dengar di Osaka tidak terjadi pemadaman listrik, benarkah?
Kami tidak tahu.
Sekalipun tidak ada pemadaman listrik di Osaka.
Kita seharusnya tidak perlu pergi khusus kesana.
Karena sudah terjadi demikian, kita harusnya menikmati keadaan.
Itu benar.
(Osaka) - (Nagoya)
Berhati-hatilah.
Ya.
(Hari ke 43)
(Kami pergi ke rumah paman di Okayama)
Sudah cukup.
Ayah bertanggung jawab.
Kau mengatakannya sepanjang perjalanan ke Osaka
Kapan aku pernah mengatakanya?
Bagaimana sekarang? Makanan dan air sudah habis.
Nggak bisa mandi atau ganti pakaian.
Kepalaku gatal semua.
Jangan menyalahkan ku.
Lihat, lari dari tanggung jawab.
Kau bilang apa yang kau katakan adalah benar.
Kau mengatakannya? Pembohong besar.
Bagaimana sikapmu berbicara dengan ayahmu.
Kalau begitu kau seharusnya bersikap selayaknya seorang ayah.
Hanya menyalahkan orang, tapi hasilnya nol.
- Kau bilang apa? - Sudah hentikan semuanya.
Dari awal kalian sudah tahu bagaimana dia.
Memang begitulah sikap ayah kalian.
Kita masukkan.
Baunya enak.
(Aquarium Tepi Laut)
Hati-hati, jangan tertumpah.
Kelihatan enak ya.
Benar.
Hati-hati, jangan tumpah.
Baik, silahkan.
Oh, maaf, makanannya sudah habis.
Bisakah kau berikan sedikit saja.
Aku akan membayarnya.
Sudah tidak ada lagi.
Aduh, sakit.
Setidaknya berikan sedikit makanan untuk anak-anak.
Saya mohon.
Itu sakit, tau.
Saya mohon.
(Hari ke 67)
Ayah, ini.
Tangkap, cepat.
Jangan lari.
Ayah.
Yui.
Jangan lari.
Abang.
Cepat tanggkap.
Ayah.
Ayah, kau baik-baik saja?
Ya.
Berhasil juga.
Baguslah.
Baguslah, syukurlah.
Makan daging juga.
Kau saja.
Bahkan motong ikan saja aku nggak bisa.
Dimana aku harus potong?
Ayo, potong!
Apa yang kalian lakukan?
Ibu, ibu, kita akan dibawa kemana?
Apa?
- Maaf, apa air itu bisa diminum? - Tentu saja bisa.
Pagar listrik yang ada dikandang babi mati. Semua babi melarikan diri.
Maaf sekali, menyusahkan..
Tidak usah membicarakan kondisinya.
Kalian bantu aku cari babinya.
Aku akan ijinkan kalian tinggal.
Bagaimana?
Apa kalian lapar?
Dagingnya tidak putih ya.
Ini?
Daging babi asap.
Kulkas tidak bisa digunakan, jadi harus dibuat seperti ini.
Kenapa kau menangis?
Aku tidak tau.
Walah, kenapa. Tamu rupanya.
Aku pikir putramulah yang pulang.
Terima kasih, sudah mengirimkan makanan.
Bagaimana itu? Babi-babinya belum tertangkap juga?
Orang-orang ini akan datang membantu menangkap babi-babinya.
Bagus juga, orang-orang muda adalah yang terbaik.
Aku pulang ya.
Bawalah.
Ada satu lagi.
Diasapi dengan baik.
Terima kasih.
Jadi, pertama aku minta tolong kalian untuk memotong Hanako.
Hanako, apa nama babi itu Hanako-chan?
Bercanda, bagaimana bisa babi diberi nama.
Datang bantu sini.
- Pegang sini! - Baik.
Disini.
Tahan sebelah sini.
- Jangan dilepas. - Baik.
Sangat butuh kerja keras.
Seorang diri saja melelahkan, tapi dengan banyak orang beban kerja jadi berkurang.
- Kelihatan enak bukan? - Ya.
Ketika sudah selesai aku akan berikan beberapa potong untukmu.
Ini belum dapat dimakan sekarang.
Pertama kita taruh di tempat pembakaran dan kemudian diasapi.
Akan makan waktu berapa lama?
Sekitar 1 minggu.
Seminggu?
Sangat lamban.
- Aku yang duluan mandi ya! - Baik.
Ke Okayama.
Apa piyamanya bisa dipakai?
Ya bisa.
Punya siapa?
Aku menyediakannya untuk kepulangan keluarga putraku.
Dia tinggal di Amerika.
Cucu perempuanku sangat cantik.
Jangan membuang-buang minyak.
Baik, selamat malam.
Baiklah, besok lanjut bantu aku bekerja.
Selimutan.
Dia pasti khawatir dengan cucu perempuannya.
Benar kan.
Ya.
Ketemu, ketemu.
Ayo, tangkap!
Kesini.
Jangan lari.
Diam, diam.
Jangan biarkan kabur.
Kesini!
Ini yang terakhir, kerja keras ya.
Ibu, apa jahitannya benar?
Bagus juga.
Itu bukan kayu bakar.
Kalian tidak usah merasa keberatan, melanjutkan hidup disini.
Sekalipun disini tidak ada mobil maupun mesin cuci, tidak mengapalah.
Tapi hidup sendirian, akan sangat sulit dalam bekerja.
Kalian pikirkanlah.
Selesai.
Benaranlah.
Oi, nggak boleh!
Pergi!
Kukira, Tanaka-san mengundang kita untuk tetap tinggal.
Tapi, pastinya kau khawatir dengan ayah.
Apa?
Ayo kita ke Kagoshima
Kalian setuju kan?
Bawa sebanyak ini, apa tidak apa-apa?
Kalian sudah banyak membantu.
Terima kasih banyak.
Berhati-hatilah.
Aya, perlahan.
Mitsue, kau baik-baik kan?
Mitsue, semangat.
Sebentar.
Nggak munggkin.
Aneh.
Kenapa, kok nggak ada jembatan disana?
Dengan jalan memutar kita butuh 3 hari untuk datang.
Kita tidak akan kembali?
Petanya sudah terlalu tua.
Dasar sial.
Hei.
- Ini. - Ya.
Ah, balikkan!
Kalian, apa bisa?
Kamu pikirkan saja, kami dipaksa belajar berenang dalam beberapa tahun ini?
Biarkan ibumu menyeberang duluan sampai keseberang.
Kemudian aku dan kenji akan menyeberangkan sepedanya.
Baik.
Naik!
Naik!
Aku bisa bantu.
Kau tetap disini!
Naikkan semua, atau sementara tidak bisa menyeberangi sungai
Bertahan, dorong terus!.
Ayah, menyerahlah!
Abang.
Tidak.
Ayah.
Ayah.
Ayah.
Ayah.
(Hari ke 94)
Sini!
Jangan!
Ibu.
Ibu.
Ibu.
Kau baik-baik saja?
Ayo!
Jangan takut bu, ayo!
Nggak bisa, aku nggak bisa.
Mengendarai sepeda dari Tokyo?
Pastinya sangat berat.
Ayah kalian?
Berhenti!
Itu dekat dengan terowongan.
Aku mengendarai kereta cepat.
Kereta cepat Shinkansen?
Tentu saja bukan.
Oh, kau sudah bangun?
Itu disebut kereta tercepat di Tokyo
- Waktu itu tiket pesawat masih sangat mahal - Ya, benar.
Ayah mertua tidak setuju dengan pernikahan kami.
Kami datang beberapa kali ke Kagoshima memohon restu.
Ini kudengar dari kalian untuk pertama kalinya.
Tutup jendelanya!
Nyalakan itu!
- Tutup jendelanya - Apa?
Kenapa ini? Mataku sakit.
Jendelanya.
(Hari ke 108)
Ayah.
Kakek.
(2 Tahun dan 126 hari kemudian)
Satu, dua. Satu, dua.
Sudah kembali. Syukurlah.
Hari ini tangkapannya besar.
- Barisnya jangan terlalu longgar! - Baik.
Bagus.
Selamat datang.
Sudah pulang.
Kami pulang.
Tangkap ini.
Tangkapan besar ya.
Semuanya, ayo cepat, cepat!
Ayah.
Lampunya menyala.
2 1/2 tahun yang lalu, terjadi sebuah fenomena tidak biasa, pemadaman listrik global.
Para ahli menduga gelombang radiasi matahari atau comet yang menjadi penyebabnya.
Beberapa orang mencurigai, hal ini dilakukan oleh organisasi teroris internasional,
yang secara khusus menyerang pembangkit listrik atau lainnya.
Dikatakan tidak ada yang terkecuali.
Pemadaman pada hari itu. Yang berhubungan dengan produk komputer dan baterai,
semua terkena dampak.
Jadi, ketika terjadi pemadaman, tidak tersedia cukup data untuk penelitian.
Dibutuhkan waktu untuk memferivikasi semua kemungkinan.
Itu apa?
Makan malam, miso makarel.
Mantap.
- Sungguh cantik. - Iya kan?
Kelihatan enak.
- Aku pergi. - Aku pergi.
Ya, hati-hati.
Ya, ya, ya.
Ya?
Tunggu, tunggu!
Ada apa?
Ayah kalian, lupa membawa ini.
Bagaimana kau bisa lupa?
Maaf, maaf.
Terima kasih.
Suzuki-san, surat untuk anda.
Terima kasih,
Sama-sama.
Apa itu?
Ah, foto itu.
Diterjemahkan oleh : DAVID HARAHAP BTH-09/02/2018
Fumiyo Kohinata sbg Yoshiyuki Suzuki (Ayah)
Eri Fukatsu sbg Mitsue Suzuki (Ibu)
Yuki Izumisawa sbg Kenji Suzuki (Abang)
Wakana Aoi sbg Yui Suzuki (Adik)
Saburo Tokito sbg Toshio Saito
Norika Fujiwara sbg Shizuko Saito
Takuro Ohno sbg Ryosuke Saito
Jun Shison sbg Shohei Saito
Akira Emoto sbg Shigeomi Sasaki
Shin Takuma sbg Ryozo Takahashi
Eri Watanabe sbg Tomiko Furuta
Yasuo Daichi sbg Zennichi Tanaka
Movie: Survival Family Romaji: Sabaibaru Famiri Japanese: ใตใใคใใซใใกใใชใผ
Director: Shinobu Yaguchi
Writer: Shinobu Yaguchi
Producer: Hidehiro Ogawa, Takao Tsuchimoto, Shintaro Horikawa
Cinematographer: Yoshihito Kasai
Assistant Director: Shozo Katashima
Distributor: Toho
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.