Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PERSEMBAHAN NETFLIX
Didasarkan dari kisah karangan Denis Diderot
Madame de Monthabor, Madame de Choisy, Countess Lubac,
Baroness Courcelles, pengasuhnya, pelayannya,
Marquise de Montaigu, putrinya, putrinya yang lain,
Lady Mary Wortley,
dan temannya, aku tak ingat namanya, tapi ingat wajahnya.
Aku lupa Marquise de Saint Méran dan Madame de Volnay.
Contoh kecil dari koleksimu
yang pernah aku dengar dari orang-orang.
Marquis,
kenapa kau peduli jika namaku ada dalam daftar wanita yang kau taklukkan?
Nikmati pertemananku dan jauhi hasrat ini.
Kau terlalu mudah menilaiku.
Bukankah filosofimu didasari oleh kemudahan?
Bagaimana orang menjelaskan
dan menghindari takhayul, ilusi, rasa puas diri,
tanpa kehalusan, kelincahan, dan kecerdasan?
Kenapa banyak yang tak pasti pada pria dengan alasan itu?
Demi kejujuran.
Apa kejujuran membuatmu merayu semua wanita itu?
Aku tak merayu siapa pun, aku selalu dirayu.
Kau sensitif, Marquis.
Apa kejujuran membujuk mereka dengan perasaan bergairah?
Aku tak membujuk siapa pun.
Aku hanya mengungkapkan perasaan tulus yang mereka berikan kepadaku.
Itu tak aneh, tapi, apakah perasaan muliamu
menghilang beberapa hari kemudian?
Alam berubah. Seperti itulah dunia ini.
Atau kita tak jujur.
Bagiku, alam sudah membuatku tak peduli terhadap hasutan cinta dan hati.
Itu pemandangan yang mudah ditebak dan melelahkan.
Marquis malang, aku sedih membuatmu bersedih.
Terlepas ketidakpedulianku terhadap perasaanmu,
apa kau masih mau tinggal di sini lebih lama?
Selama kau izinkan, Nyonya.
Kau akan lelah, Marquis. Lihat saja nanti.
Baik. Kita amati bersama.
Selamat pagi, Marquis.
Sudah bangun?
Selamat pagi, Nyonya.
Apa kau mencintai mendiang suamimu?
Pertanyaan aneh. Tentu saja, Marquis.
Sungguh?
Istri harus mencintai suaminya.
Orang yang menikah memiliki perasaan tulus.
Sejujurnya, aku sangat mencintainya, sampai pernikahan kami.
Setelah itu, selalu cemas dan berselisih.
Apa kau menyesal menikah?
Kau ingin tahu pendapatku?
Menurutku sayang bahwa pernikahan hanya
untuk jiwa yang siap terluka.
Seperti belajar ekonomi dan bahasa Latin,
orang juga harus mempelajari tentang kehidupan pernikahan.
Cinta bisa memberikan pelajaran berharga.
Kalau begitu aku tak ditakdirkan untuk menikah.
Kau tak rindu mencintai dan dicintai?
Sangat dicintai.
Saat kecil, ya.
Sejak kecil,
aku mengamati orang jatuh cinta,
tapi aku sadar bahwa mereka berpura-pura
untuk meyakinkan dunia dan diri mereka sendiri.
Aku percaya pertemanan.
Cinta, dipasangkan dengan manusia, membuat lemah dan mudah terluka.
Nyonya, kenapa kau peduli pada cinta jika tak pernah melihatnya?
Aku sudah menyaksikan cinta paling murni.
Bibi dan pamanku yang merawatku, hidup harmonis bersama
hingga seperti dua menjadi satu.
Sejak muda, tanpa menyadarinya,
jiwaku terdidik kesempurnaan mereka.
Mereka panutanmu,
tapi kenapa semua hubunganmu tanpa konsekuensi?
Karena...
dengan setiap hubungan, kukira kusadari,
walaupun singkat, adanya secercah harapan ideal ini.
Idealisme yang kupegang,
yang memiskinkanku hingga itu terwujud.
- Perlu kukasihani? - Tidak.
Aku punya harapan
dan itu tumbuh setiap hari di sisimu.
Aku memberimu harapan?
Kau lucu, Marquis. Kau dengar yang tak sebenarnya diucapkan.
Meski aku tak lelah mempelajarimu dan imajinasimu.
Aku lelah mengulang diriku untuk menghilangkan obsesi dari dirimu.
Aku tak keberatan.
Hatiku.
Siapa yang tahu di mana hati?
Hatimu penuh akal, sulit ditemukan.
Nyonya, sebelum pembantumu meletakkan kursinya,
lihat pemandangan terakhir ini,
tempat alam berekspresi bebas,
dibiarkan sendirian saja.
Letakkan kursi itu di sana.
Lihat.
Kau bayangkan seseorang duduk di sana sambil merenung?
Kau merasakan meditasi ini mengambil warna alam?
Kita tak lagi melihat alam, tapi kita bertemu dengan alam.
Marquis, kau benar.
Tapi kenapa kau membawa dua kursi jika satu cukup?
Karena demonstransiku belum selesai.
Letakkan di sana.
Tidakkah dua kursi ini membuat kita membayangkan dua orang,
duduk terdiam berdampingan,
jiwa mereka bersatu di hadapan alam,
bersatu dalam ikatan yang sama sakralnya dengan ketenangan alam?
Aku bertemu dengan Marquis.
Dia akan tinggal lebih lama?
Entahlah.
Dia belum pergi dari château selama empat bulan.
Makan malam dan minum sup selalu bersama.
Kadang, bisnisnya memanggilnya
ke Paris atau lainnya,
tapi dia selalu memilih tinggal,
dia tak pernah mengeluhkan kerugian dari ketidakhadirannya.
Kuyakin dia terus merayumu dengan penuh perhatian
untuk membuktikan cintanya kepadamu.
Ya.
Dia percaya diri, dia takkan pulang sebelum menaklukan mangsanya.
Kau termenung.
Mungkinkah beberapa rayuannya berhasil?
Apa temanmu ini salah?
Tolong ganti topiknya.
Aku datang dari Paris dan kau bermain rahasia?
Ingat, pertemanan kita ditandai
oleh kejujuran dan kebebasan pembicaraan kita.
Apa pria ini sudah merusak ikatan yang kita miliki sejak kecil?
Tidak, tapi aku tahu apa pendapatmu tentang Marquis.
Jika aku menceritakannya, aku takut kau marah.
Kau tahu pentingnya pendapatmu bagiku.
Apa kau sudah takluk pada sang Marquis?
Tidak. Percayalah.
Aku percaya.
Tapi dari mana kekacauan ini?
Temanku,
Marquis yang kau kenal di Paris bukan pria yang sama
dengan yang ada di sini.
Pria bisa berubah. Aku menyaksikannya dari hari ke hari.
Pria seperti dia akan lakukan apa pun demi mencapai tujuannya.
Kau tahu aku. Apa kau mengira aku sepolos itu?
Aneh sekali kau memberiku sesuatu pada hari ulang tahunku.
Ini tren di Inggris.
Aku tak membayangkan mendapatkan ini, tapi aku tersanjung.
Terima kasih.
Marquis, sudah hampir enam bulan
sejak kau mundur dari masyarakat, melupakan urusanmu.
Hari ini, kau berulang tahun,
apa kau tak mau mempertimbangkan waktu
dan kegilaan apa yang membuatmu tinggal di sini begitu lama?
Hidup yang kujalani sebelum ini yang kuanggap gila.
Wajahmu membangkitkan alasanku, kehadiranmu menguatkannya.
Marquis, aku tahu kau mahir merayu.
Kejujuran terkadang ceroboh.
Itu tidak sama
dengan merayu.
Itu lemah dan polos,
sulit dilakukan, seperti anak-anak yang murni dalam dirinya,
Kau akan rindu masyarakat.
Mereka melelahkanku.
Kesendirian juga.
Aku sudah menemukan
lingkungan paling sempurna, dibentuk oleh cinta.
Jika ada wanita yang mencintaimu.
Aku selalu berharap, Nyonya.
Apa dasar harapan ini?
Bukti darimu setiap hari.
Dariku?
Tentu, setiap hari, kehadiranmu membentengi perasaanku.
Dengan semua itu, perasaanku menjadi sekeras batu.
- Kau mengejekku. - Maaf.
Tidak, aku...
Ini mungkin bodoh, tapi aku suka melihatmu tersenyum.
Kau masih berharap aku akan mencintaimu?
Benar.
Bagaimana kau bisa tetap sabar dengan ketidaksabaran itu?
Aku melatih kesabaran agar sepadan dengan ketidaksabaran.
Aku harus mengapresiasimu karena kau menahan diri
dan tak pernah ingin menciumku.
Aku takut mengganggumu
dan kehilangan dirimu selamanya.
Alasan yang masuk akal untuk pria yang penuh semangat.
Aku terlalu masuk akal?
Aku pernah bilang kau berlebihan?
Tidak, tapi...
Tapi?
Maksudmu...
Sudah cukup.
Temanku.
Halo, Nyonya.
Halo, Marquis.
Nyonya, aku tahu kau berteman dengan keluarga Marquise.
Aku tak ingin mencegah kalian
untuk bebas berbicara,
jadi, izinkan aku untuk pergi.
Terima kasih atas perhatianmu, Marquis.
Aku menyesal kau harus pergi.
Aku tak ingin membebanimu dengan penyesalan.
Aku mau jalan-jalan.
Tapi alam akan menjadi gema dari keindahanmu.
Kecenderunganku untuk tak percaya sudah hilang.
Itu panduan yang membantuku membedakan benar dan salah.
Kini itu membawaku kembali ke tujuanku, aku bebas.
Temanku, semangat apa?
Tidak semua semangat sama.
Tanpa berlebihan, semangat kita hebat.
Perasaan kita dipenuhi dengan kelembutan dan alasan.
Ada berita apa dari Paris?
Tidak ada berita yang bisa memengaruhi kehidupan terasingmu yang tenang.
Aku yakin jika seluruh kota membicarakan dirimu dan Marquis, kau tak peduli.
Kau benar. Apa begitu?
- Kau ingin tahu? - Ya, hiburlah aku.
Kedekatan kalian diketahui, semua orang menghibur dirinya sendiri
dengan bertaruh berapa lama lagi kau akan bersama Marquis.
Cinta adalah penghinaan bagi yang tak punya.
Apa hanya itu?
Ada cerita menyedihkan.
Ceritakan.
Aku tak ingin kebahagiaanku menyembunyikan keburukan dunia.
Kau ingat Madame Joncquières?
Beberapa tahun lalu, dia tinggal tak jauh dariku.
Seorang putri dari baron dan istrinya,
tapi dilahirkan di luar pernikahan, dia tak bisa mengklaim kedudukan.
Dia dirayu oleh seorang Duke
dan berpikir menikah akan menyelamatkannya.
Tapi si Duke membohonginya dengan pernikahan palsu.
Dia melahirkan putrinya dari pernikahan itu.
Dia menuntut Duke itu,
tapi karena dia lebih lemah dari pria yang mengkhianatinya,
dia pun hancur.
Sejak itu, tak ada kabar lagi darinya.
Aku ingat.
Apa kau memberitahuku sebagai pengingat pengkhianatan pria?
Tidak, Nyonya.
Ini karena salah satu pelayanku mengenalnya.
Di mana dia sekarang?
Di tempat yang hina, pasti sulit membayangkannya.
Tempat tersembunyi,
tempat para pria berkumpul dan makan malam.
Biasanya satu atau dua tamu tinggal
dan menghabiskan waktu dengan sang Nyonya dan putrinya.
Berapa umur putrinya?
Umurnya 15 atau 16.
Sepertinya kecantikan perempuan itu halus dan jelas,
tapi sayangnya, tak ada yang menyadarinya.
Betapa kejamnya itu
saat kemalangan menimpa orang yang kita kenal.
Bagiku, aku percaya bahasanya tepat
bahwa kata "bahagia" berdekatan dengan "ketidakmampuan".
Nyonya, kau salah.
Kebahagiaan yang tak bertahan lama dinamakan kepuasan.
Kita akan segera menebang pohon-pohon itu
agar bayangannya tak membatasi pertumbuhannya.
Pohon ini hidup lebih lama dari kita
dan mungkin akan menjadi saksi terakhir atas kedekatan kita.
Kau tak mendengarkan. Kau memikirkan hal lain.
Maaf, Nyonya. Pikiranku mencegahku mendengarmu.
Pikiran apa yang mengganggumu?
Aku takut itu akan membuatmu tak senang.
Biar saja. Kita bisa saling menghibur.
Tapi...
Bisnis memanggilku ke Paris.
Tidak bisa kau kirim wakil?
Sayangnya, tidak.
Jika jumlahnya tak besar, aku akan abaikan.
Marquis, jangan khawatir.
Pergilah ke Paris. Selesaikan urusanmu.
Kau keberatan jika aku meninggalkanmu beberapa hari?
Apa artinya beberapa hari dibandingkan waktu yang sudah kita lalui?
Apa kau memerlukan izinku?
Apa kau merasa aku akan menahanmu?
Aku bisa mengeluh.
Kau benar, saat aku meninggalkanmu,
aku akan senang karena akan melihatmu lagi.
Kau belum menceritakan tentang perjalananmu.
Kau belum memberiku kesempatan.
Maaf. Aku akan mendengarkan.
Aku memikirkanmu.
Apa yang kau pikirkan?
Aku memikirkan kakimu.
Marquis...
Kapan kau tak memikirkan kakiku?
Kuingat punggungmu.
- Punggungku? - Aku suka itu.
Seriuslah. Katakan.
Aku memikirkan pusarmu.
Sudahlah. Pasti ada lebih dari itu.
Ya.
Ribuan ide membangun.
Membangun?
Marquis tak bersamamu?
Dia di Rouen.
Dengan bisnis barunya, dia menjadi sering bepergian.
Aku tahu isi pikiranmu.
Aku tak meragukan kesetiaannya. Pikirannya penuh dengan usaha.
Dia mewarisi banyak uang.
Tidak tahu apa rencananya dengan uangnya,
dia pun membangun rumah
untuk anak-cucunya kelak.
Kau tak cemas?
Tidak.
Kau mungkin merasakan aku lelah.
Kesehatanku memburuk belakangan ini.
Perjalanan dan pekerjaan Marquis tak membebanimu?
Tidak sama sekali.
Apa kau dan Marquis akan tetap bersama
sesempurna sebelumnya?
Tentu saja.
Bahkan waktu sekalipun
tak bisa mengubah besarnya perasaanmu kepadanya?
Tidak, setiap hari, perasaanku tumbuh makin kuat.
Maafkan aku telah curiga.
Temanku, itu mungkin saja
bukti aku iri kepadamu.
Iri kepadaku?
Kau ingin kudoakan agar nasibmu sama?
Sayangnya, kewaspadaanku tak mengizinkannya.
Kekerasan kepalaku tak membiarkanku menyerah dan memaksaku menceramahi orang.
Tapi apa yang bisa kuajarkan jika aku tak pernah merasakannya?
Para pria memahami ini. Tapi tak satu pun merayuku.
Aku terlalu melindungi diriku hingga tak terjadi apa-apa padaku.
Temanku...
Aku telah membuatmu percaya bahwa tak ada yang berubah
antara Marquis dan aku.
Tapi pertemenan kita terlalu tulus, aku tak bisa sembunyikan kekecewaanku.
Dua tahu lalu,
katamu Marquis meninggalkanku sehari atau dua hari,
sedikit demi sedikit, bisnisnya sering memanggilnya,
dan lambat laun, dia akan kembali tanpa berkata,
duduk di kursinya, bicara pada anjingnya,
kemudian lenyap.
Aku takut prediksimu benar.
Apa yang terjadi?
Semakin kita bergairah,
semakin berlebihan kita terhadap hal kecil.
Kau tahu arsitek Claude-Nicolas Ledoux?
Ya.
Dia seharusnya tinggal sebulan, tapi akhirnya tiga bulan.
Dia mengerjakan proyek Marquis.
Kehadirannya takkan membuat mudah untuk berdiskusi hal penting.
Awalnya, kami makan siang dengan Tn. Ledoux.
Pada siang hari,
Marquis menghabiskan waktu bicara kepadanya.
Tapi sebelum itu, kami selalu makan bersama.
Aku tak ikut dalam obrolan itu tanpa mereka menyadarinya,
mereka bersemangat terhadap proyek mereka.
Sejak pagi hingga malam, Marquis bersama arsitek itu.
Pertemanan itu sangat kuat hingga aku tak ikut di dalamnya.
Saat Tn. Ledoux pergi,
kukira Marquis takkan menjauh, tapi percuma.
Dia membaca banyak surat, buku,
dan dia memikirkan banyak hal
hingga kasih sayangku tak berpengaruh lagi.
Dia hanya bicara padaku untuk pamit.
Untuk mengurus hiasan tembok, cerobong asap, jendela, atau ubin.
Sayang, kau salah.
Kau bisa memercayai pengalamanku.
Apa yang kau gambarkan adalah takdir semua hubungan.
Tidak bisa dihindari.
Aku takut gairah itu takkan bertahan.
Yang Marquis janjikan kepadaku bukan perasaan biasa.
Aku tak tahan jika begitu.
Bertahanlah, Nyonya. Rasa takutmu belum terbukti.
Marquis tidak menikahi wanita lain.
Sebelum kau menyiksa dirimu, temukan cara untuk melihat perasaannya.
Aku yakin kau akan tenang.
Kau bermimpi?
Kau juga bermimpi, Marquise.
Itu benar dan menyedihkan.
Ada apa?
Tak apa-apa.
Aku tak percaya padamu, Nyonya.
Kemarilah.
Katakan.
Apa kau bosan saat bepergian dalam bisnismu?
Tidak, tapi ada waktu...
Saat kau bosan.
Kau salah.
Sungguh, kau sangat salah.
Itu hanya hari biasa saat seseorang bosan.
Temanku...
Aku ingin mengatakan sesuatu selama ini,
tapi aku takut itu menyusahkanmu.
Kau? Menyusahkanku?
Mungkin.
Surga menjadi saksi ketulusanku.
Itu terjadi tanpa sepengetahuanku, oleh kutukan,
yang juga terjadi pada seluruh manusia,
karena aku tak bisa menghindarinya.
Itu datang darimu?
Kau menakutiku, Nyonya. Apa itu?
Marquis, ini...
Maaf, ini akan membuatmu sedih.
Aku lebih baik diam saja.
Bicaralah.
Apa kau memiliki rahasia di hatimu?
Bukankah aturan kita untuk berterus terang satu sama lain?
Tidakkah kau sadar aku tak ceria lagi?
Aku tak berselera makan. Aku makan dan minum sedikit.
Aku tak bisa tidur.
Pada malam hari, aku bertanya, "Apa Marquis tak mencintaiku lagi? Tidak.
Apa kau mengeluh? Tidak.
Apa ada perselingkuhan? Tidak.
Apa rasa sayangnya berkurang? Tidak.
Kenapa padahal temanmu sama, perasaanmu berubah?
Itu terjadi.
Tidak bisa dihindari.
Kau tak menunggunya dengan kesabaran yang sama.
Kau tak lagi senang melihatnya.
Rasa cemas saat dia telat pulang,
rasa bahagia saat mendengar keretanya,
saat dia tiba, saat kedatangannya diberitakan...
itu tak ada lagi."
- Apa, Nyonya? - Marquis,
kau sama, tapi temanmu ini tak bisa mengelak
bahwa cinta telah hilang.
Ini temuan yang mengerikan, tapi ini kenyataan.
Nyonya, kau...
Kau wanita luar biasa dan unik,
tak seperti wanita lain.
Kejujuranmu membingungkanku.
Aku seharusnya malu.
Betapa hebatnya kau, betapa kecilnya aku.
Kau bicara pertama kali, saat aku merasa bersalah.
Kejujuranmu menginspirasiku.
Aku jahat jika tak mengaku
bahwa cerita isi hatimu juga sama denganku.
Aku memikirkannya juga.
Tapi aku diam.
Aku menderita.
Entah kapan aku berani bicara.
- Apa itu benar? - Benar sekali.
Ayo rayakan diri kita
karena memiliki perasaan rapuh yang menyatukan kita ini.
Sayang sekali jika cintaku bertahan
dan cintamu memudar.
Nyonya.
Kau tak pernah terlihat sangat cantik dan memesona seperti saat ini.
Andai aku menyadarinya sejak dahulu,
aku akan mencintaimu lebih dari apa pun.
Marquis, bagaimana takdir kita?
Nyonya, kita akan terus bertemu satu sama lain
dan menikmati kenyamanan pertemanan kita.
Kita akan berbagi semua kecemasan dan masalah.
Maaf atas pakaian dan gangguan saya.
Jika pelayan Anda tak memaksa,
saya takkan memperkenalkan diri, Marquise.
Takdir tak menyenangkan membuat saya
hidup jauh dari orang seperti Anda dan menganggap diri saya
tak layak dipandang Anda.
Saya takkan buat Anda bosan dengan cerita saya.
Itu tak benar.
Aku mendengarkan, Nyonya.
Anda mungkin tahu saya lahir dari pernikahan yang harusnya tak terjadi.
Ibu saya Countess de Demontoy, dan ayah saya Baron Obolensky.
Saya tumbuh tanpa orang tua, tapi pendidikan saya baik.
Saya sangat muda
saat Duke Grimaud ingin menikahi saya.
Saya kira saya selamat.
Tapi dia membohongi saya dengan upacara palsu.
Saya punya anak tanpa suami.
Kesalahan saya adalah menuntut keadilan dan kurang berusaha.
Tapi karena pria pengkhianat itu memengaruhi saya,
saya kalah.
Kebutuhan tak kenal hukum. Putri saya dan saya harus hidup.
Kami dianggap sebagai wanita hina.
Di mana dia? Bukannya aku memintanya menemanimu?
Kemari, Nona.
Silakan duduk di sini.
Maaf.
Duduk di sana.
Berdiri dan hampiri aku.
Rambutmu indah.
Terima kasih.
Bisa kau angkat?
Ya, Nyonya.
Lehermu jauh lebih indah.
Terima kasih.
Nyonya, aku terkejut perempuan secantik dan sehalus ini
bisa tinggal di rumah seperti itu.
Aku membawanya saat dan setelah persidanganku,
Di antara hakim, uskup, pejabat, dan akuntan.
Mereka bermain dengannya sebentar dan meninggalkannya.
Bukan kecantikannya yang seperti malaikat dan alami.
Dia sendiri anggun,
tapi dia tak punya kebebasan,
tak punya bakat untuk menarik perhatian pria arogan.
Apa dia jujur?
Tanpa memperhatikan profesi,
dia paling jujur.
Jujur saja, beberapa bulan ini, hidupmu akan sulit,
tapi itu takkan lama dan aku janjikan hadiah setimpal.
Bicarakanlah.
Jika kau tak mampu memenuhi permintaanku, katakan.
Aku takkan tersinggung atau terkejut.
Nyonya, kami tersanjung atas kepercayaanmu,
tiap keinginanmu adalah kesempatan
untuk kami berterima kasih.
Itu cocok untukmu.
Untuk memberimu waktu menyesuaikan diri,
kita bertemu beberapa bulan lagi.
Hari yang indah. Semuanya indah.
Udaranya, anggur yang kita minum,
sinar matahari yang lembut, dan kau mendampingiku, tentunya.
Kau bilang "Tentunya" hanya untuk bersikap sopan.
Tidak. Kau salah, Marquise.
Kau lebih memilih pendamping yang lebih cantik daripada aku
untuk mengelilingmu,
seperti Madame de Bailly.
Aku tak lagi melihat Madame de Bailly.
Maaf.
Aku lupa bahwa hubungan itu sudah dua minggu.
Terakhir kali, kau membicarakan tentang Countess dari Italia.
- Aku memberitahumu? - Ya.
Apa pesonanya sudah habis?
Ya. Segera setelah dia menyerahkan diri padaku.
Itu sangat memalukan.
Aku paham.
Maaf, Marquis yang malang. Kau sendirian bersama teman lamamu.
Jangan begitu.
Pertemanan apa yang lebih baik dan sempurna dibandingkan kita?
Kita baik-baik saja. Hati kita terbuka.
Kita tak bisa memaksakan diri menyembunyikan apa pun.
- Kau ingin duduk? - Tidak, ayo lanjutkan.
Kita bicarakan apa tadi?
Aku memuji pertemanan kita, tapi hanya aku yang menikmatinya.
Marquis, hentikan itu. Aku bersamamu, bukan?
Kau ingin menonton opera atau komedi siang ini?
Sepertinya tak ada yang belum pernah kita saksikan.
Kenapa mengurung diri di hari yang indah ini?
Jika aku tak salah...
Kurasa itu mereka. Ya, itu mereka.
Nyonya, apa kau ingat aku?
Itu Anda?
Ya, ini aku. Bagaimana kabar kalian?
- Sudah lama tak bertemu. - Anda dengar kemalangan kami?
Kami dipaksa untuk hidup miskin.
Kau tak memberiku kabar. Aku bisa tersinggung.
Ketidaknyamanan dari kemiskinan adalah terlahirnya ketidakpercayaan.
Wanita muda ini sudah besar.
Aku telah menua.
Saat dia datang ke Paris, dia masih kecil.
Tapi Anda tak berubah, Nyonya.
Waktu telah mengabaikanmu.
Aku tak percaya itu, tapi kau sangat baik hati.
Ayo berjalan dan bicara.
Maaf, ini Marquis des Arcis, temanku.
Dia tak akan mengganggu.
Nyonya,
aku mengerti bagaimana banyak orang bisa bertahan dalam kemiskinan.
Tapi dari kemewahan jadi miskin sepertimu, kau harus bertahan
dan menemukan kebahagiaan.
Hari ini, aku tak menyesal.
Kehidupan yang saleh tampaknya tak seketat hidup yang mewah.
Aku sangat memercayaimu.
Andai kau tahu betapa aku menghormatimu.
Jangan terlalu menghormati kami.
Keyakinan memberi kami hadiah, lebih dari apa pun.
Hidup bukan pengorbanan, seperti yang orang duga,
tapi berkat.
Kami harus pergi, Nyonya.
Secepat itu?
Kami harus pergi ke gereja. Kami tak bisa tinggal.
Aku tak mau membuat kalian terlambat.
Jadi, Marquis? Kau ingin apa?
Tak ada acara hari ini? Kau yakin?
Siapa wanita ini?
Aku kenal ibunya.
Dia menikahi penjudi, dia kalah, jadi miskin lalu meninggal.
Dia sendirian dengan putrinya.
Kemiskinan dan rasa malu membuatnya menjauhi masyarakat.
Tapi sepertinya dia tak menyesal.
Orang munafik menghina mereka, tapi agama itu baik.
Ya, terutama bagi kaum tak beruntung.
Itu mengembalikan gengsi mereka.
Bukankah itu Duke de Beauregard beserta istrinya?
Ayo sapa mereka.
Kemarilah.
- Marquise. - Ya.
- Ada hal yang tak kupahami. - Bisa aku bantu?
Wajah secantik dia, di lingkungan kita, dia bisa mendapatkan apa pun.
Kau membicarakan...
Putri temanmu?
Dia cantik, bukan?
Aku terus melihatnya sebagai anak yang masih kecil.
Wajahnya seperti Madonna Raphael.
Dengan wajah itu,
seharusnya dia bisa punya posisi lebih baik.
Ibunya kejam sekali memaksakan takdir ini untuknya.
Kerendahan hati mereka lebih baik daripada uang haram.
Apa itu?
Aku tahu kau, Marquis.
Tidak, Nyonya.
Jika kau berpikir aku tertarik pada anak itu,
kau tak mengenalku.
Aku tak percaya.
Aku terhibur dengan pikiran bahwa agama bisa menarik bagimu.
Tapi tak apa,
kau akan melupakannya satu atau dua minggu lagi
seperti Countess Italia itu.
Halo.
Selamat pagi.
Ini pagi sekali. Kau tak bisa tidur?
Aku tak bisa tidur lagi.
Ada yang kau cemaskan?
Tanah temanmu.
- Apa itu masalah untukmu? - Aku sedikit berpikir
bahwa topik itu membuatku cemas.
Proyek pembangunanmu?
Mereka baik-baik saja tanpaku.
- Nyonya, kau bertemu mereka lagi? - Siapa?
Teman-temanmu.
- Tidak. - Itu tak benar.
Kau kaya, mereka membutuhkan.
Kau bisa mengundang mereka untuk makan bersama.
Aku mengundang mereka sepuluh kali, tapi gagal.
Mereka menolak ke rumahku.
Cara kita tak sesuai dengan kesederhanaan mereka.
Kemewahan mengundang dosa.
- Tak ada yang bisa kita lakukan? - Apa perlu?
Bukankah agama penolong dan harta?
Mereka orang yang marah atas takdir kita, dan berdoa untuk keselamatan kita.
Jika aku memberi mereka 20 Louis, apa mereka menolak?
Aku yakin.
Kenapa menerimanya darimu, tapi tidak dariku?
Apa alasan mereka untuk menolak niat baik teman?
Marquis, kita tak bisa berharap untuk mengerti
kepekaan yang sulit dari orang beriman.
Jadi, tak ada yang bisa kulakukan?
Tidak, Marquis.
Itu kejam.
Ya, memang kejam.
Tidak.
Marquise.
Gadis yang kulihat sekali...
Takkan kau lihat lagi.
Nyonya,
karena kau temanku,
aku harus menceritakan sesuatu. Ada kejadian yang kusembunyikan.
Kejadian?
Di Taman Raja,
saat kau bicara dengan ibunya, aku berjalan di samping putrinya, ingat?
Kau bisa bayangkan aku tak bisa berhenti menatapnya.
Dengan segala upaya, dia menunduk.
Tapi kemudian,
pembicaraanmu selesai
saat dia menatapku.
Itu indah sekali, Nyonya.
Tatapannya...
sangat sederhana dan tulus,
tatapan dalam
bebas dari rayuan dan tradisi.
Tatapan...
penuh kenyataan yang berbicara
meski kau tak bisa memahaminya.
Kau melihatnya?
Berapa lama dia menatapmu?
Entahlah.
Mungkin...
tidak satu detik penuh,
tapi itu detik terlama dalam hidupku,
detik tak terbatas karena itu masih kuingat.
Marquis.
Imajinasimu tak pernah mengecewakanku.
Wanita muda, malu atas desakanmu,
menatapmu dan kau mengada-ada tentang itu.
Kau, pria penuh alasan,
golongan Epikurean, yang percaya kita hanya sekumpulan atom.
Itu yang akal sehatku katakan padaku.
Tapi tak pernah ada tatapan sejujur itu.
Kata "tak pernah"-mu tak lebih lama dari "selalu."
Aku dan semua orang tahu.
Mungkin koleksi wanitamu kurang banyak yang beriman.
Kau pasti benar.
Kau pasti benar.
Tapi...
Marquis, waspadalah.
Jangan keliru menilai gadis ini dengan yang pernah kau kenal.
Dia tak bisa dirayu, digoda, atau didekati.
Kau tak sanggup.
Percayalah,
jika kau tak ingin menderita, lupakan gadis itu.
Temanku.
Ini gila.
Bagaimanapun, rencanamu tak baik.
Kenapa?
Kenapa Marquis tertarik pada gadis ini,
bukan gadis lain?
Karena Marquis tak bisa menahan hal yang menahannya.
Jika aku memberikan perasaan, mereka cocok dengan perlawananku.
Kau belum sadar cinta muncul saat godaan meninggalkan kita?
Kau sepertinya sangat yakin.
Bagaimana jika aku bilang Marquis mengunjungiku
untuk menanyakan kabar
tentang gadis itu dan ibunya?
Kuakui, aku tak berharap Marquis menjadi sasaran mudah.
Meski demikian, aku takut
upayamu berlebihan.
Upayaku masih lebih kecil dari luka yang Marquis sebabkan.
Jujurlah.
Apa kau tak sadar dia mudah berubah?
Kenapa berurusan dengan pria tak jujur,
jika itu kehendak alam?
Apa adil membiarkan ketidakjujuran sebarangan mengganggu?
Rasa marahku dipenuhi oleh keadilan.
Aku tak mau balas dendam.
Pada diriku, aku melihat wanita.
pada dirinya, pria.
Untuk berlaku adil, hati kita
harus murni dan bebas dari kebencian.
Nyonya,
kemurnian yang penting bagiku.
Jika tak ada yang ingin memperbaiki pria,
siapa yang akan memperbaiki masyarakat?
Kedengarannya jahat untuk mendoakan orang lain menderita.
Bukalah matamu pada umat manusia.
Hanya rasa sakit yang membantu orang menyadari kesalahannya.
Apakah kebaikan
alasanmu membuatnya menderita?
Ya.
Aku ingin menyadarkannya.
Nyonya, silakan...
Ada apa?
Katakan padaku.
Seorang wanita?
Pasti wanita.
Kau mencintainya dan dia tidak?
Cinta selalu begitu.
Yang satu terlalu mencintai, yang satu tidak cukup mencintai.
Ayahku bilang alam tak suka keseimbangan dan suka jika kita menderita.
Yang satu selalu memiliki lebih dan yang lain kurang di semua alam.
Bahkan kebahagiaan.
Ayo bermain.
Tutup matamu dan pikirkan dia.
Bayangkan kalian bersama,
bahwa aku adalah dia.
- Ayo, Marquis, berusahalah. - Tidak, ini tak berguna.
Aku tak bisa membayangkan itu dengannya.
Ini penghinaan terhadap kesuciannya.
Wanita beriman di ranjang dengan pria, tetaplah wanita.
Dia tidak.
Halo, Marquis.
Kau lebih baik dari kemarin.
Kukira kau sakit.
Lihat lukisan kecil ini. Akan cocok di rumahmu, 'kan?
Domba kecil itu menawan, 'kan?
Aku tak punya kabar, Marquis.
Boleh kulukis gadis itu?
Ide bagus. Kau sebaiknya beristirahat.
Aku hanya melihat wajahnya sekali
dan itu sempurna, bayangan itu
terukir dalam pikiranku.
Ketidakjelasan ini penyebab penderitaanku.
Membuat lukisan yang jujur
dapat menyembuhkan imajinasiku yang berlebihan.
Mungkin ketidaksempurnaan menghiburku
karena tak melihatnya lagi.
Kau bermimpi, Marquis.
Bagaimana dia mau menawarkan dirinya dilukis jika dia menyembunyikannya?
Aneh bahwa agama membuat berlian alam itu
menyembunyikannya. Itu sangat bodoh.
Hati-hati bicara. Bisa ada yang tersinggung.
Aku tak peduli pada mereka yang berharap mati dengan baik.
Tuan, apa kau cukup sehat untuk menceramahi orang
dan berbicara tentang moral?
Kau sakit berminggu-minggu.
Aku coba melupakannya.
Aku mencoba semuanya.
Semakin kucoba, semakin kuingat.
Wujudkan keinginanku.
- Apa? - Kasihani aku.
Aku ingin bertemu dia lagi.
Ini sulit.
Tidak, Marquis, Aku takut pertemanan ini berakhir
jika membantumu.
Tidak.
Jangan abaikan aku.
Aku takkan berbuat aneh. Aku tahu diri.
Kau menyayangi wanita ini. Tapi biarkan aku menggila seperti ini.
Akan kucari.
Akan kukirim 10, 20, 100 orang untuk mencari mereka.
Aku akan memaksa. Apa pun yang harus kulakukan.
Berhati-hatilah, aku sedang kasar.
Kau benar.
Bukan untukmu aku melakukan ini, tapi untuk mereka.
Kuharap kau bisa memberiku waktu.
Sebisaku, Nyonya.
Sesedikit mungkin.
Terima kasih.
Terima kasih, Temanku.
Tetap duduk. Silakan makan.
Minumlah sedikit anggur untuk memulihkan kesengsaraan
yang hidup ini berikan pada kalian.
Nikmati ketidakhadiran Marquis.
Aku takkan terkejut jika dia datang lebih awal.
Aku tak sabar melihat yang akan dia lakukan.
Bagaimanapun, aku menghargai kalian.
Putriku dan aku sudah bersiap-siap sejak beberapa hari lalu.
Kami akan lakukan yang terbaik.
Pakaian ini cocok untukmu
hingga sulit membayangkanmu beberapa menit lalu.
Nona-nona, kereta sang Marquis mendekat.
Kedatangan Marquis des Arcis minta diumumkan.
Dia tiba. Antar dia masuk.
Aku menyuruhnya terkejut saat lihat kalian di sini
dan memberi alasan sopan sebelum menerima ajakan
untuk ikut makan malam.
Mari lihat sebagus apa aktingnya. Makanlah.
Marquis.
Kau, di sini?
Aku tak tahu kau sedang makan. Pakaianku tak pantas.
Aku mengunjungi teman yang hendak melepas tanah
dan di perjalanan menuju Paris kupikir jika kau tahu aku lewat
tanpa menyapamu, kau akan marah.
Tak apa-apa, Marquis. Kau sangat disambut.
Kau ingat Madame de Joncquières dan putrinya?
Kau sudah lupa?
Kita bertemu mereka saat di Taman Raja.
Tidak, aku ingat.
Aku tak ingin mengganggu lebih lama.
Aku izin pamit.
Kau akan pergi?
Aku tak ingin mendesak, Nyonya.
Bagaimana jika aku marah bila melihatmu pergi?
Nyonya, aku tak ingin membuatmu kesal.
Sebelum kau menyela,
kami tengah membahas para filsuf cabul.
Waktumu tampak sangat tepat.
Mengapa aku?
Ya.
Kau mempelajarinya, 'kan?
Tidak.
- Tak perlu merendah. - Nyonya.
Tidak, aku...
Kau salah.
Kau pelajari mereka untuk mencela mereka lebih baik, 'kan?
Ya. Tentu.
Sedikit.
Katakan mengapa menurutmu mereka sangat buruk.
Kami semua sepaham denganmu.
Tapi aku...
- Aku... - Kami bilang banyak kaum cabul sepakat...
filosofi mereka unggul dari agama
dalam membuat manusia lebih bahagia. Bagaimana?
Begini...
- Kami mendengarkan. - Jadi...
Petualangan mencari kepuasan...
adalah sumber semua kemalangan.
Kaum cabul bagai anak-anak.
Mereka cuma mencari kepuasan instan.
Tapi untuk momen kesenangan itu,
ada berapa air mata dan tangis?
Bayangan yang indah bukan, Nyonya?
Ya, dan benar.
Kepuasan meminta kepuasan. Para pria ini terus tak puas.
Selamanya plin-plan, 'kan?
Sedih selamanya.
Selamanya putus asa dengan hasrat mereka.
Benar.
Izinkan aku bertanya.
Kemarin putriku bertanya apakah pencarian hal agung
adalah hasrat untuk diperjuangkan.
Entah aku harus bilang apa.
Nona...
semua yang agung tergantung sang Pencipta.
Yang agung bukanlah hasrat, melainkan emosi.
Emosi yang mengkhianati jiwa dan yang dengan segera
di saat memusingkan,
membawa ke kebenaran mutlak.
Kau mendengar semua kesamaran cinta yang agung,
seolah satu-satunya makananmu adalah Kitab Suci.
Kau tak ingin bergabung dengan ordo suci?
Maaf, Nyonya.
Sudah kubilang makan malam ini akan singkat,
hari kami sangat padat.
Jangan cemas, kau sudah bilang.
Aku akan menyesal jika tugasmu diabaikan karena aku.
Sebelumnya, aku ingin berikan teks yang tadi aku bicarakan.
Ikut denganku.
Nona...
Semoga pertanyaanmu kujawab.
Ya, Tuan.
Jiwa yang tertarik dengan hal agung,
itu yang terbaik.
Nona.
Ibumu menantimu.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa, Tuan.
Sampai jumpa, Nona.
Anak yang luar biasa.
Aku sepakat.
- Bagaimana aku tadi? - Sempurna, Marquis.
Aku senang dan hampir yakin dengan argumenmu.
Kenapa mereka tak bisa lebih lama?
Imbalanku hanyalah kritikanmu.
Wanita mana di Paris yang akan bertindak sejauh ini?
Maaf, Nyonya. Tiada yang menyamaimu.
Hanya kau teman sejatiku di dunia. Aku sangat tak bersyukur.
Bagaimana kondisi hatimu?
Dia harus kumiliki
atau aku musnah.
Temanku, kusarankan kau singkirkan pikiran itu.
Nona-nona, kita pernah bertemu, 'kan?
Kita makan malam di rumah Madame de La Pommeraye.
Nona-nona.
Sungguh kebetulan.
Kami menyegelnya agar kau bisa baca lebih dulu.
Pastor memberikannya?
Ya, Nyonya.
Dia berikan usai pengakuan,
meminta putriku membukanya diam-diam.
Bagaimana pria beriman ini benarkan tindakannya?
Dia bilang pesonanya salah satu anugerah paling berbahaya.
yang bisa diberi Tuhan,
tak ada pria akan bisa acuh,
dan para pria akan menggodanya.
Katanya hanya pria jujur yang bisa melindungi putriku.
Menggelikan. Kau bilang apa?
Aku diam saja, Nyonya.
Katanya Tuhan mengawasi putriku,
sebab pria yang dia kenal, dengan jiwa terbaik,
memperhatikannya dan tergugah akan pengabdiannya.
Marquis, beginilah caramu mendanai Gereja.
Bagus sekali. Aku senang.
Teruslah ke gereja. Jika pastor meminta jawaban,
katakan suratnya ada pada ibumu dan dia membakarnya.
Bodohnya aku. Aku putus asa, Nyonya.
Kumohon. Aku membutuhkanmu.
Bagaimana aku mendekati dan bicara tanpa menyinggung mereka?
Tenang, aku takkan berbuat apa pun tanpa persetujuanmu.
Marquis, tak perlu apa-apa lagi.
Kau takkan mendapatkan gadis itu.
Nyonya, maafkan aku karena datang seperti ini.
Tak ada cara lain untuk bicara kepadamu.
Aku tahu kau malu atas suratku kepada putrimu.
Tapi tolong percayalah saat kubilang itu tergugah oleh perasaan
yang jujur dan tulus.
Ketahuilah bahwa aku bermaksud memberikan putrimu
lingkungan terbaik.
Aku ingin menjaga jiwanya yang murni
dari dunia yang penuh kekejaman.
Belum pernah ada wajah yang begitu mengilhamiku.
Nyonya, ini surat jaminan,
yang memberimu pendapatan 600 Louis.
Kau boleh gunakan sesukamu.
Jika bukan untuk kenyamananmu, yang kau benci,
habiskan bagi kaum malang yang sering kau doakan.
Nona...
untukmu, ini sedikit berlian, dipilih karena kemurniannya...
sebagai bukti kemurnian perasaanku.
Sampai jumpa.
Hidupku ada di tanganmu.
Nyonya, bukankah kami harus menerima?
Kau hendak menerima?
Ya, Nyonya, dengan izinmu.
Tidak. Kita belum sampai sana.
Apa lagi yang bisa kami harapkan?
Ini sangat banyak bagi wanita seperti kami.
Ini tak cukup.
Ini akan jamin kebahagiaan kami, Nyonya.
Menurutku itu tak cukup.
Kurasa terlalu berisiko mengharapkan lebih.
Duduklah.
Ambil pena dan kertas ini,
tulis balasan, penuh kesombongan dan amarah.
Akan kusampaikan.
Jangan bicara.
Aku sudah terlalu baik.
Kau berencana di belakangku dan aku harus diam?
Andai kau lihat betapa tersinggung wanita malang itu dengan tindakanmu.
Aku memperkenalkanmu...
sebagai temanku, dan pria paling jujur.
Aku begitu malu.
Maaf, Nyonya.
Nyonya. Maafkan aku. Tolong.
Gadis ini cantik dan polos. Haruskah kau mengejar dia?
Kenapa aku pantas menjadi kaki tanganmu?
Ayo, Marquis, berlututlah, minta maaf kepadaku,
dan berjanjilah tak mengusik temanku.
Maafkan aku. Seribu maaf.
Kumohon bantu aku.
Cinta adalah kutukan. Cinta mengubah kita.
Aku harus memiliki gadis itu. Harus.
Lihatlah diriku.
Kasihani aku. Bantu temanmu.
Tidak ada yang bisa dilakukan. Lupakan.
Ini surat wasiat untuk dua rumah
dan pendapatan tiga kali lebih besar daripada yang sebelumnya.
Bagaimana, Nyonya?
Bagaimana?
Nyonya, katakanlah hal yang bisa membuatku berharap, atau putus asa.
Ini terlalu sedikit bagimu?
Saat terakhir aku pergi,
kubilang hidupku bergantung kepadamu.
Mungkin harusnya kujelaskan, ini bukan hanya takdirku,
melainkan seluruh kesehatanku.
Semoga aku bisa menemuimu lagi.
Berhenti menangis. Tulislah.
Kumohon, Nyonya. Sungguh.
Dia mengorbankan separuh kekayaannya. Itu tak cukup?
Hanya pangeran yang bisa sedermawan itu.
Tawarannya terlalu besar bagimu, terlalu kecil bagiku.
Tulis saja.
Kasihanilah, Nyonya. Tolong.
Mulailah menulis. Kujamin kau akan diberi imbalan.
Marquise, kau membuat pria ini gila.
Kau harus bangga atas pembalasanmu.
Bangga sekarang?
Saat tujuanku begitu dekat?
Kenapa? Kau belum mencapainya?
Tidak.
Kau sangat misterius.
Kau ingin dia memberikan lebih banyak kekayaannya?
Kau ingin hancurkan dia?
Apa lagi keinginanmu?
Entah apa yang kau pikirkan, tapi kau sangat yakin dengan dirimu.
Hati-hatilah.
Nikmati kemenangan atas sang Marquis dan jangan meminta lebih.
Berapa banyak raja telah tumbang akibat terlalu yakin?
Nyonya, aku sudah mati.
Apa lagi yang ditakutkan?
Marquis.
Kau sudah kembali dari tanahmu.
Kau berniat tinggal selama setahun, 'kan?
Kesepian dan buku membuatmu bosan?
Nyonya, tiga pekan di sana bagai tiga tahun.
Aku tak bahagia.
Aku putuskan melakukan kebodohan terbesar bagi pria dengan usia dan pangkatku.
Nyonya, aku akan menikah.
Marquis. Masalah ini serius dan harus dipikir cermat.
Hanya ada satu pikiran gigih. Aku tak bisa lebih sedih lagi.
Kau bisa salah.
Itu sebabnya aku ingin kau...
berunding mewakili aku.
Temui ibu dan anak itu, tanyai ibunya,
suarakan hati gadis itu, dan katakan apa niat mereka.
Hati-hati, Marquis.
Kau akan melibatkan kekayaan dan reputasimu.
Tidak ada jalan kembali.
Pikirkan ejekan rekanmu
dan yang tak mengerti mengapa kau menikahi gadis miskin.
Ketahuilah kau tak akan bisa berjanji menikahi wanita lain
seperti yang sering kau lakukan.
Ingatlah, pesona wanita muda ini akan memudar.
Kau tak memahami sifat aslinya, tapi kau kelak harus menderita
selama sisa hidupmu.
Nyonya, aku telah berulang kali memikirkannya.
Kau teman yang baik.
yang ingn mencabik hasrat ini dari hatiku.
Untuk itu, kau harus cabut jantungku.
Terima kasih, Nyonya.
Selamat, Nona.
Nyonya benar.
Kesabaran kita menghasilkan seribu kali lebih besar.
Marquis ingin menikahimu.
Ada apa, anakku?
Berbahagialah bersama Ibu.
Kenapa cemas?
Kita tak hanya meraih kekayaan, tapi juga nama.
Ibu.
Kita tak membahas soal pernikahan.
Kukira Nyonya hanya ingin
Marquis membayar karena plin-plan.
Nyonya sayang kita.
Kebaikannya kepadamu melampaui kekesalannya atas Marquis.
Maaf.
Ibu ingin aku berterima kasih kepadanya, tapi tak bisa.
- Aku tak suka wanita itu. - Beraninya kau berkata begitu?
Nyonya tersentuh kemalangan kita, 'kan? Dia baik kepada kita, 'kan?
Bukankah kita baik kepadanya?
Anakku, jangan lupa asal kita.
Aku tak pernah lupa.
Setidaknya klien kita di sana yang tak tertipu oleh kita.
Nyonya merancang pernikahan ini demi kebaikanmu.
Kebaikan apa dari menikahi pria yang kita kelabui?
Kau akan dapat posisi terhormat.
Apakah terhormat mengkhianati kesucian dan hidup membohongi seorang pria?
Lupakan kesucian.
Setiap pernikahan adalah kesepakatan
dan tak ada yang salah dari itu.
Harga diri dan kebebasanmu akan kembali.
Apa harga diri dari pura-pura mencintai?
Perjanjian nikah akan meningkatkan perasaan.
Hatimu mungkin akan makin senang.
Jika aku menyukai Marquis,
takdirku hanya akan makin menyakitkan.
Kenapa bicara begitu?
Mengelabui pria polos itu kejam.
bahkan lebih buruk mengelabui pria yang kita cintai.
Bisakah kita mencintai sekaligus berdusta?
Ibu...
andai Marquis tahu siapa kita...
Dia akan membunuh kita.
Nyonya.
Kau tak bicara seharian. Kau tampak begitu jauh.
Maaf, Tuan.
Kau suka perayaannya?
Ya, Tuan.
Kau tampak pucat. Kau sehat?
Ya, Tuan.
Kembalilah ke kamar.
Panggil aku kapan saja.
Tunggu.
Boleh kulihat senyummu?
Terima kasih.
Tolong tinggalkan kami.
Satu peringatan, putriku. Ambillah ini.
Jangan lupa bahwa Marquis menganggapmu suci.
Berpura-puralah lugu, dan bawa ini,
agar dia tak curiga dengan keperawananmu.
Tuangkan di seprai.
Putriku...
Ibu tak paham.
Bukankah kau sudah merasakan cobaan yang lebih sulit dari ini?
Tidak, Bu.
Aku tak pernah merasakan itu.
Kurasa...
Tuhan menghukumku karena menipu orang taat.
Kecilkan suaramu.
Jangan libatkan Tuhan.
Dia tak menyelamatkan kita saat kita memohon.
Kenapa Dia menghukum kita?
Apa yang kau takutkan?
Kupikir kau tak jijik kepada Marquis.
Aku sedih karena aku yang menjijikkan.
Tenangkan dirimu.
Dengarkan Ibu.
Ibu tak suka dengan rencana ini, tapi lupakan rasa jijik akan kebohongan,
dan tipu daya.
Dunia dibangun di atas kebohongan.
Seperti itulah adanya. Kita harus berusaha yang terbaik.
Generasi sebelum kita berhasil.
Kau juga harus.
Ibu yakin.
Nyonya,
kau tiba-tiba muncul
di rumah dan ranjang pria yang masih asing bagimu.
Jangan cemas.
Kesucian yang kau pertahankan takkan kurenggut.
Tidak sebelum kau rasakan
hasrat yang sama denganku yang akan memberikan kenikmatan.
Aku tak akan melakukan apa-apa untuk memaksamu.
Kenalilah aku.
Halo, Temanku.
Kau sangat ceria, Marquis.
Aku takkan menanyakan sebabnya.
Kau salah.
Mungkin ini efek kerapuhannya atau jiwanya yang mulia?
Aku tak mau menjadi suami kasar dan memaksakan hak.
Kau menertawaiku.
Sebaliknya. Aku berbahagia.
Sepertinya kesucian itu menular.
Atau ada kenikmatan dari menunda kepuasan.
Ya, benar.
Kepuasan sering setara dengan kesabaran.
Kau tak lupa aku datang untuk membawamu pergi, 'kan?
Tidak, menurutku itu ide bagus.
Aku tak sabar melihat Taman Raja. Kita akan ke sana, 'kan?
Ya. Di sana akan kuberikan hadiah pernikahanmu.
Aku juga ingat
kau bertemu istrimu di taman itu juga.
Istriku.
Kata itu terasa aneh dan baru.
Kau akan terbiasa.
Kenapa kau tak menikah?
Dengan siapa?
Siapa yang akan setia kepadaku?
Sepertinya kesetiaan suami bukan keharusan.
Ya, tapi jika suamiku berselingkuh,
aku mungkin takkan menerima itu.
Lagi pula, aku pendendam.
Kau akan membalaskan dendam.
Kita bisa tinggal serumah.
Kita berempat akan menyenangkan.
Terdengar menarik, tapi aku takkan menikah.
Satu-satunya pria yang mungkin ingin kujadikan suami adalah...
Aku?
Kini aku bisa mengakuinya tanpa takut.
Kenapa tak bilang?
Kurasa ada untungnya aku tak bilang.
Wanita yang kau nikahi lebih tepat untukmu.
Istriku.
Kau tak lupa Marquise punya kejutan untuk kita?
Dia akan membawa kita ke masa lalu.
Mari.
Marquise, upacara kemarin sangat indah,
dan sukses besar.
Ada kesederhanaan, keanggunan, dan ketertarikan
yang membuatnya bersinar.
Kau rasakan dari kursimu?
Ya, Marquis.
Banggalah dengan upacara itu. Itu sangat berkesan.
Semoga akan terus kau ingat.
Sudah pasti.
Kusirmu lewat mana untuk sampai ke Taman Raja?
Dia tahu jalan pintas.
Aku tak ingin membuatmu marah, tapi dia salah mendengarmu.
Dia tak salah dengar.
Bersabarlah, kita sudah dekat.
Itu dia.
Sudah sampai.
Lelucon apa ini?
Apa maksudmu? Kenapa kita ke gubuk ini?
Ada apa?
Kenapa murung? Ada apa?
- Nyonya. - Ya?
Kalian turunlah dahulu.
- Tolonglah. - Kalian berdua turun.
Kenapa nadamu begitu kepada keluargaku?
Itu pantas untuk mereka.
Saatnya keluar.
Ayo.
Apa maksudnya ini?
Untuk melihat di mana istri dan mertuamu bekerja
sebagai Nyonya dan Nona d'Aisnon.
Aku tak paham. Jelaskan.
Keluargamu bisa menjelaskannya.
Nyonya?
Nyonya?
Apakah Marquise benar?
- Kau tahu tempat nista ini? - Tidak.
Tuan, akan kujelaskan.
Ayahku adalah Baron Obolensky,
ibuku adalah Countess Demontoy.
Aku dijodohkan dengan Duke Grimaud, tapi...
Aku...
Ya, Tuan.
Nyonya itu benar.
Kami bekerja di sini.
Tidak, istriku.
Ya, Tuan.
Kerjamu sebagai apa?
Jawab.
Siapa saja bisa bermalam dengan kami.
Jika kalian mempermainkanku,
ini tak pantas, Nyonya.
Tak pantas?
Benarkah?
Kau punya wanita jujur,
tapi kau buang dia.
Wanita itu aku.
Kubuat kau menikah dengan yang pantas untukmu.
Ini ulahmu?
Jika wanita lain yang senasib denganku punya harga diri
dan juga melakukan ini,
pria sepertimu akan tak ada.
- Bagaimana dengan pertemanan kita? - Pertemanan?
Marquis,
hasratmu membuatmu sibuk,
kau tak bisa memahami hati orang lain.
Kau tak bisa melihat yang ada di balik tirai kesopanan.
Jika jiwa tersiksa tersenyum kepadamu, kau membalas,
tanpa memikirkan penderitaannya.
Ini semua tipuan?
Yakinlah, seluruh Paris akan tertawa.
Marquis.
Marquis.
Marquis.
Beraninya kau mendekatiku.
Tuan, injak-injak aku, aku pantas menerimanya,
tapi dengarkan aku.
Pergi, atau nyawamu melayang.
- Dengarlah. - Aku tak mau.
- Beri aku waktu... - Nyonya.
Jangan sentuh atau dekati aku lagi...
atau aku akan berlaku kejam.
Nyonya,
Kenapa?
Kenapa kau berkhianat?
Aku tak berkhianat.
Janjiku akan kutepati. Kau akan diberi uang banyak.
Ini tentang kehormatan kami.
Kehormatan putriku
yang katanya akan kau selamatkan.
Bukankah jadi suatu kehormatan menjadi sekutuku?
Kau yang dikhianati pria
bergembiralah kau jadi bagian dari rencana ini.
Jika semua wanita berlaku seperti kita,
maka wanita akan lebih terhormat.
Marquis, aku bersimpati kepadamu.
Tidak adil para wanita yang sering dihormati itu,
bisa menghinamu.
Jangan bersedih.
Jangan murung, lupakan kata orang,
kembalilah ceria.
Minggir.
Biarkan aku masuk ke rumahku.
Para pria ini mengantarnya.
Mereka menemukannya di Seine. Dia masih bernapas.
Apa yang kau tunggu? Bawa mereka keluar.
Saya yakin mereka menunggu bayaran.
Mahal sekali untuk seorang pelacur.
Kuberi dia lebih murah.
Kuharap dia lebih cantik.
Pergilah.
Pergi.
Pergi.
Aku lapar. Siapkan makanan.
Apa lagi?
Apa?
Dia sempat sadar, lalu pingsan lagi.
Dokter tak tahu apakah dia akan selamat.
Berhenti.
Tolong yang lain.
Tidak.
Yang lain.
Periksa ada apa.
Tuan, itu Nyonya.
Dia kabur saat pelayan tidur.
- Dia kabur? - Kami membawanya kembali.
- Kau yakin dia ingin kabur? - Ya, Tuan.
Bawa istriku ke ruang kerjaku segera.
Masuk.
Jika kau cukup kuat untuk kabur,
kau sanggup untuk mendengarkanku.
Sebagai pria terhormat, tak akan kutinggalkan istri dan mertuaku
tanpa uang dan rumah di Paris.
Beri tahu ibumu,
di akan diberi rumah di Rouen dan uang.
Terima kasih, Tuan.
Aku belum selesai.
Duduklah di sini.
Aku tak bisa, Tuan.
Aku tak pantas...
berada di dekatmu atau kau dekati.
- Itu ucapanmu. - Aku menyesalinya.
Kau tak jahat.
Kau seperti itu karena lemah dan diperintah.
Kau setuju untuk menikah dengan kesulitan, 'kan?
Ya, Tuan.
Alasan dan prinsipku berbeda dengan pria lain sepertiku.
Aku menentang pernikahan paksa.
Kukembalikan kebebasanmu.
Kau bisa memakai namaku dan tinggal di mana saja.
Pertimbangkan dan beri tahu aku.
Tuan...
Beri aku sudut tergelap di rumahmu untuk kuhuni.
Aku akan tinggal di sana dalam diam.
Kau tak paham. Kau bebas.
Aku akan bebas saat kau hakimi perilakuku...
saat kau melihat hatiku dan tahu aku benci kebohongan.
Aku akan bebas saat kau melihat masa laluku sudah lewat.
Nyonya. Aku yakin kau jujur.
Jika mulutku pernah berkata...
kata memalukan...
Maafkan aku.
Yakinlah...
tak akan lagi...
istriku mendengar kata kasar.
Aku bisa menjauh darimu selamanya.
Katakan saja.
Kebahagiaanmu takkan diganggu. Lupakan aku.
Aku sudah memaafkanmu.
Kau tak memercayaiku.
Nyonya.
Nyonya.
Kumohon.
Berdirilah.
Ayolah, Nyonya.
Ayo.
Madame des Arcis.
Aku akan segera kembali.
Nyonya.
- Kau pergi dari Paris? - Nyonya,
apa Madame de La Pommeraye menyuruhmu memata-mataiku?
Kau bercanda.
Kau tahu aku teman Baroness.
Tak perlu memata-mataimu.
Rumor itu sangat detail.
Kau seharusnya tahu.
Aku teman Madame de La Pommeraye, bukan sekutunya.
Aku tak suka melihatmu menderita.
Aku dan istriku akan pergi ke desa.
Kami baru akan kembali setelah suasana mereda bagi kami.
Skandal baru menghilangkan yang lama.
Sabarlah. Ini akan dilupakan.
Terima kasih.
Hampir lupa.
Jika bertemu Madame de La Pommeraye,
sampaikan salamku.
Kenapa?
Dendamnya justru menolongku.
- Menolong apa? - Pertolongan untuk dua orang.
Aku tak menyalahkan kebencian Madame de La Pommeraye.
Itu membuatku bertemu istriku.
Aku...
Aku mengunjungi Baroness minggu lalu.
Benarkah? Bagaimana kabarnya?
Sangat baik.
Kami lama tak jumpa.
Dia masih tinggal di sana?
Ya.
Di seberang Marquis des Arcis.
Benar.
Aku bertemu dia hari itu.
Siapa?
Marquis.
Benarkah?
Kalian bicara?
Aku terlalu ingin tahu, tapi...
Kau temanku.
Dia sedang akan naik kereta kuda untuk pergi ke desa.
Dia mendatangiku.
Dia sendirian?
Istrinya bersamanya?
Tidak.
Kudengar dia ditemani istrinya.
Aku yakin dia sendirian.
Orang bicara seenaknya saat bergosip.
Dia sendirian.
Seperti kau saat ini.
Aku tak peduli dia bersama istrinya atau tidak.
Aku sudah tenang.
Terjemahan subtitel oleh Tya Udaya
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.