All language subtitles for Siksa Kubur (2024)

af Afrikaans Download
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian Download
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified) Download
zh-TW Chinese (Traditional) Download
co Corsican
hr Croatian Download
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil) Download
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian Download
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian Download
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese Download
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese Download
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Tidak mirip buaya, ya?

Yang ini lumayan mirip.

Ini ditambah kumis bisa menjadi lele.

Ya sudah.

Kita panggang lagi saja.

Kita jadikan roti kering.

Membuat kucing, salah…

- Membuat pisang, salah… - Mirip, Pak…

Sedikit mirip.

- Membuat buaya apa lagi, salah juga. - Sedikit mirip, Sayang.

- Tidak mirip juga, Sayang. - Tapi yang kucing saja.

Aku masih tidak paham.

Kenapa harus membuat bentuk-bentuk aneh?

Ya, supaya lebih menarik perhatian pembeli.

Tapi roti kita paling enak.

Yang tahu rasanya enak hanya yang sudah langganan sama kita.

Dan mereka pikir enak karena kita pakai minyak babi.

Mereka tidak mau beli lagi.

Sekarang Bapak dan Ibu kesulitan uang,

padahal hidup di kota makin lama makin mahal.

Sekolah kita juga mahal.

Nah, apa kau tahu

Paman menyarankan Bapak untuk menyekolahkan kita ke mana?

Ke mana?

Sekolah yang gratisan.

Pesantren di desa.

Nanti kau cantik, Dil, kalau pakai hijab.

Sepertinya kau tidak perlu mencoba-coba lagi.

Apa yang mau dicoba?

Bahannya saja sudah habis. Modalnya juga.

Lagi pula, kau jago memanggang.

Bukan jago membuat bentuk yang aneh-aneh.

Apalagi bikin buaya.

Itu karena kau belum pernah melihatku menjadi buaya.

Kalau begitu, kau tidak bersamaku.

Kau adanya di rawa-rawa.

Sayang, apa kita lepas saja toko ini?

Kalaupun tidak ada gosip tentang minyak babi ini,

aku yakin

toko roti tua seperti ini tidak akan bisa bersaing

sama waralaba modern kanan dan kiri.

Mas, waralaba modern itu,

yang ada di kanan dan kiri, memang ada di mana-mana.

Tapi yang namanya Toko Roti Pak Gun, warisan dari ayahmu, cuma ada di sini.

Dan anak-anak sayang sekali dengan tempat ini.

Ya sudah. Kita usaha lagi. Ya?

Aku nanti putar otak.

Kita pikirkan, apa bikin keroncong? Atau apa?

- Yang penting turis datang. - Atau, Mas, kau bisa membuat

bentuk yang lain, tapi jangan yang terlalu susah.

Mau membuat apa lagi, kecebong?

Toko donat sebelah lagi diskon 50 persen, Pak.

Peluncuran awal.

Padahal kita juga diskon 50 persen kalau malam, 'kan?

Mungkin harus diskon dari pagi juga, ya?

Mereka itu memang harus buang-buang uang.

Waralaba Amerika memang seperti itu.

Memang uangnya banyak sekali, Sit.

Apa kita juga bisa menjadi waralaba, Bu?

Bisa, tapi harus laku sekali.

Permintaan banyak di mana-mana, setelah itu banyak membuka toko.

Tidak gampang.

Kalau bisnisnya besar, yang memegang keputusan juga banyak.

Belum kalau ingin memutuskan suatu hal, harus didiskusikan dulu ramai-ramai.

Belum bertengkarnya.

Kalau toko roti kita, masalahnya cuma satu, duit.

Tapi kalau tidak punya duit, menjadi masalah juga, Pak.

Benar.

Tapi apa kau pernah lihat orang kaya, tapi hidupnya tidak bahagia?

Banyak. Teman-temanku.

Kalau orang yang miskin yang tidak punya duit,

tapi hidupnya bahagia, pernah lihat?

Banyak juga.

Berarti Bapak benar, 'kan, kalau duit bukan kebutuhan utama manusia?

Agak bingung berpikirnya, tapi Sita terima saja.

Pusing, 'kan, Sit?

Ini yang paling utama.

Orang yang kita sayang.

Seperti kau, kakakmu, Adil.

Ibu.

Ya,' kan, Bu?

Ya.

Bapak tidak akan melepas Sita dan Kak Adil jauh-jauh, 'kan?

Dari mana kau dapat pemikiran seperti ini?

Ya, tidak mungkin, Sayang.

Kecuali nanti kalau kau sudah besar, mau menikah,

itu mungkin bisa pisah,

tapi mungkin bukan Bapak yang mau pisah, kau mungkin.

Ya sudah, kau kembali bekerja lagi.

Bantu Bapak dan Ibu sebelum kami bisa menggaji karyawan lagi.

Aduh, rambutnya yang rapi. Anak perempuan, Sita.

Hei!

Keluar, tidak?

Di sekolah, mereka masih sering mengganggumu?

Aku tidak pernah menanggapi.

Kau harus menanggapi.

Jika tidak, mereka akan terus menindasmu.

Ini. Nanti aku bantu.

- Halo, selamat pagi. - Selamat pagi, Mbak.

Ya, cari apa?

Yang paling spesial di sini, yang sering dipesan?

Apa?

- Yang paling spesial. - Oh, yang paling spesial…

Sebenarnya meses mokanya sangat terkenal, tapi maaf 10 menit lagi baru matang.

Baru sepuluh menit…

Mau coba ini?

Ini gratis.

- Baru pertama kali ke sini, ya? - Ya.

- Sungguh? - Nanti, ya. Boleh lihat-lihat dulu?

Oh, ya, boleh.

Masih hangat, Om.

Rotinya masih hangat.

Minum, Om, biar enakan.

Air putih membuat pikiran jernih.

Awalnya, aku tidak percaya.

Sampai akhirnya…

Ini aku rekam sendiri.

Naudzubillah min dzalik.

Jangan sampai kita alami.

Matilah di jalan Tuhan.

Perangi musuh-musuhnya.

Jangan keluar.

Bahaya.

Kau duluan.

- Kau yang duluan. - Kau duluan!

Jangan menganggapku sampah!

- Siapa yang menganggapmu sampah? - Itu tadi!

- Siapa memangnya? - Tidak usah menyolot!

Ya, kau teriak lebih dulu!

Ya, lembut saja…

Apa-apaan!

Apa kau tahu berapa utangmu?

Utang apa?

Tolong.

Kami hanya butuh sebanyak ini untuk beli tiket kereta pulang.

- Utang apa? - Uang kami kecopetan.

Dil! Orang tadi mengambil duit kita!

Kenapa kau jadi membahasnya sekarang?

Pak, orang tadi mengambil duit kita dari laci kasir!

- Duit? - Cepat!

Pak! Pak, sebentar!

Orang itu mengambil duit kita!

Mas…

Tidak, anakku tidak mungkin bohong.

- Bisa kita bicara dulu sebentar? - Mas!

Mas?

Sungguh, sebentar!

- Tidak! - Kenapa, Mas?

Salah paham?

Tidak ada yang salah paham, mereka ambil duit…

Tolong!

Beberapa saksi mata mengatakan pelaku bom bunuh diri

adalah seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan

yang mengenakan tas ransel dan jaket berlapis.

Kami akan terus memperbarui kasus ini, tetaplah bersama kami.

Dia kasih ini.

Siapa?

Laki-laki itu.

Adik-Adik,

tadi ada yang bilang,

laki-laki yang bawa ransel dan pakai jaket tebal

sempat masuk ke toko roti kalian.

Dia sempat bicara dengan salah satu dari kalian?

Denganku, Pak.

Dia bilang apa?

Aku cuma kasih dia air.

Lalu?

Dia minum.

Terus dia apa lagi?

Dia ada bilang sesuatu atau melakukan sesuatu?

Tidak ada, Pak.

Kalian yakin?

Aku mau pulang.

Pulang ke mana?

Ke rumah.

Jangan.

Untuk apa kita di sini?

Sita, di sini saja.

Untuk apa kita di sini?

Aku mau pulang!

Ada siapa di rumah?

Bapak ada?

Ibu ada?

Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%

Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki

Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino

Kau mau apa, Sit?

- Aku harus tahu. - Tahu apa?

- Alasan orang itu mengebom. - Caranya?

Jawabannya pasti ada di sini.

Man Rabbuka?

Man Rabbuka.

Siapa Tuhanmu?

Itu pertanyaan yang pertama yang akan diajukan kepada kita

oleh malaikat di alam kubur.

Alam kubur adalah alam transisi.

Kalau kita mati nanti,

kita akan menunggu akhirat yang kekal di alam kubur.

Bisakah kau menjawab

kalau ditanya malaikat di alam kubur, "Siapa Tuhanmu?"

Bisa.

Sekarang bisa. Kau akan menjawab "Allah".

Tapi nanti di alam kubur,

kalau kau tidak benar-benar beriman, kau tidak akan bisa menjawab.

Kalian tahu siksa apa yang kalian alami kalau tidak bisa menjawab?

Pertama, kuburan kalian makin lama akan makin sempit,

menjepit tubuh kalian,

hingga tulang rusuk kalian saling bersilang ke tengah.

Subhanallah, tak terbayang mengerikannya.

Lalu, malaikat akan kembali bertanya,

"Siapa Nabimu?"

"Apa agamamu?"

Dan mereka yang kurang beriman tidak akan bisa menjawab.

Lalu, malaikat akan menyiksa tubuh mereka hingga hancur!

Dan dengan palu yang besar meremukkan daging dan tulang mereka,

dilempari batu, dicabik ular.

Sementara mereka tidur beralas api neraka.

Kalau di neraka disiksa, untuk apa di kubur juga disiksa?

Pertanyaanmu rapuh.

Kau salah bertanya.

Salahnya di mana?

Beriman itu artinya yakin tanpa ragu.

Kalau kita yakin tanpa ragu,

hikmah akan datang menuntun kita untuk memahami.

Di Qur'an dan hadis sudah tertulis adanya siksa kubur.

Kenapa agama suka menakut-nakuti orang?

Aku sering bertemu orang sepertimu,

yang awalnya imannya sangat tipis,

lalu berakhir dengan tidak beriman.

Percayalah.

Akhirat,

siksa neraka,

kita tidak tahu kapan.

Mungkin masih lama.

Tapi alam kubur bisa saja terjadi kepada dirimu.

Besok

atau hari ini.

Karena nyawa kita bisa dicabut malaikat kapan saja.

Bisa dicabut malaikat,

atau diledakkan oleh orang yang takut disiksa malaikat.

- Sita. - Adil!

Sit.

Kita harus sampai ke kota sebelum gelap.

Aku sudah cari tahu.

Desa pesantren ini dikelilingi hutan, terus lembah.

Hanya ada dua jalan keluar dari sini.

Ya, satu di timur, di gerbang yang banyak penjaga.

Dan di barat, terowongan tua.

Ada alasan kenapa tidak ada orang yang mau masuk sana, Sit!

Sita!

Sudah bertahun-tahun tidak ada yang berani masuk ke sana.

Ada hantu, Sit.

Matanya besar, mulutnya selalu terbuka lebar.

Yang melihatnya tidak akan bisa keluar lagi.

Selamanya.

Kita di sini juga tidak apa-apa.

Kita bisa sekolah, dapat makan.

Memang kalau kita bisa keluar, kita mau ke mana?

Kita tidak punya uang.

Aku punya lima puluh ribu.

Kau pasti mau mencari kuburan tempat pengebom itu merekam suara, 'kan?

- Ya. - Buat apa?

Aku mau buktikan kalau rekaman itu palsu,

dan tidak akan ada suara apa pun dari kuburan itu.

Lalu, kalau sudah terbukti tidak ada apa-apa,

terus apa, Sit?

Sita! Terus apa?

Artinya Bapak dan Ibu bukan dibunuh oleh orang jahat yang percaya sama setan.

Tapi sama orang yang percaya sama agama!

Seharusnya kita bawa senter.

Dapat dari mana?

Dua bulan lalu aku bawa dari rumah sebelum pindah ke pesantren.

Berguna juga, 'kan, aku?

Yah…

Ya sudah, tidak apa-apa, jalan terus saja.

Jalan keluarnya akan ketemu.

Sita, napasku mulai berat.

Aku juga.

Kurang oksigen di sini.

Adil?

Adil?

Adil?

Sita! Sit!

Adil?

Dil!

Sita!

Adil!

Siapa?

Kau siapa?

Siapa?

Siapa?

Ismail.

Semua orang menderita, Sita.

Bukan berarti kita langsung menjadi pemberontak.

Ini semua cobaan.

Ini bukan hukuman.

Ini tanda bahwa masih ada yang peduli kepadamu,

supaya kau tidak terus bikin salah.

Yang perlu kau ingat,

Allah memberi kita musibah itu karena dua sebab.

Yang pertama,

karena Allah ingin mengurangi sebagian dari dosa kita.

Yang kedua,

supaya kita lebih berserah diri kepada Allah.

Bapak…

Ibu…

Sita kangen sekali.

Mungkin sudah bukan zamannya seperti ini.

Siapa Ismail?

Kenapa kau tanya soal Ismail?

Aku ketemu Ismail.

Bicara apa kau, Sita?

Di terowongan.

Ada anak kecil. Dia bilang dia Ismail.

Asalamualaikum!

Loh?

Kenapa dia masih pakai hijab putih?

Peraturan adalah peraturan, Ustazah Umaya.

Biar mereka tahu mereka telah berbuat dosa.

Itu siapa?

Pak Ilham, pemilik pesantren, yang membiayai kita semua.

Dia orang baik.

Ustazah Umaya, tunggu!

Tunggu, kita harus bicara!

Tunggu!

Ustazah!

Umaya!

Aku harus membuatnya berhenti melakukan ini kepada anak-anak.

Belum tentu itu benar!

Itu bisa fitnah!

Ustazah tahu.

Semua orang di sini tahu.

Tapi kita tidak bilang apa-apa.

Dia banyak jasanya untuk anak-anak.

Anak-anak yang tidak punya masa depan, dia kasih.

Seperti Ismail?

Dia sudah meninggal, Ustazah.

Di mana masa depannya?

Ustazah.

Siapa yang dia minta untuk dibawa ke tempatnya sekarang?

Siapa, Ustazah?

Adil.

Kakaknya santriwati Sita.

Adil!

Sita!

Adil!

Sita!

Adil!

Sita!

Sita!

Lepaskan!

Sita!

Sita!

Sita!

Sita!

Sita!

Kalian mau apakan Adil?

Kalian tak akan selamat.

Tenang.

Aku akan mencari kalian sampai ke kuburan jika terjadi sesuatu kepada kakakku!

Sita!

- Adil! - Sita!

- Adil! - Ayo.

Bawa ini.

Ini tasmu.

Ada makanan, pakaian, dan uang.

Ini, bawa ini juga.

Taruh di sini.

Aku mohon maaf

atas apa yang pernah terjadi

dan akan terjadi kepadamu.

Adil!

Hei, Adil!

Ayo!

Ayo, kita harus cepat!

Ayo!

Cepat!

Mungkin kita coba lewat gerbang saja, Sit.

Siapa tahu penjaganya tidak ada kalau malam.

Jalan keluar kita cuma lewat sini.

Mulai sekarang, kita jangan percaya sama yang tidak nyata

karena akan membuat kita gila

dan orang lain akan menderita karena kegilaan kita.

Maaf aku tidak pernah bantu berpikir.

Malah selalu menyusahkan.

Padahal aku lebih tua.

Nanti kalau kita sudah keluar dari sini,

kau bantu pikirkan kita mau tinggal di mana.

Rumah kita sudah dijual oleh Paman.

Dia tidak boleh tahu kita ada di mana.

Kalau tidak, dia akan mengirim kita kembali ke sini.

Adil, kau diapakan?

Itu cuma suara binatang.

Ayo.

Jangan takut, Dil.

Tidak ada yang bisa menghalangi kita keluar dari sini.

Adil?

Kenapa tanganmu dingin sekali?

Siapa?

- Siapa? - Ismail.

Tolong…

Tolong aku…

Adil!

Adil!

Adil!

Tolong aku…

- Adil? - Tolong aku…

Adil?

- Ayo! - Tolong aku!

Tolong aku!

Jangan tinggalkan aku…

Jangan tinggalkan aku…

Jangan tinggalkan aku…

Jangan tinggalkan aku…

Terima kasih, Suster Sita.

Sama-sama, Bu.

Karena dia tidak punya keluarga,

kita urus prosesinya secara Islam.

Kakakmu bisa bantu, 'kan, Suster Sita?

Bisa, Bu.

Dia ada di sebelahku sekarang.

Dia minta aku menyanyikan lagu yang sering dia dengar ketika dia kecil.

Agar tenang katanya.

Aku pernah meninggalkanmu

Untuk mencari diriku

Suster Sita!

Selama puluhan purnama

Sejauh lautan biru

Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%

Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki

Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino

Sini, Bu.

- Terima kasih, ya. - Sama-sama, Ibu.

Nah, Suster Sita.

Ya, Pak Pandi?

Kami hari ini tidak jadi berpelesir.

Tidak enak, Pak Ganda baru meninggal.

- Tapi aku mau berpelesir, Pa. - Tidak, Sayang.

Pak Pandi, tidak apa-apa, berpelesir saja. Pak Ganda sudah kuurus.

Tidak.

Apa tidak bisa kita mengantar teman ke pemakaman?

Nanti setiap hari kita hanya ke kuburan terus.

- Tidak. - Stres.

- Tidak, Sayang. - Atau begini saja.

Bu Nani pergi berpelesir sendiri.

- Ya. - Nanti diantar sama Suster yang lain.

- Bagaimana? - Oh! Tidak!

Dia tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa aku.

Dia orangnya slordig. Ceroboh!

Ya sudah. Hari ini kita di sini saja. Biar besok aku yang antar berpelesir.

- Ya, Sayang? - Bagaimana?

Ya, besok kita berpelesir.

- Janji, ya! - Ya.

- Janji! - Sudah cantik.

Ayo.

Sebentar lagi anakku muncul di sana.

Yang mana?

…mengobrol cukup serius mengenai polusi udara di Jakarta.

Aduh, berantakan.

Itu anakku!

Bahkan, produser kita pun banyak sekali hewan peliharaannya. Benar, 'kan, Pak?

Dan makanya sekarang kita akan memanggil satu…

- Bisa. - Terima kasih, Suster Sita.

Kau seharusnya muncul di acara anakku.

Jadi, Mbak Lenny sudah berapa lama bekerja sebagai petugas salon hewan?

Sudah hampir lima tahun.

Lima tahun. Luar biasa, ya, Mbak.

Karena mengurus orang tua itu

jauh lebih penting daripada mengurus binatang.

Suster Sita!

Sudah. Sudah, Sit.

Urus Pak Wahyu. Ini biar aku.

Biarkan saja, dia bisa menunggu.

Sit, apa jampi-jampimu?

Aku bagi. Siapa tahu aku juga bisa dapat.

- Apa-apaan kau ini? - Serius!

Kalau kau diajak kawin, sikat.

Pak Wahyu?

Tolong bilang sama anak-anakku ini

untuk pergi

dan jangan kemari lagi untuk menggangguku.

Pak Wahyu harus check-up harian ke ruangan dokter.

Kenapa tidak dokternya saja yang disuruh ke sini?

Itu, 'kan, bagian dari servis.

Tidak murah lo panti jompo ini.

Di sini para penghuni tidak diperlakukan sebagai orang sakit, Bu.

Jadi, memang dianjurkan selalu bergerak, termasuk ketemu dokter.

Mereka menganggapku sakit!

Jompo!

Makanya aku tidak mau pulang.

Aku tidak mau kumpul dengan mereka.

Papa.

Semua fasilitas di sini bisa kami sediakan di rumah.

Dan setiap saat Papa ketemu anak dan cucu.

Sudahlah.

Kalian tidak suka sama aku.

Aku juga tidak suka sama kalian.

Kita hidup masing-masing saja.

Pulang.

Pulang!

Terima kasih, Suster Sita.

Maaf, Pak Wahyu.

Aku akan melakukan tugasku sebaik mungkin.

Tapi aku akan sangat berterima kasih kalau Pak Wahyu tidak membuatku berbohong.

Aku harus check-up hari ini, 'kan?

Nanti sore, Pak.

Kau tadi bilang apa? Sekarang?

Kau tidak berbohong.

Tadinya aku memanggilmu untuk membuatkan teh.

Yang lain tidak enak.

Kami ke sini untuk menghemat waktumu.

Niatmu itu tidak akan kesampaian.

Niatku yang mana, ya?

Kami bertemu orang sepertimu tidak sekali dua kali, tapi sering.

Kasihan mereka, tidak ada yang berhasil.

Asal kau tahu, ya, apa yang Papa kami bilang itu benar.

Kami, anak-anaknya, tidak ada yang suka dia.

Dia tidak suka kami.

Kami ingin dia pulang karena di sini mahal,

dan kami yang harus bayar.

Hartanya dia sudah tidak ada, habis!

Jadi, kalau kau pikir kau bisa ambil hatinya,

lalu menikah, dan mendapatkan hartanya,

percuma.

Sia-sia, karena memang sudah tidak ada.

Atau,

kalau kau butuh kerjaannya,

kau bisa menjadi perawat Papa purnawaktu di rumah kami.

Najis!

Malas aku sering-sering ketemu perempuan matre seperti ini!

Aku bisa saja untuk tidak bertemu lagi dengan Pak Wahyu.

Bahkan aku bisa membujuk Pak Wahyu untuk pergi dan tak tinggal di sini lagi.

Mau tahu caranya?

Berlutut

dan mohon di depanku.

Kalian pikir dengan harta kalian yang banyak,

pendidikan kalian yang tinggi,

kalian bisa seenaknya sama orang lain?

Bisa.

Tidak kepadaku.

Berlutut

dan cium kakiku.

Aku di mana…

- Pak… - Ibu…

Ya, Bapak tenang dulu ya.

- Ibu… Mana ibuku… - Nanti kita cari, ya.

Nanti kita cari Ibu.

Kau siapa?

Aku Sita, Pak. Perawat Bapak.

Boleh aku bantu untuk menidurkan Bapak?

Ya?

Mana Ibu…

Bawa ke Ibu…

Nanti aku bawa ke Ibu, ya?

Ibu…

Ibu…

Kalau tidak cukup beriman,

kita tidak akan bisa menjawab pertanyaan malaikat.

Mungkin bertanyanya harus pakai bahasa

yang dipahami orangnya, Ustaz.

Jangan bahasa Arab.

Ketika kita mati, untuk beberapa saat kesadaran kita masih ada,

dan akan dipenuhi oleh sensasi-sensasi yang paling kita ingat semasa hidup.

Seperti rasa takut, rasa bersalah, penyesalan.

Ya, sebenarnya orang yang mengaku melihat hantu, setan,

atau hal gaib lainnya itu, mungkin penjelasannya simpel.

Dalam keadaan oksigen kurang ke otak, sehingga berhalusinasi.

Kalau aku sudah merasa mau mati,

aku mau menongkrong dulu di toilet yang lama.

Berak.

Biar tidak menyusahkan orang lain.

Jadi, yang ini bukan juga?

Bukan.

Hidupnya lurus, terhormat.

Semua orang yang pernah kenal sama dia bilang dia orang baik.

Ya, tapi bukan berarti dia tidak punya rahasia.

Aku tidak menemukannya.

Kalaupun ada siksa kubur,

itu semua bukan alam nyata, Sit.

Yang disiksa juga bukan badan, tapi jiwa.

Tidak bisa kita dengar atau lihat.

Jiwa dan raga yang disiksa, itu katanya.

Aku tahu kau bertahun-tahun cari tahu soal siksa kubur.

Tapi ini gila, Sit.

Biar orang tidak percaya takhayul, Dil.

Tapi, 'kan, kita saksinya.

Kita lihat sendiri di terowongan.

Kita lihat…

Kita lihat hantu, Sit.

Waktu itu kita kekurangan oksigen, makanya halusinasi.

Dan harus ada yang membuktikan

kalau agama hanya membuat orang ketakutan dan melakukan hal-hal gila,

termasuk bom bunuh diri.

Kau main-main sama agama.

Bagaimana kalau ternyata agama benar, Sit?

Sumber dari bencana kita.

Kuburan ini sudah sepuluh tahun yang lalu kau temukan.

Kau juga sudah buktikan sendiri tidak ada suara apa-apa dari dalam.

Itu sudah cukup.

Buat orang belum cukup.

Kalau kau tidak mau bantu, tidak apa-apa.

Aku bisa sendiri.

Nanti orang itu akan kita kubur di sebelahnya.

Kenapa?

Untuk memastikan kalau benar dia dapat siksa,

berarti orang yang akan kita kubur juga akan dapat siksa.

Orang ini siapa, Sit?

Kau yakin dia orang yang tepat?

Orang paling kejam yang pernah kukenal.

Dia sudah melakukan apa, Sit?

Dia siapa, Sit?

Aku belum bisa cerita sekarang.

Man Rabbuka!

Ini yang paling utama, yang kita sayang.

Pak! Orang itu mencuri duit kita!

Hei! Tunggu sebentar.

- Sebentar. - Sita!

Di luar ada bom yang akan meledak!

Kenapa bukan kau saja yang keluar, Dil?

La?

Kenapa ini?

Kenapa kau menikahiku, Dil?

Maksudnya?

Ya, kenapa kau repot-repot nikah sama aku?

Ya, aku menyayangimu.

Bohong kau, Dil.

Aku butuh laki-laki yang bisa menafkahi!

Aku butuh nafkah batin, Dil, bukan cuma duit.

Tapi kau malah…

memilih bergaul sama mayat!

Aku mau pisah sekarang.

Aku tidak tahu lagi aku harus ke mana.

Tolong kau yang pergi.

Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%

Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki

Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino

Pak Wahyu?

Kau percaya agama, Sita?

Kenapa Pak Wahyu bertanya seperti itu?

Tadi kau bilang tidak mau berbohong.

Takut dosa?

Tidak perlu takut dosa untuk tidak berbohong, Pak.

Kenapa kita tidak boleh berbohong kalau bukan karena dilarang agama?

Karena tanpa agama pun, manusia punya nurani.

Nurani itu adalah hasil proses berpikir manusia

berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai yang dia anut.

Tak harus sistem nilai agama.

Kalau sistem nilai yang aku anut tidak mengharamkan berbohong,

mencuri, bahkan membunuh.

Aku bisa melakukan apa saja

tanpa merasa bersalah.

Dan kalau aku bisa mengecoh hukum manusia,

aku bisa melakukan semua yang aku mau tanpa konsekuensi apa pun.

Dan kalau Bapak tidak percaya agama,

berarti bahkan setelah mati pun tidak ada konsekuensi apa-apa?

Kau percaya pada siksa neraka atau siksa kubur?

Apa yang disiksa?

Jiwa atau fisik?

Kalau fisik yang disiksa,

fisik kita sudah mati.

Tidak terasa apa-apa lagi.

Kalaupun bisa merasa,

hukuman fisik yang terus-menerus akan membuat kita mati rasa.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mendapat kenikmatan karena disiksa?

Masokis.

Apa mereka nanti bukannya merasa nikmat?

Dan kalau yang disiksa itu adalah jiwa,

mengapa selalu ditekankan dalam ceramah bahwa yang disiksa itu adalah fisik?

Jadi, Bapak merasa bebas melakukan apa saja

karena Bapak tahu tidak akan dapat konsekuensi apa-apa?

Aku melakukan apa yang aku suka.

Memang sebagian dari apa yang kulakukan tidak sesuai dengan nilai orang banyak.

Tapi dari perbuatanku dan apa yang kulakukan

ada yang mereka sebut baik.

Termasuk membiayai pesantren, tapi memerkosa santri-santrinya?

Kenapa, Pak?

Kaget?

Kau siapa, Sita?

Aku dulu santriwati di pesantren Bapak.

Salah satu korban Bapak adalah kakakku.

Tapi kami berhasil kabur.

Korban Bapak setidaknya ada lima puluh anak.

Tapi satu anak hilang.

Ismail.

Kenapa diam saja, Pak?

Merasa bersalah?

Atas dasar apa?

Aku memberikan kesempatan hidup yang lebih baik kepada semua orang.

Termasuk orang-orang yang kau anggap korban.

Lalu, kenapa Bapak harus menghilang dan berganti nama seperti sekarang?

Kesulitan mengecoh hukum manusia?

Adil.

Adil, berhenti!

Berhenti!

Luar biasa.

Menarik sekali perjalanan hidupku.

Seharusnya ada yang menulis buku.

Aku ingat kau.

Dan aku juga mendengar tentang nasib kedua orang tuamu.

Seharusnya aku bisa memberikan kehidupan yang lebih baik kepada kalian.

Hidup kami baik-baik saja.

Yakin?

Yakin.

Karena kami punya tujuan.

Apa?

Melihat apa yang akan terjadi dengan orang sepertimu di dalam kuburan.

Apa maksudmu?

Karena kalau orang sebajingan dirimu

tidak mendapatkan hukuman apa pun…

Berarti benar.

Agama dan semua ini hanya khayalan.

Siksa dua malaikat kubur bernama Munkar dan Nakir

yang kelihatan rupawan bagi orang yang taat beragama

dan sangat menakutkan bagi orang yang tak beriman.

Kau tahu kalaupun ada hukuman untuk manusia setelah dia mati,

apa yang paling mengerikan?

Tergantung apa yang paling kau takutkan.

Apa yang paling kau takutkan?

Aku yakin yang paling kau takutkan

adalah jika semua yang mereka katakan tentang siksa kubur itu benar adanya.

Yang paling mengerikan bagiku,

kebingungan yang tak berkesudahan.

Aku telah merasakan.

Aku sudah mendapatkan siksaku.

Yang bisa kulakukan sekarang

adalah membantu kalian untuk mencapai tujuan hidup kalian.

Hidup adalah kesia-siaan!

Hidup adalah lelucon!

Siapa pun yang mencoba mencari artinya adalah orang-orang yang dungu!

Dan sisanya adalah pecundang!

Kalian dengar?

Dengarkan aku!

Air mengalir sampai jauh

Semoga beruntung.

Keluarganya tidak mau situasi kematian Pak Wahyu

sampai diketahui publik.

Mereka minta tolong kita untuk mengurus jenazahnya.

Kau biarkan dia hidup lama.

Kenapa tidak kau bunuh saja dia sejak pertama kali kau bertemu dengannya?

Ini bukan soal balas dendam, Dil.

Ada yang lebih dari itu.

Aku pinjam ini.

Baterainya lebih awet dari baterai ponsel.

Ada infrared-nya juga, jadi, kalau gelap tetap kelihatan.

Kalau kau mau keluar kapan pun, teriak saja.

Aku bisa mendengarmu lewat pipa.

Jadi, tidak usah menunggu sampai subuh.

Jangan jauh-jauh, Dil.

Tumben takut.

Ini bukan soal takhayul.

Nanti kalau pipanya ketutup, aku tidak bisa napas.

Takut mati?

Bagaimana?

Perasaanmu bagaimana?

Mungkin akan lebih lega

kalau sudah benar-benar selesai.

Kau tetap mau menyebarkan ini ke publik?

Harus.

Itu tujuan kita.

Banyak orang yang akan marah, Sit.

Namaku Sita.

Orang tuaku adalah korban bom bunuh diri

yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku mendengar suara siksa dari dalam kuburan.

Hal itu membuatnya ketakutan

sehingga dia memutuskan untuk mati sebagai pejuang agama,

sebagai syuhada agar terhindar siksa kubur.

Aku menghabiskan waktuku sejak remaja untuk mencari orang paling berdosa.

Tujuanku?

Agar aku bisa ikut masuk saat dia dikebumikan

dan menyaksikannya mendapatkan siksa kubur jika itu benar-benar ada.

Kau percaya Tuhan, Suster Sita?

Aku akan percaya kalau aku lihat sendiri buktinya.

Tiga tahun lalu aku bertemu dengan Wahyu Sutama.

Atau biasa dikenal dengan Ilham Sutisna.

Seseorang yang terhormat di mata orang lain.

Kaya dan dermawan.

- Membiayai banyak sekali panti asuhan… - Terima kasih, Suster Sita.

…dan juga pesantren.

Seseorang yang diyakini banyak orang akan masuk surga.

Tapi di balik itu semua, aku tahu yang sebenarnya.

Kalau kau butuh sesuatu, bilang sama aku.

Waktu itu Bapak pernah bilang,

kalau Bapak bisa bilang ke anak Bapak untuk undang aku ke acara TV.

Wahyu Sutama membeli agama

dan doa orang-orang untuk mengantarkan dia ke surga

atau hanya sekadar dia pakai sebagai topeng.

Yang akan aku panggil

adalah seorang pekerja yang jarang kita lihat,

tapi sangat besar jasanya.

Dia adalah seorang perawat para manula.

Aku tahu korban-korban dari Wahyu Sutama

dan apa yang dia lakukan kepada para korbannya.

Kalau agama ada,

dan manusia akan mendapatkan balasan sesuai apa yang dia lakukan di dunia,

aku yakin

Wahyu Sutama akan ada di antara orang-orang pertama

yang mendapatkan siksa.

Dan aku ingin menyaksikannya.

Untuk itu, aku ikut menguburkan diriku saat Wahyu Sutama dikebumikan.

Dan aku sudah memberikan video rekamannya kepada produser TV.

Aku mohon untuk diputar sekarang.

Itu bukan kartu memoriku.

Di mana kartu memoriku?

- Itu yang kau kasih, Mbak. - Tidak, bohong.

Pasti kalian tukar, 'kan?

Sekarang aku mau kalian putar kartu memoriku.

Kalau kalian tidak mau, tidak apa-apa.

Sini, kembalikan kepadaku. Aku bisa putar di tempat lain.

- Mbak, itu… - Siapa yang berani menyuruh kalian tukar?

Anak-anak dari Wahyu Sutama?

Kapan mereka ke sini? Dibayar berapa kalian?

Itu kartu memori yang kau kasih!

Mau mempermainkan agama, ya?

Mau menjadi penista agama?

Kalau tidak mengerti agama, tidak usah bicara soal agama!

Aku sudah menyiapkan ini dari kita kecil, ya, Dil.

Apa yang kau pikirkan?

Tega sekali kau!

Aku salah apa?

Ini.

Ini kau ganti, 'kan?

Buat apa aku ganti?

Ya, tidak tahu, mungkin kau tidak mau terseret!

Aku juga selalu terseret dengan urusanmu, 'kan?

Dari kecil kau tidak pernah mengambil tindakan.

Kalau bukan karena aku, kau sudah hancur, Dil.

Aku memang sudah hancur.

Kau tahu?

Itu karena kau.

Dari kecil aku mati-matian membesarkan kita berdua

karena Bapak dan Ibu kita mati diledakkan orang, ingat kau?

Kau yang bunuh Bapak dan Ibu.

Kalau kau tidak bilang sama Bapak ada yang mencuri uang,

Bapak dan Ibu masih hidup sampai sekarang.

Cuma gara-gara seratus lima puluh ribu Bapak dan Ibu meninggal!

Aku kasih tahu Bapak gara-gara waktu itu kau tidak berani berbuat apa-apa,

kau tidak berani kasih tahu ke Bapak!

Karena kau pengecut!

Aku bisa apa waktu itu?

- Kau… - Aku tidak bisa apa-apa waktu itu!

Kau berharap aku melakukan apa?

Kau kakakku, Dil.

Tapi aku tidak pernah merasa dilindungi oleh kakakku sendiri dari kecil.

Kalau bukan karena aku yang selalu ambil tindakan, lalu siapa?

Aku… Aku tidak pernah melakukan untuk diriku sendiri dari kecil!

Bahkan ini!

Ini kulakukan untuk Bapak, Ibu, dan juga kau!

Kau melakukan semua ini untuk dirimu, bukan untuk menolong orang lain.

Tidak. Kau tahu itu tidak benar.

Jelas itu benar.

Semua yang kau lakukan selama ini,

yang kau bilang kau lakukan buat orang lain,

tidak ada sama sekali!

Kau melakukan itu supaya merasa puas dengan dirimu sendiri.

Bukan untuk menolong mereka.

Orang tua-orang tua di panti yang kau bantu dan tolong,

karena kau peduli?

Tidak.

Karena kau tahu kau bisa memanfaatkan mereka.

Jahat sekali mulutmu, Dil.

- Karena kau tahu itu benar! - Tidak benar.

Begitu kau dapatkan apa yang sudah kau mau,

apa kau akan kembali ke sana?

Menolong mereka dengan tulus?

Semua yang kau lakukan itu hanya untuk dirimu sendiri.

Suster Sita!

Suster Sita!

Suster Sita!

Suster Sita!

Suster Sita!

Suster Sita!

Suster Sita…

Ibu Nani?

Bu Nani, kenapa?

Suamiku selingkuh.

Pak Pandi tinggal di sini juga, Bu.

Kapan ada waktu selingkuh?

Itu, di sana di kamar.

Di kamar siapa?

Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%

Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki

Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino

Nani.

Aku minta maaf, Sayang.

Aku minta maaf.

Sayang…

Aku minta maaf…

- Mari kita ke kamar… - Jangan dekat-dekat!

Maafkan aku…

Lima puluh tahun kau tidak pernah jahat, tapi sekarang kau jahat!

Maafkan aku, Sayang.

Maafkan aku.

- Jangan dekat-dekat! - Pak Pandi, sudah!

Maaf, Sayang…

Pak Pandi, biar Ibu Nani tidur sendiri malam ini.

Tidak!

Dia tidak boleh melakukan apa-apa tanpaku.

Dia slordig!

- Dia ceroboh, tidak bisa! - Aku mengerti…

Tidak bisa.

Malam ini saja. Biar Ibu Nani tenang dulu.

Bapak bisa tidur di kamar Pak Wahyu. Ya, Pak?

Kau ingin aku tidur di tempat orang yang sudah mati?

Semua kamar di sini dulunya ada penghuni yang sudah meninggal, Pak.

- Tidak, aku mau bersama dengan istriku! - Pak…

Sudah, Pak Pandi!

Pak Pandi, sudah! Malam ini saja! Ya?

Sudah!

Aku mau menemani istriku!

Nani!

Tidak!

Nani!

Nani!

Suster Sita…

Suster Sita…

Nani…

Aku sudah bilang dia itu slordig!

Ceroboh!

Kenapa kau biarkan dia sendiri? Dia ini slordig!

Aku cuma ingin minta maaf…

Supaya matiku nanti tenang…

Nani…

Nani…

Maafkan aku, Nani…

Ibu…

Ibu Juwita…

Ibu sering bilang kalau Ibu bisa mendengar orang yang meninggal bicara.

Aku tahu kau tidak percaya.

Aku akan percaya kalau melihat sendiri.

Kau tidak akan bisa melihat kalau kau tidak percaya, Suster Sita.

Tapi yang penting orang-orang di sini percaya, Bu.

Ibu bisa bantu aku?

Ayo ikut, Suster Sita.

Aku di sini saja, Bu.

Kau harus ikut, Suster Sita.

Kau yang sudah membuat Nani mati!

Sekarang, mari kita saling berpegangan tangan.

Jangan sampai lepas.

Aku memanggil jiwa-jiwa yang masih belum ingin berpulang.

Yang masih ingin menyelesaikan masalah dengan yang hidup.

Dengarkanlah kami. Mendekatlah kemari.

Dengarkan kami.

Kami ingin berbicara.

Pandi!

Ganda ada di sebelahmu!

Ganda?

Kau kelihatannya lebih muda!

Nani?

Datanglah, Nani.

Suamimu ingin mengutarakan sesuatu kepadamu.

Datanglah, Nani.

Pandi…

Papi?

Nani…

Nani istriku…

Aku ingin bertemu denganmu, Sayang.

Aku ingin minta maaf.

Aku minta ampun, Sayang.

Aku tidak akan tenang kalau belum dapat ampun darimu.

Matiku pun tidak akan tenang

kalau kau tidak memaafkan dan mengampuni aku, Sayang.

Aku ingin bertemu denganmu, Sayang.

Kita tidak akan ketemu, Papi.

Tidak akan!

Bahkan kau mati pun, kita tidak akan ketemu!

Kecuali…

Kau bunuh perempuan itu.

Kau bunuh perempuan penggodamu itu.

Dia itu pendosa.

Kalau kau sudah bunuh dia, baru aku mau bertemu denganmu.

Ibu Juwita!

Ibu Juwita, ini tidak benar!

Kau bicara apa, Suster Sita?

Ini tidak benar, Bu Juwita!

Kau harus melihat.

Melihat itu tidak perlu dengan mata.

Hanya perlu percaya.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

- Percaya, Suster Sita. - Percaya…

- Tutup matamu. - Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Percaya, Suster Sita.

Sudah waktunya makan siang, Bapak-Bapak, Ibu.

Mari, Pak.

Ibu.

Sita?

Sita!

Adil?

Sita…

Aku takut, Sita.

Tolong Ismail…

Halo?

Kau lagi apa?

Kerja.

Oh.

Ya sudah.

Kalau kau berbuat dosa, minta maafnya kepada siapa, Sit?

Kau tidak percaya agama.

Lalu, kalau kau berbuat dosa, minta maafnya kepada siapa?

Ya, kalau dosanya kepada orang, minta maafnya kepada orang itu.

Kalau dosa ke Tuhan?

Contohnya?

Sejak kecil tak ada yang mengurusku, Sit.

Bapak dan ibuku sudah tidak ada.

Bapak dan ibuku juga sudah tidak ada sejak aku kecil.

Tapi dulu mereka menyayangimu, 'kan?

Aku hanya senang, Sit.

Pak Pandi bilang, katanya aku can…

Buat Nani!

Sita! Tahan!

- Buat Nani! - Sita!

- Sudah, kau pergi, Lan! - Tidak, Sit!

Pergi! Biar aku yang tahan!

- Tidak! - Pergi! Cepat!

Lani!

- Lani! - Buat Nani!

Lani…

Aku panggil ambulans, ya, Lan…

Tidak usah, Sit…

Aku juga sudah capai hidup.

Tidak boleh…

Kau harus bertahan, Lan!

Lani, kau harus bertahan…

Buat apa?

Lani!

Lani, stop!

Lani!

Dia pezina.

Pezina harus dihukum.

Pak Hadi. Kenapa, Pak Hadi?

- Kenapa? - Siksa kubur itu ada.

Neraka berarti ada.

Aku tidak mau disiksa kubur.

Siapa yang bilang siksa kubur itu ada?

Dari sana.

Makin banyak orang datang ke tanah-tanah perkuburan

untuk merekam suara siksa kubur

sejak beberapa remaja berhasil

merekam suara dari dalam kuburan pagi ini.

Waktu itu kita penasaran soalnya ada mbak-mbak perawat panti jompo

yang pernah merekam siksa kubur.

Lalu, ternyata tidak ada kalau kata dia.

Waktu kami coba, ternyata ada. Kami berhasil merekam siksa kubur.

Man Rabbuka?

Pokoknya dipukul, dihantam.

Ya, takut!

Ya, orang hidup…

Tolong!

Yang meledakkan katanya takut dengan siksa kubur!

Katanya, mereka mau masuk…

Surga!

Kita harus bersyukur karena semua orang sekarang percaya pada siksa kubur.

Membuat orang makin beriman dan takut kepada Allah!

Dunia sudah berubah, Sita.

Karenamu.

Ini tidak masuk akal!

Orang sebangsat Wahyu saja bisa tidur tenang di kuburan!

Kiamat!

BERITA SELA

- Lari! Gawat! Ayo cepat! Bu, ayo! - Tolong!

Di mana kau, Wahyu?

Tolong aku!

Adil!

Adil, tolong!

Adil!

Aku halusinasi. Pasti aku halusinasi.

Ke ujung mana pun, pasti ada jalan keluar.

Siapa?

Siapa?

Ismail.

Tolong aku!

Aku halusinasi…

Adil?

Adil!

Sita…

Adil?

Tidakkah kau lihat?

Aku halusinasi.

Kurang oksigen.

Halusinasi, kurang oksigen.

Bapak…

Ibu…

Tolong Sita…

Bapak?

Ibu?

Bapak, Ibu…

Maafkan Sita…

Nurani adalah hasil dari proses berpikir manusia

berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai yang dia anut.

Kalau sistem nilai yang aku anut tidak mengharamkan berbohong,

mencuri, atau bahkan membunuh.

Aku bisa melakukan semua itu tanpa merasa bersalah.

Kalian siapa?

Kami takut…

Takut apa?

Tolong kami.

Bagaimana caranya?

Tolong Ismail.

- Tolong kami, tolong Ismail… - Bagaimana caranya menolong Ismail…

Tolong kami, tolong Ismail…

Melihat itu tidak perlu mata. Hanya perlu percaya.

Tolong kami, tolong Ismail.

Bagaimana caranya?

Tolong Ismail.

Kenapa kau meninggalkanku?

Aku takut!

Aku takut!

Takut apa?

Ayo!

Kau bisa lompat.

Tidak bisa.

Bisa.

Yakinlah.

Terima kasih sudah menolongku, Kak.

Tidak akan ada korban lagi setelah aku.

Adil!

Adil!

Adil!

Tolong…

Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%

Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki

Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino

Man Rabbuka?

Aku mau tobat…

Tolong bantu aku tobat…

Man Rabbuka?

Aku mau tobat…

Bagaimana caranya tobat? Tolong aku…

Bantu aku tobat, bagaimana…

Bagaimana caranya, bantu aku tobat…

Bantu aku tobat!

Bantu aku tobat! Bagaimana caranya, aku mau tobat!

Aku mau tobat!

Astaghfirullah robbal baroya Astaghfirullah minal khotoya

Astaghfirullah robbal baroya Astaghfirullah minal khotoya

Astaghfirullah robbal baroya

Astaghfirullah minal khotoya

Astaghfirullah robbal baroya Astaghfirullah minal khotoya

Astaghfirullah robbal baroya Astaghfirullah minal khotoya

Astaghfirullah robbal baroya Astaghfirullah minal khotoya

Astaghfirullah robbal baroya Astaghfirullah minal khotoya

Allahu Akbar.

Aduh.

- Kukira kita tak mungkin ketemu lagi. - Ayo, Dil.

Tidak kuat. Aku tidak kuat.

Tidak, Dil!

- Kau teruskan sendiri saja! - Tidak!

Kau harus hidup. Kita harus hidup, Dil! Ayo!

Ayo, Dil!

Man Rabbuka?

Kau tahu?

Kalau pun ada hukuman untuk manusia setelah mati,

apa yang paling mengerikan?

Tergantung apa yang paling kau takutkan.

Apa yang paling kau takutkan?

Aku yakin yang paling kau takutkan

adalah jika semua yang mereka katakan tentang siksa kubur itu benar adanya.

Sayang, sudah malam.

Ayo tidur. Besok, 'kan, kita berpelesir.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.