Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Paramount Pictures berterima kasih pada keluarga Micah Sloat, Katie Featherston dan departemen kepolisian San Diego.
Sayang, ada apa?
-- San Diego, California -- 18 September 2006
- Apa itu? - Halo, Sayang.
Hai.
- Apa itu yang kupikirkan? - Ya.
Entah apa yang kau pikirkan, tapi apapun itu, kamera ini bagus.
Kurasa itu kamera yang amat besar. Ada apa dengan kamera genggamnya?
Itu lebih mudah dipindahkan dan banyak fungsi.
Kau akan memarkirkan kendaraanmu atau terus disana melihatku?
Rumah ini besar dan mengagumkan.
Lampu kameranya sangat terang.
- Tolong cium kameranya. - Aku takkan cium kameranya.
- Ayolah. - Berapa harganya?
- Apa? - Berapa harga...
Akan kucium kau, tapi aku tak akan mencium kameranya.
Putar benda itu...
- Apa yang kau lakukan? - Ya, lihatlah.
Menurutmu ini akan berhasil?
Kita akan punya waktu yang sangat menarik untuk...
Merekam fenomena paranormal apapun yang terjadi atau tidak.
Seriuslah, berapa harga kau membelinya?
Sekitar setengah penghasilan yang kudapatkan hari ini.
Hal bagusnya, kau tampan. Mau makan malam?
- Teruslah naiki tangganya. - Ya Tuhan.
- Baiklah, kubuatkan makan malam. - Baguslah.
Tidak. Kita hanya akan memfilmkan apa saja yang terjadi pada kita...
Lalu ketika hal aneh terjadi...
Kita akan berada di posisi sempurna untuk merekamnya untuk anak cucu.
Jadi kita bisa selalu mengingatnya?
Semoga saja, begitu kita merekamnya dengan kamera...
- Kita bisa cari tahu yang terjadi. - Baiklah.
Saat kita tahu yang terjadi, kita bisa bereaksi dengan sepantasnya.
- Dan... - Ambillah dari sana.
Berhati-hatilah. Jika salah satu tetangga kita...
Atau anak-anak itu terobsesi padamu...
Dan mencoba mengintip lewat jendela di malam hari...
Kamera itu akan merekam mereka.
Kecuali anak yang mengikutiku sejak aku berumur 8 tahun.
- Menakutkan sekali. - Kurasa bukan itu permasalahannya.
Kau yang bilang padaku.
- Aku sadar kalau kau... - Kau tak apa?
Apa kau berfungsi?
- Apa kau bicara dengan... - Apa kau bahagia?
Apa bateraimu cukup?
Kau harusnya jatuh cinta padaku, bukan dengan mesin.
Kita akan tidur dengan kamera ini.
- Kita akan apa? - Meletakannya di kamar tidur.
Semalaman?
Kau tampan.
Ya.
Wajahmu merona malu. Kau alihkan pandangan.
Waktunya makan malam.
- Tes suara. - Ini tes terakhir, kan?
Ya. Bisakah kau berbicara saja?
Halo, Micah. Kau adalah pacar terbaik di seantero dunia...
Kecuali ketertarikan anehmu...
- Dengan benda-benda elektronik. - Katie, katakan sesuatu.
- Kau ingin aku katakan apa? - Sesuatu yang tidak ribut.
Kau ingin aku bilang apa?
- Berbisik. - Aku sedang berbisik.
- Kau bisa mendengarku? - Berbisiklah.
- Aku sedang berbisik. - Kau tidak sedang berbisik.
Aku sekarang sedang berbisik.
Itu satu bisikan dan kurasa terekam di kamera.
Baiklah, Sayang, mikrofon ini harganya mahal.
Baiklah, kita mulai beroperasi, Sayang.
Sayang!
Apa kau tahu trik untuk membuat hal ini terjadi?
Aku tak mau membuat... Mereka, dia, apapun itu...
Sama sekali aku tak mau itu terjadi.
Jadi aku tak mau memaksanya terjadi.
Jika kameranya menangkap sesuatu, baguslah, tapi aku takkan suka...
Baiklah. Aku hanya bilang karena kau tahu, merekamnya dengan kamera...
Akan jadi sangat bagus untuk beberapa alasan, Sayang.
- Ini akan... - Aku tahu.
- Membuktikan pernyataanmu. - Kau mempercayaiku, kan?
Ya, tentu saja.
Hei.
Suara apa itu?
Mari kita selidiki.
Kita mendengar suara yang aneh.
Kau dengar itu?
Apa itu suara kulkas?
Suara pembuat es batu.
Sial.
Dia akan hanya terdengar kalau kita tidur disini.
Aku akan mengambil momen ini...
Untuk menggambarkan kecantikan alat musik bagus ini.
Aku serius. Ini hanyalah gitarku.
Kau tampan sekali.
- Apa ini? - Aku suka kakimu. Seksi.
Aku perlu mengecat ulang kuku kakiku.
Kau seharusnya tidak memfilmkan kakiku.
Kaki yang seksi. Bisa kudapatkan sedikit aksi tari erotis?
Kumohon? Setengahnya saja.
Hanya bra dan celana pendek.
- Tidak mau. - Baik. Kulakukan apapun maumu.
Tidak.
Omong kosong.
Ya, Sang Venus. Kembalilah dengan pose Venus itu.
Tidak mau. Jadi dimana kita akan letakkan kameranya?
Ada kamar mandi dan lorong.
Kurasa kameranya terarah ke lorong, disitulah kita dengar langkah kakinya.
Agak gelap.
Kau tak bisa melihatku disini?
- Tidak sama sekali. - Jika kuhidupkan yang ini?
Ya, sudah bagus.
- Sudah bagus? Perlu cahaya lagi? - Tidak, kurasa sudah bagus.
- Baiklah. - Periksalah sendiri.
Apa yang terjadi jika letakkan kameranya di luar sini?
- Kita bisa dapatkan... - Itu sudah kuno, kan?
Hati-hatilah. Kau akan merekam tempat mandi.
Kita bisa dapatkan nilai ekstrakurikuler dengan ini.
Aku pernah menyinggungnya.
- Kita bisa... Tapi tidak. - Baiklah.
Usaha yang bagus.
Aku ingin memberitahumu kalau aku sedang menangis dalam hati.
Akan kuletakkan kamera ini kembali.
Baik, kini hubungkan FireWire. Aktifkan.
- Apa ini berfungsi? - Ya, atau tidak?
Ya, kurasa itu berfungsi.
Ya Tuhan.
Bagaimana aku bisa tidur dengan itu?
Dia akan baik-baik saja.
-- Malam Ke 1 -- 18 September 2006
Dia sedang menatapku.
Beginilah rupa Katie di pagi hari.
Dia begitu cantik.
- Kau mau sarapan apa? - Apa saja. Apa-apaan...
"Apa saja" bukanlah jawaban. Bagaimana kalau telur kocok?
- Kedengarannya enak sekali. - Sungguh? Baik.
- Sayang? - Apa?
Apa kau jatuhkan kunciku di lantai?
Tunggu.
Kunciku tergeletak di lantai.
Lihatlah dimana aku temukan kuncinya.
- Dimana kau meninggalkannya? - Di meja dapur.
Apa kau yakin?
Ya. Aku selalu meninggalkannya di tempat yang sama, dekat dompetmu.
Jelas ini adalah bukti yang tak dapat dibantah...
Kalau kekuatan jahat datang dari kubur untuk memindahkan kuncimu.
Buatlah sarapanmu.
Pastilah skalanya 3 inci di peta.
- Sedang apa kau disitu? - Sedang memfilmkanmu.
- Benarkah? - Benar.
Dewasa sekali. Kurasa itu...
Aku tangkap yang besar!
Kurasa yang kusuka darimu adalah kedewasaanmu.
Hari yang besar. Penerawang itu, dia akan datang.
Seharusnya dia kemari sebentar lagi.
Kami akan pergi mencari Micah dan cari tahu perasaannya soal ini.
Tebakanku? Sangat senang.
Baiklah, katakan seberapa senang kau bertemu dengan penerawang kita.
- Yang akan datang sebentar lagi. - Dokter itu akan kemari? Hebat.
Begitu senangnya hingga aku tak bisa kendalikan diri.
Tak bisa kendalikan diri? Lampiaskanlah. Jangan malu.
Kurasa aku punya sesuatu yang cukup pantas buat cenayangmu.
- Apa? - Tak sengaja kutemukan.
Tunjukkan padaku.
Mungkin akan kumainkan saat dia tiba. Akan membuatnya terasa di rumah.
Kau sungguh tidak menganggap serius hal ini, kan?
Kau tak buat dia serasa di rumah dan menyambutnya dalam lingkungannya?
Maksudku, dengan ini...
Ini akan membuatnya serasa di rumah. Itu akan membuatnya pergi.
Kita takkan menyinggung kau, bukan aku. Kau.
Jangan tersenyum seolah kau begitu senang pada dirimu.
Bagaimana kalau tanpa musik?
Itu bagus.
Apa penerawang ini akan memberiku cadangan nasehat saat dia disini?
Aku takkan bertaruh untuk mendapatkannya.
- Mungkin jika kelakuanmu baik. - Pendapat soal cara ambil gambar?
Aku sudah selesai denganmu.
Jadi menurutmu seorang penerawang akan selalu tepat waktu.
Seperti dia bisa meramalkan kalau lalu lintas akan macet?
Kau memang pintar.
Tunggu, biar kuhidupkan musiknya.
Kau bahkan jangan berpikir untuk menghidupkannya.
- Hai. Dr. Fredrichs? - Ya. Hai.
- Senang bertemu denganmu. - Aku juga. Masuklah.
- Ini Micah. - Hai. Micah.
Maaf soal kameranya.
Jadi kau bisa melihat hal semacam itu?
- Seperti tahu lalu lintas akan macet? - Hentikan.
Biasanya itu tergantung pada 7 hari seminggu atau 24 jam sehari.
- Kau tahu. - Seperti kita semua.
Aku tak pernah ragu saat ada yang bilang, "Kau mau ke San Diego"?
Aku selalu siap melakukannya.
Aku amat senang Kau bisa kemari hari ini. Kami sungguh menghargainya.
Aku ingin habiskan waktu untuk mengenal kalian...
Dapatkan lebih banyak informasi dibanding yang dibicarakan di telepon.
Mengenal kalian berdua, seperti apa kehidupan kalian...
Seperti apa hubungan kalian...
Hubungan kami baik.
- Benarkah? Satu langkah bagus. - Langsung ke inti saja.
Sudah berapa lama kalian bersama?
- 3 tahun. - 3 tahun?
Kami berniat untuk tunangan setelah dia lulus.
- Pekerjaanmu? Pekerjaan kalian? - Aku seorang mahasiswa.
Jurusanku bahasa Inggris, berharap akan segera jadi guru.
Entah harus mulai darimana. Micah seorang pialang saham.
- Ya. - Bagaimana kesehatan kalian?
- Kesehatan kami bagus. - Tak terlibat pengobatan?
- Tidak. - Baiklah.
Sebagian besar yang kau ceritakan padaku...
Dapat dijelaskan dengan hal sederhana, seperti rumah berderak atau pipa berderit...
Atau beberapa kejadian normal yang terjadi...
Yang membuat orang lebih takut sebab mereka berada di tingkat stres yang tinggi.
Jadi ini... Mari kita sebut berhantu...
Telah terjadi padamu sebelum pindah ke rumah ini.
Ya. Dimulai saat aku berumur 8 tahun.
Aku tinggal bersama keluargaku...
Dan berbagi kamar dengan adikku, Kristi. Umurnya 5 tahun.
Dan kami berdua mengalami hal tersebut.
Aku merasakan ada yang bernafas dan nafas itu membangunkanku...
Dan aku membangunkan adikku. Dan aku melihat...
Seperti sosok bayangan raksasa...
Berada di kaki ranjangku.
Dia selalu berada di kaki ranjangku, tak pernah di kaki ranjang adikku.
- Tapi dia melihatnya. - Dia juga melihatnya?
Tentu. Dan kami berdua sangat ketakutan.
- Baik. - Aku bahkan tak bisa bergerak.
Kau tahu, itu memang menakutkan.
Dan kami hanya berdoa. Kumohon biarkan dia pergi.
Dan akhirnya, dia pergi.
Ini terjadi di rumah pertama kami untuk sementara.
Kemudian kami... Terjadi kebakaran. Kami berhasil...
Semuanya berhasil keluar, tak ada yang terluka. Syukurlah.
Tapi kami kehilangan semuanya. Jadi kami pindah.
Apa itu yang menyebabkan kebakaran?
Bukan.
Aku tak bilang kalau ini ada kaitannya dengan hal yang berbau hantu.
Aku sama sekali tidak bilang. Entah apa itu.
Apa dinas pemadam kebakaran menyelidiki penyebab kebakaran?
Aku tak tahu jika ada penyelidikan kriminal...
Tapi aku tahu mereka berusaha temukan penyebabnya, tapi tak ditemukan.
- Baik. - Bukan listrik atau semacamnya...
Atau hal sederhana seperti itu.
Jadi saat kau berumur 8 tahun hingga sekarang...
Apa kau mengalami hal ini secara berkala di tahun-tahun berikutnya?
Ya. Dari umur 13, itu terjadi secara berkala.
Selama beberapa minggu, hal itu mulai terjadi lagi.
Jadi saat kau bilang kalau dia pindah dari tempat kau tinggal...
Saat umur 8 tahun, terulang lagi saat kau tinggal...
Di tempat lain saat berumur 13, dan sekarang disini...
Kelihatannya itulah yang sedang kita hadapi.
Sesuatu yang pada dasarnya berhubungan denganmu.
Lampu yang ada di langit-langit berkedip.
Air dari keran mengucur dan mati tanpa bisa dijelaskan.
- Baik. - Saat kami turun...
Airnya mati atau mengucur, tapi saat turun lagi kerannya mengucur.
Kami dengar suara berdebum di dinding, suara menggaruk-garuk...
Seperti melorot jatuh sambil menggaruk dinding.
Sebagian aktifitasnya terjadi disini, kan?
Ya, sebagian besar.
Aku mendengar bisikan.
Kadang yang tak bisa kumengerti, bisikan itu mengucapkan namaku.
Jadi dia secara khusus memanggil namamu?
- Pernah terjadi sebelumnya. - Kau juga mendengarnya, Micah?
Aku mendengar suara aneh.
Sungguh tak kudengar ada yang memanggil nama Katie, kecuali aku.
Itu mungkin aku yang mengigau.
Bisa kuberitahu beda antara kau sebutkan "Katie" dari ranjang...
Dan sesuatu disini yang berbisik dengan jelas di telingaku.
Ya, lihatlah. Dan aku mencolokkan FireWire ke laptopku...
Bisa rekam semalaman apa yang... Kau bisa pegang ini?
Ada tripod, lensa bersudut lebar, mencakupi seluruh ruangan...
Perekam EVP, bisa untuk menangkap suara apapun.
Jadian kalian akan ke ranjang dan menghidupkan lampu...
Dan kamera merekam saat kalian tidur.
- Apa ini selalu kalian lakukan? - Kami baru saja hidupkan kameranya.
Kamar tidur tambahan ada disana.
Kamar tidur untuk tamu. Lampu berkedip di dalam sini.
Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk membuat ini terjadi?
- Untuk direkam? - Sudah kubilang aku tak mau macam-macam.
Aku tak mau dia membawa kamera.
Hantu ini, mereka makan dari energi negatif.
Jadi jika sesuatu yang negatif terjadi disini...
Itu akan membantu memunculkan hantunya.
Mahluk itu mungkin makan dari itu.
Kau seharusnya tidak membiarkan ibumu kemari lagi. Dia sungguh jahat.
Berhentilah berkelakar, Micah.
Bidang keahlianku adalah berurusan dengan hantu.
Itulah yang membangun karirku...
Membantu orang-orang berhubungan dengan mereka yang sudah mati.
Berkomunikasi dengan hantu.
Arwah dari orang yang sudah mati.
Setan adalah sesuatu yang berbeda.
Itu mahluk yang berhubungan dengan sesuatu yang bukan manusia.
Baik.
Banyak perdebatan dan diskusi mengenai apa itu...
Tapi itu bukan orang.
- Baik. - Kau mengerti?
Berurusan dengan setan bukanlah bidangku.
Aku merasa sangat tidak nyaman dengan itu, dan terus terang...
Aku merasakan ada sesuatu sedang terjadi di rumah ini.
Kau tak bisa lari darinya. Dia akan mengikutimu.
Dia mungkin tertidur selama bertahun-tahun.
Sesuatu mungkin memicunya menjadi lebih aktif...
Dan dia akan berusaha berkomunikasi denganmu.
Baik, aku ingin memberimu nama Dr. Johann Averies.
Rekan kerjaku. Seorang demonologi, ahli dalam hal semacam ini.
- Dia di Los Angeles. - Baik.
Baiklah. Bagaimana kalau kita ambil papan Ouija?
Kita cari tahu apa maunya, lalu kita berikan itu kemudian dia pergi.
Karena apa yang mungkin diinginkannya adalah Katie.
Dan jika kau mengambil papan itu dan mencoba memainkannya...
Mahluk itu akan merasa bahwa kau berusaha berkomunikasi dengannya...
Dan itu akan membuka pintu, mengundangnya masuk.
- Kau mengerti? - Ya, aku mengerti.
Kuharap begitu. Kau akan baik-baik saja. Paham?
Senang mendengar kau ucapkan itu.
Terima kasih sudah datang.
Aku pasti akan menelepon Dr. Averies.
- Semoga perjalanannya selamat. - Pasti. Sampai jumpa, kalian berdua.
- Sampai jumpa. - Sampai nanti. Ya ampun!
Bisakah kau berusaha untuk tidak bersikap kasar padanya?
Rasanya ini informasi yang bagus, sepertinya aku tidak gila.
Setidaknya kita berbuat sesuatu.
Aku akan menelepon orang itu besok.
Orang yang mana?
- Dr. Johann Averies? - Pria pakar setan itu?
- Jangan menertawakannya. - Tidak.
Aku serius, jangan telepon orang itu, paham? Itu sinting.
- Dia bilang akan meneleponnya besok. - Sayang. Jangan telepon orang itu.
Tidak, janji kau takkan menelepon orang itu. Aku mohon?
Aku sudah bicara dengan orang itu...
Aku takkan mentolerir tim atau pasukan...
Baiklah.
- Jika memburuk, kutelepon dia. - Baiklah.
Ya. Kau terdengar membaik saat gosok gigi.
Punya aktifitas ekstrakurikuler dengan kamera ini?
Tidak dengan kamera ini merekam kita.
Baik, akan kumatikan kameranya selama 10 menit.
10 menit, ya?
Itu saja yang kubutuhkan. Entah denganmu.
Mari kita tidur. Matikan itu.
Baiklah. Akan kutempatkan di dalam kamar tidur.
- Matikan itu! - Katie berada di kamar mandi.
- Matikan itu! - Hai, Katie.
Aku ingin pipis. Matikan itu.
Dr. Johann. Aku Dr. Johann.
- Aku mau pipis. - Aku seorang demonologi.
Menjauhlah. Aku tak bisa mendengarmu.
Aku disini untuk menyelamatkan kau dari setan.
Naiklah ke ranjang.
Pasti! Biarkan aku matikan. Waktunya bermain?
Tunggu!
- Maaf. - Apa?
- Kameranya belum mati. - Sudah. Itu lampu siaga.
Itu bukan lampu siaga. Itu lampu merekam.
- Jangan bohong. - Baiklah.
Kurasa itu mungkin ilegal di Kentucky dan di 12 negara bagian lainnya.
Gadis ini liar.
Jam berapa kau bangun?
Entahlah, sekitar jam 6.
-- Malam Ke 3 -- 20 September 2006
Sudah kau atur alarmnya?
Tidurmu nyenyak?
Apa itu videonya?
Aku memeriksa rekaman semalam.
Coba lihat. Ini sekitar jam 2:10 dini hari.
- Pintunya... - Sebentar.
Kau lihat?
Semua pintu dan jendela di rumah tertutup. Baru saja kuperiksa.
Bunganya tidak bergerak. Tapi ada sesuatu yang lain.
- Pintunya bergerak sendiri. - Ya Tuhan.
Belum selesai. Coba lihat. Pintunya bergerak lagi.
- Oh, Micah, itu... - Itu tak mungkin.
Sudah kubilang ini ide yang bagus.
Menurutmu kau bisa membuat hantunya kembali?
- Apa? - Membuat hantunya kembali.
Membuat kita sedikit lebih tertarik. Kau tahu.
Aku tidak tertarik dengan itu. Aku hanya ingin dia pergi.
Oh, Micah! Ya Tuhan.
Sedang apa kau? Kemarilah! Sekarang juga!
Ada apa?
Ada disitu. Disitu! Ambil!
Singkirkan itu. Aku mohon.
Kau menjerit seperti itu karena seekor laba-laba?
- Ya Tuhan. - Astaga.
- Apa kau ambil kameranya dulu? - Ya.
Kukira ada hantu atau sesuatu yang menakutkan...
Aku nyaris gila dan kau ambil kamera itu.
Hei, Teman Kecil. Siapa namamu?
Bisa matikan kameranya? Baiklah. Aku tak mau berada di dekatmu.
- Baiklah. Kami akan pergi. - Langsung keluar.
Kau ada disini?
Katakan apa maksudnya ini.
Apa bagian dari rencana besarmu hanyalah menggerakkan pintu ini?
Atau kau hanya melakukan sesuatu secara acak?
Pada dasarnya, bisa jadi ada dua hal:
Bisa saja itu hantu, atau bisa saja itu setan.
Dr. Fredrichs bilang kalau itu bukan hantu.
Akan kudapatkan bukti.
Aku sedang lakukan riset dan akan kucari tahu apa itu.
Apapun itu yang mengikutiku, dia tak terasa...
Dia tak terasa seperti manusia.
Rasanya seperti monster. Sepertinya dia ingin melukaiku.
Kedengarannya seperti setan.
- Ya, itu yang dia katakan. - Hantu adalah arwah manusia.
Ya. Dia jelas bukan manusia.
Mungkin kau benar, sebab setan itu payah!
Pada dasarnya, mereka ini adalah roh jahat...
Yang ada hanya untuk menyakiti dan lakukan kejahatan untuk hiburan.
Ini sungguh menyeramkan. Mereka menguntit orang bertahun-tahun.
Terkadang mereka sungguh pintar untuk cari cara menakutimu.
Bisa jadi ini adalah fenomena yang benar-benar langka...
Dan akan hebat kalau kita bisa merekamnya.
Aku tidak kaget dengan semangatmu itu...
Mengingat bahwa hanya akulah yang sedang ditakut-takuti.
Tak apa. Kita akan membereskannya.
Aku mengerti kalau ini adalah hal baru bagimu...
Yang mana membuatmu tertarik, jadi kau mendapatkan semua bahan filmmu.
Tapi ini bukan hal yang baru bagiku...
Dan kurasa mahluk ini bisa saja sangat berbahaya.
Aku hanya ingin kau tahu bahwa kalau semuanya ini...
Membaik atau malah memburuk...
Aku tak mau berurusan dengan kamera itu. Aku tak mau membuatnya marah.
Aku tahu darimana asalmu, hanya ingatlah...
Kau tidak memperingatkanku tentang hal ini...
- Sebelum kita pindah bersama. - Aku tahu.
Jadi kurasa aku punya sedikit komentar dengan apa yang kita lakukan.
Aku mengerti itu, jujur saja. Tapi apa yang harus aku katakan?
Di kencan pertama kita, "Ada setan yang mengikutiku..."
Tidak, tapi mungkin di kencan ke-15 atau ke-30 kita...
Atau saat kita putuskan untuk tinggal bersama...
Yang mungkin itu bisa mendatangkan hal yang baik.
Ini.
Baiklah. Jendela sudah dikunci, pintu dikunci, alarm aktif.
Apa saja yang masuk kesini, kita akan mengetahuinya.
Aku tak merasa dia peduli dengan alarm dan pintu terkunci.
Dia bisa pergi kemanapun dia mau, bisa lakukan apapun yang dia mau.
Bagaimana kau tahu?
Apapun yang sedang terjadi, dia sudah disini.
Baiklah.
-- Malam Ke 5 -- 22 September 2006
Kenapa?
Ada apa?
Aku baru saja bermimpi buruk.
Maaf, apa aku tadi mengagetkanmu?
Tak apa, jangan cemas soal itu.
- Ya Tuhan. - Kau baik-baik saja?
- Ya. - Kau yakin?
Kepalaku.
Apa kau dengar itu?
- Aku akan turun. - Jangan, jangan, Micah!
Micah, jangan!
Micah, jangan tinggalkan aku disini.
Jangan tinggalkan aku disini.
Bawa ini.
Menurutmu darimana asalnya?
- Micah! - Ada orang di bawah sini?
- Hanya itu kemampuanmu? - Micah, hentikan!
Kumohon jangan lakukan itu. Sayang, ayolah.
Kau tak apa, Sayang?
Aku tak apa.
- Kau yakin? - Aku masih takut.
- Hei, Gadis-gadis? - Tidak, tapi kau tahu apa?
- Jika kau bisa tunjukkan padaku... - Halo! Permisi!
Aku tahu ini waktunya membuat prakarya...
Tapi aku punya sesuatu yang ingin kuperlihatkan pada kalian.
Bisa tunggu? Kami sibuk sekali sekarang...
Dan kami tak bisa diganggu oleh Micah dan kameranya.
- Terima kasih. Aku mengerti. - Aku perlu rehat sedikit dari...
Ada apa ini? Aku berusaha tunjukkan sesuatu pada kalian.
Hei! Jangan marah.
Baiklah. Ini adalah rekaman dari perekam suara digital...
Yang kuletakkan di kamar tidur.
Ini rekaman dari sekitar 10 detik sebelum kita bangun.
Suara apa itu?
Sudah kudengarkan 50 kali. Aku tak punya komentar.
Ini bukan bahasa yang kukenal, itu bukan suara anjing...
Bukan suara gaduh dari jalanan, bukan semacam...
Masalah kelistrikan yang kukenali, jadi...
- Ya Tuhan! - Apa yang kutemukan adalah...
Kurasa mahluk ini berada di dalam kamar tidur.
Mahluk ini ingin berkomunikasi.
Jadi, kurasa aku akan keluar dan mencari papan Ouija...
Tidak!
Aku tak mau tahu apa yang mahluk ini ingin katakan.
- Aku ingin dia meninggalkan kami. - Percaya padaku. Itu ide buruk.
Secara khusus dia bilang, "Jangan lakukan apapun untuk menentangnya atau..."
- Apapun itu. - Maaf kuberitahu kau soal itu.
Kau akan menggunakan papan Ouija dan mengundang masuk apa saja...
- Dan dia takkan pergi. - Biarkan aku menyelesaikannya.
Kamera itu milikmu. Kau membawa papan Ouija, tak boleh ada lagi.
Tak ada. Berjanjilah padaku. Micah, kumohon berjanjilah!
Baiklah. Aku janji takkan membeli papan Ouija.
- Paham? - Terima kasih.
Hei, Micah, senyum.
Hei, kita belum punya hal menarik yang terjadi dalam waktu dekat ini!
- Micah? - Kau takut?
Apa yang kau dapatkan?
Letakkan kameranya, kita akan tidur.
- Kembalilah tidur. - Ayo.
- Hei! Jangan menentang... - Apa kemampuanmu? Aku memanggilmu!
Hei, sudah cukup! Micah! Ayo.
Dasar setan tak berharga. Dasar tak berguna!
Subtitle Diedit Oleh Irvan Kwasen - Gresik
Sampai jumpa pada film berikutnya
Kau takkan dapat apa-apa.
- Jauhkan kamera itu. - Baiklah.
-- Malam Ke 13 -- 30 September 2006
Ada apa?
Kurasa aku tadi mendengar sesuatu.
Apa? Apa yang kau dengar?
Hanya suara berdentum.
- Suara berdebum? Dimana? - Mungkin di lantai bawah.
Brengsek!
Kau mau kemana? Ya Tuhan.
Tunggu, tunggu.
Micah, tunggu, kumohon!
Kau mau kemana?
Aku ada disini, Sayang. Aku ada disini.
Aku ada disini.
Ya Tuhan.
Kau dengar itu?
Ya Tuhan.
- Kau tak apa, Sayang? - Ya.
Ya Tuhan.
Sepertinya dia sudah pergi, apapun itu.
Baik, ayo.
Itu adalah video bukti dari suara berisik itu.
Apa kau dengar itu?
Tunggu.
Kau dengar itu?
Ya, aku dengar. Entah suara apa itu.
Ini benar-benar hal yang bagus, Katie.
Kuberitahu kau. Ini adalah...
Semoga orang itu... Apapun dia, menunjukkan sedikit aksi.
- Ini omong kosong tingkat tinggi. - Kurasa kita tak seharusnya...
Berurusan dengan ini. Ini sebabnya dia menakutiku, jangan dianggap serius.
Aku menganggapnya serius. Kurasa ini sangat...
Kau arahkan kamera ke wajahku di dalam kamar mandi.
Kau terlihat cantik di pagi hari.
Mungkin seharusnya kita tak bawa kamera.
Halo. Ini benar-benar omong kosong. Ayolah.
Saat ini bukan pilihan, apalagi dengan semua hal hebat terjadi.
- Hal hebat? - Atau hal yang mengganggu.
- Apa kau tidak takut? - Ini sedikit aneh.
Tapi kita sudah mendokumentasikannya, ini akan baik-baik saja.
Sepertinya suara itu berasal dari dinding atau langit-langit.
- Di lantai. - Lantai? Begitu menurutmu?
Apapun itu... Ya Tuhan!
Sepertinya seseorang jatuhkan sesuatu yang sangat besar dan berat.
Seperti apa? Seperti ada orang mengangkat sofa atau semcamnya?
Kau tahu, hal semacam itu takkan terjadi padaku di depan kamera.
- Di depan apa? - Di depan kamera.
- Itu tak ada hubungannya. - Ini semakin memburuk.
Tak seburuk itu. Ini seperti suara keras yang kecil.
Itu suara yang ada dalam diriku yang merasa takut.
Aku baik-baik saja, terima kasih. Paham?
Eksperiman EVP nomer satu.
Apa ada orang disini?
Darimana asalmu?
Punya sesuatu untuk dikatakan? Kali ini dalam bahasa Inggris?
Apa kau akan lebih senang jika bicara dengan papan Ouija?
Apa yang kau cari? Apa itu warna kesukaanmu?
Darimana asalmu?
Ada sesuatu untuk dikatakan? Kali ini dalam bahasa Inggris?
Tak ada sesuatu untuk dikatakan, ya?
Apa kau akan lebih senang jika bicara dengan papan Ouija?
Apa itu?
Apa itu kau yang mendengkur?
Apa itu seperti satu untuk "Ya", dua untuk "Tidak"?
Ya? Bagus.
Ya. Ayo kita nonton film. Aku belum mau tidur.
- Mengapa belum mau tidur? - Sebab aku takut.
- Ya. - Ayolah, simpanlah kameranya.
-- Malam Ke 15 -- 2 Oktober 2006
Katie.
Katie!
Kau di bawah sini? Sayang?
Sial.
Katie?
Sayang.
Sayang, sedang apa kau di luar sini?
- Hei. - Ada apa?
Di luar sini sangat dingin. Apa yang kau lakukan tanpa berpakaian?
- Aku baik-baik saja. - Ayolah.
Tidak. Aku tidak mau masuk ke dalam.
Tinggalkan saja aku sendiri.
- Kau tak apa, Sayang? - Aku tak apa.
- Ayolah! - Tidak.
Kau duduk di ayunan ini di tengah malam...
- Sementara udara amat dingin? - Ya. Pergilah.
Aku akan menemanimu. Akan kuambilkan selimut, ya?
Astaga. Apa yang terjadi?
Dasar konyol.
Duduk di luar dalam udara dingin.
Siapa itu?
Hei! Siapa disana?
Katie, masuklah ke dalam!
Apa yang terjadi? Keluarlah!
Sial!
- Kau sedang apa? - Aku sedang apa?
- Kau yang sedang apa? - Apa maksudmu?
Aku tadi mendengar suara ribut disini dan aku masuk untuk ambil selimut...
- Karena kau di ayunan... - Apa?
Untuk beberapa alasan. Semua jejak di atas sini...
- Balik ke ranjang. Kau bangunkan aku. - Dan TV-nya menyala.
Entah apa yang sedang terjadi lagi.
- Aku kedinginan. - Kenapa bersikap gila seperti ini?
Jadi kau tak ingat apapun?
Tidak, maksudku...
Kau tak ingat kalau turun dari ranjang?
Kau tak ingat berdiri disana seperti orang yang sangat aneh?
Hei.
Maksudku, seperti...
- Astaga. - Dan ini? Kau tidak...
Apa kau tidur sambil berjalan?
- Bagaimana menurutmu? - Aku tak tahu! Aku tidak...
- Astaga! - Ya.
Apa yang kau ingat dari ini?
- Apa kau bermimpi? - Aku tak ingat apa-apa.
Aku ingat berdiri di pintu dan kau arahkan kamera padaku.
Hanya kau yang membuatku takut. Aku tak ingat berdiri disini.
Kau turun ke lantai bawah, duduk di ayunan.
Aku kembali untuk ambil selimut karena kau menolak untuk masuk.
Percepat gambarnya sampai aku turun ke lantai bawah.
Aku meninggalkan kamar. Dimana...
Kau keluar rumah dan duduk di ayunan.
Dan aku kembali ke dalam untuk mengambilkanmu selimut...
Sebab kau menolak meninggalkan kegilaan yang kau alami.
- Aku tak tahu... - Tunggu. Apa aku bicara padamu?
Aku takkan membicarakannya.
Tapi aku ke atas dan sepertinya ada jejak kaki, dan TV-nya menyala.
Jadi itu adalah...
Mungkin hal semacam ini sudah lama terjadi...
Dan kau cuma tidak mengetahuinya.
Aku tak ingat apapun. Aku tahu kalau aku bermimpi buruk semalaman dan...
Apa?
Aku tak ingin membahasnya.
Mimpi yang mengerikan. Mari kita lupakan itu.
Dia coba menakuti kita. Dia menakuti kau dan aku...
- Dia berhasil. Aku takut! - Tetaplah berusaha kuat.
Jangan biarkan dia menguasaimu, menguasai kita.
Dengar, panggil orang lain, pengusir setan atau apapun itu.
Ini justru semakin memburuk. Kau tak mau ini memburuk.
- Tidak, aku tak mau. - Aku juga tidak mau.
Ya, baiklah, dasar kau brengsek kecil.
Ya, baiklah, dasar kau brengsek kecil.
Ada sesuatu yang mau dikatakan? Sekarang kesempatanmu.
Katie, dimana kau?
Aku akan turun. Tunggu sebentar.
Aku tak sabar untuk keluar dari rumah ini...
Pergi keluar dan habiskan waktu dengan pacarku.
Baiklah, sepertinya kita punya waktu 10 menit.
Apa yang sedang kau lakukan, Micah?
- Ayo, bantu aku. - Kau sedang apa?
- Aku akan membahasnya nanti. - Lihat aku!
Sudah kubilang kalau aku...
Kau sudah janji kau takkan...
Jangan melihatku seperti itu. Kau sudah janji padaku kalau...
Kau takkan macam-macam dengan itu.
Tidak. Aku sudah janji kalau...
Aku takkan membeli papan Ouija.
Aku tidak membeli papan Ouija ini.
Kau tahu persis apa maksudku!
Aku meminjam papan Ouija ini.
Beraninya kau. Kau tahu persis apa yang kumaksudkan!
Sudah kubilang, jangan main-main dengannya karena itu membuatku takut.
Dan apa yang kau lakukan? Kau keluar dan mencari...
Papan Ouija terbaik yang pernah aku lihat...
Dan kau meletakkannya di tengah ruang tamu kita?
- Jelaskan itu padaku! - Aku meminjamnya.
Aku tak peduli apa yang sudah kau lakukan.
Kau akan menyingkirkannya. Kita akan pergi.
- Katie... - Tak ada kamera lagi...
Tak ada apapun lagi. Aku tak mau mendengarnya.
- Aku bahkan tak mau mendengarnya. - Katie.
Tidak, jangan panggil namaku. Aku akan pergi...
Dan kau akan ikut denganku atau tidak.
- Tenanglah, Sayang. - Aku tak mau mendengarnya.
Lepaskan sepatumu dan pergilah tidur...
Apa?
Apa yang akan kau lakukan, Micah?
Tatap aku! Apa yang akan kau lakukan?
Aku tak berbuat apa-apa, Sayang. Dengar...
Aku tak bisa mempercayaimu, Micah.
Aku sudah selesai. Tak boleh ada kamera lagi, tak ada.
Aku akan mengurusnya.
Jika kau tak mau melakukannya, maka akan kulakukan.
Sepertinya seseorang menggambar sesuatu di atasnya.
Aku tidak tahu. Hei, Katie?
Apa?
Bisakah kau turun kemari dan membantuku mencari tahu?
Apa?
Kurasa mahluk ini meninggalkan pesan di papan Ouija.
Masa bodoh dengan apa yang ditulis mahluk itu di papan Ouija!
Sayang...
Katie! Dengar...
- Kate. Halo. Hei. - Micah, keluarlah!
- Aku tak mau melihatnya! - Tenanglah!
- Dengar, ini bukan saat yang tepat. - Keluar!
Keluar!
Kurasa dia sedang kesal. Itu tidak bagus.
Hei, Katie? Halo?
- Aku tahu kau marah, tapi... - Apa kita punya jeruk?
Apa yang harus kulakukan? Katakan saja apa yang harus kulakukan.
Kau harus matikan kamera sialan itu.
Kamera... Sial. Lupakan kameranya. Baiklah.
Aku bersumpah untuk menaati peraturan dari Katie...
Soal penggunaan kamera...
Dan hal lainnya. Apa saja.
Apa itu sudah cukup baik untukmu?
Kurasa itu perlu sedikit lebih tulus.
Aku...
Aku bersumpah untuk menaati peraturan dari Katie...
Soal penggunaan kamera...
Dan tidak menyinggung mahluk ini...
Atau apapun itu, dengan cara...
Bentuk atau rupa apapun, jadi bantulah aku, Tuhan.
Dan aku berjanji untuk tidak mengkhianati kepercayaan Katie.
Dan aku berjanji untuk tidak mengkhianati kepercayaan Katie.
- Apa ada lagi yang lain? - Itu saja.
Bagus.
Sial.
Setidaknya, bisakah aku dapat ciuman untuk itu? Aku mohon?
Selamat malam.
Katie. Kau mau tahu...
Apa yang terjadi pada papan Ouija itu?
Kulihat rekamannya.
Aku cuma mau melupakannya, paham?
Mari kita tidur.
Kurasa aku menemukan sesuatu yang sangat keren...
Dan aku ingin kau membantuku mencari tahu itu.
Jadi, duduklah. Tak mau? Atau berdirilah.
Aku merekam semua yang terjadi setelah kita pergi.
- Saat kursor bergerak dengan sendirinya. - Baiklah.
Aku berusaha mencari tahu apa yang dikatakannya.
Aku tak bisa tahu dengan persis apa yang dikatakannya...
Tapi ada banyak kemungkinan.
Apa kau kenal orang yang bernama Edina atau Diane?
Bisa jadi Nadine, tanpa dua huruf N... Bukan.
- Tidak. - Baiklah. Akan kuusahakan.
Kau tahu, ini mungkin...
Bisa jadi itu mahluk yang bersama kita dan itu tak ada artinya.
Atau bisa saja... Begitu banyak kemungkinan. Bisa saja aku salah.
Entahlah.
Aku sungguh tak peduli apa artinya itu.
Kau sudah selesai bermain dengannya. Aku mau keluar dari rumah ini.
Belum seminggu kita disini, sesuatu terus-menerus terjadi.
- Ini gila. - Aku tak bisa...
- Apa yang kalian bicarakan? - Aku ada di... Semuanya.
- Tinggallah denganku. - Kau ingat, bukan soal rumahnya.
Ini soal aku. Kemanapun aku pergi, dia ikut pergi.
Apa yang akan kulakukan, ke rumahmu, mengacaukan semuanya?
- Aku punya rencana. Jangan cemas. - Micah, apa rencanamu?
- Aku punya rencana. - Apa yang akan kau lakukan?
- Kau tahu apa... - Jangan cemas, paham?
- Paham? Jadi? - Baik, begini kesepakatannya...
Apa?
Kau bisa tebarkan serbukmu, lakukan eksperimen kecilmu.
Jika itu tak berhasil, jika itu tak membantu kita...
Aku akan menelepon demonologi itu dan kita akan membereskan hal ini.
- Ya. Setuju. - Bisakah kau menatapku, bukan kameranya?
Tidak. Setuju. Baiklah. Maaf.
- Kau senang? - Ya.
- Setuju. - Baiklah.
Apa benda itu menyala?
Ya.
Dan apa ini yang akan membuktikannya?
Jika ada yang berjalan melalui tempat ini...
Dia akan meninggalkan jejak kaki yang sangat jelas.
Baik. Kurasa kita sudah sangat tahu apa yang sedang terjadi.
Baiklah. Jadi besok, aku akan menelepon.
Kau bisa tebarkan serbukmu dan membersihkannya besok.
Tarik nafas dalam-dalam, minum obat, tak masalah.
- Maaf? - Cari tahu kita berurusan dengan apa.
- Micah! - Mengerti?
- Kita bisa jadi gila. - Aku tak mau minum obat.
Apa itu terlihat bagus buatmu?
Lantai kita seperti ditutupi dengan serbuk, ya.
- Aku akan membersihkannya. - Baiklah.
Bagus sekali.
- Hei. - Ya.
Sudah kulakukan riset. Aku akan menyelesaikan ini.
Tak ada yang masuk ke rumahku, mempermainkan pacarku...
Lalu pergi setelah itu. Ini.
Apa yang mau kau lakukan?
Menghubungi pakar setan itu?
- Ya, tepat sekali! - Menghubungi pengusir setan itu?
Aku mau selesaikan ini!
Memanggil dukun untuk mendikte apa yang harus kita lakukan?
Ini rumahku, kau pacarku.
Aku yang akan menyelesaikan masalah ini.
- Paham? - Baik.
Sayang. Yakinlah sedikit saja, kau bisa?
Ini dia.
Apa itu?
Serbuk itu yang terakhir. Hal yang terakhir.
-- Malam Ke 17 -- 4 Oktober 2006
Besok aku akan menelepon.
Terlalu bagus untuk jadi bahan pembicaraan.
Apa kau dengar itu?
Oh, sial.
Ya Tuhan!
Ya Tuhan!
Kau tahu apa?
Ada jejak kaki masuk, tapi tak ada jejak kaki keluar.
Ya Tuhan!
- Jangan tinggalkan aku disini. - Nyalakan lampunya, Sayang.
Mari kita keluar saja dan turun ke lantai bawah.
Dia masih ada disini. Mari kita pergi!
Dia akhirnya tak bisa lari. Dimana dia?
Apa?
Jejaknya berhenti disini.
Micah, bisa saja ini perangkap. Mari kita pergi!
Ya Tuhan!
Apa kau yang lakukan itu?
Kau tak melakukannya, kan? Katakan kalau kau yang buka itu.
Tentu saja tidak. Benda apa itu?
Kau tidak naik ke atas sana.
Kau takkan naik ke atas sana.
Aku takkan masuk kesana. Aku hanya mau...
- Aku hanya mau melihat. - Tidak, kau tak boleh melihat.
Aku harus pergi memeriksanya. Akan kuambil tangga.
Baik. Semua ini adalah jebakan.
Micah, aku sungguh tak mau kau naik kesana. Kumohon!
Aku takkan masuk kesana. Aku hanya mau melihat.
Kau tak tahu apa yang ada di atas sana. Kau tak tahu!
Aku tahu.
Oh, Micah.
Berikan kameranya padaku. Ya.
- Berhati-hatilah. - Baik, jika ada yang tak beres...
Akan kulemparkan kameranya padamu dan melompat keluar, paham?
Kau lihat sesuatu?
Micah, aku tak mau di bawah sini sendirian.
Aku segera kembali.
Suara apa itu?
Ada sesuatu di atas sana yang terperangkap di antara barang.
Ya Tuhan, Micah. Turunlah kembali, cepat!
Micah, aku mohon, cepat!
Sekarang ini...
Tunggu. Ini.
- Apa? - Bawa saja kameranya.
Baik. Ayo!
- Akan kupegang tangganya. Turunlah. - Ada sesuatu di atas, akan kuperiksa.
Micah. Ya Tuhan!
Micah, kumohon berhati-hatilah.
Kau baik-baik saja?
Micah, jawab aku!
Micah. Micah!
- Aku baik-baik saja. - Aku akan... Syukurlah.
Sial.
Kutemukan ini di atas sana.
Tidak, tidak, tidak. Biarkan aku melihatnya.
- Apa yang kau bicarakan? - Ini rumah lama kami.
Mengapa ini berada di loteng?
Kurasa benda ini pernah terbakar.
Mustahil. Tak mungkin kau temukan itu di loteng kita!
Bahkan mustahil kalau itu ada!
Aku tidak melihat foto itu selama 15 tahun.
Itu tak masuk akal. Sama sekali tak masuk akal.
Kau baik-baik saja, Sayang?
Tolong matikan lampunya.
Maaf.
Dimana ini saat kau menemukannya?
Di loteng ranjang kita.
- Aku akan bersihkan lantainya. - Baiklah.
Aku tak tahu apa aku harus ke kampus hari ini.
Ya Tuhan, aku lelah sekali.
Mengapa kau mengambil gambarku? Aku hanya sedang membuat kopi.
Sebenarnya aku sudah muak dengan ini.
Kurasa kita berdua bisa istirahat sejenak.
Kupikir bisa jalani hidup yang baru. Aku sudah lelah dengan ini.
- Coba lihat ini. - Coba lihat apa?
Aku memperterang rekaman dari malam yang lalu.
Kau bisa lihat jejak kakinya.
Ya Tuhan!
- Jadi? - Apa?
Apa rencanamu?
Aku belum tahu.
Aku tahu. Kita akan menghubungi Dr. Averies.
Kau fungsikan kameramu, tebarkan serbuk di lantai...
Dan ini malah semakin memburuk, bukan?
Harusnya kita lakukan 2 minggu lalu.
Kita akan meneleponnya. Hari ini.
Hei, hei, hei. Mari kita bicarakan ini dulu.
Kini aku yang mengendalikan. Aku akan membuat kemajuan.
Tidak, kau tak membuat kemajuan dan bukan kau yang mengendalikan!
Ini dalam kendali. Jika menurutmu kau yang mengendalikan...
- Maka kau adalah orang bodoh! - Hei, tenanglah.
Tidak sedikit pun yang kau lakukan itu membantu.
Dan maaf, aku tak bermaksud membuatmu tersinggung...
Tapi kamera itu tak membantu, jejak kaki itu tak menolong.
Menurutmu mahluk itu meninggalkan jejak kaki begitu saja?
Tidak!
Dia lakukan itu sebab dia mau. Dia ingin kau menemukan fotoku.
Dia bisa berada dimana-mana. Dia mendengar apa yang kita katakan sekarang.
- Hei, bagaimana kau tahu? - Kau jelas-jelas tidak membantu!
Itu sama sekali tidak benar dan kau tahu itu.
Masa bodoh dengan itu!
Aku menghubungi Dr. Averies dan dia sudah pergi.
Entah apa lagi yang harus diperbuat, jadi aku menghubungi Dr. Fredrichs.
Aku tahu kau tak menyukainya, tapi aku menyukainya.
Dan dia akan kembali besok. Dia akan datang secepatnya.
Jika kita selamat sampai besok, kita bisa membatalkan...
- Kita akan selamat sampai besok! - Aku hanya bilang kalau kita...
- "Selamat sampai besok". Demi Tuhan! - Kita akan bertahan, baik-baik saja...
- Dan besok dia akan membantu kita. - Orang-orang sialan! Menggelikan.
-- Malam Ke 18 -- 5 Oktober 2006
Sial!
Apa yang terjadi?
Apa yang kau lakukan? Micah.
Apa yang kau lakukan? Apa yang kau dengar?
Ada sesuatu di luar sana.
- Sial! - Ya Tuhan.
Brengsek!
Sayang, kemarilah. Kumohon jangan pergi...
Kumohon, tetaplah disini.
Jangan pergi!
Aku akan keluar dan melihat...
Tunggu, Micah, jangan pergi. Kumohon, jangan!
Kumohon!
Jangan membukanya!
Micah, ayo! Ayolah!
Sekarang juga. Ayo! Micah.
Siapa disitu?
- Sayang, ayolah! - Mau macam-macam dengan kami?
Micah, jangan. Ayolah! Mari kita pergi.
Perlihatkan dirimu!
Ayolah, Micah. Mari kita pergi. Kita harus keluar.
- Kau ada masalah? - Hentikan!
Baiklah, Sayang. Maafkan aku.
Micah...
Kumohon, jangan buka.
Dia coba menakuti kita.
Hei, hei!
- Takkan membuat perbedaan. - Aku tak mau masuk kamar tidur itu.
- Dengar... - Aku tak mau masuk kamar tidur itu.
- Aku mohon... - Sayang, jika dia kembali...
Tidak, turunlah. Mari kita... Aku mohon!
Sayang. Ini takkan membuat perbedaan.
- Aku tak bisa... - Ayo!
Aku tak ingin di dalam sini. Aku bahkan tak mau berada di lantai bawah.
Kumohon, kumohon!
- Aku mohon! - Baiklah.
Apa yang ada di dalam sini?
Entahlah jika di bawah sini akan jauh lebih baik.
Micah... Aku tak mau berada disini.
Kurasa kita harus ke lantai atas. Lagi. Kemarilah.
Katie?
Sayang?
Kau harus istirahat meski hanya sebentar.
Aku cuma takut.
Aku tak bisa berada di dalam kamar itu lagi.
Aku mengerti.
Aku tak bisa berada di dalam rumah ini, Micah.
Kita bahkan tak bisa berada di dalam rumah kita sendiri.
Suara apa itu?
Akan kuperiksa cerminnya.
Potret kita!
- Potret apa? - Yang itu, lihat!
Sial!
Apa-apaan ini?
Bagaimana bisa wajahku tergores dan kau tidak?
Sesuatu berada disini.
- Ini omong kosong. - Dia ada disini.
Ada apa disini? Apa yang kau bicarakan?
Aku tak tahu. Aku merasakannya. Kurasakan nafasnya dengan kulitku.
Micah, ayo, ayo! Kumohon!
Luar biasa, Kawan.
- Sayang. Turunlah ke bawah. - Ya Tuhan!
Ayolah!
Apa hal ini pernah terjadi saat siang hari?
Ini semakin memburuk.
Sial.
- Sayang, berhentilah mondar-mandir. - Maafkan aku.
- Ini membuatku gelisah. - Aku juga.
Katie, hai.
Hai, masuklah. Terima kasih atas kedatangannya kembali.
Kita harus menindak lanjuti. Micah, hai.
Ya. Kami menelepon Dr. Averies, tapi dia pergi.
Ya, dia keluar kota. Dia akan kembali. Dia akan...
- Kami butuh bantuanmu. - Ini terlalu kuat.
- Ini lebih buruk. - Ya, dia tak menyukai kehadiranku.
- Aku tak bisa membantumu. - Apa?
Aku harus keluar dari sini. Mahluk ini terganggu dengan kedatanganku.
Kau tak bisa meninggalkan kami disini.
Semuanya tenang. Kami butuh bantuanmu.
Sudah kubilang, aku bukanlah orang yang bisa membantu dalam situasi ini.
Ini bukan bidang keahlianku.
Kurasa akan ada banyak kerusakan dibanding kebaikan dengan kehadiranku.
- Apa? - Ya, aku harus pergi.
Dr. Averies akan kembali dalam beberapa hari.
Kalau dia kesini, dia akan menangani masalah kalian.
Apa yang harus kami lakukan? Haruskah kami pergi?
Pergi sama sekali takkan membantu.
Akan kulihat apa yang bisa kulakukan. Tapi aku harus tinggalkan ruangan ini.
- Ini bukan gurauan. - Aku akan membantu kalian.
- Tapi tak bisa sekarang. - Tidak, tidak!
Kau serius?
Kita akan menangani masalah ini sendiri, paham?
Katie?
Sial.
Aku sangat lelah dengan hal ini.
Aku tahu.
Aku tak mau menjadi seperti ini.
-- Malam Ke 19 -- 6 Oktober 2006
- Micah! Micah, bangun. - Ada apa?
Aku... Aku merasakan dia bernafas.
Disana. Dia ada disana.
Aku merasakan dia sedang bernafas.
Apa yang kau lakukan?
Kau mau kemana? Micah, kembalilah!
Aku takkan kemana-mana.
Tenanglah. Tak ada yang terjadi.
Aku tahu, aku sedang memberitahumu.
Aku mohon!
Baiklah. Aku takkan meninggalkanmu.
Tidakkah kau merasakannya?
Aku merasakannya, dia masih disini.
Ada yang tidak beres.
Tarik nafas yang dalam.
Bisa kurasakan dia sedang mengawasiku.
Sekarang ini.
Kau membuatku takut, Sayang.
- Kita harus berbuat sesuatu. - Apa?
Entahlah. Kita harus cari tahu sesuatu.
- Kita harus... - Baik, baiklah.
Aku akan cari tahu sesuatu.
Akan kulakukan beberapa riset. Pasti ada beberapa pilihan.
Baiklah.
- Astaga! - Menyeramkan.
Aku tahu sesuatu telah terjadi semalam.
Sial.
Kita harus berbuat sesuatu. Kurasakan ada yang tidak beres.
Aku lakukan riset, mencari tahu pilihan kita.
- Baik. - Kutemukan situs ini.
Wanita ini, Diane, salah satu kemungkinan dari papan itu?
Ya.
Semua hal sama yang dia alami di tahun 60-an, itu juga yang kau alami.
Tunggu. Apa maksudmu dengan dia mengalami hal yang sama?
Semuanya. Kau berumur 8 tahun saat rumahmu mengalami kebakaran...
Melihat bayangan. Entahlah. Dan dia memanggil pengusir setan.
Apa itu dia?
Kau bilang bahwa ada beberapa wanita dari tahun 60-an...
Yang mengalami hal yang sama persis seperti wanita ini.
Ya, tepat sekali. Katamu... Mungkin ini adalah hal yang sama.
Dia hanya berpindah padamu sebagai gantinya. Itu cuma modusnya.
Dan dia berusaha memperingatkan kita...
Dengan papan Ouija, coba beritahu untuk temukan wanita ini agar tahu...
Tunggu. Jadi apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja?
Mereka berusaha menyingkirkan mahluk itu, justru itu makin membuatnya marah.
Sebelum pengusir setan tiba disana, dia tidak seperti ini.
Dia hanya mendengar suara dan bermimpi buruk.
Aku mencoba temukan semacam alasan...
Kenapa mahluk ini memilihmu setelah menghantui dia.
Aku tak bisa temukan apapun.
Dari yang kubaca, semuanya ini benar-benar acak.
- Tak ada alasan. Seperti... - Bagaimana dia meninggal?
Dia cantik.
Memang. Kurasa mahluk ini coba memperingatkan kita untuk...
Tidak macam-macam dengannya. Aku tak mau ambil resiko.
Ya Tuhan!
Mustahil kita akan lakukan ini.
Dia akan pergi sesuai keinginannya sendiri.
Tak layak untuk ambil resiko.
Aku mau berbaring.
Katie, aku punya ide soal apa yang bisa kita lakukan.
Ada beberapa hal. Sebenarnya...
Maukah kau menjauhiku dengan kamera itu? Aku berusaha untuk belajar.
Baiklah. Aku mau membahas soal ini denganmu.
Micah, kumohon! Maukah kau memberiku waktu 5 menit?
Pergilah, kumohon!
Hei, tenanglah. Mengerti? Aku berusaha membantu di situasi ini.
Aku punya ide yang ingin kubicarakan denganmu.
Baik, kau dan kamera bodohmu itulah masalahnya.
- Kenapa kau ini? - Tinggalkan saja aku.
Maukah kau berhenti membuntutiku dengan kamera itu!
Aku berusaha pecahkan masalahnya. Bukan aku yang bawa dia ke rumah ini.
Kau yang membawanya!
Terima kasih, Micah. Terima kasih banyak.
Habiskanlah waktu dengan temanmu di atas. Aku ada di bawah sini.
- Diamlah! - Terserah saja.
Hei.
- Maafkan aku. - Kau tak berbuat salah.
Kau tak berbuat salah.
Ini bukan salahmu. Dengarkan aku, ini bukan salahmu.
Kau tidak melakukan hal yang salah.
Kau mengerti?
-- Malam Ke 20 -- 7 Oktober 2006
Micah. Micah! Micah!
Micah! Micah!
- Katie! - Micah!
Lepaskan dia!
Micah! Micah!
Micah, suruh dia berhenti!
Aku tak peduli, aku cuma ingin pergi. Aku cuma ingin pergi.
Aku tak bisa berada disini. Tidak bisa.
Kita pergi saja. Kumohon, mari kita pergi.
Mari kita pergi saja sekarang. Mari ke mobil dan pergi.
Baiklah, kita pergi. Aku akan cari hotel untuk kita.
Kita akan menetap disana malam ini, hingga tahu apa yang akan kita lakukan.
Kita takkan disini sampai besok malam.
Izinkan aku melihat apa yang dibuat mahluk itu di punggungmu.
Paham? Tak apa?
Ya Tuhan!
- Maaf. Seperti ada yang menggigitmu! - Aku tahu.
Ayo kita pergi.
Hei. Sayang, kau siap pergi?
Mobil sudah siap. Ayo kita pergi. Sayang?
Sayang, hei!
Sayang. Lepaskan benda ini. Lepaskan.
Astaga!
Sayang? Ya Tuhan!
Hei. Katie, bangun.
Ya Tuhan.
Aku sudah tidak tahan dengan ini!
Sayang! Ayo, kita pergi.
Bangunlah. Ayo!
Mari kita ke sofa.
Ayolah.
Aku sudah tidak tahan dengan ini.
Aku akan membereskannya sekarang juga!
Persetan dengan ini, aku sudah muak!
Katie.
Siap untuk pergi? Mari kita pergi dari sini.
Sayang?
Sudah kupersiapkan mobilnya. Mari kita pergi.
Aku tak mau pergi.
Kau bicara apa? Kau tak mau pergi?
Mari kita keluar dari rumah ini, sekarang!
Aku tak mau pergi. Maukah kau tetap tinggal bersamaku?
- Apa yang kau bicarakan? - Kupikir sebaiknya kita tetap tinggal.
Kumohon. Hanya saja...
Aku tak mau pergi. Percaya saja padaku.
Kau mau tetap disini dan tidur di ranjang sialan ini...
Lalu diseret di sepanjang lorong itu? Kurasa tidak.
Kita akan baik-baik saja. Lebih baik jika kita tetap tinggal.
Kau sungguh...
Entah apa yang terjadi, tapi ini gila.
Sial!
Kurasa kita akan baik-baik saja.
-- Malam Ke 21 -- 8 Oktober 2006
- Micah, Micah! - Katie!
Ada apa, Sayang?
Apa-apaan ini?
Jasad Micah ditemukan polisi pada tanggal 11 Oktober 2006.
Keberadaan Katie masih belum diketahui.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.