Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
MARKAS BESAR F.B.I DALLAS, TEXAS, 10:25 MALAM
Apa yang dilakukan ambulans di luar sana?
Entahlah. Aku akan memeriksanya.
- Selamat sore, Pak. - Apa kabar, Griff?
Aku baik.
- Itu orangnya? - Ya.
Mungkin hanya seorang pecandu, tapi kupikir sebaiknya aku memanggilmu.
- Dia menanyakan namaku? - Tidak.
Dia hanya minta bertemu dengan agen yang menangani kasus Tangan Tuhan.
Katanya dia punya informasi penting.
- Dia bilang apa infonya? - Tidak.
Katanya dia hanya ingin bicara denganmu.
Kau agen yang memimpin kasus Tangan Tuhan?
Benar. Wesley Doyle.
Ini fotomu dan ibumu, kan?
Aku akan sangat menghargai jika kau tidak mengambil sesuatu di mejaku.
Aku minta maaf sudah lancang.
Mungkin karena terlalu lama berada di sini.
Sudah melihat semua plakat dan catatan prestasimu.
Tak mau melihat foto-foto itu.
Jadi, apa yang bisa aku bantu, Tuan...
Meiks. Namaku Fenton Meiks.
Dengar, mungkin ini terdengar sedikit gila, tapi...
Aku tahu siapa pelaku pembunuhan kasus Tangan Tuhan.
Oke, aku dengar.
Siapa?
Kau belum mendengarkan penjelasanku tapi sudah meragukanku.
Kenapa begitu?
Karena dalam sebuah kasus seperti ini
tidak ada yang tiba-tiba saja masuk dan memberitahu siapa pembunuhnya.
Tidak pernah terjadi semudah ini.
Terkadang kebenaran mengesampingkan alasan, Agen Doyle.
Ya.
Lalu siapa pembunuhnya?
Adikku.
Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?
Aku mendapat telepon darinya.
Kemarin malam.
Aku bertanya-tanya ke mana saja dia, karena aku mulai cemas.
Apakah itu kau, Sayangku? Ada apa?
Halo?
- Halo? - Iblis sedang mengambil alih dunia.
Aku akan pergi berbulan madu...
Adam?
Aku tidak bisa melenyapkan mereka semua.
Mereka ada di mana-mana. Aku tidak tahan lagi.
Mari kita bicarakan masalah ini, Adam.
Tak ada lagi yang bisa dibicarakan. Semuanya sudah berakhir.
Apa pun yang terjadi, kau harus membawaku ke Rose Garden.
Kau sudah berjanji. Ingat?
- Tenanglah, dengarkan, Adam. - Ingat?
Ingat, kau sudah berjanji.
Kita akan menemukannya. Ayo, ayo. Pergi cari anjingmu. Cepat.
Meiks?
Di situlah semua ini terjadi.
Sekitar 200 mil ke barat dari sini, sebelah utara Abilene.
Kenapa kau ingin pergi Thurman?
Untuk mengubur Adam di pemakaman Rose Garden.
Kenapa kau ingin melakukan itu?
Beberapa waktu yang lalu aku sudah berjanji akan melakukannya.
Itu cerita yang sedikit gila, Tn. Meiks.
Aku tidak melihat apa hubungannya cerita ini dengan kasusku.
Adam adalah pembunuh dalam kasus Tangan Tuhan, Agen Doyle.
Dia orang yang kau cari.
Apakah dia memberitahu hal itu sebelum dia
memintamu untuk membawanya ke Thurman?
Jika itu yang terjadi, kau telah meninggalkan bagian itu.
Aku belum selesai.
- Oh, masih ada lagi? - Masih banyak.
Tunggu sebentar.
Kantor Sherif Meat.
Bisa aku bicara dengan Sherif?
Ini Agen Wesley Doyle dari FBI.
Sekarang Sherif Meat tidak ada. Bisa aku bantu?
Ada seorang pria di kantorku sekarang, namanya Fenton Meiks.
Fenton Meiks? Apa yang dia lakukan di sana?
- Kau mengenalnya? - Ya.
Dia menyebabkan sedikit keributan di sini sebelumnya.
Dia mencuri sebuah ambulans yang berisi mayat adiknya.
Apa ceritaku cocok?
Ya.
Apakah sekarang aku ditahan?
Seharusnya begitu.
Rupanya Sherif bersedia untuk memaafkan dan melupakannya
asal kau mau mengembalikan ambulansnya.
Tak ada seorang pun yang ingin menuntut.
Karena itulah kau menyukai kota kecil.
Mengapa kau membuat keributan semacam itu,
lalu tiba-tiba saja masuk ke sini dan membuat pengakuan kepadaku?
Aku ke sini karena aku tak bisa hidup dengan peristiwa yang aku ketahui.
Apa tepatnya yang kau ketahui?
Itu foto ibumu, kan?
- Ya. - Aku tahu itu.
Kalian punya mata yang mirip.
Bagaimana kalau kita kembali ke ceritamu lagi?
Apa yang membuatmu berpikir bahwa adikmu pelaku pembunuhan
dalam kasus Tangan Tuhan?
Aku memang tahu di pelakunya.
Bagaimana kau tahu?
Kisahnya dimulai dari Thurman.
Waktu itu sekitar musim panas 1979.
Aku merasa gembira, gembira. Dalam hatiku.
Kau seharusnya mengucapkan kata "di mana".
Aku tak mau menyanyikan lagu bodoh itu.
Kau tak perlu menyanyikannya. Ucapkan saja kata "di mana".
Baiklah. Di mana?
Bukan sekarang. Aku akan menunjukmu jika sudah waktunya.
Aku merasa gembira, gembira. Dalam hatiku.
- Di mana? - Dalam hatiku.
- Di mana? - Dalam hatiku.
Aku merasa gembira, gembira. Dalam hatiku. Untuk menetap.
Dan jika iblis tak menyukainya Dia boleh duduk di atas tack.
Duduk di atas tack.
Duduk di atas tack.
Dan jika iblis tak menyukainya Dia boleh duduk di atas tack.
Jadi siapa gadis yang muntah?
Oh, itu Katie Hagen. Meski begitu dia cantik.
- Tapi tetap saja itu sangat menjijikkan. - Oh, ya.
Di seluruh lantai. Dan saat Kepala Sekolah jatuh?
Aku merasa gembira, gembira...
Kami tinggal tepat di belakang Rose Garden di Thurman
di rumah yang biasa digunakan untuk menampung tukang kebun di tahun 50an.
Ayah mendapatkan rumah ini ketika dia masih menikah dengan ibu.
Insiden tak terduga itulah yang menciptakan saat-saat membahayakan.
Tali yang mengikat aligator tiba-tiba lepas.
Adam 3 tahun lebih muda dariku.
Ibu meninggal ketika melahirkan Adam
jadi bisa dibilang aku yang merawatnya semenjak yang kuingat.
Ayah kami bekerja sebagai montir di Jupiter.
Dia biasanya pulang sekitar jam setengah enam sore
dan kemudian kami makan malam bersama.
- Hei, anak-anak. - Hei, Ayah.
Baunya harum sekali.
- Bagaimana harimu? - Baik.
Ayo makan.
Wow, Tiger. Sisakan untuk kami.
- Aku sangat suka kacang polong. - Sudah seharusnya.
Meski begitu kau sebaiknya berhati-hati. kau bisa saja berubah menjadi salah satunya.
Bagaimana dengan ujian Matematika-nya?
Akhirnya lulus.
Aku juga tidak pernah bagus dalam Matematika.
Aku tetap tak bisa melakukan apa-apa tanpa kalkulator.
Ya, Tapi masih akan ada ujian lain minggu depan.
- Yang satu itu pasti akan lebih sulit. - Hei, jangan murung begitu.
Begini saja.
Kita akan belajar bersama akhir minggu ini
siapa tahu kita bisa memecahkan masalahnya bersama, oke?
Baiklah.
Hei, Fenton, bisakah kita nonton Meatballs sepulang sekolah besok?
Tapi kita sudah nonton.
Aku ingin nonton lagi.
Tidak, kita akan menonton The Warriors.
- Tidak bisa. Itu film dewasa. - Kita akan mengendap-endap masuk.
Sudah gosok gigi?
Kau yakin, Adam?
Baiklah, waktunya tes napas.
Ayah, aku sudah gosok gigi.
Aku cuma bercanda.
Jangan cemas, Fenton.
Aku tahu kau terlalu besar untuk ciuman selamat malam.
Selamat malam, anak-anak. Tidur yang nyenyak.
Jangan biarkan kutu busuk menggigitmu.
Tentu saja.
- Aku sayang kalian. - Aku juga, Ayah.
Selamat malam, Ayah.
Selamat malam, Curtis.
- Aku ingin nonton Meatballs lagi. - Baiklah.
Kau bisa nonton Meatballs dan aku akan nonton The Warriors.
Tapi aku tidak suka nonton di bioskop sendirian.
Sayang sekali.
Kumohon?
Baiklah.
Baiklah. Tidurlah.
Dan itulah keluarga kami.
Hanya kami bertiga.
Semua saudara ibu dan ayah sudah meninggal
jadi tak ada yang tersisa kecuali kami.
Kami tak keberatan.
Kami tidak membutuhkan siapa pun lagi.
Kami bahagia bersama.
Sampai...
- Fenton, bangun. - Ayah?
- Ada yang harus aku katakan. - Ada apa?
Tenang saja.
Adam, bangun dan dengar.
Aku ingin kalian berdua mendengarku baik-baik.
Sesuatu telah terjadi.
Dia bilang dia mendapatkan sebuah penglihatan malam itu.
Sebuah perintah dari Tuhan.
Seorang malaikat datang padanya dan mengatakan kebenaran tentang dunia ini
dan menyampaikan perintah khusus dari Tuhan untuk keluarga kami.
Kiamat akan tiba. Waktunya sudah dekat.
Malaikat telah menunjukkannya padaku.
Ada iblis di antara kita.
Iblis telah dilepaskan untuk pertarungan terakhir.
Sudah terjadi pertarungan, sekarang.
Tapi tak ada yang tahu kecuali kita dan orang-orang terpilih seperti kita.
Aku takut, Ayah.
Tak ada yang perlu ditakutkan, Tiger.
Kita sudah dipilih oleh Tuhan. Dia akan melindungi kita.
Dia telah memberikan tugas khusus untuk kita laksanakan.
Kita tidak takut pada iblis-iblis itu. Kita akan menghancurkan mereka.
Kita akan menangkap mereka satu persatu
dan melemparkan mereka semua keluar dari dunia ini.
Itu perintah Tuhan untuk kita.
Malaikat menyebut kita Tangan-tangan Tuhan.
Jadi kita seperti pahlawan super?
Benar.
Kita adalah keluarga pahlawan super yang akan menyelamatkan dunia.
Tapi Ayah, hal itu tidak masuk akal.
Aku tahu kedengarannya seperti itu, nak, tapi itu kenyataannya.
Jadi, apa kekuatan super kita?
Yah...
Kita bisa melihat iblis sementara orang lain tidak.
Dan malaikat berkata padaku bahwa Tuhan akan mengirimkan kita
tiga senjata untuk menghancurkan mereka.
Senjata ajaib?
Aku pikir begitu.
Kapan kita akan mendapatkannya?
Aku tidak tahu. Malaikat hanya bilang segera.
Itu semua yang dia katakan padaku, kecuali bahwa
kita tak boleh memberi tahu orang lain tentang ini.
Tidak seorang pun.
Jika kita lakukan, itu akan membuat kita dan mereka dalam bahaya.
Fenton...
Jangan cemas, aku mengerti.
Hal ini harus benar-benar dimengerti.
Sebenarnya aku ingin memberitahumu hingga aku dapat memahaminya
tapi malaikat bilang aku harus melakukannya sekarang.
Fenton?
Aku tidak tahu apa yang mesti dikatakan atau dirasakan.
Kau mengerti yang aku ceritakan?
Hari kiamat tiba.
Hal ini terlalu sulit untuk dimengerti atau bahkan untuk diakui.
Segera kita semua akan berada di surga.
Kau, aku, Adam, dengan Ibu.
Aku tidak menyadarinya saat itu, setidaknya tidak mengerti...
Dia sedang menunggu di surga.
Namun duniaku yang bahagia dan paling nyaman telah terbalik
dan ada kegelapan di dalamnya.
- Hari Kiamat tiba. - Sesuatu yang sangat gelap.
Kita sudah dipilih oleh Tuhan.
Dan pikiran kanak-kanakku tak bisa memahaminya.
Adam! Fenton!
Bangun dan ayo makan, anak-anak!
Pagi, anak-anak.
Hei, ayo, pemalas. Sudah siang. Kita ketiduran.
Ayo berangkat. Cepat pakai baju. Aku harus pergi bekerja.
Aku akan menurunkan kalian di jalan.
Ada apa denganmu?
Tidak ada.
Hei, aku ingin mencicipi sedikit.
Tak ada di antara kita yang membahasnya.
Itu hanya mimpi, mimpi buruk.
Hal itu tidak mungkin nyata.
Segalanya berjalan lancar, seperti sebelumnya.
Selamat bersenang-senang di sekolah, anak-anak.
Dan ingat jangan memberitahu orang lain apa yang kubilang semalam.
Tidak akan, Ayah. Daah.
Aku ingin kalian semua menyalin kalimat ini.
Kita akan membahas strukturnya. Gadis yang memakai
gaun biru.
Aku menolak untuk mempercayainya.
Minggu-minggu berikutnya masih juga berupa mimpi-mimpi yang sama.
Anjing coklat miliknya.
Seperti saat Ayah mulai membawa pulang senjata ajaibnya.
Dia dalam perjalanan ke tempat kerjanya
ketika Tuhan memanggilnya.
Pegang ini. Hati-hati.
Aku masih tidak mengerti untuk apa sarung tangan itu.
Hanya sebuah mimpi yang panjang.
Aku ingin kalian menulis ini di atas halamanmu dengan huruf besar.
Bagaimana dengan titik yang ada di sana?
Anak-anak! Lihat ini.
Ayo, cepatlah.
Hati-hati.
Dan diamlah di tempat aku bisa melihatmu, sayangku.
- Ayo pergi ke sebelah sini. - Kau bawa alatnya.
Kita sudah mendapatkan semuanya.
Tidak akan lama lagi sekarang.
Malaikat datang lagi semalam dan berkata
bahwa Tuhan akan segera mengirimkan daftar nama tujuh setan kepada kita.
Ini tidak nyata. Tidak mungkin.
Aku harus menunggunya.
- Kemarilah sebentar, Fenton. - Aku sedang mencuci piring.
Cucian bisa menunggu.
Kemarilah, aku ingin bicara denganmu.
Aku tahu kau kesulitan untuk
menyesuaikan diri dengan hal-hal yang terjadi minggu ini,
dan aku minta maaf.
Tapi Tuhan-lah yang menginginkan hal ini dan kita harus mematuhi-Nya.
Mungkin ini hanya mimpimu.
Ini bukan mimpiku.
Aku tak mungkin mengarang hal semacam itu, nak.
Mungkin...
Mungkin ada sesuatu yang salah dalam otakmu.
Ini memang terjadi, Fenton. Benar.
Kau akan mengerti nanti.
Hanya itu saja yang ingin aku bicarakan.
Aku mendapat daftar nama yang pertama.
Malaikat mendatanginya saat dia sedang bekerja.
Joe di jendela pertama. Joe di jendela pertama.
Ayah, ini nama orang-orang.
Memang, mereka terlihat seperti manusia, tapi sebenarnya bukan.
Malaikat berkata, "Saat nanti aku meletakkan tanganku pada mereka
maka aku akan mengungkapkan siapa sebenarnya mereka"
Itulah gunanya sarung tangan.
Aku tangkap mereka dan membawanya ke sini dengan menggunakan sarung tangan
dan saat sudah di sini, kulepas sarung tangannya
untuk menyingkap siapa mereka sesungguhnya.
Lihat saja. Nanti kau akan percaya.
Adakah yang tahu arti kata ini? Apa kalian ingat arti kata ini?
Mimpinya akhirnya berakhir.
Semua itu memang nyata.
Dan aku harus menghentikannya.
Jelas sekali bahwa jawabannya adalah mengadukan rencana ayah pada seseorang
tapi aku tak bisa melakukannya.
Aku sayang padanya, meskipun dia jadi gila.
Ayah, lihat. Aku mendapat daftar juga.
Dari mana kau mendapatkan ini, Adam?
Tuhan memberikannya padaku.
Bukankah Travis Shed adalah anak yang suka mengejekmu ngobrol di sekolah?
Dia iblis.
Katakan yang sebenarnya, Adam.
Kau yang membuat daftar ini kan?
- Tidak, Tuhan yang melakukannya. - Adam.
Ayo. Kemari.
Dengarkan aku, nak.
Kau tak boleh mengarang hal-hal seperti itu
Kita melenyapkan setan. Jika kita menggunakan daftarmu
kita tidak akan membasmi iblis, namun kita akan membunuh orang-orang.
Dan kita tak boleh melakukan hal itu.
Membasmi iblis adalah hal yang baik.
Membunuh orang itu jahat. Kau mengerti?
- Maafkan aku, Ayah. - Tidak apa-apa.
Tenang saja.
Kau hanya perlu sedikit bersabar.
Jangan khawatir.
Tuhan akan mengirimkan daftarmu sendiri kalau kau sudah besar.
Baiklah, kerjakan PR-mu.
Hal terakhir yang harus dilakukan adalah untuk memberitahu.
Tapi ternyata hal itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
Ayah sudah berjanji akan membawa kami ke bioskop malam itu.
Tapi dia tidak pulang setelah bekerja.
- Kapan Ayah pulang? - Aku tidak tahu.
Mungkinkah dia sedang membasmi iblis?
- Ini semua hanya rekayasa, Adam. - Tidak. Ini nyata.
Dengarkan aku. Iblis itu tidak nyata.
Ayah, dia hanya mengarang saja.
- Tidak, dia tak mungkin melakukannya. - Dia melakukannya.
Sama seperti Santa Claus.
Kau ingat Natal kemarin
ketika kau melihat Ayah menyimpan hadiah di bawah pohon, ingat kan?
Hal ini sama seperti itu.
Adam, pernahkah aku berbohong padamu?
Dengar, ayah sudah mengada-ada.
Nama-nama yang ada di daftar Ayah adalah nama orang.
- Kau mengerti? - Tapi kenapa ia mesti mengada-ada?
Entahlah.
Menurutku kita harus segera pergi.
Maksudmu kabur?
Maukah kau pergi denganku? Hanya untuk sementara waktu.
- Aku tidak mau meninggalkan Ayah. - Aku juga.
Tapi kita terpaksa.
Kenapa?
Ayah akan membunuh seseorang.
Nak, kemarilah.
Ayolah. Aku butuh bantuanmu.
Ayah?
Kemarilah ke sini, Adam.
Sorotkan cahayanya ke sini.
Hei, Ayah, siapa itu?
Itu iblis, nak.
Kemarilah, anak-anak. Tenang.
Ayo. Jangan takut.
Tuhan datang padanya di awal hari itu dan berkata waktunya telah tiba.
Selesai bekerja, dia pergi ke Jacksonville
sekitar 45 menit arah tenggara dari kota Thurman.
Dia bilang, dia tidak pernah ke sana sebelumnya
tapi dia tidak mendapat kesulitan untuk menemukannya.
Tuhan menuntunnya.
- Cynthia Harbridge? - Ya?
Ayah, jangan. Kumohon jangan.
Fenton, jika aku bisa menghindarinya, aku mau.
Tapi kita adalah pelayan Tuhan dan keinginan-Nya harus dipenuhi.
Jangan takut, anakku.
Apa itu benar?
Mengapa aku harus berbohong?
Di mana ayahmu sekarang?
Mati.
Tuan, aku akan patroli.
Atau mungkin kau ingin aku tinggal.
Tidak.
Tak masalah. Silakan pergi.
Kalau begitu, selamat malam, Tuan.
Jadi, dia membunuh wanita itu di depanmu?
Ya, tapi tidak demikian dengan apa yang dipikirkannya.
Karena menurutnya, dia tidak membunuh wanita itu
tapi dia sedang melenyapkan iblis.
Menurutnya, jika dia menyentuhkan tangannya pada wanita itu
maka akan terungkap dosa wanita itu.
Ayah, jangan! Aku mohon!
Tidak, Adam.
Lakukan seperti ini.
Harus dilakukan dengan cara tertentu.
Perintah Malaikat benar-benar jelas.
Kenapa harus dimakamkan di kebun mawar ini?
Tuhan yang menentukan, kurasa seperti dia memilih kita.
Jangan menangisinya, Fenton. Dia bukan manusia.
Tak bisakah kau melihatnya sewaktu aku menyentuhnya?
Aku bisa melihatnya, Ayah.
Kau sudah membunuhnya.
Aku tidak membunuh dia, anakku. Aku melenyapkannya. Dia iblis.
Kau tahu, awalnya aku tidak yakin kalau aku bisa melakukannya.
Maksudku, dia juga terlihat seperti manusia bagiku.
Tapi setelah aku menyentuhnya,
aku hanya bisa melihat setan di dalamnya.
Dan aku harus melakukannya.
Aku menyesal kalau kau tidak bisa melihatnya.
Kelak kau akan melihatnya.
Kau akan melakukannya lagi?
Ini menjadi tugas kita sekarang, anakku.
Kau harus menerimanya.
Aku tak akan membiarkanmu.
Kau tak bisa menghentikannya. Kita melakukan tugas Tuhan.
Aku akan cerita ke orang.
Kalau kau lakukan, seseorang akan mati. Malaikat jelas-jelas mengatakan itu.
Kau mengerti?
Jawab aku, Fenton. Kau mengerti?
Jadi, kau tidak jadi bilang?
Tidak. Seharusnya aku bilang tapi waktu itu aku takut.
Maksudku, aku sayang ayahku tapi aku takut padanya.
Kini kau paham bagaimana aku tahu bahwa adikku
adalah pembunuh dalam kasus Tangan Tuhan?
Apa kau punya bukti fisik?
Aku baca di koran,
baru satu mayat dari 6 korban yang telah ditemukan.
Benarkah itu?
Kau pasti membacanya di koran kan?
Tidaklah penting jika itu memang benar.
Tapi untuk kasus ini, hal itu memang penting.
Korban pertama ditemukan dimutilasi
dengan sebuah catatan bahwa tangan Tuhanlah yang telah merenggutnya.
Tapi sisanya, hanya catatan yang ditemukan. Tak ada mayat.
Lalu bagaimana kau tahu mereka sudah mati?
Sebenarnya kami juga tak terlalu yakin.
Tapi catatan pertama mengatakan untuk selanjutnya
kami tidak akan menemukan mayat lagi.
Dikatakan
jika dia ingin menyimpannya.
Sepertinya aku tahu di mana mayat-mayat lain disimpan.
Kebun mawar.
Lalu kenapa kau tidak bilang dari tadi?
Akankah kau mempercayaiku?
Ayo.
Ini.
Apa ini?
Pakailah.
Atau aku yang akan memakaikannya.
Ayo.
Biar aku saja.
Katakan padaku.
Mengapa kau tidak menemuiku lebih cepat?
Kau harus pergi ke timur dari sini.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau bisa
menjaga rahasia seperti itu begitu lama.
Aku rasa aku menghindarinya.
Karena aku menginginkannya.
Kau tidak pernah bilang mengapa
kau hanya menyimpan satu foto ibumu yang ada di kantormu itu.
Ibuku meninggal beberapa hari setelah foto itu diambil.
Dibunuh oleh orang segila ayahmu.
Apakah mereka menangkap pelakunya?
Tidak.
Karena itulah kau mengambil tugas ini?
Kau tahu, terkaanmu cukup bagus.
Apa kau pernah berpikir untuk menjadi polisi?
Sewaktu aku kecil.
Kau punya insting yang baik.
Seorang polisi harus memiliki insting yang bagus.
Kau tahu instingku sekarang mengatakan apa padaku?
Kau menyembunyikan sesuatu dariku.
Menurutmu apa yang aku sembunyikan?
Bagaimana kalau kau terus saja bercerita?
Mungkin aku akan mengetahuinya.
Kau baik-baik saja, ayah?
Aku baik-baik saja, anakku. Aku datang.
Ayah, mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi padaku?
Jangan salahkan Tuhan, Davy. Ini bukan salah-Nya.
Tuhan membiarkanku melakukan ini.
Apa yang Tuhan inginkan adalah kau memutuskan
apa yang kau lakukan untukmu sendiri.
Kau bukanlah sebuah boneka dengan tali, kan?
Bukan.
Jadi, Tuhan tidak membuatmu melakukan sesuatu.
Dia ingin kau yang menentukan...
Setelah malam itu, tak banyak yang terjadi.
Ayah tidak mengungkit-ungkitnya lagi. Begitu juga Adam.
Satu bulan penuh telah berlalu
akhirnya aku meyakinkan diriku kalau semuanya telah berakhir
dan semuanya akan baik-baik saja.
- Daah. - Sampai ketemu lagi.
- Sampai ketemu. - Kau nonton Dukes of Hazzard semalam?
Ingat saat Daisy Duke jatuh terjengkang?
Aku suka Boss Hog. Dia lucu.
Aku akan melakukan apa saja untuk melihat payudaranya.
- Oh, kau bilang payudara- - Diamlah, Adam.
Kau mau menginap malam ini? Kita bisa mengerjai rumah Corey.
Tentu, tapi aku akan tanya ayah dulu.
Ibuku bisa saja menelepon dan memintakan ijin kalau kau mau.
- Tentu. - Sampai ketemu lagi nanti.
- Daah. - Hei, apa maksudnya "mengerjai"?
Aku beri tahu nanti. Ayo, kita balapan.
Ayo.
Tidak, aku akan memutar lewat jalan.
- Ayah? - Di sini.
- Van milik siapa itu? - Milik kita.
Bukankah dia cantik?
Ibu temanmu baru saja menelepon. Aku bilang jangan malam ini.
Ada yang harus kita kerjakan pagi-pagi.
Ayah bilang ada saat-saat di kehidupan seseorang
saat di mana mereka bisa menghilang
tanpa seorang pun tahu ke mana atau mengapa.
Dia bilang itu adalah ada saat-saat
di mana Tangan-tangan Tuhan menggapai dan meraihmu.
Menurut Ayah, tak apa pun yang dapat melihat meskipun kamera sekalipun.
Kita tidak tampak saat kita berada dalam genggaman Tangan Tuhan.
Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ayah?
Menunggu.
Kita akan menangkapnya ketika dia keluar seperti
yang aku katakan padamu, ingat?
Fenton?
Aku tidak bisa melakukan ini, Ayah.
"Tidak bisa" takkan menyelesaikan masalah.
Aku bisa melakukannya, Ayah.
Tentu saja kau bisa, Tiger.
Bagaimana kalau seseorang melihat kita?
Tidak akan.
Tapi ini siang bolong!
Aku sudah bilang Tuhan akan membuat orang lain tak bisa melihat kita.
Itu dia, anak-anak.
- Ayo, Fenton. - Ayah, aku tidak bisa.
Ya, kau bisa. Sekarang, lakukanlah.
Lakukan apa yang aku katakan.
Aku mohon, Trixie.
Trixie, ayolah. Kemari, Trixie.
- Trixie, ayolah. - Apa yang kau lakukan, nak?
Anjingku. Dia di bawah mobilmu.
Ayo, kita lihat.
Bantu aku memegang kakinya.
Bantu aku memegang kakinya. Sekarang!
Ayo!
Edward March?
Kau pikir dia pria tak berdosa, bukan?
Kau salah.
Kau pikir tak ada yang mengetahui perbuatanmu, bukan?
Tapi Tuhan melihatmu.
- Ayah, jangan. Aku mohon. - Diam.
Dan kau tak bisa menghindari amarah Tuhan.
Aku tak percaya kau masih belum bisa melihatnya.
Dia seorang pembunuh anak-anak, Fenton.
Anak-anak kecil.
Anak-anak kecil.
Dia seorang pembunuh.
Kita harus pergi dari sini, Adam.
- Apa maksudmu? - Kita harus kabur.
Sudah aku bilang kita harus kabur.
Aku tidak mau kabur.
Kita harus melakukannya.
Mengapa?
Dengarkan aku, Adam.
- Ayah membunuh orang-orang. - Tidak, dia tidak melakukannya.
Dia pembasmi iblis.
Itu semua bohong, Adam.
Tentu saja tidak. Aku melihatnya sewaktu dia menyentuh mereka.
Tidak. Ayah sudah mencuci otakmu. Ini semua bohong belaka.
Dia seorang pembunuh dan kau membantunya.
Tidak. Kami hanya melaksanakan perintah Tuhan.
- Aku akan mengadukanmu pada Ayah. - Adam.
Adam! Adam!
Bangun dan cepat berpakaian.
Dan jangan bangunkan adikmu.
Duduklah.
Adikmu menceritakan apa yang kau katakan semalam.
Aku ingin kau tahu, aku tidak pernah membunuh sepanjang hidupku.
Itu bohong dan kau tahu itu.
Aku banyak berpikir dan berdoa setelah kau pergi tidur.
Aku meminta malaikat untuk mengunjungimu.
Tapi dia malah mengunjungiku.
Dia mengatakan sesuatu padaku
tapi aku tak percaya.
Apa?
Tak penting.
Karena bersama-sama, aku dan kau,
kita akan buktikan kalau malaikat itu salah.
Kau hanya tidak memiliki keyakinan.
Itulah kenapa kau tidak bisa melihat kebenarannya.
Tapi kita akan mengubah hal itu.
Aku ingin kau menggali sebuah lubang di sini.
Gali sedalam 10 kaki, dengan lebar 15 kaki pada kedua sisi.
Panjang dan lebarnya harus membentuk persegi yang sempurna.
- Apa? - Kau mendengarku.
Kenapa?
Karena aku adalah ayahmu dan kau lakukan apa yang aku katakan.
Kau mengerti?
Mengerti?
- Ya, Tuan. - Baiklah kalau begitu.
Aku mengharapkan sebagian galianmu selesai sepulangku bekerja malam ini.
- Ayah, aku tak bisa melakukan itu. - Berdoalah.
Aku mulai menggali lubang sialan itu, tapi aku tidak berdoa.
Tidak akan.
Aku benci Tuhan. Aku menghinakan Dia.
Kebencianku membantuku untuk terus menggali.
Rencana ayah, atau Tuhan, atau malaikat atau siapa pun
tidak akan berhasil padaku.
Hei, Fenton.
Aku tahu yang dilakukan Ayah adalah salah
dan tak ada yang bisa membantahnya.
Fenton?
Aku minta maaf sudah mengadukanmu.
Kau tidak bilang padanya tentang rencana kita untuk kabur, kan?
- Tidak. - Maukah kau pergi denganku?
- Tak ada alasan untuk pergi. - Dia seorang pembunuh.
Tentu saja bukan.
Aku selalu berdoa untukmu.
- Sudahkah kau berdoa? - Tidak, aku tidak akan melakukannya.
- Tapi Ayah bilang... - Aku tak peduli apa yang Ayah katakan.
Dia mungkin saja bisa memaksaku menggali lubang sialan ini
tapi dia tidak bisa memaksaku berdoa.
Pergi saja dari sini dan biarkan aku sendiri.
Aku akan membantu kalau kau berjanji tidak akan bilang pada ayah.
Aku tidak menginginkan bantuanmu.
- Ada sekop di gudang. - Pergi dari sini.
Sialan.
Aku ingin kabur, sejauh mungkin
tapi aku tetap tidak bisa meninggalkan Adam
tak peduli segila apa Ayah telah mengubahnya.
Lagi pula, tak ada tempat yang bisa dituju.
Baiklah, kali ini kau tidak...
Kali ini, aku akan membuatkanmu jalur.
Baiklah, 21, 36...
- Akhirnya menyerah juga, Nak? - Aku tidak menyerah.
- Aku akan ke sana lagi pagi-pagi. - Hei, ayolah.
Aku tak bermaksud seperti itu.
Aku tak mau bertengkar denganmu, Nak.
Aku tidak melakukan ini untuk menyakitimu,
kuharap kau dapat memahaminya.
- Ada apa denganmu? - Tidak ada.
- Coba aku lihat tanganmu. - Tanganku baik-baik saja.
Coba aku lihat.
Kau tidak memakai sarung tangan?
Aku tidak membutuhkannya. Aku baik-baik saja.
Ini.
Membantu mengurangi rasa sakit.
Aku bilang aku baik-baik saja.
Aku tahu kau marah, tapi itu bukan alasan untuk membuatmu terluka.
Sekarang ambil itu.
Aku punya sepasang sarung tangan ekstra di gudang.
Aku ingin kau memakainya mulai sekarang.
Takkan mengobati tanganmu yang sudah terluka
tapi dalam beberapa hari, tanganmu akan sembuh.
Aku ingin kau tahu, aku bangga padamu.
Dan aku tahu Tuhan juga bangga padamu.
Beristirahatlah dan biarkan lukanya sembuh.
lalu kau bisa kembali mengerjakannya, ok?
Selamat malam.
Ayo, Tiger. Saatnya tidur.
Tapi Fenton masih terjaga. Aku mohon, Ayah?
Ayo.
Gosok gigimu. Aku akan ke kamarmu untuk mengucapkan selamat malam.
Aku tetap menggali.
Tanganku berdarah tapi aku tidak akan berhenti.
Aku tetap menggali di pagi hari, siang, malam selama 5 hari.
Dan di hari yang ke-6, lubangnya sudah dalam dan gelap
seperti kebencianku pada Tuhan yang dipuja Ayah.
Kau sudah menyelesaikannya ya.
Kau pasti tidak berdoa sama sekali, benar kan?
Tidak.
Kami lalu membangun gudang bawah tanah sesudahnya.
Setidaknya, itu yang dibilang ayah.
Tapi aku lebih tahu.
Kami membangun ruang penyiksaan.
Sebenarnya kami hanya membuat sebuah kotak besar dari kayu di bawah tanah.
Bagus, anak-anak. Tutupi dengan tanah. Tutupi dengan baik.
Tapi Ayah bilang bangunannya akan kuat.
Oke, siap? Baiklah, bagus.
Dia bilang semua karena kuasa Tuhan.
Adam, kembali ke sini! Bantu aku mendorong!
Ayo, terus. Dorong.
Ayo! Ayo, terus dorong! Terus dorong!
Kalian melakukannya dengan baik.
Terutama kau, Fenton.
Tidak. Aku melakukan yang diperintahkan.
Bagaimana kalau kita coba ini. Bagaimana menurutmu?
Baiklah.
Malam selanjutnya, dia membawa pulang iblis lainnya.
Di bawah sini.
Ini harus segera dituntaskan. Ini kehendak Tuhan.
Ayo, lakukan seperti yang aku tunjukkan. Leher dahulu.
Fenton!
Fenton, kembali ke sini!
Nak!
Fenton!
Aku setengah berharap malaikat dan Tuhan itu sendiri
datang dan menghentikanku malam itu.
Tapi aku harus melakukannya.
Ini harus berakhir.
- Halo? - Panggilan ke semua unit...
...di sekitar Taman.
Kami mendapat laporan bahwa mobil nomor pelat 501 mengemudi melawan arus.
Halo? Halo?
Tenang, nak.
Jangan rusakkan pintuku.
Apa masalahmu?
Hal tergila yang pernah aku dengar selama ini.
- Apa yang kau lakukan? - Telepon ayahmu.
- Kau tidak bisa. - Ya, aku bisa.
Seharusnya kau malu mengarang cerita seperti itu.
Tapi itu benar. Aku akan menunjukkannya padamu.
Ayo. Kita pergi
Baiklah.
Kira-kira di belakang, di bawah gudang.
Cukup, nak.
- Ini harus berakhir. Ayolah. - Tidak, tidak, tidak.
Aku pikir kau tidak mengerti. Dia ada di belakang.
Ayo kita lihat apa yang ayahmu lakukan soal ini.
Ada masalah apa, Sherif?
Maaf membangunkanmu, tapi sepertinya anakmu punya masalah.
Masuklah.
Tadinya aku akan mengunci pintu, lalu berangkat menuju Danau Thompson.
Tahu kan, untuk berenang.
Lalu dia menyerobot masuk dengan cerita yang aneh.
Ya, seperti dongeng.
Ini benar dan kau tahu itu.
Membuatku gila memikirkan
dia memberitahu semua orang di kantormu juga.
Tenang saja.
Hanya ada aku di sana.
Tentu saja, aku tidak percaya sama sekali.
Yang tidak aku pahami, mengapa dia mengarang cerita seperti itu?
Aku tidak tahu mengapa.
Mungkin dia melakukannya untuk membalasku
karena aku menghukumnya tadi.
- Apa kau mengatakan padanya soal itu? - Dia bohong.
Periksa saja gudangnya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padanya.
Begitulah, begitu mereka pubertas, mereka sudah tidak menghormatimu.
Aku dan anakku bertahan. kau juga akan berhasil.
Periksa saja gudangnya
atau kebun mawar. Aku bisa menunjukkan di mana mereka dikubur.
Bocah, bagaimana kalau kau menghentikan omong kosong ini?
Aku mohon, aku bisa menunjukkannya padamu.
Mungkin kita sebaiknya memeriksa gudangnya agar anak ini bisa diam.
Kalau kau merasa itu perlu dilakukan, maka silakan saja.
Bagaimana menurutmu, Nak?
Apakah itu perlu?
Lihat.
Itu ruang tempat kami berlindung dari badai.
Silakan masuk ke dalam dan periksalah.
Hati-hati langkahmu. Aku bukan tukang kayu andal.
Aku tidak melihat apa pun.
Dia tadi di sini.
Nak?
Apa kau sadar akan banyak masalah yang bisa kau dapat dari semua ini?
Mereka pasti memindahkannya karena tadinya dia di sini.
Adam. Adam pasti memindahkannya. Aku tahu itu.
- Rasanya sudah cukup. - Tapi...
Aku bisa menunjukkan tempat mayat-mayatnya dikuburkan.
Aku mohon. Kau harus mempercayaiku.
Semoga Tuhan menyambutmu
dan menjagamu.
Aku belum pernah membunuh manusia sebelum malam ini.
Aku sudah banyak melihatmu membunuh manusia.
Yang sebelumnya itu iblis.
Tapi tadi itu manusia. Mengapa kau tidak bisa melihatnya?
Kau tidak harus membunuhnya.
- Aku harus melindungi misi kita. - Tidak ada misi.
Pria itu mati karenamu.
Apa kau melihatnya? Lihat dia.
Mati karena kau tidak memiliki iman.
Mengertikah kau apa akibat perbuatanmu?
Kau membuatku terpaksa membunuh.
Aku tidak memaksamu melakukan apa pun.
Karena kau memang suka melakukannya. Kau gila
Ayah, jangan! Ayah, Jangan!
Tidak apa-apa, Ayah. Jangan menangis.
Tunggu sebentar, Fenton.
Masuklah ke rumah, Nak.
Aku akan menyusul sebentar lagi.
Masuklah. Tidak apa-apa.
Masuk.
Masuklah ke dalam gudang.
Masuk dan tutup pintunya.
Kau takut?
- Takut apa? - Kau.
Hanya iblis yang harus takut padaku.
Dan kau bukanlah iblis, kan?
Tapi malaikat bilang kau adalah iblis.
Tapi aku tak bisa mempercayainya. Aku takkan mau.
Kau adalah anakku dan aku mencintaimu melebihi hidupku.
Kau tahu hal yang konyol, Fenton?
Aku sebenarnya takut padamu.
Masuklah.
- Tapi, Ayah... - Ayo, masuk ke sana.
Aku tidak mau melakukan ini, Fenton, tapi aku terpaksa.
Aku terpaksa membunuh seorang manusia malam ini.
Aku tak bisa membiarkannya lagi.
- Ayah, aku janji tidak akan bilang. - Aku tak bisa mempercayaimu.
Aku harap aku bisa.
Sekarang, masuklah.
Tapi, Ayah, aku minta maaf.
Aku juga, Fenton, tapi ini harus kulakukan.
Sekarang, masuklah atau aku sendiri yang akan memasukkanmu.
- Tapi, Ayah- - Masuk!
Tidak...
Jangan. Jangan.
Jangan.
Ayah, kumohon. Ayah. Ayah, jangan.
Kumohon.
Jangan. Kumohon, Ayah.
Kau akan diam di situ hingga kau bisa melihat kebenaran.
Kumohon, ayah. Jangan. Kumohon.
- Berdoalah pada Tuhan, Fenton. - Kumohon, Ayah, jangan.
- Berdoalah untuk mendapatkan penampakan. - Kumohon. Jangan.
- Sekarang hanya Dia yang bisa membantumu. - Tidak!
Kumohon jangan lakukan ini, Ayah. Jangan, kumohon
Kumohon, ini aku, Fenton.
Kumohon jangan lakukan ini!
Ini aku, Fenton. Aku bukan iblis, kumohon.
Kumohon.
Kumohon, jangan.
Kumohon. Kumohon, jangan lakukan ini.
Jangan! Jangan! Jangan!
Kumohon, Ayah.
Fenton?
Fenton.
Fenton, kau baik-baik saja?
Adam?
Adam, itu kau?
Adam.
Adam, kau harus mengeluarkanku dari sini.
Aku tidak bisa.
Tapi aku lapar dan aku harus ke kamar mandi.
Ayah tidak mengizinkanku memberimu makan.
Meski begitu, aku membawakanmu air.
Dia bilang kau boleh mendapat segelas setiap hari.
Tapi kalau bisa aku akan memberimu lebih.
Dengar, Adam. Dia akan membunuhku.
Kau harus mengeluarkanku dari sini.
Aku tidak bisa.
Letakan mulutmu di lubang sini.
- Kau siap? Ini. - Ya.
Kau mau lagi atau kau mau aku simpankan untuk nanti?
Lagi. Lagi.
Kau harus mengeluarkanku dari sini, Adam.
Ayah bilang kau mungkin akan keluar di akhir minggu.
Yang kau lakukan cukup dengan menerima perintah Tuhan.
Satu minggu? Aku tidak bisa tinggal selama itu.
Aku akan berdoa untukmu.
Adam? Adam! Adam!
Adam!
Adam! Adam!
Adam.
Hari-hari datang dan pergi.
Aku menghitung hari dengan cahaya yang masuk lewat celah pintu
dan kunjungan Adam dengan airnya.
Aku hanya tidur jika pingsan karena kehausan.
Bagaimana dengan ayahmu?
Tidakkah dia kembali sekedar memeriksa keadaanmu?
Di hari ke tujuh.
Sudahkah Tuhan bicara denganmu?
Tuhan tidak ada.
Hitungan hariku kacau setelah itu.
Rasanya sudah berminggu-minggu.
Hingga akhirnya ketakutanku berubah menjadi kegilaan.
Aku melihat Tuhan.
Akhirnya Dia memberiku sebuah penampakan.
Saat itulah aku mengerti akan takdirku, seperti yang Ayah katakan.
Ayah, Fenton tidak menjawab.
Fenton? Fenton?
Fenton. Fenton.
Ayolah, nak.
Bawakan aku air.
Tenanglah, nak. Tenang.
Tenang.
Lihat?
Ayolah.
Ayah?
Aku melihat Tuhan.
Di sini.
Cobalah untuk minum sedikit.
Hei, pelan-pelan. Jangan makan terlalu cepat.
Akan membuatmu sakit.
Jadi Tuhan memberitahumu tentang iblis?
Maaf aku telah meragukanmu, Ayah.
Aku juga minta maaf, anakku.
Seperti apa Tuhan?
Sulit untuk digambarkan.
- Apakah Dia besar? - Adam.
Biarkan kakakmu makan dengan tenang.
Dia tak bisa menjelaskan sesuatu seperti itu.
- Tapi aku ingin tahu. - Mungkin kau harus berdoa untuk itu.
Ini tidak adil.
Yang aku lihat hanya iblis sedangkan dia sudah melihat Tuhan.
Memang.
Tapi lihat harga yang harus dibayarnya.
Biarkan itu jadi pelajaran.
Ini adalah hari yang baru, benar kan, Fenton?
Jadi kita akan membasmi iblis sekarang?
Sebentar lagi.
Jika Fenton sudah siap.
Seminggu kemudian, aku pun siap.
Iblis pertamaku adalah Brad White dari Dallas.
- Ini dia. - Aku melihatnya.
Kau yakin sudah siap?
Ya, Ayah.
Aku membawakanmu ini.
Kau sekarang membutuhkan ini karena Tuhan telah mengutusmu.
- Baiklah. Ayo pergi. - Aku ingin pergi juga, Ayah.
Tidak sekarang, Adam.
Kau tetap di sini. Buka matamu lebar-lebar.
Jangan cemas. Saatmu akan tiba.
Ayo pergi.
Hei.
- Maaf mengganggumu- - Ya?
Aku dan anakku, ban mobil kami bocor.
Ya.
Aku pikir mungkin kau punya dongkrak.
Kami tadi pergi dan meninggalkan milik kami di rumah.
Hei, sobat, kenapa memakai sarung tangan?
Oh, untuk mengganti ban.
- Tak ingin membuat tanganmu kotor ya. - Ya.
Brad, siapa itu?
Bukan urusanmu, Jalang!
Wanita sial.
Ya, rasanya aku punya.
- Ada di belakang. - Bagus.
Di belakang sini.
Coba kita lihat.
Ini dia.
Sial.
Pegang kakinya.
Brad White?
Kau tahu, Fenton
aku sudah menunggu saat-saat ini semenjak semua ini dimulai.
Aku siap untuk memenuhi takdirku.
Aku bangga padamu, Nak.
Sialan!
Kalian sialan!
Pergi dari sini!
Pergi dari...
Musnahkan dia.
Ayah!
Ayah, jangan. Jangan.
Jangan, Ayah. Jangan.
Tidak!
Kami mengubur mereka di taman mawar.
Kami pergi ke kantor Sherif seminggu kemudian dan melaporkan
bahwa Ayah sejak hari itu tidak pulang.
Mereka membuat pencarian orang, tapi mereka tidak menemukan apa pun.
Tak berapa lama, mereka membawa kami ke panti asuhan yang berbeda.
Jadi tak ada seorang pun yang tahu soal ini?
Tidak.
Tidak hingga sekarang.
Bagaimana dengan Adam? Tidakkah dia memberitahu orang lain?
Keberatan jika kita diam saja sebentar? Aku rasanya sulit untuk bercerita lagi.
Katakan lagi soal janji yang kau buat untuk adikmu.
Itu terjadi malam itu, tak lama sesudahnya.
Adam?
Jika kau memusnahkanku, berjanjilah kau akan menguburku di sini.
Demi Tuhan, aku akan menguburkanmu di sini.
Aku tidak mengerti.
Dia berjanji padamu dia akan menguburkanmu di sini.
Ya.
Jika dia membunuhmu...
Bukan, bukan membunuh. Memusnahkanku.
Tidak masuk akal.
Sangat masuk akal.
Jika orang yang berdiri di hadapanmu adalah Adam Meiks.
Jadi, kau yang membunuh semua orang itu.
Tidak. Tidak, aku sudah bilang padamu,
aku tidak pernah membunuh manusia sebelumnya.
Fenton-lah pembunuhnya.
Hentikan omong kosongmu dan katakan yang sebenarnya.
Kau akan segera mengerti.
Aku akan menunjukkan di mana aku menguburkan Fenton.
Tunggu.
Pelan-pelan.
Di sini.
Di sini tempatnya.
Terlalu banyak kuburan di sini.
Hanya ada enam korban.
Fenton tidak menguburkan korbannya di sini.
Dia menyimpan mereka sebagai kenang-kenangan
di ruang bawah tanahnya.
Di sinilah tempat aku menguburkan iblis.
Kau pikir kakakmu iblis?
Benar.
Karena itulah dia tak bisa melihat kebenaran.
Ayah mengetahui hal itu. Tapi dia tidak bisa menerimanya.
Tuhan meminta Ayah untuk memusnahkan putranya
sama seperti perintah-Nya pada Ibraham untuk mengorbankan putranya.
Tapi Ayah tidak mampu melakukannya.
Dan Tuhan tidak mengampuni Ayah seperti yang dilakukannya pada Ibrahim.
Maka Dia melimpahkan tugas-Nya padaku.
Fenton tahu aku akan melakukannya cepat atau lambat.
Karena itulah dia meninggalkan catatan-catatan itu,
untuk menarik perhatianku.
Dia tahu jika kasus pembunuhan ini masuk berita, aku akan datang padanya.
Tapi aku harus menunggu hingga Tuhan menempatkan dia dalam daftarku.
Jika datang sebelum itu maka hanya menjadi pembunuhan.
Adam?
Ya Tuhan, kau ternyata juga mempercayai semua omong kosong ini.
Aku selalu percaya.
Ini semua bohong, Adam.
Tentu saja tidak.
Aku juga lihat ketika ayah menyentuh mereka.
Kau gila seperti...
Fenton atau Adam atau siapa pun namamu.
Aku benar-benar tak peduli.
Sekarang yang aku tahu
adalah kau seorang pembunuh.
Dan aku sudah menangkapmu.
Mungkin.
Tapi hal itu tidak membuat ibumu kembali, benar kan?
Dia mati...
Dan pembunuhnya kabur, bukan begitu?
Sial, dasar kau...
Bagaimana kau tahu?
Kau ada di daftarku.
Kau berpikir tak ada orang lain yang tahu, benar kan?
Tuhan tahu. Itulah kenapa Dia mengirimku.
Aku agen FBI.
Mereka akan mencariku.
Tidak akan.
Mereka akan terus mencari Fenton.
Kau adalah korban terakhirnya.
Mereka sudah melihatmu.
Mereka tahu itu kau.
Tuhan selalu melindungiku.
Minta beberapa unit ke tujuan yang tepat.
Itu benar. Aku ingin dia ditemukan. Aku ingin dia ditemukan sekarang.
Aku tidak bisa. Tak bisa. Aku akan kembali padamu
- Ini. - Terima kasih.
Aku juga di sini.
Yakin kalian berdua tidak ingat seperti apa wajahnya?
Dengar, aku sudah bilang, aku lupa.
Yang tak bisa aku fahami, aku menatap wajahnya. Aku menjabat tangannya.
Hei, kita punya masalah.
Lihat ini.
Itu dia.
Kami mendapatkanmu, sobat.
- Apa ini? - Tidak bisa menjelaskannya.
Semua rekaman seperti ini.
Sial.
Kami sedang menelusuri nama yang disebutkannya padamu.
- Pasti nama samaran. - Kedengarannya palsu.
Fenton Meiks.
Fenton Meiks, ini FBI. Kami akan masuk.
Cepat! Cepat!
- Aman. - Aman.
Aman.
Aman.
- Ada sesuatu? - Tidak.
Baiklah, ayo kita selesaikan.
Oh, Tuhanku.
Tak ada seorang pun di sini, Pak.
Kami menemukan ini di ruang bawah.
Apa kau menemukan mayatnya juga?
Bukan mayatnya.
Permisi.
Oh, aku tidak mendengarmu masuk. Bisa aku bantu?
Aku dengan FBI. Aku ingin bicara dengan Sherif.
- Apa dia di dalam? - Tentu.
Sherif?
Kau mau kopi?
Tidak, terima kasih.
- Hei, Curtis. - Selamat siang, Becky.
- Sherif? - Ya.
Aku Agen Griffin Hull dari FBI.
Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kakakmu.
- Fenton? - Ya, sir.
Mari kita ke dalam.
Aku sangat menghargai kau mau datang dan mengatakannya secara pribadi.
Aku hanya ingin kau mengetahui ini, sebelum diberitakan ke masyarakat.
Dengar, kalau ada sesuatu yang bisa aku lakukan
jangan sungkan untuk menelepon.
Kurasa kami yang mengurus kasusnya mulai sekarang.
Tapi jika kau tahu ke mana perginya
- atau jika dia menghubungimu. - Tentu saja.
Baiklah.
Kau pria yang baik, Agen Hull.
Semuanya baik-baik saja, Adam?
Semuanya baik-baik saja, Becky.
Perintah Tuhan telah dilaksanakan.
Puji Tuhan.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.