Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
- Makasih, Yung. - Ya.
Ada yang mau kopi lagi, kah?
- Aku satu. - Satu, oke.
Tadi kau minum apa saja?
- Kopi. - Kopi saja, kah?
Ya.
Astaghfirullahaladzim!
Izin, Komandan.
Kalau tidak berkenan singgah sarapan, silakan, ada gorengan.
Terima kasih.
21 cm, Tuan.
21 cm lebih dekat ke sempadan kamu orang.
Betul, 'kan? Tak payah ukur lah.
For sure, ini urusanmu.
Mana ada yang sure?
Sudah diukur benar, dari pembatas yang sah?
Batas kamu orang yang suka berubah.
Tapi tengok. Seragamnya.
Jelas kamu orang punya.
Seragam bisa dibeli di mana saja.
Bisa jadi di Sarawak ada yang jual.
Jadi macam mana?
Saya saja yang urus? Macam sebelumnya?
Biar kami yang urus.
Yang lari dari sisi Malaysia, enggak ketemu, Dan?
Enggak, lah. Lagi pula, mana mau si James Linggong repot-repot cari?
Jelas-jelas TKP di wilayah kita.
Korbannya WNI.
Bukan sekadar WNI pula.
Bakal banyak yang ikut campur.
Ipda Sanja Arunika.
Siap bertugas.
Ipda Panca Nugraha.
Kacamatanya bagus.
Cocok untuk Borneo Fashion Week.
Cocok, nanti saya pinjamkan buat Bapak.
Ini.
Kepala dan tubuhnya terdiri dari dua orang yang berbeda.
Korban, yang kepalanya, bernama Thoriq Herdian.
Sersan satu. Tinggal di Markas Batalyon.
Penugasan, patroli perbatasan.
Dan tubuhnya, Pak Panca?
Kira-kira sebulan setengah yang lalu,
ada laporan orang hilang atas nama Juwing.
Aktivis Dayak.
Siap. Bripka Thomas siap bertugas.
Siap menjelaskan kenapa kau menduga ini dia?
Siap, Dan.
Tatonya cocok. Hanya dayak yang punya tato seperti ini.
Foto diri Juwing terpublikasi luas,
termasuk ketika berdemonstrasi, bertelanjang dada.
Keluarga belum dipanggil buat verifikasi?
Tunggu apa lagi?
Kita kekurangan orang.
Bripka Thomas.
Dampingi Ipda Sanja. Saya urus administrasi dulu.
Selamat bertugas.
Terima kasih, Pak.
Di jaket dan celana ditemukan jejak pupuk.
Tipikal yang digunakan di kebun sawit.
Di kepala dan tubuhnya, Dok?
Ini menarik.
Di tubuhnya ditemukan bekas injeksi pengawet.
Dan waktu kematian, kira-kira hampir satu bulan.
Menurutmu, ini bagaimana kejadiannya?
Hah?
Luka yang di belakang itu,
satu pukulan dengan benda tumpul.
Mungkin batu.
Dan karena Sersan Thoriq tak langsung rubuh saat itu,
akhirnya pelaku harus memukulnya berkali-kali lagi.
Pelaku melempar pasir sebagai bentuk perlawanan.
Kemudian memenggalnya sampai mati?
Bukan.
Lehernya ditebas postmortem.
Dilakukan setelah kematian.
Dan rapi sekali, maksimal dua kali tebas.
Kami tanya sekali lagi! Di mana jenazah Apay Juwing?
Kalian enggak pernah beres bekerja. Mendengarkan pun enggak becus.
Aku mau lihat suamiku. Apa pun kondisinya!
Dasar polisi korup! Kalian enggak bisa membungkam kami!
Kalian harus bertanggung jawab.
Kalian abaikan laporan kami.
Percuma, Indai.
Pelakunya mesti mereka-mereka juga.
- Sabar. Tunggu dulu. - Apa?
Kalian puas, 'kan?
Apay enggak bisa bicara lagi.
Kasihan kamu, Sayangku.
Atapnya masih utuh.
Jadi lebih masuk akal kalau mayatnya semalaman di sini.
Akhirnya menggelinding jatuh.
Menurut kesaksian penjaga warung, suaranya berdebum, Pak.
Kau percaya kesaksian ABG perempuan yang lagi kebingungan itu?
Percaya, Pak.
Oke.
Jadi mayatnya jatuh dari langit ke berapa?
Sudah coba cek pohon yang ini, Pak?
Tanggal 17, Pak Bujang tugas?
Ya, dengan Raymond ini.
Ada ketemu dengan orang ini?
Ah.
Kalau enggak salah, dia sering ke kedai Koh Haris, Pak.
Tapi di sini, semua pergi ke kedai Koh Haris.
- Koh Haris masih komunis, Pak Bujang? - Ya.
Sekali komunis, tetap komunis.
Begitu kata Ambong.
Ambong ini siapa, Pak?
Ambong itu hantu komunis, Bu Polisi.
Permisi.
Aku buat minum dulu.
- Pak Thomas kopi manis, 'kan? - Ya.
Semua sawit ini ada tempat memprosesnya, Pak, di dekat sini?
Enggak. Dahulu kala ada upaya membangun pabrik pengolahan.
Tapi dimakan korupsi dan tipu-tipu,
pabrik itu enggak pernah selesai.
Terima kasih, Pak.
Jadi, ya, kebanyakan dijual ke Sarawak, lebih dekat.
Sebentar. Pabrik yang Bapak maksud itu yang ada di sebelah situ, Pak?
Ya.
Lama pula pabrik itu teronggok.
Sekarang cuma jadi sarang hantu.
Sebulan sekali, kadang dua, tidak tentu.
Di sana kudengar suara-suara seperti suara anak betina.
Aku yakin,
itu suara anak-anak yang mati di zaman pemberontakan Paraku dulu.
- Kapan dengar terakhir, Pak? - Aku enggak ingat.
Tapi kalau enggak salah bulannya purnama.
Oh, bulan purnama?
Mungkin babi jadi-jadian itu, Pak.
Diperiksa dulu lah, siapa tahu bukan jadi-jadian.
Kan lumayan buat stok.
Baik, Pak Bujang, terima kasih untuk waktunya. Kami pamit dulu.
Ya.
Pak Raymond, terima kasih, kami pamit dulu.
Bu polisi!
Jika nuan perlukan, aku sedia bantu apa saja.
Baik, Pak.
Nanti kalau ada apa-apa, hubungi nomor saya yang di sini.
Baik, Bu.
Benar, Dan. Patahan kayunya masih segar.
Yes. Patah karena beban.
Kalau memang mayatnya digantung di situ,
buat apa?
Pelaku melihat ada kaitannya antara dua orang ini.
Makanya dia menyatukan mereka.
Tapi apa kaitannya?
Ya.
Nah. Inspektur Dua Sanja.
Diperbantukan dari Jakarta.
Halo, Pak.
Oh, ini ya.
Selamat siang, Bu Sanja.
Wah. Cantik sekali.
Ada yang bisa saya bantu, Pak?
Ya, kami ingin bersilaturahmi saja.
Ingin memastikan semua koordinasi berjalan dengan lancar.
Ya, seperti yang kita semua ketahui,
kasus ini sangat penting untuk institusi kami.
Oh, saya kira kami mau digeruduk, Pak, karena ramai sekali.
Ya. Tapi terima kasih, Pak, untuk niat baiknya.
Perkara apa tindak lanjutnya,
nanti saja ya, Pak, setelah tugas kami selesai.
Tapi Bapak jangan khawatir, kami akan selalu update
ke rekan Bapak yang di sebelah situ.
Dan kalau soal citra institusi,
itu bukan tugas kami, Pak.
Bapak kamu minta saya jagain kamu.
"Titip," katanya.
Saya tahu kau enggak suka dititipin kayak begini.
Jadi tolong, lakukan tugasnya dengan baik.
Kalau kamu sudah enggak sanggup,
kamu bisa hubungi saya.
Kamu bisa kabur cantik.
Seperti biasa.
Oh ya.
Hati-hati.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Panglima Tajau dengan tegas menolak dugaan
bahwa organisasinya terlibat dalam kerusuhan tersebut.
Panglima Tajau juga menegaskan bahwa tujuan organisasinya
adalah untuk membela hak-hak masyarakat Dayak yang terpinggirkan
oleh arus pembangunan yang tidak memperhatikan aspirasi...
Kalau kamu sudah dapat kerja di Sarawak, dia bisa apa?
Ambil saja lowongannya.
Terima kasih, Kak.
Ya.
Coba dengerin apa...
Ada apa?
Saya menemukan ini.
Surat pemberitahuan kedua dari kepolisian Sarawak.
Untuk permintaan evakuasi mayat tanpa kepala
yang diyakini adalah warga negara Indonesia.
Tertanggal 3 Juli. Itu artinya sudah hampir tiga minggu yang lalu, Pak.
Sekarang, kenapa tidak ada tindak lanjutnya?
Ya, waktu itu belum ada kasus Sersan Thoriq ini.
Apa harus ada kasus ini dulu, Pak?
Dan terlebih setelah kasus Thoriq ini muncul, ya...
- Maksud saya, kenapa tidak... - Dengar dulu.
Kalau bicara soal peraturan, surat ini keliru.
Si Linggong ini tahu betul mana jalur yang benar.
Betul. Lewat Konjen dulu,
putar jauh sampai ke Pusat sebelum akhirnya berhenti di sini.
Sangat efisien.
Permisi.
Thomas, kata komandanmu
pihak Malaysia kadang-kadang berusaha buat melemparkan tanggung jawab ke sini.
Memangnya sering kejadian kayak begitu?
Kecenderungan saja.
Apalagi untuk urusan yang tidak viral.
Biasalah, sama-sama saling lempar.
Jenazah sudah dikubur. Yang tinggal, hanya laporan ini.
Oke, thank you.
Sama-sama.
Kwetiau satu.
Nasi goreng empat.
Sindai, makanan bagaimana? Arum tanya.
Tinggal sedikit, kok
Mau dibungkus, Arum?
Enggak usah. Sebentar lagi kita sampai. Di sana banyak makanan kok.
Boleh minta nota?
Habiskanlah makananmu itu. Sayang tinggal sedikit.
Sudah.
Sedang jalan-jalan?
Enggak, Kak. Mau kerja.
Kerja di mana, kalau boleh tahu?
Maaf, nama kamu?
Sindai, Kak.
Macam-macam lah pekerjaannya. Kadang tuh ada di kedai-kedai begini.
Ada yang di toko-toko, tapi ada juga itu,
yang di kebun.
Aman, Kak. Ambong melindungi.
Roh penunggu hutan. Tapi dia baik, Kak.
- Ambong ini... - Sindai.
Maaf, kami harus segera berangkat.
Adik-adiknya diajak ke mobil.
Lain kali, enggak usah mengobrol sama orang enggak dikenal. Bahaya.
Tadi ditanya apa saja?
Awas kepalanya.
Awas.
Hei, hei. Ngapain kamu?
Kayu-kayu ini dari hutan kami.
Kami minta dikembalikan.
Sebagai jaminannya, kubawa ini ya.
Silas ini bikin masalah saja.
Pasti sudah diracuni otaknya oleh kelompok Panglima Tajau itu.
Jangan omong jelek soal Panglima Tajau.
Kenapa? Mendiang Apay sudah berselisih paham dengan panglima berandalan itu.
Mendiang Apay itu menghormati Panglima Tajau. Tak macam kau ini.
Ibu Lintang, mohon kerja samanya.
Kalau kami bisa meminta keterangan Silas,
semua kesalahpahaman ini bisa diluruskan.
Dan kami janji semua diproses secara hukum.
Hukum? Hukum adat pun kalian tidak tahu!
Kami ini sedang berkabung dan kalian seenaknya masuk ke sini.
Hukum kalian enggak ada manfaatnya bagi kami.
Coba kali ini lawan perempuan,
mungkin kau bisa menang.
Biar kami yang cari Silas, Pak.
Kamu tahu dia di mana?
Seandainya dia melawan Thoriq,
kira-kira bisa menang, menurutmu?
Bisa saja.
Buktinya dia bisa lolos setelah cari gara-gara.
Hmm.
- Dan, mohon izin. - San.
Oke. San.
Kalau bisa, jangan berasumsi aku bisa menemukan Silas, seperti kemarin.
Aku minta maaf, Thomas.
Aku enggak tahu masalah kamu sama mereka seperti apa.
Tapi untuk saat ini, pengetahuanmu diperlukan.
- Masih di sini dia? - Masih, Bang. Dari semalam.
Mas Thomas, apa benar itu yang bikin kacau di perbatasan, Silas dan gerombolannya?
Enggak cuma bikin kacau, ini tuh bunuh tentara!
Wah, tambah ngelunjak mereka.
Silas! Hei!
Woy!
Turun! Woy!
Woy!
Berhenti!
Turun!
Hei!
Berhenti, Silas!
Woy!
Thomas, tahan.
Jangan bilang sudah enggak begini caranya di Pusat.
Diam! Dia sudah kasih statement.
Tenang.
Saudara Silas Langgau.
Di sini Anda bilang kalau Anda berniat mencuri kayu
dari markas batalion.
Merebut kembali.
Merebut kembali.
Dan niat tersebut muncul setelah kematian Juwing?
Kematian Apay Juwing akan terbalas.
Matinya tentara itu tanda bagi kami untuk tak lagi berdiam diri.
Siapa yang memberimu ide begitu?
Kelompoknya Panglima Tajau?
Almarhum Apay Juwing dan Panglima Tajau tak selalu sejalan,
tapi tujuan kami sama.
Kalau salah jalan, yang kena akibatnya kampungmu juga!
Setidaknya kami bertindak.
Sementara kalian?
Berita orang hilang tak pernah kalian tanggapi.
Lebih baik bertindak, lalu kena akibat
daripada jadi penjilat,
lalu tetap kena akibat.
Bangsat!
Silas ini meskipun masih keluarga Juwing,
afiliasinya lebih ke Panglima Tajau, begitu?
Juwing itu cerdik, pandai cari celah.
Tajau itu ormas ekstrim. Cocok dengan sifatnya Silas.
Oke, begini. Menurutmu, dedengkot ormas seperti Tajau,
- cukup mampu enggak, untuk... - Apa?
Mencari martir?
Kematian Juwing akan bisa bikin dia menyatukan massa, Thomas.
Jadi, menurutmu dia yang...
Masih spekulasi.
Anak-anak yang hilang ini ada indikasi lain?
Kau lihat di sekitar sini.
Kira-kira siapa yang tak mau merantau?
- Atau gabung dengan ormas? - Ya.
Jadi, Pak Bujang yakin
pembunuh Thoriq dan pembunuh Juwing bukan orang yang sama?
Ya, Bu.
Tahu dari mana, Pak?
Tentu dari Ambong.
Kalau boleh, saya tunggu di mobil saja.
- Saya sebenarnya penasaran, Pak. - Hm?
Tentang almarhum Juwing.
Beliau tampaknya sangat dihormati ya, Pak, di sini?
Tidak semua orang menganggap begitu, Bu.
Kenapa kayak begitu ya, Pak?
Karena yang saya dengar, beliau sudah banyak berjuang.
Ya.
Pak Tua Juwing memang banyak protes soal perluasan lahan sawit
yang menggerogoti wilayah adat dan menghabiskan air.
Tapi, banyak juga yang menuduh beliau
cuma eksploitasi cerita-cerita sedih masyarakat Dayak.
Semacam dijual, begitulah.
Lalu belakangan, mendiang Juwing malah mengajukan diri jadi caleg.
Mata nuan itu perlu diobati? Sebentar.
Enggak perlu, Pak. Aman.
- Udah biasa seperti ini. - Tak apa-apa.
Maaf ya, Bu.
Nah.
- Bagaimana? - Wah. Enak sih, Pak.
Daun apa ini, Pak?
Enggak boleh sering-sering. Enggak boleh. Terlalu kuat.
- Ayo, Pak. - Hah?
Maaf, Bu. Sekarang giliranku patroli.
Oh ya, Pak. Terima kasih banyak.
- Maaf sekali ya, Bu. - Enggak apa-apa.
Ambong ini siapa sih sebenarnya?
Takhayul. Ada yang bilang dia roh hutan.
Ada yang bilang dia orang biasa, gerilyawan komunis yang hilang di hutan.
Entahlah.
Setahuku ini cerita lokal.
Enggak umum, macam kenyalang atau kuyang.
Kau pikir Ambong pelakunya?
Seharusnya kau sudah bisa istirahat,
malah mendengar orang meracau.
Bukannya kamu yang tunjukkan dia padaku buat hiburan kemarin?
Ya, tapi enggak sampai mengganggu penyelidikan begini lah.
Perhatian banget.
Maksudku, supaya aku juga bisa istirahat.
Aku kira kamu punya rumah dinas.
Enggak, aku lebih suka mengontrak di dalam-dalam sini saja.
Oh, tumben enggak pakai kacamata.
Biasanya malam pun dipakai.
Mataku kelewat sensitif.
Kaca...
Kacamata ini diresepkan dokter.
Maaf, ya.
Lagian kenapa sih minta maaf?
Sudah jadi insting ya, karena kelamaan punya atasan?
Sampai besok.
Tante, kenapa keluar jalan raya?
Belum tidur kau Sindai? Tidurlah.
Sebentar lagi kita sampai.
Apa? Oh, it's okay. Ada yang bangun.
Ya.
Tak terlalu tua. Siapkan saja uangnya.
Tante, aku takut!
Tidur!
Tunggu, nanti kutelepon. Tunggu saja. Jangan khawatir.
Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana.
Kita harus keluar.
Kita di mana?
Kau mimpi kali.
Kita harus cari jalan. Tantenya bukan orang baik.
Kunci pintunya. Jangan keluar!
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Lurus. Ya.
Ya. Oke.
Sedikit lagi.
Oke, stop. Stop, stop. Stop.
Aku pernah lihat perempuan ini.
Di Malaysia.
Dia bawa rombongan remaja perempuan dari sini.
Satu mobil penuh.
Dari HP milik korban, kita temukan harta karun petunjuk yang melimpah.
Laki-laki yang tidak dikenal ini
diduga adalah mayat yang ditemukan oleh polisi Malaysia.
Perhatikan. Cincin yang sama dan tato yang sama.
Tato Garuda.
Berikutnya lebih mudah.
Kami menemukannya di antara chattingan korban.
Ini korban pertama, Thoriq Herdian.
Dan yang ini, saya harap ada artinya untuk kalian semua.
Itu Pak Agam.
Tauke lokal. Bekas preman,
saudagar macam-macam juga.
- Yang penting masih hidup, 'kan? - Masih.
Bisa lah kita silaturahmi.
Tahan semua. Ini ada nota permohonan bantuan dari Malaysia.
Tiga hari yang lalu,
pukul 11, atau tengah malam waktu Sarawak,
terjadi serangan terhadap kendaraan ini.
Menurut keterangan saksi,
pengendaranya perempuan Indonesia bernama Umi yang sekarang hilang.
Mohon izin, Pak.
Perempuan ini adalah korban yang kita olah TKP-nya siang tadi.
Oke, perkembangan yang bagus, Sanja.
Kita bicara setelah ini.
Sekarang ini prioritas.
Penumpangnya semua anak-anak.
Berpaspor Indonesia, tapi diketahui palsu.
Perdagangan manusia.
Kita butuh waktu untuk cross-check semuanya
karena mereka rata-rata berumur di bawah 17 tahun. Belum punya KTP.
Ada dua anak yang dinyatakan hilang.
Pihak Malaysia minta bantuan kita untuk menyisir dari sisi kita.
Saya mau ini diprioritaskan. Laksanakan.
- Siap, Dan. - Siap, Dan.
Sanja.
Saya paham kasusmu ini penting,
tapi ini lebih genting.
Siap, Pak.
Siap, Dan.
Jadi, bagaimana? Kita join pencarian?
Enggak.
Enggak kenapa?
Prioritas kita sekarang
orang ini.
Selamat siang, Pak Agam.
Boleh minta waktunya sebentar, Pak?
Semoga tidak terlalu terburu-buru.
Orang baru ya?
Hei, hei, tenang. Tenang.
Hm?
Ikut saya ke kantor, nanti saya jelaskan.
Sebagai warga negara yang baik, kita harus ikut, ya.
Kolesterol.
Bapak bersikeras hanya mengenal Umi lewat bisnis musiman.
Tapi di tengah cross-check, saya menemukan fakta yang menarik.
Ternyata Bapak ini cukup terkenal, ya.
Kasus pembalakan kayu sampai 2005.
Dan ternyata Bapak pernah jadi makelar perizinan pabrik yang itu, ya Pak.
Yang ujungnya tidak jadi apa-apa, malah jadi rongsokan.
Tapi hebat lho, Pak, karena dari semua data ini,
Bapak cuma jadi saksi
dan enggak ada satu pun kasus yang tuntas.
Ya, karena saya warga negara yang baik, Bu.
Apa sebagai warga negara Indonesia yang baik ini
Pak Agam bin Yusof tahu sesuatu
tentang human trafficking di sekitar sini?
Ini.
Ini bolpoin kesayangan anak saya.
Kalau saya pergi jauh, pergi lama,
anak saya minta dimainkan satu trik sulap
dengan bolpoin ini.
Sanja.
Apa dasarmu menahan Agam?
Karena foto bersama korban?
Minimal dia person of interest, Pak.
Dia ada di simpul perkara.
Tapi itu bukan alasan bikin keributan di rumahnya, 'kan?
Oke, kami akui, Pak. Tapi kami punya diskresi.
Dia berusaha untuk menyuap.
Lalu apa rencanamu?
Serangan di Sarawak itu membuat kasus ini kasus bersama, Pak.
Indonesia dan Malaysia punya kepentingan yang beririsan sekarang.
Kita koordinasi. Jadikan resmi.
Itu bisa diatur.
Tapi ini dulu, ada satu anak dari van,
namanya Jenta.
Mau dipulangkan lebih dulu karena kampungnya dekat dari sini.
Besok kau temani dia pulang.
Siap, Pak.
Sanja.
Hati-hati.
Aku sudah dengar cerita-cerita seru tentang kamu dari Jakarta.
Tenang, Arum.
Aku yakin ini jalan yang ditunjukkan Ambong.
Ambong lagi! Kakak pernah bertemu?
Belum pernah, sih.
Tapi Ambong bicara ke aku.
Waktu aku kesepian.
Enggak punya teman.
Kau tahu, kan, aku enggak punya siapa-siapa?
- Kakak punya aku. - Ya.
Aku punya Arum. Arum punya aku.
Jenta!
- Kau baik? - Ya.
Ibu kangen, Nak.
Apay. Indai.
Aku minta maaf, tak bisa jaga Arum.
Dan yang di sini ditaruh di tempat yang menarik perhatian.
Pelaku sengaja pamer supaya dilihat orang.
Supaya orang-orang ketakutan?
Pelaku ingin mengatakan sesuatu.
Dan enggak cuma itu.
Penyelidikan kita justru membuat dia tambah semangat.
Dia senang dengan perhatian yang kita kasih. Pemburunya.
Jadi ini tanggal-tanggal Thoriq keluyuran di warungnya Koh Haris.
Yang terakhir,
sebelum terbunuh, 17 Juli.
Dan di-crosscheck ke data imigrasi,
satu minggu setelah tanggal-tanggal itu, ada kecenderungan peningkatan
jumlah remaja perempuan yang melewati pos batas.
Waktu itu, aku ketemu James Linggong, aku melihat Umi.
Seminggu setelah Thoriq terlihat untuk terakhir kalinya.
Itu artinya, pembunuhnya tahu pola ini?
Ya, minimal kita punya bahan untuk ditanyakan ke Pak Agam.
Sudah pergi tadi.
Cepat, ya? Enggak sampai beberapa hari.
Macam mana, Bu Polisi?
Sudah berapa orang yang mati di luar sana, sementara aku di sini?
Kenapa bisa begini sih, Thomas?
Agam kenapa dilepas, Pak?
Sudah kubilang kita tak punya dasar untuk menahan Agam.
Thoriq itu anak buah Agam!
Seenggaknya sudah kirim alert, 'kan, ke pihak Malaysia?
Karena Imigrasi enggak bisa ngapa-ngapain, Pak.
Mohon izin verifikasi, Pak.
Hei, Ipda Sanja, kembali ke sini.
Cap!
Jadi benar Arum anakmu?
Bodoh kau! Anak manis itu, tega kau jual ke pedagang orang, hah?
Saya perlu modal kerja di Brunei, Ucak.
Panen gagal, Arum bisu.
Ditawari kerja, ya aku juga tertipu, Ucak.
Selamat siang, Pak Agam.
Mari, Pak.
Pulang.
- Maaf, pendatang haram. - No.
Saya warga negara Malaysia!
Maaf, pendatang haram.
Lihat! Lihat, lihat!
Ada apa ini?
- Hei! Pak polis! - Ya?
Orang ini mencoba merampok saya.
Hah!
Berbahaya sekali tingkahmu di negara orang.
Bapak bahkan tidak memberi tahu pihak kepolisian Malaysia tentang Agam.
Mereka belum tahu kaitan Agam dengan kasus serangan itu, Pak.
Sekarang? Mau ngapain?
Telat!
Pak. Bapak ini sengaja?
Kalau sengaja, saya menuduh Bapak ada main di dalam sini.
Mau?
Oh, saya tahu.
Bapak ini memang luar biasa tidak kompeten ya, Pak.
Akan kukirim surat rekomendasi ke Pusat
untuk meminta penyidik pengganti.
Dan kamu bisa siap-siap pulang bertemu bapak kamu.
Bagaimana?
Enak.
Akhirnya aku bisa lihat kau senyum lagi.
Semoga ini bukan upaya menggombal, ya.
Astaga, enggak begitu lah.
Aku cuma khawatir melihat atasan cemberut,
nanti aku juga yang kena.
Tapi aku penasaran lah, kenapa kau semarah ini perkara Agam.
Ya, sudah jelas enggak, sih?
Dia saksi kunci kita satu-satunya.
Oke, anggaplah begitu.
Tapi dengan melihatmu semarah ini perkara Agam,
sepertinya kau kelewat terganggu.
Oke, sekarang daripada kamu menyelidiki aku,
bagaimana kalau kita fokus menyelidiki pelaku?
Apalagi... Yah, aku terancam dipulangkan ke Jakarta, Thomas.
Jadi mungkin kasus ini akan jadi tanggung jawab kamu.
Kenapa meninggalkan suratnya diam-diam?
Kasih langsung kan bisa, Thomas.
Kok bisa tahu?
Di sini ya cuma kamu yang peduli.
- Terima kasih, Thomas. - Biasa saja.
Selamat malam.
Ya, minimal aku bisa percaya sama kamu atau enggak?
Sampai besok.
Sampai besok.
Bisa, San.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Bajingan! Mampus! Ini upahmu menjual anakmu sendiri!
Seharusnya kau ditelan tanpa sisa!
Semua sekepala-kepalanya!
Sehat, Jenta?
Sebelum berangkat, kami diinapkan di sebuah gudang.
Kami enggak tahu itu di mana.
Aku temukan ini ketika di sana.
Kamu tahu ini punya siapa?
Enggak tahu. Tadinya mau disimpan,
tapi aku diminta untuk kembalikan...
Sama siapa?
Ciri-cirinya seperti apa, kamu ingat?
KEDALUWARSA 29 JULI 2023
SABTU, 29 JULI
Ada gua. Bisa bermalam.
Kakak periksa dulu ya. Kamu tunggu.
Woy!
Buka! Woy!
Astaga, Sanja!
Ngeri sekali ini.
Apa pelaku mengincarmu?
Kalau ya, kepalaku sudah enggak di sini, Thomas.
Dia bahkan tak bawa senjata.
Betul juga.
Ayo.
Kalau Pak Bujang tidak dengar teriakan kamu,
mungkin kamu enggak akan ditemukan.
Pak Bujang.
Saya bukannya enggak bersyukur Bapak membantu saya,
tapi untuk apa ke pabrik itu lagi, Pak?
Oh.
Si Thomas ini kan pernah suruh aku memeriksa.
Jangan-jangan suara-suara di pabrik itu
memang suara babi sungguhan.
Bukan babi jadi-jadian.
Ah.
Suaramu enggak kayak babi, perasaan.
Kuncinya, San. Jangan dikosongi itu gelasnya.
Kalau kosong, diisi terus.
Sebentar, sebentar.
Kau itu memang orang sini, 'kan?
Rumah panjang Tanamurung itu kampung halamanmu?
Memang, semua sudah tahu. Kamu yang terakhir tahu.
Tapi kamu orang pertama yang enggak mempermasalahkan.
Dari dulu stigmanya sudah ketebak.
Aku sampai tutupi tato supaya bisa diterima.
Eh, sekarang di polisi dibilang "Dasar dayak."
Di orang dayak dibilang "Dasar polisi." Nasib, nasib.
Aku dulu masuk polisi,
niatnya mau lindungi saudara-saudaraku.
Putra Dayak
membela Harga Diri Dayak.
Sambil menyembunyikan Jati Diri Dayak.
Kamu dong, San, cerita.
Enggak, ah.
- Ah! - Enggak.
Minder.
Karena kamu jadi polisi dengan niat yang baik.
- Ya... Memangnya Sanja enggak begitu? - Enggak.
Aku menabrak anak kecil.
Lagi naik sepeda.
Tapi aman. Tenang. Beres.
Kami tanggung jawab.
Wah, wah, wah.
Ada apa ini?
Diapakan sama Pak Bujang?
Sudah tidur dia rupanya.
Pak Raymond kan, ya?
Yang jaga sama Pak Bujang tanggal 17 Juli?
Eh, ingat benar Bu Polisi ini.
Segelas saja ya, Bu.
Tugas malam aku.
Jangan sampai seperti malam itu.
Hm.
Malam itu kenapa, Pak?
Tuaknya Pak Bujang kuat sekali.
Aku sampai ketiduran karenanya.
Ketiduran berarti enggak ikut jaga sama...
Pak Bujang?
Ada lah dua, tiga jam aku ketiduran.
- Ya? - Jadi dia yang patroli sendirian.
Siapa suruh?
- Jadi, satu boleh balik ke kantor. - Oke.
Cek berkas-berkas yang ada di sana.
- Bawa masuk. - Ya.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Ayo, masuk.
Di sekitar titik penemuan korban, kami menemukan jejak darah
yang mengindikasikan mereka telah berjalan cukup jauh.
Pencarian Arum, kita fokus di sini, di sini, dan di sini.
Saudara-saudara dipersilakan membantu dengan suka rela
selama siaga dan sehat jiwa raga kalian.
Oke, silakan.
- Siap. - Siap.
Bapak-bapak yang berjumlah tiga orang
nanti bersamaan masuk ke hutan bersama saya.
Pak Bujang.
Ikut tim pencari?
Aku cuma bantu-bantu sedikit.
Jelek-jelek begini dulu aku jadi penunjuk jalan ABRI
waktu menumpas pasukan komunis Paraku.
Temukan Arum, Pak.
Selamatkan dia.
Bu Sanja enggak usah dimakan rasa bersalah.
Banyak cara untuk menebus kesalahan.
Pak Bujang.
Yang tanggal 17 Juli...
Kamu harus segera pulang dan briefing penyidik pengganti.
Ternyata segampang itu ya, Pak?
Sudahlah, Sanja. Kita profesional saja.
Kita sudah berusaha bekerja sama, tapi gagal. Begitu saja.
Ini.
Kenapa?
Enggak. Cuma ingat kejadian lucu.
Permisi, Pak.
Kenapa kau ini, kau gila apa?
Aku yang gila?
Kalian semua yang sudah gila, Thomas.
Kasih tahu aku, ada apa?
Aku pernah bilang padamu, 'kan?
Aku cuma percaya sama kamu.
Itu pun sekarang aku tidak yakin.
Sekarang jawab.
Kamu disuruh apa sama Panca?
Turunkan senjatanya. Aku ceritakan semuanya.
Aku diperintah Komandan untuk melaporkan semua gerak-gerikmu.
Kau update semua? Soal kasus?
Soal kasus, pastinya aku ceritakan.
Meskipun...
Tampaknya beliau tak terlalu peduli.
Beliau lebih tertarik dengan pergerakanmu.
Kau dibayar khusus, 'kan?
- Apa? - Yang malam-malam.
Amplop coklat, Thomas. Lupa?
Itu rutin.
Kami semua sudah tahu sama tahu, Komandan punya bisnis sampingan.
Tapi aku tak punya pilihan.
Aku enggak mau tahu apa bisnisnya.
Aku juga enggak mau pakai uangnya.
- Kamu lapor ke dia kalau aku ke pabrik? - Apa?
Yang menyerang dan tinggalkan aku
di tabung sawit itu komandanmu, Thomas!
- Enggak! - Jangan bohong!
Sungguh! Justru di hari itu, kan,
kau tak mengangkat telepon dariku, aku juga tak tahu kau di mana.
Di hari itu, paginya Komandan sempat minta update.
Jelas aku tidak tahu kau ada di mana.
Aku munafik, melakukan ini ke kamu, Thomas.
Anak yang...
aku tabrak,
waktu itu...
Mati.
Awal aku masuk akademi polisi,
semua orang meremehkanku.
Mereka bilang aku ini anak titipan Ayah.
Aku enggak mau dengar semuanya.
Aku bekerja keras membuktikan pada diriku sendiri dan pada mereka semua
kalau aku bisa jadi polisi yang benar.
Yang baik.
Semuanya baik-baik saja sampai...
Suatu hari,
aku menabrak
anak itu.
Dan aku enggak mau kerja kerasku selama ini sia-sia.
Aku enggak mau, Thomas, enggak.
Akhirnya dibantu teman-teman seangkatan,
komandan, ayahku buat menutup...
kasusnya.
Dan semenjak hari itu,
aku biarkan diriku menjadi seorang...
pengecut.
Sekian tahun berlalu,
aku kira semuanya akan baik-baik saja, tapi enggak.
Sakit. Capek.
Aku cuma ingin mengaku, tanggung jawab. Minta maaf.
Kalau perlu aku bersimpuh di kaki orang tuanya,
aku minta maaf ke mereka.
Tapi kalau aku mengaku, semuanya akan ikut terseret.
Teman-temanku.
Komandan, atasanku
yang masing-masing sudah punya karier.
Mereka mengancam.
Kalau mau sok suci,
jangan telat.
"Kita sudah terlanjur menceboki elu."
Besok aku pulang ke Jakarta.
Akan ada penyidik pengganti.
Aku mau minta tolong.
Kembalikan ke keluarga Juwing.
Senang bertugas denganmu, Thomas.
Tawaranku untuk merekomendasikanmu ke Pusat
masih berlaku.
Kabari, kalau masih ingin.
Aku juga senang bertugas denganmu.
- Ambil air! - Lekas masuk. Ayo cepat!
Semuanya terkait dengan orang ini.
Umi, laki-laki bertato Garuda,
Thoriq,
bapaknya Arum,
dan mereka semua ada kaitannya dengan trafficking.
Dan yang kudengar Apay Juwing juga sering memprotes
perkara lambatnya penanganan trafficking.
Ya.
Apay sering nekat sendirian menyelidiki.
Jadi Agam pelakunya?
Belum tahu.
Bisa saja dia menunggangi cerita-cerita mistis untuk membunuh orang-orang ini.
Hei, tunggu dulu. Pakai ini.
Ini kan, pegangan Bripka Rahmat?
Enggak apa-apa. Hari ini kau yang pegang.
Masuk, masuk.
Bukti, minim. Benang merah, ada.
Tapi secara motif, enggak masuk akal.
Kalau memang Agam pelakunya, ya, katakanlah perkara bisnis.
Aneh,
karena selama ini profil dia perhitungan, pragmatis.
Bengis?
Ya, memang. Tapi apa ya orang kayak begitu
tiba-tiba haus darah.
Bisa saja.
Kau tampaknya tidak senang kalau Agam pelakunya. Kenapa?
Buatku, info darimu menarik, Bu Polisi.
Kalau memang Agam,
kau akan melakukan ini, tidak?
- Uncle numpang jalan. - Ya.
Saya pergi dulu.
- Baik, Pak. - Siap.
Ayo, Thomas.
- Antar aku ke rumah. - Siap.
Sini kau!
Hei, hei, hei.
Ampun, ampun... Ampun.
Ya. Saya yang menyuruh membunuh Asraf.
Bajingan itu mengutil uang saya.
Laki-laki bertato Garuda itu namanya Asraf?
Betul, Bu.
Saya sudah menyuruh Thoriq untuk membereskan dia.
Bahkan untuk membereskan mayatnya juga.
Tapi itu saja sudah. Selebihnya saya tidak tahu.
Saya tidak berpikir apa-apa. Ya, memang dia biang masalahnya.
Tapi...
Ketika kepala Asraf dikirim ke rumah saya...
Saya takut.
Saya bakar saja kepalanya, lalu saya sembunyi.
Apay Juwing, apa yang kau tahu?
Saya tidak tahu apa-apa.
Kau tahu saya berteman dengan semua, saya menghormati sahabat-sahabat Dayak.
Menghormati, pantat kau!
Kau jual belikan anak-anak kami!
Dan Apay menyelidiki itu!
Kau suruh Thoriq bunuh Apay juga? Ya?
Hei, hei... Kalau Thoriq bunuh Apay, saya tidak heran.
Dia mau mengikuti siapa saja yang bisa bayar dia.
- Tapi bukan saya! - Bangsat!
Thomas, aku mau tanya.
Aku melihatmu bersama Sanja di rumah sakit.
Waktu anak perempuan itu ditemukan meninggal.
Kau bertemu dia di mana?
Dia sudah di situ, Dan.
Yakin?
Bukan sebelumnya bertemu di mana, gitu?
Cari ini, Dan?
Ini juga?
Sejak Sanja selamat dari pabrik,
sudah kuduga kau punya peran.
Jadi benar? Komandan yang menyerang Sanja?
Dia itu tak bisa diatur. Harusnya fokus ke kasus.
Sayang kasusnya menyerempet lahan Bapak.
Dan aku enggak menyangka, itu termasuk jadi backing perdagangan orang!
Terus kamu mau apa, hah?
Naik kelas? Jadi pahlawan buat saudara-saudaramu?
Telepon Agam.
Halo!
Ya, ada apa?
Ah tidak, tidak.
Cuma mau cek saja. Aman di sana?
Aman. Aman.
Bagaimana di sana?
Betina itu sudah pulang.
Dia mampir ke pasar gelap.
Cewekmu itu masih berulah.
Pakai ini.
Pakai.
- Jadi kau akan membunuhku di sini? - Tidak.
Cuma ini tempat aman menahanmu, Dan.
Selagi kuproses bukti-bukti bersama Sanja.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Halo.
10-5! Seluruh jajaran!
Ipda Sanja membawa lari tersangka Agam.
10-2! Di area pasar gelap! Sisir dan take over!
Ya, ambil alih, take over. Goblok!
Kau sudah kubagi jatah rutin.
Tidak tahu terima kasih... Bangsat!
Aku, aku sudah muak, Dan.
Sama. Aku juga.
๐ SANJA ๐
Kau bilang saja.
Kau mau minta berapa...
- Apa lagi ini? - Diam!
Habisi saja curut ini, selesai perkara!
Aku enggak bisa biarkan itu terjadi, Silas!
Oh ya? Coba saja.
Kau masih percaya kitab hukum itu berguna?
Fokus ke tujuan kita.
Maaf, Bu Polisi. Tujuan kita sama.
Tapi cara kita berbeda.
Hei...
Silas!
Silas!
Silas!
Jangan bergerak! Berhenti!
Silas, keluar!
Pak Bujang!
Anak ini akan segera pulih, Bu Sanja.
Aku kasih dia minum daun kratom supaya bisa istirahat.
Syukurlah aku bisa menemukannya di hutan.
- Aku mohon, Bu Sanja... - Mundur!
- Ini enggak seperti yang terlihat... - Taruh!
- Bukan aku yang melakukan ini. - Terus siapa lagi?
Waktu aku sedang pindah kemari dan beres-beres,
aku lihat dia menembak Pak Thomas.
Lalu seperti orang kalap dan bingung,
dia memotong leher Pak Thomas dengan pisau komando.
Mundur!
Pelakunya menebas, bukan memotong!
Ya. Ibu benar.
Bisa diperiksa pada leher mendiang untuk buktikan itu.
Mungkin maksud dia meniru,
supaya disangka bukan dia yang bunuh.
Menirukanmu?
Kenapa, Pak?
Supaya orang-orang bisa melihat, Bu Sanja.
Melihat keberadaanmu?
Melihat apa yang terjadi di sini.
Aku cuma orang kecil, tak pernah terlihat.
Enggak perlu dilihat.
Orang-orang kalah dan digilas zaman, Bu Sanja.
Dan anak-anak kecil yang harus bayar ongkosnya.
Awalnya aku enggak berani berbuat apa-apa.
Tapi waktu melihat orang itu membunuh sana-sini,
Juwing, lalu laki-laki bertato Garuda itu.
Aku tergerak melakukan ini, Bu Sanja.
Supaya orang bisa melihat.
Dimulai dari Bu Sanja.
Aku ingin mengurus mayat mendiang itu dengan layak.
Yang lain
pantas dibuang.
Diam! Berlutut!
Tangan di kepala!
Sanja...
Habisi orang gila in!
Maaf.
Aku enggak mungkin melakukannya ke Bu Sanja.
Melakukan apa? Hah?
Melawan Bu Sanja.
Memenggal Bu Sanja.
Itu kan yang nuan inginkan.
Nuan...
ingin dihukum.
Nuan harus belajar memilih.
Memilih apa yang nuan lihat.
Jangan tinggalkan aku sendiri.
"Tersangka pembunuh berantai, Agam bin Yusof,
ditemukan bunuh diri di selnya
karena tidak bisa mengelak atas tumpuk bukti kejahatannya
yang telah dikumpulkan dengan penuh dedikasi
oleh Kapolsek Ipda Panca Nugraha,
yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang."
Hih, selalu begini ujungnya!
Jangan baca berita sampah itu di dekat Thomas.
Meskipun kau polisi,
kau hebat, Bang.
Kau beri kami keberanian.
Ini enggak akan selesai di sini.
Saudara saudariku terkasih, mari kita sedikit mendekat
untuk memulai misa kudus ini.
Bagi yang membawa lagu, disilakan.
Ini berkas,
tambahan dokumen atas nama tersangka Agam. Tolong diperiksa.
Apa hubungannya ini lukisan
menjadi barang bukti tambahan?
Sayang kasusnya menyerempet lahan Bapak.
Ini juga foto-foto terkait
- illegal logging. - Dan aku enggak menyangka,
itu termasuk jadi backing perdagangan orang!
Terus kau mau apa, hah?
Mau naik kelas?
Jadi pahlawan buat saudara-saudaramu?
Cewekmu masih berulah.
Dia enggak pernah menyerah berbuat benar.
Dan aku tak akan biarkan Komandan ganggu dia!
Selamat ya, Sanja.
Kau akhirnya bisa merasakan bekerja dengan baik.
Waktunya pulang.
Saya pulang atau tidak, bukan urusanmu, Pak.
Tapi bapakmu minta saya mengantarmu pulang.
Saya mesti ngomong apa?
Saya enggak perlu jawab pertanyaanmu.
Teman-teman seangkatanmu menanyakanmu terus.
Sebagian masih penasaran
apa kau masih mau menebus kesalahanmu.
Kau mau dihukum?
Memang bisa?
Anak itu sudah mati, Sanja.
Ibunya sudah dipastikan
enggak akan berani mengaku kalau anaknya mati ditabrak polisi.
Pulang.
Silakan, pulang.
Saya tidak membutuhkanmu.
Tidak pernah butuh, lebih tepatnya.
Baik.
Semoga kau bisa ngomong begini juga ke Bapakmu.
Sampai jumpa. Lain waktu.
Tanpa mengurangi rasa syukur atas ditemukannya anak kita,
Arum Fidelia Jinggut,
kami juga perlu meluruskan beberapa isu yang berpotensi meresahkan.
Bahwa masih ada Paraku atau gerilyawan komunis
yang masih berkeliaran, ini hanya kabar burung,
belum dapat dipastikan kebenarannya.
Pada kesempatan yang sama,
Letkol Daniel Lumenta juga meminta masyarakat
memanfaatkan suasana menyongsong peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun ini
sebagai momen untuk meningkatkan rasa cinta tanah air
dan menjaga kewaspadaan bersama
demi terciptanya suasana yang kondusif
bagi upaya-upaya memajukan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Enam. Rajin, terampil, dan gembira!
Tujuh. Hemat, cermat, dan bersahaja!
Delapan. Disiplin, berani, dan setia!
Sembilan.
Bapak Ibu, mundur.
Maaf, ya, Bapak Ibu. Mundur, mundur.
Mundur, mundur.
Slot Gacor Bantengmerah Bonus New Member 100%
Kunjungi Melalui Link >>> gacor.zone/hoki
Tambahan Modal Bermain Khusus Slot & Casino
Nuan harus belajar memilih.
Memilih apa yang nuan lihat.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.