Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ini tak terlihat seperti itu.
Itu lain, Bu.
Setelah kau selesai belajar,
buat yang seperti ini, oke?
Oke, Bu.
-Ini tak terlalu tua. -Hei!
Baru beberapa tahun.
Itu temanku, Ayah. Ayo pergi?
-Salam. -Salam.
Bagaimana kalian saling mengenal?
Di festival budaya... di bar Alappuzha--
Di acara barbekiu teman kami, Sharon.
Bagaimana kalau kita pergi?
Sudah waktunya. Ayo pergi.
Ayo.
Kalian semua harap dengarkan prosedur bergabung dengan asrama.
Lembaran akan diberikan kepadamu.
Pastikan kau mengisinya dengan huruf kapital.
Dan juga, jangan melakukan kesalahan saat mengisi.
Kalian pergi ke asrama.
Bangalore sangat jauh.
Ini pertama kalinya dia jauh dari rumah.
Tidak apa-apa.
-Beginilah cara mereka belajar. -Saudari?
Salam, aku pegawai di kampus ini.
Namaku BK.
Aku mengatakan ini karena kau orang Malayali.
Asrama kampus tak terlalu bagus.
Kenapa demikian?
Penuh narkoba, alkohol, perkelahian dan yang lainnya!
Tapi jangan khawatir!
Ada sebuah asrama yang dekat bernama BK.
Di sana sangat ketat.
Mereka juga punya makanan Malayali.
Terlebih lagi, aku akan selalu ada di sana.
Ayah, apa asrama kampus tak cukup?
Bukankah di luar akan lebih mahal?
Tidak! Sebenarnya lebih murah.
Lebih murah daripada di sini.
Asrama kampus cukup, bukan?
-Kebebasan penuh! -Aku akan menempatkan anakku di sana.
Bagus. Ayo lakukan itu.
Semua anak-anak di sini merokok.
Jangan lakukan kebiasaan ini!
Ayo, di sini.
-Baik, Pak. -Naik tangga.
Hai.
Kau akan tidur denganku?
Itu tempat tidurku.
-Shanthan. -Siapa?
Aku.
-Bibi. -Bibi?
- Aju. - Aju...
-Sudah berapa lama kau di sini? -Sekitar 35-36 tahun.
Ini pertama kalinya bagiku.
Saudari...
Jangan khawatir.
Ini tempat yang sangat bereputasi.
Bu, ini Shanthan.
Aku tahu!
Dia selalu bercerita padaku tentangmu.
-Siapa? -Bibi.
Kau bahagia, Nak?
-Kenapa? -Ayo pergi, Bu.
-Ini waktunya untuk kereta. -Sampai jumpa, nak.
Hai!
Kami pergi. Hubungi kami jika kau butuh sesuatu.
Siapa dia?
Bu, telepon aku begitu kau sudah di kereta.
Simpan ini juga.
Saudari... Aku lupa memberitahumu.
Ada orang yang datang untuk membersihkan di sini.
Jadi, perlu membayarnya 1000 rupee.
Begitulah di sini.
Baiklah. Sampai jumpa.
Jaga tanganmu, Nak.
Tidak, Bung. Baru saja sampai. Masih ada waktu.
Pertanyaan macam apa itu!
Bagaimana mungkin kau tak minum saat berada di Bangalore?
Ada tempat di dekat sini.
Di Kundalahalli.
Kita akan baik-baik saja setelah mendapatkan seragam.
Begitu?
Pak, seragam?
Bu? Seragam sudah tiba?
Belum.
Belum?
Bu, kapan?
Oke, Bu.
Tolong satu per satu!
Bu, seragamnya sudah tiba?
Enyah, kawan!
-Berikan. -Bu!
Malayali?
Shanthakumaran.
Hei kau! Periksa!
Ya, kau! Kemari!
Kemari, kawan!
Jalan.
Kalian... nanti...
Nanti?!
Kembali?
Di mana kau?
Mereka memukuliku.
Siapa?
Senior.
Kenapa kau tak melakukan saja apa yang mereka katakan?
Aku melakukan semua yang mereka minta.
Bernyanyi, ketika mereka memintaku untuk bernyanyi.
Dan tetap saja mereka memukuliku.
Omong kosong! Kita harus mengajukan kasus!
Siapa mereka?
Kutty CS.
Mereka masalah besar di sini.
Kau ingin menyelesaikan pendidikanmu dengan baik?
Terima pemukulan itu dengan tenang.
Hari ini, dia.
-Besok, mungkin kita. -Ya.
Lalu apa?
Akan lebih baik jika kita menyudahinya!
Kau tahu apa yang membuat senior ini begitu berani?
Apa?
Mereka sudah bersama selama beberapa tahun,
jadi, mereka punya ikatan.
Para junior ini tak memilikinya karena mereka datang dari berbagai penjuru.
Tapi di sini...
kita semua, ber-22 adalah satu!
Jika kita tetap bersama, kita akan jadi geng yang lebih besar dari mereka.
Hebat!
Kenapa kau tak mengatakan ini sebelumnya?
Aku baru dipukuli!
Tidak apa-apa, kawan. Yang sudah terjadi, terjadilah.
Biarlah.
Ngomong-ngomong, lagu apa yang kau nyanyikan?
โช Seranganku padamu, terlalu berat โช
โช 4 bulan tanpa tidur Terlalu berat โช
Pantas saja mereka memukulimu.
Apa yang kau katakan?
Dengar...
Mulai besok dan seterusnya,
kita ber-22 adalah satu geng.
Kita tak perlu takut pada siapa pun!
Bersulang!
Tidak perlu lagi kasar, kawan!
Itu Kutty CS.
Siapa mereka?
Junior, sepertinya.
Hei!
Habis dari sana.
Kayaknya, mereka senior.
Mereka menanyakan namaku.
Aku bilang, enyah, bodoh.
Kenapa kau tak menyebutkan namamu saja?
Apa? Shanthan? Diam, bung!
Ada apa denganmu, bung?
Apa yang salah denganku?
Kau baru bilang kemarin, kita ber-22 adalah satu geng besar.
Bahwa kita harus menghadapinya bersama-sama dan sebagainya?
Itu tak berarti, kau pergi dan mencari masalah yang tak perlu!
Dengarkan aku.
Kalian jangan khawatir.
Mereka tak tahu asrama kita.
Mereka tak akan datang ke sini.
Sepertinya mereka datang... Lihat.
Kau! Datang ke kamar!
Kenapa? Aku tak mau.
Kau sebaiknya mendengarkan kami!
-Tidak. -Hei!
Kami senior, kawan!
Lebih baik dengarkan apa yang kami katakan!
Saudara, kau senior kami di kampus.
Ini asrama kami. Kembali.
Ayo pergi.
-Bukankah aku sudah bilang? -Bung!
Itu Kutty.
Habislah kalian!
Mampuslah!
Teman-teman...
Waktunya akhirnya tiba.
Saatnya kita bersatu jadi satu geng.
Mereka pasti akan kembali hari ini.
Tapi jika kita bertahan malam ini...
tak ada yang akan menyentuh kita lagi!
Enyah, kawan!
Kau berhadapan dengan Kutty CS!
Mereka akan menghajar semua orang.
Tidak peduli siapa itu. Kita akan menghadapinya bersama-sama.
Kalian bisa pergi bersama dan dipukuli.
Aku sudah mendapat bagianku.
Bagi yang tak ingin dipukuli bisa ikut denganku.
Semua yang terbaik.
18.
18 bukanlah angka yang kecil.
Kita akan menghadapi mereka.
Kita membutuhkan alat untuk itu.
Ambil tongkat dan alat apa pun yang bisa kau temukan.
Kita harus memiliki alat yang cukup.
Siap bertarung.
Untuk apa kayu bakar? Ingin bakar asrama?
Hanya untuk jaga-jaga.
Jaga-jaga?
Dari apa? Ular?
Tidak, dari senior.
Mereka datang untuk memukuli kami.
Kau tahu siapa aku?
Ini Bangalore-ku.
Aku sudah berada di sini selama 36 tahun!
Aku punya perlengkapan kecil.
Mereka tak bisa menyakitimu tanpa melewatiku!
-Cukup. -Cukup?
Jangan khawatir. Jadilah kuat.
Oke?
Semua baik-baik saja, kan?
Sejauh ini, semua baik-baik saja.
Semua aman.
Nyamuk!
Semuanya baik-baik saja, kan?
Semuanya aman, kawan.
Ganti.
-Kau sipir? -Astaga...
Berhenti menginjak dadaku!
Lepaskan kakimu!
Tanganku...tanganku...
Jangan pelintir tanganku... aduh!
-Kakiku... kakiku... -Ayo!
Ini asrama mereka! Ayo!
Aduh...
Lihat! Mereka di atas sana.
Mereka di sana!
Jangan kunci! Buka pintunya! Buka!
Buka pintunya! Tolong!
Buka, kawan!
Tolong, buka!
Kau, kau, kau!
Buka pakaianmu.
Ayo.
Lepas pakaianmu!
Ayo, lepas!
Masuk ke dalam mobil!
Masuk!
Tutup pintu.
Tidak! Tolong jangan tendang kami.
Kau ingin mengolok-olok senior?
Kau tak merasakan sakit, takut atau apa?
Kenapa kau tak menangis?
Mereka tak akan membunuh kita, kan?
Semoga saja tidak.
Apa kau tidur?
Untuk itu kami membawamu ke sini?
Bangun! Kemari!
Kemari untuk bersantai?
Bangun, kawan!
Hajar mereka hingga babak belur!
Tidak....
Tanganku...
Sakit.
Jangan diinjak, saudara!
Buka. Apa yang kau lakukan?
Aku akan segera keluar, saudara.
Bersembunyi di toilet?
Ke sana!
Kau menangis?
-Hei... -Aduh!
Saudara, tolong jangan pukul aku lagi.
Tolong tinggalkan aku. Aku sudah penuh memar!
Tolong berhenti memukul, saudara!
Berikan bola itu.
Dapatkan Bonus 50% - Auto Jadi Sultan = HANYA DI LXWHITELABEL.COM =
Tertawa! Sekarang tertawalah!
Ayo tertawa, kawan!
Teman-teman!
Mulai sekarang, apapun masalah yang kau hadapi,
Aku akan ada untukmu, saudara Kuttymu!
Tak seorang pun di kampus akan berani menyentuhmu.
Bersulang!
Bersulang!
-Shanthan, bersulang! -Bersulang, saudara Kutty!
Hei, makan.
Makanlah.
Mulai sekarang, kalian adalah milik saudara Kutty!
Ngomong-ngomong, itu menyakitkan...
Bersulang.
Dari mana kau, nak?
Aku mencoba meneleponmu berkali-kali.
Aku menelepon Aju, Shanthan dan semuanya,
tapi tak ada yang menjawab.
Ada masalah jaringan, Bu.
Ada masalah, sayang?
Tidak ada, Bu.
Kalau ada apa-apa, beritahu aku, oke?
-Ya, Bu.-Kau senang, Nak?
Aku akan meneleponmu nanti. Aku akan belajar.
Oke, lanjutkan, sayang.
Hei...
Hei...
Bahkan ibuku tak pernah memukulku.
Biarlah, kawan.
Jangan sedih.
Kau akan menangis hanya karena itu?
Lalu?
Bukankah kita harus membalasnya?
Apa? Membalas?
Tapi kenapa?
Kita sudah mencapai kompromi, bukan?
Juga, kita minum-minum dengan saudara Kutty tadi malam.
-Saudara Kutty, pantatku! -Sekarang kita bisa ke kampus tanpa rasa takut.
Tidak peduli kalian bersamaku atau tidak,
aku akan menghajar mereka!
Tapi...
-Katakan-- -Aku juga ingin memukul mereka.
Hei, hei, bung!
Ingat saat kita dipukuli dalam keadaan telanjang?
Jadi, bagaimana sebenarnya rencanamu untuk menghajar mereka?
Jika aku menelepon saudara-saudaraku, mereka akan datang,
memukul mereka dalam sekejap dan kembali.
Aku yakin mereka akan melakukannya.
Tapi bagaimana setelah mereka pergi?
Mereka akan memukul kita lagi, dengan pantat telanjang, seperti yang terakhir kali!
Lupakan saudara-saudaraku,
kita perlu membangun dukungan di sini.
Dukungan lokal.
Dukungan lokal?
Ayo lakukan satu hal.
Mari kita pergi dan umumkan,
"Hei, teman-teman, kami memerlukan dukungan lokal!
Cukup 10 orang saja."
Bagaimana ideku?
Aku tak tahu bagaimana aku akan melakukannya.
Tapi aku pasti akan menyiapkan beberapa dukungan lokal di sini
dan membalas mereka!
Aku juga!
Lakukan satu hal.
Ceritakan idemu.
Biarkan aku memikirkannya.
Berikan di sini. Tampaknya dukungan lokal!
Apa rencananya?
Mulai sekarang, setiap hari,
kita akan pergi ke bar dan minum.
Ya! Itu keren.
Ide yang bagus!
Apa?
Kebanyakan penduduk lokal dan preman nongkrong di bar semacam ini.
Jadi, jika kita aktif ke sini,
kita dapat dengan mudah berteman dengan mereka.
Yang benar saja? Itu rencanamu?
Kau punya yang lebih baik?
Apa yang salah dengan yang ini?
Rencana ini bagus!
Aku akan kembali.
Salam!
Saudara, tolong nomormu?
Hei, ambilkan air.
Aku sibuk! Enyah!
Sikap kurang ajar!
Ingin berakting dalam iklan?
Iklan?
Ya, iklan untuk toko tekstil. Kau akan dibayar.
-Jangan keberatan mencobanya. -Kalau begitu, ayo.
Saudara, apa baju ini cukup bagus untuk diiklankan?
Mereka akan memberimu gaun.
Aku tak punya banyak pengalaman. Aku hanya berakting dalam drama--
-Kau bisa menari? -Ya, aku bisa.
Kalau begitu, ayo.
Sudah dimulai.
Ayo.
Satu penuh!
Ini bar Mayuri.
Ya, aku bisa melihatnya.
Segala macam gangster berkumpul di sini.
Kudengar pemiliknya adalah pria yang luar biasa.
Jadi, mulai hari ini, satu-satunya fokus kita adalah padanya.
Mulai sekarang, kita akan minum di bar ini.
Ya!
Itu pemilik yang kuceritakan padamu.
Salam, saudara!
Namun, sepertinya tak mudah untuk berteman.
Ikut denganku.
Ayo pergi dan coba temui mereka.
Hai, Pak...
-Saudara... -Minggir!
Mundur!
Ramai sekali, kawan!
Aku tak bisa tahan lagi! Aku ingin kencing di luar.
Di luar?
Tunggu!
Enyah.
Apa itu?
Ini tak akan berhasil, bung.
Ayolah, jangan putus asa.
Berdiri dalam antrian. Ayo kencing.
Berikan sebatang rokok.
Sial!
Jika saudara-saudaraku berada di Bangalore,
kita tak akan kesusahan seperti ini.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi di kampus itu.
Halo, Nak!
Punya korek?
Bisa kau menunggu sampai ini selesai?
Jangan khawatir.
Kau tampak kecil...
Apa?
Kau tampak seperti anak kampus.
Ya.
Ke mana pun kita pergi, kita bertemu dengan orang-orang Malayali yang tak berguna ini!
Siapa itu?
Lihat seragam putihnya? Sepertinya seorang sopir.
Siapa peduli! Kumisnya dan rantai emas sialannya.
Sangat norak!
Itu pria yang kita lihat di toilet.
Pria itu?
Kenapa dia basah dengan emas?
Dia mungkin di sini untuk berakting dalam iklan perhiasan!
Seperti macan tutul yang kau bawa kami ke sana?
Aju, kenapa diungkit sekarang?
Tidak perlu mengatakan itu di sini!
Spesial hari ini.
Kebab SPL Mayuri.
Kebab Spesial!
Terlalu ramai, kawan!
-Bagaimana kalau kita kembali? -Kembali?!
Ini tak akan berhasil.
Mari kita fokus pada pendidikan kita.
Kau kembali dan telepon ibumu sambil menangis!
Meja itu kosong. Ayo pergi kesana.
-Aku tak akan menangis. -Berhenti menangis dan datanglah!
Pak, meja ini sudah dipesan. Duduklah di tempat lain.
-Apa? -Pemesanan!
Pergi dan duduk di tempat lain! Enyahlah!
Siapa yang memesan meja di lubang tikus ini?
Kau bisa memesan satu kebab lagi?
Enyah!
Hei... Lihat!
Pria yang kita temui di toilet.
Dia akan duduk di meja itu
dan pelayan akan mengusirnya. Ayo saksikan langsung!
Apa-apaan!
Dia tak mengizinkan kita duduk di sana, tapi pria itu boleh?
Menurutmu dia memesan meja itu?
Aku rasa emasnya asli.
-Yang benar? -Hei!
Target kita datang.
Boleh kita pergi? Mereka hanya akan mengusir kita!
Tutup mulutmu.
Salam, saudara.
Semua baik?
Semoga mereka melayanimu dengan baik. Ada lagi...
Sepertinya dia orang besar.
Ya.
kau bisa jadi sedikit lebih baik di kamar mandi.
Hentikan omong kosong ini!
Lebih baik, pantatku!
Hentikan. Lakukan satu hal.
Pergi ke sana dan mulai obrolan.
Kenapa hanya aku? Ayo kita semua pergi bersama-sama.
Ada pepatah mengatakan, hal buruk datang bertiga.
-Benar? -Kau pergi sendiri.
Baiklah, salah satu dari kalian yang pergi. Aku tak bisa.
Dengar, dia meminta korek padamu.
Jadi, kau harus pergi dan berbicara dengannya.
Sana, pergi.
Aku tak bisa, bung.
Aku takut.
Tidak perlu takut.
Ikut denganku. Ayo...
Ayo.
Ambil ini.
Berjalan lurus ke arahnya.
Dan minta korek.
Saat dia berbalik untuk menyerahkannya, katakan,
"Wah! Ingat aku, saudara?
Kita bertemu di toilet kemarin?"
-Itu saja. -Bung... tolonglah!
Kau dan kau! Pergilah, kawan.
Pergi.
Pergi saja!
Korek...
Korek...
Itu luar biasa!
Terus.
Punya korek?
Dia memberiku korek.
Minta!
Dia sudah memberikannya. Sekarang apa?
Ayo, tanya dia!
Halo, Nak!
Ingat aku?
Di toilet...
-Kemarin... -Korek...
Aku ingat kau.
Duduklah.
Teman...
Teman? Di mana?
Di sana...
Silakan duduk, Nak.
Aku Ranga.
Ranga.
Ranga.
Siapa namamu?
Aku Bibi.
Shanthan.
Aju.
Aku harus pergi lebih cepat hari ini.
Kita akan bicara detail besok. Bersulang!
Kosong.
Isi lagi.
Hentikan.
Uang?
Anak-anak!
Hei!
-Siapa di sana? -Aku di sini, saudara. Aku di sini!
Apa yang terjadi, saudara? Siapa yang melakukannya?
Katakan saja namanya, aku akan mencincangnya!
Hei, tak apa-apa.
Aku hanya ingin memesan sesuatu.
Duduk.
Ambilkan aku seperempat dan kebab.
Apa lagi? Kau ingin yang lain?
Hei...
Kebab, ya!
Kebab, agaknya...
Saudara, sudah waktunya.
Harus segera pergi.
Tidak!
Besok...
'AAVESHAM'
Bukankah sudah kubilang, aku akan mendapat dukungan lokal di sini?
-Percaya padaku sekarang? -Bung...
Dia punya banyak kaki tangan!
Kita biasa menemuinya setiap hari.
-Tidak percaya mereka semua preman! -Benar.
Targetnya ada di sana, membungkuk padanya.
Pentingkah siapa?
Hanya perlu menyelesaikan pekerjaan.
Kemana kau akan pergi?
Ke asrama.
Masuklah. Aku akan antar.
Tidak apa-apa. Kami jalan saja.
Ayo, masuk.
Tidak apa-apa. Kami akan berjalan.
Ingin kami menyeretmu seperti terakhir kali?
Kenapa repot-repot! Kami akan masuk, saudara.
Ayo, masuk.
Kita harus berteman dengannya dan memukul orang ini--
Kita sudah berteman.
Apa itu?
Lagu yang bagus...
-Hai. -Halo, anak-anak.
-Bersulang. -Bersulang.
-Hei Amban, kemari. -Oke.
Hei, santai, Amban.
Saudara.
Amban.
Amban.
Aku akan memperkenalkan semua orang.
Hei, semuanya, datang dan sapa mereka.
-Ya, ayo. -Kemari.
Tidak ada alat, hanya perkenalan!
- Amban. - Ya.
Anak-anak ini mengingatkan aku pada pendidikan kampusku.
Tapi kau tak pernah ngampus.
Benar, mereka juga tak pernah!
Halo, nak, aku di sini.
Hei, bangun. Saudara Ranga ada di bar. Ayo cepat.
-Kemana kau pergi? -SPP, SPP.
Masuklah, anak-anak.
Tutup pintu.
-Bagaimana kelasmu hari ini? -Lancar.
Minum.
Pedang.
Pisau dua mata!
Enyah!
-Hei! Tenang. -Duduk di sana.
-Duduk di sana, semuanya. -Ayo!
Kau tak punya pistol, saudara? Pistol!
Amban, pistol.
Saudara, aku lupa bawa pistolnya.
Kau tak membawa pistolnya?
Tidak ada yang membawanya, saudara.
Geng macam apa yang datang tanpa pistol!
Kenapa, Amban, kenapa?
Anakku, akan kutunjukkan padamu.
Keren.
Dengar, besok, oke. Akan kutunjukkan padamu besok.
Amban, jangan terlalu ceroboh.
Tidak akan, saudara.
Jangan lupa pistol!
Saudara, kami bisa ikut serta dalam pertarunganmu berikutnya?
-Tidak, bisa. -Tentu saja--
Kau datang ke sini untuk pendidikan, bukan? Lakukan itu dengan benar.
Ya, belajarlah dengan baik. Pertama, fokuslah pada pendidikanmu.
Saudara...
Bagaimana kau jadi orang besar?
Amban...
-Amban -Ya, saudara...
Cerita yang mana?
Yang mana?
Jus...
Jus!
Jus, benar!
Jadi...
Selama masa sekolahnya,
dia bergabung dengan toko jus kerabatnya
sebagai pekerja paruh waktu.
Saudara Ranga adalah anak tunggal.
Jadi, dia memperlakukan kerabat itu seperti saudaranya sendiri.
Tapi orang itu...
Dia mengambil uang tabungan kuliah saudara Ranga
dan menginvestasikannya ke perusahaan pasar saham remang-remang.
Perusahaan itu mengalami kehancuran besar.
Karenanya saudara Ranga tak bisa kuliah.
Lalu, saudara Ranga beralih membuat jus
Membuat jus!
Tapi coba tebak?
Saudara Ranga sangat beruntung!
Karena kemudian, perusahaan itu berkembang pesat.
Dia menghasilkan 40 kali lipat investasi awalnya.
Hore! Dia kembali!
Kisah kilas balik gangster yang tak biasa.
Diam saja dan dengarkan ceritanya.
Lalu apa, Amban?
Pria itu kembali lagi.
Dia menghabiskan semua uang saudara Ranga untuk lahan yang tak berguna dan tandus
di antah berantah Bangalore.
Dan saudara Ranga yang malang, dia kembali--
Membuat jus, bukan?
Bagaimana kau tahu itu?
Nanjappa, bagaimana mereka tahu?
Ini keseluruhan ceritanya?
Apa yang telah terjadi?
Itu membosankan?
Tidak membosankan sama sekali!
Kau ingin yang lebih penuh aksi?
Jadi, kembali ke toko jus.
Seperti biasa, saudara Ranga membuat jus.
Preman berkeliaran, siap menimbulkan masalah.
Dengan alatnya!
Jika kau ingin membuat keributan...
pergi dari toko!
Hei, apa ini? Tidak ada jus?
Di sanalah Reddy pertama kali bertemu Ranga.
Dengan pembuka soda!
Sejak hari itu, dia bergabung dengan geng Reddy.
Ranga!
Dapatkan Bonus 50% - Auto Jadi Sultan = HANYA DI LXWHITELABEL.COM =
Suatu hari, 30 preman berdiri di hadapannya.
Dia sendirian.
Yang benar?
Dan di belakang mereka, terdapat bos mereka.
Apa yang bisa dia lakukan?
Hei, Ranga!
Anak tengik!
Kau berani muncul di daerah kami dan macam-macam dengan kami?
Jangan biarkan dia pergi! Cincang dia!
Jangan biarkan dia melarikan diri.
Hajar dia sampai babak belur.
Saudara Ranga melompat ke udara dan melompat dari
bahu ke bahu, bahu ke bahu
sampai dia mencapai bos mereka di belakang.
Lalu dia menikamnya berulang kali,
sampai bos mereka meninggal.
Semuanya baik-baik saja?
-Kematian yang bagus. -Terima kasih, Amban.
Amban! Kemudian?
Saudara Ranga sungguh gaduh!
Kehadirannya pun sudah cukup jadi tontonan!
Saat dia mencabut belatinya, satu tebasan di leher!
Darah!
Dari sini, darah bercipratan ke mana-mana.
Darah di sekujur tubuhnya!
Dia mengeluarkan pistolnya dan menembak tepat sasaran!
Tengkorak terbelah!
Darah!
Darah di sekujur tubuhnya!
Saudara Ranga lari seperti ini...
-dan... - Dia...
bersalto seperti ini.
Hilang!
Wow!
Saudara, kami bisa ikut bertarung juga?
Kalian ingin ikut!
Biarkan aku bicara dengannya.
Apa pendapatmu tentang mengajak anak-anak bertarung?
Saudara?
Amban, masuklah.
Oke.
Halo, anak-anak!
-Ayo cepat. -Ayo.
Masuk, cepat.
Sampai jumpa besok.
Oke, sampai jumpa besok.
Oke, sampai jumpa.
Batu.
Di kencingmu? Minum banyak air.
Hati saudara Ranga sekeras batu.
Ketika ibunya mengetahui
jalan gangsternya, ibunya meninggalkannya.
Namun hal itu tak mempengaruhinya sama sekali.
Dia berdiri di sana seperti batu.
Siapa itu?
Aku tak tahan lagi.
Aku akan kembali di hari kau berhenti dari semua ini.
Aku pergi.
Atau berjanjilah padaku kau akan meninggalkan bisnis gangstermu sekarang juga
dan aku tak akan--
Akhirnya saudara Ranga mengundurkan diri dari geng Reddy
dan memulai gengnya sendiri.
Begitulah cara dia jadi orang yang kita kenal sekarang.
Saudara Ranga kita!
Membual tingkat dewa!
Kenapa kita harus mendengarkannya?
Dengar, apa kau tak cukup minum miras dan makan kebab?
Jadi, kau bisa menahan diri dari membual.
Ini bukan untuk miras.
Kau tak ingin membalas mereka?
Jadi, kau harus terima.
Jadi, tak apa-apa mendengar bualan.
Beri aku rokok.
Ayo, berikan padaku.
Dia memanggil.
Ini.
-Kembalikan. -Ya, saudara.
Anakku!
Ada perkelahian di Yelahanka.
Mau ikut?
Tentu saja, saudara! Kenapa tidak!
Aku akan mengirimkan mobil untukmu. Datanglah.
Oh ya, nak! Akan mulai tepat jam 9 malam!
Ya, saudara. Kami akan datang.
Saudara Ranga mengajak kita bertarung malam ini.
-Yang benar? -Dia akan mengirimi kita mobil sekarang.
Dia punya Benz
dan dia masih gunakan mobil ini?
Itu seleranya. Biarkanlah!
Pernah kau melihatnya menari?
-Tak pernah? -Tidak.
Pegang ini.
Kau bilang dia kehilangan seluruh uangnya untuk membeli tanah yang tak berharga.
Lalu kenapa pengaturan sebesar itu bisa terjadi?
Tanah tandus yang dia beli hari itu...
Sekarang di atasnya terdapat Bandara Internasional Bangalore.
Orang yang beruntung!
Hei, ayo. Ayo.
Di mana jaketku? Di mana?
Berikan sini!
Pak, silakan.
Lihat di sana, Pak. Orang-orang itu.
Mereka yang mengusik putriku.
Amban, tak perlu alat.
-Tak ada alat! -Terima kasih, saudara.
-Hei-- -Kau!
Ayolah, Amban. Biarkan aku bicara...
Lanjutkan.
Saudara akan memberitahumu!
Dan kau akan mendengarkan!
Hajar dia!
Apa yang kau tunggu? Pergi hajar mereka!
Aku akan merusak wajahmu!
Amban, patahkan giginya!
Gigi ini! Yang ini!
Gigi!
Kaki!
Hancurkan wajahnya!
Patahkan kakinya!
Kenapa harus mengerahkan seluruh batalion untuk menghajar 4 orang saja?
Berapa banyak orang yang bisa menghajar kita bertiga?
Hajar!
Kenapa saudara Ranga tak menghajar siapa pun?
Tangannya! Patahkan kakinya!
Ibunya menyuruhnya untuk meninggalkan segalanya dan datang padanya.
Tapi sebelum dia bisa melakukan itu...
ibunya meninggal.
Pria ini... Pria ini!
Tarik lidahnya keluar!
Potong!
Hari itu, dia memutuskan!
Tak pernah menyentuh siapa pun lagi.
Halo, nak!
Kasihan saudara.
Jangan menangis.
Anak-anak, sampai jumpa besok.
-Ya, besok. -Oke, saudara. Selamat malam.
-Sampai jumpa besok, Amban. -Oke...
-Hei, Bibi, siapa itu? -Itu saudaraku.
-Saudara? Kau punya keluarga di Bangalore? -Akan kujelaskan nanti!
Tapi dia tak mirip denganmu.
Enyah!
Bung...
Anakku,
saudara Ranga selalu menepati janjinya!
Amban, bawakan.
-Lihat, pistol! -Bagaimana?
Luar biasa, Nak! Tembakkan!
Saudara...
Bolehkah?
-Saudara. -Siap.
Tembakkan saja pistolnya, Amban.
Saudara, agaknya macet.
Sudah lama tak menggunakannya.
Nak, aku akan membawa yang lebih besar--
Itu menembak!
Saudara!
Aku tak bisa mematikannya!
Ya Tuhan! Hentikan!
Saudara, jangan tinggalkan aku di sini.
-Aku bilang hentikan! -Saudara!
Saudara!
Amban, matikan!
Sudah mati, saudara.
Kau harus hati-hati, Amban!
Aku akan berhati-hati, saudara.
Aku minta maaf, saudara.
Amban, apa yang kau pikirkan?
Kalian di sini!
Periksa tanda garis miring di punggungku.
Hitung.
1, 2, 3, 4, 5,
6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14!
14 tebasan!
Sial! Aku tak tahu bagaimana aku mendapatkan ke-14 tebasan itu!
Ada ide?
Kalian ingat?
-Aku tak ingat? -Kau tak ingat?
Cobalah untuk mengingatnya.
2 atau 3 tahun yang lalu...
-2 tahun yang lalu? -...di hari ulang tahunmu.
Saat bermain tebak-tebakan bodoh...
Kau menebasku!
-Ya, aku menebasmu. -Benar.
Saudara yang menebasku.
Aku menunjukkan kepadanya film Mohanlal, Kireedam dan dia tak bisa mengerti!
Aku sangat mabuk!
Aku jadi sangat marah!
Aku mengambil pedang dan satu tebasan!
30 jahitan!
Sekarang aku ingat.
Aku sangat mabuk, inderaku ada di luar angkasa!
Jadi, aku tak merasakan apa-apa!
Aku juga!
Hei.
Dia menebasmu karena hal sekecil itu.
Namun, dia tak melakukan apa pun terhadap kerabat yang menipunya?
Mungkin karena dia menganggapnya sebagai saudaranya sendiri?
Benar, itu sebabnya dia memaafkannya selama ini.
Namun ketika harga tanah melonjak,
dia memainkan banyak permainan untuk merebutnya.
Dia bahkan mengirim preman untuk membunuh Saudara Ranga.
Dia mempekerjakan orang itu.
Ketika saudara Ranga mengetahui hal ini
dia mengundang pria itu ke rumahnya
dan berkata dia akan mengembalikan tanah itu kepadanya.
Lalu?
Cat merah?
Siapa yang mengecat bagian dalam rumahnya dengan cat merah?
Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?
Saudara menikamnya berulang kali, sampai dia meninggal!
Lalu menguburkannya di dapur.
Dia membubuhkan cat merah pada noda darah di dinding.
Dan dia berdiri di depannya...
dan berteriak!
Kau melihatnya, Amban?
Aku tak melihatnya.
Namun orang yang melihatnya menggambarkannya dengan dampak yang sama.
Di mana orang itu sekarang?
-Karena keadaan tertentu, saudara harus-- -Membunuh dia?
Tidak, saudara memecatnya.
Aku baru bergabung 5-6 tahun yang lalu.
Aku datang ke sini untuk bersembunyi karena kasus penyerangan rumah.
Dan kemudian aku tak pernah kembali.
Amban!
Kenapa semua orang masih sadar?
-Ayo, ayo pergi ke bar. -Dan jadi tak sadar!
Dengarkan.
Kau tak bisa datang dan pergi sesukamu.
Asrama ini dijalankan oleh orang-orang terhormat.
Paham?
Apa yang telah terjadi?
Minggir!
Halo, saudara?
Halo, nak!
-Ya, saudara! -Bagaimana rumahnya?
Ada apa?
-Tidak bisa mendengarmu. -Bagaimana rumahnya?
Rumah?
-Rumah! -Di mana kita?
-Ini rumahmu? -Ya!
Keluar dan lihatlah.
Lihat, fotonya.
Itu ruang tamunya.
Bagaimana?
Kau menyukainya?
Buka kulkas.
Bung! Botol!
Botol?
Mereknya apa saja, bung?
Sekarang, buka lemari.
Bung, camilan!
Bung!
Jangan dorong! Ada banyak.
Cukup?
Ya, saudara! Lebih dari cukup.
Sekarang di luar rumah.
Keluar!
-Di mana korek? -Di luar? Masih ada lagi?
Ini belum selesai!
Di luar juga ada bir?
Itu kendaraan favoritku setelah mobil hijauku!
Motor biru itu sekarang milikmu!
Terima kasih, saudara!
Tapi, nak, kau sudah punya SIM?
Jika tidak, Amban punya SIM-ku. Kau bisa mengambilnya.
Baiklah.
Kau tahu jalan menuju kampus dari sini?
Kita akan menggunakan peta.
Tidak perlu pergi ke bar lagi.
Kita punya cukup rokok dan alkohol untuk sebulan.
-Apa yang harus dilakukan jika bensinnya habis? -Kita akan minta Amban--
Hei, teman-teman!
Bagus!
-Baru? -Ya.
Tunjukkan padaku.
Kunci.
Berikan.
Berikan, kawan.
Berikan aku kuncinya.
Ini.
Kemana dia membawanya?
Setuju, kalian adalah teman-temanku dan semuanya.
Tapi datang dengan tiba-tiba di tahun pertamamu
akan membuat para senior merasa tak enak, bukan?
Mereka juga teman-temanku.
Jadi, mulai sekarang,
tak ada tiba-tiba, oke?
Kudengar kalian punya rumah baru?
Tidak mengundang kami?
Kami akan mengajakmu suatu hari nanti.
Aku menunggu.
Ayo beritahu Ranga dan hajar dia hari ini!
Tapi Ranga tak akan memukuli siapa pun.
Dia tak perlu. Premannya bisa, kan?
Bagaimana kau bisa begitu yakin dia akan melakukannya jika kita memintanya?
Kita akan memberitahunya saat waktunya.
Kenapa?
Dia memberi kita motor, rumah, alkohol ini, dan segalanya.
Kita bisa memberitahunya.
Lalu, bukankah dia akan mengira kita dekat dengannya karena alasan ini?
Jadi, apa kita tak akan pernah memberitahunya?
Nanti jika sudah waktunya.
Mari minum teh.
Atau apa kita menunggu sampai waktunya minum teh?
Saudara, satu teh.
-Untukku juga. -Dan aku.
3 teh!
Biarkan, Nanjappa.
Hei, pecundang!
-Kau tak melihat? -Maaf, saudara. Aku tak melihat--
Hajar dia dan bakar dia!
Pemalas sialan!
Sudah waktunya.
Amban! Aku ingin memukul mereka lebih keras lagi!
Biarkanlah! Ini kasus kecil.
Mereka menyentuh anak-anakku di depanku?
Kita memberinya pelajaran.
Dapat melakukan ronde lain jika kau mau.
Duduklah, saudara.
Harus membakarnya!
Ayo, duduklah.
Seandainya kami bertemu denganmu lebih cepat.
Kami tak akan menerima pukulan seperti itu
dari senior.
Sekarang sudah terlambat.
Kami sudah dipukuli.
Dengan sangat parah!
Butuh waktu berhari-hari untuk menyembuhkan memarnya.
Lalu?
Apa, saudara?
Tentang seniormu. Lalu, apa?
Tidak ada, saudara. Hanya senior kampus...
Hei!
Katakan.
Saudara, tak banyak.
Senior kami mengurung kami di sebuah kamar
dan memukul kami dengan cukup keras.
Tidak banyak.
Hanya beberapa memar dan luka.
Dan kalian tak membalas?
Membalas...
Bibi, kau membalas atau tidak?
Tapi, saudara...
Orang-orang itu mendapat dukungan lokal dan--
Dukungan lokal?
Kalian berbicara tentang dukungan lokal kepadaku?
Amban!
Kepadaku?
Ayo! Aku ingin menghajar mereka sekarang juga!
Tidak apa-apa. Sekarang sudah berakhir.
Jika kau tak datang, aku akan menghajarmu!
Ayo bangun! Ayo!
Tidak perlu!
Apa yang salah dengan dia?
Tidak hari ini.
Besok, di kampus.
Di depan semua orang.
-Ide bagus. -Benar.
Anak pintar.
Anak pandai, Bibi.
Dapatkan Bonus 50% - Auto Jadi Sultan = HANYA DI LXWHITELABEL.COM =
Di mana saudara Ranga?
Mana aku tahu?
Telepon dan periksa.
Tanya dia berapa lama?
Ayo minum teh lagi?
Untuk apa? Perutku penuh dengan teh!
Saudara Ranga sudah datang.
Ayo!
-Halo, anak-anak! -Saudara!
Apa kabar?
Ada apa?
Ada yang datang?
Hanya kalian berdua?
Bagaimana dengan yang lainnya?
Hari ini hari Holi.
Semua orang cuti.
Tapi jumlah mereka cukup banyak.
Panggil mereka dulu.
Selebihnya, aku...
- Amban. - Ya, saudara.
Kita akan dipukuli lagi?
Amban, suruh semuanya pergi.
Satu teh spesial untuk saudara.
Dan tiga teh biasa.
Dia pasti punya rencana.
Yang lain pasti ada di sekitar sini.
Lakukan satu hal, telepon dia.
Kau yang menelepon.
Tidak perlu, aku akan menelepon.
Apa kabar?
Di mana kau, pecundang?
Hei! Ini aku, saudara Kutty!
Ya, kau! Anjing tengik!
Hei!
Kau salah nomor?
Tidak, kawan! Aku meneleponmu!
Kau mabuk?
Aku sepenuhnya sadar.
Katakan saja di mana kau berada.
Kau di mana?
Kami berada tepat di luar kampus. Datanglah ke sini.
-Hei, kau! Aku datang untukmu! -Ya, ayo.
Bung, kau tahu apa yang aku harapkan saat ini?
Dia harusnya menamparku di depan saudara Ranga.
Itu pasti akan terjadi.
Teh macam apa ini?
Ini teh spesial.
Hajar dia!
Kemari, kau!
Bajingan!
Berdiri dan berpose untuk foto atau apa?
Pergi! Pergi dan bertarung! Cepat!
Hei, Amban! Aku melewatkannya. Aku ingin menonton!
Luar biasa!
-Terima kasih, saudara. -Bagus, Amban.
Oke, saudara! Siapa itu?
Lagi berpose?
Pergi!
Apa yang terjadi?
Perkelahian!
Berhenti bermain-main, Amban.
Lempar mereka cepat!
Hebat, Amban! Hebat!
Apa yang terjadi, Nanjappa?
Lompatan itu terlalu rendah.
Kau ingin pensiun?
Aku juga ingin melihat!
Kau ikut denganku.
Halo, anak-anak!
Bagaimana dengan ini?
Lihat!
Hajar dia!
Anak-anak! Ini dia!
Dia muntah!
Dengar!
Mereka ini anak-anakku!
Anak-anak Ranga!
Jika ada yang berani menyentuh mereka,
akan jadi begini nasib mereka!
Awaslah!
Hei!
Dalam bahasa Kannada! Brilian!
Mereka ini anak-anakku!
-Kannadiga seharusnya mengerti, kan? -Jika ada yang berani menyentuh mereka,
akan jadi begini nasib mereka!
Awaslah!
-Semuanya, dengarkan aku! -Belum selesai? Hindi?!
Saudara, cukup.
Ayo pergi. Semua orang sudah mengerti.
-Tidak perlu bahasa Hindi? -Tidak perlu.
-Oke. -Baiklah.
Selamat hari Holi!
Angkat teleponnya.
Halo, Nak?
Halo, Nak!
Amban!
Di mana Bibi?
Di mana mereka?
Mereka...
Kemana mereka pergi?
Aku sudah meneleponmu berkali-kali!
Saudari...
Bibi terjaga sepanjang malam.
Dia baru saja tidur.
Benarkah?
Tapi dia juga tak menjawab semalam.
Tapi siapa...
Siapa kau?
Kau bukan Aju atau Shanthan?
Aku Ranga.
Dia mungkin belum memberitahumu tentang aku.
Sudah.
Dia selalu bercerita padaku tentangmu.
Bahkan tadi malam dia memberitahuku.
Dia bilang kau seperti saudara.
Kau bahagia, Nak?
Aku bahagia.
Bibi bahagia?
Dia akan selalu bahagia, Ibu.
Harusnya begitu!
Oke, Ibu.
Di mana mereka, Amban?
Shankar... siapa anak-anak ini?
Pernikahan siapa itu?
Pernikahan?! Pindahan rumah, bukan?
Milik siapa itu...
Aku lupa.
Kau harus berhati-hati, Amban!
Harus. Tentu, saudara.
Apa yang kalian lakukan?
-Apa yang kulakukan... -Maaf, Saudara.
Siapa orang-orang bodoh ini?
Mereka di sana.
Saudara! Lari! Itu Ranga dan teman-temannya!
Anak-anak....
Apa kau bahagia?
-Bahagia? -Ya, saudara.
Lihat ke bawah dan makan!
Aku datang untukmu.
Ayo.
Aku juga datang untukmu.
Pak Ranga.
Makanlah sebelum pergi.
Baiklah, ayo makan sebelum pergi.
Ayo.
-Kalian sudah makan? -Kami baru saja bangun.
Duduklah, anak-anak!
Silakan duduk.
-Saudara, ini idli. -Sialan!
Sebenarnya tak perlu. Kami kenyang.
-Kami sudah makan. -Amban...
-Ayo makan di jalan. -Ayo.
Ya?
Kita akan sampai dalam waktu setengah jam.
Oke.
Amban, ayo langsung ke kampus.
Bagaimana dengan pakaian kami?
Tidak ada waktu untuk berpakaian dan sebagainya.
Direktur Eksekutif baru telah datang ke kampus.
Hasil ujian!
Jadi? Kita pergi seperti ini?
Anak-anak!
Jangan khawatir.
Aku akan menyiapkanmu.
Tentu saja!
Vaana...
Veekshan.
Sekolah Tinggi Teknik.
Bagus.
Saudara, teh.
Di mana tanganmu?
Amban!
Saudara...
Di mana pembukanya?
Saudara, tiup baru minum.
Amban! Fokus!
Tanganmu... di mana?
-Babu... -Pak.
Ini berlisensi.
Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku tak takut pada...
preman jahatmu.
Kecuali itu...
Aku tak ingin mereka ada di kampusku.
-Nomor orang tuamu-- -Pak...
-Tolong, Pak... -Nomor orang tua.
-Jangan lakukan ini, Pak. -Tolong pak.
-Kami mohon, pak. -Tolong, Pak...
-Pak, 79077... -...96056
-Halo? -Ya, halo.
-Halo. -Ini adalah Direktur Eksekutif
Sekolah Tinggi Vaana Veekshan.
Putramu dan teman-temannya telah gagal
semua mata pelajaran.
Tapi aku tak menelepon untuk itu.
Aku menelepon untuk memberi tahumu bahwa anakmu
dan teman-temannya telah jadi
preman profesional.
Oleh karena itu, mulai saat ini,
aku menghukum mereka.
Mereka tak tertarik pada pendidikan.
Mereka sudah direkrut kampus
sebagai gangster profesional.
Mereka akan menghubungimu dan menjelaskan detailnya.
Jelaskan kepada orang tuamu.
Pergi!
Ibu.
Ibu...
Ketika aku datang ke sini...
-...kita-- -Nak...
Ada apa, Ibu?
Nak...
Dia mengatakan sesuatu tentangmu.
Ibu...
Aku hanya mengerti kata preman, tak lebih.
-Kau tak mengerti? -Ayah...
Tidak banyak yang perlu dipahami.
Hanya saja kau harus berhati-hati saat keluar
karena tempat ini penuh dengan gangster.
Tapi kenapa memberitahuku hal itu?
Itu hanya peringatan.
Dan mereka menelepon semua orang, bukan hanya kau.
Kalau mau, tanya Aju dan Bibi.
Benarkah? Aku jadi sangat khawatir.
Aku harus rajin belajar. Oke. Sampai jumpa.
Dia tak mengerti apa pun.
Syukurlah, dia tak tahu Malayalam.
Ayo, kita mohon padanya untuk menerima kita kembali.
Pak, tolong. Kesempatan terakhir.
Kami dimarahi orang rumah, Pak.
-Diteriaki, Pak. -Ayahku seorang petani, Pak.
Akulah secercah harapannya, Pak.
Aku satu-satunya harapan. Tolong, Pak.
Kesempatan terakhir.
Tapi kalian harus lulus semua mata pelajaran.
Tes ulang tunggal.
Dan aku tak ingin ada teman gangstermu...
di dekat kampusku.
Pergi.
Babu, simpan ini kembali.
Juga...
Kalau berbicara dengan orang tuamu lagi,
aku akan mengatakan hal-hal ini dalam bahasa Malayalam.
Paham?
-Kau hebat, Pak. -Pergi belajar.
Pergi.
Bung...
Pria malang!
Karena kita tak belajar, bukan?
Ada waktu 15 hari sebelum ujian.
Seharusnya bisa, kita bisa belajar.
Tak bisa belajar dalam waktu setengah tahun,
lalu bagaimana dalam waktu setengah bulan?
Kita minta saudara Ranga untuk menghajarnya.
Kenapa memanggil dia sekarang?
Kita perlu belajar. Kita akan mencoba.
Aku tak peduli dengan bagianmu.
Aku butuh semua ini.
Tentu saja, Ranga.
Ini sudah sangat larut.
Tak ada waktu belajar sekarang.
Kita harus belajar mulai besok.
Ngomong-ngomong, belajar apa?
Bahkan aku tak tahu buku apa.
Tidak apa-apa, kita akan mengumpulkan catatan dari asrama besok.
Kapan pertarungan ini akan berakhir?
-Jadi, kesepakatan ini sudah selesai. -Oke, Ranga.
Tidak ada seorang pun yang boleh membuat masalah lebih lanjut!
Ini dia Amban, pembuat onar!
Jangan berani-berani mendatangiku dengan masalah bodoh!
Simpan ini.
Tidak bertarung! Mereka berkompromi.
Reddy sudah memblokirnya cukup lama.
Semuanya sudah beres.
-Oke, sampai jumpa. -Bukan hanya yang ini.
Dia telah memblokir begitu banyak kesepakatan.
Jadi, tentang apa kesepakatan ini?
Yang ini?
Berencana untuk menghancurkan mal ini
dan memulai pertanian marigold.
Marigold?
Saudara Ranga jadi nostalgia dengan bunga marigold.
Mengerti!
Apa itu?
Mana kutahu?
Saudara!
Apa masalah Reddy dengan mereka?
Telepon dia dan tanyakan.
Saudara!
-Bagaimana kalau kita menghabisinya? -Hei!
Dia adalah Guruku.
Kau ingin membunuh gurumu?
Tidak, tidak!
Klip pendek baru!
Lihatlah langkah itu! Lihat!
Masuk ke dalam mobil!
-Ada apa? -Masuk!
Itu tim Reddy! Masuklah, saudara!
Berikan jaketku!
Berikan jaketku!
Di belakangmu, Amban!
Bibi! Hati-hati!
Saudara, bawa mobilnya pergi!
Mati!
Bajingan tengik!
Nanjappa!
Amban!
Cukup bermain! Masuk ke dalam mobil!
Pintu! Amban, apa mereka juga merusak pintunya?
Kita bisa memperbaikinya, saudara!
Mobil favoritku!
-Jalan! -Kenakan sabuk pengamanmu.
-Ada apa, saudara? -Pegangan erat!
Ayo!
Nanjappa, masuk.
Jacky! Naik!
Dapatkan Bonus 50% - Auto Jadi Sultan = HANYA DI LXWHITELABEL.COM =
Saudara!
Pegangan, anak-anak! Kita melompat!
Amban!
Mobilku rusak. Perlu diperbaiki.
Bawa mobil ke rumah sakit.
Masalah?
Ya.
15.
Sekarang aku punya 15 sayatan luka di punggungku.
Jangan tertawa!
Aku akan mulai menumpahkan darah!
-Bibi! -Saudara.
Ini Amban!
33 jahitan, saudara! 33!
Itu rekor!
Anak-anak!
Kemari.
Melihat pertarungan super, bukan?
Kau bahagia?
Baik!
Selanjutnya baku tembak.
Kamis depan.
Oke?
Dadah!
Jangan menonton perkelahian lagi, oke?
Ya, janganlah kita melakukannya.
Bagaimana jika saudara Ranga memanggil kita?
Kita akan mengatakan kita harus belajar.
Yang memang benar.
15 hari lagi.
Kita perlu belajar!
Ya!
Kita harus belajar!
Kembalikan bukunya, oke?
Nanti setelah aku fotokopi.
Aku takkan bawa lari!
Para preman itu kesal!
Hei, aku akan mencabut lidahmu!
Mencoba sok pintar!
ini kosong?
Balik halamannya dan lihat!
Sekarang jangan panggil saudara Ranga.
Itu karena kita terus memanggilnya seperti ketika
dia menyeret kita minum dan berkelahi.
Jangan meneleponnya sampai ujian selesai.
Jangan meneleponnya bahkan setelah ujian.
Ayo selesaikan kuliah dan pergi.
Untuk apa semua lampu senar ini?
Ada festival gereja?
Tidak ada gereja di sini.
-Saudara... -Saudara, apa--
Sangat sadar! Mereka sudah sadar!
Amban! Kemari!
Hentikan, Amban!
Hentikan, saudara!
Saudara, aku duluan.
-Amban, Tidak! -Selamat ulang tahun, saudara!
Hei, Bibi!
Berikan aku mikrofon!
Bibi! Saat ibumu menelepon, kau harus bicara!
Bicara!
Hei! Diam, semuanya!
Bicara padanya!
Diam!
Halo, Ibu...
Di mana kau, sayang?
Di asrama, Ibu.
Apa kau bahagia?
Ya, aku bahagia.
Bagaimana dengan Shanthan?
Dia juga bahagia.
-Belajarlah dengan baik, sayang. -Ya, Bu. Aku hubungi kau nanti.
-Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahunku! -Terpotong.
Terpotong?
Tidak apa-apa! Lagipula aku mabuk! Hei, lagu! Lagu!
Anakku, apa kau bahagia?
Bawa ke sana.
Kurasa, kita akan belajar besok pagi?
Kita punya waktu 13 hari lagi untuk belajar.
Hei... bangun.
Ayo, kelas sudah selesai.
Entah apa yang akan dia lakukan hari ini!
Kemarin hari ulang tahunnya.
Bagaimanapun, dia telah memberikan banyak bantuan kepada kita.
Aku berharap tidak.
Yang benar saja?
Jika bukan karena dia,
kita akan tetap berada di bawah kaki Kutty, seperti budaknya.
Itu benar.
-Geser! -Dan pelajaran, kita akan menanganinya.
Tapi kita belum menceritakan semuanya padanya.
Dia orang yang sangat pengertian.
Ayo beritahu dia kita perlu belajar.
Ya, ayo. Dia akan mengerti.
Itulah.
Bersulang.
Ya!
Berhenti membuang air!
Amban...
Kau sudah dilaminasi?
Kalian datang!
Pergi, ganti baju lalu tunggu.
Kami harus berganti pakaian dan tidur siang. Sangat lelah.
Kau akan lebih lelah.
Pergi dan nikmati tidur yang "bahagia".
Aku akan bicara dengannya, oke?
Halo, anak-anak!
Ya?
Ta-da!
1, 2, 3... mulai!
Ayo mulai!
Tapi apa?
Wah! Kalian pria tampan!
Ada apa, saudari?
Sebentar.
Mendekat, kau.
-Hei Berhenti! -Tidak! Jangan sentuh aku!
Pergi!
Lepaskan aku!
Tidak! Aku bilang tidak!
Apa yang salah?
-Aku bilang berhenti. -kalian tak menyukai kami?
Hei! Kau belum memulainya?
Hei, Sweety, Beauty, apa ini?!
Kau mengambil uangnya! Kejar mereka!
Kejar!
Buka bajunya! Buka!
Ya!
Sini.
Kejar! Kejar dia!
Hei, Beauty! Kejar dia.
-Lari? -Nanjappa...
Nanjappa sedang cuti.
Amban...
Tidak, anak-anak! Aku sudah mengunci pintunya.
Ya! Mulai!
Ayo mulai!
Cukup bermain-main.
Mulai.
Biarku lihat!
Saudara!
Apa yang kau lakukan?
Apa yang salah?
Jangan sentuh aku.
Beri mereka privasi.
Ayo, saudara.
Ya!
Anakku! Bibi... Kau bahagia?
-Saudara! -Aku ada di luar.
Jangan pergi, saudara.
Anak-anak...
Jadi, kau belum pernah--
Amban!
Tidak ada yang perlu ditertawakan.
Anak-anak terkejut.
Bukan itu alasannya.
Kami belum pernah... apalagi dengan orang asing...
Tidak apa-apa jika kita menjalin hubungan.
Tapi tak ada yang menyalahkanmu, sayang.
Kau tidak?
Ranga tak tahu semua ini.
Dia tak terbiasa berinteraksi banyak dengan wanita.
Berinteraksi? Amban! Interaksiku?
Interaksi? Simak interaksi saudara.
Jadi, tahun lalu....
saat saudara pergi ke pesta pernikahan...
Bukankah sebaiknya kita memberitahunya tentang pelajaran kita?
-Harusnya. -Di antara banyak wanita...
seorang wanita mendatanginya untuk mengambil foto.
-Katakan padanya. -Kau yang katakan.
Situasi tanpa peluang interaksi.
Kau seharusnya melihat seberapa baik dia berinteraksi hari itu.
Kau tak tahu apa-apa tentang interaksi saudara!
Selanjutnya, jangan pernah menyebutkan
sepatah kata pun tentang interaksi saudara lagi!
Aku?
Kau mendengarku?
Itu saja.
Halo?
Hei!
Jangan biarkan mereka lolos!
Kunci seluruh Bangalore!
Apa yang terjadi, saudara?
Tampaknya mereka melarikan diri.
Siapa?
Orang-orang Hindi itu.
Mereka harusnya sudah mati kemarin. Aku menyelamatkan mereka!
-Ada sesuatu yang terjadi. Tunggu. -Aku akan menunjukkannya pada mereka! Amban!
Saudara, aku bisa menangkap mereka, ke mana pun mereka pergi.
Jangan membuat dirimu stres di bulan ulang tahunmu!
Ini jadi masalah yang memprihatinkan?
Jangan sampai memanas, saudara.
Beritahu nanti. Sepertinya suasana hatinya memburuk.
Saudara...
Itu milikku...
Aku tahu cara menenangkanmu.
Bagaimana kalau kita bermain?
Ya Tuhan!
Aku masih lelah karena lomba lari.
Teka-teki bodoh.
Apa itu?
Aku tahu kau menyukai permainan itu.
Bibi dan aku satu tim.
Aku juga di tim saudara Ranga.
Kalian semua, kemari.
Bangun.
Ayo.
Ayo, duduk sini.
Duduk di sebelahku.
Jika menyentuh dahi, Inggris, pipi untuk Malayalam. Mengerti?
-Jika kau menyentuh hidung? -Kau jadi pemarah!
Kau siap?
Amban, siap. Mulai.
Siap. Mulai.
Narendra Prasad.
Bukan?
Don.
Gangster?
-Oh! Narasimham. - Jawaban benar.
-Sederhana! -Amban, ini.
Ayo, hentikan, Amban!
Lari, Odurathu...
Tiga kata.
Odaruthammava Aalariyam
Thalavattam.
Gunung... Matahari... Surya...
Rusa, Maan...
Suryamanasam.
Kilichundan Mampazham.
Itu terlalu mudah.
Kalyanaraman.
Hebat.
Sekarang giliran saudara Ranga.
Hore!
Saudara... ayo, saudara.
Aku akan memberitahunya.
Ayo, saudara!
Ini terlalu mudah, Amban.
-Beri aku yang sulit. -Baru mulai.
Ini cukup.
Baiklah.
Yang mana? Katakan padaku, Amban.
Hei, beri aku alatnya.
-Kenapa pisau? Pertarungan pedang? -Pasti film sejarah.
Bibi... anakku...
Pazhassi Raja.
Vadakkan Veeragatha.
Thacholi Othenan.
Bukan?
Wah! Brilian!
Amban...
Film apa ini?
-Kau tak mengerti? -Tidak.
Pedang besar itu besar.
Jadi pisaunya?
Kecil, terdengar seperti Chotta...
Tenggelam dan jadi mum...
Dah...
Chotta Mumbai!
Marakkar, Arabikadalinte Simham.
Mengerti! Film lain itu!
Bibi!
Kadathanaattu...
Kadathanaattu Maakkam.
- Amban. - Saudara...
Suruh mereka fokus.
Fokus pada permainan!
Beri aku alatnya.
Kau mendapatkan mereka?
Jangan biarkan mereka pergi!
Kami akan segera ke sana.
Kau menebasku!
Ya, aku menebasmu.
Aku menunjukkan kepadanya film Mohanlal, Kireedam dan dia tak bisa mengerti!
Aku jadi sangat marah! Aku mengambil pedang dan satu tebasan!
Fokus!
Sebutkan semua judul film yang kau tahu.
Padayottam.
Padavettu.
Mamangam.
Rajavinte Makan.
Kayamkulam Kochunni.
Thacholi Ambu.
Veeralipattu? Nirmalyam?
Kireedam. Chenkol.
Kannappanunni. Marthanda Varma.
Ummini Thanka.
Thumbolarcha.
Tidak benar?
Guru!
Karma. Commissioner.
Kaalapaani. Kaazhcha.
Bukan ini juga?
Parakkum Thalika.
Meesha Madhavan. Punjabi House.
Thenkashi Pattanam. Karyasthan.
Masih bukan? Aku akan mengatakannya!
Kuttettan, Balettan, Ravanaprabhu.
Rakshasa Rajavu.
Rajadhi Raja, Pokkiri Raja, Madhura Raja.
Rajamanikyam. Chotta Mumbai.
Benar.
Benar!
Benar! Amban, benar!
-Kita menang! -Aku berhasil!
Itu pelarian yang sempit!
Lihat itu!
Amban!
Bagus!
-Gadis pandai! -Aku pemain terbaik!
Kau berhasil, saudara!
Saudara, kita berhasil menangkap orang-orang Hindi itu.
Bunuh mereka, Amban.
Di sini, saudara?
Tapi mereka tinggal di sini.
Kurung mereka untuk saat ini. Bunuh mereka besok.
-Ya, besok. -Amban!
Permainan hari ini luar biasa. Aku lelah.
Oke, bangun. Bangun. Ayo, semuanya.
-Dua hari libur untuk semuanya. -Saudara...
Lain kali kau bermain petak umpet atau lomba lari, panggil kami!
Aku mengharapkan tebasan pedang debutmu hari ini.
Hanya meleset.
Tidak apa-apa. Selalu ada lain kali.
Juga, di sinilah semuanya dimulai untuknya.
Ini tempat yang beruntung.
Sampai jumpa, kawan.
Oke, sampai jumpa.
Hei...
Apa yang kau lakukan?
Kenapa kau membawa pisau ini?
Semua yang dia katakan adalah benar.
Kisah-kisah pembunuhan saudaranya, mengecat dinding jadi merah dan sebagainya...
Itu terjadi di sini?
Mungkin, dia memang mengecat tembok dengan warna merah.
Tapi membunuh saudaranya...
Minggir.
Apa?
Mundur!
Hei, tunggu!
Tunggu!
Hei, ponselku ketinggalan di sini.
Ada apa, anak-anak?
Tidak tidur? Kenapa berdiri di luar?
Saudari...
Kau bisa menginap bersama kami malam ini?
Tolong.
Tolong, saudari.
Tolong, saudari...
Ya, aku bisa.
Lagian, aku dibayar penuh.
Tak mau berpikir.
Kalian memanjat kepalaku dan menari.
Maaf, Pak?
Semakin aku bersikap lunak,
semakin kau mendorongnya!
Tanggal ujian sudah keluar.
Lihat ke sana!
Keledai bodoh bahkan tak mau belajar!
Berapa lama kita akan duduk di sini? Bukankah sebaiknya kita pulang?
Ada mayat di dapur itu. Aku tak mau pergi.
Kalian bisa pergi.
Hei!
Bangun!
Baiklah, kita bisa tidur?
-Ya. -Hei, tunggu.
Apa pendapatmu tentang Kabaddi?
Tampaknya, pemerintah India
tak terlalu mendukung para pemain Kabaddi.
Apa pendapatmu tentang itu?
Bagaimana kalau aku menulis esai dan menyerahkannya besok?
Sepertinya dia sudah gila.
Kita ada ujian besok.
Jika kita belajar, itu bagus untuk kita!
Tapi... Kabaddi!
Atau tinggalkan Kabaddi. Mari kita bahas hal lain.
Bagaimana dengan papan karambol?
Apa pendapatmu tentang peningkatan jumlah koin?
Hei, tolong tinggallah lagi.
Bicaralah dengan kami lagi, ya?
Ini adalah Bangalore-ku!
Aku sudah di sini selama 35 tahun!
Aku tahu cara mendapatkan kembali uangku darimu.
Jangan berani-berani main-main denganku.
Katakan di mana kau berada sekarang!
Ke mana kita akan pergi sekarang?
Ke mana harus pergi..
Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa kita tak boleh membalas dendam?
Hebat! Sekarang salahkan aku!
Tidak ada ketenangan pikiran lagi!
Aku takkan kembali ke rumah itu.
Ke mana lagi kita bisa pergi?
Kita tidur di jalan?
Itu masih lebih baik!
Kalian luang sekarang?
-Ya. -Kami luang!
Sungguh?
Ingin ikut denganku ke suatu tempat?
Kami akan ikut ke mana pun kau mau!
Ini.
Kau tak ikut?
Ya, tentu saja! Aku harus ikut, kan?
Bodoh sekali! Dia mengunyah shawarma dengan uangku!
Apa pendapatmu tentang aku?
Ini adalah Bangalore-ku!
Aku sudah berada di sini selama 35 tahun!
Berpikir kau bisa menipuku dengan uang 2.500 rupee milikku?
Tidak ada gunanya saling menyalahkan.
Pikirkan solusinya.
Kenapa kau tak memikirkan satu pun?
Aku? Bagaimana?
Kalian adalah perumus.
Lihat di sana! Lihat mereka?
Kau?
Mereka akan mencincangmu dalam waktu singkat!
Mereka akan menghabisimu!
Kau tahu siapa mereka?
Lihat apa yang terjadi di depan kampus hari itu?
Maaf, saudara. Tolong jangan membuat masalah.
Hei, kau! Apa yang kau lakukan?
Menurutmu mereka itu preman?
Kau bukan preman?
-Ini sebabnya kau membawa kami ke sini? -Ya, tentu saja.
Apa yang telah terjadi? Ayo, pukuli mereka.
Nyalakan motornya.
-Hei, jangan pergi. -Enyah!
-Naik. -Pukul mereka setidaknya sekali.
Tolong, jangan pergi.
Ada satu pertunjukan lagi di Kammanahalli.
Tunggu!
Halo, datang saja ke sini.
-Apa yang kau inginkan? -Ya, uang.
Uang, bukan? Aku akan berikan sekarang!
Sialan si BK itu!
'36 tahun' dan 'Bangalore-ku" sialannya
Sepertinya ada drama jalanan yang berlangsung.
Wow! Kelihatan bagus.
Gengster Meksiko!
Sama! Kostumnya sama, Pak.
Kalian di sini!
Hei!
Kalian sering bergaul dengan Ranga!
Kau pikir dia akan terus menyelamatkanmu?
Ketika waktunya tiba,
aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri.
-Hei. -Pak.
Kami tak paham Kannada.
Maka bicaralah dengan Malayalam.
Aku bisa memahami Malayalam dengan sangat baik.
Begitu?
Hei, kau!
Kami datang ke Bangalore untuk belajar
dan orang-orang bodoh ini memukuli kami seperti anjing jalanan
tanpa alasan yang jelas!
Untuk menyelesaikan masalah dengan orang-orang bodoh ini,
kami pergi ke orang yang lebih bodoh lagi!
Dan orang bodoh itu sedang mengacaukan hidup kami saat ini.
Saat itulah orang-orang bodoh ini membawa kami ke sini
untuk mendengar pidatomu!
Lakukan apa pun yang kau mau!
Kami tak peduli! Sialan!
Hei!
Aku tak tahu Malayalam sebanyak ini.
Seseorang tolong terjemahkan.
Lakukan apapun yang kau mau!
Ingin membunuh kami? Lakukan!
Cukup.
Kenapa aku harus membunuh kalian?
Aku ingin Ranga.
Dia mencuri gayaku, kostumku, identitasku, dan segalanya!
"Kau memakai kemeja gaya Ranga!"
"Kau memakai celana gaya Ranga!"
Ke mana pun aku pergi, hanya itu yang aku dengar.
Padahal, sebenarnya dia yang meniruku!
Bukan sebaliknya.
Bodoh! Omong kosong!
Aku akan menendangnya sampai dia mati kehabisan darah!
-Hei, desainer bodoh! -Hadir, Pak.
Awas!
Maaf, Pak.
Berikan aku kartunya.
Hubungi aku saat Ranga sendirian.
Dia tak mencintai siapa pun.
Baik kau maupun aku.
Dia tak mencintai siapa pun.
Dia membunuh saudaranya.
Suatu hari nanti, dia akan membunuhmu juga.
Sudah selesai?
Boleh kami pergi sekarang?
Ya, kalian boleh pergi.
Saudara, kau membiarkan mereka pergi?
Enyah!
Dari mana kau punya nyali untuk mengumpat dia seperti itu?
Pergi, buka gerbang.
Dia tak membiarkan kita pergi karena aku mengatakan semua itu!
Hanya karena dia takut pada Ranga.
Jadi, jika saudara Ranga tak ada, apa dia tak akan menyakiti kita?
Mari kita selesaikan masalah satu per satu.
Bagaimana kita melakukan itu?
Kita akan bicara langsung dengannya.
-Kapan? -Sekarang.
Sekarang?!
Kau tinggal di tempatku, mengambil uangku,
memakan makananku dan berkeliling dengan kendaraanku.
Dan kau pikir kau bisa pergi begitu saja sesukamu?
Saudara, mereka tak ngerti Malayalam.
Aku perlu mengajari mereka Malayalam sekarang?
Ini peringatan bagi semua orang.
Dengarkan aku baik-baik.
Anak-anak pecundang!
Maaf, saudara. Maafkan kami.
Hei, bunuh mereka!
Amban! Bunuh mereka!
Di mana? Beri aku alatnya!
Kau ingin pengampunan, ya? Tunggu! Aku akan berikan!
Siapa lagi? Aku berjanji pada ibuku atau aku akan...
-Nak.... -Saudara...
Bunuh dia.
Bunuh dia. Di sini.
Kalian semua, beri jalan. Biarkan dia membunuh.
Minggir.
Lepaskan kami, saudara. Kami tak akan mengulanginya.
Mohon ampuni kami, saudara.
Saudara, kami tak akan mengulanginya.
Saudara, ampuni kami. Tolong.
Maaf, saudara...
Saudara, tolong...
Anakku, tak apa-apa.
Kau bisa membunuh selanjutnya.
Siapa lagi? Siapa lagi?
Berikan sini, saudara! Biarkan aku membunuh mereka!
Terima kasih, saudara.
Inky, pinky, ponky. Ayah punya keledai
Kau duluan!
Ya Dewi.
-Hei! Jangan di sini! -Kenapa, saudara?
Darahnya akan terciprat kemana-mana, Amban.
Bawa dia ke kamar mandi.
Tolong lepaskan kami...
Ayo.
Tidak! Lepaskan aku!
Berhenti.
Aku akan ikut juga. Aku ingin menonton.
Ayo, saudara.
Ayo, anak-anak. Mari nonton.
Ampuni kami, saudara.
Tas!
Hei...
Apa yang kau lakukan?
Aku ingin pulang.
Pulang?
Bagaimana dengan pendidikanmu?
Pendidikan? Maksudmu gelar jadi gengster?
Aku tak ingin itu sekarang.
Aku akan kembali dan bekerja untuk sambung hidup!
Apa yang akan kukatakan pada ibuku?
Kau tak perlu mengatakan apa pun padanya.
Polisi akan memberitahunya, setelah kau dibunuh!
Hal seperti itu tak akan terjadi.
Sungguh?
Sepanjang menit ketika dia menyerahkan pisau itu padaku!
Kau tak akan mengerti perasaan itu!
Dan kau tak mendengar apa yang dia katakan?
Anakku, kau selanjutnya!
Selanjutnya, kau dan kemudian kau.
Aku tak mau selanjutnya!
Enyah!
-Tapi tak terjadi apa-apa padamu, kan? -Sungguh?
Lihat! Kau lihat?
Itu urin, bung!
Sebelum aku berlumuran darah selanjutnya, aku pergi dari sini!
Kau tetaplah di sini, ditebas, atau berkeliaran menebas orang!
Aku selesai!
Jika dia ingin membunuh kita, dia juga bisa datang ke sana dan membunuh kita, bukan?
Kemana kau pergi?
Minum air.
Apa masalahnya?
Ada mayat di sana, bung!
Aku takut.
Bung...
Tidak akan terjadi apa-apa pada kita.
Apa kau tahu kenapa?
Dia tak membutuhkan kita.
Diam!
Dia marah ketika orang-orang Hindi itu lari karena mereka petarung.
Dia membutuhkan mereka.
Tapi kita tak berguna baginya!
Juga, dia memberimu pisau, tapi dia mengambilnya kembali, bukan?
Dia tahu kita tak bisa melakukan semua itu!
Lalu, kenapa dia memukuli Kutty untuk kita?
Untuk kita?
-Kau pikir dia memukuli Kutty demi kita? -Bukan?
Dia melakukannya untuk dirinya sendiri.
Semua perkelahian ini hanyalah hiburan baginya.
Dia tak bisa hidup tanpa itu!
Kita dengan paksa menyeretnya untuk memukuli Kutty?
Dia bilang dia akan memukul kita jika kita tak pergi bersamanya.
Tapi...
Tapi kita menyuruhnya untuk memukuli Kutty...
Bung...
Ayo matikan telepon dan menjauh dari sini selama seminggu.
Dia mungkin mencari kita selama dua hari.
Kemudian dia akan mencari hiburan lainnya.
Mari fokus pada pelajaran kita minggu ini, kerjakan ujian kita dengan baik
dan kembali ke asrama kampus.
Mari kita tinggal di sana, selesaikan kuliah kita dan tinggalkan Bangalore selamanya.
Itu saja.
Tapi kemana kita akan pergi?
Aku punya teman di Tumkur.
Kita bisa tinggal di asramanya selama seminggu.
Ayo... ayo pergi.
Ayo pergi besok pagi.
Kenalkan Aju dan Shanthan
Hai, aku Akhil. Mari duduk di sana.
Hei, kenalkan teman-temanku.
Mereka akan tinggal di sini selama beberapa hari.
Matikan teleponmu.
Sampai jumpa nanti malam.
-Hei, ayo turun. -Aku akan ikut.
Sangat damai!
Bukan begitu, bung?
Benar.
Setelah sekian lama!
Kau mau?
Bagaimana denganmu?
Menurutmu apa yang dia lakukan saat ini?
Sudah seminggu.
Dia pasti sudah berhenti mencari. Pasti tergeletak mabuk di suatu tempat.
Di mana anak-anakku?
Amban!
Di mana anak-anak?
Di mana mereka?
Amban!
Beritahu aku di mana anak-anakku berada!
Kau pikir itu lucu!
Kita beruntung dapat kari dengan nasi ini!
Di mana anak-anak itu?
-Aku tak melakukan apa pun, saudara. -Di mana mereka?
Katakan!
Di mana mereka?
Ayo, katakan.
Ayolah.
-Ayo minum. -Tidak, kawan. Kalian minumlah.
Tuang, saudara.
Haruskah aku mengirim seseorang ke rumah mereka?
Tidak.
Ibu akan ketakutan.
Oke, saudara.
Rekaman CCTV kampus terkemuka di Bangalore
serangan geng di siang hari bolong terhadap pelajar.
Video penyerangan tersebut dengan cepat menyebar di media sosial
Tidak!
Mendorong kemarahan publik dan seruan aksi darurat.
Motif di balik serangan itu masih belum diketahui.
Dengar, bung!
Apa yang akan kau lakukan?
Apa yang kau lakukan?
Jika dia melakukan semua ini untuk melacak kita
dia pasti sudah menelepon ibuku sekarang.
Ibu akan panik dan melakukan sesuatu.
Apa?
Cepat, matikan!
-Matikan! -Ayolah!
Matikan, kawan. Tutup teleponnya.
-Cepat! Matikan telepon. -Matikan.
Matikan sebelum dia menelepon lagi.
-Tutup teleponnya. -Matikan.
-Matikan. -Tutup teleponnya.
Hei, tutup teleponnya.
Jangan dijawab, bung.
Tidak, jangan jawab teleponnya.
Dengarkan aku. Tutup teleponnya.
Aku bilang, tutup telepon.
Tidak, Bibi... Jangan jawab.
Bibi.. Aku bilang tidak.
Jangan!
Hai! Siapa kau?
Di mana anak-anakku?
Hei!
Kau berani menyakiti mereka, aku akan membunuhmu, bangsat!
Saudara...
Ini aku, saudara. Bibi.
Dasar anak pecundang! Darimana saja kau?
Aku akan menjelaskan semuanya secara langsung.
Kami akan kembali ke rumah malam nanti.
Hei! Bibi!
Kau menyerahkan kepalamu ke piring.
Kita lihat saja.
Aku tak akan pergi. Kau bisa pergi sendiri.
Dasar bajingan!
Kaulah yang memulai semua kekacauan ini!
Sekarang lakukan saja apa yang aku katakan!
Bibi...
Kau bebicara seperti dia sekarang.
Hei...
-Dari mana saja kau? -Tolong tinggalkan kami sendiri.
Kami bukan preman seperti kau atau kaki tanganmu!
Hei, Bibi! Tidak!
Kami datang ke sini untuk belajar.
Jangankan belajar, kami hampir tak bisa tidur nyenyak!
Saat kami bersamamu,
rasanya seperti kami terikat pada bom!
Jika ini terus berlanjut, kami akan jadi sepertimu!
Dan kami tak menginginkan itu!
Kami dipukuli di kampus
dan kami hanya berteman denganmu untuk menyelesaikan masalah itu.
Tapi kami tak menyangka hal ini akan sangat kacau!
Saudara, kami ingin hidup damai--
-Amban...-Saudara...
Bawa semua orang ke rumah dalam satu jam.
Apa yang terjadi, saudara?
Jangan tanya! Lakukan saja apa yang aku katakan!
Hei...
Apa yang kau pikirkan?
Biarkanlah.
Haruskah kita tak melakukan apa pun dan mati?
Atau membunuh bukannya dibunuh?
Apa...
Apa yang kau katakan? Membunuh?
Bagaimana kita bisa membunuhnya?
Kau punya ide yang lebih baik?
Hei, diam!
Bicara pelan!
Pernah kau melihatnya memukul seseorang?
Jadi, kau sudah merencanakan semuanya?
Aku tak punya rencana...
sampai sekarang...
Sembunyikan itu.
Anak-anak--
Jangan keluar.
Apa-apaan ini?
Hei, masuklah! Aku bilang, masuk!
Bibi, masuk.
Shanthan, Aju, masuklah!
Bibi, masuk.
Hei! Jangan!
Aku akan membalasnya!
Hei!
Tunggu, aku perlu melihatnya.
Sialan! Ini dia!
Terima kasih, anak-anak.
Aku akan mengurusnya sekarang.
Hei, kau... Ranga....
Apa yang terjadi?
Menjadi tua, ya?
Hei, beri aku waktu.
Aku perlu bersiap-siap, kan?
Sekarang majulah!
Hei!
Astaga!
Butuh undangan?
Aku tak punya waktu! Maju!
Bakar dia!
Mobil favoritku!
Ayo maju semuanya!
Hajar dia.
Aku sudah tua...
Aku sudah tua...
Hei! Siapa berikutnya?
Tidak ada?
Kau masih tersisa?
Tunggu, aku datang.
Aku datang.
-Aku bilang hentikan. -Dia akan membunuhnya?
Tidak!
Tidak...
Bagaimanapun, dia adalah Gurunya.
Reddy!
Apa?
Apa masalahmu?
Identitasku.
Berikan...
Kembalikan padaku.
Ya! Aku akan berikan! Akan kukembalikan padamu sekarang juga!
Kau ingin identitas? Identitas celakamu!
Baju celakamu!
Aku tak menginginkan apa pun!
Aku tak ingin siapa pun!
Anak-anak!
Anak-anak celaka! Anjing celaka!
Bibi, tunggu!
Reddy!
Saudara...
Hei!
Kau akan dipotong-potong untuk makanan anjing sekarang.
Kau ada di mana?
-Kau ingin aku melepaskanmu? -Saudara! Buka!
Denganku, kau merasa seperti terikat pada bom?
-Bodoh, bajingan tengik! -Saudara!
Keluarlah, bangsat!
Bukankah aku sudah memberitahumu?
Kau di sini untuk pendidikan, jadi lakukan itu saja?
Tapi kemudian kau ingin jalan denganku!
Kau ingin minum bersamaku,
tinggal di rumahku, berkeliling dengan mobilku,
menghajar seniormu, ingin menonton pertarunganku,
-ingin melihat senjataku! -Saudara!
Dan sekarang kau menyebutku bom?
Hei, pecundang, kau di mana?
Keluar!
Keluar!
Aku memutuskan untuk tak berkelahi dengan siapa pun demi ibuku.
Dan kau mengacaukannya!
Bukankah aku harus membunuhmu karena itu?
Haruskah aku membunuhmu?
Saudara! Beri jalan, kawan.
Masuk lewat jalan lain.
Saudara.
Saudara.
Buka pintunya, saudara.
Buka pintu mana saja, saudara.
Biarkan aku masuk.
Biarkan kami habisi mereka semua, saudara.
Kena kau!
Bajingan tengik! Anjing celaka!
Saudara, di mana mereka?
Di mana?
Saudara.
Buka pintunya.
Biarkan aku masuk.
Kau berani menipuku!
Saudara...
-Buka pintunya, saudara. -Mereka berani menipuku!
Buka!
Keluarlah, penipu!
Saudara! Buka pintunya.
Buka.
Saudara.
Saudara.
Saudara, buka--
Enyahlah! Aku bilang pergi!
Tutup mulutmu!
Aku akan memotong lidahmu!
Pergi.
Mereka bajingan, saudara Ranga!
Ketika aku membutuhkan teman bicara, tak ada seorang pun.
Semua orang bersamaku hanya demi miras dan uang.
Siapa yang bersama Ranga karena cinta?
Bahkan tidak ada yang "menyukai"ku di Instagram.
Setelah bertahun-tahun, dengan kalian aku bisa mengobrol santai.
Dan kalian membuatku sangat bodoh!
Tidak... Sekarang semua orang melihatku menangis!
Aku bahkan tak pernah menangis di depan ibuku!
Ibuku sayang... Sakit sekali!
Hei.
Maaf, saudara Ranga.
Tolong jangan menangis.
Kau membuatku menangis dan sekarang kau minta maaf?
-Tidak! -Anjing celaka!
Persetan maafmu!
Kau membuatku menangis dan sekarang meminta maaf!
Hei! Akan aku tunjukkan padamu! Maaf, pantatku.
Kau coba membunuhku.
Itu juga lewat tangan guruku.
Aku akan membunuhmu sekarang!
Aku akan memotongmu! Potong!
Dan membakarmu!
Amban, tolong beritahu mereka.
-Enyah! -Saudara.
Tolong jangan bunuh kami.
Amban... tolong...
Tutup pintu.
Tutup.
Jika kau membunuhku, aku akan membunuhmu juga.
Aku membunuh saudaraku.
Aku membunuh Reddy.
Aku akan membunuh kalian bertiga juga!
Nak, Bibi...
Aku pasti akan membunuhmu.
Penipu!
Penipu!
Bibi!
Kau berani main-main dengan saudara Ranga! Anak-anak celaka...
Kami tak akan mengampuni kalian!
Ibu...
Halo?
Nak...
Bibi...
Kau tak bisa mendengarku?
Halo?
ini...
Ini Ranga, kan, sayang?
Ranga, sayang...
Apa kau bahagia?
Apa Bibi bahagia?
Dia bahagia.
Tolong jaga dia dengan baik, Nak.
Ujiannya sudah dekat.
Aku akan menjaganya dengan baik.
Baiklah, sayang. Selamat malam.
Amban!
Ya? Ya!
Saudara!
Saudara!
Katakan apa yang kau inginkan, saudara!
Boleh aku masuk?
Buka pintunya, saudara. Aku akan membunuh anjing-anjing itu!
Berikan kapak itu. Biarkan aku membunuh mereka.
Kau tahu kenapa aku memintamu datang ke sini?
Aku tahu, untuk merobek mereka!
Aku akan merobek kaki mereka!
Perhatikan baik-baik wajah mereka.
Aku akan menyeret wajah mereka ke lantai.
Dan aku akan ubah jadi pasta!
Tak seorang pun boleh melihat wajah-wajah ini lagi.
Tidak ada yang akan melihat wajah mereka lagi.
Aku akan memenggal kepala mereka.
Karena...
Geng kita tak membutuhkan pertemanan mereka.
Ya! Tidak ada pertemanan.
Saudara!
-Ayo bunuh mereka! -Tidak, bukan itu maksudnya.
Hei...
Kita tak membutuhkan pertemanan apa pun dengan mereka.
-Kenapa, saudara? -Tepat, itulah yang aku katakan!
-Mulai hari ini... -Tidak!
Tidak perlu Hindi...
Kau sudah meminta maaf, kan?
Ya. Maaf, saudara. Maaf.
Katakan maaf.
Maaf!
Kau tak perlu meminta maaf.
Tidak! Maaf, saudara!
-Tidak! Aku tak mau mendengarnya! -Maaf, saudara... Maaf!
Tidak. Dia minta maaf, saudara.
Semoga yang terbaik untukmu. Diberkati.
Maaf, saudara...
Semoga yang terbaik untukmu juga!
Diberkati!
Itu kesalahan, saudara..
Diberkati!
Beri jalan.
Ibu...
Nanjappaa...
Kau di sini untuk belajar, bukan?
Belajar! Dan jika kau berani gagal dalam ujianmu...
Nak!
Bibi, kau!
Aku lulus. Bagaimana denganmu?
Aku lulus.
Di semua mata pelajaran!
Halo, Ibu, aku lulus semua mata pelajaran.
Aju dan Bibi masing-masing gagal dalam satu mata pelajaran.
Oke, Ibu, sampai jumpa.
Hei, apa Kabar?
Kenapa kau terlihat kesal?
Mereka sedih karena masing-masing gagal dalam satu mata pelajaran.
Aku gagal 4 mata pelajaran, namun aku masih tak sesedih kau.
-Terlalu banyak drama. -Benar!
Kau tak akan mengerti.
Saudara...
Keluarkan alatnya.
Tidak!
Saudara, aku lulus! Mereka gagal.
Tangkap mereka.
Berhenti!
Mereka gagal, tapi aku lulus, saudara!
Jangan pukul aku, saudara.
Aku tak akan melepaskanmu, pecundang!
Tidak peduli siapa yang gagal, kalian semua akan dipukuli sampai babak belur!
Jangan kembali. Selamatkan hidupmu, kawan.
Subtitle oleh: ZAHRAHH87 Bugis Timur, Mei 2024
https://t.me/zahrahh87officialsub [Iklan/Request Subtitle]
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.