Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Letakkan tongkat itu.
Siapa kau? Bagaimana kau menemukan tempat ini?
Matius!
Astaga, kenapa memakai tudung?
Kita tak pernah bisa terlalu yakin.
Seharusnya kau mengabari agar kami siap.
Kukira intinya adalah orang-orang tidak boleh tahu.
Zee punya orang yang menyelundupkan surat keluar masuk.
Kau tahu itu.
Etienna, siapa itu? Apa yang terjadi?
Tamu mendadak, Nyonya.
Maria.
- Matius. - Maria.
Kuharap ini bukan waktu yang tidak tepat.
Tidak.
Masih sangat cantik untuk dilihat.
Sepertinya penglihatanmu mulai memburuk.
Baiklah. Masuklah, kalian berdua.
Udaranya makin dingin.
Yang lain tak akan memaafkanku jika kubiarkan kalian mati.
Ayo.
Hati-hati. Di sini gelap.
Perhatikan langkahmu.
Aku tak percaya kau datang jauh-jauh kemari, Matius.
Meski berbahaya.
Dan di usiamu.
Usia kita.
Ini penting.
Maria, aku sudah menyelesaikannya.
- Bukunya? - Aku tak mau mengirimnya lewat kurir.
Aku ingin kau yang pertama membacanya. Kumohon.
Aku ingin mendengar pendapatmu. Aku harus berada di sini untuk itu.
Sulit kupercaya.
Kau sudah bekerja sangat keras dan lama.
Ini akan menjadi harta karun untuk selamanya.
Aku datang untuk melihat itu.
Itu akan hidup lebih lama dari kita. Kita tahu itu.
Aku tahu aku benar.
Dekatlah ke api, kalian berdua. Kita harus menghangatkan kalian.
Ya.
- Selamat datang. - Terima kasih.
Maria.
Sebelum kita bicara lebih jauh, aku punya kabar buruk.
Aku sudah terbiasa dengan itu.
Aku bisa saja mengirimkan kabar ini,
tapi kupikir karena aku datang untuk menemuimu,
aku akan memberitahumu secara langsung.
Siapa itu?
Yakobus Kecil.
Bagaimana kejadiannya? Di mana?
- Maria, kau… - Aku ingin tahu. Aku sanggup menerimanya.
Katakan.
Mesir bagian bawah.
Raja Hirkanus membunuhnya dengan tombak.
Bagaimana dengan Onya dan para gadis?
- Mereka tak ada untuk melihatnya. - Puji Tuhan.
Pasukan Zee memindahkan mereka
untuk tinggal dengan Nympha dan suaminya di Kolose.
- Paul mengirim surat ke gereja di sana. - Mereka akan aman di sana.
Aku akan mengirim surat kepada Onya.
Apa yang akan kau katakan kepadanya?
Dia tidak menderita lagi.
Dia menderita seumur hidupnya
dan dia jarang mengeluh.
Ya.
- Terima kasih, Etienna. - Lezat.
Aku akan terjaga semalaman dan membaca manuskripmu.
Aku ingin mengingat semuanya.
Bahkan bagian yang sulit.
Apa ada masalah?
Itu alasanmu datang, bukan?
Tidak. Benar.
Ada sesuatu yang kusadari.
Mejaku?
Aku menulis surat di sana.
Maafkan aku. Aku tidak bermaksud ikut campur.
Aku hanya menyadari saat lewat, sisa-sisa itu tak terlihat seperti surat.
Kau membacanya?
Tidak, Maria. Tidak akan pernah.
Aku hanya…
Potongan-potongan yang ada di sana membuatku merasa aneh.
Matius, biar kubaca bukumu.
Jangan menyibukkan diri dengan coretanku.
Aku yakin itu lebih penting daripada coretan.
- Kenapa kita membicarakan ini? - Perkamen itu mahal.
Kau tinggal di gua di sisi gunung jauh dari pedagang atau peradaban.
Tidak ada orang di posisimu atau posisiku yang menyia-nyiakan kertas.
Itu benar. Aku tidak menyia-nyiakan.
Maria, aku menghargai pemikiranmu dan ingin mendengar semuanya.
Maukah kau mengizinkanku?
Tidak apa-apa.
Kau tahu aku di sini untukmu, sekarang dan selalu.
Aku bermimpi belakangan ini.
Tentang masa-masa kelam.
Dalam hidupku dan hidup-Nya…
dan orang lain di antara kami.
Aku ingin menuliskannya agar tidak lupa.
Aku berusaha…
menyusunnya menjadi sesuatu.
Entahlah. Hanya untukku.
- Bukan orang lain. - Aku mengerti.
Maaf karena aku ikut campur.
Aku hanya ingin kau berbagi jika kau merasa nyaman berbagi.
Mungkin aku bisa membaginya denganmu.
Teman terlamaku.
Terima kasih.
Mungkin lengan satunya saja. Sudah.
- Ini berat. Sisakan sedikit. - Sedikit.
Aku mengeluarkan beberapa barang. Tidak apa-apa.
- Baiklah. - Baiklah.
Baiklah.
- Baiklah. - Terima kasih.
- Terima kasih. - Terima kasih, Zee.
Yakobus, aku membuat ini untukmu. Untuk perjalanan hari ini.
Akan lebih kuat daripada sebelumnya.
Kau bertarung dengan berani kemarin saat mereka datang untuk menangkap-Nya.
Bahkan tidak ragu.
Kita tidak akan membiarkan itu terjadi.
Bagaimana denganku? Apa aku dapat tongkat berjalan?
Kau terluka parah?
- Hanya bercanda. - Ini bukan hari untuk bercanda.
Kita lihat saja nanti. Kita akan duduk berduka atau tidak.
- Semua sudah keluar dari kamar? - Ya.
- Yudas, sudah bayar penjaga penginapan? - Ya, Rabi.
Kami siap, Guru.
Baiklah. Jangan membuang waktu lagi.
Ayo.
Aku memikirkan perkataanmu.
Omong-omong, terima kasih.
Apa?
Sandal baru.
Aku tidak menyadari betapa tidak nyamannya sandal mahal.
Sebenarnya aku menantikan jalan-jalan hari ini.
Aku juga.
Jadi, apa maksudmu semalam tentang pergi ke Lazarus?
- Aku mengatakan yang kukatakan. - "Kita bisa mati bersamanya"?
Jika kita kembali ke Yudea dan mereka membunuh kita,
seperti yang mereka coba lakukan kemarin,
maka itu kehendak Tuhan.
Jika itu kehendak Tuhan agar kita mati bersama Yesus,
setidaknya aku tak perlu merasakan apa pun lagi.
Sudah kuduga itu maksudmu.
Tomas, dalam iman kita, tak lazim mengharapkan kematian seseorang.
Dalam kata-kata terakhir Kitab Musa terakhir,
Tuhan berkata jika itu antara hidup dan mati, berkat dan kutukan…
kita harus "memilih hidup".
Entah apa artinya saat seseorang tidak punya pilihan.
Aku hanya bilang kau harus berharap untuk hidup.
Itu sifat kehidupan, Yohanes.
Itu yang dikatakan semua orang selama berpekan-pekan.
Hanya waktu yang membedakan.
Kita berada di tengah situasi yang sangat tidak biasa, Tomas.
Tidak, Yohanes, ini bukan situasi yang tidak biasa.
Kita dipaksa menerima bahwa kematian adalah bagian dari hidup.
Mau air?
Aku baik-baik saja. Terima kasih.
Petrus.
Semalam pikiranku kabur karena dipukul di kepala.
Apa aku mengatakan sesuatu tentang putri Yairus?
Pelankan suaramu.
Sudah.
Mungkin itu tak penting sekarang.
Lazarus sudah mati.
Yesus bilang Dia akan membangkitkannya dan kita tahu apa artinya.
Apa artinya itu. Ya.
Yesus bilang Dia senang tak ada di sana untuk mencegah kematian Lazarus.
Apa pun yang akan terjadi selanjutnya adalah kehendak-Nya.
Artinya kita tak perlu takut.
Kau membuatnya terdengar sangat sederhana.
Rasa sakit punya cara untuk meratakan sesuatu.
Seperti apa rasanya sebelum aku tiba di sini?
Lebih tenang.
Jadi, aku terlalu banyak bicara?
Terkadang.
Tapi maksudku kita relatif tidak dikenal.
Tidak ada ketenaran…
atau keburukan.
Belum ada yang mencoba merajam kita.
Itu bukan salahmu.
Jika bukan aku…
apa ada masalah?
Aku yakin begitu, Yudas.
Lazarus sudah mati.
Itu maksudku.
Kita sudah tiga kali berduka dalam waktu kurang dari setahun.
Lalu?
Dia Mesias.
Bukankah seharusnya kita menang, bukan kalah, terus-menerus?
Selalu berkutat dengan kain karung dan abu ini…
hampir tak seperti kemuliaan.
Hei.
Hanya Yesus yang tahu seperti apa kemuliaan sejati.
Jelas tidak mungkin ini.
Mungkin.
"Kita akan duduk berduka atau tidak."
Bukankah kau yang membaca surat yang mengatakan Lazarus sudah mati?
Ya.
Tapi ada perkataan Yesus setelahnya.
"Tertidur. Bangun."
Kau tahu "Mazmur Daud"? "Berapa lama lagi, Tuhan"?
Aku mendengar beberapa baris pertama. Aku tidak hafal yang itu.
Maria.
Aku bukannya mengajari cara menjalani hidupmu, tapi ada baiknya mengingatnya.
Bukankah semuanya begitu?
Dimulai dengan pertanyaan besar.
"Berapa lama lagi, Tuhan?
Kau lupakan aku terus-menerus?
Berapa lama lagi Kau menyembunyikan wajah-Mu dariku?"
Aku pernah mengalaminya.
Tapi itu berakhir dengan penerimaan dan bahkan pujian.
"Tapi aku, pada kasih setia-Mu aku percaya,
hatiku bersorak karena penyelamatan-Mu.
Aku akan menyanyi memuji TUHAN, karena limpah rahmat-Nya kepadaku."
Sudah kulakukan.
Meski tidak terlalu bagus.
Tapi di tengah, ada kalimat ini.
"Lihat dan jawablah aku, ya Tuhan, Allahku. Terangi mataku,
jangan sampai aku tidur dalam kematian."
Tidur dan mati.
Terkadang digunakan bergantian.
Tampaknya hanya Tuhan yang tahu perbedaannya.
Apa itu menjawab pertanyaanmu
tentang kenapa aku bilang kita akan duduk berduka atau tidak?
Sebelum kita menjalankan misi, aku bertanya kepada Yesus
soal ironi memberiku kemampuan menyembuhkan orang lain
sambil masih menanggung beban pincangku.
Apa Dia menjawab?
Dia menjelaskan sebagian, dan itu indah.
Bukan berarti aku tidak kesakitan.
Rasa sakitnya sudah makin parah bahkan sebelum kejadian kemarin.
Dan…
Entahlah. Kurasa maksudku adalah…
Jika Yesus membangkitkan Lazarus dari tidurnya…
bukankah itu akan memberikan pertanyaan yang lebih besar,
daripada yang pernah kuhadapi?
Tentu saja.
Lalu kita akan mengurus mereka. Tidak ada gunanya memikirkannya sekarang.
Semua ini sesuai yang kau harapkan?
Yakobus Kecil, aku…
Aku tak berharap apa yang kualami menimpa siapa pun, tapi…
jiwaku tersesat selama bertahun-tahun berarti aku tak pernah berharap apa pun.
Kecuali kegelapan.
Bayangan konstan.
Jeritan di malam hari.
Suara-suara aneh.
Bahkan siang hari terasa gelap,
dengan hanya momen langka saat butiran cahaya akan bersinar.
Dan sekarang terbalik.
Sejak Dia memanggil namaku, semuanya baik-baik saja, kurang lebih…
dengan momen kegelapan sesekali yang menyakitkan seperti sebelumnya,
hanya saja sekarang itu pengecualian dan bukan peraturan.
Aku sudah banyak berlatih dengan kesedihan
dan kehilangan.
Pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Sekarang aku hanya bersyukur
untuk cahaya itu.
Tentu saja aku tidak istimewa. Tolong mengertilah.
Ini bukan perspektif yang membuat iri.
Ini hanya diperoleh dengan siksaan.
Baiklah.
Kuharap siksaanku sendiri akan memberiku tingkat penerimaan
dan kebijaksanaan yang sama seperti yang kau temukan.
Perjalananku masih panjang.
Dan kau sudah tumbuh.
Aku paling lama mengenalmu dan Tadeus,
sejak Sabat pertama di gubuk kecilku saat aku tidak tahu apa yang kulakukan.
Sejujurnya, Tadeus dan aku juga tidak tahu, jadi…
Aku tahu.
Tak satu pun dari kita bisa membayangkan ke mana arah semua ini.
Kita masih tidak bisa.
Tetap saja.
Arnan.
Marta, semoga Adonai menghiburmu, bersama semua pelayat Zion dan Yerusalem.
Bumi ini tempat yang lebih buruk tanpanya. Dia direnggut dari kita terlalu cepat.
Maria, ini Arnan dari Yerusalem.
Rekan bisnis lama kakakku.
Zaman Keemasan konstruksi di kota suci telah berakhir dengan kematian Lazarus.
Sungguh, tak ada pandai besi yang lebih hebat di seluruh negeri.
Dia seperti keluarga dan teman tercinta putraku.
Dia dicintai oleh semua orang.
- Jabez. - Aku Arnan.
Pengacara keluarga kami.
- Semua beres? - Seperti yang kau harapkan dari Lazarus.
Marta, kau dan adikmu akan diurus dengan baik.
Propertinya, asetnya, dan semua uangnya akan diberikan langsung kepadamu
dengan klausul khusus bahwa sumber daya digunakan,
sebagian untuk memasukkan perlindungan dan perawatan berkelanjutan untuk Maria,
putri Yoakim dari Nazaret.
Lazarus tak pernah mengatakan apa pun.
Kenapa aku tak terkejut Lazarus berteman dengan orang Nazaret?
- Dia tak pernah elitis, Arnan. - Kami besar di sana.
Aku minta maaf, Saudariku. Aku tak bermaksud menghina komentar itu.
Marta, sebagian besar uangnya ada di bank, tapi ada beberapa di brankas
di belakang kantor.
Bisa kita lakukan ini nanti?
Tentu, jika kau butuh sesuatu dalam jangka pendek.
Saat aku tiba di rumahmu,
Nephtali menyuruhku memberitahumu
ada kelompok mendekati Betania untuk melihat Lazarus.
Berapa banyak?
Dia bilang lebih dari sepuluh, datang dari Yordan.
Dan dia bilang, "Katakan Dia akan datang."
Dia? Siapa "Dia"?
Tuhan, seandainya Kau ada di sini…
saudaraku tidak akan mati.
- Marta. - Aku berusaha tidak marah.
Kau tidak datang lebih cepat, Tuhan.
Aku hanya…
Bingung.
Dan hancur.
Aku mengerti.
Tapi sekarang pun aku tahu…
apa pun yang Kau minta kepada-Nya…
Allah akan memberikannya kepada-Mu.
- Anakku… - Benar, bukan?
Apa pun itu untuk memberi kita harapan atau kelegaan…
Aku tahu Kau bisa.
Saudaramu akan bangkit lagi.
Aku tahu dia akan bangkit lagi bersama kita semua
dalam kebangkitan di akhir zaman.
Itu waktu yang lama untuk menunggu.
Bukan itu kebangkitan yang kumaksud.
Akulah kehidupan yang mengatasi kematian.
Aku tidak mengerti.
Akulah kebangkitan dan kehidupan.
Siapa pun yang percaya pada-Ku, meski dia mati, akan hidup.
Siapa pun yang hidup dan percaya pada-Ku, tidak akan pernah mati.
Kau percaya ini?
Aku percaya Kau adalah Kristus…
Anak Allah, yang akan datang ke dunia.
Jadi, bahkan yang tak kupahami pun…
aku percaya.
Setelah Aku di sini…
kematian fisik tidak mengganggu kehidupan abadi kita.
Aku percaya Kau adalah Kristus.
Aku tahu itu.
Hanya itu yang Kubutuhkan sekarang.
Cepat, jemput adikmu.
- Guru, haruskah kita… - Kita akan menunggu di sini.
Maafkan aku, Rabi.
Apa kami harus memahami perkataan-Mu?
Ya, harus kuakui…
Aku memikirkan hal yang sama.
Kurasa belum.
Aku tak memercayai pendengaranku, Yohanes.
Aku terlalu takut untuk memastikan yang baru saja kudengar.
Tidak.
Aku baik-baik saja.
Untuk saat ini.
Dia di sini dan memanggilmu.
Aku?
Sekarang?
Dia di sini?
- Siapa yang mereka bicarakan? - Aku tidak tahu.
Saudari Lazarus, semoga Adonai menghiburmu, bersama dengan semua…
Kurasa dia pergi ke makam untuk menangis di sana.
Dia tak boleh sendirian.
Ada apa?
Tanah keluarga di sebelah sana.
Ya, tapi kau bilang orang-orang mendekati Betania dari Yordan, bukan?
Ini gerbang timur.
Tuhan!
Seandainya Kau di sini, saudaraku tidak akan mati!
Kami sudah mengirim kabar!
Kenapa Kau tidak datang?
Kenapa Kau menunggu?
Kenapa?
Akan Kutunjukkan alasannya.
Di mana kau membaringkannya?
Tuhan, kemarilah.
Siapa pria ini? Apa Dia berteman dengan Lazarus?
Apa Dia keluarganya?
Aku belum pernah melihat-Nya.
Aku belum pernah melihat-Nya seperti itu.
Apa maksud-Nya?
"Akan Kutunjukkan alasannya"? Itu ditujukan untuk siapa?
Dia bilang Lazarus tak akan mati karena penyakitnya.
- Apa yang terjadi di sini? - Apa maksud-Nya?
Dia menyembuhkan banyak orang sakit, membuka mata orang buta.
- Tak bisakah dia mencegah Lazarus mati? - Tenanglah.
- Dia menangis. - Apa yang akan kau lakukan?
- Apa Dia marah kepada kita? - Kalian berdua, berhenti bertanya.
Kita lihat saja.
Ya?
- Ayo, Kawan. - Kita harus pergi, Thomas.
Singkirkan batunya.
Dia bilang, "Singkirkan batunya."
- Apa ucapan-Ku tidak jelas? - Tuhan.
Saat ini pasti akan ada bau.
Dia sudah mati selama empat hari.
Marta.
Kau pasti tahu itu masalah kecil.
Bukankah sudah Kubilang jika kau percaya, kau akan melihat kemuliaan Allah?
Satu-satunya prioritasmu saat ini adalah iman.
Kukatakan sekali lagi, singkirkan batunya.
Siap? Satu, dua, tiga.
Ayo! Gunakan kakimu!
Bapa.
Segala puji bagi-Mu sudah mendengarku.
Aku tahu Engkau selalu mendengar-Ku,
tapi Aku mengatakan ini karena orang-orang yang berdiri di sini
percaya bahwa Engkau mengutus-Ku.
"Mengutus"?
Apa yang Dia lakukan?
Dia sudah memberi tahu kita semalam. Ingat?
Dia bilang agar kita dan banyak orang memercayai-Nya.
- Kita sudah memercayai-Nya. - Tidak semua orang untuk segalanya.
Lazarus, keluarlah!
Lazarus!
Laz!
Lepaskan ikatannya.
Lepaskan dia dari kain itu.
Marta.
Ya, Kakak.
Aku di sini.
Apa yang terjadi?
Kau…
Kau kembali.
Yesus.
Apa aku bermimpi?
Ini bukan mimpi.
Kau baru saja bangun.
Aku tertidur?
Kembali ke dunia orang hidup, Saudaraku.
Terima kasih.
Maaf harus seperti ini,
tapi juga tidak, karena ada rencana yang lebih tinggi.
Aku percaya pada-Mu.
Aku tahu Kau ingin aku tetap rendah hati, tapi aku telanjang di balik kain ini.
Kau butuh mandi.
Dan aku kelaparan.
Jangan terlalu dramatis. Ini baru empat hari.
Empat hari?
Tidur terlama dalam hidupmu.
Pelan-pelan.
Ini sungguhan.
Kisah Yesus dari Nazaret benar.
Nazaret?
Aku harus kembali ke Yerusalem.
- Ada apa? - Yesus dari Nazaret.
- Kau tahu siapa dia? - Aku pernah mendengar namanya.
Aku harus kembali sekarang.
Kita harus mencari tahu apa yang terjadi.
- Sudah jelas yang baru saja terjadi. - Tapi bagaimana caranya?
Astaga. Semuanya, kembali ke rumah kalian. Tidak perlu lagi berduka. Terima kasih.
Kenapa Kau tak melarang mereka menyebarkan kejadian ini?
Kenapa Kau melakukan ini di depan banyak orang?
Karena sudah waktunya, Yakobus Besar.
Kau akan mengerti.
Ini segalanya.
Kalian masih tak paham?
Mukjizat ini akan menyatukan semua orang.
Sekarang, tak ada yang bisa menyangkal-Nya.
- Tomas. - Tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.
Tidak apa-apa. Ini.
Mari kita ambil air. Ambil air.
Minumlah air.
Apa yang telah Kau lakukan?
Tomas.
Ayo. Kita harus bicara.
Kapan?
Segera?
Aku muak dengan semua pembicaraan soal "segera" ini.
- Tomas, jangan. Tidak, jangan di sini… - Ya. Di sini.
Rabi, tatap mataku.
Sudah.
- Aku akan selalu menatapmu. - Itu bukan jawaban!
Kenapa dia dan bukan Ramah?
Kenapa bukan sepupumu sendiri, Yohanes? Ini gila.
Maaf mengganggu, tapi kami harus segera bicara dengan-Nya.
Rabi kami ada urusan. Kumohon.
Tomas.
Aku tak berharap kau mengerti sekarang.
Tidak.
Apa yang Bapa izinkan…
apa yang Aku izinkan,
untuk mewujudkan kehendak Bapa-ku,
serta iman dan pertumbuhan Gereja-Nya.
Itu bisa menghancurkanmu…
dan ya, bahkan bagi-Ku.
Ini terlalu berat. Ini terlalu berat. Aku tak mengerti.
Aku tahu…
dan itu menyakiti hati-Ku.
Tapi kumohon.
Tetaplah bersama-Ku, Tomas.
Kau akan mengerti seiring waktu.
Yang baru saja Kau lakukan…
mukjizat itu, Kau membuat kaum Saduki sangat kesal.
Bagus.
Kaum Saduki sudah pergi ke Yerusalem.
Aku tahu kaum itu. Mereka akan membuat masalah.
Kurasa begitu.
Kau tak peduli?
Aku peduli.
Itu sebabnya Aku melakukan ini.
Sekarang, Aku harus bersama teman kita.
Tomas. Ayo, Saudaraku.
Tidak apa-apa.
Apa kekuatanmu sudah kembali?
Makin kuat setiap menitnya.
- Bagaimana dengan nyeri lamamu? - Suara klik di lututmu?
Masih ada.
Bukan kau jika tak ada itu.
Tidak.
Baiklah. Cukup.
Seperti apa rasanya?
Sudah kubilang, aku tertidur nyenyak.
Kau tak bertemu Ibu atau Ayah? Paman Lamekh bermata satu?
- Maria! - Dia membuatku takut saat aku kecil.
Ingat kau biasa memanggilnya Cyclops?
Ayah tak pernah menyukainya.
Katanya puisi Yunani lama itu pagan.
Aku penasaran apa dia akan punya kedua mata dalam kebangkitan.
Andai ada seseorang di sini yang bisa kita tanyai.
- Rabi. - Bagaimana keadaan kita?
Masih ada bunyi klik di lututnya.
Ya, kami bersyukur, tapi kami punya ide untuk lain kali.
Bapa hanya memberi-Ku satu mukjizat per orang, jadi…
Baiklah.
- Boleh aku bicara berdua dengan Lazarus? - Apa yang akan kita katakan? "Tidak"?
- Habiskan itu. - Baiklah.
- Tetaplah hangat. - Baik, terima kasih.
- Mereka mengurusmu dengan baik. - Seperti punya dua ibu.
Tiga dengan ibumu.
Pasti menyenangkan.
Ada momennya.
Aku hampir bilang, "Hari yang melelahkan."
Ya.
Itu tidak akan cukup.
Kenapa kau menatapku seperti itu?
Kau hanya duduk di sana.
Lalu?
Lihatlah tempat ini, benar-benar berantakan.
Kau tidak menyibukkan diri untuk membersihkannya.
Beri aku itu.
Kuharap ada cara kita bisa membalas-Nya.
Apa yang kau berikan kepada orang yang bisa…
membangkitkan orang mati?
Kita sudah dengar cerita dia menggandakan roti dan ikan di Dekapolis.
Apa yang dia butuhkan?
Tentu dia tak butuh apa pun.
Mungkin itu intinya.
Jadi, sudah merasa lebih baik?
Lebih dari itu.
Kau jelas terlihat lebih baik.
Terima kasih.
Kurasa aku akan terlihat segar setelah tidur siang empat hari.
Tidur empat hari.
Tapi sebenarnya tidak.
Aku tahu itu.
Kenapa kau melakukannya?
Seharusnya aku sudah duga kau akan punya pertanyaan.
Aku serius.
Kenapa aku?
Bukan masalah "siapa" atau "kapan".
- Aku senang itu kau, tentu saja. - Aku tak mengerti.
Aku kehabisan waktu, Laz.
Ini yang terakhir.
"Terakhir" apa?
Pertanda pada publik.
Kau tidak akan melakukan mukjizat besar lagi?
Bukan dari sisi…
"Dari sisi"?
- Aku punya pengakuan. - Kau tak melakukan kesalahan.
Bukan pengakuan dosa.
Sesuatu untuk diakui bahwa kau tidak mengetahuinya.
Tentu saja, itu tidak mendalam.
Adikmu, mereka mengirim kabar penyakitmu ke penginapan kita di Perea,
sebelum akhir pesta.
Aku melarang mereka melakukan itu.
Meski begitu, Aku tak langsung datang ke Betania.
Ada yang harus Kulakukan, khotbah di Yerusalem.
Di kuil?
Bagaimana hasilnya?
Selain percobaan dirajam oleh para pemimpin?
- Kupikir itu sangat lancar. - Dirajam?
Kurasa Kau tidak menahan diri lagi.
Tidak.
Aku tidak bisa.
Waktunya telah tiba.
Apa yang mereka coba kemarin, mereka akan segera berhasil.
Dirajam atau ditangkap?
Lihat saja nanti.
Tidak. Tunggu. Jangan lakukan itu lagi kepadaku.
Lazarus, Kumohon, dengarkan saja.
Penantian, empat hari saat adikmu berduka dan menderita.
Ketahuilah, itu bukan karena kekejaman…
Aku tak akan pernah berpikir begitu tentangmu.
Tapi agar kemuliaan Allah bisa terungkap pada semua kejadian hari ini.
Menyakitkan bagi-Ku melihat kalian yang menderita melalui ini.
Lebih menyakitkan mengetahui bahwa itu penting bagi mereka yang menyaksikannya,
terutama pengikut-Ku sendiri.
Tapi ada yang menganggap ini sebagai pemicu serangkaian peristiwa.
Bukankah sudah seperti itu dengan para pemimpin agama sejak awal?
Ini berbeda.
Kini mereka punya dasar yang lebih kuat untuk hukuman.
Mereka pria. Mereka harus menjaga harga diri.
Kau menjadi tidak terbantahkan.
Aku tidak bisa menerimanya.
Pengikut-Ku tidak akan mengerti.
Aku sudah memberi tahu mereka tiga kali.
Seolah-olah mereka tidak bisa mendengarnya.
Aku sendiri merasa tidak bisa mendengarnya.
Bahkan setelah kejadian hari ini?
- Aku manusia. - Aku juga.
Namun, Kawan, Kau adalah Anak Allah.
Benar.
Jadi, aku tak mengerti.
Kebanyakan tidak.
Frustrasi itu manusiawi,
dan Aku frustrasi karena murid-muridku terus melewatkannya.
Dan mereka melupakan perbuatan-Ku.
Dan Aku marah bagaimana pemimpin agama
mengubah iman menjadi panggung penipuan.
Dan Aku takut…
Aku takut dengan apa yang akan terjadi.
Cangkir yang harus Kuminum untuk memenuhi kehendak Bapa-Ku.
- Kau membuatku takut. - Kau sudah ke liang kubur…
tapi kau masih takut?
Untuk-Mu.
Aku mengasihi-Mu. Aku tak ingin melihat-Mu menderita.
Anak Manusia harus mengalami banyak penderitaan.
Tidak, aku tak bisa mendengar ini.
Nabi Yesaya memberimu banyak peringatan.
Ya.
Ya.
"Dia sangat dihina dan ditolak oleh manusia.
Orang yang penuh dengan kesengsaraan
dan menderita kesakitan."
Itu hanya kata-kata
di gulungan.
Karena itu semua tentang-Mu,
darah dan daging,
itu cerita lain.
Cerita yang mendekati akhirnya.
- Duduklah! - Berhenti menyuruhku tenang.
Aku muak kau menyuruhku memercayai-Nya. Aku tidak akan memercayai-Nya lagi.
- Ini bukan saatnya… - Kau lihat perbuatan-Nya!
- Pelankan suaramu. - Kalian semua melihat perbuatan-Nya.
- Duduklah… - Tidak. Kenapa kau tidak duduk?
Aku akan berdiri. Lihat apa yang terjadi pada kepalamu.
- Lihat apa yang terjadi pada Petrus. - Tomas…
Kalian semua melihatnya!
Apa Kau harus menemui mereka?
Aku akan membahas semuanya secara detail saat makan malam Paskah.
Aku hanya meminta satu hal!
Tak akan ada yang tak tersampaikan.
Mereka yang bersedih, tidak bisa menerima kasih atau ucapan-Ku malam ini.
- Jangan sentuh aku. Aku tak akan tenang. - Saudara-saudaranya akan membantu-Nya.
- Lihat tujuan utama… - Tak ada tujuan utama!
Ayo. Mari kita cari makanan.
Aku tidak akan tidur, paham? Aku tidak lelah.
Tomas, aku hanya… Tidak! Jangan!
- Kau harus menggantinya. - Ya, Matius? Kenapa?
Karena saat Lazarus kehilangan sesuatu, dia pantas mendapatkannya kembali?
- Tapi saat orang lain… - Karena sopan santun.
Hal yang sopan untuk dilakukan adalah tidak memecahkan stoples.
Aku sudah muak bersikap sopan. Aku sudah muak dengan semuanya.
Kau tidak serius.
Katakan apa yang serius, Andreas.
Dengar, kau terluka.
- Kami mengerti. - Tidak.
Jika kau mengerti, kau akan tersinggung seperti aku.
Tomas, tidak ada gunanya menimbang penderitaan.
Kejadian hari ini seharusnya membuat kita lebih bersatu.
Kita harus mengesampingkan keluhan pribadi dan bersiap untuk perubahan besar.
Tunggu, tunggu!
- Maksudnya bukan kau. - Dia tidak bilang begitu.
Jangan khawatir. Mari kita istirahat sebentar, ya?
Aku benci apa yang dia alami. Sungguh.
Tapi pikirkan kejadian hari ini. Lusinan pelayat melihatnya sendiri.
Para pemimpin agama akhirnya harus mengakui siapa Dia sebenarnya,
dan mereka akan bekerja dengan-Nya untuk menyatukan kita melawan penindas kita.
Ini salah satu hari terhebat dalam sejarah rakyat kita!
Aku setuju. Kita hanya perlu lebih sensitif di dekat-Nya.
Para pemimpin agama Yerusalem
tak suka jika ada yang lebih berkuasa daripada mereka, Yudas.
Aku tak yakin momen ini berarti seperti yang kau pikirkan.
Jika mereka tak menyukai-Nya,
Dia bisa memadamkan mereka seperti lampu dengan satu kata.
- Hanya itu yang dibutuhkan. - Aku sendiri masih bertanya-tanya.
- Apa? - "Dengan satu kata."
Kenapa Yesus tak menyembuhkan dari jauh seperti kepada putra Gayus?
Dia ingin kita melihat.
Melihat batu itu menggelinding…
untuk melihat Lazarus keluar dari makam dengan kain penguburan.
Dia juga ingin kita berpartisipasi.
Dia bisa menggulung batu dan buka kain Laz dengan kata-kata juga.
Dia memberi tahu kita semalam bahwa kita mungkin percaya.
Itu jelas berhasil untukku.
Jika Yerusalem mendengar ini dan percaya, mungkinkah ini awal dari pasukan?
Kapan Dia pernah mengatakan sesuatu tentang pasukan?
Dia membuang belatiku.
Maaf, tapi beberapa dari kalian juga berpikir…
Waktu untuk menahan diri dan kesopanan sudah berlalu.
Dia hanya meminta kita ikut dengan-Nya dan mengamati.
- Kenapa kita membahas hal selain itu? - Kita bisa kehilangan Tomas karena ini.
Dengar, dia memberi tahu kita kemarin…
tak ada yang bisa merebut kita darinya.
Dia mengatakan itu tentang "domba sejatinya".
Mereka yang mendengar suaranya dan percaya.
Mungkin Tomas bukan salah satu "domba sejati"?
Apa iblis merasukimu?
- Beraninya kau. - Tarik kembali ucapanmu.
- Semuanya, kumohon. - Kubilang tarik kembali!
Jangan menghina Yesus dengan bersikap seperti ini.
Dia benar.
Dengar, ini sudah larut malam.
Banyak yang terjadi dalam dua hari terakhir. Mari istirahat saja.
Ya, maafkan aku. Sungguh, aku…
Tidak. Maafkan aku! Sungguh. Bukan begitu maksudku.
Aku mengasihi Tomas. Aku hanya…
Aku hanya bersemangat, aku tidak…
Yakobus! Yakobus Kecil!
- Kau baik-baik saja? - Aku baik-baik saja.
Hei.
- Rasa sakitnya mulai sering terasa. - Dari pertarungan kemarin?
Rasa sakitnya sudah memburuk sebelum serangan itu.
Tomas ada benarnya.
Kenapa semua orang dan hal lainnya, tapi Yakobus Kecil tidak?
Aku tidak mau membicarakan diriku malam ini.
Kurasa kita hanya perlu mendengarkan perkataan Petrus dan beristirahat.
Bagaimana bisa, dalam kondisi ini?
Itu antara aku dan Allah.
Seperti kebanyakan hal yang diperdebatkan orang malam ini.
- Kami ingin kau baik-baik saja. - Terima kasih.
Tapi berdiri dan menonton tidak akan berdampak apa pun.
Maria dan Marta sudah menyiapkan kamar kita, sama seperti sebelumnya.
Mereka tidak akan tidur sampai kita tidur.
Tidak baik membuat mereka terjaga sampai larut seperti ini.
Dia benar.
Aku pergi. Filipus, Natanael, kita di ruangan yang sama kali terakhir.
Ayo.
Bagaimana dengan…
Aku akan tetap bersamanya sampai ini berlalu.
Aku hanya butuh beberapa menit.
Pergilah. Kami akan naik.
Natanael.
Petrus dan aku bisa menjemput Yohanes dan Tomas.
Adonai di surga tahu itu akan membutuhkan kita bertiga.
Yakobus Kecil, kau yakin baik-baik saja?
Kami bersamanya. Semua akan baik-baik saja.
Terima kasih, Matius.
- Aku hanya perlu duduk. - Ayo. Aku memegangmu.
- Aku memegangmu. - Kemarilah.
Terima kasih.
Kurasa kau dapat jawabanmu.
Apa?
Kita tidak akan duduk berduka.
Tidak malam ini.
Tapi aku masih merasa sedih.
Aku juga merasakannya.
Kurasa itu karena Yudas benar.
Ini pertanda terbesarnya pada publik.
Kita tidak perlu lagi bertanya-tanya atau menebak kapan "segera" akan tiba.
Makin aku membaca Mazmur Daud, makin aku juga merasa perlu menulis.
Ketahuilah bahwa apa pun ini nantinya, itu belum selesai.
Kau masih jarang membiarkan orang masuk ke pikiranmu.
Saat kau melakukannya, aku selalu bersyukur.
"Kegelapan bukanlah ketiadaan cahaya.
Itu terlalu sederhana.
Itu lebih tak terkendali dan jahat.
Bukan tempat, tapi kekosongan.
Aku pernah ke sana.
Lebih dari sekali.
Meski aku tak bisa melihat atau mendengar-Mu,
Kau ada di sana.
Menunggu.
Karena kegelapan tidak gelap bagi-Mu.
Setidaknya, tidak selalu.
Kau menangis…
bukan karena temanmu sudah mati…
tapi karena Kau akan segera mati.
Dan karena kami tak bisa memahaminya…
atau tak mau. Atau keduanya.
Kegelapan yang akan datang terlalu dalam untuk kami pahami.
Tapi begitu juga cahayanya.
Yang satu harus datang sebelum yang lain.
Selalu seperti itu bersama-Mu.
Masih seperti itu.
Air mata jatuh dari matamu, lalu air mata kami,
sebelum setiap cahaya di dunia padam.
Waktu sendiri ingin mati bersamamu.
Terkadang aku kembali ke tempat itu,
atau lebih tepatnya, itu kembali kepadaku tanpa diundang.
Malam yang abadi…
sampai tidak lagi.
Pahit, lalu manis…
tapi entah bagaimana pahitnya tetap ada dalam manisnya dan tidak pernah hilang.
Kau bilang akan seperti itu.
Bukan dengan kata-kata, tapi dengan cara-Mu hidup.
Pria yang berduka, mengenal kesedihan.
Kesedihan itu bukan yang ingin kami lihat,
jadi, kami mencoba berpaling, dan dengan begitu, memenuhi esensimu.
Orang yang menyembunyikan wajah mereka.
Tapi kita tak bisa bersembunyi darinya lagi
seperti kita tak bisa mencegah matahari terbenam.
Atau terbit.
Aku ingat Kau berharap ada cara lain.
Jika mengingat itu, aku juga.
Aku masih tidak tahu kenapa harus seperti ini.
Yang pahit sering bercampur dengan yang manis.
Mungkin aku tidak akan pernah tahu.
Setidaknya, bukan sisi ini…"
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.