Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
TOKOH FILIPUS KINI AKAN DIPERANKAN OLEH REZA DIAKO
Rabi?
- Akan kuletakkan di sini. - Tidak apa-apa. Silakan masuk.
Duduklah dengan-Ku.
Silakan.
Bagaimana keadaanmu?
Aku tak tahu harus berkata apa.
Kukira aku akan jauh lebih buruk.
Tampaknya, Simon juga berpikir begitu. Dia terus memeriksaku tiap lima menit.
Seperti kau terus memeriksa Aku?
Kau mengenal Yohanes lebih lama daripada kami semua.
Tapi Kau…
Aku apa?
Maksudku, Kau…
Lalu kenapa kau harus memeriksa Aku?
Baiklah.
Kalau begitu, aku akan…
Aku akan bilang Kau adalah misteri.
Aku tahu.
Cukup basi.
Cukup?
Rasanya seperti tulang Elisa.
Bisakah kita tertawa?
Kenapa tidak?
Kau tahu, beberapa momen saat kita tertawa
adalah sekitar waktu pemakaman.
Hati kita sangat lembut, semua emosi kita ada di permukaan.
Tawa dan air mata, lebih dekat daripada sebelumnya.
Percayalah, Aku sering duduk berduka dengan Yohanes saat kami masih kecil
dan dia terus murung selama tujuh hari berturut-turut.
Tidak pernah terjadi.
Aku merasa bersalah.
- Aku seharusnya hancur. - Tidak.
Tidak, Andreas. Tidak ada "seharusnya" dalam kesedihan.
Tidak ada cara tepat untuk berduka.
Kau sudah mengalami banyak duka saat Yohanes ditangkap.
Hancur lagi tak akan menghormati kenangan Yohanes
lebih dari tak merasakan apa pun.
Jadi…
kau bilang Aku misteri.
Tidak. Maksudku, Kau…
Yohanes bilang Aku siapa?
Yohanes bilang…
"Yang Terpilih."
- Apa yang Kau lakukan? - Kau memberiku ide.
- Di mana biasanya kita duduk berduka? - Rumah mendiang?
Di mana rumah Yohanes?
Jalan terbuka.
Kumpulkan yang lain.
"Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud.
Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.
Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari,
tapi lihatlah,
segala sesuatu adalah kesia-siaan
dan usaha menjaring angin.
Ada waktu untuk mencari,
dan ada waktu untuk membiarkan rugi.
Ada waktu untuk menyimpan,
ada waktu untuk membuang.
Ada waktu untuk merobek,
ada waktu untuk menjahit.
Ada waktu untuk berdiam diri,
ada waktu untuk bicara.
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang,
dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya."
Awalnya hanya selama musim kemarau, tapi sekarang sepanjang waktu.
Apa ada yang membuatmu risau hingga kau tidak bisa tidur di malam hari?
Itu bukan pikiran, tapi perasaan takut secara umum.
Seolah-olah ada ular di bawah ranjang atau singa berjongkok di balik pintu.
Natan,
penderitaan nenek moyang kita hidup dalam tubuh kita.
- Apa maksudmu? - Mesir.
Pengembaraan 40 tahun.
Pengasingan di Babilonia.
Semua rasa sakit dan ketakutan itu
diwariskan dalam darah, tulang, dan kisah kita.
Aku hanya mau bisa tidur.
Tidak bisa kuubah fakta bahwa aku orang Yahudi.
Itu benar.
Tapi kau bisa berdoa.
Kau bisa mengunjungiku tiap hari, lalu kita berdoa bersama.
Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi
akan tinggal dalam naungan Yang Mahakuasa.
Terima kasih sudah datang.
Terima kasih, Rabi.
Andai aku bisa membuat mukjizat.
Ada satu yang pernah kudengar.
- Sampaikan salamku kepada Ila. - Pasti.
- Syalom. - Syalom.
Syalom.
Aku mau bertanya, bagaimana kehidupan di rumah?
Kau tahu, karena semua…
Dia hanya tidur, Yussif.
Hanya itu yang bisa kami katakan.
Bisa kau bayangkan seperti apa hidupmu jika kau ditugaskan ke tempat lain?
Aku tak mau.
Berita dari Yerusalem.
Rabi Shmuel telah dipromosikan menjadi Sanhedrin.
Rabi Shamai akan berpidato di pertemuan hari ini.
Maka Nikodemus harus hadir.
Tampaknya dia melewatkan beberapa sesi
dan kami tak pernah mengirim suratmu.
Menurutmu khotbah Di Dataran Korazim telah mencapai Yerusalem?
Aku yakin sudah sampai.
Tapi khotbahnya mungkin memudar dibandingkan…
rumor kejadian di Dekapolis.
Bukan sekadar rumor. Bacalah.
Kau yakin itu sisi baikku?
Kau bilang begitu.
Apa aku salah?
Ini patung dada. Kemiripanmu akan terlihat dari tiap sudut.
Aku tak membayarmu untuk pelajaran seni.
Quintus. Aku tak…
Katakan sekarang dan selesaikan.
Terlalu mudah. Tidak hari ini. Pergilah.
Tunggu. Aku sedang…
mengurus ini.
Biasanya aku akan memberi tahu pria ini bahwa dia mengabadikan sisi yang salah.
- Ya. - Tidak hari ini.
Hari ini, aku butuh intelijen terbaru tentang Yesus dari Nazaret.
Intelijen militer.
Dua kata yang dipasangkan itu selalu kuanggap oksimoron.
- Atticus! - Quintus, ceritakan tentang Yesus.
Baiklah. Tapi…
Tapi…
Tidak ada perubahan. Yesus dan aku berbicara.
Kau ada di sana. Kami sepakat.
- Tidak ada informasi baru? - Tidak.
Orang Yahudi punya informasi baru.
Tentu saja, orang Yahudi tahu tentang orang Yahudi.
Kurasa kau tak mengerti peran seorang hakim.
- Semua terjadi tepat di hadapanmu. - Jelaskan kepadaku, Detektif.
- Apa yang begitu penting? - Rasanya seperti…
Awal dari sesuatu.
Perang, mungkin.
Aku tak akan melakukan pekerjaanmu
dan mempersulit hidup orang-orang yang mengikuti Yesus.
Aku tak akan membubarkan pertemuan mereka atau mengusir peziarah, paham?
Ada yang membuatmu takut.
Aku lebih mengenal orang Yahudi daripada kau.
Ada apa denganmu?
Saat ini, satu-satunya hal yang membuatmu disukai Kaisar adalah pendapatanmu.
Itu besar. Spettacolare, Dominus.
Tapi kau harus…
melakukan sesuatu!
Jangan menjadi terkenal karena mengawasi kota di mana revolusi dimulai.
Hidup, Kaisar!
Hidup.
Menurutmu Dia membawa kita ke lembah?
Kita menuju utara ke Yordan.
Ke Perairan Merom.
Merom?
Tempat Yosua mengeklaim kemenangannya atas orang Kanaan.
Mungkin di sanalah hal-hal besar akan mulai terjadi.
Banyak hal besar sudah terjadi.
Aku yakin kita akan ke Gunung Hermon.
Sudah lama aku tak melihat salju.
Yesaya. "Meski dosamu merah seperti kirmizi,
- akan menjadi seputih salju." - "Akan menjadi seputih salju."
- Yang itu juga. - Itu satu lagi.
Apa hubungan Gunung Hermon dengan Yohanes?
Kita masih dalam tujuh hari Shiva.
Shiva sama pentingnya bagi orang hidup dan orang mati.
Itu tak menjelaskan kenapa kita pergi ke arah ini.
Kenapa kita tak menunggu sampai kita tiba di sana?
Itu akan menjadi info berguna bagi kita yang membawa barang berat, Yakobus Muda.
Ikuti saja, Yohanes.
Kau yakin tak salah dengar?
Dia bilang kita bisa bicara di perjalanan.
Tapi kali ini tentang si Pembaptis, bukan kita.
Aku hanya memberitahumu yang Dia katakan. Dia benar-benar tersenyum.
Baiklah.
Kalau begitu, ayo. Tidak ada waktu seperti saat ini.
Semangat. Mungkin akan berhasil.
Apa? Aku hanya…
Rabi.
Di sana kau rupanya. Aku menunggumu.
Bagaimana kunjunganmu ke Kafni?
Kurasa jika berjalan lancar, kita semua akan tahu, bukan?
Tapi ada cara lain.
Kiddushin.
- Kau tahu. Tentu saja. - Ya.
Rabi, aku meninggalkan ayahku untuk mengikuti-Mu.
Aku menahan banyak kata-kata kasar darinya karena memilih untuk melakukan ini.
Aku juga mengalaminya.
Kau sudah seperti ayah bagiku sekarang.
Yohanes setuju menjadi saksi pria untuk Tomas.
Sebagai ayah spiritualku,
maukah Kau menikahkanku?
Kami tak mau membebani-Mu.
Penolakan Kafni menyucikan persatuan kami bukan tujuan-Mu datang.
Tidak.
Tidak, Tomas.
Kau salah.
Semuanya, berkumpul.
Orang sepertinya berpikir mereka tahu alasan Aku datang.
Jangan kau menyangka, bahwa Aku datang membawa damai di atas bumi.
Aku datang bukan untuk membawa damai…
melainkan pedang.
Maksud-Ku pemisahan, Zee.
Di dalam keluarga dan selanjutnya,
saat seseorang memilih mengikuti-Ku,
itu mungkin berarti bahwa di satu rumah,
lima akan terbagi,
tiga lawan dua dan dua lawan tiga.
Kenapa?
Seperti Ramah dan ayahnya.
Bukan niat-Ku untuk memecah belah keluarga,
tapi risiko mengikuti-Ku
mungkin berarti dibenci oleh orang-orang terdekat mereka
karena ketidakpercayaan mereka.
Tapi bukankah menghormati ayah dan ibu adalah salah satu Perintah Allah?
Menghormati orang tua
adalah salah satu kewajiban sosial dan spiritual tertinggi,
tapi tidak lebih tinggi daripada mengikuti Tuhan.
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, dia tak layak bagi-Ku.
Kami memilih-Mu, bukan keluarga.
Kalau begitu, sudah diputuskan?
Kau akan menandatangani surat itu dan menjadi saksiku?
Mari bicarakan detailnya setelah perjalanan ini,
dan penyelesaian Shiva untuk sepupu-Ku.
Tentu saja.
Jadi, Tomas,
apa yang kau siapkan sebagai mohar Ramah?
Kami sudah sepakat.
Dia menegaskan bahwa dia tak butuh…
Tomas!
Aku pinjam Tomas sebentar, ya?
Itu ide buruk.
Apa yang ide buruk?
Tidak memberi istrimu hadiah.
Secara spesifik, memercayainya saat dia bilang tak mau hadiah.
Tidak.
Dengarkan temanmu yang sudah menikah.
Kata-kata ini tak seperti yang kau pikir.
Biar kujelaskan.
Rabi. Kau masih membutuhkannya?
Tidak. Tolong jelaskan padanya.
Kita akan terus berjalan.
Ini yang akan kau lakukan.
Apa maksudmu?
- Kenapa kau tertawa? - Kau bercanda?
Terpujilah Engkau, Tuhan kami, Raja Semesta Alam,
yang memberi kami hidup, menopang kami,
dan memungkinkan kami tiba di momen ini.
Datang jauh-jauh dari desa pelabuhan di Galilea Hulu.
Kapernaum.
- Angkatan demi angkatan akan memegahkan - Kau percaya itu, Moishe?
Pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan…
Moishe, kuberi tahu.
Pada hari anak ini tiba di Kota Suci,
dia masih agak berbau ikan dan kenaifan.
Aku akan…
bermeditasi.
Jeruk bergamot.
Melati dan…
balsam dari tepi Laut Mati.
Percayalah, Moishe.
Kau memegang jubah seorang rabi yang namanya akan dikenang dalam sejarah.
Kau akan memberi tahu putramu tentang hari ini.
Inikah artinya bagimu, Yanni? Dikenang?
Jubah khusus dan wewangian mahal?
Jika mereka cocok.
Siapa pun bisa memperingatkan para tetua.
Tolong keluar, Moishe.
Aku berdoa dengan pria ini, Yanni.
Apa?
Di Dekapolis, saat kau dan yang lain sibuk dengan saksi,
aku menemukannya sendiri. Itu tak disengaja.
Tapi kau tak bilang.
Dia tak seperti dugaanku atau yang kuingat dari Kapernaum.
Dia tampak tulus dan memberiku pertimbangan.
Ketulusan mungkin adalah kelicikan.
Aku tak merasakan kejahatan yang kuharapkan.
Hanya Tuhan yang bisa paham hati manusia. Kau tak berhak mengatakannya.
- Lalu kenapa aku diberi jabatan ini? - Tidak ada yang memberimu apa pun.
- Kau sudah mendapatkan posisimu. - Bagaimana caranya?
Aku belajar, menulis laporan, bertemu pemimpin yang debat soal tradisi,
dan apa yang bisa ditunjukkan?
Bagaimana iman kita, bangsa kita, akan meningkat?
Kau kewalahan.
Wajar jika gugup. Banyak perasaan.
Ya, aku kewalahan dengan betapa kosongnya seluruh hal ini,
dengan berpura-pura dan ucapan selamat.
- Tentang apa? - Shmuel, aku berjanji,
saat kau mendengar pidato Shamai, semuanya akan masuk akal.
KAISAREA FILIPI CEDES
Aku belum bertanya. Kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Aku sudah tenang.
Yohanes pasti menginginkan itu, bukan?
Kau belum menanyakan kabarku.
Maafkan aku. Bagaimana kabarmu?
Tidak, aku bercanda.
Seperti yang kutakutkan.
Kaisarea Filipi.
Hei.
Ini mungkin tempat tinggalmu,
tapi kau bukan pria sama yang kutemukan pingsan saat siang
di tengah rumah dengan sewa murah.
Terima kasih kenangannya.
Hanya mencoba membantu.
Dewa Kanaan, Baal. Dahulu dia disembah di sini.
Sebenarnya, di banyak tempat, tapi terutama di sini.
- Kenapa? - Airnya.
Mereka menganggap Baal sebagai dewa hujan.
Mata air mengalir keluar dari gua di sisi batu di sana.
Mata air Yordan.
Untuk mengetahui kedalaman mata air, mereka menurunkan batu dengan tali.
Itu tak pernah mencapai dasar.
Selamat datang di gerbang neraka.
Bukankah makanan kosher kita terdengar lebih enak di sini?
Dia ada benarnya.
Apa itu kambing untuk dikorbankan di kuil mereka?
Tidak. Sesuatu yang jauh lebih buruk.
Kita pergi ke utara ke Kapernaum untuk mencari ikan segar,
bukan untuk menemukan orang cerdas.
Namun, meski tampak mustahil,
dari desa terpencil di Galilea Hulu ini,
telah muncul cendekiawan yang begitu giat,
penuh rasa ingin tahu, dan hebat.
Kita harus bersukacita atas keberuntungan kita
dalam menemukan Shmuel anak Yosef
dan menyambutnya ke dewan tertinggi ini,
tempat dia menggantikan Rabban Seled di kursi ke-70.
Kecuali kau tinggal di makam selama enam bulan terakhir,
Yesus dari Nazaret, pernah menjadi subjek dari spekulasi, pengamatan aneh,
gosip, dan kabar angin,
yang lewat laporan Shmuel dan laporan saksi mata,
muncul potret sosok paling memberatkan dan berbahaya di negara ini
sejak Ahab dan Izebel.
Yesus tak hanya menunjukkan penghinaan terhadap Hukum Suci dan tradisi,
dia telah mengumpulkan pengikut setia saat melakukannya.
Dia bepergian dan berbaur dengan pemungut cukai, pendosa, orang bejat,
dan anggota Filosofi Keempat.
Kaum Zelot?
Di kalangan murid-muridnya ada banyak wanita,
salah satunya adalah orang non-Yahudi dari Etiopia.
Bukan satu, tapi dua pengikutnya
adalah mantan murid mendiang penghujat, Yohanes Pembaptis.
- Mendiang? - Kita harus berterima kasih pada Shmuel
karena menyerahkan lokasi si Pembaptis kepada pihak berwenang Romawi.
Kenapa kita tak berdiskusi lebih dahulu
sebelum bekerja sama dan menyerahkan salah satu dari orang kita ke Roma?
Kau bersimpati pada si Pembaptis, Shimon?
Yang menyebut kita kelompok ular berbisa? Pembunuh ibu kita sendiri?
Shamai.
Kau sudah bicara terlalu lama.
Waktu untuk mengamati dengan sabar sudah lama berlalu.
Tindakan dan keberadaan Yesus dari Nazaret
harus segera dilaporkan ke dewan ini.
Pemimpin senior di tiap distrik
harus menanyai dan mengekspos Yesus.
Dengarkan baik-baik ucapannya
dan jebak dia dalam ajarannya sendiri.
Jika kita memojokkannya untuk mengekspos dirinya dengan ajarannya sendiri
melalui cara yang akan dengan mudah dikenali orang sebagai dusta.
Mereka akan berpaling darinya.
Kita bisa melemahkan pengaruhnya.
Apa yang terjadi jika dia terjebak dan dibawa kepada kita…
Meski kita menganggapnya menghujat,
kusarankan kau menahan diri
untuk menegakkan keadilan Hukum Musa.
Merajam…
Ini bukan hanya urusan yang kacau,
tapi merajam seorang pengkhotbah rakyat
berisiko menimbulkan kekacauan yang tak bisa kita hadapi.
Kita harus meyakinkan Roma
bahwa dia layak mendapat perhatian mereka.
Meski pendudukan
telah menjadi sumber penderitaan tanpa akhir bagi rakyat kita,
kita harus sadar dalam mengakui
bahwa penjajah kita lebih baik dalam melacak dan membunuh orang
daripada sumber daya atau energi yang kita miliki.
Kita harus memisahkan kekuasaan kita.
Kita tak boleh dianggap
"mengharapkan kekacauan" dengan cara apa pun.
Meski Pilatus masih muda dan tidak tahu apa-apa,
dia tak akan membiarkan itu,
dan kita tak bisa memberinya alasan lain
untuk bertindak gegabah.
Biarkan Roma menegakkan hukumnya sendiri,
dan jika itu menguntungkan kita, bagus.
Kita akan memusatkan upaya kita untuk melestarikan hukum Tuhan
dan tradisi suci iman kita.
Jelas?
Tulis dekretnya dan serahkan kepadaku sebelum malam.
Rapat ini ditunda.
Kayafas, laporan ini berlebihan dan penuh agenda yang berat sebelah.
Kubilang kita sudah selesai, Shimon.
Kemarilah.
Rabi, tempat ini…
Dengan hormat, Rabi, kenapa Kau membawa kami ke sini?
Ini kekejian.
- Itu kata yang cukup kuat, Andreas. - Rabi…
saat Shiva?
Haruskah kita menghindari tempat gelap karena takut,
atau haruskah kita jadi terang bagi mereka
seperti Simon dan Yudas dalam misi mereka?
Kau pikir sepupu-Ku akan takut pada gua ini?
Kau pikir dia akan sangat terkejut dengan apa yang terjadi di kuil di sana
hingga dia tak tahan berada di tempat ini?
Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?
Ada yang bilang Kau adalah Elia, yang mengajarkan pertobatan.
Ada yang bilang Yeremia, karena dia ditolak oleh pemimpin di masanya.
Dan ada juga yang bilang salah satu nabi, mereka yang bicara atas nama Tuhan.
Baiklah, apa yang harus kita lakukan? Mengundi?
Natanael, inilah waktumu. Jadilah dirimu sendiri.
Ada yang bilang Yohanes Pembaptis.
Yang jelas tak benar.
Baiklah, itu menurut orang lain.
Tapi apa katamu, siapakah Aku ini?
Kau?
Kau adalah Kristus.
Anak Allah yang hidup.
Patung Baal dan Pan yang diukir ini dan berhala lain yang kita lewati?
Mereka sudah mati dan membusuk, tapi kami memuja Allah yang hidup.
Dan Kau…
Kau adalah anak-Nya.
Berbahagialah engkau, Simon putra Yunus.
Karena bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu,
melainkan Bapa-Ku di surga.
Seumur hidupmu, kau dipanggil Simon, orang yang mendengar.
Tapi hari ini, Aku memanggilmu Petrus.
Batu.
Dan di atas batu karang ini
Aku akan membangun jemaat-Ku
dan alam maut tidak akan menguasainya.
Ini adalah tempat kematian,
dan Aku membawamu ke sini untuk mengatakan bahwa kematian tak punya kuasa
untuk menahan orang-orangku yang telah ditebus.
Karena Aku hidup, kau juga akan hidup.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.
Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga,
dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.
Kau punya wewenang
untuk nyatakan kebenaran kepada orang lain yang Aku nyatakan kepadamu,
bahwa orang yang bertobat punya tempat di Kerajaan Surga.
Kau telah mengaku bahwa Aku adalah Kristus,
dan kau akan memengaruhi banyak orang untuk untuk membuat pengakuan sama kelak.
Akan Kujelaskan lebih lanjut nanti.
Untuk saat ini, kalian harus merahasiakan ini.
Aku menuntut kalian untuk tak memberi tahu siapa pun.
Rabi, beberapa orang sudah tahu bahwa Kau adalah Mesias.
Kenapa merahasiakannya sekarang?
Di beberapa tempat, bagi beberapa orang,
penting bagi mereka untuk tahu dan percaya.
Tapi sekarang,
jika semua orang di wilayah ini mendengar Mesias telah datang,
mereka akan bangkit dalam kerumunan,
siap bergabung dengan tokoh militer dalam perang melawan Roma.
Aku mau orang-orang mengikuti-Ku berdasarkan identitas-Ku sesungguhnya,
seperti Petrus,
bukan berdasarkan pemahaman keliru tentang gelar yang kupegang.
Guru, orang-orang kita siap memercayai-Mu dan berjuang bersama-Mu.
Untuk apa lagi membawa kami ke tempat kematian ini
jika bukan untuk mengalahkannya?
Itu akan datang pada waktunya.
Aku membawamu ke sini untuk menghormati Yohanes
dengan menunjukkan apa yang dia lakukan di sini.
Dia menyiapkan jalan untuk ini.
Agar Aku bisa membangun jemaat-Ku.
Jemaat yang tak akan pernah berhenti, bahkan di tempat seperti ini.
Yohanes tak takut pada kejahatan dan patuh di mana pun,
dan kalian juga harus begitu,
bahkan di alam maut.
Kau siap mengikuti jejaknya,
dan jejak-Ku?
Bahkan jika itu membawamu ke tempat seperti ini?
Itu saja.
Kita harus pergi.
Akan Kuambilkan, Yakobus Muda.
Terima kasih.
Petrus, Sang Batu.
Kau lihat itu?
Empat penunggang kuda menunggu untuk mengirim pesan ke seluruh Israel,
semua karena kau.
Pekerjaanmu menciptakan ini.
Dia sudah mati.
Dia akan mati begitu salah langkah dan melawan Roma.
Tidak. Maksudku si Pembaptis.
Shamai mengatakannya.
Aku yang pertama menyerahkannya ke pihak berwenang.
Karena kau bisa meramal.
Kau bisa melihat konsekuensi jauh di masa depan
yang orang lain abaikan.
Kini seluruh Sanhedrin akan tahu bakatmu.
Kau mendengarkan?
Aku…
Ya.
Kurasa kau yang harus membawanya ke Sanhedrin.
Aku?
Kau dari Kapernaum.
Kau kenal orang yang mengikutinya. Kau bicara dengannya dua kali.
Kau harus mencarinya.
Kau benar.
Syalom! Kau masih hidup?
Ya. Aku hanya berpikir.
Ya, aku akan berusaha mencarinya.
- Kuharap begitu. - Aku siap.
Kita bisa mengencangkannya.
Sudah kuat, kau bisa tarik dari sisimu.
Ya. Tarik saja yang kencang.
Aku mulai terbiasa.
Siapa pun bisa mengatakannya.
- Kenapa tak kau katakan? - Kenapa tidak?
Kukira itu hal di mana Yesus bertanya sebagai bagian dari ajaran.
Simon bicara lebih dahulu.
Aku tak yakin kita memanggilnya Simon lagi.
Benarkah? Yesus memberi kita nama baru.
- Kita masih disebut Yakobus dan Yohanes. - Aku tak tahu.
- Kita bilang apa kepada Ibu? - Jangan katakan apa-apa.
Dia tak boleh tahu.
Kenapa kau membahas Ibu?
- Seharusnya cukup untuk malam ini, 'kan? - Ya.
Mengingat Filipus pergi mengambil lebih banyak, itu banyak.
Baiklah.
Apel?
Tentu.
Terima kasih.
Ada banyak, kau bisa makan…
Jika mau lebih dari satu, dia akan minta.
Benar sekali. Aku mau tiga.
Lagi pula, dia akan tahu. Dia selalu mengetahui semuanya.
Aku tak mengerti.
Apa Simon… Maaf. Apa Petrus sungguh murid terbaik?
Apa Yesus bilang "terbaik"?
Aku sudah menulisnya. Kata "terbaik" tak digunakan.
Apa itu penting?
Aku di sini belum selama kalian, tapi sepertinya Petrus yang terbaik.
- Satu dari tiga atau empat teratas. - Siapa tiga lainnya?
Dengan ukuran apa kita menentukan peringkat ini?
Siapa yang bilang soal peringkat? Apa ini, militer?
- Kurasa itu sebaliknya. - Entah. Jelas dia harus menjadi pemimpin.
Apa itu berarti kita semua kurang penting?
Tidak ada yang meminta pendapatku, tapi kurasa kita semua hanya butuh tidur.
- Aku tak akan tidur malam ini. - Bagus! Kau bisa berjaga ketiga.
Aku dijadwalkan untuk itu.
- Tapi jika kau tak bisa tidur… - Bukan itu maksudku.
- Kalau begitu, berjaga ketiga! - Itu ungkapan, Andreas.
- Ambil giliran ketiga! - Kau tak bisa selalu serius.
- Aku akan tidur. Aku lelah. - Aku masih harus tidur.
- Kau bisa mengambil giliran jaga ketiga… - Yakobus bisa melakukannya.
Matius, apa semua orang merasa nyaman malam ini?
Entah apakah "nyaman" kata yang tepat.
Aku suka itu darimu. Selalu mencari kata yang tepat.
Bagaimana denganmu?
Kau gelisah?
- Jika ini bukan waktu yang tepat, aku… - Tidak. Silakan duduk. Silakan.
Aku mendengarkan.
Rabi, hari ini Kau tampak mengangkat Simon.
Maksudku, Petrus.
Kurasa aku tak sepenuhnya memahami posisi barunya dan apa artinya itu.
Ya. Aku tak yakin dia mengerti artinya.
Dia diam sepanjang hari, dan bagiku, itu perubahan yang cukup baik.
Mungkin Kau sudah dengar soal masa sulit di Siria. Simon… Maksudku, Petrus,
meneriakiku di depan api.
Mengatakan aku meludahi keyakinan Yahudi,
bahwa dia tak akan pernah lupa perbuatanku dan dia tak akan pernah bisa memaafkanku.
Kau sudah meminta maaf?
Untuk apa jika dia bilang tidak akan memaafkan? Tidak ada gunanya.
Matius…
Kau meminta maaf bukan untuk dimaafkan.
Kau meminta maaf untuk bertobat.
Pengampunan adalah hadiah yang diberikan dari orang lain.
Kurasa aku sulit menerima
orang yang akan kau tugaskan secara resmi untuk memimpin kelompok
dengan kunci kerajaan surga adalah orang yang sangat temperamental.
Aku tahu itu metafora, tapi dia tak bersikap seperti batu.
Kubuat orang menjadi apa yang bukan diri mereka.
Kau yang paling tahu itu.
Kau jelas bisa memilih siapa pun yang Kau mau,
dan cara-Mu sering sangat berbeda dari cara orang lain, tapi…
Rabi, harus kuakui,
itu menyakitkan.
Kau tak tahu betapa kejamnya dia kepadaku.
Mungkin Kau tahu dan tetap memilih untuk mengangkatnya,
dan itu membuatnya lebih menyakitkan.
- Aku… - Kau benar.
Adakalanya Petrus terlalu keras kepadamu.
Itu tak menyenangkan Bapaku di surga, begitu pun Aku.
Lalu kenapa?
Aku akan mengatakan ini tak selalu dipertimbangkan,
tapi Aku hanya akan bertanya,
siapa yang menyakiti lebih dahulu?
Kurasa, secara abstrak, dengan menerima pekerjaan dari Roma, aku…
Tidak.
Tidak.
Tidak secara abstrak.
Faktanya.
Baik, dengan berpaling dari rakyat kita, lalu dengan memata-matainya untuk Quintus,
dan bahkan datang dalam beberapa jam setelah menyerahkannya ke Roma
dan mungkin menghancurkan kehidupan keluarganya.
Kau tak pernah meminta maaf untuk ini?
Tidak, aku hanya…
Aku mau melupakan masa itu.
Sama seperti Maria mau melupakan masa lalunya.
Aku mau menjaga kedamaian.
Meminta maaf kepadanya hanya menyebabkan perdebatan.
Kelompok ini sering berdebat. Mereka berdebat sekarang.
Aku tahu aku belum berkontribusi banyak, tapi kurasa pada akhirnya, semua orang…
Kau lihat. Beri tahu mereka, Yakobus!
Tidak ada kedamaian saat dua pengikut-Ku
menyimpan kebencian di hati mereka terhadap satu sama lain.
Kau tahu harus melakukan apa.
Ini hari yang melelahkan.
Aku akan tidur sekarang.
Selamat malam, Matius.
Selamat malam, Rabi.
Terima kasih sudah mendengarkan.
Siapa yang akan menjaga api?
Kau harus memberitahunya bahwa itu hanya ungkapan.
Aku hanya mau tidur.
- Maria, Tamar, Ramah, tenda kalian siap. - Syukurlah.
Kurasa tidak.
- Andreas, tenda kita juga sudah siap. - Baiklah.
Aku mendengar suara keras di sini. Kalian memperdebatkan sesuatu?
- Tentang siapa yang akan berjaga ketiga. - Bukankah ini giliran Andreas?
Yohanes akan menggantikanku.
Kau baik sekali, Yohanes.
Tadeus, di mana kemahmu?
- Ini giliranku untuk menjaga api. - Benar.
- Tapi di mana Matius akan tidur? - Aku punya ruang.
- Karena Tadeus. - Terima kasih, Yakobus Muda.
Zee, kau akan tidur di luar tenda wanita?
Seperti biasa.
- Kau bicara dengan Yesus? Dia tak apa? - Ya, Dia tidur.
Baiklah.
Selamat malam.
Baringkanlah kami, Adonai Tuhan kami, dalam damai sejahtera.
Bangunkanlah kami lagi, Penguasa kami, dalam hidup.
Bentangkanlah di atas kami Sukkah damai sejahtera-Mu.
Bimbinglah kami dengan nasihat baik-Mu.
Selamatkanlah kami demi nama-Mu.
Lindungilah kami.
Singkirkanlah semua musuh,
wabah, pedang, kelaparan, dan kesedihan.
Singkirkanlah semua musuh di depan dan belakang kami.
Dan lindungilah kami dalam naungan sayap-Mu.
Karena Engkaulah penjaga dan penyelamat, Tuhan kami,
ya, Tuhan dan Raja yang pengasih dan penyayang.
Jaga kepergian dan kedatangan kami demi hidup dan damai, kini dan selamanya.
Aku berpikir.
Batu itu mungkin fondasi bangunan, tapi bukan itu yang paling terlihat.
- Atau titik tertinggi. - Tepat.
Mungkin kita bisa bertanya kepada Yesus jika Simon akan menjadi batu utama
dari fondasi jemaat-Nya…
Aku cukup yakin Yesus adalah batu utamanya.
Salah satu batu utama tempat jemaat-Nya dibangun,
mungkin kita bisa menjadi benderanya, ya?
Berkibar dari tembok tertinggi?
- Ada apa dengan tembok? - Bukan apa-apa.
Kurasa aku tahu dan aku tak menyukainya.
Jadi, karena tak ada dua Simon lagi, boleh kuminta namaku kembali?
Tidak.
- Selamat pagi, Kawan. - Selamat pagi.
- Apa ini? - Ada karub, murbei, pistasio.
Pistasio pasti enak pagi ini.
Yudas, apa uang kita cukup untuk 16 porsi?
- Mungkin jika yang di dalam cangkang. - Cangkangnya bukan masalah.
- Enam belas porsi. - Baiklah.
Natanael, Tadeus.
Bagikanlah, ya?
Silakan.
Terima kasih.
Kelihatannya lezat.
- Ini. Terima kasih banyak. - Terima kasih, Rabi.
Terima kasih banyak, Pak.
- Baiklah, Kawan. - Ya.
Terima kasih, Natanael.
- Itu dia. Filipus. - Di keranjang.
- Di keranjang. - Terima kasih.
Selamat menikmati.
- Dan Andreas. - Terima kasih.
Untukmu, dan aku.
Lihat itu, membagi delapan porsi secara merata hingga kacang terakhir.
Keahlian.
Ini asin dan akan membuat kita haus.
- Simon, apa botol airmu penuh? - Aku Petrus. Namaku Petrus.
Benar.
Kau tahu, akan butuh waktu bagi kita semua untuk terbiasa dengan nama Petrus.
Kita hanya manusia biasa.
Untuk menjawab pertanyaan pertamamu, ya. Botol ini penuh.
Baiklah.
Jadi…
adikku adalah batu.
- Aku harus berjalan lebih lurus. - Ya. Dalam banyak hal.
Kau harus berhenti memendam kepanikanmu
sampai semuanya meledak pada saat yang paling tak sesuai.
Kuterima kematian Yohanes lebih baik dari setahun lalu.
Aku harus mulai… Entahlah.
Aku tak tahu harus mulai dari mana. Dia tidak menjelaskan semuanya.
Sudah, tapi secara…
samar.
Seperti di sekolah Ibrani,
saat Rabi Mordekhai membaca dari bagian Shemot
saat Tuhan bertemu Musa di penginapan dan mencoba membunuhnya.
Cerita paling aneh, ya?
Lalu istrinya menyunat putra mereka dan menempelkan kulup di kakinya dan berkata,
"Sesungguhnya kau pengantin darah bagiku."
Lalu dia…
- Melanjutkannya. - Lanjut ke bagian berikutnya.
Tanpa penjelasan, tanpa apa pun.
Kita semua duduk di sana, benar-benar bingung.
Tapi Yesus bukan Rabi Mordekhai.
Ya, kita bukan anak kecil yang gelisah dan mau bermain di luar.
Ini nyata.
Aku mengalami masa sulit saat Eden keguguran.
Aku menanyai-Nya.
Kau punya iman untuk turun dari kapal ke air.
Lalu tenggelam.
Kau tahu, Natanael benar. Kita hanya manusia biasa.
Jika gagal lagi, apa Dia berubah pikiran dan memberikan gelarku ke orang lain?
- Jangan pikirkan itu. - Tapi aku memikirkannya, Andreas. Aku…
Kau tak sadar aku gelisah semalaman?
Aku tidur pulas, Simon.
- Petrus. - Ya.
- Petrus. - Bagus.
- Bagus. - Petrus.
Jadi, apa yang kau putuskan?
Memutuskan apa?
Apa yang harus dimasukkan.
Kulihat kau tak menulis pertukaran dengan pedagang itu.
Jika itu penting, aku akan tahu.
Tapi bagaimana caranya?
Ada tatapan yang diberikan Yesus kepadaku, lalu aku tahu.
Kami saling memahami.
Kau pasti merasa sangat terhormat
menjadi penulis-Nya.
Kurasa begitu.
Kau baik-baik saja?
Kau belum makan pistasiomu.
Aku menyimpannya untuk nanti.
Apa itu tatapannya?
Apa Dia mau kau menulis percakapanmu denganku?
Tidak. Aku seharusnya melakukan hal lain.
Permisi, Tamar.
Syalom.
- Kau akan menghabiskannya? - Untukmu saja.
Terima kasih.
Andreas, bisa bicara sebentar dengan adikmu?
Maaf. Tidak.
Kau harus mengajukan permintaan resmi untuk bicara dengan sang batu.
Secara tertulis.
Aku bercanda.
Aku bercanda. Tentu saja boleh.
- Akan kulihat Yakobus dan Yohanes murung. - Lakukanlah.
- Pagi. - Maafkan aku.
- Aku bilang "pagi". - Tidak, aku mendengarmu.
Aku bilang maafkan aku
atas perbuatanku kepadamu.
Sudah lebih dari setahun,
aku sadar belum minta maaf atas peranku dalam situasimu dengan utang pajakmu
dan karena berkolusi dengan Quintus dalam melaporkan aktivitasmu.
Itu aneh.
Setelah khotbah besar,
aku langsung menemui orang tuaku untuk meminta maaf atas tindakanku.
Seharusnya aku mendatangimu.
Kini perasaanku lebih buruk
dan tak akan lebih baik jika aku tidak meminta pengampunanmu.
Jadi, itu yang kulakukan sekarang.
Sebenarnya, aku hanya meminta maaf.
Pengampunan adalah hadiah yang bisa kau berikan.
Atau tidak.
- Dikonfirmasi. - Baik.
Ada keributan apa ini?
Sebuah maklumat.
Dari Yerusalem.
Dengan nama.
Mereka memanggilnya penyebar penistaan.
Yesus dari Nazaret.
Bagaimana ini bisa diproses dewan begitu cepat?
Kurasa kita berdua tahu.
Aku tak bisa membayangkan hasil positif.
- Yairus, sudah waktunya. - Untuk apa?
Aku akan meninggalkan Kapernaum dan pergi ke Yerusalem.
Ke mana?
Sesuatu yang aku bersumpah tak akan kulakukan.
Kau pria yang pintar. Kurasa kau tahu siapa ayahku.
Aku tahu. Arnan.
Maka kau tahu sumber daya dan pengaruhnya.
Biasanya, aku akan melarangmu meninggalkanku di sini dengan Rabi Akiva.
Tapi itu egois.
Kau akan lebih berguna sebagai anggota Sanhedrin daripada di Kapernaum.
Aku baru percaya sekarang.
- Bisa percepat dokumennya? - Aku bisa dan akan kulakukan.
Terima kasih.
Adonai bersamamu, Kawan.
Jadi, aku juga memanggilmu Petrus?
Atau hanya Dia?
Kurasa…
semua orang.
Mulai sekarang.
Selamanya.
Ada banyak Simon di dunia ini.
Aku belum pernah bertemu orang bernama Petrus.
Cocok untukmu.
Nama yang unik.
Selamat malam.
Aku…
Petrus, ini sudah larut.
Aku bisa katakan hal yang sama.
- Kurasa begitu. - Ada yang membuatmu terjaga?
Aku bisa menanyakan hal yang sama.
Apa yang harus kulakukan saat ada orang yang berdosa kepadaku?
Dosa besar, berulang kali, dan tanpa penyesalan.
Aku tak bisa membayangkan siapa dia.
Pengkhianatan pada rakyat kita dengan bekerja untuk Roma, itu satu hal.
Itu dosa terhadap kita semua dan warisan kita.
Lalu, dia tak menunjukkan belas kasihan saat Andreas minta waktu tambahan
untuk utang pajak
dan bahkan menagih tambahan 60 persen dari yang sudah jatuh tempo.
Kau tahu dia akan biarkan Roma menjadikan kapal kami jaminan,
yang akan membuat kami tidak bisa bekerja dan membuat kami berdua dipenjara.
Artinya Eden mungkin akan kelaparan.
Dia bahkan tak ragu sedikit pun saat Quintus memintanya memata-mataiku.
Sudah tujuh kesalahan, dan aku bahkan belum sampai pada fakta
bahwa dia sepenuhnya siap untuk menyerahkanku pada pagi hari…
Pagi hari apa?
- Kau tahu. - Ya.
Dia mungkin sudah siap menyerahkanmu, tapi itu tak terjadi.
Jadi, untuk saat ini, kita pertahankan di tujuh.
Angka penyelesaian.
Dia berdosa kepadaku tujuh kali dan aku harus memaafkan itu?
Tidak.
Bukan tujuh, tapi 77 kali.
Bisa kutumpuk setinggi itu
jika kupaparkan tiap pelanggaran dan konsekuensinya.
Maksud-Ku bukan 77 kali secara harfiah.
Tujuh puluh dikali tujuh. Penyelesaian dikali penyelesaian.
Pengampunan abadi tanpa batas.
Beberapa hari lalu,
Kau memberiku nama baru dan membuat pengumuman besar.
Tapi entah namaku Simon atau Petrus,
aku masih pria yang sama seperti kemarin.
Aku tetap manusia dan aku tak bisa melakukannya.
Aku tak bisa. Tidak ada yang akan menyalahkanku.
Kau menyebutkan konsekuensi dari tindakan Matius.
- Ingat situasi yang disebabkan? - Ya, hanya itu yang bisa kupikirkan.
Itulah alasan aku di sini, tidak tidur di sisi Eden.
Tapi setelah itu, saat matahari terbit…
Aku tahu ini sulit.
Kenapa semuanya harus sulit?
Manusia membuatnya jauh lebih sulit saat dia andalkan pemahamannya sendiri.
Aku akan meninggalkan-Mu sekarang.
Kau tahu kenapa mereka masih di sini?
Akan kuberi tahu.
Karena mereka nyaman.
Kau mungkin tak berpikir begitu karena mereka tinggal di kota tenda,
sedangkan kau tinggal di rumah dengan atap kukuh.
Tapi faktanya,
jika mereka punya masalah tidur di tanah dalam kemelaratan,
mereka pasti sudah lama pergi.
Kita tak bisa memengaruhi apa yang peziarah bersedia lakukan
untuk kemungkinan terkecil mereka bisa mendengar lagi ajaran Yesus dari Nazaret.
- Mereka keras kepala. - Salah!
Itu masalahmu, Gayus.
Kau menerima semua yang diberikan.
Para peziarah mungkin keras kepala kini,
tapi gunakan imajinasimu.
Sepekan dari hari ini, aku mau mereka semua pergi
dan sepenuhnya menjadi masalah orang lain. Kau mengerti?
Ya, Tuan.
Sekarang keluar.
- Kita mulai dari mana, Primi? - Aku akan memikirkan sesuatu.
Gayus.
Selamat pagi, Matius.
Tidak terlihat seperti pagi yang baik. Apa kau sakit?
Hanya saja…
Pekerjaan.
Aku baik-baik saja, Matius.
Kau punya bakat, Gayus.
- Terima kasih. - Tapi kau tak pandai berbohong.
Jelas kau tak baik-baik saja.
- Keluargamu dalam masalah? - Apa yang kau tahu tentang keluarga?
Dengar…
Aku senang kau bersama kaummu kini.
Tapi rumah itu rumit.
Aku tak berdaya.
Kau benar, Gayus.
Aku tak terlalu memahami keluarga, dan aku memperumit semuanya.
- Jangan bilang begitu. - Guru-ku, Dia…
Dia membuat hidup sangat sederhana.
Tiap pagi aku bangun, pemikiran dan ketakutanku bercampur aduk.
Aku merasa diliputi keraguan dan penyesalan.
Ya.
Tapi jika aku berhenti sebentar dan mengingat…
Apa? Mengingat apa?
Hanya satu tugasku hari ini.
Mengikuti Dia.
Sisanya akan selesai dengan sendirinya.
Aku turut bahagia.
Kau bisa datang.
Untuk menemui-Nya.
Dia mungkin akan berkhotbah. Mungkin besok.
Tidak.
Aku tidak menyarankan muncul di depan publik. Tidak untuk saat ini.
- Aku tak memutuskan kapan atau di mana. - Jika kau punya pengaruh, gunakanlah.
Itu tak aman.
Dan kita tak boleh terlihat bicara.
Jaga dirimu.
- Yakobus, ini cukup panjang? - Berapa banyak guci?
- Empat. - Empat?
Ya.
Mereka bilang empat lagi datang.
Yakobus, seberapa panjang ini seharusnya?
- Kurasa itu cukup. - Coba saja.
Harus kubuat dua simpul. Ayah membuat dua.
Ikat sekali saja.
Kita butuh tiga orang untuk memangkas di kebun zaitun hari ini.
- Aku bisa bantu. - Aku saja.
- Aku ikut. - Tomas, tunggu…
- Matius, bisakah kau pergi? - Ke mana?
Para wanita butuh bantuan untuk memangkas kebun zaitun.
- Kurasa aku bisa. - Bagus.
- Apa yang kulakukan? - Tidak.
Ini dia.
Kita harus pergi ke pasar.
- Apa? - Simon benar. Petrus. Terserah.
Kau seharusnya tak menerima saran Ramah tentang masalah pakaian ini.
Aku bicara dengan Ayah dan dia setuju. Kedengarannya romantis untuk saat ini,
tapi dalam sepuluh tahun, dia akan berharap kau membeli sesuatu.
Itu masalahnya. Tapi kita tak punya uang.
Kue kayu manis Ibu yang terkenal.
Kita akan membarter.
Ayo.
Berapa banyak yang kita bisa dapatkan?
Kau akan terkejut. Ini hanya permulaan. Kita akan berusaha, ya?
Aku memaafkanmu.
Sudah kulupakan.
Sampai ke ujung dunia, bukan?
Ya.
Sudah berakhir.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.