Afrikaans
Akan
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Greek
Guarani
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Tajik
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
BERDASARKAN CERITA RAKYAT JAWA TIMUR
Jadi,
yang paling sulit itu adalah salat subuh.
Karena dilafazkan dalam azan...
Yang artinya,
"Salat itu lebih baik daripada tidur."
- Her. - Ingat, ya.
Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai kalian.
Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertaimu juga.
Anak-anak, siap-siap sepuluh menit lagi
untuk kelas 2A,
tadarus subuh dimulai.
- Ya? - Iya, Umi.
Mau ke mana, Her?
Mau ngambil Al-Qur'an.
Jangan lama-lama.
Anak itu mau ke mana?
Tidak tahu. Main pergi saja.
Gak jelas.
Kalian itu semestinya harus saling ingat mengingatkan.
Aku juga kesal dihukum gara-gara dia.
Sekarang,
Semuanya,
bersihkan halaman,
kamar mandi,
dan gudang.
Herlina gak dihukum, Umi?
Salah dia bukan kita.
Semuanya.
Semuanya dihukum.
Termasuk Herlina.
Umi! Mohon maaf.
Ada apa?
Mau alasan apa lagi kamu?
Maaf, Umi.
Tadi Herlina ketiduran waktu ambil Al-Qur'an. Maaf ya, Umi.
Ya, sudah!
Sekarang bubar, kerja. Ayo!
Semuanya dihukum termasuk kamu.
Ayo!
Nadilla, itu kenapa duduk?
Ayo bangun. Kerja, kerja.
- Assalamu'alaikum. - Wa'alaikumsalam.
Ayo semangat, semangat!
Jangan malas.
Yang benar kerjanya.
- Ayo, mulai. - Iya.
Sudahlah.
Capek aku.
Anak itu tak pernah menyesal.
Kamu mau berbuat apa?
- Iseng deh kamu. - Kamu.
Kamu.
Her.
Puas kamu?
Kita lagi dihukum begini bisa kamu ketawa.
Ranum, Aminah, Wati.
Ayo bubar.
Biar dia saja yang dihukum.
Apa sih, Obi?
Ayo, Num.
Berikan itu kepadaku.
Bi.
Jangan gitu dong.
Dia kan masih adaptasi.
Baru juga sebulan.
Udah satu bulan, Num.
Kamu dengar, ya. Dulu itu kita kelas unggulan.
Gak pernah dihukum.
Lihat waktu dia masuk.
Dia gak tadarus, kita yang kena.
Dia telat subuh, kita juga kena.
Dia yang bikin masalah terus!
Aku tahu, tapi...
Kamu enak, Num.
Hafiza.
Santri kesayangan,
beasiswa.
Sementara aku,
Dilla, Siti, Aminah, Wati, yang lain?
Ya, sudahlah,
kalau gak mau, terserah.
Gak jelas.
Ranum, ayo.
Num.
Udah, gak apa-apa. Kamu pergi aja.
Kan ini salah aku.
Gak apa-apa.
Aku tuh soalnya gak biasa kayak gini, Num.
Di rumah, apa pun disiapin sama Mama Papa.
Maaf, Num.
Gak apa-apa.
Kita lanjutin aja, yuk,
biar cepat selesai.
Makasih, ya.
Yang penting kamu sehat di sini.
Ma, aku tuh gak betah di sini.
Gak ada yang suka sama aku.
Sabar.
Nanti kalau mereka udah kenal sama kamu juga pasti pada senang.
Gak ada.
Cuma satu orang yang suka sama aku.
Cuma satu yang baik.
Namanya Ranum.
Tapi yang lain gak ada yang baik.
Terus seprainya aduh bau banget, kotor lagi.
Aku gak bisa tidur.
Kok Mama ketawa sih?
Yaudah, nanti Mama ganti seprainya.
Mama anterin yang baru.
Nanti malam Mama antar, beneran.
Ma, bukan itu solusinya.
Ayolah, Ma.
Mama bujuk Papa, supaya aku gak perlu masuk pesantren.
Herlina, dengar Mama.
Kamu kan tahu sendiri papa kamu kayak gimana.
Gini deh.
Kamu coba dulu satu cawu.
Kalau kamu masih gak betah juga,
Mama akan ngomong sama Papa.
Ya?
Mana senyumnya anak Mama?
Kok gitu senyumnya? Kayak dipaksa gitu. Jangan dong.
Kan anak Mama udah cantik nih pake jilbab.
Cakep banget anak Mama.
Kenapa kamu sampai kena hukuman?
Bapak sudah banyak masalah,
kamu malah nambah masalah.
Coba dipikir. Bagaimana kalau sampai kamu dikeluarkan?
Kau pikir, Bapak mau merawat kamu?
Udah, Pak. Udah.
- Mau makan sekarang? - Nanti aja.
- Atau mau Mama suapin? - Gak usah, Ma, nanti aja.
Yaudah.
Dapat salam, Mas, dari Herlina.
Katanya dia kangen banget sama papanya.
Gimana kabarnya dia?
Sudah lebih baik?
Udah jauh lebih baik
dan udah nurut dibanding Herlina yang dulu, Mas.
Aku senang deh melihatnya.
Tapi kayaknya dia gak betah deh di sana.
Apa mungkin udah waktunya dia pulang, ya?
Baru juga sebulan tinggal di pondok, udah gak betah.
Dapat pelajaran apa kalau cuma sebulan di pesantren?
Ngaji juga belum tentu lancar.
Biar dia lebih lama tinggal di sana.
Biar tambah disiplin tuh anak.
Yaudah, aku anter seprai sama selimut dulu, ya, buat Herlina.
Bagus, Her.
Ada kemajuan kamu.
Aku abis ini mau ngaji di masjid.
Ikut, yuk.
Kamu mau doain orang tua kamu ya, Ranum?
Yaudah, aku ikut.
Aku siap-siap dulu, ya.
Alhamdulillah.
Aku tunggu di tempat wudu, ya.
Ayo. Mana yang lain?
Assalamu'alaikum, Herlina.
Emang selalu cari masalah kamu, ya.
Kamu cerita apa ke Umi? Berengsek.
Banyak omong!
Aku gak ada ngadu ke Umi...
Aduh!
Aku gak mau, ya, dengar apa-apa darimu.
Kasihan. Anak Mama nangis, ya?
Aku ada salah apa sama kalian?
"Aku salah apa sama kalian?"
Obi. Jangan, Obi.
- Diam. - Dilla, sakit.
Ini.
Jijik.
- Kamu berani sama aku? - Tidak.
Berani?
Enggak.
Awas!
Awas!
Bangun! Sini!
Sini!
Aduh! Sakit.
Mau ke mana kamu?
Sakit!
Lepas.
- Obi. - Diam kamu!
Obi.
Ini panas, lo.
Mau cobain?
Aminah, kejar!
Lewat belakang.
Hei!
- Ke mana sih? - Itu tuh!
Ranum! Ranum!
Aku ngomong baik-baik sama kamu,
kamu malah ngadu ke Umi Ayu.
Terus sekarang kabur, mau ngadu lagi? Iya?
Enggak!
Jangan! Jangan!
Bisa, gak, kamu jadi orang jangan berisik?
Diam!
Diam!
Awas.
Dingin, ya?
Apaan sih.
Berdiri.
Jangan manja gitu dong.
Kamu berani melawanku?
- Hah? - Awas!
- Dil! - Her!
Aduh!
Pak Sapto, kita...
Dewi, gimana kondisi Herlina?
Kok bisa gini sih, Dew?
Ini bukan luka kecelakaan, Dew.
- Tenang. - Bisa-bisanya!
Kok bisa-bisanya kalian sampai gak tahu
kalau anak saya ada luka bakar?
Pak, jangan emosi dulu.
- Pak Sapto, kami... - Sudah.
Saya tahu kalian datang ke sini mau cuci tangan, 'kan?
Supaya saya tidak menuntut atas kejadian ini?
Dan bagaimana bisa
anak saya sendirian berada di luar pesantren selarut itu?
Pak Sapto, kami mohon maaf karena kelalaian kami mengawasi Herlina.
Sudah cukup, Pak.
Saya minta kalian pergi.
Saya menitipkan anak saya di pesantren kalian,
itu dengan niat baik.
Bukan untuk dicelakai.
Atau disakiti. Paham?
Saya minta pergi!
Ya, sudah.
Assalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum.
Mas. Udah, Mas.
Jangan lupa PR kalian untuk melanjutkan tafsir
Surat Al Isra Ayat 37, ya.
Juga kirim doa untuk kesembuhan Herlina, teman kita.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Num.
Gimana kalau kita jenguk Herlina? Yuk?
Kita deh, Num, yang izin ke Kyai. Gimana?
Baiklah.
Mending kita makan dulu di kantin.
Kalian duluan aja.
Yaudah, duluan, ya.
Sini, aku bawa.
Sabar.
Siti.
Astagfirullahal'adzim.
Obi!
Assalamu'alaikum, Ranum.
Wa'alaikumsalam.
Herlina.
Aku kangen banget sama kamu.
Herlina sudah kembali ke sini.
Jadi, bagaimana?
Mau langsung kita tanyakan saja
apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu atau...
Jangan.
Kita kasih dia waktu dulu.
Saya curiga,
Herlina digangguin sama teman-temannya.
Saya sependapat sama Ustaz Jafar.
Herlina mustahil sejauh itu dari pondok kalau gak ada apa-apa.
Kita sudah bahas ini berkali-kali.
Kita gak perlu berburuk sangka sama santriwati kita.
Gak ada itu senioritas-senioritas di sini.
Kata siapa, tidak ada senioritas?
Orang di antara kita aja ada kok senioritas.
Begini.
Selama Kyai mengajar di pondok lain,
kita harus ekstra pengawasan.
Jangan sampai kejadian kemarin ada Herlina-Herlina baru
yang mencoba kabur dari sini.
Itu bisa merusak citra pondok kita jadi jelek.
Dan juga membahayakan nyawa santriwati.
"Dan balasan dari suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa."
"Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik,
pahalanya atas tanggungan Allah SWT."
"Dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim."
Assalamu'alaikum, Umi.
Assalamu'alaikum, Umi.
Umi Indri!
Umi Ayu kenapa?
Saya cuma melamun aja.
Ada apa, Umi?
Teman kita,
- sahabat kita, saudari kita... - Ini, Umi, sebentar.
Herlina, telah mendapat rahmat dari Allah SWT.
Yaitu rahmat kesembuhan.
Ini adalah suatu hal yang patut kita syukuri.
Kembalinya Herlina di tengah-tengah kita adalah sebagian dari rencana Allah.
Dan hanya Allah sebaik-baiknya perencana untuk seluruh umatnya.
Ranum.
Sini.
Her.
Kamu gak mau cerita soal kejadian malam itu ke Umi atau ke Ustaz gitu?
Yah, setidaknya ke akulah.
Gak usah kamu pikirin, Ranum.
Semua ada balasannya.
- Terus saja. - Baiklah.
Jangan buru-buru, Obi.
Ti.
Pencar saja, biar cepat.
Janganlah, aku takut.
- Itu lebih cepat. - Aku tidak mau.
Aku ke sini, kamu ke arah sana. Dekat itu.
- Ayolah. - Tidak mau.
Ini, kamu yang bawa.
Bi, yakin?
Iya, dekat.
Sana.
Astagfirullahal'adzim.
Ti?
Ti?
Siti?
Ti?
Ti!
Ti?
- Siti! - Assalamu'alaikum, Obi.
Umi!
Umi Ayu! Umi Indri!
Ustaz Gani!
Ustaz Jafar! Ustaz Gani!
Ustaz!
Ustaz Gani, Ustaz Jafar!
Ustaz!
"Dan balasan dari suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa."
"Dan balasan dari suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa."
- Astagfirullahal'adzim. - Siti! Obi! Ada apa ini?
Astagfirullah.
Aku berlindung pada Allah dari setan.
Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
"Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan."
Terkutuklah kamu, Anak Cucu Adam!
"Yang benar (sumpah-Ku) dan kebenaran Ku-katakan."
Terkutuklah kamu, Umat Muhammad!
- Ustaz! Siti! - Umi! Air putih, Umi!
"Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu
dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu
di antara mereka kesemuanya."
- Keluar kamu dari tubuh ini! Siapa kamu? - Munafik! Orang-orang mungkar!
Siapa kamu?
Jawab! Siapa kamu?
Aku Iblis!
Aku Iblis, musuh nyata umat Muhammad.
Astagfirullahal'adzim.
Ustaz, ini airnya.
- Tolong, Umi. - Siti!
Rahmati dan lindungi kami.
Tolong kami atas kaum kafir.
Ya, Allah, Nak.
Astagfirullahal'adzim.
Astagfirullahal'adzim.
Astagfirullahal'adzim, ya, Allah.
Udah, Bi.
Gak apa-apa.
Kan udah didoain sama Ustaz Gani.
Aku takut banget, Dil.
Aku sempat ngeliat mukanya Siti waktu kerasukan.
Itu bukan Siti.
Itu muka Herlina.
Mukanya Herlina?
Iya.
Umi.
Bagaimana keadaan kamu, Siti?
Alhamdulillah udah membaik, Umi.
Alhamdulillah.
Obi bagaimana?
- Assalamu'alaikum. - Assalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum, Obi.
- Pergi kamu! - Obi?
Usir, Ranum! Itu bukan Siti! Usir!
Obi, ini Siti loh!
Usir!
- Astagfirullah, Obi! - Umi...
Umi, usir! Itu bukan Siti, itu Herlina!
Sebentar.
Obi, lihat. Ini Umi Indri.
Ini Umi Indri. Istigfar.
Bukan, Umi. Itu bukan Siti. Itu Herlina.
Iya.
Obi tenang dulu.
Itu semua teman-teman kamu.
Ranum, Siti, Dilla.
Istigfar, Nak. Istigfar.
Yuk, kita salat.
Ranum?
Ranum...
Ayo.
Hei, Num.
Semalam kamu abis ngaji sama siapa?
Herlina.
Herlina? Masa sih?
Bukannya dia gak bisa ngaji?
Di mana dia sekarang?
Masih di kamar.
Aku wudu dulu, ya.
Aku tungguin, ya?
Duluan aja.
Aku bukan berburuk sangka loh.
Tapi sejak dia balik ke sini, dia jadi aneh loh.
Jadi pintar mengaji,
rajin, murah senyum.
Kamu tidak merasa aneh, Num?
Assalamu'alaikum, Siti.
Assalamu'alaikum, Ranum.
- Wa'alaikumsalam. - Wa'alaikumsalam.
Ya, itu, yang aku bilang aneh tadi.
Her,
kamu lagi ngapain?
Harusnya aku yang nanya...
Kamu ngapain berdiri di situ ngeliatin aku?
Num.
Makasih, ya, udah mau nemenin aku patroli.
Jujur aku masih takut banget.
Iya.
Belakangan ini suasana pondok lagi gak enak, ya.
Yaudah, aku salat isya dulu, ya.
Kamu belum salat?
Belum. Kamu temenin, ya?
Iya.
Ayo.
Herlina?
Her.
Her.
Herlina?
Her?
Her.
Her?
Herlina.
Her?
Allah Maha Besar.
Obi.
Bi...
Obi.
- Ya. - Umi...
Aku pulang dulu, ya.
- Hati-hati, ya. - Hati-hati.
Sudah, ya.
Kamu semalam ke mana?
Di kamar.
Jangan bohong. Aku lihat kamu di lapangan, Her.
Aku di kamar, Ranum.
Num...
Obi sudah tiada.
Kamu gak mau balik tidur di kamar aku aja?
Tapi orang tua Obi berhak tahu hal ini.
Kematian Obi itu gak wajar.
Kita semua bisa lihat hal itu.
Kita gak bisa sembarangan kasih berita belum pasti, Ustaz.
Saya gak mau kena fitnah.
Kenapa?
Demi menjaga nama baik pondok?
Saya sependapat dengan Ustaz Gani, Umi.
Terus, bagaimana?
Kita harus ngarang cerita yang kita sendiri gak tahu apa?
Kita ini sudah banyak masalah loh.
Santri-santri pulang sekarang?
Sudah tidak usah ditambah lagi.
Kalau meninggalkan pondok adalah cara teraman
untuk menyelamatkan santriwati kita,
saya pilih mereka semua pulang.
Tapi bukan Ustaz yang berhak putuskan itu.
Saya beri tahu Kyai soal ini.
Assalamu'alaikum.
- Wa'alaikumsalam. - Wa'alaikumsalam.
Assalamu'alaikum.
Kenapa kamu ke sini?
- Kondisi saat ini... - Kenapa ninggalin Obi?
Kenapa?
- Jawab! Jangan diam. - Dilla.
Diam, kamu! Jangan ikut campur, Siti.
Kalau kamu gak ninggalin Obi,
Obi masih hidup, Num.
Iya, Dilla.
Aku yang salah.
Aku yang salah!
Kamu pikir aku gak nyesel?
Aku yang terakhir lihat Obi hidup
dan aku yang pertama lihat Obi meninggal!
Seumur hidup, Dil,
gak akan pernah aku bisa lupain itu!
Sudahlah. Cukup!
Kita semua kehilangan Obi.
Aku gak mau kehilangan sahabat kedua kalinya.
Kita saling jaga, ya.
Hentikan semua ini.
Udah, tenang.
Tenang, Dilla.
Num.
Ranum gak bisa tidur, ya?
Ranum.
Ranum.
Dil. Dilla.
Bangun, Dil.
Ada apa, Siti?
Lihat.
Ranum di mana?
Kamu tahu, gak?
Aku gak tahu.
Yaudah. Kita cari saja.
Num?
Num?
Ranum?
Num? Ranum.
Apa sih?
Num?
Cari di dalam, Ti.
- Tidak mau. - Disuruh, malah bantah.
Ya, sudah.
Tidak ada orang, Ti.
Ya, sudah. Kita cari lagi.
Baiklah.
- Num? - Num?
Num?
Num?
Ranum?
Num?
Ti,
kayaknya Ranum gak ada di sini.
Ti?
Siti!
- Ti! - Assalamu'alaikum, Dilla.
Assalamu'alaikum, Dilla.
Assalamu'alaikum, Dilla.
Dilla! Ini Ranum!
Istigfar.
Astagfirullahal'adzim.
Astagfirullahal'adzim.
Tadi ada...
Num, Siti mana? Kamu lihat Siti, gak?
Yaudah, aku cari Siti. Kamu minta bantuan Ustaz Gani.
- Tapi... - Ya? Ayo.
Ranum?
Dilla?
Ranum!
Assalamu'alaikum, Siti.
Assalamu'alaikum, Siti.
Assalamu'alaikum, Siti!
- Tolong! - Siti!
Siti! Istigfar...
Astagfirullahal'adzim.
Num.
Num? Dilla. Dilla mana?
Dilla ke Ustaz Gani.
Ayo!
Ayo.
Ustaz.
Ustaz Gani!
Ustaz!
Assalamu'alaikum, Ustaz.
Ustaz, saya mau minta tolong.
Ustaz Gani?
Ustaz, maaf ganggu.
Tolong, Ustaz. Siti hilang.
Ustaz?
Ustaz?
Ustaz Gani?
Ustaz?
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Assalamu'alaikum, Dilla.
Assalamu'alaikum, Dilla.
Assalamu'alaikum, Dilla.
Umi.
Umi Indri, bangun.
- Kenapa, Umi? - Kamu gak dengar, ya?
Umi.
Ayo.
Dil!
Dilla, buka!
- Dilla! - Dilla!
Dil?
- Dilla! - Dil...
Umi, gak salah dengar?
Gak ada siapa-siapa, Umi.
Kita tetap harus periksa, Umi.
Keadaan semakin mencemaskan, Umi. Ayo.
- Dilla? - Dilla!
- Dilla? - Dilla!
Dilla!
Kenapa lagi ini?
Dilla.
- Katanya kayak Obi. - Permisi.
Astagfirullahal'adzim. Ya, Allah.
Astagfirullahal'adzim.
Astagfirullahal'adzim.
- Dilla! - Dilla!
- Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. - Dilla...
Ya, Allah.
Pegang, Umi, kepalanya.
Ya, Allah. Dilla.
Astagfirullahal'adzim.
Kita gak bisa diam, Ustaz.
Udah dua nyawa jadi korban.
Kita harus memulangkan santriwati.
Jangan, Ustaz.
Kita tunggu dulu Kyai Darus kembali,
baru ambil keputusan.
Ini situasi genting, Ustaz.
Saya yakin Kyai setuju memulangkan para santriwati.
Ustaz.
- Ranum. - Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Ustaz, Herlina...
Kenapa Herlina?
- Herlina, Ustaz. - Kalian tenang dulu.
Coba pelan-pelan jelaskan.
Ternyata
selama ini semua adalah ulah Herlina, Ustaz.
Tunggu sebentar. Maksudnya gimana?
Kita berdua melihat Dilla diserang sama Herlina, Ustaz, di ruang mengajar.
Astagfirullahal'adzim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Untuk seluruh santriwati Ar-Rahimu,
sekarang juga berkumpul di masjid.
Sekali lagi, untuk seluruh santriwati Ar-Rahimu,
sekarang juga berkumpul di masjid!
Herlina!
Herlina!
Herlina!
Halo?
Wa'alaikumsalam.
Ranum.
Kamu mau, gak, temenin aku ke toilet?
Ayo.
Jangan lama-lama, ya.
Iya.
Jangan tinggalin aku, Num.
- Aku tunggu di sini. - Iya.
Ranum?
Num, kamu di sini?
Ti?
Siti?
Siti, kamu ngapain di situ?
Siti?
Siti?
Ti?
Kamu ngapain di sini, Siti?
Siti?
Ti?
Ranum!
Assalamu'alaikum, Ranum.
Ti.
Num.
Lari!
Num...
- Siti! - Ranum, tolong! Ranum, tolong!
- Astagfirullahal'adzim. - Ustaz!
- Siti! - Tolongin, Ustaz!
Tarik, Ranum!
Ke sana.
Dewi!
Siapa kamu?
Aku hamba Allah, dan aku Jin Islam.
Keluar dari tubuh anak ini.
Kamu telah menyakiti anak manusia! Keluar!
Aku di sini dipanggil.
Untuk membunuh manusia-manusia yang zalim!
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik,
maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
Sesungguhnya Dia tidak suka orang-orang zalim."
Keluar dari tubuh anak ini.
Atau kuhancurkan kamu dengan ayat Allah!
Coba.
Allah maha besar!
Wahai orang-orang yang beriman!
Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.
Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan,
maka setan menyuruh perbuatan keji dan mungkar.
Mungkar!
Mungkar!
Astagfirullahal'adzim...
Herlina!
Bu, itu bukan Herlina.
- Bu. - Herlina!
Astagfirullah.
Ini Mama, Nak.
Herlina,
ini Mama.
Dew, mobil kamu abis nabrak sesuatu, ya?
Iya kemarin itu aku tuh nabrak tumpukan kayu-kayu gitu, Mas,
di pinggir jalan.
Waktu aku mau ke pesantren
anter seprai buat Herlina itu loh.
Aku belum bilang sama kamu.
Tidak ada yang bisa tertipu oleh tipu dayamu lagi!
Hancurlah kau atas nama Allah!
Milik Allah-lah apa yang ada di langit
dan yang ada di Bumi.
Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu,
atau kau sembunyikan,
niscaya Allah memperhitungkannya bagimu.
Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki
dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki.
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Saya minta tolong berita kematiannya dirahasiakan
sementara waktu, Dok.
Terutama kepada ibunya.
Saya khawatir ibunya belum siap mendengar berita ini, Dok.
Butuh waktu.
Kondisi Herlina gimana?
Kondisinya udah membaik. Biar dia istirahat.
Tolong hidupkan anak saya, Mbah.
Saya akan melakukan apa pun.
Kamu yakin?
Tidak ada yang bisa
membatalkan ritual ini.
Semoga
dendam ini tuntas.
Kamu yang akan menjalankan.
Alhamdulillah, hari ini Herlina kondisinya sudah membaik.
Dan dia sudah dikirim kembali ke pesantren.
Ke pesantren?
Ternyata di sana ada pengobatan alternatif
yang bisa cepat menyembuhkan luka-lukanya.
Untuk makhluk yang menjadi
penguasa besar di dunia
juga penguasa alam akhirat,
aku mendatangimu,
aku mohon datanglah
karena segala upaya kami
Mereka itu butuh mengisolasi Herlina
biar luka-lukanya cepat sembuh.
Bersama ini aku mohon...
Datanglah...
Iblis
adalah makhluk Allah SWT
yang keimanannya lebih paripurna daripada kita.
Mereka menyembah Allah lebih lama.
Namun,
kesombongan mereka itulah yang membuat mereka menolak
bersujud kepada Adam.
Lalu mereka berjanji
bahwa mereka akan menyesatkan anak cucu Adam pada kemungkaran.
Semua anak cucu Adam
akan digoda, dirayu.
Dan sebagian besar akan tergoda.
Kecuali mereka yang mukhlis,
yang melakukan seluruh amal dengan ikhlas.
Tidak mengharapkan apa pun,
hanya mencari rida Allah SWT semata.
Aku sudah bilang,
jangan dicabut, sebelum tuntas.
Assalamu'alaikum, Sapto.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.