Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Cambodian
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Downloaded from YTS.MX
Official YIFY movies site: YTS.MX
Mbah Sarap,
kau ditangkap dan diadili.
Karena perbuatanmu menyantet sesama manusia.
Sudah terlalu banyak korban akibat praktik sesat yang kau lakukan.
Aku Patih Kerajaan memutuskan
kau pantas dihukum mati
atas dosa-dosamu.
Aku cuma mau menolong.
Bohong, jangan percaya!
Jangan hukum aku!
Dukun laknat!
Sebentar lagi kau akan mati.
Minta ampun kepada semua korbanmu
dan bertobatlah kepada Tuhan.
Pada saat ada bencana,
kalian semua mencari aku.
Ketika hidupmu miskin dan lapar,
aku beri makan dan kekayaan.
Kalian mandul dan tercela,
aku beri keturunan.
Semua itu dari aku!
Dari aku.
Bukan dari Tuhanmu.
Bersiaplah,
ajalmu sudah tiba.
Lepaskan aku!
Bebaskan aku dari hukuman.
Atau pilih...
kucabut nyawamu semua
seperti binatang liar!
Bunuh dia!
Bu, nasi bungkus satu pakai telur.
Yang lain, Neng? Ada daging, ada ikan.
Pakai telur saja.
Sebentar, Neng.
- Ini nasinya. - Jadi berapa, Bu?
Pakai telur jadi Rp8.500.
Telurnya tidak jadi, Bu. Uang saya tidak cukup.
Ya, tidak apa-apa. Ini buatmu saja.
- Terima kasih, ya, Bu. - Sama-sama.
Mau ke mana, Cantik?
Bayar utang bapakmu.
Saya akan bayar.
Tapi kita sudah sepakat.
Bosku berubah pikiran.
Kau mesti bayar malam ini.
Atau kau dan adikmu kujual menjadi pelacur.
Jangan macam-macam kau, ya.
Apa kau lihat-lihat?
Tiga hari.
Beri waktu tiga hari. Kulunasi utang bapakku.
Kau pikir aku takut?
Luka? Berdarah?
Kau mencari mati, ya!
Sudah.
Tiga hari, ya. Atau kau mati.
- Aduh. - Ayo, Bang. Kita ke RS sekarang.
Hentikan dulu. Dengarkan aku.
Kenapa?
Kau menghamili adikku.
Kau suruh dia aborsi.
Tidak bisa kau bereskan dengan uang segini.
Ambil ini!
Apa kau?
Bagas di mana?
Itu.
Tadi sempat tidak mau tidur.
Menunggumu.
Kau kenapa, Lin?
Tidak apa-apa.
Saya izin ambil Bagas, ya.
Tidak apa-apa bagaimana, Lin?
- Bagas. - Kau sampai berdarah.
Pulang, ayo.
Tidak apa-apa.
- Terima kasih, ya. - Pergi dari sini.
Sial! Kuhabisi kalian di sini!
Mati kau, mati!
Kau jangan mengganggu Citra.
Kita tidak butuh duitmu!
Tahan, Bang.
Miskin kau!
Kakak.
Bagas, kok bangun?
Haus, ya?
Mau tidur lagi?
Lapar.
Bagas belum makan?
- Kakak cuma punya nasi uduk. - Mau, Kak!
Masa tidak mau pakai piring?
Kakak mau?
Buat Bagas saja.
Sini.
- Ini, Kak Lin. - Terima kasih.
Tangan Kak Lin kenapa?
- Tidak apa-apa. Ayo, pakai. - Ayo.
- Sudah siap? - Siap.
- Sekarang kita mau ke mana? - Ke bulan.
- Yakin ke bulan? - Yakin.
Ayo terbang. Tarik dan lepas landas.
Kita tinggi sekali!
Siap-siap!
- Bagus ya? - Ya. Bagus sekali.
Ada bulan, ada bintang.
Keren sekali!
Bagas?
Ya.
Kak Alin izin kerja dulu, ya?
Lama, ya?
Bagas doakan Kakak, ya?
Ini buat Kakak.
Jadi, Kakak pulang bawa uang banyak.
Jadi, kita bisa terbang bareng.
Semangat, Kakak.
Oke! Kita terbang lagi, ya.
Terbang, satu, dua.
Lihat itu, banyak sekali bulannya. Bintangnya bagus, ya?
Ya.
Kok bulan banyak?
- Oh, ya! Bintang yang banyak, ya? - Bintang.
Di sini!
Alin!
Ikut Bapak, Alin.
Kau membuat Bapak mati.
Ibumu juga sudah mati.
Kau akan terus Bapak siksa!
Mati!
Sudah menghamili anak orang.
Berjudi!
Berutang!
Ribut cari masalah.
Waktunya "namu".
Jangan cari masalah, fokus!
Yang cari masalah itu kamu!
Kamu yang ajak Alin ikut kerjaan kita!
Sebaiknya kau pikir lagi.
Saya tetap ikut.
Enak sekali kau bicara!
Tidak. Aku tidak setuju.
Memang kau siapa?
Memaksa orang menurutimu?
- Kita sudah sepakat. - Sepakat?
Sepakat? Kau menjebak kita!
Kau sering titip adikmu.
Lalu kau khianati dia...
- Sudah, Fit. - Sudah apa?
Mana rekamannya?
Mana rekamannya!
Ayo! Jawab!
Jawab sekarang!
Dua pilihan kamu bilang kemarin! Apa? Dua!
Satu.
Saya ikut kalian maling.
Dua.
Saya laporkan kalian ke polisi.
Atau tiga! Kamu mati malam ini!
Sudah, gila kamu!
- Ini anak orang! - Kenapa?
Gila.
Sial!
Lin, kamu tidak bisa ikut.
Masalahmu dengan Fitrah tak cukup dengan maaf.
Temanmu tak akan tega melupakanku.
Kata siapa?
Saya tahu.
Ya, kita 'kan "namu" rumah orang,
maling, harus ada risiko.
Ya, tapi, jelas untuk apa. Kita tak punya pilihan.
Operasi jantung Zia tak bisa ditunda.
Kekasihmu hamil kau suruh aborsi.
Malah kirim uang tiap bulan.
Itu urusanku!
Kamu sendiri sudah ikhlas melepaskan sekolah perawatmu?
Saya tahu kalian bukan orang jahat.
Itu alasanku menitipkan Bagas, Gan.
Saya tetap harus ikut.
Pinjam uangku saja.
Aku ada uang simpanan.
Cukup untuk membantumu.
Almarhum ibuku pernah berkata.
"Nak, jadilah orang yang tegas.
Kuat dan tangguh hadapi masalah.
Dibakar tidak terbakar, disiram tidak basah.
Aku bisa lihat itu di kamu.
Ayo.
Kita saksikan para pelari sedang memasuki 100 meter terakhir.
Zia Deliana dari Jawa Timur berada di depan, diikuti ketat lawan-lawannya.
Akankah dia mampu menyumbangkan emas pertama bagi kontingennya?
Terjatuh! Zia Deliana tampak kesulitan berusaha untuk bangun.
Tetapi tidak bisa meneruskan pertandingan.
Dan Liga dari Sumatra Selatan berhasil melewati.
Kini di urutan pertama.
Diikuti pelari DKI Jakarta, Meggi dan Hana
dua dan tiga.
Sayang sekali, Pemirsa.
Dan kini kita lihat bagaimana Zia Deliana...
Berangkat?
Tunggu.
Benar dia jadi ikut?
Ya, jadi.
Lin, perkenalkan, ini Zia.
Temanku juga dari Malang.
Zi?
Alin.
Alin.
Cantik, Gan.
Daripada gebetan terakhir.
Siapa namanya?
Anak Depok yang jadi kasir minimarket itu.
Yang seperti bekantan Ancol itu?
Bekantan Ancol!
Astaga.
Ngomongin orang tak ada filter.
Sudah cukup!
Kenapa sih ini?
Jadi "namu" tidak?
Ngambek dia.
Ya, ngambek.
Dengar baik-baik, Alin.
Fitrah
dan Gani
seperti keluarga buatku.
Jadi, kalau hari ini karena kamu ikut,
keluargaku jadi kenapa-kenapa...
Saya butuh ini agar bisa ikut bersama kalian.
Sekarang tak butuh.
MENGHAPUS
DIPINDAH KE SAMPAH
Saya tak punya masalah dengan kalian.
Saya cuma butuh uang.
Ya, tanggung jawabku.
Itu rumahnya?
Bagus sekali.
Sepertinya masih ada orang.
Ada mobil parkir di halamannya.
Tetapi infonya kosong.
Kata Bang Dodi, sudah hampir tiga bulan anak buahnya kerja jadi pembantu,
setiap hari jumat sekeluarga itu pergi.
Anak buahnya juga libur.
Ada apa, Sayang?
- Pagi, Bang Dodi. - Sudah siap masuk rumah?
- Jadi... - Bang,
kami sudah sampai di rumah target,
tapi ada mobil parkir, Bang.
Pokoknya infonya rumah itu kosong.
Mungkin mereka liburan tidak membawa mobil.
Bisa, 'kan?
- Pokoknya... - Bang?
- Bang? - Bang Dodi?
Fit? Bagaimana?
Tunda saja dulu.
Lalu urusanku dengan Citra bagaimana?
Kamu yang bilang Zia butuh operasi cepat.
Fit, jangan jadikan Zia alasan.
Zia butuh operasi!
Bukan aku!
Hentikan!
Zia?
- Kenapa, Zi? - Sudah.
Kenapa, Zi?
Katanya beda bapak ibu, tapi tetap saudara.
Saudara kepalamu!
Dekat ke sini.
Kalau nanti mataku melihat kalian berantem lagi,
awas saja!
Sudah. Damai.
Kita sudah damai.
Ulurkan tangannya.
Maaf.
Yang ikhlas.
Minta maaf, ya.
Ini anak-anak kecil.
Kadang kumat gilanya.
Saudara itu setia.
Tunggu sampai malam,
baru kita pastikan "namu" atau tidak.
Sial! Kamu sedang apa?
Alin, kenapa?
Maaf.
Sudah waktunya.
Waktu kita tidak banyak.
Ini punyamu.
Gani, HT dan senter.
Alin bawa apa?
Karena dia tidak dapat HT dan senter,
jangan jauh-jauh dari kamu.
Sudah.
Gan.
Kalian urus lantai satu,
aku ke atas.
Setengah jam lagi kita kumpul di sini.
Alin, ingat.
Pilih barang berharga yang jumlahnya banyak.
Yang jumlahnya banyak.
Ambil secukupnya. Jangan sampai mencolok.
Jangan serakah.
Alin!
Bagas!
Alin.
Alin.
Alin.
Ada apa?
Tadi lihat Bagas di sini.
Tidak mungkin. Ayo!
Saya sungguh melihat Bagas di sini.
Lin, ruangan ini baunya tidak enak.
Lin!
Lin.
Kenapa banyak mayat, Lin?
Ini tidak benar, Lin.
Tolong.
Tolong aku.
Zia?
Terjatuh. Zia Deliana nampak kesulitan...
Zia!
Maaf.
Zi, bawa mobil ke sini.
Kenapa?
Sudahlah, siapkan saja mobilnya!
Gan.
Kita harus tolong dia, Lin.
Kita tidak tahu dia.
Kita tidak perlu tahu dia siapa. Dia butuh kita, Lin.
Kenapa bisa seperti ini?
Kamu siapa?
Mereka...
Mereka mau menumbalkan aku.
Mereka siapa?
Sebentar.
Gan?
Jangan tinggalkan aku.
Sebentar.
Pelan-pelan.
Ayo, Lin!
Fitrah!
- Siapa itu? - Sudahlah.
Kamu mau ke mana?
Kita harus keluar dari sini.
Apa itu?
Lin?
Kenapa, Lin?
Gan?
Aku sudah di depan pagar.
Jawab.
Zia, sebentar lagi kita keluar.
Kenapa kamu yang jawab? Gani di mana?
Fit! Bagaimana?
Halo? Gani? Fitrah!
Ada apa?
Alin?
Sial!
Fit!
Apa ini?
Kamu ingin kita semua mati di sini?
Sudah gila anak ini.
Fit, sudah tak ada gunanya!
Fit, jangan!
Gila kamu, Fit.
Ini semua gara-gara kamu.
Sudahlah, Fit.
Mati kita di sini.
Kita sering "namu".
Tidak ada yang seperti ini.
Saling tuduh tak ada gunanya.
- Dengarkan! Sedang bicara! - Apa itu?
Apa sih?
Sini!
Sudahlah.
Lihat, benar, 'kan, kataku?
Anak ini tidak benar!
Sudah diberi tahu aturannya!
Terus maksud kamu ambil ini semua apa?
Sengaja cari masalah?
- Dasar maling! - Saya bukan maling!
Saya ada di sini karena terpaksa.
Saya butuh uang.
Kuharap ini pertama dan terakhir bagiku.
Aku pun tak mau terus hidup dari hasil maling.
Sudah.
Kita bahas lagi nanti di rumah.
Sekarang kita cari jalan keluar.
Jangan pergi.
Fit, kamu dan Alin cari kemungkinan jalan keluar.
Cari informasi rumah ini.
Aku sama Alin?
Kamu gila.
Kamu mau keluar dari rumah ini, tidak?
Pasti ada jalan.
Tapi kita harus cari solusinya!
Ayolah!
Gani benar, Fit.
Ini?
Apa?
Jaga dirimu.
Fit?
Terima kasih, ya.
Ya.
Pohon keluarga.
Silsilah keluarga.
Sukma Paratrika.
Jumat kliwon.
Kamu bisa membacanya?
Ya, biar dari Jawa, aku juga sekolah.
Lihat ini.
Weton orang ini
dan Sukma itu sama.
Jumat kliwon.
Sitarasmi Paratrika.
Lalu kenapa kalau wetonnya sama?
Semua manusia...
akan mati!
Zi?
Zi?
Zia!
Fitrah!
Alin!
Kakak.
Bagas.
- Bagas. - Alin.
Kamu!
Kamu siapa? Ngaku!
Bicara apa kamu?
Ngaku kamu siapa!
Teman-teman saya kamu apakan?
Jawab!
Teman-temanmu sudah saya bunuh!
Ada apa sebenarnya?
Temanmu ya aku.
Tidak.
Sekarang
kamu yang harus mati.
Gan!
Fitrah!
Kembalikan.
Kubunuh kamu!
Gan, sadar!
Kembalikan pisaunya, Gan!
Semua kamu bunuh!
Temanku! Saudaraku!
Bangsat!
Temanmu itu, aku!
Saudaramu!
Kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini.
Buka!
Alin, di mana kamu?
Kamu di mana, Fit?
Di halaman, Zi.
Di sini di mana?
Di halaman ini.
Ini aku sudah di halaman.
Di sini ini.
Tidak ada kamu.
Fitrah!
Aku lihat kamu kok.
Tidak ada.
Siapa kamu?
Aku Fitrah.
- Fitrah di mana? - Aku Fitrah.
Ayo ikut denganku.
Jangan lari, Zi!
Ikut aku, yuk!
Kita ke neraka.
Maafkan
aku
tidak bisa
menjaga kalian.
Saudaraku...
Bagas?
Bagas?
Bagas?
Bagas?
Kamu kenapa di sini?
Ini.
Alin!
Mau ke mana kau, Alin?
Jangan lari!
Kalian...
baru saja saya bebaskan.
Dari pengaruh santet Median.
Santet yang bisa membuat korbannya menjadi gila.
Jadi, tenang.
Jangan banyak gerak.
Jangan jalan. Karena nanti jatuh, Goblok.
- Santet. - Pelan-pelan.
Santet Median.
- Jangan macam-macam, Pak. - Santet itu...
Pakai medium cacing untuk membuat korbannya
jadi halusinasi.
Paham?
Alin?
Sekarang...
Kalian jelaskan ke saya.
Kenapa kalian melepaskan perempuan itu?
Hei, kamu.
- Kamu siapa? - Saya bukan siapa-siapa, Pak.
Keturunan Mbah Sarap kamu, ya?
- Mbah Sarap siapa? Saya tidak kenal. - Lalu siapa?
Oh, cari ilmu!
Ilmu apa, Pak? Saya tidak tahu hal seperti itu.
Lalu kenapa kamu ke sini?
- Kami ke sini cuma... - Cuma apa?
Cuma mau cari uang.
Pesugihan?
Kami maling.
Maling. Goblok.
Kalian tahu...
Perempuan yang kalian lepaskan itu sangat berbahaya.
Kekuatannya lebih dari apa yang kalian alami hari ini.
Paham, tidak?
Mana saya tahu?
Ada yang berbeda denganmu. Ayo.
Bocah goblok.
Ada anjing mendatangi pemukul!
Pak, lepaskan.
Tak apa-apa, Gan?
Gan!
Gan, sudah!
Lepaskan aku, Lin!
Pak, sudah!
Kami tidak tahu Bapak itu siapa!
Bisa saja niat Bapak jahat.
Kalau kamu tidak tahu siapa saya, jangan ngomong.
Maka katakan Bapak siapa?
Ya, sudah, aku ngomong!
Aku...
Urip Mahesworo.
Keturunan darah biru bupati kerajaan di masa lalu.
Dua puluh tahun yang lalu,
aku ditugaskan untuk memburu
orang-orang yang menggunakan ilmu hitam dengan niat jahat.
Dua puluh dua jam yang lalu,
aku datang ke rumah ini.
Untuk menghentikan pewarisan prewangan Mbah Sarap.
Di rumah ini kami mengalami kejadian aneh.
Wajar kami tak mudah percaya.
Baik.
Temanku diapakan?
Kalian saya ajak ke sini untuk melihat
asal muasal yang terjadi selama ini dengan kalian.
Tidak usah ngomong. Tugas kalian hanya lihat.
Sekarang kalian berada di pulau Jawa di masa lalu.
Dan itu...
adalah dukun yang paling berpengaruh di zamannya.
Namanya Mbah Sarap.
Sitarasmi Paratrika.
Kesaktiannya dia peroleh karena Sang Hyang
memberikan kekuatan untuk menciptakan makhluk gaib.
Bernama khodam.
Dan kami menyebutnya prewangan.
Nah, prewangan Mbah Sarap bernama Wrejit.
Tidak ada
yang bisa membunuhku.
Aku dan prewangan- ku, Wrejit
akan hidup selamanya.
Ratusan tahun sumpah itu menunggu.
Hingga lahir keturunan yang sama wetonnya dengan Mbah Sarap
bernama Sukma.
Sukma Paratrika. Jumat kliwon.
Weton orang ini sama Sukma itu sama.
Perempuan yang kalian tolong tadi.
Ayo, Lin.
Pintar.
Dan sumpah itu
hanya bisa ditaklukkan dengan keris Sirno Peteng.
Hari ini aku bisa saja mati.
Tetapi Wrejit
akan menemukan
keturunan terpilih
untuk membalaskan dendamku!
Semua manusia akan mati!
Karena itulah...
Saya datang ke rumah ini.
Untuk menghentikan ritual pewarisan Wrejit kepada Sukma.
Hentikan semua ini.
Siapa kamu?
Urip Mahesworo.
Kamu yang selama ini memburu dan mencari kami.
Ibu?
Sebelum saya menemukan Sirno Peteng, saya harus berhadapan dengan mereka.
Pilihannya membunuh atau dibunuh.
Beruntung doa saya didengar.
Dan untuk sementara saya mampu menaklukkan Sukma.
Hingga kalian datang mengacaukan semuanya.
Kami sama sekali
tidak ada maksud untuk merusak rencana Bapak.
Saya, Alin, dan...
Fitrah mana, Lin?
Pak, teman saya, Fitrah.
Bantu kami cari dia, Pak. Tolong.
Pak?
Kita harus segera menemukan keris Sirno Peteng.
Keris itu menghilang 200 tahun yang lalu.
Tapi saya merasakan energi Batu Langitnya begitu kuat di tempat ini.
Keturunan Mbah Sarap sengaja membangun rumah ini
agar leluasa dapat menemukan Sirno Peteng.
Untuk dibuang ke Laut Selatan.
- Jadi, kerisnya apa? - Sepertinya belum.
Karena saya merasakan energinya yang begitu kuat di sana.
Saya merasakan seluruh badan temanmu begitu dingin.
Dan dia sudah bau tanah.
Sampaikan apa yang ingin kamu sampaikan
sebelum terlambat.
Ada jalan, Pak.
Kita bisa turun.
Ada tangga ke bawah. Kita bisa turun.
Ya.
Kita harus temukan Sirno Peteng untuk hentikan Sukma.
Agar bisa menolong teman kamu.
Kamu kenapa, Lin?
Saya juga tidak tahu.
Lin, kamu tunggu di sini saja.
- Biar aku dan Pak Urip... - Saya ikut.
Oke.
Hati-hati.
Lin?
Kamu tidak apa-apa?
Tidak apa-apa.
Ya, sudah.
Sepertinya kita perlu perlengkapan untuk turun.
Awas!
Saya pernah ada di tempat ini.
Mana mungkin sih, Lin.
Saya sering mimpi ada di sini.
Siapa kamu sebenarnya?
Saya Gani, Pak.
Mana mungkin Alin mimpi tempat ini, Pak?
Ini tempat apa?
Kita di mana, Pak?
Mana Alin?
Berhenti, berhenti
Mengendap
Kidung Semar.
Mengendap
Mantra penolak bala.
Ketika mengendap
Mantra melawan kemungkaran.
Ketika mengendap
Mantra para kesatria.
Maka semua bencana akan menyingkir
Untuk melawan angkara murka demi menegakkan kebenaran.
Alin?
Lin, kamu kenapa?
Baik kejahatan yang ada di kepala
Dan kejahatan yang ada di kaki
Kejahatan yang ada di bahu
Yang ada di bahu
Yang berupa
Nafsu angkara murka dan keserakahan
Yang terlihat maupun
Yang tidak terlihat mata
Kembalilah ke asal
Mula
Sirno Peteng.
Keris lurus yang melambangkan kelurusan hati,
keberanian,
dan kesungguhan hati.
Di dalamnya hidup...
Prewangan Garuda.
Mohon izin.
Jangan.
Jangan dibuka!
- Kalian tidak apa-apa? - Aman.
Di mana keris laknat itu?
Jawab!
Atau kalian semua akan kubunuh!
Hai, Jebuk Arum,
yang disebut menyan kreges,
sesuai dengan arah asap menyan.
Di awan ketika mendung
naikkan ke langit tujuh lapis,
pendam ke bumi tujuh lapis,
masukkan Sukma para leluhur gaib!
Lari.
Dengan menyebut asma Tuhan penguasa alam,
yang menggerakkan semua makhluk di dunia.
Lepaskanlah semua yang menjadi sasaran kejahatan.
Kembali kepada yang berbuat jahat.
Semua kejahatan terkutuk.
Ambyar bubar lebur berkeping-keping.
Atas kuasa Tuhan Yang Maha Suci.
Alin?
Zia?
Zia?
Zia?
Zi?
Hidup dan matimu di tanganku.
Wahai Bethari Durgo, penguasa setragondomayit,
mantraku yang sakti,
merasuk dalam jasad manusia yang telah mati.
Dengan diantar pada demit, setan, dan seluruh jin yang gentayangan
bersama lantunan mantraku.
Mantra yang manjur menjamah segalanya.
Wahai angin yang memiliki kekuatan.
Hiduplah angin.
Hiduplah apa yang kuucapkan.
Hidup menjadi saran menghidupkan.
Wahai nama yang memiliki kekuatan.
Hidup.
Hidup.
Hiduplah!
Ayo.
Ini.
Lin.
Pulang, Lin. Kamu pulang dulu.
Tidak, sama-sama, Gan.
- Fitrah, aku mesti cari... - Kamu akan mati, Gan.
Tadi Pak Arif berkata kepadaku, kalau...
Di kamar, di laci kamar.
Ada uang yang sudah kukumpulkan.
Ambil untukmu dan Bagas.
- Tidak, Gani. - Tolong ambil.
Gan.
Lin, hidup sudah ada yang mengatur.
Bukan Pak Urip yang atur.
- Gan. - Kamu pulang.
- Gani. - Pulang.
- Gan. - Bagas sudah menunggu.
Gani!
Gani!
Gani!
Tenang, Zi.
Aku tak akan meninggalkanmu sendirian di sini.
Ayo.
Saudara itu setia.
Sekarang kita cari Fitrah.
Gani!
Gani!
Gani!
Gani!
Kita memang ditakdirkan
mati dan hidup bersama.
Hei, Jebuk Arum,
yang sering disebut dengan menyan kreges.
Sesuai dengan arah asap menyan
di awan ketika mendung.
Naikkan ke langit tujuh lapis.
Pendam ke bumi tujuh lapis.
Masukkan Sukma para leluhur gaib!
Masuk...
masuk seperti masuknya keris ke dalam kerangkanya.
Masuklah roh-roh leluhur ke dalam badan.
Dibakar tidak terbakar.
Disiram tidak basah.
Sekarang saatnya kamu yang mati.
Kamu yang mati!
Tidak apa-apa, Lin.
Tidak apa-apa.
Dasar manusia lemah!
Cuma bisa menangisi mereka yang justru kalian biarkan mati penasaran.
Kalian anggap kematian adalah akhir
dari segalanya.
Padahal kematian justru adalah awal dari kebangkitanku.
Ayo!
Biar aku wujudkan kutukan Mbah Sarap!
Anak jahanam!
Kamu bunuh ibumu!
Kamu bunuh Bapak!
Sekarang adikmu juga mungkin mati!
Kau tinggal sendiri, Alin!
Ikut Bapak ke neraka, Alin!
Berani kau melawan Bapak?
Kamu bukan Bapak.
Saya sudah ingatkan...
Keturunan Mbah Sarap akan menjadi...
Bacot!
Kak Gani?
Bagas.
Kak Gani mana, Kak?
Ayo.
Hei!
Mau ke mana, Cantik?
- Bagas, tunggu sini dulu, ya. - Ya, Kak.
Oke.
Hei.
Utang bapakmu sudah lunas.
Tapi urusan bungamu kepadaku belum.
Ke hotel, yuk.
Jangan sok jual mahal.
Atau urusan adikmu nanti sungguh kubawa.
Kau mau melawanku?
Mana mungkin?
Hei, Bos! Bos!
Sirno Peteng terlahir untuk menuntaskan tugas-tugas mulia.
Jadi, tidak bisa digunakan semaumu.
Auramu penuh dengan kemarahan.
Artinya...
Sirno Peteng meminta kamu untuk melakukan penyucian pusaka.
Sama seperti yang telah dilakukan oleh leluhurmu.
Jaga dia baik-baik.
Karena dia telah memilih kamu.
Kamu akan mendapatkan kekuatan darinya.
Dan kamu juga
akan berkorban baginya.
Ikhlas.
Alin Wihanggamapati.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.