All language subtitles for The.Platform.2019.SPANISH.ALL.Bluray-Indonesian

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PERSEMBAHAN NETFLIX

Ada tiga jenis orang.

Yang di atas,

yang di bawah,

yang jatuh.

Tingkat 48.

- Lubang. - Ya.

Lubang.

Bulan ini baru dimulai.

Pertanyaannya adalah...

kita akan makan apa?

Kita akan makan apa?

Sudah jelas, sisa-sisa dari yang di atas.

- Ada apa di atas? - Tingkat 47. Sudah jelas.

Namaku Goreng.

Tolong tetap di sisi Lubangmu.

Goreng.

Kau dapat nama apa?

Ya.

Kita harus tahu nama satu sama lain.

Kita akan bersama cukup lama.

Atau tidak.

Siapa yang tahu?

Namaku Trimagasi.

Tn. Trimagasi, kau tahu cara kerja Lubang?

Tentu saja. Intinya makan.

Kadang, sangat mudah.

Kadang, sangat sulit.

Tergantung tingkatmu.

Untungnya, tingkat 48 itu bagus.

Ada lebih banyak orang di bawah? Tunggu, jangan katakan.

Tentu saja.

Tak lama lagi, akan lebih sedikit.

- Bisa dengar aku di bawah? - Jangan panggil mereka.

- Kenapa? - Karena mereka di bawah.

Yang di atas tak akan menjawab.

- Kenapa? - Karena mereka di atas, sudah jelas.

Semua sangat jelas bagimu, ya? Kau pasti sudah lama di sini.

Sudah berbulan-bulan.

Sekali lagi, tingkat 48 itu bagus.

Anggap dirimu beruntung.

Berapa lama kita di tingkat bagus ini?

Sebulan, tak kurang.

Setelahnya, kita lihat saja.

Aku tak mau jawab pertanyaan lagi.

Bicara membuatku lelah.

Terutama jika informasi yang kuberi lebih banyak dari yang kuterima.

Itu tak adil, jelas.

Mulai sekarang,

aku akan memberimu informasi sebanyak yang kau berikan.

Lampu merah mati. Lampu hijau menyala.

Aku baru memberimu informasi. Akan adil jika kau balas.

Kenapa lampu merahnya mati?

Makanan ini sudah pernah dimakan.

Itu sangat jelas, tak perlu kukatakan "sudah jelas."

Itu menjijikkan.

Baiklah.

Jika ada 47 tingkat di atas kita, dan dua orang per tingkat,

kita makan sisa-sisa 94 orang.

Jangan khawatir.

Tak lama lagi, orang di atas akan berkurang.

- Kau tak makan? - Aku tak lapar.

Kau akan lapar.

Kenapa akan berkurang?

Aku tak akan bilang itu sudah jelas, karena tidak.

Aku sendiri tak paham sampai aku ke Tingkat 8.

Anggur!

Orang-orang di tingkat atas pasti Muslim atau bukan peminum.

Alkohol jarang sampai ke bawah sini.

Kau sungguh tak mau makan?

Untuk nanti.

Kenapa kau lakukan itu?

Mereka yang di bawah bisa memakannya.

Jika yang di atas berbuat sama?

Mungkin sudah mereka lakukan.

Para bajingan.

- Kau merasa panas? - Akan tambah panas.

Tambah panas?

Sebentar lagi kita akan mendidih.

Kenapa?

Karena kau.

Suhu akan terus naik tanpa batas, kecuali...

- Kecuali apa? - Kau buang apel itu.

Makanan itu cuma untuk kita selagi mimbarnya ada di tingkat kita.

Jika kau simpan sesuatu, suhunya akan naik hingga kita terbakar.

Atau turun hingga kita mati beku.

Bervariasi.

Sial.

Apa kau paham?

Apa kau paham?

Apa?

Kau paham setelah masuk, tak boleh pergi selama waktu yang disetujui?

Jadi, aku diterima.

Belum.

Bendanya boleh buku?

Boleh apa pun yang kau mau.

PRIA YANG CERDIK DON QUIXOTE

Aku mau beri tahu alasanku di sini.

Untuk apa?

Agar kau bisa beri tahu alasanmu di sini.

Sudah jelas.

Aku mau berhenti merokok dan membaca Don Quixote.

Katanya aku boleh bawa satu benda dan kupikir...

Kau kemari atas kemauan sendiri?

Enam bulan untuk dapat diploma terakreditasi.

Diploma terakreditasi?

Apa maksudmu?

Kalau begitu mereka utang dua kepadaku.

Aku akan di sini selama setahun.

Kenapa kau di sini?

Pria ini dapat satu dan aku tidak?

Aku akan minggir jika jadi kau.

- Hari ini tak mau makan juga? - Sudah jelas tidak.

Sayang sekali.

Kau tak pantas di tingkat ini.

Kau belum beri tahu alasanmu.

Ayolah, beri tahu aku.

Baik, tetapi hanya jika kau berjanji tak mencuri istilah "sudah jelas".

Aku di rumah, menonton pria berjanggut mengiklankan pengasah pisau.

"Samurai-Max mengasah semua pisau, lurus dan bergerigi," katanya.

"Lihat pisau ini.

Begitu tumpul, hingga tak bisa memotong spons.

Setelah Samurai-Max, bisa memotong permukaan terkeras, bahkan bata ini,"

dan memang benar.

Lalu, beberapa ibu rumah tangga muncul

dan menyatakan Samurai-Max telah mengubah hidup mereka.

"Kami tak bisa mengupas tomat,

dan roti kami jadi hancur.

Samurai-Max telah mengubah hidup kami," kata mereka.

Jujur saja, aku tak pernah mengupas tomat.

Aku beli roti yang sudah dipotong.

Entah kenapa ada orang yang mau memotong bata dengan pisau dapur.

Namun aku jadi berpikir.

Kenapa aku tak mengasah pisauku?

Mungkin hidupku payah karena aku tak mengasah pisau?

Karena aku tak peduli akan detail?

- Detail, Goreng. - Kau membelinya?

- Tentu saja kubeli. - Lalu apa?

Kau mengasah pisaumu dan menggorok leher orang?

Aku membelinya dan menonton iklan berikutnya.

Pria berjanggut dan ibu rumah tangga yang sama.

Tebak yang mereka jual.

Pisau yang tak bisa tumpul bahkan setelah memotong batu bata.

Mengasah dirinya sendiri selagi mengiris.

Kau tahu apa namanya?

- Samurai-Plus. - Kau juga membelinya?

- Tidak. - Sudah jelas mereka mentertawakanku.

Karena detailnya.

Detailnya membuatku jadi gila.

Kuambil TV-ku,

kulempar ke luar jendela,

dan TV-nya menimpa seorang imigran gelap yang naik sepeda.

Apa kematian orang itu salahku?

Dia seharusnya tak ada di sana.

Kau dibawa kemari karena membunuh orang?

Aku diberi pilihan, rumah sakit jiwa atau Lubang.

Jadi, aku kemari.

Namun, mereka tak menawarkan diploma terakreditasi.

Ada berapa tingkat?

Entahlah. Setidaknya 132, karena aku pernah di sana.

Seratus tiga puluh dua.

Ada lebih banyak di bawah.

- Berapa makanan yang sampai ke bawah? - Tak ada.

Bisa mati jika sebulan tak makan.

Aku tak bilang aku tak makan.

Makanannya saja yang tak sampai.

Kita tak mati jika sebulan tak makan.

Kau celaka jika dapat dua tingkat rendah berturut-turut.

Kita harus hubungi yang di atas.

Untuk apa?

Mereka harus menjatahkan makanan.

Mereka akan beri tahu Tingkat 46.

Lanjut ke Tingkat 45 dan seterusnya.

Kau ini komunis?

Aku berpikir rasional. Penjatahan itu baru adil.

Yang di atas tak mau mendengarkan komunis.

Kalau begitu mulai dari bawah.

Hei! Kau yang di Tingkat 49!

Sisakan kami anggur lain kali, Bajingan!

Ini anggurmu, Keparat!

Yang di bawah ada di bawah, Goreng.

- Mereka bisa di atas bulan depan. - Ya, dan kita yang dikencingi.

Bajingan.

Aku memilih buku.

Kau pilih apa?

Sudah jelas.

Pisau Samurai-Plus.

Kau tak bosan dengan itu?

Ini luar biasa.

Makin sering kupakai, makin tajam.

- Itu seorang manusia? - Tentu saja.

Semoga dia peminum.

Kita kekurangan anggur.

Kau bisa makan sebanyak kau mau di tingkat-tingkat atas.

Namun, jadi tak banyak yang kau nantikan...

dan banyak yang kau pikirkan.

Tak ada yang akan lakukan sesuatu?

Jika jadi kau, aku akan berharap tetap di tingkat menengah.

Kau sepertinya orang yang akan melompat jika berada di atas,

dan tak akan punya nyali untuk berada di bawah.

Nyali untuk apa?

Bisa bacakan satu bab malam ini?

Aku tak bisa tidur belakangan ini.

Aku merindukan TV-ku.

Kau pernah di tingkat berapa?

Aku bangun di Tingkat 72.

Lalu aku ada di Tingkat 26.

Lalu di Tingkat 78, lalu 43.

Tingkat 11, tingkat 79.

Tiga puluh dua, lalu delapan.

Aku di tingkat 132 bulan lalu.

Kini aku di sini.

Kau bersama siapa? Kurasa kau bangun dengan orang yang sama.

- Kau bersama siapa? - Kenapa berpikir begitu?

Katamu kita akan bersama bulan depan. Kau bersama siapa?

Tak penting. Yang penting kau punya pisau yang mengasah sendiri.

Teman satu selmu lenyap di tingkat yang tanpa makanan.

Kau tak tampak kelaparan.

Kesimpulannya sudah jelas.

Kau janji tak akan memakai istilah itu.

Kau jelas mengabaikan perintah kelima.

Kau jelas memakan teman satu selmu.

Abaikan dia. Makanlah.

- Dia terluka? - Tak ada yang serius.

Benar, Miharu?

Kau mengenalnya?

Dia turun tiap bulan.

- Kenapa? - Dia mencari putranya.

Ada anak kecil di dalam Lubang?

Tak apa.

Ternyata.

Mau menahannya beberapa hari?

Tadi kukira kau pria yang jujur.

Aku mau menolongnya.

Aku menolongnya.

Di dalam Lubang, semua bebas memilih.

Dia memilih untuk turun.

Tahu yang dilakukan si Cantik ini tiap bulan?

Sebelum turun, dia membunuh teman satu selnya.

Meningkatkan peluang bisa bersama putranya bulan depan.

Mayat yang jatuh tadi mungkin rekan satu selnya.

Aku tak bunuh siapa pun di Tingkat 132.

Waktu teman satu selku di Lubang sudah berakhir.

Dia pasti senang di luar sana dengan diploma terakreditasinya.

Delapan hari kemudian, ada mayat jatuh selagi mimbar di tingkat kami.

Kami makan daging manusia.

Namun kami tak bunuh siapa pun.

Hei!

Jangan ganggu dia, Bajingan!

Mereka cuma menahannya satu, dua hari. Jangan ikut campur.

Bisa bacakan satu bab malam ini...

Silakan, melompatlah!

Tingginya cuma sekitar enam meter.

Kau mau dengar bab berapa?

Bab pertama, sudah jelas.

Astaga!

"Di suatu tempat di La Mancha yang tak mau kuingat,

belum lama ini hidup seorang pria dengan tombak di rak,

perisai kuno, kuda ceking, dan seekor anjing."

Kau percaya akan Tuhan?

Kenapa kau tanyakan?

Jika kau percaya, berdoalah untuk kita.

Kau cium bau itu?

Itu bau gas.

Beberapa detik lagi, kita akan tertidur.

Besok, kita akan bangun di tingkat berbeda.

Aku menyukaimu, Goreng.

Kurasa kau tak akan bertahan lama.

Namun aku menyukaimu.

Kau baik hati.

Waktuku di sini tinggal dua bulan.

Saat keluar, kurasa aku akan dapat diploma terakreditasi.

Itu bukan detail kecil.

Kau percaya akan Tuhan?

Bulan ini, ya.

Tidurmu nyenyak sekali, Goreng.

Tidak!

Relaks.

Tenanglah.

Ini bukan tempat yang baik. Kau paham sekarang?

Kau lebih muda dan lebih kuat dariku.

Mungkin tak akan menyerangku hari ini atau besok.

Namun seiring waktu, kau akan menatapku berbeda.

Kelaparan membuat gila.

Dalam kasus seperti itu, pilihannya makan atau dimakan.

Aku jelas tak ingin membunuhmu.

Dagingmu akan cepat membusuk.

Kita tak akan punya makanan.

Aku tak akan segera melumpuhkanmu.

Puasa bisa dijalani selama minggu pertama.

Pernah makan siput?

Jangan lakukan. Kumohon.

Orang kaya menyebutnya escargot.

Mereka sangat didambakan di beberapa negara.

Namun harus dibersihkan selama tujuh hingga 10 hari pertama.

Jadi, jangan takut dahulu.

Bisa dengar mereka?

Jeritan mereka yang bangun...

dan tahu mereka ada di mana.

Jangan lakukan.

Kau tak perlu lakukan ini, Trimagasi.

Persahabatan kita perlahan akan memudar.

Akan berakhir dengan saling curiga

yang akan memicu konflik dan kejahatan.

Aku tahu. Aku sudah mengalaminya.

Kau seorang pembunuh.

Tidak. Aku hanya takut.

Aku tak menikmati ini, Siputku.

Aku bukan siput.

Maaf, lebih mudah bagiku jika menganggapmu siput,

yang membersihkan kotoranmu.

Kau lihat? Aku punya perasaan.

Lihat itu.

Tulang pun tak ada!

Dengar, Siputku.

Kau terikat. Aku tidak.

Kau punya buku, aku punya pisau Samurai-Plus.

Kau jelas tak dalam posisi untuk membuat tuntutan.

Namun jika kau bekerja sama,

aku akan memberimu peluang untuk hidup.

Kau tak bisa melukaiku dan berharap aku akan bertahan, Bajingan.

Akan kuupayakan semampuku, aku janji.

Dalam delapan hari, aku akan mengiris potongan daging.

Lalu kucoba untuk selalu menyembuhkan lukamu,

dan memberimu jatahmu.

Potongan dagingku?

Pikirkan kelangsungan hidupmu dan bantu aku.

Kuharap kau akan segera sadar,

agar kita bisa terus membaca Don Quixote bersama.

Baiklah. Kematian orang itu bisa jadi tak disengaja.

Namun ini bukan.

Kau akan bertanggung jawab penuh atas kematianku, Bajingan.

Tidak, yang di atas membuatku melakukannya.

Ada 340 orang yang bertanggung jawab sebelum aku.

Kita bisa hidup dengan air, Trimagasi.

Kau mungkin bisa.

Namun aku sudah tua.

Aku harus berfokus untuk keluar dalam dua bulan.

Jika aku bertahan hidup dan kita turun ke tingkat bawah lagi, lalu apa?

- Kini kau paham, bukan? - Jelas tidak.

- Mau membaca untukku malam ini? - Jelas tidak.

Kalau begitu, sudah jelas.

Bicara membuatku lelah.

Diam membuatmu lelah, Berengsek!

Diam membuatmu lelah, Berengsek!

Saatnya sudah tiba, Siputku.

Aku berusaha membaca...

tetapi tak bisa.

Kata-katanya campur aduk.

Pikiranku kabur.

Lebih baik kita mulai hari ini.

Jika tidak, aku tak bisa menjamin hasilnya akan mulus.

Aku mau kau tahu bahwa kaulah yang bertanggung jawab.

Bukan orang di atas.

Bukan keadaan.

Bahkan bukan Pengelola.

Hanya kau.

Bisa dibilang kau sudah dibersihkan, Siput.

Luar dan dalam.

Kau bahkan tak merasakan kebencian.

Jangan khawatir. Akan kuiris sedikit saja.

Kemaluanmu tak akan kusentuh.

Sudah siap?

Terima kasih.

Terima kasih.

Siapa nama putramu?

Makan...

atau dimakan.

Kau membuatku melakukannya.

Tidak.

Aku tak berdaya dan kau membantaiku.

Kau tak perlakukan aku dengan hormat seperti yang kulakukan.

Sudah jelas.

Sudah mati pun, kau masih memakai istilah itu.

Ada bau gas.

Kau tak nyata.

Mungkin.

Siapa peduli? Kini kita sama.

Kita sama-sama pembunuh.

Aku hanya lebih beradab dibanding kau.

- Pergilah. - Tidak. Aku tak akan pernah pergi.

Kini aku milikmu. Aku ada dalam dirimu.

Namun kau juga milikku.

Siput.

Bicara membuatku lelah.

Ya, bukan? Aku benar.

Ramses II, kemarilah, Sayang.

Dia hanya menyambutmu, dasar kejam.

Aku Imoguiri. Ini Ramses II.

Boleh bawa piaraan di Lubang?

Aku tak akan kemari tanpa dia, Goreng.

Membawa anjing kemari bukan hal cerdik, Bu.

Dia sepertinya anjing menyebalkan.

Kukira kau lebih sensitif terhadap hewan. Kau pilih buku.

Tak ada yang pernah minta buku.

Mereka minta berbagai hal. Senjata, busur...

pisau, obor...

tongkat golf, tongkat bisbol...

- bahkan sepeda statis. - Kau tahu namaku?

Kau boleh merokok.

- Kita lanjutkan? - Ya.

Intoleransi laktosa atau gluten?

Tidak.

Alergi terhadap makanan laut, kacang, buah-buahan?

Setahuku tidak.

Kau tahu di dalam dilarang merokok?

Ya, aku tahu.

Apa diam bagian dari wawancara?

Kau tak nyaman?

Tidak.

Makanan favoritmu?

Aku tak tahu.

Tolong pikirkan.

Kenapa kau mau tahu?

Kami akan tambahkan di menu.

Jadi, aku diterima?

Belum.

Escargots ร  la Bourguignonne.

Siput?

- Ya. - Bagus.

- Kau bisa mengeluarkanku? - Kau tahu aku tak bisa.

Berapa yang kau kirim ke kandang babi ini sebelum kau sendiri dikirim?

Kalau tak salah ingat, kau datang secara sukarela.

Tak ada yang mengirimku.

Aku memilih kemari.

Kau tak tahu orang mati di Lubang?

Kami lebih suka menyebutnya Pusat Manajemen Mandiri Vertikal.

Ada berapa tingkat?

Dua ratus.

Dua ratus?

Makanannya tak cukup untuk 200 tingkat.

Jika semua orang makan sesuai kebutuhan,

akan sampai ke tingkat terendah.

- Tak mudah berada di dalam. - Memang tidak.

Atau berada di luar.

Namun sesuatu harus terjadi di PMMV pada akhirnya.

Sesuatu yang memicu solidaritas spontan.

PMMV? Solidaritas spontan?

Lubang sialan ini dibuat untuk itu?

Perubahan tak pernah spontan, Bu.

Mungkin itu sebabnya kau di sini.

Keluar hidup-hidup sudah cukup bagiku.

Baiklah. Enak, ya? Kau menyukainya.

Ada yang bisa mati untuk itu.

Baiklah.

Kita masing-masing makan tiap dua hari. Itu jatahku.

Anak kecil bisa mati.

Tak ada usia 16 tahun ke bawah di Lubang.

Setidaknya ada satu.

Tak ada usia 16 tahun ke bawah di Lubang.

Pengelola sangat teliti.

Selamat pagi, Tuan-tuan.

Tolong dengarkan.

Aku menyisihkan makanan untuk kalian.

Silakan makan bagian kalian

dan siapkan dua jatah serupa untuk yang di bawah.

Apa maksudmu? Kami dari Tingkat 88. Nyaris tak bisa keluar hidup-hidup.

Ya, tetapi kita bertanggung jawab bagi mereka yang tak beruntung bulan ini.

Kau bisa makan cukup kalori untuk bertahan hidup.

Tuan-tuan, tolonglah.

Solidaritas spontan.

Inti tempat ini mungkin kebalikan dari yang kau pikirkan.

Solidaritas akan memperingatkan mereka

untuk mencegahnya dari luar, bukan?

- Memperingatkan siapa? - Kau kira siapa?

Pengelola.

Ya. Kau yakin semua salah Pengelola.

Aku sudah 25 tahun bekerja untuk mereka.

Kau pun dapat hak istimewa.

- Apa maksudmu? - Kau bisa memilih teman satu selmu.

Aku tak bisa.

Tuan-tuan, aku paham kalian lapar dan mengabaikan ucapanku.

Kalian harus makan jatah yang kusiapkan untuk kalian

dan menyiapkan dua jatah serupa untuk Tingkat 35.

Jangan ganggu kami!

Kami akan makan semau kami.

Nantinya mereka akan paham.

Kau serius?

Tolong makan bagian kalian dan siapkan dua jatah serupa...

Tuan-tuan, tolonglah.

Makan bagianmu dan siapkan dua jatah serupa...

Tuan-tuan, tolonglah.

Makan bagian kalian dan siapkan dua jatah serupa...

Tuan-tuan, tolonglah. Makan bagian kalian dan siapkan...

Tuan-tuan, sudah kusiapkan jatah kalian

dan dua lagi untuk Tingkat 35 agar lebih memudahkan...

Siapkan dua...

Tolonglah, sudah 15 hari.

Kumohon agar kalian mengikuti instruksiku.

Ada orang-orang yang sekarat di bawah kalian.

Kalian paham? Ada orang-orang yang sekarat!

Dengar, Berengsek.

Ikuti ucapannya atau aku akan buang air di makananmu tiap hari.

Akan kukotori tiap butir nasinya, dengar?

Kau akan makan kotoran tiap hari.

Sampaikan itu ke bajingan di bawahmu. Paham?

Bagus.

Tampaknya berhasil.

Sudah jelas.

Bukan itu yang kuharapkan.

Aku ingin meyakinkan mereka.

Mereka sudah yakin.

- Dengan kotoran? - Lebih efektif dari solidaritas.

Andai kita bisa yakinkan yang di atas...

Tidak, mereka tak akan mendengarkanku.

Kenapa tidak?

Aku tak bisa buang kotoran ke atas.

Tolong! Bantu aku!

Tak apa-apa.

Dia ibu anak itu.

Bantalnya.

Bantalnya!

Tak apa-apa.

Baik, begitu.

Dingin.

- Apa? - Dingin sekali.

Dia kedinginan. Tutupi.

Begitu.

Aku juga kedinginan.

Apa yang terjadi?

Anjing itu. Kemari, Berengsek.

Dia ambil sesuatu. Lepaskan!

Aku membencimu.

Kau berengsek!

- Aku membencimu. - Hei!

Apa?

Itu untuk putranya.

Sungguh? Aku tak akan tahu.

Aku bukan seorang ibu.

Hei, ini jatah hari ini?

Hebat.

Aku memilih wanita itu sepuluh bulan lalu. Dia sendirian.

Tak punya orang tua. Tak punya anak.

Makanan favoritnya bibimbap.

Dia seorang aktris. Dia memilih ukulele.

Ingin seperti Marilyn Monroe di film.

Dia tiba di Lubang sendirian.

Kau tak salah dengar.

Benar-benar sendirian.

Dia ingin jadi Marilyn Monroe versi Asia.

Wanita itu...

memainkan ukulele dengan mata sipitnya.

Kini, dia pembunuh gila yang mencari anak palsu.

Solidaritas spontan.

Solidaritas spontan terbungkus kotoran.

Ini bukan tempat yang baik untuk pecinta buku.

Aku sudah 25 tahun bekerja untuk Pengelola.

Tanpa sadar kukirim orang ke neraka ini selama delapan tahun terakhir.

Karena aku tak tahu.

Sumpah, aku tak tahu.

Kau percaya aku, Goreng?

Kau tak percaya, ya?

Aku ingin kau percaya kepadaku sekarang.

Lihat aku, Goreng. Aku sudah tiga tahun melawan kanker.

Pada saat aku tahu aku sudah kalah berjuang...

aku datang kemari untuk membantu.

Namun kau tahu?

Aku tak peduli lagi.

Aku tak peduli.

Aku tak peduli apa pun lagi.

Siapa yang bawa buku kemari?

Siapa yang bawa buku kemari?

Ajaib tak ada yang makan siputnya.

Kau tak mau makan?

Akan kusisakan beberapa.

Imoguiri, kenapa kau tak makan?

Hari ini giliran Ramses II.

Ini hari terakhir, kau harus makan.

Entah di mana kita besok.

Kau tak mau membebaskannya?

Dia temanmu.

Kau akan memakannya?

Tentu saja. Itu sebabnya aku gantung diri.

Akan lebih mudah melompat seperti yang lain.

Namun aku mau memberimu hadiah.

Tubuhku.

Tolong, makanlah tubuhku.

Cerna, lalu keluarkan dalam bentuk kotoran memuaskan.

Ingat, solidaritas atau kotoran.

Apa gunanya menutup telinga?

Kami di dalam benakmu, Bodoh!

Kau menyebutnya bodoh, Bodoh?

Kau bicara dengan Almasih.

Almasih Kotoran, tetapi tetap saja.

- Makan aku, Goreng. - Wanita gila ini benar.

Itu satu-satunya peluang hidupmu.

Benar, Goreng. Potong dagingku, makan tubuhku.

Penyelamat.

"Aku berkata kepadamu,

jika kau tak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya,

kau tak punya hidup dalam dirimu.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku,

dia mempunyai hidup yang kekal,

dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan

dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku,

dia tinggal di dalam Aku,

dan Aku di dalam dia."

Amin.

Ini, Goreng.

Dengan Samurai-Plus, rasanya seperti mentega.

Lakukan.

Telinga, wajah, dagu.

Dada, tulang rusuk, lemak belakang.

Pinggang, tangan, buku jari.

Bahu, ham.

Punggung, rahang.

Hei, kau di atas! Bajingan.

Ayolah, aku tahu kau di atas! Jawab aku!

Namaku Baharat. Aku senang sekali. Kau sudah bangun?

Kau lihat tingkat kita?

Tingkat enam, Kawan!

Aku senang sekali!

Aku akan keluar kali ini! Hei!

Hei, Tingkat 5, jawab aku!

- Apa? Kau mau naik? - Ya.

- Untuk apa? - Untuk apa?

Untuk meninggalkan lubang neraka sial ini.

- Kau percaya akan Tuhan? - Ya.

Ya, aku percaya akan Tuhan.

Namun Tuhan yang mana?

Tuhan satu-satunya.

Tuhan yang sebenarnya!

Katanya Tuhannya sama seperti Tuhan kita.

Ayolah, aku cuma mau lewat, aku janji.

Tuhan berbicara kepadaku dan dia mau aku tinggalkan Lubang ini.

Katanya Tuhan bicara kepadanya.

Apa katanya?

Dua jiwa penyayang akan membantuku keluar dari sini.

Kau dengar itu, Sayang? Kurasa maksudnya kita.

Mereka pun akan diberi hadiah untuk itu.

Tuhan akan memberi kami hadiah apa?

Kehidupan yang kekal.

Kehidupan yang kekal.

Lumayan untuk menolong pria kulit hitam.

Ayolah, biarkan aku naik.

Baiklah, lemparkan talinya.

Terima kasih, Saudara-saudara! Puji Tuhan.

Sampai jumpa di luar! Aku senang sekali! Sudah?

Tolong aku!

Tolong aku!

Bajingan!

Babi!

Dia buang air mengenaiku!

Minta tali kepada Tuhan!

Taliku!

Tidak!

Kau tak apa-apa. Berpikirlah positif.

Kau benar-benar celaka.

Kau benar-benar celaka!

Lima...

Kau tak akan pernah sedekat ini.

Lima tingkat!

Kau sudah beradaptasi, Siputku.

Aku menyerangmu.

Wanita gila itu bunuh diri.

Kini, kau bisa memulihkan diri di tingkat ini,

makan sebanyak kau mau.

Lalu kau akan pergi sebulan lagi,

dengan... diplomamu.

Tak terlalu sulit, bukan?

Kini semua tergantung padamu.

Pada dirimu sendiri.

Perubahan tak pernah spontan.

Mungkin itu sebabnya kau di sini.

Bantu aku turun.

Ayo improvisasi senjata.

Kita naik ke mimbar dan bagikan cukup makanan di tiap tingkat.

Apa?

Aku tak bisa lakukan sendiri.

Namun bersama, kita bisa.

Bersama, kita punya peluang, Baharat.

Aku akan coba naik bulan depan.

Selalu ada bajingan yang akan mencegahmu lewat.

Turun sama dengan bunuh diri.

Jika makanan sampai ke tingkat terakhir, kita merusak mekanisme Lubang.

Tak ada mekanisme di Lubang.

Lubang adalah Lubang.

Lubang adalah penjara.

Kita bahkan tak tahu berapa dalamnya.

Saat aku di Tingkat 202, kuhitung detik demi detik...

waktu yang dibutuhkan mimbar untuk kembali naik.

Mungkin kurang akurat, tetapi termasuk waktunya berhenti...

pasti ada sekitar 250 tingkat.

- Dua ratus lima puluh? - Dua ratus lima puluh.

Jika kau salah?

Jika kita kehabisan makanan dan belum sampai ke bawah?

Kita tetap di atas mimbar dan kembali ke atas.

Seperti yang kau mau.

- Turun? - Untuk naik lagi.

Cuma orang gila yang akan meninggalkan Tingkat 6.

Atau dua orang gila.

Kau tampak bodoh.

Semoga kalian berdua tewas, Berengsek.

Kau! Menyingkir!

Menyingkir dari mimbar!

Apa-apaan, Baharat?

Tenang. Kami cuma lewat.

- Kami akan memberikan jatahmu dan pergi. - Tidak.

- Tidak? - Tidak.

Di 50 tingkat pertama bisa makan tiap hari.

Kita mulai di Tingkat 51.

Ini teman-temanku. Mereka membantuku naik dua bulan lalu.

Mereka makan kemarin dan akan makan besok.

Mereka bisa puasa sehari.

Persetan. Aku di Tingkat 7, makan sepuasnya itu hakku.

Aku hampir mati di 114 bulan lalu.

Di mana kalian saat itu?

Kau seharusnya mengerti.

Siapa kau? Almasih?

Kau datang untuk menebus kami?

Almasih akan memperbanyak roti dan ikan, bukan mengambil dari mulutmu.

Astaga, Baharat.

Aku tak menduga ini darimu.

Siapa kau? Pelayan kulit putih?

Kau! Ke pojok!

Sial! Akan kubunuh kau!

Tetap di pojok, jangan bergerak!

Ke pojok! Jangan macam-macam!

Jatuhkan itu!

Tiarap!

Cepat atau kuhancurkan kau!

Kau! Jika mendekat, kau mati!

Baharat!

Maafkan aku, Pak.

Segera turun, kalian berdua.

Kalian menginjak makanan, Bodoh.

Siapa ini?

Pria yang bijak.

Apa aku belum mengajarimu apa pun?

Kami mencoba membawa makanan ke tiap tingkat.

Itu niat yang sangat baik.

Sangat baik, tetapi utamakan sikap sopan santun dasar.

Coba meyakinkan sebelum mengalahkan.

Ya... dan jika mereka tak yakin?

Baru kau serang. Namun sebelumnya, dialog.

Namun...

siapa di atas kita yang akan mendengar jika kau berhasil?

Pengelola.

Pengelola tak punya hati nurani.

Meski ada peluang kecil

para pekerja di Tingkat 0 punya hati nurani.

Pesanmu harus ditujukan kepada mereka.

Bagaimana melakukan itu?

Dengan simbol.

Kita butuh satu hidangan.

Hidangan yang lezat dan tampak indah.

Hidangan itu harus kembali ke Tingkat 0 secara utuh.

Bayangkan wajah mereka

saat Lubang mengembalikan hidangan semacam itu.

Saat itulah mereka akan memahami pesannya.

Panna cotta.

Jaga panna cotta itu seolah-olah hidupmu tergantung kepadanya.

Panna cotta itu adalah pesan.

Teman-teman.

Dengan hormat kuminta kalian untuk menjauhi mimbar.

Kami mau mengajak kalian

untuk melakukan protes damai

yang nantinya akan mengubah keadaan.

Membuat preseden penting...

Apa maksudmu? Bicara yang jelas.

- Kami meminta kalian puasa sehari. - Sehari?

Ya.

Persetan dengan itu.

Yang penting adalah pesannya.

- Tunggu! - Turun!

- Tinggal beberapa tingkat lagi. - Ya.

Mundur!

Kami tak cari masalah. Kami akan segera pergi.

Kami akan berikan bagianmu dan pergi.

- Dia akan mati. - Tidak jika kau mengurusnya.

Dia tetap akan mati.

Nanti kubekap dia dengan bantal.

Makan dan hentikan omong kosong itu.

Akan kubelah perutnya dan makan jatah yang dia dapatkan.

Sial.

Miharu pasti bangun di sini.

- Ibu anak itu? - Anak itu tak nyata.

Berengsek.

Sial.

Sial!

Mimbarnya tak berhenti.

Berarti ada lebih banyak tingkat dari yang kau duga.

Sial...

Mimbar tak akan berhenti jika tak ada yang hidup.

Sial.

Miharu!

Dia mati.

Tidak!

Dia sudah mati.

Mimbarnya! Ayo pergi!

Ayo pergi!

Mimbarnya!

Mundur!

Tetaplah bertahan.

Tetaplah bertahan.

Tetaplah bertahan.

Tak ada yang tersisa.

Kita masih punya panna cotta.

Kita masih punya panna cotta.

Panna cotta itu adalah pesannya.

Panna cotta itu adalah pesannya.

Panna cotta itu adalah pesannya.

Panna cotta itu adalah pesannya.

Tak ada siapa pun.

Mimbarnya berhenti.

Ini pasti tingkat terendah.

Bersiaplah. Kita akan naik.

Anak itu.

Tidak.

Jangan lakukan.

Tidak! Sial!

Lemparkan panna cotta itu.

- Lemparkan panna cotta itu. - Tidak.

Lemparkan panna cotta sial itu.

Tidak.

Tunggu.

Tunggu.

Tidak panas...

atau dingin.

Itu gadis kecil.

Dia kelaparan.

Berikan sedikit.

Tidak.

Panna cotta adalah pesannya.

Panna cotta adalah pesannya.

Panna cotta adalah pesannya.

Panna cotta adalah pesannya.

Panna cotta adalah pesannya.

"Pria hebat yang kejam akan menjadi contoh bagus,

dan pria kaya yang kikir hanya akan jadi pengemis.

Karena pemilik kekayaan tak jadi bahagia dengan memilikinya,

melainkan dengan memakainya,

bukan memakai dengan sesuka hati,

melainkan memakainya dengan bijak."

"Sesuka hati."

Aku suka mendengarkanmu membaca.

"Memakainya dengan bijak."

Berani sekali kau menyia-nyiakan kekayaan dari Tingkat 6, Siputku.

- Aku tak menyia-nyiakan. - Berikutnya apa?

Kau akan makan pria kulit hitam itu?

Kenapa tidak gadis itu?

Dia punya bakat. Kau tak melihatnya?

Ramses.

Ramses.

Ramses adalah pesannya.

Ramses II adalah pesannya.

Ramses.

Ramses.

Ramses.

Bangun!

Gadis itu adalah pesannya.

Dia pesannya.

Dia pesannya.

Baharat.

"Kita bersalin bersama, melalui jalan bersama.

Kita telah memiliki kekayaan dan keberuntungan yang sama."

Perjalananmu sudah berakhir, Siputku.

Belum.

Aku harus naik dengan gadis itu.

Namun kau bukan pesannya.

Aku pembawa pesannya.

Pesan itu tak butuh pembawa.

Jangan panggil aku siput lagi.

Jangan gunakan istilahku lagi.

Apa dia akan berhasil?

Dia adalah pesannya.

Dia adalah pesannya.

Terjemahan subtitle oleh Ellen Tjandra

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.