Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Japanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Di dalam usia ini,
masa darah muda cepat alirnya dalam diri
dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa.
Di waktu itulah ilham kisah ini
mulai kususun.
Kisah yang mungkin nanti orang berkata
seakan Tuan menceritakan nasib sendiri.
Siapa pun dia yang menjadi tokoh cerita ini,
hidupnya telah dirundung kemalangan sejak kecil.
Dia yatim piatu dan hanya tinggal dengan pengasuhnya.
Mak Base,
jika tetap tinggal di Makassar, duniaku terasa sempit.
Izinkan aku mengejar cita-cita Ayah dan Bunda.
Izinkan aku melihat tanah asalku.
Tanah kelahiran ayahku.
Aku khawatir, Nak.
Bisa saja keluargamu di Padang
tak menerimamu dengan baik.
Itu hanya ketakutan Mak.
Bukankah aku anak kandung Pendekar Sutan?
Keluarga Ayah pasti akan menyambutku dengan gembira, Mak.
Maafkan aku, Mak. Aku pamit ke kuburan Ayah dan Bunda.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Mak,
banyak orang memuja negeri Padang.
Banyak juga yang bilang, agama Islam masuk lewat sana.
Dan orang bilang di sana sudah ada sekolah agama.
Sebelum meninggal,
ayahmu, Daeng Sutan, menitipkan uang 1.000 gulden.
Untuk biaya hidup kita.
Dan biaya sekolahmu selama ini.
Mak kelola saja uang itu seperti biasa.
Aku hanya butuh sedikit untuk perjalananku, Mak,
dan beberapa ratus untuk biaya hidup selama di sana.
Waalaikumsalam.
Siapa? Mencari siapa, malam-malam begini?
Salam, saya mencari rumah Mande Jamilah.
Saya Mande Jamilah. Siapa kau?
Saya Zainuddin, dari Makassar.
Zainuddin? Dari Makassar?
Saya ini anak Pendekar Sutan.
-Zainuddin? Anak si Sutan? -Ya, Mande.
Ayo, masuklah.
Salam.
Hendak mengapa Zainuddin kemari?
Apa ada amanat Ayah sebelum meninggal
yang harus disampaikan?
Tidak ada, Mande. Saya hanya ingin menyambung tali silaturahim.
Saya ingin menyambangi kerabat Ayah di negeri Batipuh ini.
Kalau begitu, apa Zainuddin akan lama tinggal di sini?
Sebaiknya dibicarakan dahulu dengan penghulu adat suku Mande.
Begitulah cara kami menerima tamu di sini.
Terus terang mande bukan orang yang...
Saya bisa sedikit membantu Mande.
Yang penting bisa tinggal di sini.
Saya ingin melihat keindahan tanah kelahiran Ayah.
Saya juga ingin belajar agama.
Jangan salah paham, Zainuddin.
Bukan maksud minta uang.
Cuma mande takut tak mampu menjamu tamu.
-Minumlah dahulu. -Ya, Mande.
Lihatlah negeri kelahiran ayahanda Engku.
Subhanallah, indah sekali.
Kalau mau belajar agama, cobalah besok malam setelah isya
Engku muda datang ke tawalid.
Sekalian mendengar tablig di sana.
Ya, Mak. Saya mau.
Siapa itu, Mak?
Dia diberi nama Hayati. Kecantikan ciptaan alam.
Orang di sini menyebutnya "Lambaian Gunung Merapi,
Kebanggaan Keluarga."
Hayati yatim piatu.
Dia bersama adiknya, Ahmad, ikut pamannya.
Pamannya datuk penghulu adat di sini.
Mereka sekolah di Padang Panjang.
Cantik sekali.
Tentu saja cantik, bunganya Batipuh.
Tapi sayang, sang Datuk membuat Hayati
muskil dijamah pemuda Batipuh.
Di sini kekuasaan sang Datuk
mampu menghitamputihkan kemenakan.
-Ayo. -Ya.
Siapa itu?
-Ini yang memandangmu, Hayati? -Hush.
Jangan-jangan hujannya sampai besok pagi.
Kita bisa semalaman di sini.
Besok tidak bisa sekolah. Tidak lulus karena hujan.
Jadi orang bodohlah aku.
Upik Banun dan Encik Hayati. Dua gadis Minang yang malang.
Tidak, panas ada teduhnya.
Hujan pun pasti reda.
Encik Hayati, pulanglah.
Pakai payungku ini.
Pakailah.
Nanti paman Encik akan marah kalau terlalu malam pulang.
Jangan ditolak pertolongan orang yang berbuat baik.
Tidak bagus.
Tapi Engku sendiri bagaimana?
Saya laki-laki. Saya berani.
Menginap di sini pun jadi.
Hujan datang. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Niat baik membawa rezeki.
Silakan Engku menginap di lapak ini.
Kebetulan piring sudah setinggi Gunung Merapi.
Satu pun belum dicuci.
Terima kasih, Engku.
Ayo, Ti.
Berangkatlah, Encik. Supaya orang rumah tidak risau.
Terima kasih, Engku. Saya duluan.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Saya harus kembalikan payung ini ke mana?
Saya tinggal di rumah Mande Jamilah.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bersama adik saya, Ahmad,
saya kembalikan payung yang saya pinjam.
Alangkah besar terima kasih saya atas pertolongan Tuan.
Tak dapat di sini saya nyatakan.
Pertama, di waktu hari hujan, Tuan telah sudi berbasah-basah
memelihara diri seorang anak perempuan yang belum Tuan kenal.
Kedua, kesyukuran saya lebih lagi
dapat berkenalan dan bersahutan mulut dengan Tuan,
orang yang selama ini terkenal baik budi.
Sehingga bukan saja rupanya hujan mendatangkan basah,
tetapi mendatangkan rahmat.
Semoga kelak saya dapat membalas budi Tuan.
Hayati.
Engku Zainuddin di sini.
Di sini menunggumu.
Apakah maksudnya menunggu saya?
Lekaslah katakan agar saya segera pulang.
Saya pun takut pula akan mengganggu.
Engkau saya tunggu hanya sekadar hendak memberikan ini.
Gemetar tanganku ketika mulai menulis untukmu.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Hatiku memaksaku menulis.
Banyak yang terasa,
tetapi setelah kupegang penaku,
tidak tentu dari mana harus kumulai.
Agaknya buruk saya berkirim surat ini dalam pandangan umum.
Saya tahu sedikit adat negerimu yang kokoh.
Di Makassar, saya dianggap orang Padang.
Di sini, saya dianggap orang Makassar.
Bagaimana dia?
Sama saja, diganggu terus.
Maaf, Zainuddin.
Urusan kami jangan ikut campur.
Kau bukan orang Minang.
Jangan ikut campur.
Maaf, saya mencurahkan kepedihanku ke Hayati.
Saya kirimkan surat ini tidak minta dibalas.
Hanyalah semata mengadukan hal
dan saya pun yakin tangan yang begitu halus,
mata yang penuh dengan kejujuran itu tidak akan sampai mengecewakan hati.
Sudikah engkau jadi sahabatku, Hayati?
Saya sadar saya melarat. Anak orang terbuang.
Yatim dan piatu.
Tapi insyaallah, hatiku sangat tulus.
Percayalah. Akan sulit bagimu bertemu hati yang insyaallah sebersih hatiku
karena dicuci air mata derita sejak lahir.
Wasalam, Zainuddin.
Hayati. Lihat, itu Zainuddin.
Terima kasih, Pak.
Dari mana, Engku?
Saya dari tempatku biasa menulis.
Menulis apa?
Menulis karangan dan hikayat, Hayati.
Hayati, aku pergi dahulu.
Ya. Aku sebentar lagi.
Engku.
Mengapa sudah empat hari ini Engku tak terlihat?
Saya malu, Hayati. Saya takut.
Tak perlu Engku takut lantaran surat Engku.
Surat yang begitu indah menarik
dan membuka kunci pintu hati manusia.
Tapi sayang, tak ada kepandaian saya sebagai kepandaian Engku
untuk membalas surat yang indah-indah itu.
Bukankah sudah kuterangkan bahwa saya tidak meminta balasan?
Yang saya minta hanya satu.
Jangan dikecewakan hati orang yang berlindung kepadamu.
Hayati, kau memberi harapan kepadaku.
Kau telah memberi kekuatan padaku
untuk berani menyatakan yang sebenarnya.
Dan inilah kejujuranku, Hayati.
Saya memberanikan diri untuk mengatakan
saya mencintaimu Hayati.
Saya mengharapkan kau sudi menjadi kawan dalam hidupku selamanya.
Saya telah jatuh hati kepadamu.
Semoga kau sudi menjadi pendampingku dunia akhirat.
Balasan suratmu sangat kutunggu, Hayati.
Zainuddin.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Dari mana, Engku?
Dari rumah Anwar, teman pengajian.
-Kau dari mana, Hayati? -Mau mengambil air.
Baiklah.
-Di mana Anwar? -Dia tidak ikut.
-Ada yang bisa saya bantu? -Tak usah.
-Saya pergi dahulu. -Ya.
Kita harus bertindak, Datuk!
Anak pisang itu berani mempermalukan adat istiadat kita!
Datuk, telinga saya terasa terbakar
mendengar ucapan orang-orang.
Mereka berduaan di pondok, Datuk.
Kalau perlu, kita tempuh jalan kasar.
Kita suruh orang untuk menghabisinya.
Datuk Garang! Cara kita bukan begitu.
Kita tidak menempuh jalan kasar.
Memikat burung harus dengan burung. Biar saya ajak bicara hati ke hati.
Ya, Datuk.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
-Kau sudah tahu, Hayati? -Tahu apa, Datuk?
Zainuddin.
Zainuddin saya suruh pergi dari Batipuh.
Kalau dia memang berniat menuntut ilmu
seperti niatnya,
sebaiknya ke Padang Panjang atau ke Bukit Tinggi saja.
Dia juga tahu.
Apa alasan Mak Datuk menyuruhnya pergi?
Sudah banyak gosip tentang kau dan dia.
Tapi hubungan kami suci, Mak Datuk.
Tak melanggar sopan santun.
Hayati! jangan kau ukur nilai adat kampungmu
dengan kitab-kitab yang kau baca.
Cinta hanyalah khayal, dongeng di dalam kitab saja.
Kau adalah kebanggaan keluarga, Zainuddin tidak bersuku!
Kau membuat malu, merusak nama keluarga,
nama mamak, nama orang kampung.
meruntuhkan rumah tangga, dan mencemarkan kampung halaman.
Kau tidak tahu? Gunung Merapi masih tinggi kokoh menjulang.
Adat masih berdiri kuat. Tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas.
Zainuddin hendak menempuh jalanan lurus.
Ingin meminang Hayati menjadi istrinya.
Mana bisa?
Orang seperti dia tidak bisa diandalkan untuk menjadi sandaran hidup.
Masa kini jika memilih lelaki,
harus tahu asal-usulnya.
Jelas mata pencahariannya, yang bisa menopang hidup.
Kalau kau menikah dengan Zainuddin,
dan lalu punya anak, siapa panutan dari keluarga ayahnya?
Kenapa Datuk sampai hati membunuh Zainuddin?
Membunuh Hayati, kemenakan Datuk sendiri.
Tidak, Hayati.
Suatu saat kau akan sadar.
Kau akan memuji tindakan mamak yang hari ini kau sesali.
Mamak berpengalaman.
Pengalaman mamak sudah banyak, Hayati.
Makanya menjadi Datuk di kampung ini, sudah banyak makan asam garam.
Mudah-mudahan kau melupakan cintamu kepada Zainuddin.
Kini kau menangis, nanti kau akan sadar.
Salam, Mande.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Zainuddin, segera tinggalkan Batipuh.
Karena namamu dibicarakan banyak orang.
Mande mendengar ada beberapa anak muda yang hendak bermaksud jahat padamu.
Segeralah pergi ke Padang Panjang.
Langsung cari yang namanya Angkula Bai. Dia guru agama.
Baik budi, baik sikapnya.
Pergilah.
Engku Zainuddin.
Hayati.
-Engku Zainuddin. -Bagaimana kau tahu saya ada di sini?
Di sini tempat biasa Engku menulis.
Engku Zainuddin,
sepertinya sudah tidak kupanggil Engku lagi.
Zainuddin.
Saya dengar pagi ini kau akan meninggalkan Batipuh.
Walaupun kau pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku.
Zainuddin, jangan pernah bersedih. Jangan putus asa.
Cinta itu bukan melemahkan hati,
bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa.
Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.
Berangkatlah, Engku.
Biar Tuhan yang memberikan perlindungan bagi kita berdua.
Hayati.
Saya putus asa atau timbul pengharapan dalam hidup yang belum menentu ini,
semua bukan bergantung pada diriku,
bukan pula pada orang lain,
tapi pada kau, Hayati.
Kau yang sanggup menjadikan saya seorang yang gagah berani.
Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya.
Kau boleh memutuskan pengharapanku.
Kau pun sanggup membunuhku.
Zainuddin...
Hati saya dipenuhi cinta kepadamu
dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah
Zainuddin yang akan menjadi suamiku kelak.
Bila tidak di dunia, kaulah suamiku di akhirat.
Saya tak akan berkhianat atas janji,
tidak akan berdusta di hadapan Tuhan.
Disaksikan oleh arwah nenek moyangku.
Berat sekali sumpahmu, Hayati.
Tidak berat. Itulah kenyataannya.
Dan jika kau berjalan jauh atau dekat sekali pun...
Entah tidak kembali dalam masa setahun,
masa dua tahun, masa sepuluh tahun
ke negeri Batipuh ini kau baru kembali,
saya akan tetap menunggu.
Carilah kebahagiaan kita
ke mana pun kau pergi. Saya tetap untukmu.
Dan jika kita bertemu kelak,
saya akan tetap bersih dan suci
untukmu, Kekasihku.
Untukmu.
Baiklah, Hayati. Saya akan berangkat dengan harapan penuh.
Harapan yang sebelumnya sebelum kau berdiri di sini hampir hilang.
Hayati, kirimi saya surat-surat
dan kalau tidak berhalangan, maka surat-surat itu akan saya balas.
Akan saya kirimi sebisa mungkin.
Akan saya terangkan segala perasaan di hatiku
sebagaimana pepatahmu selama ini.
Dengan surat, kita lebih bebas menerangkan perasaan.
Hayati,
mana tahu entah kapan pula kita akan bertemu.
Berilah saya satu tanda mata.
Azimatku. Dalam hidupku.
Dan akan kuwasiatkan meletakkannya dalam kafanku jika aku mati.
Berilah.
Meskipun barang itu murah bagimu,
tapi bagiku itu sangatlah mahal.
Simpanlah ini sebagai azimatmu.
Hati dan jiwaku ada bersamanya.
Selamat jalan, Engku.
Padang Panjang memang tempatnya belajar.
Tempatnya sekolah agama.
Santri di sini maju.
Di tempat Engku sekolah,
santri belajar bahasa Inggris dan Belanda.
Mande sudah rundingkan dengan Muluk.
Muluk menempati bilik yang di belakang. Nak Zainuddin yang di depan.
Ya, Mande.
Ke mana anak itu?
Ke pasar. Mau ke mana lagi?
Namanya juga preman.
Sayang. Seharusnya dia meneladani ayahnya.
Abdul Bahri itu orang baik.
Orang terpandang di negeri itu. Dia malah...
Nak Zainuddin.
-Ayo, Mande antar ke kamarnya. -Ya, Mande.
-Kemari. -Ya.
Hei. Masuk rumah macam anak setan saja.
Tidak bilang "Asalamulaikum".
Ada Mak Etek rupanya. Aku tak melihat ada Mak Etek di sini.
Kalau aku melihatnya, pasti bilang "Asalamualaikum", Mak Etek.
Perkenalkan, ini Zainuddin. Dia akan bersekolah di sini.
Mau belajar agama sama pamanmu.
Salam, saya disuruh tempati kamarmu.
Tidak apa, Engku. Aku juga jarang pulang.
Dia lebih suka pergi ke warung orang.
Entah apa yang dia kerjakan.
Disuruh sekolah tidak mau. Mengaji?
Pemalas.
Zainuddin, Muluk. Coba lihat ini.
Pak Darwis, guru bahasa Inggris kalian,
karyanya dimuat di koran.
Kalian juga bisa mengirimkan karya tulis, pastilah dapat uang.
Beruntung sekali.
Sudah senang menulis, mendapat uang lagi.
Apa senangnya menulis?
Lelah tanganku.
Kalau dipakai berjudi, lelah tanganmu?
Sebaiknya kau banyak berdoa untuk anakmu
agar anakmu menjadi anak yang baik.
Supaya dia dewasa dan kembali ke surau.
Astagfirullah. Dasar tidak tahu diri.
Simpan itu!
Kau pasti belum makan.
-Ayo ikut aku makan di warung. -Ya.
Bagaimana ini?
-Nanti aku ajarkan berjudi. -Astagfirullahaladzim, Uda. Mulutmu itu!
Zainuddin, Kekasihku.
Lepas napasku yang sesak rasanya.
Kita akan segera bersua, kekasih hatiku.
Saya telah diberi izin berkunjung ke Padang Panjang.
Sepuluh hari untuk datang ke pacuan kuda dan pasar keramaian.
Saya akan tinggal di rumah sahabatku, Khadijah.
Bundo, Uda Sophian. Hayati datang.
Zainudin, alangkah beruntungnya kita.
Kita dapat bertemu muka pada tiap-tiap hari pacuan dan keramaian
Setiap hari, Zainuddin.
Untuk mengobati hati kita dan menghilangkan gundah yang bersarang.
Kalian sampai juga di rumahku.
Lama juga perjalanan kita, Amak.
-Khadijah. -Ya.
Hayati, ini Uda Sophian, tunanganku.
-Ini sahabatku, Hayati. -Asalamualaikum.
-Waalaikumsalam. -Ini Mak Tangah.
Selamat datang.
Saya pikir namanya hanya dongeng.
-Itu Bundo. Bundo. -Selamat datang.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
Hayati.
-Hayati. -Mak Tangah. Baik, alhamdulillah.
Di mana Uda Aziz, Khadijah?
Hayati, kau sudah pernah bertemu dengan Aziz, kakaknya Khadijah?
Kalau ada pasar malam dan pacuan kuda,
biasanya dia pulang.
Sudahlah. Ayo masuk.
-Mari, Hayati. -Ayo.
Terus.
Hendrick!
Cepat! Lebih cepat!
Aziz, kau gila? Kurangi kecepatan!
DAFTAR HARGA
Kalau untuk pangkas rambut, saya jadi tidak akan makan, Bang Muluk.
Aku penasaran rupa Hayati, kekasihmu.
Hayati, bagaimana perasaanmu di sini? Kau senang?
Senang sekali. Sudah lama tidak ke Padang Panjang.
-Selamat datang di rumahku. -Terima kasih, Aziz.
Bundo, Khadijah.
-Uda Aziz. -Itu Aziz.
Perkenalkan dengan anakku.
-Aziz. -Uda Aziz.
Sudah lama tak bertemu.
Aku tak bisa diam, jadi, tadi ke pacuan kuda.
Ini Hendrik dan Maria.
Aziz, undanglah Hendrik dan Maria makan siang di sini.
-Ayo. -Baik.
Itu sahabatku, Hayati.
Mari aku kenalkan.
Dari tadi dia terpukau melihat kecantikanmu.
Ini Uda Aziz yang bekerja di Padang.
Hayati baru tiba dari Batipuh, Uda.
Khadijah sering bercerita tentang Hayati.
Maaf baru sekarang bisa berkenalan.
Khadijah, kau berdusta.
Hayati jauh lebih cantik dari yang kau ceritakan.
-Come. -Ayo.
Aduh, sakit. Potonglah rambutku, bukan telingaku.
Tenang sedikit, Engku.
Potong tak usah banyak-banyak, yang penting modelnya.
Kau bilang ingin bertemu Hayati, 'kan?
Ya, sakit sedikit tidak apa.
Perempuan-perempuan sampai gila dibuatnya.
-Lihatlah, Engku. -Astaga!
Model baru.
Modelnya bagus, 'kan? Model pinang dibelah dua.
Ya.
Bang Muluk, akan seramai apa pasar malam dan pacuan kuda besok?
Lihatlah sendiri.
Hari besar besok bukan hanya untukmu,
tapi untuk Padang Panjang juga.
Tapi pakaian seperti ini pasti tidak serasi dengan diri saya.
Akan jadi sorotan mata orang. Saya malu.
Kita berpakaian memang untuk dilihat orang
dan jadi pusat perhatian.
Itu naluri perempuan, 'kan?
Kita mau menonton pacuan kuda,
bukan menjadi tontonan orang.
Lagi pula, tujuan saya adalah untuk bertemu Zainuddin.
Dia pasti akan terkagum-kagum melihat kecantikanmu.
-Dan kau? -Baik.
Sibuk, tapi senang bisa datang ke pacuan kuda.
-Pernah ke pacuan kuda? -Ya, sering.
-Kau suka? -Ya.
Bagus. Aku mau ke sana, siapa tahu bisa menang judi.
-Bagaimana Maria? -Kabarnya baik.
Sedang hamil lima bulan dan...
Uda. Kami sudah siap.
Hayati, cantik sekali.
Gaun ini indah dipakai.
Moi.
Terima kasih, Uda.
-Sudah siap? -Ya.
Kalian semua siap?
-Ya, aku siap. -Hayati.
Baiklah, mari berangkat.
Hei.
Khadijah, aku bicara dahulu dengan teman kantor.
Ya, Uda.
Hayati?
Hayati!
Hayati!
Hayati.
Kau...
Hayati.
Zainuddin.
Hayati, siapa ini?
-Zainuddin. -Begitu rupanya.
Khadijah, ayo.
Hayati, ayo.
Maaf, Engku.
Ayo. Banyak yang ingin lewat.
Bersulang.
-Bisnis yang bagus. -Indah sekali.
Saya mau bertaruh pada kuda putih.
-Saya. -Kau yakin?
-Ya. -Baik.
Bertaruh untuk kuda putih.
Hayati, siapa laki-laki yang di luar itu?
Namanya Zainuddin.
Dia yang kau bicarakan itu?
Rupanya kawanmu orang alim.
Menonton pacuan kuda saja seperti akan mengaji.
Jangan seperti itu.
-Sarungnya pun sarung bugis. -Memang dia orang Makassar.
Begitu rupanya.
-Yang mana? -Yang hitam.
-Saya yang putih. -Yang hitam kecil sekali.
Hayati, sudah mau dimulai. Ayo.
Lihat kuda yang putih itu. Pasti dia menang.
Itu kudaku.
Ayolah, Hayati. Kita kemari untuk menonton pacuan.
Saya ke sini untuk bertemu Zainuddin.
Astaga. Kenapa mukamu merah?
Kepala saya pening.
Maaf, saya pulang lebih dahulu. Lanjutkanlah sampai selesai.
Saya mau segera dipijit Mak Tangah.
Tidak bisa. Kemari bersama harus pulang bersama.
Ayo!
Ayo!
-Uda, Hayati kurang enak badan. -Apa kau sakit?
Kalau begitu, kita semua pulang saja.
Yang terpenting kesehatan Hayati.
Sebenarnya tak apa, Uda. Saya tahu jalan pulang.
Tidak.
Itu tidak setia kawan namanya.
Satu gembira, semua gembira.
Satu sakit, semua sakit. Ayo.
-Sophian. -Ayo, Hayati, kita pulang.
Aziz, Bundo yakin
kau tidak akan menolak jika kau berjodoh dengan Hayati.
Jujur, Aziz. Dalam pergaulan seminggu ini,
Bundo terpikat perilakunya.
Cantik, rendah hati, sopan pula.
Calon istri yang baik untuk kau
dan kita akan beruntung jika kita berkeluarga dengan dia.
Gadis kampung terlalu kaku jika dibawa ke kota.
Baru melihat pacuan, kepalanya sudah pening.
Bagaimana jika dia dibawa ke kota besar seperti Padang?
Itu mudah diperbaiki.
Kalau kita balut dengan dandanan emas, diberi kesenangan memuaskan,
dia akan menjadi orang modern.
Setelah menikah dengan Uda,
aku akan membuatnya lebih kota daripada gadis kota.
-Barangkali sudah ada tunangannya. -Dia belum bertunangan.
Ada sedikit menjalin cinta dengan anak Makassar.
Kabarnya anak terbuang pula.
Mana boleh oleh Datuk.
Zainuddin?
-Yang mengaji pakai sarung? -Ya.
Sudahilah foya-foya dengan teman Belanda-mu.
Kau itu tetap orang Minang.
Bunda akan meminta Ninik Mamak untuk meminang Hayati.
Allahuakbar.
Tujuan saya mengundang Ninik Mamak di rumah Gadang ini adalah
untuk mencari mufakat, karena celakalah kita
jika tidak sekata.
Kita semua sudah mendengar
gosip yang telah beredar.
Tantangan kemenakan kita, Hayati.
Telah datang orang memintanya untuk menjadi pasangan hidup.
Orang itu bernama Aziz.
Anak dari Sutan Mantari yang ternama dan berkuasa semasa hidupnya.
Kemudian, datanglah sepucuk surat dari Zainuddin.
Tujuannya juga sama.
Kita harus menimbang baik dan buruknya.
Manfaat dan mudaratnya.
Keputusan kita sudah bulat.
Aziz yang akan kita terima.
-Ya. -Ya.
Apakah semua setuju?
Beri tahu Hayati.
Maaf, Mak Datuk.
Cinta Hayati masih bersama Zainuddin.
Membuat malu saja.
Kau menginjak kami para Ninik Mamak.
Bagaimana bisa orang tak beradat
dan tak bersusku kita terima jadi menantu?
Terbalik dunia ini.
Tapi...
Kalau nanti Hayati bersusah dan bersedih?
Bunuh diri?
Lebih baik dia mati daripada membuat malu kami.
Merusak adat istiadat dan mengubah asal-usul kita.
Apa gunanya hidup kalau dia akan mencoret arang di dahi kita?
Ibu Zainuddin bukan orang Minangkabau.
Ayahnya Zainuddin adalah Pendekar Sutan. Dia orang Minang.
Tidak usah bicara.
Ternyata kau tidak paham adat.
Zainuddin akan mencoreng dan mempermalukan kita.
Tidak baik menghina orang karena berbeda dengan kita.
Setiap daerah pasti punya tradisi masing-masing.
Beraninya kau! Aku lebih tahu dari kalian.
Hayati,
kau tahu kenapa kami berkumpul?
Ada yang datang meminangmu.
Si Aziz dari Padang Panjang.
Kemudian datang pula sepucuk surat dari Zainuddin.
Sesudah kami timbang baik dan buruknya,
Aziz yang akan kami terima menjadi suamimu.
Keputusan kami sudah bulat. Semoga kau menerimanya dengan senang.
Bagaimana menurutmu?
Jawablah, Hayati. Saya mau pulang, seperti yang lainnya.
Lekas jawab. Waktumu sedikit, sekarang waktunya makan.
Kalau diam, berarti dia suka.
Jawablah, Hayati.
Supaya kami ikat musyawarah ini dengan asap kemenyan.
Jawab, Hayati!
Apa pun yang menurut Ninik Mamak terbaik.
Aku menurut.
Alhamdulillahirabbil'alamin.
Surat orang muda sudah kami terima dan kami paham isinya.
Karena negeri Minangkabau beradat bulat,
sekeluarga Hayati pun bermusyawarah
untuk mencari kata mufakat.
Karena tidak dapat kata sepakat,
lamaran Zainuddin kami tolak.
Lebih dan kurang supaya dimaafkan.
Tolong kau selidiki siapa Aziz itu. Aziz dari Padang Panjang.
Siapa penjudi yang tidak kenal dia?
Orang tuanya terpandang karena menjadi pegawai Belanda.
Dia pun juga pegawai Belanda.
Penjudi. Mengganggu rumah tangga orang.
Hayati, Kekasihku. Bagaimana kejadian yang sebenarnya?
Sudah ditutupkah perjalanan hidup kita?
Benarkah telah putus pertalian kita?
Ingatkah kau, kita telah berjanji bersama sehidup semati?
Apakah yang telah menyebabkan saya tercoreng dari hatimu?
Hayati, kau tertipu.
Mereka telah menipumu dengan harta benda dan hawa nafsu.
Jangan sampai terlintas dalam hatimu
bahwa di dunia ada satu bahagia yang melebihi bahagia cinta.
Hayati, Kekasihku.
Pada dirimulah, bertemu lambang kesucian dan kemurnian
yang dipenuhi oleh cinta itu.
Di saat orang lain membenciku lantaran miskinku, lantaran bangsaku,
telah kau sambut tanganku yang lemah.
Telah kau terima suaraku yang parau.
Saya sudah tahu kau dan Aziz telah bertunangan.
Tidak bisa saya pungkiri.
Tetapi setelah saya dengar siapa Aziz sebenarnya,
maka saya kirimkan surat ini untuk mengingatkan
bahwa pernikahanmu tidak bertemu cita-citanya yang sejati.
Ini hanya perkawinan harta dan perkawinan kecantikan.
Tidak. Tidak saya percaya bahwa kau begitu kejam dan ganas.
Saya masih ingat suatu sore di danau.
Hati yang lemah lembut itu, air mata yang mengalir di pipi
jatuh mendekati mulutmu yang ikhlas
berjanji untuk selamanya hidup denganku.
Terima kasih, Pak.
Engku Zainuddin.
Ini bukanlah perkawinan harta dan kecantikan.
Sayalah yang telah mengambil keputusan
untuk bersuami Uda Aziz.
Lawan saya adalah hati saya sendiri
sehingga saya terima tawaran Ninik Mamak saya.
Kita akan sama-sama menangis untuk sementara waktu,
tapi kelak Engku akan sadar
bahwa hidup seperti ini yang telah dipilihkan Allah
untuk kebahagiaan Engku.
Engku, pilih sajalah seorang istri yang lebih cantik
dan lebih kaya daripada saya.
Engku tahu bahwa saya seorang gadis yang miskin
dan Engku pun hidup melarat pula.
Tak cukup untuk menegakkan rumah tangga.
Maka lebih baik kita singkirkan perasaan kita
dan berpisah.
-Angku Datuk Sampuni Kayo? -Saya.
Kepada Angku kami ingin bertanya.
Silakan.
Semoga syariat adat selalu dalam niat
dalam kepentingan bersama.
Saya menghadap Angku.
Dalam hal salam sembah dan penghormatan,
semuanya mengikuti tata tertib majelis
yang mana Angku telah tegakkan.
Artinya, sepanjang sepanjang perilaku yang baik sesuai dengan aturan
yang berdasarkan tradisi yang berlaku.
Marilah kita bersahabat untuk selamanya
dan saya harap Engku lupakanlah segala hal yang telah berlalu.
Maafkan kesalahan dan keteledoran saya.
Kita pandang saja yang dahulu tidak pernah terjadi.
Hayati.
Saya mau pulang, Mak Base.
Tidak ada tempat buat saya di kampung Ayah.
Mak Base, tanah Makassar memanggilku pulang.
Kaukah itu, Hayati?
Saya merindukanmu.
Sudah sembuh saya dari sakitku.
Kemari kau, Kekasihku.
Saya sudah lama menunggu kedatanganmu.
Saya tahu kau tak akan ingkar janji.
Marilah duduk, Kekasihku. Kau ingin hidup denganku selamanya.
Sakit Zainuddin bukanlah sakit biasa,
tapi jiwanya terguncang.
Beban batinnya begitu berat.
Atas nama kemanusiaan, kita mintalah supaya...
Hayati...
Hayati...
Hayati bisa datang kemari untuk menemui Zainuddin.
Ya, walaupun hanya bisa sekali.
Asalamualaikum.
Ayolah, Engku. Sudah dua hari kau hanya minum air putih.
Makanlah.
-Ayo makanlah, Nak. -Asalamualaikum.
-Waalaikumsalam. -Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh.
Zainuddin. Bangunlah, Nak.
Buka matamu. Coba lihat Hayati datang.
Ayo.
Sebaiknya Hayati sendiri yang membangunkannya.
Mudah-mudahan dia sadar.
Engku Zainuddin.
Zainuddin.
Siapa yang memanggil namaku?
Hayatikah itu?
Suaranya...
Saya benar-benar mendengar suaranya.
-Tolong dibantu. -Hati-hati, Nak.
Di mana Hayati?
Ya.
Hayati...
Kau datang tepat pada waktunya.
Sudah saya siapkan rumah untuk tempat tinggal kita.
Sudah saya cukupkan alat-alat yang diperlukan di rumah itu.
Nanti saya ambil pakaian hitamku.
Pakaian pengantin.
Ini penghulu kita.
Sudah lama menunggu kedatanganmu.
Langsung kita ijab kabul.
Setelah menikah, kita berangkat ke Makassar.
Kita melihat Ujung Pandang.
Kita akan ziarah ke kuburan Ayah dan Bunda-ku.
Kita taruh karangan bunga di sana.
Cantiknya kau hari ini, Hayati.
Baju berkurung begini memang sangat kusuka.
Seperti waktu kita bertemu pertama kali.
Ini selendang sutera putih.
Memang ini pakaian pengantinmu.
Kemarikan tanganmu Hayati.
Kita akan pergi bersalaman dengan pamanmu.
Tanganmu akan kugandeng dari hayatku
sampai matiku.
Kekasihku, mengapa kau mundur maju?
Kau masih malu? Padahal hari ini hari pernikahan kita.
Kemarikan tanganmu.
Sudah kepunyaan orang lain.
Sudah hilang dari tangan saya.
Haram saya menyentuh tanganmu.
Keluar, kau semua! Pergi, kalian semua!
Tinggalkan aku sendiri di sini.
Saya tidak ada hubungan dengan orang-orang itu.
Mereka juga sudah putus hubungan dengan saya.
Pergi! Keluar!
Bagaimana ini?
Untuk apa menolong orang semacam itu?
Kita pulang sekarang.
-Aku akan mengecek Zainuddin. -Ya.
Semuda ini usiaku,
sudah begitu berat luka yang harus kutanggung.
Hei, berhentilah bersedih begini, Engku.
Yang terjadi sudahlah terjadi.
Engku, kau sudah banyak menuntut ilmu.
Budi pekerti, kesopanan, dan pemikiran yang luas pun sudah kau raih.
Janganlah lebih lemah dari kami para preman yang tak kenal baca bismillah.
Tidak baik hidup yang mulia ini terkurung
semata-mata hanya karena memikirkan perempuan.
Perempuan yang kau junjung tinggi itu telah berkhianat
memungkiri janjinya.
Di sini Engku sengsara, bersakit-sakit, sedangkan dia...
Dia sedang menikmati masa pengantin baru dengan suaminya.
Kau orang pintar. Kenapa harus hancur oleh perempuan?
Di mana letak pertahanan kehormatan yang ada pada seorang laki-laki?
Jangan mau hidup Engku dirampas dan dirusak binasakan oleh perempuan itu!
Engku harus tegap kembali.
Coba Engku lihat lagi dunia lebih luas dan masuk ke dalamnya.
Di sana masih banyak kebahagiaan dan ketenteraman tersimpan.
Engku pasti bisa melakukannya
dan mengecap bagaimana nikmat kebahagiaan dan keberuntungan itu.
Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah,
tapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat.
Tunjukkan pada perempuan itu Engku tak akan mati lantaran dibunuhnya.
Semangat?
Ya. Semangat.
Banyak orang-orang besar yang kalah dalam percintaan.
Lantaran kekalahan itu, dia ambil jalan lain.
Dia maju ke politik, dalam mengarang buku,
dalam mengarang syair, dalam perjuangan hidup
sehingga dia bisa di atas puncak yang tinggi.
Dan perempuan itu akan melihatnya dengan menengadah dari bawah.
Saya tahu Engku pandai mengarang.
Banyak buku-buku terletak di atas meja Engku.
Banyak karangan-karangan dan hikayat.
Kenapa Engku tidak teruskan itu?
Kalau pikiran tertutup, bagaimana mungkin bisa mengarang?
Kata orang, "Ketika ditimpa hal-hal seperti inilah,
maka terbuka pikiran membuat karangan."
Sekarang di mana-mana diterbitkan surat-surat kabar.
Menuntun umat kepada kecerdasan.
Memuat perkabaran, pengetahuan, syair, dan madah.
Cerita dan hikayat.
Kalau Engku bisa tuangkan pikiran yang tinggi itu dengan mengarang,
tentu akan berhasil, Engku.
Benar segala perkataanmu, Muluk.
Yang sudah terjadi, biarlah terjadi.
Luka pun ada sembuhnya.
Mulai sekarang,
saya akan memperbaiki jalan pikiran saya kembali. Hidup saya kembali.
Saya tidak akan mengingat Hayati lagi.
-Saya akan melupakan dia, tapi... -Tetapi apa lagi?
Kalau saya mau bergerak maju, berjuang dalam hidup saya,
saya tidak bisa di sini selamanya.
Saya tidak ingin kota Padang ini mengingatkan saya kembali
pada apa yang sudah saya anggap masa lalu itu.
Saya akan pindah ke tanah Jawa.
Orang bilang, cakrawala akan lebih luas di sana.
Batavia?
Aku kenal anak muda dari Padang yang kerja di Batavia.
Katanya dia kerja di penerbitan koran.
Aku akan menyuratinya.
Nanti kukirimkan gubahan-gubahanku ke sana.
Aku akan mengikutimu. Aku begitu mengagumimu.
Bawalah aku menjadi jongos, menjadi pelayan, menjadi orang suruhan,
dan menjadi sahabat setia.
-Benarkah mau pergi denganku? -Benar, Engku.
Sebab dari Engku banyak kebaikan yang akan kucontoh.
Aku ingin menuntun penghidupan yang baru
dan menanggalkan baju premanku.
Aku ingin tunduk dan kembali pada jalan yang benar.
Karena sejauh-jauhnya kita tersesat,
pada kebenaranlah kita akan kembali.
Saya akan memerlukanmu.
Dan janjiku apa yang saya makan adalah apa yang Bang Muluk makan.
-Sampai mati jadi sahabat. -Sampai mati jadi sahabat.
-Batavia, Bang Muluk. -Batavia, Engku.
Kita telah tiba di Surga.
Kalau banyak wanita seperti itu, aku cepat dapat jodoh.
-Halo, Nona. -Halo.
Astaghfirullah alazim, Muluk!
Sepatu pun di kota begini ada yang bersihkan.
Bolehlah. Cuci dan semir sekalian punyaku.
Astaga. Bayar pula. Aku tak jadi.
Van Der Wijck, kapal Belanda yang paling besar dan mewah.
Buatan Feijenoord.
Sudah mulai berlayar dari Jawa ke Andalas.
Waktu itu saya baca di koran yang menerbitkan karanganku.
Besar sekali itu kapal.
Nanti kalau kaya dirantau,
akan kuajak ibuku naik kapal Van Der Wijck.
Amin. Ayo, Bang.
Masuklah.
Bagaimana? Bagus?
Mahal juga untuk kamar yang kecil.
Tak jadi aku buka warung.
Aku akan buat banyak kontrakan di Batavia.
-Pasti laku. -Kau banyak gaya.
Biarpun kecil, punyaku sendiri.
Daripada kau, punya apa?
Rambut saja yang besar.
Benar juga. Engku Zainuddin, aku sudah terima karangan darimu.
Dan aku sudah berikan ke Tengku Iskandar.
Dia yang punya penerbitan koran.
Katanya, dia mau bertemu dengan Engku.
Mutu sastranya cukup memadai.
Bisa saya muat sebagai kisah yang bersambung.
Kalau butuh mesin tik,
nanti Rusli bisa urus dengan orang Uda.
Terima kasih, Tuan Iskandar.
Aku tinggal pergi, ya. Banyak pekerjaan tertunda di Padang.
Ya, Uda.
-Selamat, buku kita terjual semuanya. -Terima kasih.
Luar biasa.
-Selamat, Zainuddin. -Terima kasih.
-Selamat. -Terima kasih.
Terus terang kisahnya seperti benar-benar terjadi.
Sangat indah.
Zainuddin pernah ke Surabaya?
Belum.
Di sana juga banyak orang-orang Minang.
Ada klubnya juga kalau tidak salah.
Klub anak Sumatra.
Haji Kasim ini ayah saya.
Beliau punya penerbitan surat kabar di Surabaya,
tapi tidak ada yang mengurus.
Jadinya malah merugi.
Ayah saya ingin penerbitan surat kabar itu berjalan lagi dan sukses.
Tapi saya tak bisa mengurusnya
karena sedang sibuk mengurus penerbitan di sini.
Jadi, beliau menawarkan kesempatan ini kepada Anda.
Saya punya keyakinan anak muda sepertimu ini
pintar, jujur, dan bisa dipercaya.
Kalau Zainuddin bersedia,
kita akan bagi keuntungan perusahaan 50-50. Bagaimana?
Saya Susilo, orang kepercayaan Haji Kasim di Surabaya.
Tuan Zainuddin, selamat datang di kota bisnis Surabaya.
Silakan beri kantor kita nyawa dengan tulisan-tulisan Tuan.
Engku jadi terkenal sekarang.
Jangan berkata begitu, Bang Muluk.
Bang Muluk turut membantu.
Sudah terkenal, belilah baju baru.
Masa baju robek begini masih dipakai.
Biar nanti saya jahit di rumah.
Beli sajalah baju baru.
Kalau dijahit terus, nanti tanganku bisa luka kena jarum.
Tidak bisa menulis, tidak bisa kerja, tidak ada buku.
Aku akan kembali menjadi preman.
Kalau begitu, di mana kita mencarinya?
Kau tahu tempatnya?
Itu dia.
Ayolah.
Ayolah, Bang.
PENJAHIT
Ada yang bisa saya bantu?
Tolong temanku dipermak.
Baju, celana, sepatunya. Semua model baru,
Mudah. Tunggu.
Setelah ini kita beli mobil.
Mobil?
Ya. Kau sudah sukses,
bagaimana mungkin naik bendi terus?
Tapi saya tak bisa menyetir.
Nanti aku ajari.
Kau bisa?
Masuklah, Laras.
-Baik, Hayati. -Apa kabar?
-Rumahmu bagus sekali. -Terima kasih.
-Silakan duduk. -Baik.
Aku senang sekali kau datang berkunjung ke Padang Panjang.
Kadang terasa sepi jika Aziz pergi ke Padang.
Kenapa kau tak ikut ke Padang bersama Uda Aziz?
Uda Aziz pulang hanya tiap Sabtu.
Lagi pula, Uda Aziz punya rumah di Padang.
Benar juga. Untuk menghilangkan kebosanan, bacalah buku ini.
Ceritanya bagus sekali.
Sedih menyayat hati. Hikayat luar biasa.
Termasyhur. Laku di mana-mana.
Tiga kali aku membaca buku ini, tiga kali aku menangis.
Kau seperti tukang obat di pasar saja.
Si Jamal dalam cerita itu
seperti Zainuddin-mu, Hayati.
-Selamat pagi. -Ini katalognya.
-Selamat pagi. -Selamat pagi, Pak.
Ini ada berkas-berkas yang harus saya sampaikan ke Bapak.
-Ya. -Ini, Pak.
-Selamat pagi, Pak. -Pagi.
Engku, katalog terbaru telah tiba.
Bagus ini. Terima kasih, Bang Muluk.
Hayati.
Hayati.
Hayati.
Asalamualaikum, Uda.
-Aku siapkan minum. -Tidak usah.
Maaf, Uda. Aku...
Kalau suamimu pulang, kau harus tahu.
Sudahlah, Bundo. Percuma mengajar orang yang...
Orang yang apa, Uda?
Baru sekali ini saya khilaf.
Biasanya saya selalu menunggu di beranda.
Waktu Uda tidak pulang tanpa kabar,
aku tetap menunggu sampai larut malam.
Enak?
Macam orang kampung saja.
Beberapa hari ini dia membaca buku.
Entah buku apa yang dia baca.
Sudahlah. Makanlah.
Maafkan aku.
Aku letih sekali.
Jangan terlalu sering menyakitiku.
Lidahmu tajam.
Hatiku sering terluka.
Kau mau menyiapkan makan malamku?
Aku mau makan makan dengan tenang
sekaligus merayakan keberhasilanku.
Aku diberi kesempatan,
dinaikkan pangkat untuk mengurus kantor perwakilan.
Kita akan tinggalkan Padang Panjang,
pindah ke Surabaya.
Sebelum saya beli, ada pertanyaan sedikit.
Kenapa rumah besar begini berharga begitu murah?
Rumah ini disita oleh bank.
Pemiliknya orang Belanda yang dikejar pemerintah
karena tipu dagang dan hal lain yang melanggar hukum.
Baiklah, Pak. Saya akan beli.
Semua urusan silakan dengan Bang Muluk.
-Baik. Terima kasih banyak, Tuan Shabir. -Sama-sama.
"Anak miskin
tak bersuku ingin menyunting bunga.
Mana mungkin bisa?
Negeri ini beradat."
Kau banyak membaca buku
sampai lupa suami?
Membaca terus!
Suami pulang tak disambut. Malah tidur.
Di mana makanannya?
Aku sudah menunggu sejak setelah isya.
Aku lelah. Mungkin tertidur.
Jangan berkata begitu.
Biar aku siapkan makanannya. Aku juga belum makan.
Uda!
Bau apa ini, Uda? Kau minum?
Uda.
Uda, jangan begini.
"Pergi kau, Anak Miskin. Negeri kami beradat.
Bunga desa itu tak pantas untukmu."
Ini ceritanya persis seperti si kecoak Bugis itu.
-Uda. -Ya?
Jahat nian tuturmu.
Kenapa? Untuk apa baca buku ini?
Tidak ada yang melarang.
Aku curiga.
Jangan-jangan pengarangnya si kecoak Bugis itu.
Aku lihat ini terbitan Batavia.
Dia merantau ke sana, 'kan?
Namanya Zainuddin.
Janganlah Zainuddin terlalu dihina.
-Setahuku Engku Zainuddin tidak pernah... -Apa?
Engku Zainuddin.
Masih rindu rupanya.
Kau tak terima? Kenapa?
Begitu. Masih cinta rupanya.
-Hayati. -Astaghfirullah alazim.
Kenapa Uda masih saja mengungkit dia?
Hendak apa aku menunggu Uda
menghitung hari setiap hari hingga Uda pulang?
Aku tersiksa menjadi istri macam ini.
Diam!
Bodoh!
Kampungan.
-Asalamualaikum, Tuan Shabir. -Waalaikumsalam.
-Mamak. -Tuan Shabir.
-Syawal. -Muluk. Hai, Syawal.
Ini.
-Undangannya telah siap. -Terima kasih.
Saya pastikan seluruh anak rantau Sumatra
yang ada di Surabaya akan hadir.
Ini acara besar, Tuan Shabir.
Setelah acara usai, sebagai bentuk terima kasih,
saya akan jamu mereka semua di rumah.
Bang Muluk, saya minta tolong disiapkan.
Baik, Engku.
-Asalamualaikum. -Waalaikumsalam.
-Akan menjadi acara besar. -Insyaallah.
"Tuan Shabir, alias penulis dengan nama samaran Z.
Opera Terusir dipimpin penulisnya sendiri,
didukung penuh oleh klub anak Sumatra."
Bawa adinda kali ini, Kakanda.
Percuma pergi.
Tidak menarik menonton pertunjukan opera bangsa kita.
Permainannya kurang halus.
Tidak seperti opera Belanda.
Meskipun begitu, sekali ini bawalah adinda.
Adinda hendak berkenalan dengan perempuan-perempuan kita
yang ada di sini.
Ya, Kakanda?
-Usir! -Siapa?
Berilah.
Mungkin itu adalah murah artinya bagimu.
Tapi bagiku itu sangatlah mahal.
Simpanlah ini sebagai azimat.
Hati dan jiwaku ada di dalamnya.
Selamat jalan.
Inilah segenap penggiat
dari lakon Terusir.
Sekarang kami akan perkenalkan
pengarang merangkap regisseur...
Tuan Shabir.
Tuan Aziz
dan orang kaya, Hayati.
Kalian ada di sini. Sudah lama tinggal di Surabaya?
Baru tiga bulan.
Ajaib. Sekian lama ada di Surabaya baru sekali ini kita bertemu.
Kami pun tidak menyangka.
Pengarang ternama ahli syair masyhur
yang selalu jadi buah mulut orang banyak lantaran tulisannya yang berarti itu
adalah sahabat kami, Tuan Zainu...
Shabir.
Sudah tidak ada lagi nama lama. Kurang cocok dengan diri saya sekarang.
Nama Shabir lebih cocok, bukan?
Semua nama cocok bagi orang seperti Tuan.
Tuan-tuan, mari. Saya perkenalkan kepada sahabat saya, Aziz,
dan orang kaya, Hayati,
dari Padang Panjang.
Mungkin kalian ingat ini Bang Muluk.
Aziz.
-Maaf, saya permisi sebentar. -Silakan.
Kita tak perlu kaget.
Kita harus akui kehebatan orang.
Shabir orang besar, masyhur.
Orang-orang akan hormat pada kita jika kita berkawan dekat dengan dia.
Uda mau bicara dahulu.
-Jangan... -Siapa tahu dia bisa membantu kita.
-Uda, jangan macam-macam. -Diam.
Jangan...
Dari mana Uda dengan Engku Zainuddin?
Aku bilang aku ditipu teman kerja hingga kehabisan uang
dan dia kasih pinjam uang.
Utang-utang judiku yang banyak akan segera lunas.
Bahkan ada sisanya.
Tak ingatkah dahulu bagaimana perlakuan kita kepadanya?
Sekarang dia begitu baik kepada kita.
Tak malukah Uda meminjam uang kepada dia?
Untuk apa malu?
Kau ini banyak bicara.
Kenapa makanannya begini?
Saya tidak ingin makan makanan kampung seperti ini.
Tak punya uang lagi.
Uda tak pernah kasih uang lagi kepadaku.
Aziz.
Aziz.
-Bayar utangmu. -Saya sudah bayar.
Kau hanya membayar sepertiga.
Utangmu menumpuk. Sudah jatuh tempo.
Ada apa, Mas?
Diam saja kau. Jangan membela suamimu.
Semua barang perhiasanmu sudah habis.
Sekarang kau miskin.
Kau menjadi korban akibat setan nafsu suamimu.
Bayar!
Jika tak mau bayar, barang-barang akan kusita semua.
Tenang dahulu supaya suami saya pun tenang.
Uda, bagaimana? Pinjam dahulu ke kantor?
Kantor apa?
Suamimu ini sudah sepekan tidak ke kantor.
Dipecat.
-Ayo. Ambil semua barang-barangnya. -Baik.
-Jangan. -Minggir.
-Semuanya. Ambil semua. -Uda...
-Uda... -Yang itu juga. Jangan tersisa!
Jangan!
Kenapa kau diam saja?
Kita sudah tidak punya uang
dan sekarang kita tidak punya barang-barang.
Bagaimana hidup kita, Uda?
Kenapa kau diam saja? Jawab.
Apa yang akan kita lakukan sekarang?
-Ke mana kita akan pergi? -Sial.
Jangan sungkan. Silakan, anggap rumah sendiri.
Terima kasih.
Tidak bisa saya bayangkan bagaimana jika tidak ada Tuan Shabir.
Kita bersahabat, sudah seharusnya saling membantu.
Nanti Bang Muluk akan tunjukkan kamar kalian.
Semua bagian rumah ini milik kalian juga,
kecuali satu.
Saya minta tolong kamar kerja saya harap tidak dimasuki.
Nanti kamar itu akan ditunjukkan oleh Bang Muluk.
Terima kasih.
Terima kasih, Engku.
Mari.
Uda,
makanlah.
Kalau perut terisi, pikiran akan jernih.
Makanlah.
-Uda! -Uda.
Saudara Zainuddin,
budi baik Saudara amat besar.
Seminggu saya sakit,
sudah sebulan saya dan istrinya saya
Saudara izinkan menumpang di sini.
Naif benar saya sekarang.
Tak ada balasan dari saya.
Ingin memohon kepada Tuhan
agar jasa Saudara terlukis pada sisi-Nya.
Itu bukan jasa,
hanya kewajiban seorang sahabat kepada sahabat.
Apalagi hidup kita di rantau,
wajib membela satu sama lain.
Belum pernah saya memberi kepada Saudara.
-Saya hanya selalu menerima. -Karena belum waktunya.
Sekarang sedang saya yang sanggup.
Mungkin lain nanti, saya yang ditolong Uda.
Terlalu baik, Saudara.
Yang baik hanya Tuhan.
Begini saja.
Saya
akan segera pergi hari ini.
Saya akan mencari kerja lagi di kota lain.
Malu saya menumpang di rumah Saudara.
Malu di Surabaya.
Jika Saudara tidak berkeberatan,
izinkan Hayati
tinggal di sini sampai saya dapat pekerjaan.
Segera saya kabari Saudara ketika saya sudah mendapat pekerjaan
agar dia bisa menyusul.
Saya tidak keberatan istri Uda tinggal di sini,
tapi saya ragukan jika kesehatan Uda belum pulih sepenuhnya.
Hanya lantaran malu Uda ingin pergi.
Lebih baik tahan dahulu hingga badan kuat betul.
Saya sudah jauh lebih baik.
Bagaimana kalau Uda Azis dan Hayati pulang ke Padang?
Saya rasa lebih baik pulang dahulu.
Ongkos akan saya bayar.
Pulanglah untuk berpikir dan menetapkan hati.
Walaupun nantinya akan kembali merantau.
Tidak.
Itu tidak bisa.
Malu.
Bagaimana, Hayati?
Saya hanya menurut.
Baiklah.
Kalau memang demikian pertimbangan yang sudah Uda Aziz ambil,
berangkatlah.
Ke mana pun Uda pergi, kirimi kami surat.
Berikan kabar.
Kalau sudah dapat pekerjaan,
Uda bisa menjemput Hayati. Atau saya akan mengantarkannya.
Maafkan, Uda.
Tapi nasihat saya hanya satu.
Ubahlah haluan hidup.
Saya berjanji, Saudara.
Saya
kerja dahulu.
Engku.
Engku.
Engku belum pulang.
Maaf, Encik. Tak boleh yang ada masuk kamar ini.
Saya membuat teh.
Tidak nyaman tidak membuatkan yang punya rumah.
Saya kira Engku Zainuddin ada di dalam.
Bang Muluk.
Mengapa sejak saya ada di sini dia bagai orang ketakutan saja?
Adakah kedatangan saya memberatinya?
Bukan begitu, Encik. Jangan salah paham padanya.
Dan mengapa tidak ada yang boleh masuk ke kamar kerjanya?
Encik...
Sudah terlalu lama saya makan hati berulam jantung di sini.
Saya butuh kepastian.
Masih dendamkah dia kepada saya?
Masih belumkah dia memberi maaf kepada saya?
Encik, Engku Zainuddin adalah pemuda yang tak beruntung.
Tak beruntung?
Bukankah kemasyhuran, kemegahan, dan kemuliaan ini adalah keberuntungannya?
Sekarang dia memang masyhur,
tetapi itu hanya rupa luarnya saja.
Dalam batinnya, tetap saja dia seorang yang tidak beruntung.
Hatinya melarat.
Apalah arti kemuliaan jika maksud tidak sampai?
Dia sudah melarat dari sejak asal dan turunan.
Pusaka yang diterimanya sejak dari Ayah dan Bunda-nya.
Dia diusir dari tanah asal turunannya.
Tapi hatinya tetap teguh
karena ada seorang perempuan yang telah memberinya bujukan
dan berjanji akan menunggunya.
Tapi kemudian perempuan itu lebih tertarik pada laki-laki lain
yang lebih gagah, kaya raya, beradat,
dan turunan tulen Minangkabau.
Sudah cukup.
Kopinya, Engku.
Sekarang dia menjadi orang yang sangat pengasih,
penyayang, dan berbelas kasihan terhadap sesama.
Pernah datang anak muda yang kekurangan ongkos untuk menikah.
Meminta bantuannya.
Lalu dia berikan uang secukupnya untuk pernikahan mereka.
Katanya,
"Saya merasakan sendiri pengaruhnya terhadap diri saya
lantaran harapan hilang.
Kasih yang tidak sampai.
Biarlah anak muda itu tidak menanggung apa yang saya tanggung."
Sudah cukup, Bang Muluk.
Tidak usah dilanjutkan lagi.
Mari, Encik. Ikut aku.
Mari, Encik.
Di sinilah Engku Zainuddin merenungkan nasibnya.
Dan dari sini pulalah berasal
sumber kemasyhurannya dalam kalangan kesusastraan bangsa kita.
Kalau kamarnya begini indahnya,
mengapa saya dilarang masuk?
Inilah sebabnya.
Bang Muluk.
Dia masih ingat akan saya?
Ingat dan selamanya tidak akan pernah lupa.
Tapi Encik Hayati yang dicintainya kini telah hilang.
Tidak. Dia masih ada.
Ini dia.
Dia masih ada, Bang Muluk.
Encik Hayati yang dicintainya kini tak ada lagi.
Telah mati.
Semangat Zainuddin dibawa bersamanya ke kubur cintanya.
Encik Hayati yang menumpang di rumahnya sekarang adalah sahabatnya.
Istri pula dari seorang sahabatnya.
Sebagai seorang yang budiman,
Engku Zainuddin menghormati Encik sebagai istri orang lain,
meskipun orang itu pernah menyakitinya.
Saudara Zainuddin,
dosa saya terlalu besar.
Kuncup pengharapan Saudara yang mulai mekar, saya patahkan.
Saya renggut Hayati darimu.
Saya pengaruhi keluarganya dengan uang, dengan turunan.
Pernikahan kami hanya pernikahan kecantikan.
Karena itu, dengan surat ini saya kembalikan Hayati ke tanganmu.
Dia saya lepas, tidak dalam ikatan saya lagi.
Saya merasa hanya inilah sedikit balas budi kepadamu dan Hayati.
Dari saya yang hina,
kaulah yang lebih berhak atas Hayati
dan Hayati akan bahagia bersuami yang cocok dengan jiwanya.
Hayati,
saya kecewakan hatimu.
Sering kali kau kumaki, kucela.
Maafkan saya.
Saya insaf, Hayati.
Keinsafan ini akan kutebus.
Hapuskanlah kesedihanmu.
Kembalikan senyumanmu yang manis.
Maka lantaran kau kuambil dahulunya
dengan nikah yang sah menurut agama,
sekarang kau lepas pula dengan sah menurut agama.
Sesampai surat ini ke tanganmu,
jatuhlah talakku kepadamu satu kali.
Dan jika idahmu sampai,
janganlah kau kembali ke Padang,
tapi tinggallah dengan Zainuddin.
Kalau dia masih mau menerima kau jadi istrinya,
saya telah mengecewakan perjalanan hidup seseorang.
Mematahkan pengharapan seorang gadis.
Saya akan memberikan hukuman kepada diri saya yang kacau.
Bekas suamimu,
Aziz.
Engku.
Duduklah.
Sudah sebulan lamanya saya menetap di rumah Engku
setelah kepergian Aziz.
Apalah lagi akal sayangku?
Ya.
Apalah akal kita lagi?
Saya akan berkata terus terang kepadamu.
Saya akan jujur kepadamu.
Akan saya panggil kembali namamu
sebagaimana dahulu pernah saya panggilkan.
Zainuddin.
Saya sudi menanggung segenap cobaan yang menimpa diriku
asalkan kau sudi memaafkan segenap kesalahanku.
Maaf?
Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan.
Kau minta maaf.
Mengapa kau jawab aku sekejam itu, Zainuddin?
Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu?
Janganlah kau jatuhkan hukuman.
Kasihanilah perempuan
yang ditimpa musibah berganti-ganti ini.
Ya.
Demikianlah perempuan.
Dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil
dan dia lupa kekejamannya sendiri
kepada orang lain padahal begitu besarnya.
Lupakah kau siapakah di antara kita yang kejam?
Bukankah kau yang sudah berjanji
ketika saya diusir oleh Ninik Mamak-mu
karena saya asalnya tidak tentu, orang hina dina,
dan tidak tulen Minangkabau?
Ketika itu kau antarkan saya ke simpang jalan.
Kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapa pun lamanya.
Tetapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah, kaya raya,
berbangsa, beradat, berlembaga, berketurunan.
Kau kawin dengannya.
Kau sendiri yang bilang padaku
bahwa pernikahan itu bukan paksaan orang lain,
tetapi pilihan hatimu sendiri.
Hampir saya mati menanggung cinta, Hayati.
Dua bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur.
Kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tanganmu telah berinai,
bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain.
Siapakah di antara kita yang kejam, Hayati?
Saya kirimkan surat-surat meratap, menghinakan diri, memohon dikasihani.
Tiba-tiba kau balas saja surat itu
dengan suatu balasan yang tersudu di itik tak termakan di ayam.
Kau katakan bahwa kau miskin, saya pun miskin.
Hidup tak akan beruntung jika tidak ada uang.
Karena itu kau pilih kehidupan yang lebih senang,
mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas besar dan uang kertas.
Zainuddin...
Siapakah di antara kita yang kejam, Hayati?
Siapakah yang telah menghalangi seorang anak muda
yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan,
tetapi akhirnya terbuang jauh ke tanah Jawa?
Hilang kampung dan halamannya
sehingga dia menjadi seorang anak komedi
yang tertawa di muka umum, tapi menangis di belakang layar.
-Zainuddin. -Tidak, Hayati.
Saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu.
Bukankah kau yang meminta di dalam suratmu
supaya cinta kita dihilangkan dan dilupakan saja?
Diganti dengan persahabatan yang kekal.
Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang.
Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku,
tapi janda dari orang lain.
Maka itu secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara,
saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu
sebagaimana teguhku dahulunya memegang cintaku.
Itulah sebabnya dengan segenap rida hati ini,
kau kubawa tinggal di rumahku
untuk menunggu kedatangan suamimu.
Tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang,
tetapi surat cerai dan kabar yang mengerikan.
Maka itu, sebagai seorang sahabat pula,
kau akan kulepas pulang ke kampungmu,
ke tanah asalmu, tanah Minangkabau
yang kaya raya, yang beradat, berlembaga,
yang tak lapuk di hujan, tak lekang di panas.
Ongkos pulangmu akan saya beri, demikian pun uang yang engkau perlukan.
Dan kalau saya masih hidup
sebelum kau mendapat suami lagi,
insyaallah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu.
Zainuddin...
Itukah keputusan yang kau berikan kepadaku?
Bukankah kau orang termasyhur di mana-mana,
seorang yang berhati mulia?
Tidak. Saya tidak akan pulang.
Saya akan tetap di sini bersamamu.
Biar saya kau hinakan. Biar saya kau pandang sebagai babu yang hina.
Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya.
Saya butuh dekat denganmu, Zainuddin.
Saya butuh dekat denganmu.
Tidak.
Pantang pisang berbuah dua kali.
Pantang pemuda makan sisa.
Kau harus pulang kembali ke Padang.
Biarkan saya dalam keadaan begini.
Jangan mau ditumpang hidup saya, orang tidak tentu asal.
Negeri Minangkabau beradat.
Besok hari Senin, ada kapal berangkat dari Surabaya
menuju Tanjung Priok, terus ke Padang.
Kapal Van der Wijck.
Kau menumpanglah dengan kapal itu pulang ke kampungmu.
Saya...
Untuk belanja pulang.
-Saya... -Bang Muluk akan mengurus semuanya.
Saya tidak bisa mengantar.
Saya harus pergi ke Malang, menginap di sana. Ada urusan.
Kalau kau sudah sampai di kampung,
sampaikan salamku untuk Engku Datuk.
BERANI MELAWAN BAHAYA
Bang Muluk.
Berdebar jantungku.
Hatiku seakan menolak melihat kapal ini.
Kakiku seakan terpaku di bumi.
Mengapa saya, Bang Muluk?
Seakan orang yang akan karam masuk ke laut rasanya
dan tidak akan timbul lagi.
Tenang saja. Itu hanya perasaan Encik saja.
Mari, Encik.
Ayo, Encik.
PAS NAIK
TIKET PENUMPANG KAPAL: HAYATI
Kalau Zainuddin menanyakan gambar ini,
tolong bilang saya minta untuk teman saya seumur hidup.
Kenapa gambar itu
tidak dimasukkan ke koper?
Supaya mudah bila ingin melihat.
Agar Zainuddin menemani saya dalam perjalanan.
Sebenarnya hatiku tak bisa melepas Encik.
Berlayar seorang diri.
Tidak apa, Bang Muluk.
Sampai hati betul Zainuddin menyuruhku pulang.
Kuatkan hatimu, Encik. Jangan lupakan Tuhan
Insyaallah kita pasti dalam lindungan-Nya.
Insyaallah, Bang Muluk.
Selamat jalan. Selamat berlayar.
Bang Muluk, tolong sampaikan suratku ini untuk Engku Zainuddin.
Katakan pula kepadanya
sampai kepada saat akan berpisah itu,
Hayati masih ingat padanya.
Baiklah, Encik.
Bang Muluk, terus terang kukatakan
bahwa hatiku berperang sangat hebatnya
sejak akan melepas Hayati pergi.
Saya menyesal melepasnya pergi.
Cintaku pada Hayati masih belum hilang.
Engku, aku tak mengerti perangaimu.
Selama ini kau meratap, bersedih mengenang Hayati.
Sekarang setelah diluangkan Tuhan
kesempatan antara Engku dan dia,
kau hukum dia dengan satu hukuman. Dan aku heran
hukuman itu keluar dari mulut laki-laki mulia dan berbudi seperti Engku.
Jangan marah jika kubilang perangaimu serupa anak-anak.
Ya, Bang Muluk. Saya sudah salah.
Hati dan dendam saya dahulukan daripada ketenteraman cinta.
Saat akan pergi, Encik Hayati menitipkan surat.
Encik Hayati bilang sampai saat akan berpisah,
dia masih ingat Engku.
Pergantungan jiwaku, Zainuddin.
Sungguh besar sekali harapanku untuk bisa hidup di dekatmu.
Supaya mimpi yang telah kau rekatkan sekian lamanya
bisa nyata.
Supaya dapat segala kesalahan yang besar-besar
yang telah kuperbuat terhadap dirimu, saya tebusi.
Tetapi cita-citaku itu
tinggal selamanya menjadi cita-cita
sebab engkau sendiri yang menutup pintu di depanku.
Saya kau larang masuk.
Sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam,
kesakitan yang telah sekian lama bersarang di dalam hatimu.
Lantaran membalas dendam itu,
engkau ambil suatu keputusan yang maha kejam.
Engkau renggutkan tali pengharapanku,
padahal pada tali itu pula
pengharapanmu sendiri bergantung.
Sebab itu percayalah, Zainuddin,
bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang,
bukan ia menimpa celaka kepadaku saja.
Tetapi kepada kita berdua
karena saya tahu bahwa engkau masih tetap cinta kepadaku.
Zainuddin, kalau saya tak ada,
hidupmu tidak juga akan beruntung.
Percayalah
di dalam jiwaku,
ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya.
Dan kekayaan itu belum pernah kuberikan kepada orang lain,
walaupun kepada Aziz.
Kekayaan itu ialah kekayaan cinta.
Seandainya kau terima kembali kedatanganku,
saya tidak akan meminta balasan dari engkau.
Balasan yang aku harapkan dari cinta suciku
hanyalah dari Allah
supaya engkau diberi-Nya bahagia.
Balasan kedua yang saya harapkan
adalah supaya saya dapat selalu hidup di dekatmu
selamanya.
Zainuddin,
engkau akan beroleh perempuan yang masih suci batinnya,
suci jiwanya,
belum pernah disentuh orang lain.
Hatinya belum pernah dirampas orang,
yang tidak ada bedanya dengan permatamu yang hilang.
Dan dengan gadis Batipuh yang kau cintai dua tiga tahun yang lalu,
yang gambarnya tergantung di kamar tulismu.
Tetapi sungguh pun demikian pembalasanmu.
Kesalahanmu itu telah kumaafkan
sebabnya ialah lantaran
saya cinta akan engkau.
Dan karena saya tahu
engkau lakukan semua
lantaran cintamu kepadaku.
Saya akan pulang.
Hanya dua yang kutunggu di Batipuh.
Pertama
adalah kedatanganmu kembali untuk menjemputku.
Kedua,
menunggu maut datang
apabila kau tidak pernah datang kembali kepadaku
Hanya satu pengharapan yang penghabisan.
Heningkan hatimu kembali.
Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah.
Maafkan saya.
Cintai saya kembali.
Zainuddin, kaulah yang terpatri di dalam doaku.
Bila saya menghadap Tuhan di akhirat...
Kalau aku mati lebih dahulu daripadamu,
jangan kau berduka hati.
Melainkan sempurnakanlah permohonan doa kepada Tuhan.
Selamat tinggal, Zainuddin.
Selamat tinggal,
wahai orang yang kucintai di dunia ini.
Aku cinta akan dikau.
Semoga hati kita bersama dirahmati Tuhan.
Selamat tinggal, Zainuddin.
Aku cinta akan engkau.
Dan kalau kumati,
adalah kematianku
dalam mengenang engkau.
Bang Muluk.
-Ya? -Bang Muluk.
Ayo kita ke stasiun kereta,
cari tiket untuk nanti malam. Harus dapat.
Langsung saja beli dua tiket kembali ke Surabaya.
Hayati akan saya bawa.
Ayo, Engku. Semoga berhentilah kesedihanmu dengan Encik Hayati.
Biarlah rahmat Allah meliputi Engku dan Hayati.
Engku, ayo.
Bang Muluk, Hayati...
-Coba Bang Muluk ikut cari Hayati. -Baik.
Hayati.
Mbak, korban Van der Wijck dibawa ke mana?
Semua pasien ada di atas dan pasien yang baru datang berada di bangsal.
Terima kasih.
Bang Muluk, di dalam.
Hayati.
Engku! Encik Hayati.
Hayati.
Hayati.
-Suster, kau ke sana. -Dokter, bagaimana keadaannya?
Kondisinya parah. Kedua paru-parunya penuh dengan air
dan tulang rusuknya banyak yang patah.
Dia juga mengeluarkan banyak darah.
Kalau perlu, pakailah darahku sendiri untuk menolongnya.
Sayang, Pak, peralatan kami tidak memadai.
Kami sedang memesannya ke Surabaya
dan beberapa dokter pun sedang kemari untuk membantu.
Permisi.
Hayati.
Hayati.
Zainuddin...
Kaukah Zainuddin kekasihku?
Hayati, Allah rupanya tidak mengizinkan kita berpisah lagi.
Ini saya, Zainuddin, kekasihmu.
Kau akan sembuh. Kita akan pulang.
Kita pulang ke rumah kita di Surabaya.
Zainuddin...
Bang Muluk...
Surat...
Surat...
Sudah, Encik.
Hayati?
Hayati?
Zainuddin...
Kekasihku...
Aku butuh dekat dengan kau.
Aku tahu aku telah dekat...
Aku tahu...
Tidak, Hayati.
Kau akan sembuh. Sudah, jangan bicara lagi.
Kita pulang ke Surabaya.
Kita akan menikah. Kita hidup berdua.
Kebahagiaan cinta ada di depan kita.
Zainuddin, kekasihku...
Biarlah aku lihat
wajahmu untuk yang terakhir kalinya.
Tidak, Hayati. Tidak.
Sabar.
Sabar, Kekasihku.
Cahaya kematian telah terlihat di mukaku.
Jika
aku mati,
hatiku
bahagia.
Karena aku tahu
kau masih mencintaiku.
Hidupku hanya untukmu seorang, Hayati.
Aku pulang.
Bacakan...
Bacakan dua kalimat suci
di telingaku, Zainuddin.
Jangan kau pergi, Kekasihku. Saya perlu dekat kau.
-Jangan... -Bacakanlah.
Bacakan dua kalimat suci di telingaku.
Aku cinta akan engkau, Zainuddin.
Biar hati kita
dirahmati Tuhan.
Bacakanlah.
Sekali lagi.
Sekali lagi.
Engku.
Bang Muluk.
Aku akan menikah dengan Idah. Lamaranku diterima.
Aku akan jadi pengantin.
Alhamdulillah. Selamat, Bang Muluk.
Nanti akan bawa ibuku ke sini.
Aku tidak menyangka akan berani melamar.
Terima kasih, Engku.
Apa yang harus diterimakasihkan tentang Idah?
Terima kasih karena Engku-lah aku melihat,
merasa kisah Engku dan Encik Hayati
betapa Engku mencintainya.
Aku jadi sadar
bahwa betapa tidak ada kebahagiaan paling besar di dunia ini
selain kebahagiaan cinta.
Saya pun berterima kasih pada Bang Muluk.
Mungkin saya kehilangan Hayati,
tetapi selalu di saat kehilangan itu,
kau selalu ada sebagai sahabatku.
Sampai mati jadi sahabat.
Sampai mati jadi sahabat.
Semoga almarhumah tenang di alam sana.
Hayati.
Hayati masih hidup.
Dia masih hidup.
Engku, hentikanlah permainan kesedihan ini.
Yang berlalu biarlah berlalu.
Berhentilah bersedih dan merenung akan Encik Hayati.
-Almarhumah sudah tenang... -Hayati masih hidup, Bang Muluk.
Di sini.
Dia masih hidup di sini.
Bukuku yang terbaru.
Bersama kisahku dan Hayati di buku ini,
mudah-mudahan buku ini dibaca banyak orang
dan akan tercapai juga kemuliaan bangsaku.
Persatuan tanah airku.
Hilang segala kebencian dan perbedaan.
Tercapai keadilan dan bahagia.
Sempit rasanya rumah sebesar ini
jika hanya ada kita.
Lapangan perjuangan hidup masih luas.
Selamat pagi.
Selamat pagi, Idah.
Bang Muluk, sudah siap ke kantor?
Terima kasih.
Banyak orang berkata
ini adalah hikayat kisah sejati antara Zainuddin dan Hayati.
Tetapi bagiku sendiri,
ini adalah hikayat kebangkitan sejati
tentang anak manusia yang jatuh, tapi memilih untuk bangkit,
lalu dia jatuh lagi,
tapi dia memilih untuk terus bangkit lagi.
Walaupun berkali-kali jatuh,
Zainuddin memilih untuk terus hidup,
bangkit dari kesedihannya.
Kejatuhanmu bukanlah awal dari kesedihanmu,
tetapi awal dari kebangkitanmu.
Jangan pernah biarkan kesedihan dan kedukaan masuk ke dalam dirimu.
Dan Hayati akan selalu ada di sisi Zainuddin
selamanya.
Asalamualaikum.
Terjemahan subtitle oleh Putri Rachmadani
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.