Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kakek!
Kakek, cobalah ini.
Aku?
Ya, aku Dongil Lee.
Ayah, ini aku.
Kau salah nomor.
Ayah! Ayah!
Aku tidak punya anak sepertimu.
Ayah....
Anggur merah cocok sekali dengan keju.
Apa? Kenapa mati?
Berdasarkan UU Perlindungan Anak, untuk sore hari,...
...akses usia di bawah umur ke tempat permainan dilarang.
Terima kasih.
Sudah pukul 10:00.
Tapi aku menang.
Kau tidak mau ikut?
Hari ini?
Ya.
Baiklah.
Permisi.
Hei, berhenti di sana sebentar.
Bagus.
Aku?
Berapa usiamu?
Apa maslahnya?
Apa kau pergi sekolah hari ini?
Kenapa kau tidak sekolah?
Kenapa?
Tolong kartu identitasnya kalau kau bukan siswa.
Apa?
Dia adalah adikku.
--Benar tidak? -Apa...
Kau siapa?
Jawab aku, kau adalah remaja, benar?
Aku cuma siswa SMA.
Apa ini?
Kenapa? Aku masih punya waktu tersisa.
Kau tidak apa-apa?
Memangnya aku siapa?
Itu baru saudaraku!
Sudah selesai. Kau di mana sekarang?
-Masuklah. -Ya, aku masuk.
Aku tak suka gaya mereka.
Jadi berapa mereka membayarmu untuk per jam?
80 sen!
Saat warnet ditutup sementara selama sebulan,
pelanggan tetap akan kembali nanti.
Ada moralitas komersial.
Kenapa mereka membuka bisnis yang sama di depan tempat usahaku?
Bisakah kami pulang sekarang?
Baiklah. Aku juga akan pergi.
Kerja yang bagus.
Akan kuberi kalian gratis 3 jam di kunjungan kalian nanti.
-Ya. -Ya.
Jadi kita tidak bisa bekerja untuk sebulan?
Kenapa kita harus khawatirkan itu?
Ya. Apa rencana hari ini?
Aku telepon Gaeul?
Kenapa telepon dia?
Kau tidak ingin aku menelponnya?
Kapan kau memanggil dia dan mereka datang ke sini?
Aku yang menelepon Gaeul.
Kalau mereka? Entahlah.
Sayang.
-Enak? -Enak sekali.
Jaehoon! Aku mau itu.
Kau bercanda?
Biar aku bayar.
Bu, berapa harga yang itu?
3 dolar?
Ini.
Terima kasih.
-Ambillah. -Baik.
Tidak perlu dikembalikan, sungguh.
Bicaralah padanya dengan benar, bodoh!
Jangan seperti itu, kasihan dia.
Dasar bodoh, dia bisa meluruskan pinggang!
Jangan bilang begitu. Makan saja.
Aku ingin pergi ke pantai.
Apa hubungan pantai dengan ini?
Lihat itu.
Aku ingin pergi kesana! Laut!
-Kau mau ikut? -Ya.
Tubuh gadis itu luar biasa, benar?
Kau punya SIM?
Mari pergi ke sana. Bagaimana?
Tidak ada tempat seperti itu di Korea, Bung.
Kenyangnya.
Ayo pergi.
Tidak ada gadis seperti itu di Korea.
Baunya seperti daging.
Apa kau baru makan daging?
Ya.
Anakku.
Sebaiknya aku pergi ke AS
Berapa lama?
Kenapa kau bersikap seakan tidak akan pulang lagi?
Dua bulan.
Sementara itu kau tinggal saja di rumah kakekmu.
Mengapa? Aku bisa tinggal di sini.
-Kau tidak percaya padaku? -Ya, aku tidak bisa percaya.
Lagipula kau tidak melakukan apapun.
Aku sering diasingkan di sekolah.
Itu tidak bisa dielakkan lagi.
Jadi kau tidak perlu pergi.
Itu kesepakatan.
Pekerjaan ini bisa menyita hidupku.
Aku harus pergi.
Tidak perlu pergi.
Kau harus membawaku pergi atau biarkan aku di sini sendiri.
Kau tidak tahu aku benci pria tua keras kepala itu?
-Kau juga membenci kakek. -Aku tidak benci dia.
Siapa yang bilang begitu?
Lupakan saja. Aku mau tidur.
"Akan ada pemeriksaan rumah.
"Aku beritahu kata sandi pintu pada mereka."
Jadi, kau meninggalkan anakmu untuk seorang wanita?
Bukan meninggalkan. Ini konsinyasi.
Setelah dewasa kau akan mengerti pemikiranku juga.
Yang benar saja!
Jadi kapan kau akan pergi?
Minggu depan.
Ms. Park.
Kau sudah lama menunggu?
- Kau datang seperti ini? - Ya!
Aku datang naik sepeda jadi aku lapar sekali.
Mari kita makan.
Baik.
Lewat sini.
Silakan pilih produk yang diinginkan
Kakek, tolong pesan untuk kami juga.
Kami tidak punya kartu.
Aku akan menggantinya.
Aku ingin paket burger ayam.
Aku ingin bulgogi.
-Burger udang mozza? Itu baru. -Ya, benar.
-Persik mangga! -Persik mangga!
-Kita sehati! -Lalu kita makan apa?
Kakek!
Apa? Dia pasti tuli.
Kalian mengenalku?
Kenapa kalian panggil aku kakek?
Aku tahu kau bukan kakekku.
Celana apa itu? Kelihatannya lucu.
Ya ampun!
Ayo potret!
Biar aku saja.
Di sini berisik.
Ini tempat remaja-remaja berkumpul, kenapa kalian ada di sini?
Ini tidak buruk, kurasa aku jadi lebih muda.
Ny. Yang, kau mau minum apa?
Tidak, tidak perlu.
Ngomong-ngomong, apakalian sudah dengar?
Apa? Apa yang terjadi?
Kalian pasti tahu gang sempit itu,...
lalu di ujung gang sempit itu...
Telah terjadi sesuatu di sana.
Aku bisa jadi gila.
Mari kita bicara di luar.
Ya Tuhan, aku tidak suka tempat ini!
Tapi makanannya masih ada.
Apa kalian tahu?
Beberapa hari lalu, kalian tahu ibunya Jungsik?
Dia diculik oleh orang-orang jahat di gang sempit itu.
Dia memang pamerkan kalung dan cincin di tubuhnya.
Ya Tuhan, lalu bagaimana?
Untunglah dia segera dibawa ke rumah sakit.
Aku baru saja dari rumah sakit. Dia kelihatan amat shok.
Jadi kalau kita sudah tua,
kita harus melindungi diri sendiri.
Kita harus olahraga juga!
Ya, Tn. Lee.
Kau yang masih muda. Bokongmu kelihatan segar.
Apa? Apa yang kau lakukan?
Astaga.
Kau tak perlu khawatir.
Ada apa?
Halo.
Aku Jaehoon Lee.
Apa?
Sudah lama kita tidak bertemu.
Kurasa kau pasti salah paham, jadi aku sudah siapkan ini.
Kemudian...
Ini dia.
Ini aku.
Aku baru mendapatkan SIM sebulan yang lalu.
Silakan diperiksa.
Kemudian?
Aku tidak punya tempat tinggal.
Ayah pergi ke Amerika. Rumah saat ini sedang disewakan.
Ayah menyuruhku tinggal di sini selama dua bulan...
...lalu aku dapat rumah sendiri.
Siapa yang bilang seperti itu?
Ayahku adalah anakmu, jadi aku adalah cucumu.
Apa kau tahu sudah berapa lama aku dan ayahmu tidak bertemu?
Kurasa kamar ini kosong. Tempat tidurnya nyaman.
Boleh aku gunakan kamar ini?
Omong kosong!
Keluar!
Ini adalah rumahku. Keluarlah.
Kakek, aku tak bisa bahasa Inggris karena berhenti sekolah.
Keluar.
Cepat keluar.
Baik.
Aku harus coba tempat tidurnya.
Dasar anak tidak tahu malu.
Jadi kau tinggal bersama pak tua keras kepala?
Aku tidak mau membahasnya.
Astaga, aku hampir mendapatkannya!
Aku cuma lempar tasku dan pergi.
Bagaimana kalau kau diusir nanti?
Kau bilang ayahmu menyewakan rumahmu.
Itu yang kukatakan.
Apa aku harus bilang dia tak ada rencana membalas?
Hei, aku ambil ini.
Tapi luar biasa juga.
Aku tidak tahu ayahmu bisa melakukan hal seperti itu.
Itu benar-benar keren.
Dia tidak keren!
Tak kuduga ayahku mengkhianatiku seperti ini.
Ngomong-ngomong, apa ibu barumu cantik sekali?
Kau ingin kuhajar?
Ayo...
Berhasil!
Jaehoon!
-Aku ingin Pikachu! -Kenapa kau ke sini?
Kenapa? Aku ingin bertemu denganmu.
Bukankah sudah kularang menelpon dia?
-Apa? -Apa kau menyadapku?
Bukan, itu adalah pelacak lokasi.
-Jaehoon, aku ingin yang ini. -Jangan mengganggu.
Berhentilah menyombongkan diri, Bung!
Kau sudah pulang?
Apa ini?
Bagaimana kau bisa masuk?
Ya, kakek, ini luar biasa.
1101. Aku merasa terkejut.
Apa yang dibicarakan anak ini?
Pokoknya keluar!
Aku takkan tinggal bersamamu meskipun hanya sehari.
Aku tidak bisa pergi ke manapun, kenapa kau bicara seperti itu?
Bukankah ini hampir seperti penelantaran anak?
Kakek, kita harus ganti kata sandi kunci pintu.
-Apa? -Aku hanya gunakan
tanggal lahir ayah dan pintu bisa dibuka.
Tanggal ulang tahun siapa?
Ayah tidak pernah memakai tanggal lahirku sebagai kata sandi.
Dia mengubah kata sandi setiap kali ganti pacar.
Sudahlah, ayo ubah kata sandi dengan tanggal lahirku, ya?
Kau pikir kau dekat denganku?
Aku rasa tidak.
Apa itu?
Kau harus mematuhi peraturanku.
Kita ini keluarga. Peraturan macam apa?
Peraturan nomor satu.
Kau harus bangun pukul 08:00.
Lalu kau siapkan sarapan.
Meskipun sudah malam sekarang, penuhi tugasmu sekarang juga!
Apa? Apa maksudnya?
Aku harus memasak?
Peraturan nomor dua.
Tidak ada makanan gratis.
Kau harus cari uang sakumu sendiri.
Tidak, ayah bilang akan mengirim semua biaya hidupku padamu.
Itu adalah uang ayahmu.
Kau juga tidak sekolah.
Memangnya kau itu pelajar?
Jika tak mau cari uang, sebaiknya kau sekolah!
Aku ini dikucilkan, apa kau tahu?
Kau mau buat aku lebih sedih lagi?
Peraturan nomor tiga.
Bedebah tua, pria tua.
Jangan gunakan kata-kata itu.
Astaga!
Apa yang harus aku lakukan?
Mudah saja.
Jika tidak suka, pergilah.
Setuju?
Kau kejam sekali.
Setuju!
Setuju!
Aku akan keluar sebentar.
Mau pergi ke mana malam-malam begini?
-Aku takkan biarkan kau pergi... -Sampai nanti.
Anak ini...
-Jadi kau baik-baik saja? -Apa?
Aku sangat mengkhawtirkanmu.
Jika kau lelah, bagaimana kalau sauna kering?
Untuk menyegarkan diri kita?
-Sekalah mulutmu. -Apa harus kulakukan?
Dia amat keras kepala, tapi aku bisa bertahan.
Tunggu di sini.
Apa itu?
Kau harus memasaknya besok.
Aku suka sekali sosis sebagai tambahan.
Lezat sekali
Astaga.
Lezat.
-Aku pergi. -Baiklah.
Sampai jumpa.
Nenek!
Ini aku, cucumu!
-Nenek, kenapa melakukan ini? -Tidak, lepaskan aku.
-Apa ini? -Mari kita pergi.
Jaehoon! Kau di mana? Bisakah kau datang kesini?
Aku ada di tempat Karaoke.
Ini pukul 22:00. Kenapa kau masih di luar?
Mengapa? Ini baru pukul 10:00.
Kau di mana?
Aku punya jam malam, sebaiknya aku pulang.
Selamat mencoba.
Jadi kau sebut ini makanan?
Kau tidak tahu "Brunch"?
Ini adalah yang terbaik.
Jadi kau tidur larut malam setiap harinya?
Aku tidur lebih awal semalam.
Pukul 02:00 bukan lebih awal.
Baik.
Aku duluan.
Biarkan saja piring kosongnya di meja.
Aku punya jadwal mulai saat ini.
Kau harus lakukan pekerjaanmu. Jangan sampai terlambat.
Karena kalau tidak sekolah, kau harus cari uang!
Dia mengomel lagi.
Di mana aku bisa dapatkan uang secara serius?
Toko, restoran, pompa bensin dan lainnya.
Banyak sekali tempat untukmu bekerja di mana saja.
Baiklah, Pak.
Aku ingin tahu apa yang kau lakukan saat pagi.
-Berikan padaku. -Astaga..
Aku hanya minum 'Gatorade'.
-Sudah terjadi sesuatu? -belum.
-Kau menghadapinya dengan baik. -Itulah diriku, Bung.
Jangan bicara.
Sifat Pak Tua itu sangat mengerikan. Sungguh.
Dia hanya bisa membuatku marah.
Benarkah? Apa yang akan kau lakukan?
Aku harus bertahan dua bulan saja.
Dia menyuruhku menghasilkan uang.
Jadi kabar dia itu kaya tidak benar?
Tidak.
Karena tidak sekolah, aku harus bekerja pekerjaan paruh waktu.
Astaga!
Kau kenapa?
Mari kita makan. Gaeul akan datang.
Jadi kau yang siapkan sarapan?
Ya, seperti perintahnya.
Tapi hanya ada satu telur tersisa.
Jadi hanya itu yang kumasak.
Bau telurnya seperti kotoran. Sepertinya sudah busuk, benar?
Bau telur biasanya busuk, kan?
Tolong jangan ucapkan kotoran.
Jadi bagaimana dengan kondisimu?
Aku seperti sekarat.
Aku sangat shok.
Tentu saja kau merasa shok, bisa saja jadi lebih buruk.
Tunggu dulu.
Di sini lebih lama saja.
Kalian semua harus berhati-hati.
Salah satu dari mereka tidak tinggi.
Dia pendek.
Astaga, dia ganggu wanita tua hanya untuk kesenangan?
Ya, sangat mengerikan.
Jadi bagaimana dengan wajahnya? Apa kau lihat wajahnya?
Bagaimana cara dia melihat wajahnya?
Dia tidak akan sanggup melihat wajahnya di situasi itu.
Aku melihat wajahnya.
Kau sedang apa di jam segini? Apa kau tidak bisa tidur?
Apa yang sedang kau lakukan?
Aku tidak melakukan apa-apa.
Kalau begitu, kemarilah.
Aku buka cabang cafe secara online.
Cafe online?
Aku ingin ada musiknya dan penampilannya terlihat keren,...
...tapi aku tak tahu cara mengoperasikannya.
Gayamu tidak bisa diadaptasi olehku.
Apa nama cafe online-mu?
"Orang-orang bersayap perak".
Aku naik sepeda.
Kau tahu cara bersenang-senang.
Apa kau bisa buat ini terlihat keren dan hebat?
Aku? Kenapa aku?
Terakhir kali kau bilang kita adalah keluarga.
Aku akan buat sarapan besok.
Mungkin itu tidak akan buat aku puas.
-Jika setiap sarapan satu minggu? -Tidak!
Hanya tiga hari saja.
Tapi, kau tahu tidak?
Aku makan sarapan buatanmu dan...
Apa kau bisa mengunggah gambar juga?
Carry cur, yang seperti itu?
Apa? Carrycus?
Kau tahu, lukisan yang berubah seperti foto asli?
Lukisan? Siapa yang akan melukisnya?
Jika kau tidak bisa melakukannya,...
unggah saja beberapa foto yang bagus dan rapi.
Foto?
Dimana aku bisa memindainya?
Aku akan lakukan sendiri jika aku tahu caranya!
Ada-ada saja!
Aku salah karena percaya padamu.
Ternyata dia lumayan juga.
Aku melihat ada bakat seni.
Aku ingin mengunggah sketsa montase seorang penjahat.
Yang seperti tanda "Mencari Saksi" atau "Dicari".
Pintu terbuka di lantai pertama
Apa kau tak pernah berpikir topi itu terlihat kuno?
Apa? Kuno?
Mode adalah siklus!
Menurutku kau harus ganti topimu juga!
Topi ini adalah penekanan busanaku.
Itu ketidakseimbangan.
Remaja tidak mengerti fesyen!
Tidak seimbang?
Kakek! Apa yang tidak seimbang?
Topi? Mode?
Jaehoon!
Kenapa kau ke sini?
Aku datang untuk menemui Yoonsung.
Di sini?
-Astaga. -Hai, teman-teman.
-Apa kabar? -Gaeul, apa kabar?
-Apa kabar! -Jadi bagaimana?
Apa rencanamu hari ini?
-Aku lapar, mari kita makan. -Aku juga.
-Kita makan apa? -Apa?
Aku bawa mobil kakek.
-Benarkah? -Itu mengagumkan!
-Benarkah? -Naiklah.
Ini mengagumkan.
Tunggu sebentar.
-Ya, aku sekarang di luar. -Ayo cepat masuk!
Tidak.
-Apa ini? -Berikan padaku.
Kau seperti aktor film.
Aktor itu. Ha Jungwoo dari film "Assassination".
Biar kucoba topinya.
Lagipula kelihatannya tidak cocok dengan pakaianmu.
Unbalance adalah penekanan utama mode, kau tahu?
Ketidakseimbangan apa? Omong kosong!
Apa kegiatanmu belakangan ini? Aku jarang bertemu denganmu.
Aku pergi agar kalian berdua bisa berkencan.
Pemikiran yang bagus.
Apa bensinnya cukup? Akan kubelikan untukmu.
-Kau bahkan tak punya uang. -Ya.
Tak punya uang? Lebih tepatnya kantung kosong.
Aku belum pernah melihatmu mentraktir.
Kau tidak perlu perduli denganku, Nak.
Mengerti, anak kecil?
Sayang!
Nama kafe kita adalah "Orang-orang bersayap perak".
Bagaimana kedengarannya? Apa semuanya senang?
Apa kau menyukainya?
Ya!
Berhenti mengejarku. Ini merepotkan.
Sungguh.
Kau mengejarku hari ini.
-Ini kristal, sungguh. Sini. -Apa itu?
Jaehoon! Cepat kemari!
Cepat!
-Ayo! -Cepat!
Ada tempat?
Tidak ada tempat di sini. Pergi ke sana saja.
Tidak ada tempat untuk parkir.
-Kalau yang di depan? -Ayo kita lihat.
-Maju dulu. Sepertinya kosong. -Ya.
Hari terasa lama saat parkir.
- Apa tidak kosong ada -Ada tempat kosong di sini.
Sungguh.
-Bagus, Bung. -Aku sudah bilang, Geul.
Ayo mundur.
Ada apa?
-Apa kau menabraknya? -Astaga, tidak!
Jaehoon! Ayo parkir di tempat lain.
Tunggu sebentar.
Bagaimana ini?
Mobilnya tergores?
Astaga. Aku harus bagaimana?
-Apa mobilnya tergores? -Diamlah! Astaga!
Ayo masuk dulu.
Mengapa? Ada apa?
Kenapa kita berjalan membelakangi lift?
Untuk periksa apa ada kamera keamanan di sekitar sini.
Kamera keamanan.
Lee Jaehoon!
Apa yang kalian lakukan di sini?
Kakek.
Teman-teman, ini adalah kakekku.
Hello! aku Sim Ga Eul.
Siapa namamu?
Aku?
Halo. aku Kim Yoonsung.
Salah satu dari mereka tidak tinggi. Dia pendek.
Dia tidak memakai kacamata...
...dan di lengannya ada noda hitam atau memar.
Dia tampak agak kaku dan bodoh.
Kalian pulanglah lebih cepat.
Sampai jumpa!
Kenapa kau tersenyum?
Jadi aku harus menangis?
Sebenarnya kau pergi kemana?
Apa rencana masa depanmu?
Kenapa bilang begitu lagi padaku? Seperti bustard.
Bustard?
Bustard!
Bisakah kau setidaknya berpikir saat hidup kecuali kau bukan manusia?
Aku juga berpikir. Aku tidak hidup tanpa berpikir.
Kau pasti berpikir mudah untuk hidup tanpa berpikir.
Apa kau punya rencana?
Aku bisa apa dengan rencana?
Orang bilang itu omong kosong dan abaikan soal rencana.
Kau ingin menjadi apa?
Seorang penulis.
Seorang penulis?
Coba lihat, kau juga menertawakanku!
Aku ingin jadi penulis komik website.
Apa kau tahu komik website itu apa?
Apa? Web apa?
Coba lihat. Kau tidak tahu!
Tapi dia tidak lihat goresannya?
Kalau dia tahu, dia pasti tahu sebelumnya.
Bedebah tua itu tidak perduli denganku dan mobilnya.
Kalau begitu, bisa kita pergi ke Chuncheon nanti?
Ayam tumis pedasnya paling enak di sana.
Ya, diamlah.
Anak kucing konyol.
Ya,
Ini aku.
Dimana?
Aku tahu ini tidak benar, aku akan tutup.
Penipuan belakangan ini sangat terobsesi, ya?
Coba lihat ini. Kau bisa dengar aku?
Aku akan traktir kau ramen.
Tunggu sebentar!
Aku benar-benar minta maaf, tapi aku minta maaf. Ya?
Apa maksudmu pergi? Bisanya kau pergi sekarang?
-Sebentar saja, jangan pergi. -Maaf. Aku harus pergi.
Kau benar-benar tak setia!
Pergi saja.
Pergi!
Maaf!
Halo, siswa.
Jadi, mengapa kau melakukannya?
Aku bukan siswa dan aku tidak melakukannya juga.
Aku berniat membiarkanmu pergi, tapi tidak lagi.
Itu bukan aku.
Apa kau memiliki bukti?
Kejadian ini direkam sepenuhnya oleh kamera bemper mobil...
...dan kau mau terus berbohong?
Tak ada langkah tepat setelah itu. Namanya melarikan diri.
Apa kau tahu betapa sedihnya si korban?
Ini takkan lebih buruk jika kau minta maaf...
...dan negosiasikan kesepakatan untuk korban sebelumnya.
Boleh ku negosiasi kesepakatannya sekarang?
Korban sudah tersinggung. Bagaimana jika kau jadi korban?
Jaehoon!
Tidak jadi masalah. Pergilah.
Kau benar-benar tidak setia.
Aku sangat menyesalinya.
Sebelumnya aku sibuk.
Pergilah.
Bagaimana hasilnya?
Selesai dengan kesepakatan.
Berapa uang kesepakatannya?
Aku benar-benar minta maaf, aku harus pergi sekarang.
Untuk uang kesepakatan itu, kau tidak perlu khwatir.
Aku akan berikan lagi nanti.
Maaf, aku buru-buru. Maaf.
Kau mau pergi kemana lagi?
Memangnya aku pengemis?
Apa kabar, Pak!
Kau siapa?
Ini aku. apa kau tidak ingat aku?
Senang sekali bisa bertemu lagi denganmu, benar tidak?
Senang bertemu denganmu.
Tuan? Apa kau tidak tahu aku?
Aku?
Tentu tidak karena aku tidak kenal kau juga.
Jadi kau paham apa yang terjadi sekarang, ya?
Jangan seperti ini walaupun dalam masa sulit, anak muda.
Tadi aku mau bersikap agak murah hati padamu,...
...tapi, kau sudah tua. Bicara dengan baik, mengerti?
Uang bukanlah masalah, anak-anak!
Yang benar saja!
Bedebah ini. Kau bicara lerlalu kasar.
Kakek! Berikan uangnya.
Aku tidak akan berikan sesen pun!!
Aku tidak akan pulang.
Jadi aku keluar sekarang?
Baik.
Sebentar lagi aku akan pulang, tapi...
Aku pergi sekarang?
Apa maksudmu?
Pertama-tama, aku akan pulang di saat kakek sedang tidur.
Jadi kapan kau akan pulang?
Aku harus berada di kamarku sebelum pukul 23:00.
Aku rasa waktuku masih 30 menit lagi.
Jadi aku pergi sekarang?
Tidak perlu!
Aku terus ditelepon oleh orang yang tidak kukenal.
Tutup dulu teleponnya.
Ini siapa?
Ya, aku orangnya, kau siapa?
Ya.
Insiden yang sama terjadi sangat sering di kota ini.
Kami mencoba sebaik mungkin untuk menegakkan...
Hei, bodoh!
Maafkan aku.
Kami mencoba sebaik mungkin untuk menegakkan...
Aku turut sedih untukmu juga.
Aku tahu kau merasa sangat tidak nyaman,...
...tapi tolong perhatikan dengan jeli sketsa para penjahat ini.
Kau juga lihat, sepertinya mereka seumuranmu.
Segera laporkan pada kami kalau kau melihat mereka.
Aku mengerti, pokoknya segera tangkap mereka.
Kakek!
Kau buat aku malu saja.
Tenanglah. Mereka akan menangkap pelakunya.
Ya. Kami akan tangkap mereka dan kalian tidak perlu khawatir.
Ngomong-ngomong, kakekmu merasa shok.
Jaehoon.
Di mana Yoonsung?
Aku juga tidak tahu.
Aku tidak tahu kenapa dia begitu. Dia sering menghilang.
Jaehoon, kau punya cermin?
Kenapa cari cermin di sini?
Kurasa lensa kontakku jatuh.
Halo.
Tn. Lee.
Aku masih baik-baik saja sebagai seorang pria.
Benar-benar melegakan!
Sungguh, kenapa dunia ini keras sekali?
Tidak apa-apa.
Apa gunanya latihan?
Kita cuma orang tua. Reaksi kita jadi semakin buruk!
Kita juga disarankan untuk tidak mengemudi!
-Ada dua orang, jadi... -Ya, tentu saja.
Untunglah hanya luka ringan.
Ngomong-ngomong, yang baru pergi itu cucumu?
Dia sama sekali tidak mirip denganmu.
Ayahnya pasti sangat tampan, anaknya saja sangat tampan.
Dia mirip sekali denganku.
Ya, itu betul.
-Bentuk matanya... -Di mana? Sama sekali tidak.
Jadi, apa kau melihat wajah pelakunya?
Halo.
Aku akan segera keluar.
Aku akan pulang larut juga.
Kau mau bertemu seseorang?
Aku masih belum bisa bergerak dengan bebas seperti sebelumnya.
Tapi kau kelihatan baik-baik saja.
Kau bertemu dengan pemuda itu lagi?
Pemuda yang namanya Yooseok?
Sekarang kau ikut campur urusan pribadiku?
Lagipula siapa Yooseok itu?
Pemuda yang punya tompel hitam di lengannya.
Yang kelihatan bodoh.
Oh, Yoonsung?
Benar, dia terlihat bodoh.
Tapi apa dia punya tompel di tangannya?
Jangan terlalu percaya pada teman-temanmu.
Kau mungkin merasa teman adalah segalanya,...
tapi ada orang-orang yang tidak perlu kau temui juga.
Aku tidak suka dengan ekspresinya.
Apa maksudmu? Kenapa?
Dia bahkan tidak sekolah, benar?
Apa buruknya kalau tidak sekolah?
Cucumu juga tidak sekolah!
Aku bukan orang jahat!
Pak tua ini keras kepala sekali.
Bedebah tua selalu bicara dengan keras kepala.
-Sungguh. -Bedebah?
Aku sudah melarangmu menyebutku bedebah, bukan?
Dan kau!
Aku sudah menyuruhmu melakukan perbuatan baik, benar?
Apa lagi?
Apa kesalahanku?
Bertemanlah dengan orang-orang yang benar.
Sekarang kau ingin mengatur dengan siapa aku berteman?
Dia adalah sahabatku, paham?
Jadi tolong jangan seperti ini.
Aku tak mau bertemu kau lagi kalau kau bicara lagi!
Kau anggap pencuri sebagai teman!
Aku lihat tompel hitam di lengannya.
Dia adalah perampok!
Yang benar saja! Siapa yang kau maksud?
Dia tidak begitu!
Aku benar-benar minta maaf, tapi aku harus pergi. Maaf, ya?
Untuk uang kesepakatan itu, aku akan membantumu.
Maaf, aku sedang buru-buru. Maaf!
Silahkan hubungi lagi...
Anak ini benar-benar konyol.
Kenapa dia tidak jawab telepon?
Apa itu dia?
Astaga...
Apa kau tidak ingin bekerja?
Mengapa?
Dia mau berhenti bekerja.
Pak, kau minta aku bekerja di sini?
-Aku sibuk. -Aku tak bisa larang dia berhenti.
Kumohon bantu aku.
Hanya sampai aku dapat pegawai baru.
Aku masih tidak ingin.
Aku dapat uang makan?
Ya.
Bagaimana dengan tempat tidur?
Tentu.
Ini melelahkan.
Apa?
Kau siapa?
Mengapa kau di sini?
Aku cari uang untukmu setelah kau membeli mobil.
Kau tidak akan bisa mencari uang...
...karena kau tidak punya pengalaman apa pun.
Kenapa kau tidak jawab teleponnya?
Aku mungkin ingin bermain.
Aku mungkin ingin menemuimu.
Apa kau tahu betapa sulit mencegah itu?
Rasa lapar dan...
Aku lapar sekali.
Itu dia orangnya.
-Astaga. -Mereka tidak beri aku makan.
Jadi kakekmu mencurigaiku sebagai penjahat?
Tidak hanya mencurigai. Hanya menduga.
Benarkah? Bagaimana aku bisa jadi penjahat?
Wah, itu keterlaluan.
Aku juga agak mencurigaimu.
Apa?
Apa kau benar-benar kabur dari rumah?
Aku benar-benar malu.
Aku sangat malu, sungguh! Apa kesalahanku?
Tapi aku rasa dia juga akan malu.
Apa? Mengapa?
Ayo kita tangkap mereka.
Apa, caranya? Siapa?
Aku juga merasa malu.
Orang-orang itu, aku yang akan tangkap mereka.
Membalas dendammu dan kakek. Akku akan lakukan semuanya!
Ini baru sahabatku, kawan!
Lepaskan aku dulu.
Apa ini? Tompel?
Sakit! Astaga.
Ini memar, bukan tompel!
Temanmu terluka karenamu, mengerti?
Bentuk telinganya seperti ini.
Bentuk bibirnya juga seperti ini.
Ya, itu benar.
Matanya?
Seberapa besar tubuhnya?
Aku pernah melihat pria ini sebelumnya.
Dalam komik?
Dia punya tompel di lengannya.
Apa aku harus menggambar lengannya juga?
Di lengannya ada tompel?
Yang besar?
Aku tahu orang itu.
Siapa?
-Apa ku yakin dia di sini? -Aku yakin.
Lalu kenapa kau sering pergi ke warnet?
Harganya masih 80 sen.
Dasar pengkhianat.
-Aku harus buang air kecil. -Apa?
Pasti karena aku gugup.
Kalau begitu cepat pergi.
Tunggu, ini dia.
Aku tidak tahan lagi!
-Rasanya enak sekali. -Dia datang!
Benarkah?
Tapi mengapa kita bersembunyi?
Aku tidak tahu.
Aku yakin pria itu adalah perampokny.
Untuk itu aku tidak yakin.
Tapi bukan dia yang punya tompel.
Lalu siapa orangnya?
Tunggu saja. Dia akan segera muncul.
Pria itu datang!
-Dia datang? -Kita lihat sekali lagi.
Aku yakin dia orangnya.
-Apa yang harus kita lakukan? -Kita buntuti mereka.
-Ayo. -Kau duluan.
-Astaga, ayo bersama-sama. -Aku ikut.
-Ayo sembunyi. -Ada apa?
Aku rasa ini saatnya. Ayo kita tangkap basah mereka.
Kenapa kita yang melakukannya?
Aku akan menangkap mereka.
-Caranya? Kau saja kalah dariku. -Kau ini...
Kau mau biarkan mereka? Kakekku hampir tewas.
Tidak, tapi kita bisa panggil polisi, bukan?
Lalu bagaimana dengan ibu itu?
Ayo.
Hei, Bung!
Astaga, panggil polisi saja!
Nyonya.
Kau tidak kenal aku?
Dia tidak tahu.
Nyonya.
Memberikan cincin, kalung dan dompetmu kepada kami.
Kumohon jangan.
Berikan pada kami dan aku akan biarkan kau pergi.
Ini masalahnya generasi tua, tidak ada yang penurut.
-Kau siapa? -Aku?
Aku adalah cucu dari pria yang kalian rampok!
Dan orang ini!
Apa?
Bangunlah, cepat.
Hei, tunggu sebentar.
Kau temannya anak bodoh dari warnet itu?
Apa? Apa kau mengenalnya?
Dia anak yang bekerja paruh waktu.
Kau saja yang urus dia.
Astaga, ini merepotkan.
Ayo, cepat hajar dia!
Baiklah. Hei.
Lepaskan.
-Cepat berhenti! -Nyonya...
Bedebah kalian!
Jaehoon!
Lee Jaehoon?
Ya.
Bagus sekali, kerja yang bagus.
Ngomong-ngomong,...
...kau dapat pemberitahuan karena insiden lalu lintas itu.
Bagaimana proses konsultasi dengan korbannya?
Itu...
-Aku tidak tahu caranya, jadi... -Jadi kau tidak tahu caranya?
Maafkan aku.
Kakekmu langsung menyelesaikan masalah ini setelah kecelakaan.
Tidak ada masalah karena asuransi.
Tapi, sebaiknya kau jalankan tanggung jawabmu...
...dan minta maaf pada korban atas kecelakaan itu.
Jangan berpura-pura tidak tahu, kau mengerti?
Ini dia.
Nomor telepon korban.
Telepon dia dan minta maaf dengan sopan padanya.
Kakekmu secara khusus minta aku memarahimu.
Satu lagi.
Ini dia.
Aku menemukan ini di TKP, ini adalah milik kakekmu.
Ini adalah hadiah khusus untukmu, karena kami memiliki cukup bukti.
Kami menemukan tablet, tapi tak bisa menemukan penanya.
Kakekmu memegangnya erat-erat saat dia dirampok.
Dia itu kuat, apa dia sering olahraga?
Hari itu dia membeli ini?
Entahlah, tapi benda itu ditemukan di TKP.
Tebakan yang bagus.
Perlakukan kakekmu dengan baik.
Apa?
Jika tidak suka, keluar!
Paham?
Saat itu kau bilang kita adalah keluarga!
Kalian segera pulang.
Benarkah, Kek?
Pulanglah lebih cepat.
Ya, Pak!
Perjalanannya lama sehingga menitipkan anakku padamu.
Maafkan aku.
Aku tidak perlu memaafkanmu.
Bawa dia pergi sekarang.
Apa? Memangnya aku barang?
Kenapa suasananya seperti ini?
Jadi, aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian.
Kakek tidak menyukai karya ibuku.
Jadi ayah tidak menyukai kakek.
Tapi...
...sebuah nyawa tumbuh dalam diri ibuku.
Ayah.
Waktu pun berlalu dengan saling membenci.
Membangun celah kecil di antara mereka bedua.
Perasaaan sakit hati perlahan mulai menghilang.
Memori satu sama lain terus berulang.
Jika mereka tidak mengerti...
...salah pengertian takkan selesai, meskipun waktu berlalu.
Mereka menunggu satu sama lain...
...dan ingin berbicara.
Tapi, mereka hanya menunggu.
Nasinya.
Jadi mereka pura-pura tidak perduli...
...dan kehilangan satu sama lain,...
...seperti,...
...seperti sampul lama buku tua.
Aku pergi.
Apa kau tahu ...
...hal yang paling menyedihkan yang aku rasakan?
Ketika aku lari dari rumah?
Tidak.
Karena aku tidak menelponmu ketika Jaehoon lahir?
Tidak satupun dari itu.
Aku pasti sudah melakukan banyak kesalahan padamu.
Lalu apa, Ayah?
Kau tidak datang saat ibumu pingsan.
Kau masih ingat, bukan?
Tidak. Aku selalu datang.
Sebelum ibumu dioperasi.
Kau sama sekali tidak datang.
Saat sendirian berada di depan ruang operasi,...
...aku sangat ketakutan.
Pria pemberani sepertimu merasa ketakutan?
Bukan masalah berani atau tidak. Semua sama saja!
Jika berada di hadapan orang yang kita cintai.
Ibunya Jaehoon.
Aku tidak menentang dia seperti itu.
Aku sangat menyesali semua itu, Ayah.
Aku juga tidak bersikap baik.
Baiklah kalau begitu!
Aku akan traktir kalian. Mari kita rayakan ini!
-Kau ini... -Baiklah kalau begitu.
Aku juga akan mengemudi.
Bukankah kita harus minum sampanye juga?
Kenapa kau masih sendirian...
...bahkan setelah kau pergi ke AS?
Aku butuh waktu untuk berpikir dulu.
Ada apa? Kau diputuskan?
Aku tidak diputuskan!
Lalu? Kau yang putuskan dia?
Tidak begitu.
Dasar anak konyol!
Cobalah untuk hidup sendiri!
Ayah, aku adalah pria yang punya banyak cinta,...
...jadi sulit untukku tetap melajang.
Jaehoon!
Siapa yang menyuruh dia ke sini?
Aku.
Astaga.
Kau ayah yang hebat!
Hentikan. Mari makan.
Bagaimana dengan yang gosong?
Kau bilang ayahmu mau pergi kemana kali ini?
Jepang.
Dia akan pergi ke Jepang.
Dia tidak punya pendirian.
Kakek.
Aku lebih baik dari ayahku, bukan?
Bagaimana pun juga dia anakku.
Apa kau mau memihak dia?
Aku hanya bicara.
Kakek.
Bagaimana jika kita berdua pergi?
Aku suka bepergian.
Tapi biaya perjalanan harus dibagi dua dengan adil.
Itu terlalu banyak!
Tujuh banding tiga!
-Siapa yang tujuh? -Apa?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.