Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
-=Son Ye Jin=-
-=Kim Nam Gil=-
-=Yoo Hae Jin=- -=Kim Won Hae=-
-=Park Cheol Min=- -=Jo Dal Hwan=-
-=Lee Kyeong Yeong=- -=Oh Dal Soo=-
-=Kim Tae Woo=- -=Sin Jeong Geun=-
-=Seol Ri=- -=Lee I Kyeong=-
-=Jo Hee Bong=- -=Jeong Seong Hwa=-
-=Sutradara: Lee Seok Hoon=-
-=Bajak Laut: Bandit yang berlayar di lautan=-
-=Tahun 1388, Sungai Yalu, hulu sungai Wihwado=-
Hyeongnim!
Kali ini harus bicarakan dengan ketua dengan baik-baik.
Harus memberi sedikit imbalan kepada anggota-anggota kita.
Joong Geun sudah punya anak.
Kau dengar baik-baik!
Kita adalah pelopor.
Tidak lama lagi kita akan bisa menikmati hidup yang dipenuhi kemewahan.
Tidak peduli apapun yang terjadi,
percayalah padaku. Ikutlah denganku.
Sudah dengar, kan? Semuanya akan membaik.
Besok begitu fajar menjelang, kita akan kembali ke barak.
Siap!
Goryeo...
Bukankah katanya kita adalah pelopor?
Jenderal, sudah siap?
Siap!
Sebagai pelopor, saya akan berusaha sekuat tenaga.
Bukankah ini adalah reaksi yang berlawanan?
Hari ini Wihwado kembali ke militer, akan membuka sebuah sejarah baru.
Membuktikan kebesaran--
- Tutup mulutmu! - Tidak apa-apa.
Jalan ke depan butuh saling bahu-membahu.
Baiklah, coba utarakan!
Ryo Dong sudah terlihat di depan mata. Kenapa tidak bertempur?
Kau belum pernah dengar?
Jika kita tidak menarik kembali pasukan kita,
Pertama, sungai yang banjir akan sulit diarungi.
Kedua, pada saat hujan, susah menggunakan panah.
Ketiga, pasokan bantuan jauh.
Dalam menghadapi dilema seperti ini...
Iya, iya, iya.
Keempat, sebuah negara kecil bertempur melawan negara besar bertentangan dengan undang-undang moral.
Maaf?
Memangnya sebuah perperangan harus disesuaikan dengan undang-undang moral?
Kasihan sekali. Kalau begitu kita serang setelah memberi upeti besar saja.
Sa Jeong!
Ini bukanlah sesuatu yang dapat dipahami oleh seorang kepala prajurit sepertimu.
Tapi ini sama sekali tidak masuk akal, Hyeongnim!
Perang kok gara-gara hujan jadi batal?
Air sungai yang meluap, gagal perang. Tidak sesuai dengan undang-undang moral, gagal perang.
Jadi kalau memberontak itu sesuai dengan undang-undang moral?
Gunakan kesempatan saat kekuasaan militer berada di tangan, habiskan seluruh negara
dan bagi teritorinya. Bukankah ini artinya?
Mo Heung Gap!
Aku terlalu percaya padamu, bukan?
Perbuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan memecah belah negara dan menikmati hidup bergelimang harta,
aku lebih memilih menjadi seorang bandit.
Hyeongnim, ayo kita pergi!
Joong Geun, ayo kita pergi dari sini!
Bajingan!
Hyeongnim!
Jika kau bersikap seperti ini, kau tidak akan pernah bisa melihat anakmu lagi.
Hyeongnim, jangan begitu kejam.
Kita adalah saudara.
Joong Geun!
Joong Geun!
Sadarkan dirimu, Joong Geun!
Mata pedang tidak mengenal undang-undang moral.
Hyeongnim, terjadi masalah besar!
Cepat! Cepat!
Sudah saatnya kau sadarkan dirimu!
Serang!
Gerombolan bajingan ini. Kau tidak lihat semuanya sudah menyerbu ke mari?
Bunuh!
Aigoo! Sialan!
Di sini masih ada bajak laut! Cegat mereka!
Cegat! Segera! Hadang sekarang!
Jangan bergerak!
Sudah tertangkap!
Aku adalah kapten kapal bajak laut, So Ma.
Kabarnya kau memiliki sepuluh patung buddha.
I--I--Itu sudah dipindahkan ke kapal yang lain.
Congkel papan deknya!
Namo Bodhisattva.
Yeo Wol!
Mengampuni nyawanya akan menimbulkan ikatan terhadap orang itu.
Ikatan tersebut akan menimbulkan kegundahan.
Ingat itu!
Persilakan Buddhanya keluar!
Siap!
Bagus sekali!
Orang-orang ini juga menjual wanita.
Jangan takut!
Kami akan mengantar kalian pulang.
Eonnie!
Beraninya memanggil ketua kami Eonnie?
Bawa serta aku!
Aku dijual oleh ayahku.
Kami adalah bajak laut yang bisa tewas sewaktu-waktu.
Tidak ada bedanya juga dengan para budak.
Masak, cuci baju, aku bisa semua.
Kalau dengar dia bilang begitu, sepertinya dia tidak hanya akan makan gratis.
Jatuh ke dalam air!
Barang penting seperti itu kenapa bisa jatuh?
Makanya!
Bukan, tiba-tiba...
Sudah muncul! Sudah muncul!
Wah!
Bagus!
-=Tiga Tahun Kemudian=-
Laut hitam yang hitam... Laut merah yang merah... -=Tiga Tahun Kemudian=-
-=Tiga Tahun Kemudian=- Laut putih yang putih...
Laut putih yang putih...
Tidak semua laut itu berwarna biru.
Kalau begitu, mengarungi berbagai macam laut, punya kesan seperti apa?
Bukankah Buddha juga berkelana dan mengecap begitu banyak penderitaan
dan hanya tersenyum pada saat berada di atas laut.
Aku, So Ma, juga berkelana begitu lama dan begitu tiba di laut kuning
baru mendapat pencerahan?
Mau itu laut ataupun lempengan besi,
yang berwarna kuning itu yang terbaik.
Kapan itu?
Sekelompok orang asing datang ke teritori kita?
Menjadi bajak laut dan tertangkap oleh kita.
Wah perasaan puas seperti itu benar-benar...
Cukup! Kau tidak bosan?
Lalu?
Lalu, kami berusaha untuk tidak ambigu.
Mengutus utusan dan bertempur habis-habisan.
Kemudian berjanji untuk bertemu di perairan Falkland dan bertarung sampai puas.
Teruskan makanmu!
Kami mengutus Ketua Yeo Wol sebagai wakil kami.
Orang asing mengutus seseorang yang sebesar gunung.
Sebentar... apa nama orang itu ya?
Balok kayu.
Iya, balok kayu.
Dengan satu jurus si balok kayu dibuat terbang.
Orang-orang ini benar-benar tidak tahu malu. Sebanyak 500 orang langsung mengeroyok.
5000 orang!
Ada 5000 orang?
Pokoknya lebih banyak dari 500 orang.
Pendeknya sebanyak 5000 orang langsung menyerbu.
Bertarung sampai heboh sekali. Permukaan laut sampai berubah menjadi merah.
Aigo, apa bagusnya itu?
Mau itu bertarung mati-matian...
Satu gerombolan pesta pora makan daging dan ikan. Kotoran yang dibuang pun begitu berlemak.
Kita setiap hari makan makanan yang berbau amis, dan selalu sakit perut...
Buset, jam makan begini kau ngomong apa?
Kabarnya Ketua Besar kita membeli 12 rumah beratap ubin di Gyeongnam.
Kapan kita bisa mendapat keuntungan besar?
Jangan diteruskan lagi.
Bagaimanapun juga kita adalah saudara.
Eonni ketua kecil, kau memberontak saja.
Kami semua sangat mengharapkan ini. Kau bukannya tidak tahu.
Eonni, jika kau memberontak dan berhasil menggantikan Ketua Besar--
Coba lihat, coba lihat mulutmu itu pintar sekali membacot.
Kau kira kau itu bajak laut?
Menurutku...
Siapa yang tanya padamu?
Dalam situasi seperti ini, seorang bajak laut sejati...
Dasar!
Bagaimana sih ini?
Mending dia cari kerjaan lain saja. Lama sekali.
Bajak laut macam apa itu yang mabuk laut?
Aigoo... Aigoo.
Andai saja aku tidak mabuk laut.
Petinggi Pyeongyang telah menerima laporan pencurian.
Jika aku tidak membawa serta kepalamu,
bisa-bisa kepalaku yang dijadikan sebagai gantinya.
Posisi Anda yang seperti ini,
Memang benar butuh beberapa teknik.
Tujuh nama bajak laut sudah lebih dari cukup.
Buset!
Kita mau diapakan olehnya?
Toh mereka hanyalah segerombolan sampah.
Anda lihat saja sendiri.
- Deok Seol! - Ya!
- Rambut uban! - Ya!
- Anak ingusan? - Ya!
- Gendut pendek?
Di sini!
Mata belo?
- Kuda laut! - A--aku?
Aigoo, orang macam itu.
Dia kita anggap sebagai Ketua Besar sampai sekarang...
Buset deh!
Sama aku juga tidak cocok.
Ikat mereka!
Mau apa ini?
Ketua Besar!
Ketua Besar, kau berniat menelantarkan saudara-saudaramu?
Barang rongsokan seperti ini, di mana-mana juga banyak.
- Saudara apaan? - Ketua Kecil, tolong aku!
Ini bukanlah perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang bajak laut.
Kau berniat mengguruiku?
Benar-benar lancang! Seret mereka!
Ketua, perempuan itu aku mau juga.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang Ketua Kecil.
Tapi, bagaimana dengan gadis yang berada di belakang Ketua Kecil?
Seret wanita yang berada di belakang sana!
Hei, lepaskan!
Aku adalah bajak laut.
Hei, hei, jangan pegang sembarangan!
Tolong hentikan!
Berikan arak dan daging bagi mereka-mereka yang tertinggal.
Hei, kau tidak mau lepaskan?
Makan enak, minum enak akan membuat mereka lupa.
Di atas laut, hanya mereka yang tangguh yang--
Dasar perempuan jalang!
Ketua, coba kau lihat!
Tarik pedangmu!
Tidak tahu membalas budi, lebih rendah dari anjing dan babi.
Aku akan menyerang.
Kau kira kau itu siapa?
Ternyata kau memiliki mata yang cukup tajam.
Melihat hubungan baik kita dulu...
Jika kau bersedia menyerah, nyawamu akan kuampuni.
Akhir bagi seorang bajak laut hanya ada dua.
Salah satunya adalah menjadi santapan ikan.
Atau...
Air laut terlalu dingin.
Berikan dia selimut!
Joseon, sebagai negara dengan gelar 'Dong-I',
Tidak hanya memiliki moral yang baik,
Bersamaan, untuk jangka waktu yang panjang,
Panggilan ini paling sesuai untuk memberikan sebuah Segel Kenegaraan bagi Joseon.
Mulai sekarang, apabila mematuhi mandat dari langit (dalam hal ini Kerajaan Tiongkok), akan menjamin kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.
Sesuai dengan tradisi,
mempersembahkan sebanyak 500 dayang istana, 200 orang kasim sebagai etiket politik.
Terima kasih Yang Mulia.
Baiklah, dengan demikian berdirilah Dinasti Joseon.
Tapi, tidak akan terjadi apapun pada periode ini, bukan?
Misalnya, setelah kembali baru tahu ternyata pemegang takhta telah ganti orang.
Aku cuma khawatir.
Coba Anda pikir...
Memberi sebuah tekanan secara paksa terhadap para bandit.
Tanpa gelar ataupun Segel Kenegaraan...
Apaan ini? Mendapat sebuah gelar juga tidak ada bedanya.
Bukankah seperti itu?
Jika takut pada mereka yang suka mengacau dan selalu merasa tidak puas, bagaimana bisa mengatur sebuah negara?
Suara apa itu?
Kami mendengar ada suara aneh.
Karena tempat ini adalah tempat yang dipenuhi oleh bajak laut.
Semua prajurit siaga!
Semua prajurit siaga!
Siaga!
Bidik bajak laut dengan tepat!
Ikan paus.
Benar-benar tidak tahu diri. Beraninya mengacau di depan kapal utusan.
Kejar!
Segel Kenegaraan.
Tembakkan meriam! Tembakkan meriam!
Tembakkan meriam!
Sebelah sana! Sebelah sana! Sebelah sana!
Ikan paus yang di sana menampakkan diri!
Meriam!
Tembakkan meriam!
Segel Kenegaraan mana? Segel Kenegaraan!
Se--Segel Kenegaraan!
Joseon.
Segel Kenegaraan.
Macan gila di mana gerangan kau berada?
Di mana kau Macan gila?
Harus lebih gila lagi
baru bisa disebut Macan gila.
Macan gila!
Aduh capek sekali.
Aigoo, serasa mau pingsan di jalanan saja.
Selalu diombang-ambing di atas laut, nyaman rasanya bisa berada di atas gunung.
Masih bisa menghindari sengatan panas.
Tolong!
Ini adalah Macan Gila dari Gunung Song-Ak.
Kau mau menjadi bandit gunung? Baiklah.
Coba perkenalkan dirimu!
Namaku Cheol Bong.
Puluhan tahun menjadi bajak laut dan pernah ikut bertempur puluhan kali.
Walaupun aku itu adalah tulang punggung bajak laut dan mengamankan perairan Joseon,
Tapi setiap orang memiliki ambisi tersendiri. Dan aku ingin mencoba menjadi bandit.
Jika kau mengizinkanku untuk menemanimu dan memakaiku,
aku berani jamin aku adalah orang bertalenta yang sanggup membuat para bandit menjadi lebih cemerlang.
Ini saja yang kita bicarakan.
Baiklah, baiklah.
Orang bertalenta seperti ini kenapa mengkhianati laut?
Maaf?
Aku tidak suka makan ikan. Baunya terlalu amis, aku tidak suka.
Menurutku daging lebih tepat bagiku.
Hmm... seperti aku kalau begitu.
Kau diusir?
Tentu saja bukan.
Kau pasti diusir, kan?
Bukan tuh! Kenapa bilang begitu?
Hei, buat apa membual di depan kepala suku? Bicara dengan jujur saja!
Baiklah.
Kalau begitu, aku akan ceritakan dengan jujur.
Begitu lama aku sebagai seorang bajak laut... harta... ketenaran...
sama sekali tidak kekurangan.
Tapi, rasanya hari-hariku ini terasa tidak bermakna.
Sepanjang hari bertanya-tanya kenapa aku harus hidup? Bathinku terasa hampa sekali.
Makan saja tidak kenyang.
Lalu aku berpikir apa yang salah? Kemudian suatu hari...
...terlahir sebagai seorang pria sejati, bagaimanapun juga aku harus merasakan seperti apa rasanya menjadi bandit.
Ide seperti ini tiba-tiba muncul.
Pria itu identik dengan gunung. Ayo, segera menuju ke sana.
Sudah, sudah.
Walaupun terlihat sedikit liar,
...tapi berhubung kau tidak punya tempat tujuan, kau kuterima.
Cheol Bong, kau berada di urutan ke-30.
Kalau ada tugas, lakukan dengan baik.
Anu, jumlah orang juga tidak seberapa... tapi aku di urutan ke-30...
Orang yang menginginkanku banyak tahu!
Bagaimanapun juga aku harus jadi 'hyeong'.
Hyeong, saatnya masak nasi!
Dasar anak bau kencur!
Tidak punya sopan santun.
Ada apa sebenarnya?
Tuanku, tidak usah urusi hal-hal seperti itu. Silakan duduk dulu.
Bajingan kau!
Beraninya kau bilang Segel Kenegaraan ditelan ikan paus. Kau sedang mempermainkanku?
Pengawal! Segera seret dia keluar untuk dipancung!
Jeonha! (Yang Mulia)
Jeonha!
Akan terjadi seperti itu, ya?
Akan terjadi seperti itu, kan?
Anu, Segel Kenegaraannya benar-benar ditelan oleh ikan paus.
Menurutmu alasan ini masuk akal?
Kerja seperti apa kau?
Bukan begitu. Bagaimanapun juga boleh dibilang aku telah mengambil kembali nama negara.
Coba kau pikir, jika dua-duanya sampai hilang,
kau sebagai orang yang merekomendasikanku juga akan disalahkan.
Tidak punya pilihan lain selain mati bersama.
Waktu itu, sudah seharusnya aku mati saja.
Moral adalah jantung dunia.
Jika rakyat sampai tahu hal aneh seperti ini,
akan berpendapat jika Tuhan tidak bisa mentolerir dinasti ini.
Karena itu, mulai sekarang kata-kata yang kuucapkan
adalah demi Joseon.
Ikan paus sama sekali tidak pernah muncul.
Kau diserang oleh bajak laut.
Jeonha, ampunilah kesalahan hamba.
Apa yang terjadi sebenanrya?
Hamba, Han Sang Jil...
Dalam perjalanan kembali
sambil membawa Segel Kenegaraan yang diberikan oleh Kaisar Dinasti Ming,
diserang oleh bajak laut sisa-sisa dinasti Goryeo.
Segel Kenegaraan dirampas oleh mereka.
Segel Kenegaraan?
Jeonha...
Sudah seperti itu...
Sudah seperti itu... Lepaskan aku!
...kau masih berani kembali dalam keadaan hidup?
Hamba ingin bunuh diri saja.
Tapi demi bisa merampas kembali Segel Kenegaraan,
Kami berusaha melindungi Segel Kenegaraan dari serangan brutal para bajak laut.
Nama kenegaraan negara ini sudah ditetapkan menjadi Joseon?
Iya.
Tapi Segel Kenegaraan...
Mohon ampuni kesalahan kami.
Harus dibasmi.
Semua jalur menuju ke pegunungan ataupun lautan untuk membasmi sisa-sisa Goryeo!
Tutup mulut!
Tutup mulut!
Deklarasikan perang atas nama Joseon!
Kerahkan seluruh pasukan dan basmi para bandit gunung dan bajak laut!
Rebut kembali Segel Kenegaraan!
Siap! Akan kami laksanakan secepat mungkin.
15 hari! Kuberi kau waktu 15 hari.
Mengerti?
Iya, Jeonha.
Menurut informasi dari sumber terpercaya,
Kelompok saudagar Choi akan mentransportasi emas dan perak dengan diiringi oleh kawalan pengawal.
Paling banyak 20 orang.
Seunim (biarawan) memberikan isyarat.
Ribuan tangan dan mata, Bodhisattva...
- Maknae! - Ya?
Kau... maksudnya kau tuh!
Begitu mendengar isyarat, segera putuskan tali jaringnya!
Lalu aku yang sebagai kepala suku...
Kepala Suku!
Seorang veteran seperti aku hendaknya berada di garis depan.
Kok malah diperintahkan memotong tali jaring?
Lakukan seperti yang diperintahkan!
Potong tali itu selama sejarah selalu menjadi tanggung-jawab maknae.
Sudah kubilang, percayakan sebuah tanggung-jawab besar.
...kasih sayang yang besar mempengaruhi sebagian kesuksesan.
Bersiaplah!
Welas asih Dharani.
Ribuan tangan dan mata Bodhisattva ...
Batalkan aksinya.
Potong? Potong?
Ada prajurit pemerintah.
Potong dalam sekali sayat? Begitu?
Jumlah musuh banyak sekali.
Jangan dipotong!
Sekarang?
Baik, segera kabur!
Dasar taik anjing! Cepat kabur!
Apa ini?
Sekarang saatnya! Cepat keluar! Cepat! Bunuh!
Sisa-sisa Goryeo!
Jangan lari ke arah yang sama!
Ayo pencar! Kita bertemu lagi di atas gunung.
Cepat kejar!
Kepala suku!
Dia adalah kepalanya.
Kepala suku di sebelah sana!
Jangan terlantarkan aku, Kepala suku!
Jangan tinggalkan aku, Kepala suku!
Tangkap kepalanya!
Kepala Suku!
Jangan ikut aku! Kau lari ke arah sana!
Dia adalah kepalanya.
Tangkap kepalanya! Kepalanya!
- Jangan panggil-panggil aku, sialan! - Kepala Suku, tunggu aku!
Tangkap kepalanya!
Coba hitung jumlah kepala.
Walaupun kita lari secara terpencar, hampir separuh dari kita yang tewas.
Sekali lagi kita coba merampok kelompok saudagar, bisa-bisa langsung bertemu dengan Lee Seong Gye.
Kepala suku juga tidak bisa dinasehati. Mau mengambil keuntungan dari para saudagar tersebut.
Kenapa tidak merampok orang-orang biasa yang melintas saja?
Aku mati-matian menyuruh kalian mundur,
uratmu yang mana yang putus?
Sialan, tidak seharusnya kuterima dia.
Kelak, suatu hari pasti akan berhasil.
Mana mungkin setiap kali berjalan mulus?
Suatu hari pasti akan sukses. Pasti akan ada hari seperti itu.
Selama ini belum pernah sekalipun kita sukses.
Setiap hari menggali akar-akaran dan berburu babi liar.
Benar-benar menjengkelkan.
Tidak ada yang perlu disedihkan.
prajurit istana yang ada? Itu cuma buat bergaya saja.
Begitu matahari terbenam, semuanya lari terbirit-birit pulang ke rumah.
Bukankah begitu, Seunim?
Sialan, ada kejadian besar!
Kepala suku! Kepala suku, coba lihat sebelah sana!
Sebelah sana!
Sepertinya matahari belum terbenam.
Tenang semuanya!
Tenang palamu!
Masa gerombolan bajingan itu tidak butuh tidur?
Kepala Suku!
Lari!
Sialan, dosa apa aku habis naik gunung?
Masih hidup?
Ingin hidup?
Kabarnya anak buahmu mencoba membunuh Kaisar.
Gagal menjadi pelopor, malah jadi bandit.
Asalkan aku berhasil menangkap ikan paus itu?
Belah perutnya dan ambil kembali Segel Kenegaraan itu.
Dengan begitu kau bisa memperolah semua yang kau inginkan.
Tapi jika kau gagal...
...kau pasti akan merasakan seperti apa neraka itu.
Seperti apa neraka itu sudah pernah kucicipi.
Aku akan memberimu sebuah markas pasukan laut.
Istirahatlah dengan baik malam ini. Besok pagi-pagi harus mlapor diri!
Aku tahu hal ini tidak bisa ditunda-tunda.
Bisakah kita mempercayainya?
Yang kupercayai bukan orangnya,
tapi percaya pada hasrat orang ini.
Kau adalah kepala bajak laut Yeo Wol?
Orang seperti Anda yang berada di puncak posisi,
ada keperluan apa datang ke laut yang berbahaya ini?
Ukuran panjang badan ikan paus itu ada belasan Jang. (1 Jang = 3 m)
Ciri khasnya di punggungnya tertancap sebuah bendera.
Kau yang berburu pausnya, aku yang belah perutnya.
Tuan putri bukanlah seorang nelayan.
Terlebih-lebih menangkap ikan paus.
Ikan paus adalah utusan dari Raja Naga.
Makhluk yang mampu membedakan antara orang-orang yang dikutuk dengan orang-orang yang diberkati.
Lagipula kami memiliki hubungan yang lebih dekat ke raja naga.
Kalian boleh menolak.
Tapi aku akan melaksanakan kehendak Kaisar dan membasmi kalian semua.
Menurutku tidak akan terjadi seperti yang kau harapkan.
Aku tahu mungkin sulit.
Tapi aku akan menyelidiki anggota keluargamu.
Tidak peduli laki perempuan, muda atau tua, semuanya akan kumusnahkan.
Desa yang memberi kalian sebiji beras atau setetes air akan dibakar hingga rata dengan tanah.
Semuanya akan ditangkap, diinterogasi dan dipancung.
Sampai kau tertangkap.
Mau itu 100 atau 1000 orang.
Dasar biadab!
Beritahu aku apa alasanmu!
Kapal perang adalah kapal yang memiliki dasar rata. Sangat tahan menghadapi terpaan angin, tapi kecepatannya terlalu lamban.
Sekalipun ikan pausnya berhasil ditemukan, belum tentu sanggup mengejarnya.
Tapi kecepatan kapalmu cukup untuk mengejar ikan paus.
Inilah alasanku.
Kuberi kau waktu 10 hari.
Bajingan bermata satu. Begitu lihat sudah tahu jika dia adalah musuh kita.
Sebaiknya kita bergerak lebih dulu.
Bergerak apaan? Cari tahu dulu situasinya seperti apa!
Aku adalah tangan kanan kapten.
Menurut Anda, apa yang harus kita lakukan?
Mereka adalah prajurit pemerintah. Kalau memang harus mengalah, kita harus mengalah.
Mau pakai apa menangkap ikan pausnya?
Ke Byeokrando! (Byeokrando adalah pelabuhan utama kerajaan dekat ibukota Goryeo Seogyeong.)
Sedang melihat apa kau?
Sudah saatnya kita pergi.
Kalau ada yang melihat bisa berpikir aku membiarkanmu kelaparan terus tiap hari.
Tapi ini adalah daging! Daging!
Betapa menderitanya Bodhisattva itu.
Sudahlah! Ayo jalan!
Potret pada pengumuman imbalan itu jauh lebih ganteng dari aslinya.
Jangan banyak bacot! Ayo cepat selesaikan urusan kita.
Astaga! Bodhisattva.
Anda harus sering-sering mampir ya.
Tentu, tentu.
Yang lembut sedikit!
Jangan berhenti! Teruskan di bagian pinggang!
Kau merasa kelelahan ya?
Duduk di atas juga boleh. Nyaman rasanya.
Kepala Prajurit Jang.
Kepala Prajurit Jang apaan?
Sudah berapa lama juga aku jadi bandit gunung?
Berita tentangmu sedikit banyak aku tahu.
Kau bertemu dengan prajurit bukan?
Sebuah pertemuan yang bagus.
Berani-beraninya kau menjual informasi tentang kami kepada pasukan kerajaan?
Benar! Benar-benar hanya sebuah kebetulan.
Masa kau tidak kenal aku, Kepala Prajurit Jang?
Ada sebuah berita bagus yang akan bisa mengubah nasibmu.
Selama bayarannya adalah 30 gulung kain sutra.
Rasa kasih sayangku sudah hampir habis terpakai.
20 gulung? 10 gulung?
Secara cuma-cuma! Secara cuma-cuma! Tidak usah bayar.
Seekor ikan paus... Perahu yang membawa hadiah emas dan perak dari Kaisar.
Ditelan oleh ikan paus.
Menelan seekor ikan?
Benar! Ditelan begitu saja oleh ikan paus tersebut.
Beraninya kau bilang seekor ikan menelan sebuah kapal?
Di atas kapal tersebut ada Segel Kenegaraan.
Segel Kenegaraan?
Tolong aku! Aku hampir mati.
Wanita ini, nyalimu cukup besar juga!
Pria sedang membicarakan masalah penting, kau berani melepas panah.
Aku tidak melihat adanya pria. Yang terlihat olehku hanyalah 2 ekor anjing tanpa kandang.
Dan seekor serigala bangkotan.
Tidak tahu perempuan gunung mana ini.
Wajahnya lumayan manis juga. Aku sedang berbicara dengan siapa?
Mari kita kenalan dulu!
Aku? Aku adalah teror bagi orang lain.
Macan gila dari Songaksan yang menaklukan anak kecil yang menangis.
Macannya masih tidak sadar? Tapi aku yakin ia cukup gila.
Teruskan saja mengunyah rumputmu!
Masih berani ketawa-ketawa?
Hati-hati sebuah tamparan akan mencabut nyawamu.
Kau adalah bandit gunung?
Pasti menderita sekali menggali akar-akaran di lembah gunung.
Sampah-sampah pada berdatangan. Menjijikkan sekali.
Ayo beri salam!
Kabarnya melalui saudagar dari Arab dan Eropa
akan masuk artileri dan senjata api baru dalam jumlah yang banyak.
Kenapa? Kau berniat menangkap ikan paus?
Segel Kenegaraan hadiah dari Kaisar Ming...
... malah ditelan oleh ikan paus.
Ini adalah sebuah pertanda ketidak-beruntungan.
Kau sanggup mendapatkannya?
Aku adalah Park yang terkenal.
Tapi negara yang baru dibangun rusuh di setiap pelosok.
Ditambah, Kaisar berniat memerangi agama Buddha.
Karena itulah sekarang patung Buddha sama sekali tidak berharga.
Di matamu ini terlihat seperti patung Buddha?
Di mataku hanyalah seonggok emas.
Akhir-akhir ini harga emas juga--
Dengar baik-baik!
Yang memberimu minum dan makan gratis bukanlah negara, tapi laut.
Dan kami adalah pemilik laut.
Iya, hamba mengerti.
Besok datang ambil barang.
Waktu itu, itu adalah kejadian dua, tiga, atau tiga empat tahun yang lalu.
Di lautan yang luas...
Kami konfrontasi langsung dengan 120 kapal prajurit laut.
Maknae, dagingnya hampir gosong!
Kabur?
Kami bajak laut sudah pasti tidak mungkin melarikan diri.
Kami melawan lebih dari 5000 prajurit istana
hingga setengah bulan lamanya.
Sampai pada akhirnya warna air laut itu berubah menjadi merah dikarenakan oleh darah.
Pertempuran waktu itu adalah pertempuran laut yang ke-17.
Daging kelincinya hampir berubah menjadi abu.
Sialan!
Kuhajar kau!
Mau apa kau?
Coba lihat, tidak begitu gosong kok!
Coba lihat, cuma gosong di sini sedikit.
- Bagian ini aku yang makan. Aku suka kok! - Siapa?
Bisa siapa lagi? Biarawan... biarawan.
Bersama denganku kalian juga telah banyak makan asam garam.
Sekalipun tidak bisa setiap hari makan daging,
tapi janji untuk bisa minum arak setiap hari pun tidak bisa kutepati.
Memang ada perjanjian seperti itu?
Karena itu aku ingin mengatakan ini terhadap kalian semua.
Baiklah, aku juga tahu.
Aku sudah tahu pasti akan ada hari seperti ini.
Dan aku sudah mempersiapkan diri dari dulu.
Mempersiapkan diri apa?
Bukankah ini maksudnya mau bubar? Menempuh jalan masing-masing?
- Bukan tuh! - Sudah cukup lama kami mengganggu.
Duduk dulu dan dengarkan dengan seksama sampai aku selesai cerita.
Jaga diri baik-baik!
Ayo kita pergi! Jaga diri baik-baik ya.
Kalian jangan begitu.
Kalau mau jadi bajak laut interview-nya ke mana ya?
- Lho bukannya kau mabuk laut? - Mabuk laut apaan?
Ada sebuah perahu yang sarat akan emas dan perak.
Tunggu sebentar! Tunggu sebentar!
Perahu itu... terus?
Kaisar Myeong menghadiahkan sebuah perahu yang dilengkapi dengan emas dan perak.
Lalu? Kaisar memberikan begitu banyak harta?
Seharusnya kapal itu besar sekali.
Tentu saja besar! Itukan kapal yang diutus oleh Kaisar Myeong (dari Tiongkok).
Tapi kapal itu di...
Aku benar-benar tidak pintar bicara.
Bikin penasaran saja! Ayo ngomong! Cepat!
Kapal itu... ditelan oleh ikan.
Sialan! Siapa tanya kau?
Jadi biarawan begitu lama, masih tidak mengerti lihat sikon.
Kepala Suku lagi bicara.
Siapa yang suruh kau ikut campur? Membacot tidak jelas.
Ikan menelan kapalnya... dengan sekali lahap.
Ditelan langsung? Ditelan langsung?
Benar-benar minta dihajar!
Seunim hampir mati!
Benar-benar bikin jengkel.
Silakan Anda teruskan ceritanya.
Terus?
Apa yang terjadi dengan kapal yang sarat dengan harta karun itu?
Kapal itu...
...ditelan oleh ikan.
Dagingnya sampai hangus, bencong!
Maknae, tidak pernah diajar ya?
Mau di atas atau di bawah, semuanya tolol!
Bisa mati jengkel aku!
Mati kau hari ini! Bandit tapi tidak becus membakar daging kelinci.
Tung--tunggu!
Ikan itu adalah ikan paus?
Ikan paus?
Perahu itu terbelah dua. Benar, tidak salah!
Kau tahu jika ikan paus menelan Segel Kenegaraan?
Jadi Lee Seong Gye kebakaran jenggot.
Jadi maksud Kepala Suku adalah... asalkan kita bisa menangkap ikan paus itu,
kita akan bisa terselamatkan?
Seumur hidup tidak akan kekurangan sandang dan pangan.
Ikan paus ini...
mau dipancing pakai kail atau jaring?
Tidak usah berharap terlalu banyak mau itu kail atau jaring.
- Kenapa? - Kenapa?
Aku pernah bilang kan? Ukurannya raksasa.
Sebesar apapun dia, hanyalah seekor ikan.
Hidangan laut... hidangan laut.
Hidangan laut katamu?
Sebesar apapun dia, tetap hanyalah seekor ikan.
Apa yang kau gambar ini?
Coba kalian lihat! Ini adalah mata ikan paus itu.
Telur bapakmu besar!
Aku tidak bohong. Hanya matanya saja sudah sebesar ini.
Kalau matanya saja sudah sebesar ini, giginya sepanjang apa?
Dia tidak punya gigi karena ia bergantung pada makanan.
Konyol!
Omong-kosong cukup sampai di sini. Ayo cepat kasih tahu bagaimana cara menangkapnya!
Hanya ada satu cara.
Dia akan muncul ke permukaan laut untuk bernafas.
Dengan menggunakan kesempatan ini, tembakkan meriam.
Kau bilang ikan akan muncul ke permukaan untuk bernafas?
Aku serius.
Muncul ke permukaan laut untuk bernafas.
Hidungnya yang berada di punggungnya
akan menyemburkan air keluar ke langit.
Beraninya kau bilang hidungnya tumbuh di punggung?
Benar!
Kesabaran Buddha itu ada batasnya juga.
Harus diberi pelajaran baru bisa.
Kalau disambung lagi ceritanya, bisa-bisa dia akan bilang ikan paus itu beranak.
Dan menyusui.
Tapi memang benar seperti itu!
Ia akan melahirkan anak ikan paus kemudian menyusuinya.
Pada saat menyusui ikan pausnya bisa sambil makan rumput laut.
Bisa-bisa kucekik juga dia.
Jangan halangi aku! Jangan halangi aku! Kucekik kau!
Benar-benar frustrasi aku.
Mau kujelaskan seperti apa bagusnya?
Kalian ini selalu memendam diri di gunung. Sama sekali tidak pernah bergaul.
Laut itu benar-benar sangat dalam.
Super-super luas. Jadi hal aneh seperti apapun juga ada.
Bahkan...
ada makhluk yang di atas kepalanya berapi.
Makhluk-makhluk ini yang jumlahnya ribuan ekor menyalakan lampu yang ada di kepala mereka.
Lautan yang gelap gulita dalam sekejab mata menjadi terang.
Masih ada lagi ikan terbang.
Ikan yang memiliki sayap. Jumlahnya puluhan ribu ekor.
Asyik-asyik berenang di laut, tahu-tahu bisa muncul ke permukaan air.
Merentangkan sayapnya...
...puluhan ribu ekor terbang dari arah sana.
Sangat spektakuler, spektakuler.
Aku jadi penasaran ada tidak reproduksi ikan terbang yang baik?
Sialan, habis cerita malah jadi lapar.
Ada apa?
Cukup sampai di sini omong-kosongnya.
Sebuah meriam bisa membunuhnya?
Apa? Mana cukup kalau hanya satu? Setidaknya harus lebih dari sepuluh.
Ayo! Kita bikin meriam.
Pertama, mari kuperkenalkan barang ini. Ini gampang untuk dibawa-bawa.
Meriam portabel.
Ada lagi yang di situ.
Ini adalah raja dari semua senjata.
Namanya bazooka.
Bisa menembak manik yang berada dalam jarak 2000 langkah.
Benar-benar sebuah senjata yang luar biasa.
Kemudian ada lagi bajingan ini. Inilah bajingan tersebut.
Bajingan ini namanya bom kabut.
Pada saat diledakkan, dalam radius sepuluh langkah
akan ditutupi oleh asap dan kabut sehingga membuat pandangan musuh terganggu.
Dia adalah bajingan seperti ini.
Benar-benar bermata tajam.
Diproduksi di Rusia di seluruh Eropa.
Dikirim dari separuh belahan dunia.
Namanya granat botol.
Bangsat ini sangat berbahaya. Tolong mundur beberapa langkah.
Angkut semuanya!
Mengagetkanku saja.
Dasar orang kampung. Percaya tidak hari ini tahun depan kau akan memperingati hari kematianmu.
Selalu gentayangan di depanku.
Kau adalah bajak laut?
Setiap hari menangkap ikan, pastilah sangat susah.
Ajussi!
Apa yang terjadi? Gerobaknya ke mana?
Songaksan, si macan gila itu...
Ayo kita berpencar!
Baik.
Minggir semuanya!
Chun Seop, bagaimana cara menembakkan ini?
Harus kau nyalakan dulu apinya!
Api?
Minggir!
Minggir semuanya!
Tangkap mereka! Berhenti!
Berhenti! Berhenti!
Sebelah sana!
Berhenti!
Hati-hati! Sana!
Chun Seop, cepat lari!
Cepat! Lebih cepat lagi.
Kubacok kau!
Senang sekali bisa bertemu denganmu, Nona. Aku adalah Songaksan.
Dasar orang sinting!
Dorong dia turun!
Cepat dorong dia turun! Terlalu berat.
Jenderal!
Hati-hati!
Kepala Suku!
Minggir! Minggir!
Kubunuh kau!
Tenang sedikit, Nona.
Kalau kau, bisa kau tenang?
Aku hampir kehilangan nyawa gara-gara kau!
- Mau apa kau? - Belakang! Belakang!
Tembak!
Kau sudah mati?
Sakit... sakit sekali.
Nona, di mana ada kehidupan di situ ada harapan.
Kau ingin aku memohon supaya nyawaku diampuni?
Bajak laut yang sebenarnya adalah--
Wah, apa itu?
Apa yang terjadi di sana?
Bodhisattva.
Jang Sa Jeong!
Si bodoh sudah pulang ke rumah.
Jika yang tertembak itu batok kepalamu, bisa mati kau.
Lancang! Begitu caramu bicara dengan Kepala Suku?
Lalu kau mau aku bilang Tuan Batok Kepala?
Sudah siap semuanya?
Siap!
Ayo! Target kita laut.
Ayo kita jadi orang kaya.
Moncong meriam sempit. Kunci dengan baik!
Perkecil diameternya menjadi 3 kaki.
Angkat dayungnya! Hindari arus dan berlayar ke laut lepas!
Berlayar!
S
Su
Sub
Subt
Subti
Subtit
Subtitl
Subtitle
Subtitle
Subtitle o
Subtitle ol
Subtitle ole
Subtitle oleh
Subtitle oleh:
Subtitle oleh:
Subtitle oleh:
Subtitle oleh: ~
Subtitle oleh: ~
Subtitle oleh: ~ D
Subtitle oleh: ~ Da
Subtitle oleh: ~ Dar
Subtitle oleh: ~ Dark
Subtitle oleh: ~ DarkS
Subtitle oleh: ~ DarkSm
Subtitle oleh: ~ DarkSmu
Subtitle oleh: ~ DarkSmur
Subtitle oleh: ~ DarkSmurf
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfS
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSu
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub I
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub In
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Ind
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indo
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indon
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indone
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indones
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indonesi
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indonesia
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indonesia
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indonesia ~
Subtitle oleh: ~ DarkSmurfSub Indonesia ~
Diterjemahkan oleh: ~ totoro ~
Namo Bodhisattva.
Meskipun kita hidup di pegunungan,
tapi kita bukanlah pencuri yang picik seperti Lee Seong Gye.
Dia mendapat persetujuan dari negara untuk menjadi penerima.
Pada saat dia menerima Segel Kenegaraan tersebut dari tangan kita,
dia harus membayar harga yang setimpal.
Di dalam laut tersebut,
ada seekor ikan paus yang akan membuat kita untuk bisa menikmati semua kemewahan hidup.
Ayo! Kita menuju ke laut.
- Ayo! - Mau gila rasanya aku.
Tidak mau jalan?
Dengan kapal ukuran seperti ini mau tangkap bagaimana? Sekalipun berhasil kita tangkap...
Tutup mulut! Berisik!
- Kenapa aku dipukul terus? - Berisik!
Jeonha, walaupun tidak punya Segel Kenegaraan,
tapi pendirian negara ini telah diumumkan.
Hamba menyarankan pemindahan ibukota, bagaimana?
Tentu saja rumah-rumah tidak akan didirikan di atas tanah kuburan.
Terlebih-lebih istana sebuah negara.
Mana boleh dibangun di atas kuburan Goryeo?
Iya, Jeonha.
Di daerah ini banyak sekali terdapat sisa-sisa peninggalan dan garnisun Goryeo.
Hamba merasa kita harus menentukan ibu kota Joseon yang baru.
Adalah sebuah tindakan yang bijaksana untuk meninggalkan masa lalu.
Memindahkan ibukota, lakukan sesuai dengan yang kau katakan.
Tapi ibukota yang baru tidak memiliki Segel Kenegaraan.
Tidak akan pernah bisa memasuki ibukotaku.
Masih ada sisa 5 hari.
Tidak bisa. Gunakan taktik memindahkan ibu kota untuk mengulur sedikit waktu.
Hanya bisa berharap jika Mo Heung Gap berhasil menyelesaikan masalah ini.
Mo Heung Gap?
Demi memusnahkan sisa-sisa peninggalan Goryeo,
seluruh negeri ini dipenuhi oleh bau amis darah.
Ditambah harus menangkap para gadis yang akan dijadikan gungnyeo (dayang istana) dan hwangwan (kasim).
Tidak usah ngotot berburu paus.
Pengadilan istana juga tidak peduli.
Dulu juga ada seseorang yang begitu fasih dalam berkata-kata sepertimu.
Membuatku terpaksa menghunus pedang.
Coba jika kau berani mengucapkan sepatah kata lagi.
Bukan, bukan begitu. Aku akan kembali ke kerjaanku.
Pengiriman bahan pangan dan minuman.
Bazooka 2, artileri combo 6.
Granat botol maritim 300 biji.
Semua senjata telah diangkut ke atas kapal.
Akhirnya... akhirnya bisa merasakan angin laut.
Besok lusa kau akan naik kapal tercepat di dunia, Ketua Besar.
Besok pagi kita berlayar.
Telat sehari, si Yeo Wol punya kesempatan menyombongkan diri sehari.
Iya, aku tahu.
Yeo Wol, laut masih belum meninggalkan seorang So Ma.
Kepala Suku! Kepala Suku! Tidak boleh minum itu.
Minum air laut bisa mati.
Jangan minum!
Ikan paus! Ikan paus!
Itu bukan ikan paus. Itu hiu!
- Ikan paus! - Sudah kubilang itu ikan hiu. - Ikan paus!
Coba lihat itu adalah ikan hiu.
Kena!
Pausnya sudah ketangkap!
Itu bukan ikan paus!
Kau bilang Yeo Wol mencari di daerah pantai.
Betul, Ketua Besar.
Dengan kapal ini,
hanyalah masalah waktu sebelum wanita itu tertangkap.
Yeo Wol, larilah kau ke ujung dunia.
Di tanganku terdapat kapal paling cepat di dunia.
Barusan sepertinya ada sesuatu yang melintas dengan pesat?
Masa sih? Tidak mungkin ah!
Apa itu?
Begitu cepat.
- Ketangkap! Meriam! - Sebentar!
Cepat disulut! Cepat disulut!
- Cepat! Tunggu apa lagi? - Kau jangan gerak-gerak!
Jangan berisik! Cepat sulut!
Nyala! Nyala!
Siap-siap untuk bertempur! Bidik meriamnya!
Rencana baru!
Kenapa sih kau bisa meleset?
Pegang erat-erat!
- Tembak meriamnya! - Tembak meriamnya!
Katanya kapal ini adalah kapal tercepat di dunia?
Kata siapa?
A--Aku?
Sudah tenang. Kalian telah bersusah-payah. Jangan menyerah!
Sepertinya ikan pausnya telah pergi ke nirwana.
Mundur! Mundur!
Itu... ikan paus... Ikan pausnya tertangkap.
Itu adalah ikan hiu! Ikan hiu!
Itu adalah ikan hiu!
Ekor ikan paus itu tidak seperti ini.
Jadi maksudmu ini bukan ikan paus?
Sudah berapa kali kuulang dari tadi? Ini adalah ikan hiu, goblok!
Ikan paus itu sebesar ular phyton.
Cacing saja lebih besar daripada ikan hiu ini.
Hei, apaan sih cacing-cacingan?
Rasa ketakutan mempengaruhi ukuran besar kecil.
Awalnya kukira sebesar rumah.
Setelah dilihat-lihat, tidak ada bedanya dengan ukuran 2 ekor sapi.
Perbaiki sampannya lalu kita turun lagi ke laut.
Dasar!
Mau tangkap ikan paus pakai apa sekarang?
Hati-hati! Bidik dengan baik!
Tangkap ikan paus!
Pakai ini saja buat menangkap ikan pausnya, Hyeongnim.
Kau bilang mau curi kapal perang itu?
Kapal sebesar itu mana sanggup dikemudikan oleh satu orang saja?
Kalau dicuripun tidak ada gunanya.
Toh tidak bisa diapa-apakan kapalnya malahan kita yang harus mati di situ.
Lebih baik aku mengundurkan diri. Sampai di sini saja.
Mau ke mana kau? Kau harus mengemudikan kapalnya.
Sudah kubilang satu orang tidak akan bisa.
Suruh bawahan saja yang bawa kapalnya.
Siapa pula yang sudi mendengar perintahku? Aku kan maknae (paling junior)?
Tiap hari aku digebuki. Dasar!
Izinkan aku mengundurkan diri.
Kalau begitu, mulai hari ini kau, Cheol Bong...
adalah nomor 2.
Apa?
Jika Kepala Suku benar-benar membutuhkanku,
aku akan coba berusaha.
Pilihlah!
Kau, dan juga kau.
Bangsat satu ini, begitu ingat dipukuli terus olehmu aku benar-benar...
Dasar bangsat!
Berani memukul batok kepala tetua?
Dia itu hyeongnim sekarang. Harus kalian hormati.
Dengar baik-baik!
Berenang di laut dan berenang di danau itu sama sekali berbeda.
Jika kau berusaha mengalahkan ombak, yang ada hanya ajal menjemput.
Harus seperti ular phyton di atas dinding yang berenang mengikuti gelombang.
Mengerti?
Asalkan hal satu ini diingat baik-baik.
Seperti orang bodoh.
Kalau begini sudah pasti mati.
Waktu masih bekerja menjadi awak kapal, julukanku adalah hiu gila.
Di laut, mau dia itu ketua atau bukan tetap harus taat padaku.
Dan kau, Kepala Ular, supaya kapal yang lain tidak bisa mengejar kita
kau dan Kepala Suku bertugas membakar kapal-kapal yang lain.
Jangan seperti hari itu waktu di gunung, tidak ada koordinasi.
Untuk menghindari terjadinya ketidak-akuran,
pada saat kalian berdua sedang melakukan itu, aku akan segera mengambil alih kapal
dan koordinasi dengan yang lain-lainnya untuk menunggu kalian sambil bersiap-siaga.
Setelah semuanya selesai, marilah kita tertawa terbahak-bahak.
Aku lupa memberitahu sebuah hal penting.
Di samping obor pasti ada minyak.
Tidak mungkin tidak ada. Di semua kapal pasti ada.
Cecerkan minyak tersebut ke kapal-kapal yang lain.
Setelah kembali ke kapal kita, tinggal lepaskan panah api saja.
Mengerti.
Jangan asal ngomong 'mengerti', 'mengerti.' Tolong deh!
Kepala Suku itu apapun tidak becus.
Terutama suka bengong. Yang ini paling mengkhawatirkan.
Ingat baik-baik! Mulai sekarang ikuti aku.
Persiapan ekspedisi sudah selesai.
Tinggalkan kekuatan yang minimal.
Suruh semua orang naik ke atas kapal!
Semua ke kapal!
Ada masalah besar. Ada prajurit maritim!
Prajurit maritim? Prajurit maritim?
Harus bagaimana sekarang?
Wakil Kepala Suku!
Masalah besar... masalah besar...
Setelah kepala suku datang baru bisa memutuskan pergi atau tidak.
Kenapa masih belum datang?
Sebelah sana! Sebelah sana!
Hati-hati maling.
Kepala Suku datang! Kepala Suku!
Ayo cepat siap-siap kabur! Cepat! Sebelah sana kembangkan layar!
Sebelah sana! Cepat!
Potong! Potong!
Siapa di situ?
Cepat, cepat, cepat.
- Siapa kalian? - Tusuk dia!
Kepala Suku!
Cepat naik!
Minggir semua, Namo Bodhisatva.
Jang Sa Jeong!
Mo Heung Gap?
Tidak kusangka akhirnya hari seperti ini tiba juga.
Nyawamu ini cukup bebal juga.
Katanya kau telah menikmati hidup penuh kemewahan. Tapi melihatmu sekarang seperti ini sungguh konyol.
Hari ini aku akan mengembalikanmu ke akarmu.
Diam!
Bagaimana? Kau sepertinya panas dingin.
Apa yang berubah dari dunia ini?
Aku tidak peduli.
Kepala Suku! Kepala Suku! Ayo cepat naik!
Kepala Suku!
Tangkap tambangnya!
Tarik! Tarik!
Aku pasti akan kembali untuk memenggal kepalamu!
Kapal-kapal yang tersisa?
Hanya tinggal beberapa saja.
Semuanya sedang berlayar untuk menangkap ikan paus.
Masalah sekarang bukan ikan paus. Kapal-kapal rusak seperti itu.
Bagaimana caranya kita menjaga nyawa kita?
Dengarkan aku baik-baik!
Kali ini kita diserang oleh bajak laut yang merampas Segel Kenegaraan itu.
Walaupun kita kehilangan kapal,
tapi dengan mempertaruhkan nyawa kita berhasil menemukan bajak laut.
Berhasil mendapatkan kembali Segel Kenegaraan tersebut.
Walaupun kita berhasil menemukan Segel Kenegaraan tersebut,
di mana gerangan bajak laut yang menyerang?
Bisa kita buat.
Sekarang tempat ini adalah desa bajak laut.
Eksekusi mereka semua dengan tuduhan berkomplot dengan bajak laut!
Sudah keluar, ganggang laut?
Benaran ada ganggang laut?
Yang bawah adalah lumpur, yang tengah adalah ganggang laut.
Ikan paus akan berenang hilir mudik di sekitar daerah ini.
Ikan paus! Ikan paus!
Di bagin punggungnya tertancap sebuah tiang bendera.
Wah!
Benar-benar ada tiang benderanya!
- Siapkan harpoon! - Siap!
Sekarang.
Ketua, mana perintahnya?
Eonni, apa yang kau ragukan?
Bukankah itu adalah bayi ikan paus?
Kira-kira berapa besar?
Maaf?
Itu... mataku sedikit rabun ayam jadi tidak jelas.
Kau tidak melihatnya, Hyeongnim?
Begitu lihat sudah tahu sedang menyusu.
Kita semua sudah lelah.
Tidak bisa menggunakan nyawa ikan paus untuk menukar nyawa manusia.
Ketua!
Mau aku beri yang perintah?
Tidak usah.
Sudah bidik dengan tepat?
Begitu tembak tepat sasaran.
Sedang apa bangsat-bangsat itu?
Apa yang sedang kau pikirkan?
Di mana-mana adalah lautan luas.
Ambisi seorang pria menjadi semakin lama semakin besar.
Kita memang benar-benar cocok dengan laut.
Kapal begitu besar, tapi satupun tidak ada yang mabuk laut.
Hei! Hei! Hei! Coba kau tarik ke atas! Tarik ke atas!
Yang kau pegang itu kan sudah bagian tengahnya, tolol!
Jika makhluk satu itu memang benar adalah bajak laut, maka aku adalah Buddha.
Makanya kita harus secepatnya belajar tekniknya, habis itu baru kita bunuh dia.
Masuk akal tidak kalau dia itu orang nomor 2?
Benar-benar orang yang menyedihkan, menyedihkan.
Kepala Suku, ke mari dulu sebentar!
Sebentar saja. Bagaimana pun juga tidak bisa dipahami.
Laut yang begitu luas, tidak hanya ada satu atau dua ekor paus.
Bagaimana mau menangkap ikan paus yang menelan Segel Kenegaraan itu?
Kalau begitu, tangkap saja satu atau dua ekor.
Cepat atau lambat pasti akan bisa menemukan ikan paus yang menelan Segel kenegaraan itu.
Iya, bukankah katanya besar sekali?
Masuk akal tidak itu?
Tangkap saja seekor.
Dasar bandit gunung goblok yang tidak berpengalaman.
Kau kira ikan paus itu ikan kakap?
Tangkap seekor, bunuh seekor. Tangkap lagi seekor, bunuh lagi seekor.
Mengagumkan!
Kenapa bisa begitu kebetulan kalian semua turut menyaksikannya. Itulah yang disebut ikan paus.
Hi--hi--hi--hidungnya tumbuh di punggungnya.
Hidung!
Kan sudah kubilang memang adanya di punggung?
Coba kulihat sebentar. Sepertinya ini ikan paus betina, karena ukurannya agak kecil.
Se--se--segitu kau bilang kecil?
Masih ada yang lebih besar lagi?
Tentu saja.
Masih ada yang anunya saja sudah sebesar ini.
Kumisnya.
Tidak mau ditangkap yang itu?
Mak--maksudmu mau tangkap yang itu?
Lho bukannya kau sendiri yang bilang itu hidangan laut?
Hidangan laut, hidangan laut. Kan kau sendiri yang bilang.
Ayo cepat tangkap seekor dan hidangkan ke atas meja. Biar dipelorotin sampai ke tulang-tulangnya.
- Mau apa? - Hey bangsat, ikan paus begitu besar...
...sudah seharusnya kau mencoba menghalangi kami supaya tidak turun ke laut!
Malah menyeret kami ke laut.
Kan sudah berkali-kali kubilang. Besar sekali.
Dengar baik-baik! Bangsat ini sekarang no. 10.
Paling maknae! Paling maknae!
Kau cuma bisa membacot saja.
Kenapa tidak dari dulu kau bilang mata ikan paus itu juga besar?
So Ma? Dia masih hidup?
Bukankah aku sudah memperingatimu jika aku tidak kau bunuh, aku akan menjadi mimpi burukmu?
Membiarkanmu memiliki laut, dan berburu ikan...
...dan dilengkapi pula dengan artileri dan harpoon.
Bagaimana aroma laut ini menurutmu sebelum ajal menjemputmu?
Bisa seamis apa aroma laut?
Ayo bertarung! Dulu bukankah kau pernah mengalahkan 5000 orang?
5000 orang sepertinya terlalu berlebihan.
Ayo kita bertarung! Palingan kita mati.
Toh hidup juga sudah cukup lama.
Mataku juga sudah rabun.
Apa katamu, bangsat?
Jangan bertindak gegabah! Jangan menghalangi meriam.
Kita juga tidak punya pilihan lain lagi.
So Ma, ini adalah dendam antara kau dan aku.
Seharusnya kita selesaikan berdua.
Benar-benar wanita yang dungu.
Makanya wanita sepertimu tidak akan pernah bisa menjadi Ketua Besar.
Ayo, bakar perahunya!
Ketua Besar, di sana ada sebuah kapal besar.
Kapal perang!
Makan juga harus makan daging.
Makan hidangan laut terus masuk akal tidak?
Tentu saja. Stamina kita adalah stamina gunung.
Aigoo, bajak laut yang sekujur tubuh bau amis.
Betul! Pria adalah gunung, wanita adalah laut.
Buddha pada umumnya juga berada di gunung.
Bajak laut benar-benar tidak berguna.
Mengabaikan daratan yang begitu luas dan hanya mengandalkan sebuah kapal berkelana.
Karena itulah mereka disebut yang paling tidak berguna di dunia bandit.
Ke gunung saja! Ke gunung saja!
Buddha, tunggulah aku!
Nona, ini aku! Macan Songaksan.
Macan sinting ini...
Kubilang ini aku.
Eonni...
Kapal itu sedang memblokir meriam.
Kepala Suku!
Kita berada dalam posisi yang sulit.
Sekarang waktunya! Serang! Ambil alih kapalnya!
- Serang! - Dengan siapa?
Robohkan bajingan itu!
Aku datang untuk membantumu, Nona.
- Nona, bantu aku! - Siapa kau?
Aku adalah macan dari Songaksan.
Jangan urusi pertempuran orang lain. Lebih baik kita selamatkan diri saja.
Biarkan saja mereka bertarung sampai puas.
Jangan bertarung lagi! Kumohon jangan bertarung lagi!
Pegang pedang pun bisa.
Tidak boleh membunuh.
Tunggu, Kepala Suku! Aku kok makin menjauh?
Kepala Suku!
Cukup lama juga kau bertahan, Ketua Kecil.
Ketua Besar So Ma telah kembali.
Selamat atas kemenanganmu, Hyeongnim.
Siapa kau?
Aku adalah Macan dari Songaksan, Jang Sa Jeong.
Jang Sa Jeong?
Betul. Adalah sebuah jodoh gunung dan laut bisa bertemu.
Kelak kita saling mengangkat saudara saja.
Bagaimana kalau kita menjadi saudara angkat saja, Hyeongnim?
Hyeongnim! Hyeongnim!
Hyeongnim!
Serahkan mereka semua kepada prajurit maritim untuk dipenggal.
Ini adalah akibat menghunus pedangmu terhadap seorang Ketua Besar So Ma.
Menelantarkan saudara-saudaramu dan diusir dari posisi Ketua Besar...
...tampaknya kebiasaan jelekmu masih belum berubah sama sekali.
Telah berapa kali kau kuajari
masih begitu bodoh memikirkan saudara-saudaramu.
Semua orang bodoh di dunia ini akan menjadi korban kekuasaan.
Kata-katamu masuk akal, Hyeongnim.
Seperti katamu, kami hanyalah orang yang melintas dan salah jalan.
Seorang bandit berniat melawan bajak laut?
Kau tidak tahu jika ini bertentangan dengan akal sehat?
Jika memang harus begini,
ampunilah nyawaku.
Gaya Macan Songaksan memohon menggemaskan sekali.
Coba kau juga memohon padaku seperti dia.
Masa kau sudah lupa?
Akhir cerita dari bajak laut hanya dua. Menjadi santapan ikan,
atau bangkit kembali menjadi naga.
Bandit juga hanya memiliki 2 akhir cerita. Berlari mengejar uang,
- Atau... - Kita semua harus bertahan hidup!
Tunggu sebentar, aku masih belum--
Kepala Suku! Kepala Suku!
Namaku So Ma.
Yeo Wol kenapa? Harus kau temukan dia!
Aku melihat dia mengganti meriam dengan harpoon.
Aku malah berpikir dia berniat menjadi nelayan.
Terus-menerus mengejar ikan paus itu.
Sebelum ia berhasil menangkap ikan paus tersebut,
aku sudah membuatnya menjadi santapan ikan-ikan di laut.
Mulai sekarang aku akan membayar pajak dalam jumlah dua kali lipat.
Menurutmu berapa nilai nyawamu?
Seharga imbalan atas penangkapan ikan paus.
Seharga seekor ikan paus?
Jika kau berhasil menangkap ikan paus, ada kemungkinan kau masih bisa hidup.
Jika tidak, mati adalah satu-satunya jalan bagimu.
Ngomong-ngomong masalah ikan paus--
Mulai sekarang aku yang akan memberi perintah di atas kapal ini.
Kau hanya bertanggung-jawab menangkap ikan paus. Mengerti?
Naik atau tidaknya ke kapalku, adalah pilihanmu Tong Sa.
Tapi tolong ingat akan satu hal.
Apa itu?
Kapal ini hanya mendengar instruksi dari seorang So Ma,
Tong Sa.
Hei, kau dari kamp mana? Bajak laut atau bandit gunung?
Posisi sudah begini, pentingkah pertanyaan seperti ini?
Bajak laut atau bandit gunung?
Bangsat!
Bajak laut dan bandit gunung itu beda level.
Sialan, omonganmu menusuk sekali.
Hei, tadi lihat kepala suku kalian kalah waktu bertarung.
Oh, karena itulah demi bisa tetap hidup kepala suku kalian memohon minta diampuni.
Dia adalah bandit dari segala bandit. Dia juga pernah melawan Lee Seong Gye.
Lee Seong Gye? Lee Seong Sye itu siapa?
Coba lihat tampang bloon kalian. Siapa Lee Seong Gye saja kalian tidak tahu.
Bajak laut tidak peduli dengan yang namanya Kaisar.
Kami hanya percaya pada Putri Naga, Ketua Yeo Wool.
Putri Naga?
Betul, putri sulung lagi.
Kepala Suku kami itu oomnya serigala tahu!
Generasi tetua malah!
Sini, jangan berbaur dengan bandit gunung sampah.
Sini, jangan mau berbaur dengan bajak laut sampah!
Kenapa mendadak aku jadi orang penting begitu? Terserah kalian ah!
Pria jantan itu identik dengan gunung!
Pria jantan itu harusnya identik dengan laut baru benar.
Aigoo...
Terus kenapa kepala suku kalian adalah gadis ingusan?
Gadis ingusan?
Dasar kalian gerombolan pengunyah akar-akaran!
Dasar kalian gerombolan pemakan taik ikan!
Sudah ah! Jangan ribut lagi!
Bangsat!
Hajar dia!
Hei!
Kau tidak tidur, kan?
Nona, kita pergi pipis yuk!
Mulut anjing! Cuma tahu bicara yang jorok!
Makan, minum, pipis, berak, mana bisa dibilang jorok?
Ini semua hal yang wajar.
Aku benar-benar sudah tidak tahan.
Bagaimana kalau tanganmu saja yang langsung kupatahkan?
Dengan begitu masalah jadi lebih gampang.
Jeonha, karena Goryeo memboikot agama Buddha.
Para biarawan dan para keluarga yang memiliki pengaruh besar sangatlah kaya.
Mengadvokasi penekanan terhadap konfusianisme dan Buddhisme.
Harta kekayaan pada keluarga berpengaruh haruslah diberikan kepada keluarga kerajaan.
Jika begitu, dapat menekan sisa-sisa penaklukkan, Jeonha.
Aku juga ingin berbuat seperti itu.
Tapi aku sekarang tidak memiliki Segel Kekaisaran, Segel Kekaisaran.
Jeonha, hamba takut.
Kalau kau merasa takut, jangan banyak membacot!
Tinggal dua hari lagi.
Kusuruh kau mencari Segel Kekaisaran tapi tidak kau temukan, malah membacot yang tidak berguna.
Seperti gunung dan hewan memiliki kebiasaan rutinnya, begitu pula halnya dengan ikan paus...
akan menemukan jalannya.
Menurutku waktu 2 hari sama sekali bukanlah masalah.
Kabarnya ukurannya besar sekali.
Juga bukan semua masalah?
Kita tidak akan menangkap induknya, hanya anaknya yang kita tangkap.
Induk sudah pasti tidak akan menelantarkan anaknya.
Sekali tepuk dua lalat.
Tapi untuk apa menahannya?
Ikan paus adalah malaikat raja naga dan juga merupakan roh laut.
Jika rohnya ditangkap, laut akan marah.
Sedikit disayangkan, tapi harus dijadikan tumbal.
Jika waktu itu kau berada dalam pelukanku, kau juga tidak akan berakhir seperti ini.
Sudah seharusnya kau kubunuh waktu itu.
Ternyata kau cukup bebal juga.
Lonceng apa itu?
Pemberian ibuku.
Beliau bilang hanya ini yang sanggup beliau berikan padaku.
Di mana ibumu?
Mati. Dibunuh oleh prajurit istana.
Kenapa?
Karena ayahku adalah seorang bajak laut.
Ibuku hanyalah seorang wanita laut.
Karena itu begitu melihat kalian yang menjadi pejabat, aku menggeretakkan gigiku.
Semua itu sudah berlalu.
Kau melarikan diri karena berbuat salah?
Aku memang bersalah.
Sampai saudara-saudaraku dan negaraku tidak sanggup kulindungi.
Di sini ada negara yang butuh perlindungan kita?
Pada saat invasi asing terjadi, keluarga kerajaan dan kaum bangsawan adalah orang pertama yang melarikan diri.
Bahkan anak kecil ditangkap untuk dijadikan gungnyeo dan kasim istana.
Uang rakyat yang didapat dengan susah payah semua dipersembahkan kepada istana.
Mau menyabung nyawa demi melindungi negara yang seperti ini?
Lebih baik menyabung nyawa demi melindungi orang yang paling penting bagi kita.
Benar katamu.
Karena itulah aku mau menangkap ikan paus.
Tidak mungkin seumur hidup sembunyi-sembunyi terus.
Awalnya aku berencana setelah menerima uang imbalan, aku ingin menghilang dan menjalankan hidup dengan tenang.
Kau tidak punya keluarga?
Aku masih sendiri.
Karena itulah jodoh kita seolah tidak bisa diputuskan.
Dari kata-katamu terkesan kau memiliki banyak potensial.
Aku tidak bercanda, Nona.
Pernahkah kau mempertimbangkan untuk menjadi orang yang terpenting bagiku?
Pipimu sepertinya merona merah.
Itu gara-gara panasnya api ini.
Ayo kita pergi berenang!
Kau begitu terburu-buru?
Ayo!
Air laut benar-benar hangat, Nona.
Seorang bandit gunung amatir sepertimu berani menggoda seorang Kepala bajak laut?
Bandit gunung amatir? Gini-gini aku pernah menerima hadiah 20 Pye.
Kepala Suku bandit gunung.
Aku 50 Pye. Dua kali lipat lebih banyak darimu.
Apa hebatnya jumlah imbalan yang diterima? Orang yang hebat itu adalah orang yang memiliki sejarah.
Coba lihat! Ini adalah bekas luka yang ditinggalkan karena membunuh seorang petugas negara.
Ini adalah bekas luka karena aku membunuh seorang ketua bajak laut di lautan VIetnam
Aku adalah orang yang membunuh 50 prajurit istana.
Aku adalah orang yang pernah bertempu melawan 5000 orang di Daemado.
Aku adalah orang yang setelah digigit singa masih hidup. Coba kau lihat.
Naga... kau pernah dengar tentang naga? Berapa banyak yang kau tahu tentang naga?
Aku pernah digigit naga.
Terdengar begitu menakutkan, bukan?
Coba lihat sebelah sana! Sebelah sana!
Kukira aku terdampar ke neraka seperti itu.
Tapi bagaimana keadaan dengan mereka yang tersisa?
Sisa-sia Goryeo. Park anu, Yeo anu, Kwang anu, Oh anu, Gil anu, dan seterusnya.
Dan yang lainnya dengarkan baik-baik!
Nasibku yang sial ini.
Pernah naik ke gunung, turun ke laut, tapi akhirnya harus mati di sini.
Kita bekerja sama.
Yang semangat!
Kenapa tulis begitu panjang? Memulai sebuah sejarah baru.
Kepala Suku?
Sedang apa?
- Aku kenapa? - "Aku kenapa?"
- Tutup mulut! - Kenapa? - Kenapa?
Apan sih?
"Apaan sih?"
Sana saja kau!
Kakiku sakit. Kenapa memangnya? Salah?
Yang lain-lain berlutut di permukaan yang datar.
Tapi di tempatku berlutut ada sebuah lubang besar.
Sialan, sakit sekali waktu berlutut!
Mau bunuh mau bacok silakan. Aku mau pipis.
Saya mewakili dia memohon maaf pada Anda.
Minta maaf apaan?
Toh sudah mau mati? Masa ngomel saja tidak boleh?
- Jangan macam-macam! - Kau yang jangan macam-macam!
- Apa kau bilang? - Kubilang Kepala Suku sudah datang.
- Kau ketakutan - Kepala Suku.
Kalian bisu ya?
Pengawal! Segera tangkap kawanan bandit ini!
Hyeongnim!
Aku ada di sini, Ketua.
Kepala Suku! Kepala Suku! Aku ada di sini, Kepala Suku!
Lho aku?
Jangan mendekat!
Di mana wanita itu?
Kupikir kau kabur ke mana. Ternyata malah jadi bandit gunung.
Saya tidak punya muka untuk menemuimu. Kabur begitu saja tanpa pamit.
Kau selamanya adalah saudara kami.
Tidak peduli di mana, kau harus menjadi seorang bandit besar.
Cepatlah naik ke kapal!
Mengandalkan kekuatan pasukanmu yang sekarang ini, kau mau melawan So Ma?
Masalah di atas laut, biarlah ditangani oleh bajak laut saja.
Sebaiknya kau segera kembali ke gunung saja.
Jangan begitu. Ikutlah denganku ke gunung, Nona.
Biarlah kita hidup bahagia bersama.
Terhadap orang sepertimu, tidak ada yang bisa kukatakan.
Terakhir, aku akan memberimu sebuah saran.
Jika kau ingin aku tetap di sini, aku akan tetap di sini.
Jika kau ingin ikut denganku, aku akan membawamu serta.
Ini adalah akibat dari mengganggu bajak laut.
Menyerang So Ma, akan ada keajaiban.
Perhatikan dengan seksama! Warna air laut akan membawa kita ke lokasi ikan paus.
Awan semakin lama semakin rendah. Sebaiknya kita berbalik arah.
Sudah dari zaman dulu naga adalah malaikat raja naga.
Kau kira menangkapnya adalah hal yang mudah?
Ayo cepatlah muncul! Cepat muncul!
Itu dia! Ikan paus!
Laju dengan kecepatan maksimal!
Katanya semua ini adalah perbuatan prajurit istana.
Mereka menganggap desa yang damai sebagai desa bajak laut.
Semua pria dibunuh.
Anak-anak ditangkap.
Kau bilang prajurit istana? Mo Heung Gap?
Keserakahannya
benar-benar tiada habisnya.
Aku mau cabut nyawa iblis ini!
Ke mana?
Kembali ke laut.
Mau apa lagi?
Walaupun tidak mampu menyelamatkan dunia,
tapi sebagai seorang pria sejati
aku harus melindungi orang yang terpenting bagiku.
Kalau begitu tidak seharusnya kau turun dari kapal.
Waktu di situ kau ngotot mau ke sini. Sudah sampai di sini eh ngotot mau balik ke sana.
Cheol Bong, kau berada di urutan no. 2 sekarang.
Ayo jalan, Kepala Suku!
Yang cepat! Ayo! Ayo!
Kepala Suku, aku bagaimana?
- Hentikan kapal! - Ikuti!
- Tidak, hentikan! - Ikuti!
Kau tidak lihat ikan pausnya mau melarikan diri?
Di atas kapal ini, hanya aku yang memiliki wewenang untuk memberi perintah.
Aku, So Ma.
Anak ikan paus...
...tidak akan sanggup menyelam lama-lama.
Tidak lama lagi ia akan muncul ke permukaan.
Hentikan kapal dan tunggu!
Siap!
Sebelah sana! Ikan paus!
Ikan paus! Sebelah sana!
Belok kanan!
Target kita adalah anak ikan paus, bukan induknya.
Buru anak ikan paus!
Lebih mendekat lagi.
Tembak!
Tarik tambangnya!
Pancing induknya!
Tembakkan meriam!
Berhenti!
Dengar baik-baik!
Jika tidak berhasil kalian bunuh dalam satu tembakan,
yang mati adalah kalian.
Yang semangat semuanya!
Siap!
Makhluk ini... Kau kira dengan begitu kapal ini akan hancur berkeping-keping?
Ayo! Malaikat Naga.
Nantikan saja.
Tembak! Tembakkan meriam!
Sekarang waktunya! Lempar granat botol!
Sebelah sana! Angin tornado.
Ketua, awannya terlihat tidak normal.
Ternyata memang benar ikan paus itu gaib.
Gunakan gadis itu sebagai persembahan altar!
Siap!
Lemparkan tombak!
Sekarang kembali ke daratan sambil menyeret ikan paus ini.
- Cepat! - Siap!
Tong Sa, di kapal ini hanya aku yang bisa...
Mau mengantongi jasa seorang diri?
Cepat juga reaksimu.
Kau terlalu menganggap remeh orang.
- Pengawal! - Siap!
Jika sambungan bubuk mesiu ini kunyalakan...
kita semua akan berubah menjadi makanan ikan.
Jangan lupa.
Kita berpijak di atas perahu yang sama.
Mana boleh mengadakan upacara berkabung di hari yang sama dengan bangsat sepertimu?
Mari kita lihat!
Bangsat sepertimu punya nyali seperti itu?
Lagakmu terlihat bak pria sejati.
Putri Naga!
Bangkit kembali.
Eonni!
Ayo pulang sekarang!
Kau baik-baik saja?
Jaga ikan pausnya! Utamakan ikan pausnya!
Nyawa dia adalah milikku.
Jangan harap untuk bisa campur tangan!
Tembak!
Luncurkan!
Eonni!
Cepat!
Aku duluan.
Jalan bandit gunung hanya ada dua.
Uang atau wanita cantik.
Ini nanti baru kita bicarakan lagi.
Dasar pasangan anjing.
Hari ini salah satu dari kita tidak akan bisa menginjakkan kaki ke darat.
Yang pasti bukan aku.
Terima kasih, barang butut.
Sampah, kau harus hidup supaya kita bisa bertemu lagi.
Yeo Wol!
Hari ini adalah hari kematianmu.
Tidak seharusnya hari itu kau kuterima.
Cepat kabur! Kapal ini akan segera meledak.
Ini adalah pesan terakhirku.
Cepat lari!
Cepat lari!
Semuanya cepat pergi dari sini! Kapal ini akan segera meledak.
- Cepat! - Kapal akan meledak.
Hyeongnim, cepat lari!
Ke neraka sana!
Mintalah pengampunan pada Joong Geun.
Tong Sa!
Aku sudah pernah bilang jika kita adalah belalang yang berada di atas kapal yang sama.
Namaku Jang Sa Jeong.
Kau masih ingat?
Aku adalah rakyat Kerajaan apa?
Sebutan 'Joseon' ini dianugerahkan oleh Kerajaan Tiongkok.
Karena itu aku adalah rakyat negara Tiongkok.
Aku tidak ingin menjadi rakyat negara seperti itu.
Moral yang bisa dipetik dari kejadian Segel Kenegaraan yang ditelan ikan paus adalah...
Meskipun nama dinasti telah diberikan,
tapi jangan gunakan Segel Kenegaraan mereka untuk menjalankan perintah dari Tuhan.
Hewan yang bernama ikan paus itu
rela mengorbankan diri sendiri demi keselamatan anaknya.
Kau yang berkedudukan sebagai seorang kaisar,
demi mencari Segel Kenegaraan yang dianugerahkan oleh Kerajaan Tiongkok,
mengorbankan nyawa rakyatmu?
Dunia seperti apa yang ingin kau dirikan?
Tolong dipikirkan baik-baik.
Jika ingin membangun sebuah dinasti baru yang mengutamakan rakyatnya,
maka aku...
bersedia menjadi rakyatmu.
Segel Kenegaraan ditelan ikan paus?
Hamba pantas mati.
Lancang!
Sekarang juga...
Anak-anak yang kau tangkap untuk dijadikan gungnyeo dan kasim...
...segera bebaskan dan biarkan mereka pulang!
Jeonha!
Ini adalah permintaan Kerajaan Tiongkok.
Tutup mulut!
Dan kau Han Sang Jil!
Segera ke Dinasti Myeong (Dinasti Ming)!
Maaf?
Kusuruh kau negosiasi ulang! Negosiasi ulang.
Jika sampai gagal,
anak-anak kalian akan dijadikan gungnyeo dan kasim.
Sudah mengerti?
Mengikuti perintah.
Pada saat itu sudah seharusnya saya mati tenggelam.
-=Lee Seong Gye yang kembali bersama pasukannya ke Mihwado pada tahun 1392 membentuk Joseon=-
-=Sampai tahun 1403 pada pemerintahan Taejong Dinasti Myeong memperoleh Segel Kenegaraan=-
-=Selama 10 tahun Joseon berdiri, sama sekali tidak memiliki Segel Kenegaraan=-
-=Untuk sementara buat sebuah segel "Joseon Wangbo" untuk digunakan.=-
Hei, layar disebelah sana harus diturunkan!
Bukankah kau yang suruh aku tarik?
Arah angin tidak benar.
Angin bertiup ke arah sini.
Angin! Angin!
Bacotmu banyak sekali!
Kau saja yang ke sana!
Tidak ada satupun yang sesuai dengan harapan.
Seharusnya makhluk-makhluk seperti ini dibunuh saja.
Memang seharusnya dibunuh.
Aku harus secepatnya meninggalkan kapal ini.
Terima kasih telah menggunakan subtitle dari: ~ DarkSmurfSub Indonesia ~
DarkSmurfSub Indonesia Facebook Fanpage: https://www.facebook.com/DarkSmurfSubIndo
Kunjungi blog DarkSmurfSub Indonesia di: ~ http://darksmurfsubindo.blogspot.com ~
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.