Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Pada saat kita merenungkan masa lalu,
akan ada saat-saat yang mengubah kita,
diri kita, hidup kita,
agar dapat melangkah lebih pasti ke depan.
Ini sebuah cerita tentang seorang manusia
yang telah menyentuh hidup ini.
Menyentuh saya.
Saya akan mulai mati hari ini.
Sita. Maaf, ya.
Aku saja tidurnya harus berdiri, gara-gara keluargaku banyak yang datang.
Aku jadi tidak enak padamu.
Tidak apa-apa, Mbak. Jangan khawatir.
Mbak Rossi juga sudah sering bantu aku.
Kasihan kamu.
- Pak. - Ya.
Yah, Pak. Maaf, Pak. Tidak lihat. Habis jorok sekali di sini.
Dulu yang mengontrak di sini meninggalkan sampah, banyak sekali.
Pak Johan, kenapa? Kok bengong? Ini Sita.
Lupa pasti. Aku tanya ke Pak Johan minggu kemarin,
kamar ini kosong apa tidak.
Pak Johan jawab iya, untuk sebulan saja.
Saya memang bilang kosong,
tapi tidak bilang akan dikontrakkan.
Eh.
Bapak tidak bisa begitu.
Sudah janji.
Aku tidak punya tempat lain lagi. Kok bisa lupa?
Aku juga tanya harga sewanya berapa ke Bapak.
Saya tidak bilang kamar itu bisa disewa.
Tidak bisa begitu, Pak. Ini, nih. Ini uang sewanya.
Yah, separuhnya.
Aku bolak-balik mengambil foto bersama Bapak.
Masa tidak percaya?
Lagi pula, Bapak juga tidak boleh sembarangan begitu.
Sepertinya ada undang-undang yang melarang orang membatalkan janji.
Pak.
Ini, Pak.
Benar, Pak. Sisanya aku berikan minggu depan.
Tolong, ya, Pak.
Aku benar-benar sudah tidak ada tempat lain lagi.
Ya, Pak? Tolong.
♪ Di sana ku melihat ♪
♪ Di malam bulan nan meradu ♪
♪ Perlahan-lahan makin sayu ♪
Eh, Mbakyu.
Bayaran bulan ini mana?
- Ha? - Bulan kemarin juga mana?
Kalau memang kau tidak bisa bayar, kembalikan saja bajuku.
Sembunyikan ponsel dan makanan kalian!
Eh, jangan ambil, ya!
Ponsel jelek saja.
Tenang. Utangku pasti kubayar.
Eh.
Minta balik baju pun, aku tidak bisa kembalikan.
Sudah dirobek om yang mana juga, aku sudah lupa.
Dasar!
Ke mana kamu semalam? Aku mencarimu, tahu?
Seharusnya kamu balik ke sini, 'kan?
Mana? Mana bagianku?
Aku tidak enak badan, Mas. Aku langsung pulang.
Sini kamu, sini!
Kamu jangan bohong, Sita.
Aku sudah ke rumahnya Rossi, dan coba tebak apa yang dia bilang.
Kamu sudah tak tinggal di situ lagi. Di mana kamu sekarang? Ha?
Sini kamu!
Kita sudah sepakat. Utang kamu tidak sedikit.
Kalau begitu, bunganya akan naik terus.
Ingat. Ingat utang keluarga kamu padaku.
Kamu tahu, 'kan, apa yang akan terjadi kalau kamu menipu aku?
Ha?
Halo, Pak Rohim? Ini Sita.
- Oh, Sita? - Iya.
- Kamu baik-baik saja? - Iya.
- Nenek ada, Pak? - Ada.
Pak Rohim apa sudah terima kiriman sarung dari aku?
- Sudah. Terima kasih, ya. - Iya. Suka, Pak?
- Oh, bagus. - Suka. Mahal, ya?
Tidak, tidak mahal sama sekali.
Aku belinya di pabrik. Kalau karyawan dapat diskon, Pak.
- Iya. Nenek sudah sampai, Pak? - Ini, sudah.
- Mana? Boleh aku bicara? Terima kasih. - Iya.
- Nek? - Halo?
Nenek.
- Ada apa? - Nenek bagaimana, Nek? Apa kata dokter?
- Harus ke rumah sakit lagi. - Oh.
Begitu, ya? Iya.
- Kamu sudah kirim? - Sudah. Aku kirim beberapa hari lalu.
- Bagaimana kekurangannya? - Apa? Masih kurang?
- Iya. - Iya, iya.
Nanti aku kirim sisanya beberapa hari lagi, ya.
- Yani ada, Nek? - Ada. Yan, sini.
- Yani? - Ibu.
- Yani Sayang, ini Ibu. - Ibu!
Yani suaranya mengantuk, ya?
Iya. Ibu tahu sekarang sudah… Sudah malam.
Ibu tahu ini sudah malam,
tapi kamu tahu, ini waktu yang murah untuk Ibu telepon.
Kalau kamu dan Nenek mau ke sini, kita harus hemat.
Ya, Sayang, ya?
Ya, Sayang? Yani tidur dulu. Uang Ibu juga sudah habis, ya?
- Yani tidur, ya? - Iya, Bu.
Sini. Di sini.
Senyum.
- Senyum. - Senyum.
Satu, dua.
- Tiga. - Tiga.
Untuk bapakmu yang kerja di Saudi Arabia.
Pusing aku. Duduk, foto sendiri di sini.
Pak, aku mau tanya, Pak.
Kenapa Bapak kalau mengambil foto selalu banyak-banyak?
Tidak pernah satu atau dua kali saja.
Karena kalau tukang foto di kampungku, Pak,
tidak pernah mengambil foto lebih dari dua kali. Begitu, Pak.
Tidak buang uang?
Saat ambilnya harus tepat.
Tangan ke dada.
Ha?
Ke dada.
Lihat kanan.
Kanan.
Pak, aku pernah lihat seperti ini di majalah.
Anakku pasti suka.
Dia pasti meniru. Sudah. Foto seperti ini saja, ya?
Begini, Pak.
Satu, dua, tiga.
Pak, minta tolong foto ini direproduksi, terus diperbesar, ya, Pak.
Ini foto satu-satunya yang aku punya dari Yani. Anakku.
Dia pasti sudah lain sekarang.
Sudah lama aku tidak bertemu.
Minggu depan ulang tahunnya yang kelima, Pak.
Hei!
Jangan sentuh kamera saya!
Eh, Sit. Sini.
- Hai, Mbak. - Hei.
- Apa itu? - Ini.
Seragam yang aku pinjam.
Eh, anak ini. Ini sebentar lagi mau diambil oleh yang punya.
Untung saja.
Tini. Aduh.
Kalau mau pakai kebaya, jangan makan seminggu, Tin.
Minum air saja.
Mbak Sita jangan begitu.
- Sudah. - Bercanda.
Sudah. Ini lagi stres.
Seminggu lagi, calon mertuanya mau datang.
Mau lihat, kira-kira cocok atau tidak jadi calon mantu.
Sudahlah, ganggu saja.
Memang kalau tidak suka, bagaimana?
Bisa-bisa tidak jadi kawin, Tin.
Sita! Sudah, jaga omongannya. Masuk, Tini.
Kamu menambah stres. Bagaimana, sih, kamu?
Terus, bagaimana? Enak tinggal di tempat tukang foto yang aneh itu?
Yah, dia keluar, dia masuk. Keluar-masuk, tidak pernah bilang apa-apa, Mbak.
- Lo? - Kalau bicara, tak pernah menatap mata.
Kok aneh, ya?
Terus si bangsat Suroso itu tahu kalau kamu tinggal di situ?
Dia pernah, Mbak, mengikuti aku. Tapi akunya lebih cepat hilang.
Pokoknya, aku akan selalu berusaha supaya tak bawa dia dekat-dekat sini.
- Iya. - Jangan khawatir, Mbak.
Iya.
Ya, aku tak apa-apa kalau dia berani datang ke sini, terus tanya soal kamu.
Asalkan dia juga berani mati, dihajar oleh adik-adikku di sini.
- Macam-macam, mati kamu. - Ya sudah, Mbak. Aku pergi dulu, ya.
- Sekarang? - Iya.
- Pulang, ya, Mbak. - Hati-hati.
Pak Johan.
Ah…
Pak.
Aku tahu aku janji bayar uang kontrakan minggu kemarin,
tapi aku terpaksa kirim uang lagi ke kampung.
Nenekku sakit lagi, Pak.
Jadi, uangku bulan ini juga sudah habis.
Percaya, Pak. Aku tidak akan lari.
Saya simpan dulu foto-foto ini.
Sedih.
Bingung?
Marah.
Senang.
Selamat malam, Bapak-Bapak Ganteng.
Mau lagu apa?
Tiongkok Mandarin?
Jepang, Korea?
Beatles?
"My Way?"
Atau…
Mau dangdut, atau lagu sedih?
Tapi kok sepertinya Mas ini lagi patah hati, ya, Mas?
Aku nyanyikan lagu sedih saja, ya?
Awas. Saya bernyanyi, harus senang.
♪ Dalam lelahku ♪
♪ Dalam lamunanku ♪
♪ Terbayang jelas karena ♪
♪ Yang membakar mimpi ♪
♪ Kusapa sang surya ♪
♪ Kubentang jendela ♪
♪ Terlihat wajah mereka ♪
♪ Menanti harapan ♪
Hei, kalau bernyanyi, yang benar!
Halo? Yani, ini Ibu.
Ibu, sudah malam.
Iya. Ibu tahu, Sayang.
Bukan malam telepon.
Bukan malam telepon, dan Ibu juga tahu sudah malam sekali.
Ada apa, Bu?
Tapi Ibu rindu sekali pada Yani.
Ibu lagi apa?
Ibu sekarang kerja lembur, Sayang.
Iya. Jadi, agar Nenek bisa masuk rumah sakit.
Jadi, cepat sembuh.
Orangnya sudah menunggu. Ayo.
Sit, ini untuk kamu dan aku juga, ya?
Ayo.
Ibu.
- Bu? - Yani baik-baik, ya?
Ya, Bu.
Ibu pergi dulu. Yani tidur, ya?
- Iya, Bu. - Ibu sayang Yani.
Ayo.
Diam kamu.
Masuk.
Ayo, masuk. Masuk.
Aduh, jangan!
Mas, tolong, Mas!
Mas, jangan!
Jangan!
Sita!
Sita!
Habis kamu!
Agar seluruh kampung tahu, pelacur macam apa ibunya si Yani itu!
Nenek kamu mati kena serangan jantung,
kalau dia tahu kamu melakukan apa saja di kota!
Itu bapak saya.
Kaget aku!
Begini, Pak. Aku tidak bisa bayar uang sewa,
tapi aku juga tidak ada tempat tinggal lain.
Dan tidak mungkin aku dapat pekerjaan lain dengan muka seperti ini.
Boleh aku kerja di sini?
Sebulan saja, atau lebih.
Sampai dapat pekerjaan lain.
Bersih-bersih atau mengepel.
Jangan.
Kotak itu jangan disentuh.
Kotor sekali di situ.
Biasanya Bapak bersih sekali. Aku cuma mau mengepel.
Jangan sentuh kotak itu lagi.
Bagian dekat sini jangan diganggu.
Nama? Sita.
Pekerjaan? Buruh pabrik yang akan jadi manajer.
Bulan ini, kita lagi mengejar pesanan untuk jaket musim dingin.
Saya Sita.
Bagian kancing.
Eh.
Pak Johan! Kenapa, Pak?
Eh, Pak Johan.
- Yang ini, Pak? - Iya, betul.
Berdiri di sana.
Satu, dua, tiga. Senyum.
Eh, Pak! Aduh.
Pak Johan. Pak.
Dia serakah.
Dia ambil semua warisan yang ditinggalin orang tuanya
untuk saudara-saudaranya.
Sampai adiknya sendiri yang sakit jiwa itu.
Tahu, tidak, bagaimana dia matinya?
Saking sakitnya, sampai dia mati.
Apa yang akan terjadi kalau orang matinya sampai seperti itu?
Dia membuat marah roh orang tuanya.
Mereka akan menghantui dia, sampai mati, terus-terusan.
Dia biarkan adik laki-lakinya telantar di rumah sakit jiwa.
Dia tidak menepati janjinya kepada orang tuanya.
Arwah leluhurnya pasti marah besar.
Dia mati di api neraka juga.
BERKAT DARI LANGIT
Pak Johan!
Pak Johan!
Kamu sedang apa di sini?
Bukannya ke pasar?
Pak.
Pak.
Ibu.
Pak, selebaran seperti ini tidak tahan lama.
Paling satu atau dua hari juga hilang.
Apalagi kalau hujan.
Tak ada yang akan baca, Pak.
Saya akan buat lagi, sampai dapat orang yang menggantikan saya.
Memangnya tidak ada keluarga yang bisa dididik?
Keluarga Bapak di mana?
Kamu duduk di sana.
Aku… Aku cuma mau memperbaiki ini.
Eh, belakang!
Pak, banyak yang menunggu di luar.
Berarti selebarannya berhasil.
Banyak sekali mereka. Banyak orang.
Bagus itu, Pak. Jadi, bagaimana?
Aku tak mungkin bersihkan rumah dengan orang-orang itu keluar masuk.
Apa Bapak mau bertemu mereka satu-satu?
Kalau aku bilang, dikurangi saja, Pak.
Tadi malah aku lihat ada yang pakai tongkat segala.
Pak Johan.
Bagaimana?
Bagaimana, Pak?
Keluarga.
Tampang-tampang yang menunggu di luar sepertinya tidak ada yang keluarga, Pak.
Bapak ini harus percaya.
Nenek moyang saya dari Tiongkok.
Benar dari Tiongkok, Tiongkok Daratan.
Jadi, nama keluarga kita sama. Bapak Tan, 'kan? Saya Martin Tan.
Harus laki-laki.
Kok laki saja? Diskriminasi itu, Pak, namanya.
Zaman sekarang tidak ada yang seperti itu.
Hak, status, pekerjaan, gaji. Semua sama.
Omong-omong, gajinya berapa, Pak?
Bercanda, 'kan? Ini kota besar.
Dan tidak ada kerja yang gratisan.
Ya, dia benar, Pak.
Masa ongkos saja tidak dapat?
Dia harus benar-benar mau pekerjaan ini.
Ya, hari begini susah, Pak.
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Maaf, ya.
Yang bisa daftar, yang laki-laki saja.
- Terima kasih. - Maaf, ya, Bu.
Tunggu. Yang bisa daftar, yang laki-laki saja.
Tunggu. Maaf.
Yang muda dan yang sehat saja, ya.
Sehat walafiatnya seperti apa?
Mudanya semuda apa?
- Syaratnya seharusnya ditempel. - Benar!
Jangan buang waktu dan tenaga kami.
Saya laki-laki.
Secara peralatan masih utuh semua, masih bagus.
Tapi, Mbak, kalau bicara hati,
kita sama. Perempuan dalamnya.
Mau periksa, Pak?
Kameranya sudah tua sekali, ya?
Saya kenal, Pak, dengan kolektor yang mau beli barang seperti kamera-kamera ini,
yang berani mahal.
Buta warna.
- Mas buta warna, ya? - Enak saja.
Kok tanya-tanya tentang warna? Siapa yang buta warna?
Ya sudah.
Mas, warna kemejanya apa?
Merah. Kemerah-merahan.
Celananya?
Cokelat ini.
Kenapa tentara mau magang jadi fotografer?
Fotografer? Saya ke sini untuk ambil foto.
Lo? Mas tidak lihat, ya, pengumuman di depan?
Sekarang ini, lagi ada wawancara untuk magang jadi fotografer.
Memangnya di depan tak ada yang beri tahu?
Tidak ada siapa-siapa, dan tidak ada pengumuman.
Jadi, bagaimana? Bisa ambil foto, tidak?
Satu, dua.
Maaf, saya tidak sangka jadi begini.
Kenapa, Mas?
Ini hari terakhir saya bisa memakai seragam ini.
Yang terakhir kalinya.
Hari ini, saya resmi keluar dari tentara.
Besok, kalau saya keluar rumah, saya akan jadi orang sipil.
Bayangkan, sipil.
Sama seperti kalian.
Sebenarnya, Mas kenapa dikeluarkan?
Tidak tahu. Urusan teknis, saya juga tidak tahu.
Kau mau magang jadi fotografer?
Senyum.
Satu, dua, tiga.
Asu!
Tahu kamu? Aku mencari-cari dia!
Dia di mana? Di mana dia?
Aku tahu kalian sembunyikan dia. Iya, 'kan?
Utang dia padaku banyak sekali! Tahu, tidak?
Dengar, dia itu milikku sampai dia bayar lunas semua utang keluarganya! Dengar?
Apa? Apa kamu bilang?
Dasar germo kurang ajar! Harus kamu tahu!
Sita pasti sudah bayar utang dengan berlipat ganda padamu!
Kamu saja yang bohongi dia! Aku tak tahu dia ada di mana! Aku tidak tahu!
Seharusnya dia lepas dari kamu, dari dulu! Dari dulu!
Sekarang, pergi dari sini sebelum kamu saya bunuh!
Atau mereka yang hajar kamu! Pergi! Pergi kamu!
Pergi! Dasar kamu!
- Kurang ajar! - Asu!
Pergi!
Sial!
Iya, Nek.
Aku tahu Nenek perlu segera operasi.
Iya, Nak.
Tapi uangnya memang belum ada.
- Tidak apa-apa. - Yani bagaimana?
Ya, bagus kalau sehat.
Pokoknya, Nek, begitu Sita ada uangnya, langsung Sita kirim, ya?
Iya, Nak.
Sudah dulu, ya. Sita harus pergi.
Hati-hati, ya.
Sita, Sita.
Aduh, kamu itu, Nak. Apa? Kejadian yang sebenarnya kenapa?
Kamu belum cerita.
Tidak ada apa-apa, Mbak. Aku cuma jatuh.
Tak ada apa-apa bagaimana?
Aduh, aku tak mengerti.
Hari ini pasti sibuk. Ramai. Aku bisa gila ini. Pusing, ramai.
Tambah lagi, lihat badanku. Tambah gemuk.
Lihat, 'kan? Tidak masuk ini. Nih, sempit.
Bisa. Sini aku bantu. Tahan napas, ya, Mbak.
- Tunggu. - Satu, dua, tiga.
- Itu bisa. - Bisa.
Ya, ini satu.
Sit.
Terus, kamu sudah tahu kira-kira apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?
Hmm?
Sudah. Kebayanya cantik.
Jangan makan lagi. Nanti meletus, Mbak.
Ya?
Eh, aku dapat tawaran bernyanyi di kapal pesiar, yang besar.
Dan katanya, boleh bawa Yani dan Nenek.
Aduh, Sit. Ini aku. Kok kapal pesiar?
- Bagaimana, sih? - Iya, Mbak. Benar, aku tak apa-apa.
Paling tidak untuk sekarang. Tidak tahu besok-besoknya.
Yang penting, aku masih punya atap.
- Mbak Rossi! - Ya, sebentar.
Atapnya siapa? Atapnya Pak Johan? Orang aneh begitu.
Dulu, istri dan anak laki-lakinya itu
mau meninggalkan dia waktu mereka tertabrak kereta api.
Nah, sejak saat itu,
dia bakar dupa terus-menerus tiap hari di seberang relnya.
Nah, aneh, 'kan?
- Mbak Rossi! - Iya!
- Cepat! - Aku pergi dulu, ya. Sebentar.
♪ Di sana ku melihat ♪
♪ Di malam bulan nan meradu ♪
♪ Perlahan-lahan makin sayu ♪
♪ Seakan malam tak tidur ♪
♪ Aduh, jangan terjadi ♪
Semua foto ini tidak fokus.
Maaf, Pak.
Saya minta maaf.
Saya gagal lagi.
Saya pikir, kali ini saya bisa buktikan saya bisa hidup di luar dunia tentara.
Saya berpura-pura saya dipecat karena kesalahan orang lain.
Saya selalu menyalahkan orang lain.
Sebenarnya, kenapa kau dipecat?
Kata mereka… Kata mereka, Pak, bukan kata saya.
Ternyata ada kelainan pada mata saya.
Tidak tahu kenapa, mata saya jadi kacau.
Kadang fokus, kadang tidak.
Ya, waktu latihan menembak,
saya menembak komandan saya waktu latihan.
Tapi saya tidak sengaja.
Kok seperti ini hasilnya, Pak?
Ha?
Bagaimana ini? Kita tidak punya foto perkawinan kalau begini.
Apa yang mau ditunjukkan pada anak dan cucu?
Tenang, Mas.
Tak usah marah-marah begitu, Mas Agus.
Sudah kejadian juga.
Pak Johan pasti punya cara untuk menyelesaikan masalah ini. Ya, 'kan, Pak?
Apa? Apa coba?
Coba yang ini.
Cantik.
Sudah. Sudah, ya.
Nah.
Bagus.
Ini.
Ini untuk kamu.
Hei.
Ini, aku tambahkan.
Ada lagi?
Ini cantik.
Sita!
Di mana kamu? Sita!
Di mana, Bu, Sita? Mana?
Sita! Turun kamu!
Kembalikan uang aku!
Aku tahu nama asli kamu! Sariah!
Hei!
Sita!
Ke mana kamu? Sita!
Pak Johan!
Pak Johan!
Pak Johan.
Rumah semakin kotor.
Pak Johan!
Pak Johan!
Pak Johan di mana?
Belum siap untuk pergi.
Belum selesai tugas-tugas saya.
Belum sekarang.
Tunggu.
Tenang, Pak. Mereka cuma lagi mengasapi kampung.
Pak.
Sebenarnya, aku dapat tawaran bernyanyi bulan depan.
Di kelab malam paling top di sini.
Tapi mana mungkin
dengan muka memar begini.
Artinya, aku bisa lebih banyak bantu di sini.
Beberapa bulan saja.
Saya akan coba untuk menyelesaikan tugas-tugas ini.
Sekuat tenaga saya.
Saya tidak pernah melakukan apa pun dalam…
…hidup saya
yang berarti.
Apa pun yang Bapak ingin lakukan, ayo, Pak, kita jalankan.
Saya sudah lama tidak pernah naik kereta api.
Naik kereta api, kemudian lihat ke pelabuhan.
Lihat laut.
Kapal-kapal dari Tiongkok ada di sini.
Saya ingat saya hampir jatuh waktu turun.
Dari kecil, saya ingin pergi, jalan jauh.
Balik ke Tiongkok dari sini.
Kok tidak, Pak?
Banyak hal yang terjadi.
Masih bisa, Pak. Aku bisa bantu.
Aku nanti jadi penyanyi di kapal pesiar besar yang ke Tiongkok.
- Terus, kita bisa ke… - Ya.
Kau pernah bilang jadi penyanyi di kapal pesiar.
Iya.
Kalau benar-benar jadi,
- kita ke Tiongkok, ya, Pak? - Ya.
Saya bisa jadi fotografer di atas kapal.
Tapi tidak bisa keliling.
Kok mukaku sedih, ya, di situ?
Di sini, kamu gembira.
Foto bisa jujur, bisa menipu.
Terserah mau pajang yang mana, dan yang mana yang mau disimpan.
Sariah, Sita.
Sita, Sariah.
Namaku Sariah, bukan Sita.
Sita nama panggilanku.
Miss Sariah. Dangdut!
Yani? Yani Sayang.
- Siapa ini? - Ini Ibu.
- Iya, Bu. - Sudah lama, ya, menunggunya?
- Iya, Ibu. - Bilang Eyang,
nanti uangnya segera Ibu kirim. Jadi, Eyang bisa cepat sembuh.
- Ya, Sayang? - Ya. Nanti aku sampaikan.
Ayo. Masuk.
Ayo. Masuk.
Ayo, Neng. Masuk.
Pak Johan.
Pak Johan!
Pak Johan, ini Sita.
Pak Johan.
Aku melihat ke depan, Pak.
Bukan ke masa lalu seperti Bapak.
Aku mesti jaga nenekku, mesti jaga anakku.
Yang hidup yang penting, Pak.
Bukan yang mati.
Sudah lama di dalam kotak ini.
Jangan!
Tidak boleh ambil foto saya. Nanti sial.
Memang apa bedanya, Pak, kalau yang ambil foto Bapak adalah aku atau orang lain?
Tidak boleh!
Cuma orang yang akan menggantikan saya yang boleh ambil foto saya.
Tidak ada orang yang mau, Pak.
Saya sudah berusaha.
Berusaha keras mencari pengganti.
Maafkan saya.
Saya gagal.
Saya gagal.
Maafkan saya.
Apa memang harus dipenuhi, Pak?
- Kalau tidak bisa… - Tidak mengerti.
Saya sudah berjanji.
Saya bersumpah.
Mereka akan mengerti, Pak. Pasti.
Mereka juga sudah tidak ada.
Maksudku, mereka sudah di surga.
Saya harus menyelesaikan semua janji saya dulu
sebelum saya boleh bersama mereka.
Tapi sulit sekali.
Apa yang akan terjadi kalau Bapak tidak menemukan pengganti Bapak itu?
Tidak mengerti.
Janji kepada leluhur harus dipenuhi.
Saya akan memenuhi janji itu.
Kalau tidak,
saya tidak akan bertemu dengan keluarga saya lagi di akhirat.
Mau kau apakan foto-foto ini?
Saya yang memotret ini.
Saya ada, pada hari itu.
Pagi itu, saya beri tahu Selly saya akan meninggalkan mereka.
Saya benci semua dalam hidup saya.
Saya benci menjadi penerus warisan keluarga.
Benci menjadi orang yang menurut.
Dan saya katakan ke Selly
kalau saya tidak cinta dia. Saya tidak pernah cinta dia.
Saya katakan semuanya pada hari itu.
- Bapak tahu kejadian ini? - Saya tahu, Pak.
Saya teriaki mereka, Pak. Sekencang-kencangnya.
Saya teriak, agar mereka keluar dari rel.
Ada kereta lewat, mereka jalan terus.
Ada hantu yang menjaga tempat ini.
Hantu menutup telinga orang yang lewat.
Sering, Pak, di sini.
Ini yang ketiga tahun ini.
Keluar.
Tinggalkan saya, jangan balik.
Saya akan melukaimu,
melukai semua orang yang dekat dengan saya.
Saya bersumpah pada leluhur keluarga,
saya akan menjadi anak yang baik,
suami yang baik, ayah yang baik.
Tapi saya gagal.
Janji segampang itu pun, saya bisa gagal.
- Pergi, Sita. - Tapi, Pak…
Tidak ada yang baik di sini.
Kembali ke anakmu.
Peluk dia.
Itu kebenaran saya.
Tidak bisa pura-pura lagi.
Pak.
Jangan dekat saya.
Hei!
Kurang ajar. Nakal sekali.
Ini polanya. Ratakan, lalu gunting. Satu senti jaraknya.
- Yang ini berapa? - Murah. Sepuluh ribu.
Sita.
Sita.
Sita.
Bisa ambil foto saya?
Lihat sini, Pak.
Senyum.
Satu, dua, tiga.
Satu lagi, ya, Pak.
Senyum.
Saya Yani,
dan ini cerita ibu saya.
Potret ini membawa Ibu dan saya
untuk terus menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Kehidupan yang tertangkap pada dinding-dinding kenangan.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.