Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PARK HYUNG-SIK
JEON SO-NEE
PYO YE-JIN
YUN JONG-SEOK
LEE TAE-SEON
MASA MUDA KITA YANG MEREKAH
DRAMA INI ADALAH KISAH FIKTIF
SEMUA KARAKTER, ORGANISASI, LOKASI, INSIDEN, DAN AGAMA
DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF
ADEGAN YANG MELIBATKAN HEWAN DIBUAT DENGAN PROPERTI DAN EFEK VISUAL
Maukah kau menjadi temanku lagi?
Yang Mulia.
Tak pernah sedetik pun...
aku bukan temanmu.
Aku berencana membuat keajaiban itu setiap hari.
Aku akan punya seorang teman, percaya padanya,
dan aku akan melindunginya.
Sampai bertemu di tempat latihan nanti.
Latihan memanah menjadi membosankan karena aku tak punya lawan untuk bersaing.
Ya, Yang Mulia.
EPISODE 10
Apakah kau senang punya teman lagi?
Kau tampak bahagia.
Kau tersenyum sepanjang jalan menuju ke istana.
Kenapa melihatku seperti itu?
Apakah kau juga mau menjadi temanku?
Apakah menurutmu pria dan wanita tak bisa berteman?
Bukan.
Hanya saja kebencian ini mulai memenuhi diriku lagi.
Saat kau mengusirku, aku sangat sedih.
Apakah kau merasa senang setelah mengusirku?
Itu kenapa aku meminta maaf waktu itu.
Aku minta maaf.
Itu saja?
Itu terlalu singkat dan sederhana.
Aku mau kau mengatakannya lagi,
tetapi lebih lama dan detail kali ini.
"Aku membutuhkanmu.
Aku mau kau tetap bersamaku."
Katakan itu kepadaku.
Aku merindukanmu, Jae-yi.
Kenapa kau tak mengatakan apa pun?
Bagaimana denganmu?
Kau mungkin tak memikirkanku selagi tinggal di Manyeondang.
Kenapa diam saja?
Tanpamu di sisiku,
Istana Timur terasa sangat kosong.
Apakah sesulit itu bagimu meminta maaf?
Aku meminta maaf dalam benakku.
Kau juga bicara kepada diri sendiri,
jadi aku tadi membatin.
- Tidak bisa. - Beraninya kau?
Kau menguping saat aku bicara kepada diriku.
Jadi, barulah adil kalau kau memberitahuku apa yang kau pikirkan.
Aku memikirkan sesuatu yang kau tak boleh tahu.
Ayolah, apakah kau serius?
Bukankah lebih baik daripada mengumpat di kursi?
Kau bahkan menendangnya.
Kau membayangkan aku kursinya, bukan?
- Cukup. - "Cukup"?
Ini curang.
Cukup, pergilah beristirahat.
Tidak, Yang Mulia, bagaimana aku bisa begitu?
Aku akan mengawalmu ke Istana Timur.
Sudah larut malam.
Pergilah beristirahat.
Kau mungkin saja berpakaian sebagai pria,
tetapi aku belum lupa kalau kau wanita.
Aku hampir lupa. Kalau kau kembali,
akan ada banyak camilan malam menantimu.
Jika lewatkan makan siang, tak ada yang beri makan siang.
Dia tak pernah menanyakanku apakah aku sudah makan malam.
Aku bukan orang tak rasional seperti yang kau pikir.
Sudah kuminta Tae-gang menyiapkannya.
Masuklah dan makan.
Yang Mulia.
Kau tak lapar?
Kita sudah berjalan berkilo-kilometer.
Wow!
Japchae dan tartar daging sapi!
Aku sudah lama tak melihat kalian.
Kue buatan istana semanis madu.
Manis sekali.
Maaf, Yang Mulia.
Aku sungguh tidak sopan.
Oh.
Makanlah, ini benar-benar enak.
Ini sangat enak.
Ayah belum tidur?
Yang Mulia sudah berubah.
Aku juga merasa begitu.
Aku tak tahu
Ayah menyiapkan kembang api untuk pernikahanku.
Bukankah Ayah bilang
mengadakan pesta yang terlalu besar
bertentangan dengan integritas cendekiawan?
Dengan kembang api, orang akan berkumpul dari semua tempat
dan seluruh desa akan menjadi ramai.
Kau putra ayah satu-satunya.
Orang-orang berkumpul, tertawa dan makan bersama
di pernikahan putra ayah
bukanlah pesta yang terlalu besar.
Ayah rasa sudah waktunya kita bersih-bersih di sini.
Itu sudah terlalu lama di sini.
Ayah akan kirimkan niternya ke Gaeseong lewat Biro Senjata.
Dia sudah meninggal.
Kau tak perlu repot-repot lagi mencari orang yang sudah meninggal.
Itu tak ada artinya.
Begitu Putri Mahkota dipilih,
ayah akan mencarikan pasangan baru untukmu.
Jadi, ingatlah itu.
Masa depan keluarga bergantung pada itu, jadi kita tak bisa terus menundanya.
Kutemukan kau, Jang Ga-ram.
Namun, dia seorang pria. Bagaimana kau bisa sebut dia Jang Ga-ram?
Dia tampak jauh lebih kurus di gambarnya.
Banyak wanita menyamar menjadi pria untuk menghindari chusoeryeong.
Aku yakin itu dia.
Kita tangkap dia sekarang?
Ya, ampun.
Bagaimana kalau pemburu bayaran datang mencariku?
Ya, ampun, aku gelisah tiap hari.
Tidak, entah aku hidup atau mati,
itu untuk Nona Jae-yi.
- Entah kenapa dia meninggalkan Gaeseong. - Kenapa kita harus tahu alasannya pergi?
Min Jae-yi mungkin masih hidup.
Dia datang jauh-jauh ke Hanyang menyamar sebagai pria
mungkin untuk menemui majikannya, Min Jae-yi.
Kau akan menangkap Jae-yi dan menyerahkan keduanya?
Ke mana kita sebaiknya menyerahkan mereka untuk mendapatkan imbalan kita?
Sebaiknya serahkan ke Kepala Bagian Han.
Gadis kurang ajar itu telah menodai reputasi bangsawan...
Kau masih perlu banyak belajar.
Apakah kau punya rencana lain?
Aku mau menyerahkan mereka kepada Penasihat Negara Kanan.
Penasihat Negara Kanan akan menggunakan mereka sebagai apa?
Kau tak dengar kalau dia
membeli informasi dari seluruh penjuru negeri?
Dia akan bayar melebihi Kepala Bagian Han karena dia salah satu penasihat negara.
Jadi, itu yang terjadi
Putra Mahkota membuktikan Penasihat Negara Kiri tak bersalah
untuk menyelamatkan temannya beserta keluarganya.
Dia akan menjadi raja yang bijak.
Astaga, dia sungguh usil.
Kau akan tak apa-apa, Tuan?
Kau sungguh berpikir aku memulai semua ini tanpa rencana cadangan?
Terima kasih sudah memberitahuku apa yang terjadi.
Kalau begitu, aku sebaiknya pergi, Tuan.
Apakah kita mendapat kabar?
Kabar apa?
- Kau sungguh tak tahu? - Ya.
Soal surat bertuliskan "Song, Ga, Myeol..."
Jaga bicaramu!
Kalau kita dapat kabar, pasti mengenai itu.
Kita pasti tak dihubungi sebab itu masalah desa.
Seseorang mungkin mengenali dia meski memakai topeng.
Kudengar kau ke Kantor Syamanisme.
Kenapa kau membuat keributan?
Jika terbakarnya pohon prem istana terkait dengan syaman Kantor Syamanisme,
maka ada kaitannya denganmu.
Kau tahu sebanyak apa?
Bagaimana kalau ada yang mendengarmu?
Memangnya aku tahu apa? Aku hanya melakukan yang disuruh.
Jika sudah lakukan yang disuruh,
kita bisa pulang, bukan?
Bagaimana jika tidak?
Kita harus terus hidup dengan nama dan kampung halaman palsu?
Aku harus mendapatkan kembali namaku.
Ayo kembali saja ke Desa Naeahn...
Berhenti melantur dan kemasi barang...
untuk dikirim ke Desa Naeahn.
Biksu itu akan segera ke sini.
Apakah pohon prem yang terbakar itu tak terkait dengan Penasihat Negara Kiri?
Kalau begitu, apakah pencuri Byeokcheon benar-benar merencanakan sesuatu?
Astaga, bagaimana kau tahu aku suka minum-minum?
Kau sungguh sangat baik.
Aku merasa sangat senang.
Kau cukup keren hari ini.
Saat kau bersikap serius di gudang Kepala Bagian Han,
itu membuatku tenang.
Kau memikirkan Kepala Bagian Han?
Tidak.
Aku hanya teringat lilin yang kulihat di gudangnya.
Begitu tahu kebenarannya, kau akan bisa membersihkan namamu
dan menyalakan lilin-lilin itu.
Kepala Bagian Han orang yang luar biasa.
Ayahku butuh waktu lama untuk memilihnya sebagai suamiku.
Namun, aku menyukai dia tanpa mengetahui...
kalau dia orang yang baik.
Apa maksudmu?
Menikah tak pernah merupakan pilihanku.
Pikirkanlah.
Pernikahan adalah janji antarkeluarga.
Jadi, menyukai dia
lebih baik daripada membencinya.
Namun, bukankah katamu kau jatuh cinta pada Seong-on,
itu cinta pada pandangan pertama?
Aku tak punya waktu jatuh cinta padanya. Kami hanya bertemu sekali saat kecil.
Aku hanya memutuskan untuk menyukai dia.
Kau sebaiknya melakukan yang sama
karena kau akan segera menikah.
Kau tak perlu memberitahuku harus apa.
Kalau begitu, apakah kau berencana membenci Putri Mahkota?
Aku akan melakukan apa yang kumau.
Kau tak bisa merencanakan
menyukai atau membenci seseorang.
Ya, ampun, ini buruk.
Aku kasihan pada Putri Mahkota.
Wanita yang akan menikah sangatlah gelisah.
Tak kupercaya dia harus menikah dengan pria sedingin itu.
Ini masalah besar.
Tak kupercaya dia menikah tanpa bertemu si pria
padahal dia akan harus habiskan hidup bersamanya.
Ini omong kosong.
Kalau kau menjadi raja,
ubahlah hukum itu.
Buatlah hukum baru yang menyatakan harus mengenal orang
sebelum menikahinya. Tidakkah itu bagus?
Harus berpacaran setidaknya setahun, berpegangan tangan sebelum menikah,
- mencium bau satu sama lain. - Mencium?
Dan melakukan ciuman pertama.
Dengan begitu, kau bisa tahu apakah ada rasa saling terhubung
dan kau perlu tahu itu agar seranjang...
Astaga, tak kupercaya kau berkata begitu.
Bagaimana itu bisa terjadi kecuali dunia kiamat?
Menurutku itu akan segera terjadi.
Aneh.
Aku kasihan pada Seong-on.
Dia akan mengalami banyak kesulitan.
Menikah dengan orang lain...
Kumohon tetaplah hidup.
Aku akan menemukanmu.
Aku mau Seong-on tahu mengenaimu.
Sebelum terlambat.
Apakah lebih aman kalau kau menemuinya
dan serahkan selebihnya kepadaku?
Membersihkan namaku yang utama.
Kalau kuketahui siapa pembunuh keluargaku,
aku tak akan pernah memaafkannya.
Nama keluarga kami berakhir.
Aku akan menangkap pembunuhnya dengan tanganku sendiri,
memastikan dia membayar perbuatannya.
Sekalipun aku punya waktu setelahnya,
aku tak akan menikah dengan Kepala Bagian Han.
Kurasa aku akan jauh lebih bahagia hidup sebagai kasim.
Ya, ampun.
Entah apa isi kepalamu hingga memikirkan hal konyol seperti itu.
Namun, kau yang bilang kepadaku,
"Silakan."
Silakan. Lakukanlah.
Kuberikan izinku.
Kau orang pertama
yang mengatakan itu kepadaku.
Jadi, aku bisa melakukan
apa pun yang kuinginkan.
Keadaannya berbeda dengan sebelum aku bertemu denganmu.
Tolong berikan ini kepada Tuan Muda Min.
Berkat dia, ayahku bisa membersihkan namanya
dan kembali ke rumah.
Aku tak bisa menerima ini.
Bawalah.
Berikan kepada ayahmu. Dia baru keluar penjara.
Kami tak apa-apa.
Izinkan kami membalas budimu dengan cara apa pun.
Terimalah ini.
Aku selalu bersembunyi di balik nama kakakku.
Namun, aku merasa aku berguna sekarang.
Aku memiliki nama pria meskipun palsu.
Sun-dol, bagaimana menurutmu?
Aku juga berpikir ini pembunuhan berantai.
Dengan nama itu...
aku bisa menyampaikan pendapatku di depan orang-orang.
Aku menyelamatkan dua nyawa
dan aku senang bisa melihat
keluarga yang tersenyum.
Kadang aku memikirkan bayi yang kita selamatkan itu.
Aku penasaran akan bagaimana kehidupan bayi yang kau namai Myeong-rae itu
di dunia ini.
Karena kau memberiku izin dan menyuruhku melakukan yang kumau,
kuselamatkan nyawa seseorang dan menyelamatkan keluarga dari kehancuran
meski aku difitnah atas sesuatu yang tak kulakukan.
Hal itu mungkin karena kau bersamaku.
Aku juga bisa melakukannya karena kau bersamaku.
Kalau aku menikah...
yang kulakukan hanyalah menjahit kaus kaki Kepala Bagian Han.
Aku tak percaya aku harus tetap di dapur hanya karena aku wanita.
Dan kalau dia memutuskan menambah istri...
Kau tahu betul kalau aku temperamental.
Aku pasti akan diusir karena rasa cemburuku.
Ya, itu jelas mungkin.
Aku suka dengan keadaanku sekarang.
Betapa bagusnya ini?
Kalau menikah, aku bahkan tak akan bisa minum-minum.
Jadi, maksudmu, kau mau bersamaku selamanya?
Oh...
Itu sebenarnya ide yang bagus.
Kau menyediakan tempat untuk tidur dan makanan,
dan aku mendapat gaji bulanan.
Karena kini tahu seperti apa dirimu, suara marahmu pun terdengar ramah.
Dan kalau kau kelak menjadi raja,
aku akan menjadi kepala kasim.
Kata siapa?
Siapa bilang kau akan menjadi kepala kasim?
- Pikirmu siapa pun bisa jadi itu? - Ayolah, biarkan aku jadi itu.
- Apa? - Biarkan aku menjadi kepala kasim!
Kau serius?
Karena aku kasim, aku tak perlu punya janggut.
Pekerjaan ini pas untukku.
Kalau saja aku tahu ada cara untuk hidup tanpa menikah,
aku tak akan terpikirkan untuk menikah sejak awal.
Kau akan menjadi raja dan aku menjadi kepala kasim.
Tidakkah itu sangat bagus?
Dan tak apa-apakah Seong-on bertemu wanita lain?
Aku lebih memilih menjadi kepala kasim.
Jadikanlah aku kepala kasim.
Astaga.
Baiklah, kalau kau tak akan menikah dan tetap bekerja sebagai kasim,
aku akan menjadikanmu kepala kasim.
Kau berjanji, bukan?
Hore, aku akan menjadi kepala kasim!
Baginda, Perdana Menteri datang.
Baginda, Penasihat Negara Kiri datang.
Masuklah.
Baginda, Penasihat Negara Kanan datang.
Masuklah.
Baginda, kau mau tteok?
Cukup.
- Baginda. - Cukup.
Tteok ini pemberian dariku, kepala kasim.
Kubilang cukup.
Ibu dapat kabar dari Menteri Tenaga Kerja.
Ibu.
Ayah, yang terjadi adalah...
Sepertinya dia sangat menyukaimu.
Tidak.
Jadi, masalahnya adalah...
Kami... Jadi...
Kemasi barangmu dan pergilah ke Hamjin.
Apa? Hamjin?
Apakah terjadi sesuatu kepada Nenek?
Kalau kau ke sana, pamanmu akan mencarikanmu tempat tinggal.
Ayah dapat posisi di pemerintahan untukmu, jadi tinggallah di sana enam bulan dan...
Ayah sedang berbicara dengan Myeong-jin.
Bukan anak pertama atau kedua Ayah, tetapi anak bungsu Ayah.
Aku dikeluarkan dari Akademi Konghucu dan tak lulus Ujian Besar,
bagaimana bisa masuk pemerintahan?
Bagus!
Kalau saja kau ikut ujiannya, ayahmu tak harus carikanmu kerja
menggunakan koneksinya.
Putra teman ibu akan menjadi kepala bagian yang merupakan pekerjaan bergengsi
dan masa depannya cerah.
Itu tak membuatmu merasakan sesuatu?
Pergilah ke Hamjin.
Saat ayah panggil, kembalilah ke Hanyang dan bekerja di pemerintahan di sini.
Maka ayah tak akan lagi ikut campur dalam kehidupan pekerjaanmu.
Aku tak bisa, Ayah.
Sampai kapan kau akan main-main dengan hidupmu,
menyia-nyiakannya di jalanan?
Kau harus menikah, meneruskan nama keluarga,
dan bertanggung jawab terhadap keluargamu.
Begitu mendapatkan pekerjaan layak di Hanyang,
kau harus segera menikah.
Ayah, pekerjaanku di Manyeondang bukanlah main-main.
Bukankah Ayah bilang nyawa orang sama pentingnya dengan adab dan adat?
Aku hanya mencoba menggunakan bakatku
di tempat yang dibutuhkan bagi Joseon.
Jadi, bagaimana Ayah bisa bilang yang kulakukan tak berguna?
Kita tak bisa membuatnya mengerti dengan bicara. Dasar kau...
- Astaga. - Tenanglah!
Tenanglah.
Berhentilah mengeluh dan berkemas!
Ibu, tubuhmu sangat panas,
tetapi kalau Ibu terus marah seperti itu,
tubuh Ibu akan bertambah panas dan Ibu bisa sakit.
Dasar kau... Kau harus dihantam batu tinta agar sadar?
Taruh itu!
Aku baru membelinya sepuluh hari yang lalu.
Taruhlah itu dan mari gunakan kata-kata.
Ya, itu mahal, Ibu.
Kau harus menahan diri.
Tenanglah. Bagus.
Konon jika menahan diri tiga kali, kau hindari bencana.
- Ini karena kau terus memanjakan dia. - Tetap saja, kau harus menahan diri.
Tidakkah ini pemandangan yang menyenangkan?
Kumohon jangan mengkhawatirkan pernikahan atau pekerjaanku
dan jalanilah kehidupan yang bahagia dan indah bersama.
Dasar anak itu...
Tenanglah.
Astaga...
Benar begitu. Bagus.
Astaga...
Halo.
Kau dari mana sepagi ini?
- Apa ini? - Kain.
Kau akan menjahit semuanya sendiri?
Kurasa memang cukup banyak.
Kalau begitu, beri satu kepadaku.
Bukan untukku.
Ibuku mahir menjahit.
Begitukah?
Apa kuminta bantuannya saja?
Kau tak akan menyesalinya. Dia sangat mahir.
- Kau akan membayarnya mahal, bukan? - Tentu saja.
Kenapa kau tak menepati janjimu?
Kau sudah berjanji akan membatalkan pernikahannya.
Kau tak dengar yang kukatakan?
Maaf, Nona. Itu...
Apakah kau...
menyukaiku?
Tentu saja tidak.
Aku tak terlalu mengenalmu untuk bisa menyukaimu.
Itu bukan berarti kau tidak cantik.
- Kalau tak suka... - Untaian es.
...lalu apakah kau pikir masa depanku tak berarti?
Sudah kubilang aku tak ingin menikah denganmu.
Tahukah betapa aku takut orang-orang tahu aku bisa menikah denganmu?
Baiklah.
Akan kuberi tahu orang tuaku secepatnya.
Itu sebuah janji.
Selamat tinggal.
Beraninya kau menyentuhku padahal kau habis menyentuh mayat?
Ini sungguh menjijikkan!
Aku membencinya! Aku sangat membencinya!
Nona, kau tak apa-apa?
Sungguh tidak sopan!
Apakah kau melihat wajahnya? Lihat?
Apa saja yang kau lakukan?
Dasar sial.
Astaga, aku harus bagaimana?
Bagaimana aku bisa memakai benda sekotor ini?
Astaga, dia bukan apa-apa.
Aku bertemu untaian es saat menuju ke sini.
Dia tadi mengunjungimu?
Bukankah kau bilang
akan mempermalukannya saat bertemu dengannya lagi?
Kau sudah mengatakan semua yang ingin kau katakan?
Aku tak bisa berkata-kata.
Bagaimana bisa?
Kenapa tak berkata apa-apa?
Wanita itu rapuh.
Sekasar apa pun aku,
dia tetap lebih rapuh daripadaku.
Apa baiknya menyakiti dia?
Itu kenapa kau biarkan untaian es itu berkata jahat?
Kau seharusnya mempermalukan dia!
Kenapa untaian es bisa lemah?
Itu sama sekali tidak lemah!
Bagiku, kau tampak jauh lebih rapuh!
Kau benar. Myeong-jin memang rapuh.
Dia seperti ulat kecil yang bahkan tak bisa bergerak...
setelah tertusuk untaian es yang tajam.
Hentikan itu!
- Ya, ampun... - Jangan menangis.
Yang benar saja?
Baginda, Yang Mulia datang.
Masuklah.
Jadi, Penasihat Negara Kanan
dapatkan buku besar ini dengan membuntuti kasim Istana Timur?
Dia sangat kurang ajar, bukan?
Setelah insiden pohon prem itu,
dia mengumpulkan keluarganya dari penjuru negeri
dan berani mengusulkan gamseon kepada Ayah.
Dia tak hanya membuntuti kasim Istana Timur
dan mencuri buku besarnya,
tapi pakai itu untuk enyahkan Penasihat Negara Kiri.
Ayah tak boleh membiarkan ini.
Baginda. Penasihat Negara Kanan datang.
Masuklah.
Baginda, apakah tidurmu nyenyak?
Kau ke sini menanyakan keadaan Baginda, Yang Mulia?
Kudengar kau tampil brilian di rumah Penasihat Negara Kiri.
Kau beri tahukan itu kepada Baginda?
Kau pasti salah
mengingat kau di sini menemui Baginda
padahal pertemuan pagimu akan segera dimulai.
Tentu saja tidak.
Kurasa kau lupa akan pengalamanku selama bertahun-tahun.
Salah?
Aku punya bukti mengenai pohon prem yang terbakar.
Jadi, bagaimana mungkin aku tak memberi tahu Baginda?
Baginda.
Aku sedang melintasi pasar
saat ada pembawa tandu menemukan bungkusan.
Ada semua buku besar itu di dalamnya
dan salah satunya dari toko di dekat sana.
Jadi, aku masuk dan tanyakan pemiliknya.
Dia bilang seseorang dari istana mengambil buku besar itu.
Aku harus melihatnya karena kupikir itu penting.
Kau tak terpikir tanyakan
siapa yang menyuruh orang itu mengambil buku besarnya?
Apakah kau yang memerintahkannya?
Astaga.
Aku tak tahu.
Namun, sekalipun tahu,
apakah aku sebaiknya menemuimu
atau Baginda dalam keadaan seperti itu?
Bukankah kau mempermalukan Penasihat Negara Kiri,
yang tak bersalah, karena bertindak sendiri?
Kalau dia tak bersalah, Kantor Inspektur Kerajaan yang buktikan.
Aku mau tahu kenapa kau menyela para prajurit...
yang menjalankan perintah Baginda.
Apakah kau memihak Penasihat Negara Kiri karena anaknya temanmu?
Kalau begitu, tidakkah itu masalah?
Yang Mulia, kau baru saja memperlihatkan
kalau calon raja adalah orang yang tak bisa memisahkan...
antara kehidupan pribadi dan publik.
Penasihat Negara Kanan!
Penasihat Negara Kiri, Kepala Bagian Han, tak bersalah.
Ayah.
Tuan Cho memfitnah Tuan Han, tak memberi tahu yang ditemukannya.
Ayah harus menuntutnya...
Baginda, bagaimana gamseon-nya?
Sudahkah menerima petir yang menyambar pohon prem itu adalah murka Dewa?
Namun, kalau itu hanya trik untuk mengutuk keluarga kerajaan,
sebagai hamba setiamu, aku harus menemukan pelakunya
untuk membuat Baginda tenang.
Aku bertindak karena setia.
Baginda.
Kumohon Baginda mengerti.
Yang dilakukan...
oleh Penasihat Negara Kanan benar.
Dia bertindak karena kesetiaannya.
Putra Mahkota, kau tak boleh terlibat urusan politik.
Sadarilah posisimu dan bertindaklah dengan hati-hati.
Karena pohon prem itu
bukan perbuatan Dewa,
kembalilah makan seperti biasa.
Itu pasti Penasihat Negara Kiri.
Kuharap kau mengerti yang terjadi semalam.
Hal seperti ini biasa terjadi saat kau menangani urusan negara.
Bagaimana bisa memfitnah pejabat tinggi
adalah urusan negara?
Apakah kau tak bisa membedakan antara kesetiaan dengan hasrat egoismu?
Kalau terjadi hal buruk kepada Baginda,
kita mengambil risiko dipermalukan.
Kalau Baginda dipermalukan, pertaruhkan nyawa dan ikuti dia.
Itulah arti kesetiaan.
Selagi Baginda memulai gamseon,
kau mencoba memanfaatkan itu, bukannya perlihatkan kesetiaan.
Ayolah. Bagaimana kau bisa mengatakan hal sekasar itu?
Bagaimana mungkin aku berani mencurigaimu?
Namun, sebagai pejabat tinggi, bagaimana aku bisa mengabaikan hukum?
Perintah Kantor Inspektur atau Baginda, anggap saja itu masalah prosedur.
Dan meskipun sesuatu terjadi kepadamu, sepertinya kau tak perlu khawatir.
Anakmu kepala bagian dan sahabat Yang Mulia.
Aku hanya mau bilang, kau pasti merasa tenang.
Aku iri padamu.
Jurnal sekretaris kerajaan dari sepuluh tahun yang lalu?
Aku akan mencari tahu apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu di Byeokcheon.
Bukankah kau sudah menghafal jurnal sekretaris kerajaan?
Tak sembarang orang diperbolehkan membaca jurnal itu.
Bagaimana bisa kuhafal bila belum pernah melihatnya?
Apakah ada cara melihatnya?
Bukankah kau dan Sekretaris Oh dari Kantor Sekretariat Kerajaan berteman?
Ayahnya diusir
saat menentang bersama para pemrotes yang berkumpul di depan rumah Cho.
Setelah itu, dia berkeliaran di perbatasan sebelum meninggal.
Jadi, dia pasti sangat membenci keluarga Cho.
Akan kucari tahu yang terjadi di Byeokcheon sepuluh tahun lalu.
Kalau kau beri tahu itu,
dia akan tahu maksudku.
Ya, Yang Mulia. Aku akan menemui Sekretaris Oh.
GYEONGHUI TAHUN KE-11 JURNAL SEKRETARIS BAGIAN A
Besok, Sekretaris Oh bertugas malam. Minta Yang Mulia kembalikan ini saat itu.
Ya, Kepala Bagian Han.
Baginda, karena Penasihat Negara Kiri terbukti tak bersalah,
kita harus mencari tahu siapa pembakar pohon premnya.
Syaman itu membicarakan keluarga Song saat sekarat.
Bagaimana syaman itu bisa menghina keluarga kerajaan dan negara ini
kalau dia bukan sisa-sisa dari pencuri Byeokcheon?
Baginda, kalau ada sisa pencuri Byeokcheon dari sepuluh tahun yang lalu,
bukankah Penasihat Negara Kanan, yang gagal membasmi mereka,
seharusnya bertanggung jawab?
Penasihat Negara Kiri. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?
Dia menghina Baginda.
Baginda menyebut Penasihat Negara Kanan hamba berjasa
setelah dia mempertaruhkan nyawa menumpas para pencuri itu.
Astaga.
"15 Mei, Cho Won-bo dari Kementerian Pertahanan
memberi tahu Dewan Pertahanan Perbatasan
kalau di Byeokcheon, Provinsi Pyongan,
sekelompok pencuri mengumpulkan pemuda kuat untuk memberontak
karenanya banyak desa di Pyongan dalam keadaan kacau balau."
10 TAHUN YANG LALU
Kumohon...
Jangan bunuh aku.
Pimpinan pencuri itu adalah Song, pandai besi dari Byeokcheon.
Dia memimpin sekitar 40 pencuri dan menyerbu
kantor pemerintah di Byeokcheon
serta menyerang para prajurit dan pekerja.
Mereka juga menyerbu Kantor Hakim, mencuri stempel resmi,
dan mengambil alih kantor pemerintah.
Setelah itu, mereka meningkatkan kekuatan
dengan mencuri hasil panen dan senjata resmi
serta membebaskan para tawanan.
Mereka memerkosa semua wanita yang ditemui.
Kalau menolak, mereka dibunuh tanpa ragu.
Cho Won-oh, hakim Byeokcheon...
- Ayo pergi. - ...dibungkus tikar
dan dibuang jauh dari Byeokcheon.
Baginda.
Bentuklah direktorat menyelidiki kembali kasus sepuluh tahun lalu itu.
Baginda harus membuka kembali kasus itu.
Kalau yang terjadi tak sesuai dengan jurnal sekretaris kerajaan,
coret Penasihat Negara Kanan dari daftar hamba berjasa
dan sita tanah yang didapatnya sebagai imbalan!
Membuka kembali kasusnya?
Menyelidiki kembali?
Baginda, aku masih hidup dan itulah buktinya.
Aku masih memiliki bekas luka
saat Song melukai perutku dengan celuritnya.
"Hakim Cho Won-oh
berjalan berkilo-kilometer sampai ke Myeongju
dan membuat laporan resmi mengenai apa yang terjadi."
Kalau aku tak selamat setelah diserang celurit itu...
Kalau aku tak berjalan sambil berdarah dari lukaku
dan membuat laporan resmi,
tak akan ada yang mencegah mereka dari menyerbu Hanyang
setelah menyerbu Byeokcheon dan desa-desa di sekitar.
Ya, ampun.
Baginda, mereka sisa-sisa pencuri yang membentuk negara sendiri.
Mustahil membuka lagi kasus.
Baginda, bukalah kembali kasusnya dan perbaiki apa yang salah!
Baginda, ingatlah kenapa kau menunjukku memimpin
Kantor Urusan Militer sepuluh tahun lalu.
Menteri Pertahanan.
Pergilah ke Byeokcheon,
cari tahu laporan Cho Won-oh benar atau tidak.
Aku harus apa kalau laporannya benar, Baginda?
Haruskah segera kukirim utusan untuk dapat perintah baru dari Baginda?
Kalau laporannya benar, maka waktu sangat penting.
Kalau menunda-nunda, keadaan bisa memburuk, Baginda.
Kalau laporannya benar...
maka kau harus menaklukkan mereka.
Kalau begitu...
aku ditunjuk memimpin Kantor Urusan Militer?
Aku akan melakukan seperti yang Baginda perintahkan.
Aku, Cho Won-bo, Menteri Pertahanan,
akan pergi menaklukkan para pencuri yang sudah membuat kekacauan itu
sesuai perintah Baginda.
SONG
Pada bulan Juni,
Baginda mengirim Cho Won-bo ke Byeokcheon sebagai gubernur Provinsi Pyongan
untuk mencari tahu apa yang terjadi dan menaklukkan para pencuri itu.
Saat aku tiba di Byeokcheon,
sekitar 300 rumah sudah terbakar.
Mereka sudah mengambil alih lima desa di dekat Byeokcheon
dan para pencuri kejam itu
sedang membangun negara baru.
Taklukkan para pencuri!
Bunuh mereka semua!
Mereka pencuri yang membawa kekacauan bagi negara!
Panah!
Hore!
"Menteri Pertahanan dan gubernur Provinsi Pyongan
menaklukkan para pencuri dan pulang dengan kejayaan.
Itu sebulan setelah laporannya dibuat.
Song, pimpinan pencuri itu, ditangkap,
digantung hidup-hidup atas perintah Baginda,
dan tewas setelah sepuluh hari.
Baginda menghadiahi Cho Won-bo yang menaklukkan para pencuri itu
dengan menjadikannya ipar
dan mencatatkannya sebagai penumpas bencana.
Dia juga dihadiahi tanah 120 gyeol dan 15 budak.
Byeokcheon sebagai sumber pemberontakan dibakar habis,
disebut desa pengkhianatan,
dan diperintahkan menghentikan semua bentuk pengkhianatan sejak itu."
Ini laporan resmi pencuri Byeokcheon dan Song.
Yang Mulia, semua kasus mengarah ke Byeokcheon.
- DOKUMEN KANTOR KASIM - KANG JONG-GU, CHOI JUN-YEON
- DOKUMEN KANTOR ISTANA - PARK JEONG-SUK
- DOKUMEN KEHAKIMAN - KIM CHAN-SOO
DOKUMEN KANTOR TAOISME
OH MAN-SIK
Ada apa?
Oh Man-sik dari Kantor Taoisme,
orang yang lakukan trik terhadap doa itu, juga dari Byeokcheon.
Bagaimana dengan syaman dari Kantor Syamanisme?
- DOKUMEN KANTOR SYAMANISME - KIM MOON-SEON, BYEOKCHEON
Apakah dia juga dari Byeokcheon?
Ada yang harus kau lakukan sedari sekarang.
Kami tak tahu yang mereka temukan.
Kau...
Aku tak pernah memikirkannya saat itu,
tetapi aku teringat sesuatu
dan kukira mungkin membantu.
Ada apa?
Entah apakah ini terkait dengan kasus pembunuhan syaman itu,
tetapi sekitar waktu itu
ada wanita yang sering mengunjungi Kantor Syamanisme.
Seorang wanita...
Kau melihat wajahnya?
Tidak, dia memakai penutup kepala.
Tiap kali kepala syaman ke lokasi doa di Gaeseong,
dia datang ke Kantor Syamanisme.
Seorang wanita?
Para pencuri itu pasti menyuruh wanita mengerjakan tugas bagi mereka.
Kalau ada sisa-sisa pencuri, kita habisi saja semuanya.
Kenapa mereka mencoba menyelidiki kasus yang sudah ditutup?
Apakah mereka berusaha mengambil tanah yang diberikan kepadamu?
Tak mungkin salah satu dayang, bukan?
Bagaimana Pangeran Agung?
Dia tak bisa tidur, jadi tabib istana menyeduhkannya obat.
Dia baru saja tertidur.
Aku meminta para dayang memberitahuku saat dia bangun.
Yang Mulia, kau harus menjadi Ibu Suri.
Jadilah nenek kerajaan dan Baginda Ibu Suri.
Jadilah wanita yang paling berkuasa di Joseon.
Aku akan memastikan itu terjadi.
Ada apa, Ratu?
Kau baru saja tersenyum.
Benarkah?
Kurasa aku tak dapat menahannya.
Lihatlah ikan-ikan emas itu.
Itu hanya ikan emas biasa, bukan?
Bukan hanya ikan emas biasa.
Saat Ratu masuk ke istana sepuluh tahun yang lalu,
Baginda membawakan ikan-ikan itu
agar Ratu tak kesepian.
Saat itu, istana tempat yang besar dan sepi.
Aku sering datang ke sini dan menangis.
Saat Baginda melihatku,
dia khawatir karena aku menangis sambil memandangi air kosong.
Jadi, dia memasukkan sekumpulan ikan.
Itu kenapa aku tersenyum.
Dia sangat baik, bukan?
Tidakkah itu terlihat seperti lukisan?
Aku tak percaya orang secantik dia terlahir ke keluarga kita.
Ditambah, saat kau kembali dari Byeokcheon dengan jaya,
keponakanmu menarik perhatian Baginda.
Tidakkah itu aneh?
Keluarga kita pasti dikaruniai nasib baik oleh Dewa.
Paman, apakah kau berusaha membuat Myeong-ahn naik takhta
agar bisa melampaui Baginda?
Itu tak akan pernah terjadi.
Entah...
apakah kau masih hidup saat itu.
Pada saat itu terjadi,
pemakamanmu pasti sudah dilakukan.
Sampaikan terima kasihku kepada Sekretaris Oh.
Sebaiknya kau melihatnya sebelum mengembalikannya.
Ya, Yang Mulia.
Dan kau harus menemukan Oh Man-sik dari Kantor Taoisme.
Dia ada hubungannya dengan syaman itu.
Bawa dia kepadaku hidup-hidup.
Aku akan menghancurkanmu dan menghabisimu.
Roh mereka tak akan memiliki tempat tujuan
dan akan berkelana selamanya!
Yang Mulia, ada apa?
Terangi ruangannya. Aku tak bisa tidur, terlalu mengerikan.
Ya, Yang Mulia.
Kami mau bertemu Pangeran Agung.
Ada apa ini?
Yang Mulia bilang dia ketakutan dan meminta kami menerangi ruangannya.
Tidak usah. Silakan kembali.
Bawakan lebih banyak lampu!
Buat ruangannya lebih terang!
Ada apa?
Apakah kau bermimpi buruk?
Ibu, dia...
Dia mengirim ular untuk membunuhku.
Song mengirim ular.
Pimpinan pencuri Byeokcheon
akan mengirim ular untuk membunuhku.
Sebagaimana ular membunuh syaman itu,
dia juga akan membunuhku.
Ibu, tolong panggilkan Kakek.
Tolong minta dia menghilangkan hantu itu
seperti yang dia lakukan ke pencuri keji itu.
Aku benci ular dan Song. Aku takut. Itu mengerikan.
Dia bilang keluarga Song akan menghancurkan keluarga kita.
Itu tidak benar.
Pencuri itu akan mengirimkan ular lainnya.
Aku seorang Lee, jadi dia akan membunuhku.
Ibu bilang itu tidak benar.
Kenapa kau tak mau mendengarkan ibu?
Song...
tidaklah...
seperti itu.
Ibu.
Dia...
tak akan pernah membunuhmu.
Dia juga...
bukan pimpinan pencuri.
Ibu tahu.
Dia tak akan pernah membunuhmu...
dan dia tak akan pernah mengirimkan ular.
Itu hanya mimpi.
Apakah kau mengerti?
Bagaimana Ibu...
bisa mengenal Song?
Yang Mulia.
Kasim Kang dari Kantor Perburuan Elang datang.
Masuklah.
Kau memanggilku, Yang Mulia?
Aku mau menanyakan sesuatu.
Silakan, Yang Mulia.
Kudengar
asalmu dari Byeokcheon.
Aku memanggilmu untuk bertanya tentang Byeokcheon.
Yang Mulia memanggil seorang kasim dari Byeokcheon.
UCAPAN TERIMA KASIH KHUSUS BAGI YOON SEOK-HYUN
MASA MUDA KITA YANG MEREKAH
Rumornya Yang Mulia memanggil para kasim dan dayang dari Byeokcheon.
Yang Mulia, apa yang ingin kau ketahui?
Tidakkah itu aneh?
Kalau itu benar...
Berani-beraninya calon raja Joseon
melindungi pencuri yang sudah mengacaukan negeri ini?
Kita harus bagaimana?
Kau sungguh tak melihat?
Yang Mulia!
Buka pintunya sekarang juga!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.