Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Putra Amir?
Ya, Pak.
Bungsu?
Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi.
Kakakmu pernah pulang?
Belum, Pak.
Di mana dia?
Singapura.
Semoga bernasib baik,
kerja jadi TKI.
Aku tidak diberi tahu kalau Bapak datang sendirian.
Siapa bilang aku minum kopi?
Duduk.
Maaf, Pak.
Duduk.
Minum.
Minum.
Sebentar.
Tidak jadi.
- Seratus ribu. - Apa?
- Vishy Anand. - Sebentar.
Kib.
Sebentar.
Kiriman kakakmu.
Untuk bapakmu, bukan untukmu.
Kemari.
Aku lagi cari orang, pria,
untuk kerja konstruksi di Singapura. Kontraknya delapan bulan.
Kalau mau, ke rumah ambil formulir.
Kenapa?
Kau tidak mau bertemu kakakmu?
Kau tidak mau reuni keluarga?
Memangnya dia tidak bilang gajinya berapa?
Andri! Mati, Ndri!
Genset, Ndri!
Ayo bantu.
Ayo, Ndri! Malas-malasan!
Solarnya habis.
Pinjam kunci lagi.
Itu menyala.
Jenderal di sini?
Sudah.
Butuh bantuan?
Bantu apa? Kau mau membantuku meledakkan ini?
Andri,
tadi aku mau tanya.
Besok kau ada pekerjaan?
Belum ada pekerjaan.
- Pikap bapakmu menganggur? - Ya.
Bantu aku, ya.
Pasang spanduk.
Nanti ada bayaran dari Pak Jenderal.
Pria berkuasa.
Siap, laksanakan.
Andri!
Terima kasih.
Kau lagi kaya?
Gratis. Koh Haris adalah omku.
Sejak kapan kau punya keluarga Cina?
Jadi, tanteku menikah dengan Koh Haris. Berarti dia omku.
Cepat! Ayo! Terus! Naik!
Naik terus!
Cepat!
Ayo bantu, cepat! Pak, itu!
Siap.
Ayo!
Lama! Cepat jalan. Ayo!
Terus! Naik ke atas!
- Terima kasih. - Ya, terus!
Pak, geser kanan sedikit. Kanan.
Sersan itu sangat menyebalkan.
Yakin?
- Terima kasih. - Sudah.
Dia sersan sungguhan?
Jaga-jaga saja. Kalau sersan sungguhan, memangnya kau tidak takut?
Terus, ke kanan.
Yang kiri!
Kiri maju sedikit!
Ayo, Pak. Terus!
Bagus.
Ada warga yang bertanya dan mengeluh kepadaku,
"Pak, aku mau buka usaha es batu.
Tapi listriknya tidak stabil. Jadi, tidak bisa, Pak.
Karena listriknya, Pak, kadang padam, kadang hidup.
Jadi, tidak bisa, Pak."
Alhamdulillah.
Sekarang kita sudah menemukan solusinya, jalan keluarnya,
yaitu PLTA.
Apakah Bapak-bapak dan Saudara-saudara mendukung?
Mendukung!
- Mendukung? - Mendukung!
- Yang keras! - Dukung!
Mari tepuk tangan untuk kita semuanya!
Jadi, Bapak,
apabila nanti setelahโฆ
Ya, kau. Apa?
Berdiri.
Asaโฆ Cek.
Perkenalkan, Pak. Aku Agus, dari Desa Karangsari.
Pelajar SMA 2 Gondang, kelas XI.
Aku di sini mewakili ibuku karena beliau tidak bisa hadir.
Sedang cek kehamilan.
Jadi, aku diminta membacakan surat dari ibuku.
Silakan.
Kepada Bapak Kepala Daerah dan juga Calon Bupati,
Pak Purnawinata.
Aku Kartini, petani kopi di Suwanting.
Kebunku adalah warisan dari keluarga di atasku.
Hanya kopi yang aku mengerti.
Mohon jangan digusur, Pak.
Aku tidak punya kebun lain.
Itulah kenapa aku belum menandatangani kontrak pembebasan lahan dari developer.
Mohon dukungan dan pengertian dari Bapak.
Aku doakan semoga Bapak Purnawinata
terpilih menjadi bupati dalam pilkada nanti.
Demikian. Tertanda, Kartini.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nak Agus,
apa pekerjaan bapakmu?
Berdiri, Nak.
Apa pekerjaan bapakmu?
Sudah almarhum, Pak.
Jadi, sekarang kau tinggal bersama ibumu saja di rumah?
Bersama bapak tiriku.
Sudah menikah lagi?
Cepat sekali.
Ibunya pasti cantik.
Apa pekerjaan bapak tirimu?
Bengkel.
Bengkel?
Bengkel perlu listrik, Nak.
- Ya, 'kan, Bapak dan Ibu? - Ya.
Kalau ibumu masih ada pertanyaan, bisa langsung bertanya padaku.
Aku juga ingin bertemu dengan ibumu.
Bercanda, Bapak-bapak.
Tapi aku serius.
Infrastruktur yang baik,
akan membuat desa ini, daerah ini, menjadi maju.
- Maโฆ - Ju!
- Maโฆ - Ju!
Mas, permisi.
Mas yang datang bersama Pak Jenderal itu? Ya?
Jangan makan di sini, Mas.
Ikut aku.
- Kenapa, Mas? - Tidak apa-apa.
Maaf.
Mari ikut aku. Silakan.
Kalau tadi kau ketahuan makan di aula, aku bisa kena marah atasan.
Tidak apa-apa, Mas.
Tidak apa-apa bagaimana? Mas tidak apa-apa, aku yang apa-apa.
Maaf, ya, Mas.
Terima kasih.
Permisi.
Ini dia orangnya.
Kib, perkenalkan, Soewito.
- Soewito. - Rakib.
Kib, pengisi dayamu tipe-C, ya?
Ya, Pak.
- Bawa tidak? - Bawa, Pak.
Pinjam.
- Ayo. Kau makan sekarang. - Ya, Pak.
Jadi, begitu, Pak.
Ini Jalan Untung Surapati, 'kan, Kib?
Ya, Pak.
Nanti setelah jembatan, kita lurus belok kiri,
itu sudah LP?
Ya, Pak.
Kita ke sana, Kib.
Jenguk bapakmu.
Perbaikan jalan, Pak.
Ya, coba saja.
- Masih lama, Pak? - Setengah jam lagi.
Putar balik saja.
Pelan-pelan, mobil besar.
Hai!
Buka! Pagar masjid.
Pagar masjid itu!
- Hai, turun. - Keluar kau!
Ada apa?
Kalian pengurus masjid di sini?
Maaf, Pak. Kami tidak tahu kalau Bapak.
Lantas?
Kalau tidak tahu,
mau main pukul?
Memalak?
Minta maaf.
Ayo.
Aku minta maaf.
Kami juga minta maaf, Pak.
Begitu?
Ya, Pak.
Bagus.
Ayo, Kib.
Besok pagi kau bawa mobil ini ke bengkel.
Dengar tidak?
Ya, Pak.
Tenang saja.
Kau bisa merasakan tadi?
Betapa magisnya kata "maaf".
Ia bisa mengubah marah menjadi hadiah.
Ajaib, 'kan?
- Boleh swafoto bersama, Pak? - Boleh.
Terima kasih.
Silakan, Bapak.
Kib.
Bapak sampai kaget kau datang ke sini.
Kau sehat, Nak?
Aku cuma mengantar.
Dia sudah pulang, ya?
Dia yang mau bertemu Bapak.
Ya, tidak apa-apa.
Apanya?
Kib,
jangan gampang percaya.
- Kib. Sudah? - Ya, Pak.
Tunggu aku di sini.
Ayo.
- Semangat. - Ayo.
Ayo.
Ayo.
Silakan, Bapak.
Buatkan dia teh.
Siap.
Ternyata,
tidak semua orang tahu kalau Bapak tidak minum kopi.
Aku sudah dengar berita tentang dirimu,
tapi aku mau dengar langsung darimu.
Apa yang Bapak dengar?
Kau memereteli traktor pemborong,
mencuri aki.
Tapi kenapa?
Mereka
memaksa ambil alih kebunku.
Aku pikir kalau traktornya rusak,
itu akan ditunda.
Kau bisa bicara padaku kalau butuh sesuatu.
Bapakku bekerja untuk ayah Bapak.
Kakekku bekerja untuk kakek Bapak.
Aku bekerja untuk Bapak.
Keluargaku terlalu banyak bergantung.
Amir,
ini 2017.
Lupakan saja keluarga majikan dan keluarga pembantu.
Kita teman.
Aku tahu kau berpikir apa.
Kau berpikir kalau aku akan takut berurusan dengan mereka,
karena mereka membantu kampanyeku.
Amir,
anakmu baik sekali padaku.
Coba.
Setelah 19 tahun, aku baru pulang ke sini, Kib.
Kau masih bayi.
Coba yang ini saja, Kib.
Ya, dipakai.
Mau ke mana, Kib? Pakai di sini saja.
Ya. Pas?
Coba mundur ke sana.
Mundur lagi. Mundur. Ya.
Lihat ke sini, Kib.
Kau persis seperti aku muda.
Sekali lagi.
Bajingan.
Kalau begitu,
begini.
Iya, ya.
Jadi, tiga langkah, ya, Pak.
Dua.
Ya, dua.
Kalau kau dikepung di sini,
jangan blokade panjang.
Kau kelihatan panik.
Karena tadi kudanya sudah di depan, Pak.
Ya. Itu kau panik.
Sering main dengan bapakmu?
Kadang-kadang.
Tapi tidak pernah menang.
Ya.
Bapakmu dari kecil, dari SD,
juara terus.
Main sama bapak-bapak juga menang.
Kau pikir siapa yang mengajariku?
Pegang.
Pegang!
Ya.
Cari sasaran.
Di bahu. Agar seimbang.
Siap? Kokang dahulu.
Tarik ini.
Terus.
Habis. Ya. Kembalikan.
Tangan siap di pelatuk. Jangan masuk dahulu.
Lihat sasaran.
Mata sejajar dengan sasaran.
Dapat?
Tarik napas.
Konsentrasi.
Satu,
dua, tiga.
Tembak!
Kebetulan.
Coba lagi.
Coba lagi.
Kokang dahulu.
Arahkan ke sasaran.
Tarik napas.
Satu, dua.
Makan.
Kita tembak burung. Ayo.
Berhenti.
Berhenti.
Tunggu di sini.
Apa itu?
Orang mabuk, Pak.
Ke mana?
Cari terus.
Apa itu, Kib?
Botol, Pak.
Bawa ke mobil.
Pulang, Pak?
Apa itu di kantongmu?
Tidak ada, Pak.
Keluarkan.
- Tidak ada, Pak. - Keluarkan!
Tadi kulihat Rakib di depan lagi menyiram tanaman,
pakai kaus ABRI.
Dari jauh, mirip sekali dengan Pak Jenderal.
Kalau Bapak bilang dia anak atau cucu Bapak,
semua orang pasti percaya, Pak.
Silakan.
Ini cuma pekerjaan orang iseng.
Biarkan saja, Pak.
Kau masih ingat
waktu dahulu aku merekomendasikanmu masuk sekolah polisi?
Padahal kau berenang saja tidak bisa.
Mana berani dahulu kau bicara seperti ini padaku.
Bapak mau tahu siapa pelakunya?
Kalau memang benar orang mabuk,
cuma ada satu toko yang jual bir di sini.
Aku bisa tanya.
Swafoto, Sersan.
Satu, dua. Ya!
- Di mana Andri? - Belakang.
- Aku kaget. - Aku butuh bicara.
Merokok di belakang.
Kupikir tentara sungguhan.
Ini listrik genset?
Ya, Kib. Tidak ada daya.
Andri,
Koh Haris itu benar om-mu, 'kan?
Aku bohong juga untuk apa, Kib?
Bantu aku, ya.
Kau tanya padanya, kemarin malam siapa saja yang beli bir di sana.
Ada apa?
Nantilah kuceritakan. Bisa?
Kalau misalnya aku ditanya oleh Koh Haris, aku jawab apa?
Baik. Siap, laksanakan. Besok siang.
- Pagi. - Astagfirullah. Kib!
Ayo, Sersan!
Enak, Kib?
Pastikan
yang kita lakukan ini aman.
Kau pergi dahulu. Aku ada urusan.
Bau kau.
Kalau tidak tertutup bau mobil ini, kau juga bau, Kib.
Bagaimana?
Ada dua orang yang beli bir malam itu.
Satu orang bernama Mas Gun. Dia sepupu bapakku.
Tapi tidak mungkin dia, Kib.
Kenapa?
Kau bilang botolnya banyak. Dia cuma beli satu botol.
Ada satu lagi yang mungkin.
Namanya Agus.
Dia sekolah di SMA Gondang.
- Ini kata Koh Haris? - Ya.
Baiklah.
Kau yakin, Kib?
Ayo temani aku.
Tidak.
Aku tidak ikut-ikutan, Kib.
Ya, sudah. Aku pergi dahulu.
- Hati-hati, Sersan. - Tahi kau.
Oh, ya, taruhan kemarin belum kubayar. Besok, ya.
- Untukmu saja. - Sering-sering, Kib.
Sersan, itu, yang pakai topi merah.
- Terima kasih, Bu. - Ya.
- Gila kau? Di sini? - Tenang. Tidak ada yang tahu.
Kenapa?
Baru menabrak.
Ketok magic saja.
Tidak bisa di sini saja?
- Bisa, cuma agak lama. - Berapa lama?
Dua hari.
Tunggu bapakku pulang dahulu.
Itu juga kalau dia balik.
Ini kau yang buat?
Kau ini siapa?
Aku ke sini mau membantumu.
Pak Jenderal minta kau datang ke rumah.
Minta maaf langsung padanya.
Tunggu bapakku balik dahulu.
Ya, terserah.
Kalau kau tidak datang,
nanti dia yang datang ke sini, bagaimana?
Kau tau, 'kan, dia siapa. Ya?
Tunggu bapakku pulang.
Gampang saja. Kau tinggal ikut saja bersamaku.
Nanti pulangnya aku antar lagi ke sini.
Agus?
Ya?
Kau yang mulai.
Seharusnya kau juga bisa selesaikan.
Agus.
Tolong ambilkan di bawah kakiku ada batu. Susah menginjak rem.
Buang ke luar.
Terima kasih.
Tenang saja.
Kata "maaf" itu bagus.
Kau bisa meminta maaf seperti memberi hadiah.
- Itu orangnya? - Ya, Pak.
Kita mengobrol di gudang.
Terima kasih, Kib.
Ayo.
Ayo.
Sudah, tenang saja.
Nanti dijelaskan saja apa adanya. Ya?
Ayo.
Kau tunggu di luar, Kib.
Tutup pintunya.
Pinjam pengecas.
Bawa dia ke rumah sakit kota.
Jangan sampai ada yang tahu.
Agus, ayo.
Mas mau bawa pulang aku seperti ini?
Mas.
Hai!
Takut, ya?
Agus?
Gus, jangan tidur!
Agus!
Mas keluarganya?
Ini, diisi dulu blangkonya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal dunia anak kita, Agus Muwardi,
warga Karangsari, pada pagi ini pukul 9:40.
Salat jenazah akan diadakan bakda zuhur.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Telah meninggal dunia anak kita, Agus Muwardi,
warga Karangsari, pada pagi ini pukul 9:40.
Salat jenazah akan diadakan bakda zuhur.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.
- Aku mau berhenti bekerja, Pak. - Jangan panik.
- Aku tidak panik. - Jangan panik!
- Asalamualaikum. - Waalaikumussalam.
Turut berduka cita, Bapak-bapak semua, Ibu-ibu.
Turut berduka cita, Bu.
- Asalamualaikum, Pak. - Waalaikumussalam.
Ibunya tidak mau keluar, di kamar terus.
Bapak mau lihat almarhum?
Ya.
Kib.
Kib.
Ke sini!
Dipukuli orang.
Astagfirullah.
Kalau boleh aku minta bantuan Bapak.
Silakan, Pak.
Bapak tentunya sudah tahu dan mungkin juga tahu
bahwa keluarga Ibu Kartini sedang ada masalah lahan dengan PLTA.
Masalah belum selesai,
anak ini sudah dipukuli.
Aku tidak mau menuduh.
Tapi
anggapan sudah mengarah kepada pihak PLTA atau developer.
Tolong,
orang-orang diberi tausiah
agar tidak tambah kacau.
Insyaallah. Siap.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Asalamualaikum.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Asalamualaikum.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.
Wa akrim nuzulahu.
Walhamdulillahi rabbil alamin.
Amin.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumussalam.
Bapak-bapak, juga Ibu-ibu.
Perkenankan aku mengungkapkan rasa kesedihanku
atas kepergian Agus.
Agus adalah anak muda di daerah ini
yang patut kita hargai kerja kerasnya,
dan penuh dengan inovasi, punya visi untuk kemajuan daerah kita.
Tapi apa boleh buat, sekarang dia sudah pergi.
Hal ini mengingatkanku pada seorang sahabatku
ketika aku sedang bertugas di Timor Timur.
Ivan namanya.
Ivan adalah anggota regu kami,
yang mempunyai kecepatan renang yang luar biasa.
Pada saat aku di sebuah sungai, ketika menyeberang, dihujani oleh peluru.
Ivanlah yang menolongku.
Dia berenang, kembali menarikku ke tepi sungai.
Tapi sayang, Ivan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Ini membuatku sedih dan aku kehilangan orang yang terdekat denganku.
Sama dengan kehilangan Agus pada saat ini.
Almarhum Ivan
bagiku
mungkin sama dengan almarhum Agus bagi Bapak-bapak semua.
Kib.
Ke sini.
Vishy Anand.
Tenang, Nak.
Pak!
- Kangen, 'kan, Yang? - Ya.
- Silakan, Pak. - Ini. Coba lihat ini!
Coba lihat!
Bungsu si Amir.
- Ini. - Bu.
Itu si Rakib? Sudah sebesar itu?
Kib!
Titip, ya, awasi Bapak.
Dia suka curi-curi makan mi instan.
Jangan boleh.
Nanti kalau Bapak sakitnya kambuh, kau juga yang repot. Ya, 'kan?
Hai, mana ada aku makan mi instan?
Pokoknya jangan diberi. Kalau minta-minta, jangan diberi.
Dia senang kalau ada anak laki-laki di rumah.
Anaknya tiga perempuan semua.
Kalau diajak bicara, tidak ada yang menyambung.
Enak?
Memangnya harus bulan depan, ya?
Tanggal 24 ada gala.
Panitia tanya, kau bisa datang tidak?
Ini Janice belum sehat total.
Ya, sudah.
Tapi nanti kalau ada apa-apa, kasih kabar, ya. Aku tutup dahulu, ya.
Salam untuk Ingrid. Bilang, sering-sering telepon ke sini, ya.
- Ya. - Baiklah. Kututup. Sampai jumpa.
Sampai jumpa, Eyang!
Yang keluargaku tahu, aku sudah tidak merokok.
Ini antara kita saja, ya, Kib.
Enak, Kib.
Dul! Sudah.
Ya. Dia sedang berusaha agar terpilih lagi.
Habis berapa banyak uang itu?
Delapan puluh lagi, ya.
Akhirnya kau berubah pikiran juga.
Kalau begitu, lusa malam pukul 23:00, kau ke terminal.
Bapak ikut sampai Batam, 'kan?
Tidak. Aku cuma sampai Surabaya.
Nanti di sana akan ada orang yang memberimu KTP, KK, dan paspor baru.
Aman.
- Di terminal, pukul 23:00. - Terminal pukul 23:00. Ya?
Jangan telat.
- Terima kasih, Pak. - Baiklah.
Anak baru.
Ini.
Terjadi desak-desakan
sehingga membuat sejumlah wanita dan anak-anak sempat terhimpit
hingga mengakibatkanโฆ
Ingat namamu sekarang.
Kau siapa?
Sri Suharti, ya, namamu sekarang. Ingat.
- Mau ke mana ini? - Surabaya, Pak.
- Satu rombongan? - Ya, Pak.
Yang mana pemandunya?
- Ini rombongan apa? - Wisata, Pak.
Dia pikir kita bodoh.
Geser.
Kau orang baik, bukan?
Ya, Pak.
Tentu bukan.
Aku tahu
orang-orang ini akan kau bawa ke mana.
Kau kenal anak ini?
Ayo, pegang saja.
Tangannya dingin sekali.
Bu, kartu perdana.
- Yang ini? - Ya.
Lima ribu.
Bukan begini caranya.
Jangan cuma memikirkan diri sendiri. Pikirkan juga orang lain.
Pak!
Pak!
Pak!
Hai.
Sudah makan?
Siap. Sudah, Jenderal.
- Tidak mau makan lagi? - Siap. Sudah.
Ayo makan lagi di dalam. Ada berongkos, pecel lele.
Siap. Terima kasih, Jenderal.
- Begitu. - Ya.
Ini mau langsung balik ke Kodim?
Siap. Mohon izin.
Ya. Baik, kalau begitu.
Kib.
Ini rumahmu, Nak.
Kau pergi mencari apa?
Buka.
Buka.
Lanjutkan.
Lanjutkan.
Di rumah saja, Kib.
Dinikmati saja.
Yang penting selamat,
sehat.
Ayo, Kib. Nanti telat.
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang hadir di sini
karena sudah meluangkan waktunya, mengorbankan pekerjaan dan keluarganya.
Yakin tidak mau ikut turun?
Tidak, Pak.
Baiklah. Jemput aku nanti. Aku telepon.
Hendrik! Bagaimana?
Persiapan baik? Tamu sudah penuh?
Sapi satu, ya.
- Kau tahu di mana karaoke yang bagus? - Ya, Pak. Nanti aku pesankan untuk Bapak.
Mau ke karaoke, Kib.
- Apa namanya, Ndrik? - Isabella, Pak.
- Isabella. Kau tahu? - Belum, Pak.
Cari di peta.
Apa ini, ya?
- Apa, Ndrik? - Tidak, Pak.
Dapat, Kib?
- Ya, Pak. - Ayo.
Hendrik.
Tadi yang pakai baju merah, duduk di sebelahmu.
Sebelahnya lagi pakai baju hijau dan lebih muda, itu anaknya?
- Ya. - Siapa namanya?
- Bella. - Bella?
Kenapa tidak kau ajak ke sini?
Cantik sekali.
Bercanda.
Memang hanya Tuhan
Yang tahu segalanya
Apa yang kuinginkan
Di saat-saat ini
Kau takkan percaya
Kau selalu di hati
Haruskah kumenangis
Untuk menyatakan yang sesungguhnya
Kaulah segalanya bagiku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkin kumelupakanmu
Tiada lagi yang kuharap, hanya kau seorang
Kaulah segalanya bagiku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkin kumelupakanmu
Tiada lagi yang kuharap, hanya kau seorang
Berhenti!
Kib?
Kib!
Kib!
Kib!
Kib.
Kalau kau mau menembak,
tembak dari depan.
Jangan dari belakang seperti pengecut.
Ayo, Kib.
Ayo, Kib!
Tembak!
Kib! Tembak!
Bawa langsung ke dalam saja.
Turut berdukacita, Kib.
Ada empat orang, Pak,
yang kita tahan di kantor.
Kau kenal?
Mereka bilang mereka pemburu.
Bukan orang sini, Pak.
Barusan Bu Supinah menelepon.
Pesawat anak-anaknya tertunda. Baru sampai nanti malam.
Lalu, Bu Supinah minta,
kau memberi kata sambutan mewakili keluarga.
Prajurit-prajurit sudah terlanjur sampai di sini, Kib.
Kib,
kau sudah seperti anak almarhum sendiri.
Ya?
Ya, Pak.
Kalau perlu apa-apa, bilang saja.
Aku mau kopi.
Mas.
Rakib, sudah siap?
Maju, jalan!
Berhenti!
Gerak!
Sambutan dari pihak keluarga Jenderal Purnawirawan Purnawinata,
kepada Saudara Muhammad Rakib, waktu dan tempat dipersilakan.
Kepada perwakilan keluarga,
hormat senjata!
Gerak!
Tegak senjata!
Gerak!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.