Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
♪Malam yang gelap, bulan yang basah, dan darah yang dingin♪
♪Menelanjangi sepasang mataku yang takut akan cahaya♪
♪Yang terang, yang hangat, aku hanya bisa♪
♪Menebak melalui intuisiku♪
♪Ah, cinta yang menaklukkan dunia bagai batu giok yang menciptakanku♪
♪Ah, rasa cinta melekat erat♪
♪Aku tidak takut pada dunia ini♪
♪Bagaimana perlakuan semua makhluk padaku♪
♪Menerobos, berjuang melepaskan diri♪
♪Dari mana membedakan baik dan buruk♪
♪Ada kalanya diriku rapuh♪
♪Memulihkan luka dengan kecupan cinta♪
♪Keberadaanku♪
♪Duri tidak akan mematahkan sayapku♪
[Hingga Akhir Waktu]
[Episode 2]
Nona, istirahatlah dengan baik.
Chun Tao tinggal di sebelah.
Jika perlu sesuatu, panggil saja aku.
[Ayah.]
[Aku sudah menetap lama di sini.]
[Kalian bisa tenang.]
[Dewa Iblis...]
[aku sudah menemukan Dewa Iblis.]
[Hanya saja,]
[aku belum bisa membunuhnya sekarang]
[untuk mengubah nasib Dewa Iblis.]
[Namun,]
[untungnya sekarang dia masih manusia yang lemah.]
♪Jalan lebih panjang dari usia♪
[Dia dihukum berlutut di cuaca dingin.]
[Biarkan dia sedikit menderita dulu.]
♪Tidak berdaya ketika hendak menulis♪
♪Ingin bertanya seperti apa angin musim semi♪
♪Dalam mimpi semalam, aku membuka jendela dan melihat desa kecil♪
[Sudah berangin.]
[Malam ini]
[pasti akan sangat berat.]
♪Padang rumput hijau yang indah♪
[Anginnya di luar sangat kencang.]
[Dia akan baik-baik saja, 'kan?]
♪Pohon tumbang gemeresik, memejamkan mata melihat Sang Buddha♪
[Ayah, Paman Zhaoyou, Kakak Pertama.]
[Yang kulakukan ini tidak salah, 'kan?]
♪Bunga persik berembus, musim semi dan gugur berembus♪
♪Pemahaman terbaik adalah momen ketika di dalam mimpi♪
♪Tumbuh dan berkelana, kembali sadar dan bertamu♪
♪Saling hidup terpisah di awal dan akhir tahun♪
♪Bagaimana dengan tempat lain dan bagaimana pancaran musim semi?♪
[Dia benar-benar terus berlutut.]
♪Semuanya hal yang tak bisa didapatkan♪
♪Untungnya, itu hanya hal duniawi biasa♪
♪Mengarang sebuah lagu yang biasa♪
Sejak kapan aku tertidur?
Nona, kau sudah bangun?
Tadi malam angin bertiup sangat kencang.
Apa tidurmu nyenyak?
Kenapa dia masih di sini?
Apa kau melihatnya?
Ini sudah hari ketiga.
Hidup itu memang sulit.
Jika menyinggung Nona Kedua,
tentu tidak akan berakhir baik.
♪Untungnya, itu hanya hal duniawi biasa♪
♪Mengarang sebuah lagu yang biasa♪
[Dia pasti berpura-pura.]
[Semua orang di sini begitu membencinya.]
[Jika dia tidak berpura-pura menyedihkan,]
[hidupnya akan lebih buruk.]
Terima kasih, Nona Ye.
Nona Ye sungguh Buddha yang hidup.
Selama bertahun-tahun, setiap hari ke-15 di Tahun Baru Imlek,
dia akan ke dapur bantuan pangan untuk menyajikan bubur.
Setiap tahun tak pernah terlewat.
- Nanti aku juga akan berdoa di kuil - Pegang dengan baik.
- agar dia dan pangeran segera menikah, - Pegang dengan baik.
Sama-sama.
lalu melahirkan tiga atau lima anak.
Sama-sama.
Nona.
Tadi malam Pangeran Keenam mengirim surat melalui Zhong Tai.
- Hari ini dia akan datang membantu. - Sama-sama.
- Seharusnya sudah hampir waktunya. - Hati-hati.
- Berikan sendoknya padaku. - Terima kasih.
Pergilah berdandan.
Tidak perlu.
- Oh, iya. - Pegang yang baik.
Terima kasih.
Zhong Tai bilang, kemarin saat mereka melatih pasukan,
- bertemu Nona Kedua di pinggir kota. - Pegang yang baik.
Siluman rubah itu masih tidak mau melepaskan Pangeran Keenam.
Tidak boleh bicara buruk.
Sama-sama.
Adik Kedua sudah menikah.
Rumor seperti ini
takutnya akan makin parah di ibu kota.
Rumor yang kau dengar itu
jangan dibahas di depan ayah dan nenek.
Nona,
- mengapa kau mengkhawatirkannya? - Sama-sama.
- Tempo hari dia mendorongmu ke danau. - Sama-sama.
Kau bahkan sampai flu berat.
Bukankah Tuan Besar tidak menghukumnya?
Masalah ini tidak boleh dibahas lagi.
- Pegang yang baik. - Terima kasih, Nona Ye.
Jangan sungkan.
Bersihkan tempat ini.
Pangeran Keenam tiba.
Sudah waktunya aku pulang.
Bingchang.
Tidak mudah kita bisa bertemu.
Cepat sekali sudah mau pulang.
Hari sudah senja.
Jika tidak kembali sekarang,
takutnya aku akan disalahkan oleh para tetua
dan dibilang tidak sopan.
Beberapa hari ini, aku melatih pasukan di luar kota.
Sebagian besar peraturan di barak Negara Sheng,
ditentukan oleh Jenderal Ye.
Setelah kembali ke kota,
aku ingin berbincang denganmu.
Tidak kusangka,
ada aturan Keluarga Ye yang menahanmu.
Pangeran bergurau.
Aturan Keluarga Ye ada banyak,
aku sudah terbiasa sejak kecil.
Sehebat apa pun aturan Keluarga Ye,
tetap tidak sehebat Nona Kedua.
Bahkan, pangeran sandera Negara Jing saja
dihukum berlutut di atas es.
Tantai Jin berlutut di atas es?
Meskipun Tantai Jin itu pangeran sandera,
dia tetap pangeran Negara Jing.
Kenapa Ye Xiwu bisa begitu kejam?
Sudahlah.
Tak ada yang bisa dibicarakan dengan orang yang sulit diatur itu.
Setelah kau jatuh ke danau,
kondisimu masih belum membaik.
Istirahatlah lebih cepat hari ini.
Baiklah.
Aku akan pulang dan istirahat dulu.
Dasar wanita jahat!
Kau sudah dihukum berlutut di sini selama empat hari.
Jika begini terus, kau benar-benar akan mati.
Dia benar-benar ingin membunuhmu.
Apa kau tidak menyadarinya?
Nona Kedua.
Nona Kedua.
Adik Kedua.
Aku tahu saat di tepi danau,
kau tidak bermaksud begitu.
Aku memang sengaja.
Kakak.
Hari ini Pangeran Keenam datang menemuimu,
kau berdandan cantik untuk menggodanya.
Tidak kusangka kau menjadi basah kuyup sekarang.
Bagaimana perasaanmu?
Adik Kedua,
biasanya tidak ada masalah di antara kita.
Untuk apa saling memojokkan?
Tanyakan saja pada Pangeran Keenam.
Aku benar-benar tidak paham
sihir apa yang kau pelajari
sampai membuat Pangeran Keenam terpesona,
dan tidak menatapku.
Bahkan, Tantai Jin yang tidak bermoral itu
juga tergoda olehmu.
[Kalau dia begitu ingin menjadi pahlawan,]
[aku akan memberinya panggung.]
Kalau dia mati kedinginan,
aku hanya tinggal memberi tahu nenek.
Ye Bingchang, aku juga berani memberitahumu.
Jika kau masih bermain gila,
beberapa hari lagi Tantai Jin pasti mati.
Selama kalian tidak muncul di hadapannya,
[Pangeran Keenam hanya bisa menyukaiku.]
Dasar wanita kejam.
Ada yang datang.
Di kediaman ini,
kenapa selalu ada burung gagak?
Benar-benar pertanda buruk.
Sepertinya mulai begini sejak Tuan datang.
[Matahari sudah terbenam lagi.]
[Di cuaca sedingin ini,]
[jika tetap berlutut,]
[mungkin tidak akan selamat malam ini.]
[Dia tidak masalah dia mati.]
[Namun, jika tulang iblis itu bangkit,]
[maka akan jadi masalah besar.]
Tuan, maafkan aku.
Maafkan mataku yang rabun.
Aku tidak melihatmu sedang menikmati bulan di sini.
Benar.
Aku sudah membasahi pakaianmu.
Ayo pergi.
[Cuaca begitu dingin.]
[Tantai Jin sama sekali tidak punya kultivasi.]
[Pakaiannya juga basah.]
[Dia tidak akan bertahan lagi.]
Nona Kedua.
Cuacanya dingin.
Kembalilah.
Tidak perlu repot datang mengawasiku.
Siapa bilang aku datang untuk mengawasimu?
Aku hanya...
aku hanya...
Hanya apa?
Aku hanya datang untuk melihat kau sudah mati atau belum.
Jangan sampai aku harus kerepotan mengurus jasadmu.
Jika aku mati
kenapa Nona Kedua harus kerepotan mengurus jasadku?
Di dunia ini, orang yang ingin melihatku mati
jumlahnya banyak sekali.
Mungkin nanti akan ada banyak orang
yang datang untuk memberi selamat padamu.
Kau pikir dengan mengatakan itu
aku akan kasihan padamu?
Kasihan padaku?
[Tidak bisa.]
[Dewa Iblis Muda telah membeku.]
[Jika kau terus begini, dia benar-benar akan mati.]
[Sudahlah.]
[Nanti kau harus menebusnya.]
Jubah ini jelek.
Aku tidak mau lagi.
Untukmu saja.
Pakaian Nona Kedua,
aku tidak berani menerimanya.
Jika Nona Kedua tidak menyukainya,
besok akan kuminta Chun Tao membuangnya.
Kau...
Nona Kedua ada urusan apa lagi?
[Li Susu, lihatlah.]
[Dewa Iblis Muda itu benar-benar tidak tahu diri.]
[Kau sudah mengasihaninya,]
[dia masih bersikap aneh.]
[Selama Dewa Iblis masih bernapas,]
[tidak boleh berbaik hati padanya.]
[Jika ingin berbaik hati, lebih baik memberi makan anjing,]
[dan membantu bandit.]
[Satu kesalahan, merusak semuanya.]
[Kematian Dewa Iblis Muda memang tidak disayangkan,]
[tapi kehidupan empat benua dan tiga alam]
[tetap bergantung padanya.]
Tantai Jin.
Kau jangan pura-pura mati.
Jangan kira dengan begitu aku akan mengasihanimu.
[Kejadian ini sepertinya pernah kulihat.]
[Apakah dia mati di sini]
[dan berubah menjadi iblis?]
Tantai Jin!
Bangunlah.
Chun Tao!
Chun Tao!
Nona,
kau memanggilku?
Ya, cepat masuk.
Nona.
Kau yang belum bangun atau aku yang belum bangun?
Omong kosong apa kau?
Cepat masak air untuk mandi, lebih cepat lebih baik.
Kita harus menyelamatkan seseorang.
Cepat sedikit.
Nona.
Kenapa kau tadi berpelukan dengan Tuan?
Bukankah kami suami istri?
Bukankah pasangan di alam manusia
wajar untuk tidur di ranjang yang sama?
Alam manusia?
Cepat periksa apakah air mandinya sudah panas.
Baik.
Nona, sudah tidak terlalu panas.
Chun Tao, kembali dan istirahatlah.
Baik, Nona.
[Apa luka ini karena Ye Xiwu?]
[Jika tahu Dewa Iblis Muda selemah ini,]
[aku tidak akan]
[mempertaruhkan masa depan empat benua dan tiga alam]
[pada nyawanya.]
[Cepatlah sadar.]
[Ayolah, kau adalah Dewa Iblis.]
[Kau tidak boleh mati demi empat benua dan tiga alam.]
[Tantai Jin, kau sungguh menyedihkan.]
Kau lagi.
Setiap kali aku sekarat,
kau akan muncul.
[Aku selalu di sini.]
Aku tahu.
Kau ada di tubuhku.
Apa kau menginginkannya?
Belum waktunya, tidak perlu buru-buru.
Harus menunggu sampai kapan?
Kau sudah tidak sabar?
Ya.
Apa yang sudah diberikan tubuh ini padamu selama 20 tahun terakhir?
Hanya rasa sakit, lapar,
dingin, penghinaan,
juga dijebak orang-orang.
Suatu hari nanti kau bisa menyingkirkan tubuh ini
dan menyerahkan jiwamu padaku.
Lalu, kau akan mendapatkan kedamaian abadi.
Tidak masalah.
Tidak peduli tubuh ini
atau jiwa apa pun itu,
jika kau mau,
kau bisa mengambilnya kapan saja.
Aku tidak menyayangkannya.
Tantai Jin, bersabarlah.
Kau harus merasakan rasa sakit di Alam Manusia
dan merasakan kebencian tidak berujung.
Kau memikul kutukan takdir
dan ditakdirkan berakhir mengenaskan.
Ketika rasa sakitmu sampai di puncaknya
dan hidupmu telah mencapai akhir,
aku akan datang untuk menerima pengorbananmu.
[Ternyata 500 tahun yang lalu,]
[bulan di alam manusia begitu terang.]
[Sayangnya sejak kedatangan Dewa Iblis ke dunia,]
[udara kotor tersebar di mana-mana.]
[Sudah lama aku tidak melihat bulan.]
[Terlahir sebagai janin iblis dan memiliki tulang iblis.]
[Di mana letak tulang iblis ini]
[dan seperti apa bentuknya?]
[Yang mana yang tulang iblis?]
[Aku tidak bisa meraba ada tulang yang berbeda.]
Apa yang sedang kau lakukan?
Kau sudah sadar?
Ye Xiwu.
Trik apa lagi yang kau mainkan?
Trik apa pun itu, bukan urusanmu.
Kalau kau sudah sadar, cepat bangun dan berpakaian.
Jangan berendam dan pura-pura mati.
Kau mau ke mana?
Ke tepi danau.
Hari belum terang.
Kau tidak boleh pergi.
Berhenti!
Kau tidak boleh pergi hari ini.
Selanjutnya juga tidak perlu.
Kenapa?
Kau milikku.
Kau berlutut di luar setiap hari, banyak orang yang datang dan pergi.
Bukankah kau mempermalukanku?
Kalau begitu, maafkan aku.
Aku lelah, aku mau tidur.
Jangan bicara padaku.
[Ayah.]
[Saat mengirimku ke sini, kau pasti tidak pernah menduganya.]
[Putrimu akan tidur seranjang dengan Dewa Iblis.]
Kenapa kau berdiri saja?
Cepat lakukan.
Setelah selesai, aku juga akan tidur.
Melakukan apa?
Tentu saja sesuatu yang harus kau lakukan setiap hari.
Kau sudah tidak ingat?
[Gawat.]
[Jangan sampai dia mengetahuinya.]
Aku ingat.
Mana mungkin aku lupa.
Tunggu sebentar, aku sedikit haus.
Chun Tao!
Aku ingin minum teh!
Chun Tao, cepat beri tahu aku.
Yang setiap malam dilakukan oleh aku dan Tantai Jin
adalah hal apa?
Memukulnya.
Sejak menikah dengan Tuan,
Nona jadi gampang emosi.
Jadi, setiap malam sebelum tidur
kau akan mencambuk Tuan untuk melampiaskan amarah.
Bukankah itu mesum?
Di mana cambuknya?
Ada di bawah kasur Nona.
[Harus kucambuk berapa kali?]
[Tidak pasti.]
[Tergantung suasana hati Nona.]
[Panjang sekali cambuk ini.]
[Ye Xiwu, kau benar-benar tidak normal.]
[Li Susu,]
[dulu membunuh iblis dan membasmi kejahatan tanpa ragu.]
[Mana mungkin tidak tega mencambuk.]
[Cambukan ini]
[akan membuatmu merasakan penderitaan Dewa Iblis 500 tahun kemudian.]
[Dewa Iblis.]
[Kau pantas mendapatkannya.]
[Li Susu,]
[apa yang sedang kau lakukan?]
[Sekarang dia bukan Dewa Iblis.]
[Memukul, menghina, menganiaya,]
[menindas dan menyiksanya,]
[apakah bisa menghentikan kedatangan Dewa Iblis?]
[Itu semua...]
[hanya akan membuatmu makin sedih.]
Aku lelah.
Aku tidak bisa memukul lagi.
Tidurlah.
Tantai Jin.
Tantai Jin.
Tantai Jin.
Tantai Jin.
Tantai Jin.
[Panas sekali.]
[Gawat.]
[Dia berlutut di cuaca dingin selama empat hari,]
[lalu menerima banyak cambukan.]
[Mana mungkin tubuh fana ini bisa bertahan?]
[Li Susu.]
[Kau dalam masalah besar.]
Chun Tao.
Chun Tao.
Chun Tao, apa kau sudah tidur?
Chun Tao.
Nona,
obat Tuan sudah siap.
Apa masih ada perintah lain?
Tidak.
Kali ini aku tidak akan memanggilmu lagi.
Tidurlah.
Tantai Jin.
Tantai Jin.
Ayo, minum obat.
[Dewa Iblis Muda sudah demam sampai kondisinya linglung.]
[Entah ramuan di alam manusia ini efektif atau tidak.]
Buka mulutmu.
Kenapa masih begitu panas?
[Waktu kecil, jika aku demam,]
[ayah mengompresku dengan kantung es seperti ini.]
Akhirnya kau sadar.
Aku tahu cara ini pasti efektif.
Sudahlah.
Istirahatlah dengan baik.
Aku tidur dulu.
Aku benar-benar berutang padamu.
[Wanita ini pergi untuk bersembahyang.]
[Kalau bukan bertemu roh jahat,]
[pastilah kerasukan.]
[Kediaman Ye]
Nona.
Kau terus sibuk semalaman.
Kenapa tidak istirahat lebih lama?
Di mana Tantai Jin?
Selain menerima hukuman,
Tuan harus pergi ke perpustakaan untuk menyalin kitab suci.
Dia sudah pergi pagi-pagi sekali.
[Tantai Jin.]
[Kau tidak bisa menghindar dari utang budi kali ini.]
[Ingatlah dengan baik.]
[Suatu hari nanti kau akan membayarnya dengan hidupmu.]
Jam berapa ini?
Sudah hampir tengah hari.
Nyonya Besar, Tuan Besar, dan Tuan Muda Pertama
sudah tiba di ruang makan.
Salam untuk Nona Kedua.
[Mereka semua adalah]
[anggota keluarga yang bersama Ye Xiwu sepanjang waktu.]
[Jika ingin tinggal di Kediaman Ye,]
[harus melewati ini dulu.]
[Ini seharusnya Jenderal Tertinggi di Negara Sheng,]
[ayah Ye Xiwu.]
[Ini seharusnya putra sulung Keluarga Ye,]
[kakak sulung Ye Xiwu.]
[Lalu, mereka...]
[seharusnya ibu tiri Ye Xiwu.]
[Kemudian, yang tampak paling berwibawa]
[pasti nenek di Keluarga Ye.]
Nenek.
Ada apa denganmu?
Kenapa melihat Chun Tao?
Nanti Chun Tao juga akan dihukum bersama.
[Gawat.]
[Ye Xiwu, kau sungguh pembuat onar.]
[Ada apa lagi sekarang?]
Kemari.
[Gawat, apa aku akan dipukul?]
Kau ingin membuatku cemas, ya?
Di hari yang sedingin ini,
kau bahkan tidak memakai mantel
dan berkeliaran di luar.
Lihatlah,
apa yang kau pakai ini?
Gadis kecilku yang malang.
Di sekitarmu
tidak ada yang bisa pengertian.
Pada akhirnya, tetaplah keluargamu yang menyayangimu.
Ini.
Pakai ini dan tidak akan kedinginan lagi.
[Untungnya, hanya kekhawatiranku saja.]
Begini baru benar.
Chun Tao,
pergi ke gudang dan ambil beberapa lembar kulit.
Buatkan beberapa pakaian musim dingin untuk nonamu.
Baik.
Nenek.
Aku juga ingin bulu rubah putih.
Kau mau?
Minta pada ayahmu.
Ayah, aku ingin bulu rubah putih.
Minta katamu?
Ye Zeyu,
kau masih tidak tahu malu.
Sebagai anak sulung Keluarga Ye,
kau tidak bisa seni bela diri dan pedang.
Jadilah seperti adik keduamu
yang berkontribusi menjaga perbatasan dan mempertahankan negara.
Aku tahu kau dan kroni-kronimu itu
pergi memanah dan bersenang-senang.
Dengan sikapmu ini,
gadis mana di Kota Sheng yang akan menyukaimu?
- [Ayahnya sangat galak.] - Makanannya hampir dingin.
Cepat makan.
Gadis kecil,
duduklah di samping ayahmu.
Pergilah.
Ya.
Pelan-pelan.
Ayah.
Gadis kecil,
cepatlah dicicip.
Ayah tahu suasana hatimu sedang buruk,
jadi sengaja meminta dapur
membuatkan makanan kesukaanmu.
Aku dengar para pelayan bilang
semalam kau mandi air panas,
merebus obat,
kau repot sepanjang malam.
Pasti itu melelahkan.
Kau harus makan lebih banyak.
Iya, ini.
Ayo, makan yang banyak.
Makan daging yang banyak.
Makan ini.
Jangan dimasukkan ke hati.
[Ini...]
Ayo, ini juga.
[Ini adalah kasih sayang keluarga di Alam Manusia yang dituliskan di buku.]
Semuanya untukmu.
Semua makanan kesukaanmu.
[Ayah, jangan khawatir.]
[Keluarga ini sangat baik padaku.]
Sup tahunya juga baru matang.
[Sama baiknya denganmu.]
Kemarin, kudengar nyonya besar di Kediaman Adipati Anding membahas
tentang kau mendorong Bingchang ke danau.
Berita itu sudah menyebar di ibu kota.
Dibicarakan di mana-mana.
Biarkan saja, kau takut pada mereka?
Itu buruk untuk reputasinya.
Biar saja dia membuat masalah.
Gadis kecilku sudah menikah.
Ayah.
Tahun lalu saat Adik Kedua belum menikah,
kau bilang tidak masalah buat onar.
Setelah menikah,
tidak bisa berbuat onar lagi.
Kenapa menikah atau tidak
Adik Kedua selalu benar?
Diam.
Makan makananmu.
[Ye Xiwu...]
[Akhirnya aku tahu]
[kenapa perangaimu buruk.]
Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini.
Masalah mendorong kakak ke danau
memang salahku.
Aku ingin meminta maaf padanya hari ini.
Ibu.
Gadis kecil sudah dewasa sekarang.
Dia sangat bijak.
[Ini dianggap bijaksana?] Gadis kecil...
kau memang baik hati dan bertanggung jawab.
Tak diragukan lagi keturunan Keluarga Ye.
[Mereka benar-benar memanjakan Ye Xiwu.]
Namun, menurutku tidak perlu minta maaf.
Jika penyakit Bingchang belum sembuh
dan kau sampai tertular,
itu akan jadi gawat.
Tidak apa-apa, Nenek.
Nenek benar.
Jika Adik Kedua datang untuk meminta maaf padaku,
itu akan meremehkan hubungan antara kita sebagai saudara perempuan.
Kakak.
Adik Kedua duduklah.
Nenek,
aku yang salah.
Beberapa hari ini aku sakit
dan tidak menyapa Nenek dan Ayah.
Hari ini aku pergi mandi sepulang menyajikan bubur.
Tidak kusangka ternyata aku terlambat.
Aku harus dihukum karena mengganggu waktu makan semuanya.
Gadis kecil,
apa kau dengar itu?
Kakakmu bilang tidak perlu minta maaf.
Bingchang,
duduklah di samping Zeyu.
Terima kasih, Nenek.
[Pantas saja Kakak Pertama...]
[bukan,]
[Xiao Lin dan Tantai Jin menyukainya.]
[Wanita cantik sepertinya,]
[sikapnya lembut dan hatinya baik,]
[siapa yang tidak menyukainya?]
Di mana Tantai Jin?
Kenapa dia tidak datang untuk makan?
Kau benar-benar menganggap dirimu sebagai tuan rumah?
Kau tidak bisa tiap hari makan tanpa bekerja, bukan?
Benar, kau harus bekerja.
Ada apa?
Ada apa?
Lihat.
Kami bekerja keras seharian.
Di sana masih ada setumpuk
mangkuk dan sumpit para majikan yang belum dicuci.
Kulihat kau hanya santai sepanjang hari.
Maaf merepotkanmu,
cepat cuci piring dan sumpit itu sebelum kau makan.
- Bagaimana? - Benar.
Ya.
Maaf merepotkanmu, Tuan.
Silakan, Tuan.
Ayo.
Terima kasih, Tuan.
Ayo, semuanya.
Ayo makan.
Ayo.
Taruh mangkuknya.
Berikan padaku.
Aku sendiri saja.
Ini untukmu.
Baik, berikan padaku.
Sungguh.
Ini untukmu.
Ini.
Jadi, sejak Tantai Jin tinggal di sini,
dia tidak pernah makan bersama kami?
Dia selalu makan di dapur bersama para pelayan?
Ya.
Nona sangat membencinya,
mana mungkin kau bisa nafsu makan?
Namun, kudengar
biasanya Tuan tidak bisa makan cukup.
Para pelayan bersikap lain terhadapnya.
Yang biasanya Nona lakukan,
mereka juga ikut melakukannya.
[Dasar iblis.]
[Dia pantas kelaparan beberapa kali.]
[Namun, jika sepanjang hari berjauhan,]
[bagaimana aku bisa mengawasinya?]
Di mana dapurnya?
Aku bilang pada kalian.
Ada beberapa orang
yang statusnya adalah Tuan,
tapi bekerja seperti budak.
Itu benar.
Apa namanya?
Bangsawan bernasib rendahan.
Bangsawan bernasib rendahan.
Hidup kita tetap jauh lebih baik.
Benar, 'kan?
Benar.
Ayo, mari kita makan.
Ayo.
Makan.
Ini enak.
Lumayan.
Menurut kalian, orang seperti dia,
apa artinya tetap hidup?
Kalau menurutku, sebaiknya dia mati lebih awal.
[Ye Xiwu biasanya]
[berkomplot dengan pelayannya,]
[untuk mempersulit Tantai Jin.]
Ya, biar mati saja.
Lebih baik mati.
Pergilah.
Ayo makan.
Lalat dari mana?
Kenapa ada lalat di musim dingin?
Ada apa?
Apa yang terjadi?
Ayo minum.
Kau tidak apa-apa, 'kan?
Kau tidak apa-apa, 'kan?
Tersedak lalat.
Aku sudah selesai, kalian makanlah.
Kalian makan saja.
- Kalian makan saja. - Kita teruskan makan.
Duduklah di sini.
Selesai.
Sungguh sial.
Ayo.
Nona Kedua.
- Nona Kedua. - Kenapa Anda kemari?
Itu... Tantai Jin...
Apa salah Tantai Jin
hingga kalian menyuruhnya mati?
Nona.
Tadi aku hanya minta Tuan mencuci piring.
Tong itu penuh dengan gumpalan es yang
dihancurkan dari danau.
Oh, iya.
Aku menyiram air ke seluruh tubuh Tuan.
Dia tidak membeku semalam,
tapi hari ini dia akan mencuci piring sangat lama.
Kujamin jarinya akan beku.
Aku juga tidak memberinya makan hari ini.
Hanya menyisakannya seember air bekas pakai.
Kalian setiap hari
menindas orang dengan cara seperti itu?
Bangsawan dan pelayan tidak ada bedanya.
Namun, ada orang yang rela meremehkan diri mereka sendiri
untuk menjadi budak selamanya,
tapi bersikeras menindas orang
untuk bersenang-senang.
Apa dengan melihat orang lain menderita
membuat kalian senang?
Nona, jangan dianggap serius.
Kami hanya ingin melampiaskan kemarahan Nona Kedua.
Kami tentu saja tidak punya maksud lain padamu.
Hari ini kalian berani bicara seperti itu pada Tantai Jin
karena dia tidak punya pendukung.
Ketika Keluarga Ye jatuh,
apa kalian berani bicara seperti itu
pada nenek, ayah, dan aku?
Tidak.
Kami tidak berani.
Ajaran Nona Kedua benar.
Jangan makan ini.
Nona Kedua.
Orang akan mati jika tidak makan.
Makanan ini tidak bersih.
Para pelayan itu
entah telah memasukkan ke dalamnya,
kau akan sakit setelah memakannya.
Aku pernah makan sesuatu yang lebih kotor dari ini.
Mereka bicara seperti itu padamu,
apa kau bahkan tak bisa membantahnya?
Kau seorang pangeran, tapi mau saja ditindas pelayan.
Apa kau tidak punya rasa malu?
Rasa malu?
Hal semacam itu tidak ada artinya bagiku.
Daripada rasa malu,
semangkuk nasi ini lebih penting.
Ye Xiwu!
Kau ikut aku.
Aku mungkin mati tanpa makanan ini.
Namun, jika aku punya rasa malu,
aku tidak bisa hidup sampai hari ini.
Jangan omong kosong, ikut aku.
Setelah makan ini,
lakukan apa yang harus kau lakukan.
Jangan jadi kurus kering dan sakit-sakitan.
Bisa-bisa kau mati karena sakit.
Trik Nona Kedua ini
sudah pernah dilakukan sekali.
Aku pantas menerimanya jika aku terjebak lagi.
Nona Kedua, aku tidak akan menemanimu.
Duduk.
Trik apa?
Katakan dengan jelas.
Nona Kedua tadi bertanya apakah aku punya rasa malu.
Hal semacam itu,
Nona Kedua sendiri mungkin tidak memilikinya, 'kan?
Baik.
Kalau kau memintaku untuk mengatakannya,
aku mengatakannya lagi.
Baik.
Pada perjamuan Festival Qixi enam bulan lalu,
kakakmu dan Xiao Lin bertemu di istana
dan berkeliling di taman sambil bergandengan tangan.
Bagaimana denganmu?
Kau berniat ingin memisahkan mereka
dan memonopoli Xiao Lin.
Entah dari mana kau mendapatkan satu set
obat perangsang bernama Ulat Sutra Musim Semi,
yang hendak diberikan pada Nona Bingchang
dan Pangeran Kelima, Xiao Liang.
Ingin mereka berdua melakukan sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
[Aku tidak menyangka Xiao Liang akan menghentikanku hari itu.]
Pada perjamuan hari ini di istana,
bahkan dayang dan kasim bisa makan daging.
Apa kau masih lapar?
Sudahlah.
Siapa suruh aku ini selalu baik hati.
Aku akan memberimu kudapan ini.
Terima kasih, Pangeran Kelima.
Kebetulan sekali.
Aku tidak tahu apa kau pernah mendengarnya.
Akhir-akhir ini, Negara Jing dan Negara Sheng sedang perang.
Jika seseorang mengingatkan Ayahanda padamu
dan memenggal kepalamu,
itu bukan hal yang tidak mungkin.
Aku lupa.
Kau suka makanan yang sedikit hancur.
Apakah sudah cukup hancur?
Cukup.
[Namun, baru saja memakannya,]
[aku langsung merasa pusing.]
[Pada saat itu, kau tiba-tiba muncul dan memelukku.]
[Ulat sutra musim semi Pangeran Kelima tanpa sengaja termakan olehku.]
[Lebih kebetulan lagi,]
[bagian Ye Bingchang]
[termakan olehmu secara tidak sengaja.]
[Ada banyak saksi di istana.]
[Jenderal Ye tidak punya pilihan selain memohon untuk menikahkan kita.]
Putri Jenderal Tertinggi dari Negara ini, Putri Ye.
dan Pangeran Ketiga dari Negara Jing, Tantai Jin,
dengan ini kami nikahkan untuk mencapai kesempurnaan.
Lalu, kau memberitahuku apa yang terjadi.
Setelah itu,
kau pun menyiksaku demi kesenanganmu,
menjadi makin kejam dan jahat.
[Ye Xiwu.]
[Apa yang sudah kau lakukan?]
Jadi, kali ini
Nona Kedua menambahkan apa
pada makanan ini?
Aku tidak menambahkan apa pun.
Benarkah?
Nona Kedua bersusah payah
hanya agar aku bisa makan kenyang?
Apa tidak boleh?
Tantai Jin, kuberi tahu padamu.
Jika kau ingin membuat dirimu kelaparan,
jangan harap.
Lihat dengan baik.
Apa kau sudah puas?
Mulai sekarang, kau akan datang ke sini untuk makan tiga kali sehari.
Chun Tao akan mengantarkanmu makanan.
Makanlah apa saja yang diberikan kepadamu.
Jangan lagi kau makan
makanan kotor yang tidak jelas itu.
[Sepertinya ini benar-benar hanya semangkuk nasi biasa.]
[Apa yang terjadi pada wanita ini?]
Seharusnya sejak kau memasuki Kediaman Ye,
ini pertama kalinya kau makan kenyang.
Apa kau sadar?
Wanita itu terlalu normal akhir-akhir ini.
Apa dia sudah gila?
Mungkin...
dia ingin menggunakan cara lain
untuk menyiksaku.
Bagaimanapun, aku ada di sini.
Jika pangeran sandera mati,
Keluarga Ye
tidak bisa lepas dari tanggung jawab.
Benar, wanita ini selalu berubah-ubah.
Tempat ini memang tidak bisa ditinggali lama-lama.
Namun, jika pergi dari sini,
kau bisa pergi ke mana?
Oh, iya.
Aku bertemu dengan beberapa ekor burung gagak dari Negara Jing.
Negara Jing?
Kebetulan sekali.
Itu juga tempat kelahiranku.
Apa kau pernah ke Istana Negara Jing?
Itu tempat paling menjijikkan di dunia.
Mereka bilang
mereka melihat seorang dukun membakar sesuatu,
mencium bau busuk orang sakit,
dan melihat menteri yang mondar-mandir dengan cemas di aula.
Mungkin itu Raja Jing.
Pria yang seharusnya kupanggil ayah,
hidupnya tidak akan lama lagi.
[Namun, aku bahkan tidak bisa keluar dari Kediaman Ye.]
[Semua itu tak ada hubungannya denganku.]
Ayahanda,
Ananda perlu melaporkan sesuatu.
Lin'er,
kau datang tepat pada waktunya.
Aku baru saja menerima laporan mendesak.
Tantai Wuji sedang sekarat.
Kakaknya akan mewarisi takhta.
Sepertinya mempertahankan pangeran sandera
juga sudah tidak ada gunanya lagi.
Ananda mendengar kabar,
Tantai Minlang merupakan orang yang keras hati.
Orang ini bukan tipe orang yang akan mengkhawatirkan saudara.
Membunuh pangeran sandera mungkin akan sesuai dengan keinginannya.
Ternyata Lin'er-ku memang cerdas.
Kalau memang demikian, jika aku tetap mempertahankannya,
dia akan menjadi duri dalam daging
bagi Tantai Minglang.
Aku akan memanggil Tantai Jin ke istana.
Aku ingin melihat bagaimana sikapnya.
Jika dia mau,
aku tidak keberatan membantunya kembali
untuk mengacaukan Negara Jing,
lalu manfaatkan kekacauan untuk membunuhnya.
Jika dia tidak berguna,
aku tidak perlu mempertahankannya lagi.
Nantinya cari orang yang seusia dengannya untuk dikirim ke Negara Jing.
Selama Tantai Minglang
percaya dia adalah yang asli,
maka...
apa asli atau palsu itu penting?
Ayahanda.
[Hingga Akhir Waktu]
♪Keengganan adalah saat mendongak dan bulan tiba-tiba hilang♪
♪Dunia fana adalah mata yang melihat tiga ribu bunga di tengah salju♪
♪Belas kasihan adalah memeluk kupu-kupu saat hancur♪
♪Kesadaran adalah membasuh kenangan dalam air keruh♪
♪Mulai kini tidak akan bertemu lagi♪
♪Aku pernah melihat kata-kata lembut dan bunga yang mekar♪
♪Mataku sembab hingga aku mengigau♪
♪Cinta memanjat beberapa putaran pada genting yang rapuh♪
♪Menyimpan ketakutan yang tak berujung♪
♪Aku bersulang untukmu yang sudah menunggang kuda sangat jauh♪
♪Meyakini diriku pernah dicintai untuk sesaat♪
♪Melepaskan seluruh tubuh dari hal buruk♪
♪Ketulusan bagaikan cahaya bulan yang sempurna♪
♪Dengarkan bunga yang bernapas♪
♪Seperti makhluk hidup yang makmur♪
♪Tidak peduli berapa lama kau berjalan, debu bintang dan badai pasir♪
♪Cahaya bulan adalah pelindung bagiku♪
♪Aku bersulang untukmu yang datang dengan bekas luka♪
♪Coba jalani hidup dengan lembut♪
♪Melepaskan seluruh tubuh dari hal buruk♪
♪Menggenggam pengulangan cinta yang pernah dibenci♪
♪Hidup sederhana dan bermimpi besar♪
♪Wu... jangan menyerah♪
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.