Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Coba kalian lihat.
Perempuan ini adalah perempuan yang memelihara matianak.
Perempuan ini harus kita bakar.
Bakar.
Iya. Bakar. Bakar.
Bunuh.
Ayo bunuh, bunuh!
Aku akan kembali lewat keturunanmu.
Begini, Mbak.
Sebenarnya kami sendiri belum tahu jawabannya.
Ayah kalian ini seperti orang yang masih sehat walafiat.
Tapi matanya ditutup, mulutnya dibungkam,
dan badannya diikat.
Lalu langkah selanjutnya apa ya, Dok?
Saya akan coba bicara dengan teman-teman saya, ya.
Untuk diskusikan hal ini.
Karena ini adalah kasus langka.
Selama saya bekerja,
saya belum pernah menemukan kasus seperti ini.
Sebenarnya kalian ini memeriksa atau menebak-nebak sih?
Mau prosedur ini itu masih tidak ada jawabannya.
- Apa langkah berikutnya? - Kak Angel, tenang dulu.
Sudah, kamu tidak usah menenangkan aku.
Semenjak Mama tidak ada aku yang mengurusi kamu,
aku yang mengurus Tasya, aku yang mengurus Papa.
Dan sekarang orang ini tidak bisa kasih tahu Papa kenapa.
Kami akan bertindak sebaik mungkin.
Apa tindakan yang akan dilakukan?
Papa ada di ruang ICU. Sebaiknya kalian pulang saja sekarang.
Biar kami yang menanganinya dengan baik.
- Maaf, Dok. - Baik.
Untung Papa masih tertolong, ya.
Saya ke sini mau mengembalikan ini, ini punya pak Ferdi.
Dan om adalah?
Saya Wardana, kapten pilot pesawat yang digunakan Pak Ferdi
untuk ke rumahnya di Alas Keramat.
Setelah berhari-hari tidak ada kabar akhirnya saya jemput.
Dan pak Ferdi keadaannya sama seperti sekarang ini.
Pak Ferdi?
Apa Om melihat ada yang aneh
atau mungkin ada orang lain juga yang ke sana?
Tidak, Bapak ke sana setiap minggu keempat setiap bulan
di enam tahun terakhir.
Dan saya yang menjemput dan mengantar beliau.
Papa selalu sendiri?
Iya.
Sepertinya bapak menjaga rahasia tempat itu.
Rahasia? Bahkan dari kita?
Iya.
Jadi bapak yakin tidak melihat sesuatu di sana?
Om, saya mohon
kita perlu tahu apa yang terjadi pada Papa.
Pak Ferdi ini klien terbaik saya,
mohon maaf saat ini saya tidak bisa memberikan info apa pun.
Saya harus pergi sekarang ada jadwal penerbangan berikutnya.
Kalau perlu apa-apa silakan hubungi saya.
Permisi.
KAPTEN WARDANA
Sekarang kamu sudah umur berapa?
- Delapan belas, Papa. - Oh ya, 18.
Maaf, bukannya lupa.
Tapi itu bukan berarti kamu sudah punya pacar, 'kan, hah?
Ih papa. Ih berlebihan sekail. Ah, malas.
- Ayo, pak. - Iya, ya. Saya ke sana.
Ya sudah ini Papa mesti kerja lagi, pokoknya
sampai besok dan ingat kalau punya pacar menghadap Papa dulu.
Papa, jaga diri ya.
Iya, dah, Papa sayang kamu.
Aku juga.
Tasya kangen Papa,
biasanya Papa menemani Tasya menonton kartun.
Iya, kita semua kangen pada Papa.
Dalam budaya Jawa
dikenal istilah 'rogo' dan 'jiwo' alias raga dan jiwa.
Jadi kalau buat hidup normal seperti
jalan, makan, kuliah,
manusia memerlukan kedua hal itu 'rogo' dan 'jiwo'.
Kadang manusia suka terlalu fokus pada raganya,
seperti fitness, diet, sampai-sampai mereka lupa menjaga jiwanya.
Padahal budaya Jawa juga percaya bahwa
jiwa yang menghuni raga kita ini
memiliki bentukan seperti raga kita sendiri.
Jadi kalaupun kita kehilangan tangan,
kita masih bisa merasakan memegang sesuatu.
Itu karena jiwa kita masih utuh.
Kami juga percaya bahwa dalam keadaan koma atau tidur,
orang-orang itu masih bisa mendengar ucapan apa yang kita omongkan.
Kita harus menjaga keduanya agar tetap seimbang.
Raga yang kuat kalau tidak diimbangi dengan jiwa yang kuat
sama orang awam bisa disebut gila.
Atau sebaliknya,
jiwa yang kuat kalau tidak diimbangi dengan raga yang kuat
bisa disebut sakit atau yang paling parah koma.
Terima kasih, presentasi dari saya.
Maaf, aku Bela.
Hai. Rama.
Presentasi kamu bagus.
Yah, cuma tidak relevan saja buat jaman sekarang.
Hmm, Sebentar. Aku bingung mulai dari mana.
Papaku koma,
sampai sekarang dia belum sadar.
Kata dokter semuanya baik-baik saja, persis seperti presentasi kamu.
Mungkin ada informasi lain yang bisa kamu tambahkan.
Hei, ada yang mencarimu.
Siapa, eyang?
Tidak tahu, wanita cantik.
Gaib apa benaran?
Ya benaran, temui sana.
Ketemu manusia benaran. Lumayan.
Oh iya, ini buku yang aku bilang. Ada
Divine Comedy lalu ada Tibetan Book of The Dead.
Dan ini yang mau aku perlihatkan ke kamu,
kitab Primbon Jawa Bataljemur Adammakna.
Jadi dalam buku ini,
roh orang yang masih hidup
sama arwah orang yang sudah meninggal itu bisa dipanggil.
Dalam budaya jawa ada ilmu namanya 'Rogo Sukmo'.
Itu ilmu yang buat memanggil roh orang yang masih hidup.
Kalau yang sudah meninggal?
Yang sudah meninggal itu pakai medium biasanya,
entah masuk ke orang lain atau pakai alat,
contohnya 'nini towok'. Lalu ada 'bambu gendeng'.
Tapi yang paling ampuh, ya pakai 'Jailangkung'.
Jailangkung?
Yang mantranya,
"datang tak dijemput, pulang tak diantar"?
Tidak, itu lebih mantra ke cari aman sebenarnya,
jadi belum tentu ampuh.
Tidak perlu ada yang mendatangkan dan memulangkan.
Jadi belum tentu arwahnya mau datang.
Lalu yang lebih pasti apa?
Yang paling pasti. Ini.
Ini yang eyang ajari ke aku,
mantranya "datang gendong, pulang bopong".
Ke mana saja kamu?
Maaf Kak, ada teman aku mau ketemu Papa.
Bapak kamu sejak kapan koma?
Kira-kira seminggu lebih.
Kalau dari buku-buku yang sering aku baca sih ya,
bisa jadi sukma bapak kamu lagi ditahan.
Kenapa bisa?
Ya, kemungkinan sukmanya lagi dikendalikan oleh roh lain.
Itu namanya ketempelan
dan biasanya orang yang ketempelan itu bergerak di luar kendalinya.
Dan bahkan bisa mengubah suara karena
roh yang menempel itu sama raga yang ditempel jaraknya cuma satu cm.
Kalian pada bicara apa?
Mungkin Rama bisa menjelaskan semuanya, Kak.
Jadi teman kamu ini apa? Dokter? Dukun?
Kak Angel ingat 'kan, kata Dokter Jaka?
Keadaan Papa ini tidak bisa dijelaskan secara medis?
Ya, bukan berarti kamu harus cari teman dukun juga kali.
Saya bukan dukun, Kak.
Rama, kamu bilang Papa ketempelan?
Ketempelan roh apa?
Bapak kamu pas koma ditemukan di mana?
Kita bahkan tidak tahu ini rumah siapa.
Kalaupun rumah Papa,
kenapa dia tidak pernah cerita.
Kamu merasa ada yang aneh tidak di rumah ini?
Mana bisa tahu kalau cuma dari foto?
Kak. Kita perlu jawaban,
Papa sudah seminggu koma dan sampai sekarang,
masih tidak ada perkembangan apa pun.
Satu-satunya petunjuk
hanya rumah misterius itu dan aku akan pergi ke sana.
Lalu kamu berharap apa dari rumah itu,
mau dapat jawaban apa di sana?
Aku tidak tahu, Kak,
tapi kita tidak punya jalan lain.
Ini demi Papa.
Tunggu.
Itu pulau yang akan kita tuju, Alas Keramat.
Jadi saya sarankan, kalian sampai di rumah itu sebelum gelap.
Jadi di sini tidak ada sinyal,
jadi kalau ada apa-apa kamu bisa gunakan telepon darurat ini.
Terima kasih banyak, Om.
Iya. Hati-hati ya.
Ini jalannya kenapa ditutup, ya?
Rumah sebesar ini dan Papa tidak pernah cerita.
Sudah mau gelap, yuk cepat masuk.
Keren.
Kakak benar tidak tahu apa-apa tentang rumah ini?
Sama sekali tidak tahu.
Itu sepertinya panel listriknya, aku ke sana dulu ya.
Tasya, jangan main payung.
Kenapa?
Karena payung di dalam rumah itu cuma buat orang meninggal.
Eh, ke sini yuk.
Tasya kamu di sini saja ya.
Iya, aku mau main.
Iya tapi jangan sampai rusak, ok?
Payung-payung dipakai
Biar tidak kehujanan
Tapi jangan buka di rumah
Nanti ada yang mengintip
Ini kamar apa sebenarnya?
Gudang sepertinya.
Jadi selama ini Papa bilang mau memeriksa tambang,
padahal pergi ke sini?
Bisa jadi.
Ayo ah, balik.
Yuk, kita cek ke sana lagi.
Eh, Tasya. Apa kakak bilang? Jangan pegang-pegang barang di sini.
Ke atas yuk.
Yuk.
Mama.
Bel, Kak Angel.
Itu apa, Kak?
Itu silsilah keluarga kita,
itu ada Papa, ada Mama, ada nama kita juga.
Oh, jadi setelah kita tidak ada keturunan lain?
Tidak, Bel, anak Papa belum ada yang berkeluarga.
Kak, aku capek.
Ya sudah. Kamu tidur di sini saja ya? Yuk tiduran.
Ya sudah kalau begitu kita bagi-bagi tugas.
Ya sudah, aku cek ke bawah ya.
Aku ke sana ya, Kak.
Sejak kapan papa kamu main Jailangkung?
Aku tidak tahu papaku main Jailangkung.
Kalau ini apa, Ram?
Ini tulisan Jawa.
Ini artinya "ya".
Ini artinya "tidak".
Ini "hidup".
Ini "mati".
Mama.
Tidak tahu ini menutup sendiri.
Mama kamu?
Iya.
Ini buku apa?
Coba buka.
Papa kamu benar-benar main Jailangkung di sini.
Ini buku mantra Jailangkung.
Dia pasti belajar dari sini.
Dan mantranya juga sama, sama buku yang aku perlihatkan ke kamu kemarin.
Bel.
Bel. Bella.
Kak Angel.
Kalian dapat apa?
Kita menemukan ruangan besar, tapi aneh.
Kita menemukan Jailangkung di situ.
Hah? Jailangkung?
Iya, dan ada bukunya juga.
Ya, seharusnya mantranya sama seperti Jailangkung lain.
Tapi masih harus saya pelajari dulu, Kak.
Kalau Kakak menemukan apa?
Ini.
Dokumentasi Papa.
Iya.
Tapi kalau yang ini aku tidak mengerti apa.
Ritual?
Ini ada banyak lagi.
HARI PERNIKAHAN
Sampai maut memisahkan ya, sayang.
Bahkan maut pun tidak bisa memisahkan kamu dengan aku.
Hei anakku, jangan kau menangis
Kalau menangis hilanglah cantiknya
Mana mukanya?
Ih langsung diam kalau dinyanyikan Mama ya.
Ih jangan menangis, muka cakepnya mana?
Soalnya dia mau cantik terus.
Hei anakku
Aku punya sesuatu buat kamu.
Bagus sekali.
Terima kasih, ya.
Dua tahun lalu kita ke mana, ya? Danau Toba? Ya, 'kan?
Lalu tahun kemarin kita ke Raja Ampat.
Tahun depan kita mau ke mana?
Aku mau bawa kamu ke surga.
Kamu lucu sekali.
Aku serius, aku tidak akan melepaskan kamu selamanya.
Mereka baru mau jalan tiba-tiba buayanya muncul langsung, bwaaaa!
Ih Bellanya tidur ya, Gel. Bagaimana…
Ayo Mama ikutan nyanyi.
Habis lagunya begitu. Mama tidak tahu.
Mama, kita punya kado buat Mama.
Terima kasih, sayang.
Nanti Mama buka ya.
Aku juga punya kado buat kamu, sini.
- Siap, ya? - Iya.
Cepat.
Pagi cantik, ini kamu lihat, Tasya.
Lucu ya.
Kalau sampai ada apa-apa.
Hei.
Eh, jaga anak-anak ya.
Sar, kamu kenapa mesti mengatakan itu?
Tidak apa-apa, tidak ada masalah, kamu lihat, Tasya. Lihat.
- Sehat. - Sehat.
Iya. Kamu juga akan tidak ada apa-apa.
Ini, iya, 'kan?
Dokter. Dokter!
Ini istri saya kenapa dokter, coba dokter, coba tolong.
Tidak, Dok, tidak mungkin.
Dokter salah.
Dok, ini tidak benar, Dok.
Sarah, bangun. Sarah!
Sar. Sarah.
Malam ini saya akan memanggil Sarah melalui Jailangkung
dan saya yakin dia pasti hadir.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Hadirlah di sini Sarah Wijanarko,
datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Hadirlah di sini Sarah Wijanarko,
datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Hadirlah di sini Sarah Wijanarko, datang gendong, pulang bopong.
Hei anakku jangan kau menangis
Kalau menangis hilanglah cantiknya
Sarah, kamu di sini ya?
Sar. Sarah.
Aku tahu kamu pasti di sini.
Maaf ya. Bulan lalu aku tidak bisa datang.
Aku jalan dengan anak-anak ke Australia.
Waktu itu cepat sekali berlalu.
Ingin sekali mengajak anak-anak ke sini ketemu kamu.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Hadirlah di sini Sarah Wijanarko,
datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Hadirlah di sini Sarah Wijanarko,
datang gendong, pulang bopong.
Sar, kamu di sini?
Hentikan.
Sar, aku senang sekali kamu balik lagi ke sini, Sar.
Aku senang sekali. Terakhir kita bicara apa ya?
Dia di sini.
Sar, kenapa kamu ketakutan begini?
Jangan panggil aku lagi.
Dia mau ikut.
Tidak bisa Sar, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Sar.
Jangan panggil aku lagi, ada yang mau ikut masuk.
- Ya, siapa? - Matianak.
Matianak.
Selanjutnya mana?
44 yang terakhir.
Kosong.
Coba cari, pasti ada.
Ya, tidak ada. Ini sudah termasuk tempatnya semua.
Lalu di mana?
Pasti masih di kameranya.
Kameranya di mana?
Ada ini.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Hadirlah di sini Sarah Wijanarko,
datang gendong, pulang bopong.
Kamu siapa?
Sar!
Sar!
Apaan itu?
Ram. Itu apa, Ram?
Berarti rohnya belum dipulangkan.
Roh apa?
Ada yang ikut kepanggil, Kak Angel.
Saat papa kamu main Jailangkung,
yang kepanggil itu bukan mama kamu.
Lalu?
Matianak. Matianak yang ikut masuk,
dan sekarang menempel di papa kamu.
Matianak.
Iya.
Mungkin, kunci buat bikin papa kamu sadar,
kita harus memulangkan rohnya.
- Pulangkan? - Iya.
Aturan paling penting main Jailangkung itu,
- kalau kita panggil, kita harus… - Pulangkan.
Datang gendong, pulang bopong.
Ini buku peraturan Jailangkung, di sini dijelaskan semua,
sejarahnya, cara mainnya dan larangannya.
Kita harus baca mantranya.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
Aku sudah bilang, 'kan? Ini percuma.
Saya datang ke sini untuk mengembalikan…
Anda. Saya tahu kalau…
Saya tahu kamu dipanggil oleh Pak Ferdi.
Tasya?
Tasya.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
Bella! Hei!
Kak Angel.
- Tasya! - Tasya!
- Tasya! Bangun, Tasya! - Bangun!
Kak Angel.
Tasya. Bangun, Tasya.
Ya ampun. Si Tasya kenapa?
Aku tidak tahu, Kak.
Kita harus keluar sekarang.
Ayo.
Semua baik-baik saja, 'kan?
Halo, Om.
Kita sudah menuju ke dermaga, ya.
Segera jemput kita, ya.
Mbak-mbak dan mas bisa tunggu di luar dulu,
biarkan dokternya bekerja, ya.
Terima kasih.
Tunggu, tunggu.
Ini kita berhasil apa tidak?
Kita cek papa.
Papa belum sadar.
Papa belum sadar.
Papa belum bangun.
Percuma kita ke sana.
Papa belum bangun.
Kata dokter kondisinya persis seperti Papa,
tidak tahu kapan bisa bangun.
Berarti Tasya ketempelan juga.
Sebaiknya kak Angel istirahat.
Kita semua sudah mengalami hal yang aneh di sana.
Untung Rama di sebelah aku,
jadi aku masih kuat.
Sedangkan Kakak.
Kakak sendirian, 'kan?
Pasti lebih capek.
Aku masih bisa menemani dia di sini sekarang.
Tidak. Kak Angel saja yang jaga Tasya.
Kak Angel benar selama ini.
Kakak sudah terlalu lama rawat kita semua.
Dan sekarang saatnya aku,
buat menggantikan posisi Kakak.
Sekarang Kakak pulang,
mandi, istirahat.
Bel, aku pulang dulu ya?
Karena aku harus ketemu Eyang.
Nanti aku balik lagi. Oke?
Kenapa bisa sampai seperti begini, Pa?
Memang Papa saja yang kangen pada Mama?
Angel kangen.
Bella kangen, Tasya juga kangen.
Mama sudah meninggalkan Angel.
Papa tidak boleh meninggalkan Angel.
Ahhh…
Papa…
Papa.
Ada yang mau ikut masuk.
Ya, siapa? Tidak ada siapa-siapa, Sar.
Matianak.
Eyang?
Eyang, pernah dengar tidak tentang Matianak?
Matianak?
Itu makhluk halus
yang dijadikan anak oleh manusia.
Makhluk halus.
Iya, sejenis Jin,
Dedemit, Lelembut.
Kenapa makhluk halus dijadikan anak?
Yah mana saya tahu tindakan-tindakan sesat seperti begitu.
Harta, kekuasaan, iri, dengki…
Yah, dukun memang selalu begitu.
Matianak ada di beberapa tempat.
Yang pernah kejadian itu di ini,
Gunung Mati, Jawa Tengah.
Lalu di Jawa Barat, Angker Batu.
Sama ini Jawa Timur, Pulau…
Alas Kramat.
Alas Kramat.
Di Alas Kramat, pernah terjadi.
Dukun wanita memelihara Matianak.
Eh oleh warga diseret, diikat di pohon gede. Dia diikat di situ,
lalu si Matianak itu dibunuh, dibacok. Dijadikan satu, diikat,
lalu dibakar oleh warga setempat.
Kalau dua-duanya sudah dibakar, sudah mati dua-duanya.
Yang mati cuma dukun wanita.
Matianak tidak mati.
Dia bisa lahir kembali secara nyata.
Caranya?
Yah eyang tidak tahu, tanya saja ke eyang Google.
Eyang tidak tahu.
Angel, Bella, Tasya.
Sarah.
- Pak, tenang Pak, tahan dulu, Pak. - Sabar, Pak.
Pak, tenang pak, tenang pak.
Halo, Bella.
Tunggu, perut Kak Angel kenapa?
Pokoknya kamu pulang sekarang. Pulang!
- Ram, kita pulang sekarang. - Kenapa?
Tidak tahu. Kak Angel.
Iya, Kak, sabar dulu, Kak. Ini aku kena macet.
Aarrgghh, Bella!
Baik. Aku panggil ambulans saja, ya? Tunggu sebentar.
Halo pak. Saya butuh ambulans ya Pak.
Alamat rumah saya, jalan Kemang Raya nomor 313.
Baik, ditunggu ya Pak. Terima kasih, Pak.
Bella.
Bella.
Kak Angel tidak ada.
Pak Tarji, Kak Angel ke mana?
Kak Angel? Memang kenapa Kak Angel?
Lho dia telepon aku, katanya kesakitan, Pak.
Tadi jalan keluar bersama dua orang!
Bersama dua orang?
Kak Angel, di mana?
Bella!
Di ambulans?
Ya sudah. Kalau begitu sekarang Kakak bagi lokasi biar kita menyusul di mana. Oke?
Lah, itu ambulansnya!
Mas, ini kakak saya di mana ya, katanya ada di ambulans?
Maaf, Mbak, ini benar kediamannya Bapak Joyonegoro, 'kan?
Iya benar. Cuma kakak saya di mana, Mas?
Tapi justru kedatangan kita ke sini untuk jemput pasien yang namanya Angel, Mbak.
- Ram, kita ikuti bagi lokasinya saja. - Ya.
Keluarga saya mana?
Saya mau diapakan?
Lepaskan. Bel!
Kak Angel!
Kenapa malah ke sini?
Bel, kamu yakin Kak Angel di sini?
Bagi lokasinya disuruh ke sini.
Kak Angel.
Kak Angel.
Kak Angel.
Kak Angel.
Kak Angel.
Kak Angel.
Kak Angel!
Pasien dalam keadaan syok,
kita harus segera memberikan tindakan.
Permisi, ya. Maaf.
Ram!
Ini aneh. Lihat bapak kamu.
Kondisinya sangat baik, 'kan? Seperti tidak terjadi apa-apa.
Ya ampun.
- Papa. - Bella.
Angel dan Tasya mana?
Pa, kita sudah tahu tentang rumah Papa yang di Alas Kramat.
Dan Papa main Jailangkung di situ.
Bel,
kamu tahu tidak?
Mama kamu itu tidak mati.
Dia masih ada di sekitar kita.
Papa masih sering mengobrol dengan dia. Mama kamu tidak mati.
Dia ada di sekitar sini.
- Papa, Papa. Mama sudah mati. - Bel, Bel.
- Mama sudah tidak ada. - Bel.
Mama kamu tidak mati.
Papa masih sering ketemu dia.
Tasya.
Rama. Aku di tangga darurat, Ram. Di tangga darurat.
Eh! Kamu kenapa? Bella?
Itu kedua setannya ada di sini, Ram.
Satu menempel di Kak Angel, satu menempel di Tasya.
Ya sudah, aku tahu kita harus apa.
Bella? Kamu pulang?
Dia akan ganggu hidup kalian.
Dia menempel pada manusia yang memanggilnya.
Ke kamu. Kalian semua ini.
Dia akan ikuti kalian terus. Sampai kalian mati, nanti.
Mereka tidak bisa dibikin pagar ghoib begitu, eyang?
Ya tidak bisa.
Makanya jangan sembarangan.
Kalau panggil ya dipulangkan.
Di tempat yang sama dengan Jailangkung yang sama.
Jadi kita semua harus balik ke sana?
Ya, apa boleh buat.
Kamu masih ingat mantra Jailangkung?
Datang gendong, pulang bopong.
Datang gendong, pulang bopong, begitu.
Jadi mantra itu harus diartikan secara harfiah?
Roh yang terpanggil, datang dengan menggendongkan dirinya.
Dan kalau mau dipulangkan harus dibopong, begitu.
Matianak menempel ke saya,
dan entah bagaimana, sekarang menempel ke Angel.
Dan arwah wanita tua yang kepanggil itu sekarang menempel ke Tasya?
Iya.
Berarti Tasya dan Angel harus kita bopong?
Iya.
Kalau ingin semuanya berakhir, ya balik ke sana.
Baik, tapi Papa masih lemah.
Lebih baik istirahat dulu saja di sini sampai sehat.
Biar aku dan Rama yang bawa,
yang bopong Kak Angel dan Tasya balik ke sana.
Bel, tidak mungkin. Kamu ini bagaimana?
Papa harus ikut. Papa yang mulai semua ini.
War, besok jemput kita di sini. Dikabari atau tidak.
Siap.
Aduh, gawat ini.
Kenapa, Om? Memang tidak ada jalan lain?
Tidak ada, ini jalan satu-satunya.
Lalu bagaimana?
Kita lanjut, jalan.
- Hah, jalan? - Ya, jalan.
Semua turun.
- Pa, kita kenapa tidak lewat sini saja? - Hah?
Aku lihat di peta katanya lewat sini lebih dekat ke rumahnya.
Tidak bisa, kita tidak bisa lewat sini. Ini angker.
Om, Tasya sudah menggigil,
saya takut dia tidak kuat.
Ayo!
Lewat sini, ikuti Papa.
Pohon kramat.
Om, kayanya kita harus istirahat dulu, Om.
Tasya tidak kuat. Dia kedinginan.
Iya, sebelah situ, Ram.
- Papa! - Bella!
- Papa! - Bella, hei, ayo cepat!
Bella!
Itu rumahnya.
Angel!
Bella!
Angel!
Angel!
Bella! Ayo!
Kak Angel.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Sebaiknya kakak amankan Tasya dulu.
Biar aku dan Bella yang main Jailangkung.
Iya, kak.
Jailangkung, Jailangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan.
Kami akan memulangkan arwah yang mengganggu Tasya.
Datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan.
Kami akan memulangkan arwah yang mengganggu Tasya.
Datang gendong, pulang bopong.
Kak, aku di mana?
Kamu aman bersama Kakak.
Jailangkung, Jailangkung, di sini ada pesta
kecil-kecilan.
- Kami akan… - Ram.
Itu di belakang kamu.
Datang gendong, pulang bopong.
Bella di mana?
Bella!
Angel!
Bella!
- Papa! - Om Ferdi!
Papa!
Papa!
Papa?
Papa?
Om Ferdi!
Bella!
Bella!
Bella?
Bella! Sadar Bel.
Jailangkung, Jailangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
Jailangkung, Jailangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan.
Datang gendong, pulang bopong.
MATI
Pulang bopong! Pulang bopong! Pulang bopong!
Datang gendong, pulang bopong.
Sudah, Pa.
Sudah, jangan lihat ke belakang lagi.
Rencana berikutnya apa, Pa?
Kita akan bangkit lagi bersama.
Sebagai sebuah keluarga.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.