All language subtitles for Faraaz 2023 WebRip 1080p Hindi

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal) Download
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

PENAFIAN: FILM INI TERINSPIRASI DARI SERANGAN

DI KAFE HOLEY ARTISAN, DHAKA, BANGLADESH, 1 JULI 2016.

ISI DALAM FILM INI MURNI KARYA FIKSI.

UNTUK MENGINGAT IBU DAN AYAH

PREMJI JHANGIANI KAMI MERINDUKANMU

INSPIRASI DARI BUKU HOLEY ARTISAN: SEBUAH INVESTIGASI JURNALISTIK

OLEH NURUZZAMAN LABU

PEMBUAT FILM INI MEMBERI PENGHARGAAN KEPADA SEMUA MARTIR MALAM

TANGGAL 1 JULI 2016

DAN MENGHORMATI 22 PAHLAWAN, YANG MENGHADAPI TRAGEDI BERSAMA.

POLISI

DHAKA BANGLADESH

Ayo, saatnya siap-siap.

Bikash!

- Moba, bersiap. - Ya?

Sebentar.

Kembalikan.

Kau merobeknya.

- Mandi. Kau bau. - Aku siap.

Kau belum siap.

Ayo, Rohan, bersiap.

Saatnya untuk pergi.

Aku olah raga dulu.

Tidak mudah punya otot.

Terlihat seksi.

Ayo.

Tuan.

Ya.

Ya, aku…

Ada foto dan video.

Jika memungkinkan, lihatlah.

Ya.

Timnya solid.

Ya, Tuan. Selamat tinggal.

Pak, 30 menit lagi.

Kami hampir siap.

Secepat ini?

Ayo main dulu.

Sudahlah.

Nanti kalah.

Sial, kurasa aku melatihmu di permainan yang salah.

Kak Rajeev

tidakkah menurutmu kami harus pakai kaos yang serasi

- atau kaos hitam hari ini? - Tidak.

- Aku pikir… - Jangan.

Ganti baju.

- Dia pilihanmu? - Akan kuurus.

Jangan khawatir.

Buka puasa dulu.

Baiklah.

Sudah Ibu bilang.

Ayo ke kedutaan di pagi hari.

Kalian tidak bertanggung jawab.

Bu, mana kami tahu ini akan terjadi?

Berkatmu, kita tidak di Malaysia.

Semua Idul Fitri di sana, dan kita di sini.

Kau tahu kakekmu sedih?

Bukan salah dia.

Ya, salah Ibu kalian tidak bisa bangun pagi.

Andai tiba lebih awal, visa kita sudah dicap.

Tapi kau tiba di kedutaan lima menit sebelum kantor tutup.

Kau mau sadarkan Chhotu-mu?

Bahwa dia harus selesaikan kuliah?

- Tolong dengarkan dia, Bu. - Stanford.

Sulit masuknya

tapi dia diundang.

Benar Bu, tapi aku…

Setidaknya beri dia pengertian.

- Harus berapa kali bicara itu? - Hentikan.

Tidak, ini tidak adil.

Sudah sering kukatakan.

Aku tidak mau.

Aku ingin kerja di sini.

Tapi harus patuhi Ibu

yang ingin aku pergi.

Kenapa memaksaku?

Faraaz!

Akan kujelaskan.

Nazneen, kami belum terima apa pun dari mereka.

Ya, suruh masuk.

Ya.

Dan tolong beri tahu Dr. Mujahid.

Dan berkasnya di mejaku besok jam sembilan.

Ya. Aku takkan ke Malaysia, mungkin…

Iya, benar.

- Jadi kau, Dr. Mujahid, semua… - Ibu.

Nazneen, nanti lagi.

Ya.

Ibu, maafkan aku.

Tak mau ke Stanford.

Tidak masalah.

Jika kau tidak bahagia, apa Ibu bisa bahagia?

Dan tolong berhenti berasumsi, Chhotu?

Untuk apa Ibu memaksamu pergi?

Ibu hanya pikirkan masa depanmu

dan Ibu ingin yang terbaik untukmu.

Aku tahu.

Tapi

jangan khawatir masa depanku.

Kau mau ke mana?

Ke Holey Artisan.

Chhotu.

Ibu.

Ibu akan bangga padaku.

Sisakan ayamnya.

- Aku… - Piringmu masih penuh.

Akan kukemas.

Berbagilah.

Habiskan makananmu.

Aku suka makan.

- Suka makan. - Berikan ayamnya.

- Ayam… - Akan berakhir seperti ini.

Ada banyak di piringmu.

Selalu itu yang jadi masalah.

Piringmu sudah penuh.

Makan sedikit.

Aku sudah dapat.

Bisa berikan bawangnya?

Tahukah kau?

Bongkar saja.

- Ada apa, Kak? - Tunda dulu.

Kita ambil nanti.

Pergilah.

- Bongkarlah. - Kami berlatih…

Diam!

Kenapa diam?

Lanjutkan, dan berpestalah.

Makan.

Makan.

Nikmati pestanya.

Pisang gorengnya.

Mau kupesan biryani jika masih lapar?

Itu akan mewah.

Dengar, jika ingin kekanakan…

maka pulanglah.

Aku tidak butuh.

- Biar aku sendiri. - Jangan begitu.

- Maaf, Kak. - Maaf kenapa?

Kenapa minta maaf?

Buktikan bahwa aku salah.

Buktikan!

Buat aku percaya aku tidak salah

memilih kalian.

Buktikan!

Tunjukkan padaku generasimu tidak sia-sia.

Generasi bersemangat…

yang akan dilihat dunia

dan berkata, "Mereka pahlawan kami.

Ingin kami tiru."

Jangan seperti anak kecil.

Gorenganku, pisangku, bajuku, ini, itu.

Sikap macam apa itu?

Maksudku ikatan dan kesatuan kalian sangat lemah.

Kenapa menyalahkan dunia?

Dan kalian mau berjuang untuk semua orang.

- Kalian takkan bisa. - Kak…

- Kak. - Kak!

- Kak Rajeev! - Kak…

- Kami bisa. - Kami mau.

Kami bisa.

HATI-HATI ANAK-ANAK DI DALAM

Selamat tinggal.

HOLEY ARTISAN KAFE GULSHAN, DHAKA

Lari!

Tutup pintunya!

Bangun, masuk ke dalam.

Aku tidak akan tembak, masuk.

Lari!

Mereka semua…

Semua orang mati.

Diam.

Tetap menunduk.

Tetap menunduk.

Cepat!

Cepat!

Tenang, tetap diam.

Ke tengah.

Duduk di sini.

Duduk dengan tenang.

Tak ada yang akan sakiti Muslim Bangladesh.

- Khairul, amankan atas. - Ayo, semua. Turun.

Apa kau tuli?

Berlututlah dengan kepala menunduk.

Bikash, periksa di sana.

Kemari kau.

Cepat!

Di luar aman?

Aman.

Semua aman.

- Duduk. - Ibu.

Tutupi matanya!

Terima kasih.

Kau mau sesuatu?

Bikash, pintu utama.

Periksa identitas.

Yang tanpa KTP, baca surah.

Identitas?

Bunuh yang bukan Muslim Bangladesh.

Siapa namamu?

- Siapa namamu? - Zahoor.

Baca surah.

"Aku berlindung kepada Allah dari setan."

Siapa namamu?

Dr. Salim.

Salim apa?

Salim Iqbal.

Salim Iqbal?

- Buka celana. - Nak…

Aku bukan anakmu.

- Lepas celanamu. - Rohan!

Dia sudah tua. Sopanlah.

Maju ke depan.

Jangan takut.

Jika Muslim, baca surah apa saja.

"Dengan nama Allah, yang Maha Pengampun. Yang Maha Pengasih.

Terpujilah Allah semesta alam."

Duduk.

Duduk.

Kau

harus sopan.

Duduk.

Gitar siapa ini?

Gitar siapa?

Miliknya.

Itu gitarku.

Siapa namamu?

Tahmid.

Tahmid.

Tahmid Haseeb Khan.

Siapa mereka?

Saudara sepupu.

Saudaranya.

Pasti adiknya.

Bukannya mau kunikahi.

Ritsletingmu.

Lihat apa kau?

Brengsek.

Zaraif, kenapa tidak mengetuk?

- Kami… - Aku di sini.

Keluar.

Keluar.

Cepat!

Oke. Tidak apa-apa.

- Tenang. - Keluar.

Baiklah.

Pergi dan duduk di sana.

Cepat.

Cepat. Duduk.

- Duduk. - Cepat.

Faraaz Hussain.

"Pangeran Bangladesh".

Siapa mereka?

Temanku.

Tentu saja.

Tapi siapa?

Dia adik Shadab Aslam.

Kumohon.

Dan dia?

Dia tetanggaku, Rabia.

Kenapa kenal dia?

Aku tidak kenal.

Kami main sepak bola, itu saja.

Dia berpendidikan.

Belajar di universitas.

Entah apa niatnya.

Kilo 81.

Masuk, Kilo 81.

Kilo 81 diterima, Pak.

Kilo 81, konfirmasi lokasi.

North Avenue, jalur 83, Pak.

Kilo 81, ke Lake View Clinic.

Ada laporan tembakan dari sana.

Baik, Pak.

Farooq, jangan lupa helm dan rompi antipeluru.

Pak, kau tahu kami sudah ajukan permintaan

tapi belum dijawab kantor pusat.

Baiklah, hati-hati.

Baik, Pak.

Kau dengar itu?

"Hati-hati."

Ayo ke Lake View Clinic.

Menunduk.

Pangeran.

Mau pergi?

Pergi.

Halo! Kalian mau ke mana?

Aku kenal, Rohan.

Aku main dengannya.

Lalu?

Lalu?

Dia Muslim.

Gadis ini?

Biarkan pergi.

Hanya karena kenal, bukan berarti bisa pergi.

Kami bukan penjaga klub malam di sini.

Biarkan pergi.

- Terima kasih. - Hanya kau.

Ya, para gadis tinggal.

Kenapa tidak jadi?

Kau benar.

Mereka sama sekali tidak Islami.

Kumohon. Biarkan kami pergi.

Mau pergi? Itu pintunya.

- Suruh mereka duduk. - Jangan!

- Tidak, tunggu! - Hentikan!

- Kumohon! Hentikan! - Hentikan!

- Tolong! - Hentikan!

- Duduk! - Hentikan!

- Duduk! - Duduk.

Kepala ke bawah!

Cepat!

Kembali.

Mobashir, posisi.

Posisi!

LAKE VIEW CLINIC

POLISI METROPOLITAN DHAKA

Kenapa mereka ke sisi itu?

Semua unit.

Tembakan dari Holey Artisan, bukan Lake View Clinic.

Aku ulangi.

Tembakan dari Holey Artisan, bukan Lake View Clinic.

- Mundur. Minggir. - Permisi.

- Mundur. - Permisi.

- Tolong minggir. - Permisi.

- Minggir. - Bu, permisi.

- Menjauh! - Minggir.

Mau ke mana?

- Biarkan aku masuk. - Dilarang.

- Keluarlah. - Kumohon.

Siapa namamu? Tahu aku siapa?

- Tidak. - Anakku di sana.

- Tidak bisa masuk. - Hei!

- Pergi. - Siapa seniormu?

- Mundur. - Panggil seniormu.

- Mundur. - Dilarang masuk.

- Lepaskan tanganku. - Mundur.

- Pergi! - Ibu.

- Pergilah. - Mundur!

Pergi!

Sakit sekali?

Harusnya pergi saja.

Tn. Salim.

Tn. Salim.

Dokter!

Rawat dia.

Coba kulihat. Jangan khawatir.

Kau akan membaik.

Biar aku lihat.

Hati-hati. Jangan khawatir.

Bisa aku minta antiseptik atau sesuatu?

Di Lake View Clinic?

Ada yang punya parfum?

- Aku punya. - Berikan.

- Di tasku. - Kau akan membaik.

- Moba. - Tenang.

Duduk.

Ini haram.

Ada alkoholnya.

Tak ada lagi yang bisa bersihkan lukanya.

Bolehkah?

Ini akan menyengat.

Baiklah.

Kau akan membaik.

Kau akan pulih.

Semua akan membaik.

Pegang ini.

Di sini.

Lebih ketat.

Tahan.

Kau akan sembuh.

Tenanglah.

Aku bisa lihat orang di balkon merekam.

Suruh mereka masuk.

Kirim orang.

Kenapa ada orang di gerbang?

Jaga di sini.

Larang masuk atau keluar.

Barikade bagaimana?

Oke.

Pastikan tidak ada orang.

Pers atau sipil.

Komisaris tiba.

Mushtaq, situasi terbaru.

Farooq responden pertama yang memberitahu bahwa tembakan

dari Holey Artisan.

Lalu kenapa gambarnya Lake View?

Terlalu banyak kekacauan.

Ini penyanderaan?

Sepertinya.

Tapi belum ada tuntutan.

Staf bilang warga sipil

dan asing di dalam.

Mana Farooq?

Terluka, Pak.

Dan kita kehilangan tiga orang.

Kau sudah gila, Farooq?

Kau masuk tanpa rencana?

Tanpa perangkat anti peluru?

- Aku berusaha sebaik… - Jangan berikan alasan!

Siapa tanggung tiga petugas tewas?

- Kami tanpa peralatan baru. - Baru?

Yang lama rusak.

Kau tidak tahu, Pak.

Sudah puas salahkan departemen?

Maaf, Pak.

Ada yang mengakui serangan ini?

Belum, Pak. Tapi itu bisa saja Ansar-Ul-Islam.

Bukankah itu kelompok yang sama

pembunuh editor majalah?

Brengsek!

Entah dari sekolah agama mana mereka ini.

Berapa orang?

Kami tidak tahu, sekitar sepuluh orang.

Senjata AK.

- Bantu aku. - Siap.

- Bawa cetak biru kafe. - Siap, Pak.

Tunjukkan tempat yang layak untuk mereka di Bangladesh.

Siap.

- Jangan hanya berdiri. Cepat ambil! - Siap.

Cari di mana?

Cetak biru?

Ya, yang dia minta.

Aku kira kau tahu.

Kau tidak tahu?

Tidak, Pak.

Lalu kenapa bilang siap?

Kau juga bilang siap, Pak.

Cari saja.

- Bikash! - Ya.

Ambil teleponmu dan foto semua mayat.

Tunjukkan.

Tunjukkan.

Tidak menakutkan.

Mereka terlihat mati.

Tunggu.

Sekarang.

Tunggu, berikan teleponnya.

Kau, bintang rock!

- Kemari. - Mau apa kau?

Sudahlah, foto saja.

Aku tahu yang kulakukan.

Ayo. Cepat. Sekarang.

Membungkuk.

Membungkuk di lehernya.

Turun. Bersandar lebih dekat.

- Membungkuk. - Aku lakukan apa?

Membungkuk sekarang.

Di lehernya.

Kumohon.

Senyum.

Kumohon.

Ayo. Senyum.

Senyum. Gigi.

Anak pintar.

Itu lebih bagus.

Mau apa dia?

Tunjukkan.

Unduh Wickr dan kirim fotonya ke Kak Rajeev.

Kembali ke posisi.

Halo, Ibu. Ini Shahbaaz dari Dhaka Care.

Kami menawarkan asuransi jiwa…

Ya Bu. Bisa berikan detailmu?

Terima kasih, Bu.

Sebentar, akan kubagikan detailnya padamu.

Ya.

Ini adalah pusatnya

lalu ini kanan dan kiri.

- Pak… - Di sini…

Maaf Pak, tapi menurut petunjuk

ini kiri dan ini kanan.

Jangan bingung kanan dan kiri. Kita masuk dari sini.

Dan di sini…

Pak, dia Anwar Mehendi.

Lalu?

Dia pemilik kafe.

Tn. Anwar, cetak biru ada?

Sudah kucari ke mana-mana, tapi tidak ketemu, Pak.

Kau yakin tidak berikan itu ke teroris?

Maaf, Pak?

Farooq, bawa dia

dan buat gambar kafe.

Dan atur pos komando. Oke?

Dan, jangan tinggal dia. Pergi.

Pak, aku di sini untuk membantu.

Kalau begitu bantu kami. Cepat pergi!

- Dia sangat kasar. - Ayo.

Ayo.

- Siapkan dua tim. - Siap.

Kita serang.

Ada warga sipil, Pak.

Bukankah lebih baik hati-hati?

Ini Komisaris Polisi.

Saya ulangi, ini Komisaris Polisi.

Polisi telah mengepungmu.

Tidak ada cara untuk melarikan diri.

Kami siap mendengar permintaan Anda.

Bebaskan semua sandera dengan aman dan baik-baik saja.

Saya ulangi, tidak ada cara untuk melarikan diri.

Siapa yang menulis ini?

Pak, ini protokol standar.

Kita akan aman.

Kita aman.

Kita akan aman.

Ini Komisaris Polisi.

Bebaskan semua sandera dengan aman dan baik-baik saja.

Kami siap mendengar permintaan Anda.

Saya ulangi.

Kami siap mendengar permintaan Anda.

Tim SWAT, dan RAB di jalan.

Kita harus menunggu sekarang?

Ya, Rabia, aku bisa dengar.

Ya. Kami di sini.

Mendekati barikade.

Ya, aku di keramaian.

Datanglah kemari.

Itu dia.

Di mana anak-anak?

- Aman? - Dr. Mujahid berusaha

menemui Komisaris. Mereka akan selamat.

Bertahanlah.

Pak, ini gerbang utama

dan ini dinding batas.

Tanganmu.

- Lanjutkan. - Ini mengarah ke area parkir, Pak.

Dan ini area danau

dan ini halamannya.

Ini pintu masuk kafe.

Ini area tempat duduk.

Dan ini halamannya.

Dan dapurnya ada di sini.

Tapi, kami diberi tahu dapur di sini.

Oh.

- Maaf pak. Tapi ini dapur. - Kau yakin pemiliknya?

- Maaf. - Tugasmu selesai.

Lanjutkan. Pergilah.

Lanjutkan.

- Semua ke sini. - Siap.

Dengarkan.

Tim satu masuk dari gerbang utama

dan kami akan alihkan perhatiannya.

Jelas?

Tim dua akan lompat dari samping

mengejutkan mereka.

- Semua jelas? - Ya, Pak.

Ayo kepung mereka dari kedua sisi.

Tapi Pak, kau akan berada di garis tembak.

Karena aku Komisaris Polisi.

Kenapa dia masih di sini?

Keluar! Antar dia keluar.

Dilarang masuk ruangan ini tanpa izinku.

Siap, Pak.

POLISI

Staf! Di mana papan tombolnya?

Bariskan semua orang. Sejajar di jendela.

Bikash, Khairul, cepat! Ayo!

Cepat, bangun.

Ke jendela.

Ayo. Khairul!

Cepat. Ke belakang.

Apa yang kau lakukan?

- Mau ditembak lagi? - Pertanyaan bodoh.

Diam dan lakukan perintahku!

Aku melindungimu.

Ayo, berdiri di sana.

Moba, pintu utama.

Khairul, aman?

Kau di pintu utama. Cepat.

Kalian berdua, kemari.

Kemari.

Kau akan baik-baik saja.

Kau akan aman.

Di bawah tangga. Ayo.

Kau mau berdiri di jendela?

Kemarilah.

Hati-hati. Kemarilah.

Di bawah tangga. Kau akan aman.

Ke bawah tangga.

Sembunyilah.

Kau, menghadap ke jendela.

Tanganku.

Dokter, periksa dia.

Kau menumbuhkan janggut untuk sia-sia.

Kami akan lihat saat ditembak.

Rambut panjang. Ke pintu utama.

Pergi cepat.

Berapa lama lagi? Halo!

Halo, Tari?

Ayah.

Tidak terdengar.

Berikan teleponnya.

Halo, Paman.

Faraaz di sini.

Ya.

Kami akan keluar dengan selamat.

Telepon ibuku

- katakan kami… - Faraaz.

Ajari anakmu sopan santun.

Kesopananku mereka remehkan.

Ada apa denganmu?

Otakmu dicuci.

Otakmu.

Semua orang di sini telah dicuci otaknya.

Saat semua pergi

kami akan dikenang.

Lihat saja.

Cepat!

Cepat, semuanya!

Aku mau petugas di setiap sudut area ini.

Sasaran terlihat.

Tutupi setiap inci tempat ini.

- Beri Visual. - Pak.

- Siap. - Kami menunggumu, Pak.

DMP harusnya tidak menyerang!

Siap.

Aku berusaha.

Awasi target.

Jika ada sesuatu, segera beri tahu.

Aku mencoba berunding dengan Komisaris, tapi…

Tugas kami jadi semakin sulit.

SWAT

Satu petugas di sana.

Kapan RAB tiba?

Harusnya sebentar lagi, Pak.

Semua, aktivitas apa pun, lapor.

- Negatif. - Aku tidak mau gagal.

Di mana pos komando?

Lewat sini, Pak.

Aku butuh air.

Tunggu.

Hei!

Pergi, lihat anakmu.

Duduk bersamanya.

Ayah, air.

Minum di rumah.

Aku tidak mau.

Ayo pulang, Ayah.

Kita akan minum air

makan burger, dan bahkan menonton film bersama, oke?

Ayah janji.

Apa masalahmu, brengsek?

Bahasa lain saja.

- Dia melecehkanku tadi. - Hati-hati, Mobu.

- Nanti ditampar. - Jaga dirimu dulu.

Kau yang tertembak.

Ditembak itu mulia.

- Kau ditampar gadis. - Aku…

Hei.

Hindari.

Hindari dia.

Pergi dan berdiri di sana.

Pergi ke sana.

Pergi.

Dan Faraaz, jika aku tembak wajahnya karena terlalu banyak bicara

itu salahmu.

Mengerti?

Saya saat ini di Gulshan Chaar Rasta.

Ini area yang sama

saat serangan terjadi.

- Polisi tidak bertindak. - Putriku.

Tidak.

- Tunggu. - Namaku Sudhir Sen.

- Aku mengerti. - Aku dari India.

Aku antar putriku ke kafe dan ini terjadi.

- Tolong, Pak. - Tidak bisa.

- Pergilah. - Panggil seniormu.

Temui aku.

- Mungkin dia mau. - Pergi.

Tidak diizinkan, Pak.

Pergilah.

Mundurlah.

Silakan.

Tidak ada yang diizinkan masuk tempat itu.

Dan ada seseorang di sini bersama kami.

Pak, kami mau tanya. Ada kerabat Anda di sana?

Putriku di sana. Aku yang antar.

Teror ini terjadi.

- Namanya? - Tarika Sen.

Kapan terakhir bicara dengannya?

- Belum lama. - Anda bertemu dengannya di dalam kafe?

Aku bilang, aku menurunkan putriku di sini.

Kenapa tinggalkan dia?

Untuk apa aku sengaja tinggalkan putriku di sini?

Aku keluar untuk kerja. Lalu, ini terjadi.

- Seperti Anda lihat situasinya tegang. - Itu pertanyaan?

- Polisi diam dan rakyat marah. - Aku di sini. Di sini.

Ya, tolong catat.

Faraaz Ayaaz Hussain.

Ya. Cucu Lateef-Ul-Rehman.

Ya, Cucu.

- Ya. - Permisi.

Ya, aku di sini.

Ya. Terima kasih banyak.

Terima kasih.

- Kau ibunya Faraaz? - Ya.

Aku ayahnya Tarika.

Sudhir Sen.

- Tn. Sen, ya. - Ya.

Faraaz dan Tarika terjebak di dalam bersama.

Aku tahu, Tn. Sen.

Tenang. Anak-anak akan aman.

- Dr. Mujahid, Tn. Sen. - Ya.

Dr. Mujahid adalah CEO perusahaan kami.

Ini Zaraif, putra tertua.

Dia, ibunya Aisyah, Rabia.

Kami berusaha yang terbaik.

Tapi belum bisa bicara dengan mereka.

Aku bicara dengan Faraaz.

Dia baik-baik?

Dia baik-baik saja.

Katanya tenang, mereka akan keluar.

Itu anakku.

RAB-2

Manirul.

Ada petugas di gedung

di sekeliling Holey Artisan.

Penembak jitu di atap

sayangnya, belum bisa melihat.

Info teroris?

Tidak tahu, Pak.

Tawanan?

Tidak tahu.

Benazir, bagus kau di sini.

Ayo berkumpul dan serang lagi.

Kurasa terorisnya lima orang.

- Kita… - Kau rasa?

Karenamu, kita kehilangan 12 petugas.

Dia benar, Pak.

Jangan gagal lagi.

Bagaimana?

Kita tidak bisa diam saja saat mereka tertawan.

Kau terluka. Lebih baik kau mundur.

Kami akan membuat rencana.

Kami sudah lakukan itu.

Pak, berhenti menyebut kebodohanmu sebagai rencana.

Jaga bahasamu.

Mari kita bahas caranya.

Kami sudah tutup semua rute.

Baiklah.

Mau tunjukkan letaknya?

Tentu.

Apa ini?

Cetak birunya?

Hanya ada ini.

Serius?

Wow.

Ini luar biasa.

Siapa Picasso lokal ini?

Komisaris, kirim tim intai.

Mereka akan menilai situasi di kafe

dan lapor padaku.

RAB akan gabung dengan SWAT di atap, dan jendela untuk visual.

Sisanya membantu. Kami yang memimpin.

SWAT akan menyerang dari depan

dan RAB akan masuk dari belakang sini.

Dan DMP?

DMP akan jadi tim cadangan dan memberi perlindungan jika diperlukan.

Jika ada teroris bersenjata yang keluar, tembak di tempat.

Siap.

Dan Manirul, ada hal lain yang perlu kau ketahui.

Setelah operasi ini…

aku mau ini dibingkai.

Bu, dia SI Farooq.

Inspektur?

Buat apa bicara dengannya?

- Di mana Komisaris? - Dia sedikit sibuk.

Kami sudah lama menunggu.

Ini Rabia. Ini Tn. Sen dari India.

Anak kami di dalam.

Kami di sini untuk membantu

dan beri dukungan moral.

- Tapi… - Terima kasih.

Terima kasih, Bu.

Jika butuh sesuatu, katakan saja.

Atau beritahu Dr. Mujahid.

- Akan diurus. - Apa pun itu.

Tentu. Itu akan diurus.

Tapi berapa lama operasi ini?

Kami berusaha.

Ya, tapi sudah lebih dari tiga jam, dan sekarang semua mulai panik.

Ada 50 orang di dalam kafe.

Kami hanya memastikan

semua orang keluar dengan aman.

Tentu saja.

Tapi pasti ada rencananya, kan?

- Biar kami bekerja. - Pasti bisa.

Mereka teroris

anak kami di dalam.

Dan masih banyak lagi orang yang tidak bersalah, dan…

Kita ledakkan saja kafenya?

Semua orang akan mati.

Semua bisa pulang.

Dua belas petugas tewas, Bu.

Kenapa aku masih bertugas?

Kenapa?

Untuk memastikan semua aman.

Tapi tidak, kau pasti tahu itu.

Lakukanlah!

Pak, tolong.

- Tolong. - Biar kami bekerja.

Seperti Anda lihat, tim RAB dan SWAT telah tiba.

Menurut sumber kami, banyak petugas DMP terluka parah.

Kita harus menunggu dan melihat bagaimana para sandera akan diselamatkan.

Serangan di wilayah ini

disebut sebagai aksi teroris terbesar di Bangladesh saat ini.

Hingga kini, belum ada organisasi teroris mengaku bertanggung jawab.

Laporan Mohammad Sami-Ull untuk ATN News.

Nibras, ada pesan dari Kak Rajeev?

Itu nanti.

Jaringan sulit.

Bung, aku tertembak di tangan.

Kita bertaruh nyawa.

Paling tidak dia menjawab.

Rambut panjang.

Semua mengantuk. Mainkan.

Dan jangan Bob Dylon, John Lennon.

Khairul, ada permintaan?

Untukmu, hatiku merana

Bagaimana?

Aku tidak tahu akornya.

Kau tahu apa?

Aku main lagu sendiri.

Benarkah?

Salah satu dari itu.

Mainkan.

Aku…

Aku tetap diam

Dan tangguh

Bahkan saat Tuhan Bersaksi atas kekejaman itu

Aku tetap berempati

Dan tidak ternoda

Namun aku merasa tercekik

Tidak bisa. Aku bukan penyanyi. Hanya penulis lagu.

Lalu? Mereka bukan sedang di konser.

Nyanyi saja.

Nyanyi!

Aku bersumpah takkan pernah mengatur kencan lagi.

Awan asap dan bubuk mesiu Wajah berlumuran darah

Siapa yang dengar

Kesengsaraan hatiku?

Aku telah melihat monster Berubah menjadi manusia

Ada lautan rasa sakit di dalam diriku

Perlahan-lahan memotong kepingan itu

Dari hatiku

Tidak ada yang membela

Tidak ada yang memanggil mereka

Bahkan Tuhan bersaksi

Untuk kekejaman

Aku tetap diam dan tangguh

Bahkan Tuhan bersaksi

Untuk kekejaman

Kau benar.

Kau bukan penyanyi profesional.

Aku bercanda. Duduk.

Tepuk tangan.

Ayo, lebih keras!

Duduklah.

Tim Theta, lempar granat kejut ke kafe

untuk jalan bagi Tim Alpha.

- Mengerti? - Siap, Pak!

Pancing teroris keluar

dan habisi!

Pastikan tidak ada sandera yang terluka dalam baku tembak.

- Mengerti? - Ya, Pak!

Dia menyalahkanku untuk semuanya.

Tapi memakai caraku.

Tidak masalah masuk dari mana

tetap terlihat.

- Aku tepat di depan mereka. - Pak.

- Pak. - Ada apa?

Ibu telepon.

Beritahu ada aksi teroris.

- Aku telat. - Perdana Menteri.

Apa?

Ya, Bu.

Ya, Bu.

Ya.

- Mushtaq. - Pak.

Apa?

Kenapa koordinasi denganmu?

Harusnya aku.

Kenapa tidak kau telepon sendiri?

Saat ada waktu negosiasi, kau menyerang.

Saat kami siap menyerang, kau mau kita negosiasi?

Bukan mauku.

Ini perintahnya.

Perdana Menteri.

Ayo kita minum kopi dan makan.

"Ikuti" perintah.

POLISI

SWAT

Ada dua staf lain yang lompat.

Mereka tewas.

Aku hanya ingin ke kedutaan.

Mau ke sana?

Ya, aku ingin ke kedutaan negaraku.

POLISI

POLISI

Hei, kalian, yang dekat jendela.

Ayo duduk.

Ayo, berdiri menghadap jendela.

Berdiri menghadap dinding.

Duduklah di kursi.

Kau, pergi berdiri di depan jendela.

Dokter, ke dinding.

Hei, kalian berdua. Kemari, duduk di sini.

Kau sudah cukup istirahat. Ayo.

Berdiri di sana dan bawa mereka.

Kau ke dekat jendela itu.

Maafkan aku.

Aku menyesal.

Andai aku ke Malaysia, kita tidak di sini.

Ini semua salahku.

Seakan tintanya habis karenamu saja.

Maafkan aku minta bertemu.

Sudahlah.

Mauku sendiri ke sini.

Maafkan aku.

Salju bukan masalah di sebagian besar negara Islam.

Tapi "ISIS".

Lelucon teroris, serius?

Kau jangan bercanda.

Maaf.

Hanya bisa itu.

Nibras.

Konfirmasi berapa yang mati.

- Moba, luar. Bikash, atas. - Kuhitung.

Kau jaga mereka saja.

Kau jaga di sini. Aku hitung.

Bagaimana kalau hitung ini?

Ayo hitung, dan cepat.

Satu.

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ya, Allah.

Demi Al-Qur'an penuh hikmah.

Kau salah satu utusan."

Dua.

"Aku memujamu, Dewa Siwa bermata tiga.

Pemelihara makhluk."

Tiga.

Kau hitung juga.

"Di jalan yang lurus.

Itu wahyu yang diturunkan oleh-Nya.

Ingatkan yang tidak sadar.

- Akan tanda Allah." - Empat.

"Bebaskan aku dari belenggu

dari kehidupan ini.

Bebaskan aku dari ketakutan

- dengan membuatku…" - Lima.

Berapa banyak?

Empat belas.

Enam.

- Pak, dia… - Pak, kami tinggal dekat.

Putriku Fairuz di dalam.

Tolong keluarkan dia.

Kami akan berusaha.

Beri nomor putrimu.

Ponsel siapa?

Ponsel siapa?

Siapa ini?

Nomor tak dikenal.

Kemarilah.

Takkan kusakiti. Ayo!

Cepat. Jawab panggilannya.

Pakai sepiker.

- Halo. - Fairuz.

Ini Benazir Ahmed dari RAB.

Semua baik-baik?

Bisa bicara sebentar?

Apa yang kau lakukan?

- Ini RAB. - Ada apa denganmu?

- RAB. Mereka akan serang kita. - Diam!

Kita akan dihancurkan!

Diam saja!

Telepon kembali pakai sepiker.

Dasar bodoh.

- Halo. - Halo.

Katakan dia ada di sepiker.

Paman, aku pakai sepiker.

Ini DG RAB.

Katakan padaku tuntutanmu.

Aku pikirkan.

Aku tahu kau juga takut

karena aku pun sama.

Berpikirlah tenang.

Aku hanya ingin tahu sudut pandangmu.

Aku yakin kau punya alasan tertentu.

Dan untuk itu kau harus keluar.

Aku jamin tidak ada yang akan menyakitimu.

Halo?

Halo?

Nyalakan TV.

Bikash, Mobashir, kemarilah.

Kau juga, bodoh.

Mulai berita terkini.

Berita serangan teror…

Bersenjata ke…

Militan senjata berat.

Teror di restoran.

Dhaka terguncang.

- ISIS. - ISIS.

ISIS mengaku bertanggung jawab.

ISIS bertanggung jawab atas serangan itu

dengan 19 orang tewas

termasuk warga negara asing.

Melalui corong resmi Amaq Agency

mereka juga membagikan foto para teroris

yang masih ada di dalam kafe.

Kelima teroris ini diyakini berkewarganegaraan Bangladesh.

Menurut laporan, nama kelima teroris ini adalah

Nibras Islam, Rohan Imtiaz

Khairul Payel, Meer Mobashir, dan Bikash Shafiqul.

Kami tidak punya informasi teroris keenam yang terlihat di gambar

tapi kami akan ikuti perkembangan dengan cermat.

BERITA TERBARU

Ini…

Mereka serahkan senjata kepada anak-anak pada jummah.

Dan mengaku sebagai penjaga Islam.

Sudah tutup layanan internetnya?

- Pak, kekacauan… - Kekacauan?

Kalian petugas terlatih.

Kau lupa protokol dasar?

Segera kuurus, Pak.

Ada dukungan teknis juga?

Ada, Pak.

Dia mencoba meretas CCTV.

- Selesaikan. - Siap.

Kenapa PM tidak mengerti?

Kita harus serang sekarang.

Dalam terorisme dan aksi klaim, optiklah yang penting.

Tapi pemerintah Bangladesh

tak berdaya di depan sekelompok anak-anak.

Rambut panjang, kemarilah.

Ada jaringan ponsel?

Periksa.

Tidak.

Tidak ada.

Tidak?

Mereka memutus sinyal.

Apa?

Koordinasi bagaimana?

Staf.

Kau.

Kata sandi WIFI?

Holeyartisan12345.

Holeyartisan12345?

Kalian cukup serius dengan keamanan kalian.

Pecundang.

Data seluler dimatikan, tapi ada Wi-Fi.

Kita dapat pesan dari Kak Rajeev.

"Aku sangat bangga padamu.

Kau telah berikan lebih dari yang kami harapkan.

Ada tempat khusus untukmu yang disediakan di surga sekarang.

Kau telah buktikan Muslim dari Bangladesh

terdepan dalam perang.

Sampai jumpa lagi di surga. Aku sayang kalian semua."

Kalau begitu, ayo swafoto.

Ambil teleponnya.

Ambil teleponnya.

Ya.

Buka.

- Pegang. - Tidak, tolong…

- Kenapa memaksaku? - Pegang.

Senyum.

PINTU MASUK

- Siapa kau? Kenapa masuk? - Dia putri Lateef-Ul-Rehman.

- Lalu? Siapa yang izinkan? - Dia ada izin Kementerian.

Anak kami di dalam.

Aku lama di sini. Ada orang tua lain…

Kalian dilarang masuk.

Kenapa dilarang?

- Anakku di sana! - Bu, kami sedang buat rencana.

- Pergi. - Rencana apa?

Kau tidak lakukan apa-apa. Kau kedinginan, merokok.

Anakku terjebak di sana semalaman!

- Jika tak mampu katakan. Aku masuk! - Bawa mereka.

- Mengertilah. - Apa?

Kumohon.

Kau bisa diskors!

- Aku telepon PM sekarang kau diskors! - Bu.

Jika benar, beritahu.

- Kau akan diskors! - Pergi.

- Lihat nanti! - Ibu.

- Mengertilah. - Kau diam!

- Bawa pergi! - Coba mengerti.

- Putranya terjebak di sana… - Tidak ada!

Tidak diizinkan masuk!

- Pak… - Ini bukan pertandingan

dengan kuota VIP

kau bisa masuk. Pergilah.

Jemput dia.

- Bawa pulang. - Mau apa di sana?

Sudahlah.

Akan kutahan jika ada yang masuk!

Tolong bawa Chhotu pulang.

Terima kasih.

Ambil.

Siapa namamu?

Hasnat.

Kau memilih?

Ya.

Untuk apa?

Apa pemerintahmu datang?

Khalifah dari Levant, Irak memanggil umat Islam di dunia.

Kita harus kembalikan mereka yang menyimpang dari jalan Syariah.

Dan membunuh orang-orang kafir.

"Setiap orang yang menaati Allah dan Rasul

akan ditemani oleh mereka

yang Allah anugerahkan

pada nabi yang mengajar

pecinta kebenaran yang tulus

saksi yang bersaksi

dan orang benar."

Teman yang begitu indah!

Kau tahu artinya?

Mereka yang taat…

Bukan yang kau rampok.

Mereka yang percaya pada Rahmat Allah

akan terdaftar di antara yang istimewa yang diberkahi Allah secara pribadi.

Nabi-e-Kareem Mohammad.

Nabi Besar kita, semoga Allah memuliakannya

dan mengaruniakan kedamaian bagi para syuhada.

Sungguh hal yang luar biasa.

Makanannya pun dia cerita.

Apa maksudmu?

Dia membuatnya seakan Allah membuat klub eksekutif

dan dia punya keanggotaan emas.

Itu analogi yang buruk.

Mereka pikir

dapat berkah dengan membunuh orang.

Apa kau lapar?

Moba.

Pasti ada kue kering dan roti. Lihatlah.

Sudah berlumuran darah.

Staf.

Di mana makanan?

Keluar.

Kumohon.

Kumohon.

Jangan bunuh.

Halo.

- Halo, Ayah. - Halo.

Tidak ada yang membantu kami.

Tolong lakukan sesuatu.

Sudah Ayah lakukan, Nak.

Kita tidak berdaya. Kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Kenapa begitu?

Ayah harus berusaha!

Aku tidak peduli!

Lakukanlah!

Telepon Menteri Pertahanan dan tentara.

Jika harus jual semua untuk bayar, lakukanlah!

Aku ingin Chhotu kembali sekarang.

Jika tidak, takkan kutunjukkan wajahku lagi!

Nak, kita hanya bisa berdoa agar putra kita keluar dengan selamat.

Abaikan dia.

Kenapa?

Aku ampuni dia.

Apa maksudmu?

Maksudku, aku ampuni.

Kau keterlaluan.

Jadi Tn. Chef, siapa namamu?

Sardar.

Tertulis Sarkar di sini.

Ini salah cetak.

Sardar Khan.

Sardar Khan.

Chef Sardar Khan, masak apa?

Makan baru pergi?

Pergi ke mana?

Saatnya salat subuh, semua lapar.

Ayo, ikuti dia.

Dan kau, duduk di sana.

Berlutut.

Bisa jauhkan benda itu?

Aku takut.

Moba, kau bawa ponsel?

Chef, berikan ponselmu.

Aku mau main game.

Ada Temple Run?

Ya… Tidak.

Berikan!

Kau pikir kami pencuri?

Sarkar.

Teruslah memasak.

Ada suatu masa ketika Islam menguasai dunia.

Semua Muslim tinggal di istana emas.

Kita punya pakaian terbaik, makanan terbaik, dan mainan terbaik.

Ayo.

Ayo.

Kita membuat rudal besar

dan pasukan yang terkuat.

Hei, Hiroshima!

Di sini, berlutut.

Ayo, duduk.

Kemudian beberapa orang cemburu pada kami.

Pegang senjatanya.

Silakan.

Tidak.

Dan mereka mengambil semuanya dari kami.

Mau semua itu?

Hentikan!

Hentikan!

Dia masih kecil.

Tepat sekali.

Kau tidak apa?

Semakin cepat tahu artinya jadi Muslim

akan lebih baik buat kita.

Memegang senjata dan menjadi Muslim sama?

Hei!

Coba jadi manusia dulu

baru bicara soal menjadi Muslim.

Teman, semua yang meninggal di sini

- layak untuk mati. - Kenapa?

- Karena kafir. - Sepertimu?

Kau tak layak katakan itu.

Kau dengan pelacur…

- Apa katamu? - Tutup mulutmu, jalang!

Orang yang tidak tahu dasar cara hidup Islami…

Hentikan! Dasar?

Kau mau ajari kami cara hidup Islami?

Kedamaian, keharmonisan, kesucian.

Semua itu tidak ada, kecuali membunuh?

Membunuh atas nama Allah

begitukah Islam?

Ada debat di sini.

Sekolah di mana?

Amerika, kan?

Lulusan dari mana?

Universitas Amerika yang mewah?

Itulah ajaran mereka.

Bagaimana cara habisi Islam?

Itu yang kau tahu.

Itu tertulis dalam Quran.

Ya.

Ijtihad.

Artinya nalar.

Allah ingin kita mempertanyakan, meragukan, dan menantang.

Apa kau tahu itu? Belum baca Quran, kan?

Tidak perlu mengajariku. Aku tahu semua.

Mereka membodohimu.

Mereka salah terjemahkan ayat dan memberi senjata.

Mereka mengajari kekerasan, bukan Islam.

Aku tidak diajari, aku yang pilih untuk ada di sini!

Kau tidak lihat?

Islam terancam.

Di Amerika, Obama memberi dirinya Hadiah Nobel Perdamaian

sambil membom kita di tujuh negara?

Palestina bukan milik rakyatnya.

Kashmir bukan milik pribumi.

Bangsa kami mati di Yaman.

Jutaan dari kami dikurung di kamp penahanan China.

Mereka panjat masjid dan hancurkan, lalu menyebut Muslim itu keras.

Mereka bahkan tidak anggap kita manusia.

Dunia ini yang ingin kau tinggali?

Dengan melakukan semua ini, kau bisa hentikan siklusnya?

Kami menderita karena orang-orang sepertimu.

Semua mengira kami radikal sepertimu!

- Jika kami diincar, kami balas! - Hanya…

Ini pesan untuk setiap orang Bangladesh.

Kami membuka perang baru di sini.

Jangan anggap diri revolusioner.

Bangladesh dibangun atas ide berbeda, bukan ideologimu.

Siapa namanya?

Bikash.

Siapa namanya? Rohan.

Muslim bernama Hindu.

Identitas kita berasal dari budaya, bukan hanya agama.

Kau tak tahu karena bukan Muslim sejati.

Aku adalah prajurit Islam.

Aku adalah contoh Muslim seharusnya!

Kau pengacau bersenjata

yang ingin merasa istimewa.

- Faraaz! - Tidak, hentikan.

Turun!

Lepaskan dia!

Tolong, hentikan.

Kumohon.

Allah Maha Besar.

Allah Maha Besar.

Allah Maha Besar.

Allah Maha Besar.

Teman-teman, keluar untuk merokok terakhir.

Nibras, dengar.

Kita telah capai apa tujuan operasi ini.

Kenapa kita harus mati?

Kau tahu tujuan kita.

Dengar.

Tentara pasti sudah tiba. RAB di sini.

Kita tidak tahu keadaan. Kita akan habis.

Kau takut, kan?

Kau sangat ketakutan.

Beraninya kau mengancamku, Mobashir!

Kak.

Ini aku, Nibras.

Nibras, tunggu apa lagi?

Ayo keluar.

Tunggu aku di bawah.

Apa rencananya?

Kabur ke mana?

Kita membuat keputusan saat datang ke sini.

Kita tidak kabur.

Kenapa tidak?

Polisi ada di sini!

Kita di depan danau.

Kita bisa berenang.

Ayo pergi. Kita ke sisi lain.

Kita di Malaysia dengan orang tua.

Kita tidak akan ke mana-mana, oke?

Kita ke surga.

Kau ke surga.

Aku ke luar.

Kau boleh pergi.

Ayo. Aku janji kau baik-baik saja.

Beri tahu semua orang, kami merawat kalian dengan baik.

LAKE VIEW CLINIC

Bawa ke ruang perang.

Ke ruang medis.

Tangkap yang berambut panjang.

Apa kau melihatnya?

Lihat.

- Kau lihat? - Kau lihat?

Ya, aku lihat.

- Dia bersama dua temannya? - Ya.

- Melihat mereka di mana? - Di kafe. Entahlah.

Oke, baiklah.

Permisi.

Pernah melihatnya?

Tunggu. Kau pernah melihatnya?

Mereka biarkan yang Muslim pergi

orang asing dibunuh.

Mereka di sini.

Kau pemarah, bukan?

Maafkan aku.

Dia memukul kami.

Kita salat bersama.

Faraaz, pergi.

Kami akan aman.

Pergi.

Aku tidak bisa.

Apa masalahmu?

Apa maumu?

Aku mau Islamku kembali dari orang-orang sepertimu.

Bagus.

Kau contoh bagi umat Islam.

Baiklah, aku bisa hidup dengan itu.

Tidak!

Di dunia yang jauh dari dunia kita

Di tanah yang dijanjikan di luar alam ini

Di alam semesta lain

Kuharap kau telah Menemukan rumah yang aman

Lebih baik dari yang kau tinggalkan

Di mana mereka yang bebas tinggal

Di dunia yang jauh dari dunia kita sendiri

Di alam semesta lain

Kuharap, sayangku Kau telah menemukan rumah

- Kami akan membalas pembunuhan… - Dengan darah mereka!

- Kami akan membalas pembunuhan… - Dengan darah mereka!

- Kami akan membalas pembunuhan… - Dengan darah mereka!

Aku tidak melakukan apa-apa, Pak.

Aku tidak…

Aku tidak lakukan apa-apa, Pak.

Tanya orang tuaku.

Aku mahasiswa.

JASAD LIMA TERORIS TIDAK DIAMBIL KELUARGA MEREKA.

RAKYAT DHAKA DATANG BERSAMA DALAM JUMLAH BESAR

UNTUK MENGENANG MEREKA YANG TEWAS DALAM SERANGAN.

HAMPIR SEPULUH RIBU ORANG BERDOA DI FARAAZ NAMAAZ-E-JANAZA.

DIA DIANUGERAHI PENGHARGAAN INTERNASIONAL BUNDA TERESA TAHUN 2016.

DIA ORANG PERTAMA YANG DIBERIKAN PENGHARGAAN SECARA ANUMERTA.

Chhotu selalu mengikuti kata hatinya.

Dia keras kepala.

Tidak pernah menyetujui sesuatu begitu saja.

PENGHARGAAN BUNDA TERESA UNTUK KEADILAN SOSIAL, 2016

Saya berharap…

meski harus berdebat…

jika dia bisa kembali.

Saya di sana.

Di sana.

Tetapi…

Saya…

Tak bisa selamatkan dia.

Semua tampak begitu tidak nyata, sangat tidak adil.

Bagaimana saya bisa hidup…

saat anak saya tiada?

Saat saya tahu

tak ada orang asing selamat.

Saya menyadari…

bahwa anak saya takkan keluar.

Dia takkan keluar

tanpa teman-temannya…

Aisyah dan Tarika.

Apa yang dilakukan kelima anak itu

atau siapa pun dalangnya.

Karena orang-orang seperti mereka, dunia terus berkata…

"Lihat, mereka melakukannya lagi.

Seperti itulah komunitas mereka."

Tapi Chhotu saya membuktikan…

tak semua perang untuk menang.

Beberapa hanya diperjuangkan agar dunia dapat mengingat

bahwa saat ada ketidakadilan

ada yang menentangnya.

Para petugas melawan.

Chhotu saya melawan.

Ibu tahu kau dengar, Chhotu.

Ibu ingin kau tahu

bahwa Ibu sangat bangga padamu.

Karena Ibu tahu…

butuh banyak massa

untuk membagi dunia.

Tapi untuk tetap bersatu…

anak yang menggemaskan, penuh kasih

itu saja sudah cukup.

Namanya saja…

Faraaz.

Artinya seseorang yang berdiri tegak.

Chhotu saya membela orang yang dia cintai.

Kau sendiri?

Terjemahan subtitle oleh Hendrik Sompie

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.