All language subtitles for ROAD HOME episode 29 [iQIYI subindo]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]

[Road Home]

[Episode 29]

Semuanya ditulis tangan oleh Lu Chen.

Fajar pagi menyinari jalan pulang.

[Mengundang dengan hormat, fajar pagi menyinari jalan kembali]

Tulisan ini sepertinya tulisanmu.

Aku yang tambahkan satu per satu.

Aku menulisnya kemarin.

Mengabdi kepada tanah air

merupakan impian tertulusku.

Suamiku sangat menyukai perkataanmu ini.

Dia bahkan mengataiku dengan ini.

Bilang kamu sangat memahami Lu Chen,

sedangkan aku tidak memahami suamiku.

Aku sedikit gugup, bagaimana ini?

Apa yang kamu gugupkan?

Jalani hidup dengan tenang.

Berkat kemampuanmu dan Qin Feng,

sudah berkurang banyak masalah.

Siapa suruh kamu bersedia menikah dengannya?

Kakak pun akan berusaha

membantumu membersihkan rintangan.

Cantik sekali.

Kalau suka, lahirkan satu.

Aku hanya bercanda.

Aku suka dunia hanya milik berdua.

Lagi pula, Qin Feng adalah putra bungsu.

Orang tua di rumah

sudah cukup cucu-cucunya.

Tidak mengharapkan kami menambah anak lagi,

bisa bersenang-senang.

Benar juga.

Besok jam lima kamu

masih harus bangun untuk berdandan.

Aku pergi ke ruang tamu

dan tidur seranjang dengan pengiring wanita.

Kamu tidur sendiri di sini saja.

Ayo bersama.

Tidak mau berimpitan dengan pengantin wanita.

Nikmati malam sebelum pernikahanmu.

[Tahun 2018]

Kakak Chen.

Mobil terakhir?

Benar, mobil terakhir.

Biar kucuci.

Bukankah kamu naik kereta besok pagi?

Cepat pulang dan beres-beres.

Tidak buru-buru, kereta sore.

Kak, kamu tidak risi?

Mau mencuci pun,

setidaknya ganti bajumu dulu.

Tidak pantas mengotori kemejamu.

Sore ini Kak Bai mencarimu.

Sudah bertemu?

Sudah.

Bahkan membawa seorang wanita.

Siapa dia?

Teman sekolah?

Hai Dong.

Sudah datang, Kak.

Kamu sibuk saja.

Aku pergi mencari adikku.

Kakak.

Sini, duduk.

Duduk di seberangmu.

Supaya bisa melihatmu dengan baik.

Kamu terjemur sampai berubah.

Wajar.

Kapan pergi?

Besok.

Besok sore.

Urusan rumah

serahkan saja padaku.

Kini aku punya kemampuan untuk menjaga ibu.

Kamu tidak perlu terus memikirkannya.

Jika kamu ingin hidup tenang,

lebih baik tetap tinggal di Qining,

jangan kembali lagi.

Apakah terjadi sesuatu lagi?

Tidak.

Hanya saja,

aku tidak ingin ayah dan ibu selalu mengganggumu.

Saat kecil kamu melindungiku.

Setelah dewasa, aku ingin melindungimu.

Lu Chen.

Bangunlah rumah tangga di Qining.

Sudah waktunya kamu menikah.

Aku sudah memikirkannya.

Aku tidak mau menikah.

Apa yang kamu katakan?

Pekerjaan adalah pekerjaan.

Kehidupan adalah kehidupan.

Kamu tidak mungkin

masih memikirkan dia, 'kan?

Siapa nama gadis itu?

Aku pernah melihatnya sekali.

Sudahlah, sudah kulupakan.

♫Kamu pasti diam-diam menyimpan♫

♫Banyak kesulitan♫

♫Menunggu bertemu seseorang♫

♫Yang bisa mengerti kesulitan itu♫

♫Di malam yang ada arak dan angin♫

♫Separuh bulan♫

♫Bulan♫

Halo.

♫Kamu pasti diam-diam menghapus♫

Kak, ini aku,

Huang Ting.

♫Kenangan yang lama♫

Kamu sudah pulang?

Cuti, sekalian mengurus sesuatu.

♫Mengetahui bahwa hidup dalam diam♫

♫Baru ada cahaya saat tidak dimengerti♫

Kalau begitu, kamu mau makan di rumah?

Ibuku memanggilmu kemari.

Tidak perlu.

♫Di malam yang tidak diketahui siapa pun♫

Besok pergi naik kereta.

Kak.

♫Rasanya sejuk♫

Ada yang ingin dikatakan?

♫Sejuk♫

Apakah sore ini kamu bertemu

Gui Xiao di pom bensin?

Dia baru saja meminta nomormu.

♫Kamu pasti diam-diam pergi♫

Aku tidak tahu apakah dia akan menghubungimu.

♫Ke tempat terjauh♫

Baiklah.

♫Membawa kembali oksigen hijau musim panas♫

♫Dan juga daun kuning musim gugur♫

♫Di malam yang bermimpi mengejutkan di taman♫

♫Sebuah lagu sedih tentang masa muda yang indah♫

♫Kamu pasti diam-diam menghapus♫

♫Kenangan yang lama♫

♫Mengetahui bahwa hidup dalam diam♫

♫Baru ada cahaya saat tidak dimengerti♫

Aku kembali ke rumahku dulu

♫Di malam yang tidak diketahui siapa pun♫

untuk menjemput keluargaku.

Besok aku datang jam 5.

Baik, cepat pergi.

Hati-hati.

Baik.

♫Rasanya sejuk♫

♫Sejuk♫

♫Kamu pasti diam-diam memandang♫

♫Ke tempat dimulainya mimpi♫

♫Pemandangan musim semi yang manis♫

♫Dan cerahnya salju pertama♫

♫Di malam yang bertemu tanpa sengaja♫

♫Cahaya yang redup menjadi terang benderang♫

♫Kamu pasti diam-diam mengarungi♫

♫Lautan takdir♫

♫Mencium gelombang panas yang angkuh♫

♫Memeluk cahaya bintang yang menangis♫

♫Di malam yang membosankan♫

♫Semangkuk kebiasaan♫

♫Penuh dengan keinginan♫

Jangan-jangan kamu mabuk?

Tidak, tidak minum.

Kamu tidak minum, apa mereka akan membiarkanmu?

Angkat kepalamu.

Lihat ke depan.

Kamu tidak tidur?

Beberapa orang sudah mabuk,

menempati semua tempat tidur dan sofa.

Aku si pengantin pria,

tidak ada tempat tinggal lagi.

Baiklah.

Lagi pula, aku juga tidak bisa tidur.

Tapi aku tidak bisa pergi mencarimu.

Apakah popok putri kita sudah diganti?

Sudah.

Sudah minum susu?

Sudah jam 1 lewat, kamu baru tanya?

Sudah minum dari tadi.

Jangan berlagak seolah-olah kamu itu ayah kandung

dan aku ini ibu tiri, oke?

Ada kartu baru di dompetmu.

Kali ini, utang sudah lunas.

Kelak kartu ini kuberikan padamu.

Semuanya diberikan padaku?

Semuanya untukmu.

Kamu tidak mau uang jajan?

Aku makan hanya di markas

atau di rumah,

biasanya juga harus memakai seragam yang ditentukan.

Tidak ada yang perlu dibelanjakan.

Tidak perlu menyisakan untukku.

Benar juga.

Semua harta dan juga orangnya,

akan benar-benar menjadi milikmu besok.

Kenapa tidak bicara?

Pantas saja.

Kamu mau mengadakan pernikahan

setelah anak berusia satu tahun.

Ternyata kamu sudah merencanakan ini sejak awal.

Kebetulan setelah bekerja dua tahun,

utang sudah lunas,

masih cukup untuk mengadakan pernikahan.

Sudah.

Laporan selesai, aku pergi dulu.

Pergi ke mana?

Jalan-jalan dengan mobil.

Tidurlah nanti.

Sang pengantin wanita besok.

Aku sungguh tidak menyangka

aku masih bisa menikahimu.

Aku pergi dulu, besok datang menjemputmu.

Aku selalu mendengar Xiaoshan bilang,

dulu saat kalian sekolah,

ada banyak gadis

mondar-mandir di depan pintu kelas kalian,

hanya untuk melihatmu.

Dulu aku masih meragukannya.

Sekarang aku benar-benar percaya.

Dulu Kak Qin juga terkenal di luar.

Aku sering mendengar dari keluargaku.

Aku sudah tua.

Akhirnya juga ditaklukkan oleh Xiaoshan.

Bagus.

Ayo, Kak.

Ayo.

Ayo.

Kapten Lu.

Boleh juga.

Terlihat tampan, kelak sering-sering pakai.

Mana ada kesempatan?

Sudahlah, ayo pergi.

Jangan membuat pengantin wanita menunggu terlalu lama.

Apakah di tempat kalian ini

ada tradisi pernikahan?

Tidak tahu.

Aku juga belum pernah menikah.

Aku menikah,

tidak ada yang berani mengganggu.

Tidak ada, tidak ada seorang pun.

Di mana anjingmu?

Tidak menggonggong.

Bukankah hari ini menjemput pengantin wanita?

Kemarin malam

sudah dibawa pergi oleh ayahku.

Tidak ada seorang pun?

Benar.

Jangan-jangan kakak ipar pertama menyembunyikan

kakak ipar kedua?

Misalnya,

di sebelah.

Ayo masuk dan lihat dulu.

Menjemput pengantin wanita,

ada dua kapten membuka jalan untukmu.

Pengalaman yang luar biasa.

Ayo.

Tunggu sebentar.

Istriku membiarkan pintu pertama

terbuka.

Menurutku ada jebakan.

Qin Feng!

Ini adalah perlakuan istimewa untuk Lu Chen.

Dia susah payah menikahi Gui Xiao.

Terima kasih, Kakak Ipar.

Lu Chen sudah berjasa beberapa kali.

Atas dasar ini saja,

hari ini tidak ada yang menghalanginya menikahi Gui Xiao.

Kalian jangan panik.

Cepat masuk.

Istriku menepati janjinya.

Masuklah.

Tunggu sebentar.

Apa maksudnya?

Tidak menepati janji?

Kamarnya kecil,

kalau kalian naik semua tidak muat.

Naiknya bergiliran.

Biarkan pengantin pria naik dulu.

Ayo.

Istrimu sendiri, cepat sana.

Apakah terlalu cantik

sehingga mengejutkanmu?

Benar.

Ma... masih ada langkah apa

yang harus kulakukan?

Aku tidak tahu.

Tidak ada lagi, sudah dihapus.

Hanya satu,

langsung menggendongnya turun ke bawah.

Ini mudah, dia pernah menggendongku.

Kami belum pernah melihatnya.

Benar.

Keren sekali.

Hati-hati.

Keren sekali.

Pengantin pria,

ada satu yang tidak boleh dilupakan.

Angpau.

Benar, Kapten Lu.

Benar, angpau.

Tidak boleh kurang.

Semuanya ada.

Cepat.

Hai Dong.

Jangan boros baginya.

Milik dia adalah milikku.

Kamu belum menikah,

sudah mulai menyayangi uangnya?

Jangan sembarangan bicara, aku sudah lama menikah.

Semua yang dia bagi adalah uangku.

Milik dia semuanya milikku.

Sudah seharusnya.

Mereka semua menemanimu dari pagi sampai sekarang.

Aku tidak bilang tidak kasih.

Aku sudah menyiapkannya.

Ayo.

Aku juga mau.

Aku, aku juga.

Terima kasih.

Terima kasih.

Terima kasih.

Terima kasih.

Berapa lama menikah?

Mereka berdua sangat serasi.

Baiklah, pergi ke restoran.

♫Ingin melihat momen matahari terbit bersamamu♫

♫Menutup mata dan diam-diam membuat keinginan♫

♫Bayangan punggungmu memenuhi jalan yang panjang♫

♫Jadilah kenyataan dari mimpiku yang gersang♫

♫Terkadang aku berpikir♫

♫Angin akan bertiup ke padang salju♫

♫Cahayamu akan mengusir semua malam yang dingin♫

♫Aku bersedia demi dirimu♫

♫Menggerakkan semua kerinduanku untukmu♫

♫Menepati janji untukmu dengan semua impianku♫

♫Karena itu kamu♫

♫Kamu yang serba bisa♫

♫Kamu merupakan sumber keberanianku♫

♫Melintasi jarak mengejar cinta♫

♫Karena itu kamu♫

♫Akhir dari mimpi adalah kamu♫

♫Kamu cinta paling lembut♫

♫Tapi juga paling tegas yang kumiliki♫

♫Karena itu kamu♫

♫Kamu yang serba bisa♫

♫Kamu adalah satu-satunya alasanku♫

♫Melintasi waktu untuk kembali bertemu denganmu♫

♫Karena itu kamu♫

♫Akhir dari mimpi adalah kamu♫

Kakak Chen.

Sudah tidak tahan lagi?

♫Mungkin sepanjang hidupku ini♫

Mau lepas dasi dan bersiap masuk kamar pengantin?

♫Menunggu fajar untuk bertemu denganmu♫

Bocah, kamu tidak ingin pulang, ya?

Tidak, tidak berani.

Ini, ini tidak berani.

♫Kamu adalah semua kerinduanku♫

Baiklah, sesi terakhir.

Persilakan pengantin pria mengucapkan beberapa kata.

♫Aku hanya ingin memelukmu dengan erat♫

Setelah mengatakannya,

semuanya makan dan minumlah dengan puas.

Ruang privat lantai atas sudah dikosongkan,

tidurlah sesuka hati.

Ayo.

Terima kasih kalian

telah menjaga istriku selama bertahun-tahun.

Kita adalah teman seumur hidup.

Tahun itu aku mengenal istriku,

di lapangan sekolah menengah.

Di bawah pohon besar di sebelah utara.

Saat bertemu dengannya,

muncul sebuah pemikiran.

Gadis secantik ini,

datang dari mana?

Sebelum bertemu dengannya,

aku tidak pernah mendengar

nama "Gui Xiao" ini.

Seakan-akan

kami berada di dua dunia

yang paralel.

Hingga hari itu,

adik sepupuku membawanya mencariku.

Di tepi lapangan sekolah.

Dalam pertemuan itu,

aku mengingat namanya.

Gui Xiao.

Gui dengan arti jalan kembali.

Xiao dengan arti fajar pagi.

Sudah kubilang,

kamu jatuh cinta pada pandangan pertama.

Cium saja, jangan emosional lagi.

Langsung cium.

Benar.

Benar, cium.

Cium.

Cium.

Kapten Lu,

hari ini bukan waktunya untuk menahan diri.

Cepat, cium.

Benar, cium.

Cium.

Jangan terlalu serius.

Ada begitu banyak orang.

Formalitas saja.

Paman.

- Paman. - Paman.

- Pertama kali bertemu. - Baik.

Baik.

Kalian semua rekan kerja Lu Chen, 'kan?

Benar, benar.

Paman, aku bukan.

Siapa bilang kamu?

Anda pilih kasih, Paman.

Cepat sana,

bantu kakakmu minum bir.

Baik.

Duduk, ayo duduk.

Mau merokok?

Terima kasih, Paman. Aku tidak merokok.

Baik.

Kapten Lu dididik dengan baik oleh Anda.

Bukan aku yang mendidiknya dengan baik,

tapi seniornya yang lain,

yaitu pamannya.

Dia mendidik dengan baik.

Dia adalah orang yang jujur.

Satu profesi dengan kalian.

Kemudian, dia meninggal karena sakit.

Meskipun Lu Chen adalah anak kandungku,

tapi temperamennya

mirip dengan pamannya itu.

Pamannya adalah orang yang baik.

Gui Xiao.

Makan lebih banyak.

Sebentar lagi sudah harus bersulang.

Masih ada berapa meja?

Masih ada banyak.

Makan pelan-pelan.

Tidak perlu bersulang ke semua orang.

Nanti melewati setiap meja,

kamu menyapa para senior,

aku minum dengan mereka.

Beri tahu Ayah, kamu mau makan yang mana?

Mau makan...

ikan, makan ikan, oke?

Ini.

Oh, itu.

Makan ikan dulu,

baru makan itu, bagaimana?

Tidak mau.

Tidak mau makan?

Tidak mau makan.

Ayo.

Sudah waktunya, Lu Chen.

Sebentar lagi sudah harus bersulang.

Baik.

Bir di tangan pengiring pengantin

semuanya dicampur dengan air.

Semua orang juga sudah tahu.

Nanti kamu jangan minum terlalu banyak.

Minum banyak bir yang dicampur dengan air,

juga tidak nyaman.

Biar mereka minum sampai Hai Dong mabuk saja.

Apa Hai Dong punya dendam denganmu?

Tidak ada.

Bukankah dia sahabat karib Lu Chen?

Tentu saja dia harus maju di saat seperti ini.

Ibu.

Yang duduk di sebelahnya itu

adalah pacarnya?

Benar.

Lumayan cantik.

Aku juga merasa begitu.

Chuyang.

Chuyang.

Hari ini

adalah acara orang tuamu.

Bibi temani kamu makan, oke?

Di mana ibu?

Bibi temani kamu, oke?

Bibi gendong, ya.

Sini, ayah gendong.

Ayo.

Ikut Bibi.

Kita ke sini.

Kangen Ibu.

Ibu di sini.

Di sini.

Ini untukmu.

Makan pelan-pelan.

Ayo, aku sudah siap.

Halo.

Akhirnya sadar untuk menelepon?

Lu Chen ada di sampingku.

Apakah kamu ingin berbicara dengannya?

Tadi aku sudah

menelepon beberapa kali,

tapi dia tidak menjawab.

Benar, tadi dia sedang bersulang.

Aku berikan teleponku padanya.

Kalian berdua mengobrol saja.

Qin Mingyu.

Halo.

Pengantin pria.

Kami para bawahan lama ini

tidak bisa ke sana.

Kami di Qining,

mengucapkan selamat atas pernikahanmu.

Kapten Lu.

Aku Zhong.

Selamat menikah.

Selamat menikah, Kapten Lu.

Kapten Lu, sampaikan salam pada kakak ipar.

Kami tidak meneleponnya

secara pribadi lagi.

Kapten Lu, selamat menikah.

Selamat menikah!

Terima kasih.

Kamu layani dulu tamu di sana.

Jika kamu dan kakak ipar punya waktu kembali ke Qining,

pada saat itu kami akan mengadakan

pesta pernikahan Polisi SWAT Qining.

Baik.

Sudah, ya.

Pengiring pengantin akan pergi menemani minum.

Nanti malam akan kuceritakan padamu jika sempat.

Meremehkanku?

Tutup dulu.

Coba Ibu lihat.

Enak, tidak?

Makan lagi.

Masih banyak orang yang menunggu.

Kamu juga makan lebih banyak.

Ayo, bersulang.

Kakak Chen.

Mari.

Tunggu sebentar.

Hari ini siapa yang mau membuat Kak Chen mabuk,

harus melewatiku dulu.

Kakak Chen

akan kembali ke kota usai pesta pernikahan.

Aku masih tinggal di sini.

Kita akan selalu bertemu.

Kalian membuatku minum sampai lambung berdarah,

juga tidak benar, bukan?

Tidak berani.

Kita hanya formalitas saja.

Sedikit saja.

Benar.

Lu Chen, selamat.

Aku habiskan, kamu sesuka hati.

Hai Dong.

Hari ini bukan pernikahanmu.

Kenapa dibanding Kak Chen, kamu lebih...

Lu Chen menikah sama saja dengan aku yang menikah.

Sama saja.

Bersulang.

Baik.

Sampai jumpa besok.

Sofa dan ruangan yang bisa ditiduri di lantai atas,

hari ini kosong.

Baik.

Ke sini sebentar.

Papah para tamu ke atas.

Lihat ruangan mana yang kosong,

biarkan mereka tidur di dalam.

Buatkan mereka

sup pereda mabuk restoran kita.

Semuanya jaga baik-baik.

Baik.

Ayo, cepat.

Pelan-pelan.

Ayo, pelan-pelan.

Di sini ada kami.

Pergilah.

Pergi cari kakak ipar.

Masih kuat?

Aku masih ada adikku.

Hai Jianfeng!

Kak.

Paman Lu juga,

kami akan menjaganya.

Cari pengantin wanitamu saja.

Kapten.

Kapten.

Aku ganti baju dulu.

Kalian lanjutkan.

Begitu tampan, untuk apa diganti?

Tidak leluasa.

Lu Yanchen, Lu Yanchen.

Namanya Gui Xiao.

Gui Xiao.

Kenapa kamu terus menatapnya?

Paman Lu bilang tugasku hari ini

adalah menjaga adik,

tidak boleh menjauh darinya.

Sini... sini kamu, kutanyakan padamu.

Sini kamu, berdiri yang benar.

Kutanyakan padamu.

Apakah kamu mengenal ini?

Aku kenal.

Apa ini?

Chen Xiao.

Siapa namamu?

Chuyang.

Pintar sekali.

Ingat, ya.

Ini adalah namamu.

Lu Chuyang.

Lihat, siapa yang datang?

Chuyang.

Ayah datang.

Bangun, ayo.

Aku kira

kamu setidaknya butuh satu jam.

Ayo.

Main dengan Kakak.

Ini sudah terbuka.

Hai Dong dan ayahku

menjamu di bawah.

Pakaianmu ini...

Seharusnya katakan lebih awal.

Kalau kamu bilang dari awal, aku akan

mengeluarkan punyaku.

Tidak perlu.

Apakah semuanya sudah dibereskan?

Hampir selesai.

Duan Rou sudah membantuku mengisi koper.

Xiaonan,

nanti Bibi Duan Rou

akan membawa kalian pulang.

Apakah ada masalah?

Meskipun Bibi Duan Rou tidak naik,

juga tidak masalah.

Anak baik.

Sudah bisa bertanggung jawab.

Pegang ini.

Pegang saja.

Kemari.

Ayah dan Ibu ada urusan.

Ayo, main dengan Kakak.

Ayo, main dengan Kakak.

Kemarilah.

Main dengan Kakak.

Bermain dengan Kakak, ayo.

Berdiri, ayo, terbentur.

Ayo.

Ayo, berdiri.

Ayo, berdiri.

Serahkan saja anak-anak padaku.

Kalian pergilah.

Maaf merepotkanmu.

Berdiri.

Berdiri yang benar.

Jangan sungkan.

Ayo.

Pergilah.

Pegang suratmu dengan baik.

- Pegang. - Ayo.

Bangun.

Yang patuh, ya.

Tidak bisa mengemudi setelah minum.

Jalan pelan-pelan.

Tempat pertama ke mana?

Tempat biliar masih ada.

Toko suvenir sudah dibongkar.

Kedai mi daging sapi juga masih ada.

Sekolah pasti masih ada.

Yang ini aku tahu.

Tidak ada.

Ini baru buka, 'kan?

Lumayan, rasa ini.

♫Hai, hari ini hari apa?♫

Aku biasanya suka minum rasa ini.

Pergi?

Mau pulang!

♫Apa bisa bertemu denganmu♫

Chen Chang sampai murung.

Dia sudah menunggumu seharian.

♫Agar detak jantung tetap di 110♫

Siapa yang suruh dia menunggu?

Wei.

♫Terus berdetak kencang♫

Jangan pergi, Wei!

Aku minta maaf padamu, oke?

♫Oh, kamu belum bangun♫

Wei!

♫Tak melihat pesan dariku♫

Waktu itu saat aku pergi,

kamu juga seperti ini, 'kan?

♫Apa ada yang memberitahumu♫

Kurang lebih begitu.

♫Aku sangat merindukanmu♫

Tapi aku lebih percaya diri darinya.

Kalau kamu kabur,

♫Pacaran sedang populer♫

aku tetap bisa mengejarmu kembali.

♫Kamu masih mau diam saja?♫

♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫

[Kedai Mi Daging Sapi Khas Xie]

♫Meteor juga bisa berhenti♫

♫Lagu cinta sedang populer♫

Bos.

♫Aku akan menyanyikannya untukmu♫

Silakan duduk.

♫Kita harus perlahan-lahan memupuk perasaan♫

♫Aku yakin kamu bisa♫

Hari ini kalian berdua menikah, 'kan?

Benar.

Di waktu seperti ini,

baru selesai mengantar tamu pulang, 'kan?

Kenapa malah keluar?

Dari tadi terus bersulang,

juga tidak makan banyak.

Lapar.

Kalau lapar, langsung saja makan di restoran.

Kami suka makanan kedai Anda.

Aku mengerti.

Hai, hari ini hari apa?

Masih sama seperti dulu, 'kan?

Benar.

Tunggu, ya.

♫Apa bisa bertemu denganmu♫

♫Agar detak jantung tetap di 110♫

Kawan,

aku akan memasak sendiri dua mangkuk mi ini.

♫Terus berdetak kencang♫

♫Oh, kamu belum bangun♫

Masih sama seperti dulu.

♫Tak melihat pesan dariku♫

♫Apa ada yang memberitahumu♫

♫Aku sangat merindukanmu♫

♫Pacaran sedang populer♫

♫Kamu masih mau diam saja?♫

Semuanya masih sama.

♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫

♫Meteor juga bisa berhenti♫

♫Lagu cinta sedang populer♫

Mi sudah jadi.

♫Aku akan menyanyikannya untukmu♫

Terima kasih.

♫Kita harus perlahan-lahan memupuk perasaan♫

♫Aku yakin kamu bisa♫

Semakin kuat makan pedas dari sebelumnya.

♫Pacaran sedang populer♫

♫Kamu masih mau diam saja?♫

♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫

♫Meteor juga bisa berhenti♫

♫Lagu cinta sedang populer♫

♫Aku akan menyanyikannya untukmu♫

♫Kita harus perlahan-lahan memupuk perasaan♫

♫Aku yakin kamu bisa♫

Perubahan di sini sangat besar.

Dulu saat sekolah,

toko suvenir tempat aku membeli hadiah.

Apa kamu masih ingat?

Di sana, dulu.

Kemudian, aku menjadi akrab

dengan nyonya bos itu.

Dia sering membicarakan murid

di sekitar sini denganku.

Kamu terkenal.

Sering membicarakanmu.

Hanya "um"?

Aku tahu kamu menyukaiku.

Kalau tidak,

saat itu tidak akan bermain satu babak denganku.

Bukankah

tempat ini dulunya sebuah kios?

Seingatku saat itu kiosnya

ada dua pintu.

Satu menghadap ke sekolah,

satu menghadap ke luar sekolah.

Saat kamu mengulang kelas,

aku ingat suatu kali

aku masuk dari pintu

yang menghadap sekolah,

kebetulan kamu masuk dari pintu

yang menghadap ke luar sekolah.

Apakah kamu tahu?

Saat itu, semua gadis di dalam kios

sedang mengintipmu.

Aku tidak mengintip, aku melihat dengan terang-terangan.

Pernah melihat.

Apa?

Pernah mendengarnya.

Kata-kata ini

kamu sudah mengatakannya berkali-kali.

Benarkah?

Kapan aku mengatakannya berkali-kali?

Kalian berdua,

hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar.

Kalian ada urusan apa?

Kami mau masuk melihat-lihat.

Aku adik dari kepala sekolah kalian.

Tapi pintu gedung kelas sudah dikunci.

Kalian bukan pergi ke gedung kelas, 'kan?

Tidak ada seorang pun di gedung kelas.

Kalau begitu kami tidak pergi ke gedung kelas,

kami pergi ke sekitar gedung kelas.

Apakah boleh?

Kalau begitu boleh.

Kalian jalan-jalan di sekitar sana,

tidak masalah.

Kami hanya pergi ke lapangan.

Baik.

Baik, pergilah.

Terima kasih.

Baik.

Di musim panas begini,

sengaja datang untuk ke lapangan?

Lihat secukupnya saja.

Cepat kemari, ke sisiku.

Terlalu terik.

Wajahmu sudah memerah.

Kamu pasti lelah, 'kan?

Sedikit.

Sepeda kakak iparku

kebetulan ada di sekolah.

Kunci ini baru diberikan padaku.

Kamu sudah merencanakan semuanya?

Tapi kita sudah berkeliling ke semua tempat.

Ke mana lagi?

Satu tempat yang pasti ingin kamu kunjungi.

Anak muda.

Dilarang naik sepeda di dalam sekolah.

Baik.

Sudah.

Di sini.

Mereka melihat kita naik sepeda kemari,

jadi bingung.

Tunggu sebentar, aku pergi beli beberapa botol air.

Baik.

Apakah kamu membawa uang?

Bawa.

Masih cukup untuk beberapa hari.

Kutanyakan sekali lagi padamu.

Apakah kamu masih ingat siapa aku?

♫Berbalik dan berpapasan♫

♫Di dunia ini hanya tersisa aku seorang♫

Apakah kamu masih ingat siapa aku?

♫Menunggu pengaturan takdir♫

Ingat.

♫Mendengarkan langkah kaki yang mendekat♫

Menjadi abu pun, aku tetap mengingatmu.

♫Dalam sekejap tidak hati-hati♫

♫Seluruh hati telah kehilangan jiwa♫

[Selama bertahun-tahun, selalu ada bayanganmu di sisiku. Di dalam angin Qining, di dalam badai pasir Beijing]

[Seperti ada di mana-mana, tapi saat berbalik untuk mencarinya, malah tidak ada jejak sama sekali. Melewati tahun-tahun itu, siapa yang tidak pernah menyesal?]

[Pasti akan bertemu fajar pagi, menerangi jalan kembali, jalan pulang]

♫Menerima dorongan takdir♫

♫Memeluk cinta yang luar biasa♫

Ingat.

♫Bisakah kamu mendengarnya?♫

Menjadi abu pun, aku tetap mengingatmu.

♫Selama bertahun-tahun♫

Kalau begitu, mari kita berbaikan.

♫Harapan dari jiwa terdalamku♫

♫Hati yang murni♫

♫Luka yang sembuh♫

♫Hati yang menantikanmu♫

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.