All language subtitles for ROAD HOME episode 28 [iQIYI subindo]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]

[Road Home]

[Episode 28]

Tidak bisa.

Atas dasar apa semua orang ingin aku pengertian?

Kututup dulu.

Kuhubungi setelah pelatihan.

Lu Chen, jika kamu berani menutup teleponku,

tidak ada lain kali lagi.

Seumur hidup ini kamu juga jangan harap bisa bertemu denganku.

[Tahun 2018]

Apa... kamu masih ingat siapa aku?

Ingat.

Berubah menjadi abu pun aku masih ingat kamu.

Setahun ini,

aku bersama Lu Chen.

Sudah memiliki surat nikah yang sah.

Belum mengadakan pernikahan,

tapi sudah punya seorang putri.

Dia dilahirkan di Qining

yang sangat jauh dari Beijing.

Jangan bergerak.

Sudah merepotkanmu.

Paman bertemu menantu,

apakah perlu begitu sungkan?

Memperlakukan pahlawan

harus dengan sopan santun.

Ini adalah pekerjaanku.

Sudah seharusnya.

Dokter Xu.

Kita pernah bertemu beberapa kali.

Pertama kali di bandara.

Benar.

Saat pertama kali bertemu,

apakah menganggapku sebagai saingan cinta?

Jarang melihatnya

tersenyum seperti itu pada seseorang.

Ini ada alasannya.

Aku dan Gui Xiao termasuk teman dalam kesulitan.

Mau dengar kisahnya?

Mohon ceritakan detailnya.

Jarang Kapten Lu punya waktu

untuk mendengarkan cerita.

Sebelumnya selalu berbaring di ranjang pasien.

Jarang-jarang keluar mencari udara segar.

Kalian mengobrol baik-baik.

Aku pergi lihat Xiaoxiao.

Baik.

Nanti tolong Anda

bawa dia kembali ke kamar pasien.

Apa yang ingin Kapten Lu ketahui?

Dulu kalian dalam kesulitan seperti apa.

Saat orang tua Gui Xiao

bercerai tahun itu.

Lebih tepatnya,

saat mereka memutuskan untuk tinggal terpisah.

Aku baru menjadi pegawai magang.

[Tahun 2011]

Terima kasih.

Sedih untuk keluarga,

ada penyakit berat?

Bukan.

Bertengkar dengan pacarku.

Alasan ini bagus.

Menangis demi alasan ini di rumah sakit,

tentu saja itu yang terbaik.

Dibandingkan menangis untuk hal lain,

ini jauh lebih baik.

Benar juga.

Bertengkar karena hal kecil tidaklah sepadan.

Pacarku seumuran denganmu.

Teman masa kecil.

Sejak kecil dia mengidap penyakit

yang tidak bisa disembuhkan.

Makin dewasa makin parah.

Tapi dia jarang menangis.

Dia sangat optimis.

Setiap kali membicarakan

mungkin akan pergi lebih awal dariku,

dia pasti akan menangis.

Saat itu, aku melihat

Gui Xiao menangis,

aku teringat pacarku.

Saat pacarku menangis,

sama seperti dia,

juga menangis diam-diam.

Air mata mengalir keluar.

Pelan-pelan.

Terima kasih.

Kemudian ibunya masuk rumah sakit,

dia meminta bantuanku.

Awalnya asing, lalu menjadi akrab.

Kami berdua menjadi

teman baik selama bertahun-tahun.

Hubungannya dengan istriku sangat baik.

Selalu banyak topik pembicaraan

Kamu sudah menikah dengan teman masa kecilmu?

Kalau tidak?

Siapa lagi selain dia?

Sebelum menikah,

waktu itu ibuku sengaja

memanggilku ke kamarnya.

Waktu itu aku mengira

apakah dia tiba-tiba menyesal

dan tidak membiarkanku menikah?

Kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu

dan berkata ini adalah tabungannya selama bertahun-tahun,

agar aku memperlakukan istriku dengan baik.

Bilang padaku, jika kamu tidak setia,

aku akan menjadi orang pertama yang marah padamu.

Lalu? Bagaimana penyakitnya?

Masih sama.

Terakhir kali bertemu

dengan Gui Xiao,

aku meminjam uang darinya

untuk membeli obat.

Istriku yang memilihnya, bagaimana?

Aku juga punya.

Tapi karena pekerjaan,

tidak bisa terus memakainya.

Hargailah dengan baik.

Sungguh.

Gui Xiao sangat tulus padamu.

Ya.

Kamu juga semangat.

Pasti.

Sedang mengobrol?

Kalian mengobrol dulu.

Kami tunggu di luar.

Tidak apa-apa, sudah selesai mengobrol.

Aku akan segera kembali ke Beijing.

Banyak urusan di rumah sakit,

tidak bisa mengatur orang ke sini.

Kita bertemu lagi di Beijing.

Baik.

Lain kali bawa istrimu.

Kamu di Qining,

masih punya

teman yang tidak kami kenal?

Perkataanmu ini seperti istriku.

Aku juga merasa begitu.

Minggir.

Dia teman kakak iparmu,

seorang dokter kandungan.

Kali ini

khusus menemani kakak iparmu kemari.

Teman kakak ipar?

Mereka datang bersama,

kamu tidak cemburu?

Hubungan teman biasa.

Cemburu apanya?

Sebagai pria yang sudah menikah,

aku akan menganalisis

psikologi pria ini.

Dia pasti cemburu, percayalah padaku.

Cemburu berarti apa?

Artinya peduli.

Sedikit alkohol bisa membuat perasaan membaik.

Benar, 'kan? Zhong?

Seharusnya begitu.

Apanya yang seharusnya?

Tidak, aku kurang sensitif,

jadi tidak begitu cemburu.

Aku dan istriku adalah teman kuliah,

punya banyak teman yang sama.

Baik, aku simpulkan dulu.

Wakil kapten tim kita pencemburu.

Zhong sangat murah hati.

Bukan.

Aku menganalisis Kapten Lu.

Aku tidak perlu kamu analisis.

Benar.

Lagi-lagi hampir mengancam nyawamu.

Hampir membuatku takut.

Saat kamu melakukan operasi,

aku berpikir banyak.

Sudahlah, jangan katakan hal buruk lagi.

Yang penting masih hidup.

Setiap hari adalah hari yang baik.

Benar.

Jika selamat dari bencana, pasti ada berkah.

Berkahnya sudah ada.

Begitu sadar, putrinya sudah lahir.

Oh ya, bagaimana dengan Kakak Ipar?

Dia baik-baik saja.

Juga hampir mengancam nyawanya.

Anak baru lahir,

dia berbaring sendirian di kamar pasien.

Kami juga tidak leluasa ke sana.

Jadi meminta perawat untuk mengantarkan suplemen untuknya.

Begini.

Jika ada kesempatan, tunggu anak lebih besar lagi

dan bawa pulang untuk kami lihat.

Benar.

Bawa pulang untuk bertemu kami.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke Tianwen.

Ini perpisahan lagi.

Sudah kukatakan.

Saat kamu keluar dari rumah sakit,

kami belum tentu punya waktu.

Jadi hari ini semuanya sudah berkumpul

dan datang melihatmu.

Perpisahan demi perpisahan

lagi dan lagi.

Semuanya sangat sedih.

Benar, Kapten Lu.

Benar.

Kapten Lu,

kelak kalau ada liburan panjang,

aku akan membawa istriku untuk menjengukmu.

Baik.

Aku sarankan

lain kali ada tugas lagi,

kita semua

mengajukan menukar Kapten Lu.

Itu tidak baik.

Tugas penting ini masih menukar orang.

Kapten Lu punya istri dan putri.

Tidak mungkin selalu menyuruhnya datang.

Nanti dia datang, aku yang maju.

Siapa yang akan mendapatkan jasa?

Aku tidak masalah.

Aku sendirian.

Hanya ada seorang putra di tempatnya.

Dia yang urus.

Berikan ponsel padaku.

Telepon Kakak Ipar.

Aku akan menelepon

seseorang yang benar-benar

menjaga putranya.

Siapa?

Aku tahu, Duan Rou.

Tutup mulutmu.

Masih malu, Kapten?

Hormati Kapten.

Jika ada masalah, cari aku.

Apa aku perlu dilindungi olehmu?

Memangnya kenapa kalau pacaran?

Kenapa?

Aku jauh lebih buruk dari Kapten Lu kalian?

Aku punya putra lebih dulu darinya.

Baiklah.

Kamu tunggu dulu.

Apakah gadis itu sudah menyetujuimu?

Bukan, pria dan wanita dewasa

sekali saja sudah bisa.

Kenapa?

Kamu belum menyatakan perasaanmu?

Menyatakan apa?

Katakan kamu menyukainya.

Bukan, kata-kata ini...

bagaimana cara mengatakannya?

Kamu kekanak-kanakan.

Suka ada di dalam hati.

Wakil Kapten.

Tahun depan tulis laporan

untuk mengganti Kapten Qin.

Terlalu pengecut.

Sungguh, Kapten Qin.

Pertama kalinya aku memandang rendah kamu.

Jika kamu tidak mengatakannya,

tunggu pihak wanita bilang padamu?

Qin Mingyu.

Aku adalah Lu Yanchen.

Kapten Lu.

Bagaimana dengan Gui Xiao?

Dia baik-baik saja.

Sudah melahirkan seorang putri.

Ibu dan anak sehat.

Baguslah.

Kamu tiba-tiba menelepon,

aku kira terjadi sesuatu.

Memang terjadi sesuatu.

Kakiku.

Aku masih terluka.

Lu Yanchen.

Ada apa?

Asalkan aku bisa melakukannya,

katakan saja.

Aku akan mengurusnya.

Sangat senang mendengar perkataanmu ini.

Kita satu keluarga.

Aku dan Gui Xiao satu keluarga,

tidak perlu sungkan.

Qin Mingyu ada urusan mendesak mencarimu.

Dia?

Enyah!

Ini...

Duan Rou.

Aku bilang Lu Yanchen, bukan kamu.

Mengagetkanku saja.

Kenapa kamu mencariku?

Aku...

Aku hanya bertanya

bagaimana nilai

Xiaonan akhir-akhir ini?

Dia menurut, tidak?

Duan Rou.

Kamu terluka?

Patah tulang?

Tidak.

Jangan, jangan khawatir.

Kamu jangan mengkhawatirkanku, Duan Rou.

Untuk apa aku mengkhawatirkanmu?

Sudah tidak ada sinyal?

Ada.

Hari ini kamu begitu cerewet.

Apakah gajimu tidak cukup?

Tidak apa-apa.

Aku punya banyak uang,

bisa bayar dulu.

Sekolah

memberikan kelas pilihan semester depan.

Ada selo.

Aku ingin mendaftarkan Xiaonan.

Agak mahal.

Kamu pertimbangkan dulu, lalu beri tahu aku.

Aku... aku tidak perlu mempertimbangkannya lagi.

Kamu yang tentukan.

Sangat mahal.

Mau beli selo, beli rak selo,

juga ada banyak

hal-hal kecil lainnya.

Selain itu, begitu belajar,

harus terus dilanjutkan.

Tidak masalah.

Aku dengar suaramu aneh,

tidak jelas.

Jika kamu tidak senang, lupakan saja.

Tidak apa-apa.

Bagaimanapun kamu adalah

ayah kandungnya.

Duan Rou,

kamu yang mengambil keputusan di keluarga kami.

Kata-katamu ini

terlalu mudah mengakibatkan makna ambigu.

Qin Mingyu.

Kamu bisa, tidak?

Kamu seorang pria atau bukan?

Duan Rou,

kamu ingin menikah denganku atau tidak?

Kamu salah makan obat?

Tidak.

Aku... aku serius.

Aku tidak pernah begitu serius.

Ini.

Jangan ganggu aku, masalah penting dalam hidup.

Aku makan dan tinggal di kepolisian.

Biaya hidupku sedikit.

Sisakan 500 yuan saja,

yang lainnya untukmu.

Tentu saja.

Kamu pasti menghasilkan lebih banyak dariku.

Tapi kamu tenang saja.

Aku bukan pria hidung belang.

Kalau menikah denganmu,

wanita lain di mataku

adalah alien.

Selain itu untuk anak, kamu yang urus.

Xiaonan menyukaimu.

Jika kamu ingin melahirkan lagi,

kami berdua tidak keberatan.

Jika ada liburan,

aku akan ke sana untuk mengunjungi kalian.

Biarkan aku pikirkan baik-baik.

Jangan dipikirkan lagi, putuskan sekarang saja.

Duan Rou.

Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu.

Sejak pertama kali

kita bertelepon,

aku sudah mulai memikirkanmu.

Apa... apa kamu menyukaiku?

Jika kamu menyukaiku,

kita berdua menikah saja.

Aku ini

juga bukan pria hidung belang.

Jika menikah denganmu,

seumur hidup ini hanya kamu.

Jika kamu tidak mau,

aku juga tidak akan

menyukai orang lain

dan bersalah padamu.

Kamu

tiba-tiba pandai berbicara.

Aku selalu pandai,

tapi hanya padamu.

Sudahlah.

Aku mengerti.

Baiklah.

Aku setuju.

Aku biasanya tidak di Beijing.

Lebih sering di Qining.

Begitu ada liburan, aku akan pulang melihatmu.

Aku tahu.

Pekerjaanku sebenarnya sangat berbahaya.

Kamu mau putus atau melamar?

Mengatakan omong kosong seperti ini.

Aku melamar.

Aku sudah memberitahukan hasilnya padamu,

kamu masih cerewet.

Saat liburan aku...

Tunggu aku ada waktu, aku akan menjengukmu di Qining.

Apa masih ada urusan?

Aku harus rapat.

Tidak ada lagi.

Aku akan meneleponmu nanti malam.

Sampai jumpa.

Sampai jumpa.

Kenapa? Dimarahi klien?

Seorang teman.

Kalian bertengkar?

Aku lihat raut wajahmu kurang bagus.

Dia melamarku.

Aku menyetujuinya.

Terlalu gegabah.

Aku tidak punya pengalaman.

Pacar?

Pasangan yang belum jelas dan tak pernah menyatakan perasaan,

langsung melamar.

Be... berani sekali?

Kamu sudah setuju?

Sudah mengerti, belum?

Pasangan yang belum jelas,

masih belum menjadi pacar?

Tapi kamu sudah setuju?

Apa kalian pernah bergandengan tangan?

Atau yang lebih dalam?

Pernah bergandengan saat mendaki gunung.

Tidak ada yang lebih dari itu.

Astaga.

Bos, kamu sudah memikirkannya dengan jelas?

Tidak tahu, hatiku kacau.

Masih mau rapat?

Beri aku satu menit.

Kamu bersiap dulu.

Aku tenangkan diri dulu.

Baik.

Ditolak?

Sudah seharusnya.

Suruh kamu ungkapkan perasaan,

kamu kurang lembut,

bahkan sudah melamar.

Membuatnya ketakutan, 'kan?

Dia setuju.

Sudah setuju?

Hebat juga kamu.

Kamu cukup memesona.

Bukan, menurutmu,

bisakah dia bercanda denganku?

Dia bukan orang seperti itu.

Aku tahu dia tidak seperti itu.

Aku tidak meragukan karakternya.

Maksudku aku.

Jika itu aku,

aku tidak akan setuju.

Ini terlalu mengejutkannya.

Biarkan dia tenang.

Benar.

Ini adalah hal yang membahagiakan.

Membuatmu bersemangat.

Diam.

Bukan, Kapten Qin.

Jika kamu takut

dia menyesal,

kamu telepon lagi

untuk memastikannya.

Benar.

Bukan, dia sedang rapat.

Apakah tidak mengganggu pekerjaan orang?

Kamu begitu sungkan

seperti teman biasa.

Bisa membuatmu berhasil melamar,

calon kakak ipar adalah orang yang kejam.

Dia memang sangat kejam.

Kemampuan mengambil keputusannya

sama sekali tidak ragu-ragu.

Kalau begitu...

Selamat atas pernikahan Kapten.

Haruskah aku membeli sebuah cincin?

Atau beli sepasang?

Sudah.

Pinggangku.

Dasar bocah-bocah ini.

Zhong.

Hadir.

Pergi ke swalayan terdekat di bawah,

beli satu set angpau.

Angpau?

Hari yang membahagiakan.

Tentu saja harus memberikan angpau.

Kapten Lu,

sekarang sudah transfer melalui WeChat.

Apa ada yang transfer angpau pernikahan?

Tidak ada aturan.

Sudahlah.

Jangan berlagak di wilayahku.

Gao Hai.

Pergi.

Belikan angpau terbesar

untuk Kapten Qin.

Baik.

Setelah membeli angpau,

apa kamu punya uang tunai?

Kamu akan tahu setelah membelinya.

Bukankah tetap saja transfer?

Kamu lihat angkanya.

Sejumlah 8.726 yuan.

Jumlahnya tidak bulat.

Ini adalah jumlah hari

Kapten Qin kalian bekerja

di Tim SWAT Qining.

Delapan tahun, tujuh bulan, 26 hari.

Juga merupakan jumlah hari kita saling mengenal.

Bocah, untuk apa mengingat sejelas itu?

Aku adalah kaptenmu.

Aku ingin pergi menengok istriku.

Aku mendorongmu ke sana dengan kursi roda?

Gawat.

Miring.

Kamu sudah bisa turun dari ranjang?

Apa boleh minum teh susu saat istirahat setelah melahirkan?

Boleh.

Kalau minum ini, ASI akan banyak.

Kata dokter,

biasanya anak bisa tertawa

setelah sebulan.

Anak kita

sudah mulai tertawa kemarin.

Sifatnya sangat baik dan sangat imut.

Mirip denganmu.

Kenapa hari ini tidak tertawa?

Apa kamu lapar?

Ada apa?

Apa kamu lapar?

Ya.

Lihat apa? Balik badan.

Balik badan

Xu Yao sudah memberitahuku

bagaimana kalian bisa saling kenal.

Cukup berjodoh.

Kamu cemburu?

Saat pertama kali bertemu di bandara,

kukira kalian adalah kerabat.

Kamu memang cemburu.

Hari aku mengenalnya

adalah saat kita bertengkar.

Aku menangis di sana.

Kemudian, bukankah ibuku sakit?

Aku meminta bantuannya.

Ayahnya yang mengoperasi ibuku.

Ayahnya adalah dokter yang paling berwenang

dalam industri saat itu.

Sayangnya, dia meninggal lebih awal.

Jika tidak, kalau kondisi ekonomi keluarganya

bisa lebih baik,

juga akan baik untuk penyakit istrinya.

Kalau kamu berkata seperti itu,

pantas saja.

Pantas saja apa?

Pantas saja pertemanan kalian sangat erat.

Bantuan kecil yang diterima saat masa sulit harus dibalas dua kali lipat.

Meskipun selama bertahun-tahun,

kami juga

tidak terlalu berhubungan dekat,

tapi asalkan dia meminjam uang padaku,

aku pasti akan melakukan yang terbaik.

Oh, ya.

Hari ini

ibuku meneleponku.

Dia bilang saat pertama kali bertelepon,

tidak boleh orang tua yang berinisiatif,

jadi menyuruhmu meneleponnya kembali.

Kamu buka saja.

Riwayat panggilan pertama adalah ibuku.

Ibuku ini

sangat keras dan sangat serius,

jauh lebih hebat dari ayahku.

Aku memperingatkanmu.

Dia orang yang keras?

Benar.

Kamu akan tahu setelah meneleponnya.

Halo, Xiaoxiao.

Ibu.

Halo, aku Lu Yanchen.

Sungguh maaf,

sudah begitu lama baru menghubungi Anda.

Maaf.

Aku tidak terbiasa.

Mengagetkanku saja.

Tadi kudengar suaramu

agak kaku.

Kalau kamu tidak terbiasa memanggilku ibu,

panggil aku bibi saja.

Selain Xiaoxiao,

jika ada yang memanggilku seperti itu,

aku belum siap.

Baik.

Bibi.

Ini cukup bagus.

Aku jadi terlihat muda.

Lu,

Sebenarnya saat itu,

pendapatku dan ayahnya Xiaoxiao

tidak sama.

Aku tidak pernah menentang kalian.

Saat itu Xiaoxiao

menunjukkan banyak kertas ujianmu

saat SMA padaku.

Dia memuji pelajaran Bahasa kamu sangat baik

dan karanganmu adalah contoh karangan di kelas.

Dia hanya berharap aku banyak memujimu.

Aku juga membacanya dengan serius.

Tulisanmu sangat bagus.

Aku merasa

watakmu sangat tinggi

dan sangat ambisius.

Kemudian aku tahu

kamu putus dengan Xiaoxiao,

aku merasa sangat disayangkan.

Anda sudah tahu sejak awal?

Bukan begitu.

Aku tahu sedikit lebih awal

daripada ayahnya.

Xiaoxiao memperlihatkan banyak karanganmu

padaku.

Dia selalu memujimu seperti memberikan harta.

Aku juga merasa setiap karangan

ditulis dengan sangat bagus.

Aku sangat suka semuanya.

Halo?

Lu.

Kenapa kamu tidak bicara?

Tiba-tiba mengungkit

kertas ujian saat berusia belasan tahun,

aku tidak tahu harus berkata apa.

Tidak apa-apa, mengobrol santai saja.

Jangan sungkan.

Kamu dan ibuku

mana ada begitu banyak pembicaraan?

Apa yang kalian bicarakan?

Membicarakan kertas ujianku saat SMA.

Entah harus berkata apa,

rasanya aneh.

Aku kira kamu menyimpannya sendiri.

Tidak disangka kamu perlihatkan pada Bibi.

Dia bertanya padaku,

seperti apa pacarku.

Aku merasa malu

memperlihatkan fotomu padanya,

tapi juga ingin dia lebih mengenalmu.

Tapi kalau hanya bicara,

juga tidak meyakinkan.

Apa yang bisa diketahui dari melihat kertas ujian?

Dia menyukai kalimatmu yang itu.

Yang mana?

Kalimat

yang kamu tulis di ujian percobaan ketiga.

Aku juga menggunakannya saat ujian nasional.

Jalan kehidupan gelap dan sulit, jika saling mendorong bisa maju lebih mantap.

Kalimat ini.

Dia bilang hanya satu kalimat ini,

sudah bisa mengetahui pikiranmu.

Kamu datang.

Apa sudah bangun?

Ya, dia sedang membaca data.

Bagaimana makan malammu?

Baik.

Bagaimana dengan putrimu?

Baik-baik saja. Dia tidur setelah minum susu.

Baik.

Keterlaluan.

Di mana putri kita?

Dia tidur.

Perawat mengawasinya.

Kulihat dia tidur nyenyak,

jadi aku datang menjengukmu.

Besok sudah keluar rumah sakit,

tidak perlu khusus datang kemari.

Kita di rumah sakit yang sama.

Kenapa tidak boleh kemari?

Aku merindukanmu.

Berdirilah.

Tidak mau.

Kenapa?

Kalau benar-benar tidak bisa berpisah,

tidur di sini saja.

Tidak juga.

Tidur di sini?

Kalau sungguh seperti itu,

harus menggendong anak kemari.

Kalau perawat menjaga dia semalaman,

aku tidak tenang.

Apa yang kamu khawatirkan?

Perawat dari Departemen Kebidanan

profesional dalam menjaga anak.

Lu Chen.

Kamu sedikit pun

tidak seperti seorang ayah.

Sudah terlalu lama

tidak bersama di satu kamar.

Baiklah.

Katakan sesuatu yang baik.

Tidak pernah puas.

Terhadapmu

tentu saja seperti itu.

Anak baik,

kita harus mengucapkan sampai jumpa.

Sekarang dia masih belum bisa bicara,

tapi aku bisa melihat dia sangat menyukaimu.

Berikan padaku.

Anak baik,

kita akan pulang.

Setelah pulang ke Beijing, kamu berikan nama.

Chuyang.

Chuyang? (*Berarti matahari pagi)

Bagus juga, sama dengan fajar pagi.

Kamu sudah memikirkannya beberapa hari?

Tidak perlu dipikirkan.

Langsung muncul di benak.

Ayo, cepat.

Sekali lagi!

Lagi!

Lebih kuat!

Jangan berhenti, cepat!

Satu tim lagi.

Tim berikutnya.

Semangat!

Semuanya cepat!

Ikuti.

Bagus.

Kapten Lu.

Cepat, lebih cepat.

Akhirnya Qining

mengembalikan kapten kami.

Hanya saja tidak terlalu setia kawan,

kenapa menjadi begini?

Yang penting orangnya kembali.

Kapten Lu.

Sudah pulang?

Coba lihat, apa masih kenal?

Beberapa hari ini tidak bertemu, sudah tumbuh lagi.

Benar.

Kapten Lu.

Selagi terluka kali ini,

seringlah pulang menemani Kakak Ipar dan anak.

Masalah tim

tidak perlu kamu khawatirkan.

Seperti biasa.

Sibuk, sibuk sampai malam.

Aku lelah sampai lupa mencari istri.

Apa kamu mengerti maksud tersembunyi orang ini?

Di kantor istriku

ada banyak gadis baik yang lajang.

Akan kuatur untuk kalian jika ada waktu.

Aku tidak bermaksud begitu.

Untuk apa sungkan dengan Kapten?

- Ada kami. - Benar.

Kapten Lu sudah kembali. Kapten Lu!

Kapten Lu!

Kapten Lu.

Dia terluka.

Kapten Lu.

Semuanya hati-hati.

Tenang.

Akhirnya Qining

mengembalikan kapten kami.

Benar, kami sudah lama menunggu.

Apa bagusnya aku kembali?

Latihan menjadi dua kali lipat.

Kami bersedia.

Kalian bersedia?

Aku tidak bersedia!

Pahlawan kita baru saja kembali.

Prajurit pemberani nomor satu di bawahku

sedang memulihkan diri.

Kalian malah ribut

di sini.

Apakah pantas?

Tapi, dia kembali dengan kehormatan.

Harus lebih ramai.

Berikan sedikit kehangatan keluarga.

Kalau ini,

aku juga mendukung.

Selamat datang, Kapten Lu!

[Dua setengah tahun kemudian]

Kamu sudah datang.

Masuklah.

Hari ini cocok untuk bernostalgia.

Ayo.

Mao.

Tangan.

Hari ini kembali ke masa muda.

Ayo.

Ayo main sekali.

Apa tempat biliar suamimu

masih buka?

Masih.

Dia menganggapnya sebagai kenangan.

Sebenarnya tidak menghasilkan uang.

Dia juga bersikeras tidak mengganti perabot.

Terserah dia saja.

Cukup beruntung.

Beberapa hari ini adalah hari baikmu.

Aku tanya padamu.

Saat menikah,

pernahkah kamu memikirkan Hai Dong?

Bukan, semua baik-baik saja.

Untuk apa menanyakan ini?

Karena aku

hanya punya Lu Chen.

Tidak ada pengalaman sepertimu.

Aku penasaran.

Pernah.

Sebelum berjalan di karpet merah, aku masih memikirkannya.

Tapi begitu pintu itu terbuka

dan aku melihat Qin Feng

berdiri di ujung karpet merah,

dalam sekejap hanya ada dia di dunia ini.

Besok kamu bisa merasakannya.

Hari yang paling tidak terlupakan dalam hidupmu.

Makan satu

permen pernikahan Kakak Chen dan cinta pertamamu.

Tidak ada hal seperti itu.

Kak, apa yang kamu bicarakan?

Kakak Chen, kakakku suka bercanda.

Kamu jangan mempermasalahkannya.

Jangan keberatan.

Keberatan dengan apa?

Apa terjadi sesuatu?

Makanlah.

Kakak Chen tidak perhitungan denganmu.

Itu masalah saat belasan tahun.

Oh, ya.

Tamu-tamu di pernikahanmu besok

adalah rekan kerja dan ketuamu.

Sekarang aku agak gugup.

Kenapa gugup?

Besok adalah pernikahan.

Hanya saja tiba-tiba

bertemu sekelompok orang yang melindungi negara dan rakyat,

jadi merasa kagum.

Apa tidak bisa?

Aku juga tidak melihat

kamu berbicara padaku dengan kagum.

Kita berdua berbeda.

Kita sudah saling kenal sejak kecil.

Mereka hampir sama denganku.

Istrimu sudah menjadi milikmu sejak awal.

Kenapa kamu tidak tenang?

Sulit dijelaskan.

Aku sedikit ingin bertemu dengannya.

Tidak boleh.

Tidak boleh bertemu sehari sebelum pernikahan.

Meng Xiaoshan yang memberitahuku.

Kamu mendengarkan dia?

Tentu saja aku harus mendengarkannya.

Sebelumnya saat tidak mendengarkannya,

aku pernah rugi besar.

Sekarang dengan susah payah

berpesan padaku.

Tidak bisa, tidak boleh bertemu.

Aku datang melihat kalian.

Kak Qin sudah datang.

Istrimu sudah sampai di rumahku.

Sudah sampai?

Hari ini tidak bisa bertemu.

Apa?

Aku juga tidak merindukan dia.

Apa lagi yang ingin kamu lakukan hari ini?

Aku temani kamu.

Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan

di tepi sungai pelindung kota?

Menghirup udara segar.

Baik.

Mau ke mana?

Berjalan-jalan di tepi sungai pelindung kota.

Menghirup udara segar.

Pengantin pria tidak bisa duduk diam.

Semuanya temani saja. Ayo.

Ayo.

Kebetulan sekali.

Qin Feng.

Kenapa kamu mengikuti kami?

Kulihat kamu cantik.

Sudah umur berapa, masih tidak serius.

Aku bertaruh denganmu.

Istriku pasti sedang tersenyum.

Sejak kecil istrimu tersenyum saat melihatmu.

Kamu pamer apa?

Pamer kalau kamu punya istri?

Pria memang harus memakai seragam.

Itu bisa melatih aura.

Nona.

Ini adalah suamimu.

Kalau mau memuji,

pujilah di rumah setelah pernikahan selesai.

Pulanglah, kami pergi dulu.

Ayo pergi.

Semua disalin dengan tangan oleh Lu Chen sendiri?

Fajar pagi menyinari jalan pulang.

[Dengan hormat mengundang, fajar pagi menyinari jalan pulang]

Tulisan ini mirip tulisanmu.

Aku tambahkan satu demi satu.

Kutulis kemarin.

Melayani tanah air adalah

keinginan yang paling tulus di hatiku.

Suamiku sangat menyukai kalimatmu ini.

Dia bahkan mengataiku dengan ini.

Katanya, kamu yang mengerti Lu Chen,

aku tidak mengerti dia.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.