All language subtitles for ROAD HOME episode 24 [iQIYI subindo]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]

[Road Home]

[Episode 24]

Telepon kembali saat senggang, Lu Chen.

Tuan, mi Anda.

Lu Chen.

Pilek?

Sedikit.

Kenapa kamu

baru makan siang sekarang?

Ada sedikit urusan pekerjaan,

jadi tertunda.

Kalau begitu kamu makan dulu.

Sehabis makan baru bicara.

Kamu makan mi apa?

Mi Lanzhou.

Makanlah dengan suara keras.

Aku tidak bisa melihatnya,

setidaknya bisa mendengarnya.

Bos.

Sudah lama tidak bertemu.

Kalian berdua baru pulang bulan madu?

Benar, pergi bermain ke Chengdu.

Waktu itu aku menitip setengah kardus

minuman di tempatmu.

Berikan padaku.

Baik.

Tunggu.

Aku ambilkan untukmu.

Jika sakit, harus pergi ke dokter.

Aku tidak boleh minum begitu banyak obat,

juga tidak mau sering-sering ke rumah sakit.

Jika tertular penyakit lain,

itu tidak baik.

Tenang saja.

Aku tinggal minum lebih banyak air panas.

Lu Chen.

Baju apa yang kamu pakai?

Kemeja warna cokelat.

Celana kargo hitam.

Apakah kemejamu ada motifnya?

Tidak.

Sekarang rambutmu sudah seberapa panjang?

Sama panjang dengan saat terakhir kali

bertemu denganmu.

Apa kamu sudah bercukur?

Apakah tampan?

Lumayan.

Apa maksudnya lumayan?

Aku belum pernah melihat yang lebih tampan darimu.

Apakah selain wajah yang

masih enak dipandang mata ini,

aku tidak punya kelebihan lain?

Orang yang tampan,

memang punya keuntungan.

Pertama kali bertemu,

aku memberimu nilai 100.

Kemudian semakin bergaul semakin menambah nilai.

Semuanya bagus.

Jadi, tentu saja

dua kali lipat mencintaimu.

Jika bayi dilahirkan

serupawan kamu,

berarti kontribusimu sangat besar.

Mencintaimu tiga kali lipat

juga tidak berlebihan.

Kuusahakan.

Sudah diputuskan kapan kamu pulang?

Beberapa hari ini.

Minggu ini.

Pasti bisa pulang.

Bersiap-siaplah.

Minggu ini?

Benar.

Semendadak itu?

Kenapa?

Tidak boleh mengatakannya.

Baik.

Baik.

Aku akan bersiap-siap.

Begitu pesawatmu mendarat,

kamu cari aku jika sudah leluasa.

Sudah, ya.

Masalah di lokasi konstruksi,

aku sudah mendengarnya.

Orang dari perusahaan bahan peledak sipil

akan membereskannya.

Tugas kerja sama tim kepolisian kita

sudah berakhir.

Pagi ini pemimpinmu menelepon dan bertanya padaku,

katanya batas waktu sebulan

juga sudah habis.

Kapan aku akan memulangkanmu?

Awalnya aku berpikir,

ingin mengadakan pesta perpisahan untukmu.

Tapi melihat situasi sekarang.

Aku datang juga demi hal ini.

Pak Shen tidak punya anak laki-laki.

Hubungannya denganku juga lumayan baik.

Kali ini,

aku ingin pulang untuk mengantarnya.

Anggap sebagai mengantar kepergian pahlawan.

Pesta perpisahan dibatalkan saja.

Pasti ada kesempatan untuk bertemu lagi.

Benar.

Pasti ada kesempatan.

Kenapa diusap?

Menangis tidak memalukan.

Tidak apa-apa.

Aku hanya...

teringat kapten lama.

Semuanya orang baik.

Kenapa pada akhirnya...

Tidak ada yang kekal di dunia ini.

Aku sudah melapor

untuk mengantar Pak Shen kembali ke Beijing.

Harus diantar.

Harus diantar.

Beliau sudah tua,

tidak ada seorang pun yang bisa mengantarnya.

Seumur hidup demi negara,

patut dihormati.

Bukankah kamu ingin kembali ke tim?

Ayo pulang bersama.

Hari ini?

Aku lihat hari ini kamu juga tidak bisa tidur.

Aku naik kereta besok malam

untuk kembali ke tim

melihat saudara sekalian.

[Kepolisian Kota Qining] [Detasemen SWAT]

[Kepolisian Kota Qining] [Markas Pelatihan Polisi]

Cepat. Ikuti.

Ikuti.

Kapten Lu.

Kapten Lu datang.

Kapten Lu datang.

Kapten Lu.

Latihan yang benar.

Perhatikan tata tertib pelatihan.

Tidak boleh bermalas-malasan.

Aku pulang untuk melihat-lihat.

Mampir sampai makan malam.

Jika ingin mengatakan sesuatu,

tidak perlu terburu-buru.

Latihan yang benar!

Mengerti!

Berbaris!

Kapten Lu.

Kamu pulang lebih awal dari yang kuduga.

Kampung halaman kedua,

pasti akan kembali.

Sepertinya makanannya lumayan,

kamu menggemuk.

Tidak hanya menggemuk,

mengikuti Kapten Lu selama sebulan,

bertambah tiga sampai empat tahun pengalaman.

Oke.

Ditunggu di ujian akhir tahun.

Kenapa tiba-tiba kembali?

Tidak ada tanda-tanda sedikit pun.

Baik, aku tidak bertanya lagi.

Malam ini kantin, masakkan yang enak untukmu.

Sinar matahari bak emas yang menyinari sawah.

Gunung tinggi dan sungai kecil.

Biji gandum di sawah,

karena ada sinar matahari...

Sudahlah, jangan diamati lagi.

Aku hanya senang, oke?

Aku tahu.

Aku juga senang.

Dua butir telur?

Satu orang dua butir.

Baik.

Bagaimana kalau

aku buatkan mi tomat kuah kental?

Sebenarnya,

kita makan mi kuah biasa saja sudah cukup.

Kamu tidak suka masakanku?

Paman Lu bilang,

jadi orang harus jujur.

Baiklah.

Aku akui

mi tomat kuah kental yang kumasak

tidak enak, oke?

Nanti aku mengantarmu

ke rumah Bibi Duan Rou naik mobil.

Boleh juga kamu.

Benar-benar sudah mendaftarkan pernikahan?

Apakah Gui Yuanshan tahu?

Aku tidak memberitahunya.

Supaya dia tidak mencari masalah dengan Lu Chen.

Bagaimana dengan orang tua Lu Chen?

Ibunya tahu,

ayahnya masih belum tahu.

Kondisi keluarga mereka lebih rumit.

Tapi berdasarkan

hubungan kalian sekarang,

orang tua kedua belah pihak tidak bertemu,

agak tidak sopan.

Lagi pula, saat ini dia tidak berada di Beijing.

Halo.

Halo.

Halo, aku kakaknya Lu Chen.

Waktu kerjaku lebih bebas.

Lain kali jika ada masalah,

kamu bisa mencariku kapan saja.

Masalahnya di rumahku tidak ada orang.

Suamiku pergi dinas,

aku harus menjaga dua anak.

Ayahku

lagi-lagi mabuk dan tidur di rumah.

Aku ingin mencari Hai Dong,

Hai Dong juga tidak ada.

Kita ini keluarga.

Lu Chen pernah bilang,

biasanya kamu sibuk bekerja.

Tapi sesibuk apa pun,

keluarga lebih penting.

Tenang saja.

Cepat temani anakmu.

Bisakah kamu mengurusnya sendiri?

Bukankah ibuku juga ikut datang?

Jika aku memang tidak bisa mengurusnya,

aku juga tidak akan sungkan padamu.

Baik.

Kalau begitu, aku tinggalkan nomorku untukmu.

Bukankah tadi

kamu yang meneleponku?

Sudah kusimpan.

Lihat, otakku ini

jadi kacau.

Kalau begitu, aku pergi dulu.

Pergilah.

Terima kasih.

Sama-sama.

Mari.

Wanita harus makan lebih banyak buah.

Nanti

aku akan membelikanmu beberapa lagi

dan menyuruh Xiaoxiao cuci bersih.

Jika senggang, makanlah lebih banyak.

Biar awet muda.

Sekarang buah-buahan semakin mahal,

tidak rela membelinya.

Suruh Xiaoxiao belikan untukmu.

Setiap minggu setelah dipesan,

minta kurir antarkan untukmu.

Tidak.

Itu tidak baik.

Tidak apa-apa.

Kelak kita adalah sekeluarga.

Dia membelikanmu barang,

itu juga sudah seharusnya.

Anak-anak punya kemampuan,

sia-sia jika kita tidak makan.

Bibi.

Itu...

Anda ingin makan apa?

Aku pesankan untuk Anda.

Rumah sakit sedia makanan.

Rumah sakit punya murah.

Jangan, jangan asal-asalan.

Pesan, pesan makanan kesukaanmu.

Sini, bawa kemari.

Coba kamu lihat.

Di rumah,

anak-anak sering memesan.

Aku, aku tidak pernah pesan.

Makan apa, ya?

Anda suka

masakan seperti apa?

Yang pedas.

Aku suka makanan pedas.

Ayahnya tidak suka makanan pedas.

Jadi di rumah,

tidak bisa makan yang pedas.

Dia tidak suka,

lalu kamu tidak makan?

Kenapa kamu menyusahkan diri sendiri

sampai seperti ini?

Pernikahan ini tidak layak.

Dia tidak bisa menoleransi kamu,

hanya kamu yang harus menoleransi dia?

Kamu ini mencari suami

atau mencari anak?

Itu...

Sudah, ini saja.

Aku...

Satu lauk, satu nasi.

Empat lauk satu sup.

Tidak.

Kita bertiga,

lima lauk.

Baik.

Dalam perjalanan,

aku sudah bertanya pada Gui Xiao.

Sebenarnya kita berdua

sebaya.

Kamu kelihatannya

jauh lebih muda.

Aku hidup dengan santai.

Maksudku,

pikiranku lebih santai.

Sebenarnya,

kamu bisa menganggapku sebagai teman.

Jika ada waktu,

telepon dan mengobrol.

Perlahan-lahan,

kita akan menjadi akrab.

Aku lihat sikap Xiaoxiao dan Lu Chen,

mereka pasti tidak akan berubah.

Benar.

Lu Chen kami memang keras kepala sejak kecil.

Menyukai sesuatu tidak pernah berubah.

Masalah pertunangan waktu itu,

kamu...

Itu sudah berlalu.

Bibi, aku sudah pesan.

Sebentar lagi dia akan mengantarkannya kemari.

Tenang saja.

Baik.

Cari perawat jika ada urusan.

Besok kamu masih harus bekerja.

Malam luangkan waktu untuk tidur.

Aku tahu.

Nanti malam kakaknya datang.

Aku tidak perlu bermalam menjaganya.

Menjadi ibu mertua memang lebih enak.

Aku juga belum pernah menikmati

penjagaanmu.

Hus, kamu ingin sakit?

Aku hanya iri.

Kalau kamu iri,

pindah kembali ke sini.

Kembali ke Beijing.

Aku punya kamar untukmu.

Tidak mau.

Kamu sudah terbiasa mandiri.

Aku juga sudah terbiasa mandiri.

Aku malah takut kamu mencampuri

kehidupan pribadiku.

Baiklah.

Mobilnya sudah tiba, kamu pulang dulu.

Sungguh tidak perlu kutemani?

Tidak perlu, aku bisa sendiri.

Baik.

Sampai jumpa.

Nak.

Mari kita mengobrol.

Mari.

Duduk di sini.

Bibi.

Dokter menyuruhmu banyak istirahat.

Bagaimana kalau Anda tidur sebentar?

Istirahatkan pikiran.

Aku sudah berbaring seharian, tidak mengantuk.

Saat Lu Chen lulus SMA,

selalu ada seorang gadis

yang datang ke bengkel untuk mencarinya.

Apakah itu kamu?

Iya.

Benar-benar,

sudah bertahun-tahun berlalu.

Melihat

cara berpakaianmu dan ibumu,

keluarga kalian cukup berada, 'kan?

Lumayan.

Apakah hubungan orang tuamu baik-baik saja?

Mereka sudah bercerai

saat aku kuliah.

Apa tidak rujuk?

Tidak.

Ibuku sangat keras kepala.

Sejak dia memutuskan untuk bercerai,

setelah itu dia tidak pernah berubah pikiran.

Meskipun ayahku yang bersalah,

tapi saat pindah, dia sangat tenang.

Dia bercerita dari awal sampai akhir,

dilema yang muncul saat memutuskan

untuk bercerai.

Pada akhirnya dia putus asa,

lalu bercerai.

Termasuk

sebuah penyelesaian

terhadap hubungan ini.

Kemudian dia memberitahuku,

aku merasa dia melakukannya dengan baik.

Lalu dia hidup sendiri,

apakah tidak kesepian?

Banyak orang yang seumur hidup tidak menikah,

juga tidak kesepian.

Ada apa?

Ada hal yang menyedihkan?

Ceritakan.

Sedang apa?

Sedang apa?

Halo.

Waktu pulang sudah ditetapkan.

Lusa pagi sudah tiba.

Kamu bersiap-siaplah.

Baik.

Kamu ingin makan apa? Aku pergi beli sayur.

Beli saja apa yang

ingin kamu makan.

Kebetulan kamu kembali

saat mobilku rusak.

Ketiban Lu Yanchen.

Aku seorang

kapten Tim SWAT,

selalu diperlakukan seperti seorang

bocah berusia belasan tahun olehmu.

Hanya bisa memperbaiki mobil?

Kalau begitu...

akhir-akhir ini aku ada sebuah proyek

yang perlu penerjemah bahasa Rusia.

Sepulang nanti bantu aku lihat?

Kamu kirim sekarang juga boleh.

Nanti malam aku bisa melihatnya di kereta,

lebih cepat.

Kamu tidak tidur?

Waktu untuk tidur

masih cukup.

Tidak bisa.

Aku cari penerjemah saja.

Perlihatkan padaku.

Aku juga ingin belajar.

Melihat hal-hal yang belum pernah kutemui.

Siswa Lu Chen ada niat untuk maju.

Siswi Gui Xiao.

Jaga sikapmu saat berbicara dengan senior.

Aku sudahi dulu, ya.

Aku ada urusan.

Itu...

Jangan mengkhawatirkan rumah.

Kakakmu sudah meneleponku,

katanya semuanya baik-baik saja.

Tutup dulu, sampai jumpa.

Setiap kali mendengarmu bertelepon dengan kakak ipar,

aku selalu teringat cinta pertamaku.

Masih tidak bisa melupakan cinta pertama?

Bukan.

Hanya saja rasanya itu,

sederhana dan polos.

Dia memang seperti itu.

Seperti anak kecil.

Selalu merasa diri sendiri sangat dewasa.

Tapi di beberapa sisi,

sangat polos.

Kamu mampir sampai malam,

apa yang akan kamu lakukan sore ini?

Lapangan tembak?

Boleh.

Sekalian saja atur latihan menembak.

Panggil mereka semua, latihan bersama.

Semua orang berkumpul di lapangan tembak.

Ganti!

Maju!

Ganti!

Untuk apa membawa anjing ke lapangan tembak?

Mereka tidak pernah melihat Kapten Lu berlatih menembak.

Menambah pengalaman.

Baiklah.

Ganti!

Ganti!

Kalian

tidak pernah melihat mantan kapten ini.

Hari ini lihat baik-baik.

Dulu dia

adalah legenda lapangan tembak kita.

Rasa kagumnya terhadapmu

sudah mencapai

tingkat tertinggi.

Sungguh membuat orang iri.

Tetap saja dia orangmu.

Tentu saja.

Betapa kuatnya mentalku.

Benar.

Kamu sudah menjadi kapten tim.

Bagaimana?

Tanding satu babak.

Menembak apa?

Mulai dari yang sederhana dulu.

Katakan.

Koin.

Baik.

Kena!

Bagus.

Masih belum menemukan akurasi?

Aku pemanasan dulu.

Kalau begitu pelan-pelan saja.

Ganti tembakan kedua.

Baik.

Kena!

Bagus.

Bagus.

Bagus.

Kapten,

mesin Anda

belum dipanaskan.

Mantan kapten

sudah menempuh 5 km.

Omong kosong apa yang kamu katakan?

Tahu tidak,

orang yang menyusul kemudian justru menang?

Aku lebih suka yang maju duluan.

Sekarang kamu memang puas meledekku,

tidak tahu

siapa atasan langsung kalian?

Kapten Qin.

Kebebasan berbicara

adalah aturan lama tim kita.

Kenapa saat menyuruhmu bicara,

kamu tidak bicara.

Saat tidak menyuruhmu bicara,

kamu berbicara begitu banyak?

Pergi sana.

Kena!

Bagus!

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Tembakan tadi

karena terganggu oleh mereka.

Diterima.

Tiga tembakan tepat sasaran!

Bagus!

Bertindak saat orang sedang kacau, ya?

Salahkan hatimu yang kurang tenang.

Masih mau bertanding atau tidak?

Tentu saja.

Ada awal ada akhir.

Kali ini, siapa pun jangan menggangguku.

Setidaknya 3:2.

Kapten Lu.

Apakah kamu dan Kapten Qin

ada masalah?

Dari mana kamu melihatnya?

Tidak ada pemberitahuan,

langsung kembali ke tim.

Ini bukan sifatmu.

Selain itu, aku dengar

tugas Kapten Lu kali ini sangat berat.

Bahkan sengaja datang meminjam Gao Hai.

Waktu pasti sangat terbatas,

tidak ada waktu untuk menembak di sini.

Ini juga bukan sifat kalian.

Kemampuan analisismu bagus.

Lanjutkan.

Selain itu,

kamu dan Kapten Qin

jarang sekali tiba-tiba menambah latihan.

Karena dulu kamu bilang,

kombinasi kerja dan istirahat sangat penting.

Menjadi polisi yang baik,

juga harus menjalani hidup dengan baik.

Kesimpulannya,

aku merasa suasana hatimu sedang buruk.

Kalau Kapten Qin,

dia lebih tidak bisa menyembunyikan sesuatu dibandingmu.

Dia tidak pernah

begitu gelisah saat menembak.

Benar.

Tapi aku tidak bisa memberitahumu

apa alasannya.

Aku mengerti.

Aku akan menyiapkan pemanggang barbeku

untuk kalian.

Malam ini,

kita tetap makan di tempat biasa.

Bocah tengik.

Semuanya santai saja.

Lakukan apa yang harus dilakukan.

Aku sudah tahu semuanya.

Kedatangan kali ini,

anggap saja untuk mengunjungi keluarga.

Semua orang di sini

adalah keluargamu.

Lupakan dulu ganjalan hati.

Sebenarnya saat kembali sudah sangat santai.

Hanya saja setiap kali terjadi hal seperti ini,

aku selalu teringat kapten lama.

Kapten Qin.

Tembakan kali ini harus kena, ya.

Jangan berisik.

Biarkan aku tenang sebentar.

Kapten Qin, kena!

Bagus.

Memuaskan.

Zhong.

Lebih cepat.

Mewah sekali.

Makan sekali, kesempatan juga berkurang sekali.

Kelak kamu membiarkanku

merindukan masakanmu setiap hari.

Kelak setiap liburan,

aku pulang sekali.

Sudahlah.

Meskipun kamu setuju,

pacarmu juga tidak akan setuju.

Liburan hanya beberapa hari.

Lebih baik kamu di rumah

menemani keluargamu saja.

Sekarang sudah menjadi istriku.

Secepat itu?

Sudah urus akta nikah,

tidak ada waktu mengadakan perjamuan.

Mungkin harus menunggu sampai tahun depan.

Aku ada beberapa misi,

mungkin baru selesai sebelum Tahun Baru Imlek.

Merayakan tahun baru dulu.

Setelah dia melahirkan,

menjalani masa nifas,

mungkin sudah dua tahun lagi.

Menikah di musim dingin terlalu dingin.

Dia suka tampil cantik,

tidak tega membiarkannya

memakai gaun pengantin

di cuaca yang begitu dingin.

Tung... tunggu dulu.

Apa katamu barusan?

Kalian sudah punya anak?

Ini adalah kebahagiaan ganda.

Memang kebahagiaan ganda.

Tapi pada hari seperti ini,

Anda jangan beri tahu semua orang.

Aku tidak ingin merayakannya hari ini.

Mengerti.

Setiap orang ada saatnya lemah.

Zhong.

Kamu bisa atau tidak?

Lihatlah kamu begitu penakut.

- Biar aku saja. - Bisa.

Tidak perlu.

Anda duduk saja.

Aku saja.

Bagaimana bisa membiarkan Anda melakukannya?

Kami yang sekelompok junior.

Benar.

Benar.

Menganggap kami sebagai orang yang cuma tahu makan.

Aku beri tahu kalian,

hari ini kalian makan dengan tenang saja.

Keahlian memasakku

tidak lebih buruk dari Lu.

Ayo, minggir.

Anda jangan...

Pergi.

Begitu melihat Kapten Lu, teringat banyak hal.

Hal apa?

Malam ini hanya boleh mengatakan yang baik.

Tidak boleh mengatakan yang tidak baik.

Kecilkan suara kalian.

Zhong sudah tidur.

Kapten Lu.

Kelihatan sekali

kamu tidak pernah tidur sekamar dengannya.

Saat itu kami

main kartu di kamar,

menonton film,

dia tetap tidur nyenyak.

Suara sekecil ini sama sekali tidak bisa membangunkannya.

Ini bukanlah sensitivas yang seharusnya

dimiliki seorang Polisi SWAT.

Akan tetapi,

begitu nada dering ponsel berbunyi,

dia langsung bangun.

Tidak menunda hal penting.

Aku bisa menjadi saksi.

Pernah melihatnya.

Dia lebih lambat bergabung,

bukan aku sendiri yang membimbingnya.

Dalam hal ini,

aku benar-benar tidak memahaminya.

Tapi soal ini,

cara kerjaku sebelumnya memang tidak memenuhi syarat.

Kapten Lu,

kamu baik dalam segala hal,

hanya satu yang tidak bagus.

Suka introspeksi diri.

Menanggung semuanya sendiri.

Aku setuju dengan hal ini.

Orang zaman dulu mengintrospeksi diri tiga kali sehari.

Kamu bisa mengintrospeksi diri 17 sampai 18 kali sehari.

Baiklah.

Aku ubah.

Aku katakan padamu,

benar-benar harus diubah.

Bebaskan diri sendiri.

Rileks saja, Kapten Lu.

Akan tetapi,

mentalitasnya memang

merupakan kelemahannya.

Harus menghadapi kenyataan.

Bicara soal masa lalu,

aku akan menceritakan

kisah cinta Kapten Qin padamu.

Bukankah hanya mengatakan yang baik?

Tidak mengatakan yang tidak baik.

Iya, yang baik.

Cinta pertamamu.

Cinta pertamaku?

Siapa?

Waktu itu kamu belum datang.

Dia baru tiba di sini.

Beberapa rekan wanita dikirim ke tim.

Dia diam-diam menyukai

salah satu di antaranya.

Omong kosong!

Tidak mengakuinya?

Tidak ada hal seperti itu,

untuk apa aku mengakuinya?

Bukan.

Kapten Qin.

Kapten Lu

dari tadi berbicara denganku.

Kamu jangan selalu menyela.

Di tim kita,

hanya kamu yang paling banyak sejarah cinta.

Jangan berpura-pura polos.

Aku tidak berpura-pura.

Dia bicara omong kosong.

Tidak ada hal seperti itu.

Rekan kerja wanita itu

memiliki kemampuan yang bagus,

cantik,

dan ambisius.

Beberapa orang di tim

mengejar dia.

Awalnya aku tidak menyadari

Kapten Qin memiliki perasaan seperti itu.

Sampai suatu kali,

kami berdua ada di kantor.

Rekan wanita itu datang

membicarakan masalah pekerjaan denganku.

Bukan.

Kapan itu terjadi?

Kenapa aku tidak ingat?

La... lalu?

Tidak ada lagi.

Sesudah berbicara, dia langsung pergi.

Lalu bagaimana menilai

Kapten Qin diam-diam menyukainya?

Lu Yanchen, kamu jangan bicara sembarangan.

Setelah dia pergi,

aku pergi ke belakang Kapten Qin,

ingin melihat

data di dalam komputernya.

Aku pun menyadari,

dia memakai mantau,

dengan sangat tenang

dan wajah tanpa ekspresi

sebagai mouse komputer.

Lu Yanchen.

Omong kosong apa yang kamu katakan?

Ini kentara sekali.

Bukan, hari itu

kondisiku tidak baik.

Sepertinya salah ambil.

Kapten Qin.

Diam-diam menyukai orang tidak memalukan.

Kamu ini Polisi SWAT.

Tidak bisa membedakan mouse dan mantau?

Bukan.

Malam sebelumnya aku shift malam,

lalu kondisiku tidak baik.

Sepertinya Kapten Qin

menginginkan lebih banyak bukti dan kasus.

Ya, 'kan?

Baiklah.

Me... memang pernah suka sesaat.

Sesaat?

Cukup lama, puas?

Ceritakan beberapa lagi.

Kamu pura-pura tidur?

Bukan, Kapten Qin.

Aku tidak sengaja.

Kapten Lu jarang-jarang pulang.

Aku pikir kalian pasti akan mengobrol.

Aku tidak rela tidur.

Bukan, Wang, semua salahmu.

Malah bilang aku tidur sangat nyenyak.

Bagaimana aku bisa membuka mata?

Sudahlah.

Aku ceritakan satu lagi kepada kalian.

Baik.

Lu Yanchen.

Kamu...

Teringat saat kita

baru pindah ke sini,

membereskan lantai ini

selama beberapa hari.

Benar.

Kita yang mengecat dinding ini.

Zhang.

Benar-benar harus berterima kasih padamu.

Membantu menyelesaikan

masalah besar di tim kami.

Gedung milik sendiri kosong,

daripada disewakan kepada orang luar,

lebih baik disewakan kepada teman sendiri.

Lihatlah.

Begitu dikerjakan oleh mereka,

benar-benar jadi bagus.

Tinggal bersama memang ramai.

Hanya saja,

di sini semuanya bagus,

tapi tidak ada

kamar mandi yang terpisah.

Asrama pabrik pada zaman dulu

semuanya menggunakan kamar mandi umum.

Biaya sewa murah,

dekat dengan kepolisian.

Dua hal ini sudah memuaskan.

Tidak apa-apa jika berbagi kamar mandi.

Benar.

Di dalam cukup besar.

Selain itu,

yang menyewa rumah kita ini

semuanya pria.

Jadi,

langsung saja ubah menjadi toilet pria.

Ruang lebih besar, cukup dipakai.

Juga menghemat uang.

Markas kita

jauh dari kota.

Kalau tinggal di sini,

semuanya bisa saling menjaga.

Bagus juga.

Yang menikah,

tentu akan pergi membeli rumah di kota.

Di sini,

lebih mirip apartemen para lajang kita.

Saat senggang, masih bisa

makan hotpot bersama.

Di sekitar sini juga ada taman,

tidak masalah untuk bangun pagi berolahraga

dan membawa anjing jalan-jalan.

Kamu bahkan sudah memikirkan masa pensiun?

Yang jelas aku sudah memikirkannya.

Intensitas kerja kita ini

sama sekali tidak bisa menemukan pacar.

Lagi pula, tinggal

di apartemen para lajang yang

seperti asrama pria ini,

ditakdirkan untuk saling menemani hingga tua.

Aku punya anak yang menemaniku.

Siapa yang mau menemanimu?

Kapten Lu.

Aku juga tidak akan menemanimu.

Kapten Lu, jangan menyentuh dinding.

Baru selesai dicat.

Tidak perlu kamu ingatkan.

Memangnya aku tidak tahu habis dicat?

Saat itu yang tinggal di sini

semuanya lajang.

Sekarang,

hanya kamu sendiri yang masih bujangan.

Tolong fokus pada mengenang masa lalu,

mantan kapten yang sudah dipindahkan.

Apakah kamu merasa bangga?

Tentu saja.

Kenapa?

Aku belum latihan pagi

dan mendengar kamu sudah datang.

Aku buru-buru kemari.

Aku pergi dulu.

Sampai jumpa.

Sepagi ini?

Tidak bercanda denganmu.

Dia tidak boleh tinggal semenit pun.

Kapten Lu.

Sampai jumpa.

Lapor, Komisaris.

Lu Yanchen dari Tim Tiga

Detasemen SWAT Kota Tianwen,

melapor kepada Anda.

Lu Yanchen.

Kamu sudah bekerja keras sepanjang jalan.

Itu tugasku.

Sebelumnya di stasiun,

Pak Shen sudah dijemput oleh mobil.

Baik.

Kepala Detasemen kalian

sudah pergi mengunjungi keluarga korban.

Kalau begitu, upacara peringatan...

Dijadwalkan kapan?

Sabtu.

Kalau begitu, aku keluar dulu.

Aku pergi bersamamu saja.

Paman.

Semalam dengar teman-teman lama ini bilang,

hari ini ada seorang pahlawan

yang akan dikirim kembali.

Yang mengantar pahlawan kembali

adalah Kapten Lu.

Dengar-dengar Kapten Lu

baru saja menikah.

Tidak perlu memikirkan alasan lagi.

Aku sudah tahu.

Sejak kapan Paman tahu?

Sudah tahu.

Gui Xiao yang memberi tahu Anda?

Sebelumnya dipindahkan ke Gonghai.

Awalnya berpikir

setelah misi selesai,

akan pergi ke rumah bersama Gui Xiao

untuk mengunjungi Anda.

Karena sudah menikah,

sudah punya keluarga,

kelak saat melaksanakan tugas,

harus hati-hati.

Baik.

Kamu mau ke mana?

Aku suruh sopir antarkan kamu.

Pulang ke rumah.

Pergilah.

Sudah pulang?

Naik kereta sepanjang jalan,

tubuhku kotor.

Aku pergi mandi dulu.

Tidak apa-apa, aku tidak keberatan.

Aku merasa jijik.

Kamu merasa jijik padaku?

Aku merasa jijik pada diriku sendiri.

Sudahlah.

Aku pergi mandi dulu.

Apakah sayurnya sudah dibeli?

Sudah.

Aku beli semua yang kusuka.

Untuk apa mengikutiku?

Memanfaatkan seluruh waktu untuk bersamamu.

Sekarang kamu melihatku

sudah tidak menyapa lagi?

Salah paham.

Aku hanya memberikan waktumu

untuk Bibi Gui Xiao.

Kukatakan sesuatu padamu.

Apa?

Dua hari yang lalu, ibumu sakit.

Tapi sudah keluar dari rumah sakit.

Aku menjaganya sepanjang waktu.

Tenang saja.

Siapa yang mencarimu?

Kakakmu yang meneleponku.

Kakakku?

Aku pernah memberinya nomor teleponmu.

Sebenarnya aku ingin

memintanya mengobrol denganmu saat luang

dan menjagamu.

Kalau begitu, kamu berpikir terlalu banyak.

Selama bertahun-tahun,

aku selalu menjaga diriku sendiri.

Sangat terampil.

Kalau begitu, nanti kamu yang masak.

Tidak bisa.

Soal ini aku benar-benar tidak bisa.

Hari-hari tanpamu,

aku selalu pesan makanan di luar.

Kamu pulang berapa hari?

Tiga hari.

Hari ini libur satu hari.

Besok upacara peringatan Pak Shen.

Lusa pulang.

Apakah kamu ingin pulang sekali

untuk melihat ibumu?

Memang seharusnya pulang.

Bersama?

Tidak perlu.

Waktu itu kami mengobrol dengan baik.

Aku tidak ingin kamu bertemu dengan ayahku.

Sama seperti alasanmu sebelumnya.

Kenapa kamu

tidak ingin aku menemanimu pulang?

Bagaimanapun juga tetap harus menyapa.

Kelak baru bicarakan.

Kita sudah menikah.

Masalah kita berdua

tidak ada hubungannya dengan mereka.

Masalah keluarga kami,

aku urus sendiri.

Jangan melirikku lagi.

Aku akan memasak untukmu.

Kemampuanku terbatas.

Yang aku beli adalah

sayuran dan daging yang tidak perlu teknik memotong.

Kamu jarang-jarang kembali,

aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan.

Menghemat waktu.

Sudah tidak segar.

Tidak terlalu, setidaknya bisa dimakan.

Sepertinya menyuruhmu membeli sayur

juga tidak bisa diandalkan.

Kerja gratis.

Kamu jangan pilih-pilih lagi.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.