All language subtitles for ROAD HOME episode 22 [iQIYI subindo]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]

[Road Home]

[Episode 22]

Biasanya kamu

dan Lu Yanchen

banyak bicara?

Kami sudah kenal beberapa tahun.

Kalau pria bersama,

lebih banyak bicara.

Kalau dengan wanita,

tidak tahu harus bicara apa.

Itu, apa kamu lelah?

Tidak.

Bawa aku berkeliling.

Boleh.

Kamu mau ke mana? Aku akan mengantarmu.

Apa Qining dekat?

Dekat, hanya setengah jam.

Baiklah.

Ke depan lagi akan memasuki Qining.

Ketika aku pertama kali datang,

saat baru melapor,

berdiri sangat lama di padang rumput untuk melihat pemandangan.

Memang pemandangan

yang tidak bisa dilihat di Beijing.

Benar.

Setelah tiba di tempat yang lapang,

kubawa kamu untuk melihat-lihat.

Mal dan lainnya,

kamu datang ke sini,

sepertinya tidak terlalu ingin melihatnya.

Aku tidak jalan-jalan ke mal.

Aku hanya mau melihat pemandangan tanah air ini.

Baiklah, kubawa kamu melihatnya.

Ingin naik unta?

Memangnya ada?

Di sekitar sini ada,

disewakan untuk wisatawan.

Aku ambilkan dua ekor.

Kalau aku naik sendirian,

aku tidak bisa.

Kalau begitu,

kita berdua

naik bersama tidak terlalu bagus.

Aku tidak bilang mau naik seekor denganmu.

Maksudku,

aku belajar, kamu bantu aku pegangi untanya.

Boleh, tidak masalah.

Kamu tunggu di sini.

Aku akan mengambilnya.

Sama seperti anaknya.

Kapten Qin,

sebenarnya kamu mau membantuku atau tidak?

Mau.

Aku hanya takut

melewati batas.

Kapten Qin,

kamu sama sekali tidak seperti pernah menikah.

Istri adalah istri.

Kamu seorang gadis,

tentu harus diperlakukan dengan hati-hati.

Feodal.

Kemari.

Duduk yang benar.

Melihat pemandangan dari atas unta

lebih bagus.

Kalau begitu, aku pegang.

Supaya ia mau berjalan.

Baiklah.

Sebelum aku datang ke Qining,

juga tidak pernah naik unta.

Bahkan menunggang kuda

juga dipelajari di sini.

Aku tinggal lama

di sini.

Perlahan-lahan seperti Kapten Lu,

menganggap tempat ini sebagai

kampung halaman kedua sendiri.

Tanah air

adalah kampung halaman sendiri.

Ke mana pun sama saja.

Tidak disangka,

jangkauanmu cukup bagus.

Apa maksudmu?

Saat aku kecil,

ada banjir di rumah.

Orang yang datang menolong

ada dari berbagai tempat.

Jadi pada saat penting,

sama saja.

Setiap provinsi sama saja.

Satu-satunya yang berbeda adalah

pemandangannya berbeda.

Benar saja, mereka ada di sini.

Qin Mingyu ini,

selain kerja hanya tahu kerja,

tidak ada kehidupan.

Menyuruhnya membawa gadis bermain keluar,

kemungkinan besar

di sini.

Qin Mingyu!

Kalian sudah datang.

Mau naik unta?

Kamu main saja.

Jangan pedulikan kami.

Sekarang kamu tidak boleh mengendarainya.

Lain kali datang lagi.

Baiklah.

Kamu sungguh tidak menganggapku orang luar?

Bukankah aku...

Kamu apa?

Dua hari ini bisnisku susah.

Malam hari harus menemani

Bos minum arak.

Dia anak kecil,

aku tidak leluasa.

Baiklah.

Biar anak ini tempatku.

Kamu memang terbaik di dunia ini.

Berhenti.

Aku sudah menikah.

Aku tahu.

Aku mana berani memikirkan orang milik Kak Qin?

Kak Qin.

Aku... aku pergi dulu.

Mau pergi?

Xiaonan.

Kalau ada apa-apa hubungi aku.

Sering berhubungan.

Apa kamu menyadari

dia takut padamu?

Bukan begitu.

Anak ini baik hati,

sedang menghindari kecurigaan.

Kamu masih membelanya?

Jarang sekali.

Aku sangat menyukainya.

Beberapa hari ini restoran kita

kedatangan beberapa teman lama,

semuanya bertanya padaku

apa bekerja sama dengannya bisa diandalkan?

Aku bilang tidak masalah.

Jangan bicara urusan orang dewasa.

Ada anak kecil di sini.

Kita berdua juga tidak punya anak.

Bagaimana kalau coba rawat?

Aku coba.

Halo, namaku Qin Feng.

Halo, Paman.

Namaku Qin Xiaonan.

Baiklah.

Kami adalah

teman baik Bibi Gui Xiao

dan Paman Lu Chen.

Kelak kamu di Beijing,

kami akan bergiliran menjagamu.

Lihatlah, ada beberapa ayah dan ibu

yang menjagamu,

mengajakmu bermain

juga lumayan bagus.

Benar, tidak?

Anak ini sangat kuat.

Duan Rou tidak mengantuk.

Aku tidak ada tempat lain untuk membawanya pergi.

Benar.

Aku sendiri yang mau datang.

Apa masih ada

tempat yang lebih cocok

untuk aku dan Lu Chen mengembangkan hubungan?

Ada, tentu saja ada.

Kalau begitu, bawa kami pergi.

Benar, bawa kami pergi.

Hanya saja agak jauh.

Pelan-pelan saja.

Baiklah.

Sudahlah.

Tidak perlu banyak bicara lagi.

Kita berdua satu mobil.

Sebelum datang kamu membicarakan dia denganku.

Setelah datang,

kamu malah ketakutan setengah mati.

Tidak.

Teman Kakak Ipar,

aku takut tidak melayaninya dengan baik.

Dia membantumu menjaga Xiaonan

begitu lama,

hanya teman Kakak Ipar?

Tentu saja.

Mana hati nuranimu?

Baiklah.

Sedikit suka, tapi...

Aku selalu merasa tidak pantas untuknya.

Biasanya kamu sangat santai,

kenapa sekarang tidak banyak bicara?

Apa?

Sebenarnya,

tujuan kedatangan kali ini,

pertama karena aku ingin bertemu Lu Chen.

Kedua,

ingin kamu dan Qin Mingyu

bertemu secara resmi.

Begitu, ya.

Aku hanya belum memikirkannya.

Kelihatannya

dia sepertinya

tidak tertarik padaku.

Tadi saat naik unta,

dia tidak bersedia membantuku naik.

Tapi aku tidak merasa begitu.

Aku merasa dia

sangat tertarik padamu.

Benarkah?

Lu Chen juga merasa begitu.

Dia memahami Qin Mingyu.

[Ngarai Pesona]

Cantik sekali.

Kamu jaga Duan Rou.

Aku akan menjaga istriku.

Baik.

Kamu lihat sebelah sana.

Agak tinggi.

Jangan takut.

Ayo.

Ada aku.

Tunggu sebentar.

Aku ikat rambut dulu.

Astaga.

♫Hai, hari ini hari apa?♫

Lihat ke depan.

♫Apa bisa bertemu denganmu♫

Tapi jika melihat ke depan,

tidak bisa melihat pemandangan di bawah.

♫Agar detak jantung tetap di 110♫

Pemandangan di tengah lebih indah.

♫Terus berdetak kencang♫

♫Oh, kamu belum bangun♫

♫Tak melihat pesan dariku♫

♫Apa ada yang memberitahumu♫

♫Aku sangat merindukanmu♫

♫Pacaran sedang populer♫

♫Kamu masih mau diam saja?♫

♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫

♫Meteor juga bisa berhenti♫

♫Lagu cinta sedang populer♫

♫Aku akan menyanyikannya untukmu♫

♫Kita harus perlahan-lahan memupuk perasaan♫

♫Aku yakin kamu bisa♫

[Beijing, Shanghai, Hangzhou, Hezhuang, Nanjing, Shenyang]

Mau pergi?

Tidak.

Aku takut ketinggian.

Lalu biasanya bagaimana kamu liburan?

Tidak mendaki gunung?

Biasanya baik-baik saja.

Tapi yang tergantung di udara seperti itu,

aku tidak sanggup.

Kita

melihat pemandangan di sini saja.

Beranikan diri untuk mencoba.

Ada aku.

Baiklah.

Berhubung ingin mencoba,

coba yang paling menantang itu.

[Titik awal garis A]

Halo, selamat datang.

Halo.

Sebaiknya kita kembali saja.

Ada aku, jalan ke depan.

Ayo.

Lihat ke depan.

Aku baik-baik saja.

Melangkah dengan stabil.

Selangkah demi selangkah.

Ayo.

Lihatlah.

Duan Rou.

Ini pertama kalinya Qin Mingyu

naik jembatan gantung.

Dulu dia tidak mau,

merasa tidak kokoh.

Benarkah?

Buat citra yang bagus untuknya.

Yang dikatakan Kapten Lu,

benar adanya?

Tidak.

Aku sering datang.

Suatu kali,

juga membawa Xiaonan

berjalan melewati ini.

Kalau begitu,

kenapa dia bilang kamu pertama kali naik?

Mungkin untuk

memberikan kesan baik untukmu.

Orang jujur.

Tambah nilai.

Ini juga termasuk

kelebihanku.

Lihat kedua sisi.

Tidak.

Terlalu sulit.

Lihatlah.

Kalau sampai melewatkannya,

sayang disayangkan.

Tidak disangka,

pemandangannya begitu indah.

Sebelumnya,

aku tidak merasa begitu.

Sekarang sepertinya memang indah.

Kamu lelah?

Tidak.

Di sini sangat indah.

Apa kalian sering kemari?

Mana ada waktu luang?

Benar juga.

Kalian jarang bisa libur sehari.

Bagaimana kalau nanti

kita pergi ke Kepolisian Qining?

Tinggal di apartemen tua itu.

Bisa, tidak?

Duan Rou belum pernah pergi.

Tanya Kapten Qin.

Kapten Qin.

Bisa, tidak?

Apanya yang bisa?

Aku tidak pulang,

lanjut bermain.

Lanjut bermain.

Lihat siapa yang sudah pulang kerja.

Panggil semuanya kemari.

Baiklah.

Teman-teman,

turunkan barang-barang di mobil.

Baiklah.

Baik.

Diterima.

Kakak Ipar.

Halo.

Kebetulan sekali kamu datang hari ini.

Kapten Lu,

kami baru saja membeli makanan dan minuman

di kota praja.

Malam ini kita makan barbeku.

Barangnya jatuh.

Air soda paling cocok dengan barbeku.

Tidak melihatku, ya?

Setiap kali selalu saja.

Setiap kali selalu saja.

Kenapa kamu cemburu dengan mantan kapten?

Bukankah aku cemburu

karena peduli pada kalian?

Tidak disangka kamu ini pencemburu.

Bercanda.

Ayo, minum.

Dia ini...

Dia temannya Kakak Ipar.

Duan Rou.

Halo.

Halo.

Halo.

Halo.

Mana mungkin temannya Kakak Ipar?

Jelas-jelas Kapten Qin...

Berhenti.

Bukankah kamu membeli cukup banyak?

Air soda, ya?

Ayo, kita pindahkan dua kotak.

Bukan, biarkan aku selesai bicara.

Bicara apa?

Aku beri tahu.

Nanti kalau anak-anak nakal itu datang,

jangan bercanda dengan Duan Rou.

Pihak wanita saja tidak mempermasalahkannya,

apa yang kamu permasalahkan?

Dia tidak mempermasalahkannya

karena dia murah hati.

Sudahlah.

Wajahmu memerah.

Kenapa berbicara seperti itu pada kapten?

Kapten Qin,

hari ini kita memakai pakaian biasa.

Itu, kalian sudah bekerja keras.

Sudah seharusnya.

Kapten Lu.

Duduk.

Kakak Ipar.

Kita bertemu lagi.

Menurutku,

Kakak Ipar lebih cantik.

Iya.

Istriku

tidak perlu kamu bilang cantik.

Ucapan baik-baik juga tidak mau mendengarnya?

Kapten Lu,

kamu benar-benar berubah.

Melindungi keluarga tanpa batas.

Di sini banyak asap.

Kamu duduklah, tunggu makan saja.

Aku hanya hamil.

Bukan selemah itu sampai

tidak bisa melakukan apa pun.

Selain itu, aku belum pernah berkemah.

Aku hanya ingin merasakannya.

Baiklah, merasakannya.

Kamu duduk dulu.

Ada aku,

kamu cukup merasakan

porsi makan meningkat saja.

Bagus juga.

Dokter menyuruhku makan dengan normal.

Boleh makan sebanyak yang aku bisa.

Bagaimanapun harus memberi nutrisi pada anak.

Makan yang gemuk.

Kamu tidak keberatan?

Tidak.

Zhong.

Aku melihat si kecil itu

sedari tadi.

Biarkan aku menggendongnya.

Baiklah.

Kamu masih belum selesai makan.

Baru selesai cuci tangan.

Tidak apa-apa, nanti aku cuci tangan lagi.

Aku mau menggendongnya dulu.

Ini.

Si kecil.

Apa ia juga anjing polisi?

Bukan.

Ia anak anjing dari rumah istriku.

Imut sekali.

Bukankah kamu juga pernah memelihara anjing polisi?

Anjing yang bersama

dengan kapten lama.

Kemudian di Tianwen,

kepolisian memberiku seekor yang kecil.

Tapi sekarang,

Lin Nan membantuku memeliharanya.

Mungkin ia sudah dewasa.

Aku ingat saat kita sekolah,

ada seekor anjing besar di bengkel.

Saat itu aku tidak berani menyentuhnya,

hanya kamu yang berani.

Sebenarnya mereka penakut.

Kamu galak sedikit saja pada mereka,

mereka akan takut.

Tapi, beberapa yang di Tianwen itu

sudah dibesarkan oleh Lin Nan,

mungkin mereka tidak akan mengenaliku lagi kalau aku ke sana.

Tidak akan.

Dengar-dengar,

anjing sangat cerdas.

Benar, tidak?

Jarang-jarang ada yang membantuku melakukan ini.

Tidak pernah ada yang membantuku melakukan ini.

Aku lihat kamu tidak bergerak,

jadi aku kira kamu sudah tidur.

Aku bisa tidur sambil duduk

juga termasuk sebuah keahlian.

Jika kamu mengantuk,

aku keluar dulu.

Aku tidak mengantuk.

Xiaonan...

Kita

bisa membicarakan hal lain.

Baiklah.

Kalau begitu kamu yang mulai saja.

Ceritamu saat sekolah?

Semua yang bisa disebut cerita

sangatlah luar biasa.

Punyaku

biasa-biasa saja.

Aku juga tidak begitu

naik turun.

Bukankah kehidupan

sebagian besar orang mirip?

Tapi detailnya berbeda.

Entah nilaiku naik atau turun,

guru juga tidak terlalu peduli.

Tapi sebelum ujian nasional pertama,

setahun sebelumnya,

aku berusaha keras

dan nilaiku naik.

Berarti kamu berbakat.

Bisa meningkatkan nilai dengan signifikan

dalam satu tahun.

Tidak bisa disebut bakat.

Pokoknya, didapatkan dari kerja keras.

Berusaha keras juga membuktikan kalau kamu tekun.

Kelas 3 SMA,

mana ada yang berani tidak tekun?

Aku.

Kamu rendah hati saja.

Sekilas langsung tahu kamu murid berprestasi.

Tahun itu,

aku tiba-tiba tidak ingin belajar lagi.

Kelas 3 SMA kutelantarkan setahun penuh.

Kenapa?

Sejak kecil hingga dewasa,

aku terlalu berusaha keras.

Senar itu selalu tegang,

tidak berani kendur

dan tahu kalau tidak boleh kendur.

Kemudian saat SMA kelas 3,

tiba-tiba merasa tidak menarik.

Makan dan tidur selama setahun.

Tes pertama awal masuk sekolah

sama dengan

nilai ujian nasionalku.

Sama saja tidak belajar.

Kamu cukup berkarakter.

Tapi juga ada manfaatnya.

Ketika kamu bersantai

saat hidupmu dalam tahap

paling tegang,

kamu akan menyadari

banyak hal dalam hidup

yang tidak begitu penting.

Lebih mudah menghadapinya dengan santai.

Entah perkataanmu itu

penalaran yang salah atau bukan,

tapi aku menerima nasihat itu.

Semua pengalaman hidup sangat penting.

Seperti saat aku kelas 3 SMA,

orang lain memilih untuk menaikkan nilai,

aku memilih untuk rileks.

Kemudian,

aku belum mengadakan pernikahan,

setelah membuat surat nikah

dan langsung bercerai, 'kan?

Kurasa itu bukan masalah besar.

Pada ujian bahasa Inggris kelas 3 SMA,

aku mengumpulkan kertas ujian setengah jam lebih awal.

Setelah keluar,

kulihat semua orang tua berkumpul di gerbang,

menunggu menjemput anaknya.

Begitu melihatku,

tentu saja mengira

ujianku pasti tidak bagus.

Sebenarnya nilaiku lumayan bagus.

Jika diingat kembali,

semuanya adalah pengalaman.

Benar.

Kelas 3 SMA

adalah modal hidup.

Setelah itu baru bekerja,

semua hal

tidak diingat

sejelas saat masa sekolah.

Jadi, sifat

dan ketahanan melawan tekanan

sebenarnya dididik

saat masa sekolah.

Duan Rou.

Sampai mati adalah anak muda.

Ucapanmu ini bagus.

Ayo.

Bersulang untukmu.

Aku terima ucapan ini.

Menurutmu,

Duan Rou dan Qin Mingyu,

apa yang mereka bicarakan?

Tadi saat masuk,

kulihat mereka berbicara dan tertawa.

Mereka sangat senang.

Tidak bisa ditebak.

Tidak ada lagi yang ingin kamu katakan padaku?

Saat muda juga kamu yang banyak bicara,

aku tidak banyak bicara.

Aku datang jauh-jauh.

Bisa tidak ubah kebiasaan

burukmu yang tidak banyak bicara itu?

Begitu ada luang,

bukankah kita akan mengobrol lewat telepon?

Puluhan pesan laporan

yang kamu kirimkan padaku setiap hari

juga kubaca semua.

Bisakah kamu menghafalnya?

Aku bertanya padamu.

Kapan kamu bisa dewasa?

Pertanyaan yang kamu tanyakan

sama seperti waktu kecil.

Kamu jengkel padaku?

Tidak berani.

Cium.

Kamu setengah hati.

Hanya dibatasi tenda.

Telinga mereka sangat tajam.

Suami istri sah.

Sudah selarut ini,

masih belum tidur?

Bukankah ingin keluar untuk pelatihan?

Baik.

Kamu latih.

Aku mengamati.

Bagaimanapun, mereka prajurit yang pernah kamu didik, 'kan?

Aku tidak sanggup lagi.

Lebih baik kamu saja.

Kalian tidak mengantuk, ya?

Bukankah kita semua

jarang-jarang bisa bersantai semalaman?

Itu, aku bawa anjing jalan-jalan dulu.

Aku sedikit lapar.

Aku pergi cari makanan.

A... aku mau pergi melihat bulan.

Aku juga ikut.

Saat di tenda wanita,

perhatikan waktu.

Bukan, aku...

Ini...

Aku tulus mengobrol.

Mereka sudah pergi?

Sudah.

Lanjutkan.

Masih tidak bisa tidur?

Suara angin di sini bagus.

Tidak berisik,

juga tidak takut ada bahaya.

Pekerjaan kalian sangat berhasil.

Negara damai dan rakyat sejahtera.

Terima kasih atas pengakuanmu.

Sama-sama.

Duan Rou,

aku tidak masuk lagi.

Kamu cepatlah tidur.

Sampai jumpa besok.

Sampai jumpa besok.

Kukira kamu sudah tidur.

Udara di sini bagus.

Keluar mencari udara segar

juga cukup bagus.

Terima kasih.

Lihatlah.

Aku tidak bisa menemukan topik lagi.

Tidak perlu bicara.

Begini saja cukup bagus.

Tapi saat berbicara denganmu,

aku merasa lebih santai.

Aku juga.

Kenapa kamu tertawa aneh?

Malam yang bagus.

Malam yang indah.

Apa yang kamu lakukan?

Jangan ganggu mereka.

Aku penasaran.

Apa yang membuatmu penasaran?

Memangnya kamu belum pernah pacaran?

Berbaringlah.

Tidur.

Kalau kalian ingin melihat,

keluar dan lihatlah dengan berani.

Buat apa kalian berdesakan di sini denganku?

Bukankah kami tidak berani keluar?

Di tempatmu bisa mendengar sedikit suara.

Ayo.

Joker.

Tidak.

Aku mau mendengarkan dengan serius.

Fokus.

Ayo bersama-sama.

Menurutmu, apa yang dibicarakan oleh Kapten Qin

dan Duan Rou?

Jangan bicara.

Apa yang kamu lakukan?

Melatih keahlian.

Tidur.

Kemari.

Ayo bersama-sama.

Tidak mau pergi, kita berdesakan saja.

Bukan, kalian…

Malam ini telinga Kapten Qin

sangat tajam.

Dia berkencan dengan gadis,

jadi malu.

Pelankan suara kalian.

Tidak takut Kapten Qin mendengarnya?

Biar saja kalau kedengaran.

Dia tidak mungkin terus melempari kita

dengan batu.

Kapten Qin.

Kami sudah berbaring.

Kamu lanjutkan.

Kami sudah tidak bisa mendengarnya.

Lumayan juga idemu.

Kapten Qin.

Semangat.

Apa aku juga harus mengatakan sesuatu?

Kapten Qin.

Kamu tidur saja.

Kamu sudah bangun?

Selamat pagi.

Selamat pagi.

Jujur saja,

meskipun aku memahami pekerjaanmu,

saat harus berpikir, aku tetap memikirkannya.

Jujur saja,

sebagian besar waktu aku merasa sangat baik

melakukan pekerjaan ini.

Begitu memikirkanmu,

aku masih merasa bersalah.

Aku terharu sesaat.

Mereka sudah pulang?

Kemarin malam ada tugas,

lalu mereka pulang.

Aku pernah mendengar

tentang pekerjaan kalian.

Sekarang aku melihatnya sendiri.

Aku sudah mengerti kesulitan kalian.

Setiap pekerjaan ada kesulitannya masing-masing.

Aku bantu kamu.

Tidak perlu.

Aku sendiri saja.

Aku bisa membantu sedikit.

Tapi tidak ada sisa sampah.

Mereka membereskannya saat pergi?

Sudah dibereskan kemarin malam

dan sudah dibawa pergi.

Pria-pria dewasa,

tapi sangat teliti.

Aku akan bantu mereka bereskan barang.

Membereskan barang

juga memupuk perasaan.

Kalau begitu, kita tidak keluar?

Aku ingin mencuci muka.

Tunggu sebentar.

Mereka akan segera pergi.

Mereka belum bangun,

apa yang akan kita lakukan?

Kubawa kamu sarapan.

Baik.

Makan apa?

Jalan saja dulu.

Kita makan yang kita temukan.

Baik.

Perkataanmu sangat tepat.

Aku mengenal dia.

Ayo pergi.

Menurutmu, ke mana mereka pergi?

Tidak perlu bertanya.

Apa kita perlu mencari mereka?

Tidak perlu.

Jika Qin Mingyu ingin kita

mencari mereka,

dia akan mengatakannya.

Aku menyadari kalian berdua

benar-benar pasangan serasi.

Kamu melihat kekompakan kami?

Benar.

Kami banyak kali bekerja sama

melakukan tugas.

Yang dialami di TKP

berhubungan dengan hidup dan mati.

Jika sedikit kekompakan ini pun tidak ada,

benar-benar tidak akan berani saling menyerahkan nyawa.

Persahabatan sehidup semati.

Yang melakukan pekerjaan seperti kami ini

benar-benar seperti itu.

Dulu aku dan Kapten Lu

sering datang ke sini.

Membeli beberapa makanan enak

dan membawakan semua orang.

Di tempat kalian

tidak ada makanan enak?

Tentu saja ada. Tim kami

memiliki fasilitas dan gaji yang sangat bagus.

Hanya saja, terkadang

ingin makan sesuatu yang spesial,

jadi keluar untuk membeli sedikit.

Sekalian

mencari udara segar dan menghilangkan kebosanan.

Ada apa?

Aku ingin pergi ke stasiun kereta api.

Stasiun kereta api?

Benar.

Aku tidak pernah melihat stasiun kereta api di sini.

Setiap aku pergi ke suatu tempat,

aku suka jalan-jalan di stasiun kereta api.

Stasiun kereta api

di setiap provinsi dan daerah berbeda.

Masing-masing memiliki ciri khas sendiri.

Penumpangnya juga berbeda.

Ini termasuk

sebuah cara untuk mengenal tempat tersebut.

Rasa penasaran.

Apa kamu paham?

Setiap manusia memang berbeda.

Penasaran atau tidak, itu tidak penting.

Kalau kamu ingin pergi,

aku akan membawamu.

Pantas saja kita bisa mengobrol dengan baik.

Apa?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.