All language subtitles for ROAD HOME episode 21 [iQIYI subindo]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (SoranĂ®)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]

[Road Home]

[Episode 21]

Ini.

Selamat.

Terima kasih.

Terima kasih.

[Tempat Pendaftaran Nikah Kantor Catatan Sipil Distrik Nancheng]

Tidak bisa mengantarmu pulang.

Aku bisa pulang sendiri.

Aku bukan anak kecil.

Aku akan meneleponmu setelah turun dari pesawat.

Cepat pergi.

Kutunggu teleponmu.

Baik.

Tunggu sebentar.

Ini untukmu.

Selamat.

Lu Chen.

Selamat menikah.

Selamat menikah.

Habis mendapatkan buku nikah, langsung terbang?

Istrimu tidak keberatan?

Dia akan sedih,

tapi tidak akan keberatan.

Kapten Tim Tiga Tim SWAT

Kepolisian Kota Tianwen, Lu Yanchen,

datang melapor.

Lu Yanchen.

Selamat datang.

Sebuah kabar baik, coba tebak.

Aku tidak mau tebak.

Katakanlah.

Misi rahasia apa?

Kapten Lu datang membantu selama sebulan di Gonghai,

sangat dekat dengan kita.

Baguslah.

Akhir pekan nanti kita pergi menjenguknya.

Tidak perlu menunggu akhir pekan.

Di sana baru dibentuk tim,

kekurangan orang.

Aku sudah

mengutusmu ke sana.

Temani dia.

Kabar baik.

Kapten Lu.

Kalian sudah pernah bertemu dengan Kapten Lu.

Aku tidak akan memperkenalkan lagi.

Kapten Lu, begini.

Mereka membangun

sebuah stasiun pemancar di sini.

Kemarin di lokasi konstruksi,

ditemukan banyak sekali

bom standar peninggalan perang.

Kami sudah memeriksanya.

Masih ada banyak bom seperti ini.

Awalnya perusahaan bahan peledak sipil kami

bisa menangani masalah ini.

Akan tetapi,

kondisi topografi di sini lebih rumit.

Oleh sebab itu,

kami mengundang kalian untuk membantu.

Mari kita masuk dulu untuk melihatnya.

Baik, silakan.

Lihatlah.

Mari.

Halo, Pak Shen.

Kapten Lu.

Lihat.

Semua ini…

Semua bom ini

menunggu untuk ditangani.

Tapi aku berpikir,

jika semua bom ini menumpuk

terlalu banyak di sini,

pasti akan ada bahaya.

Jadi sampai jumlah tertentu,

kami akan mengangkutnya pergi.

Begitu banyak bom

dan cuaca di sini sering berubah.

Harus segera memasang

penangkal petir di sekitar sini.

Kapten Lu,

kamu memang profesional.

Tenang saja.

Aku sudah mengaturnya.

Ayo kita keluar untuk melihat.

Baik.

Spesifikasi dan bentuk

semua bom ini berbeda-beda.

Setiap bom

memiliki cara kerja yang

berbeda yang harus diperhatikan.

Seperti bom udara ini,

sumbunya ada di bagian kepala.

Bagian bawah dari selongsong meriam itu,

ada primer digunakan untuk menembak.

Tapi di bagian kepala selongsongnya,

masih ada sebuah sumbu.

Lalu yang kita lihat tadi,

ranjau anti-tank,

ranjau anti-personil,

semua harus ditangani dengan hati-hati.

Benar.

Makanya,

kami meminta bantuan dari kepolisian.

Namun,

Tim SWAT di sini baru saja terbentuk.

Dalam tim penjinak bom,

yang berpengalaman hanya aku sendiri.

Bom sebanyak ini.

Aku pulang

dan berdiskusi dengan pemimpin tim dulu

untuk meminta seseorang datang lagi.

Bagus.

Kapten Lu.

Kertas gambar yang kamu berikan

kepada kami beberapa waktu lalu,

sangat membantu kami.

Kali ini bisa bekerja sama lagi denganmu,

aku harus belajar baik-baik darimu.

Pak Shen,

pendapat Anda

juga sama berharganya.

Kapten Lu, ayo pergi lihat dulu

tempat tinggal kita.

Perusahaan kami yang mengaturnya.

Semuanya makan dan tinggal bersama,

menjadi rekan kerja.

Benar, Kapten Lu.

Di dalam asrama pekerja,

dikosongkan satu kamar untukmu.

Tapi kondisi di sini agak sulit,

harus menyusahkanmu.

Tidak menyusahkan.

Aku suruh tim

mengantar orang dan barang kemari.

Baik.

Kuberi tahu kamu sebuah rahasia.

Rahasia apa?

Aku sudah menikah.

Yang sah.

Yang ada buku kecil.

Kapan?

Dua hari sebelumnya.

Aku benar-benar tidak tahan lagi.

Akhirnya aku mengatakannya.

Sebelumnya tidak bilang ke siapa-siapa,

rasanya seperti hubungan gelap.

Kamu tidak bilang lebih awal,

aku traktir besar-besaran.

Bagaimana kalau makan siang hari ini?

Kamu hanya tahu makan.

Pekerjaan berat,

hanya makan yang bisa menghilangkan stres.

Bagaimana rasanya?

Bagaimana rasanya?

Rasa memiliki.

Seperti semacam

perasaan lega karena sudah beres.

Rasa berumah tangga?

Rasa berumah tangga.

Lihat apa?

Melihat wanita yang sudah menikah,

ada bedanya atau tidak.

Kalau begitu coba kamu katakan, apa bedanya?

Untuk sementara tidak ditemukan.

Tetap begitu muda dan cantik.

Kapten Lu.

Mau menelepon istrimu?

Benar.

Selagi makan, ada waktu.

Sampaikan salamku kepada istri Anda.

Baik.

Maaf,

telepon dari suamiku.

Aku keluar untuk menjawab sebentar.

Layani sebentar.

Tidak disangka kamu ini orang

yang takut pada suami.

Nanti baru telepon balik saja.

Benar.

Pria,

harus membuatnya panik.

Kondisinya khusus, sulit untuk menelepon.

Kalian makan dulu, sebentar saja.

Pekerjaan suaminya tidak biasa, ya?

Bahkan tidak ada waktu untuk menelepon.

Aku dengar perusahaan ayahnya

adalah perusahaan terbuka.

Mungkin

yang kedudukan sosialnya setara.

Tebakan kalian salah.

Suaminya seorang Polisi SWAT.

Penjinak bom.

Tempat bertugasnya kali ini,

tidak ada sinyal.

Setiap kali menelepon,

harus menyetir ke luar

setidaknya 5 km untuk mencari sinyal.

Katanya dia sering menelepon di atas gunung,

tiba-tiba awan lewat,

sinyalnya langsung terhalang.

Mau menelepon memang tidak mudah.

Tidak boleh menelepon di tempat kerja?

Polisi SWAT selalu bekerja

di garis depan yang berbahaya.

Itu tempat yang tidak bisa kita bayangkan.

Hari ini mendaki gunung

atau di kepolisian?

Cuaca hari ini bagus.

Di atas gunung.

Di sana sudah panas, 'kan?

Dua hari ini mulai panas.

Lama tidak berjumpa, apa kamu merindukanku?

Rindu.

Tapi apa boleh buat.

Jika kita mau bertemu,

mungkin harus menunggu sampai musim panas.

Kira-kira begitu.

Di Kota Xinsheng,

beberapa hari ini ada sedikit kejadian tak terduga.

Waktu bertugas semula,

mungkin harus ditunda.

Berarti akan lama sekali.

Halo?

Gunung apaan?

Sinyalnya jelek sekali.

Cuti tahunan sisa berapa?

Masih penuh.

Mau pergi wisata?

Ke mana?

Gonghai.

Pergi mencari suamimu?

Kamu tidak ingin bertemu dengan Kapten Qin?

Kenapa…

aku ingin bertemu dengannya?

Kamu seharian

menjaga anaknya

dengan begitu bersemangat.

Pasti ada bahan pembicaraan saat bertemu.

Kamu melebih-lebihkan diriku.

Aku selalu bersikap dingin

terhadap orang asing.

Kalian berdua

seharusnya bukan orang asing lagi.

Bertelepon setiap minggu.

Termasuk teman yang sangat dekat.

Tidak termasuk, ya.

Yang dibicarakan semuanya tentang edukasi.

Bisa.

Kamu yang belum pernah menikah,

sekarang sudah hampir menjadi ahli mengasuh anak.

Mau pergi atau tidak?

Aku...

Ragu beberapa detik.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pergi.

Pergi.

Puas?

Ini baru benar.

Sudahlah.

Aku mengkhawatirkanmu.

Aku harus ikut untuk menjagamu.

Terima kasih.

Aku beri tahu ya, di sana sangat bagus.

Kamu pasti akan menyukai tempat itu.

Tidak akan kecewa.

Selain itu, Gonghai sangat dekat dengan Qining.

Cukup mengemudi setengah jam.

Ayo cuti dan bermain bersama.

Aku akan mempertimbangkannya.

Tidak perlu dipertimbangkan.

Sudah diputuskan.

Halo.

Kamu beruntung.

Tiba-tiba ada sinyal.

Aku akan mengunjungimu minggu depan.

Berbahaya jika kamu berkeliaran saat ini.

Berbahaya apanya?

Sama sekali tidak kelihatan.

Sudah diputuskan.

Halo?

♫Aku ingin sekali kembali ke kampung halaman♫

♫Kembali lagi ke sisinya♫

♫Melihat kelembutan dan kebaikannya♫

♫Untuk menghibur lara hatiku♫

♫Biarkan aku kembali ke kampung halaman♫

♫Kembali lagi ke sisinya♫

♫Biar kelembutan dan kebaikannya♫

♫Menghibur lara hatiku♫

Kali ini berencana naik berapa kilo setelah pulang?

♫Tahun itu kamu pergi dari kampung halaman♫

Kita bicarakan lagi setelah pulang.

Tidak ada diet yang gagal bagiku.

Benar juga.

♫Kamu mengira di sana ada cita-citamu♫

Soal tekad,

aku hanya mengakui

kamu setara denganku.

♫Kamu melihat tatapan asing di sekitarmu♫

Seorang kapten juga, 'kan?

♫Terbangun di pagi hari dan tidak ada orang di samping♫

Dia lebih hebat dariku.

Oh, ya.

Akhir pekan ini,

Qin Mingyu cuti satu hari.

♫Malam hujan yang sunyi teringat padanya♫

Dia akan langsung pergi ke Gonghai.

Nanti kamu akan bertemu dengannya.

♫Bujukannya masih terngiang di telingaku♫

Lu Chen tidak bilang kamu mau datang.

Beri dia kejutan.

Kapten Lu.

Kondisi kamarmu ini lumayan bagus.

Ada tempat tidur juga.

Kamarmu ini,

debunya agak banyak.

Bersihkan lantai dengan air.

Kenapa?

Sengaja menyuruhku kemari,

memanfaatkan libur sehariku

untuk membersihkan kamarmu?

Aku menyuruhmu berpakaian rapi,

kamu datang begitu saja?

Bukan, ini tempat untuk

menjinakkan bom,

untuk apa berpakaian serapi itu?

Istriku hari ini datang ke Gonghai.

Kakak ipar kemari?

Tidak hanya datang,

dia juga ingin memperkenalkan seorang pacar untukmu.

Kenapa?

Tidak senang?

Terlalu mendadak.

Bukankah kamu lajang?

Aku...

Kondisiku sekarang

agak spesial.

Kondisi apa?

Tidak terlalu ingin mengenal gadis baru.

Mau lajang seumur hidup?

Bukan begitu.

Baiklah.

Tidak jadi memperkenalkan pacar padamu,

oke?

Anggap saja mengenal seorang teman.

Baiklah.

Pokoknya aku ini orangnya

tidak pandai berbicara.

Nanti saat bertemu kakak ipar,

bicaraku…

- Jangan... Jangan tersinggung. - Ayo pergi.

Ayo.

[Bao Bei (Sayang)]

Pelan-pelan.

Tidak berat.

Tentu saja tidak.

Kenapa kamu menyuruhku mengubah rute?

Jadi kejauhan.

[Bao Bei (Sayang)]

Hari itu dia lewat saat menyetir,

dia sengaja mencatatnya.

Halo, Kakak Ipar.

Halo.

Kita bertemu lagi.

Ya, kita bertemu lagi.

Ada satu orang lagi.

Coba kamu tebak siapa aku?

Duan Rou?

Total hanya dua kata.

Perlukah kamu berpikir begitu lama?

Kapten Qin.

Bukan.

Otak... otakku sudah menyaring sekali.

Awalnya ingin memanggil Nona Duan Rou,

lalu teringat kamu bilang,

tidak boleh panggil Nona, terlalu sungkan.

Aku pun segera mengubah panggilan.

Kenapa gugup?

Siapa yang gugup?

Aku takut salah bicara.

Selamat datang di Gonghai.

Kapten Qin terlalu sungkan.

Kamu yang menyetir,

kita berdua naik satu mobil.

Kalian berdua naik mobil itu.

Baik.

Kami berdua satu mobil?

Tenanglah sedikit.

Membuat malu dua kali dalam satu menit.

Tidak seperti orang yang aku bimbing.

Siapa yang tidak tenang?

Ayo pergi.

Kita pergi dulu.

Baik.

Sudah cukup melihatnya?

Belum.

Sudah sebulan tidak bertemu.

Aku ingin melihat sepuasnya.

Kubawa kamu tinggal di kota praja.

Kalau begitu, malam ini kamu menemaniku tidur?

Kutemani.

Berbicaralah lebih lembut.

Kutemani.

Aku sangat merindukanmu.

Aku sedang menyetir.

Jangan pegang-pegang.

Tidak,

pokoknya aku mau.

Sudah sebulan tidak bertemu.

Kapten Qin.

Hadir, aku hadir.

Kita mau ke mana sekarang?

Ke sebuah kota praja.

Tempat kerja

polisi lebih dirahasiakan,

tidak leluasa.

Aku mengerti.

Bolehkah memutar musik?

Boleh.

Boleh.

Di sini cukup panas.

Lumayan.

Lebih dingin dari Beijing.

Apakah biasanya pekerjaanmu sibuk?

Pekerjaanku biasanya juga sangat sibuk.

Apakah kamu haus?

Sedikit.

Aku saja yang cari.

Aku lebih mengenal mobil ini daripada kamu.

Benar.

Kenapa tidak bicara lagi?

Aku terus berbicara,

kamu terus, "Um."

Aku kira

kamu tidak terlalu ingin berbicara denganku.

Tidak.

Tenggorokanku sakit.

Tidak bisa berbicara.

Kamu sakit?

Kalau begitu, aku bawa kamu ke rumah sakit.

Penyakit kecil.

Penyakit kecil,

jika terus dibiarkan, akan menjadi penyakit besar.

Tidak boleh lengah.

Sudah bawa obat, Kapten Qin.

Aku tahu kondisi tubuhku sendiri.

Sungguh tidak perlu ke rumah sakit?

Tidak perlu.

Aku merasa...

tidak bisa, pergi sebentar saja.

Kamu... biasanya saat bekerja,

juga begitu cerewet?

Aku?

Aku sangat tegas.

Tegas?

Tidak terlihat begitu.

Sungguh.

Biasanya di dalam tim,

aku selalu memegang kata-kataku.

Kamu menganggapnya serius?

Apakah kamu

salah jalan?

Tidak mungkin.

Lihat, di depan sudah tidak ada mobil.

Sepertinya benar-benar salah jalan.

Aku asyik mengobrol denganmu,

jadi tidak memperhatikan.

Mereka tidak mengikuti.

Mungkin melihat

gadis yang disukai,

jadi gugup.

Tidak melihat jalan.

Dia menyukai Duan Rou?

Apakah dia yang memberitahumu?

Tidak.

Tapi sebagai rekan kerjanya selama bertahun-tahun,

aku bisa melihatnya.

Aku merasa,

Duan Rou juga sedikit tertarik padanya.

Bagaimana kalau kita berdua menjodohkan mereka?

Menurutku,

biarkan mereka berdua mengikuti arus saja.

Qin Mingyu berdomisili di Qining.

Jika berhasil dijodohkan,

sepanjang tahun berbeda tempat.

Selain itu pekerjaan ini,

pada dasarnya tidak ada libur.

Kamu harus mempertimbangkannya.

Tapi bukankah kamu juga sama?

Setelah misiku selesai, aku kembali ke Tianwen.

Dia berbeda.

Ini memang sebuah masalah.

Biarkan saja.

Jika mereka berdua benar-benar jatuh cinta,

mereka sendiri akan mempertimbangkan

masalah-masalah nyata ini.

Dia salah jalan.

Itu... Aku tidak memperhatikan.

Pertama kali bertemu,

kejadian memalukan

jangan lebih dari tiga kali.

Qin Mingyu.

Jangan mempermalukan Tim SWAT.

Siapa yang memalukan?

Tadi Duan Rou radang tenggorokan,

aku mencari air.

Hati-hati jangan sampai muncul bintik.

Tidak apa-apa, hanya beberapa langkah.

Kondisimu spesial, harus perhatikan bagian ini.

Jika tidak, kalau kelak muncul bintik,

kamu akan kesal.

Kamu cukup teliti juga.

Yang benar saja, Kapten Qin.

Hari ini baru pertama kali menyadarinya?

Sudah membantumu menjaga anakmu begitu lama,

apakah ada kesalahan?

Tidak ada.

Tidak ada sama sekali.

Mau makan yang mana?

Tidak ada saran?

Aku jarang datang.

Yang ini saja.

Kelihatannya bersih.

Kapten Lu

bertemu istrinya,

masih seperti orang normal.

Saat dia sendirian,

bagai sebuah mesin kerja yang sempurna.

Kedua kali.

Jangan omong kosong.

Kalian lebih mengenal tempat ini,

kalian saja yang pesan.

Dokter bilang ada pantangan apa?

Tidak ada.

Kalau begitu aku pesan sesuka hati saja.

Kamu cepat kembali.

Kalian berdua sepanjang jalan tidak berbicara,

datang sambil diam seperti ini saja?

- Sudah bicara. - Sudah bicara.

Seolah-olah tidak akrab saja.

Itu dia.

Aku tidak pernah canggung.

Tenggorokanku sakit, tidak bisa bicara terlalu banyak.

Itu salahku.

Aku tidak terlalu pandai mengobrol,

terutama dengan wanita.

Bukankah kamu pernah menikah?

Kencan buta.

Kencan buta?

Kencan buta juga harus berbicara, 'kan?

Meskipun aku belum pernah kencan buta.

Juga tidak mengobrol banyak.

Pokoknya berbeda dengan hari ini.

Kencan buta paling-paling

mengobrol tentang pekerjaan,

berapa penghasilan setiap bulan,

apakah punya rumah,

apakah punya mobil.

Betapa membosankan.

Memang membosankan.

Aku

hanya pernah kencan buta dua kali.

Kali kedua, aku merasa

kami juga termasuk cocok.

Juga tidak terlalu kenal,

langsung menikah.

Langsung menikah?

Ceroboh.

Saat itu berpikir,

sama-sama adalah orang yang ingin menikah.

Melihat satu sama lain, masih termasuk cocok.

Lalu...

Benar, kami satu kampung.

Jadi, tidak berpikir terlalu banyak,

langsung menikah.

Apakah kamu tidak takut

tidak ada perasaan,

tidak bisa menyesuaikan setelah menikah?

Aku belum pernah berpacaran sebelumnya.

Kemudian...

Dia ini orangnya polos,

merasa cocok untuk menikah,

seharusnya tidak ada masalah besar.

Intinya masih kurang pengalaman berpacaran.

Kalau soal ini, kita menang.

Jadi, dia terlihat

seperti seorang ayah lajang yang menjaga anak.

Bukan.

Memang tidak pandai berpacaran.

Bisakah kamu mengatakan sesuatu yang enak didengar?

Siapa yang tidak pandai berpacaran?

Apa aku salah bicara?

Masa aku harus bilang kamu

punya banyak pengalaman berpacaran?

Bukan, siapa yang pernah berpacaran?

Dari dua itu,

pilih salah satu.

Apakah kamu sudah memesan makanan?

Kalau tidak pesan makanan, tadi aku ke mana?

Datang jauh-jauh ke sini,

pesanlah lebih banyak makanan,

tambah dua sayur lagi.

Duan Rou.

Terima kasih sudah membantuku menjaga anakku.

Tidak perlu.

Sia-sia jika tidak habis.

Tidak apa-apa.

Kalau tidak habis, bungkus saja.

Tidak akan mubazir.

Biarkan saja dia memesan.

Dia terus membicarakanmu.

Dia bilang sangat berterima kasih padamu,

tapi tidak ada cara yang bagus.

Kamu tidak menerima uang,

dia juga

tidak pandai memilih hadiah.

Tapi, percayalah padaku.

Dia berterima kasih padamu dengan tulus.

Membalas apanya?

Aku menjaga anaknya dengan senang hati.

Kalau aku tidak bersedia,

tidak ada yang bisa memaksaku.

Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu.

Katakan.

Jarang-jarang aku bertemu dengan istriku,

kita pisah meja.

Pisah meja?

Kenapa?

Kalian mengobrol tentang anak,

kami membahas percintaan.

Benar juga.

Kita membicarakan anak,

mereka juga tidak ingin mendengarnya.

Mereka berdua sudah lama tidak bertemu,

kita jangan mengganggu mereka.

Benar.

Kita duduk secara terpisah.

Waktu terbatas.

Jangan mengganggu kami.

Baik.

Pisah meja saja.

Duan Rou sangat baik.

Sebelumnya sudah mendaftarkan pernikahan,

tapi sebelum pesta pernikahan,

karena masalah harta sebelum menikah,

dia bercerai.

Dia ingin menandatangani perjanjian pranikah,

tapi suaminya enggan.

Kemudian dia bilang padaku,

dia ingin mencari

pacar yang mandiri

agar dia bisa bekerja dengan tenang.

Karena dalam setahun, ada lebih dari 200 hari

dia terbang di luar.

Selain itu, dia juga menyukai

pria yang memiliki mental kuat,

memiliki impian sendiri.

Jangan setiap hari demi rumah,

anak, pekerjaan rumah,

selalu mencari masalah dengannya.

Lalu aku berpikir,

Qin Mingyu sangat cocok.

Qin Mingyu ini

sudah ditaklukkan oleh Duan Rou.

Kamu sudah bekerja keras.

Jangan lihat mereka lagi.

Lihat aku.

Lihat istrimu.

Oh, ya.

Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Ini beberapa akun bank milikku.

Kata sandi,

kata sandi pengambilan uang,

dan kata sandi internet banking juga ada.

Ada juga saham dan reksadana.

Kamu entah bisa menggunakannya atau tidak.

Apakah biasanya kamu

tidak membeli semua ini?

Di rumah kita, masih ada sebuah brankas.

Bisa dibuka dengan sidik jari dan kata sandi.

Kata sandinya adalah ulang tahunmu.

Semua barang yang paling berharga ada di dalam.

Apa yang ingin kamu lakukan?

Dengarkan dengan serius.

Terkadang melahirkan anak

bisa membahayakan nyawa.

Misalnya emboli air ketuban,

sangat sulit untuk diselamatkan.

Bagaimana jika terjadi sesuatu?

Kamu harus tahu ini semua diletakkan di mana.

Kamu biasanya tidak di rumah,

juga tidak memedulikan hal ini.

Jangan menatapku seperti itu.

Bagaimana jika terjadi sesuatu?

Akan merepotkan kalau kamu tidak tahu.

Jangan menatapku seperti itu.

Aku masih punya satu kartu bank

yang berisi satu juta yuan.

Itu untuk dana pensiun ibuku.

Kamu cukup tahu.

Jangan beri tahu dia.

Khawatir berlebihan.

Orang yang tidak berpikir jauh, pasti ada kekhawatiran di depan mata.

Apa kamu menyesal?

Sudah menikah denganmu baru bertanya.

Yang paling kusesali adalah

tidak pergi menemuimu

saat kamu kembali waktu itu.

Jika aku bertemu denganmu,

pasti langsung menekanmu di tempat tidur.

Demi hal ini,

aku sudah menyesal berhari-hari,

tidak bisa tidur.

Waktu itu kamu baru umur berapa?

Apa kamu berani?

Berani.

Kalau kamu berani, aku juga berani.

Anemia harus menambah darah.

Ada vitamin juga.

Dan ini.

Sejak hamil, jadi hipotiroid.

Hanya bisa makan ini untuk menambahnya.

Aku bertanya pada dokter, akan ada masalah atau tidak.

Dia bilang,

ada kemungkinan kecil akan memengaruhi

kecerdasan bayi.

Ada kemungkinan tertentu,

bayi akan menderita hipotiroidisme bawaan.

Hanya kemungkinan kecil.

Jangan takut, aku sedang minum obat.

Semoga tidak berpengaruh.

Lu Chen.

Aku sangat merindukanmu.

Apa kamu merindukanku?

Kata-kata tidak berbobot,

tidak pernah berubah selamanya.

Apa kamu merindukanku?

Rindu.

Kamu mau ke mana lagi?

Aku pergi tuangkan air

untuk merendam kakimu.

Memang benar suami

harus mencari yang tampan.

Semakin tampan, temperamennya semakin baik.

Semua pria yang jelek sombong.

Temperamennya buruk.

Saat kami sekolah,

dia selalu bermuka masam.

Kalau tidak bersuara, bisa menakuti banyak orang.

Ayo.

Pijat kaki.

Lu Chen.

Anjing besar di rumahmu itu,

sekarang ada di mana?

Sudah mati sejak lama.

Kenapa?

Apakah kamu masih ingat

pertama kali kamu menulis surat cinta untukku?

Apakah kamu yakin itu adalah surat cinta?

[Tahun 2009]

Hai Jianfeng.

Kakak Chen.

Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini?

Bawa anjing jalan-jalan.

Pagi sekali.

Bantu aku menyampaikan surat.

Kepada Gui Xiao.

Kepada siapa?

Gui Xiao di kelas kalian.

Kalian saling mengenal?

Bantu aku berikan padanya.

Cepat pergi.

Ini untukmu.

Apa ini?

Tadi pagi saat ke sekolah,

aku bertemu Kakak Chen membawa anjing jalan-jalan.

Dia memintaku memberikan ini padamu.

[Surat Permintaan Maaf]

Halo.

Tidak marah lagi?

Tidak apa-apa.

Laki-laki dan perempuan di kelas kami,

jika berbicara lebih lama,

pasti akan disoraki.

Sudah terbiasa.

Kamu tidak perlu meminta maaf secara khusus

untuk ini.

Lagi pula, itu juga bukan sungguhan.

Membuat semua orang salah paham, aku juga salah.

Apakah flumu sudah sembuh?

Bagaimana kamu tahu aku flu?

Hari itu melihatmu di koridor,

kamu terus menahan ingus.

Menahannya dengan sulit.

Kamu menyadarinya?

Mereka sedang bermesraan.

Kapten Lu.

Tidak tutup pintu?

Buka pintu bukan untuk diintip olehmu.

Kamu membuka pintu,

apakah aku perlu mengintip?

Jangan melihat hal yang tidak pantas.

Kamu datang tanpa diundang.

Bukankah aku ingin mengantarkan buah untukmu?

Apa aku menyuruhmu mengantarkannya?

Sudahlah.

Yang tinggal di sini bukan hanya kita berdua.

Tutup pintu.

Sudah selesai cuci kaki.

Tidurlah sebentar.

Lalu?

Lalu?

Hari ini aku istirahat.

Sesuka hatimu.

Baguslah kalau tidak pergi.

Kamu temani aku tidur.

Siang bolong begini?

Tidur siang.

Baik.

Tidur siang.

Aku tidak pernah tinggal di sini.

Semoga kamu terbiasa tinggal di sini.

Apa yang tidak terbiasa?

Aku sering dinas.

Ke mana saja.

Makan dan tinggal tidak pilih-pilih.

Kalau begitu kamu lihat di sini,

masih perlu apa?

Di sini tidak kekurangan apa pun.

Baguslah kalau begitu.

Biasanya kamu

dan Lu Yanchen

banyak obrolan?

Kami sudah kenal berapa tahun?

Pria kalau bersama,

lebih banyak obrolan.

Dengan wanita,

tidak tahu harus membicarakan apa.

Apakah kamu lelah?

Tidak.

Bawa aku berkeliling.

Boleh.

Kamu mau ke mana? Aku akan membawamu.

Apakah Qining dekat?

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.