All language subtitles for Chor Nikal Ke Bhaga 2023 WebRip 1080p Hindi

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

HIDUP BAIK. SERING TERTAWA. BANYAK CINTA PREM G. VIJAN 1952-2013

BANDARA KULLU PUKUL 02,00

Ada 150 orang di pesawat.

Kenapa mereka hanya memukulimu?

Jika aku tahu, aku tak akan begini.

Kau mungkin tetap akan dipukuli, Ankit Sethi.

Jadi, sebaiknya kau buka mulut.

Pak, untuk apa kututupi?

Lihat aku. Hidungku sampai patah.

Aku tak terlibat.

Entah siapa atau dari mana mereka.

AL-BARKAT 8 JAM SEBELUMNYA

Bagaimana kesan Anda?

Bandara.

BANDARA INTERNASIONAL AL ASAD

BANDARA INTERNASIONAL AL ASAD

Selamat datang, Pak

Selamat datang, Pak.

- Halo, Pak. - Hai, Pak.

Selamat datang...

Manis sekali!

Apa kau takut?

Kau juga akan menggendong bayi dalam enam bulan.

Kenapa kau sedih?

Apa kau dan Ankit bertengkar?

8 BULAN LALU PENERBANGAN AL-BARKAT KE NEW DELHI

Permisi, Pak. Silakan.

- Terima kasih. - Selamat menikmati.

- Permisi. - Ya, Pak? Ada masalah?

Aku pesan menu vegan.

Tidak, Pak. Biar kuperiksa.

"3A, Pak Sethi." Tertulis "non-vegetarian".

Kalau begitu, aku minta air saja. Dingin.

Maaf, Pak.

Permisi, Pak.

Kopi susu almond dingin dan pasta vegan.

- Makanan vegan Anda. - Terima kasih.

- Anda akui itu kesalahan Anda. - Tidak, Pak.

Ini makananku. Maksudku, tadinya.

Anda makan apa?

Bisa kuatasi, Pak. Tak apa-apa.

Silakan menikmati. Akan kuambilkan air dingin.

Neha, terima kasih pastanya.

- Kurasa aku berutang makanan. - Tidak, Pak.

Dengar, yang ingin kutanyakan adalah,

jika Anda tak keberatan, bisakah kita makan malam?

Aku sudah punya rencana, Pak. Terima kasih banyak.

- Terima kasih, Pak. - Sayang sekali.

- Selamat sore. - Anda juga. Terima kasih.

Neha, lihat, bukankah dia pria yang tadi?

Pria "vegan murni" itu.

Ada apa?

Neha, apa alam semesta mencoba menyatukan kita?

Omong kosong.

Anda menguntitku.

Dan menguntit adalah kejahatan.

Baik. Tapi kenapa Anda menatapku tadi?

Kurasa mata Anda perlu diperiksa.

Anda juga harus mengendalikan mata. Omong-omong, itu sangat indah.

Setelah melihat matamu

Setelah melihat bintang-bintang

- Tidak mau menyala. - Permisi. Bisa kubantu?

Oh, Neha. Kalian butuh tumpangan?

Setelah melihat matamu

Bahkan bulan merasa malu

Bintang-bintang menatap matamu

Dan bersembunyi di suatu tempat

Matamu

Menyakiti hatiku

Sama-sama.

Anda pasti mengira aku akan mengajak masuk

untuk makan malam atau setidaknya minum kopi.

Tapi sayangnya,

aku sudah makan malam dan kehabisan susu.

Jadi, maaf dan terima kasih.

Tak apa-apa. Omong-omong, aku tak suka kopi susu.

Tapi Anda tahu, ada kopi vegan yang sangat enak di Doris.

- Selamat malam. - Selamat malam.

Aku milikmu, kau milikku, milikku

Aku milikmu, kau ratuku yang cantik

NEHA GROVER IKUTI

Jiwaku milikmu, hatiku milikmu

Kau adalah takdirku, Sayang

Kau membuatku tergila-gila

Bagaimana aku mencintaimu...

ANDA TAHU, MENGUNTIT ITU KEJAHATAN

APA BOLEH BUAT

Sayang

Hatiku tersentuh

SAATNYA KITA MINUM KOPI BERSAMA!

KAPAN AKU SETUJU?

Kukira Anda tak akan datang.

Aku tak mau,

tapi aku harus bicara langsung bahwa kita tak akan bertemu lagi.

Anda mengacaukan rencanaku.

Aku berencana mengundang Anda makan malam hari ini.

Anda cepat juga.

Kita bisa pelan-pelan jika Anda mau.

NEHAJI, MAKAN MALAM SETELAH MINUM KOPI?

AKU DI DELHI. ANDA HARUS MENUNGGU

AKU AKAN MENUNGGU

MASIH MENUNGGU...

Aku tak pandai berkata-kata

Tapi aku tahu

Bahwa kau menatapku, dengan bersamamu

Itu segalanya bagiku

Haruskah kuminta kursi untuk ponselmu?

Tidak. Sebenarnya, teman-temanku agak kesal denganku.

- Kenapa? - Kutinggalkan mereka demi kemari.

Tentu pacar lebih penting daripada teman.

Maaf.

Kau ingin pelan-pelan.

- Permisi, Pak. Sampanye Anda. - Ya.

- Itu favoritku, kau tahu? - Aku tahu.

Kau tahu?

- Bagaimana bisa? - Dari media sosialmu.

Semua yang kau suka dan tak suka.

Ya, tapi media sosialmu tak menunjukkan apa pun.

Karena kehidupanku hampa.

Tapi saat bertemu kau, aku merasa...

Apa?

Keanggunanmu

Sayang, kau tak tahu

Sayang, aku mabuk kepayang

Sayang

Kau memikat hatiku

Keanggunanmu

Sayang, kau tak tahu

Sayang, aku mabuk kepayang

Sayang

Kau memikat hatiku

Sudah lama aku tak menari begitu.

Ya.

Itu berkat kau.

Kau tahu, itu kali pertama aku menari seperti itu.

Kau serius?

Itu berkat kau.

- Sungguh? - Ya.

Setiap hari Minggu, Ayah dan aku biasa menari sepuasnya

diiringi melodi lagu lama. Kami menari sampai kelelahan.

Dahulu kami terus saja menari.

Itu menyenangkan.

Kau tahu, untuk menari,

kita butuh orang tanpa harus berpura-pura di depannya.

Tak ada orang seperti itu di hidupku.

Keanggunanmu

Sayang, kau tak tahu

Sayang, itu seperti doa

Sayang

Anda cepat juga, Neha.

Tanda apa ini?

- Bukan apa-apa. Aku luka saat kecil. - Bagaimana?

Lupakanlah. Aku tak ingat.

Kau akan ingat malam ini atau akan lupa juga?

Tak akan pernah.

HARI INI

Selamat datang, para penumpang. Aku kapten Anda, Michael Silvera.

Aku menyambut kalian atas nama Max Asia...

Ya, Pak?

Boleh kuminta air panas?

Sangat panas.

Pak, semua baik-baik saja?

Aku sembelit.

Permisi. Boleh minta minuman dingin?

Tentu, Pak. Anda ingin pesan sesuatu?

- Jus buah campur. - Tentu saja.

Kita urutan empat di taxi,

kita akan terbang sepuluh menit lagi.

Duduk, santai, dan nikmati layanan kelas dunia kami di Max Asia.

Ankit, bangun.

Ankit, aku hamil. Bangun.

- Apa? - Aku hamil.

Apa maksudmu?

Bagaimana mungkin? Kita berhati-hati, 'kan?

Ya, kita memang berhati-hati.

Aku juga tak tahu kenapa...

Tidak, Sayang... Sial.

Kita akan punya bayi.

Apa?

Neha, kita akan punya bayi suatu hari nanti.

Sekarang terjadi. Kita bisa mengatasinya.

Apa maksudmu, Ankit? Ayolah.

Tunggu sebentar. Aku akan...

Kemarilah.

Apa yang kau lakukan?

Neha, maukah kau menikahiku?

Ankit, bagaimana bisa...

Kita akan punya bayi.

Dia pantas lahir ke dunia ini. Yang lain tak penting.

Apa kata orang, hal lainnya tak penting.

Ini bayi kita.

- Jadi, kau siap? - Ya.

Neha, kumohon...

Tapi berliannya terlalu kecil.

Tidak!

Bersulang.

- Berikan nomor telepon ibumu. - Kenapa?

- Untuk mengabari dia akan jadi nenek. - Aku belum bercerita tentangmu.

Kenapa?

Sebenarnya, aku punya sepupu. Aku bisa beri tahu dia.

- Siapa? - Sudhanshu.

- Yang... - Maaf.

Tak apa-apa.

- Ankit Sethi. - Ya, ini aku.

Berbaliklah.

Bukan kiri. Lihat ke kanan.

Keluarlah, Berengsek.

Aku datang.

Ada apa?

Tidak ada, aku hanya harus menemui mereka.

- Semua baik-baik saja? - Ya, sangat baik.

Apa... Siapa mereka?

Mereka dari kantor. Tak perlu terlibat...

"Terlibat"? Aku sudah terlibat.

Jika dari kantor, kenapa mereka kasar?

Tidak, apa... Aku baik-baik saja. Katakan padaku.

Tenanglah. Baik, duduklah.

Tapi siapa mereka?

Kau harus katakan apa yang terjadi.

Ankit, kau membuatku takut.

Neha, aku mendirikan perusahaan asuransi berlian dua tahun lalu.

Baiklah.

Karyawanku menghilangkan berlian mereka senilai 20 crore,

kini mereka ingin aku membayar, tapi aku tak bisa.

Kau baru bilang sekarang? Terima kasih.

Itu masalahku. Kenapa kau mau terlibat?

Kita akan punya keluarga. Kau sadar?

Mereka tak akan menyentuh keluarga kita.

Bagaimana kau tahu?

- Mereka mendatangimu, 'kan? - Akan kulunasi.

- Aku butuh waktu. - Beri tahu mereka.

Sudah, tapi tak semudah itu.

- Apa masalahnya? - Aku diminta mencuri untuk mereka.

- Mencuri? - Ya.

Berlian. Dari perusahaanku.

- Akan kau lakukan? - Tidak.

Entahlah.

Entah harus bagaimana.

Kau ingin tahu bagaimana aku dapat tanda ini, 'kan?

Ayah mencuci uang gelap untuk penjahat.

Kami buat kesalahan di rekeningnya dan...

Cepat, Ayah.

- Sembunyikan, cepat! - Ya.

Sudhanshu di sini?

Mereka datang. Dia belum sampai. Ayo!

Tepat di depan mataku, ayahku...

Ayah!

Tidak mudah terbebas dari kehidupan itu.

Aku tak mau anak kita mengalami

yang kualami.

Maaf, Neha.

Aku tak mau bersama pencuri, Ankit.

Para penumpang, aku kapten penerbangan ini.

KODE KOPER BERLIAN - 483

Cuaca hari ini akan bagus.

Kami akan mengabari kondisi cuaca

saat akan mendarat di New Delhi.

Harap ingat, penggunaan alat elektronik

seperti laptop dan tablet dilarang saat lepas landas.

Ponsel hanya boleh digunakan dalam mode pesawat.

Silakan menikmati...

AL-BARKAT BEBERAPA HARI YANG LALU

Aku suka berlian ini.

Juga ide untuk menggunakan ponsel.

Tapi bagaimana ini akan sampai ke India?

Saat uang Anda sampai ke pencuci uang kami di India,

kami akan mulai proses pengiriman, Pak.

Bagaimana jika ada masalah setelah kami membayarmu?

Tidak akan, Pak. Kami sudah biasa melakukan ini.

Beliau bukan orang biasa. Beliau Menteri Dalam Negeri.

Keterlibatannya harus dirahasiakan, Pak.

Tentu, Pak. Ankit akan mengurusnya.

Kurir akan membawa berlian Anda dalam koper ini.

Identitasnya akan dirahasiakan.

Dibutuhkan kode kombinasi untuk membuka kopernya.

Separuhnya ada pada Anda, separuhnya lagi pada kami.

Ponsel ini juga memiliki kartu SIM aktif dengan GPS

yang akan dilacak.

Kartunya akan dilacak.

Bagaimana jika dilepas seseorang dan ponselnya dibawa?

Aku akan dapat pesan jika ada yang menyentuh kartunya.

Bagaimana jika seseorang kabur membawa kopernya?

Tolong mengerti...

- Pak. - Ya?

Berliannya akan diasuransikan begitu Anda membayar.

Jika ada masalah dalam pengiriman, kami akan bertanggung jawab.

Itulah yang ingin kudengar.

Pak, Nyonya menjaminnya, jadi...

Baiklah.

Bhagat akan datang untuk mengambil berliannya dari bandara.

Anda bersenang-senang?

Bersenang-senang? Di kota ini? Apa yang bisa dilihat?

Selain gedung-gedung jelek dan pasir. Bersenang-senang...

Tapi, Pak, kota sesungguhnya ada di dalam gedung-gedung jelek itu.

- Apa kau germo? - Bukan, Pak.

Aku pengusaha.

Kau bisa tunjukkan apa?

Ankit, Timur Tengah sungguh luar biasa.

Semuanya fantastis. Kualitas terbaik.

Tapi aku tak mengerti.

Kenapa aku diberikan layanan sosial gratis ini?

Siapa aku bagimu?

Kita bukan teman baik.

Ini tidak gratis, Pak.

Kita akan membaginya, 50-50.

Ankit, aku tak mau bermasalah. Aku senang bekerja untuk Pak Sanyal.

Tak akan ada masalah, Pak.

Tak ada yang rugi. Tapi kita akan untung.

Caranya?

Pak, sebelum pesawat lepas landas,

kirimkan kode bagian Anda padaku.

Akan kau apakan itu?

Kau tahu bosmu akan dikabari jika ada yang menyentuh ponselnya.

Tapi di ketinggian 9,000 meter,

tak ada yang dikabari, tak ada yang tahu.

Sungguh? Bagaimana kau akan menemukan kurirnya?

Akan kuurus, Pak. Jangan khawatir.

Akan kutangani.

Pak.

Kolega Anda tidak naik.

- Apa maksudmu? - Tidak, Pak.

- Sudah kau periksa baik-baik? - Tentu saja, Ankit.

- Dia tak ada. - Awak kabin, duduklah untuk lepas landas.

Penumpang itu sedang apa?

Pak, Anda harus kembali ke kursi.

- Ini melanggar aturan. - Hentikan dia!

Pak, ini melanggar aturan!

Hai, Pak.

Aku hanya ingin mengabari, pesawatku sedang lepas landas.

Bagus, Ankit.

Kurirnya juga sudah naik.

PAK OMAR BIN PANGGILAN GAGAL

- Kau yakin semua ini sesuai sif? - Permisi. Boleh minta kopi?

Tentu, Pak. Bawa kopi itu ke enam alfa.

- Ada masalah. - Ada apa?

Omar Bin mendadak mengganti kurir.

Sial. Sekarang bagaimana?

Siapa pun itu, dia tak akan makan atau minum apa pun di pesawat,

bahkan air.

Dia akan membawa semuanya sendiri.

- Baik. - Tolong temukan dia.

Ini. Selamat menikmati, Pak.

Tiga...

Pak, Anda pesan apa? Vegetarian atau non-vegetarian?

Tak ada.

Baik, Pak.

- Anda ingin buah? - Tidak.

Teh, kopi, jus?

Aku sudah makan di rumah.

Baiklah. Air?

- Aku tak butuh apa pun. - Tentu, Pak.

Ini makanan Anda, Pak.

Minuman apa, Pak?

- Air saja. - Tentu.

Terima kasih.

- Sudah selesai. - Ya.

Shradha, bisa isi ulang toiletnya?

- Tentu. - Sisi kiri.

Biar aku saja.

Dia tak makan apa pun. Pasti dia.

Memang dia.

Bagaimana kubuat dia pingsan? Dia bahkan tak mau minum.

Kau harus lakukan sesuatu.

Akan gawat jika aku mendekatinya.

Ankit, dia tak mau makan. Aku harus apa?

Begini saja.

Suruh dia ke toilet selama dua menit.

Aku hanya ingin periksa tasnya.

Kumohon.

Awas tangan Anda, Pak.

Ya. Terima kasih.

- Apa-apaan? - Maaf.

Maafkan aku, Pak.

- Kau mengotori pakaianku. - Tenanglah. Bisa dibersihkan, Pak.

Silakan bersihkan. Lewat sini.

- Inikah caramu dilatih? - Maaf, Pak.

Katanya mereka maskapai terbaik.

Tak apa-apa. Ini wajar.

Angkat tangan!

Teroris!

Angkat tangan! Pesawat ini dibajak!

Semuanya, duduk!

Jangan macam-macam, atau kutembak.

Hei, duduk! Menunduk!

Zaheer!

Pesawat ini dibajak!

Ayo, duduk.

Hei, tetap menunduk! Ini pembajakan!

Menunduk!

- Aku akan menembakmu! - Tundukkan kepalamu!

Tutup mulut kalian! Jangan bersuara!

Diam!

Menunduk!

- Jangan bersuara! - Menunduk.

Kau akan kutembak!

Jangan mengangkat kepala!

Hidup Mobin ul-Ansar!

Pak, penerbangan MX 3413 menyetel frekuensinya ke 7,500 MHz.

Itu pembajakan.

MX 3413 - 7,500

Hubungkan ke ATC Delhi.

Siapa petugas keamanan udara?

Kau tak dengar?

Siapa petugas keamanan udara?

Pak!

- Aku tak tahu! Jangan, Pak! - Lewat sini.

Aku akan menembaknya!

- Siapa petugas keamanan udara? - Pak.

Aku tahu ada petugas keamanan di sini.

- Cepat katakan! - Katakan, atau kubunuh dia!

Kau mau mati?

- Kami tak tahu, Pak! - Siapa petugas keamanan udara?

Siapa dia? Beri tahu kami!

- Pak, bisa kita bicara? - Akan kutembak dia!

Siapa?

Itu dia.

Zaheer, itu dia. Bawa dia.

Hei, jangan bergerak!

- Ambil pistolnya. - Berikan pistolmu.

Kau tak dengar? Kau mau mati?

Keluarkan pistolmu. Lemparkan.

Jangan berbuat bodoh, atau kau mati.

- Serahkan! - Ikat dia dan bawa ke belakang.

Hei, berdiri! Ikat dia.

Cepat!

Duduk! Berdiri.

Bawa ke belakang! Bawa dia!

Ayo, cepat!

Pak, tolong jangan!

Jangan pukul dia!

Tolong, Pak. Jangan pukul dia!

- Pak, bisa kita bicarakan ini? - Duduk!

Jangan bergerak!

Patahkan kakinya.

Pukul dengan keras!

Menunduk, atau akan kutembak.

Jangan pukul dia, Pak. Dia bisa mati!

- Rusak wajah bajingan ini. - Pak, dia bisa mati!

Aku akan menembakmu, Jalang!

Duduk!

Ada lagi yang sok pahlawan? Ya?

Ayo berdiri.

Jika mencoba menghentikan kami, kau akan kami bunuh!

Duduk!

Mobin ul-Ansar akan membebaskan Kashmir, insyaallah.

Mobin ul-Ansar akan membebaskan Kashmir, insyaallah.

Mobin ul-Ansar akan membebaskan Kashmir, insyaallah.

Mobin ul-Ansar...

Hei, kau merekam apa?

Mau kutembak? Serahkan ponselnya.

Serahkan ponsel kalian!

Zaheer, kumpulkan ponselnya.

Keluarkan ponsel kalian.

Hei, berikan ponselmu.

Mobin ul-Ansar akan membebaskan Kashmir, insyaallah.

Mobin ul-Ansar akan membebaskan Kashmir, insyaallah.

Ayo. Ambil ponselnya.

Berdiri! Ayo. Semuanya, ke belakang.

Berdiri, Semuanya!

Pria, pindah ke kursi dekat jendela!

Wanita dan anak-anak, ke kursi lorong!

Ayo, cepat!

Ayo, cepat!

Hei, kau tak dengar ucapanku?

Asalamualaikum. Pak, boleh aku duduk di sini?

Aku tak akan merepotkan.

- Kau mau menikmati kelas bisnis? - Tidak...

Apa aku bertanya pendapatmu? Cepat!

Hei, ayo!

Hei! Kau mau turun sekarang?

- Tasku. - Kau mau kulempar bersama tasmu?

- Jalan! - Jalan!

- Lihat ke depan. Jalan. - Apa aku harus memintamu duduk?

Duduk di sini.

Kau juga, Paman.

Hei, tundukkan kepalamu.

Menunduk!

- Hei, menunduk! - Tetap menunduk!

- Menunduk! - Menunduk!

Menunduk!

Duduk diam!

- Berdiri. - Pak?

- Jalan. - Aku berbuat apa?

- Ayo jalan! - Aku dibawa ke mana?

Apa yang kau lakukan, Pak...

- Duduk! Kau mau mati? - Aku akan diam.

- Pak! - Cepat!

- Aku tak akan bicara. - Yang lain, menunduk!

Terus jalan.

Ayo!

- Buka pintunya. - Pak.

- Pak... - Kubilang buka pintunya!

Kita tak bisa membukanya.

Buka pintunya!

Kami dilarang membuka pintunya.

- Apa? - Telepon...

Diam di sini. Jangan macam-macam.

Mundur.

Minta pemerintah Anda untuk membebaskan Adil-Mir.

Atau kutembak mereka satu per satu.

Dia akan jadi yang pertama mati.

Pesawat ini tak akan ke Delhi, tapi Kullu.

- Mereka menuju ke Kullu. - Apa mereka gila?

PENASIHAT KEAMANAN - KETUA RAW

Pesawat komersial tak bisa mendarat di Kullu. Landasannya kecil.

Tidak, ada kabar terbaru.

WAKIL RAW KULLU

Kullu merenovasi untuk menerima pesawat besar.

Landasannya siap.

Tapi kenapa mereka membawanya ke Kullu?

Karena separatis Kashmir, Adil-Mir, ada di penjara Manali.

Mereka meminta helikopter untuk itu.

Shaikh, bawa Adil-Mir dari penjara Manali ke bandara Kullu.

Kita akan bebaskan dia?

Tidak. Kita tak akan bebaskan dia.

Bawa dia ke sana. Kami punya rencana.

- Ya, Pak? - Pergilah ke Kullu secepatnya.

Kenapa, Pak?

Pesawat yang membawa berlian itu dibajak.

Para pembajak membawa pesawatnya ke Kullu.

Aku harus apa di sana, Pak?

Ankit ada di sana.

Setelah pembajak diatasi, dia akan ambil berliannya.

Kau tak kubayar untuk mengaturku.

Jika ada yang tahu soal berliannya,

keadaan akan kacau.

Dengar, kau akan ke sana sebagai perwakilan pemerintah.

Untuk mengurus para penumpang. Paham?

Baik, Pak.

Cepat berangkat. Jangan bicara pada siapa pun.

Tetap menunduk.

- Apa yang kau... - Permisi.

Hei!

Kau mau ke mana?

Duduk!

Semuanya, tetap menunduk! Jangan menengadah!

Duduk!

Ada apa?

Bolehlah aku memberi air minum pada para penumpang?

Setelah kita tiba di Kullu!

- Kau dengar? - Diam!

Diam!

Tetap duduk, atau kutembak.

Diam!

Tenanglah.

Janin sebesar kacang kecil ini, itu bayi kalian.

Usianya sekitar delapan minggu.

Tanggal kelahirannya sekitar 19 Juni.

Ya?

Kita sudah selesai.

Aku akan memberimu tisu.

- Terima kasih. - Terima kasih, Dokter.

Kenapa kau tak bilang lebih awal?

Entah bagaimana kau akan bereaksi.

Aku tak yakin.

- Neha. - Ya?

Aku siap.

Dan aku berjanji, aku akan menjadi ayah terbaik.

- Terbaik! - Terbaik!

Aku sayang kau.

Kami juga menyayangimu.

Ibu bilang belanja keperluan bayi sebelum melahirkan itu pertanda buruk.

Tak ada hal semacam itu.

Aku percaya jika kita melakukan sesuatu sepenuh hati,

itu tak akan jadi pertanda buruk.

Baiklah, terserah kau.

Tapi kau juga harus mendengarkanku.

Aku tak mau tinggal di India.

Aku ingin pindah ke negara lebih baik agar anakku dapat yang terbaik.

Anak kita.

- Ya, anak kita. - Anak kita.

- Ya? - Maaf. Anak kita.

Ini lebih imut.

Lembut.

Ankit?

- Bicaralah. - Pak, aku minta waktu.

Mana mungkin dapat 20 crore dengan cepat? Minta mereka agar tak mengikutiku.

- Aku tak bisa memberimu waktu lagi. - Tapi aku tak punya uangnya.

- Tapi ada uang untuk keluargamu? - Pak, uangnya hilang.

Akan kubayar. Tolong jangan libatkan keluargaku.

Jika tak bayar, keluargamu akan tahu akibatnya.

- Diam! Jangan keterlaluan. - Kalau begitu, bayar.

Maka tak akan ada masalah.

Aku tak punya uangnya. Bagaimana kubayar?

Begini saja. Kirim Neha padaku.

Hei!

Sebaiknya jaga bicaramu.

Tak akan kubayar. Berbuatlah sesukamu.

- Enyahlah! - Jaga ucapanmu!

Ada apa?

- Neha, ayo pergi. - Baiklah.

Ankit, ada apa? Kenapa kita lari? Ankit?

- Ada apa? - Lari saja.

- Aku tak bisa cepat. Ankit, kumohon. - Lari.

Ada apa, Ankit?

- Apa... - Neha.

Ankit!

Aku akan membunuhmu!

Kumohon! Tolong jangan pukul dia, Pak!

Kumohon!

- Beraninya memukulku! - Pak!

- Pak, kumohon! - Matilah kau.

- Pak! - Neha, jangan ikut campur!

- Ankit! - Neha!

Dia sedang hamil, Bajingan!

Dia sedang hamil!

Bayiku.

Bayiku!

Bayiku!

- Neha. - Bayiku!

- Neha. - Ankit, di mana bayiku?

Aku ingin bayiku!

Di mana bayiku?

Tidak! Tidak, kumohon!

- Neha. - Ankit, aku ingin bayiku!

- Aku tahu, Neha. - Aku ingin bayiku!

Neha, maafkan aku.

Maaf. Aku sungguh menyesal, Neha.

Bicaralah di sini.

- Istirahatlah. Aku akan... - Bicaralah di sini!

Paham?

Nyalakan pengeras suaranya!

Bicaralah.

Jadi, Ankit, apa kabar?

Bagaimana keluargamu?

Kapan kau akan membayar?

Dari mana aku dapat uangnya?

Setuju saja untuk mencuri berliannya. Aku tahu kau tak bisa dapatkan uangnya.

Pilihanmu hanyalah mencuri berlian itu.

Dengarkan baik-baik.

Aku tak akan mencuri. Tak akan kubayar. Bunuh saja aku...

Anda akan dapatkan uangnya.

Nona Neha?

Seharusnya aku bicara pada Anda sejak awal.

Buat agar dia paham...

Apa maksudmu?

Dari mana uangnya?

Berlian.

Berlian?

Kau ingin kita mencuri berliannya?

Kau sudah gila?

Tidak.

Neha, ini salahku.

Ini semua karena aku. Ini ulahku.

Aku akan mengatasinya. Aku janji.

Paham?

Kau sudah cukup menderita karena aku.

Aku tak bisa biarkan ini.

Mereka membunuh bayi kita, Ankit.

Jika sesuatu menimpamu,

aku bagaimana?

Kita sudah kehilangan bayi kita.

Aku tak mau kehilanganmu.

Aku mencintaimu.

Kita kehilangan bayi kita.

- Bayi kita tiada. - Aku mencintaimu.

Hei, kau mau ke mana?

Pak, bayinya pasti lapar. Kurasa dia butuh sesuatu.

Dia tak butuh apa-apa.

Duduk! Cepat!

Kumohon, Pak.

Dia menangis. Kumohon, Pak.

Hei, suruh dia diam!

Ya, Sayang?

Ada apa, Nak?

- Hei. - Sesak.

Tetap di situ.

Hei! Kau kenapa?

- Asma... - Di mana inhaler-mu?

Inhaler...

- Tas. - Berdiri dan ambillah.

Kemari.

Sudah?

Belum, Pak...

Aku memeriksa saku lainnya.

Bukankah kursimu di sana?

Aku menyimpan tasnya di sini.

Minggir! Biar kuperiksa.

- Pak, apa... - Diam.

Apa isinya?

Hadiah untuk ibuku.

- Bukankah kau mencari inhaler? - Ya, Pak.

Kenapa kau tak sesak?

Bajingan!

Sial!

- Dapat obatnya? - Kau sedang apa?

- Berdiri! - Maaf, Pak!

- Maaf! - Jalan!

Jalan! Berengsek.

Kau ingin membodohi kami.

Hei!

- Pak, dia berdarah. Dia butuh P3K. - Mau ke mana?

- Tidak boleh! Kembali ke kursimu. - Tolong, Pak, hanya P3K.

Yang lain, menunduk.

Nyonya, permisi.

Tentu.

Apa kau gila?

Apa yang kau pikirkan?

Kau bisa dibunuh.

Ini kesempatan terakhir, Neha.

Jika tak hari ini...

tak akan ada kesempatan lagi.

Kita harus melakukan sesuatu.

KULLU MANALI PENJARA DISTRIK

Kami pernah membawanya keluar,

tapi saat beberapa tahanan menyerangnya, kami tahan dia di selnya.

Adil-Mir!

- Siapa orang-orang itu? - Entahlah.

Bicaramu bertentangan dengan mereka.

Kenapa mereka ingin membebaskanmu?

Entahlah.

Ini mungkin cara baru untuk balas dendam.

Aku akan dibebaskan, lalu dibunuh.

Mungkin saja.

Atau apa mungkin

Anda menerima perintah rahasia untuk membunuhku?

- Pak. - Apa?

Aku mengalami pendarahan hebat.

Boleh aku berseka?

Permisi, Nyonya.

Ya, Pak?

Bisa ambilkan sesuatu untuk berseka? Aku pendarahan hebat.

Ya, Pak.

Pak.

Aku...

- Kau harus ke kelas bisnis. - Kenapa?

Kau sedang apa?

Aku sudah membuka kopernya. Keluarkan saja berliannya.

Bagaimana caranya?

Hei...

Lupakan ini.

Dengar, bilang kau harus simpan kotak P3K. Pasti diizinkan.

Ya, tidak.

Itu berisiko.

- Berisiko? - Ya.

Saat kubilang kita tak akan mencuri, kau bilang kita harus melakukannya,

dan sekarang kau bilang itu berisiko?

Ya, karena aku tak tahu pesawatnya akan dibajak.

Jika mereka memergokiku, entah bagaimana nasibku.

Bisa lakukan itu untukku?

Kulakukan semua ini hanya untukmu, Ankit. Siapa lagi?

Tapi itu terlalu berisiko. Kau harus kembali.

Dengarkan aku!

Aku tak memberimu pilihan. Kau harus segera ke sana, mengerti?

Maaf.

Tapi, Neha, coba pahami.

Kumohon.

Ini kesempatan terakhir.

Ankit, aku tak bisa.

Aku akan mati, Neha.

Dengar, ayo coba cara lain.

Nyonya, permisi.

- Tentu. - Terima kasih.

- Hei! - Ya, Pak?

Kenapa lama sekali?

- Kau berbuat apa? - Darahku banyak...

Sial!

- Pak, dia sudah terluka... - Hei!

- Sial! - Duduk! Kau terlalu banyak bicara.

Sial.

Ini baru pendarahan hebat.

- Pak. - Helikopter?

Sepuluh menit lagi.

- Buka pintu. - Buka pintu.

Masuklah.

Jangan biarkan siapa pun mendekatinya kecuali aku.

Ya, Pak.

Apa pun yang dia minta, tanyakan padaku sebelum memberikannya.

Shaikh.

Kami diperintahkan untuk melakukan penyergapan.

- Apa maksudmu? - Kami dapat perintah.

Setelah pertukaran sandera dan mereka di helikopter,

pasukan kami akan menyerbu.

- Kenapa tak bilang sejak tadi? - Anda akan dikabari.

Awasi pertukaran sandera. Aku tangani serangannya.

- Dan pilotnya? - Dia penerjun tempur. Dia akan selamat.

Halo. Aku utusan Menteri Dalam Negeri.

Untuk mengawal penumpang ke pesawat penyelamat

sebagai wakil pemerintah.

- Kuharap kau tak keberatan. - Tentu.

- Antar dia. - Siap.

Silakan.

- Kapan pesawatnya mendarat? - Dua puluh menit.

Salah satu dari kalian, harap ke kokpit.

Pihak berwenang India ingin bicara.

- Irfan. - Salah satu dari kalian, harap ke kokpit.

Pihak berwenang India ingin bicara.

Siapa ini?

Aku Parvez Shaikh, perwakilan pemerintah India.

Asalamualaikum. Bicaralah.

Pak, boleh aku menyajikan air untuk para penumpang?

Tidak perlu.

Pak.

Aku bilang tidak.

- Diam dan duduklah. - Baiklah.

Ya, aku mendengarkan. Bicaralah.

Cukup bicaranya, Pak Shaikh. Sekarang dengarkan kami.

Jika kau peduli keselamatan penumpang,

begitu pesawat mendarat, kirim Adil-Mir kepada kami.

Lalu, kami akan bebaskan penumpang.

Kau mengerti?

Keadaan tak akan berjalan baik bagimu, Pak Shaikh.

Ya, ini tuntutan kami, dan kami tahu kau akan menyerang.

- Dua penumpang akan ikut kami... - Aku tak punya izin.

Mintalah izin, Pak Shaikh!

Kami tak terburu-buru.

Mereka pikir kita bodoh?

Aku tahu yang mereka inginkan.

Kita akan mendarat di bandara Kullu. Kencangkan sabuk pengaman.

- Kencangkan sabuk pengaman. - Duduk!

- Nyonya... - Duduk.

- Pak, sabuk pengaman... - Duduk!

- Hei, duduk. - Jangan bergerak jika tak diminta.

Pihak berwenang India ingin bicara dengan Anda lagi.

Harap mendekat ke kokpit.

Ya, Pak Shaikh?

Hei, Pahlawan.

Ada apa dengan tasnya?

Ada apa ini?

Sedang apa kau di sini?

- Apa, Pak? - Sedang apa kau di sini sendirian?

Tak ada, Pak. Aku kesakitan, kucari pereda nyeri.

- Apa ini? - Bukan apa-apa, Pak.

- Minggir. Tunjukkan isi tasnya! - Bukan apa-apa.

Mundur.

Cepat serahkan.

Simpan di sini. Buka. Jangan ada tipuan lagi.

Buka.

- Pak, lihat... - Mundur.

Hanya pakaian.

Jangan bergerak.

Obat...

Apa ini?

Berlian?

Kau menyembunyikan sesuatu.

Azhar...

Halo? Dengar!

Halo. Kau bisa mendengarku? Halo?

Duduk!

Jangan berdiri dari kursimu!

Hei!

Zaheer? Kau membunuh Zaheer?

Tahan dia!

- Dia membunuh Zaheer. - Hentikan!

Hajar wajahnya!

Hajar dia lagi!

Bawa dia ke toilet. Akan kuberi dia pelajaran.

Azhar...

Diam!

Diam, Bajingan!

Patahkan giginya!

Berengsek! Patahkan rahangnya!

Pembajak tewas! Pembajakan berakhir!

Pembajakan berakhir.

Pembajak telah dilumpuhkan oleh petugas keamanan udara.

Ayo.

Semua pembajak sudah tewas. Pembajakan berakhir!

Kirimkan tangga.

Tangga dalam perjalanan. Awak, bersiaplah untuk turun.

Ada bom di pesawat.

Semuanya, harap evakuasi!

Ada bom di pesawat. Tolong kirim regu penjinak bom.

Sial.

Cepat turun, tapi jangan lari.

Satu per satu.

Ayo, evakuasi! Semuanya! Lipat tangan.

Nyonya, lipat tanganmu.

Lebih cepat!

Jalan satu barisan.

Sebelah sini.

Permisi, Pak. Tinggalkan tas Anda!

Ke sisi ini.

Permisi, Pak. Cepat!

- Pak, duduklah. - Tangan di bahu.

Terus lurus ke depan.

Terus maju. Jalan.

Kemarilah!

Ada kabar dari pesawat?

Pak!

Bangun, Pak! Tolong bangun!

Pak, bangun!

- Apa... - Ayo!

Pak, ada bom di pesawat!

Pak, cepatlah.

- Ada apa ini? - Ayo.

Kita harus ke sana.

Nyonya, cepat kemari. Tim penjinak bom akan masuk!

Tunggu...

Kenapa kau tak mengerti? Ini berisiko. Kemari!

Harap turun! Ayolah.

Berita terbesar hari ini! Berita sela hari ini!

Pesawat Max Asia MX 3413 yang dibajak

telah mendarat darurat di Kullu.

Kami membawa Anda ke Delhi,

di mana Menteri Dalam Negeri, Harish Sanyal, berbicara di depan media.

Kami segera bertindak setelah mendapat kabar pembajakan.

Semua penumpang sudah aman.

Dan semua pembajak telah dilumpuhkan.

Tak ada yang lebih penting

dari keselamatan penduduk bagi pemerintah kita.

Jangan bergerak. Bomnya bisa meledak.

Sumpalnya akan kulepas.

Kau akan baik-baik saja.

Percayalah padaku.

Alat penguji.

Hati-hati.

Berikan pemotongnya.

Tenanglah.

Kita mencintai

Satu sama lain

Kita merindukan satu sama lain

Kita mencintai...

- Pak, lepaskan tanganku. - Ya, Pak.

Kita merindukan...

Bomnya tiruan.

- Apa? - Itu palsu, Pak.

- Aku tahu arti "tiruan". - Maaf, Pak.

Kirim tim.

Negi, masuk.

- Ini Negi. - Masuklah.

Identifikasi jasad ketiga pembajak.

Baik, Pak. Periksa sayap itu.

- Pergilah. - Dia akan turun.

Dia penumpang terakhir. Tak bisa kutinggal!

- Pergilah! - Dia penumpang terakhir.

Dia datang.

Ankit, apa yang terjadi?

- Ada darah! - Pergi!

Ya, Pak.

Hidungmu kenapa?

Mereka mengikat bom padaku. Tapi aku tak apa.

- Mengikat bom? - Aku baik-baik saja.

- Jangan bicara di sini. Ke terminal. - Ya, Pak.

Tunggu sebentar. Pak?

Semua penumpang sudah keluar. Di mana kau?

Ini Bhagat.

- Pergi! Kau sedang apa? - Ya.

Dia di sini. Akan kubereskan transaksinya.

- Baiklah. - Ya? Ayolah.

Pak?

Sebentar, Pak.

- Aku tak apa-apa. - Baiklah.

Dengar, di mana kantor manajer bandara?

Lewat sini.

Di sisi ini.

Permisi, maaf.

Tak ada jasad di pesawat.

Mereka tewas. Jasadnya pasti ada di sana.

Pak, tak ada orang di pesawat.

Tidak ada jasad.

- Ada yang mendekati helikopter? - Negatif.

- Dinding tepi, ada gerakan? - Tak ada, Pak.

Tutup terminalnya!

Tutup semua pintu.

Siapa petugas keamanan udara?

- Siapa petugas keamanan udara? - Siapa?

- Petugas keamanan udara? - Petugas keamanan!

Permisi. Petugas keamanan udara adalah Bhanu Yadav.

- Siapa Bhanu Yadav? - Bhanu Yadav!

- Bhanu Yadav! - Petugas Keamanan, Bhanu Yadav!

- Bhanu Yadav! - Bhanu Yadav!

Bhanu Yadav! Siapa Bhanu Yadav?

Bicaralah! Siapa Bhanu Yadav?

Di mana jasad pembajak yang Anda bunuh?

Pembajakan?

Pesawat Anda dibajak.

Anda membunuh teroris. Di mana jasadnya?

Pak, aku tak membunuh siapa pun.

Omong kosong!

Aku tak membunuh siapa pun.

Aku pingsan.

Jika bukan Anda, lalu siapa?

Entah siapa pembunuhnya, Pak.

Aku pingsan.

Cari tahu.

Siapa yang membunuh para pembajak?

Siapa yang membunuh para pembajak?

Siapa pun yang membunuh pembajak, harap maju!

Mereka dibunuh di depanmu! Pasti ada yang melihat.

- Siapa dia? - Ada yang meninggalkan terminal?

Ya, Pak. Seorang petugas.

- Kubilang jangan ada yang pergi. - Perintah itu belakangan.

Petugas itu terlanjur pergi.

Kau temukan?

Periksa setiap pintu.

Pak, dia tak di sini.

Dia tak membunuh pembajak.

Kenapa?

Dia komplotannya.

Para pembajak masih hidup, mereka ada di sini.

Lalu kenapa mereka membajak?

Pembajakan palsu.

- Ini sesuatu yang berbeda, Pak. - Tepat sekali.

Kita harus tahu apa itu.

Kumpulkan mereka.

Dengar, kalian harus menunggu lebih lama.

Harap tenang!

Tolong dengarkan aku.

Kami hanya ingin tahu kejadian sebenarnya di pesawat.

Ini palsu.

Apa?

Periksa baik-baik.

Semuanya palsu.

Dia bilang ini palsu.

Apa maksudmu? Aku menukarnya sendiri.

Hei, aku sudah melakukan ini 20 tahun.

Kemari, kau manajer tak berguna. Kau mau menipuku? Aku!

- Pak? - Sudah kuduga kau bermuka dua.

Itu sebabnya aku membawa ahli berlian.

Berikan berlian aslinya!

Apa maksud Anda, Pak?

- Pak, ini berlian asli. - Diam!

Jangan membual,

atau kau akan kuhajar sampai tak bisa duduk atau berdiri.

Di mana berliannya?

Pak, ini berlian asli.

Apa kau gila?

Ada di mana? Di mana berlian yang asli?

Katakan di mana!

Pak...

Untuk apa aku menipu Anda?

Jika mau, aku akan kabur. Untuk apa aku mendatangi Anda?

Dengar, entahlah. Lakukan apa pun, tapi aku mau berliannya. Kau paham?

Aku mau berlian yang asli.

Paham?

Cepat bawakan. Berdiri!

Sial.

Kenapa bisa palsu?

- Ada apa, Ankit? - Berlian itu palsu.

Apa? Bagaimana bisa?

Entahlah, tapi itu palsu.

Sial.

Aku akan hancur.

Aku akan mati.

Ankit, tidak. Kumohon.

Jangan khawatir, ya?

Kita akan cari cara lain untuk kembalikan uang mereka.

Jangan khawatir. Kita akan...

Lupakan semua ini. Kita akan memulai dari awal.

Memulai dari awal?

Memulai dari awal?

Kita akan memulai apa?

- Kau pikir ini lelucon? - Tidak!

Kau pikir selama ini aku bersenang-senang?

Tidak, kita akan memulai apa?

Harus kurencanakan dari awal lagi?

Atau wajahku harus dipukul lagi?

Atau aku harus menipumu lagi?

Tak ada apa-apa di antara kita, Neha!

Aku merayumu hanya untuk mencuri berliannya, paham?

Aku tak peduli dengan gadis sepertimu.

Sialan kau!

Sial!

Ankit!

Istirahatlah. Aku akan bicara dengan dokter.

Neha, kau baik-baik saja? Suara apa itu saat kau menelepon?

Sudah kukirim rekamannya.

Pak, kumohon! Ankit!

Dia sedang hamil, Bajingan!

Seharusnya jangan serang gadis itu!

- Maaf, Pak. - Pergi! Cepat!

Pak, kumohon!

Ankit!

Dia sedang hamil, Bajingan!

- Seharusnya jangan serang gadis itu! - Maaf, Pak.

Pergi! Cepat!

Neha!

Pak...

Berengsek, bukankah sudah kubilang jangan serang gadis itu?

Seharusnya Anda berterima kasih, 'kan?

Gadis itu menyetujui rencananya dan dia keguguran.

Kubilang jangan pukul wajah, 'kan?

Kerusakan tambahan?

Itu berhasil, 'kan?

Itu berhasil.

- Ya, Neha? - Kau di mana?

Aku sedang bicara dengan dokter.

Dia sudah terjebak.

Siapa dia?

Orang bodoh.

Mungkin begitu, tapi aku memesan makanan vegan.

Pasti ada masalah di sistemmu.

Jika tak keberatan, bisakah makan malam?

Apa alam semesta mencoba menyatukan kita?

Hai, permisi.

Bisa kubantu?

Neha, kita akan punya bayi.

Jadi, kumohon...

- Jangan terlibat... - "Terlibat"? Aku sudah terlibat.

Kita akan punya keluarga, Ankit.

- Mereka tak akan sentuh keluarga kita. - Ankit!

Neha!

- Seharusnya jangan serang gadis itu! - Ankit!

Lihat, pasien itu terjatuh.

Cepat angkat dia!

Apa kabar, sepupuku?

Kenapa meneleponku setelah sekian lama?

Kau kembali berbisnis?

Kau aktif atau pensiun?

Tergantung. Apa pekerjaannya?

Aku harus balas dendam.

Aku mengerti saat menerima panggilan daruratmu.

Tapi kau tahu, aku tak bekerja gratis.

Ini bukan amal.

- Berlian senilai 120 crore. - Apa?

Aku paham soal berlian dan membalas dendam pada bajingan itu.

Tapi kenapa di pesawat?

Berliannya akan terhubung ke GPS.

Itu akan dilacak sebelum lepas landas dan setelah mendarat.

Saat itulah kesempatanmu.

Kami dan pesawat itu punya koneksi khusus.

Kau buat dia pingsan.

Akan kutukar berliannya, lalu kau bawa. Sederhana.

Aku tak hanya ingin berliannya, Sudhanshu.

Aku ingin mendengarnya berteriak.

Aku ingin dia hancur dan tak akan melupakanku.

Apa rencanamu?

- Pembajakan pesawat. - Apa?

Pembajakan pesawat?

Apa kau serius? Kau gila?

Mencuri, itu tiga tahun penjara.

Tapi pembajakan berarti eksekusi.

Kau mau atau tidak? Akan ada banyak peminat untuk 120 crore.

Dia berbuat apa padamu?

Dia membunuh.

Membunuh siapa?

Aku percaya Sudhanshu dan dia memercayai kalian.

Selamat datang. Kalian akan dibayar seminggu setelah pekerjaan selesai.

Jangan membahasnya di telepon.

Kalian akan mendapatkan tiket.

Untuk Al-Barkat.

Penumpang pesawat yang dibajak masih belum keluar.

Menurut sumber kami, mereka ditahan untuk diinterogasi.

Kami belum menerima informasi apa pun

mengenai alasan interogasi ini.

Kenapa tak meminta air panas di kursimu?

Boleh minta air panas? Sangat panas.

Anda ingin aku melakukan enema di kursi?

Penumpang lain tak akan senang dengan itu.

Tapi kau makan habis biryani-nya.

Aku mengosongkan perut sebelum makan biryani, Pak.

Repot sekali soal biryani.

Aku tak akan menyentuhnya lagi di pesawat Anda.

Pak, komando penerbangan ada di kursi di depanku.

Pramugari menyajikan jus untuknya lebih dahulu.

Aku juga pesan, tapi ditolak, Pak.

- Anda pesan apa, Pak? - Jus buah campur.

Maaf, Pak?

Jus buah.

Gadis dari Delhi menerima pesananku,

tapi gadis India Selatan menyajikannya.

Ya, aku ingat. India Selatan.

Neha sibuk, jadi aku menyajikannya.

Tapi aku menyajikan sesuai pesanan.

Maksudmu, dia tidur empat jam setelah minum jus buah?

Aku tidak tahu, Pak.

Mungkin dia lelah.

Aku berjanji,

kami pasti akan tahu apa yang terjadi di pesawat.

Kamu pernah memukul orang?

Lalu kenapa kau melawan mereka?

Kukira penumpang lain akan turun tangan.

Ternyata tidak.

Kami tak berani setelah itu.

- Mereka menodongkan pistol ke kepalaku. - Dia membentak putriku.

Pak, pemuda itu terkena serangan asma.

Ada apa, Nak?

Dia pergi ke kelas bisnis.

Dia terus berusaha masuk ke kelas bisnis.

Dia sibuk sendiri bahkan sebelum pembajakan.

Lalu, pembajak membawanya kembali dan bilang dia pura-pura.

- Kau mencari apa di pesawat? - Tak ada, Pak. Kenapa?

Kenapa kau dan pramugari bicara berkali-kali di dapur pesawat?

Ada masalah dengan makananku, jadi aku ke sana untuk mengatasinya.

Jadi, kau menelepon saat lepas landas karena masalah makananmu?

Tidak, Pak, itu urusan bisnis darurat.

Saat lepas landas, ada urusan darurat.

Setelah itu, aku mengurus makananku. Dua hal itu...

Pak, apa Anda curiga aku komplotan para pembajak?

Kau yang berkata begitu.

- Tidak, Pak... - Diam.

Itu mungkin, 'kan? Itu mungkin.

Para pembajak hanya memukulimu, tapi kau terus kembali ke mereka.

Bom palsu itu juga diikat padamu. Kenapa?

Pak, aku tak tahu. Anda harus tanya mereka.

Para penumpang masih diinterogasi di bandara Kullu.

Tapi media belum menerima informasi apa pun

tentang identitas para pembajak.

Apa Anda bisa mengenali para pembajak?

- Tidak, Pak. - Mereka semua memakai topeng.

Topeng hitam.

Mereka semua mirip.

Jinu Varghese.

- Kau dari Delhi? - Bukan. Aku dari Kochi.

- Kau ke Delhi untuk bekerja? - Tidak.

Jarang ada penerbangan Al-Barkat ke Kochi.

- Kau punya tiket pesawat lanjutan? - Ya, Pak.

Mungkin tak apa-apa.

- Berapa tinggi badanmu? - Apa, Pak?

Berapa tinggi badanmu?

Aku 180 cm.

Siapa yang duduk di sampingmu?

Pak, ada yang ingin kutunjukkan.

Saat pesawat dibajak, aku merekamnya diam-diam.

Akan kutunjukkan, Pak. Yang ini.

Mobin ul-Ansar akan membebaskan Kashmir, insyaallah.

Aku gunakan visa turis, Pak. Untuk mencari kerja.

Tapi tak berhasil.

Kau kembali setelah lima hari?

Pak, negara Teluk tak seperti yang dikatakan orang.

Para syekh menganggap kami pelayan. Paspor kami diambil.

Pak, gaji di negaraku lebih kecil, tapi aku tak menjadi budak siapa pun.

Kau sadari itu dalam lima hari.

Pak, aku menyadarinya dalam dua hari.

Teman-temanku yang mengajakku bekerja di sana, hidupnya prihatin.

Dia tak menjawab teleponku, jadi kubeli tiket dan pergi.

Tapi sialnya, pesawat itu dibajak.

Tapi aku akan mencoba lagi.

Sepupuku menjadi sopir taksi di Australia.

Aku akan menyetir, belajar bahasa Inggris. Di Dubai, orang hanya bicara bahasa Hindi.

Sekitar 150 penumpang penerbangan ini,

keluarga dan kerabat mereka khawatir.

Mereka menginginkan kabar terbaru tentang keluarganya.

Mereka merasa tak berdaya.

Setelah semua...

Kau dapat berliannya?

Ya, tapi itu palsu.

Palsu?

Bagaimana kau tahu?

Aku membawa ahli berlian.

Dia membenarkannya.

Selain itu, anak buah Omar Bin, si kurir,

dia bilang tasnya diobrak-abrik di pesawat.

Astaga!

Tunggu sebentar.

Ya, Ranjith?

Pak, kita harus adakan konferensi pers lagi.

- Kenapa? - Pembajakan itu palsu.

Bomnya juga palsu.

Para pembajak belum mati, Pak.

Dan petugas keamanan udara itu,

dia menghilang.

Dia juga palsu.

Tapi aku sudah beri pernyataan pada pers.

Aku paham itu, Pak, tapi kita harus ubah pernyataannya.

Apa kau gila, Ranjith?

Pernyataanku sudah disiarkan di setiap saluran berita.

Pemerintah akan diremehkan.

Pak, lalu kita harus bagaimana?

Tunggu perintahku selanjutnya.

Untuk saat ini, tutup mulutmu.

Dengar, Bhagat. Itu bukan pembajakan, tapi perampokan.

Apa?

Seseorang membawa berlian kita, pembajakan itu hanya pengalih perhatian.

Jadi, berlian kita hilang.

Jangan cemas, Pak.

Itu diasuransikan.

Nyonya sudah menjaminnya.

Silakan hubungi Omar Bin.

Kita tak akan rugi.

Selesaikan urusan di sana dan kembali.

Berita pencurian berlian itu tak boleh terungkap.

Pak, aku ke India untuk membantu temanku. Aku mendanai rintisannya.

Tapi kenapa kau harus pergi dari Muskat ke Delhi lewat Al-Barkat?

Sebenarnya, semua kerabatku tinggal di Al-Barkat, itu uang mereka.

Itu sebabnya.

Tapi kini, uang bisa ditransfer. Secara elektronik?

Jika ditransfer, aku tak akan ke sana.

Mereka kerabat. Aku harus bujuk mereka demi uangnya.

- Itu untuk teman. Kau pasti mengerti. - Ya.

Ada yang melihatmu di kursimu saat pembajakan?

Ya, pasti begitu.

Kami diminta menunduk dan mengangkat tangan.

Mereka juga mengganti kursinya.

- Siapa yang duduk di sampingmu? - Di sampingku?

Pria tinggi yang baru saja pergi.

Dia bilang orang lain duduk di sampingnya.

Pak, dia tinggi...

Ada yang melihatmu di kursimu?

Apa ada?

Apa ada?

Dia menyajikan jus untuknya lebih dahulu.

Aku juga pesan, tapi ditolak, Pak.

Gadis Delhi menerima pesanan...

Neha sibuk, jadi aku menyajikannya.

Neha Grover!

Neha Grover!

Neha Grover!

NOMOR TAK DIKENAL

- Ya? - Pak.

Siapa ini?

Berlian yang Anda selundupkan di pesawat

- Neha Grover! - akan terkuak ke media.

Itu berarti masalah bagi Anda.

Panggilan anonim untuk menakutiku?

Tapi kau harus tahu, aku akan menemukan kalian semua.

Aku yakin.

Periksa pesan Anda, Pak. Anda tak perlu mencari lagi.

Neha Grover!

Neha Grover!

Siapa Neha Grover?

Neha Grover!

Ya, Pak.

Neha Grover?

Mereka memanggilmu.

Kenapa Anda sajikan minuman untuk Sudhanshu Roy

sebelum penumpang lain?

Pak, Sudhanshu Roy?

Petugas keamanan udara palsu yang kini hilang.

Baik. Pak, dia meminta minuman.

Lalu Bhanu Yadav?

Maaf, Pak, Bhanu Yadav?

Dia di luar, petugas keamanan udara yang asli.

Baik.

Aku tak tahu dia petugas keamanan udara.

Jadi, katakan...

- Vinita menyajikan minuman itu. - Ya, Pak.

Tapi Anda yang menyiapkannya.

Ya, Pak, tapi aku tak melakukan apa pun.

Aku tak tahu kenapa dia pingsan.

Kenapa memainkan ponselku?

Aku menghapus foto-fotoku.

Neha Grover, benar?

Ya, Pak.

Nona Neha Grover, kurasa Anda dan Sudhanshu Roy merencanakannya.

Apa, Pak?

- Rencana apa? - Itu yang sedang kami cari tahu.

Tidak, Pak, tak ada rencana.

Pak, Anda melihat sendiri pembajakan besar ini.

Aku masih terguncang.

Pak, tak ada rencana. Aku tak kenal Sudhanshu, Pak.

Pak, jika mencurigai minumannya, aku akan... Pak...

Tunggu. Panggilan ini penting.

Halo, Pak.

Shaikh, apa yang terjadi?

Jika pembajakan sudah usai,

kenapa para penumpang masih ditahan?

Tidak, Pak. Para pembajak ada di antara penumpang.

Tak bisa kulepaskan.

Katakan padaku apa yang Anda selidiki.

Pembajakan atau perampokan?

Apa, Pak?

Aku bertanya apa yang Anda selidiki.

Pembajakan atau perampokan?

Pembajakan, Pak.

Pembajakan apa? Yang tak pernah terjadi?

Dalangnya menipumu dan menghilang.

Dengar, aku tak mau tampak bodoh di depan semua orang

seperti yang kau lakukan.

Para penumpang harus dipulangkan.

Anda bisa tahan paspor mereka

dan melanjutkan penyelidikan.

Anda paham?

Ya, Pak. Aku harus bilang apa ke media?

Beri tahu media bahwa ketiga pembajak telah tewas

dan Petugas Keamanan Udara, Bhanu Yadav, adalah pahlawan nasional.

Baik, Pak. Sampai nanti.

Ada apa, Pak?

Tak apa-apa. Rencananya berhasil.

- Pak, tak ada... - Anda boleh pergi.

- Aku boleh pergi? - Ya. Silakan.

Trilok.

- Tolong antar dia keluar. - Pak, pasporku?

- Nanti dikembalikan. Jangan cemas. - Baik. Terima kasih, Pak.

Silakan ambil koper kalian dan menuju ke gerbang utama.

Silakan ambil paspor kalian di sana.

Jangan bicara padaku, Ankit.

Sikapmu padaku di sana? Kau tahu, itu sakit sekali.

Jangan membual. Di mana berliannya?

Berlian? Ada padaku?

- Neha... - Apa kau sudah gila?

Selain kita, hanya kau yang tahu seperti apa koper berlian itu.

Lalu? Aku tak akan menipumu.

Neha, aku tahu kau mencuri berliannya. Katakan saja caranya.

- Astaga. Kau kenapa? - Hentikan.

Berhenti bermain-main denganku. Katakan di mana berliannya.

Kau tahu? Aku tak akan anggap ini serius.

Aku tahu kau sangat kesal.

Aku bertanya sekali lagi. Tak akan kuulangi lagi...

- Pak? - Kau harus ikut kami.

Pak, kau mau membawanya ke mana? Pak?

Terus jalan. Ayo.

Cepatlah, Pak. Silakan.

Semua penumpang boleh pergi.

Para penumpang akan menaiki bus ke Chandigarh,

lalu ke Delhi dengan pesawat. Mereka tampak gembira...

Pak?

Apa gadis itu tahu sesuatu?

Jinu,

Nikki,

dan Abbas akan menjadi pembajak.

Sampai pesawat lepas landas,

tak boleh ada yang tahu di mana kalian duduk.

Akan kubuat petugas keamanan udara pingsan.

Vinita, tolong sajikan ini.

Kita tak bisa membawa pistol asli ke pesawat.

Gaffar akan membuat pistolnya.

Pesawat ini dibajak!

Jangan sakiti penumpang.

Kecuali satu.

Jadi, takuti mereka sejak awal.

Setelah pembajakan, ambil ponsel para penumpang.

Kecuali ponsel Gaffar.

Lalu, tahan Sudhanshu dan ambil pistolnya,

pistol yang ditukar Sudhanshu dengan petugas keamanan yang pingsan.

Lalu, isi dengan peluru palsu.

Setelah itu, lakukan yang perlu dengan peluru palsu di pistol asli.

Di saat keributan itu, kita akan tukar berliannya.

Itu tak masalah, tapi kenapa harus ke Kullu?

Kullu punya bandara kecil. Tak bisa menampung banyak penumpang.

Sudhanshu akan mudah menyelinapkan berliannya.

Tapi kenapa kita harus memasang bom?

Bukan bom, tapi bom cokelat.

Itu akan memberi kita tambahan 20 menit.

Ada bom.

Semuanya harus evakuasi!

Dalam kekacauan itu,

para pembajak berganti baju dan keluar sebagai penumpang.

Nyonya, kita bisa mencuri berliannya di tempat lain.

Kenapa mengambil risiko pembajakan?

Karena tugas kita tak hanya mencuri berlian.

Aku ingin memberi pelajaran pada bajingan.

Hajar wajahnya habis-habisan...

sampai dia tak mau bercermin lagi.

Aku tak tahu kau begitu nekat.

Kami tak melakukan apa pun, Pak.

Ini kesalahpahaman.

Pak, tolong hubungi Omar dan tanyakan padanya.

Tolong lepaskan kami. Kami tidak melakukan apa pun.

Lalu siapa yang mengirim ini padamu?

KODE KOPER BERLIAN - 483

Siapa yang mengirimnya, Pak?

Aku tak tahu.

Tapi aku tahu seseorang membalas dendam padamu.

Apa apel diperbolehkan dalam diet vegan?

Aku suka melihatmu begini.

Kau menipuku agar bisa mencuri berliannya, 'kan?

Jika tidak, kau tak peduli dengan gadis sepertiku.

Kini, siapa yang peduli padamu?

Pikirmu kau mempermainkanku?

Akulah yang mempermainkanmu.

Aku tak mau bekerja seperti ini lagi.

Tapi kau memintanya.

Hebat, Nona Neha.

Kukira Anda mengkhianatiku demi berlian itu.

Tapi balas dendam...

Anda mau bertemu lagi?

Aku jatuh cinta pada Anda.

Itu pasti seru.

Kau mau bertemu lagi?

Nyonya, sampanye Anda?

- Terima kasih. - Ada lagi?

Halo?

Hai, bisa aku bicara pada Nona Neha Grover?

Ya. Siapa ini?

Nona Neha, Anda sudah melupakan pacar Anda?

Terjemahan subtitle oleh Marsya Firina

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.