Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Road Home]
[Episode 18]
Sulit menjadi istri polisi.
Kenapa?
Ingin membatalkan pernikahan?
Kamu sudah menikahiku,
tidak bisa menyesal lagi.
Aku orang yang menepati janji.
Lagi pula,
bukan pergi bermain-main.
Suami yang memberikan setengah dirinya untuk negara,
aku sangat bersedia.
Tidak hanya setengah.
Mereka lembur dengan gila-gilaan.
Itu fakta.
Aku tahu itu fakta.
Tambah satu telur mata sapi lagi.
Makan semua jatah minggu depan.
Mau makan jianbing?
Mau.
Paman Lu juga bisa membuat jianbing?
Dia bisa sejak dulu.
Dulu saat kami sekolah,
di depan gerbang sekolah ada kios jianbing.
Bibi Gui Xiao-mu
sarapan di sana setiap hari.
Kemudian kami libur,
dia tidak buka kios.
Dia sangat ingin memakannya,
jadi memaksaku mempelajarinya.
Kemudian setelah latihan beberapa kali,
tekniknya sangat bagus.
Buatannya bahkan lebih enak
dari kios itu.
Yang paling penting adalah
bibi itu tidak mau menaruh telur
dan cakwenya juga sangat kecil.
Dia rela menaruh bahan.
Bahkan sambalnya juga dia buat sendiri.
Oh, ya.
Aku harus pesan makanan.
Cakwe Yonghe.
Aku sudah membelinya.
Kapan?
Setelah lari pagi.
Aku sekalian membelinya.
Kutebak kamu ingin memakannya.
Kamu memang memahamiku.
[Ayah]
Halo.
Xiaoxiao.
Aku ingin makan bersama ibumu
dan bicara dengan tenang.
Bisakah kamu mengaturnya untukku?
Dia punya pemikirannya sendiri.
Aku tidak bisa mengaturnya.
Ibumu
tidak mengangkat teleponku.
Dia tidak melarangmu menelepon,
berarti sudah sangat tenang.
[Perjanjian Cerai]
Xiaoxiao.
Apa orang tidak boleh melakukan kesalahan?
Jika melakukan kesalahan,
apakah tidak ada
kesempatan untuk memperbaikinya?
Waktu itu kamu masih muda,
jadi tidak tahu konflik yang ada.
Aku dan ibumu
sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Perasaan kami
menjadi makin pudar.
Sekarang kamu sudah dewasa.
Seharusnya kamu bisa memahami perasaan ini, 'kan?
Karena sudah dewasa,
kita bicara secara sejajar.
Kalau begitu,
aku katakan pemikiranku.
Aku belum pernah mengalami pernikahan.
Tapi, aku merasa
dua orang bersama-sama
membentuk sebuah keluarga,
maka harus menerima
kebaikan dan keburukan pasangan.
Hal-hal kecil dalam kehidupan,
gejolak pekerjaan,
bahkan kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian,
semua harus ditanggung bersama.
Dan satu-satunya batasan minimum
adalah kesetiaan.
Anda adalah pengusaha.
Aku akan menjelaskannya dengan bisnis.
Seperti kerja sama bisnis,
harus memperhatikan inti kontrak.
Dalam kerja sama,
tidak boleh karena
aku mengalami kesulitan hari ini
dan besoknya terjadi masalah,
lalu aku tidak memedulikan kontrak,
memutuskan kerja sama,
dan bubar.
Mana kesetiaannya?
Xiaoxiao.
Perasaan bukan bisnis.
Baik itu perasaan ataupun bisnis,
jika mengabaikan inti kontrak
dan mengkhianati mitra kerja,
maka dalam dimensi tertentu,
bisa mengetahui karakter orang ini.
Ini masalah kalian berdua.
Aku hanya memberikan acuan dan pendapat.
Ibuku bersedia bertemu denganmu atau tidak,
itu pilihannya sendiri.
Aku tidak ikut campur.
Aku tutup dulu.
Makanlah selagi panas.
Rasanya masih sama.
Rasa milik Lu Chen.
Pantas menjadi pengusaha.
Sungguh pandai bicara.
Aku sangat tulus padamu.
Tadi itu ayahmu?
Apa dia ada di rumah?
Ayo kita ke sana sebentar.
Untuk apa ke sana?
Aku tidak pernah pergi ke rumahnya.
Kalau membicarakan pernikahan,
bukankah seharusnya berkunjung ke rumah?
Sebagai sopan santun.
Tidak perlu.
Aku memutuskan masalahku sendiri.
Aku sudah akan pergi sebulan.
Hanya ada waktu hari ini.
Pernikahan adalah hal yang sangat penting.
Bisakah kamu bersikap baik?
Kenapa aku tidak benar?
Sudah bukan pertama kalinya
aku membicarakan masalah ke rumah.
Kamu selalu menghindar.
Tidak menghindar.
Kamu mau menikahiku atau ayahku?
Kenapa harus bertemu dengannya?
Gui Xiao.
Telepon dari kakakku.
Angkat dulu.
Halo, Kak.
Halo.
Di mana kamu?
Apa di tempat kerja?
Kulihat kamu tidak ada di bengkel.
Aku di rumah Xiaoxiao.
Kalau begitu, kamu kemari dulu.
Restoran milik Meng Xiaoshan.
Baik.
Aku mengerti.
Cepat pergi.
Bukankah tadi aku...
Kalau mau bertengkar, bertengkar di rumah.
Lakukan hal penting dulu.
Kelak kita tidak bertengkar lagi.
Siapa yang bertengkar denganmu?
Aku akan meneleponmu setelah tiba di sana.
Hati-hati di jalan.
Bagaimanapun juga, tidak boleh buru-buru saat menyetir.
Qin Xiaonan.
Aku pergi sebentar.
Baik.
Aku kira
tadi kalian bertengkar.
Orang dewasa tidak bertengkar.
Jika ada konflik, selesaikan masalah.
Dulu orang tuaku bertengkar.
Apa yang mereka ributkan?
Aku sudah tidak ingat.
Tidak ingat
juga cukup bagus.
Hati manusia
hanya sebuah tempat yang kecil.
Jika menyimpan terlalu banyak hal buruk,
maka tidak bisa menyimpan hal bagus.
Berdasarkan pengalamanku
yang hidup 20 tahun lebih lama darimu,
tahukah kamu
apa yang paling layak diingat?
Apa itu?
Apa yang enak?
Ini harus diingat.
Misalnya,
cakwe di dalam sini.
Memang sangat enak.
Aku akan membawamu makan ampela bakar nanti.
Ditaburi dengan jintan,
kujamin kamu kecanduan.
Apa yang membuatmu tidak senang?
Bukankah aku sudah memberimu harga diri?
Paman,
kita tidak boleh seperti ini.
Jangan begini.
Minggir.
Paman.
Aku katakan padamu.
Waktu itu karena aku
memikirkan putri dan putraku,
baru terpaksa setuju untuk rujuk denganmu.
Kenapa?
Aku bahkan tidak mempermasalahkan masalah kamu menikah lagi.
Kamu masih mempermasalahkannya.
Saat aku bercerai denganmu,
dia selalu mengikutiku.
Dia tidak mengungkit apa pun.
Kenapa?
Apa aku tidak boleh makan dengan orang lain?
Lagi pula,
aku... aku juga tidak tahu
kalian akan datang.
Sudah berapa kali kamu katakan padaku
kalau kamu tidak berhubungan dengannya lagi?
Menurutmu, benar-benar...
Omong kosong.
Jika aku tidak berkata begitu,
apa kamu bisa bahagia?
Paman,
kalau Anda berkata begitu,
maka Anda yang salah.
Waktu itu Anda yang memohon untuk rujuk.
Jika tidak,
mana ada uang untuk menyelamatkan bengkel?
Semua tetangga tahu hal ini.
Selain itu,
Anda juga menggunakan
uang dari pernikahan barunya
untuk menyelamatkan bengkel.
Jangan ikut campur urusan keluarga kami.
Kamu bocah mengerti apa?
Bukan.
Tentu saja aku tahu.
Ayahku yang bertanggung jawab
dan menandatangani surat jaminan.
Jika Bibi menikah lagi dengan Anda,
maka Anda akan langsung
memutuskan hubungan di luar.
Lu Chen.
Awalnya kami tidak ingin memanggilmu,
tapi Ibu hanya mendengarkanmu.
Bagaimanapun dia tidak bisa ditarik pergi.
Kami takut akan menimbulkan keributan jika tetap di sini.
Tidak apa-apa.
Ini urusan keluargaku sendiri.
Menurutmu, pekerjaanmu begitu sibuk,
setiap hari ada banyak masalah di tim.
Kami sebagai keluarga polisi,
seharusnya membuatmu
tidak memiliki kekhawatiran.
Kita bicarakan di dalam.
Kutanya, apa yang ingin kamu lakukan hari ini?
Kamu sudah selesai, belum?
Sudah selesai, belum?
Kamu...
Jangan memalukan di luar.
Kalau ada masalah, kita bicarakan di rumah.
Bocah, ini bukan urusanmu.
Aku beri tahu kamu.
Aku makan di restoran
dengan baik.
Ibumu masuk ke ruangan dan membalikkan meja.
Kamu tidak boleh
selalu membela ibumu, 'kan?
Apa yang kamu lakukan
sehingga ibuku membalikkan meja?
Apa aku tidak tahu seperti apa temperamen ibuku?
Kamu membawa wanita itu makan,
aku tidak akan membahasnya.
Tapi di belakang,
kamu tidak boleh mengatai pamannya.
Pamannya apanya?
Dia hanya pria yang kamu nikahi untuk kedua kalinya.
Bocah,
apa kamu ingin memukul ayah kandungmu?
Kamu adalah polisi rakyat.
Percaya atau tidak,
aku akan melaporkanmu ke tempat kerjamu?
Aku akan membuatmu tidak bisa menjadi polisi lagi!
Dengarkan lagi, dengarkan baik-baik.
Ibumu bukan hanya ibumu,
tapi juga istriku.
Masalah kami berdua
bukanlah urusanmu!
Hari ini aku beri tahu kamu,
kalau hari ini aku tidak...
Ayah, aku beri tahu Anda,
sebenarnya...
Siapa kamu?
Suamiku.
Kamu baik-baik saja, 'kan?
Aku baik-baik saja.
Ayah.
Kulihat Anda adalah mertuaku,
jadi biasanya aku tidak perhitungan dengan Anda.
Tapi, hari ini Anda...
Anda sudah keterlaluan.
Cukup!
Aku akan memperhitungkannya denganmu setelah pulang nanti.
Jangan lihat lagi.
Lakukan pekerjaan kalian.
Semuanya bergerak.
Meskipun pelanggan sedikit saat siang hari,
juga tidak boleh menganggur.
Cepat pergi, pergi kerja.
Sakit, tidak?
Sakit.
Sudah dewasa masih manja.
Dulu mengungkitnya sesekali,
sekarang dari pagi sampai malam
mengatakan pernikahan baruku.
Bagaimana bisa
menjalani hari-hari ini?
Sudah makan, belum?
Semuanya belum makan.
Kita pergi ke ruang pribadi.
Aku pesan beberapa hidangan.
Makan saja dulu.
Ayo.
Ibu.
Makan dulu.
Baik.
Kakak Ipar.
Hari ini libur?
Ti... tidak libur.
Nanti aku
masih harus ke sekolah untuk rapat.
Meskipun hari ini hari Minggu,
tapi murid SMA kelas tiga masih harus masuk kelas.
Aku tidak tenang jika tidak pergi.
Kalau begitu, cepat makan.
Kalau begitu, aku tidak sungkan lagi.
- Aku masih harus pergi. - Ayo makan.
Kak, makanlah.
Pelan-pelan.
Bagianmu masih ada.
Aku sudah lapar.
Kalian makan dulu.
Aku
punya beberapa hal yang ingin kubicarakan.
Kamu juga makan.
Bicarakan hal penting dulu.
Setelah selesai bicara baru makan.
Ibu.
Ada satu hal,
hari ini Kakak juga ada,
jadi akan kutanyakan sekalian.
Saat itu kamu membawa tiga anak
dan tidak punya cara lain sehingga rujuk dengan ayah.
Tapi sekarang,
apa kamu dan ayah
masih mau hidup bersama?
Bagaimana menjalaninya?
Pernahkah Anda memikirkannya?
Aku tahu,
kalian sudah menderita mengikutiku.
Sekarang kalian sudah dewasa,
juga sudah punya pekerjaan.
Bahkan itu pekerjaan yang bagus.
Ibu juga bisa tenang.
Ibu sudah berumur,
tidak ingin menyiksa diri lagi.
Kehidupan seperti apa tetap harus dijalani.
Anda masih muda.
Jaga kesehatan dengan baik.
Hidup lebih nyaman.
Kehidupan masih panjang.
Benar, Ibu.
Kehidupan masih panjang.
Harus hidup dengan baik.
Taotao,
cepat makan.
Bukankah kamu bilang masih mau ke sekolah?
Benar.
Semuanya mari makan.
Nanti
ingat kirimkan tagihannya padaku.
Aku akan transfer padamu.
Aku yang traktir.
Kamu datang tepat waktu, jadi tidak menimbulkan keributan,
membuatku selamat dari banyak masalah.
Ini masalah yang berbeda.
Ingat kirimkan padaku.
Baik, Kapten Lu.
Mana mobilmu?
Aku tidak mengemudi tadi pagi
agar menghemat uang bensin.
Lalu, berjalan ke sekolah.
Tadi kakakmu menelepon,
aku terburu-buru
dan berlari sepanjang jalan.
Aku antar kamu ke sekolah.
Baik.
Pergilah.
Rumah dekat.
Aku dan Tongtong berjalan pulang saja.
Ayo.
Hati-hati.
Aku pergi dulu.
Baik.
Lu Chen.
Sebenarnya perceraian ini,
kakakmu sudah mengungkitnya berkali-kali.
Tapi, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
Karena aku termasuk setengah orang luar.
Menurutmu benar, 'kan?
Ibu
memiliki kekhawatirannya sendiri, aku mengerti itu.
Masalah ini tidak boleh buru-buru.
Kelak,
kuusahakan aku dan kakakmu yang menyelesaikannya.
Tidak akan mengganggu pekerjaanmu.
Bukan takut mengganggu pekerjaan.
Ibu sudah tua,
aku tidak ingin dia menderita.
Menurutmu, apa aku benar-benar ingin mereka bercerai?
Belum tentu.
Hanya saja kalau hidup seperti ini,
mereka berdua juga tidak nyaman.
Pacarmu...
Tunanganku.
Dia naif dalam hal ini.
Dia merasa asalkan itu aku,
yang lain tidak masalah.
Sekarang gadis seperti ini terlalu sedikit.
Jadi, aku tidak bisa
membiarkannya ikut campur dalam hal ini.
Aku tidak rela
dia menderita dalam hal ini.
Makan yang semangat.
Tidak boleh tersisa.
Baik.
Ini anakmu?
Bukan.
Anak temanku.
Dilihat dari ekspresinya saat melihatku,
kukira dia anakmu.
Mewakili ayahnya
memeriksa orang ketiga di sini.
Sungguh nakal.
Duduklah.
Aku duduk di mana?
Kamu duduk di samping anak saja.
Ibuku akan segera tiba.
Kalian lebih mudah mengobrol kalau berhadapan.
Baik.
Perkenalkan dulu.
Aku adalah teman kuliah
Bibi Gui Xiao-mu.
Sama tingkat, tapi beda jurusan.
Qin Lang.
Istriku
adalah sahabat karib
Bibi Gui Xiao.
Kali ini sudah tenang, 'kan?
Ibuku sudah memperlihatkan
perjanjian perceraian yang kamu buat pada ayahku.
Ayahku
ingin menunjukkannya pada departemen hukum dulu.
Perjanjian itu cukup sederhana.
Ibumu hampir tidak menginginkan apa pun.
Dia hanya ingin bebas.
Sebaliknya ayahmu,
membuat persiapan penuh.
Sungguh tidak jantan.
Ayahku hanya tidak ingin bercerai.
Orang kaya tidak ingin bercerai.
Yang tidak punya uang berusaha keras untuk bercerai.
Ibumu sudah mencari ayah tiri untukmu.
Aku akan tutup mulut.
Maaf, Pengacara Qin.
Aku datang terlambat.
Kamu dan Lu Chen diam-diam punya anak?
Kuperkenalkan padamu,
ini ibuku,
Shen Jin.
Halo, Nenek.
Kamu hanya memberitahuku tentang pernikahan,
tapi tidak memberitahuku
masalah sebesar ini.
Masalah sebesar apa?
Lagi pula, bukan aku yang melahirkannya.
Sungguh bukan kamu yang melahirkannya?
Aku masih mengira,
putriku sudah sangat berkemampuan.
Bisnisnya sangat sukses,
sekaligus menjebak cinta pertama
dan melahirkan anaknya.
Berhati-hatilah saat bicara.
Masih ada anak.
Untung saja,
aku punya kebiasaan membawa angpau.
Teman-teman sekelasku yang dulu itu
sudah punya banyak cucu.
Masih ada satu.
Ini.
Ambillah.
Ambil saja.
Katakan terima kasih.
Terima kasih.
Pintar sekali.
Sungguh bukan kamu yang melahirkannya?
Pengacara Qin.
Mari kita bicarakan
mengenai perjanjian perceraian.
Baik.
Baterai ponsel sangat cepat habis.
Aku lupa memberitahumu sesuatu.
Dulu selalu ingin memberitahumu,
tapi melihat kalian berdua putus,
jadi,
merasa tidak perlu diungkit.
Berputar-putar.
Ada apa?
Ayahmu pernah bertemu dengan Lu Yanchen.
Kapan?
Sudah beberapa tahun yang lalu.
Saat itu Lu Yanchen belajar di akademi kepolisian.
Ayahmu pergi menemuinya
saat dinas kali itu.
Bukankah dulu ayahmu
juga lulusan akademi kepolisian?
Dia punya banyak kenalan lama di sana.
Tidak sulit untuk menemukannya.
Ayahmu bertemu dengannya
untuk menyuruh dia putus denganmu.
Apa yang dia katakan?
Aku tidak tahu.
Mantan sekretarisnya yang memberitahuku.
Berdasarkan pemahamanku terhadapnya,
pasti hanya karena
merasa prestasi Lu Yanchen tidak sebagus kamu,
keadaan keluarganya lebih rumit darimu,
merasa dia tidak pantas untukmu.
Ada apa?
Mau cari toilet?
Tadi saat aku makan satai itu,
sudah agak dingin.
Melihat kalian tidak kunjung kembali,
jadi ingin mengingatkan kalian.
Kalau masih tidak dimakan, satai itu tidak enak lagi.
Baik, aku tahu.
Kamu kembali dulu.
Kami akan segera ke sana.
Baik.
Ini anak temanmu yang mana?
Begitu pengertian.
Melihatnya membuat orang merasa kasihan.
Anaknya saudara Lu Chen.
Dia di Qining,
sibuk bekerja menjinakkan bom,
biasanya juga tidak kelihatan orangnya.
Tidak ada yang peduli pada anak itu.
Jadi, Lu Chen membawanya kemari untuk belajar.
Membuat janji dengan pengacara untuk membicarakan perceraian,
untuk apa kamu membawa
anak orang lain ke sini?
Aku punya pemikiranku sendiri.
Kita semua sudah dewasa,
menghormati pemikiran masing-masing.
Baik.
Bibi Gui Xiao,
aku punya pertanyaan.
Sejak Paman Lu pergi tadi siang,
kalian berdua tidak berhubungan sama sekali,
juga tidak menyapa
atau tidak menelepon.
Bukankah dia sedang mengurus masalah?
Aku juga sedang mengurus sesuatu, 'kan?
Setelah urusan selesai, tentu saja akan berhubungan.
Coba saja kalau ayah dan ibuku
seperti kalian.
Mungkin tidak akan bercerai.
Bibi Gui Xiao,
aku masih ada satu pertanyaan.
Tanya saja.
Kenapa kamu
mau membantu
ayah dan ibumu bercerai?
Aku menunggu kamu menanyakan ini.
Hari ini aku membawamu kemari
untuk memberitahumu,
menikah
adalah demi kebahagiaan dua orang.
Perceraian juga sama.
Jadi,
kamu harus memahami ayah dan ibumu.
Tentu saja.
Sekarang kamu mungkin
masih belum terlalu mengerti.
Tidak apa-apa.
Bibi Gui Xiao sama denganmu.
Ayah dan Ibu sudah berpisah sejak kecil.
Tapi, lihatlah.
Bibi Gui Xiao
selalu hidup dengan senang.
Nilai sekolah lumayan,
pekerjaan juga bagus.
Jadi,
perceraian
adalah urusan orang dewasa.
Kamu jangan terpengaruh.
Mereka memiliki kehidupan mereka,
kamu memiliki kehidupanmu sendiri.
Apa kamu mengerti?
Apa yang ingin kamu makan
dan apa kamu bisa makan makanan
yang kamu inginkan dengan bebas,
harus mengandalkan dirimu sendiri.
Apa kamu mengerti?
Baiklah.
Giliran aku bertanya padamu.
Satai hari ini,
paling suka makan yang mana?
Menurutmu mana yang paling enak?
Bukankah sudah kukatakan padamu?
Harus ingat apa yang paling enak.
Dengan begini,
lain kali saat datang, kamu bisa pesan lagi.
Ampela bakar.
Memang anak yang aku jaga.
Sama sepertiku.
Ayo pergi.
Kamu sudah berbicara dengan ibumu?
Saat orang tuamu bercerai,
sendirian sedih juga.
Ada beberapa waktu yang memang sedih,
tapi bukan dibilang sedih juga.
Hanya saja,
ayahku memiliki orang ketiga,
membuatku merasa ini sebuah penghinaan.
Merasa dia tidak pantas menjadi ayahku.
Aku tidak bisa menerimanya secara moral.
Lalu, kenapa kamu memaafkannya?
Saat aku kembali dari sekolah di luar negeri,
dia sakit.
Dia mengeluarkan surat pemberitahuan kritis
untuk menyuruhku ke sana.
Biarkan aku dan pengacaranya
menulis surat wasiat.
Bukan karena uang.
Mungkin karena terharu
oleh tindakan seperti ini.
Tapi terharu adalah urusanku sendiri.
Keputusan ibuku tidak ada hubungannya dengan ini.
Tidak mau minum lagi.
Orang tuaku berpisah
setelah aku lulus SMA.
Jadi, tidak berpengaruh
terhadap pertumbuhanku.
Duan Rou yang kasihan.
Sejak kecil dia jarang bertemu
orang tuanya sendiri.
Mulai besok,
ada sebuah misi jangka panjang.
Setelah bisa kembali,
aku akan pulang ke rumah bersamamu.
Berdiri dengan baik.
Berdiri tegak.
Jawab dengan serius.
Kenapa tidak membawaku ke rumah?
Aku, Lu Yanchen, pernah berjasa tingkat dua,
bermoral baik,
juga lumayan tampan.
Tidak hanya lumayan.
Orang yang tampan membawa malapetaka.
Jawab dengan serius.
Kenapa?
Tidak ingin kamu dihina.
Aku boleh menderita,
tapi kalau aku melihatmu dihina,
aku tidak tahan.
Sedikit pun tidak bisa.
Tidak ada yang boleh menindasmu.
Mulai sekarang,
hanya aku yang boleh menindasmu.
Jika ada orang lain yang menindasmu,
aku bisa melawannya mati-matian.
Bukan untuk membujukmu.
Tulus dari hatiku.
Maaf.
Kamu melakukan
hal bersalah apa padaku?
Aku pernah berjanji padamu saat sekolah.
Bagaimanapun juga,
apa pun yang kita alami, tidak akan putus.
Tapi akhirnya tetap putus.
Maaf.
Bisa membuka
mulutmu yang pendiam ini
benar-benar lebih sulit daripada pergi ke bulan.
Selamat.
Sudah sampai di bulan.
Ikan tupai.
Ayam Kung Pao.
Daging babi rebus bihun.
Siapkanlah.
Aku pergi dulu.
Bahaya, tidak?
Tidak berbahaya.
Kelas seminar.
Apakah ada anggota wanita baru?
Setengah, setengah.
Aku lupa membelikan cincin untukmu.
Pakai cincin di jari kelingking, menghalangi godaan.
Setelah keluar, harus sadar diri.
Kalau kehilangan istri sepertiku
yang kaya, cantik,
besar hati, pengertian,
dan setia,
adalah kerugianmu,
bukan aku.
Tidurlah.
Sudah datang.
Sudah datang, Kapten Lu?
Sudah berapa lama tidak bertemu?
Masih begitu tampan.
Kapten Lu.
Kapten Lu.
Lihat ini.
Masih ada 10 menit.
Cepat hafal.
Hari ini atasan sudah mengatakan.
Bertemu anggota baru, kamu harus memimpin.
Yang ini harus dihafal.
Terakhir kali membuat laporan,
tidak sempat
untuk menyapamu, sudah kembali ke Qining.
Bagaimana?
Anggota kelas kalian
semua baik-baik, 'kan?
Lumayan.
Belum membuat masalah.
Kelas ini
adalah siswa-siswa terbaik
yang baru lulus dari berbagai akademi kepolisian.
Bukankah semua yang kita bimbing
adalah murid-murid terbaik?
Sama seperti kalian.
Benar-benar tidak perlu rendah hati.
Saat itu,
aku selalu juara satu di kelas.
Maaf.
Di sini ada
orang yang selalu juara satu di angkatan.
Aku satu angkatan dengannya.
Setiap kali perwakilan murid selalu dia.
Menyebalkan sekali.
Jangan ribut lagi.
Lihat ini.
Harus menjaga citra di luar.
Benar, 'kan,
dua pahlawan sekalian?
Semuanya.
Kami berenam
adalah instruktur kalian semester ini.
Margaku Lu.
Di jadwal pelajaran kalian,
ada namaku.
Hari ini
adalah pertemuan pertama kita.
Aku percaya,
ke depannya,
kalian akan lebih memahamiku.
Selanjutnya,
adalah perkataan yang cerewet.
Peraturan dan sistem ini
tertulis jelas di kertas.
Tapi,
aku harus menghafal semua kata-katanya tanpa salah.
Jika tidak,
kami berenam
akan dipotong gaji.
Di sini bukan akademi kepolisian lagi.
Dengar baik-baik.
Ingat.
Hafalkan.
Pertama-tama,
mengenai pakaian.
Saat latihan,
harus memakai seragam.
Seragam harus satu set.
Seragam di musim yang berbeda,
tidak boleh dipakai bersama.
Saat pelajaran,
harus memakai sepatu kulit formal.
Warna sepatu kulit,
hitam atau cokelat.
Tinggi sepatu pria
tidak boleh lebih dari 3 cm.
Untuk rekan wanita,
tidak boleh lebih dari 4 cm.
Tidak boleh pakai
kaos kaki berwarna putih atau bermotif.
Tidak boleh muncul sepatu kain,
sandal
atau bertelanjang kaki.
Permukaan sepatu harus tetap mengilap.
Mengenai seragam,
kami mengizinkan
mengganti pakaian saat pergantian musim.
Saat kegiatan bersama,
harus berpakaian seragam.
Kedua,
adalah beberapa aturan kecil.
Sambil jalan sambil makan,
tidak diperbolehkan.
Merokok di tempat umum
dan area terlarang,
tidak diperbolehkan.
Saat memakai seragam,
tidak boleh melakukan hal-hal berikut.
Melingkarkan lengan,
memeluk pinggang,
merangkul pundak,
memasukkan tangan ke saku,
menyembunyikan lengan,
meletakkan tangan di belakang punggung,
duduk di tanah,
bermain-main,
dan membuat keributan.
Apa sudah jelas?
Sudah.
Ada yang ingin ditanyakan?
Lapor.
Katakan.
Instruktur.
Berapa waktu yang kamu gunakan
untuk menghafal peraturan panjang ini?
Sepuluh menit.
Sekarang mulai berbaris.
Istirahat di tempat gerak.
Tegak gerak
Ayo.
Makan buah.
Banyak sekali.
Diberikan oleh satpam.
Lu Chen mengajari orang memperbaiki mobil.
Ini adalah hadiah ucapan terima kasihnya.
Lu Chen
baik hati.
Orang yang bersedia melakukan
hal yang tidak ada balasannya semuanya baik.
Tentu saja.
Kalau ingin melihat karakter seseorang,
harus melihat
sikapnya terhadap orang di industri pelayanan.
Dalam hal ini,
dia tidak pernah mengecewakanku.
Oh, ya.
Beberapa hari ini,
bantu aku menjaga Qin Xiaonan.
Aku tidak tahu kenapa,
selalu merasa tidak nyaman.
Aku takut menularkannya jika sakit.
Tidak masalah.
Saat dia pulang sekolah, aku akan menjemputnya.
Apakah bahan peledak yang kamu buat
bermasalah?
Tidak ada yang bisa membongkarnya.
Ada beberapa yang tidak mungkin bisa dibongkar.
Pasti meledak saat tiba waktunya.
Kamu sungguh kejam.
Aku ingin melihat
kualitas murid angkatan ini
dan tingkat pengenalan mereka
terhadap sirkuit.
Jumlah bubuk mesiu tidak berbahaya, 'kan?
Buzzer menggantikan detonator.
Dan juga jumlah bubuk mesiu
yang sebanyak ujung korek api saja.
Kalau begitu, masih oke.
Lima orang satu tim.
Dua orang akan mendapat peluru asli secara acak.
Tim berikutnya, tegak gerak.
Hadap kanan gerak.
Maju gerak.
Lihat.
Semuanya jadi serius, 'kan?
Tidak takut.
Tidak akan dianggap serius.
Kapten Lu.
Lihat.
Ini, selain tim pertama,
karena tidak tahu sama sekali,
nilainya masih lumayan.
Tim yang lain,
jelas sekali tekanan psikologis mereka terlalu berat.
Benar-benar ada yang tidak berani maju.
[Evaluasi pelatihan penjinakkan bahan peledak]
Semua diberi nilai nol.
Nilai anggota tim wanita baru semuanya bagus.
Gadis angkatan kali ini
semua cukup berani.
Daftar nilai kali ini ditempel di papan pengumuman.
Selanjutnya,
semua dimasukkan ke rapor.
Beri tahu mereka,
ini adalah sistem eliminasi.
Jika nilai tidak memenuhi standar,
kembali ke titik awal lebih cepat.
Baik.
Selalu mendengar ketua kami bilang
kemampuan produksimu sangat hebat.
Hari ini,
setelah melihatnya, memang benar.
Murid baru yang nilainya bagus
sedang bertanya,
siapa yang membuat bahan peledak ini?
Sangat mengagumimu.
Semuanya dilatih selangkah demi selangkah.
Saat aku dipindahkan ke Qining,
tidak mengenali semua bahan peledak,
juga sering dimarahi oleh kapten lama.
Instruktur Lu.
Instruktur Lu.
Instruktur sedang melihat apa?
Berikan kami referensi juga.
Perkenalan data ledakan terbaru.
Dalam bahasa Rusia.
Aku harus mengerti dulu,
baru bisa menerjemahkannya kepada kalian.
Instruktur mengerti bahasa Rusia juga?
Dulu saat sekolah di Qining,
pernah mempelajari
bahasa Mongol, Jepang, Rusia.
Komunikasi biasa
dan melihat data-data profesional ini,
semuanya lumayan bisa.
Instruktur Lu.
Instruktur Xu bilang padaku,
di latihan hari itu,
kamu sendiri
yang membuat bom kami.
Instruktur Xu juga bilang padaku,
kamu adalah genius ganda dalam
pembongkaran dan pelemparan bom.
Bukan hanya aku.
Banyak yang menjinakkan bahan peledak
adalah ahli pelemparan bom.
Kelak setelah pergi ke garis depan,
kalian akan tahu.
153339.
Hadir.
153299.
Hadir.
Lain kali kalau bertanya lagi
pertanyaan seperti ini yang pernah dibahas di kelas,
langsung potong nilai.
Apakah masih ada pertanyaan?
- Tidak ada lagi. - Tidak ada lagi.
Semua pelamar sudah datang.
Ayo pergi bersama.
Aku bahkan tidak bilang
mau merekrut pegawai magang,
Departemen Personalia sudah menyiapkannya.
Begitu dilihat,
semuanya adalah anak industri ini.
Kalau tidak,
anak dari para bos perusahaan besar.
Menurutmu, jika mereka melakukan kesalahan,
mau dimarahi atau tidak?
Bagaimana memarahi mereka?
Marah saja jika perlu.
Jangan ditahan.
Ini demi kebaikan mereka.
Kelak mereka akan mengerti.
Halo semuanya.
Kalau begitu, kita
wawancara satu per satu.
Pelamar pertama tinggal di sini.
Sisanya,
tunggu di halaman dulu.
Youyou, seduhkan teh untuk mereka.
Baik.
Silakan ikut denganku.
Aku sudah melihat resume kalian.
Dan rapor,
semua sertifikat,
aku juga sudah melihatnya.
Jadi, setidaknya
sudah ada sedikit pemahaman.
Saat kamu wawancara putaran pertama,
kepala Departemen Personalia kami
juga sudah menanyakan yang perlu ditanyakan.
Penilaiannya sangat tinggi.
Pertemuan hari ini terutama ingin
mengenal dirimu sendiri.
Biasanya kamu suka apa?
Saat kamu istirahat,
kamu suka bermain apa?
Yang di luar ruangan
atau di rumah?
Katakan saja.
Pekerjaanku sebelumnya
setiap hari lembur.
Saat istirahat,
aku lebih suka
menonton drama di rumah.
Kalau olahraga,
aku jarang olahraga.
Santai sedikit.
Mengobrol saja sesuka hati.
Bicaralah dengan santai.
Semakin santai mengobrol,
kami semakin bisa memahami dirimu yang sebenarnya.
Pekerjaan sebelumnya,
auditor.
Apa pernah menghitung babi?
Aku punya teman
setelah lulus kuliah, menjadi auditor.
Dia pergi ke sebuah
perusahaan peternakan terbuka,
khusus menghitung babi.
Menghitung satu per satu.
Waktu itu dia setiap hari mengeluh padaku.
Benar.
Terus terang saja.
Keluhan temanmu padamu itu
sama sekali tidak salah.
Waktu itu aku juga pernah menghitung babi.
Babi ini
tidak seperti kerbau.
Kerbau besar,
tidak sembarangan lari,
mudah dihitung.
Minggu itu,
aku menghitung sampai hampir menangis.
Saat menghitung, mereka lari ke mana-mana lagi.
Aku jadi harus menghitung ulang.
Kami punya pepatah,
segala sesuatu bisa dihitung.
Yang paling aneh adalah babi.
Begitu kamu tiba di sana,
harus membedakan
babi jantan dan babi betina dulu.
Dua jenis ini
termasuk aset yang berbeda.
Astaga.
Saat itu, aku pergi di musim panas.
Begitu masuk ke kandang babi,
hampir pingsan karena terlalu bau.
Pewawancara kalian
gayanya seperti apa?
Apakah bisa dikatakan?
Dia cukup santai.
Kalian semua sudah lolos
wawancara tahap satu dan dua.
Wawancaranya utamanya untuk melihat
apakah karakter cocok dengan tim atau tidak.
Bosku pernah bilang,
wawancara tergantung pada jodoh,
semua yang lolos adalah elite.
Yang terakhir dibicarakan adalah nilai pandang,
cara melakukan sesuatu,
dan batasan.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.