Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Road Home]
[Episode 17]
Saat kecil aku merasa
putus adalah
sebuah hal yang sangat mudah.
Selalu diungkit,
diungkit berkali-kali.
Tapi hanya sekali itu,
dia langsung setuju.
Mungkin tidak tahan lagi.
Hanya berpura-pura.
Cinta pertama tidak mengerti pacaran.
Rasanya
selalu ingin menggunakan putus
untuk mati-matian membuktikan
pihak lain sangat menyukai dirinya sendiri.
Masih manja.
Saat itu begitu ada jerawat di wajahku,
langsung tidak ingin bertemu.
Masih murni.
Hanya suka.
Juga tidak menginginkan yang lain.
Juga tidak tahu bisa menginginkan apa.
Sebenarnya,
jika tidak bertemu Lu Chen lagi,
aku berpikir,
aku sudah menjalani hidupku
hingga kondisi nilai 100.
Lumayan bagus.
Jika tidak bertemu dengannya lagi,
aku mungkin
hidup sendiri juga cukup baik.
Aku malah tidak pernah berpikir hidup sendiri.
Masih mengharapkan.
Cari orang yang sama hebatnya denganku.
Satu tambah satu lebih besar dari dua.
Lihat nasib saja.
Lagi pula, lebih baik sedikit tapi berkualitas.
Aku pergi masak pangsit.
Kamu naik dulu.
Kalau sudah selesai
aku panggil kalian makan.
Makan pangsit lagi?
Sebagus apa pun keahlian memasak Lu Chen,
juga tidak bisa makan pangsit terus.
Belum selesai dimakan.
Bantu makan, ya.
Minggu ini sibuk,
jadi tinggal di Tianwen.
Mungkin tidak bisa kembali ke Beijing.
Baik.
Sibuk bekerja boleh tidak pulang,
tapi setiap hari harus berhubungan.
Luangkan waktu untuk menghubungi saja.
Perasaan harus dijaga.
Baik.
Kapan Kapten Lu pulang?
Minggu depan.
Minggu depan?
Bukankah ini baru hari Senin?
Bukankah dia sedang di Tianwen?
Setiap hari harus bolak-balik,
terlalu menyiksa dan melelahkan.
Bukankah orang dewasa demi pekerjaan?
Cepat naik.
Bantu Qin Xiaonan kerjakan PR,
nanti masih harus lembur.
Cepat.
[Kantor Polisi Detasemen SWAT Kota Qining]
Aku takut kamu tidak kembali.
Baru selesai diurus.
Minggu ini
sudah menyetujui cuti dua ketua tim.
Sekaligus melepaskan dua orang,
apakah kamu sanggup?
Aku pergi begitu lama,
sudah waktunya mereka istirahat.
Masih harus melapor kepada Anda.
Aku akan menikah.
Nona Qining
pulang bersamamu?
Dari Beijing.
Tidak dengar
pemimpin kamu dulu pernah mengatakannya.
Semuanya bilang kamu jomblo,
tidak punya kehidupan pribadi.
Kenal sejak kecil.
Kenal sejak kecil?
Tapi masih terburu-buru menikah dan mengadakan pesta pernikahan?
Buru-buru.
Makin cepat makin baik.
Kapten Lu kita
juga ada hari ini.
Beberapa hari tidak pulang,
apa Kakak Ipar tidak marah?
Nanti aku akan menelepon dia.
Kalian berdua sangat serasi.
Jika ada masalah,
telepon saja.
Dulu terpisah dua tempat.
Setiap hari satu telepon.
Satu bulan dua surat.
Lalu berpisah.
Di tempatku ini
masih ada kertas ujian satu kelas,
harus selesai diperiksa sebelum dia tidur.
Jika tidak,
dia akan menungguku semalaman lagi.
Kamu,
dalam satu jam
tidak boleh bicara.
Setidaknya aku adalah wakil kapten.
Kamu bilang tidak boleh bicara...
aku... aku tidak akan bicara.
Lalu dulu antara kamu dan Kakak Ipar,
siapa yang mencampakkan siapa?
Aku masih ada setengah jam
akan mengadakan rapat.
Hari ini bersama dengan orang firma akuntan
dan firma hukum.
Air sodanya sudah dibeli.
Mau rasa apa?
Aku sisakan sebotol untukmu.
Rasa persik putih, yang dingin.
Baik.
Kenapa tidak bicara?
Sejak kapan kamu juga suka
minum rasa persik putih?
Enak.
Apa yang kamu makan siang tadi?
Makanan di kantin.
Menu dua daging dan tiga sayuran.
Tunjangannya cukup bagus.
Bagaimana denganmu?
Pangsit.
Tidak bosan?
Terlalu sibuk bekerja,
tidak ada niat untuk memikirkan makan apa.
Makan apa saja yang ada di rumah.
Lagi-lagi tidak bicara.
Aku memang jarang bicara.
Benar juga.
Sama sekali tidak berubah.
Baiklah.
Aku akan meneleponmu nanti.
Aku bersiap-siap untuk rapat dulu.
Tidak mengganggu pekerjaanmu lagi.
Aku tutup dulu.
Lupa mengucapkan sampai jumpa.
Sampai jumpa pun tidak bilang.
Bukankah kamu suka minum yang dingin?
Tidak enak lagi kalau tidak segera diminum.
Terima kasih.
Kamu menghindariku sejak kembali dari liburan.
Tidak.
Oh, ya.
Apakah kamu tahu
cincin merek apa yang bagus?
Cincin pertunangan.
Cincin pertunangan?
Aku ingin pergi melihat-lihat.
Pria yang harus membeli benda seperti ini.
Aku mau beli juga boleh.
Paling-paling,
nanti dia beli sepasang lagi.
Kami pakai secara bergantian saja.
Terima kasih.
Sebenarnya kalau tidak ada Lu Chen,
kamu dan dia juga cukup cocok.
Memahami masing-masing dan belajar di luar negeri bersama,
di luar negeri juga termasuk punya hubungan yang saling membantu
dan memperhatikan.
Kamu masih merasa kurang kacau?
Bisikkan padaku.
Kamu sudah lama diam-diam disukai,
tidak pernah tergerak sedikit pun?
Tidak.
Manusia juga bukan hewan yang dipasangkan.
Lihat siapa yang cocok langsung tergerak.
Tadi saat aku menutup telepon setelah
mengobrol dengan Lu Chen,
aku tidak mengucapkan sampai jumpa.
Menurutmu, apa dia akan berpikir terlalu banyak?
Dia adalah kapten tim SWAT,
apa akan berpikir berlebihan
karena pacarnya tidak mengucapkan sampai jumpa?
Memangnya pacaran dini?
Berapa usianya?
Khawatir berlebihan akan mengacaukan pikiran.
Ada apa?
Sudah bertahun-tahun tidak berbicara dengan wanita,
telepon pun sudah tidak mahir lagi.
Bertengkar dengan Kakak Ipar?
Dia...
tidak mengucapkan sampai jumpa saat menutup telepon.
Dia pasti marah.
Kamu juga merasa begitu?
Berdasarkan pengalaman cintaku
yang terbatas,
100% marah.
Ada apa?
Ada masalah lagi?
Tidak.
Jadi kamu meneleponku untuk...
Membicarakan masalah pernikahan.
Sekarang?
Aku bersiap untuk rapat.
Aku sudah melapor
kepada pimpinan.
Akhir pekan ini,
aku akan berkunjung ke rumahmu.
Akhir pekan?
Kita bicarakan lagi nanti.
Tidak leluasa bicara?
Tidak, aku hanya melihat
apakah ada pekerjaan di akhir pekan
baru bicarakan lagi.
Baik.
Baiklah, aku tutup dulu.
Bersiap untuk rapat.
Baik.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Bisakah kamu membimbing
jomblo sepertiku?
Kamu perkenalkan padaku
pengalaman kegagalan.
Kenapa dulu kamu dan Kakak Ipar
bisa berpisah?
Kami tinggal di dua tempat berbeda.
Ada beberapa waktu,
keadaan emosionalnya sangat parah,
sering tidak senang.
Aku juga tidak tahu kenapa.
Terlalu sibuk,
juga tidak sempat mencari tahu.
Dia bilang putus.
Aku menerimanya dengan marah.
Kemudian aku tahu dari adik sepupuku,
saat itu,
orang tuanya ingin bercerai.
Terlalu menakutkan.
Salah paham.
Semuanya salah paham.
Tidak termasuk salah paham.
Masih muda,
tidak bersedia mengalah.
Keduanya tidak bersedia.
Sebenarnya jika saat itu sudah dibicarakan jelas,
aku mengalah,
bukan masalah besar.
Semua tertunda oleh kearoganan.
Sebenarnya sekarang dipikir-pikir,
dua orang bersama
bukankah hanya bergantian mengalah
dan saling membujuk dalam melewati kehidupan ini?
Ya, benar.
Benar.
Hal seperti rasa arogan ini
digunakan untuk lawan,
bukan untuk keluarga.
Kamu cukup mengerti.
Ibuku yang bilang.
Bibi hidup dengan jelas.
Tentu saja.
Dia mengendalikan ayahku mati-matian.
Aku bisa memiliki masa kecil yang sempurna,
keluarga yang harmonis,
semuanya mengandalkan kecerdasan emosi tinggi ibuku.
Apa lagi yang Bibi katakan?
Terlalu banyak.
Jika ada kesempatan, kamu makan bersama ibuku,
dijamin pernikahanmu bahagia.
Bukankah aku menyuruhmu berhati-hati?
Pergi ke Qining sekali langsung hamil?
Tidak.
Lalu untuk apa menikah?
Apa pacaran tidak baik?
Lu Chen cukup baik padamu.
Setiap kali selalu kamu yang menyusahkan orang.
Tidak terlalu baik, 'kan?
Mau makan?
Masalah membatalkan pernikahannya,
bukankah karena berkat kerja kerasku
menarik orang tuaku
untuk membantunya menyelesaikan masalah?
Apa maksudnya aku menyusahkan orang?
Dia anak muda yang jujur dan baik,
ingin menikah,
ingin punya anak,
apakah itu salah?
Lagi pula,
hubungan mereka begitu baik,
ingin menikah,
hanya kamu yang mengomel di samping.
Jeruk atau apel?
Semuanya mau.
Baik.
Sejak kamu pergi ke Qining,
aku sudah menyuruhmu hati-hati,
jangan sampai hamil.
Ada sesuatu yang belum kukatakan padamu.
Keluarga Lu Chen
tidak sesederhana
yang kamu bayangkan.
Lebih tepatnya,
lebih rumit dari yang kamu lihat.
Kami sudah bertunangan.
Aku bukan ragu dan menyesal.
Aku hanya takut ayahku.
Saat kami di Qining,
dia menelepon Lu Chen.
Sikapnya itu
sangat tidak baik.
Aku khawatir begitu dia datang
akan ditindas.
Bagaimana sikap Paman, kita bicarakan lagi.
Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku.
Di keluarganya, selain dia dan kakak perempuannya,
masih ada adik laki-laki dan adik perempuan.
Tapi bukan dilahirkan oleh ibu yang sama.
Dulu, saat orang tuanya bercerai,
ayahnya tidak menikah
dengan pasangan kumpul kebonya
dan melahirkan adik laki-lakinya.
Ibunya menikah lagi,
dan dengan suami kedua
melahirkan seorang putri lagi.
Setelah suami kedua meninggal karena sakit,
dia menikah kembali dengan ayahnya
dan membawa pulang putri bungsunya.
Sangat rumit.
Untuk apa melihatku?
Apakah yang aku katakan itu kenyataan?
- Betul. - Ini.
Saat sekolah,
Lu Chen paling pemberontak di rumah.
Dia hanya
ingin menarik perhatian ayah kandungnya.
Jadi dia membiarkan ayah kandungnya
mengawasi dan memberi pelajaran pada dirinya sendiri.
Jangan sampai menyentuh kakak dan adik perempuannya.
Dia tidak pernah mengatakannya.
Sifatnya memang seperti ini.
Tidak mau bilang, bersikeras menahannya.
Tapi ini semua sudah berlalu.
Sekarang keempat orang ini juga memiliki
pekerjaan dan kehidupan masing-masing.
Xiaoshan terlalu banyak berpikir.
Tapi dia juga mengkhawatirkanmu.
Menurutku,
tidak perlu berpikir terlalu banyak.
Bukan,
ketiga kakak perempuan dan kakak iparmu itu
sejak kecil sangat baik denganmu.
Jika mengatasi hubungan keluarga,
aku merasa kepalaku sakit.
Keluarga mereka akan semakin sulit.
Sudah mengerti?
Kamu harus mempertimbangkannya dengan baik.
Lebih berhati-hati.
Adik perempuannya itu,
bagaimana keadaannya sekarang?
Dia juga bersekolah di akademi kepolisian.
Sekarang menjadi polisi penjara di Hebei,
jarang pulang.
Dia dan Lu Chen,
aku rasa
ingin kabur dari rumah ini.
Sejak kecil dia begitu menderita,
aku harus menikah dengannya lebih awal
dan memberinya keluarga yang normal.
Gadis bodoh.
Suamiku, aku ingin makan hotpot.
Baik.
Aku buatkan untukmu.
Apakah Lu Chen datang?
Dia ada di kepolisian minggu ini.
Kami sudah lama tidak bertemu.
Hari ini...
Sabtu?
- Benar. - Benar.
Dia pulang hari ini.
Ini kukembalikan pada kalian.
Kamu baru ingat?
Aku sampai bingung.
Aku pergi dulu.
Aku kira hari ini Jumat.
Sampai jumpa.
- Baik. - Pelan-pelan.
Tidak antar lagi.
Keduanya cukup cocok.
Semuanya gila kerja.
Cocok kamu masih menghalangi dia menikah.
Dia belum pernah menikah, tidak mengerti.
Sebagai temannya,
aku harus membantunya berpikir.
Tidak peduli dia suka dengar atau tidak,
aku harus mengingatkannya.
Ini adalah
tanggung jawabku sebagai seorang teman.
Mengerti, tidak?
Dulu saat aku menikahimu,
teman baikmu
tidak ada yang mendukung.
Kamu salah.
Gui Xiao mendukung.
Aku benar-benar tidak tahu.
Saat itu, dia baru belajar di luar negeri.
Di telepon dia bilang padaku,
yang penting kamu bahagia.
Asalkan kamu bahagia,
yang lain tidak penting.
Lu Yanchen.
Kebetulan.
Biar kuperkenalkan.
Mereka adalah teman lamaku,
belajar bersama di akademi kepolisian.
Lu Chen.
Halo, Paman.
Lu Yanchen.
Gui Yuanshan.
Kalian...
kenal?
Dia teman sekolah putriku.
Tidak termasuk teman sekolah.
Kakak adik kelas.
Kalau begitu kamu adalah seniornya.
Kebetulan sekali.
Kebetulan aku ingin mengantar mereka keluar.
Antar bersama.
Ayo.
Kepala Cabang.
Aku dan Lu Chen bicara sebentar.
Ingin mengetahui
kondisi pekerjaan putriku.
Mereka berdua adalah teman baik.
Silakan.
Sudah 11 tahun tidak bertemu.
Iya.
Kamu lebih hebat dari dugaanku.
Terima kasih.
Pekerjaan ini
sangat bagus dari berbagai aspek,
tapi tidak cocok untuk berkeluarga.
Karena kamu punya pilihan yang lebih baik,
seharusnya lebih memikirkan
keluargamu.
Negara dengan tak mudah mendidik seorang
orang yang bisa pergi ke garis depan.
Bekerja dua tahun lagi tidak masalah.
Jika tidak bekerja keras,
bagaimana bisa bertanggung jawab
pada saudara dan pemimpin lama
yang sudah berkorban?
Pendapatku masih sama.
Kalian berdua tidak cocok.
Kalau begitu hanya bisa menggunakan waktu untuk membuktikannya.
Membuktikan apa?
Membuktikan bahwa kami akan berjalan sampai akhir.
Dulu saat akademi kepolisian pergi bertugas,
dia terluka.
Tidak bisa maju ke garis depan,
jadi pindah profesi.
Kali ini dia datang untuk
memberikan peralatan pemusnah bahan peledak untuk kita.
Yang perusahaan mereka beli
semuanya yang paling modern.
Oh ya,
ada hal yang ingin aku diskusikan denganmu.
Jika masalah pekerjaan,
langsung saja berikan perintah.
Tidak ada yang perlu didiskusikan.
Bukankah ini karena mempertimbangkan
tadi kamu bilang mau menikah?
Misi keluar kota?
Bukan.
Tim Empat
meminta seorang tenaga pelatih kepada kami.
Waktu itu yang dipilih adalah kamu,
tapi kamu di luar kota.
Jadi mengutus Guru Gu.
Tidak disangka,
Guru Gu masuk rumah sakit lebih awal
untuk melahirkan.
Sepertinya memang ditakdirkan kamu yang pergi.
Kalau begitu, apa yang perlu didiskusikan?
Besok aku ke sana.
Tidak perlu besok.
Istirahatlah sebentar saat akhir pekan.
Kamu pergi hari Senin.
Tapi,
Tim Empat melakukan perekrutan besar-besaran.
Ada setengahnya adalah orang baru.
Baru lulus.
Aku ingin orang-orang baru ini
melakukan pelatihan tertutup selama sebulan.
Kamu akan sibuk.
Setidaknya selama satu bulan tidak bisa meninggalkan Tianwen.
Pulang
dan bicara baik-baik dengan calon istrimu.
Dia baru akan menjadi istri polisi,
tidak mengerti
dengan kondisi kita di sini.
Setidaknya dia harus punya persiapan mental.
Dia bisa mengerti.
Tapi, aku juga akan
menjelaskan padanya.
Dulu
aku selalu berpikir dia bisa mengerti aku.
Aku tidak menjelaskan secara langsung kepadanya,
bisa timbul banyak salah paham.
Itulah maksudku.
Dia memiliki kesadaran yang tinggi,
itu adalah urusannya.
Penjelasan yang harus kamu lakukan,
tetap tidak boleh kurang sedikit pun.
Aku sudah menunggumu setengah jam.
Ayo.
Aku akan pergi mengerjakan PR.
Aku temani kamu mandi.
Apa yang kamu alami?
Aku hanya ingin menemanimu.
Jika menemanimu mandi, masih bisa bersama lebih lama.
Aku akan ada sepanjang akhir pekan.
Sekarang sudah
Sabtu sore pukul empat,
Kapten Lu.
Mohon pengertiannya.
Aku mengerti.
Makanya harus menggunakan waktu istirahat dengan baik
dan bersama.
Menggunakan waktu untuk bersama-sama melakukan apa?
Hanya mengobrol dengan baik.
Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak.
Udara di kamar mandi tidak bagus,
takut kamu sesak.
Tidak apa-apa.
Jika sesak, aku akan keluar sendiri.
Cepat.
Biar aku periksa, kamu kurus atau tidak.
Lanjutkan.
Dasar malas.
Buka sendiri.
Saat memakai pakaian terlihat keren,
saat membuka baju berotot.
Tubuh Kapten Lu sangat bagus.
Terlalu memuji.
Kenapa tidak buka lagi?
Sudah berapa hari tidak bertemu?
Apa kamu tidak bisa menghitung?
♫Hai, hari ini hari apa?♫
♫Apa bisa bertemu denganmu♫
Beberapa hari ini aku sangat merindukanmu.
♫Agar detak jantung tetap di 110♫
Kamu makan apa?
♫Terus berdetak kencang♫
Tiba-tiba jadi pintar bicara.
Sudah mau menikah,
♫Oh, kamu belum bangun♫
tentu harus lebih banyak bicara
♫Tak melihat pesan dariku♫
untuk memantapkan hatimu.
Jika kamu terus begini tampan,
♫Apa ada yang memberitahumu♫
hatiku
tidak akan pernah goyah.
♫Aku sangat merindukanmu♫
Aku pasti akan menua.
♫Pacaran sedang populer♫
Kalau begitu, aku akan lebih sering melihat.
♫Kamu masih mau diam saja?♫
♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫
♫Meteor juga bisa berhenti♫
♫Lagu cinta sedang populer♫
♫Aku akan menyanyikannya untukmu♫
Kenapa aku ingat
♫Kita harus perlahan-lahan memupuk perasaan♫
tadi ada yang bilang
hanya masuk untuk mengobrol?
♫Aku yakin kamu bisa♫
Kamu seperti ini,
bagaimana aku bisa mengobrol?
Seperti apa?
♫Hai, hari ini hari apa?♫
Nanti masih ada yang harus dilakukan.
♫Apa bisa bertemu denganmu♫
Akhir pekan begini,
♫Agar detak jantung tetap di 110♫
mau melakukan apa?
♫Terus berdetak kencang♫
Aku akan memberitahumu saat keluar.
Keluar?
♫Oh, kamu belum bangun♫
♫Tak melihat pesan dariku♫
Apa 20 menit cukup?
♫Apa ada yang memberitahumu♫
Cukup.
♫Aku sangat merindukanmu♫
♫Pacaran sedang populer♫
♫Kamu masih mau diam saja?♫
♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫
♫Meteor juga bisa berhenti♫
♫Lagu cinta sedang populer♫
Sudah berapa lama kamu tidak jalan-jalan di jalan ini?
♫Aku akan menyanyikannya untukmu♫
Waktu kecil,
♫Kita harus perlahan-lahan memupuk perasaan♫
saat SMP pernah jalan-jalan di sini.
♫Aku yakin kamu bisa♫
Qin Xiaonan sudah makan malam sendiri.
Aku menunggumu, jadi belum makan.
♫Pacaran sedang populer♫
Ayo kita makan di sana.
♫Kamu masih mau diam saja?♫
Aku terserah.
Kencan resmi pertama,
♫Bahkan rembulan pun sudah dibangunkan♫
lebih seriuslah.
Zaman dulu sudah tidak dihitung?
♫Meteor juga bisa berhenti♫
Ayo.
♫Lagu cinta sedang populer♫
Waktu di hotel itu,
ini yang kamu belikan untukku?
Benar, ini.
Jadi di dalam hatiku,
posisinya sangat tinggi.
Saus tomat.
Kamu paling suka makan ini.
Akan rugi jika tidak mencelupkannya.
Hari itu aku tidak punya uang.
Awalnya ingin mengajakmu makan makanan enak.
Itu sungguh suatu penyesalan.
Aku masih punya seorang adik perempuan.
Situasinya agak rumit.
Tapi di rumah,
dia selalu tidak mendapatkan biaya hidup dan uang sekolah.
Aku selalu memberikan milikku padanya.
Kamu masih punya adik perempuan?
Aku hanya pernah bertemu kakak perempuanmu.
Dia anak dari ibuku dengan ayah tiriku.
Di rumah dia paling dekat denganku.
Keluargaku
sedikit lebih rumit dari keluarga biasa.
Selalu ingin mencari kesempatan
untuk memperkenalkannya kepadamu.
Kita sudah akan menikah,
sudah seharusnya kamu tahu dulu.
Tidak perlu terlalu detail.
Begitu sembarangan?
Yang lain tidak penting,
yang penting adalah kamu.
Kamu beruntung bertemu aku
yang punya moral baik.
Jika tidak, kamu begitu polos,
sangat mudah ditipu untuk menikah.
Bagaimana orang itu bisa tahu
yang ditipu bukan dirinya sendiri?
Tunggu sebentar.
Aku mau ke toilet.
Hanya sebentar.
Lihat betapa bagusnya kebiasaan Bibi.
Berkumur setelah makan
untuk mencegah gigi berlubang.
Sudah ingat?
Berkumur setelah makan untuk mencegah gigi berlubang.
Ya, kebiasaan yang bagus.
Silakan.
Ayo.
Mau makan apa lagi?
Tidak ada.
Aku kira ini adalah pemberhentian pertama.
Sudah kenyang?
Pulang?
Tidak.
Kita jalan-jalan ke jalan Chang'an.
Berjalan seratus langkah setelah makan,
akan hidup lebih lama.
Ayo.
♫Ingin melihat momen matahari terbit bersamamu♫
Ini di tempat umum,
bahkan di lapangan.
♫Menutup mata dan diam-diam membuat keinginan♫
♫Bayangan punggungmu memenuhi jalan yang panjang♫
♫Jadilah kenyataan dari mimpiku yang gersang♫
Hanya sekali ini saja.
♫Jatuh cinta remaja terjadi dalam satu tatapan♫
♫Lebih dekat lagi tanpa memedulikan apa-apa♫
♫Kamu adalah pesan penutupan masa remajaku♫
♫Kamu adalah segalanya di planet kecilku♫
♫Terkadang aku berpikir♫
♫Angin akan bertiup ke padang salju♫
♫Cahayamu akan mengusir semua malam yang dingin♫
♫Aku bersedia demi dirimu♫
♫Menggerakkan semua kerinduanku untukmu♫
♫Menepati janji untukmu dengan semua impianku♫
♫Karena itu kamu♫
Apa kamu terkejut?
♫Kamu yang serba bisa♫
Cepat.
Bersihkan.
♫Kamu merupakan sumber keberanianku♫
Bersihkan dan pakaikan untukku.
Besok aku akan memakainya ke kantor
♫Melintasi jarak mengejar cinta♫
dan memamerkannya.
♫Karena itu kamu♫
♫Akhir dari mimpi adalah kamu♫
Jangan marah.
♫Kamu cinta paling lembut♫
Cincin pernikahan itu sepasang.
Kamu beli yang itu.
♫Tapi juga paling tegas yang kumiliki♫
Itu harus dipakai setiap hari.
Ini hanya
dipakai sekali di hari pernikahan.
♫Karena itu kamu♫
Sangat boros jika kamu yang beli.
♫Kamu yang serba bisa♫
Berapa harganya?
Tentu saja tidak boleh memberitahumu.
♫Kamu adalah satu-satunya alasanku♫
♫Melintasi waktu untuk kembali bertemu denganmu♫
Gui Xiao.
♫Karena itu kamu♫
♫Akhir dari mimpi adalah kamu♫
Ini sudah terlanjur dibeli.
♫Mungkin sepanjang hidupku ini♫
♫Menunggu fajar untuk bertemu denganmu♫
Aku tidak ingin kamu merasa tertindas.
♫Kamu adalah semua kerinduanku♫
Semuanya harus yang terbaik.
♫Aku hanya ingin memelukmu dengan erat♫
Kita harus menikah dengan meriah.
Kamu tidak peduli dengan semua ini,
tapi banyak orang yang norak.
Dia khusus melihat semua ini.
Aku tidak ingin orang lain
berbicara buruk di belakangmu.
Pokoknya aku tidak mengizinkan.
Tidak mengizinkan kamu merasa tertindas.
Aku sanggup membeli cincin.
Kamu masih harus membayar utang.
Pakai dulu.
Kelak kubelikan yang lebih besar.
Masih mau cium?
Cium.
Cium.
Tidak tahu malu.
Takut apa?
Aku bukan artis,
tidak ada yang mengenalku.
Kita bicarakan saat pulang.
Lu Chen.
Saat kita baru kenal,
umur berapa?
Kamu SMA 2.
Aku SMA 3.
Aku merasa sangat bersalah padamu.
Aku kira sudah tidak ada kesempatan
untuk minta maaf padamu.
Jangan lihat aku yang minta putus,
sebenarnya aku sangat mencintaimu.
Sejak mengenalmu,
aku hanya menyukai satu tipe pria.
Menyukai pria sepertimu.
Yang matanya indah.
Suka yang tidak banyak bicara sepertimu.
Akan merasa risih bertemu yang banyak bicara.
Juga suka
yang ciumannya lembut sepertimu.
Yang bisa memperbaiki mobil.
Yang tidak lebih pintar dariku.
Pintar bermain biliar.
Ditakuti semua preman.
Gui Xiao.
Aku sangat menyesal.
Sangat menyesal minta putus denganmu.
Aku menyesal setiap kali mengingatnya.
Tidak dipikirkan juga menyesal.
Aku akan menikahimu bulan ini.
Beri aku sedikit waktu untuk mengaturnya.
Kita pesan
restoran Meng Xiaoshan.
Qin Feng menjadi saksi pernikahan kita.
Kita menikah.
Kita menikah bulan ini.
Kalau begitu, aku akan membelikanmu sebuah rumah besar.
Menebus masalah aku mencampakkanmu.
Aku yang beli.
Aku punya uang.
Kalau begitu, kamu harus membelinya sebelum menikah.
Itu akan dianggap sebagai harta pribadimu.
Aku tidak akan dapat bagian.
Kamu masih mengerti hukum pernikahan?
Mendengar sedikit dari orang lain.
Sangat cerdas bisa mendengar intinya.
Tidur.
Aku akan pulang setelah kamu tidur.
Aku pergi minum sebentar.
Tengah malam begini memperbaiki mobil lagi?
Bolehkah aku mewawancaraimu?
Setiap kali kamu memperbaiki mobil,
karena apa?
Biasanya ada dua alasan.
Senang.
Tidak senang.
Orang hidup, selain senang
ya hanya tidak senang.
Belum tentu.
Masih ada yang biasa-biasa saja.
Mati rasa.
Hanya melewati hari demi hari.
Jadi hari ini kamu karena...
Senang.
Teknik memperbaiki mobilmu lebih bagus dari yang di luaran.
Bisakah kamu mengajariku?
Aku selalu ingin belajar.
Tapi sebagai murid,
di awal tidak ada gaji.
Aku juga tidak berani mengundurkan diri dari pekerjaan di sini.
Hidup keluargaku bergantung padaku.
Berapa usiamu?
Sudah 23 tahun.
Kamu masih muda.
Menambah satu keahlian,
kelak akan ada satu jalan lain.
Baiklah.
Panggil Guru.
Kamu menerimaku?
Jika ada waktu akan mengajarimu.
Biasanya aku terlalu sibuk.
Boleh.
Terima kasih, Guru.
Guru, ini.
Kokinya datang pagi sekali.
Aku mau digoreng di kedua sisi,
kuning telur jangan terlalu matang.
Kamu?
Aku tidak pilih-pilih.
Jarang-jarang si koki ada di rumah.
Jika kamu tidak pilih, maka harus menunggu minggu depan.
Mungkin tidak hanya minggu depan.
Aku punya rekan wanita
yang akan menjadi pelatih militer di Tim Empat.
Tapi tanggal perkiraan lahirannya maju,
jadi harus ke rumah sakit untuk melahirkan.
Aku menggantikannya untuk sementara.
Aku akan pergi sebulan.
Sungguh sulit menjadi istri polisi.
Kenapa?
Ingin membatalkan pernikahan?
Sudah terlanjur dilamar,
tidak bisa menyesal lagi.
Aku orang yang menepati janji.
Lagi pula,
juga bukan pergi untuk bersenang-senang.
Menyumbangkan setengah suamiku bagi negara,
aku rela.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.