Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Road Home]
[Episode 16]
Kenapa buru-buru?
Aku masih ingin mengobrol denganmu.
Lain hari saja.
Kekasihku bangun terlambat,
aku harus makan cepat,
supaya bisa segera pulang
untuk membuatkan sarapan untuknya.
Baiklah.
Kalau ada waktu, kita bisa mengobrol lagi.
Sebenarnya,
tidak ada yang ingin kukatakan.
Aku takut kamu berpikiran sempit
karena masalah kemarin.
Sudah terbiasa.
Lu Chen.
Jangan malas, masak sendiri.
Lu Chen.
Masih harus masak sendiri?
[Hongrun Chenghua]
Untukku?
Lu Chen yang membungkusnya.
Bukankah kamu bilang belum sarapan?
Aku bawakan untukmu.
Pagi ini terlambat bangun,
buru-buru mengantar Xiaonan ke sekolah.
Apa ini?
Surat.
Qin Mingyu yang memberikannya padamu.
Qin Mingyu?
Ayah Qin Xiaonan.
Benar.
Kapten Qin.
Apa ada hal mendesak?
Sudah zaman, apa masih menulis surat?
Tidak tahu.
Ketulusannya.
Baca pelan-pelan, ya.
[Surat ucapan terima kasih]
Kakak ini jujur sekali.
Kapten.
Kamu menjalankan misi
ke mana lagi?
Saluran pembuangan.
Kenapa tidak mandi dulu baru kemari?
Ada hal yang ingin kukatakan padamu,
nanti mandi setelah selesai bicara.
Zhong.
Belakangan ini,
ada dua orang baru di tim.
Tidak terbiasa dengan iklim,
agak tidak terbiasa dengan lingkungan.
Kamu luangkan waktu untuk pergi
jalan-jalan ke asrama.
Kapten.
Kenapa kamu tidak pergi sendiri?
Aku tidak leluasa.
Sebagai ketua,
harus adil.
Benar, 'kan?
Terlalu menjaga anggota baru,
bagaimana dengan anggota lama?
Selain itu, jika ada misi,
menyuruh anggota baru maju duluan
atau anggota lama maju duluan?
Anggota lama.
Tentu saja.
Tim kita istimewa.
Selalu anggota dengan level tinggi
maju lebih dulu.
Tentu saja aku yang pertama.
Bagaimana jika aku mati?
Setidaknya bilang pengorbanan.
Ya, pengorbanan.
Bagaimana kalau aku berkorban?
Kalau kamu berkorban,
wakil ketua yang maju.
Dasar tidak punya hati.
Sudahlah, tidak bicara lagi denganmu.
Anggota lama ini
harus punya kesadaran sebagai anggota lama.
Perhatikan anggota baru,
Mengerti?
Selain itu,
kamu harus tahu...
[Duan Rou]
Bukan hal besar, tak perlu telepon balik.
Telepon balik saja.
Biasanya jika orang bilang,
aku tidak perlu ditelepon balik,
itu berarti dia mau.
Aku punya pacar,
aku mengerti.
Aku pernah menikah.
Tapi sudah bercerai.
Tambah WeChat saja.
Mudah berhubungan.
Baiklah.
Baiklah apanya?
Mana nomor WeChat?
Pakai nomor ponsel.
Oke.
[Aku Duan Rou]
Kakak ipar.
Pergi!
Aku sibuk dulu.
Kalau ada urusan baru kuhubungi lagi.
Sudah kubilang dia memang kakak ipar,
mengirimkan begitu banyak
foto Xiaonan.
Jangan ikut campur.
Cuci mobilku juga.
Apa kamu sudah menelepon Kapten Qin?
Belum.
Aku kira
kamu akan meneleponnya,
tidak sepertimu saja.
Tidak sopan.
Aku sudah meneleponnya,
tapi tidak diangkat.
Aku ingat kamu bilang padaku,
pekerjaan mereka sibuk,
tidak bisa dihubungi kapan saja,
jadi menambahkan WeChat.
Seperti apa rupa Kapten Qin?
Selalu serius, ya?
Kurus,
hitam,
tinggi.
Matanya sangat besar.
Tidak ada lagi?
Tidak pasti.
Pokoknya cukup tampan.
Aku pergi dulu.
Direktur Gui.
Duduklah.
Ada apa?
Aku masih harus pergi menemui orang.
Aku baru saja kembali,
aku harus bekerja keras.
Aku juga seorang direktur,
sama dengan posisimu.
Kalau kamu sibuk, aku tidak sibuk?
Duduklah,
biarkan aku peduli pada
wanita bahagia yang kembali
dari bersenang-senang?
Lima menit.
Kalian berdua
sudah, belum?
Boleh juga,
mengerti, 'kan?
Pembicaraan selesai.
Duduk.
Duduk.
Jangan buru-buru.
Kapten Lu
bagaimana bisa mengendalikanmu?
Tiga menit.
Katakan intinya.
Baiklah.
Apa rencanamu selanjutnya?
Menentukan tanggal pernikahan?
Bagaimana kamu tahu?
Tidak mungkin.
Sungguh menikah?
Kalian berdua baru berbaikan berapa lama?
Biar kuhitungkan.
Dari Tahun Baru Imlek sampai sekarang,
sudah sampai sebulan, tidak?
Hampir.
Sudah diputuskan?
Halo, Paman.
Ayah.
Aku datang menjemputmu.
Menjemputku?
Aku baru saja kembali.
Ada banyak urusan di kantor.
Bibi pulang hari ini.
Paman juga sudah
meminta izin padaku.
Serahkan pekerjaan padaku, pergilah.
Ibuku pulang?
Kenapa dia tidak memberitahuku?
Dia tidak memberi tahu siapa pun.
Dia pulang sendirian.
Ayo.
Mungkin masih tinggal di hotel yang dulu.
Kepulangan dia kali ini...
Bicara di mobil saja.
Kamu beres-beres,
aku tunggu di luar.
Setiap kali aku bertemu ayahmu,
aku selalu ingin berdiri tegak.
Tidak bicara dulu.
Kalau ada masalah, telepon saja.
Hari ini Sekretaris Liu tidak datang?
Ada urusan keluarga.
Usahakan orangnya sesedikit mungkin.
Kali ini kepulangan ibumu
untuk mengurus prosedur perceraian denganku.
Dulu aku bersalah padanya.
Tapi beberapa tahun ini,
aku selalu menunggunya
agar mau memaafkanku.
Kembali padaku.
Ibu.
Kenapa kamu di sini?
Dia membawamu ke sini?
Jarang-jarang kita bertiga kumpul bersama.
Restoran sudah dipesan.
Makanan kesukaanmu.
Maaf.
Aku ada janji makan siang dengan pengacara.
Melawan departemen hukum perusahaan
sebesar milikmu.
Setidaknya membutuhkan
pengacara profesional,
bukan aku sendiri.
Aku tidak akan setuju bercerai denganmu.
Ibu,
kamu baru pulang dari penerbangan jarak jauh.
Aku temani kamu urus check-in dulu.
Ayah.
Kamu sibuk, kembalilah dulu.
Ibu sudah pulang,
bisa makan kapan pun.
Putrimu sudah menghargaimu.
Apa kamu ingin aku langsung menghancurkannya?
Ayo, urus check-in.
Ibu janjian dengan pengacara di mana?
Aku akan pesan mobil.
Tidak buru-buru.
Sudah beberapa tahun tidak pulang.
Seperti biasa,
pergi ke restoran masakan Sichuan yang sering dikunjungi.
Hanya kita berdua.
Kalau begitu,
kamu membohongi ayahku.
Jika tak ditipu, bagaimana bisa makan dengan bebas?
Temperamen orang itu,
kamu juga sudah tahu.
Tidak akan menyerah sebelum mencapai tujuan.
Dan mengira hanya perkataan dia
yang benar.
Makan yang banyak.
Cinta pertamamu, Lu Chen?
Kamu masih ingat namanya?
Mana mungkin aku tidak ingat?
Saat kalian putus,
kamu setiap pagi keluar
dengan kedua mata merah.
Guru kalian sampai bertanya padaku kenapa.
Aku menutupinya untukmu.
Anak ini
sangat lumayan.
Ibu belum pernah melihatnya.
Aku pernah melihat tulisannya
dan kalimat yang ditullisnya.
Kapan?
Setelah ujian nasional,
aku membantumu membereskan buku catatanmu.
Tulisan di belakang itu,
ditulis olehnya untukmu, 'kan?
Jalan kehidupan gelap dan sulit,
saling dorong bisa maju lebih mantap.
Anak yang bisa menulis kata-kata ini
punya pola dan pemikiran.
Bagaimana kamu tahu dia yang menulisnya?
Saat itu kamu sangat sombong.
Kalau bukan orang yang kamu sukai,
kamu tidak mungkin membiarkannya
menulis sesuatu di bukumu.
Oh, ya.
Sampai sekarang kamu masih belum mengurus
prosedur perceraian resmi dengan ayahku?
Hari ini aku baru tahu.
Dia menolak, tidak setuju.
Tapi kali ini aku kembali
demi
menyelesaikan masalah ini sepenuhnya.
Tapi sekarang tidak seperti dulu.
Dia ingin bercerai seperti yang kamu bilang,
harus merecoki departemen hukum.
Mungkin masih ada departemen humas.
Kini dia anggota di perusahaan terdaftar,
terlalu sulit untuk bercerai.
Aku tak mau semua yang dia miliki sekarang.
Memutuskan bercerai pada tahun itu,
maka berakhir pada tahun itu.
Kalau begitu, harus ada sebuah
perjanjian perceraian yang bisa diandalkan.
Aku akan membantumu mencari pengacara.
Cepat makan.
Kalau tidak habis, bungkus.
Kamu bantu ibumu mencari pengacara perceraian
untuk bercerai dengan ayahmu?
Dia sudah lama tidak pulang.
Untuk sementara,
juga tak bisa temukan yang bisa diandalkan.
Kita pernah bekerja sama
dengan begitu banyak firma hukum.
Rekomendasikan saja.
Bukan, Kakak.
Intinya adalah
kamu membantu ibumu dan ayahmu
bercerai?
Mereka seharusnya sudah berakhir sejak lama.
Meski orang tuaku bercerai sejak aku kecil,
tidak ada yang peduli padaku,
aku tetap merasa
membangun keluarga tidaklah mudah.
Sudah setua itu,
kenapa harus bercerai?
Untuk apa?
Kamu juga.
Bukan masalah jika tidak mau berdamai,
tapi jangan membantu
mencari pengacara perceraian.
Ada apa?
Ada rahasia lain?
Sebenarnya bukan rahasia lagi.
Hal yang paling tak bermoral itu.
Saat itu ayahku punya simpanan,
ingin bercerai dengan ibuku.
Ayahmu menyesal sekarang?
Kurang lebih begitu.
Tapi ibuku ini,
terhadap perasaan lebih murni.
Begitu kesetiaan dihancurkan,
bagaimanapun tidak akan bisa dikembalikan.
Ini memang dasar dari pernikahan.
Sebenarnya saat itu aku putus dengan Lu Chen,
juga berhubungan dengan masalah ini.
Saat itu orang tuaku bertengkar setiap hari.
Suatu kali hampir main tangan.
Ini juga bukan
hal yang mulia.
Aku juga tak ada orang yang diajak bicara.
Aku ingin berbicara dengannya,
tapi aku tetap tak bisa menemukan orangnya.
[Musim dingin 2011]
Tahun itu di luar sekolah
ada layanan publik telekomunikasi.
Ada telepon umum di kantor.
Aku sering telepon jarak jauh di sana.
Menghubungi sepuluh kali.
Paling banyak terhubung sekali.
Setiap kali janjian waktu untuk telepon,
selalu ingkar janji.
Halo, Sayang.
Aku baru saja bermain gim.
Benar, beberapa teman itu.
Kamu kenal semuanya.
Kamu jangan berpikir sembarangan, oke?
Aku kasih tahu kamu,
pacaran jarak jauh
paling takut berpikir sembarangan.
Jangan dipikirkan lagi.
Aku sedang makan.
Aku baru saja membeli KFC,
lalu berlari kemari
untuk meneleponmu.
Oh, ya.
Aku lupa satu hal.
Sepertinya aku ada kelas malam ini.
Aku tutup dulu.
Sudah dulu, aku tutup, ya.
Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.
Maaf, teman.
Maaf.
Maaf.
Tidak apa-apa.
Aku masih ada kelas.
Aku harus masuk kelas dulu.
Tidak apa-apa, kamu pergi saja.
Beri tahu aku jika ada waktu.
Aku akan meneleponmu.
Hari ini harus menunggumu.
Dingin sekali.
Kamu baik-baik saja?
Terima kasih.
Maaf.
Maaf.
Maaf.
Tidak sanggup mandi.
Tidak mandi setelah kena salju semalaman?
Tidak sanggup mandi.
Sisakan air panas untukku.
Ketua kelas pergi ke mana?
Dia dipanggil untuk menemani pemeriksaan.
Hari ini kelas kita ada yang melanggar aturan.
Datang terlambat.
Guru Xing.
Apa ada alat pengisi daya?
Milikmu tipe apa?
Coba kulihat.
Terima kasih.
[Panggilan masuk dari ZZZZ]
Kenapa kamu menelepon ke ponsel?
Teman sekamarku sudah tidur.
Tidak bisa menelepon dengan telepon asrama.
Kenapa akhir-akhir ini
kamu terus menggunakan telepon umum?
Telepon jarak jauh mahal.
Aku ingin menghemat biaya ponsel.
Kita sudah belasan hari tak komunikasi,
kamu juga tidak merindukanku.
Aku sibuk.
Aku selalu tidak bisa menemukanmu.
Jangan-jangan kamu...
Tidak.
Tidak ada orang lain.
Apa ada urusan mendesak?
Sampai harus menungguku menelepon balik.
Tidak ada hal mendesak.
Kalau tidak ada hal mendesak,
aku tutup dulu.
Hari ini aku sudah berdiri belasan jam,
mau tidur beberapa jam, lalu harus bangun lagi.
Kalau begitu, lakukan pekerjaanmu.
Kita bicara lagi setelah ada waktu.
Bibi Kedua.
Berhenti.
Aku menyuruhmu berhenti, dengar tidak?
Aku tidak dengar.
Demi seorang wanita,
kamu sudah tidak menginginkan ibuku?
Itu urusanku dan ibumu.
Memangnya aku anak pungut?
Itu ibuku.
Aku tidak ingin melihatmu. Pergilah.
Ikut aku pulang.
Dengar, tidak?
Gui Yuanshan.
Lepaskan.
Kamu bicara baik-baik dengan anakmu.
Apa yang... kamu lakukan?
Aku beri tahu kamu, setelah pergi,
jangan pulang selamanya.
Ini rumahku.
Dia bisa pulang sesukanya.
Maaf.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Silakan coba beberapa saat lagi.
[Akademi Kepolisian Qiwen]
Dalam tugas KTT internasional,
kamu serius sedikit.
Aku tidak bisa mengurusnya
di stasiun kereta api.
Apa tubuhmu baik-baik saja?
Sudah minum obat, belum?
Bicara serius.
Kelas kita sudah melakukan satu kesalahan.
Tidak boleh salah lagi.
Itu akan memengaruhi nilai keseluruhan.
Belakangan ini kamu tidak menelepon pacarmu?
Bicara serius!
Mengerti, Ketua Kelas.
Kami jamin akan menyelesaikan misi.
Ayo pergi.
Malam ini bisa menelepon.
Sekitar pukul 19.00.
Malam ini ada kelas.
Lain hari saja.
Kamu rindu pacarmu?
Tidak.
Bisakah setelah pukul 21.00?
Aku ada urusan pada jam itu.
Apa kamu tidak menyadari,
dua bulan ini,
tidak ada yang bisa dibicarakan
saat kita bertelepon?
Kemudian selalu tidak menemukan dia.
Dengan tidak mudahnya bertelepon,
malah bertengkar.
Setelah bertengkar langsung perang dingin.
Satu atau dua bulan tidak berhubungan.
Perang dingin hubungan jarak jauh
merusak hubungan.
Dulu bisa bertemu saat bertengkar.
Kalau begitu...
Begitu kamu marah dan berbalik,
dia bisa menarikmu
dan membujukmu beberapa kata lalu berbaikan.
Namun, kalau terpisah di dua tempat,
tidak bisa bertemu dan disentuh.
Jika ada konflik, disimpan dalam hati.
Jadi, mudah berpikir sembarangan.
Aku tidak tahu
apa yang terjadi padanya setiap hari.
Dia juga tidak tahu
apa yang terjadi di rumahku.
Aku sudah tinggal di sekolah.
Aku beri tahu kamu, aku sangat bimbang.
Di asrama kami ada empat orang.
Aku tidak tahu apakah bisa membiasakan diri.
Aku sedang menabung.
Aku akan menemuimu setelah tabunganku cukup.
Bicara satu menit lagi,
oke?
Gawat.
Ibuku sudah tahu siapa kamu.
Apa kamu merindukanku?
Tidak bisakah kamu bicara lebih banyak?
Kita sudah tidak punya
bahasa yang sama?
Belakangan ini,
aku tidak bisa mengangkat telepon saat di rumah.
Kamu jangan telepon aku.
Tunggu aku meneleponmu.
Lu Chen.
Kututup dulu.
Kenapa kamu tidak bicara?
Aku membutuhkan uang untuk meneleponmu.
Aku tidak ingin bicara.
Aku terlalu lelah.
♫Kamu perlahan mengabaikan curahan hatiku♫
Kita...
putus saja.
♫Memaksakan diri bisa ditukarkan berapa banyak sikap dingin♫
♫Selamat malam yang tidak terkirimkan♫
Kita sudah bertengkar selama empat bulan.
♫Pernah percaya bahwa usaha tidak akan meninggalkan penyesalan♫
Aku sudah lelah.
Semua orang sudah lelah.
♫Tapi kondisi ini terlalu memalukan♫
Ini mengganggu belajar.
♫Siapa yang akan menanggungnya untukku?♫
♫Kita berjanji untuk bersama selamanya♫
Putus pun tidak mengatakan apa-apa.
♫Tapi akhirnya tetap berpisah♫
♫Menunggu hingga perlahan melepaskan perlawanan♫
♫Membiarkan waktu berlalu♫
Setidaknya...
♫Tidak pernah terpikirkan bahwa cinta♫
♫bukanlah semudah♫
♫melewati kesulitan♫
Katakan sesuatu.
♫Kita menunggu hingga alur cerita berputar balik♫
♫Masih menyimpan harapan♫
Ini telepon terakhir.
♫Berdiri di malam tanpa dirimu♫
♫Yang juga tidak bisa meneteskan air mata♫
♫Lampu jalan di sudut jalan, perjalanan yang redup♫
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
♫Semuanya sudah terlambat♫
Ini enak.
Tentu saja.
Aku sudah pergi...
Ambil beberapa lagi.
Pergi ke banyak tempat baru bisa menemukan ini.
Sudah dipikirkan baik-baik?
♫Pernah percaya bahwa usaha tidak akan meninggalkan penyesalan♫
Baik.
♫Tapi kondisi ini terlalu memalukan♫
♫Siapa yang akan menanggungnya untukku?♫
♫Kita berjanji untuk bersama selamanya♫
Kalau begitu...
♫Tapi akhirnya tetap berpisah♫
kamu bekerjalah.
♫Menunggu hingga perlahan melepaskan perlawanan♫
♫Membiarkan waktu berlalu♫
Aku mau pergi kelas.
♫Tidak pernah terpikirkan bahwa cinta♫
♫bukanlah semudah♫
♫melewati kesulitan♫
Kututup dulu.
♫Kita menunggu hingga alur cerita berputar balik♫
♫Masih menyimpan harapan♫
♫Berdiri di malam tanpa dirimu♫
♫Yang juga tidak bisa meneteskan air mata♫
♫Lampu jalan di sudut jalan, perjalanan yang redup♫
♫Semuanya sudah terlambat♫
Ternyata kena.
Lu Yanchen.
Kelincahan fisikmu sudah tidak bagus lagi.
Apa kamu memikirkan cinta lagi?
♫Kita berjanji untuk bersama selamanya♫
♫Tapi akhirnya tetap berpisah♫
♫Menunggu hingga perlahan melepaskan perlawanan♫
[Gedung Asrama]
♫Membiarkan waktu berlalu♫
♫Tidak pernah terpikirkan bahwa cinta♫
♫bukanlah semudah♫
♫melewati kesulitan♫
♫Kita menunggu hingga alur cerita berputar balik♫
♫Masih menyimpan harapan♫
♫Berdiri di malam tanpa dirimu♫
♫Yang juga tidak bisa meneteskan air mata♫
♫Lampu jalan di sudut jalan, perjalanan yang redup♫
♫Semuanya sudah terlambat♫
[Ruang Tugas]
Jiwamu hilang?
Kenapa berputar di sini?
Aku lupa membawa sesuatu.
Kebetulan,
kembalilah dan beres-beres.
Ada kumpul darurat
untuk latihan fisik.
Hari ini latihan di luar.
Kebetulan turun salju,
jadi ke gunung.
Baik.
Kelak,
ke mana pun kalian pergi juga sama saja.
Berlari di jalan pegunungan adalah hal umum.
Dulu demi mengejar penjahat,
aku pernah melewati beberapa gunung,
Bahkan anjing polisi sudah tidak bisa lari,
tapi kami masih mengejarnya.
Jangan lambat saat berlari.
Jika jatuh, bangunlah sendiri.
Mengerti?
Mengerti!
Saljunya semakin deras.
Jangan istirahat lagi.
Cepat, lari.
Ayo.
Kalian lari dulu.
Aku di belakang.
Tidak aman jika ada yang tertinggal.
Ayo.
Ayo.
Ayo.
Aku sudah tidak sanggup berlari.
Sungguh.
Bahkan hidungku sudah membeku.
Tidak bisa, aku harus berbaring sebentar.
Panggil aku kalau sudah mau pergi.
Kita
putus saja.
Aku masak mi untukmu, ya?
Aku sudah makan di sekolah.
Waktu kecil aku merasa
putus adalah
hal yang sangat mudah.
Aku selalu mengungkitnya.
Sudah mengungkitnya berkali-kali,
tapi pada kali itu,
dia menyetujuinya.
Mungkin karena tidak tahan lagi.
Hanya berpura-pura.
Semua cinta pertama tidak mengerti cara berpacaran.
Rasanya
selalu ingin menggunakan putus
untuk berusaha membuktikan
bahwa dia sangat menyukai kita.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.