Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (SoranĂ®)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]
[Road Home]
[Episode 14]
Berapa berat kamu sekarang?
Tidak sampai 45 kg.
Terlalu ringan, makan lebih banyak.
Jika masakanmu enak,
aku akan makan lebih banyak.
Kapten Lu, semangat!
Semangat, Kapten Lu! Semangat!
Kapten Lu sangat kuat.
Benar, berlari sambil menggendong orang.
Staminamu sangat bagus.
Semangat, Kapten Lu.
Semangat, Kapten Lu! Semangat!
Kamu tidak bisa mengurangi kecepatan?
Kecepatannya juga tidak dibatasi.
Dalam waktu 20 menit,
mengangkut beban sejauh lima kilometer
adalah permintaan paling dasar.
Aku sebagai mantan kapten
tidak boleh membuat malu.
Sebelumnya kalian mengangkut beban berapa kilo?
Dua puluh kilo.
Sekarang kamu kira-kira 45 kg.
Jadi, tingkat kesulitannya berlipat ganda.
Dua puluh menit agak sulit,
setidaknya setengah jam.
Tidak bicara lagi, menghemat tenaga.
Pacarnya baru datang ke sini,
kalian sudah menyiksanya seperti ini.
Tidak takut dia marah
dan membuatnya kabur?
Pak Kepala,
Anda tenang saja.
Kami semua sudah berdiskusi.
Menyiapkan dua rencana.
Jika pacar Kapten Lu
orangnya serius,
tidak suka bercanda,
kami semua mengisenginya sebentar
di kantin lalu bubar.
Jika orang yang berpikiran terbuka,
bisa bercanda bersama kita,
kami akan mengisengi sampai akhir.
Bocah tengik.
Kalian malah beda orang beda perlakuan.
Bukankah ini karena
kelak tidak ada kesempatan menggoda pengantin baru?
Jadi, dimajukan lebih awal.
Aku tidak perlu, kamu saja.
Ayo lanjutkan.
Lu Yanchen.
Kenapa kamu selalu bersikap
seolah-olah bisa menyelesaikan semua?
Membuat aku sang kapten baru,
sangat malu.
Awalnya aku ingin meringankan,
tapi sekarang sama sekali tidak berniat begitu.
Bagaimana aku melatihmu dulu,
mau dikembalikan semua, ya?
Aku tidak sepicik itu.
Aku bisa angkat badan sambil mengangkut beban.
Tapi hari ini dia memakai rok.
Bagaimana melakukannya?
Aku tidak memperhatikan hal ini.
Bagaimana kalau…
tidak mengangkut beban lagi?
Aku setuju.
Kakak Ipar sangat kasihan.
Di cuaca dingin begini, jaket kapas pun dilepas.
Apa yang kalian bicarakan?
Memangnya cuma kalian yang mengasihani Kakak Ipar,
kami tidak mengasihani Kakak Ipar?
Kakak Ipar, aku setuju.
Tidak mengangkut beban.
Jangan tersinggung, ya.
Kami semua tidak bermaksud menyulitkanmu.
Hanya ingin melihat bagaimana Kapten Lu
bermesraan dengan pacar sendiri.
Karena belum pernah melihatnya.
Kita semua hanya bercanda.
Mengangkut beban atau tidak, itu tidak penting.
Benar, tidak?
Benar.
Yang ingin kami siksa adalah Kapten Lu.
Tidak ada hubungannya dengan Kakak Ipar.
Menyiksa Kapten Lu juga tidak boleh.
Pengantin baru,
mana boleh menyia-nyiakan
tenaga untuk hal seperti ini?
Apa yang kamu katakan?
Bersulang untuk Kakak Ipar.
Ayo.
Selamat datang kembali ke Qining.
Terima kasih.
Ayo, habiskan.
Ini sudah hampir jam dua.
Tempat tinggal kalian
masih agak jauh dari sini.
Gao Hai.
Kapten Qin.
Kamu atur dulu.
Nanti aku bawa Kapten Lu dan Kakak Ipar
pulang untuk menginap.
Mengerti.
Menginap di mana?
Di luar markas kami,
ada sebuah gedung apartemen.
Sebelumnya asrama pabrik.
Pemiliknya,
sangat menyukai para pria lajang
dari Tim SWAT kami.
Jadi, dia menyewakan seluruh gedung
dengan harga murah kepada kami.
Semuanya berangkat kerja bersama,
pulang kerja bersama.
Kamar Kapten Lu kebetulan masih kosong.
Malam ini kalian ke sana,
kita semua tinggal bersama supaya ramai.
Benar, 'kan?
Benar, ramai.
Benar, ramai.
Semuanya baru dibeli.
Istirahatlah lebih awal.
Baik.
Dulu tinggal sendirian di sini,
tidak menyadari,
ternyata satu kamar dan satu ruang tamu.
Kemampuanku lumayan juga.
Kamu tidak perlu secara tidak langsung membuktikan
bahwa kamu tidak pernah membawa wanita ke sini.
Aku ingin ke toilet.
Di mana toilet wanita?
Di sini hanya ada toilet pria.
Yang tinggal di sini,
semuanya rekan pria dalam tim.
Toilet juga diganti menjadi toilet pria.
Lalu aku harus bagaimana?
Aku akan berjaga untukmu.
Aku masuk lihat dulu.
Jangan lihat Lu Yanchen,
biasanya sangat hebat.
Pada akhirnya,
dia tetaplah pria berumur yang belum menikah.
Dia sangat pemalu.
Seseorang
sudah gagal dalam hal ini,
tapi masih berani menertawakan
orang yang akan menang.
Sangat canggung jika keluar sekarang.
Jika tidak keluar,
memangnya menunggu sampai orang masuk?
Kapten Lu.
Mau ke mana?
Aku mau ke toilet.
Kembali ke kamar.
lakukan push-up 200 kali.
Baik.
Dia hanya ingin ke toilet.
Kamu suruh dia push-up,
sangat tidak manusiawi.
Dia masih belum bangun.
Tidak menyadari
bahwa aku bukan lagi kaptennya.
Kamu jahat sekali.
Siapa yang jahat?
Kamu.
Untuk apa melihatku?
Aku belum pernah melihatmu sikat gigi.
Saat tinggal di tenda,
kamu selalu keluar sendiri,
tidak membiarkanku melihatnya.
Apa yang bisa dilihat saat sikat gigi?
Kamu tidak sikat gigi?
Harus menjaga kemisteriusan
agar cinta tetap awet.
Pandai sekali berbicara.
Apa yang ingin kamu lakukan?
Tidur.
Sepertinya kurang baik.
Kita belum menikah.
Bukankah katamu… mau menikah denganku?
Siapa?
Aku
datang melihatmu.
Kebetulan sekali datangnya.
Siapa?
Pemimpinku sebelumnya.
Kepala Zhu.
Apakah ada waktu?
Ada.
Anda mencariku ada apa?
Tenang saja, tidak ada tugas.
Aku datang untuk melihat
pacar pahlawan Qining.
Gui Xiao.
Maaf,
mengganggu istirahatmu.
Tidak.
Halo, Pak.
Lu jarang-jarang bisa pulang.
Kali ini,
lagi-lagi membiarkannya
mempertaruhkan nyawanya.
Hatiku ini,
sungguh merasa bersalah.
Aku datang untuk menyapa keluarga.
Belum menjadi keluarga.
Hanya masalah waktu.
Kecuali kamu mencampakkannya.
Jika tidak, aku rasa
bocah ini tidak sanggup
meminta putus denganmu.
Benar, tidak?
Benar.
Tidak berani.
Pak Kepala.
Ada satu hal
yang ingin sekalian dilaporkan pada Anda.
Aku akan menikah.
Bagus.
Setelah menikah,
harus memperlakukan dia dengan baik.
Di kepolisian kita, ada yang dicampakkan,
tapi tidak ada yang
mencampakkan wanita.
Gui Xiao.
Aku selalu merasa,
jika seseorang dalam kehidupan
tidak bisa setia,
lalu bagaimana bisa percaya
kalau dia akan setia pada
Tim SWAT, negara dan rakyat.
Benar, 'kan?
Tadi anak-anak muda itu bercanda denganmu.
Aku tidak pergi mengganggu.
Sejak Lu ditugaskan ke Qining,
tidak pernah pergi.
Orang-orang di dalam dan luar kepolisian
semuanya memujinya.
Oh, ya.
Anak ini waktu itu,
nilainya paling bagus di antara orang-orang
yang ditugaskan kemari.
Banyak tawaran dari kepolisian,
akhirnya berhasil direbut olehku.
Sekarang dia berhasil direbut olehmu.
Lu Yanchen.
Meskipun tim kepolisian kita
menikah,
kini tidak perlu lagi melapor secara resmi.
Aku juga bukan
pemimpinmu lagi.
Tapi,
hari ini kamu secara pribadi memberitahuku
kamu akan menikah,
aku sungguh sangat senang.
Turut senang untuk kalian.
Aku semakin merasa,
aku telah menculik kapten baik mereka.
Pemimpinmu, rekan kerjamu, sahabatmu,
semuanya tidak merelakanmu.
Ada masalah?
Tidak rela?
Berdasarkan pemahamanku terhadap Kepala Zhu,
seharusnya ada yang belum selesai dibicarakan.
Tentang apa?
Perpindahan kerja atau tugas?
Saat dia ingin mengatakannya,
dia pasti akan mengatakannya.
Kamu kedinginan?
Tidak.
Aku kedinginan.
Tidak menemani kakak ipar dengan baik,
pagi-pagi malah keluar berlari?
Dia belum bangun.
Bagaimana? Ayo berlomba.
Ayo.
Kapten Lu!
Dasar kamu bocah, 200 kali push-up,
belum cukup, ya?
Jika senggang, perlihatkan padaku
anjing polisi yang baru kamu latih.
Tidak masalah.
Aku tidak meladenimu lagi.
Sekali lagi di lapangan tembak.
Lain kali saja.
Dia seharusnya sudah bangun.
Tidur lagi sejenak.
Kapten Lu.
Bukankah kita mau pergi melihat anjing?
Mereka akan segera pergi.
Lapor!
Sudah, aku tahu!
Jika waktu itu tidak putus,
mungkin setiap tahun
harus tinggal di sini beberapa hari.
Tinggal beberapa hari saja tidak cukup.
Setiap tahun mungkin
harus tinggal lebih dari sepuluh hari.
Sudahlah.
Nanti mereka akan memanggil lagi.
Biarkan saja mereka memanggil.
Jika mereka memanggil lagi
dan kamu tidak menjawab,
mereka akan berpikir sembarangan.
Kamu sudah tinggal di kamarku,
bagaimanapun mereka berpikir,
itu semua bisa dimengerti.
Sekarang aku sangat menyesal.
Menyesali apa?
Menyesal karena pada suatu tahun di luar gedung,
aku tidak seharusnya langsung pergi.
Sebelum di pom bensin,
aku memeriksa bahan peledak
mencurigakan di luar sebuah gedung
dan melihatmu.
Waktu itu kamu yang menjinakkannya?
Lalu?
Tidak ada lagi.
Bahaya tersingkirkan, aku kembali ke tim.
Selesai.
Hal sepenting ini,
hanya dengan beberapa kalimat?
Pekerjaan sehari-hari,
untuk apa panjang lebar?
Kuberitahukan padamu.
Anjingku itu,
akhir-akhir ini suka mendengarkan lagu cinta.
Sekali dengar langsung patuh.
Sangat imut.
Bukankah kamu mencariku?
Kapten Lu.
Lihat anjing.
Benar, lihat anjing.
Anak-anak itu sangat merindukanmu.
Akan kubawa kemari sekarang juga.
Lu Chen.
Kamu tunggu di kamar.
Aku akan membelikanmu sarapan.
Kalau begitu, aku langsung ikut denganmu.
Mau ikut?
Menunggumu kembali.
Kapten Lu.
Kudengar pacarmu datang.
Pacarmu
suka makan apa?
Bakpao.
Sederhana.
Baik, bakpao.
Aku berikan dua untuk Anda.
Sungguh berjodoh, Kakak Ipar.
Kamu dan Kapten Lu,
benar-benar jodoh selama beberapa kehidupan.
Katanya dua orang bisa bersama,
harus ada jodoh untuk membuktikannya.
Seperti kalian.
Benar.
Waktu itu saat kita kembali dari posko bantuan,
Kapten Lu duduk di lapangan
dan memainkan harmonika untuk kita.
Suara harmonika itu
membuat banyak saudara menangis.
Hanya sekali itu saja dalam hidup ini,
aku mendengar Kapten Lu memainkan harmonika.
Saat itu aku baru datang,
aku masih belum mengerti.
Aku bilang Kapten Lu kita
benar-benar bertubuh kekar tapi berhati lembut.
Pasti dia merindukan kakak ipar.
Setelah aku mencari tahu,
ternyata dia lajang sepertiku.
Jadi, aku pun berpikir.
Aku bilang Kapten Lu kita
pasti terlalu sibuk bekerja.
Sudah bertahun-tahun tidak bertemu
wanita unggul yang lajang.
Ingin pacaran.
Tidak disangka kemudian, ada kisah seperti ini.
Lagu apa yang dia nyanyikan?
"Jauh dari Kampung Halaman".
♫Aku ingin sekali kembali ke kampung halaman♫
♫Kembali lagi ke sisinya♫
♫Melihat kelembutan dan kebaikannya♫
♫Untuk menghibur lara hatiku♫
♫Biarkan aku kembali ke kampung halaman♫
♫Kembali lagi ke sisinya♫
♫Biar kelembutan dan kebaikannya♫
♫Menghibur lara hatiku♫
Kakak Ipar.
Kenapa kalian putus saat itu?
Karena...
Karena masih muda.
Mengira putus bukanlah hal besar.
Kupikir sangat mudah.
[Perpustakaan]
[Tahun 2010]
Mau makan apa?
Kita makan mi saja.
Oke.
Mi hari ini pasti enak.
Kenapa?
Pacarku sudah pulang.
Sampai jumpa.
Tidak kenal lagi?
Iya, tidak kenal.
Siapa kamu?
Kenapa kamu datang?
Kamu pernah bilang di telepon,
akan mendengarkan seminar ini.
Ayo naik.
Aku tidak familier dengan tempat ini.
Mau ke mana?
Ke mana saja boleh.
Kali ini kamu pulang berapa lama?
Cuti, ya?
Kapan kembali?
Malam ini.
Baru sampai sudah mau pergi?
Tidak boleh cuti terlalu lama.
Bertemu denganmu saja sudah cukup.
[Hotel GreenTree Inns]
Di sini saja.
Bisa menghindari angin, juga bisa berbicara sebentar.
Aku keluar sebentar.
Tidak ada makanan di sekitar sini.
Kalau kamu bilang lapar dari tadi, akan kubelikan untukmu.
Kapan aku pernah menyuruhmu kerja?
Tidak bisa memasak.
Beli juga boleh.
Aku tahu kamu suka makan stik jagung,
jadi beli dua.
Kamu masih ingat?
Tidak berani lupa.
Aku kira kamu sudah lupa.
Aku adalah pacarmu.
mana boleh lupa?
Kalau masih tidak pulang, aku akan lupa.
Bukankah sekarang sudah pulang untuk melihatmu?
Cepat makan.
Kamu juga makan.
Bukankah ada kentang goreng dan hamburger?
Aku sudah makan di kereta.
Kamu baru turun dari kereta?
Kelak aku tidak akan bertengkar lagi denganmu.
Katakan sekali lagi.
Aku akan merekamnya.
Lain kali akan kuputarkan untukmu.
Bicara baik-baik.
Aku merindukanmu.
Sudah waktunya pergi.
Baru saja makan sedikit,
sudah mau pergi?
Lain kali kalau sempat, aku akan kembali lagi untuk melihatmu.
Tidak rela?
Kamu bahkan belum memelukku
dan sudah mau pergi.
Bukankah sudah sepakat?
Tidak akan putus.
Kapan aku bisa selesai kuliah?
Kenapa tidak kunjung selesai?
Ibuku ingin aku belajar sampai S3.
♫Hatiku kacau saat pertama kali melihatmu♫
♫Pernah memikirkan masa depan♫
♫Persimpangan di pagi dan sore hari♫
Siapa suruh nilaimu bagus?
♫Berutang sebuah pelukan padamu♫
Semangat belajar.
♫Aku sudah lama mengembara sendirian♫
Aku menunggumu.
♫Bertahun-tahun berlalu♫
Cepatlah pulang.
Nanti orang tuamu akan mencarimu.
♫Tetap menunggu di tempat yang sama♫
Peluk dua menit lagi.
♫Ungkapkan perasaan dengan berani♫
♫Tidak mengecewakanmu lagi♫
♫Pejamkan mata dan mendekatlah♫
♫Merasakan kehangatanmu♫
♫Di duniamu♫
♫Aku tidak ingin mundur♫
♫Kamu menghangatkanku♫
♫Sehingga aku tidak kesepian lagi♫
♫Reuni kita♫
♫Malah kembali ke awal♫
♫Saat ini sepertinya♫
♫Masa muda belum berakhir♫
♫Aku masih mencintaimu♫
♫Hati membawaku ke jalan pulang♫
♫Pejamkan mata dan mendekatlah♫
♫Merasakan kehangatanmu♫
♫Di duniamu♫
♫Aku tidak ingin mundur♫
♫Kamu menghangatkanku♫
♫Sehingga aku tidak kesepian lagi♫
♫Reuni kita♫
♫Malah kembali ke awal♫
♫Saat ini sepertinya♫
♫Masa muda belum berakhir♫
♫Aku masih mencintaimu♫
♫Ini adalah akhir terbaik♫
Kenapa kamu kemari?
Aku datang karena merindukanmu.
♫Aku masih mencintaimu♫
Matamu kenapa? Habis menangis?
♫Ini adalah akhir terbaik♫
Kenapa?
Ujianku gagal.
Gagal?
Kamu yang nilainya sebagus itu saja
bisa gagal,
kalau begitu yang nilainya lebih buruk darimu,
bukankah ujiannya juga gagal?
Apakah ini pantas ditangisi?
Menghabiskan begitu banyak uang.
Sudah dikumpul berapa lama?
[Tahun 2020]
Saat itu aku tidak memahaminya,
juga tidak tahu
tugasnya di sini berat.
Sering menelepon tapi juga tidak dijawab.
Kebetulan pada masa itu,
keluargaku mengalami sedikit masalah.
Ingin mencari orang untuk mengobrol,
tapi tidak ketemu.
Kemudian aku menanggungnya sendiri.
Lama kelamaan, aku mulai lelah.
Aku merasa
tidak perlu pacar seperti ini.
Kemudian,
kami putus.
Namanya juga cinta pertama.
Tidak banyak yang bisa bertahan sampai akhir.
Apa yang kamu katakan?
Bukankah di depan mata sudah ada sepasang?
Benar.
Kakak Ipar, jangan pedulikan.
Kamu dan Kapten Lu
pasti akan bersama selamanya.
Kapten Lu.
Kapten Lu.
Kapten Lu.
Ayo pergi.
Bakpao?
Aku tahu kamu suka makan.
Apa aku pernah memberitahumu?
Benar-benar pernah?
Kapan?
Di telepon.
Kamu bilang uang jajan sudah habis,
ingin makan bakpao,
yang isinya daging kambing dan bawang.
Saat itu.
Uang jajan,
kenapa bisa habis?
Habis sebelum waktunya?
Bolehkah aku makan isinya saja?
Kakak Ipar.
Ada sedikit urusan.
Sekarang?
Pergilah.
Aku cari tempat untuk bermain di sekitar sini.
Minum susu kedelainya.
Aku membelikannya khusus untukmu.
Ada sekelompok orang dari perusahaan bahan peledak sipil yang datang.
Mendengar kamu ada di Qining,
meminta untuk bertemu denganmu.
Ayo.
Masuk.
Aku perkenalkan kepada kalian,
Lu Yanchen.
Kapten Lu kami.
Pak Shen.
Kapten Lu.
Halo.
Sudah lama mendengar namamu.
Pak Shen,
Anda adalah senior.
Seharusnya aku yang berkata begitu.
Anak muda sangat menjanjikan.
Ada apa?
Hari ini libur?
Sebenarnya aku sudah dipindahkan ke Tianwen.
Kali ini cuti tahunan,
ada sedikit urusan.
Baik.
Beberapa waktu lalu,
kami juga pergi ke Beijing.
Ayo bicara sambil duduk.
Mari.
Semuanya duduk.
Kapten Lu.
Hari ini,
kami sengaja
membawa muridku
datang ke sini untuk belajar.
Mulailah.
Belakangan ini,
kami terus meneliti
bom dan ranjau
peninggalan masa perang.
Katanya Kapten Lu pandai menangani
bahan peledak di bidang ini.
Jadi,
aku khusus membawa para ahli ini
dan murid-muridku
datang ke sini untuk belajar.
Di dalam sini, memang ada beberapa bom
yang pernah kutangani.
Tahun lalu,
pernah sekali di sebuah proyek renovasi
kompleks tua,
yang digali
hampir sama dengan beberapa model ini.
Aku pernah menulis laporan penjinakan bom yang detail.
Nanti bisa meminta Kapten Qin
menunjukkannya kepada kalian semua.
Dulu,
kapten lamaku juga pernah menangani
bahan peledak
peninggalan masa perang.
Tapi data-data ini
harus aku cari sendiri.
Karena semuanya tertulis di kertas,
harus pergi ke ruang data.
Jika kalian tidak buru-buru,
sore ini
aku akan membereskan semua barang,
baru membicarakan secara detail dengan kalian.
Setelah kali ini,
segera pindai dan simpan data
agar kelak lebih mudah mencarinya.
Baik.
Halo.
Ada urusan mendadak.
Kamu makan siang sendiri.
Boleh pergi
ke hotel yang kita kunjungi kemarin.
Baik.
Aku tutup dulu.
Tunggu dulu.
Ada apa?
Hari ini kamu pulang jam berapa?
Apakah kita masih tinggal di sini malam ini?
Kalau kamu tidak rela pergi,
kita bisa tinggal beberapa malam lagi.
Kenapa kamu berkata seolah-olah...
Aku tutup dulu.
Sampai jumpa nanti malam.
Ada apa?
Cukup lembut.
Sangat langka.
Di sini tidak ada orang.
Ayo makan bersama.
Baik.
Kamu adalah pacar Kapten Lu?
Pacarku yang bilang.
Benar.
Kamu datang untuk menemui pacarmu?
Benar.
Kami sama-sama orang Henan.
Setelah dia dipindahkan ke sini,
sudah tiga tahun
tidak pulang ke rumah.
Setiap tahun aku datang untuk melihatnya.
Sudah tiga tahun tidak pulang?
Kamu sudah bekerja keras.
Pekerjaan mereka ini
memang
perlu siaga setiap waktu.
Aku sudah terbiasa.
Saat aku kuliah,
kami terpisah di dua tempat.
Saat itu dia ada di Qining.
Itu sudah lama sekali.
Sudah lama.
Ini.
Ini adalah bahan peledak
peninggalan masa perang
yang ditemukan penduduk saat ingin
membangun ulang rumah.
Panjangnya 40 cm.
Aku pernah melihat ini.
Bagus sekali.
Kapten Lu,
sekarang dengan adanya gambar ini,
jadi lebih mudah.
Ini, tulisan ini.
Tulisan kapten lama,
aku yang paling mengenalnya.
Aku perlihatkan naskahnya dulu.
Nanti malam,
setelah aku memindainya untuk kalian,
baru menyusun naskahnya menjadi versi elektronik.
Kapten Lu.
Maaf merepotkanmu, ya.
Sudah seharusnya.
Ini.
Catat ini.
Di dalam ini, semuanya adalah
bom peninggalan masa perang.
Ini adalah bom napalm.
Bom udara.
Ini adalah bom waktu.
Bom waktu pada zaman itu,
ada sebuah perangkat bola baja anti bongkar.
Asalkan menemukan ini,
cukup mencopot sumbunya.
Bom
akan menjadi sebuah bom mati,
maka tidak ada bahaya lagi.
Mempertahankan semangat belajar.
Bagus.
Dia lebih berpengalaman dariku dalam hal ini.
Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar lebih banyak.
Tidak ada ruginya.
Kemari.
Kenapa tidak mengeringkan rambut di musim dingin begini?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.