Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
UNTUK DIDA
BHAMRAGAD, MAHARASHTRA BARAT - 2003
Kenapa kau lakukan ini?
Tak ada cara lain.
Untuk apa?
KANTOR POLISI BHAMRAGAD DISTRIK GADCHIROLI
Kemerdekaan.
Kemerdekaan! Dari siapa?
Darimu dan tuan-tuanmu.
Jadi kau mau merdeka dari India?
Hanya kau dan tuanmu yang tak membangunnya.
Kami pun membangun.
Maka kami ingin merdeka
bukan dari India, tapi dari orang sepertimu.
Kau kira bisa merdeka
dengan angkat senjata dan membunuh orang di hutan?
Sardar...
Kau pikir hutan itu rumahku, ya?
Begini aturan di hutan.
Kau adalah pemburu... sekaligus buruan.
Dahulu kala, ada seekor singa lapar.
Kapan pun ia berburu, mangsanya kabur.
Maka ia minta bantuan kambing dan anjing
lalu ketiganya berhasil menangkap mangsa.
Singa meminta kambing membagi tangkapan menjadi tiga sama rata.
Kambing membaginya sama rata dan memberikannya pada singa.
Singa marah besar
lalu melahap si kambing.
Lalu menoleh ke anjing dan berkata...
"Sekarang kau bagi dua sama rata."
Anjing segera menyerahkan semuanya kepada singa
dan mulai menggerogoti tulang belulang si kambing.
Mata singa berlinang air mata kebahagiaan.
Katanya dalam suara girang...
"Memang benar kata orang!"
"Tak ada yang bisa kalahkan kesetiaan anjing."
Kau paham, Sardar?
Kami adalah kambing itu.
Kau anjingnya.
Dan singa itu adalah tuanmu.
Hei, Sardar!
Apa...
Selimut, rokok...
Apa ini? Main nakal di balik selimut?
Merasa kasihan...
Merasa kasihan padanya?
Pria sejati.
Sialan... Lepaskan! Bajingan...
Bos.
Mau menidurinya?
Tidak...
Aku membusuk menyentuh dia.
- Bos! Kemarilah. - Pak...
- Bos. - Pak...
Ini tak benar.
Ini tak benar, Pak.
Bajingan, kau mengajariku yang salah dan benar?
Kau mau mengajariku? Sialan...
Kau mau mengajariku?
Dasar sialan!
Akan kubawa dia. Pekerjaan busuk bagiku!
Ikat dia!
Merdeka!
Merdeka!
Dari kelaparan, kekejaman Rakyat jelata ingin merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Dari tirani, dunia yang celaka ini Hukum yang tak adil
Mereka minta kemerdekaan!
Merdeka!
- Kami akan berjuang untuk... - Merdeka!
- Kami akan mati untuk... - Merdeka!
Kami rebut kemerdekaan Jika gagal mendapatkannya!
Merdeka! Merdeka!
Merdeka! Merdeka!
Merdeka! Merdeka!
Merdeka! Merdeka!
Shankar!
Merdeka! Merdeka!
Merdeka! Merdeka...
Hidup revolusi!
Lepaskan dia.
Bom...
Jika ingin bebas dari penindasan, gunakan ini.
BAGIAN 1
HANYA ADA SATU TUHAN
13 TAHUN KEMUDIAN
Berapa Surti membayar?
Surti? Tidak, Bos, Anda salah.
Kami tak bekerja untuk Surti.
Kenapa kokain ini lebih murah dari punyaku di pasaran?
Bos, aku tak minum Pepsi mau pun membuat Coke...
Bagaimana aku tahu?
Tidak Pepsi mau pun Coke?
Tidak, Bos.
Fanta?
Gold Spot? Mangola? Double-Seven?
- Tidak, Bos. - Apa lagi yang kau buat?
Keledai?
Bos... Untuk apa aku bohong padamu?
Bos...
Turunkan senjatamu.
Bos, suruh mereka letakkan senjatanya!
Turunkan senjatanya. Mari bicara. Tolong, Bos!
Dari mana orang Nigeria dapat kokain?
Nairobi... Mereka dapat dari Nairobi.
Caranya?
Disembunyikan di bokong.
Ya.
Berapa bagianmu setiap bulan?
Bos...
Tidak, Bos.
Baik, Bos, akan kukatakan. Bos... 200 ribu Rupee!
Kami dapat 200 ribu Rupee per bulan, Bos.
Pak, kau bilang dapat 100 ribu Rupee.
Paaji!
Bajingan ini bohong. Sebenarnya dia dapat 300 ribu Rupee.
Tidak. Bulan lalu dia memberiku 300 ribu. Sebelumnya 200 ribu.
Kita apakan dia?
Tembak dia.
Tidak, Bos! Bos, kumohon jangan bunuh aku...
Bos, aku bersumpah! Akan kupatuhi perintahmu.
Bos...
Kau dijual?
Sudah terjual!
Sudah terjual!
Berapa?
Surti tak hanya mengacaukan bisnisku, tapi juga reputasiku.
Kuberikan berapa pun kau minta untuk membunuhnya.
Terima kasih, Surti.
Minum ini.
Cobalah.
Enak.
Apa namanya?
Khandvi...
Khand...
- Vi... Khandvi! - Khandvi... Masuk akal.
- Ini roti gulung Gujarat, tahu? - Ya.
Paaji, dengarkan.
Aku akan menghabisi Surti dan orang kulit Hitam.
Kau habisi yang lainnya.
- Boleh aku yang habisi Surti? - Kenapa?
Lima tahun ini dia membuatku makan tahi
sampai perutku jadi tambang minyak dan gas alam.
Aku jadi sakit asam lambung, Pak.
Aku yang harus membunuhnya.
- Phoolwadi... Bunga. - Boleh kucoba?
- Enak? - Ini sayur, ya? Tanpa daging?
Ada dagingnya.
Di sana.
Hei, Kawan!
- Mari pergi, Pak? - Belum pukul 12,00.
Ada apa pukul 12,00?
Aku harus buka puasa.
Ini hari Selasa.
Tunggu...
- Ayo, Paaji. - Ya.
Gopal, kau baik-baik saja?
Yah...
Anjing liar tersesat!
Anjing liar tersesat!
Menggigit di sini, menggonggong di sana!
Menerkam apa pun di hadapannya!
Anjing liar tersesat!
Anjing liar tersesat!
Jangan bunuh aku, Bung. Aku tadi menyelamatkanmu! Kumohon!
Pistolku...
Ambil. Cepat!
Cepat.
Kumohon, Bung. Ayolah, Bung, kumohon...
Dengar, ambil yang kau mau... Ambil narkoba kalau mau.
Pak, kita jangan terlibat dalam urusan ini...
Kau gila? Barang senilai dua juta ditinggal begitu saja?
Kita dapat dua juta untuk membunuh Surti.
Lalu? Masalah kalau dapat dua juta lagi?
Jika kita tinggalkan narkoba ini,
orang akan berpikir kesepakatan antara Surti dan orang Nigeria bermasalah,
lalu baku tembak terjadi.
Semuanya bersih, Pak. Tolong dengarkan aku.
Lalu bagaimana dia?
Bunuh dia.
Apa katanya?
Dia memintaku untuk membunuhmu.
Apa-apaan? Kenapa? Apa perbuatanku terhadap kalian?
Pak, apa yang kau lakukan?
- Kenapa kau ingin aku mati? - Tidak!
- Dengar, tolong... - Jika dilepaskan akan kacau.
- Aku akan pergi segera. - Tak mungkin!
Aku janji keluar India secepatnya.
Jika dia lepas, bisa kacau.
- Kumohon, Pak. - Pak, tembak!
Hei, lepaskan aku! Lepaskan!
Dengar, Paaji, aku sudah menurutimu.
Kini kau harus menuruti permintaanku.
Ambil tasnya.
- Pak... - Ambil sebelum kau kutembak!
Mau berapa lama kau gundah, kawan jutawanku?
Senyumlah sedikit.
Kau tak belajar berenang saat pelatihan, Pak?
Berenang? Tidak. Aku belajar melayang.
Identitasmu.
Mata licik Matamu yang licik
Seperti pecahan kaca... Mata licik...
KANTOR ASISTEN KOMISIONER POLISI ZONA 1, MUMBAI
Aku paham kenapa dia melakukannya.
Kau sudah lama mengabdi di kepolisian, Paaji.
Namun tetap berbuat begini.
Pak, kami menyamar di sana.
Oh, benar!
Siapa yang menugaskan penyamaran ini?
WKP-mu?
Komisaris?
Menteri Dalam Negeri? Atau Perdana Menteri?
Pak, masalah ini agak sensitif jadi kami rahasiakan.
Saya jujur, Pak.
Nak, kenyataannya kami menemukan narkoba di mobilmu.
Kau dapat uang untuk membunuh Surti, 'kan?
- Ayolah... - Harus kuungkap yang memerintah?
- Tidak, Pak. Bukan penembakan... - Karena kau,
Surti tertembak empat peluru dan jatuh dari atap,
tapi masih selamat.
Berdoa saja dia tak sadarkan diri dari koma.
Atau kepala dan pekerjaanmu akan hilang.
Kalian belum dapat uangnya?
Ini jadinya bila kalian menunggangi dua kuda sekaligus.
Paaji!
Manohar! Sedang apa di sini?
Sekarang aku sopirnya.
Aku dengar soal skorsingmu.
Ingat Bu Pammi?
- Poonam Sandhu... - Ya.
Dia favorit Komisaris belakangan ini.
Dia ditugaskan di Navi Mumbai.
Dia juga menangani tawar-menawarnya.
Sampai jumpa.
Dini hari,
sangat dingin...
Ingat?
Ruang kumpul kosong...
Kamar juga kosong.
Kami pikir dia sudah lari.
Namun, saat itu kudengar suara keras di toilet.
Pintunya tak dikunci.
Aku membukanya dan dia di sana, duduk di toilet membaca koran.
Saat dia bangun, kutembak dia...
Dor!
Dia duduk kembali di toilet.
Lalu, nyawanya mengembus keluar dari tubuhnya lewat bokong
menuju Malaikat Maut, menjerit...
Benar.
Masa lalu yang indah, Paaji! Sangat menyenangkan!
Sekarang juga, Bu Pammi, untuk kerja keras.
Namun, gairah jadi inspektur polisi sudah hilang sekarang.
Sekarang aku punya tanggung jawab.
Maksudku...
Anda belum menikah?
Pernikahan?
Contoh bagus.
Jadi, sudahkah?
Belum, Paaji.
Yang Mahakuasa berhenti menciptakan pria belakangan ini, Paaji.
Sekarang hanya ada bajingan cilik, bajingan besar,
atau bajingan sangat besar yang Tuhan kirim ke dunia.
Andai singa kehausan...
ia tak akan minum racun, bukan?
Bu Kepala, kami pergi menemui Pak Rajiv beberapa hari lalu.
Dia bilang tak ada harapan.
Anggap saja dia pengantin baru.
Dia kira akan setia pada istrinya selamanya.
Aku sudah bicara pada para atasan. Masalahmu bisa dibereskan.
Berapa biayanya?
Hanya ada satu Tuhan.
Satu? Untuk dua orang?
Tidak.
Satu orang satu, dua orang dua.
Siapa itu?
Keparat, ada toilet umum tiga meter dari sini!
Kau tak lihat?
Tidak! Namun, aku bisa menciumnya dari jarak satu kilometer.
Tutup mulut dan pergilah.
Apa aku kencing di van-mu?
Bu Kepala...
- Bilang apa tadi? Dasar... - Kenapa kau...
Harry!
- Pammi! - Hei!
- Cuci tanganmu dulu! - Ini bersih.
- Lama tidak jumpa! - Benar, Harry.
Masuklah, mari minum untuk mengenang masa lalu.
Tidak, aku sedang bertugas.
Apa aku terlihat sedang liburan?
- Ayolah. - Aku ada teman di van.
Anggap saja istirahat makan. Kita pesankan mereka makanan juga.
- Kau tak mau dengar. - Hei, Ramesh!
Kemari.
- Berapa orang di van? - Empat.
Pesan makanan ayam dan Biryani
untuk kawan-kawan di van itu.
Kau tak berubah.
- Ayo. - Baiklah.
Ayo.
Kau tak berubah sedikit pun.
- Enak, bukan? - Aku tahu.
Ini Paaji... Kolega lamaku.
Dan ini Murli.
- Ini Gopal, Bu Kepala. Gopal Tiwari... - Gopal.
Gopal. Maaf.
Keduanya diskors saat ini.
- Benarkah? - Ya.
Dan ini... favoritku, Harry.
Harry.
Dia dulu polisi, pensiun dua tahun lalu.
Pekerjaannya sekarang, aku pun tak tahu.
Bukan apa-apa.
Aku jadi pengaman pribadi.
Untuk perusahaan Transecure ini.
Perusahaan bank?
Kami tangani pengiriman ATM.
Bagaimana gajinya?
Jauh lebih baik dari polisi.
Risikonya?
ATM berisi ratusan ribu?
Bukan ratusan, jutaan!
Kami mengisi semua ATM dari Chembur sampai Panvel.
Setiap malam.
- Astaga. - Begadang, melelahkan.
- Benar. - Begitulah.
Ceritakan satu lelucon.
- Soal Goa? - Bukan. Yang baru, segar.
Baiklah. Yang ini segar dan baru.
Satu sungai, sepasang kekasih...
- Satu sungai, sepasang kekasih. - Bagus.
Kalajengking jantan di satu sisinya
dan yang betina di sisi lain.
- Bagaimana mereka bersatu? - Baiklah.
Kemudian kalajengking jantan melihat ada katak di sisinya.
- Baik. - Dia meminta pada katak,
"Tolong bawa aku ke seberang, aku akan sangat berterima kasih."
Si katak agak ragu
dan bertanya, "Kalau kau menyengatku di jalan?"
- Betul. - Benar, 'kan?
Kalajengking tertawa keras,
dan bilang, "Kau gila?"
"Pakai logikamu."
"Jika aku menyengatmu, maka aku tenggelam denganmu!"
- Benar. - "Aku memohon, tolong bawa aku
atau Juliet-ku akan meninggalkanku."
Si katak merasa kasihan pada kalajengking.
Dia izinkan kalajengking naik ke punggungnya dan lompat ke sungai.
Setelah separuh jalan
katak merasa ada yang menaruh
roket panas menyala di pantatnya.
Awalnya bisa panas dan ganas
dari si kalajengking...
kemudian, mati beku kedinginan.
Katak ternganga.
Dengan napas terakhirnya dia bertanya,
"Apa logika dari semua ini, Kawan?"
Kalajengking bergumam
dan berkata...
"Persetan dengan logika,
ini sudah karakterku!"
Karakterku...
Karakternya!
Karakter... Apa? Persetan karakternya?
Betul!
- Bukan! Persetan dengan logika. - Persetan dengan logika!
- Kubilang karakter! - Betul!
Kalajengking dibodohi. Maaf... kataknya!
- Karakter... - Karakternya.
- Persetan logika. - Persetan logika.
Pak!
Pak Gopal!
Pak, bagaimana aku dapat satu juta?
Apa aku seperti Google yang kau mintai saran?
Lakukan sesuatu...
Tembak kepalamu. Semuanya akan beres.
Pak, sudah kubilang jangan bawa narkobanya.
Namun, kau tak mendengar.
Jika aku hancur, aku akan membawamu.
Kau bilang apa?
Kau bilang apa?
Aku akan jadi saksi pemerintah!
Kau mengancamku?
Kalau mau, aku bisa menyalahkanmu!
Semua polisi mendukungku.
Satu isyarat dan mereka akan bersaksi melawanmu di pengadilan.
Berengsek.
Berhenti.
- Vivek! - Katakan lagi, Berengsek!
Vivek! Vivek...
Ini yang kau pelajari di sekolah?
Mau jadi apa nanti? Gangster?
Tak tahu malu! Berkelahi di jalan seperti anjing liar!
Bukan aku yang mulai, Ayah!
Aku sudah lama bersabar.
Namun hari ini, tak bisa.
Dia bilang, "Ayahmu akan dipecat dari pekerjaannya."
"Jadi, jual saja medali ini
sebelum pemerintah menariknya."
Ini alasanmu berkelahi? Ya?
Ayah, apa benar kau akan kehilangan pekerjaan?
Kau sudah gila?
Kehilangan pekerjaan kenapa?
Anak bodoh!
Selama kita dapat lebih satu juta, kita bagi rata di antara kalian semua.
Pak Gopal, akan kulakukan apa pun untukmu. Serius!
Apa?
- Apa yang kau pikirkan? - Ya, Sayang?
- Ayah di mana? - Di kantor. Pulang terlambat.
- Tidurlah. - Ayah bernyanyi nina bobo dulu.
Sudah lupa soal penyerangan Kurla?
- Jika bukan Pak Gopal... - Baiklah.
kau sudah digantung atas pembunuhan anak itu.
- Nina bobo, oh nina bobo - Bajingan! Bicaralah.
Aku ingin tahu apakah kau...
Maaf, Pak Gopal. Aku mendukungmu.
- Kalau tak bobo digigit nyamuk. - Pak...
Hore! Selamat malam, Ayah!
Selamat tidur, Sayang!
Pak, kami tak bisa pakai senjata atau peluru kami.
Lalu bagaimana kami menembak?
Semua sudah diatur. Sudah ada di jip.
Sedikitnya ada empat juta di van itu.
Harus aku jelaskan sendiri?
Apa harus kunyatakan tertulis?
Kami sudah bilang kami ikut.
Dengan napas terakhirnya dia bertanya...
Apa logika dari semua ini, Kawan?
Kalajengking bergumam...
Persetan dengan logika, ini sudah karakterku!
Logika...
Bukankah itu Gopal?
Siapa? Yang melambaikan tangan?
Bukankah dia diskors?
Ya, itu Gopal.
Jangan matikan mobilnya.
Gopal!
Ada apa?
- Pammi bersamamu? - Sialan!
Bajingan!
Pak! Mobilnya terbakar! Lari!
Pergi! Lari! Dengarkan aku!
Apa yang kau lakukan? Tidak, bukan ke sana!
Kau melihat apa?
Kau takkan bisa lolos...
- Pak! Kumohon... - Bukalah.
Pak, hanya ada satu kunci. Satu lagi ada di Samar.
- Samar siapa? - Yang tadi lari.
Deshpande, periksa!
Kumohon jangan bunuh aku, Pak, aku punya dua adik...
Keluargaku membutuhkanku, Pak.
- Pak, kumohon! - Tutup mulutmu!
Tutup mulutmu!
Kubilang tutup mulutmu.
Berlutut!
Deshpande!
- Tidak, Pak. - Sial! Deshpande!
Pak, kumohon!
Mereka berasal dari jalanan!
Mereka menerkam dan menggonggong!
Anjing!
Anjing!
Berhenti! Kumohon, berhenti!
Berhenti, Pak! Kumohon!
Berhenti, kumohon!
Kumohon! Berhenti, Pak!
Minggir!
Pergi!
Enyahlah, Bajingan!
Berhenti, kumohon...
Hei! Berhenti!
Berhenti menangis! Dia masih hidup!
Kawan, ayo pergi saja!
Samar! Dengar! Samar...
Jika kita lepaskan dia, celaka kita.
Maaf, Pak! Aku mengacau.
Aku tak lakukan apa pun. Kumohon, Pak!
Jangan tembak aku, Pak.
Tutup mulutmu!
Tutup mulutmu!
- Jangan bunuh aku, kumohon. - Diam!
Bangun.
Masuklah.
Halo! Gerombolan bajingan menyerang kami dan mencuri van-nya!
Mereka pergi ke arahmu! Hentikan mereka!
Hentikan mereka, aku segera datang!
Hentikan mereka!
Dua kilometer dari sini, ada jalan tanah di sisi kanan.
Pak, kau tak akan membunuhku, 'kan?
Tidak.
Berjanjilah.
Setelah sampai di lokasi, aku ambil uangnya dan kita pulang.
BAGIAN 2
AYO KE KANADA?
Bos, Gopal datang.
Wakil inspektur.
Kami menyerang mereka, Bos.
Bahkan bunuh 10 anak buahnya.
Namun yang harusnya kau bunuh masih hidup.
Nasibnya bagus, Bos, dan nasib kami buruk.
Aku serba kacau.
Aku tak dibayar untuk penembakan dan juga diskors.
Kau juga buat kami tampak tolol. Bagaimana soal itu?
Aku akan dipecat, Bos.
Mungkin juga dipenjara.
Jika mereka menyiksaku di penjara dan kubocorkan soal...
- Kau mengancam kami? - Tidak.
Aku meminta bantuan!
Apa maumu?
Satu juta.
Aku datang bukan minta uang. Aku akan mengusahakan.
Aku hanya butuh senjata dan peluru.
Ayah!
Oh, Sayangku!
Mau ke mana rapi begini?
Vashi. Hari ini ulang tahun temanku.
Vashi? Jam segini?
Ya! Perancang busana berpengaruh juga akan hadir.
Akan kubicarakan gaun pengantin dengannya.
Pukul berapa kau pulang?
Aku akan menginap di rumah teman.
- Tidak! Kau menikah dua pekan lagi. - Lalu?
Ayah?
Baiklah, baik. Pergilah.
Namun, Daanish akan menemanimu.
Bos, aku ada rapat di...
Dia juga menginap di sana.
Tidurlah di mobil, dan antar dia pulang pagi-pagi.
Baiklah.
Aku menyayangimu.
- Meong! - Meong.
Ayo, Danny, cepat! Butuh dua jam untuk ke Vashi.
Akan menguntungkan jika aku tetap bekerja, Bos.
Mau ke Vashi bagian mana?
Entahlah.
Apa maksudmu?
Maksudku, aku tak tahu!
Berhenti main-main, Lovely. Katakan mau ke mana.
Mau kabur?
Apa kau tuli, Bajingan!
Bermesraanlah di rumah!
Lovely, jangan.
Aku akan bermesraan dengan ayahmu! Bawa aku ke rumahmu!
Lovely!
- Lovely, apa... - Bocah penakut!
Duduklah.
Apa kau gila?
Aku putri Khobre.
Taruhlah.
Dengar, yang kau lakukan ini...
Lovely...
Berhenti. Hentikan.
Kubilang hentikan!
Lovely, biar kulihat.
Aku tertekan di rumah...
sejak kecil.
Aku hanya ingin hidup biasa.
Bisa jalan-jalan, naik bus, naik kereta lokal...
sendiri.
Kau tahu, sampai kini, tak ada teman yang bertengkar denganku,
menggodaku, memarahiku, atau mengalahkanku.
Hanya...
Namun, semua perlakukan aku bagai ratu...
Aku bisa lihat ketakutan di mata mereka...
tiap saat.
Sepanjang hidupku, aku terjebak dengan nama Khobre...
seperti sebuah kutukan.
Aku mau apa dari hidup ini, Danny?
Cinta, bukan?
Dan apa yang kudapat?
Anak tukang batu!
Aku ingin hidup denganmu
Tak maukah kau mati bersamaku?
Aku ingin hidup denganmu
Tak maukah kau mati bersamaku?
Saat hujan turun
Dan awan menderu Tetaplah bersamaku
Pada malam-malam gelap Buat aku tertawa kencang
Sampai air mata menetesi pipiku
Aku ingin hidup denganmu
Tak maukah kau mati bersamaku?
Ayo kita menyeberang terowongan
Masuk ke kehidupan kita selanjutnya
Momen di mana
Kita luruh dalam pelukan
Mari penuhi hasrat kita untuk hidup
Seperti ini, jika memang harus...
Kenapa kita tak kabur saja?
Setelah menikah, semua orang akan menerimanya.
Menerimanya!
Untuk jadikan pembantu mempelai prianya alih-alih anak tukang batu!
Tahu dia akan apakan aku?
Kita bisa mulai hidup baru dengan nama baru, jauh dari sini!
Mereka akan temukan kita bagaimana pun caranya.
Tak ada cara untuk lari dari mereka di negeri ini.
Dan di luar negeri?
Mau ke mana kita? London, Amerika?
Kanada.
Aalaap meneleponmu?
Bukan. Tapi Rasika.
Katanya Aalaap juga menawarimu.
Apa?
Mereka punya banyak kontak di pemerintahan sana, Danny.
Mereka bisa dapat visa residen permanen dengan mudah.
Dia pasti juga bilang padamu soal biayanya!
Satu juta Rupee! Dari mana uangnya?
Kita pasti dapat!
- Dari mana? - Kita pasti dapat!
Sampai kita mendapatkannya, kita bisa sembunyi di sini.
Kerala, Tamil Nadu, Manipur, Assam, di mana pun!
Dengar...
tanpamu,
hidupku seperti mati.
Namun, sebenarnya...
kita tak akan mati tanpa satu sama lain.
Kita harus belajar hidup tanpa satu sama lain.
Kau saja!
Aku mau menembak kepalaku di malam pernikahan.
Nina bobo, oh nina bobo...
Sudah lupa soal penyerangan Kurla?
Jika Pak Gopal tak ada,
kau pasti sudah digantung atas pembunuhan anak itu.
Maaf, Pak Gopal, aku mendukungmu.
Sedikitnya ada empat juta di van itu.
Harus aku jelaskan sendiri?
Apa harus kunyatakan tertulis?
Aku menatap mereka tajam
Saat kukatakan beberapa hal Untuk itu aku siap mati
Uang, keangkuhan, kejayaan Kehidupan, kita menguji takdir
Bawa pistol ke pertempuran Namun, bawa pisau untuk berjaga
Siapa yang kau percaya? Siapa bisa kau andalkan
Bila musuh menyerbu masuk?
Simpan sendiri, Tak ada yang bisa dipercaya
Mimpi buruk tiap malam Saat kau mengejar mimpi itu
Apa yang kau kejar sekarang?
Mereka berhenti.
Danny, tak ada apa pun di sini.
Menunduk.
Ada apa?
Menunduk...
Danny.
Apa? Apa yang terjadi?
Kau mau apa, Danny?
Tuhan sudah menjawab doa kita.
Tahu berapa banyak uang di van itu?
Banyak... Tak hanya Kanada, kita bisa ke mana pun di dunia!
Lovely...
dengar...
sembunyi di balik batu itu... aku akan segera kembali.
Tidak...
Tak ada waktu, Lovely! Pergilah!
Masuklah.
Tak boleh pergi sendiri!
- Terlalu berbahaya! - Itu alasanku menyuruhmu.
Aku ingin hidup denganmu.
Tak maukah kau mati bersamaku?
Ayo.
Apa yang kau lakukan, Danny?
Dia yang akan dihukum atas perampokan.
Lovely, kemari.
Bantu aku.
Ayo.
Kita harus apa?
Bawa van ini.
Pindahkan dia ke mobil kita lalu ledakkan.
Ayo pergi.
Ayo.
Pegang tangannya.
Ke sini.
Ayo.
Lari!
Luar biasa!
Ya!
Periksa belakang.
Kau temukan kuncinya?
Sedang kuperiksa, sebentar.
BAGIAN 3
KACANG
Pergilah.
Enyahlah.
Pergi!
Paaji! Kau belum tidur?
Ya.
Dengarkan... teman-temanmu bersamaku di sini...
bicara pada mereka.
Halo, Paaji! Ini aku, Jehangir.
Paaji, kami dalam masalah besar. Hanya kau yang bisa menyelamatkan kami.
Kumohon... tolong bantu kami!
Paaji, kau mendengarkan?
Paaji...
- Dengar? - Ya, Bu. Aku ke sana.
Itu benar, Bu Pammi.
Saat aku ditugaskan di Gadchiroli,
kami memanfaatkan senjata mereka untuk bersepakat dengan Naxals.
Kami juga sering membeli barang mereka di Mumbai
untuk penyerangan.
Mereka bagai Picasso di bisnis itu.
Dari Kashmir sampai Kanyakumari, semua pakai senjata mereka.
Tidak di Maharashtra...
Kami punya kesepakatan dengan mereka.
Jika tak jual senjata di sini...
kami tak akan menahan mereka.
Itu alasan mereka belum pernah ditangkap.
Mereka tetap tak akan ditangkap...
tapi senjata mereka ditemukan di UP pada kasus pembunuhan menteri.
Karena pemerintah kedua tempat itu dari partai yang sama,
kita harus pakai cara kita sendiri.
Ayah! Polisi!
Lari!
Aku tak bisa bersaksi melawan mereka.
Itu pun bukan mauku.
Lalu?
Bu, kami ini orang biasa...
Kasihanilah, kumohon.
Apa pun yang kami dapat di bisnis ini, ambillah semua!
Kau mau menyuapku?
Tidak, Bu... anggap saja hadiah.
Berapa kau mau memberiku hadiah?
Simpanan kami 300 ribu, Bu. Ambillah semua!
Dengan 300 ribu, kita tak bisa mentraktir kacang satu kantor.
Kalau juta?
Sedikitnya tiga juga Rupee dibawa tiap mobil
setiap malam.
Sopirnya dari desa kami.
Dia sudah membuat rencana.
Ini berisiko, Bu Pammi.
Memang...
Kau sudah mengatur bagianmu?
Maka, lakukanlah...
pengaturannya!
Ada ikan... Ada sungai...
lempar umpan dan tarik pancingnya!
Satu juta untukmu, sisanya kami.
Senjata?
Kau akan dapatkan.
Waktumu 24 jam.
Dua dari kalian bisa bebas, yang ketiga di sini sebagai jaminan.
Yang mana?
POLISI MUMBAI
Dia teman lama kami.
Kami merantau ke Mumbai bersama.
Siapa yang jam segini...
Kakak, kau?
Baik-baik saja?
Tak ada yang bahaya...
Antara Navi Mumbai dan Panvel,
jalan Khandala lama membentang 5-6 kilometer, sangat sepi.
Kau harus ke sana dan bunuh dua penjaga, itu saja!
Tiga sampai empat juta dalam waktu 3-4 menit!
- Kapan dikerjakan? - Malam ini.
Malam ini tak mungkin...
Aku ambil cuti satu pekan kemarin.
Telepon mereka dan batalkan.
Polisi-polisi sialan itu akan menangkapku lebih dulu.
Maaf, Bu.
Kau juga, Pak.
Harus malam ini, Mamu... pikirkan cara lain.
Ada satu cara.
Jika aku dipanggil karena ada sesuatu.
Bagaimana caranya?
Jika sopir yang bertugas tak masuk,
maka mereka harus meneleponku.
Namun, kenapa dia tak masuk?
Di gang itu... kiri kedua, ke kanan, lalu dua lagi di kiri...
Gedung warna kuning, tanya di mana Ganesh.
- Kukirim fotonya lewat WhatsApp. - Ya. Foto.
Kuteruskan padamu.
Bukan, ke semuanya.
Haruskah kubuat grup? Supaya mudah.
Apa namanya?
"Kacang!"
Ya... Kacang.
Ejaannya "kaacang" atau "kacang"?
Kacang.
Kupikir juga begitu.
Benarkah?
Sekarang, ayo.
Dia pergi menemui saudaranya... Di Kalwa.
Kenapa dia tak menjawab telepon?
Teleponnya jatuh ke toilet semalam.
- Yang ini. - Tak apa-apa!
Sudah rusak.
Dia akan memperbaikinya hari ini.
Ada apa, Bu?
Kenapa mencari Ganesh?
Penyelidikan.
Halo.
Bu, dia di gang sebelah. Cepat kemari.
Baiklah.
Baik.
Beri tahu Ganesh.
Ya.
Masing-masing satu.
Kirimkan ke tempat yang tepat.
Hitung uangnya dengan benar lalu kembalikan.
Jika ada satu Rupee pun yang hilang, akan kupotong darimu!
- Kirim tepat waktu... - Ganesh?
Lari!
Apa...
Berhenti.
Celaka, celakalah aku
Celaka, celakalah aku
Celaka, celakalah aku...
Kami tak berbuat apa pun.
Kami tak berbuat apa pun.
Lelakinya gila Dan gadisnya manis
Berjalan ke altar Namun ada masalah
Aku senang sendiri, Heran kenapa menginginkan istri
Celaka, celakalah aku
Celaka, celakalah aku
Berhenti!
Ganesh, berhenti!
Ganesh, berhenti!
Kau akan menyesal saat kutangkap.
Minggir.
Bu, sebentar saja.
- Berapa kali harus kubilang? - Biar aku...
Aku baru buka toko. Pergilah ke tempat lain.
- Hanya dua rambut... - Aku baru buka toko.
- Ini. - Pergilah ke tempat lain.
Aku senang sendiri Heran kenapa menginginkan istri
Celaka, celakalah aku
Celaka, celakalah aku...
Ganesh!
Kami hanya ingin bicara... Turun. Percayalah.
- Tidak, Pak. - Turunlah.
Turun. Percayalah.
Bajingan.
Sungguh... turunlah saja.
- Ini demi kepentinganmu. - Tidak, Bu.
Turun.
Ganesh...
Mamu.
Ganesh!
Dasar bodoh!
Buat grupnya, dasar keparat.
Tambah saus.
Pegang ini.
Halo.
Ya.
Ya. Tidak, aku akan tiba tepat waktu.
Ya.
Aku dipanggil bekerja.
Bu Pammi...
Boleh bertanya jika tidak keberatan?
Tanya saja, Paaji.
Kenapa kau lakukan ini?
Untuk peregangan, Paaji.
Peregangan?
Sudah lihat ukuran ruang staf kita?
Kecil sekali.
Dan lihat aku.
Saat peregangan, kepalaku kena plafon.
Begini, aku menonton drama bagus di Lonavala.
Bagus. Di mana?
Orang yang menulis lagu untuk film.
Persis di belakang bungalonya.
Penulis lirik mana?
Pria yang menulis,
"Yang kurasakan saat aku melihat seorang gadis..."
Javed Akhtar.
Javed Akhtar.
- Ya, Mamu? - Gerombolan bajingan menyerang kami!
Mereka ke arahmu. Hentikan mereka.
Sial!
Paaji!
Tembak mereka, Paaji.
Ambil pemotong kacanya.
Danny! Danny, bangun!
Sial!
Paaji!
Aku bidik dulu!
Lovely?
Siapa Lovely?
Lovely Khobre.
Putri Narayan Khobre, Lovely Khobre?
Apa yang dia lakukan di sini?
Haruskah kutembak dia?
Kau sudah gila, Paaji?
Khobre bisa membakar seluruh Mumbai. Berikan padaku.
Lovely!
Siapa itu?
Ini aku, Paaji... teman ayahmu.
Apa yang kau lakukan di sini?
Apa yang kau lakukan?
Keluarlah, akan kujelaskan semuanya.
Untuk apa membawaku? Jika aku keluar, kau akan menembakku.
Sayang, kau di dalam pun aku bisa menembakmu.
Keluarlah... tak akan terjadi apa-apa.
Lovely.
Bagaimana bisa kau ke sini?
Tutup mulutmu.
Turunkan senjatamu.
Kalian dulu.
Saat ayahmu bekerja di Byculla,
aku menyuapimu sambil kugendong.
Andai aku tak di sana, dia pasti sudah mati.
Sekarang letakkan...
Letakkan!
- Letakkan. - Kiri atau kanan?
- Letakkan! - Aku.
Paaji?
Paaji, hentikan!
Paaji, berhenti menembak. Aku Gopal.
Paaji, apa yang kau lakukan di sini?
Kau yang jawab, Berengsek! Bagaimana bisa kau di sini?
Hidup India, Bu.
Kau juga?
Lovely?
Apa yang kau lakukan di sini?
Danny, kau...
Kalian berdua...
Astaga...
Siapa dua orang ini?
Mereka bersama kami.
Kami?
Kalian bersama-sama?
Bu...
ada tiga juta di dalam van...
mari bagi rata.
Kita harus bicarakan.
Kami juga.
Baiklah... Aku hitung sampai lima.
Di hitungan kelima, kita buang senjata ke sana.
Setuju?
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima!
Sial... hilang adab di dunia. Kalian semua anjing!
Aku hitung sekali lagi...
jujurlah dan buang senjatamu.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima!
Dasar idiot...
Siapa yang harus kubunuh dulu?
Hanya ada satu Tuhan!
Nyawamu akan mengembus keluar lewat bokong menuju Malaikat Maut...
Hidup India, Bu.
Sialan! Lihat.
Paaji?
Kau bahkan tak bisa bercanda? Luar biasa...
Aku serius... Lihat...
Sudah kubuang senjataku. Lihat.
Sungguh... Tadi bercanda.
Paaji.
Sembunyi di sana.
Ambil senjatamu.
Ini, ambillah!
- Ini! - Ayo!
Bajingan. Mana senjataku?
Lakshmi!
Kau mengenal mereka?
Bisa bersepakat dengan mereka.
Kau gila? Kita polisi... Mereka akan bunuh kita, Bodoh!
Dia benar.
- Aku tak akan bilang kau polisi. - Dan aku?
Akan kumintakan maaf.
Jika mereka tak mau?
Telanjang saja!
Keluar jika kalian masih hidup.
Bu Lakshmi!
Shankar.
Sardar?
Sedang apa di sini?
Apa yang terjadi?
Dia mengkhianati kita.
Dia pasti mati, tapi takkan berkhianat.
Minta yang lain keluar.
Semua, keluarlah.
Tinggalkan senjata.
Sekarang pergilah.
Kulepaskan kalian karena Paaji...
kalau tidak, sudah kukubur kalian hidup-hidup.
Paaji.
Bu Pammi...
Aku ikut mereka mulai hari ini.
Darah beraroma tanah...
Udara yang dipenuhi Dengan aroma darah
Darah beraroma tanah...
Udara yang dipenuhi Dengan aroma darah
Darah mengucur dari jantung
Membasahi bumi...
Jantung yang kosong Benar-benar kosong
Tak ada jiwa yang tampak
Air mata darah Membasahi pipi...
Darah beraroma tanah...
Udara yang dipenuhi Dengan aroma darah
Lahar keserakahan...
adalah panggilan kematian
Ego yang menyalak keras...
Dengar! Dengar! Dengar!
Kencang dan jelas
Kencang dan jelas
Tipu daya adalah karaktermu
Urusanmu hanya kejahatan
Jiwamu seharga satu sen
Darah beraroma tanah...
Udara yang dipenuhi dengan aroma darah
Aromanya menyebar jauh dan luas
Tiap jiwa bergetar
Tiap tubuh membusuk
Darah beraroma tanah...
Bu, apa yang kau lakukan?
Jangan...
Bu, kita akan mengarang cerita.
Bersama-sama, kita membunuh Naxals. Kita bagi dua uangnya.
Dan kita akan dapat medali penghormatan.
Dapat apa kau dari membunuhku? Kau juga akan mati.
Mana logikamu?
Persetan dengan logika...
Bu, jangan.
Inilah karakterku!
Bar dan Restoran Sonata...
Deshpande mengadakan pesta untuk putranya yang lulus ujian.
Kami makan-makan dan akan pergi ke Lonavala...
berkendara jauh.
Dan di jalan, kami diserang...
Geng Khobre...
pengemudi van bekerja sama dengan mereka.
Mereka membunuh petugas pengamanan
dan pemuat sebelum kami sampai.
Kami mencegat mereka.
Dalam beberapa menit kami menguasai mereka.
Namun, aku tak tahu bagaimana bisa Naxal di sana.
Kami berusaha mengatasi mereka,
tapi tak bisa menandingi senjata mereka.
Semuanya tewas...
hanya Paaji, Bu Poonam, dan aku yang hidup.
Dengan van dan uangnya, mereka bawa kami ke persembunyiannya.
Aku lihat ada peluang,
dan tanpa pikir panjang, aku menyerang sopirnya.
Van hilang kendali dan terperosok dari bukit.
Jatuh menabrak dinding benteng yang terbengkalai lalu meledak!
Separuh anggota Naxal tewas dalam kecelakaan,
tapi kami tak tahu pemimpin mereka, Lakshmi, masih hidup.
Dia gunakan peluru terakhirnya untuk menembak Paaji di kepala.
Lalu meledakkan granat untuk menyerang kami.
Di saat terakhir, Bu Kepala mendorongku keluar radius ledakan...
Hormat senjata!
Aku hidup berkat Bu Kepala.
Tembak.
Dia yang layak mendapat medali ini.
Tembak.
Semua ini karena Bu Pammi... Maaf, pengorbanan Bu Kepala.
Setiap embusan napasku selamanya jadi utangku padanya.
Kami semua bangga padamu.
Terima kasih, Pak.
Mata licik Matamu yang licik
Bagai pecahan kaca... Mata licikmu
EPILOG
KABUT DAN KALAJENGKING
Mata licik Mata licikmu
Seperti pecahan kaca... Mata licikmu
TIGA PEKAN KEMUDIAN
Mata licik Mata licikmu
Mata licik Mata licikmu
Seperti pecahan kaca... Mata licikmu
seperti pecahan kaca... Mata licikmu
Mata licik Mata licikmu
Seperti pecahan kaca... Mata licikmu
Rampok aku di siang bolong
Mata hitam itu merampokku habis
Tak bisa lari dari mereka
Salam.
Semoga kalian mengakhiri musim festival Diwali dengan suka cita dan harapan baru.
Hari ini aku akan membicarakan
masalah penting...
Untuk mematahkan cengkeraman korupsi dan uang haram,
sebuah langkah penting harus diambil.
Mulai tengah malam nanti,
tanggal 8 November 2016 tengah malam,
uang lima ratusan dan ribuan Rupee yang saat ini dipakai
takkan berlaku lagi.
- Uang lima ratusan... - Bijju.
...dan ribuan Rupee...
Untungmu apa dari semua ini, Pak?
- Ayah, ada apa? - ...transaksi tak akan diterima.
Uang lima ratusan dan ribuan Rupee,
ditimbun oleh kalangan anti-nasional dan anti-sosial...
Apa logikanya, Pak?
...akan jadi kertas tak berharga.
Anjing liar tak berguna ini
Mewarisi nafsu kemiskinan
Menumpuk sumpah serapah sebagai modal
Dan penolakan dunia jadi balasannya
Tak tidur di malam hari juga istirahat saat fajar
Hidup dalam kekotoran, menghuni selokan
Haruskah mereka melawan Buatlah mereka saling menyerang
Lemparkan saja sekerat roti
Mereka, yang tahan Tendangan setiap orang
Dikutuk binasa
Jika mereka menegakkan kepala
Umat manusia akan menyesali penghinaan ini
Andai mereka berhasrat menguasai dunia Mereka bisa
Dan mengunyah tulang belulang Tuan mereka
Jika saja mereka diperingatkan Akan miskinnya mereka
Oh! Seseorang harus menarik ekor mereka yang mati
Terjemahan subtitle oleh: Ella
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.