All language subtitles for Kaapa (2022) UNCUT Dual Audio Hindi ORG 1080p

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranรฎ)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

FILM INI HANYA FIKSI

UNTUK SEMESTA YANG MENGAJARI SAYA

BAHWA KEPERCAYAAN DIRI ADALAH HAL PALING MENAKJUBKAN

UNTUK AYAH, IBU, DAN GURU YANG MENGAJARI SAYA

HORMAT DAN PERCAYA PADA SENI DAN SENIMAN

UNTUK ST. ANTONY, YANG MENEMANI DI MASA SULIT SAYA

FILM INI DIDEDIKASIKAN UNTUK 51 HURUF DALAM IDENTITAS KITA

Halo.

Nyonya!

Nyonya...

Jalan.

KUHP INDIA, 1860 (UNDANG-UNDANG 45 TAHUN 1860)

Ayo.

Secara fisik, dia baik-baik saja.

Sisanya tergantung yang kalian berdua putuskan.

Kesehatan mental seseorang sama pentingnya

dengan kesehatan fisik mereka di proses ini.

Aku diskusi dengan Dr. Shubha tentang ini secara rinci kemarin.

Mengenai trauma mental yang Binu lewati di masa lalu.

Jika kalian bisa meyakinkanku kalau

kondisi seperti itu takkan kambuh dalam sembilan bulan,

akan kusarankan kalian untuk lanjutkan keputusan ini.

Silakan putuskan.

Ya.

Binu, kau tak perlu khawatirkan ini.

Keinginanmu akan jadi keputusan akhir.

Apa pun keputusanmu, akan kudukung.

Terima kasih, Sayang.

Tak perlu bersikap formal padaku.

POLISI

POLISI

Halo. Aku dari Cabang Khusus.

Polisi.

Aku datang beberapa jam lalu dan bunyikan bel. Kukira kau tak di rumah.

- Tidak, Pak. Kami baru sampai rumah. - Pantas!

Ayo, duduk!

Ini bukan masalah besar. Kazhakoottam kota TI, bukan?

Jadi, akan kuperiksa

apa ada masalah hukum dan ketertiban terjadi di sini.

Aku perlu periksa setiap flat.

Itu saja.

Ini hanya latihan rutin.

Sudah berapa lama di sini?

Kurang dari sebulan, Pak.

- Ada masalah di sini? - Tidak ada, Pak.

Aku centang tiap kolom "Tidak ada masalah".

Aku akan pergi setelah mengisi nama, alamat dan tanda tanganmu.

- Namamu? - Anand.

Anand, ya.

- Nama lengkap? - Anand Anirudhan.

Anirudhan.

- Nomor flatmu 14 A, kan? - Ya.

Baik, 14 A.

- Dia istrimu? - Ya.

Wah! Itu pertanyaan terlarang, kan? Apalagi, ini kota TI!

Aku bisa menilai orang dalam sekali lihat.

Berkat pelatihan kami!

Siapa namamu, Sayang?

- Binu. - Baik, Binu.

Seperti nama lelaki!

- Wanita juga bisa. - Ya, tentu.

Lengkapnya?

Binu Thrivikraman.

- Maaf? - Thrivikraman.

Oh, baik.

Thrivikraman?

Dia ayahku.

Manacaud?

- Dia di Timur Tengah sekarang. - Oh.

Bagaimana dengan Biju Thrivikraman?

Dia kakak laki-lakiku.

Aku dulu anggota polisi lokal.

Tn. Latheef, dari surat kabar Capital Crime, tetanggamu, kan?

Apa pekerjaanmu, Sayang?

Aku...

Pak, kami di Bangalore bersama-sama.

Kini aku dipindahkan,

- dia harus cari kerja di sini. - Baik.

Kau kelas berapa saat insiden terjadi?

Dua belas.

Sial! Aku jadi telat.

Berapa umur Binu Thrivikraman?

Dia 24.

Bagaimana denganmu?

- Aku 28 tahun. - Baik, 28!

Silakan tanda tangan di sini.

Sayang, tanda tangan di sini.

Di sini.

Bisa bicara sebentar?

- Dari mana asalmu? - Aku tinggal dekat Aluva.

Temui aku malam ini di kantor Kazhakoottam, ya?

Ada masalah apa, Pak?

Kuberi tahu saat kau di sana.

Untuk saat ini, istrimu jangan sampai tahu soal ini.

- Ya. - Ya.

Kalian bicara apa?

Dia tanya biaya sewa flat ini.

Kau, berhenti!

Hei, kau! Berhenti!

Berhenti!

TOKO PONNUS

Tebas dia!

Ayo! Tebas dia!

SEKOLAH UMUM ST. ANN

Kakak...

Tidak!

Tidak!

Kakak!

Tidak!

Kakak!

CABANG KHUSUS DISTRIK

- Baiklah. - Baik.

Hei, kemari.

Pak?

- Kau ingin paan? - Tidak.

Istrimu di rumah?

Ya.

Kuharap kau tak terburu-buru.

Tidak.

Jadi, di mana pertama kali kalian bertemu?

Kami kerja di perusahaan yang sama di Bangalore.

Ada apa, Pak?

Tidak.

Aku hanya tanya apa kau tahu soal dia.

Maksudmu?

Sejarahnya!

Maksudku, masa lalunya!

Sayang, kau tahu verifikasi polisi

kenapa wajib saat terbitkan paspor?

Riwayat.

Sama halnya, kau lebih baik tahu masa lalu seseorang sebelum menikahinya.

Paham?

- Ya. - Ya.

Dia bilang apa soal kematian kakaknya?

Katanya tewas dalam kecelakaan.

Aku tak banyak tanya soal itu.

Apa!

Dia dicincang, Bung!

- Apa? - Tidak paham?

Maksudku, dia dibunuh.

Ayo.

Sayang...

Kini Thiruvananthapuram berubah jadi tempat yang damai.

Dulu, Thiruvananthapuram kota berbahaya menjelang malam.

Perang geng, pembunuhan, kekerasan.

Kami nyaris tak pernah keluar dari kamar mayat!

Dulu kakak iparmu seorang penjahat!

Tapi dia tidak terlalu merepotkan polisi.

Geng lawannya hebat. Dia dihabisi tepat waktu.

Kita bisa apa jika ada keluarga yang salah jalan?

Yang lalu biarlah berlalu.

Kau kupanggil bukan untuk bahas itu.

Tapi untuk bahas yang masih hidup.

Aku mengerti kalau kau tak tahu soal ini.

Aku mau membantu, karena kau tak bersalah. Atau kau hancur.

Kenapa?

Intinya.

Entah apa kau bisa menanggung apa yang akan kukatakan.

UU PENCEGAHAN AKTIVITAS ANTI SOSIAL

- Sayang. - Ya?

Ada sebuah undang-undang disebut KAAPA di Kerala.

Yang disebut "Undang-Undang Goonda". Hukum itu belum lama diberlakukan.

Diabaikan dan tak ada yang ditangkap berdasarkan itu.

Saat kami mulai lihat peningkatan tingkat kejahatan,

Ketua Menteri minta untuk menindak dan tangkap semua penjahat.

Kami selidiki dan cari mereka di seluruh Kerala

dan menangkap sekitar 2,550 gangster.

Di antara mereka, 237 orang berasal dari

Distrik Thiruvananthapuram.

- Kau tahu? Beberapa dari mereka kabur. - Oh.

Pernah dengar soal para buronan? Itulah dia!

Aku bertemu salah satu dari buronan itu kemarin.

Secara kebetulan!

Namanya

Binu Thrivikraman!

Jangan main-main, Pak.

Binu? Dalam daftar Goonda?

Lucu!

Sulit diterima, kan?

Ini, lihat ini. Daftar KAAPA yang terkenal kejam!

Ini yang terbaru untuk distrik Thiruvananthapuram.

Lihat.

Buka halaman tujuh,

serial nomor 112.

DAFTAR KAAPA: BINU THRIVIKRAMAN UMUR: 24

Percaya sekarang?

Nama-nama mereka yang kabur ditandai di sini.

Aku tak perlu memberitahukanmu.

Tapi jika departemen yang melakukannya,

kau akan menunggu di depan penjara wanita Attakulangara!

Kau takkan bisa masuk, dan dia takkan bisa keluar!

Tapi

bukankah itu ditulis "Putra" di nama Binu?

Dia bukan laki-laki. Dia perempuan.

Mudah bagi polisi mengubah jenis kelamin.

Akan kucoret saja "S'" dan ganti dengan "D".

Tapi, Pak, Binu...

dia naif.

Dia bahkan takut kecoak!

Apa kau tahu Hitler takut kucing?

Pak, apa maksudmu?

Sayang, pulanglah untuk saat ini.

Kau bisa kembali besok.

Aku akan membantumu dapat penjelasannya nanti.

Dan pastikan...

kau tidak beri tahu istrimu tentang hal ini, ya?

- Ya. - Sana.

Hei!

Aku mau lanjutkan kehamilan ini.

Oya?

Mengapa kau berubah pikiran?

Kita perlu memperluas keluarga, kan?

Kurasa ini waktu yang tepat.

- Kau tinggal bersamaku, kan? - Tentu!

BERHASIL

Periksa.

Ya, 50 masuk ke rekeningku.

Jangan kira aku membayarmu karena aku tahu berat masalahnya.

Seserius atau tidak yang kaukatakan,

Aku ingin menyelesaikan ini sebelum istriku tahu.

Dan, aku mau kau membantuku.

Paham.

Kuberi tahu kau sesuatu.

Thiruvananthapuram aneh di satu sisi.

Jika ada pemimpin geng terbunuh, keluarga harus menggantikan.

Bisa saudaranya, pamannya, atau siapa pun.

Mereka harus membalas dendam.

Tapi ini, saudara perempuan, bukan laki-laki. Binu.

Mudah disalahartikan sebagai pria! Geng kakak iparmu masih gunakan namanya.

Ini nyaman bagi mereka.

Saat polisi selidiki hal ini, kami mendapati kalau

pemimpin geng selamanya melarikan diri. Cukup nyaman untuk polisi juga!

Astaga, Pak!

Dalangnya?

Akan kujelaskan.

Lihat ini agar lebih paham.

Ini, lihat ini.

Binu...

SERANGAN BOTOL DI TEATER GENG BINU DICURIGAI

Pak...

SERANGAN GENG BINU MELAWAN GENG KOTTA MADHU

- Kauperhatikan sesuatu? - Apa?

Semua potongan ini berasal dari koran yang sama.

Semuanya dari koran lokal bernama Capital Crime.

Koran lokal ini dijalankan oleh seorang jurnalis bernama Latheef.

Orang itu pernah sukses, meski tidak terlihat seperti itu.

Dia sangat berpengaruh di politik dan kepolisian.

Dia tinggal tepat di sebelah rumah istrimu.

Dia belum menikah.

Dia hanya punya saudara perempuan. Dia hidup hanya untuknya.

Saudara perempuannya punya putra bernama Pathikkayyan Nazeer.

Dulu dia penjahat lokal.

Dia dan kakak iparmu, Biju, diserang bersama.

Kakak iparmu terbunuh, sementara dia berhasil kabur.

Setelah itu tak ada yang pernah melihatnya.

Mungkin sekarang ada di Timur Tengah. Siapa yang tahu?

Sejujurnya, kini Nazeer tidak punya geng.

Yang dia punya hanyalah geng yang ditulis Paman Latheef-nya.

Geng khayalan!

Itu pun, atas nama istrimu!

Perkelahian dan kejahatan kecil seperti itu

normal dan terjadi di kota lain.

Tapi, Latheef begitu licik,

dia menulis semua kejahatan ini sebagai perbuatan geng Binu.

Mengapa dia lakukan ini?

Untuk mengabarkan kalau dia punya geng dan siap untuk apa pun.

Siapa?

Kau harus temukan musuh Latheef jika kau ingin tahu.

Siapa?

Pria yang membunuh kakak iparmu

dan yang mengancam Nazeer sampai dia tinggal di Timur Tengah.

Kotta Madhu.

Apa?

Kau, berhenti!

Berhenti!

GOOGLE

Tidak ada yang bisa menantang Madhu. Semuanya berada di bawah kendalinya.

Sungai "Kalindi" terkutuk, Amayizhanchan Thodu.

Mengalir di depan rumah Madhu.

Kotta Madhu adalah ular jahat "Kaliyan" di dalamnya.

Tidak ada yang cukup berani

untuk mengalahkannya di Thiruvananthapuram.

Jika Dewa Sree Padmanabha mau, akan datang orang itu.

Jadi, mengenai masalah istrimu

kau harus urus Kotta Madhu sebelum polisi dan

THIRUVANANTHAPURAM

Latheef.

Ada cara untuk melakukannya. Akan kuberi tahu.

Lakukanlah perintahku.

KANTOR SIPIL Thiruvananthapuram

Berikan ini ke bagian itu.

Maaf, di mana Ny. Prameela?

Atas.

- Lewat sini? - Ya.

SEKSI PEMILIHAN

Pak, aku ingin bertemu Ny. Prameela Devi.

Ada urusan apa? Ada sesuatu yang resmi?

Tidak, urusan pribadi.

Saat dia ini sedang cuti.

Sial! Kapan dia akan kembali?

Saat cutinya berakhir.

- Kapan berakhirnya? - Begitu dia kembali!

KOLEKTOR DISTRIK THIRUVANANTHAPURAM

Lihat dia.

Satu pengawal untuk kolektor, tapi dua untuk asisten!

Bisa beri nomor ponselnya padaku?

- Haruskah aku kembali besok? - Ya, coba saja.

- Aku bisa datang di jam yang sama? - Ya, bisa.

- Pak. - Ya?

Anda kenal Ny. Prameela?

Halo!

- Kau ingin bertemu Ny. Prameela? - Ya.

Ayo.

Tapi...

- Kau siapa? - Jangan banyak tanya.

Ikut saja.

Ikut denganku. Ayo.

Ikut denganku.

- Kuantar menemui Ny. Prameela. - Tapi...

Ayo.

- Masuk. - Kita mau ke mana?

Bukankah kau ingin bertemu Ny. Prameela? Masuk.

Ayo. Masuk, Kawan!

- Masuk! - Hei...

- Dia tidak ke kantor? - Jalan!

Hei!

- Jalan. - Hei!

Ini.

Kau?

Aku insinyur TI di Technopark. Namaku Anand.

Tidak perlu bilang. Tidak ada gunanya di sini.

Kau mau apa di sini?

Ny. Prameela ada di sini?

Panggil.

- Ada apa? - Panggil dia dan akan kuberi tahu.

Kau sadar kau ada di mana dan yang kaubicarakan?

Kupikir aku tidak menyinggungmu.

Beri aku beberapa menit.

- Bertemu, bicara, lalu pergi. - Kubilang tidak bisa!

Katakan dan kupertimbangkan apa kau kuizinkan masuk.

- Ada apa, Jabbar? - Aku...

Tidak ada apa-apa.

- Aku perlu bicara denganmu, Ny. Prameela. - Diam!

- Kau datang menemuiku? - Ya.

Suruh dia masuk.

Kita tidak tahu keperluannya.

Akan kutanya sendiri. Suruh dia masuk.

Nyonya.

Katakan. Ada apa?

Tidak apa. Kalau Anda luang...

Aku luang. Katakan.

Namaku Anand.

Aku insinyur TI di Technopark.

Ini kartuku.

Aku dan istriku pindah ke Thiruvananthapuram

minggu lalu dari Bangalore.

Halo.

NAMA: BINU THRIVIKRAMAN UMUR: 24

Istriku orang yang lugu.

Dia tidak tahu tentang ini.

Mengapa kau katakan ini kepadaku?

Begini...

Istriku adalah saudara perempuan Biju Thrivikraman...

yang dibunuh di Chandamukki.

Bisa tolong bilang Tuan Madhu untuk tidak menyakitinya?

Bangsat! Kau sadar di mana ini, dan perkataanmu?

- Hentikan! - Kau tidak tahu siapa dia!

Saudara iparnya dan Pathikkayyan Nazeer

sudah menyerangku!

Kau ingin lihat?

Lihat! Silakan!

Beraninya kau injakkan kaki di sini? Kau beruntung Madhu tidak ada di sini!

Dia akan menikammu sampai mati!

Sayang, suruh dia pergi atau akan terjadi hal buruk di sini!

- Nyonya... - Keluar!

- Kubilang pergi! - Lepaskan aku!

- Keluar dari sini! - Biar aku bicara dengannya!

Lempar dia keluar dari sini!

Beri tahu Tn. Madhu, istriku jadi sasaran.

- Awas kalau datang lagi! - Dia sedang hamil.

Dia bahkan tidak boleh stres sedikit pun.

Tolong, Nyonya!

Nyonya!

Tolong, Ny. Prameela!

Nyonya...

Tolong pertimbangkan yang kukatakan...

Jadi, mengenai masalah istrimu

Kau harus urus Kotta Madhu sebelum polisi dan Latheef.

THIRUVANANTHAPURAM PETTAH

Hei, tutupi kepalamu.

Dingin.

Ayo, duduk di sini.

Katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi padamu?

- Kenapa kini kau mengusirku? - Tidak, bukan apa-apa.

Aku sangat sibuk akhir-akhir ini

hingga aku tidak bisa merawatmu dengan baik.

Ada ayah dan ibu di rumah.

Setidaknya, mereka takkan mengeluh.

Aku merasa sulit dengan kota ini dan kantor.

Kau sudah kuperingatkan sebelum ke sini. Tapi kau bersikeras.

Datang.

Ayo.

- Baiklah. Dah. - Dah.

Sampai jumpa. Jangan masuk angin.

Baik!

Mengerti?

Apa kau mengerti?

Ya.

- Mau ke mana dia? - Aluva, Pak.

- Aku ragu dia sampai di tujuan. - Jika ini masalahnya, sulit.

Tapi, Tuan...

Tuan!

Suruh mereka turun dari kereta.

Dia naif, Tuan. Tolong!

Kami akan pindah.

- Tuan, ini teh Anda. - Tolong...

Minta mereka turun.

Kumohon!

Teh ini menjijikkan! Ini tidak lembut atau beraroma!

Jika kau mau, kami bisa menutup bisnisnya!

Hei!

Tolong dengarkan aku, Tuan.

Baik, akan kudengar.

Tapi, aku perlu tahu.

Siapa mengirimmu ke sini?

Siapa pun itu, Madhu tidak peduli!

Kudengar kau ke rumahku dan menceritakan kisah sedih pada istriku.

Aku ingin tahu kebenarannya.

Aku takkan mengampunimu jika kutahu ada yang tidak benar.

Kalian.

Aku punya buku dendam yang tertutup, terkubur di hati.

Siapa pun yang membukanya,

aku akan jadi orang yang menutupnya. Paham?

Bilang pada yang mengirimmu.

Tidak ada yang mengirimku, Pak!

Aku datang karena aku tidak berdaya!

Akan kuselidiki segera.

Kita bertemu setelah itu.

- Hei! - Ya?

- Suruh mereka turun di Varkala. - Baik.

Jangan berani bicara dengan istriku lagi!

Tuan...

seperti kau yang mencemaskan istrimu,

aku mencemaskan istriku.

Mohon dimengerti.

Dan aku tidak punya daya atau fasilitas untuk melindungi istriku.

Kami pun punya kehidupan sendiri!

Jalan.

Ada apa?

Kau terlihat lelah di pagi hari!

Sudah lama. Semuanya baik?

Ya, semuanya baik-baik saja, Tuan Madhu.

Apa yang Tuan lakukan di sini?

Aku datang kapan pun aku perlu.

- Tak bisa kuduga waktu yang tepat. - Tentu.

- Hei! - Ya?

Saat kugantung Juara Girish pada tongkat Shawarma di Palayam,

dia saksikan dengan matanya sendiri, kan?

Jadi, kupikir tidak perlu basa-basi.

Apa kau kirim seseorang ke kantor istriku?

Ya, Tuan Madhu.

Pria TI.

Kurasa dia naif.

Berapa?

Katakan. Aku hanya ingin tahu tarif saat ini.

- Aku ambil 25,000 rupee. - Berapa?

Lima puluh.

Aku bersumpah pada Dewi Attukal!

Apa pun itu.

- Itu antara kau dan dia. - Ya.

Tapi, beraninya kau kirim dia ke istriku? Kau yakin dia datang sendiri?

Yakin, Tuan Madhu.

Keduanya tidak bersalah.

Dia masuk ke daftar KAAPA, karena artikel tak berdasar Latheef.

- Benarkah? - Ya.

Aku tidak peduli dengan daftar KAAPA.

Tapi, jika kutahu ada yang mendukungnya,

aku tahu keberadaanmu.

Kantor Kazhakoottam?

- Ya. - Aku akan mengunjungimu di sana.

Paham?

Kau ambil uang darinya, kan?

- Jadi bekerjalah dengan baik. - Baik.

- Hapus dari daftar KAAPA, - Baik.

dan keluarkan dari Thiruvananthapuram.

Baik.

- Ini tugasmu ya, Tn. Arumanayagam? - Ya.

- Mengerti? - Ya.

- Lanjutkan pekerjaanmu. - Baik.

Jangan berani menambang di sini!

Awas!

Keluar!

Minggir!

Jangan ribut, dan pergi dari tempat ini!

Siapa mengizinkanmu?

Tak ada yang menyuruhmu menambang di sini. Keluar!

Tanpa perintah Tn. Madhu, kami takkan biarkan siapa pun.

Apa kau bilang?

Siapa yang izinkan melakukannya?

Keluar dari tempat ini!

Hei! Sudah dua minggu kau ganggu kami!

Kami tidak peduli dia Kotta Madhu atau siapa pun!

Kami akan pergi dengan tanahnya.

Hei! Jangan sampai kalian mati. Pergi!

Kau satu-satunya pewaris Tn. Sasankan, kan?

Jika ayahnya cukup baik, satu saja cukup! Lihat orang-orang itu?

Kubawa mereka dari Sucheendram, kubayar sebanyak mereka minta.

Mereka pemecah batu yang kuat.

Kau mengerti?

Mereka tidak peduli pada Madhu atau siapa pun!

Berhenti menonton dan mulai menambang tanah! Ayo!

Bajingan! Akan kupotong kakimu jika berani masuk!

Apa yang akan kau lakukan?

- Dasar, anjingnya Madhu! Berani? - Lepas!

Kalian lihat apa? Lanjutkan pekerjaan kalian!

Dasar kau...

Dasar kau...

- Menjauhlah! - Nirmesh! Hentikan!

Kenapa?

Apa masalahmu?

Baru dua minggu dia operasi hernia.

- Ada apa? - Hei, Madhu!

Tidak bisa di lokasi kami. Kami tidak dapat uang tanpa tanah.

Ayahku ke Chennai pinjam uang dari kreditor.

Kami bingung, tidak tahu harus berbuat apa!

Aku tidak punya waktu untuk dramamu!

Kami harus dapat tanah hari ini!

Pergilah, Madhu. Kau harus ke bank, bukan?

Jangan terlibat dalam permainan anak ini. Pergilah.

Abhi, minta ayahmu datang pada kami.

Kami berbisnis dengannya, kan? Pergilah, Nak.

- Jangan sentuh aku! - Hei!

Beraninya kau berulah?

Aku sudah mengenalmu sejak kau tidak bisa apa pun!

Hanya karena sedikit dukungan,

tidak berarti kau bisa bertingkah!

Takkan kubiarkan kau pergi dengan kakimu, bajingan!

Madhu.

Pergilah.

Kami akan urus ini.

Bagaimana bisa?

Mereka orang luar.

Mereka akan bilang pada orang kalau antek Madhu menghajar mereka?

Itu akan meremehkan.

Hei! Hentikan!

Jangan ada yang mengacau.

Semuanya, lanjutkan pekerjaan kalian! Ayo!

Tuan!

Mana bisa kau urus sendiri?

Kucapai semua ini berjuang sendirian!

Hei, tunjukkan padanya!

Aku harus bawa mereka ke rumah sakit!

Hei!

Hei!

Antek-antek kecil ayahmu yang menanggung semua pukulanku.

Aku cuma dua kali memukulmu.

Satu, karena menyakiti Jabbar. Kedua, berulah di tanahku!

Saat kau ceritakan insiden ini pada bosmu,

jangan coba-coba membumbuinya, ya?

Jalan.

Kenapa diam saja? Ayo.

- Pernikahan siapa ini? - Putri Tuan Rocky.

- Orang yang dibacok sampai mati? - Ya.

Madhu yang mendanai?

- Ya, sekarang apa maumu? - Kau ingin bertemu bos kami. Sana.

Berhenti mengoceh, pergi!

- Pergi! - Apa ini? Mereka pun sombong?

Duduk.

Baik.

Harusnya kau pukul dia sekali lagi!

Dia mengeluh padaku!

Katanya aku tak pernah memukulnya meski dengan tongkat kecil,

dan kubilang, ada baiknya kau dihajar.

Pokoknya, tidak ada yang lain, cuma Madhu kita!

Selain itu, apa dia harus

berlagak seperti itu saat aku tidak ada?

Aku sudah berbuat apa padamu?

Ini wilayahmu, tidak ada yang membiarkanku mengambil tanah.

Jika aku tak dapat tanah tiap hari, aku bisa mati.

Saat kami kirim orang untuk menandatangani kontrak baru,

sikapmu berbeda.

Katamu kau akan lakukan jika cocok. Sekarang, rasakan.

Itu salahku. Maafkan aku.

Jika kau datang dan mengoceh di telingaku,

akankah cacian anakmu pada pekerjaku batal?

Kau tahu tarif yang direvisi, kan? Tiap muatan, 650 rupee.

- Mana aku mampu... - Tapi untukmu, 700.

Apa?

Final.

Madhu sayang...

Kau tahu acara siapa ini?

Tentu! Putrinya Rocky!

Dia mati karena melindungimu.

Sudah 13 tahun sejak dia menyerah pada infeksi dari luka itu.

Ingatlah jalan ke rumahnya!

Kau sudah datang jauh-jauh. Makanlah, lalu pergi.

- Peter! - Iya, Tuan?

- Kau lihat ada bos di sini? - Ya.

Layani dengan baik, beri semua yang pantas baginya.

Baik!

Ayo, Bos!

Tuan!

- Ada apa? - Tuan...

Pergi.

- Tunggu... - Sebentar.

Kenapa?

Aku teman sekelas kakak Benitta...

dulu.

Lalu dia ke Timur Tengah.

Dan aku, ke penjara.

Tidak ada yang mengundangku.

Aku mau mampir untuk makan.

Lapar.

Bagaimana ibumu?

Sakit.

Tolong beri tahu jika ada pekerjaan, Tuan. Aku tahu kau tak melakukannya lagi.

Tapi...

Pergi dan makanlah sesuatu.

- Kawan... - Ya?

Selidiki kondisi keluarganya.

Rahasiakan.

EMAS ARAFA

Hei!

Keluar!

Enyah, kalian semua!

Cari pekerjaan lain!

Chithal Ani dan geng elangnya akan menguasai kota ini.

Kalian tidak punya tempat di sini sampai dia mati.

Apa ada di antara kalian yang bernyali menghabisinya?

Akan kami dukung.

Dia akan menggantikan Chithal dan menguasai kota ini.

Kesampingkan soal nyali.

Jika aku dapat jaminan kau dan polisi tidak akan menjebakku nanti...

akan kuurus dia.

Hei! Chithal Ani bukan juara Girish!

Aku tak ingin merusak kepercayaan dirimu. Beri tahu kami rencananya dulu.

Makanlah.

- Mau pesan daging goreng dan paratha? - Tidak.

Ibu di rumah.

Dia tidak sehat.

Dia pasti kelaparan.

- Benarkah? - Ya.

- Hei, Kawan! - Ya?

- Bungkus enam paratha dan dua chaps. - Baik, Tuan.

Kita bertemu lagi besok, ya?

Baik.

Daging.

Dari restoran Azad.

POLISI

Jika ini harus kuurus, aku butuh dukunganmu juga.

Aku harus ada di dekat Chithal.

- Lalu, kau akan lakukan sesuatu? - Bukan cuma itu...

Kuhabisi.

Setelahnya,

jangan lupa kalian yang tugaskan ini padaku.

Oke?

- Hei, keluar! - Keluar!

POLISI

KOMPLEKS PENGADILAN DISTRIK THIRUVANANTHAPURAM

Halo?

POLISI

POLISI

RUMAH TAHANAN

Astaga!

Kau harus hapus kenangan itu dari pikiranmu dan lepaskan.

Hanya kematian bisa menghapus kenangan itu dariku.

Sebersih apa pun penampilanku atau sucinya pakaianku,

aku ambil keuntungan dari rasa lapar orang yang naif.

Noda itu tidak bisa dibersihkan, Kawan.

Jika kau berpikiran begitu, apa lagi yang bisa kukatakan?

Madhu! Mengapa kau minum begitu banyak?

Kau begini setiap kali melihat anak laki-laki itu.

Madhu, kita harus lupakan beberapa hal.

Atau kita akan jadi gila.

Bukankah kulupakan keluargaku?

Aku muak.

Hidupku seperti ikan mati berada di tengah lalat.

Sekuat apa pun kucoba untuk meraih cahaya,

aku merasa seperti ditarik kembali ke kegelapan.

Paham.

Adik Konch Ravi menjadi "Kotta Madhu"

setelah aku keluar dari rumahku bersamamu.

Jadi, kau harus tetap kuat.

Atau ini akan jadi kegagalanku juga.

Bisa kupercaya kalau tidak ada orang di belakangmu?

Karena kuyakinkan hal yang sama pada Madhu sebelum datang ke sini.

Apa yang kau bicarakan?

Siapa di belakangku?

Siapa tahu?

Jika ada orang seperti itu, aku tamat.

Kemarilah.

Lakukan satu hal.

Kirim surat ke kantor Inspektur besok pagi.

Akan kubantu apa yang harus ditulis. Tulis saja, dan kirimkan.

Baik.

Aku yang menanggung masalah karena mengeluarkanmu dari ini!

Aku harus bertahan hidup!

Dewa Padmanabha, lindungi aku!

"Selain itu, saya meminta polisi untuk bertanggung jawab

merahasiakan identitas saya

agar saya tidak menghadapi ancaman dari geng yang berlawanan.

Hormat saya, Binu Thrivikraman. Tanda tangan".

Aku belum menerima laporan Cabang Khusus.

Biar kuterima dulu. Setelah itu baru kuperiksa.

Aku mau lihat dia sekali.

Panggil dia kemari.

Pak, masalahnya

dia belum datang.

PRATHAPAN. K WAKIL INSPEKTUR POLISI

Kenapa begitu?

- Dia sedang tidak enak badan, Pak. - Tidak mungkin.

- Dia harus datang dan beri pernyataan. - Bisakah...

Hei!

- Pak. - Panggil Prajith.

Aku sudah bawa foto, salinan sertifikat,

KTP, SIM, dan yang lainnya.

Itu tidak akan cukup.

Orangnya harus hadir secara fisik di sini.

- Prajith... - Siap.

Apa ini? Coba periksa.

"Saya, Binu Thrivikraman"...

Biar kuurus ini, Pak.

- Hubungi dia mulai sekarang. - Baik, Pak.

- Ayo. - Baik.

- Terima kasih. - Ya.

Pak...

Pak dengar...

Pak, surat itu...

Pak...

Prajith. Kasus apa itu?

Mengapa kau bersikap keras?

Kau bukan Wakil Inspektur, kau hanya anggota regu, kan?

Sedang apa?

- Ada apa? - Apa yang terjadi, Pak?

Wakil Inspektur puas dengan cukup banyak kasus saat ini.

Dia tak lapar lagi dan tak tertarik berburu mangsa baru.

Untung dia menugaskanku!

Atau kau takkan pernah bisa meninggalkan tempat ini

sampai istrimu muncul. Mengerti?

Tunggu.

Kau muncul di hari yang tepat!

Jadi, kau ingin hapus nama Binu dari daftar KAAPA?

- Benar? - Ya.

Baik.

Tapi sebelumnya, ada pria di Thiruvananthapuram,

yang perlu dihapus dari muka bumi.

Kotta Madhu.

Kami bisa hidup damai, jika dia tidak ada lagi.

Kami di belakangnya saat ini.

Kau boleh pergi.

Soal Binu...

Beres.

Kau kenal Binu?

Jangan bertanya.

Dengar saja yang kukatakan.

Nomormu ada di surat ini, kan? Tn. Latheef dari Capital Crime

akan meneleponmu.

Menjelaskan.

Aku tidak mengerti, Pak!

Rendahkan suaramu!

Latheef yang kau sebutkan, aku akan bertemu dengannya.

Dia yang hancurkan hidup keluargaku!

Kau di tengah taman bermain tanpa tahu permainannya, Bodoh!

Sesuatu akan terjadi di kota ini hari ini.

Kuperingatkan agar kau jangan terlibat kekacauan itu.

Jangan coba-coba keluar dari kamar sampai dapat telepon dari Tn. Latheef.

Dengar?

Sekarang pergi.

Kuminta kau pergi!

Pergi!

Sesuatu akan terjadi di kota ini hari ini.

Kuperingatkan agar kau jangan terlibat kekacauan itu.

Jadi, kau ingin hapus nama Binu dari daftar KAAPA?

Benar?

Sebelumnya, ada pria di Thiruvananthapuram,

yang perlu dihapus dari muka bumi.

Kotta Madhu.

GOOGLE NOMOR KONTAK KOLEKTOR

Ya, tolong sambungkan.

Halo, Nyonya. Ini Anand.

Aku datang ke rumahmu tempo hari.

Mengenai masalah istriku...

Mengapa kau meneleponku?

Nyonya, aku di kantor Wakil Inspektur.

Aku bertemu dengan seorang polisi di sana.

Namanya Prajith.

Dari kata-katanya, aku merasa

mereka merencanakan sesuatu terhadap suamimu hari ini.

Aku tidak tahu apa itu.

Kupikir aku harus memberitahukanmu.

- Aku tak yakin ucapannya benar. - Baiklah.

Akan kami periksa. Terima kasih atas infonya.

Ada perselisihan.

Tapi aku bisa tenangkan mereka. Dan tentang kursimu,

akan berada di Kunnukuzhy.

Jangan mengundang masalah sampai pemilu selesai.

Aku tak mengundang masalah. Diundang.

Kau boleh anggap kursiku hadiah

karena berkorban demi partai.

Nanti kutelepon balik.

Bagaimana soal dana?

Apa ada dana yang kujanjikan yang belum kau terima?

Tenang saja.

- Baik, sampai jumpa. - Ya.

- Halo. - Mengapa menelepon?

Anand menelepon.

Dia menyebut soal Prajith. Aku mulai tegang.

Aku sudah bertemu dia dan menjelaskan kekeliruannya!

Masih?

Jangan gelisah, karena mendengarnya!

Tapi saat dia bilang semua itu, aku agak takut.

Tak perlu takut. Pergilah makan siang.

Sudah waktunya, kan? Sana.

THIMIRU

Ada apa?

Kami tepat di belakangmu, Pak.

- Ya. - Ada kecelakaan di sini.

- Kecelakaan apa? - Gerobak pedagang tergelincir,

banyak papan kayu berserakan di jalan.

Kau bisa lewat?

Kurasa tidak, Pak. Lalu lintas padat di sini.

Oh.

Aman?

Ada sedikit halangan di jalan. Sepertinya ada kecelakaan.

Sudah biasa akhir-akhir ini.

Bisa berputar dan kembali lewat rute yang berlawanan?

Kukira tidak mungkin.

- Jebakan! - Madhu!

Jalankan mobilnya!

KOTTA MADHU DIBUNUH PEMBUNUHAN DI JALAN ELAK

Aku jalan.

KOTTA MADHU DIBUNUH PEMBUNUHAN DI JALAN ELAK

- Siapa yang menjemput anakku hari ini? - Thambi.

- Ayo. Bangun. - Hei! Ada apa ini?

- Kenapa kau bawa Arya? - Ikut aku.

- Berhenti! Apa yang kau lakukan? - Minggir, Bu!

API

Hentikan mobilnya!

Kau bawa seluruh batalion! Apa sudah akhir bulan?

- Kami perlu periksa kendaraan ini. - Tentu, silakan.

Kendaraan memang untuk diperiksa polisi! Silakan.

Kau baru di kota ini?

Turunkan cambangmu sedikit! Kau seperti Mammootty!

Kami hanya temukan ini. Tidak ada yang lain.

Akhir-akhir ini cuaca terik.

Aku beli di bar kontraktor.

Masih dingin. Mau?

Aku yang putuskan apa kau bisa hentikan mobil ini atau tidak.

Dari pengaturannya, sepertinya

ada pejabat yang lebih tinggi berencana menyingkirkanku!

Beri tahu mereka

aku akan berkunjung lagi.

Hadirlah di festival apa pun yang mereka ingin, sepuasnya!

Jangan mati sebelum hasrat terpenuhi!

Joy Poo...

Poomattam.

Dah.

Beri jalan!

KOTTA MADHU DIBUNUH DI JALAN ELAK

Tuan!

Tuan!

Kendalikan diri kalian!

Mengapa kau menangis?

Tidak ada yang menimpaku. Aku di sini utuh!

Hei.

Ayah.

Apa? Kau takut?

Jangan takut.

Ya.

Tuang lagi untukku.

Kau sudah minum terlalu banyak. Kendalikan dirimu.

Hei! Dia datang.

Rokoknya.

Dia akan buat semuanya terbakar!

Apa?

Kak.

Hei!

Kau tahu cincin ini milik siapa?

Kuberi tahu karena aku tidak ingin dicap sebagai

pembunuh dua anak dari satu ayah.

Kau menikmatinya selama beberapa hari, kan?

Kini saatnya kembalikan dia.

Lakukan hari ini.

Biju!

Beri aku setengah ayam dengan banyak jus lemon.

Jika tidak, kau mau apa?

Jika tidak kukembalikan, kau mau apa, bangsat?

Kalian pendosa, lantunkan namaku Menyesali lagi hari kita bertemu

Di duniaku, di ringku Aku Raja, bakar!

Bakar namaku di suraimu Semua akan hidup, selama kuizinkan

Jika aku mau, darah akan tumpah Satu per satu, berputar-putar

Kalian pendosa, lantunkan namaku Menyesali lagi hari kita bertemu

Di duniaku, di ringku Aku Raja, bakar!

Bakar!

Kau dapat masalah karena menghabisi dua anak dari satu ayah, kan?

Ada masalah jika kuhabisi anak dari beberapa ayah?

Hei!

Cincin ini ada di tangan saudaramu.

Potong dan lepaskan.

Madhu!

Kutelepon dia untuk berterima kasih, kini dia mau menemuimu.

Setidaknya saat ini percayalah pada kata-kataku.

Istriku tak terlibat dengan cara apa pun.

Dia naif.

Kau kirim istrimu, kan?

Apa pentingnya aku percaya atau tidak?

Bukan begitu, Tuan.

Jangan memusuhi kami.

Cuma itu kekhawatiranku.

Baik, pergilah.

Hei.

Kemari.

Lahir untuk alasan yang tidak diketahui dan mati untuk orang yang tidak dikenal!

Tanah ini, Thiruvananthapuram, telah melahirkan orang-orang sepertiku.

Jangan coba-coba berlagak pintar di sini!

Tinggalkan tempat ini, hidup bahagialah bersama istrimu.

- Sudah makan? - Belum.

Ayo.

Makanlah.

Kakak takkan ikut makan malam. Katanya jangan tunggu dia.

Akan kutunggu dia, kalau begitu.

Makan.

Silakan.

- Ke mana saja kau, Anand? - Halo.

Kau tak meneleponku, aku pun tak bisa menghubungimu.

Apa yang terjadi padamu? Apa ada masalah?

Aku sibuk kerja, Binu. Jadi tidak bisa jawab.

Bisa kutelepon lagi? Aku sedang rapat.

Oke?

Ini istriku.

Sungguh?

Santap makananmu.

Aku akan lihat anak-anak.

Sampai nanti. Terima kasih makan malamnya.

Oke.

Jika semua lancar, aku akan segera tinggalkan kota ini.

Sampaikan.

Ya, tentu.

- Permisi. - Sampai jumpa.

Ayo makan, Kak. Sudah larut, aku ke kantor besok.

Pestanya sudah selesai? Aku datang.

Halo? Bicaralah.

Masa?

Baik.

Baik. Berhenti makan. Ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Tentu, Pak. Akan kuberi tahu dia. Madhu!

Baik. Aku akan meneleponmu.

Madhu, Tn. Gopi menelepon.

Mereka sudah menyalakan ponsel.

Mereka semua di dekat menara Palayam.

Kau pasti sudah tahu, kan? Lokasi mereka?

Prameela, jangan sajikan makanan dulu.

Ada daging segar di Palayam.

Jimmy! Akkachi! Nyalakan mobil!

Nyalakan mobil!

- Bu, aku mengantuk. - Ayo.

Kau di sini?

Berita obituari yang kau buat untuk koranmu sia-sia, kan?

Seseorang mungkin bisa menghindari kematian beberapa kali.

Kami harus terus berusaha.

Dengan begitu akan terjadi.

Akan kami wujudkan!

Kau pikir takkan ada yang datang untuk membalas dendam?

Kau!

- Kau pantas dikubur di Masjid Manacaud! - Kakak.

Nanti.

Kutahu, apa pun yang terjadi, kau tidak akan membunuhku!

Keinginanmu untuk menang di pemilihan daerah

dan mengamankan korporasi dalam pemilu mendatang,

membuatmu tetap mengendalikan diri.

Tapi...

selama Latheef masih hidup,

keinginanmu tidak akan terpenuhi.

Takkan kubiarkan itu terjadi.

Pecundang.

Jika kau berniat melakukannya lagi, pastikan aku mati dalam upaya itu.

Jika tidak, aku akan melupakan pemilihan dan korporasi.

Madhu masih "Kotta Madhu" yang lama.

Di mana dia, Latheef?

Di mana Nazeer?

Dia tidak datang.

Kenapa tidak datang?

Kau janji dia akan datang hari ini.

Aku tidak bisa mendatangkannya!

KLUB PERS THIRUVANANTHAPURAM

Lepaskan aku! Lepaskan!

Lepas!

Lepaskan!

- Permisi. - Ya?

Kau tahu Jurnalis Latheef?

Dia di sana. Silakan.

Pak, ada yang ingin menemuimu.

Hei!

Silakan duduk.

Ingin makan apa?

Ini belum waktunya makan siang. Mau kupesankan camilan?

Tidak, terima kasih.

Kalau begitu ceritakan.

Kenapa?

Aku ingin bertanya hal yang sama.

Sebenarnya, apa masalahmu?

Kenapa kau terus menulis tentang istriku, di koranmu?

Istrimu?

Bukankah baru 2 tahun Binu Thrivikraman bersuami?

Dia juga punya kehidupan sebelum itu.

Kehidupan, di mana hal-hal tertentu harus impas dan diperhitungkan.

Anggap aku auditor kehidupan itu.

Auditor yang masih bermisi untuk buat perhitungan.

Begini, Tn. Latheef.

Aku tahu Binu dulu tetanggamu

dan ada tragedi terjadi dalam kehidupan pribadimu saat itu.

Dia belum sepenuhnya pulih dari trauma mental itu.

Selain itu, dia sedang hamil.

Di tengah-tengah semua ini, namanya muncul di daftar KAAPA!

Semua karenamu!

Jadi tolong, jangan tulis tentangnya di koranmu lagi.

Biar kami jalani hidup kami.

Kau cukup mencintai istrimu!

Pria yang mencemaskan trauma mental istrinya!

Namun, kau pecundang,

yang menelepon istri pria penyebab trauma mental itu,

dan minta dia waspada?

Tolol!

Ini pesta pemakaman kami, yang kaunikmati semalam di rumahnya!

Jika Binu tahu hal ini,

dia tidak akan lagi ada dalam hidupmu.

Saat pertama bertemu suami Binu,

harusnya aku tak begini.

Maaf.

Aku mengerti kau mencemaskannya.

Lupakan kegagalan KAAPA.

Itu seperti bus komuter.

Orang masuk dan keluar.

Akan kuhapus namanya dari daftar itu.

Tapi setelah itu,

kau jangan ada di sini lagi.

Bahkan jika aku atau Madhu mati,

ini tidak akan berakhir.

Akan berlangsung selamanya.

Palloor Eman, sang pejuang harus berperang meski Pazhassi Raja wafat,

Cerita pahlawan yang tak ada di sejarah.

Sejarah cuma mencatat pertempuran yang hebat.

Jadi jangan libatkan diri sendiri. Pergi saja.

Saat masalahku beres,

kau takkan melihatku lagi.

Aku keluar kerja dan pergi.

SEQATO

Apa ini, Anand? Kau akan mengundurkan diri?

Bahkan belum dua bulan.

Sebenarnya, Pak, aku ada beberapa masalah pribadi.

Anand, ada tamu.

Hei. Ayo, duduk.

Ayo, duduk.

Sudah 30 tahun kukenakan seragam ini di kota ini.

Jika aku berjanji pada siapa pun untuk bantu menyingkirkan apa pun,

selalu kupastikan aku melakukannya.

Paham?

Ini daftar KAAPA baru.

Lihat apa nama istrimu masih ada di sana.

- Oh, kau datang untuk ini? - Ya.

Tahu.

Apa?

Soal daftar ini?

- Bagaimana? - Diberi tahu Tn. Latheef kemarin.

Aku tahu dia ada di balik kejadian di beberapa hari terakhir.

Dia bilang padaku, dia telah mengurung jin yang dia lepaskan.

Aku akan pulang besok.

Setelah aku berhenti dari sini.

Baik.

Sampai jumpa kapan-kapan.

Sampai jumpa.

Embun beku malam menenangkan Langit yang terik

Waktu mendengarkan sebagai saksi bisu

Ketika boneka berayun dan tersenyum

Tangan di belakang mereka mencari Murka dan membalas dendam

Kebenaran dan kebohongan bersatu

Di jalan tandus cerita ini

Awan kenangan Tampak seperti kabut tebal

Awan kenangan Tampak seperti kabut tebal

RUANG BERSALIN

- Hei, tegakkan papannya. Jangan diam! - Kau tak lihat aku bawa ini?

Mereka tidak mengelem dan menempelnya dengan benar!

CALON INDEPENDEN P.N. MADHUKUMAR

Cat batas merah di atasnya.

Hai, Paman Latheef. Silakan masuk.

- Anand, ini Paman Latheef. - Halo.

- Bu, Paman Latheef. - Halo.

Halo.

Arya Anand.

Nak...

Kita perlu bicara, kalau kau sudah luang.

Sudah delapan bulan sejak kau pergi. Banyak yang terjadi setelah itu.

Dengar, aku tidak tertarik untuk tahu semua itu.

Aku hidup damai di sini, dengan Binu, putra kami, dan pekerjaanku.

Bagus. Tak ada yang mengatakan sebaliknya.

Tapi kau juga perlu tahu hal-hal tertentu.

Aku datang untuk memberitahumu itu.

Paman.

Nazeer meneleponku.

Katanya dia pasti ke sini.

Apa gunanya hidup, jika tak bisa menghadiri pemakaman ibu kita?

Benar?

Mengapa menyerah begitu saja, Paman?

Tidak melakukan sesuatu?

Apa yang bisa kita lakukan?

Pria itu mengancam takkan biarkan anak buahku menginjakkan kaki di sini.

Aku lelah.

Aku tidak boleh gagal lagi.

Madhu tidak bisa memerintah seolah-olah kota ini milik ayahnya!

Tak perlu lakukan apa pun.

Tetaplah di sisiku.

Karena kejahatan Wakil Inspektur,

sudah kulaporkan pada Inspektur.

Surati Inspektur, Paman.

Kami urus sisanya.

Keadaan tidak seperti dulu lagi.

Ini masalah hak asasi manusia!

KANTOR KEPALA POLISI DISTRIK

BANTUAN

Duduk.

RAJKUMAR

Tn. Madhu, ini masalah kemanusiaan.

Seseorang ingin melihat jenazah ibunya terakhir kali.

Ya, silakan tunjukkan padanya.

Adik dari wanita yang meninggal, Latheef, meminta perlindungan polisi.

Lalu kenapa? Beri mereka perlindungan.

Berikan juga penghormatan, ketika jenazah dibawa ke kuburan.

- Kau... - Hei!

Yang ingin kutahu, apa Madhu ada masalah dengan ini.

Masalah apa? Banyak orang mati di kota ini, dan banyak yang hadir di pemakaman.

- Lalu? - Jadi...

jika Tn. Mohammed Nazeer tiba di kota ini,

pastikan tidak akan terjadi masalah hukum dan ketertiban, ya?

Pak, nama "Mohammed Nazeer"

hanya akan ada di ijazah dan paspornya.

Untuk kota ini, dia "Pathikayyan Nazeer". Saat orang sepertinya datang,

mana bisa kupastikan takkan terjadi masalah hukum dan ketertiban?

POLISI KERALA

Aku dan anak buahku takkan ada di area bandara dan sekitarnya.

Ini janji Madhu.

Anggap ini tantangan. Sudah lama kau tidak melakukan hal yang sulit?

Permisi.

BANDARA THIRUVANANTHAPURAM

Anda Nazeer, kan? Mari.

Duduklah.

Silakan tunggu di sini. Nanti kami hubungi.

Sudah kuperiksa. Sampai saat ini tidak ada masalah.

Biarkan Inspektur datang.

- Pak. - Duduk.

Bagaimana situasinya sekarang?

Aman?

Sampai sekarang ya, Pak.

Menurut laporan Madhu dan anak buahnya tidak ada di area bandara.

Tapi mereka tidak bisa dipercaya.

Kami tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Tepat.

Jadi, biar laporan intelijen masuk dulu.

Bawa Mohammed Nazeer keluar, setelah itu.

Baik, Pak.

- Pak. - Ya.

Ini laporan intelijen mengenai perlindungan Mohammed Nazeer.

Jika kau tahu skenarionya, arahkan saja kami.

Tentu.

Madhu dan gengnya bersikap normal sampai saat ini.

Mereka ada di lelang kendaraan di balai kota Peroorkada.

Mobil Innova tahun 2015 dihargai satu lakh rupee.

- Tawaran awal 230 ribu rupee. - Kutawar 245 ribu rupee.

Penawaran 245 ribu rupee.

- Aku 300 ribu rupee. - Penawaran 300 ribu rupee.

- Aku tawar 350 ribu rupee. - Penawaran 350 ribu rupee.

- Empat lakh rupee. - Penawaran empat lakh rupee.

Gengnya berkemah di sekitar lokasi, dengan dua mobil.

Tapi... Sekitar 20 truk jungkit, yang bisa dibilang

milik Madhu, lalu lalang di kota ini.

Pengemudinya anak muda yang bisa lakukan apa pun untuknya.

Ada beberapa jalan potong menuju Manacaud dari bandara.

Jika salah satu dari truk itu

bertemu kendaraan pengawal Nazeer, dari salah satu jalan pintas ini...

Sepertinya,

tidak ada truk jungkit lewat rute mereka yang biasa.

Sampai saat ini pun, kami tidak bisa melacak mereka.

Pak, jika ini rencananya, bukan hanya Nazeer,

tapi polisi yang menemaninya akan berada dalam bahaya juga.

Tidak hanya itu, Pak.

Konchiravila dan Koloni Karikkan, di antara bandara dan Manacaud,

adalah area yang kuat tangan kanan Madhu, Jabbar.

Nazeer dituduh dalam kasus penebasan Jabbar.

Jadi dari sisi itu pun tidak bisa diabaikan.

Madhu dan gengnya takkan lakukan apa pun secara langsung.

Mereka akan buat orang lain melakukannya. Hampir pasti.

Pak, kami kenal baik Nazeer.

Kita tahu ini masalah prestise, gunakan seluruh kekuatan jika mau.

Tapi bagaimana jika besok ada pertanyaan, tentang polisi

memberi begitu banyak perlindungan hanya untuk penjahat lokal?

Pertemuan semakin dekat. Kita harus pertimbangkan itu juga.

- Halo? - Aku telah menepati janjiku padamu.

Aku dan anak buahku tidak ada di dekat bandara.

Jangan biarkan dia keluar. Jika kau lakukan,

kau gali satu makam lagi di pemakaman Masjid Manacaud.

Madhu takkan memilih antara opsi A dan opsi B, seperti pikiranmu.

Aku punya banyak pilihan lain.

Kau dan kepolisianmu takkan bisa menghentikan semuanya.

Jika tidak,

akan kukirim seseorang dengan bom untuk hadir di pemakaman.

Bom manusia, paham?

Madhu, ini keterlaluan. Kau harus bayar mahal untuk ini.

Banyak yang harus kubayar. Akan kutambahkan saja ini ke daftar.

Ada penerbangan Air Arabia menuju Riyadh pukul 19,20.

Pastikan dia naik pesawat itu.

Siapa bom manusianya?

Kau?

Kenapa tidak? Jika kau perintahkan, aku akan jadi bomnya!

Benar?

- Ayo! - Pak!

Bilang polisi itu kalau Nazeer akan kembali untuk menghabisinya!

Pergilah, Nazeer. Untuk mendinginkan situasi.

Ini takkan kulupakan! Selama aku hidup!

Bukankah sudah kubilang?

Aku tidak boleh kalah lagi.

Dengar ini.

Klanmu licik.

Semua yang sudah kutulis untuk mendukung mereka!

Banyak laporan brutal!

Aku bahkan berhasil menyebabkan kerusuhan di dalam Kepolisian.

Banyak yang mati!

Aku seperti budak mereka!

Tetapi,

kau bahkan tidak bisa bawa anakku

ke kota ini dalam setengah jam!

Madhu!

Dia semakin berkembang.

Banyak.

Paman,

kami akan bayar semua ini.

Malam ini juga.

Polisi juga bersama kita.

Benar, Tn. Latheef.

Aku berinvestasi ratusan ribu rupee untuk menghabisinya.

Geng Chithal Ani dari Neyyattinkara,

yang dihabisi Madhu saat itu,

Eeyan Johnny dan geng dari Vellayani, Chakku Sura dan geng dari Attingal.

Dua truk penuh penjahat akan masuk ke rumahnya hari ini!

Kotta Madhu akan berakhir dan habis malam ini!

Hei!

Ambil mobil! Pergi ke rumah sakit.

Untuk apa? Tidak perlu.

Ini bagian dari permainan.

Ayo.

Dua orang ke belakang. Awasi rumah.

- Siapa kalian? - Di mana dia?

- Lepaskan aku! - Keluar kau!

Jangan lakukan apa pun padaku!

- Lepaskan! - Tolong!

- Ayah! - Bawa mereka pergi!

Bawa dia!

Kalian masuk dan mau menghabisiku di depan istri dan putraku?

Kita saling percaya tidak akan masuk ke rumah masing-masing.

Saat permainan ini berakhir,

ingatlah kalau bukan Madhu yang pertama merusak kepercayaan itu.

Mengerti?

Kau pikir bisa melukai Tn. Madhu dan lolos dengan mudah?

Ayo. Pukul dia!

- Dasar bajingan! - Kau pikir siapa dirimu?

Pikirmu kau siapa?

Tendang wajahnya!

Kini, ibarat kau mati digigit anjing gila,

aku tetap dikira pembunuhmu.

Jadi sudah tanggung jawabku untuk memastikan

kau aman sampai pemilu selesai.

Aku akan datang setelah pemilihan.

Awas kalau kulihat kau di Thiruvananthapuram.

Aku bahkan takkan izinkan mayatmu dimakamkan. Paham?

Pergi ke tempat lain, membusuklah di sana!

Koran itu adalah kerja kerasku selama 40 tahun.

Aku kehilangannya.

Tapi partai memberinya kursi.

Apa pun.

Tapi aku pun mau tinggal di kota ini.

Bukan sebagai Latheef tua, setidaknya sebagai tawanan perang.

Kucoba meyakinkannya melalui banyak orang.

Tapi dia bergeming.

Aku tahu bukan dia yang bermasalah denganku.

Jabbar.

Kalau dia menang di pemilihan,

Madhu akan jadi raja.

Aku takkan bisa tinggal di kota ini.

Bukan cuma aku,

orang-orang yang ada di sisiku juga.

Dia katakan hal yang sama padaku.

Bisa tolong bicara dengannya mewakiliku?

Aku?

Kurasa dia akan mendengarkanmu.

Dan jangan melalui telepon.

Tolong bicara langsung dengan dia dan istrinya.

Atau, Jabbar akan menghentikanmu.

Jangan pikir aku memintamu membalas

atas segala yang kulakukan untukmu.

RUMAH TURIS MATHA

Akan kupikirkan.

Tentu. Aku akan selalu ada.

Apa Paman Latheef memberitahumu sesuatu?

Jika mungkin bagimu, selesaikan.

Kita berutang banyak padanya.

Apa maksudmu, Sayang? Orang seperti itu tidak bisa dipercaya.

Jika berakhir seperti ini, biarlah.

Kenapa?

Kenapa?

Kau lupa soal hari itu?

Mereka berencana menghabisimu dan juga anak ini.

Kita masih selamat karena kita tahu sedikit lebih awal.

Kukatakan ini agar hal-hal seperti itu tak terulang lagi.

Sekarang kita pemenangnya. Madhu akan tetap memenangkan pemilihan.

Jika semua berakhir dengan ini, untuk kita, untuk putra kita,

dan untuk semuanya, akan jadi hidup baru.

Orang yang memberitahumu ini,

apa dia yakin?

Dia bilang begitu.

Dia datang jauh-jauh ke sini hanya untuk berbicara denganku.

Biar Latheef yang bicara.

Latheef harus memberitahuku.

Di hadapanku.

Tidak ada cara lain yang lebih baik, Madhu?

Aliansi harusnya dibuat seimbang.

Bukan dengan yang gagal total.

Kita dengar saja yang mau dia katakan.

Jika nanti kita harus lakukan hal ekstrem, kita takkan menyesal!

Kuberi tahu kau yang harus kusampaikan. Silakan.

Hei! Pergi tidur sana!

Masuk.

Kau tidak ikut?

Dia sendirian di sana.

Tidak ada masalah lain.

Aku tak ingin melihatnya. Pergilah.

Latheef.

Katakan. Apa yang harus kulakukan?

Harus aku berlutut memohon untuk bisa hidup di kota ini?

Bukan aku yang kirim penjahat ke rumahmu. Percaya padaku.

Bahkan Ibumu tak memercayaimu, bagaimana aku bisa memercayaimu?

Setelah semuanya, apa kau tahu alasanku datang meski dia melarang?

Lelah.

Itu.

Jika kita saling membalas, bahkan saat kita mati,

akan tetap ada masalah di antara kita.

Jika kau bisa kubur semuanya dan tinggalkan kota ini,

maka aku takkan mengikutimu.

Kita akan berpisah hari ini.

Tapi kalau berani menemuiku lagi,

apa pun yang nanti kaukatakan, Bajingan.

Aku akan menghabisimu! Mengerti?

Aku juga sudah muak dengan semuanya.

Oke?

Tunggu.

Hari ini aku makan biryani dari Restoran Bismi!

Aku perlu bicara.

- Madhu! - Kawan!

Madhu!

Madhu!

Berhenti!

- Masuk ke mobil! - Oh, tidak!

- Hei! - Tidak!

- Masuk ke mobil! - Lepaskan aku!

Lepaskan aku!

Astaga!

Nyalakan mobilnya!

Tidak! Tuhan!

Kau menipuku!

Dasar penipu!

Dasar bajingan!

Tidak ada cara lain.

Dia lolos dari kita sekali karenamu.

Jadi kami selesaikan masalahnya menggunakanmu.

Sudah.

Binu dan anakmu menunggu di rumah.

Kekacauan di kota mereda. Jangan tinggal lama di sini.

Mobil.

Sopir.

Bajingan!

Apa yang akan kukatakan padanya?

Aku harus bilang apa pada Ny. Prameela?

Aku harus bilang apa?

Ny. Prameela,

dia memercayaiku.

Kau tuai apa yang kau tabur.

Baik itu kau, aku, atau Kotta Madhu.

BELASUNGKAWA P.N. MADHUKUMAR

Hentikan mobilnya.

- Berhenti! - Tidak bisa!

- Cuma bisa rumahmu... - Berhenti!

- Aku tidak bisa! - Berhenti!

- Berhenti! - Tidak, Pak!

- Lepaskan kemudinya! - Berhenti!

Berhenti!

Hei!

BELASUNGKAWA P.N. MADHUKUMAR

INSPEKTUR - KOMITE DISTRIK

- Ya? - Nyonya...

Nyonya...

Kenapa?

Aku dalam perjalanan ke sana.

Jangan. Tidak ada yang ingin melihatmu di sini.

Tidak.

Aku ingin melihat Madhu.

Tak ada yang bisa dilihat di sini.

Aku ingin melihatnya.

Aku tidak tahu apa-apa.

Anand akan datang.

Ayah.

Biarkan.

Jangan lukai dia.

Kuserahkan padamu.

Ingat kata-kata Madhu.

Membunuhku lebih baik dari ini, Sayang.

Ayah.

Biar dia berkunjung lalu pergi. Kita tak tahu apa dia terlibat atau tidak.

Ayah.

Berhenti!

Berhenti!

- Ke mana? - Akan kuberi tahu. Jalan.

Kau bawa dia ke sana dan membuatnya terbunuh!

Bajingan!

Jalan!

Hei! Pecundang!

Kau bawa dia dan membuatnya terbunuh!

Ini permintaan pertama Prameela padaku.

Kalau tidak, aku akan membunuhmu dan mencincangmu, ingat!

Pergi!

Bawa dia masuk.

Bu...

Nyonya...

Aku tak melakukannya.

Aku tak tahu apa pun.

Cukup.

Sudah?

Jangan ada di sini. Pergilah.

Jika ada yang tanya, beri tahu, inilah kondisi Madhu saat ini.

Biar mereka senang.

RAJMOHAN IAS KOLEKTOR DISTRIK

Dia datang.

DISTRIK KOLEKTOR

Aku memanggilmu soal landasan pacu adalah kepentingan nasional.

Jadi kita tidak bisa menundanya.

Madhu yang memasok tanahnya, kan?

Dia tanya apa kini bisa memasok langsung.

Bagaimana?

Bukankah Madhu yang menjamin pasoknya?

Maaf, peristiwa tak terduga menyebabkan penundaan ini.

Pekerja Madhu akan melanjutkannya.

- Tapi, Pak... - Jadi, semua baik-baik saja?

Baik, Pak.

- Pak... - Jadi lanjutkan, Sasankan.

Bu! Aku tidak bisa menghadiri pemakaman.

- Aku sedang tidak ada. - Tidak apa-apa.

Tentang tanah?

Ini hari Jumat, kan? Kembalilah hari Senin.

Mereka kenakan komisi yang besar!

- Madhu bilang 700 rupee, kan? - Dia cuma bercanda...

Mulai sekarang, bukan 700 per muatan. Tapi 850.

- Apa? - Dan ini tidak bercanda.

Dengar...

Kita mulai lagi dari awal!

Permisi.

Ayo jalan.

Baik.

Kakak!

Periksalah.

Lengkap?

Tidak, ada yang hilang.

Hanya itu yang kami dapat.

Investigasi sedang berlangsung.

Diduga ini dilakukan geng dari Thengapattanam.

Kami terlambat.

Sama.

PRAMEELA

PRAMEELA

Halo, Anand.

Ini Prameela.

Ya.

Aman?

Ya.

Kenapa?

Tidak.

Istrimu ada?

Ya.

Berikan telepon padanya. Aku belum pernah bicara dengannya.

Tentu, sebentar.

Aku belum cerita Madhu, ya?

Ini istri Madhu. Dia ingin bicara denganmu.

Baik.

Halo.

Aku istri Madhu yang mati dibom dan dibunuh.

Prameela.

Belum lama polisi mengantar barang yang ditemukan di tubuh Madhu.

Ada cincin yang hilang.

Jika itu ada padamu, ingatlah.

Siapa pun yang pakai, tak berumur panjang.

Tidak pernah berada lama di tangan siapa pun.

Kau sudah lihat siapa saja yang pergi, kan?

Kau belum lihat siapa yang kuat.

Kau belum lihat mereka.

Kita gagal.

Keamanan Anand?

Akan kuurus.

Selesai.

Dia sudah tak ada lagi.

Tamat.

Anand?

Aman.

Baik.

Kau bisa sembunyi di lubang tikus dan bicara begitu.

Kutantang ke Thiruvananthapuram.

Kau takkan kembali hidup-hidup.

Kau akan kuhabisi.

Aku akan segera ke sana.

Mana mungkin aku tidak datang?

Sampai sekarang, "Geng Binu"

hanya geng khayalan laporan Paman Latheef.

Tapi tidak apa.

Mana bisa aku tidak datang?

Coba saja.

Kita akan lihat.

Tentu.

Terus.

Hal seperti itu takkan berakhir mudah, bukan?

Ini akan terus berlanjut tanpa henti...

Berikan aku kuncinya, Jabbar.

Seperti sungai kebencian!

Untuk generasi berikutnya,

selamanya!

Terjemahan subtitle oleh Indah Lolano

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.