All language subtitles for ROAD HOME episode 08 [iQIYI subindo]

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian Download
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ms Malay
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia]

[Road Home]

[Episode 8]

Pada suatu tahun sebelum Imlek,

aku bertepatan membongkar bom.

Cinta pertamaku kebetulan di sana.

[Tahun 2016]

Usai rapat ada pesta tahun baru.

Sepertinya tahun ini

kita akan melewati tahun baru bersama.

Benar.

Kapten Lu.

Di samping tong sampah halaman belakang,

ditemukan benda mencurigakan.

Kami sudah memeriksanya dengan detektor.

Ada yang tidak beres.

Evakuasi massa dulu.

Baik.

Apa yang terjadi?

Tidak dibilang.

Ayo keluar dulu.

Mungkin ini simulasi kebakaran.

Bahan peledak jenis release-firing.

Strukturnya sederhana.

Bagian dalam bahan peledak,

sebagian besar areanya

mungkin akan ada petunjuk pelaku.

Demi mempertahankan petunjuk

dan melacak pembuat,

disarankan untuk membongkarnya di tempat.

Massa sudah dievakuasi.

Setuju untuk dibongkar di tempat.

Kawan,

di dalam ada situasi apa?

Tidak apa-apa.

Pemeriksaan rutin.

Daripada menunggu,

bagaimana kalau kita jalan-jalan di sekitar sini?

Sepertinya…

Sebelumnya aku menemukan

di dekat sini ada sebuah kedai mi beras

yang sangat terkenal.

Bagaimana dengan ini?

Mi siput.

Boleh juga.

Pergi makan dulu.

Ayo.

Ayo.

Berhasil menyingkirkan bahan peledak.

Selamat semuanya,

bisa segera pulang untuk merayakan tahun baru.

Apakah cinta pertamamu tahu?

Tidak tahu.

Waktu itu, kami sudah lama putus.

Kapten Lu.

Bagaimana cinta pertamamu?

Dua hari yang lalu,

nilai tes sudah keluar.

Nilaimu tidak tinggi.

Siapa suruh menanyakan cinta pertamanya?

Aku sudah membuat janji

dengan wali kelas.

Hari ke-8 Imlek.

Pukul 15.00.

Hari itu kamu datang menjemputku dulu.

Di bawah rumah bibiku.

Sampai jumpa pukul 13.00.

Apa kamu sudah berpacaran?

Memegang ponsel sampai lupa segalanya.

Tidak.

Kelihatan sekali tidak punya keluarga.

Yang punya istri di tim kita,

begitu pulang,

langsung mengambil ponsel untuk mengirim kabar kepada istrinya.

Kalau tidak, pasti akan dimarahi saat pulang.

[Bengkel Lu Zheng]

Eh, Lu Chen.

Pekerjaanmu sekarang

semakin lama semakin sibuk.

Tahun baru pun masih terus bertugas.

Tahun baru paling sibuk.

Pergilah.

Bocah, kamu sudah cukup bermain di luar,

masih tahu pulang?

Apakah hari ini aku bisa

berbicara baik-baik denganmu?

Aku hanya menyuruhmu menikah,

juga tidak menyuruhmu

melakukan perbuatan jahat.

Apakah perlu seperti itu?

Memperlakukanku seperti ini?

Begitu tidak menghargaiku?

Kamu sudah umur berapa?

Berencana tidak menikah selamanya?

Omong-omong, Lu!

Dia sudah bertugas beberapa hari baru pulang.

Tidak mudah.

Siapa yang mudah?

Sejak kecil,

apakah ada orang yang pernah mengurus kita?

Makan punyaku, minum punyaku.

Sudah dewasa tidak mendengarkanku.

Apakah ini masuk akal?

Sia-sia kamu pernah berada di kepolisian.

Berbakti adalah prioritas.

Menuruti orang tua adalah berbakti.

Ayahmu yang menjadi polisi

pasti juga sering mengajarimu.

Kenapa semakin besar

semakin tidak pengertian?

Pikirkan baik-baik.

Kita berutang pada Keluarga Zhao.

Aku akan mengembalikan uang Keluarga Zhao.

Anda tidak perlu mengeluarkan sepeser pun.

Kamu... kamu tahu

berapa utang kita pada mereka?

Tahu.

Baguslah kalau kamu tahu.

Aku tidak bisa membantu apa-apa.

Kamu sudah hebat ya, bocah.

Sudah kuduga tidak sia-sia aku merawat anak ini.

Lu Chen.

Meskipun kamu

sangat kecewa terhadap aku,

saat senggang juga harus pulang makan.

Bagaimanapun, ibumu masih di rumah.

Lagi pula, keahlian memasakku ini

lumayan bagus.

Kapan pulang, mau makan apa,

beri tahu terlebih dahulu

agar aku bisa mempersiapkannya lebih awal.

Kamu mau makan?

Tidak.

Biarkan aku tidur tiga jam dulu.

Sore aku masih ada urusan.

Baik.

Bantu aku siapkan

satu setel jas formal,

untuk urusan penting.

Mau bertemu calon mertua?

Baiklah, aku tidak bicara lagi.

Malah malu-malu.

Ayo, pegang ini.

Aku pikirkan dulu.

Aku carikan yang paling mahal untukmu

dan kusetrikakan.

Tidak perlu yang paling mahal.

Yang menengah saja.

Lagi pula bukan bajumu.

Aku yang memutuskan.

Kamu bahkan memakai jas ke sini?

Nanti akan bertemu Gui Xiao.

Pantas saja.

Dia kemari dengan membawa kontrak pinjaman

dan pengembalian.

Kamu masuk dan tanda tangan saja.

Serahkan sisanya padaku.

Lu Chen.

Bolehkah aku berbicara

berduaan dengannya?

Kali ini,

aku memang ada salah.

Tapi aku ingin menikah denganmu,

itu sungguh-sungguh.

Dari awal sampai akhir,

aku sama sekali tidak tertarik padamu.

Sejak lulus,

kita juga pertama kali

bertemu secara pribadi.

Kak Xiaoshan.

Aku dan Hai Dong…

Itu semua kejadian masa kecil.

Tidak ada gunanya diungkit lagi.

Tidak peduli apa niatmu

terhadap Lu Chen,

juga harus berakhir hari ini.

Ayahnya seperti apa,

tidak ada yang tidak tahu.

Tapi Lu Chen dari kecil sampai besar,

tidak bersalah kepada siapa pun.

Terlebih tidak pernah melakukan

hal yang bersalah padamu, Zhao Minshan.

Dari awal sampai akhir,

perbuatanmu tidak ada yang benar.

Masalah ini sampai di sini saja.

Keluarga kalian

hanya hubungan berutang dan bayar utang.

Jika kamu masih tidak mengerti,

aku akan membuat perhitungan denganmu dari tahun itu.

Naiklah.

Aku tidak punya baju formal

Pakai punya Hai Dong.

Bertemu wali kelas, apakah ada masalah?

Tidak ada.

Ini pertama kalinya aku

melihatmu memakai jas,

agak aneh.

Aku juga tidak terbiasa.

Tempat ini masih sama seperti dulu.

Tidak ada perubahan.

Tidak berubah.

Kapten Lu.

Senang bertemu denganmu.

Halo.

Aku demi memahami Anda,

mencari artikel wawancaramu di seluruh internet.

Tapi sayang sekali hanya ada satu artikel.

Pahlawan besar seperti kalian,

seharusnya banyak dipromosikan.

Sudahlah.

Maaf, Kapten Lu.

Suamiku ini,

dia hanya berpura-pura ramah.

Suka heboh sendiri.

Mana boleh bilang aku berpura-pura ramah?

Ini cinta pertama kakakku.

Urus urusan penting dulu.

Baik.

Wali kelas ini,

dia adalah seorang guru senior.

Sangat bertanggung jawab.

Sengaja bilang ingin bertemu

wali anak,

untuk memahami situasi

belajar dan kehidupan anak.

Lalu sifatnya atau semacamnya.

Aku sudah terlebih dahulu

menelepon dia,

menceritakan kondisi orang tua anak

tidak ada di Beijing.

Kalian naik dan mengobrol saja.

Pokoknya supaya anak bisa

segera beradaptasi dengan

kehidupan pindah sekolah.

Baik, terima kasih.

Ini semua gara-gara suamiku.

Aku lupa memperkenalkan diri.

Namaku Xia Xia,

sepupu ipar Gui Xiao.

Namanya Wen Cheng,

adik sepupunya.

Ayo naik.

Baik.

Cinta pertama Kakak

sangat tampan,

postur tubuhnya bagus.

Sudah.

Menurutmu, apakah mereka masih ada kesempatan?

Aku rasa ada.

Iya!

Halo.

Ibu!

Ibu, ada tamu!

Kakak, Kakak Ipar, cepat kemari!

Kalian cepat masuk, tidak perlu ganti sepatu.

Kamu mengenalnya?

Guru Sun.

Halo.

Halo.

Ini pamannya Qin Xiaonan,

Lu Yanchen.

Aku pernah menyebutnya

di telepon.

Dia baru saja kembali dari Qining.

Ayo, masuk.

Silakan duduk.

Kakak.

Dia adalah Polisi SWAT yang kumaksud waktu itu.

Permisi,

apakah Anda sebelumnya adalah Polisi SWAT?

Ya.

Sekarang juga.

Kami melihatmu memakai jas,

mengira kamu sudah ganti profesi.

Apakah kamu pernah melihatku?

Wajar saja dia tidak mengenalimu.

Beberapa tahun yang lalu,

adikku dan temannya

pergi wisata kelulusan.

Bertemu dengan cuaca buruk

dan terjebak di gunung tidak bisa turun.

Banyak Polisi SWAT datang membantu,

membantu kami turun gunung.

Apakah kamu masih ingat?

Temanku berambut lurus,

sangat panjang

hingga ke pinggang.

Rambutku keriting.

Rambut keriting panjang berwarna cokelat.

Tidak ingat lagi.

Dia setiap hari melaksanakan tugas,

entah harus membantu berapa banyak orang,

menyelamatkan berapa banyak orang.

Kamu hanyalah salah satu rakyat.

Aku hanya merasa hal ini jarang terjadi.

Terima kasih.

Sungguh.

Terima kasih.

Ini adalah tugasku.

Sudah seharusnya.

Ini, Ibu.

Mari.

Ini PR liburan musim dingin.

Kamu bawa pulang.

Anak tidak perlu menyelesaikannya,

hanya untuk beradaptasi saja

dengan pola PR

liburan musim dingin di sini.

Biasakan dulu.

Kelak Xiaonan, anak ini,

kuserahkan pada Anda.

Meminjam kata-kata Kapten Lu,

ini adalah tugasku.

Sudah seharusnya.

Terima kasih.

Sungguh tidak ingat?

Ada kesan terhadap tugas dan waktu,

terhadap orang tidak ada.

Tugas hari itu mendadak.

Kami segenap tim semuanya ke sana.

Eskardon Anjing Polisi

juga naik turun gunung untuk mencari orang.

Saat itu turis di area wisata,

ada ratusan orang backpacker.

Ada beberapa orang berjalan sampai ke dalam.

Pencarian selama beberapa jam,

mencari di seluruh gunung.

Sama sekali tidak ingat wajah orang.

Angin kencang, hiportemia, jalan gunung sempit,

banyak turis.

Dalam kondisi seperti ini,

kami sama sekali tidak punya waktu

untuk memperhatikan perbedaan

wajah manusia,

rambut panjang atau keriting.

Benar juga.

Saat SMA,

aku sering jalan-jalan di sini.

Satunya di sini,

satunya lagi pasar grosir pakaian

di sebelah kebun binatang.

Aku punya seorang adik sepupu yang pandai menawar harga.

Setiap kali membawanya keluar,

selalu bisa menghemat banyak uang.

Adik sepupu laki-laki yang kamu temui hari ini,

waktu kecil dia hanya seorang pengikut.

Kami semua tidak mau mengajaknya bermain.

Dia menangis dan bahkan mengadu.

Sekarang kamu

melihat semua ini, apakah merasa

sudah sangat asing?

Sejak SMA,

aku tidak pernah kembali lagi.

Beberapa tahun ini di Qining,

aku juga pulang

tidak lebih dari lima kali.

Sebenarnya tentang Beijing yang sekarang,

yang kuketahui kurang lebih sama

dengan Qin Xiaonan.

Selamat kembali ke rumah.

Mobil adikku tidak kelihatan lagi.

Terlalu macet.

Kita tidak bisa menemukannya sekarang.

Hubungi saja setelah sudah sampai.

Sebenarnya dalam lima kali kepulanganku,

ada dua kali yang untuk melihatmu.

Kenapa seingatku hanya sekali?

Yang saat aku baru kuliah,

kamu pernah kembali itu.

Lalu saat kamu minta putus.

Kamu pulang saat itu?

Aku telepon adikku dulu.

Lihat apakah mereka sudah sampai atau belum.

Telepon lagi setelah lima menit.

Baik.

Masalah Zhao Minshan

sudah berakhir.

Sesenang itu?

Tentu saja senang.

Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal?

Sore ada urusan penting dengan kalian.

Sulit untuk mengatakannya.

Ini juga hal penting.

Gui Xiao.

Mereka sudah tiba.

Cepat turun.

Otakmu rusak lagi?

Secara tidak sadar, aku...

Tanganku ini...

Kak, tadi aku tidak mengenali

kalau itu adalah mobil Kak Chen,

makanya aku menekan klakson. Ini...

Ya sudah, kenapa begitu gugup?

Ayo, naik dari sini.

Kak.

Kamu hari ini bersiap

mentraktir besar-besaran?

Hari ini pesan sesuka hati.

Terserah kalian saja.

Apakah ada batas anggaran?

Gaji sebulan untukmu.

Cukup, tidak?

Kalau begitu aku harus melihat baik-baik.

Halo.

Halo.

Berikan kami satu porsi ini.

Baik.

Yang ini ada porsi apa

hari ini?

Yang ini hanya ada satu kilo.

Untuk empat orang seharusnya sudah cukup.

Nanti aku pergi lihat denganmu.

Baik.

Ini juga satu porsi.

Baik.

Makanan di sini

semuanya dijual dengan

harga barang hari itu.

Cuma buat makan yang segar.

Meja nomor 13.

Mau bayar.

Tuan, mohon tunggu sebentar.

Pelayan, mau bayar.

Tuan yang baru keluar tadi

sudah membayar tagihannya.

Tunjukkan tagihannya padaku.

Baik, tunggu sebentar.

Halo, Nona.

Kemampuan Kapten Lu bagus juga.

Kak,

cinta pertamamu ini,

keluarganya lumayan kaya, ya?

Pelayan,

tolong bantu aku bungkus

sisa makanan ini.

Baik.

Terima kasih.

Kerja.

Ini adalah PR liburan musim dingin

dari sekolah baru.

Meskipun guru tidak meminta

untuk menyelesaikan semuanya,

tapi belakangan ini kamu juga senggang.

Harus kerjakan semuanya,

tidak boleh bermalas-malasan.

Aku akan membongkar beberapa mobil.

Kalau kamu mengantuk, tidurlah dulu.

Aku tidur di sebelah.

Beberapa mobil?

Kalau begitu, memang besok pagi baru bisa bertemu.

Untung keluarga kalian

membuka bengkel mobil.

Kamu sudah datang.

Aku makan sate ini rasanya lumayan.

Jadi, membungkus satu porsi untuk anak.

Aku lihat kamu tidak seperti terlibat masalah.

Raut wajahmu lumayan bagus.

Kenapa bongkar mobil lagi?

Aku mengerti.

Kamu membongkar mobil saat senang,

saat sedih juga membongkar mobil, 'kan?

Kakak Chen.

Aku baru pulang dari dinas.

Kakakku bilang kamu dipindahkan ke Beijing.

Aku segera datang bersamanya untuk menemuimu.

Hebat juga, Kak.

Sudah bertahun-tahun, tidak berubah sedikit pun.

Kamu juga tidak berubah.

Aku baru selesai mengerjakan PR.

Aku tidur dulu.

Pergilah.

Ini anakmu, Kakak Chen?

Bukan.

Anak teman.

Aku kira kamu sudah menikah

di Qining.

Menikah apanya?

Dia sedang menunggu Gui Xiao.

Omong kosong apa yang kamu katakan?

Orang lain tidak tahu,

mana mungkin aku tidak tahu?

Gui Xiao di kelas kami itu?

Omong kosong, memangnya siapa lagi?

Kakak Chen dan Gui Xiao pernah pacaran?

Mereka berdua

berpacaran setelah lulus.

Banyak orang tidak tahu.

Kenapa kamu tidak memberitahuku?

Untuk apa aku memberitahumu?

Lihat apa?

Tuangkan bir untuk Kakak Chen kamu.

Aku tidak mau minum.

Besok sore kerja, tidak bisa minum.

Jangan minum langsung dari botolnya.

Bagaimana aku bisa minum kalau kamu seperti ini?

Tuang ke gelas.

Tuang sendiri.

Aku terlalu senang bertemu Kakak Chen.

Kakak Chen, mari.

Aku tidak mau minum.

Sudah dibilang tidak mau minum.

Terima kasih, Kak.

Aku baik-baik saja, Kak.

Aku baik-baik saja.

Terima kasih.

Lanjutlah mengobrol dengan kakakku.

Aku tidak apa-apa.

Terima kasih, Kakak Chen.

Jangan pedulikan dia.

Biarkan saja dia muntah.

Dia akan membaik setelah muntah.

Kamu balik sini duduk.

Duduk.

Melihat kondisinya ini,

aku jadi teringat aku yang dulu.

Di hari pernikahan Meng Xiaoshan,

aku hampir

minum sampai mati di depan rumah mereka.

Kemudian selama setengah tahun,

aku menghabiskan air mata

separuh hidupku.

Apakah kamu pernah menangis?

Karena Gui Xiao.

Diam-diam menangis juga termasuk.

Pernah, tidak?

Kenapa?

Karena sudah mengatakannya,

katakanlah sampai selesai.

Dia minta putus.

Aku meneleponnya berkali-kali.

Dia terus-menerus menutupnya.

Bahkan tidak membiarkanku

mengatakan satu kalimat lebih banyak.

Kemudian, aku tidak berani meneleponnya lagi.

Takut dia dimarahi oleh keluarga karena terlalu sering menelepon.

Enam bulan setelah putus,

[Tahun 2012]

akhirnya ada kesempatan kembali ke Beijing.

Keesokan harinya harus pulang.

Malam itu,

dia masih enggan bertemu denganku.

Aku tidak pulang ke rumah.

Berdiri di stasiun kereta sampai pagi,

lalu langsung pergi.

Aku di Beijing.

Ayo keluar untuk bertemu.

♫Kamu perlahan mengabaikan curahan hatiku♫

♫Memaksakan diri bisa ditukarkan berapa banyak sikap dingin♫

Lupakan saja.

♫Selamat malam yang tidak terkirimkan♫

♫Pernah percaya bahwa usaha tidak akan meninggalkan penyesalan♫

♫Tapi kondisi ini terlalu memalukan♫

♫Siapa yang akan menanggungnya untukku?♫

♫Kita berjanji untuk bersama selamanya♫

♫Tapi akhirnya tetap berpisah♫

♫Menunggu hingga perlahan melepaskan perlawanan♫

♫Membiarkan waktu berlalu♫

♫Tidak pernah terpikirkan bahwa cinta♫

♫bukanlah semudah♫

♫melewati kesulitan♫

♫Kita menunggu hingga alur cerita berputar balik♫

♫Masih menyimpan harapan♫

♫Berdiri di malam tanpa dirimu♫

♫Yang juga tidak bisa meneteskan air mata♫

♫Lampu jalan di sudut jalan, perjalanan yang redup♫

Kamu pernah kembali setelah putus?

♫Semuanya sudah terlambat♫

Aku tahu kamu setia.

Tapi aku tidak menyangka

perasaan kamu terhadap Gui Xiao begitu dalam.

Aku sudah harus pulang.

Bangun.

Ayo pulang.

Ayo.

Besok aku akan datang menjemput Qin Xiaonan.

Aku harus mengantar Hai Jianfeng pulang dulu.

Ibunya sayang padanya.

Kalau tengah malam tidak pulang,

jika tidak memarahinya, maka akan memarahiku.

Aku pulang dulu.

Pergilah.

Kakak Chen.

Kalian harus bahagia, ya.

Kamu yang beli?

Siapa lagi selain aku?

Bibi Gui Xiao.

Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya,

apa kamu tidak malu mengambilnya?

Malu.

Oleh karena itu,

aku sudah mencatatnya.

Setelah kelak aku menghasilkan uang,

lalu dihitung dengan inflasi,

sekaligus kukembalikan padanya.

Ini baru benar.

Tapi kamu harus ingat,

harus mengembalikan dengan menggunakan akal,

tidak boleh melukai hatinya.

Tentu saja.

Coba kulihat.

Ada setengah dari ketampananku.

Sombong.

Dua tahun ini aku sedang menabung.

Tidak bisa membelikanmu merek yang terlalu bagus.

Namun,

tahun baru harus ada baju baru.

Ini adalah peraturan.

Aku tahu.

Pergilah, makan.

[Kedai Mi Daging Sapi Khas Xie]

Ini adalah tempat makan favorit

Bibi Gui Xiao-mu

saat masih sekolah dulu.

Aku mau makan yang sering dia makan.

Ini anak Anda?

Bukan.

Keponakanku.

Aku kira kamu dan gadis itu

sudah menikah dan melahirkan anak.

Gadis yang mana?

Kamu tidak tahu.

Pamanmu

dulu sering membawa gadis itu

untuk makan mi.

Tampangnya sangat cantik.

Hanya saja terlalu bisa makan pedas.

Makan semangkuk mi,

menghabiskan setengah botol saus sambalku.

Di tengah musim panas,

aku melihat dia makan saja sampai berkeringat.

Seperti biasa.

Dua mangkuk.

Baik.

Tunggu, ya.

Kenapa?

Selagi tahun baru,

kamu tidak ingin

mencari Bibi Gui Xiao untuk jalan-jalan?

Masalah orang dewasa,

apa perlu dikhawatirkan olehmu?

Jika bukan karena

Bibi Gui Xiao,

aku juga tidak ingin memedulikanmu.

Mi sudah datang.

Selamat menikmati.

Terima kasih.

Kamu sibuk?

Hari ini libur.

Kalau begitu, kamu...

Bagaimana kabar Qin Xiaonan?

Dia bilang,

dia merindukanmu.

Aku juga.

Aku bawa dia pergi melihatmu.

Tidak perlu.

Aku ke sana untuk menemuinya.

Kebetulan bisa melihat Meng Xiaoshan.

Hadiah untukmu.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.