Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Ingat, kau dan istrimu akan datang makan malam hari Jumat.
- Ke tempatku dan Sara. - Baiklah.
Jangan lupa. Jangan terlambat.
Tentu. Kami akan membawa anggur.
Chiara, dari mana saja kau?
Jumat depan, makan malam di tempat kami. Ya?
Maaf, aku di pusat kebugaran. Kami akan datang!
Matteo?
Kau dan istrimu akan datang untuk makan malam hari Jumat, ingat?
Tentu. Aku akan datang.
Mau kubawakan anggur?
Hei, Giulia. Makan malam Jumat depan. Sudah dipastikan.
Hei, Sara. Aku datang.
Kau sungguh percaya hal bodoh itu?
Cindy dan Karla adalah bukti hidup.
Apa maksudmu, Francesco?
- Tentang konsep belahan jiwa? - Ya.
Berapa banyak pasangan kau kenal yang telah bersama 20 tahun?
Baiklah, tapi…
Bagaimana jika, saat aku berusia delapan tahun,
orang tuaku memutuskan pindah ke Boston?
- Boston? - Ya, ke Boston.
Kau pikir aku tak akan pernah menikah?
Bahwa aku akan hidup sedih dan kesepian
karena belahan jiwaku tinggal di Roma?
Kau tak akan bertemu Sara.
Di SMA Boston, kau akan bertemu seseorang dan masih bersamanya.
Kita tak tahu itu.
Konsep itu tak masuk akal.
Jadi, kau pikir di suatu tempat di dunia ada orang yang lengkapi kita.
Itu konyol.
Konyol? Plato menulisnya di Simposium.
Apelnya, tentu.
Ini bukan soal apel, ini lebih rumit dari itu.
Dahulu kala, manusia sempurna.
Baik.
- Para dewa iri, jadi mereka… - Membelahnya.
Sejak itu, kita semua mencari separuh diri kita.
Ya, aku ingat dengan baik.
Itu omong kosong.
- Itu indah. - Apa?
- Mitos hermafrodit. - Itu berat.
- Apa? itu Indah. - Percakapan kelas atas.
Percakapan penting, belahan jiwa…
- Aku percaya itu. - Romantis.
Nyalakan pemanggang dalam 15 menit?
Tentu saja, Bos.
Aku tahu itu sebuah paradoks, tapi kalian sudah lama bersama,
aku merasa kalian sia-siakan hubungan itu.
- Dengarkan dia! - Wah!
- Kau sia-siakan aku! - Tidak sama sekali.
Aku tak bilang begitu. Tapi kau pernah dengan orang lain?
- Ya? - Baik…
- Pernah? - Tak serius.
Tidak juga.
Aku punya hubungan serius sebelum Federica.
- Apa? - Lalu aku bertemu dengannya dan…
Jawaban bagus.
- Kupikir, "Dia jodohku." - Sayang…
- Belahan jiwaku. - Sayang.
kau tak percaya?
- Mungkin tidak. - Tidak…
- Tak sedikit pun? - Tidak.
Hubungan kalian baik, aku tak menyangkal itu.
Hanya saja…
Apa kau berpikir…
Kau mau…
Beri tahu mereka?
- Ayolah. - Baiklah, kami akan bercerita.
Pada akhirnya, kau bisa memberitahuku apa kau percaya belahan jiwa.
- Baik, mari dengarkan. - Kau mau?
- Oke. - Sekitar dua tahun lalu,
Sara dan aku baru menikah
dan membeli rumah ini.
Kami adakan makan siang besar di sini…
- Bersama empat teman. - Benar.
Aku mengundang dua teman wanita
dan Luca undang dua teman pria.
Kami di sini.
Maaf berantakan, kami baru dapat kunci dua hari lalu dan…
- Lihat rumahku. Lima tahun aku di sana. - Halo!
- Sepuluh menit lebih awal, luar biasa! - Aku minta datang 30 menit lebih awal.
- Untukmu. - Bagus!
- Dia senang. - Ini.
Teras bagus. Aku kelelahan karena tangga itu.
Bisa beri kami tur?
Ayo lakukan itu nanti saja.
Waktu kita sedikit.
- Ada apa? - Sayang, kumohon.
- Aku tahu, aku berjanji. - Apa?
Teman-teman, beberapa hal tentang teman-teman Sara.
Mereka cantik?
- Jadi kami dulu? - Atau…
Sayang kau terlambat setengah jam.
- Kau bertemu di pernikahan. - Baik.
- Hai! - Hai!
Mari mulai dengan Giulia.
Dia ahli matematika.
Kau beli apa?
Botol anggur. Kau?
Lampu.
Dia bekerja di model keuangan.
- Benar? - Baik.
Dia sudah sering jelaskan padaku.
- Yang berambut panjang. - Tidak! Itu Chiara.
Rambut Giulia pendek, bergelombang.
Kau paham?
Dia bukan gadis yang kau lihat dan berpikir,
"Itu dia, dia pasti punya gelar Statistik dan Keuangan."
Tidak, maksudku…
Dia…
Dia percaya diri. Dia pintar.
Dia mungkin tampak sedikit arogan pada awalnya.
Seolah dia pikir kau bodoh setiap kali dia melihatmu.
- Bagus. - Tapi dia seksi.
Yang satunya?
Itu hal yang…
- Kita butuh. - Ya.
Yang satunya sebaliknya.
- Apa dia bodoh? - Tidak sama sekali.
Kami satu universitas. Dia ahli anestesi.
Itu tak penting.
Dia magnet.
Dia selalu dikelilingi orang.
Dia putus dengan seseorang dan…
- Jadi kenapa dia sebaliknya? - Karena…
Karena dia manis, perhatian, bagai sinar matahari.
Dia seperti gadis biasa.
Tapi dia tahu apa yang dia mau.
Dia juga seksi.
Ini bagus.
Sangat bagus.
Itu bel pintu? Akan aku buka.
- Aku ikut. - Tidak!
- Kau gila? - Astaga…
- Itu sangat… - Sial!
Aku menyuruhmu datang pukul 13.00
Pengarahan setengah jam itu sedikit berlebihan.
Ingat: Chiara, rambut hitam panjang.
Rambut hitam panjang.
Kenapa dia dapat Chiara?
Kau dan Sara bilang,
"Matteo adalah pria penyayang, sensitif, dengan kacamata di saku bajunya"
Itu masuk akal.
"Dia dapat gadis manis."
"Kita berikan yang agresif pada pengacara,
dia bisa menjaga diri."
Tentu saja.
Maaf.
Kau pikir kami siapa?
Kami pengantin baru.
Kau pikir kami habiskan waktu menjodohkan teman-teman kami?
Tidak.
Ini hanya makan siang dengan teman-teman,
dengan empat orang lajang.
- Ini kebetulan. - Tentu.
Baiklah, sejak pernikahan kami,
kami berpikir, "Kita harus buat mereka bertemu."
Dengar…
Apa yang tak boleh kau katakan?
Mestinya bukan aku yang bilang siapa yang cocok untuk siapa.
Tentu saja, kejujuran adalah…
Kejujuran itu dasar pernikahan…
- Tentu saja. - …langgeng.
Jadi, menurutmu Sara
belum beri tahu temannya tentang kami?
Tentu belum.
Tahu dari mana?
Bagus, pernikahan dimulai dengan dua kebohongan.
Mereka datang. Ayolah.
Ini dia. Mereka di sini!
- Hai! - Nona-nona!
- Apa kabar? Hai. - Hai.
Terima kasih.
- Hebat. - Hai.
- Itu… - Jadi…
Dario dan Matteo.
Chiara dan Giulia.
- Hai. - Hai.
- Bir? - Ya, terima kasih.
- Kau sudah? - Ya.
-Giulia? -Terima kasih.
- Maaf, aku tak bermaksud… - Tak apa.
Boleh aku minta juga, Sayang?
Aku bisa bawa.
- Ini, Sayang. - Terima kasih.
Bir mereka sudah?
…aku ingin kualitas hidup yang lebih baik.
Piza datang!
FOUR TO DINNER
Untuk makan malam yang seru ini!
- Semuanya, aku ke arah sana. - Dah!
Aku akan meneleponmu!
- Bagaimana denganku? - Tidak.
Tidak.
Helmnya ada di sana.
- Dah. - Dah.
Ayo pergi.
Ayo pergi!
"Kita baru tiba di rumah dan sudah ada di media sosial,
seperti dua remaja?"
"Kita…" Kami buruk!
Orang pertama jamak.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa ini kue busa?"
YA!
"Menakutkan!"
Aku tampak sedang menggoda,
tapi aku mengakui aku sudah mengunjungi profilnya.
Dia juga mengaku sudah melihat fotoku.
Lihat? Dia profesional.
Jadi…
Aku akan berikan nomorku. Mari kita lihat.
Tidak, aku tak mau nomornya. Dia sudah punya punyaku.
Bola ada di sisinya.
Ini langkahnya.
Bukan aku.
Langkahnya. Bukan aku.
Stella, sudah ulas Panduan Kompleks Menarik Wanita?
Ya. Dan itu laris.
Siapa sangka?
Dengar…
Bukunya bilang harus tunggu berapa lama sebelum telepon gadis yang baru jumpa?
Matteo,
aku sangat tersanjung
kau hargai pendapatku sebagai wanita.
Selalu. Aku selalu menghargainya.
Pria seksi bisa telepon wanita kapan saja, bahkan setelah setengah jam.
- Kalau aku? - Kau…
Tunggu dua bulan.
Kau menyebalkan.
- Sungguh. - Aku tahu.
Sejak kapan pria sepertimu membaca buku-buku ini?
Kau baca horoskop juga?
Omong-omong, minimal tunggu 24 jam.
Tapi jangan telepon.
- Jadi, apa? - Kirim pesan.
Seperti orang lain.
Hanya pecundang yang telepon orang.
Dalam 24 jam?
Itu gila, tak masuk akal.
PUKUL 10.23 MACBOOK PRO MATTEO
PUKUL 18.30
Halo?
Halo?
Hai, ini Matteo.
Teman Luca.
Hai.
Apa kabar?
Hai. Aku baik-baik saja, terima kasih.
Aku ingin tahu apa ini terlalu cepat.
Terlalu cepat untuk apa?
Ini masalahnya. Berapa lama pria harus menunggu
sebelum telepon gadis yang baru jumpa?
Ada buku
yang bilang… Itu bukan referensi utamaku,
tapi tertulis…
Halo?
Rekanku bilang bisa langsung menelepon, tapi aku…
Halo?
- Halo? - Halo?
Maaf, aku masuk ke lift dan koneksi terputus.
Tidak, kukira…
Kukira kau tutup telepon karena lelucon burukku.
Jadi itu bukan…
Itu lelucon yang buruk.
Itu adalah…
Bagaimana ya…
Itu strategiku.
Ya, itu dia.
Jadi menyedihkan?
Kau meremehkan
betapa tipisnya batas antara menyedihkan dan menggemaskan.
Begitu kau membuat seorang gadis mengasihanimu,
lalu bagaimana?
Secara teori, dia setuju diajak makan malam.
Dan masih di teori itu…
Secara teori, kapan itu terjadi?
Besok malam?
Secara teori, di mana?
Aku tahu tempat yang bagus.
Ya…
Sangat damai.
Ya…
Sedikit jauh.
- Bagus. - Baik, dah.
Sampai jumpa besok.
AKU MENANTANGMU
Dia menantangku.
CINTA
Mari kita lihat.
Sedikit tepung.
Sempurna.
Sempurna, 'kan?
Dan sekarang… foto.
Selesai.
Sekarang…
HAL YANG PALING SULIT DI DUNIA
Dan kita kirim ke Giulia.
Beri aku kesempatan.
Ayolah.
Ya, membeli kue busa dari Sweet Desserts itu sulit.
Tidak…
Bodoh!
Tidak.
AKU ORANG BODOH
Bukan aku mau rusak kepercayaan dirimu.
Ini titik terendah. Tapi…
Kau bisa menebusnya dengan menerima undangan makan malam.
Mari kita lihat jawabannya.
"Baik!"
Siapa bosnya? Aku atau kau?
Siapa bosnya, aku atau kau?
Ada pesta pernikahan. Maaf, aku tak bisa. Selamat tinggal.
Selamat malam. Meja untuk dua orang?
- Ya. - Nama di reservasi?
Rossi. Tn. Ross.
Dan Ny. Rossi.
- Kau tak pesan meja, 'kan? - Kukira tak perlu.
Sudah. Ayo pergi.
Bisa rekomendasikan tempat terdekat?
Tak banyak di sini.
Itu hebatnya tempat ini. Terisolasi.
- Bodoh sekali. - Tak apa, ayo.
Selamat datang! Kalian pasti sepupu dari Campobasso!
- Bukan. - Bukan.
Kami bukan tamu, kami hanya mau makan malam…
Kalian rapi. Ini hari jadi kalian?
Kencan pertama. Dan mungkin yang terakhir.
Kencan pertama? Aku tak percaya.
Kami juga kencan pertama di sini.
Kebetulan sekali. Ini takdir! Mungkin akan menikah di sini juga.
Tempat ini beruntung.
Selamat.
- Ayo pergi. - Tunggu!
- Mau ke mana? - Jauh.
Kami cari tempat lain.
Tidak, sudah jauh ke sini.
Tinggal saja. Kalian akan jadi tamu kami.
Aku serius. Kita merayakan cinta.
Aku tak kenal sepupu ini…
Jangan lawan mempelai wanita. Itu, "Tn. Rossi."
Mazel Tov untuk teman-teman kita!
Hadirin sekalian, David dan Rebecca!
Siapa nama anjingmu?
Ayo pergi.
"Ayo pergi"?
Ya. Anggap kau punya anjing bernama Nana.
Dan kau bilang, "Ayo pergi, Nana."
"Ayo pergi" lebih cepat.
Bukan begitu?
Aku bergidik pikirkan nama anak sulungmu.
Kau punya anjing atau kucing?
Ikan? Koala?
Tidak, aku…
Dengar,
boleh tanya sesuatu yang pribadi?
Pernah bosan dengan ini?
"Ini" apa?
Kau kirim pesan, aku balas,
kau beri nomormu, aku tak beri nomorku.
Aku kirim pesan, kau balas.
Kita berdua berusaha keras untuk jadi…
lucu, manis, tak terlalu ikut campur.
Bukankah lebih mudah jika bertemu seseorang dan berkata,
"Aku suka kau, kau tak mirip pembunuh. Ayo bercinta."
Jika kau harus belajar membuat kue busa hanya untuk mendapatkan kencan,
maka sistemnya pasti rusak.
Jika kau mencari seseorang untuk dinikahi, itu berbeda.
Kita bisa habiskan semalaman bicara tentang anjing, kucing,
koala…
Hanya kau dan aku…
Bukankah lebih cepat ke tempatku, bercinta menonton Stranger Things dan tidur?
Tagihannya, tolong.
Jika kau belum tonton, kau bisa tinggal.
Kau di episode berapa?
Musim ketiga, episode satu.
Sudah kutonton.
Itu bagus.
Lagipula ini kencan biasa.
Benarkah?
- Selamat malam. - Sampai nanti.
Dario?
Telepon aku kembali.
Berengsek.
Jadi…
- Dario… - Dan Giulia.
- Chiara. - Dan Matteo.
Pandangan kami agak berbeda.
Dia merasa kau lebih cocok dengan Chiara, ahli anestesi, berambut panjang.
Kau lebih cocok dengan Giulia, ahli matematika keren.
Katanya yang berlawanan cocok, tapi…
Burung terbang bersama.
Benar. Gabungkan meja.
Ini dia.
Untuk makan malam yang luar biasa ini!
Semuanya, aku ke arah sana.
- Dah! - Dah!
Omong-omong, setidaknya 24 jam. Tapi jangan telepon dia.
- Jadi, apa? - Kirim pesan.
Seperti orang lain. Hanya pecundang yang telepon orang.
Sungguh, 24 jam?
Itu gila, tak masuk akal.
PUKUL 10.23
- Ini gila. - Lalu?
Berapa lama?
PUKUL 17.53
Tiga puluh tujuh menit.
Kau sungguh menghitung mundur?
Matteo, jika kau telepon, lakukan saja.
Tidak, dengar…
Aku bisa bertahan.
Aku akan ke bawah untuk minum kopi.
Kopi.
- Dah. Kopi. - Dah.
Dah, Semua. Sampai jumpa besok.
Giulia?
- Matteo! - Hei!
Aku tak menduga melihatmu di sini.
Kau pikir aku tak bisa membaca?
Tidak, hanya saja… Aku bekerja di sini.
Kantor konsultan ada di atas,
aku turun mau beli kopi.
kau sedang apa?
Janji tak akan besar kepala?
Akan kuusahakan.
Mustahil! Kau menuruti saranku!
Tentu saja aku akan besar kepala.
Kau bahas ini selama satu jam.
- Kau membuatku tertarik. - Bagus.
Dan sekarang… Aku mencari yang lebih ringan.
Secara harfiah.
Buku resep?
Bukan.
Jika kau rekomendasikan sesuatu…
Mari melihat-lihat, kita dapat apa.
- Kenapa tidak? - Ayo.
Lewat sini.
Aku merasa bersalah.
Kenapa?
Aku membuatmu belanja banyak.
Kau bekerja berdasarkan komisi?
Andai saja. Tidak.
Bagaimana kalau aku bayar setengahnya?
- Jangan konyol. - Tidak, sungguh…
Aku merasa harus. Kau beli berapa?
Dua, empat, enam, delapan…
Aku akan bayar tiga. Itu 25 persen.
Baiklah, 25 persen.
Atau traktir aku makan malam.
Ya.
- Lihat ke mana arahmu! - Astaga, maaf!
Maafkan aku!
Dia muncul tiba-tiba.
Aku mundur dari tempat parkirku dan…
Tak apa-apa. yang penting
pria itu tak terluka.
Tidak.
Namun skuternya penyok, begitu juga mobilku.
Aku tak pernah pakai mobil itu.
Ini bukan bidangku, tapi…
ini disebut kesopanan.
Itu mungkin akan diajukan sebagai kelalaian.
Aku akan minta laporan dari pihak asuransi.
Terima kasih.
Maaf kau harus begadang.
Entah harus menelepon siapa lagi.
Giulia punya nomormu, jadi…
Jangan khawatir.
Ini benar…
Ini sudah larut, tapi…
Kau mau makan di suatu tempat?
Ya.
Aku ambil mantelku.
Ya.
- Tunggu sebentar. - Oke.
Itu apartemen yang bagus di area yang tenang,
tapi para tetangganya…
Mereka kenapa?
Pada malam pertamaku di sana, aku tidur dan coba tebak?
Aku dengar lagu Beethoven.
Tiba-tiba.
Baiklah, Beethoven.
Dan malam berikutnya, lagi,
Beethoven lagi. Secara acak.
Jadi, aku memutuskan untuk ke atas dan membunyikan bel pintu mereka.
Aku lakukan itu.
- Tebak siapa yang buka?. - Siapa?
Pasangan berusia delapan puluhan, sudah menikah selama 70 tahun.
Tunggu, mereka menikah usia…
Ya, lupakan.
Mereka lebih bergembira daripada aku.
Baik, tapi,
bagus untuk mereka, masih mesra di usia 80-an.
Aku sangat senang untuk mereka,
tapi aku kembali ke apartemenku, sendirian,
dan aku sedih.
Aku mulai memikirkan dua orang tua ini…
Saat di rumah dengan kucingku saja.
Aku jadi stres.
- Kau punya kucing? - Ya.
- Siapa namanya? - Renato.
- Nama yang bagus. - Renato, ya.
- Selamat malam. - Hai.
Kau tampak menawan.
Aku baca Twenty Years After.
Dan? Ayo, beri tahu aku.
Kenapa ekspresimu begitu? Kau tak menyukainya?
Maksimal kubaca 50 halaman satu buku. Jika tak suka, aku lompat ke akhir.
Kau sudah baca 50 halaman. Sejak kemarin?
Ya. Kau pembaca lambat?
Ya, itu jelas. Tapi…
Aku pandai memilih restoran.
Aku akan membawamu ke tempat yang bagus.
Itu agak jauh dan kau bisa melihat bintang-bintang.
Kau reservasi untuk jam berapa?
Aku tak lakukan reservasi.
Selalu kosong, kenapa mesti repot?
- Seberapa jauh? - Sekitar satu jam.
Kurang lebih.
Mungkin hubungi mereka. Bagaimana jika tutup?
Kenapa begitu?
Mereka selalu buka.
Kita mau jadi orang itu? Baik, mari…
Kau kira aku tak bisa?
Tidak, tapi…
Apa aku seperti… Aku bisa telepon dahulu.
Aku akan telepon.
- Hanya bersulang. Aku belum makan. - Halo?
Malam, bisa pesan meja untuk dua orang?
Ada pesta pernikahan.
Maaf, tapi kami sudah penuh.
Selamat tinggal.
Apa mereka tutup?
Tidak, ada pesta pernikahan.
Baiklah, kau peramal. Mereka buka, tapi penting untuk…
Aku tahu tempat indah di sini.
Kau sudah pesan meja?
Kau tahu…
- Parkir mobilnya. - Baik.
Yakin tak mau kuantar?
Tidak, bus membawaku ke depan pintuku.
Terima kasih atas bantuanmu
dan untuk makan malamnya.
Terima kasih sudah menemani.
Terima kasih.
Kenapa kau tertawa?
Aku belum pernah menghindari ciuman seperti itu sejak…
Baik, tapi…
Itu tak lucu.
- Maafkan aku. - Semua ini…
Bukan karena kau.
Maaf.
Aku tak mengencani pria sepertimu lagi.
Siapa "orang sepertiku"?
- Sedang apa kau? - Aku turun di halte berikutnya.
Bisa tolong jelaskan?
Jangan tersinggung.
Kau pria yang suka bercinta satu malam saja.
- Siapa yang bilang? - Tak ada.
Kau tahu, kau punya pesona itu.
Itu pujian.
Beruntungnya aku.
Luar biasa.
Baiklah, mereka cukup bagus, tapi kau tak serius memilih
merek swalayan daripada versi aslinya.
Ada penelitian yang menilik berbagai parameter.
Bahan, kemasan, kinerja pencelupan…
Apa itu parameter resmi?
Ya, kinerja pencelupan.
Kukis merek swalayan adalah yang terbaik.
Kau tak bosan dengan ini?
Kau kirim pesan, kita makan malam, kau datang ke tempatku,
kita bercinta, lalu apa?
- Lalu apa? - Kita masih sendiri.
Tidak. Aku ingin semuanya.
Aku mau berpelukan di sofa. Aku ingin semuanya.
Aku mengerti. Dan kau benar sekali.
Aku tak mencari sesuatu yang serius. Aku tak mau duduk di sofa siapa pun.
Kau lihat?
Baik, tapi kapan tepatnya kau tahu ini?
Aku tahu malam itu, di rumah Luca dan Sara. Jangan tersinggung.
Kau pesan daging. Aku makan ikan.
Aku akan memilih anggur merah, tapi kita minum anggur putih.
Selera musik kita sangat berbeda.
Juga dalam kukis.
Dari pengalamanku sendiri, malam ini kau tampak seperti wanita yang…
Yang apa?
Yang…
- Ya? - Yang mau itu.
Apa maksudmu? Hanya karena aku santai?
Mungkin karena aku sudah coret kau sebagai pilihan, jadi…
- Kucing atau anjing? - Kucing, jelas.
- Pantai, gunung? - Pertanyaan bagus! Pantai.
Tunggu.
- Anjing. - Ya.
- Dan gunung. - Kau tak serius.
Membosankan, aku ingin sayat tanganku!
Pantai itu membosankan.
Mungkin kau tak membaca buku yang tepat.
Itu sebabnya.
Aku tak keberatan kau sudah memutuskan tak menyukaiku.
Aku bisa menerimanya.
Tapi jika kau bilang ini membuatmu
lebih santai…
Bagiku itu tak tertahankan.
- Begitulah kau. - Seperti apa?
- Apa? - "Tak tertahankan."
Apa kau akan bilang ayahku pencuri
karena dia curi dua bintang untuk mataku?
Kutelepon jika ada kabar dari asuransi.
Kita bisa tetap berteman.
Tidak.
Aku tak bisa berteman dengan gadis sepertimu.
"Gadis sepertiku?"?
Perhatikan, ini penting.
Kau memasang tisu toilet dengan tisu tergantung di atas
atau di bawah?
Aku tak pakai tisu toilet.
Apa?
Aku mau tetap kerja di Italia, tapi di luar negeri kau bisa dapat 50.000 euro
untuk kontrak tiga bulan.
Tentu.
Bukan hanya soal uangnya.
Tidak, tentu saja.
Masyarakat tak menghargai peranmu.
Tepat sekali. Kau paham.
Terima kasih.
Luar biasa, kita sepakat dalam segala hal.
Ya, kini hampir membosankan.
Syukurlah sudah sampai rumah.
Jika kau ingin mengakhiri kegagalan malam ini…
Maka, selamat malam.
Itu hanya lelucon.
Maksudku…
Kenapa pergi sekarang, saat kita menemukan kesamaan?
DUA BULAN KEMUDIAN
- Ada apa? - Tak ada.
Dengar…
Aku tahu ada sesuatu!
Tidak, hanya…
Jadi, Stella…
- Ya? - Dia menggarap buku ini,
Rahasia Antar Pasangan.
Dan kau sudah membacanya.
Aku membaca semuanya. Bahkan…
Semuanya.
Ini bukan… Omong-omong.
Tampaknya, untuk memastikan hubungan kita kuat,
hitung berapa barang dia tinggalkan di tempatmu.
- Jadi? - Dua puluh barang…
Dia kini jadi pacar.
Sekarang…
- Sekarang… - Ya.
Bagiku menyinggung bahwa menurut buku ini,
wanita harus tandai wilayahnya bagai anjing.
Untuk apa? Hanya untuk mendapatkan label "pacar"?
- Tidak. - Ya.
Omong-omong, aku takkan sampai 20.
- Tidak? - Tak akan.
Mari lihat.
- Kau pikir begitu? - Ayo.
Ayo periksa.
- Ayo. - Oke, jadi…
Satu.
Piama, dua.
- Dua. - Lihat!
- Kau juga makan itu! - Itu masih dihitung.
Aku hanya membelinya karena kau, jadi dihitung.
Itu dihitung.
Lepaskan itu.
Empat.
Bukan salahku kau tak punya sandal untuk tamu!
Empat.
Lihat ini.
Dua pasang celana dalam, dua kaus kaki, dua kaus. Lihat ini!
Sampo untuk rambut bergelombang. Itu 13. Angela's Ashes milikmu.
- Milik siapa ini? - Ayolah…
- Alat cukur. - Itu cukup adil.
Dan ini? Sudah 18.
Milikmu. Matematika tak berbohong…
Ada apa ini? Tas riasan.
Yang berisi alas bedak, maskara, lipstik…
Itu dihitung satu barang!
Baiklah, kau ingin menang dengan cara apa pun, jadi kau curang.
Baik, ini satu barang. Sudah 19.
Sembilan belas!
Baik!
Kau bisa meyakinkan penulis buku itu
bahwa aku belum menandai wilayahku dan aku belum resmi menjadi pacarmu.
Sayang sekali.
Milikmu.
Akan kubuang.
- Tidak, kenapa? - Ini sudah rusak.
- Ini sangat lembut. - Berikan padaku.
Tidak!
Baunya seperti kau.
- Kau menyukainya? - Ya.
Sungguh?
Kau sungguh mau itu?
Itu milikmu.
Terima kasih.
Ya!
Siapa yang akan katakan?
Dua puluh.
Ya!
- Roberta? - Roberta.
- Siapa Roberta? - Tidak.
Gadis dari pusat kebugaran itu.
Aku tak mau bertemu siapa pun malam ini.
Dan burung kerajaan…
Burung kerajaan…
Aku akan meneleponnya kembali.
Kau senang?
- Dia akan marah jika tidak. - Siapa peduli?
Ayo!
KAU SUDAH BANGUN?
YA!
Hei.
Aku harus pergi sekarang.
Tenang, aku juga harus mampir ke rumah.
Aku terlambat.
Aku membeli kukis.
Swalayan membuatnya.
Lebih baik daripada yang bermerek.
Menurutku juga begitu.
Ini soal…
Mencelupkan.
Ya.
Bagaimana wawancara untuk pekerjaan di Lisboa itu?
Entahlah.
Mereka ingin analis keuangan dan itu bukan bidangku. Tapi…
Kau mau ke pengacara yang kau benci, 'kan?
Marrale?
Coba tebak?
Dia menunda kesepakatan dua bulan. Sudah kuduga dia akan buat masalah.
Siapa itu?
Giorgio, seorang kolegaku.
Baiklah.
Baik…
- Semoga harimu baik. - Kau juga.
- Dah. - Dah.
- Maaf, aku tak bisa datang. - Sudah kuduga.
Aku tak dengar alarmnya.
Apa kau keluar lagi semalam?
Aku terjaga sampai pukul 2.00 menonton acara TV.
Selain itu,
kolegaku, Giorgio, kirim pesan…
Maksudku,
dia tanya hal yang bisa dia tanya lewat surel.
- Dia bernapas? - Dengan begitu, dia bisa kirim pesan.
Bagus.
Tahu siapa yang coba dekati aku? Dario.
- Siapa? - Dario.
Teman Luca. Kau memberiku nomornya.
Tidak mungkin.
- Pengacara dengan bokong indah. - Dia.
Dia mencoba menciumku, dan aku menolak!
Bagus. Kau balaskan dendam dari 99 persen wanita yang ditidurinya.
Sebaiknya aku balas pesan Giorgio. Dia terus kirim.
Dia mau apa?
Dia bertanya tentang laporan.
Aku ingat tulis itu hari Sabtu sore
dan aku di rumah dengan botol air panas karena aku haid.
Kirim kata-kata ini kepadanya dan dia akan berhenti mengirim pesan.
- Baik. Dah. - Dah, Sayang.
Dah.
Baiklah. "Giorgio
laporan itu sudah kuselesaikan
sebulan yang lalu."
Tidak. "Dua bulan lalu."
Tidak.
Tidak, sial.
Matteo?
Giulia? Apa itu kau?
Dengar aku meludah?
Aku gosok gigi, mau makan siang dengan Dario. Maaf.
Tidak, aku tak dengar.
Bodoh sekali, aku tak perlu memberitahumu. Bagus.
Maaf, aku sedang terburu-buru.
Kau tak perlu minta maaf.
- Mau kutelepon lain kali? - Tidak, tenang.
Ada apa?
Bisa bertemu nanti untuk minum kopi?
Aku mau bicara denganmu.
Ada apa, kau hamil?
Giulia? Kau hamil?
Aku tak mau mengatakannya di telepon.
Tapi kini tak bisa bilang tidak dan kabari nanti,
itu bodoh.
Aku bodoh sekali. Maaf.
Berhenti minta maaf.
Aku akan segera datang.
Oke. Aku tak punya makanan.
- Tak masalah… - Tapi aku kelaparan.
Mau kubelikan piza?
- Terima kasih. - Baik. Aku segera ke sana.
Sial. Seorang anak.
Sial.
Halo?
- Hai. - Aku di sini.
Tempat ini punya piza salami yang enak.
Tapi aku tidak…
- Kau tahu, kau… - Hamil?
Aku beli piza sayur dengan kentang
dan keju ekstra, juga Margherita.
Aku bisa makan yang salami, tapi tak mau…
Aku tak tahu kau suka apa, jadi aku beli dua ini.
Kuharap aku tak terlalu mengacaukannya.
Mari kita kesampingkan pizanya.
- Duduklah. - Kita bisa masak sesuatu…
Baiklah, ayo.
- Mulai dengan pertanyaan memalukan. - Ya.
Kita berdiri.
Aku tak tahu bagaimana… Aku tak tahu.
Aku tak mau ini terdengar…
Aku tak mau ini terdengar salah.
Ini jelas bayimu. Aku hanya tidur denganmu.
Tidak, aku tak memikirkan itu.
Lalu pertanyaan macam apa yang bisa keluar dengan cara yang salah?
Kau mau pertahankan?
Ya.
- Baiklah. - Maaf jika itu…
- Jika kau… - Tidak.
Aku ingin punya anak, tapi bukan berarti kau juga.
Aku tak apa. Aku juga mau.
Jika kau ingin aku begitu, maka aku mau. Mau aku begitu?
Ya, aku akan senang jika kau ada.
Apa kita akan menikah?
Kau dan aku?
Ya, siapa lagi?
Aku akan menikahimu jika kau mau. Kau mau menikah?
Perlahan. Itu sedikit…
Perlahan.
Maksudku, apa pun yang kau butuh, aku ada.
- Apa saja. - Baiklah.
Apa saja.
Baik, mungkin tak ada foto manis norak
dengan tangan membentuk hati.
Aku tak pernah tahu caranya, bukannya…
Maksudku, jika mau, maka kita lakukan saja.
Aku mau tanya, saat kau bilang, "ada"…
Ya.
Beri angka satu sampai sepuluh.
Satu dan sepuluh?
Ya, satu "kita jalani hidup sendiri tapi anak itu tahu ayahnya."
Dan sepuluh,
"menikah selama lima tahun, kita menamainya dengan nama kakekku."
Skala satu dan sepuluh sebagai referensi.
- Tujuh? - Tujuh.
- Tujuh itu bagus. - Apa itu?
- Tidak, itu bagus. - Oke.
Aku tak yakin apa itu, tapi bagus.
Kurasa aku butuh sepotong piza.
- Pizza, ya. - Ya.
Yang mana?
Keju dan kentang.
Boleh aku meregangkan kakiku?
Astaga…
Ini dia.
Hebat.
- Tujuh. - Tujuh.
Tujuh.
Kita harus cari tahu…
Kita bisa gunakan tempatku.
Bisakah kita andalkan orang tuamu, jika…
- Dan orang tuamu. - Dan orang tuaku, tapi…
- Tidak orang tuaku. - Tidak?
Coba sesuatu yang aneh. Letakkan tangan di perutku.
Tidak, aku bercanda. Tidak.
Ya Tuhan.
- Aku benci ini. - Ayo!
- Dan… - Kau pasti cantik.
- Aku akan menggelembung. - Tidak.
Mustahil.
Kau siap?
Siap.
Kurasa mereka akan baik-baik saja.
Mereka baru bertemu.
Ya, tapi mereka sangat manis bersama. Mereka satu tim.
Apa…
Kenapa tertawa?
Kau bisa menebak dia akan hamil di kencan pertama mereka?
- Dari perilaku mereka… - Sayang…
Dia hamil di kencan pertama.
Gila, 'kan? Mereka pasti panik.
Tentu saja, aku juga.
Bukan berarti itu akan gagal.
Tentu tidak. Kita semua doakan yang terbaik…
Berdoa saja.
- Dah. - Dah.
- Selamat malam. - Malam.
- Dah. - Selamat malam!
Kuharap mereka berhasil.
- Coba tebak? - Apa?
Menurut buku yang kubaca,
untuk memastikan apa hubunganmu serius,
kau harus hitung jumlah barang yang ditinggal pacarmu di rumahmu.
Jika lebih dari 20,
maka kalian resmi berpacaran.
Wah, bacaan yang mendalam.
Kurasa kau pernah ke rumah Matteo.
Menurutmu berapa banyak barang Giulia di sana?
Aku ragu Giulia pernah ke rumahnya.
Tepat! Bagaimana kau bisa besarkan anak atas dasar ini?
Kenapa itu penting?
Lalu pasangan yang cerai?
Itu kisah yang berbeda. Dua orang saling mencintai,
menikah, punya anak, lalu putus cinta. Itu terjadi.
Tapi gila punya anak seperti ini.
Kita bahkan bukan pasangan.
Mereka bisa besarkan anak tanpa harus bersama.
Sebagai dua orang yang berteman.
Apa?
Bukankah kau yang bilang
persahabatan antara pria dan wanita itu mustahil?
Tidak.
Aku bilang aku tak bisa menjadi temanmu,
secara spesifik.
Bagaimanapun, akui saja, kita akan jadi paman dan bibi yang hebat.
Mereka berdua butuh bantuan.
Aku akan membuat pengecualian.
Kau memintaku berteman?
Aku sangat tersentuh. Senang sekali.
Tentu saja, ya.
Terima kasih, Pak.
Ini menyenangkan.
- Aku akan segera ke sana. - Kita belum…
Kita belum diperkenalkan.
Aku Claudia.
KAU DI RUMAH?
AKU TAK SENDIRI
BERI AKU LIMA MENIT
Selamat pagi, sayangku…
Dario…
Siapa dia?
Bagaimana kau bisa melakukan ini?
Kenapa tega lakukan ini pada Renato dan aku?
Teganya kau?
Ayahku masih membiayai pernikahannya.
Empat ratus orang.
Empat ratus. Aku…
Kau payah!
- Gila! - Aku benci kau!
Dia sudah pergi!
- Apa dia? - Kau…
Kau gila!
Benar-benar gila!
Sangat gila.
Kau senang?
Ya, sangat. Tak akan kulakukan itu di kehidupan nyata.
Kau hebat.
Untuk sesaat, aku percaya kau cemburu.
Benarkah?
Jika suka seseorang, beri tahu aku.
Bagaimana jika kau menikah?
Aku tak mau terus jadi mantan istri yang dikhianati.
Itu tak akan terjadi.
Selain drama palsu,
kenapa kau di rumahku pada hari Minggu
pukul 09.00?
IKEA.
IKEA, baik.
Karena aku
temanmu.
- Banyak fasilitasnya. - Ya.
Aku bangun berpikir, "Aku mau ke Ikea."
Siapa yang menjaga anjing manismu selama ini,
saat kau pergi
menjadi pengacara hebat di seluruh dunia?
Aku ke Liguria selama dua hari, satu bulan lalu.
Dan kasusku kalah.
Apa maksudnya?
Kuncimu.
Simpan saja.
Baiklah.
Siapa pun penemu Diaper Genie
adalah orang genius.
Lima puluh euro.
Untuk ember plastik.
Bisa segel bau busuk, tapi itu ember plastik!
Lima puluh euro adalah perampokan! Perampokan sialan.
Menurutmu bagaimana Andrea?
Siapa Andrea?
Andrea, maksudmu…
Tidak, jangan Andrea.
Ada banyak Andrea di dunia. Kita butuh sesuatu yang lebih…
Lebih orisinal.
Seperti Vega.
- Vega. - Itu nama yang keren.
Seperti bintang?
Kau tahu ada bintang bernama Vega.
Jenius sekali.
Omong-omong, tidak. Bukan bintangnya.
Tapi karakter dari Street Fighter.
Kau tahu, dengan topeng dan cakar…
Sangat keren.
Tentu, aku mengerti.
Bruce Wayne karakter komik favoritku,
tapi aku tak akan namai anakku Batman.
Kau tahu apa yang keren?
Jadi…
- Satu kita namai Bruce. - Ya.
- Seperti Bruce Willis. - Oke.
Sempurna.
Dan yang satu lagi, Wayne.
Seperti Wayne Rooney.
- Jangan tertawa! Kenal dia? - Tidak, siapa?
- Halo. Bisa kubantu? - Tidak, terima kasih.
Ini konyol.
Kami baru bertemu dan melihat barang bayi baru lahir.
"Orang-orang pergi ke arah yang diinginkan, dan mereka akhirnya…"
- Melihat kereta bayi dan baju terusan. - Itu terjadi.
Dua orang harus bersama sementara, lalu menikah…
Ya, kau tahu.
Ada apa?
Aku hanya berpikir,
jika kau ingin menunggu sebelum anak kedua…
Tidak, berhenti di situ.
Biar kuhentikan. Tak ada yang mengejar kita.
Tak ada.
- Selamat! - Ya!
Sudah tentukan tanggalnya?
Itu…
Antara kami menikah tiga bulan lagi atau…
Dalam 15 bulan.
Maka tiga bulan lagi!
- Kami akan menikah! - Ya.
- Kau gila? Bagaimana… - Kenapa bilang begitu?
- Apa? - Ini bagus.
Ini hebat. Katakan.
- Pernikahan itu luar biasa. - Ya, benar.
Pesta kecil saja.
Lupakan itu.
Selalu dimulai seperti itu,
lalu kau dapat 400 tamu.
Ya, Sayang.
Dario?
Itu namamu, 'kan?
- Ya. - Kau punya korek?
- Hai! - Claudia. Aku kerja dengan Marrale.
- Ya. - Untuk jam delapan?
Tentu, aku ingat.
- Hai. - Tentu.
Tinggal dekat sini?
Tidak, aku makan malam dengan teman-teman.
Aku tinggal di dekat sini.
- Selamat malam. - Sama-sama.
Bukan hanya dia yang mengobrol denganku beberapa bulan ini.
Kau ingin aku memberi selamat
atas kesuksesanmu dengan wanita?
Tidak.
Sebaliknya.
Aku belum…
tidur dengan siapa pun.
Aku belum kencan…
Belum berkencan dengan siapa pun.
Itu dia.
Hanya…
Hanya kau.
Bagaimana denganmu?
Aku?
Tidak, aku juga.
Halo?
- Hai. - Hai, Julia.
Aku kirim surel dengan saldonya.
Baik, terima kasih.
- Bicara lagi nanti. Terima kasih. - Dah.
"…kau terpilih untuk posisi di Fexadur Finança
di Lisboa, Portugal."
Hai, Chiara.
Aku diterima.
Pekerjaan yang mana?
- Di Lisboa! - Sungguh? Aku turut senang!
- Aku baru dapat surelnya. - Kita harus merayakannya!
Tentu. Akan kuatur. Kau orang pertama yang kutelepon.
- Bagus sekali! - Apa yang terjadi?
Dua bulan lalu aku wawancara kerja untuk tempat Lisboa.
- Kau tahu struktur mikro pasar? - Jelas.
Perdagangan frekuensi tinggi?
Tapi, itu tak mungkin.
Kenapa?
Kapan kau mulai?
- Di bulan Juni. - Berapa lama?
Enam bulan. Tapi, aku tak akan terima.
Mari kita pikirkan. Bayinya baru lahir Februari.
Kita bertiga bisa pergi bulan Juni.
Tidak?
Kau akan mengambil cuti hamil.
Kita harus menyiapkan musim semi.
- Kau serius? - Tentu.
Lalu pekerjaanmu?
Seharusnya tak masalah. Ada surel, panggilan video…
Tenanglah.
Maksudku, itu jika kau mau. Jika bukan karena…
- LeBrown. - Jangan diucapkan begitu.
- Itu "LeBron". - Bron.
LeBron.
- Sungguh? - Ya.
Mau pergi bersama?
Benarkah?
- Kita akan pergi! - Bukan gurauan,
aku paham kau ingin ikut ibu dari anakmu.
- Tapi ini masalahnya. - Apa?
- Maaf aku merusak rencanamu. - Apa?
Aldo akan segera pensiun
dan salah satu konsultan akan dipromosikan.
Kau punya keahlian yang tepat untuk pekerjaan itu.
- Terima kasih. - Kau tahu artinya.
Kau akan kerja sama dengan penulis dan buat keputusan akhir
dalam penerbitan.
- Namun… - Ya…
Aku tahu. Bukan pekerjaan jarak jauh.
Tepat sekali.
Stella! Dia akan cocok untuk posisi itu.
Ya, dia sangat andal.
Siapa itu Stella?
Apa maksudmu?
Rekanku, kau sudah bertemu dia.
Aku tak ingat.
Tapi bos ingin memberimu pekerjaan itu, 'kan?
Ya, tapi itu tak penting. Yang penting aku bisa pergi dengan Giulia,
tetap kerja. Bisa kulakukan keduanya.
Aku bahkan tak tahu soal promosi ini sampai kemarin.
Menolak promosi seperti ini adalah hal gila.
Tidak. Stella pantas dapat itu.
Nama yang bodoh, Stella.
Apa kataku?
Tidak.
Kau namai bayinya Stella?
Benarkah?
Menyebalkan!
Baiklah…
- Jadi begitu. - Apa?
- Kau menyukainya. - Tidak.
- Benar. - Tak mungkin!
- Katakanlah. - Apa maksudmu?
Aku menyukainya.
- Apa? - Aku suka.
- Apa maksudmu? - Tidak, tunggu.
Maksudku, jika keadaannya berbeda.
Mau kuingatkan…
Kau punya…
- Kau gugup? - Kau tidak?
Tidak. Semua orang tanyakan itu.
Tadi aku tak gugup.
Kau…
Kau tampak menakjubkan.
Kau gugup?
Hai.
Tunggu!
Bukankah kau pergi ke pernikahan tahun lalu?
Pernikahan Matteo.
Prasmanannya…
- Buruk? - Bukan.
- Kebalikannya, bagai perjamuan raja. - Jadi itu nyata?
Tentu, untuk apa aku mengarang itu?
Tak mungkin semuanya nyata.
Siapa yang dinikahi Matteo?
Tak penting.
Aku ingin tahu bagaimana akhirnya!
Baiklah. Pekerjaan baru Giulia di Lisboa dimulai bulan Juni.
Kita tak akan bertemu untuk sementara. Bisa kau tak terlihat kesal?
Apa aku terlihat kesal? Tidak.
Kenapa kau seperti ini?
Aku hanya peduli.
Tidak, kau bersikap dingin dan terpisah.
Jangan bilang aku tak mendukungmu…
Bahwa aku tak mau kau pergi.
Aku tak berpikir begitu.
Kau salah.
Aku tak ingin kau pergi.
Aku tahu, seharusnya kau tak datang. Kau akhirnya menjadi emosional…
Emosional bagaimana?
Aku berharap kau berubah pikiran.
Kenapa kau diam saja?
Aku tak tahu cara mengatakannya.
Itu bisa ubah pikiranmu?
- Ini hanya enam bulan. - Aku mengerti.
Kumohon…
jangan habiskan waktu itu dengan berdebat tanpa alasan.
Aku lupa tiketku!
Bercanda.
Penumpang yang terbang ke Lisboa, silakan ke Gerbang 12.
Jangan anak kecil!
Tolong jangan duduk di dekatku.
Penumpang yang terbang ke Lisboa…
Jika dia begini, kita tak akan sampai Lisboa.
Penumpang lain akan mengamuk.
Berikan padaku. Coba apa bisa kutenangkan.
- Perlahan. - Tunggu.
- Ini dia. - Datang ke Ayah.
- Ini dia - Datang ke Ayah.
Halo, Nak.
Ini dia.
Hei.
Anak yang manis.
Hei. Tak perlu menangis.
Terbang memang membosankan, tapi percuma menangis.
Kita akan pergi ke tempat yang menakjubkan, di mana ada
ikan paus.
Dan lautan.
Kita akan melihat semua hal indah ini
dan kau tak akan ingat, karena kau sangat kecil.
Bayangkan itu.
Tapi sisi baiknya,
kau tak akan ingat betapa buruk penerbangannya.
Lihat, tak ada gunanya menangis.
Namun, kami mencintaimu bahkan saat kau tampak kerasukan.
Aku mencintaimu.
Kau dengar itu? Ibu mencintaimu.
Monster kecil, kau dengar itu?
Aku bicara padamu.
Jadi, berhenti menangis untuk Ayah!
Anak pintar.
Kau sangat manis.
Bisa dipercepat sedikit?
- Cepat melangkah, Dario. - Dia membuatku stres.
Jangan begini. Kau tahu aku peduli.
Aku ingin lakukan ini sejak awal. Ini waktu terbaik lihat paus bungkuk.
Dan ini tempat terbaik di dunia!
Selamat pagi.
Tunjukkan antusiasme. Kau juga, Sayang.
Sedikit antusiasme.
Abaikan dia, dia hanya sok tenang.
Lima tiket.
- Lima? - Ya.
- Berapa usia bayinya? - Lima bulan.
Ya.
Anak di bawah tiga tahun tak boleh naik kapal, maaf.
Tak boleh?
Pergilah, Sayang.
Kami juga harus tinggal?
- Ayo tinggal bersama. - Jangan coba-coba.
Seseorang harus lihat paus Bungkuk.
Bukan aku atau Andrea, tapi harus ada yang lihat.
Dia ke mana?
Ayolah.
Jangan melihat Ayah seperti itu.
- Sampai nanti. - Sampai nanti!
TELUK LUMBA-LUMBA
Bahasa Portugis untuk paus bungkuk adalah…
Dan nama ilmiahnya…
Kurasa itu Megaptera,
dari méga pterión.
"Sayap besar."
- Kau belajar bahasa Yunani. Aku juga. - Ya. Bagus.
Lihat!
Kau lihat sayapnya?
Lihat?
- Lihat? - Apa yang dia tertawakan?
Lihat betapa hebatnya!
Lihat?
Kenapa dia lari?
Mulutku terbuka.
Kau lihat betapa dekatnya mereka? Luar biasa.
Cantik.
Dario, aku harus memberitahumu sesuatu.
Yang terjadi hari ini hanya sesaat.
Aku tak menolakmu lagi.
Tidak, hanya saja…
Aku terlalu peduli akan persahabatan kita. Itu klise, tapi…
Aku hanya mau buang air kecil.
Maaf…
Omong-omong, aku setuju.
Itu melegakan.
Jangan khawatir.
Bagus.
Selamat malam.
Aku suka lagu ini.
Bersulang.
Bersulang.
Kau bersenang-senang?
Ya.
Kita di sini untukmu.
Kau ingin bertemu teman-temanku.
Aku hanya lelah setelah penerbangan.
Pergilah.
Dario, bisa bawakan barangku?
Terima kasih.
Apa kau bersenang-senang?
Ya. Kami sudah jalan-jalan, melakukan wisata biasa.
Kami berdebat sejak dia tiba.
Karena kalian sudah lama tak bertemu.
Berapa lama kau tinggal?
Hanya beberapa hari.
Kau sudah mau pergi?
Aku mau datang lebih cepat, tapi…
Aku sibuk bekerja.
Bahkan saat akhir pekan.
Ya. Hubungan jarak jauh itu yang terburuk.
Pacarku, dia di New York.
Jadi, aku tahu rasanya. Ya.
Aku benci itu.
Kurangnya keintiman.
Perasaan tak ada sesuatu untuk dibahas.
- Kecemburuan. - Ya.
Hal baiknya, ini akan segera berakhir.
- Ya. - Ya.
Sudah beri tahu dia?
Belum.
- Belum. - Apa?
- Aku ingin bersulang. - Ya.
Bersulang.
Untuk Lisboa.
Untuk Lisboa.
Bersulang.
Sayang Ibu.
Hai.
Ini dia.
- Kau bersenang-senang? - Sangat.
- Masih memikirkan tawaran pekerjaan? - Tidak.
Jangan merasa bersalah jika kau mau tinggal enam bulan lagi.
Lagi pula, ini proyekmu.
Aku tak merasa bersalah.
Apa maksudmu?
Hei, Semua.
Aku hanya mau bilang
bahwa aku sangat senang kalian semua di sini malam ini.
Terima kasih.
Pada akhirnya,
pesta adalah cara terbaik untuk sampaikan perpisahan.
- Matteo, Andrea, dan aku… - Sungguh?
…akan kembali ke Italia.
Aku mencintaimu.
- Aku bahagia untukmu. - Ya.
Apa itu?
Itu panggilan paus bungkuk saat musim kawin.
Dia mengirimiku enam pesan suara. Dia sakit.
Ya.
Bayangkan reaksinya
saat kubilang aku tak menemui mereka.
Aku sangat merindukannya dan Chiara.
Ya, itu…
Ini hanya beberapa bulan lagi.
Omong-omong soal itu,
kepala departemen tanya
apa aku bisa tinggal sampai musim panas.
Agar aku bisa menyelesaikan proyek.
- Kau beri tahu aku sekarang? - Mestinya kapan?
- Di lain waktu. - Kita terus berdebat.
- Lalu kenapa? - Aku tak mau terus berdebat.
Ini alasannya.
- Sudah putuskan? - Belum. Maka itu aku tanya padamu.
Kau tanya setengah jam sebelum aku kembali. Astaga!
Lakukan apa pun yang kau mau.
Parkir, aku daftar masuk.
Sampai jumpa di dalam.
Halo?
Kau di mana?
Di pemeriksaan keamanan.
Kau menyuruhku ke meja pendaftaran.
Aku mengantre karena ini ramai.
Kita bahkan tak berpamitan?
Tentu saja.
Selamat tinggal.
Itu dia!
Maaf terlambat.
- Siapa peduli, kami sudah mulai. - Kau lakukan dengan baik.
Alberto sedang bertugas di rumah sakit, dia harus pulang lebih awal.
Alberto.
- Senang jumpa denganmu. - Hai, Dario.
Chiara ingin perkenalkan pacarnya kepada kami.
Jadi…
Boleh minta spritz?
- Ini! - Terima kasih, Sayang.
- Spritz. - Alberto sangat lucu.
Bersulang.
Sungguh, aku sangat iri, Alberto.
Sangat iri.
Kita juga harus ke Lisboa.
Secepatnya.
Kau tahu kenapa itu keren?
- Tidak. - Melihat paus.
Tentu! Mereka lihat tepat di depan mereka.
- Sungguh? - Tak mungkin.
Ya, sungguh.
Mereka menakutimu dengan gigi itu.
Benar, 'kan?
Sedikit.
Tapi itu luar biasa.
Tentu.
Aku lihat ikan paus di Argentina.
- Benarkah? - Ya.
- Di mana? - Tierra del Fuego.
Aku selalu bermimpi ke sana.
- Tak mungkin. - Benar!
Kami bisa tinggalkan kalian bicara berdua dan rencanakan perjalanan.
Dia sangat baik!
- Kita bisa ke Patagonia bersama. - Ya! Ke Patagonia!
Terima kasih tumpangannya.
Sama-sama.
Ini hari Minggu ketiga Alberto berjaga.
- Tak mungkin. - Pekerjaan yang melelahkan.
Kenapa kau tertawa?
Apa kau tak sadar dia terus berkata, "Tak mungkin"?
Benarkah?
"Kami melihat paus."
"Tak mungkin."
"Makan siang sudah siap." "Tak mungkin!"
"Bersin!"
"Tak mungkin!"
Kau pikir kau lucu?
Aku hanya bercanda.
Kau hanya bercanda tentang pacarku.
- Pacarmu? - Ya.
Setelah tiga minggu?
Kau cemburu?
Tentu tidak.
Apa kau kesal karena aku jatuh cinta?
- Benarkah? - Ya.
- Sudah begitu? - Ya.
- Kau cemburu. - Tidak, itu maumu.
Kau menyebalkan selama makan siang
untuk buatku kesal.
Kau tak boleh kesal. Tak bisa.
Kau tak kencani pria sepertiku. Kau bilang itu.
bahkan tak mau berteman juga.
Sejujurnya, aku juga. Keluar.
Apa, di sini? Di tengah jalan?
Sudah sampai. Keluar.
Dah.
Sayang, saat kau di sini aku merasa…
Aku merasa kuat, pintar. Aku merasa…
Kau selalu pintar.
Hei…
Apa yang kau lakukan?
Ini saat tepat untukku.
Tapi aku tidak.
Matteo, kita sudah coba berbulan-bulan.
- Apa kau berubah pikiran? - Kenapa begitu?
Aku tak berubah pikiran. Tapi nanti kita bilang apa?
Bahwa dia dikandung di toilet restoran? Tidak!
Aku tahu kelanjutannya.
Kita pulang, kau mabuk, kau berbaring di sofa.
- Kau sedang tak mau… - Tidak, itu hanya sekarang saja.
Tidak sekarang.
Ini tak seperti menekan tombol. Tak begitu.
Sayang, ini jamuan kerja. Kumohon, jangan seperti ini. Ayolah.
Ikut aku.
Aku menikmatinya.
Penuh kekerasan, penuh darah…
Dia tak tidur sedikit pun.
Itu benar.
Aku paham,
tapi orang tak percaya tulisan ini dariku. Mereka tak paham percikan dan horor.
Aku tahu.
Tapi karena aku direktur kreatif, kau akan menjadi
Stephen King yang baru.
Shirley Jackson yang baru.
Tentu, Shirley Jackson, Stephen King.
Aku sudah menyerah pada buku ini.
Apa? Jangan.
Jangan coba-coba.
Aku kini sudah terlibat.
Aku temukan penerbit di London, jangan khawatir.
- Di London? - Ya.
Penerbit London tertarik dengan bukuku?
Ya.
Tepat. Peninggalan Terkubur. Bagaimana?
Peninggalan Terkubur.
Aku suka. Itu bisa berhasil.
- Tentu saja. - Ya.
Saat dia bilang uang mukanya,
dia tertawa terbahak-bahak.
Tidak, dia langsung ke bandara setelah makan malam, dia berseri-seri.
Sukses besar.
Baiklah.
Baik. Sampai jumpa besok.
Luar biasa, 'kan?
Kau lihat wajahnya saat kuberi tahu judulnya?
Matanya berbinar.
Dia yang terbaik dalam fiksi gelap.
Sayang sekali soal horor itu.
Itu ide yang buruk!
Terima kasih.
Terima kasih sudah menghentikanku tepat waktu.
- Aku serius. - Ya.
Tidak.
Aku merasa bersalah. Ini seharusnya pekerjaanmu.
- Apa maksudmu? - Itu benar.
Kau harus melakukan ini.
- Tidak! - Ya!
Tidak, kau…
Lihat dirimu, kau sempurna.
Kau selalu lebih baik dariku.
Selalu.
Apa kau tersipu?
Apa kau tersipu?
Mau minum?
Boleh minta sebotol Scotch?
Kamar 407.
Ya, Nyonya.
Tak ada yang sehebat ini di tahun pertama jadi Kepala Penerbitan.
- Sungguh? - Sungguh.
Untukmu.
Kau bekerja sangat keras hingga tak sempat potong rambut.
Chiara, di London, aku berbuat konyol.
Apa?
Aku sedih karena rapatnya tak berjalan lancar.
Aku mampir ke kamar Stella.
Maaf, aku tak…
Kamar Stella?
- Stella… - Ya.
Itu tak berarti apa pun.
- Kau melakukannya? - Tak ada.
Sungguh, itu tak berarti.
Kau melakukannya?
Ya.
Chiara, tolong dengarkan aku.
Dengar.
Berhenti. Maafkan aku.
Aku merasa buruk. Tapi aku tak bisa merahasiakannya.
Itu membunuhku di dalam, aku harus memberitahumu.
- Kau tahu aku mencintaimu. - Kumohon!
Kau tahu aku cinta kau.
Hei.
Bisa katakan sesuatu? Suruh aku enyah, apa saja.
- Kau mau itu? - Ya.
Itu akan membuatmu merasa lebih baik.
- Ya, kau benar… - Jangan sentuh aku.
Jangan sentuh aku.
Kau punya alasan marah.
Ada tiga.
Pertama, kau selingkuh.
Kedua, kau bahkan tak berani merahasiakan itu.
Terlalu berat.
Sangat berat.
Dan ketiga…
Permisi, aku mau tanya sesuatu.
Adakah yang lebih buruk
dari memberi tahu istrimu yang sedang hamil bahwa kau selingkuh
saat berbelanja keperluan bayi?
Kau bisa?
Kau tak bisa, 'kan?
Itu terlalu buruk!
Dasar berengsek.
PONSEL CHIARA
Hei, kau.
Halo?
- Ya? - Maaf, aku tak punya nomormu.
Ini Alberto, pacar Chiara.
Oh, Alberto.
Ada apa?
Kau sibuk malam ini?
Malam ini…
Tak ada rencana. Kenapa?
Temanku baru pindah ke sini dari Apulia.
Namanya Lucia.
Dia baik, cerdas. Dan cantik.
Kami akan makan malam, jadi aku mau undang kau juga.
Tentu, aku mau.
Tak mungkin. Sudah kuduga.
Bicaralah pada Chiara. Sampai nanti malam.
Tentu, sampai jumpa.
Itu bukan ideku.
Dario, Lucia. Lucia, Dario.
- Senang jumpa. - Aku juga.
Pasta udang dan zukini.
- Lezat. - Hebat.
Mau kumasukkan kulkas?
- Itu bagus. - Biar kubantu.
- Wah - Terima kasih.
Tuan rumahnya baik. Dari mana asalmu?
- Taranto. - Orang tuaku dari Lecce.
- Tak mungkin! Itu kebetulan. - Wilayah yang sama.
Ya.
- Bersulang. - Bersulang.
Bersulang untuk apa?
- Kita. - Teman baru.
Tepat.
Ini dia. Akhirnya.
- Beri tahu aku hasilnya. - Enak sekali.
Luar biasa. Hebat.
- Ada toko ikan baru. - Tak mungkin.
- Luar biasa. - Luar biasa.
Terima kasih untuk malam yang indah.
Dengan senang hati. Ayo lakukan lagi.
- Aku suka itu. - Dah.
- Jaketmu. - Tunggu.
Ini dia.
Kau butuh tumpangan?
Tidak, aku tetap di sini.
Aku bertanya pada Lucia.
- Kau ke arah mana? - Ke mana pun kau pergi.
Mereka cocok bersama.
Setuju.
Aku berpikir untuk pulang.
Kenapa?
Besok pagi aku sibuk,
jadi akan lebih mudah.
- Hai. - Hai.
Bagaimana?
Jangan bilang, ketelmu rusak dan kau mau mandi.
Hentikan.
Aku ingin bertanya.
Tapi tolong, jangan bohong, ya?
Baiklah.
Apa ada seseorang di sini?
Tak ada orang di sini.
Baiklah.
Malam itu…
Ya.
Di Lisboa.
Ya.
Kau sungguh ingin buang air kecil?
Tidak.
Anak pintar!
Bagus sekali!
Anak pintar!. Bibi, bisa kau kemari?
Aku akan memotong kuenya.
- Kubantu. - Akan kembali.
Tidak…
Ini dia. Pisau dan semuanya ada di sini.
Kau melihat mereka?
Siapa?
Apa maksudmu? Dario dan Chiara.
- Ya. - Bukankah itu aneh?
Tak juga.
Semuanya baik? Kau tampak agak sedih.
Hanya beberapa masalah di tempat kerja…
Kenapa? Bukankah London berjalan lancar?
Aku tahu kau sedih soal buku horor itu,
tapi itu bukan bidangnya.
Novel gelap itu lebih klasik.
Kau benar.
- Ini sudah siap. - Baik.
Ada yang harus kubicarakan denganmu.
Aku sudah tahu.
Apa maksudmu?
Aku lihat pesannya.
Kau memeriksa ponselku?
Kau selingkuh dariku.
Aku membaca semuanya.
Kau masih mencintai istrimu,
itu kesalahan besar. Semuanya.
Maafkan aku.
Agak klise, tapi manis.
Aku berengsek.
Ya, benar.
Omong-omong, kau sungguh mau bilang di hari ulang tahun putra kita?
Bagaimana kutahu?
Tak ada saat tepat untuk katakan hal seperti itu.
Aku berengsek.
Hei…
Kita akan punya anak lagi.
Bagaimana jika itu perempuan?
Akan kau beri nama siapa?
Maaf.
Kau benar-benar menyakitiku.
Maaf.
Kau berengsek.
Ini dia.
- Sayang, ayolah. - Kemarilah.
Maafkan aku.
Maaf.
Bawa aku ke rumah sakit, Sara!
Kau harus melepaskan tanganku!
Kenapa aku keluar?
- Tolong! - Baik.
- Sudah bawa ponselmu? - Ketubanku pecah.
Astaga!
Baiklah!
Baik, keponakanku datang.
Keponakanmu pasti punya kepala besar!
Hai, Luca.
- Hai. - Bagaimana?
Apa yang terjadi?
Air ketubannya pecah saat di mobil bersama Sara.
Kami bergegas kemari.
Semuanya baik-baik saja?
- Bagaimana aku tahu? - Apa…
Bagaimana aku tahu? Aku tak pernah hamil.
Syukurlah.
Aku tahu dia berteriak. Tanpa henti.
- Di mana Chiara? - Di sini.
Matteo ada?
Tidak.
Tidak?
Karena kerja di London?
- Putrinya… - Entahlah.
- Chiara sama siapa? - Kini?
- Ya, siapa yang bersamanya? - Sara dan…
Hai.
Sedang apa di sini?
Aku kembali beberapa minggu lalu.
Kau tahu?
Kutelepon Matteo.
- Tidak, katanya… - Dia harus menelepon.
Aku takkan ikut campur.
- Bagaimana? - Masih sama.
Kontraksi masih lambat.
Aku bersumpah, aku hampir terkena serangan jantung.
- Sayang… - Aku butuh udara segar.
Tentu.
Semua baik.
Jangan khawatir.
Cepat. Sampai jumpa di sini.
Ya, aku di sini. Sampai nanti.
Dia bilang apa?
Dia dalam perjalanan.
Aku akan kembali ke dalam.
Lalu kau?
Aku tunggu dia di sini.
Aku benci beberapa bulan terakhir ini tanpamu.
Meski kita tak bersama,
setiap kali seseorang tanya apa aku lajang, aku tetap bilang tidak.
Aku ingin meneleponmu,
tapi aku juga ingin kau meneleponku.
Tapi kau tidak.
Aku semakin merindukanmu setiap hari.
Pada akhirnya, aku meyakinkan diriku kau tak lagi mencintaiku.
Itu omong kosong, kau tahu itu.
Kenapa kau berkata begitu?
Kau naik pesawat dan tak pernah kirim pesan lagi.
Ya, tapi itu bukan…
Bukannya aku tak mencintaimu.
Lalu kenapa kau tak telepon?
Harga diri?
Tidak, untuk alasan yang sama
kau tak bilang kau sudah kembali selama dua minggu.
Baik, maaf.
Apa?
Sekarang kau yang dewasa
karena minta maaf lebih dahulu. Aku jadi kesal.
Di mana dia?
Halo!
Bagaimana?
Beratnya 3.8 kg
Dia besar sekali!
- Apa dia punya rambut? - Ya.
- Wah! - Kalahkan paman?
- Diam! - Lebih dari pamannya.
- Bisakah kami temui? - Astaga!
Permainan yang manis.
Sayangnya, separuh hal yang dia katakan
Lagi? Aku bersumpah…
- Kau masih bersamanya? - Tak lama lagi.
Sudah kubilang, itu tak penting.
Benar.
Menurutmu, siapa pun bisa bersama siapa pun.
Tentu saja tidak.
Aku tak bilang kecocokan tak relevan…
Baik, dengar.
Ayo kembali ke apel.
Metafora itu berhasil.
- Ya. - Dengarkan saja.
Jika aku separuh apel…
Semua merah dan bulat, oke?
Aku tak akan cari apel hijau dan lonjong.
Tapi jika bertemu apel bulat merah lain sepertiku,
walau itu memar, walau warna merahnya tak sama,
akan kukejar.
Dan mungkin, seiring waktu, aku coba mengubah warna merahku sendiri.
Dan dia coba ubah warnanya.
Itu melelahkan, dan tak pernah sempurna, tapi berhasil.
Aku mengerti. Intinya bukan tentang menemukan belahan jiwamu.
Intinya menemukan belahan jiwa.
Benar. Belahan jiwa yang melengkapi kita.
Bukankah itu agak sinis?
Kau bersama seseorang,
tapi kau juga bisa bersama orang lain?
Tentu saja tidak, Francesco!
Saat kita menjalin hubungan, kita berubah.
Dan semua pilihan lain hilang.
Jika aku pindah ke Boston saat kecil,
aku akan jadi orang yang berbeda.
Aku tak akan jadi diriku yang sama, 'kan?
Maka itu kami tak mau beri tahu siapa yang dinikahi Matteo. Kau paham?
Kita habiskan usia kita berkata,
"Apa yang akan terjadi jika…"
Baik, jangan beri tahu kami.
Baik…
Namun…
- Tak semudah itu. - Kenapa?
Ini mereka.
- Tidak! - Itu mereka?
Aku mulai terbiasa dengan misteri itu.
Atau…
- Federica. - Dario.
Senang jumpa denganmu.
UNTUK IBU
Terjemahan subtitle oleh P. Archibald
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.