Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Sub by VIU Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Kenapa? Ada yang mau kamu katakan?
Atau kamu mau mengakui kesalahan?
- Apa? - Kenapa mengikutiku?
Kamu berusaha merayu bosmu atau semacamnya?
Kamu mau menanyakan kenapa aku membencimu?
Apa itu alasanmu mengikutiku?
Anda membenciku?
Karena kamu mengikutiku,
aku hanya bilang katakan yang mau kamu katakan.
Aku takut Anda salah paham,
tapi aku pindah kemari.
Apa?
Aku tinggal di gedung yang sama dengan Anda.
"Episode 7"
Anda tinggal di lantai berapa?
Lantai 18.
Kamu pasti dari keluarga kaya.
Cukup mengejutkan anak baru tinggal di sini.
Lantas, Anda juga pasti dari keluarga kaya.
- Bukan itu maksudku. - Tidak apa-apa.
Anggap saja impas.
Baik, aku salah bicara.
Aku tidak seharusnya membahas keluargamu.
Aku hanya mau memujimu
karena memiliki pengalaman kerja yang banyak
sebelum bergabung dengan perusahaan.
Aku berniat bilang kamu pasti bekerja keras
untuk menghemat dan membeli rumah seperti itu,
tapi aku salah ucap.
Maaf.
Anda membaca resumeku?
Ya.
Kenapa?
Memangnya salah membaca resume bawahanku?
Tidak salah sama sekali.
Aku malah bersyukur
Anda memperhatikanku.
Semoga malam Anda menyenangkan.
Apa maksudmu?
Ibuku tidak datang lagi?
Jadi, kamu harus mengantar Da Bin hari ini.
Kamu belum meminta maaf ke ibumu?
Kemas tasmu, Da Bin.
Baik.
Aku bertanya.
- Itu tidak penting. - Itu penting.
Karena dia tidak datang,
keadaannya merepotkan.
Bagaimana bisa dia melakukan ini?
Kamu menyakiti perasaannya sesekali,
jadi, kenapa dia mogok?
Dia amat tidak pengertian
sepertimu.
Ibu dan anak sama saja.
Kamu menyalahkan ibuku?
Maksudku, coba pikirkan.
Dia tahu semua situasi kita.
Dia pasti melakukan ini agar kita jera.
Apa dia mau kamu berhenti bekerja?
Jadi, aku mau mengundurkan diri.
Apa? Mi Sun!
Kamu punya cara lain?
Ibuku tidak datang. Ibumu juga tidak.
Salah satu dari kita harus mengurus Da Bin.
Kamu mau mengundurkan diri?
Kamu sudah gila?
Aku tidak gila. Aku bicara kenyataan.
Jawab saja.
Kamu mau mengundurkan diri? Atau harus aku?
Aku saja.
Akan kuserahkan surat pengunduran diriku hari ini
dan aku akan keluar dalam bulan ini.
Hei.
Ada apa denganmu?
Siapa yang akan membayar uang sewa apartemen kita?
Cicilan mobil kita juga besar.
Aku sudah kekurangan uang jajan.
Jika kamu berhenti bekerja, aku akan menjadi pengemis.
Pengemis?
Kamu mungkin selama ini hidup mewah,
tapi sejak menikah denganmu,
hidupku tidak pernah mewah.
Aku harus berjuang sendirian
untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya.
Kita harus pakai lebih banyak uang seiring Da Bin tumbuh.
Terserah. Pikirkan sendiri.
Aku mau menjadi ibu rumah tangga sekarang.
Aku mau cuti besok.
Kamu cuti lusa.
Aku pergi.
Hei, Mi Sun.
Mi Sun, jangan seperti ini.
Minggir. Aku terlambat bekerja.
Ayah.
Ikatan rambutku terlepas.
Kenapa tiba-tiba terlepas?
Bagaimana mengikatnya?
Ibu!
Ibu.
Masuk.
Kenapa kemari sepagi ini?
Apa?
- Bu Park tidak datang? - Tidak.
Kesayangan kakek kemari.
Halo, Kek.
Hai, Sayang.
Aku sudah terlambat.
Ikat rambutnya dan antarkan ke TK, ya?
Apa? Ibu tidak bisa melakukan itu.
Kami akan mengurusnya. Pergilah ke kantor.
Sayang.
Dah, Da Bin. Bersenang-senanglah di TK.
Hei, Jin Soo!
Ayo masuk, Da Bin.
Dia tidak masuk. Dia harus segera pergi.
Jangan ikut campur. Kemari, Da Bin.
Mau membolos TK
dan bermain dengan kakek hari ini?
Sayang.
Lukanya
harus diobati setidaknya tiga hari.
Tapi mereka malah menyuruh dia sekolah
karena tidak ada yang mengurusnya.
Kamu tidak merasa kasihan?
Maksudmu, kamu akan tinggal dengan Da Bin seharian ini?
Bereskan urusanmu.
Kami akan menghabiskan waktu berdua.
Da Bin.
Kita mau melakukan apa hari ini?
Aku mau bermain salon.
Salon?
Baik.
Rambut kakek panjang,
jadi, memang harus digunting.
Benar juga.
Kamu mengecat rambut juga?
Ya, Pak. Kami bisa melakukan semuanya.
Astaga.
Tunggu.
Permisi. Tunggu.
- Selamat pagi, Bu Kang. - Halo.
- Selamat pagi. - Halo.
Mulai rapat lima menit lagi. Siapkan semuanya.
- Baik. - Baik.
Tae Ju.
Kamu sedang apa? Cepat duduk.
Baik.
Bagaimana?
Apa kamu menyerahkan proposal dengan aman ke Bu Kang?
Ya.
Dia menyuruhmu memperbaikinya?
Tentu saja.
Lantas, perbaiki.
- Apa? - Perbaiki.
Mari mulai rapat.
Sisanya selesai. Bagaimana dengan hasil survei?
Hanya tersisa hasil akhirnya.
Bagaimana dengan survei pelanggan?
Kamu melakukannya di toko, Nona Lee?
Ya, aku menyusun hasilnya dengan Ji Sook.
Baik, bagaimana
dengan riset mendalam terkait narablog mode?
Aku akan melaporkan hasilnya kepada Anda pukul 13.00.
Bagus.
Laporkan data terkini
pukul 15.30 hari ini.
Bagaimana dengan 16.30, Bu?
Laporkan pukul 16.30 jika kamu mau bekerja lembur.
Lantas, 15.30.
Kita melaporkan ini besok.
Mari percepat.
Pak Han, serahkan yang kamu susun ke Pak Park.
Jangan lupa sampaikan perintahku kepadanya.
Baik, Bu.
Tenggatnya kapan?
Serahkan segera setelah selesai.
Mungkin masih ada yang perlu diperbaiki.
Kini kembalilah bekerja.
Astaga. Kenapa dia memburu-buruinya?
Karena kita punya presdir baru.
Mungkin dia mau menonjol
dengan proposal produk baru.
Bu Kang, tolong cepat dipromosikan.
Bagaimana jika kita berdoa setiap pagi
agar dia dipromosikan?
Diam.
Mari bekerja saja.
Astaga, hari ini sama seperti biasanya.
Minggir.
Pak Han.
Minta kopi lagi dari Tim Pendukung Manajemen.
Apa...
Ibu, ini aku.
Kenapa kamu terus menelepon ibu?
Aku ingin tahu apa ibu tidur nyenyak.
Tentu saja ibu tidur nyenyak.
Ibu tidak pergi ke rumah Kak Mi Sun hari ini?
Untuk apa ibu ke sana?
Berhentilah merajuk
dan maafkan dia sekarang.
Tidak ada yang perlu dimaafkan.
Bagaimana dengan Mi Hye? Apa yang dia lakukan?
Kenapa kamu bertanya? Apa pedulimu?
Karena aku memarahinya kemarin.
Aku agak khawatir.
Ibu tidak tahu dia sedang apa.
Haruskah kutelepon?
Tidak. Aku punya harga diri sebagai penulis.
Aku akan menunggu.
Mari menunggu.
Halo?
Pengangguran juga bisa mendapatkan pinjaman.
- Pinjaman untuk pengangguran... - Aku tidak akan menganggur.
Terlepas dari rating kredit Anda...
Menjauh untuk sementara.
Pertama, tarik napas.
Embuskan.
"Ujian pegawai negeri, Gelombang Awal"
Apa?
"Cara mengalahkan ujian pegawai negeri"
Astaga. Ini tidak bisa dipercaya.
Kenapa dia tidak menelepon?
Kenapa?
"'Thirty is Fall'"
Apa yang Ayah lihat darinya?
- Lee Soo Yeon? - Ya.
Seperti yang kamu tahu, upah minimum adalah
8 dolar 35 sen.
Kamu akan bekerja dari pukul 09.00 sampai 18.00.
- Maaf, aku harus pergi. - Tunggu.
Tunggu.
Ini buruk.
Aku tidak bisa menemukan pegawai paruh waktu.
Kenapa? Karena Dol Dam?
Ya, orang-orang takut dengannya.
Apa karena dia besar?
Dia amat manis.
Kamu sudah membaca naskahnya?
Ini?
Jangan bilang begitu. Ini tidak pantas disebut naskah.
"'Thirty is Fall'"
Aku lapar.
Ini enak sekali.
Ini lezat.
Mereka juga memberi banyak.
Enak sekali.
Di mana daging panggang kami?
- Datang. - Datang.
- Sebentar. - Aku mau kimchi lagi.
Baik!
Minggir.
- Kimchi lagi, tolong. - Ini dia.
Ibu.
Terima kasih.
Ibu, ini.
Kamu membelikan ini untukku?
Bukankah ini mahal?
Tidak apa-apa, Bu.
Ibu harus memakai yang seperti ini sekarang.
Ini tidak mahal?
Ini sedang diskon karena musim semi.
Aku bisa membelikan banyak barang seperti ini sekarang.
Kamu penulis terkenal sekarang, Jae Bum.
Aku benar-benar menyayangimu, Jae Bum.
Kamu harus makan sup tulang sapi.
Aku mau.
Young Dal, bawakan sup besar.
- Baik. - Yang besar?
Ya. yang besar.
Duduk.
Kamu manis sekali.
Itu amat cocok dengan Ibu.
Benarkah?
- Ini dia. - Selamat menikmati, Jae Bum.
Terima kasih banyak. Terima kasih.
- Serta nasi juga. - Nasi. Tentu.
Ini hidangan spesial
yang hanya kuberikan ke putriku.
Ini enak. Cobalah.
- Terima kasih. - Tentu.
Ibu.
Kaldunya kaya rasa dan enak.
Benar, bukan?
- Makanlah. - Baik.
Jadi,
apa judul dramamu?
"Fatal and Dangerous Her".
Wanita fatal dan berbahaya?
Kenapa dia berbahaya?
Aku tidak sabar ingin menontonnya.
Jadi,
siapa pemerannya?
Song Hye Kyo.
Song Hye Kyo?
Aku benar-benar suka dia.
- Aku juga. - Ibu!
Kenapa kamu
berada di sekitarku seperti lalat kotoran?
Kamu mau direbus?
Mi Hye. Kamu masih kekanak-kanakan.
- Apa? - Aku hanya suka
sup ibumu
dan mau memberikan
makanan hangat dan enak kepada staf dramaku.
Tapi kamu berusaha mengaitkan itu
dengan hubungan pribadi kita.
Itu membosankan.
Sulit bisa kupercaya.
Kenapa kamu datang ke restoran kami?
Kamu salah paham, jadi, biar kujelaskan.
Aku tidak menduga kamu akan ada di restoran.
Kenapa? Karena kebanyakan orang seusia kita
di luar bekerja pada pukul sebegini.
Kenapa kamu di restoran?
Apa kamu masih
menjadi putri yang jahat
karena berusaha menjadi penulis?
Hei, bukuku akan segera terbit.
Yang benar saja.
Kamu tahu Penerbit Dol Dam Gil?
Tempat yang dibuka Editor Kim Tae Joon.
Kamu tahu, bukan?
Editor kepalanya mengagumiku.
Dia menyebut karyamu tidak...
Tidak intelektual, bukan?
Kamu ingat? Tidak intelektual.
Sutradaraku menyebut itu
"populer" dan "untuk khalayak ramai".
Pokoknya, putranya Kim Woo Jin adalah
editor kepala sekarang.
Dia jauh lebih tampan dan elegan
serta lebih ramping darimu.
Dia mau menerbitkan karyaku.
Dia baru saja menelepon.
Sungguh?
Baguslah.
Katanya karyaku elegan dan berbudaya.
Kami akan segera meneken kontrak.
Karena kamu sudah tahu, selamat menikmati daging panggang
dan pergilah.
Nona Penata Rambut.
Sampai kapan kakek harus mengenakan penutup kepala?
Sebentar lagi.
Mengeriting butuh waktu lama.
Apa menurutmu
hasilnya akan bagus?
Pastinya. Jangan khawatir.
Keritingnya akan sempurna.
Aku bukan hanya
harus menyajikan makanan tiga kali sehari untuk suamiku,
tapi juga harus menyajikan sarapan,
makan siang, dan kudapan untuk cucuku.
Aku membatalkan rencana
untuk bermain golf karena lututku sakit.
Lihat aku sekarang.
Tunggu.
Geli.
Tahanlah.
"Ibu Mertua"
Halo, Bu.
Haruskah kamu melakukan ini?
Ada apa?
Sampai kapan ibu harus mengurus Da Bin?
Ibu terjebak di rumah seharian.
Aku tidak pernah meninggalkan Da Bin dengan Ibu.
Apa? Beraninya kamu bilang begitu.
Lantas, kenapa dia di rumah ibu?
Pagi ini, aku menyuruh Jin Soo
mengantarkannya ke TK.
Kenapa kamu menyuruh putra ibu mengantarkannya ke TK?
Kamu yang seharusnya melakukan itu.
Ibu, aku harus berangkat kerja juga.
Pria harus pergi lebih dahulu.
Beraninya istri pergi lebih dahulu.
Jika terjadi sesuatu,
suami pergi dahulu
dan istri tinggal di rumah
untuk mengurus bemacam hal sebelum berangkat kerja.
Jika kamu tinggalkan anakmu dengan suami yang tidak tahu apa-apa,
apa yang harus dia lakukan?
- Ibu. - Itulah alasannya
dia mengantarkan Da Bin ke kami.
Siapa yang mengasuhnya?
Ibu yang akhirnya harus melakukan itu.
Kamu seolah-olah memanfaatkan Jin Soo
untuk meninggalkan Da Bin dengan ibu.
Kamu akan bersikap begini?
Kamu berusaha melawan ibu?
Ibu, bagaimana aku melawan?
Astaga.
Kamu membantah ibu?
Benarkah?
Maaf, Bu. Aku sedang sibuk.
Aku harus pergi.
Hei.
Beraninya dia menutup teleponku.
"Ibu Mertua"
Kalian tahu ada makan malam perusahaan hari ini.
Semua harus ikut makan malam.
Ulang tahun anak, upacara leluhur,
atau hal mendesak lainnya?
Itu tidak bisa dijadikan alasan.
Paham?
Kita akan merayakan
pencapaian dan pelampauan target kita.
Jadi, kita semua
harus hadir malam ini.
Bu Kang Mi Sun?
Kamu ikut makan malam hari ini?
Tentu.
Pak Park, kita akan jalan sampai ronde tiga, bukan?
- Apa yang kamu lakukan? - Bu Kang.
Kamu tidak pulang malam ini?
Tidak.
Kita harus berbincang sambil minum juga.
Kamu juga.
Kenapa aku?
Bagaimanapun, aku akan bicara dengan kalian nanti.
Ibu, ada apa?
Kapan kamu pulang?
Aku pulang larut malam ini. Kenapa?
Kenapa? Kamu meninggalkan Da Bin dengan ibu.
Tidak bisakah Ibu mengurus Da Bin sehari saja?
Ibu neneknya. Tolong jangan seperti itu.
Ibu mertuaku sudah melakukannya selama enam tahun.
Lantas, minta dia datang dan mengurus Da Bin.
Dia bertengkar dengan Mi Sun.
Jika menjadi dia, Ibu mau datang usai mendengar itu?
Ini masalah harga dirinya.
Apa hebatnya harga dirinya?
Bu Ha Mi Ok.
Tahukah kamu istrimu tadi bilang apa ke ibu?
Astaga, ibu tidak percaya ini.
Jangan ganggu Mi Sun dahulu.
Dia seperti bom waktu sekarang. Jika dia meledak,
tugas rumah tangga dan pengasuhan anak akan bermasalah.
Lantas, kamu tidak masalah jika ibu yang kerepotan?
Ibu akan baik-baik saja mengurus Da Bin beberapa hari.
Cukup.
Cepat pulang. Ibu tutup teleponnya.
Astaga, dia tidak bisa dipercaya.
Sial. Rumput lautnya robek.
Kapan kamu akan melepas itu?
Memangnya kenapa?
Bagaimana dengan Da Bin?
Dia tertidur,
jadi, aku menidurkannya di kamarku.
Astaga.
Kita harus bicara.
Kamu suamiku.
Kamu seharusnya membelaku, bukan membela Jin Soo.
Aku lelah bermain dengan Da Bin.
- Astaga. - Aku mengantuk.
Apa itu di tanganmu?
Ini?
Penata itu memberikanku
manikur secara gratis.
Segera hapus.
Kenapa kamu bilang begitu?
Cepat hapus.
- Sekarang juga. - Astaga, sakit.
Hapus sekarang juga.
- Kubilang, hapus. - Baik, pukul aku.
"Manajer Umum Kang Mi Ri"
"Gaya Anjuran"
Sudah kuduga.
Mereka
langsung pulang tepat waktu.
Ini amat luas.
Permisi. Ada tuna dengan mayones?
- Tidak ada di sana? - Tidak ada.
Kami kehabisan.
Tiga tuna dengan mayones dan mi instan?
Ya.
Han Tae Ju?
Halo, Bu Kang.
Kamu amat beruntung.
Apa maksud Anda?
Maksudku, keseimbangan
antara pekerjaan dan hidup. Hidup dengan aktivitas malam.
Kamu beruntung bisa menikmati hidup seperti itu.
Aku terlalu sibuk sampai melewatkan makan malam.
Tapi kamu pulang cepat dan menikmati makan malam.
Dunia sungguh tidak adil.
Kurasa itulah alasannya kamu hanya pegawai
sedangkan aku manajer umum.
Apa ini?
Tuna dengan mayones.
Anda mau?
Han Tae Ju.
Kamu kira aku bersikap sarkastis karena ini?
Apa Anda sedang sarkastis?
Anda mau atau tidak?
Tidak.
Baiklah kalau begitu.
Aku di sini. Dah.
Aku pulang.
Sayang?
Apa?
Dia belum pulang?
Apa itu kamu?
Ayah.
Halo, Da Bin.
Kamu seharusnya datang dan menjemput Da Bin dahulu.
Kamu baru pulang?
Aku baru saja sampai.
Tetap saja.
Omong-omong,
Mi Sun belum pulang?
Kurasa dia bekerja lembur malam ini.
Aku senang Ibu di sini.
Bisakah Ibu membuatkanku makan malam?
Aku belum makan dengan benar sejak kemarin.
Kekacauan apa ini?
Apa Mi Sun tidak berbenah sama sekali?
Bisakah Ibu berbenah juga?
Aku mengenakan kemeja ini dua hari beruntun.
Tidak ada lagi kemeja yang sudah disetrika.
Bisakah Ibu menyetrika kemejaku juga?
Kamu gila? Untuk apa ibu melakukan itu?
Ibu, kumohon.
Ibu bukan istrimu.
Untuk apa ibu melakukan itu?
Ibu mertuaku melakukan semua itu.
Lantas, minta ibu mertuamu.
Ibu sudah kesulitan mengurus Da Bin hari ini.
Ibu harus memberinya makan
dan menyajikan buah serta kudapan.
Kamu kira ibu bersantai hari ini?
Ibu tidak enak badan, jadi, tidak pergi bergolf.
Tapi Ibu malah harus mengurus anakmu seharian.
Kini kamu mau ibu membuatkan makan malam?
Buat makan malammu sendiri!
Ibu tidak peduli. Ibu mau beristirahat.
Ibu pergi.
Ibu!
Astaga.
Ayah.
Kamu mau apa, Da Bin?
Aku lapar.
Kamu tidak makan malam di rumah Nenek?
Aku tidak makan apa-apa.
Nenek menyuruhku pulang dan makan malam.
Apa?
Ada apa dengannya?
Ini.
Ini panas, jadi, hati-hati.
- Kamu paham? - Ya.
Da Bin, kamu tidak merindukan Nenek?
Nenek yang mana?
Yang bekerja di restoran sup tulang sapi.
Aku tidak merindukannya.
Apa? Kamu cucu yang tidak tahu bersyukur.
Kenapa kamu tidak merindukannya?
Aku lebih bersenang-senang dengan Kakek.
Kami bermain salon. Itu amat menyenangkan.
Besok, aku mau menemui Kakek lagi.
Ayolah.
Kamu yakin tidak merindukan nenekmu?
Kita sebaiknya membiarkannya beristirahat.
Hei, Jung Da Bin!
Mari rayakan
pencapaian cabang kita pada kuartal pertama.
Serta
kuharap kita bisa
terus melampaui target mulai dari kini sampai selamanya.
Serta jika punya anak ketiga,
aku akan menamainya Park Melampaui.
Angkat gelas kalian karena sudah melampaui. Bersulang!
- Bersulang. - Minumlah.
Pak Park.
Anda yakin
bisa punya anak lagi?
Memangnya kenapa?
Tidak mudah membesarkan anak zaman sekarang.
Hei, Mi Sun.
Ada apa denganmu?
Aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasi ini.
Astaga.
Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak mau minum?
- Tidak. - Kenapa?
Nanti wajahku bengkak jika makan selarut ini.
Aku sedang berdiet.
Itu konyol.
Aku akan minum untukmu.
Aku akan meminum semuanya.
Pelan-pelan.
Ada apa dengan Mi Sun hari ini?
Hari ini ini sangat enak.
Bu Kang kenapa?
Dia tidak pernah datang ke makan malam tim.
Tapi dia kenapa hari ini?
Mungkin suami atau mertuanya
membuatnya sangat stres.
Lalu dia melampiaskan stresnya kepada kita?
- Kurasa begitu. - Menyebalkan sekali.
Dia amat menjengkelkan!
Pak Park.
Ibu mertuaku sakit. Jadi, aku harus
ke rumah sakit dan menggantikan suamiku.
Aku harus pergi.
Aku sangat ingin di sini lebih lama.
Bu Seo.
Bukankah katamu mertuamu sudah meninggal tahun lalu?
Ya, tapi itu tahun lalu.
Tahun ini dia sakit.
Ada tiga anakku kelaparan di rumah
sedang menungguku.
Intinya, dia sedang sakit.
Sampai jumpa, Pak Park.
Sampai jumpa, Semuanya.
- Sampai jumpa. - Dah.
Beraninya kalian
menjelek-jelekkan senior kalian?
Akan kuhabisi kalian.
Kalian pikir akan melajang selamanya?
Kalian pikir tidak akan berkeluarga atau punya anak?
Aku tidak mau menikah.
Memang kamu bebas memutuskan itu?
Meskipun menikah, aku tidak mau punya anak.
Kalian sungguh berpikir semua akan berjalan sesuai rencana?
Kalian pikir aku yang memilih menjalani hidup seperti ini?
Camkan kata-kataku.
Kalian tidak bisa menjamin bagaimana jalan hidup kalian.
Semua wanita itu bernasib sama.
Tidak bisakah kalian menoleransi dan memihakku?
Apa permintaanku berlebihan?
Beraninya kalian
membicarakanku di belakang?
Jaga ucapan kalian!
Apa-apaan itu tadi?
"Dia kenapa hari ini?"
Kalian sendiri bagaimana?
Kalian hanya makan sayur saat makan malam tim.
Hei.
Hei! Anak muda cantik dan kurus!
Jangan terlalu sombong.
Aku mengabdikan diriku
pada perusahaan.
Aku melakukan yang terbaik untuk membesarkan anak.
Kalian harus berterima kasih kepadaku
karena sudah hidup dengan baik di negara ini.
Mengerti?
Kalian harus berterima kasih.
Kalian itu amat beruntung.
Cuma mau berdiri saja?
- Bu Kang, terima kasih. - Bu Kang, terima kasih.
Begitu.
Awas kalian bersikap sombong lagi.
Jangan macam-macam.
Ada apa denganmu?
Apa?
Kamu habis minum?
Aku ada makan malam tim.
Makan malam tim?
Memang kenapa? Tidak boleh?
Hei, Jung Jin Soo!
Bukan hanya kamu yang mau dipromosi.
Aku juga mau dipromosi.
Aku sungguh mau dipromosi.
Karena itulah aku ikut minum. Ada masalah dengan itu?
Kamu keberatan?
Hei, kupikir kamu akan berhenti bekerja.
Kenapa malah ikut minum jika mau berhenti?
Kamu akan bersikap begini terus?
Kamu meninggalkan Da Bin sendiri dan pulang sambil mabuk.
Lihatlah rumah ini! Berantakan sekali.
Sayang.
Ini dia.
- Ini. - Ini saja?
Ya, itu saja.
Ini barang terlaris di toko kami.
Selera Anda bagus.
Terima kasih. Kurasa juga begitu.
Ini keluaran baru, jadi, tidak ada diskon.
Anda mau dibungkuskan?
Ya...
Aku akan mengambil cicilan.
Terima kasih makanannya.
- Pelanggan akan pergi. - Terima kasih makanannya.
Sebentar.
Ayah.
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Hei, Jung Da Bin. Ayah suruh kamu apa?
Kamu harus bagaimana saat menemui Nenek?
Nenek, aku merindukan Nenek.
Lalu?
Ini masih sakit.
Bisa tolong tiupkan?
Bagus. Anak ayah memang pintar.
Kamu hanya perlu melakukan itu, ya?
Lantas, dia akan datang ke rumah kita lagi?
Mari kita wujudkan itu.
Ayo masuk, Pintar.
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Terima kasih.
Ibu.
Lihatlah siapa yang datang.
Kamu datang, Jin Soo.
Ada apa kemari pukul sebegini?
Hari ini aku cuti.
Untuk menjaga Da Bin.
Hai, Da Bin.
Bagaimana kabarmu?
Aku baik-baik saja.
Kamu tidak apa-apa?
Lihat plester besar di dahimu ini.
Malangnya kamu.
Ibu, bagaimana kabar Ibu?
Aku datang.
Nenek.
Astaga, Sayang.
Cucu kesayangan nenek.
Cucu nenek satu-satunya.
Cucu mungil nenek sudah datang.
Nenek, aku merindukan Nenek.
Sungguh? Nenek juga merindukanmu.
Sayang. Sayangku.
Astaga, cucuku.
Coba nenek lihat lukamu.
Bagaimana?
Aku sudah sembuh.
Pasti sakit sekali.
Maafkan nenek.
Nenek sungguh minta maaf.
Tidak perlu begitu.
Maaf aku sudah memaksa Nenek untuk main ayunan.
Astaga.
Cucuku baik hati sekali.
Da Bin, maafkan nenek.
Bagaimana kabar Ibu?
Aku datang.
Begini, aku...
- Sayang. - Aku harus memberikan ini...
Tapi kubelikan ini untuknya.
Sup tulang sapi buatan Ibu yang terbaik di antara semuanya.
Da Bin sangat merindukan Ibu
karena Ibu sudah beberapa hari tidak datang.
Ada hidangan pendamping di rumah?
Tidak.
Benar-benar tidak ada makanan.
Tidak akan ada sosis tanpa Ibu.
Makanlah kimchi lobak ini.
Silakan.
Baik, terima kasih.
Selain itu,
istriku juga amat menyesal.
Aku sudah memarahinya.
"Kenapa kamu melampiaskan kemarahanmu kepada ibumu
lalu mengecewakan dirimu sendiri, ibumu, dan aku?"
Dia pun mulai menyesalinya
dan mengatakan perbuatannya salah.
Astaga.
Lantas?
Dia sudah berhenti kerja?
Apa maksud Ibu? Tidak.
Dia tidak berani menanyai Ibu
dan bertanya-tanya
akankah Ibu datang besok
atau lusa.
Tapi itu bukan urusan ibu.
- Ibu. - Cukup.
- Pergilah jika sudah selesai. - Baik.
Apa?
- Ibu mau aku pergi? - Lantas bagaimana?
Ibu masih ada pekerjaan. Pulanglah dengan Da Bin.
Tunggu, Ibu.
Ibu.
Tapi aku...
Ibu...
"Mencari Pekerja Paruh Waktu"
Mulailah dengan membersihkan lantai satu dan dua
- saat kamu datang bekerja. - Baik.
Aku mau tokonya selalu bersih.
Bersihkan semua debu di toko buku sampai tidak tersisa.
Astaga, maafkan aku.
Tapi dia alergi anjing.
Tidak apa-apa. Suatu hari, kami akan menemukan yang pas.
"'Thirty is Fall'"
Dol Dam, mau pergi berjalan-jalan?
Kita punya kopi?
- Akan kubuatkan. - Biar aku saja.
Dengar, Pak Kim.
Aku memintamu membacanya,
bukan membuangnya.
Aku menemukan naskahku di tempat sampah.
Teganya kamu melakukan ini.
- Katakan. - Kubilang akan kulihat,
tapi tidak akan menyimpannya.
Apa?
Naskah tidak berharga sama saja dengan sampah.
Karena itulah aku membuangnya. Ada masalah?
Jika ada perapian di sini,
akan kupakai itu sebagai pembakar. Sederhana saja.
Apa? Pembakar?
- Woo Jin. - Kamu kemari karena itu?
Jika begitu,
artinya kamu cukup percaya diri dengan tulisanmu.
Mengecewakan.
Bukan hanya buruk dalam menulis,
kamu juga tidak sadar diri.
Tapi memang keduanya berhubungan.
Apa?
Masih mau bilang sesuatu?
Aku benci mengulang ucapan.
Aku juga tidak andal berpura-pura
menghibur atau menyemangati orang.
Kamu hanya akan mendengar kritikan di sini.
Tidak keberatan?
Jika menjadi dirimu,
aku akan langsung pergi dari sini.
- Woo Jin. - Kamu juga.
Bukankah tadi mau jalan-jalan?
Biar kuurus penjaja ini.
Apa? Penjaja?
Ayo, Dol Dam.
Dengar.
Entah seberapa tajam matamu,
tapi kamu tidak boleh begini.
Tulisan itu seperti anak-anak bagi penulis, tapi kenapa...
Karyamu tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Sudah kubilang.
Biar kupermudah.
Menerbitkan bukumu
akan membuat perusahaan kami rugi.
Kini aku tahu
orang macam apa dirimu.
Kesimpulannya, naskahku tidak menghasilkan uang.
Bisakah kamu hidup tanpa uang?
Kamu berjalan kemari?
Pak Kim Tae Joon bilang
kita harus membaca dengan hati, bukan dengan uang.
Kamu mungkin kaya dan pandai berbisnis.
Kamu mungkin masih muda dan berkelas
daripada Pak Kim Tae Joon.
Tapi kamu
masih jauh di bawah ayahmu.
Kasihan sekali.
Ada apa?
- Dia kenapa? - Tunggu.
Biarkan saja dia.
Mungkin dia ada masalah.
Dia menangis saat sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya.
Jangan diganggu.
Anak-anak itu tidak bisa diharapkan.
Kakak akan ke rumah Mi Sun besok?
- Kenapa bertanya? - Mau saja.
Kamu sudah gila? Untuk apa kakak ke sana?
Setelah ucapannya kepada kakak?
Ayolah, Kak.
Jin Soo bahkan membelikan ini.
Astaga. Lihatlah.
Ini pasti pas sekali dengan Kakak.
Kakak bilang singkirkan, bukan keluarkan.
Tapi tetap saja, kemeja ini cantik.
- Ayo, cobalah pakai... - Diam.
Jika mau bersikap bodoh alih-alih membantu,
pulang saja sana.
Baiklah. Astaga.
Bagus sekali.
Bagus.
Kurasa kita sudah siap.
Kalian semua hebat.
Tepuk tangan.
Ini akan luar biasa, Bu Kang.
Begitu produksinya dimulai,
performa tahunan kita akan terpenuhi, bukan?
Akan melejit, bukan?
Kapan Anda akan melaporkan ini?
Sekarang juga.
Aku akan ke sana.
Kamu tidak pernah mengecewakan.
Terima kasih.
Perusahaan kita sangat membutuhkan ini.
Kamu sudah melakukan riset,
rencananya mendetail dan teliti.
Seluruh anggota tim sudah bekerja keras.
Begitu. Ini proposal yang bagus.
Tapi
kurasa
Tim Perencanaan harus mengambilnya.
Apa?
Perencanaan dan pengembangan produk baru adalah
tugas mereka.
Mereka akan lebih efisien daripada Tim Pemasaranmu.
Timku yang memikirkan ide ini dan mengembangkannya.
Kami bisa bekerja lebih baik dari tim yang lain.
Aku bukan mengalihkannya karena tidak setuju.
Sebagai CEO,
aku memikirkan
apa yang lebih efektif dan produktif.
Kamu pasti sibuk. Silakan pergi.
Tidak.
Timku bisa lebih baik.
Kami sudah meriset pasar dan pelanggan,
bahkan menganalisis datanya sendiri...
Tumben sekali.
Perusahaan tidak dibangun untuk keuntungan sebuah tim.
Ketua sebuah tim
tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan keuntungan.
Bukankah seseorang
dengan jabatan sepertimu harus paham?
- Bu Jeon. - Timmu
sudah banyak pekerjaan
untuk menyiapkan pekan mode tahun ini.
Melakukan itu dengan sempurna tanpa kekurangan apa pun adalah
caramu menguntungkan perusahaan ini.
Selama ini kamu melakukan semuanya tanpa kekurangan apa pun.
Kami bekerja lebih keras dari kebanyakan tim.
Kami bisa mencapai hal yang ditugaskan.
Kudengar Pimpinan Wong sangat menyukaimu.
Hanya karena dia meneken kontraknya,
bukan berarti kamu tidak mengacau.
Aku tidak menerima
bahkan kesalahan terkecil pun.
Alih-alih melakukan banyak hal,
melakukan yang paling kamu bisa akan lebih menguntungkan.
Bukankah begitu?
Silakan pergi.
"Penggunaan listrik sembrono dapat menyebabkan kebakaran"
"Kedai Chuncheon"
Sebentar.
Terima kasih.
Bu Kang.
Anda baru mau pulang?
Anda tidak kembali ke ruangan
setelah menemui CEO.
Kami semua menunggu dan sangat cemas.
Apa terjadi hal buruk...
Bu Kang.
Bu Kang.
Anda tidak apa-apa? Bu Kang.
Akhirnya.
Kita masuk.
Lewat mana?
Sakelarnya.
Sakelarnya. Yang inikah?
Baiklah.
Itu dia.
Bu Kang.
Kita sampai. Anda sudah pulang.
Astaga. Ya ampun.
Kenapa...
Hei.
Kamu sudah pulang.
Ya.
Ibu!
Bagaimana kamu tahu ini ibu?
Ibu.
Nasinya belum matang.
Sudah Ibu buatkan beberapa hidangan sampingan. Tidurlah lagi.
Ibu ke sini naik apa?
Menurutmu apa?
Ibu naik bus paling pagi.
Ibu.
Maafkan aku. Tidak akan kuulangi lagi.
Ibu lelah. Jangan peluk ibu.
Ibu bukan Da Bin. Peluklah anakmu sendiri.
Ibu.
Dasar bodoh.
Ibu yang terbaik.
Ibu.
Astaga.
Kamu mau keluar?
Ya.
Ke mana?
Jangan bicara denganku. Aku sibuk.
Tunggu.
Kamu keluar kalau-kalau Da Bin akan kemari lagi?
Jangan bicara denganku. Aku sudah banyak pikiran.
Kenapa?
Kamu sibuk karena mau kabur
sebelum cucu kita datang?
Ya.
Aku sibuk melarikan diri dari cucuku.
Lantas, kamu mau aku
menghabiskan sisa hidupku sembari merasa depresi
karena menjaga Da Bin denganmu seharian?
Minggirlah. Apa?
Teganya kamu melakukan itu kepada cucu kesayangan kita.
Aku tahu.
Jagalah cucu kesayanganmu sendiri.
Aku tidak sanggup lagi.
Dia kejam sekali.
Astaga, aku harus apa dengannya?
Aduh, berat sekali.
Aku harus bermain golf meski lututku sakit.
Jika tidak, aku akan menderita karena yang lain.
Astaga.
Tunggu. Bu Park.
Bu Park.
Kamu mulai datang ke rumah Mi Sun lagi?
Ya, begitulah.
Jadi, akhirnya kamu tetap datang.
Kenapa membuat mereka cemas begitu?
Aku membuat mereka cemas?
Kamu tahu maksudku.
Lagi pula kamu akan kembali.
Kenapa repot-repot mogok?
Kamu membuat Da Bin berkeliaran ke mana-mana.
Sekarang rumah Jin Soo berantakan.
Mereka bahkan tidak punya apa pun di kulkas,
jadi, Jin Soo ke rumahku untuk makan malam.
- Bu Ha. - Kenapa?
Aku salah?
Memang aku pembantu atau apa?
Kurasa kamu memiliki mental seorang korban.
Aku tidak menyebutmu pembantu.
Kenapa kamu membolak-balikkan kata-kataku begitu?
Lantas, aku tidak perlu ke sini setiap hari.
Haruskah aku mengurus mereka tiap hari?
Apa yang kamu lakukan padahal rumahmu dekat?
Apa?
Aku melakukan apa?
Maaf, ya. Aku juga merawat Da Bin.
Selama tiga hari belakangan,
aku kesulitan menjaga Da Bin.
Memang dia hanya cucuku?
Dia juga cucumu.
Dia juga memiliki nama keluargamu.
Aku hanya nenek dari pihak ibu.
Kamu neneknya dari pihak ayah.
Bisa-bisanya berkata begitu
sembari melotot kepada besanmu?
Tadinya aku mau diam, tapi...
Astaga.
Apa katamu?
Melotot?
Kamu mau dapat penghargaan karena telah mengasuh anak
dan membantu pekerjaan rumah tangga?
Kamu memuji dirimu sendiri?
Apa katamu?
Itulah yang kamu dapat saat anak kita menikah.
Bukankah kamu mau mantel berbulu
hanya karena kamu punya putra?
Lantas, apa kamu membelikannya?
Untuk apa aku membelikannya? Aku saja tidak punya!
Kamu meneriakiku.
Kamu bodoh sekali.
Apa? Bodoh?
Astaga.
Baiklah.
Mulai sekarang,
kamu yang urus Da Bin.
Aku bodoh dan berlagak.
Jadi, aku tidak akan ikut campur.
Astaga.
Apa yang kamu lakukan?
Da Bin harus dibesarkan oleh nenek yang berpendidikan.
Dengan begitu, dia akan lebih pintar.
Aku permisi.
Tunggu. Bu...
Benar juga.
Tadi aku
sedang mencuci pakaian mereka. Kini sudah hampir selesai.
Jemurlah semua cucian itu.
Aku juga hendak menyeterika semua kemeja Jin Soo.
Kamu saja yang selesaikan.
Lagi pula, itu pakaian putramu.
Kamu pasti akan mengurusnya.
Aku harus pergi.
Bu Park. Tunggu. Bu Park!
Bu Park!
Sub by VIU Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
"My Prettiest Daughter in the World"
Kamu bernyali sekali lupa membawa ID.
- Itu hilang saat kamu mabuk? - Bu Kang.
Tae Ju, tolong buat 10 salinan ini.
Tae Ju, kita kehabisan gelas kertas.
Ibu dengar Bu Kang sangat keras.
Soal Bu Kang.
Terus awasi dia.
Bagaimana naskahmu?
Aku hendak meneken kontrak hari ini.
Akan kuantar kamu ke sana. Ikutlah denganku.
Sudah banyak berubah.
Akan kutunggu kamu di sini.
Bu, Ibu bertengkar dengan ibu mertuaku?
Ibu akan melakukan apa sekarang?
Astaga.
Kenapa Bu Jeon memutuskan begitu?
Kurasa keputusan Bu Jeon tepat.
Apa terjadi sesuatu?
Kusadari percuma saja mengabdikan diri pada pekerjaan.
Aku akan fokus pada keponakanku saja.
Di mana anak-anak yang di sini tadi?
Da Bin!
Buatlah pengumuman.
Namanya Jung Da Bin, dia memakai bando telinga kelinci.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.